lihat bab sebelumnya di sini.
Vilnar membawa istri dan anaknya mengarungi Sungai Ordelahr selama berhari-hari. Mereka menerobos hutan gelap melalui sungai berliku, yang untungnya, walaupun tampak menyeramkan dengan pohon-pohon besar dan dedaunan yang menjuntai, sebenarnya tidak banyak binatang buas yang berdiam di sana. Hanya beruang dan ular yang cukup berbahaya, yang lainnya hanyalah kucing hutan dan beberapa jenis kera. Selama binatang-binatang itu tidak merasa terganggu, mereka juga tidak akan menyerang.
Untuk berjaga-jaga, sepanjang perjalanan dua buah obor dinyalakan di depan dan belakang perahu, siang maupun malam, sebagai penerangan sekaligus pengusir binatang buas. Selain itu Vilnar juga tetap mendayung saat malam. Ia hanya beristirahat dan tidur saat siang, kala Ailene terjaga.
Read the rest of this entry »
2 Comments »
lihat bab sebelumnya di sini.
Saat musim semi Ailene melahirkan putranya di rumah Vilnar yang terpencil di salah satu anak sungai Ordelahr. Vilnar memberi nama putranya Villam, yang dalam bahasa Hualeg berarti ’batu bercahaya’—batu permata yang terkeras dan terindah—dengan harapan agar kelak ia bisa menjadi lelaki yang tangguh sekaligus menerangi setiap orang di sekitarnya. Nama Vilnar sendiri berarti ’batu hitam’, dan nyatanya batu bercahaya memang hanya bisa diasah dari batu hitam terbaik. Vilnar jelas menginginkan agar putranya kelak bisa menjadi lelaki yang lebih baik daripada dirinya.
Sekarang sudah empat tahun sejak Vilnar pergi dari desanya di Hualeg, dan ia telah menikmati kehidupan barunya sebagai seorang suami dan ayah. Walau kadang terbersit kerinduan akan kampung halamannya, semakin lama keinginannya untuk kembali semakin meredup. Jika teringat istri dan anaknya, ia tidak ingin lagi hidup sebagai seorang prajurit. Sejak menikah hampir tak pernah lagi ia menyentuh kapak perangnya. Senjata menakutkan itu kini sudah tersimpan di bawah selimut di dalam gudang rumahnya.
Read the rest of this entry »
2 Comments »
lihat bab sebelumnya di sini.
Hari masih jauh dari selesai. Malam masih lama dan Piri tahu, berkat pelajaran kecil tadi, akan ada sesuatu yang berbeda hari ini.
Anak-anak membubarkan diri lalu berlarian ke sana kemari sesuka hati, mencari buah-buahan yang mereka suka untuk makanan hari ini, dan bermain di tempat favorit masing-masing. Berkejaran di padang rumput, berenang di sungai, bermain bola di lumpur, atau berlompatan di kaki tebing. Dalam sekejap semuanya seolah melupakan dunia mangkok.
Tapi Piri yakin, di sela setiap permainan pasti sempat tercetus celetukan-celetukan kecil. Tak mungkin hal semenarik itu terlupakan begitu saja. Seperti itu jugalah yang terjadi ketika ia dan teman-temannya sedang bergelayutan di dahan pohon allumint.
Read the rest of this entry »
4 Comments »
lihat bab sebelumnya di sini.
Vilnar mendayung dengan kewaspadaan penuh. Ia bisa bergerak lebih cepat daripada siapapun di sungai, tapi justru karena itu ia harus berhati-hati pada kawanan Rohgar yang mungkin berkubu di suatu tempat. Rencana Vilnar adalah melewati Rohgar tanpa ketahuan, sekaligus sampai lebih cepat di desa berikutnya dan memperingatkan mereka dari ancaman Rohgar.
Namun sepanjang hari mereka tak menemukan tanda-tanda keberadaan Rohgar. Tidak juga desa lain, ataupun para penduduknya. Sepi, hanya ada burung-burung yang berkicau di pucuk-pucuk pepohonan jangkung yang berbaris di sisi kiri maupun kanan sungai. Barulah di hari kedua, perjalanan terasa lebih mendebarkan. Mereka mungkin akan bertemu Rohgar hari ini.
Read the rest of this entry »
2 Comments »
Bulan ini saya hanya menulis sebanyak 10.500 kata, atau 3 bab cerita Anak-anak Dunia Mangkok (sejauh ini sudah masuk bab 11). Sudah jelas hanya separuh dibandingkan target saya di awal bulan. Yeah, saya bisa saja mencari-cari alasan, tapi buat apa? Intinya, saya gagal di bulan ini, dan konsekuensinya saya harus bisa menulis lebih banyak di bulan Oktober.
Back to work.
13 Comments »