image005lihat bab sebelumnya di sini.

Vilnar mendayung dengan kewaspadaan penuh. Ia bisa bergerak lebih cepat daripada siapapun di sungai, tapi justru karena itu ia harus berhati-hati pada kawanan Rohgar yang mungkin berkubu di suatu tempat. Rencana Vilnar adalah melewati Rohgar tanpa ketahuan, sekaligus sampai lebih cepat di desa berikutnya dan memperingatkan mereka dari ancaman Rohgar.

Namun sepanjang hari mereka tak menemukan tanda-tanda keberadaan Rohgar. Tidak juga desa lain, ataupun para penduduknya. Sepi, hanya ada burung-burung yang berkicau di pucuk-pucuk pepohonan jangkung yang berbaris di sisi kiri maupun kanan sungai. Barulah di hari kedua, perjalanan terasa lebih mendebarkan. Mereka mungkin akan bertemu Rohgar hari ini.

Vilnar terus menatap tajam ke depan. Ia hampir tak pernah menoleh ke arah Ailene di belakang. Sesekali Vilnar menghentikan kayuhan, menajamkan telinga untuk mengenali suara-suara yang mencurigakan di kejauhan, dan akhirnya saat tengah hari mereka melihat kepulan asap di balik pepohonan rimbun, yang ternyata berasal dari sebuah rumah yang terbakar.

Vilnar tahu ia sudah sampai di desa berikutnya. Sorak-sorai sekumpulan orang terdengar dari desa tersebut, yang dibarengi dengan suara denting logam saling beradu. Ada yang sedang bertempur di sana, tapi siapa?

Vilnar merapatkan perahu ke tepi sungai, cukup jauh dari desa. Ia meraih kapaknya dan menatap Ailene lekat-lekat. ”Kau tunggulah di sini. Tidak usah khawatir. Aku akan segera kembali. Itu janjiku.”

Ailene tampak ketakutan, tapi gadis itu mengangguk. Tangannya terulur mengusap wajah Vilnar, lalu mengucapkan beberapa kalimat.

Vilnar tersenyum lebar. ”Kedengarannya seperti doa, ya? Terima kasih.”

Sesaat kemudian ia sudah melompat dari atas perahu dan berlari ke arah desa. Ia menerobos pepohonan lebat dan melompati beberapa parit sebelum akhirnya tiba di pinggir sebuah tanah lapang.

Pertempuran seru sedang terjadi, yang tampaknya sudah berlangsung cukup lama. Belasan prajurit Hualeg terbaring tewas di sana sini, sementara belasan yang lain masih mengepung lawan mereka.

Lawan mereka hanya tiga orang, tapi ketiga orang itu sungguh lawan yang sangat tangguh. Gerakan pedang dan tombak mereka yang kuat dan cepat terbukti telah mampu menjatuhkan prajurit-prajurit ganas dari Hualeg. Seumur hidupnya Vilnar belum pernah melihat keterampilan memainkan pedang dan tombak yang lebih baik daripada ketiga orang itu.

Tapi orang-orang Hualeg juga bukan prajurit sembarangan. Mereka kuat dan tak kenal takut. Melihat rekan-rekannya jatuh malah membuat mereka semakin ganas. Mereka berhasil mengepung dan mendesak ketiga orang lawannya sampai ke kaki bukit berbatu.

Pemimpin Hualeg, yang berambut merah dan menggenggam pedang besar, memberi komando, ”Serang terus! Mereka sudah lelah!”

Vilnar mengenalinya. Dialah Rohgar, musuh lamanya dari suku Logenir.

Vilnar tak butuh waktu lama untuk menimbang-nimbang. Tanpa ragu ia melompat masuk ke medan pertempuran, dan berseru, ”Rohgar dari Logenir! Ini aku Vilnar dari Vallanir! Biarkan aku yang membunuhmu sekarang!”

Setelah bertahun-tahun tak pernah terlibat dalam pertempuran, ternyata ia tetaplah Vilnar yang dulu, yang namanya terkenal ke seluruh penjuru Hualeg karena kehebatannya bertempur dan menakut-nakuti musuh. Tak sedikit pun reputasinya memudar.

Seluruh prajurit suku Logenir terperanjat, jelas tak menduga Vilnar bisa berada di tempat ini. Belum sempat mereka bereaksi, Vilnar sudah datang dengan kapak besar terangkat tinggi. Sapuannya yang pertama langsung menewaskan dua orang. Setelah itu kapaknya berputar-putar bagai angin puting beliung di tengah kerumunan prajurit Hualeg. Jerit kematian sahut-menyahut. Tubuh para prajurit terlontar kesana kemari dalam bentuk yang tak utuh satu pun.

Rohgar yang paling terakhir bertahan, tapi itu pun tak lama. Ia dan Vilnar sempat beradu senjata beberapa kali, tapi pada suatu kesempatan, maksud hati Rohgar ingin membacok Vilnar dari belakang, tapi sabetannya hanya membelah angin. Detik berikutnya kapak Vilnar memotong dua tubuhnya.

Vilnar tak menyangka pertempurannya dapat berakhir secepat ini. Napasnya naik turun memandangi mayat-mayat prajurit suku Logenir di sekelilingnya. Ketika melihat Rohgar, ia tersenyum puas. Musuhnya itu kini tidak bisa lagi mengancam orang-orang desa di selatan.

Sambil mengelap kapaknya yang berlumuran darah, Vilnar memperhatikan dua orang berpedang dan seorang bertombak yang berdiri tidak jauh darinya. Ketiga orang itu juga tengah menatap dirinya dengan sorot mata waspada.

Orang yang berdiri paling kanan adalah yang tampak paling berbahaya. Ia hanya sedikit lebih tua dibanding Vilnar. Rambutnya berwarna hitam panjang sampai setengah punggung, dan wajahnya dingin tanpa ekspresi. Tombak panjang hitamnya masih teracung ke arah Vilnar, seperti mengancamnya supaya tak berbuat macam-macam. Sedangkan orang yang paling kiri, yang berambut kelabu, lebih bersahabat. Pedangnya masih teracung, namun hanya kelihatan seperti berjaga-jaga.

Tapi orang yang berdiri di tengah yang kemudian lebih menarik perhatian Vilnar. Orang ini juga masih muda, tapi tampak lebih matang ketimbang dua rekannya. Rambutnya berwarna coklat muda, matanya teduh, dan senyumnya tulus. Dialah yang pertama menyarungkan pedangnya, lalu mengangkat tangan seolah memberi salam pada Vilnar.

Vilnar merasa nyaman melihat orang itu. Ia pun ikut tersenyum, menjatuhkan kapaknya lalu membuka kedua telapak tangannya ke depan. ”Tuan-tuan, tolong kalian tunggu sebentar di sini. Aku akan membawa seseorang dari perahuku. Ia butuh bantuan kalian.”

Orang yang berambut hitam dan coklat saling berpandang-pandangan, kelihatannya tak mengerti apa yang dikatakan oleh Vilnar. Tapi orang yang berambut kelabu tampaknya cukup mengerti bahasa Hualeg. Ia berkata, ”Sebentar dulu, teman…”

Vilnar tidak memperhatikan dan sudah langsung lari menuju perahunya. Ia berlari cepat melompati parit dan bebatuan, dan ketika sampai di tepi sungai ia menemukan Ailene yang sedang meringkuk ketakutan di balik tumpukan mantel.

Vilnar pun melompat ke atas perahu. ”Ailene, ini aku! Aku menemukan orang-orang yang mungkin bisa mengenalimu.”

Mungkin yang dimengerti oleh gadis itu hanyalah bahwa Vilnar telah selamat. Tanpa diduga dia melompat memeluk Vilnar, yang hanya bisa terdiam. Untung Ailene tidak bisa melihat wajah Vilnar yang memerah malu.

”Ehm, baik, naiklah ke punggungku.” Vilnar berusaha menahan diri. ”Mari kita temui mereka.”

Vilnar menggendong Ailene sampai ke desa, menerobos pepohonan dan melompati parit. Vilnar bisa merasakan bagaimana Ailene membenamkan wajah di punggungnya kala melewati tanah lapang. Sudah pasti gadis itu tidak suka melihat darah dan mayat orang-orang Hualeg yang masih bergelimpangan.

Ketiga orang yang tadi bertempur masih menunggu. Vilnar mendekati ketiganya, kemudian menurunkan Ailene.

Vilnar berkata, ”Tuan-tuan, aku menemukan gadis ini di desa sebelum-nya yang juga diserang oleh orang-orang itu.”

Ia menunggu, apakah ketiga lawan bicaranya memahami perkataannya.

Ternyata si pemuda berambut kelabu mengangguk. ”Kami mengerti.”

Vilnar tersenyum lebar. ”Nama gadis ini Ailene, ia berasal dari selatan. Kalian mungkin bisa membantu menemukan keluarganya di suatu tempat.”

”Baik, kami akan berusaha membantunya,” jawab si rambut kelabu. ”Tapi sebelum itu, kelihatannya kaki gadis ini terluka parah. Kalau kau tidak keberatan, aku tahu cara mengobati yang lebih baik.”

Vilnar setuju, dan membiarkan si pemuda berambut kelabu membawa dan merawat Ailene di sebuah rumah penduduk. Setelah itu ia bergabung dengan kedua pemuda yang lain dan juga sejumlah penduduk untuk mengumpulkan mayat-mayat prajurit Hualeg dan menguburkannya.

Menjelang sore seluruh pekerjaan selesai. Vilnar bergabung bersama ketiga pemuda untuk makan malam di depan rumah tempat Ailene dirawat. Si pemuda berambut hitam membuat api unggun kecil, kemudian duduk menjauh di bawah pohon rindang, sambil menggosok tombaknya seolah tak mempedulikan rekan-rekannya yang duduk di sekeliling api unggun.

Seperti biasa, Vilnar memperkenalkan diri terlebih dahulu dengan menunjuk dadanya. ”Namaku Vilnar. Aku orang Hualeg, sama seperti orang-orang yang kubunuh tadi siang. Aku tidak menyesal membunuh mereka. Aku memang sudah berniat. Kalian mungkin tidak tahu, tapi aku sudah melihat korban-korban mereka. Sebagai orang Hualeg, aku malu kepada orang-orang di selatan. Semoga tindakanku ini bisa menunjukkan penyesalanku.”

Si rambut kelabu menerjemahkan seluruh perkataan Vilnar pada kedua rekannya, yang lalu mengangguk tanda mengerti. Ia lalu memperkenalkan diri pula. ”Namaku Walter. Yang ini kakak pertamaku, Fabien,” Ia menunjuk pemuda berambut coklat yang selalu tersenyum. ”Dan yang di sana itu Claude, kakak keduaku.”

Wajah Claude, si rambut hitam panjang yang ditunjuk itu tetap tidak berubah ekspresinya, yang membuat Walter lalu berkomentar, ”Dia memang tak banyak bicara, tapi dia adalah pendekar tombak terbaik di dunia timur. Seorang pengawal yang hebat buat kami semua. Kami bertiga adalah ksatria dari Kuil Ksatria di Gunung Hohn.”

Vilnar mengangguk. “Kalian bersaudara?”

”Di Kuil Ksatria kami mengangkat saudara,” jawab Walter. ”Aku berga-bung dengan kedua kakakku enam bulan yang lalu. Kami bertiga berkelana ke berbagai tempat, mencoba membantu rakyat yang sedang tertimpa bencana. Biasanya kami tidak menemui banyak kesulitan, kecuali hari ini. Untung kau datang membantu kami. Kami sangat berterima kasih.” Walter menundukkan kepalanya memberi hormat, diikuti pula oleh Fabien dan Claude.

Fabien mengatakan sesuatu pada Walter, yang lalu berkata, ”Kakakku sangat kagum pada kemampuanmu dan juga sifat adilmu. Ia menawarimu bergabung dengan kami dalam keksatriaan, untuk membantu rakyat yang menderita di tempat lain. Kau adalah prajurit terkuat yang pernah kami lihat. Kami akan sangat senang jika kau mau bergabung.”

Vilnar termangu. Menjadi ksatria? Memangnya apa itu?

Walaupun belum begitu jelas, kedengarannya cukup menarik. Nanti ia akan punya kesempatan pergi ke negeri yang jauh. Hal itu membuat Vilnar langsung teringat sesuatu. ”Barangkali aku juga bisa berkunjung ke desa Ailene? Kalian sudah tahu ia berasal dari mana?”

”Ailene?” Walter mengangguk. ”Ya, kami sudah berbicara dengannya. Katanya ia berasal dari negeri Tavar, cukup jauh di selatan. Ia dan ayahnya adalah pedagang yang sudah pergi ke banyak tempat. Musim panas ini adalah kali pertama ia datang ke negeri utara bersama ayahnya. Tidak disangka, ternyata orang Hualeg datang menyerang. Ayahnya terbunuh di desa yang kau datangi itu. Jadi kurasa ia masih sedikit trauma sekarang.”

Vilnar hanya bisa terpana mendengar penjelasan Walter. Ia sama sekali tak mengira bahwa ayah Ailene mungkin adalah salah satu penduduk desa yang sempat ia kuburkan di desa. Lagipula ia tidak pernah melihat Ailene menangis selama bersamanya. Bisa jadi air mata gadis itu sudah habis sebelumnya. Vilnar menyesal tidak menyadarinya sejak awal.

Walter berkata, ”Gadis itu bilang ia tidak punya keluarga lagi di Tavar. Ayahnya adalah keluarga satu-satunya. Jadi ia belum tahu akan ke mana.”
Vilnar mendengarkan dengan seksama. Perasaannya bergejolak dan ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ia ragu harus mulai dari mana.

Namun akhirnya ia memberanikan diri. ”Bisakah kau tanyakan padanya, apakah mungkin ia bersedia tinggal lebih lama di sini?”

”Di sini? Ya … tentu saja.” Walter tersenyum.

Vilnar menggeleng. Setelah mengatur napas ia berkata dengan lebih tegas, ”Tidak. Sebenarnya bukan itu maksudku. Aku pikir, kau mungkin bisa bertanya pada gadis itu, apakah ia mau … menikah denganku? Dia memang baru mengenalku selama dua hari, tapi katakan padanya bahwa aku akan mencintai dan melindunginya dengan sepenuh jiwa ragaku, selamanya. Aku bersumpah demi para dewa. Kau bisa tanyakan itu?”

Walter menatapnya cukup lama, lalu mengangguk. ”Baiklah, aku akan menanyakannya pada gadis itu. Kuharap kau beruntung, kawan.”

Ia kemudian masuk ke dalam rumah untuk menemui Ailene.

Dan cukup lama Walter berada di sana.

Di luar, Vilnar hanya bisa menunggu. Ia tidak bisa menutupi kegelisahannya, terus berjalan mondar-mandir di halaman. Sesekali ia menunduk memandangi rerumputan, lain waktu menengadah memandangi bintang. Ia melirik sebentar ke arah Fabien yang terus tersenyum. Mungkin ksatria itu tidak menyangka Vilnar yang garang saat bertempur ternyata bisa begitu gugup saat ini. Ksatria berambut coklat itu menyodorkan minuman hangatnya pada Vilnar. Vilnar pun meminumnya dengan sekali teguk. Cukup membuatnya tenang.

Tak lama kemudian Walter keluar, dan Ailene berdiri di sampingnya. Jalan gadis itu masih terpincang-pincang, tapi kelihatannya kakinya sudah semakin membaik. Vilnar dan Ailene saling bertatapan. Wajah gadis itu sulit ditebak. Apakah dia senang mendengar pesan dari Vilnar? Atau tidak?

”Ailene bilang ia ingin mengatakannya langsung padamu,” kata Walter.

Ailene memandang Vilnar tanpa berkedip, lalu dengan tenang mengucapkan beberapa patah kata.

Vilnar hanya memandanginya, bingung. Ia menoleh pada Walter meminta pertolongan, apa yang sebenarnya dikatakan oleh Ailene, dan ia heran kenapa Fabien dan Walter malah tertawa-tawa kecil. Bahkan Claude yang selama ini kelihatan tidak peduli pun ikut menyeringai.

”Baiklah, Vilnar,” akhirnya Walter berkata. ”Ailene bilang kau orang yang sangat baik, tapi menurutnya, sebaiknya kau mencukur kumis dan janggutmu yang tebal itu, supaya ia bisa melihat wajahmu dengan lebih baik.”

”Oh … baik …” sahut Vilnar bingung.

”Tapi … nanti saja,” sambung Walter. ”… setelah kalian menikah.”

”Nanti? Apakah itu berarti dia setuju?” tanya Vilnar ragu.

”Ya.” Walter mengangguk. ”Ia sangat berbahagia sekarang.”

Vilnar tersenyum lebar, lega. Ia hampir tidak percaya. Tak pernah terpikir bahwa hari penuh darah ini ternyata bisa berakhir dengan begitu indah! Ia menundukkan kepala penuh hormat.

”Terima kasih, Ailene.”

Mata Ailene berkaca-kaca. Tangan mungilnya meraih tangan kekar Vilnar dan menciumnya. Air mata gadis itu bergulir. Dada Vilnar bergemuruh. Dia, lelaki yang terbiasa hidup dengan kapaknya, yang tak pernah menangis seumur hidupnya, kini tak mampu pula menahan perasaannya. Ia menarik tubuh Ailene, mencium dahinya dan memeluk tubuh gadis itu erat-erat.

Esoknya, pagi-pagi sekali di tepi sungai Vilnar mencukur habis kumis dan janggut emasnya, perlahan-lahan dengan belati. Ailene memang meminta Vilnar bercukur setelah menikah, tapi Vilnar berpikir sebaiknya ia melakukannya sebelum itu. Ini adalah hari terbaik dalam hidupnya, dan juga hidup Ailene. Jadi tentu saja, sebaiknya ia melakukan ini.

Sambil menatap bayang mata birunya di sungai ia berharap, penampilannya akan sepadan dengan Ailene yang cantik. Dan juga sesuai, walaupun sebenarnya mereka berdua sangat berbeda. Rambut hitam dan rambut emas. Mungil dan jangkung. Si cantik dan si buas.

Ah, tapi buat apa dipikirkan? Vilnar percaya Ailene benar-benar mencintainya, sebagaimana ia mencintai gadis itu dengan sepenuh hati. Itu yang penting.

Di tepi Sungai Ordelahr, diiringi nyanyian burung-burung di pucuk pepohonan, mereka berdua menikah, dengan Fabien bertindak sebagai penghulu. Vilnar bersumpah kepada sang dewa angin, sementara Ailene—tampaknya—kepada Tuhannya. Keduanya mengucapkan sumpah setia, dan setelah ritual sederhana itu selesai, mereka semua makan siang bersama.

Saat itulah Walter berkata pada Vilnar, ”Kami rasa tugas kami di sini sudah selesai. Orang-orang Hualeg sudah tidak bisa mengancam lagi. Kami akan pergi ke kota Alton di selatan.”

Vilnar menatap ketiga pemuda asing itu satu persatu, lalu mengangguk. “Tentang tawaran kalian semalam, tentang keksatriaan, apa masih berlaku?”

“Ah, kukira kau tidak tertarik.” Walter lalu saling berbicara dengan Fabien, kemudian berkata lagi pada Vilnar, ”Kakakku sangat gembira jika kau memang berniat menjadi ksatria. Kalau kau setuju kau akan diangkat menjadi Ksatria Keempat hari ini juga.”

”Tapi aku tak bisa pergi dengan kalian sekarang. Kalian tentu paham.” Vilnar melirik Ailene yang duduk di sampingnya. ”Selain itu aku juga tidak tahu sedikit pun mengenai keksatriaan.”

”Kau tidak perlu ikut dengan kami sekarang. Malah lebih baik jika kau bisa menjadi ksatria di antara rakyatmu sendiri. Cukup tegakkan saja hal-hal berikut: kebenaran, keadilan, kehormatan dan loyalitas. Kau telah menunjuk-kannya langsung pada kami lewat tindakan dan ucapanmu kemarin. Bersumpahlah kau akan tetap memegangnya dengan teguh sepanjang hidupmu. Sayangi, dan lindungi orang-orang yang lebih lemah di sekelilingmu. Kau punya kekuatan yang sangat besar. Jangan salah gunakan itu.”

”Aku mengerti, dan aku siap melakukannya,” jawab Vilnar.

Maka siang itu pula Vilnar diangkat oleh Fabien menjadi Ksatria Keempat. Ia berlutut, dan membiarkan Fabien menepuk bahu kiri dan kanannya dengan sebuah pedang. Vilnar bersumpah akan selalu tunduk pada kode keksatriaan: kebenaran, keadilan, kehormatan dan loyalitas.

Walter kemudian berkata, ”Kita berpisah sekarang, tapi tempatmu sekarang sudah tersedia di kuil kami di Gunung Hohn. Datanglah ke sana, kalau kau sempat. Kami akan menyambutmu dengan gembira, karena kini kau sudah menjadi saudara kami.”

Vilnar mengangguk gembira. Ya, ia akan melakukan itu.

Tapi saat ia menoleh ke belakang dan memandangi wajah cantik istrinya, ia berpikir, apakah nanti ia benar-benar bisa pergi ke sana.

Ia tidak yakin.

Bukan karena istrinya. Ada sesuatu yang lain.

bersambung

lihat bab selanjutnya di sini.

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

4 Responses to “Di Tepi Sungai Ordelahr 2”

  1. 1
    heinz Says:

    Hm, si Vilnar ini kira-kira umurnya berapa ya?
    Kalo aku ga salah cerna, kira-kira ga lebih dari 20 taunan. Tapi reputasinya sudah sedemikian hebatnya. Dan juga janggutnya….

  2. 2
    Villam Says:

    hehe … soal latar dan umur, ada di bagian sebelumnya.

  3. 3
    alfare Says:

    di alinea paling pertama, sebaiknya disebutin bahwa vilnar sedang bersama ailene. kekurangan lain di bab ini cuma soal penataan kata minor, yang semestinya bisa diperbaiki sendiri ama editor.

    ada hal yang agak aneh buatku soal arah perkembangan ceritanya, tapi aku ga yakin apa. tapi aku yakin bukan masalah besar mengingat narasinya udah bagus.

    sejauh ini bagus loh.

  4. 4
    Villam Says:

    iya betul, alinea pertama seharusnya disebutkan.
    thanks, bro.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled