Berikut adalah hasil Lomba Ulas Novel Akkadia: Gerbang Sungai Tigris yang dikutip dari website Adhika Pustaka di: http://adhika-pustaka.com/?page_id=159

Selamat kepada para pemenang, dan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua orang yang telah berkenan membaca, mengulas dan memberi kritik serta masukan. I love it. Thank you. :-)

Setelah melalui proses penilaian yang panjang dan rumit, posisi lima besar dari lomba ulas novel Akkadia, jatuh ke lima nama sebagai berikut:

  • Barokah Ruziati
  • Andry Tanuwijaya
  • Anindito Alfaritsi
  • Deni Arazis
  • Ratna Sambhava C.S.

Dan akhirnya, setelah menimbang dan menimbang, kami ingin mengucapkan selamat kepada dua pemenang terbaik:

Barokah Ruziati dan Deni Arazis.

Dua pemenang terbaik tersebut akan mendapatkan Voucher Belanja senilai @ Rp. 500,000.00 ditambah dengan bingkisan dari Adhika Pustaka. Kelima pemenang terbaik lainnya, , juga akan mendapatkan bingkisan dari Adhika Pustaka. Hadiah akan dikirimkan ke alamat masing-masing, sesuai dengan data-data yang sudah dilampirkan sebelumnya kepada kami.

SELAMAT! :)

Dan dengan ini, kami lampirkan 5 ulasan terbaik dengan urutan secara acak:

1. Pengulas : Barokah Ruziati
Alamat Ulasan :http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest&note_id=265333128285#/notes/barokah-ruziati/akkadia-gerbang-sungai-tigris/265333128285

Pertama-tama, saya harus mengatakan bahwa novel fantasi dan saya adalah dua teman yang baru saling kenal dan mencoba memahami sifat masing-masing. Tepatnya, saya yang sedang berusaha mengakrabi novel-novel bergenre ini. Bagaimana tidak, saya baru mengoleksi novel fantasi saat Harry Potter muncul, dan baru menyadari keberadaan ‘makhluk-makhluk asing’ yang berjuang berdampingan dengan manusia saat menonton Lord of the Rings (menonton ya…bukan membaca).

Dengan referensi sedemikian rupa, saya mencoba untuk mengulas novel fantasi “Akkadia: Gerbang Sungai Tigris” ini. Fantasi sejarah tepatnya, karena setting yang dipilih penulis adalah Mesopotamia abad 24 SM. Sebagian tokoh dan tempat dalam novel ini juga benar-benar ada, seperti Raja Sargon penguasa Akkadia (2360 -2279 SM). Menunjukkan riset yang cukup teliti untuk menunjang jalinan cerita.

Kisah dibuka dengan dialog Putri Naia dan Davagni, makhluk perkasa dari dunia kegelapan. Putri Naia membutuhkan segenap bantuan untuk melawan pasukan Akkadia yang telah menghancurkan negerinya dan membunuh keluarganya. Pasukan Akkadia sangat kuat karena dipimpin oleh Rahzad, panglima hebat yang disegani musuh-musuhnya.

Putri Naia tentu tidak berjuang sendiri. Dia dikelilingi oleh orang-orang terpercaya: Fares, pengawal setia yang diam-diam menaruh hati padanya, Teeza, panglima cantik yang tangguh, serta Javad, raja Avan di wilayah Elam yang memberi perlindungan kepada rakyat Naia sekaligus calon suami Naia.

Wilayah Elam yang dikelilingi Sungai Tigris masih aman dari serbuan Akkadia karena ada gerbang gaib yang melindungi wilayah tersebut. Hanya tiga orang pemegang kunci yang bisa membuka gerbang, yaitu Naia, Javad, dan satu orang lagi yang belum diketahui keberadaannya. Itu sebabnya Naia dan Javad di satu sisi dan kerajaan Akkadia di sisi lain, sama-sama mencari pemegang kunci ketiga.

Adegan awal yang menggambarkan pengejaran Naia oleh pasukan Akkadia langsung menghadirkan ketegangan yang tidak berhenti hingga akhir. Ketegangan demi ketegangan mengiringi pertemuan Naia dkk dengan Rahzad, petualangan Teeza yang sempat hilang ingatan dan direkrut oleh musuh, pengungkapan jati diri pemegang kunci ketiga, hingga pertempuran akbar antara pasukan Elam dengan pasukan Akkadia. Pertempuran yang melibutkan barion-barion ganas, gajah-gajah, dan makhluk-makhluk setengah dewa.

Plot yang tidak lurus alias belak-belok mengikuti perjalanan tokoh-tokohnya membuat novel ini tidak membosankan bagi saya yang -sesungguhnya- kurang suka adegan perang-perangan. Karena selain perang masih ada kisah cinta, ada persahabatan, ada pemuda desa yang ternyata menyimpan kekuatan super.

Karakter tokoh yang tidak hitam-putih menjadi nilai lebih novel ini. Tidak heran jika semakin lama saya malah semakin bersimpati pada Rahzad. Apalagi, ternyata ada yang lebih jahat lagi daripada dia kok. Hubungannya dengan Teeza juga menjadi favorit saya di antara kisah-kisah cinta lainnya dalam buku ini. Rahzad yang gagah, bengis, dan dingin bisa-bisanya berkata seperti ini: “Daripada mati di tangan orang lain, aku lebih suka mati di tanganmu, satu-satunya wanita yang pernah kucintai seumur hidupku” (hal. 243). aw aw aw.

Satu hal lagi yang menarik, setelah berbagai konflik, pertunjukan kesaktian dan pertemuan dengan makhluk-makhluk dari dunia lain, ternyata ada satu kekuatan besar yang tak bisa diabaikan, yaitu keyakinan kepada Tuhan. Unik juga karena kisah-kisah fantasi yang saya tahu biasanya malah tidak menyentuh wilayah itu.

Namun, ini menurut saya, beberapa adegan pengejaran dan penyerbuan terasa agak berlama-lama. Tapi mungkin juga karena saya belum terbiasa membaca genre fantasi. Padahal, novel-novel fantasi hampir seluruhnya berkisah tentang peperangan dan pertempuran dan perebutan kekuasaan ya!

Di luar isi cerita, tata letak halaman ternyata membuat mata saya cukup lelah. Huruf-hurufnya begitu rapat dan mungil, mungkin supaya bukunya tidak terlalu tebal?

Yang jelas, karya perdana R.D. Villam ini berhasil membuat saya penasaran dengan novel-novel lokal bergenre fantasi lainnya yang ternyata sudah banyaaaaak (duh ke mana aja ya saya!)

2. Pengulas : Andry Tanuwijaya
Alamat Ulasan :
http://fantasindo.blogspot.com
http://vadis.multiply.com
http://fantasindo.blogspot.com/2010/01/akkadia-gerbang-sungai-tigris.html

AKKADIA – Gerbang Sungai Tigris
R. D. Villam

391 Halaman
Penerbit: Adhika Pustaka, 2009

Website rujukan:
http://www.rdvillam.com
http://www.adhika-pustaka.com

- Interview With The Devil -

Halo, salam jumpa dari reporter Fantasindo, Vadis dalam wawancara eksklusif dengan Davagni, bintang tamu kita dari novel AKKADIA – Gerbang Sungai Tigris karya R. D. Villam. Kita langsung saja mulai dengan pertanyaan pertama.

Vadis:
Nah, Davagni, dalam novel Akkadia ini anda digambarkan sebagai “makhluk terkutuk” yang menjadi hamba dari Puteri Naia dari Kazalla yang negerinya dihancurkan bangsa Akkadia dan berusaha melintasi Sungai Tigris yang tertutup gerbang magis untuk mencari perlindungan dari Bangsa Elam. Bisa anda ceritakan sedikit tentang hal itu?

Davagni:
Ya, seperti yang bisa tuanku lihat pada cover depan novel, hamba digambarkan sebagai sosok iblis yang dipanggil dari dunia kegelapan dengan kekuatan ajaib dari kalung misterius yang dipakai oleh Naia. Nah, sejak saat itu hamba menjadi pembantunya yang terkuat dalam menerobos tiap tantangan, khususnya dari monster-monster unik dalam novel ini, yaitu Barion dan Gharoul.

Tapi terus terang ini tugas yang menyebalkan, karena tindakan Naia ini menimbulkan potensi pergesekan kepentingan antara dirinya sendiri, Dunia Kegelapan, Akkadia, Elam dan seorang musuh misterius yang ingin membuat kekacauan. Hamba jadi makin sering dipanggil dan terlalu diandalkan, padahal selalu ada harga yang harus dibayar untuk meminjam kekuatan kegelapan.

Vadis:
Oh, jadi itu yang membuat jalan cerita menjadi kompleks, sarat dengan pelbagai konflik yang dialami setiap tokohnya yang dijabarkan secara detail dan tidak berlebihan, dengan plot yang layak disimak dan sarat dengan twist-twist yang tak terduga. Bukankah begitu, Davagni?

Davagni:
(Menghela napas panjang) Yah, tentu saja. Hamba jadi ikut tegang, penasaran kapan giliran hamba beraksi dan apakah para tokoh utama berhasil mengatasi konfliknya masing-masing dan menuntaskan misi mereka dengan selamat. Akankah cinta bertaut, akankah janji ditepati, atau apakah semuanya harus runtuh karena pengkhianatan?

Satu hal yang perlu dicatat, tuan sejati hamba, Villam mengambil setting dari sejarah kekaisaran Akkadia di Mesopotamia abad 24 sebelum Masehi (http://en.wikipedia.org/wiki/akkad), yaitu zaman yang memang sarat dengan perang, perebutan wilayah dan kekerasan sebagai sarana masing-masing suku bangsa untuk memperluas wilayah dan meningkatkan kemakmuran.

Setting Akkadia ini memang cukup unik karena berbeda dari banyak cerita fiksi lain yang “meminjam” setting sejarah, mitologi dan legenda yang lebih klasik dan populer seperti Genghis Khan (dalam kisah Pendekar Pemanah Rajawali), Ksatria Meja Bundar, Mitologi Yunani, Roman Tiga Kerajaan (Sam Kok), Kisah 1001 Malam dan lain sebagainya. Jadi, walaupun tidak sepenuhnya unik dan “alien”, kisah ini jadi lebih “believable”, mudah dicerna dan dikenali dan nuansa Timur Tengah yang disajikannya menjadikan kisah ini bagai “dunia baru” yang layak dijelajahi.

Vadis:
Wow, sungguh menakjubkan. Memang, penggunaan setting yang tidak biasa ada baiknya untuk menjauhkan image sebagai “Pengikut Lord of the Rings” atau “Pengikut Eragon”, dan ini merupakan nilai tambah tersendiri bagi karya Villam ini, yang sebenarnya bukan karya perdananya namun menjadi yang pertama bertengger di toko-toko buku terkemuka di seluruh Indonesia.

Kembali pada kisah perjalanan anda, Davagni, anda pasti telah bertemu dengan berbagai ragam orang dan makhluk. Kira-kira, di antara mereka siapa saja yang paling menarik dan berkesan bagi anda?

Davagni: (mengelus-elus tanduk pada dagunya)
Hmm, walaupun pada dasarnya hamba tidak diterima dalam lingkungan manusia dan selalu dicaci-maki dan terus dianggap terkutuk sepanjang perjalanan, terus-terang hamba terkesan pada para tokoh utama yang mungkin bisa dijadikan kesukaan bagi pembaca, di antaranya:

Naia Kashavi: Cantik dan terkesan ada sisa-sisa keangkuhan sebagai mantan putri raja berderajat tinggi, dan cenderung serba serius karena terus ditekan oleh krisis dan intrik-intrik di sekitarnya.
Salah melangkah, bukan hanya nyawanya sendiri yang melayang tapi juga para sahabat dan mereka yang selama ini berjuang bersamanya.

Fares Faradan: Walaupun cintanya nampak bertepuk sebelah tangan, namun ia tetap setia berjuang mendampingi kekasihnya itu. Ia juga bertekad memulihkan nama baik ayahnya yang tercemar lewat sepak terjangnya bersama senjata pusakanya, Gada Geledek.

Rahzad: Panglima Akkadia yang ditakuti oleh lawan-lawannya, disegani kawan dan jatuh cinta pada musuhnya (lho?).

Ramir: Pemuda yang memiliki beberapa kemampuan aneh, agak polos tapi cukup pemberani.
Toulip: Kucing peliharaan Ramir. Jangan dekatkan dia pada hamba! Hamba alergi kucing!

Teeza Alnurin: Mungkin adalah sosok paling heroik dalam novel ini. Wanita perkasa yang sangat pemberani ini sering jatuh-bangun dan hampir tewas demi junjungannya, dan sikap lapang dadanya patut disimak dan dicontoh, sangat berkesan bagi hamba. Terus terang hamba paling suka bekerjasama dengan Teeza ini.

Nergal: Dewa perang dan bencana dalam mitologi bangsa Akkadia, dan sering dianggap juga sebagai dewa kematian dan pemimpin dunia kegelapan – berarti pemimpin hamba juga.

Vadis:
Tokoh-tokoh yang konsisten dan berkembang kepribadiannya setelah ditempa konflik dalam novel ini layak pula disimak, disukai, dikenang dan dicontoh, membuat cerita menjadi lebih hidup dan diharapkan cukup membekas dalam benak pembaca.

Nah, sekian dulu wawancara eksklusif kami dengan Davagni. Dan good work, Villam, saya benar-benar feel good setelah membaca Akkadia ini. Mungkin pengembangannya ke depan bisa diarahkan ke penterjemahan dalam bahasa Inggris untuk tujuan go internasional dan bisa menjadi terobosan baru dalam dunia fiksi fantasi bukan hanya di Indonesia, tapi juga global.

Davagni:
Ingat, bukan statusmu yang membuatmu ditolong atau tidak oleh Tuhanmu. Tapi perbuatanmu, pilihan-pilihan apa yang kaubuat. Nah, hamba undur diri dulu, sampai jumpa dalam petualangan hamba di novel AKKADIA – Gerbang Sungai Tigris!

Tawa membahana Davagni terdengar untuk yang terakhir kali.

3. Pengulas : Anindito Alfaritsi
Alamat Ulasan : http://croissantd.wordpress.com/2010/02/14/akkadia-gerbang-sungai-tigris/

Terduduk di depan rangkaian kata, berharap terjalinnya suatu kisah…

Aku pertama tahu tentang Akkadia adalah saat kebetulan membaca salah satu babnya secara online di situs penulis cerita kemudian.com. Aku membacanya dari tengah, sama sekali tanpa punya gambaran inti ceritanya adalah tentang apa. Saat itu judulnya masih Gerbang Sungai Tigris, dan yang bisa kutangkap waktu itu hanyalah bahwa ada orang jahat bernama Rahzad yang tengah memburu seorang putri bernama Naia yang kebetulan saja memiliki semacam kekuatan terkutuk. Si putri ini dilindungi mati-matian oleh seorang pengawal muda bernama Fares yang memiliki senjata berupa gada pusaka. Untuk menyelamatkan diri dari Rahzad, Fares dan Naia dengan nyaris putus asa melintasi lembah dan pegunungan demi menjangkau Gerbang Sungai Tigris, yang menjadi harapan terakhir mereka untuk menghalau Rahzad.

Terkesima oleh latar Mesopotamia-nya yang orisinil, secara iseng aku mencoba membaca salah satu babnya yang lain. Berlatar di sebuah pondokan gunung yang damai dan sepi, seorang remaja lelaki bernama Ramir, yang diam-diam memiliki suatu kemampuan ajaib misterius, menolong seorang gadis cantik berambut perak yang ternyata kehilangan ingatan. Gadis yang kemudian dipanggil dengan nama Fianna tersebut ternyata memiliki ketahanan tubuh yang jauh melebihi orang-orang kebanyakan, yang semakin menambah teka-teki tentang dari mana asal-muasalnya. Apa dia dari Akkad-kah? Atau dari Elam-kah? Sebab Ramir belum pernah melihat seseorang yang memiliki rambut perak sebelumnya. Bab yang di luar dugaan berjalan lamban ini berakhir saat gadis itu diceritakan meninggalkan pondokan Ramir bersama sepasukan tentara Akkadia, sebagai langkah awal untuk menemukan petunjuk akan masa lalunya yang hilang.

Karena berakhir dengan cara seperti itu, aku bertanya-tanya apakah gadis yang kehilangan ingatan itu adalah tokoh utama yang sesungguhnya. Aku juga mulai berpikir bahwa cerita GST ini tampaknya akan memiliki tokoh-tokoh utama yang luamayan banyak.

Semakin penasaran, beberapa waktu kemudian, akupun berkesempatan membaca bab lainnya lagi secara acak. Bab kali ini bercerita tentang seseorang bernama Teeza yang tengah diburu oleh sepasukan tentara yang menunggangi sejenis hewan buas besar yang disebut ‘barion.’ Latarnya di suatu hutan lebat di kala malam. Meski terkepung dan berada di ambang kebinasaan, Teeza yang ternyata sama sekali bukan orang biasa pantang menyerah dan tetap menjadi lawan yang patut diwaspadai oleh orang-orang yang mengejarnya.

Karena berlatar di Mesopotamia, semula aku mengira cerita ini dibuat dengan maksud untuk menjadi suatu novel historis, seperti film Troy atau 300 buatan Hollywood. Tapi kalau ada makhluk ajaib seperti ‘barion’ seperti ini, bukankah novel ini lebih seperti sesuatu yang bergenre sem-fantasi?

Dugaanku terbukti benar saat aku membaca postingan GST paling awal yang bisa kutemukan. Bercerita tentang seorang putri raja bernama Naia yang karena terdesak keadaan, terpaksa meminta bantuan kepada seorang (seekor?) makhluk terkutuk legendaris bernama Davagni. Davagni, yang rupanya pernah mengkhianati keluarga Naia di masa lalu ini, memohon untuk diberikan kesempatan untuk menebus kesalahan di masa lalu. Tapi keputusan Naia untuk mengabulkan permintaan Davagni tersebut ternyata datang dengan konsekuensi yang begitu besar…

Apa sebenarnya yang mengikat tokoh-tokoh yang sekilas tak saling berhubungan ini, selain ancaman serbuan dari Kekaisaran Akkadia di sebelah barat serta Gerbang Sungai Tigris yang teramat misterius?

Aku tak bisa tak menjadi penggemar R.D. Villam, sang pengarang cerita ini, selama menantikan terjalinnya suatu kisah yang penuh intrik, konflik, keragu-raguan, yang pada saat yang sama sarat dengan petualangan, keajaiban, dan makna.

Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan?

Hanya saja, kini, sesudah Akkadia diterbitkan dalam bentuk tercetak dan aku akhirnya dapat membaca keseluruhan ceritanya sampai tamat, pengharapanku akan telah tergalinya potensi R.D. Villam untuk saat ini ternyata masih belum sepenuhnya terwujud. Ada sesuatu di dalam Akkadia yang tak bisa berhenti mengusik perasaanku, dalam artian yang tak sepenuhnya positif.

Selama menjadi anggota di kemudian.com, aku telah lama mengikuti perkembangan R.D. Villam sebagai pengarang dan bakat yang dimilikinya sama sekali tak pernah kuragukan. Melalui kata-kata yang ia ketikkan secara bertahap, ia bercerita tentang negeri-negeri yang jauh di masa lampau, tentang ras-ras manusia hebat yang keberanian dan keluhurannya kini tak lekang dimakan waktu, tentang orang-orang biasa yang dengan berbekal cita-cita mengubah dunia demi bangsa mereka sendiri, tentang kepahitan dan penderitaan hidup yang ditimbulkan sisi gelap manusia tanpa pernah melepaskan pegangan akan adanya cercah harapan bahkan di masa-masa yang terkelam.

Tapi berlawanan dengan pengharapan besar yang kumiliki terhadap beliau, karya Akkadia buatannya ini—kalau mau diungkapkan dengan gaya bahasa seorang penggemar cerita fantasi—bagaikan ‘sebilah pedang bagus yang dibiarkan tak terasah.’ Memikat dari luar, memenuhi fungsinya sebagai pedang, tapi terbengkalai dan terlupakan di tengah medan laga di sisi seorang prajurit yang mati begitu saja tanpa meninggalkan nama.

Akkadia menampilkan suatu ensemble cast, yang berarti bahwa tak ada tokoh di dalamnya yang memiliki peran lebih utama dibanding yang lainnya. Masing-masing tokoh dibekali dengan motif-motif kuat mereka sendiri-sendiri, sehingga mereka semua memiliki kisah-kisah mereka sendiri untuk diceritakan. Tapi sesuatu pada cara penceritaan Villam, mungkin akibat kurangnya ekposisi perasaan, atau penggalian konflik di antara mereka, atau kurangnya adegan di mana mereka mencurahkan isi hati; membuat kita sebagai pembaca pada akhirnya tak bisa mengenali pribadi mereka secara mendalam. Kita enggan untuk bersimpati terhadap kesulitan-kesulitan mereka. Kita tak merasa perlu bersedih bila salah satu di antara mereka tertimpa bahaya. Mungkin di satu sisi, para pembaca yang memang memiliki ketertarikan terhadap genre ini masih akan dibuat penasaran akan apa selanjutnya yang terjadi. Tapi mereka yang berusaha menemukan suatu kedalaman makna dalam cerita ini akan berakhir kecewa, karena pada akhirnya memang tak ada pelajaran maknawi atau sejarah apapun yang bisa kita ambil dari dalamnya (kalaupun ada, penyampaiannya pun masih teramat kurang meyakinkan). Padahal tema-tema yang cerita ini berusaha angkat sebenarnya bisa dibilang ‘dalam;’ tentang perjuangan di tengah kalutnya keputusasaan; tentang makna sesungguhnya dari kesetiaan, tentang upaya untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu serta keputusan untuk mengampuninya atau tidak. Semua itu sebenarnya bisa dirunut dengan baik andai saja Villam memahami cara untuk menyampaikannya secara dramatis dan manusiawi. Mungkin lebih seperti di Guin Saga…

Titik sentral dari semua ini, yakni Gerbang Sungai Tigris itu sendiri, kupikir akan menjadi ‘pengikat’ dari seluruh rangkaian cerita sekaligus menjadi sumber konflik utama. Tapi gerbang tersebut anehnya hingga akhir ceritapun tak banyak ditonjolkan. Demikian pula dengan Negeri Akkadia, yang namanya jelas-jelas digunakan sebagai judul utama novel, pada akhirnya terkesan tak lebih dari sekedar tempelan belaka. Ide-ide bagus yang terpapar dalam Akkadia memang tak dapat disangkal, beserta keberanian dan kerja keras Villam untuk menggarap dan menggalinya dalam keadaan pasar yang seperti ini. Tapi jalan untuk mengubah ide-ide ini menjadi suatu mahakarya rupanya masih panjang dan terjal.

Kita masih akan berjumpa lagi, ‘kan?

Terlepas dari semua hal buruk yang telah kukatakan di atas, tak bisa disangkal bahwa novel ini telah aku nikmati. Meski tak bisa dibilang berkesan, alurnya secara umum menarik dan isi ceritanya sama sekali jauh dari klise. Penuturan beberapa dialognya cerdas dan tidak ada tokoh di dalamnya yang tak memiliki ciri khasnya tersendiri. Mungkin aku masih sedikit tak puas dengan ilustrasi sampul dan penempatan ruang halamannya, tapi itu ketidakpuasan yang minor dibandingkan dengan apa yang kudapat dari isi cerita. Villam patut mendapatkan banyak penghargaan karena telah menetapkan standar bagi sesuatu yang masih belum banyak tergali untuk ukuran lokal, dan kualitas yang diperlihatkan dalam ukuran pertamanya ini masih belum cukup untuk menghapus pengharapanku akan kemampuannya.

Seperti apapun hasilnya, kupikir karya-karyanya yang berikutnya masih akan tetap kunanti.

4. Pengulas : Deni Arazis
Alamat Ulasan : http://www.facebook.com/profile.php?v=app_2347471856&ref=profile&id=1317199650

Review Novel Akkadia : Gebang Sungai Tigris

Judul : Akkadia Gerbang Sungai Tigris
Penerbit : Adhika Pustaka
Penulis : RD Villam

This is my gift…this is my curse…..

Pembukaan cerita mengalir dengan tempo lumayan cepat dimana Naia, Putri Kerajaan Kazalla yang negerinya dihancurkan oleh Akkadia, berusaha melarikan diri dari kejaran tentara Akkadia dan Panglimanya, Jenderal Rahzad. Walaupun Naia berhasil lolos, terdapat korban dalam pasukannya yang memang sudah sedikit termasuk di dalamnya Kapten kerajaannya, Teeza, akibat serangan pasukan Akkadia dan serangan mendadak dari sejenis monster bernama Gharoul ( gabungan Ghoul dengan vampir?? ). Naia sendiri memiliki kemampuan unik yang sayangnya oleh sebagian orang dianggap sebagai kutukan, sehingga diperlukan sebuah benda berbentuk kalung untuk meredam kekuatan tersebut.

Cerita kemudian mengalir melalui berbagai sudut pandang dari tokoh-tokoh yang, selain cukup banyak, juga memiliki motif, ambisi dan peranan sendiri dalam dunia Akkadia yang penuh perjuangan, epic battle, politik, cinta dan uniknya… ideologi keagamaan. Banyaknya tokoh dalam Akkadia merupakan kelebihan sekaligus kekurangan dalam buku ini. Karakter masing-masing tokohnya termasuk kuat dan memiliki kesan yang mendalam ( yeah… that’ you Davagni!!! what a sneaky big devil ) tapi terdapat ambiguitas pada beberapa tokoh yang agak klise ..seperti Rahzad dengan segala kebengisan, kekejaman dan pendirian teguhnya ternyata memiliki masa lalu yang kelam dan cinta yang terpendam dan pada akhirnya bersikap kesatria sewaktu mendekati kematian ( booo hooo… ). Serta kurangnya peranan tokoh ( yang saya anggap ) utama dalam mempengaruhi dunia Akkadia secara keseluruhan (contoh: Ramir sebagai keturunan salah satu penyihir terhebat harusnya bisa lebih kuat dan lebih hebat, ini malahan pingsan melulu ehehe…faktor umur??? Well kids should just stay at home..)

Latar belakang yang mengambil fakta sejarah daerah Timur Tengah dengan sedikit bumbu fiksi (CMIIW…Aheddeanna itu harusnya nama Putri Raja Sargon dan bukannya Pendeta Tinggi Kerajaan Akkadia…that’s fine coz it’s really a great name anyway..) membuat buku ini semakin menarik untuk dibaca, di tengah serbuan kebanyakan pengarang fiksi lokal yang terkesan Lord of the Ring – sentris dengan orc, elf dan naganya. Hal ini juga menunjukkan pengetahuan yang mendalam RD Villam akan sejarah pertengahan Mesopotamia dan riset yang cukup mendalam akan perkembangan politik daerah sekitar Sungai Tigris waktu itu. Dan menurut saya salah satu ide paling brillian dari pengarang adalah menciptakan BARION!! ( I’m already googling and couldn’t find the origin of its name ), dikarenakan tidak gampang rasanya membuat satu makhluk antah berantah yang sama sekali baru dan kemudian menjadi salah satu keping sentral cerita dan menjadikannya legenda dalam epos Akkadia.

Desain cover yang keren juga menjadi nilai plus buku ini yang sayangnya tidak diimbangi dengan lay out yang cukup membuat mata sakit…karena buku ini termasuk tebal ( mungkin supaya harganya terjangkau??? ) dan menurut saya pribadi… this book deserves better!!!. Mungkinkah penerbit Adhika Pustaka berkenan mencetak buku ini dalam bentuk lebih bagus??? Seperti edisi Musashi mungkin…( i hope…). Tapi itu tidak menghalangi saya dalam menikmatinya halaman per halaman sehingga tanpa tersadar sudah 1500-an halaman terlewati dari pertama membuka kata pengantar.

Overall, buku ini lebih dari sangat layak untuk dibaca bagi pecinta fiksi hard-core maupun penikmat buku biasa. Twisted Conflict, jalan cerita yang susah ditebak, banyaknya tokoh-tokoh keren ( did i have mentioned you Davagni??? Well shame on me…) serta pertempuran di akhir cerita yang sangat seru dan tidak berkesan dipaksakan, membuat saya menjadi salah satu penggemar RD Villam yang baru. Hal yang sedikit mengganjal adalah kurangnya bahasan mengenai kerajaan Akkadia dan Gerbang Sungai Tigris yang menjadi judul novel ini serta penjelasan mengenai siapa sebenarnya Sang Terpilih pada akhirnya?? Naia, Ramir atau Teeza?? Atau malah ketiga-tiga nya??? Well, mungkin saja ini taktik pengarang untuk mempersiapkan sekuel atau prekuel atau bahkan spinn-off untuk cerita ini dan mempersiapkan varian judul Akkadia dengan memperhatikan penerimaan pasar….misalnya : Akkadia : Davagni si Pemakan Batu??? Apapun itu saya akan menunggu selanjutnya karya-karya RD Villam..terutama yang berhubungan dengan Akkadia ini…It’s a really nice work!!!

Great Power Comes Great Responsibility
Too Much Power Makes You Unreliable

5. Pengulas : Ratna Sambhava C.S.

Bisa jadi kerbau akan menjadi hewan keramat bagi sejumlah gembong fantasi yang selama ini gencar bergerilya di ranah dunia maya. Setelah menunggu, menanti, dan tak pernah berhenti berharap, akhirnya karya perdana mereka menetas di tahun ini. Sebut saja Garuda 5 oleh F.A. Pur dan yang teranyar adalah Akkadia: Gerbang Sungai Tigris oleh R.D. Villam. Ini jelas-jelas adalah pertanda yang sangat baik bagi para wannabe (seperti saya) yang selama ini selalu mendongak ke langit. Bahwa apapun bisa dicapai asalkan ada niat, mimpi, dan keringat. Pada akhirnya, segalanya akan terbayar tuntas. Monumental. Kebanggaan.

Mengenai sosok penulis novel ini, saya tidak pernah tahu jelas. Selama ini, saya hanya terbiasa membaca posting-posting tulisan beliau entah di kemudian.com atau blog pribadinya, rdvillam.com. Ditambah lagi, membacanya di depan layar monitor 15” yang sudah sangat uzur dan tentu saja, masih bermodel CRT. Tapi toh hal itu tidak mengurangi segala kelezatan yang tersaji. Sungguh tulisan bertema fantasi yang menarik, mudah dibaca, dan plotnya jelas. Akkadia mungkin adalah novel pertamanya yang muncul di pasaran. Tapi dengan gaya dan tulisan seperti itu, saya bisa percaya jika novel itu sebenarnya adalah karya kesepuluhnya. Permata yang sudah cukup terasah dan menanti untuk ditemukan. Jadi ketika salah satu ceritanya ini terbit dalam bentuk buku, saya seolah dilanda euphoria karena akhirnya bisa membaca cerita beliau tidak lagi melalui layar monitor. Ceritanya pun akan memliki awal dan akhir yang jelas, dan juga putus dalam satu buku saja. (walau sangat mungkin bersekuel jika ada tuntutan trend. Gejala dan aromanya begitu kentara.)

Nah, lalu bagaimana kesan pertama saya saat melihat novel ini terpajang di rak new release? Jujurnya lega karena setelah berselang nyaris tiga minggu terbit di ibukota kita tercinta ini, akhirnya novel ini boleh mampir di kotaku yang sebenarnya hanya berjarak dua jam saja. Sementara rasa excited-nya sendiri, ehm, udah nggak terlalu gimana lagi karena sudah terlalu sering memandangnya di web. Tapi saya sependapat jika desain covernya terkesan mewah dengan suasana dark dan eksotisnya. Walau bagiku, arsitekturnya lebih mengesankan kuil Yunani, tapi tetep keren lah. Jelas-jelas ini adalah gambaran adegan yang terjadi di bab pertamanya. Hanya saja jika ditilik-tilik lebih teliti, sang puteri berbaju putih ini seperti berusia sepuluh atau dua puluh tahun lebih tua dari seharusnya. Dan juga tempat ia berdiri lebih seperti podium pilar, bukan podium singasana. Tapi yah….teuteup keren lah. Makanya dengan senang hati, saya mau menerima novel ini untuk turut menyemarakkan rak buku saya yang anggota keluarganya masih segelintir.

Setelah mengerenyit rendah akibat hidangan cuci mulut (paragraf pertama halaman ucapan terima kasih yang hanya satu kalimat saja tapi panjang bangeud), akhirnya saya mulai melalap main course-nya. Hal pertama yang patut diacungi jempol adalah kelihaian sang penulis mengaitkan fakta-fakta historis dengan imajinasi liarnya hingga menjadi jalinan cerita fantasi yang memikat dan menegangkan. Sejak halaman pertama, gripnya sudah terasa kenceng. Tidak mengumbar banyak deskripsi atau basa-basi ini itu yang bikin cerita nge-lag. Sang puteri dan rombongannya langsung diposisikan dalam tekanan hebat di ujung tanduk. Berikutnya adalah serbuan makhluk-makhluk khas fantasi macam gharoul (varian ghoul) yang kubayangkan seperti shinigami Ryuuku di anime Deathnote, Davagni sang iblis licik terkutuk yang modelnya seperti gargoyle, dan macan gelap Barion (hm, adakah spesies macan di Eropa tengah? Kalo serigala raksasa sih ada. Contohnya tuh, inangnya Remus dan Romulus penemu kota Roma.). Satu jempol kanan untuk keberanian beliau menciptakan makhluk-makhluk jenis baru dengan deskripsi yang begitu ciamik. Satu jempol kiri untuk keberanian menampilkan setting Mesopotamia sebelum Masehi dan sense of naming yang begitu pas (walau menurutku agak terjegal di masalah Nergal.)

Tentu saja pelarian itu tidak berlangsung semulus yang diharapkan dan cerita pun mulai bercabang. Tokoh-tokoh utama terpencar dan masing-masing menempuh jalan tersendiri. Sejumlah tokoh lain pun dimunculkan untuk semakin menambah cita rasa. Hingga akhirnya, sang puteri bersama para sekutunya melancarkan pembalasan dan pecahlah pertempuran kolosal melawan Akkadia yang melibatkan makhluk-makhluk fantasi dan juga pendeta-pendeta seksi Ishtaran. Selanjutnya terjadi pembelokan dan cerita ini ternyata tidak berlangsung seperti yang semula kuperkirakan.

Secara keseluruhan, nyaris tidak ada salah ketik dan pengeditan yang mengganggu (thumb up to editor). Tutur bahasa mengalir lancar. Walau bercabang-cabang dan berkelok-kelok agak membingungkan, alirannya tetap terjaga lancar. Bumbu ketegangan, twist, dan aksi yang diramu dalam storyline terasa cukup tasty. Akhirnya dalam dua hari, main course itu terlalap habis. (walau ngos-ngosan karena terlalu nafsu. Enak, sih.)

Oh, ya, sempat mengerenyit lagi di bab ke-41, tapi jujur ini memang cerita yang penuh MSG dan sangat mengenyangkan. Mak nyus! Tapi hati-hati dengan istilah kenyang yang satu ini. Saya tidak yakin semua orang berpendapat sama. Lay out yang memungkinkan huruf-huruf bertumpuk sesak. Saya bisa mengerti, salah satu alasannya pasti adalah untuk menekan jumlah halaman (sejujurnya saya juga termasuk salah seorang yang tertipu karena standar baca saya maksimum 400 halaman). Terkesan ‘tipis’ tapi sebenarnya sangat berisi. Bagi saya yang sudah mengenal gaya tulisan beliau, tidaklah masalah. Tapi saya tidak tahu bagaimana pendapat orang di luar sana yang benar-benar masih awam terhadap sepak terjang sang penulis dan tema-tema fantasi sejenis ini.

Nah, sekarang marilah menyantap menu-menu dessert yang ‘cukup banyak’. YAY! Tentu saja, dimulai dari keripik-keripik dan jus buahnya dulu. Persiapan perang besar berskala sepuluh ribuan termasuk gajah-gajahnya hanya dalam jangka waktu sebulan saja. Ehm, boleh lah. Sang pengawal pribadi puteri ikut-ikutan berpendapat dalam rapat strategi. Tidak pada tempatnya, but still OK. Terlalu banyak twist ternyata membawa aroma rumit tersendiri. Akibatnya sepanjang mengunyah, saya selalu diliputi kecurigaan. Waspadalah! Segalanya serba menipu. Termasuk sinopsisnya yang saya kira bakal muncul di bab-bab awal. Tapi toh, masih terasa lezat.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, nama Nergal yang ditampilkan begitu tersurat, menurutku, membawa sedikit masalah. Nama ini adalah nama salah satu dewa Mesopotamia yang seharusnya cukup ngetop di masanya. Dia itu putera dewa matahari Ea (sehingga punya kekuatan yang mematikan) namun terjebak dalam permainan cinta dengan Ereshkigal (dewi underworld) hingga akhirnya, ia benar-benar menetap sebagai raja underworld. Dalam epik Gilgamesh yang termasyur, kalau tidak salah nama ini juga memainkan peranan sebagai antagonis. Nah, dengan nama yang sebegitu notorious-nya dan juga langsung diperkenalkan blak-blakan oleh si iblis batu, tidak mungkin si puteri tidak tahu. Sudah seharusnya ia juga bersikap lebih ekstra hati-hati karena bakal menghadirkan iblis setara Hades di dunia nyata. Bahkan jika diperdalam lebih lanjut lagi, pilihan itu bukanlah alternatif lagi karena dewa itu pun bukanlah dewa bangsanya sendiri (aku tidak tahu dewa favorit bangsa Kazalla itu apa). Singkatnya berarti si puteri meminta bantuan dari dewa bangsa musuhnya untuk menolong bangsanya sendiri. Weleh weleh. Tapi, yah, aku juga kurang begitu paham dengan pola pikir si puteri labil yang baru berumur 19 tahun itu. Mungkin sudah sebegitu desperate-nya kali.

Mengenai kedalaman emosi, sepertinya sang penulis tidak ingin mendayu-dayu. Tapi, ehm, menurutku ini agak kelewat datar. Hubungan cinta sang remaja pemimpi dan sang gadis berambut perak seperti cuma jadi tempelan. Sekadar cinta monyet tapi entah kenapa dijadikan pamungkas di adegan tamatnya (benar-benar bau sekuel). Lalu adegan kepergian si duo berambut pirang juga cuma berlalu begitu saja. Adegan si iblis batu boleh dibilang yang paling OK walau disisipi konsep ketuhanan yang menurutku agak mengganggu.

Balik lagi mengenai rentetan aksi bombastis di bab ke-41 itu, sedikit banyak terasa flavor Deus ex Machina. Mentang-mentang musuhnya berpangkat dewa, jadi harus dilawan dengan kekuatan setara dewa pula (alias Tuhan). Bukannya nggak suka. Tapi diam-diam aku berharap ada sedikit unsur logisnya yang turut bermain.

Beberapa tokoh protagonis mempunyai kesamaan karakter, yaitu keras kepala dalam mempertahankan kebodohan. Si raja muda beserta adiknya, si gadis berambut perak, tapi terutama adalah sang puteri yang digambarkan begitu mandiri, tangguh, tegar, namun naif. Benar-benar bikin gereget dan ingin menjitak kepalanya. Punya kemampuan extraordinary ala Cyclops dari X-Man kok disimpen-simpen. Padahal jelas-jelas bisa digunakan untuk melindungi rakyat tidak berdosa dan juga tanah air. Memang sih, risi juga dicap terkutuk. Bisa-bisa digantung ato dibakar ato masuk gosip panas infotainment. Tapi kalau dulu Bung Karno mempunyai kekuatan ala Dr. Manhattan dan menggunakannya untuk mengusir armada Japon, saya bisa mengerti dan mengesampingkan status terkutuknya. Toh, kekuatan terkutuk itu cuma sebatas di kulit saja dan tidak sampai menjadikan hati nuraninya jahat. Hm, dugaan sementaraku, sang penulis kuatir sejarah bisa berbelok jika sang puteri benar-benar nekad menggunakan kekuatan sakti mandragunanya. Karena sudah pasti, Akkadia bakalan gagal menguasai wilayah Mesopotamia. Buatku, adegan yang satu ini benar-benar merusak logika dan terlalu sentimentil. Ah, repotnya mencampurkan fantasi dengan fakta historis.

Karakter favoritku justru jatuh pada sang panglima Akkadia yang keji namun cukup logis dan konsisten. Kehadirannya memberi warna tersendiri karena super tangguh, ambisius, menyimpan rahasia, dan humanis. Bahkan di saat-saat terakhir, ia masih juga mampu menghadirkan drama dan sejumlah twist. Hanya adegan melarikan dirinya bersama si gadis berambut perak di bab 34 yang nggak banget. Langsung deh aku teringat pada serial kesayangan anak-anak negeri kita tercinta ini: NARUTO.

Menu desert berikutnya adalah caesar salad. Tokoh yang begitu beragam dan masing-masing mempunyai taste-nya sendiri. Si gadis berambut perak yang lupa-lupa-ingat, si remaja pemimpi yang ingin menonjol tapi sulit karena memang belum waktunya, si pengawal pribadi dengan cita-cita dan hasrat terpendam, si puteri yang nyaris selalu morang-maring, si raja muda yang memang bener-bener masih muda, si iblis batu yang bermulut tajam, dan sebagainya. Yang rasanya paling tidak sedap adalah si gadis berambut perak terutama saat adegan amnesianya yang bisa sembuh karena tertusuk di pundak. Hm, mungkin gara-gara sensasi shock-nya yang serupa dan menjalar hingga kepala. Masih bisa diterimalah. Walau aku sempat menduga, jangan-jangan bakal ada twist ala Total Recall. Tapi, ya, begitulah. Aku masih terlalu hijau dan polos. Sementara sang koki terlalu piawai mengumbar menu hidangan yang beraroma menggairahkan.

Nah, yang jadi masalah adalah kalau ada orang di luar eksistensi kelompok fantasi yang bertanya: rasa campur aduk caesar saladnya seperti apa sih? Maka bingunglah aku. Jawaban pertamaku pasti: ambisi Akkadia untuk menguasai wilayah Mesopotamia, balas dendam si puteri Kazalla, dan reaksi negara-negara di sekitarnya yang juga berselisih dengan Akkadia. Setelah itu, ada pula cerita tokoh-tokohnya pribadi demi pribadi yang akhirnya saling berkait. Tapi ujung-ujungnya adalah pertarungan melawan dewa kegelapan yang hendak menguasai dunia. Dan si dewa yang asli keturunan Mesopotamia itu akhirnya terjungkal di kandangnya sendiri oleh Tuhan yang notabene berasal dari tanah bule di Utara. Nah, lho?

Menu yang terakhir adalah adegan no kill-nya yang begitu tersurat di bab 40. Agaknya menjatuhkan rating dari Adult ke PG-13 atau bahkan Children. Padahal di halaman-halaman awal sudah penuh dengan adegan tempur yang pastinya berdarah-darah macam kepala remuk, perut memburai, dan sebagainya. Tapi toh, kukira semua itu masih dalam kadar cukup dan tidak berlebihan. Bukannya aku doyan dengan adegan yang berdarah-darah, tapi kukira, hal itu memang yang paling masuk akal dalam suatu situasi pertempuran nan genting. Namun di bab 40 inilah….Ehm, mungkinkah situasi diperlembut gara-gara ada yang hendak bertobat?

Ah, sepertinya aku sudah terlalu kenyang sekarang. Tapi dengan aroma after taste yang masih terasa menggeliat namun menggantung, sepertinya novel ini sangat berpotensi untuk kelahiran Akkadia-Akkadia berikutnya. Atau mungkin pula berganti menjadi Assyria atau Babylonia. Halah, pokoknya sih tergantung sang koki dan pasar. Ada permintaan, ada barang. Namun sekali lagi, yang pasti bagi sang koki, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Bagi saya sang penikmat adalah menu dan cita rasa yang mengenyangkan. Sementara bagi komunitas Fantasi Dalam Negeri, mereka baru saja mengesahkan anggota terbaru yang sangat mungkin berpotensi di masa mendatang.

Tapi marilah kita memanjatkan doa bersama-sama: Arante rei kui tanara. Arante rei eis tadira. Uis tera din eidara, eista. Arante rei, pi pi pi la la la la. Terjemahannya kira-kira seperti ini: Tuhanku, kepadaMu aku berlindung, kepadaMu aku kembali. Bawa aku dalam lindungan cahayamu. Aku percaya. Kau akan selalu memberkati dan mewujudkan mimpi insan-insan-Mu yang lainnya. Tentu saja, mimpi sang penulis review ini dan juga para pembacanya. Hehehe. PUAS! (sambil mengangkat dua tangan terkepal ke atas).

Leave a Reply