Satu bulan sudah Akkadia: Gerbang Sungai Tigris muncul di toko buku. Alhamdulillah bukunya kini sudah bisa diperoleh di kota-kota lain seperti Surabaya dan Medan, terjual dengan hasil yang cukup baik, dan sudah terbaca pula bahkan sampai ke Kopenhagen, Denmark (teman saya di sana sudah bersedia buat mengirimkan foto Akkadia dengan latar kota yang paling menarik, mungkin patung Putri Duyung yang terkenal itu. hehehe…).

Sebagai info tambahan, bagi yang sudah membaca bukunya dan gemar membuat ulasan, jangan lupa untuk mengikuti Lomba Ulas Novel Akkadia yang akan ditutup pada tanggal 14 Februari 2010. Pemenangnya nanti akan diumumkan pada tanggal 21 Februari, dan mendapat hadiah senilai Rp 500.000. Info lebih lanjut dapat dilihat di situs Adhika Pustaka.

Lalu, jadwal keramaian berikutnya adalah acara Bedah Buku (saya pribadi lebih suka menyebutnya acara temu sapa dengan seluruh Teman-teman pembaca), yang rencananya akan diadakan pada tanggal 14 Maret 2010 di TM Bookstore, Depok Townsquare, Depok. Acara ini diadakan oleh komunitas Goodreads Indonesia, di mana Akkadia telah dipilih menjadi Book of the Month February 2010. Sila datang, Teman-teman, untuk meramaikan acara tersebut. :-)

Terakhir, bagi Teman-teman yang masih kesulitan mendapatkan buku Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, silakan hubungi saya via e-mail di rdvillam@yahoo.com.

Terima kasih.

Villam.

16 Responses to “Satu Bulan Akkadia”

  1. 1
    ubr Says:

    Kemarin malam (setelah menyusahkan mbak yang bekerja di Gramedia Matos Malang hwehehe) akhirnya saya mendapatkan Akkadia.Kini tinggal menunggu waktu luang buat membacanya :)

  2. 2
    Villam Says:

    hyaaah… emang kenapa di gramedia malang?
    gimana kasusnya? heheh…

  3. 3
    ubr Says:

    Yah… Saya kan lagi males nyari bukunya di rak mana, jadi minta tolong dah. Mbaknya langsung sigap menyisir seluruh isi toko sementara saya cuma berpangku tangan melihatnya hwehehe…

  4. 4
    Villam Says:

    itu biasa kaleee… :-P
    hmm… jangan2 bukunya gak ditaro di jajaran novel…

  5. 5
    heinz Says:

    Iya di Gramedia IP juga ditaruh gak di rak buku novel.
    Semula kupikir ada deket Xar Vichatan
    Tapi ternyata gada.
    Di rak teen lit ato buku-buku LKH juga ga ada.
    Ternyata adanya di rak pendek deket komik-komik Tony Wong. Alias harus nunduk baru keliatan bukunya.
    Waduh, harus diapain nih…

  6. 6
    Villam Says:

    kalo yg di jabodetabek sih bisa gue datengin trus minta tolong sama si mas ato mbak yg jaga supaya dipindahin naronya, tapi kalo di kota laen ya susah… :-P
    tinggal berharap semoga setiap store managernya gak keliru.
    ato berharap bukunya laris, jadinya managernya itu ngeh kalo itu adalah novel. heheheh…

  7. 7
    heinz Says:

    Kalo aku belom beli bukunya sih, aku bakal akting ngomel. Hehehe.
    But let’s see what I can do….

  8. 8
    Villam Says:

    hehehe… oke, thank you, bro. :-)

  9. 9
    Serpentwitch Says:

    udah beli nih, Akkadianya ^^

    Baru baca dikit sih, so far so good. Pembukaan yg menarik dan langsung intense. Gw terutama tertarik sama yg penjelajah mimpi. Semoga perannya cukup besar dalam cerita :D

    Palingan cuma kurang sreg ama istilah Sang terpilih. Which I think you knew the reason, yet you still use it. Gw rasa akan lebih keren kl istilah itu disamarkan dalam istilah conlang. Untuk sementara cuma itu yg bikin turn off. :P

    Well, segitu dulu, gw bacanya nyicil di WC tiap sebelum berangkat kantor jdnya mungkin agak lama br beres wkwkwwkkwk XD

  10. 10
    Villam Says:

    buset, bacanya di wc… :-) )

    oke, ntar kalo dah selesai baca ditunggu komentar, kritik dan sarannya. thanks. :-)

  11. 11
    Nyyibgiradha Payr Thaprumi Says:

    sorry ya vil, mau sedikit kritik ttg AKKADIA… ada satu hal yg sepertinya sulit aku terima di dunia AKKADIA. yaitu adalah masalah TATANAMA.
    Meskipun kurang penting sebaiknya juga diperhitungkan dalam menyusun sebuah cerita demi believability.

    1. Nama kota “Avan” yang benar adalah “Awan”. Setelah mengecek di Wikipedia, memang ada kota Avan tapi di Negara Armenia, tetapi tidak ada peninggalan bangsa Elam di sana dan letaknya jauh di utara, tidak di sekitar sungai Tigris. Kota yang merupakan peninggalan bangsa Elam bernama Awan yg juga merupakan nama dinasti pertama Elam.

    2. Beberapa nama tokoh berkebangsaan Elam seperti Javad dan Mehrdad ternyata menggunakan nama-nama Persia. Javad dalam bahasa Persia berarti “liberty”, sedangkan Mehrdad berarti “gift of Mithra”. Perlu diingat, meskipun wilayah Persia dan Elam berdekatan, tidak ada hubungan kekerabatan antara kedua bangsa di bidang bahasa. Bangsa Elam berbahasa Elamo-Dravidian yg berkerabat dgn org2 Dravida di India. Sedangkan bangsa Persia berkerabat dengan bangsa India karena sesama Indo-Iranian, yang berkerabat pula dengan bangsa2 Eropa dalam rumpun Indo-European.
    Mengingat Akkadia merupakan novel berlatar belakang Mesopotamia di masa lalu, seharusnya nama-nama tokohnya dibikin sesuai dengan realita yg terjadi di masa itu. Orang Akkad seharusnya menggunakan nama2 dalam bahasa Akkadia. Demikian juga orang Sumeria dan Elam. Jika kesulitan membikin tatanama karena masalah bahasa, bisa juga dipakai nama-nama tokoh historis/ mitologis bangsa yang bersangkutan yg mungkin pasaran (banyak dipakai oleh masyarakat) pada waktu itu.

    3. Tidak seperti Nergal yang merupakan nama makhluk mitologis bangsa Mesopotamia, nama “Davagni” mustahil jika digunakan untuk menyebut makhluk mitologis di Mesopotamia. Davagni adalah kata Sanskrit yg berarti “Fire of the Woods”. Lagipula pada abad ke-24 sebelum Masehi menurut sejarah di India saat itu berkembang kebudayaan Mohenjo Daro-Harrapa (bangsa Dravida). Bangsa Indo-Aryan sendiri baru bermigrasi ke India pada sekitar abad ke-20 SM.

    Sekian kritikannya.. semoga bisa jadi masukan bagi penulisan berikutnya atau mungkin ada pembelaan??

  12. 12
    Villam Says:

    aku udah tau itu semua kok.
    tapi tetap, aku milih nama-nama itu buat ceritaku. :-)

  13. 13
    Nyyibgiradha Payr Thaprumi Says:

    mo kritik lg. kali ini ttg subplot Ramir yg bikin *gubrakkk*,, mnrtku subplot Ramir adalah yg paling “wagu” (alias jayuss) krn serba kebetulan dan kesannya mempermudah cerita biar cepat selesai…

    lihat aja ketika Ramir menemukan cewek yg amnesia, trs dikasih nama Ellana,, blablabla,,, mrk ketemu prajurit2, Ellana dgn cepatnya ‘digondol’ oleh prajurit2 itu (tanpa rasa takut atau berontak)… Trs Ramir diksh tau jati dirinya, disuruh kakeknya pergi ke utara mencari “Penjaga Ilmu” (pdhl Ramir sendiri gk tau istilah apa itu dan Ramir jg buta daerah utara)

    Trs di warung makan ramir ketemu Airi, Airi lsg mempertemukannya dgn Rifa (yg msh ada hubungannya dgn Teeza), trs Ramir dan Rifa ke utara… lsg ketemu ke sebuah gubuk yg (kebetulan) adalah rumah almarhum kakek Ramir,, trs diantar ke kuburan kakeknya,, trs katanya ada sosok misterius yg mengunjungi kuburan itu pada saat tertentu trs (kebetulan) saat tertentu itu adalah bbrp jam kemudian.. (jadi Ramir bs lsg bertemu dgn sosok misterius itu, tanpa hrs menunggu lbh lama),,

    Ternyata sosok misterius itu Ellana (seorang wanita kenalan kakek angkatnya yg namanya dipakai buat nama cewek amnesia yg pernah ditolongnya). Ellana trs membawa Rifa dan Ramir ke gerbang sungai tigris yg dekat situ dgn mudahnya bilang: “ngapain jauh2 ke selatan, di dekat sini (di utara) ada koq gerbang cadangannya…” (*gubraaakkkk*)

    Dan dengan mudahnya gerbang sungai tigris itu dibuka (dgn sekali ucap mantra, tanpa kesleo lidah, pdhl pake bahasa asing yg Ramir tdk tau artinya dan pertama kali Ramir mengucapkannya)..

    Jadi dengan kata lain Ramir dijadikan karakter yg ‘serba beruntung’ dan karakter yg ‘sempurna’ oleh pengarangnya,, Gpp sh mnrtku, itu hak2 pengarang, suka2 pengarang… tp koq malah membuat cerita jd garing dan jayus???

    alangkah baiknya kalo perjalanan Ramir ke utara itu dibuat sedikit berliku, ada hambatan, ada kesalahan teknis, dll biar ada twist2 yg menarik di subplotnya.. Lebih seru lg kalo gerbangnya cuma satu (di selatan)… jd Ramir dkk hrs berbalik arah hanya demi misi membuka gerbang..

    Tp kalo demi alasan mempercepat laju mainplot dan efisiensi halaman sh aku angkat tangan,, sekali lagi “hak pengarang”

  14. 14
    Villam Says:

    baguslah kalo lu bisa paham kalo itu adalah hak pengarang.

  15. 15
    alfare Says:

    ahahaha. Bang Villam, dramatisasi yang kumaksud itu adalah supaya mencegah adanya tanggapan kayak gini.

    tapi nyante aja kok.aku percaya TFH ntar hasilnya bakal jauh lebih bagus.

  16. 16
    Villam Says:

    dramatisasi adalah sebuah pilihan. :-)

Leave a Reply