Anak-anak Dunia Mangkok 2
Posted by: Villam in Cerita, tags: Anak-anak Dunia Mangkok, cerita fantasi, villam's story
lihat bab sebelumnya di sini.
Hari masih jauh dari selesai. Malam masih lama dan Piri tahu, berkat pelajaran kecil tadi, akan ada sesuatu yang berbeda hari ini.
Anak-anak membubarkan diri lalu berlarian ke sana kemari sesuka hati, mencari buah-buahan yang mereka suka untuk makanan hari ini, dan bermain di tempat favorit masing-masing. Berkejaran di padang rumput, berenang di sungai, bermain bola di lumpur, atau berlompatan di kaki tebing. Dalam sekejap semuanya seolah melupakan dunia mangkok.
Tapi Piri yakin, di sela setiap permainan pasti sempat tercetus celetukan-celetukan kecil. Tak mungkin hal semenarik itu terlupakan begitu saja. Seperti itu jugalah yang terjadi ketika ia dan teman-temannya sedang bergelayutan di dahan pohon allumint.
Piri tengah berusaha memanjat lebih tinggi, sementara di bawahnya, di dahan yang lebih rendah Buro si gemuk pendek sudah duduk bersandar dan mengunyah buah ketiganya; tiga buah allumint itu cukup untuk membuat giginya berubah warna menjadi ungu. Temannya yang lain, Jiro si tinggi kurus sedang bergelayutan di dahan lain. Ketika lalu terdengar suara Yara.
Piri menoleh dan memperhatikan anak perempuan di bawahnya yang sedang mendongak sambil berkacak pinggang. Di belakang Yara ada dua anak perempuan lain, Sera dan Nere. Sera yang bertubuh kecil tersenyum pada Piri, sedangkan Nere ke arah Jiro.
“Jadi, bagaimana menurut kalian?” Yara bertanya.
“Apanya yang bagaimana?” Jiro balik bertanya. Suaranya bagus, dan ia adalah anak laki-laki yang selalu tersenyum, terutama jika ada anak perempuan di dekatnya.
“Kata-kata Kakek, bahwa dunia kita kecil dan berbentuk mangkok.”
“Tidak, Yara,” Buro mengoreksi, masih sambil mengunyah. “Kakek bilang dunia kita luas, dan kebetulan bentuknya seperti mangkok.”
“Jadi kalian tidak mengerti?!” Yara berkata lagi, dan kali ini Piri tak yakin apakah dia sedang bertanya atau sedang menggerutu. “Kakek bilang kita ini anak pintar. Itu artinya Kakek ingin kita berpikir. Dia ingin kita tidak percaya begitu saja pada ucapannya.” Ia memandang dengan mata berbinar. “Dia ingin kita tahu, dunia lebih luas daripada yang kita kira selama ini.”
Kata-katanya membuat Piri berhenti memanjat lebih tinggi.
Si gemuk Buro bahkan terguling jatuh tepat di hadapan Yara, Ia berdiri, menatap anak perempuan itu beberapa saat, lalu bertanya, “Mmm … apa kata-katamu tadi?”
“Kakek bilang kita ini anak yang …” Yara menghentikan kalimatnya. Dia melotot. Sepertinya dia mengira Buro hanya bermaksud mengerjainya.
“Ah, pikiranmu memang aneh,” tukas Jiro, tetap dihiasi senyuman. Kedua kakinya diangkat lalu dikaitkan di dahan pohon. Ia bergantung terbalik di sana, bergaya. “Dari dulu, Yara. Bukan begitu, Piri?”
Piri mengangkat bahu lalu berdiri di atas dahan. “Sebenarnya kamu mau apa, Yara? Pergi ke pegunungan seberang dan mencari tahu apakah jaraknya lebih jauh daripada yang kita duga? Dan dunia ini lebih luas daripada yang kita kira? Lalu apa, setelah kita tahu?”
“Ya,” Buro menyahut dari bawah. “Apa itu ada gunanya buat kita?”
“Seperti kata Yara tadi, kita mungkin bisa menemukan sarang kupu-kupu bintang.” Jiro meringis. Tubuhnya masih terbalik, berayun-ayun dengan kedua kaki di dahan pohon. “Atau burung kamio?”
“Ya, itu menarik.” Buro mengangguk-angguk. “Tapi apa gunanya?”
“Paling tidak kita tahu ada sesuatu di sana,” jawab Jiro.
“Apa yang kamu mau, Yara?” Si gemuk mengulang pertanyaan Piri.
“Jawab pertanyaanku dulu,” balas Yara. “Apakah kalian percaya dunia kita hanya seluas mangkok pegunungan dan lembah ini?”
“Kenapa tidak?” tukas Buro. “Memangnya dunia seperti apa, dan seluas apa, yang kamu mau?”
“Kalian tidak ingin tahu dari mana kita sebenarnya berasal?”
Anak-anak tertegun, lalu saling memandang.
“Kita berasal dari sini,” Sere berkata, walau tampak ragu.
“Ya, betul,” Nere menimpali. “Kata Kakek begitu.”
“Dan kalian semua percaya itu?”
“Kenapa harus tidak percaya?!” seru Buro.
“Karena semakin besar seharusnya kita semakin pintar! Kita harus lebih banyak bertanya tentang ini dan itu, dan mencari tahu apakah semua yang dikatakan pada kita itu benar atau tidak.” Yara tersenyum lebar, kelihatannya puas dengan kata-katanya sendiri.
“Semua yang dikatakan oleh Kakek benar,” Buro membalas. “Kakek selalu baik pada kita. Ialah yang mengajarkan kita semua hal, dan semuanya benar. Ia tidak mungkin berbohong.”
“Aku tidak bilang Kakek tidak baik pada kita,” tukas Yara. “Aku hanya bilang Kakek ingin kita berpikir. Dia sedang menguji apakah kita memang benar-benar pandai atau tidak. Apakah kita sudah besar atau belum.”
Kalimat terakhirnya membuat semua anak terdiam.
Besar.
Ya, semakin lama tubuh mereka memang semakin besar, walau Piri percaya tak ada yang ingat sekecil apa dulu mereka di awal masa, entah kapan itu. Anak-anak tak pernah terlalu memikirkan soal itu. Mereka lebih senang menikmati setiap hari dan malam yang datang silih berganti. Berlari, main, makan, tidur, tertawa-tawa, semuanya menyenangkan. Lalu kenapa harus memikirkan hal-hal aneh yang membuat pusing kepala?
Tapi memang tak mungkin menyamakan isi kepala setiap anak. Yara berbeda, dan Piri yakin dia sebenarnya sudah memikirkan soal ini sejak lama. Dia berbicara sekarang, pastinya gara-gara pelajaran dari Kakek tadi.
Piri pun berkata, “Mungkin saja kamu benar, Yara, tapi kamu tetap be-lum bilang apa yang sebenarnya kamu mau.”
“Dia ingin pergi ke pegunungan seberang.” Jiro melompat turun. “Mencari apakah di sana ada jalan keluar menuju dunia lain.”
“Jaraknya jauh sekali, Yara.” Piri menggeleng-geleng. Terpisah jauh di atas dan di bawah pohon, ia dan anak perempuan itu saling menatap.
“Aku tahu,” Yara menjawab. “Aku memang tidak akan ke sana.”
Sesaat Piri merasa lega.
Tapi ternyata itu belum selesai. Yara tersenyum, lalu mendongak ke arah lain. Ia menatap pegunungan yang menjulang tinggi di seberang sungai, di balik kerimbunan pohon allumint.
“Aku tidak perlu jauh-jauh pergi ke sana,” katanya. “Untuk menemukan jalan keluar menuju dunia yang lebih besar, aku cukup naik ke puncak pegunungan ini.”
bersambung





Entries (RSS)
January 16th, 2010 at 1:47 pm
Masih sip.
Cuma mungkin ada masalah di nama-nama anaknya. Sederhana dan lucu sih. Tapi mirip-mirip (4 kata semua) dan langsung dimunculkan banyak seketika. Sempet agak pusing soalnya kebalik-balik. Tapi yah it’s fine.
Hehe, masukan ga perlu.
Tapi yah, menurutku bahasanya memang tinggi nih. Mungkin tuh anak kalo baca harus sedikit didampingi ama ortunya.
January 16th, 2010 at 9:59 pm
ttg bahasanya, sementara mau dibiarkan spt ini dulu. yg penting ditulis dulu. nanti kalo udah selesai, baru ditimbang-timbang dan direvisi jika perlu.
January 16th, 2010 at 10:55 pm
Yap, betul. Yang penting memang ditulis dulu.
Lagian cuma pendapat pribadi selintas aja.
January 17th, 2010 at 7:09 am
hehe… seluruh pendapat ditampung kok.