lihat bab sebelumnya di sini.

Vilnar membawa istri dan anaknya mengarungi Sungai Ordelahr selama berhari-hari. Mereka menerobos hutan gelap melalui sungai berliku, yang untungnya, walaupun tampak menyeramkan dengan pohon-pohon besar dan dedaunan yang menjuntai, sebenarnya tidak banyak binatang buas yang berdiam di sana. Hanya beruang dan ular yang cukup berbahaya, yang lainnya hanyalah kucing hutan dan beberapa jenis kera. Selama binatang-binatang itu tidak merasa terganggu, mereka juga tidak akan menyerang.

Untuk berjaga-jaga, sepanjang perjalanan dua buah obor dinyalakan di depan dan belakang perahu, siang maupun malam, sebagai penerangan sekaligus pengusir binatang buas. Selain itu Vilnar juga tetap mendayung saat malam. Ia hanya beristirahat dan tidur saat siang, kala Ailene terjaga.

Vilnar tahu perjalanan berhari-hari di sungai bukanlah sesuatu yang ringan. Tapi ia gembira karena Ailene ternyata menghadapinya dengan tabah. Ketika Ailene termenung, Vilnar bernyanyi untuk menggembirakan hatinya, sebaliknya ketika Vilnar terdiam karena lelah, Ailene membalasnya dengan menyanyikan lagu-lagu negeri selatan yang indah. Bahkan kadang ia pun ikut mendayung untuk membantu Vilnar. Sementara ibunya menyanyi, si kecil Villam memandanginya dengan matanya yang besar sambil tertawa-tawa.

Setelah dua minggu perahu mereka mulai bergerak keluar dari dalam hutan. Pemandangan alam yang mereka temui hampir sama dengan desa-desa di selatan: hijaunya pepohonan lebat dan birunya air sungai. Bedanya, hawa terasa lebih dingin, dan langit tampak lebih gelap, bahkan saat siang hari. Mereka sampai di delta Sungai Ordelahr, dimana aliran sungai ke kanan akan membawa mereka ke tempat tinggal suku Vallanir, sementara ke kiri adalah ke tempat tinggal suku Logenir dan beberapa suku kecil lainnya.

Ketika mereka mulai sampai di tanah terbuka itulah Vilnar melihat ketegangan di wajah Ailene. Vilnar berusaha menenangkannya. ”Sebentar lagi kita sampai di desaku, desa suku Vallanir. Semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kau takutkan.”

Ailene mengangguk. Tangan kanannya memeluk Villam, sementara tangan kirinya menyentuh air sungai yang mengalir pelan di samping perahu mereka. ”Dingin … seperti es.”

”Ya, saat musim dingin sungai ini akan membeku sampai ke hutan, seperti halnya lautan di utara. Saat itu tidak ada yang bisa keluar masuk negeri ini. Tapi itu masih tiga bulan lagi.”

”Apakah langit akan semakin gelap?”

”Matahari akan bersinar semakin singkat. Di puncak musim dingin, matahari tak akan bersinar sama sekali, sehari penuh.”

”Apakah dingin sekali?” Ailene mengerutkan tubuhnya di balik mantel dan meringkuk di ujung perahu.

Vilnar tersenyum sambil tetap mengayuh dayungnya. ”Cukup dingin, tapi kami lahir dan besar di sini, dan hampir tak pernah kami melihat ada orang yang mati karena kedinginan. Selimut tebal dan perapian di dalam rumah akan menjadi teman kita sepanjang musim. Kau akan terbiasa, dan tubuh Villam akan semakin kuat di sini.”

”Ya.” Ailene mengangguk perlahan.

Melihatnya, Vilnar pun menghentikan dayungan dan menatap istrinya. ”Ailene, aku tak ingin melihat kalian menderita. Jika kulihat kalian berdua sulit menyesuaikan diri dengan cuaca di Hualeg sepanjang musim gugur ini, sebelum musim dingin datang, aku akan membawa kalian keluar lagi dan pulang ke rumah kita. Itu janjiku.”

Ailene tersenyum. ”Kau tak perlu berjanji. Aku percaya dan menyerah-kan sepenuhnya padamu. Aku yakin kau tahu apa yang terbaik buat kita.”

Menjelang petang perahu mereka mendekati pemukiman penduduk. Beberapa rumah berdinding kayu terlihat tak jauh dari tepi sungai. Masing-masing penghuni rumah telah menyalakan obor dan api unggun di halaman mereka masing-masing, membuat suhu di tempat itu terasa tidak begitu dingin dan suasana menjadi cukup terang.

”Desaku, Vallanir,” kata Vilnar. Ia mendayung membawa perahunya ke sebuah dermaga kecil dan menambatkannya pada sebuah pasak, bersebelahan dengan banyak perahu kecil lain yang sudah berjajar di sana.

Vilnar menuntun istrinya menginjakkan kaki di tanah Hualeg untuk pertama kali. Beberapa penduduk mengamati kedatangannya. Awalnya mereka tak mengenalinya, namun begitu melihat wajah Vilnar dari dekat mereka semua menunduk penuh hormat, tanpa berkata-kata.

Kabar kedatangan Vilnar menyebar cepat ke seluruh penjuru desa bagaikan bisikan angin, mengundang seluruh penduduk yang lain. Berbondong-bondong mereka keluar dari rumah masing-masing. Namun mereka pun tidak berkata-kata, seakan-akan mereka keluar menemuinya memang hanya karena ingin menunjukkan penghormatan mereka.

Vilnar berjalan menerobos kerumunan penduduk desa, diikuti oleh Ailene yang memeluk Villam erat-erat di dadanya. Mantel kulit istrinya itu—yang tebal dan berlapis-lapis sampai menutupi kepala—membuat wajah Ailene tak terlihat dan sulit untuk dikenali.

Mereka berjalan sampai ke depan sebuah rumah yang paling besar di desa. Rumah itu bertingkat dua, berbentuk kotak simetris dan memanjang ke belakang. Lantai dasarnya lebih tinggi dibanding halaman sekitarnya, setinggi lima belas anak tangga. Atap kayunya dari sebelah kiri dan kanan bersilangan di puncak. Pintu depannya yang besar terbuka lebar, dan sebuah kepala rusa kutub bertanduk yang telah diawetkan tergantung di atasnya.

Dua orang pengawal dengan pedang di pinggang dan perisai di tangan berdiri di samping anak tangga paling bawah. Keduanya menunduk hormat begitu Vilnar sampai di hadapan mereka.

”Aku Vilnar, ingin menemui ayahku.”

”Kepala suku sudah menunggu Anda, Tuanku,” jawab seorang pengawal. ”Silakan masuk.”

Vilnar berjalan menaiki anak tangga, tetap diikuti oleh Ailene di belakangnya. Ketika mereka sampai di atas terlihatlah bahwa ternyata rumah itu sudah dipenuhi oleh lebih dari tiga puluh orang—lelaki maupun wanita, para tetua desa dan keluarganya. Mereka memberi jalan saat Vilnar mulai berjalan memasuki ruangan, sehingga Vilnar dapat melihat dengan jelas sampai ke seluruh penjuru ruangan.

Di ujung terdapat sebuah kursi besar, yang terletak di lantai yang lebih tinggi sejengkal dibandingkan lantai ruangan. Seorang lelaki tua duduk di sana, tubuhnya besar namun tampak lemah. Dialah Radnar kepala suku Vallanir, ayah Vilnar. Di samping kanannya berdiri putra sulungnya Kronar, yang bertubuh paling besar di dalam ruangan itu. Sementara di samping kirinya berdiri dua lelaki muda lain, yang walaupun juga terlihat besar namun masih lebih kecil dibandingkan dengan Vilnar. Mereka berdua adalah kedua kakak Vilnar yang lain: Tarnar dan Erenar.

Tarnar berambut coklat tua dengan tatapan mata tajam menusuk. Mulutnya terkenal hampir tak pernah berhenti mengeluarkan omongan-omongan besar. Dialah yang dulu mengajak Vilnar pergi menjarah ke selatan, yang akhirnya membuat Vilnar membangkang dan kemudian diasingkan ke selatan. Sementara Erenar berambut coklat muda dengan wajah polos tanpa ekspresi. Ia seorang yang pendiam; sedikit yang tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya. Pada keduanya, Vilnar tak pernah mempunyai rasa sayang sebesar rasa sayangnya terhadap Kronar.

Vilnar menatap mereka satu per satu, lalu berkata, ”Ayah, Kakakku, senang bertemu kalian lagi.”

Radnar berdiri dengan susah payah dari kursinya, lalu membentangkan kedua tangan. Ia tersenyum lebar. ”Selamat datang, anakku.”

Vilnar dan ayahnya saling berpelukan. Sang ayah kemudian berkata pada semua orang, ”Vilnar anakku yang perkasa sudah kembali lagi bersama kita sekarang. Ini adalah hari yang paling membahagiakan seumur hidupku!”

”Kami semua berbahagia bersamamu, Pemimpin!”

Vilnar tersenyum melihat sambutan semua orang, lalu menundukkan kepala memberi penghormatan. Ia kemudian menyalami ketiga kakaknya.

Kronar berkata sambil menepuk kedua bahu Vilnar, ”Aku tahu kau pasti akan datang. Aku selalu percaya padamu.”

Erenar hanya berkata singkat. ”Selamat datang, Vilnar.”

Sementara Tarnar malah berkata, ”Hei, Vilnar, kau membawa seorang squirg kemari?”, yang langsung membuat Vilnar menatapnya dengan tajam.

Melihat reaksi Vilnar, tampaknya semua orang segera paham, bahwa tidak seharusnya Tarnar berkata semacam itu, sebelum Vilnar menjelaskan semuanya. Vilnar dulu selalu dikenal sebagai seorang yang sopan dan jarang sekali marah, tapi semua orang juga tahu bahwa dia adalah pemuda yang paling berbahaya di Hualeg. Keganasannya dalam bertempur diakui kawan maupun lawan. Tidak ada yang pernah berani membuatnya marah. Jadi apakah Tarnar memang bodoh, atau ingin mencari gara-gara?

Vilnar punya semua alasan untuk marah. Squirg adalah istilah kasar dalam bahasa Hualeg untuk menyebut wanita asing dari selatan, yang hanya pantas untuk dibunuh atau dijadikan budak. Yang lebih menyakitkan lagi, ucapan itu keluar dari mulut Tarnar, yang dulu telah menjerumuskan Vilnar dan tak membelanya sama sekali di pengadilan tetua suku, sehingga membuat ia diasingkan selama tiga tahun. Kalau Tarnar bukan kakaknya sendiri, mungkin Vilnar sudah menghajarnya sekarang.

Namun Vilnar kini sudah menjadi seorang yang matang. Kalau memang Tarnar sengaja ingin memancing amarahnya, siasatnya itu tidak berhasil. Vilnar tetap tenang. Dengan lembut ia membuka penutup kepala Ailene, memeluk bahu istrinya itu dan berkata dengan lantang hingga terdengar ke seluruh penjuru ruangan.

”Wanita ini adalah wanita terhormat dari selatan. Namanya Ailene, dan dia adalah istriku.” Kemudian Vilnar membelai kepala putranya. ”Dan anak ini adalah anakku. Villam.”

Istri? Anak? Kehebohan melanda seisi ruangan besar tersebut.

Ucapan Vilnar sepertinya mendapat berbagai macam tanggapan berbeda. Ada yang ikut bergembira, namun umumnya semua terkejut dan hampir tidak percaya mendengarnya. Ada yang memilih untuk tetap diam, namun lebih banyak yang saling berbisik satu sama lain.

Sudah beberapa generasi tidak pernah ada lagi orang Hualeg yang memperistri wanita dari selatan, kebanyakan dari wanita itu justru dijadikan budak. Sekarang bagaimana mungkin seorang anak kepala suku—sang prajurit kebanggaan mereka—yang justru melakukannya? Mungkin mereka juga akan bertanya apakah Vilnar sadar dengan konsekuensinya.

Tapi Vilnar tetap berdiri tegak penuh keyakinan diri. Ia sudah memper-kirakan ucapannya tersebut akan menimbulkan kegemparan. Ia tidak takut, malah memandangi semua orang satu per satu, mempelajari siapa yang tetap menjadi kawannya dan siapa yang telah berubah menjadi musuhnya.
Radnar mengangkat tangan meminta semua orang untuk diam.

Kronar membantu dengan suaranya yang menggelegar, ”Diamlah, kalian semua! Ayahku hendak berbicara!”

Semua orang terdiam.

Radnar berjalan mendekati Ailene, yang berdiri gemetar di depan Vilnar. Sang kepala suku tua tersenyum dan memegang hangat kedua bahu gadis itu. ”Kalau begitu, selamat datang di keluarga kami. Istri dari anakku berarti anakku juga.”

Vilnar tersenyum lega. ”Terima kasih, Ayah.”

”Boleh aku memeluk cucuku?” tanya Radnar.

”Tentu saja.” Dengan hati-hati Vilnar mengambil putranya dari pelukan Ailene lalu menyerahkannya pada ayahnya. Tangan kecil Villam memukul-mukul wajah kakeknya sambil tertawa-tawa, dan kakinya bahkan hendak menendang-nendanngnya pula.

Radnar tersenyum lebar ketika matanya beradu dengan mata biru Villam, lalu berkata penuh rasa sayang. ”Cucuku, kau benar-benar anak yang tampan dengan tubuh yang kuat.”

Ia lalu menoleh dan berbisik perlahan di telinga Vilnar, ”Ia akan menjadi lelaki yang istimewa, Vilnar. Sangat istimewa. Maka, berhati-hatilah, anakku. Jaga ia baik-baik.”

Berhati-hati?! Jantung Vilnar berdegup kencang. Ia mengawasi sekelilingnya, mencoba memastikan tidak ada orang lain yang mendengarkan perkataan ayahnya itu. Ia melihat Kronar, Tarnar, Erenar, dan semua orang lain menatapnya. Tapi apakah mereka mendengar?

Vilnar pun menoleh lagi dan menatap ayahnya, menuntut penjelasan.

lihat bab selanjutnya di sini.

4 Responses to “Di Tepi Sungai Ordelahr 4”

  1. 1
    heinz Says:

    Mudik ey….

  2. 2
    Villam Says:

    heheheheh…

  3. 3
    alfare Says:

    Dua hal.

    Satu, kejelasan soal bahasa. Jelas kalo yang dipake di adegan ini adalah bahasa Hualeg. Tapi kita sama sekali masih belum jelas tentang segimana Ailene memahami bahasa ini. Ada baiknya reaksi Ailene di sepanjang paruh pertama percakapan ini sedikit banyak digambarkan.

    Dua, adegan saat Radnar membisiki Vilnar soal Villam. Adegan penting ini berlangsung terlalu tiba-tiba. Perlu ditambahin sedikit penekanan yang nunjukin bahwa adegan ini memiliki makna dalam perkembangan cerita ke depan. Kayak, betapa Villnar terkejut karena ayahnya tiba-tiba membisikinya, ato soal ada yang aneh soal cara Radnar memperhatikan Villam.

  4. 4
    Villam Says:

    hehe… iya, perlu ditambahkan.
    thanks buat masukannya, bro! :-)

Leave a Reply