lihat bab sebelumnya di sini.

Saat musim semi Ailene melahirkan putranya di rumah Vilnar yang terpencil di salah satu anak sungai Ordelahr. Vilnar memberi nama putranya Villam, yang dalam bahasa Hualeg berarti ’batu bercahaya’—batu permata yang terkeras dan terindah—dengan harapan agar kelak ia bisa menjadi lelaki yang tangguh sekaligus menerangi setiap orang di sekitarnya. Nama Vilnar sendiri berarti ’batu hitam’, dan nyatanya batu bercahaya memang hanya bisa diasah dari batu hitam terbaik. Vilnar jelas menginginkan agar putranya kelak bisa menjadi lelaki yang lebih baik daripada dirinya.

Sekarang sudah empat tahun sejak Vilnar pergi dari desanya di Hualeg, dan ia telah menikmati kehidupan barunya sebagai seorang suami dan ayah. Walau kadang terbersit kerinduan akan kampung halamannya, semakin lama keinginannya untuk kembali semakin meredup. Jika teringat istri dan anaknya, ia tidak ingin lagi hidup sebagai seorang prajurit. Sejak menikah hampir tak pernah lagi ia menyentuh kapak perangnya. Senjata menakutkan itu kini sudah tersimpan di bawah selimut di dalam gudang rumahnya.

Tapi Vilnar paham sepenuhnya, bagaimanapun ia berusaha melepaskan diri, ia tetaplah seorang Hualeg. Ia memiliki akar yang tak mungkin ia cabut. Akar tersebutlah yang telah menghidupi dan membuatnya bertahan selama ini; seperti halnya keganasannya dalam bertempur yang akan muncul dengan sendirinya walaupun terkubur sekian lama. Suatu hari, akan ada hal-hal yang bisa memaksanya harus kembali ke negerinya.

Mungkin di saat musim panas datang kembali kini. Bagi orang-orang Hualeg musim panas berarti kesempatan untuk keluar dari negerinya dan menjelajah ke selatan. Tentu saja sebaliknya bagi orang-orang di selatan yang justru menjadi khawatir, apalagi setelah terjadinya serangan Rohgar di musim panas sebelumnya. Rohgar sudah mati, tapi siapa yang bisa menjamin tidak akan ada lagi orang-orang Hualeg lainnya yang bakal datang menyerang?

Vilnar khawatir karena ia sudah memiliki keluarga sekarang. Kalau saja masih sendiri, ia tidak akan takut. Untung saja letak rumahnya cukup jauh dari aliran sungai utama Ordelahr, sehingga ia yakin orang-orang Hualeg tidak akan bisa menemukannya. Namun tetap saja, hampir sepanjang musim panas Vilnar memilih menemani keluarganya untuk berjaga-jaga. Baru di penghujung musim ia berani berperahu lagi ke selatan untuk menjual mantel-mantel kulitnya. Vilnar lega karena di desa-desa yang didatanginya ternyata sama sekali tidak ada serangan dari orang-orang Hualeg.

Seminggu setelah berangkat ia sudah hampir tiba kembali di rumahnya. Perahunya sudah kosong, mantelnya sudah terjual seluruhnya. Ia mendayung sambil bernyanyi kecil, dan sudah hampir berbelok ke kanan masuk ke anak sungai tempat rumahnya berada, ketika matanya melihat jauh di utara sebuah perahu kecil sedang bergerak ke selatan.

Vilnar terkesiap. Seluruh keriangannya berubah menjadi kekhawatiran. Ia segera menepikan perahu dan bersembunyi di balik semak pepohonan di tepi sungai. Dengan jantung berdebar ia mengamati perahu yang datang. Sebuah perahu yang langsing namun memanjang sampai sepuluh meter. Vilnar segera mengenalinya; itu perahu orang-orang Hualeg, datang langsung dari utara. Biasanya perahu sebesar itu bisa mengangkut sekitar sepuluh orang. Namun penumpangnya kali ini hanyalah tiga orang lelaki.

Perahu itu lewat di hadapan Vilnar. Ada dua orang yang mendayung, yang duduk paling depan dan paling belakang. Sementara penumpang yang di tengah sedang berdiri dengan pandangan mata jauh ke depan. Rambutnya berwarna kuning keemasan yang diikat kepang dua di belakang. Janggut tebalnya juga diikat kecil di bawah dagunya. Tubuhnya jangkung dan gagah, sedikit lebih besar dibanding Vilnar.

Vilnar hampir bersorak begitu melihatnya. Itulah Kronar, kakak sulungnya, saudara yang paling disayanginya dibandingkan dengan dua saudaranya yang lain. Kronarlah yang telah mengajarkannya bermain pedang dan kapak saat Vilnar masih kecil, dan yang pertama kali memberinya kepercayaan untuk ikut bertempur melawan musuh-musuh mereka.

Vilnar ingin segera berteriak memanggil namanya, tapi ia menahan diri. Kronar adalah orang yang paling dipercayai oleh Vilnar selain ayahnya sendiri, namun waktu empat tahun telah terlewatkan. Segala sesuatu bisa berubah. Vilnar tak tahu apa yang telah terjadi di Hualeg selama ia pergi, jadi untuk sementara ini ia memilih untuk berhati-hati.

Setelah perahu itu lewat agak jauh, Vilnar memutar perahunya dan keluar dari persembunyian. Ia mengikuti perahu dari utara itu. Didorong oleh rasa ingin tahunya ia menunda keinginannya untuk pulang. Ia harus tahu untuk apa Kronar kemari. Rasanya tidak mungkin kakaknya itu hendak pergi menjarah kalau hanya pergi dengan dua orang anak buahnya.

Matahari terbenam. Perahu Kronar menepi untuk beristirahat. Vilnar pun menepi jauh di belakangnya. Setelah menyembunyikan perahunya ia berjalan mengendap-endap mendekati mereka. Kronar dan dua prajuritnya sudah duduk mengelilingi api unggun yang baru saja mereka buat dan memakan persediaan makanan mereka.

Satu, dua, tiga. Tidak, kali ini Vilnar bukan sedang menghitung jumlah orang, melainkan menghitung berapa kali ia memilih untuk mengintip dari balik semak-semak saat melihat orang-orang Hualeg. Pertama dulu saat ia menemukan Ailene, kedua saat ia menemukan Rohgar dan para ksatria, sekarang ketiga saat ia menemukan kakaknya sendiri. Vilnar tersenyum kecut sambil menggeleng-geleng. Ia orang Hualeg, tapi tindakannya bersembunyi jelas menunjukkan ketidaknyamanannya ketika bertemu dengan mereka.

Salah seorang prajurit itu berkata, ”Sudah beberapa minggu kita keluar mencari di beberapa desa, tapi kita tetap belum menemukannya.”

”Aku ragu kita akan menemukannya,” kata prajurit lainnya. ”Ia sudah pergi selama empat tahun. Ia bisa berada di mana saja sekarang, apalagi kalau ia memang tidak berniat pulang.”

”Mungkin kalian benar,” akhirnya Kronar berkata. ”Kita coba jelajahi desa lainnya sampai dua minggu ke depan. Jika kita tetap tidak bisa menemukan adikku, kita pulang ke desa. Sebentar lagi musim gugur akan datang dan lalu musim dingin; salju akan turun dan sungai-sungai di hutan akan membeku. Memang masih beberapa bulan lagi, tapi kita tidak akan bisa melewatinya kalau salju sudah mulai turun.”

Kronar mencarinya? Akhirnya Vilnar menjadi lega. Tanpa pikir panjang ia pun melompat keluar. ”Kakak! Aku ada di sini!”

Kronar dan kedua prajurit terlompat. Tapi begitu melihat wajah Vilnar yang diterangi cahaya api unggun akhirnya mereka tersenyum lebar.

”Vilnar, adikku!” Kronar membentangkan kedua tangannya.

Vilnar dan Kronar berpelukan dan tertawa terbahak-bahak, diikuti pula oleh tawa dua prajurit lainnya. Kronar lalu mengajak Vilnar duduk dan makan. Mereka berbincang dan saling menanyakan kabar masing-masing.

”Sudah empat tahun kau pergi,” kata Kronar. ”Apa yang terjadi? Kenapa tak segera kembali setelah masa pengasinganmu selesai? Kami semua menunggumu. Kau tahu, bagaimanapun aku tidak pernah setuju dengan hukuman yang diberikan padamu dulu. Itu bukan sepenuhnya salahmu.”

Vilnar mengangkat bahu sambil menyeka sisa makanan yang menempel di mulut dan janggut. ”Itu bukan masalah,” jawabnya. ”Aku senang punya kesempatan pergi ke selatan, dan aku mulai betah tinggal di sini. Tapi jangan khawatir, aku pasti akan pulang nanti. Mungkin musim panas berikutnya.”

”Kau tidak ingin pulang bersamaku sekarang?” tanya Kronar.

Vilnar menatapnya dalam-dalam sambil berusaha memikirkan jawaban yang pas. Ia melirik sebentar ke arah dua prajurit lainnya, lalu berkata, ”Tergantung. Apakah ada yang mendesak atau penting sekali?”

”Ayahmu ingin kau pulang,” jawab Kronar. ”Ia sakit-sakitan sekarang.”

Vilnar terdiam. Ia selalu mencintai ayahnya, walaupun ayahnya itulah yang telah memberi hukuman kepadanya. Vilnar tahu ayahnya dulu tak punya pilihan lain. Vilnar selalu merindukannya, apalagi kalau benar ayahnya itu semakin sakit-sakitan sekarang. Tapi haruskah ia pulang sekarang? Lalu bagaimana dengan Ailene dan Villam? Apakah ia juga harus membawa mereka jauh ke utara, ke negeri yang dingin dan asing buat mereka?

Setelah menimbang-nimbang Vilnar berkata, ”Kakak, aku sangat ingin pulang menjenguk Ayah. Tapi ada beberapa hal yang harus kulakukan dulu.”

”Kalau begitu kami akan menunggu,” sahut Kronar.

Vilnar menggeleng. ”Tidak usah. Nanti terlalu lama buat kalian. Kakak pulang saja dulu. Aku nanti akan menyusul.”

”Kau yakin?” Kronar menyelidik. ”Ada sesuatu yang kausembunyikan?”

”Kakak, aku selalu jujur padamu,” jawab Vilnar hati-hati. ”Tapi ada satu hal yang belum bisa kukatakan padamu sekarang. Tapi aku berjanji pasti akan mengatakan padamu nanti, saat tiba waktuku untuk kembali ke desa.”

Kronar mengangguk dan tersenyum. ”Baiklah, aku mengerti. Aku selalu percaya pada janji dan kata-katamu, lebih daripada semua orang yang lain.”

”Terima kasih, Kak.” Vilnar tersenyum lega. ”Sampaikan salamku pada Ayah. Bilang aku pasti datang kalau aku sudah membereskan urusanku.”

”Beliau akan sangat berbahagia.” Kronar menepuk bahunya. ”Kau selalu menjadi anak kesayangannya, walaupun ia dulu telah menghukummu.”

Mereka berdua berpisah malam itu.

Vilnar mendayung pulang ke rumahnya dan ia sampai di sana tepat tengah malam. Anaknya sudah tidur, tapi istrinya masih bangun, seperti tahu bahwa Vilnar akan pulang malam itu.

Sepanjang perjalanan Vilnar sudah berniat menceritakan pertemuannya dengan Kronar kepada Ailene, namun begitu melihat wajah Ailene ia melupakan semuanya. Yang terpikir pada akhirnya hanyalah keinginan untuk memeluk istrinya sepanjang malam. Tak ada yang lain yang lebih penting.

Esok paginya Vilnar tetap belum terpikir untuk memberitahu Ailene. Setelah makan pagi bersama dan bercanda dengan istri dan anaknya yang berusia lima bulan, ia lalu keluar untuk mengerjakan pekerjaan rutin yang selalu dilakukannya hampir setiap hari selama bertahun-tahun terakhir: memotong kayu bakar. Di samping rumahnya ia mengambil beberapa gelondong batang pohon raksasa yang sudah dikumpulkan sebelumnya, lalu memotong-motongnya menggunakan sebuah kapak.

Saat itulah Ailene datang dan duduk di dekatnya sambil menggendong Villam. Sambil membelah kayu Vilnar menimbang-nimbang apakah harus menceritakan semuanya sekarang kepada Ailene.

Tapi Ailene yang ternyata berkata lebih dulu, seperti tahu apa yang ada di dalam benak Vilnar. “Kau belum menceritakan perjalananmu ke selatan. Semua baik-baik saja?”

Vilnar tersenyum. Setelah satu tahun ia kini sudah bisa sedikit memahami bahasa Ailene. ”Semua desa yang kulewati baik-baik saja. Tidak ada serangan seperti tahun lalu. Mantel kita juga sudah terjual semuanya.”

”Syukurlah.” Ailene memegang erat-erat Villam yang meronta-ronta karena ingin menyentuh kapak ayahnya.

”Tapi tadi malam aku bertemu tiga orang di sungai.” Vilnar akhirnya memutuskan untuk bercerita. Ia menyandarkan kapak di sampingnya. ”Dan salah seorang dari mereka adalah kakak sulungku, Kronar.”

Ailene terdiam. Namun walau tampak terkejut, ia hanya mengangguk-angguk kecil.

Vilnar melanjutkan, ”Ia bercerita tentang kondisi ayahku di Hualeg. Katanya ia semakin sering sakit-sakitan sekarang, dan ia ingin melihatku pulang. Aku bilang aku belum bisa memutuskannya.”

Mereka berdua terdiam.

”Lalu?” Ailene kemudian bertanya.

”Keputusanku akan sangat tergantung padamu.” Vilnar duduk di sebelah istrinya, lalu membelai kepala putranya. ”Yang jelas aku tidak mau berpisah dengan kalian. Jadi kalau kau mau ikut denganku ke sana, kita akan pergi. Tapi kalau kau tidak mau, maka kita pun tidak akan pergi.”

”Aku terserah kau,” Ailene menjawab singkat.

”Apakah kau mau pergi?” tanya Vilnar ragu. ”Kau pasti tahu Hualeg sangat jauh dan asing bagimu.”

Ailene termangu sejenak, lalu berkata, ”Kalau kau memang benar-benar ingin pergi, aku akan mendukungmu.”

”Kau tidak takut?” Vilnar teringat bahwa orang-orang Hualeglah yang dulu telah membunuh ayah Ailene, walaupun mereka itu hanyalah begundal-begundal Rohgar. Lagipula Vilnar sudah menumpas mereka semua.

”Apakah kau bisa melindungi aku dan Villam?” tanya Ailene.

”Tentu saja! Tak ada yang berani macam-macam denganku di Hualeg!”

”Kalau begitu tidak ada lagi yang perlu kutakutkan.” Ailene tersenyum. ”Aku akan ikut ke mana pun kau pergi.”

bersambung

Related posts:

  1. Di Tepi Sungai Ordelahr 2 Vilnar mendayung membelah sungai dengan kewaspadaan penuh. Ia bisa bergerak...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

4 Responses to “Di Tepi Sungai Ordelahr 3”

  1. 1
    heinz Says:

    Ahahaha, ternyata aku baru ngeh kenapa ada yang komentar ini cerita sebelum kau lahir….

  2. 2
    Villam Says:

    heheheheheheh… betul… :-P

  3. 3
    alfare Says:

    Kejelasan akhir tentang sisa orang2 Hualeg yang menyerbu sama perkembangan hubungan Vilnar dan Ailene sebagai suami istri pasti udah Villam siapin sebelum bagian ini kan? Ditambah lagi soal pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin timbul di benak pembaca; kayak alasan persis Rohgar nyisain Ailene hidup (sekalipun buat diambil sendiri, itu juga baiknya ditegasin) serta soal kenapa ‘serangan rutin’ musim panas ini terkesan lebih buruk dari biasanya.

    Kalo udah, maka kayaknya udah ga ada masalah.

  4. 4
    Villam Says:

    iya, ada beberapa hal yang kayaknya perlu ditambahin. tapi ada beberapa hal juga yang mungkin bakal dibiarkan begitu saja.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled