lihat bab sebelumnya di sini.

Radnar sang kepala suku tua diberkati kemampuan untuk menilai potensi atau bakat tersembunyi yang dimiliki seorang anak. Kemampuan itu sudah dipahami oleh setiap orang di Hualeg. Vilnar tak tahu apa yang dirasakan oleh ayahnya saat ia memegang putranya. Pastilah sesuatu yang sangat berbeda, karena selama hidupnya Radnar tak pernah menyebutkan kata ’istimewa’ jika ia sedang menilai seorang bocah.

Vilnar justru menjadi takut dan berharap orang lain tidak ada yang tahu, atau hal itu hanya akan mengundang bencana. Begitu semua orang tahu bahwa anaknya akan menjadi seorang yang istimewa, musuh-musuhnya pasti akan berusaha melenyapkannya. Vilnar sudah lama meninggalkan Hualeg, dan kini ia harus mempelajari dulu, siapa saja orang-orang yang masih bisa dipercayai dan siapa saja yang berpotensi untuk mencelakainya.

Radnar berkata pada Vilnar, ”Anakku, biarlah Tilda mengantar istri dan anakmu ke kamar kalian. Biar mereka beristirahat. Sementara itu aku ingin berbicara berdua denganmu.”

Vilnar menoleh ke arah wanita berambut kuning yang tersenyum di dekatnya. Tilda adalah istri Kronar, dan sudah dikenal oleh Vilnar sejak kecil. Ia adalah seorang yang bisa dipercaya, jadi Vilnar tidak merasa khawatir.

Ailene dan putranya diantar oleh Tilda. Kamar mereka terletak di lantai dua rumah besar itu. Ada empat kamar lainnya di atas, kamar Radnar dan tiga kamar lainnya yang dulu ditempati oleh ketiga kakaknya yang lain. Ketiganya kosong sekarang karena semua kakaknya itu sudah pindah ke rumah mereka masing-masing. Jadi rumah besar itu sekarang hanya ditempati oleh Radnar, serta beberapa orang pelayan di kamar bawah.

Setelah pertemuan selesai Vilnar mengantar ayahnya ke kamar. Radnar berbaring di kasurnya, sementara Vilnar menutup tirai untuk menghalangi masuknya angin malam. Vilnar menyalakan lilin yang terletak di atas meja di samping tempat tidur. Satu buah lilin sudah cukup untuk mereka berdua.

”Duduklah di sampingku,” pinta sang kepala suku. ”Dan ceritakanlah seluruh pengalamanmu sejak kau pergi dari sini empat tahun yang lalu.”

Vilnar menjelaskan bagaimana ia memulai kehidupannya di sungai sampai akhirnya menjelajahi desa-desa di selatan. Ia hanya menyebutkan sekilas pertemuannya dengan Ailene, yang dikatakannya ditemukan di salah satu desa. Ia sama sekali tak menceritakan pertemuannya dengan Rohgar.

Awalnya Radnar menggeleng-geleng sedih, namun akhirnya tersenyum. ”Permintaan maafku tak akan cukup karena telah membuatmu menderita. Aku selalu bertanya-tanya apakah telah membuat pilihan yang benar dengan mengirimmu keluar, dan kuharap aku telah membuat keputusan yang benar.”

Vilnar balas tersenyum sambil menepuk lengan ayahnya. ”Ayah, kau telah membuat keputusan yang benar. Keputusanmulah yang telah membuat hidupku bernilai sekarang, dengan istri dan anak yang kumiliki.”

”Vilnar, kau selalu menjadi anakku yang paling bisa dibanggakan. Dibanding ketiga kakakmu, kaulah yang paling kuat, paling pandai, paling adil dan yang lebih penting adalah paling dicintai oleh rakyat. Mereka tidak pernah melupakanmu walaupun kau telah pergi selama bertahun-tahun. Kau adalah anak terbaik yang bisa dimiliki oleh seorang kepala suku—seorang ayah. Kau adalah harapan terbesarku sekarang.”

”Ayah, sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”

Radnar menghela napas. ”Setelah aku mati—mungkin tidak lama lagi—nasib suku Vallanir di masa datang akan bergantung kepadamu.”

Vilnar menggeleng. ”Ayahku yang perkasa tidak akan mati secepat itu.”

”Waktu itu akan datang, Vilnar. Akulah yang paling bisa merasakannya. Dan sebelum waktu itu tiba, tentu aku harus mempersiapkan semuanya.”

”Vallanir akan bergantung pada Kronar,” jawab Vilnar. ”Dia yang akan menggantikanmu sebagai kepala suku. Ia seorang yang kuat dan dapat dipercaya. Rakyat kita akan aman bersamanya.”

Radnar menggeleng. ”Kronar kuat dan adil, tapi ia telah membunuh terlalu banyak di masa lalu. Musuh-musuhnya sudah terlalu banyak, dan mereka membencinya sedemikian rupa sehingga selalu mencari cara untuk membunuhnya. Para dewa tahu aku selalu berdoa setiap malam supaya ia bisa hidup lebih lama daripada aku!”

”Bagaimana dengan Tarnar? Ia adalah putra keduamu. Dia yang seharusnya naik menggantikanmu, jika terjadi apa-apa dengan Kronar.”

Radnar tertawa kecil. ”Ayolah, Vilnar, aku tahu kau tidak pernah menyukainya. Dan bukan cuma kau, banyak rakyat kita juga tidak suka, walaupun ada juga beberapa pendukungnya. Aku bangga dengan semangatnya, tapi ia banyak menyinggung orang dan telah melanggar banyak janji yang diucapkannya. Kebanyakan rakyat kita tidak akan mau dipimpin seorang yang ceroboh dan tidak bisa menjaga perkataannya.”

”Bagaimana dengan Erenar?”

Radnar terdiam sejenak, tampaknya berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab. ”Erenar anak yang pandai. Ia banyak belajar dari para tetua kita. Ia juga cukup terampil memainkan pedang. Tapi rakyat belum pernah melihat pencapaian yang luar biasa darinya, jadi mereka tak pernah memandangnya. Jika rakyat kita sendiri tidak memandangnya, apalagi musuh-musuh kita. Ia masih terlalu banyak diam.”

”Ayah, kau tahu aku tak pernah berminat menjadi kepala suku.”

Radnar menatap Vilnar dalam-dalam. ”Jauh di dalam hatimu aku tahu bahwa kau merasa memiliki tanggung jawab atas hal ini. Rasa keadilanmu mengatakan bahwa hanya kaulah satu-satunya yang mampu menjaga kelangsungan hidup rakyat kita.”

Dahi Vilnar berkerut. Ia kini tak bisa menutupi kekhawatirannya. ”Aku datang kemari karena ingin menjengukmu, tapi ternyata Ayah sudah punya rencana sendiri untukku. Aku sudah pergi selama empat tahun, mengapa kau masih berani mempercayaiku? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

”Tak lama setelah kau pergi, suku kita dan suku Logenir berdamai dan membagi daerah perburuan, dan selama hampir empat tahun kita hidup tenang dan damai. Tapi awal musim panas yang lalu Malagar naik menjadi kepala suku Logenir, menggantikan ayahnya. Ia adalah adik Rohgar—kau pasti ingat mereka berdua. Rohgar sudah menghilang selama setahun di selatan, jadi Malagarlah yang kemudian menjadi kepala suku.”

Vilnar mengangguk. ”Aku tahu Malagar, tapi tak pernah bertemu dengannya.” Mengenai Rohgar, ia belum mau memberitahu Radnar apa yang terjadi. Ia tidak takut mengakui bahwa ia telah membunuh orang itu, tapi tampaknya akan lebih bijak jika hal itu tetap disembunyikan dahulu.

Radnar mengangguk pula. ”Malagar ini ternyata cukup pandai dan berbahaya. Tidak puas dengan pembagian daerah yang dibuat oleh ayahnya, ia kemudian berhasil mempengaruhi suku-suku lain di barat untuk mau melawan kita. Tentu dengan imbalan sebidang tanah, atau sesuatu yang lain yang kita tak tahu. Mereka mengumpulkan prajurit di barat, dan aku yakin dalam beberapa hari ini mereka pasti akan mencoba menyerang kita.”

”Ayah mau aku menghancurkan mereka?” Vilnar menatap tajam mata ayahnya dalam remang-remang cahaya lilin.

Radnar menggeleng. ”Tidak perlu. Ketiga kakakmu sudah cukup untuk melawan mereka. Kronar pasti akan senang menerimamu dalam pasukan, tapi Tarnar dan Erenar ingin menunjukkan kemampuan mereka. Ini adalah kesempatan pertama mereka dalam perang antar suku. Mereka tak akan senang melihatmu jadi pusat perhatian lagi.”

”Begitu?” Vilnar mengangkat bahunya, lalu menyandar ke belakang. Ia memperhatikan api lilin yang menari-nari di atas meja di samping tempat tidur ayahnya. ”Aku tak pernah berpikir sampai ke sana.”

”Aku tahu.” Radnar mengangguk. ”Dan kau juga tak perlu memikirkan-nya. Ada hal lebih penting yang bisa kau lakukan. Kadang, masalah yang ada di dalam jauh lebih rawan dan lebih penting daripada yang ada di luar.”

Vilnar diam saja, menunggu Radnar mengatur napas dan menjelaskan lebih lanjut. Kekhawatiran timbul lagi di hatinya. Radnar kelihatannya juga sedang berpikir untuk menemukan kata-katanya yang tepat selanjutnya.

Kepala suku tua itu berkata, ”Anakku, untuk menjadi pemimpin kau harus mendapat dukungan dari semua pihak. Dengan reputasimu kau akan mudah mendapat dukungan dari rakyat dan para prajurit, tapi tanpa dukungan dari para pemuka desa dan keluarga mereka yang berpengaruh, hal itu tak ada artinya. Juga, tak kalah pentingnya adalah dukungan dari suku-suku yang menjadi sekutu kita. Untuk mendapatkan dukungan mereka, cara terbaik adalah melalui ikatan keluarga.

”Kau tentu tahu, Vilnar, Kronar menikahi Tilda putri Pradiar, dukun kita, pemuka desa yang paling dihormati di desa kita dan juga di desa lainnya. Dengan itu Kronar akan mendapatkan dukungan yang amat besar jika saatnya tiba ia menjadi kepala suku. Sementara itu Tarnar menikahi putri kepala suku Brahanir, tetangga kita di timur, yang telah berpuluh-puluh tahun menjadi sekutu kita. Jika Tarnar cukup pandai, ia akan bisa mempersatukan kedua suku di masa datang, atau paling tidak ia bisa mendapatkan perlindungan di sana jika terjadi sesuatu yang berbahaya.”

Radnar terus berkata, ”Hal serupa juga dilakukan oleh Erenar. Ia sudah melamar putri kepala suku Drakknir, sekutu kita yang lain dari utara. Kalau Erenar bisa menunjukkan keterampilannya dalam pertempuran melawan Logenir, kepala suku Drakknir tak akan ragu menerima lamarannya.

”Tapi, anakku, aku belum bicara mengenai sekutu kita yang paling kuat, suku Andranir dari utara. Patarag, kepala suku mereka menolak menikahkan putrinya dengan Erenar. Itu sebelum Erenar akhirnya melamar putri dari Drakknir. Aku sudah berbicara dengan Patarag, ia bilang hanya mau menikahkan putrinya dengan prajurit terbaik di Hualeg. Kau mungkin pernah mendengar sebelumnya, Vilnar, bahwa Varda putri Patarag selalu disebut-sebut sebagai gadis tercantik di Hualeg sejak ia masih remaja. Banyak yang sudah melamarnya, tapi selalu ditolak.”

”Ya, aku pernah dengar dulu,” jawab Vilnar singkat.

Radnar mengangguk. ”Nah, Patarag juga bilang bahwa dulu ia pernah bertempur bersamamu, dalam perang antar suku yang terakhir, dan ia sangat menyukaimu. Ia prihatin mendengar kau telah diasingkan. Tapi jika akhirnya kau pulang, ia sangat senang jika kau mau menikah dengan putrinya.”

Penjelasan panjang lebar Radnar cukup menghanyutkan Vilnar, tapi kata-kata Radnar yang terakhir bagaikan sambaran geledek di telinganya. Apa maksudnya ini? Ayahnya tidak paham bahwa Ailene adalah hidupnya saat ini?

Vilnar bertanya datar, ”Lalu apa yang Ayah katakan padanya?”

”Aku bilang anakku Vilnar pasti akan senang menikahi putrinya.”

Rahang Vilnar mengeras, dan ia menggeleng. ”Aku tahu Ayah mengatakan itu sebelum tahu bahwa aku sudah menikah. Tapi sekarang semua itu sudah tidak mungkin. Aku sudah mempunyai istri dan anak.”

”Kalau kau setuju, kau bisa mengangkat Varda menjadi permaisurimu,” usul Radnar. ”Tentu saja Ailene tetap bisa menjadi istrimu, yang lain.”

”Ayah, aku selalu bersedia melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, tapi maaf, untuk yang satu ini aku tidak bersedia. Aku mencintai istri dan anakku. Aku tak mau menukarnya dengan apapun di dunia ini!”

Radnar menepuk tangan Vilnar memintanya untuk tenang. ”Tidak usah marah, anakku. Sebenarnya, aku tahu kau pasti akan menjawab seperti itu, karena kau memang seorang yang selalu adil dan teguh pada pendirianmu.”

”Maaf aku mengecewakanmu.”

”Tidak.” Radnar menggeleng, lalu memalingkan wajah. ”Aku yang salah telah memberikan janji pada orang di luar keluarga kita. Aku sudah terlalu tua, tidak bisa lagi menjaga kata-kataku. Kesalahan fatal untuk seorang kepala suku. Aku akan menyampaikan jawabanmu pada Patarag, dan kuharap ia dapat menerimanya dengan baik.”

”Kalau Ayah sungkan menyampaikannya pada Patarag, biar aku yang pergi dan mengatakan langsung jawabanku padanya.”

Radnar mendesah. ”Maafkan ayahmu ini. Kau baru saja pulang tapi aku telah menjerumuskanmu lagi.”

”Ayah tidak usah khawatir,” jawab Vilnar. ”Semua akan baik-baik saja. Kapan saja Ayah menginginkan aku pergi ke utara, aku akan siap.”

”Tidak usah terburu-buru. Patarag belum tahu kau sudah pulang sekarang. Biarlah seperti itu. Lagipula aku masih ingin melihatmu di sini.” Radnar melemaskan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu memejamkan mata. ”Kita lihat saja besok, Nak.”

”Ya, Ayah. Beristirahatlah dulu.” Vilnar menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh renta ayahnya. Ia memandangi ayahnya dengan penuh rasa sayang, dan kemudian menjadi iba. Sosok yang dulunya perkasa dan ditakuti di seluruh Hualeg itu kini sudah menjadi lemah tak berdaya.

Memang, sejak kematian istrinya—ibu Vilnar—lima tahun yang lalu, kesehatan Radnar semakin menurun. Yang sering dikeluhkan oleh Radnar adalah rasa nyeri di dadanya. Dulu Vilnar percaya hal itu lebih disebabkan karena beban pikiran yang terlalu banyak, tapi kini ia sadar bahwa secara fisik ayahnya memang sudah melemah. Usia memang tak bisa dilawan.

Vilnar menunggu sampai ayahnya terlelap, baru kemudian beranjak dari kursinya. Ia mengintip dari balik tirai, memandangi langit yang gelap dan suasana desa yang mulai sepi. Tak terasa malam sudah semakin larut. Rupanya mereka berdua telah berbincang cukup lama. Vilnar meniup lilin hingga kamar menjadi gelap sepenuhnya, lalu pergi.

Ia bergabung dengan istri dan anaknya di kamar mereka. Tapi ketika ia datang, keduanya ternyata juga sudah terlelap. Pasti karena kelelahan. Begitu nyenyaknya, betapa indahnya. Ia menciumi keduanya, membelai rambut hitam panjang istrinya, dan juga rambut tebal putranya.

Sambil menyelimuti mereka Vilnar berpikir kembali, apakah benar keputusannya membawa mereka datang ke negerinya. Karena ternyata, Vilnar merasakan ada sesuatu yang akan terjadi; yang mungkin berbahaya.

lihat bab selanjutnya di sini

Related posts:

  1. Di Tepi Sungai Ordelahr 4 lihat bab sebelumnya di sini. Vilnar membawa istri dan anaknya...
  2. Di Tepi Sungai Ordelahr 6 lihat bab sebelumnya di sini baca kisah Di Tepi Sungai...
  3. Di Tepi Sungai Ordelahr 2 Vilnar mendayung membelah sungai dengan kewaspadaan penuh. Ia bisa bergerak...
  4. Di Tepi Sungai Ordelahr 3 Saat musim semi Ailene melahirkan putranya di rumah Vilnar yang...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

10 Responses to “Di Tepi Sungai Ordelahr 5”

  1. 1
    heinz Says:

    Whopsie. Mengalir lancar dan begitu mudah dicerna. Tidak ada lagi kesan Dance With Wolves. Meski masih terasa agak tipikal tapi sangat menarik. Jadi aku hanya bisa menduga-duga dan mengikut alur saja. Selalu ditunggu lanjutannya.

    Ah, akhirnya berhasil menyalip Calvin.

  2. 2
    Villam Says:

    yup, tunggu saja lanjutannya.

  3. 3
    heinz Says:

    Oh, ya, omong-omong tentang Fabien.
    Ini juga expansion TFH?

  4. 4
    Villam Says:

    iya, cerita ini emang dimaksudkan sebagai bagian dari legendarium (biar kedengeran keren) The Forgotten Heroes. hehe…

  5. 5
    alfare Says:

    Pada paragraf pertama dan kedua mesti ditegasin bahwa soal ‘ramalan’ Villam kelak menjadi istimewa, semua itu baru sebatas pikiran Vilnar saja. Cara Bang Villam menuliskannya di sini membuatnya terkesan kayak itu suatu hal yang udah pasti terjadi dan diterima semua orang.

    Selain itu, pertemuan keluarga itu diceritain selesai gitu aja. Perlu ada penjabaran meski selintas tentang adegan peutup pertemuan itu. Misalnya Radnar menyatakan secara lantang semua orang sudah boleh bubar lalu diceritain masing-masing yang hadir udah boleh pulang.

    Tapi sisa bagian ini keren kok. Semula kubayangin meski tua Radnar entah bagaimana akan menampilkan diri sebagai sosok keren yang dominan. Tapi malah sebaliknya, dan itu juga bagus kok.

    Eh, ksatria Fabien yang muncul sebelumnya itu sama dengan yang di TFH? Jadi HOU ini ceritanya SESUDAH TFH?! o_O

  6. 6
    Villam Says:

    betul, mungkin perlu sedikit diperjelas lagi bahwa ini semua adalah cerita dalam sudut pandang vilnar.

    soal akhir pertemuan, sebenernya di naskah yg paling awal ada, tapi justru saya hapus, karena itu adegan/ucapan penutup pertemuan yg terlalu biasa utk diceritakan secara khusus. tapi mungkin bisa saya utak-atik lagi nanti.

    dan ya, ini adalah fabien dari cerita TFH 1. :-)

  7. 7
    alfare Says:

    TFH 1?! Jadi ntar ada TFH 2?! Hooo.

    Ah, soal bagian selanjutnya kubaca entar. Aku penasaran ama jawaban yang ini si.

    Ayo berjuanglah Bang Villam!

  8. 8
    Villam Says:

    beuh…
    ambisinya sih sampe TFH 6! :-) )
    dan cerita yg ini masuk dalam TFH 2.
    kita liat nanti apakah ambisi itu bisa tercapai. :-P

  9. 9
    alfare Says:

    ada yang kelupaan.
    soal pertemuan, kurasa itu kerasa kayak gitu sebelumnya engga dijelasin pertemuan itu buat apa dan acaranya apa aja. cuma disebutin bahwa semua mesti ngumpul karena villnar pulang. titik. jadi rasanya perlu disebutin semacam closure.

  10. 10
    Villam Says:

    oke. bisa ditambahkan juga nanti.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled