Di Tepi Sungai Ordelahr 6
Posted by: Villam in Cerita, tags: cerita fantasi, Hikayat Orang Utara
lihat bab sebelumnya di sini
baca kisah Di Tepi Sungai Ordelahr dari awal di sini
—
“Nnn-nnn! Nnn-nnn!”
“Kau memanggilku, Anakku?”
Villam mencakar hidung Vilnar sambil tertawa-tawa, bahkan menarik pula cambangnya. Kedua kaki mungil bocah itu menendang-nendang leher dan telinganya. Tendangan yang hebat, kuat dan mantap.
Vilnar membiarkannya dan tersenyum lebar. Ia meletakkan dagunya di tepi tempat tidur, duduk santai di lantai kayu yang berselimut kulit tebal rusa jantan, kemudian memejamkan mata, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari selama lima bulan terakhir setiap kali ia menyambut putranya di pagi hari.
Jemari lembut Ailene membelai wajah Vilnar dari belakang, dan desah napas istrinya itu terasa pula di telinganya. Vilnar membiarkan Ailene menyentuh dan membelai seluruh tubuhnya. Ia kemudian teringat, istrinya itu baru saja melewatkan malam dingin pertamanya di Hualeg.
Vilnar membuka mata dan melirik. ”Lebih hangat sekarang?”
”Sedikit.” Ailene makin merapat.
”Malam yang dingin, dan juga pagi yang dingin, di utara sini. Tapi bisa lebih kuhangatkan, kalau kau mau.” Vilnar menciumi jemari istrinya.
Ailene tertawa kecil. ”Kau bisa?”
Vilnar pun merengkuh tubuh istrinya, menciuminya, membiarkan gairah menguasai dirinya. Sesuatu yang bergejolak di dalam diri Vilnar itu selalu dirasakan setiap kali ia memandang istrinya, merasakan desah napasnya, dan membelai kulit halusnya. Tidak pernah berkurang, dan sepertinya justru semakin bertambah. Setiap hari, sejak ia pertama kali bertemu dengan Ailene, setiap tahun. Dan semoga, selamanya.
Selamanya? Kadang kala, seperti saat ini, adalah rasa takut kehilangan dan tidak bisa bersama selamanya, yang membuat seluruh kesempatan ini begitu berharga dan tak layak dikorbankan untuk apapun.
Suara ketukan pelan dari luar pintu kamar.
”Vilnar.”
Suara Kronar.
Vilnar mengatur napasnya, sebelum menjawab, ”Ya?”
”Kalian sudah sarapan?”
”Belum,” jawab Vilnar. ”Kenapa?”
”Setelah sarapan, segeralah kau ikut denganku. Kita ada pertemuan penting di balai desa. Aku akan menunggumu di sana.”
”Ya, aku akan menyusul.” jawab Vilnar lagi. Ia melirik ke arah Ailene yang wajahnya begitu dekat di sampingnya.
Setelah terdengar langkah kaki Kronar yang menjauh, Ailene bertanya, ”Pertemuan penting? Tentang apa?”
”Aku belum tahu.” Vilnar mengangkat bahu.
Itu jawaban untuk istrinya. Namun sebenarnya Vilnar sudah bisa menebak hal penting apa yang akan dibahas saat pertemuan. Radnar telah menyampaikannya tadi malam, tentang kemungkinan adanya serangan suku Logenir dari barat. Ya, lebih baik ia tidak memberitahukan istrinya tentang masalah ini, untuk sementara ini.
Vilnar beserta istri dan anaknya makan pagi di ruang makan yang terletak di lantai bawah. Ruang makan itu besar, dengan meja terbuat dari kayu tebal sepanjang sepuluh langkah di tengah-tengahnya. Dulu sekali, itu adalah meja yang selalu ramai oleh celoteh dan gurauan kanak-kanak Vilnar dan ketiga kakaknya, teguran lembut ibunya, dan tawa lebar membahana ayahnya. Tempat paling indah di rumah ini. Saat paling indah dulu, ketika semua bocah itu belum mengenal pedang ataupun kapak.
Sepertinya sudah lama sekali. Sekarang keindahan itu tak bersisa. Sunyi, gelap, dingin, ketika Vilnar memasukinya. Hanya ia beserta istri dan anaknya yang ada sekarang, karena ternyata Radnar juga sudah pergi ke balai desa.
”Nnn-nnn! Nnn-nnn!” Villam bersuara lagi ketika bocah itu berusaha menggapai sendok kayu di depannya.
Vilnar tersenyum. Kehangatan itu masih bisa datang lagi, ia tahu.
Selesai sarapan Vilnar minta diri pada istrinya, lalu meninggalkan rumah besar berjalan menuju tempat pertemuan. Dan ternyata ia menemukan sejumlah hal yang mampu menghilangkan kekhawatirannya.
Ayahnya kemarin malam berkata bahwa rakyatnya tidak pernah melupakan Vilnar bahkan setelah ia pergi selama empat tahun. Itu ternyata benar. Setiap lelaki dan wanita, tua maupun muda, para pemburu, pencari kayu bakar, ataupun pandai besi, yang bertemu dengan Vilnar di jalan menyapanya dengan hangat, menepuk-nepuk bahu, bahkan memeluknya.
Vilnar tersenyum lebar. Ia senang mendapat sambutan yang lebih hangat dibanding saat kedatangannya kemarin. Kegembiraan hatinya bertambah, tapi ia tahu tak bisa berbincang terlalu lama dengan mereka. Ada urusan penting yang harus dilakukannya. Ia berjalan semakin dalam ke tengah desa, menuju sebuah bangunan paling besar di sana.
Kegembiraannya memupus, ketika ia melihat wajah-wajah tegang para prajurit yang berjaga di pintu depan. Di balai desa sudah berkumpul sekitar dua puluh orang. Mereka semua duduk membentuk lingkaran. Radnar dan Kronar ada di sana, begitu pula Tarnar dan Erenar. Vilnar memberi salam lalu duduk di pojok ruangan, sedikit di belakang.
Sesuai perkiraan Vilnar, mereka baru saja mendapat kabar penting: Malagar dan pasukannya telah menduduki daerah perburuan Vallanir di utara. Kini suku-suku dari barat itu bisa menyerang ke mana saja: yang terdekat adalah ke Drakknir, atau bisa saja langsung ke Vallanir.
Radnar bersandar di kursi besarnya dan berkata, ”Malagar sudah mengangkat kapak perangnya. Ia memang pemberani. Dan sekarang, kita akan segera melihat apakah ia juga seorang yang memang pandai atau justru sebaliknya, yang terbodoh di negeri ini.”
Kronar yang duduk di sampingnya menambahkan. ”Malagar membawa lima ratus prajurit dari berbagai suku di barat, tapi kita sudah siap dengan tiga ratus prajurit, ditambah seratus lagi dari sekutu kita, suku Brahanir, yang sebentar lagi akan datang dari timur. Jumlah kita lebih sedikit, tapi prajurit kita lebih terampil, jadi tidak masalah. Kita akan bisa melawan Malagar.”
”Tentu saja! Kita pasti akan menang!” seru Tarnar. ”Malagar itu lebih bodoh dibanding kakaknya, jika mengira bisa menang melawan kita.”
”Mungkin tak sebodoh itu,” gumam Erenar yang duduk di sebelahnya.
Tarnar menoleh. ”Hei, Erenar. Kita pasti menang dengan mudah kalau orang Drakknir juga bisa membantu. Bagaimana kabar mereka?”
”Mereka akan menyusul kita di medan pertempuran.” Erenar hanya melirik sebentar ke arah Tarnar. ”Jumlahnya sekitar seratus orang.”
”Hah! Kenapa tidak bilang dari tadi?” tukas Tarnar.
”Aku baru mau menjelaskan,” balas Erenar. ”Tapi seperti biasa, kau selalu ingin berbicara terlebih dulu.”
Wajah Tarnar memerah, namun sebelum ia membuka mulut Radnar sudah lebih dulu berkata, ”Kronar, bagaimana dengan suku Andranir? Sudah ada kabar dari mereka?”
”Belum.” Kronar menggeleng. ”Tapi mereka sekutu kita, mereka pasti akan datang seperti halnya Drakknir. Dengan tambahan seratus lima puluh orang dari mereka—aku perkirakan sebanyak itu—berarti pasukan kita sudah lebih dari cukup.”
”Ya, sudah cukup juga kita bicara soal jumlah menjumlah,” kata Tarnar tidak sabar. ”Kapan kita akan berangkat?”
Radnar belum mau menanggapinya. ”Kronar, bagaimana perkiraanmu tentang hasil pertempuran kali ini?”
”Tergantung sejauh mana mereka ingin melawan kita.” Kronar menatap berkeliling. ”Jika mereka mundur setelah serangan pertama, jumlah tewas atau luka-luka di kedua belah pihak tidak akan mencapai seratus orang. Tapi jika mereka ngotot, jumlahnya bisa tak terbayangkan. Ini bisa menjadi pertempuran paling berdarah yang pernah kita alami selama ini.”
Radnar mendesah dan menggeleng-geleng.”Aku tidak menyukai ini.”
”Vilnar bisa membantu kita, kalau dia mau ikut.” Kronar melirik ke arah Vilnar yang diam membisu sejak awal pertemuan.
Semua orang menatap Vilnar. Di sudut ruangan Vilnar duduk dengan tangan bersilang di dada, hampir tak pernah bergerak sejak ia datang.
Ia tetap diam sejenak, sebelum menjawab, ”Kakakku Kronar, kau benar-benar menginginkan tanganku untuk membunuhi musuh-musuh kita?”
Beberapa orang tertegun mendengarnya. Radnar menghela napas, Tarnar menyeringai, dan kening Erenar berkerut.
Kronar menatap Vilnar dalam-dalam berusaha memahami maksud adiknya, lalu menggeleng. ”Bukan begitu, Vilnar. Aku tidak melulu bicara soal bunuh-membunuh. Aku bicara soal reputasimu di masa lalu yang mungkin bisa membantu kita. Musuh-musuh kita takut padamu. Begitu mereka tahu kau sudah pulang, muncul tiba-tiba di hadapan mereka dan menyerang pada serangan pertama, mereka akan menjadi gentar dan memilih untuk mundur. Kau bisa menyelamatkan banyak nyawa.”
”Kronar, ucapanmu tidak seperti Kronar yang kukenal.” Tarnar tertawa keras mengejek. ”Biasanya kau tak pernah ragu membunuh musuh-musuhmu. Mengapa tiba-tiba jadi lembek begini?”
Wajah Kronar berubah garang. Tangannya menunjuk ke wajah adiknya yamg paling tua itu. ”Jangan macam-macam denganku, Tarnar! Bukan cuma nyawa musuh yang kita bicarakan di sini, tapi juga nyawa para prajurit kita! Pernahkah kau mempedulikan itu? Kurasa tidak!”
”Hei hei, kenapa kita bertengkar di sini?” Erenar menengahi. ”Kurasa kita semua tidak ada yang salah. Ucapan Kronar benar, Tarnar juga benar, Vilnar juga benar.”
”Diam, Erenar!” tukas Tarnar. Ia berdiri dan maju ke depan, menatap semua orang. ”Ada apa dengan kalian? Aku bicara apa yang seharusnya dibicarakan di sini. Kita sedang hendak berperang! Kita seharusnya berbicara dengan penuh semangat. Kita seharusnya berteriak ’bunuh! bunuh! bunuh!’. Itulah yang ingin didengar oleh para prajurit kita! Sementara kita berbicara panjang lebar di sini, musuh semakin dekat. Apa lagi yang kita tunggu?”
Semua orang terdiam. Kebanyakan dari mereka tampaknya setuju. Beberapa orang mengangguk-angguk dan membelai janggut mereka. Hal itu membuat Tarnar semakin tak bisa menjaga mulutnya. Ia menyeringai ke arah Vilnar. ”Jika memang Vilnar sudah kehilangan nyali setelah pergi selama bertahun-tahun dan tidak mau ikut dengan kita, kenapa kita harus paksa dia?”
”Tarnar!” Kronar menggeram. ”Kau memang bodoh!”
Vilnar tak bisa lagi menahan amarahnya. Ia berdiri, dan menatap bengis ke arah Tarnar. ”Begitu menurutmu? Kau mau melihat darah, Tarnar? Kau benar-benar mau dan punya nyali melihat darah musuhmu di medan perang, dan bukan cuma darah wanita dan anak kecil yang kau bunuh di selatan? Baik, akan kuberikan darah kepadamu! Kau cukup membuntutiku di belakang, tidak usah repot-repot mengayunkan pedang dengan kemampuanmu yang seperti perempuan. Biar aku yang mengerjakannya untukmu. Akan kuberikan darah kepadamu!”
Ganti wajah Tarnar yang memerah, dan ia tak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Mungkin ia marah, malu, benci; Vilnar tak peduli. Tarnarlah yang pertama kali menghina Vilnar, dan kini Vilnar balik menghinanya dengan lebih telak. Vilnar tahu kebencian Tarnar padanya akan semakin memuncak, tapi sekaligus juga ia akan gentar melihat amarah Vilnar. Tarnar mundur dua langkah seolah-olah terdorong oleh tatapan garang Vilnar.
Vilnar tahu reputasinya. Tidak ada orang Hualeg yang tidak gentar jika melihat amarahnya yang sudah mulai meluap, termasuk semua orang yang ada di ruangan itu. Kecuali mungkin satu orang: Radnar. Ketika Vilnar melirik ayahnya itu, Vilnar justru merasakan sesuatu yang lain. Dia tampak khawatir.
Kenapa? Apa yang sedang dirasakan oleh ayahnya saat ini?
Radnar berdiri susah payah dan mengangkat tangannya dengan sedikit gemetar, meminta semua orang untuk duduk kembali. ”Anak-anakku, tolong aku, aku tidak ingin melihat ada pertengkaran di antara kalian. Kalian semua adalah prajurit yang hebat. Tak ada yang bisa menandingi kalian di Hualeg. Jika kalian bersatu, musuh-musuh kita akan gentar. Dengarkanlah kata-kataku. Kronar, aku mempercayakan adik-adikmu dan seluruh prajurit kepadamu. Aku percaya pada seluruh keputusanmu di medan perang nanti.”
”Ya, Ayah.” Kronar mengangguk hormat. ”Jangan khawatir. Aku akan melakukan yang terbaik.”
Radnar melanjutkan. ”Tarnar, Erenar, ikuti seluruh perintah kakakmu nanti. Ini akan menjadi pertempuran besar kalian yang pertama, jauh lebih besar daripada semua pertempuran yang pernah kalian lakukan sebelumnya. Belajarlah dari pengalaman ini; ini kesempatan kalian.”
”Ya, Ayah.” Tarnar dan Erenar mengangguk.
Radnar menarik napas lega, tampaknya senang melihat bahwa situasi menjadi tenang kembali sekarang. Ia duduk lagi di kursinya, lalu menatap Vilnar yang duduk di seberangnya. Kelihatannya ia lega begitu melihat tidak ada lagi amarah di mata Vilnar.
”Dan kau, Vilnar, semua orang tahu bahwa kau adalah prajurit terhebat di Hualeg. Kehadiranmu di medan perang bisa membuat banyak perbedaan. Tapi maaf, kau tidak ikut. Namamu tidak termasuk dalam rencana awal perang yang sudah kita susun. Tidak ada yang meragukan kemampuanmu, tapi kita harus memberikan kesempatan pada yang lain untuk menunjukkan kemampuan mereka sebagai seorang prajurit. Kau pasti mengerti. Lagipula kau baru saja datang kemarin, jadi lebih baik kau beristirahat saja dulu dan menemaniku di sini. Apakah kau bisa menerima keputusanku?”
”Tentu saja, Ayah.” Vilnar mengangguk sopan.
Radnar tersenyum lebar. ”Sekarang aku bisa dengan tenang melepas kalian semua. Lupakan seluruh pertengkaran tadi. Marilah kita berdoa semoga para dewa dapat memberkati kita dengan kemenangan.”
Ia membubarkan pertemuan. Kronar mengumpulkan seluruh prajurit di depan balai desa. Pada saat bersamaan para prajurit dari suku Brahanir juga datang untuk bergabung dengan mereka. Mereka semua berbaris rapi lengkap dengan senjata masing-masing.
Pradiar sang dukun membacakan mantra-mantra dan mencipratkan air suci ke wajah seluruh prajurit, lalu berdoa agar para dewa memberi mereka kekuatan untuk menghancurkan musuh-musuh mereka. Seluruh penduduk desa berdiri di sekeliling mereka ikut berdoa, membuka tangan ke arah langit, memohon pada sang dewa angin.
Para prajurit berjalan penuh semangat meninggalkan desa menuju utara. Tombak di tangan kanan, perisai di tangan kiri. Keyakinan terpancar jelas di wajah mereka, juga di wajah para penduduk. Tapi Vilnar yang berdiri di samping Radnar melihat wajah sedih ayahnya. Kali ini tak bisa lagi disembunyikan. Hati Vilnar berubah gundah.
Ia mulai mempertanyakan keputusan ayahnya yang tidak mengijinkannya ikut dalam pertempuran. Apakah akan ada sesuatu yang terjadi di pertempuran? Bukankah ia seharusnya bisa membantu ketiga kakaknya jika mereka dalam bahaya?
Atau … siapa sebenarnya yang dikhawatirkan oleh ayahnya?
—
lihat bab selanjutnya di sini








Entries (RSS)
March 4th, 2010 at 8:32 am
Sounds like there’s a traitor….
Hehe.
Good and neat as always.
March 4th, 2010 at 10:53 am
ho… setelah gue baca ulang, ternyata masih banyak yang bisa diedit lagi…
March 4th, 2010 at 9:17 pm
Hm, ada yang di-edit?
Bakal makin asik donk. Hm, jujurnya aku sih sedang menanti-nanti intrik dan politik per-suku-annya.
Tapi sayang sekali, sepertinya versi revisinya tidak akan ditampilkan di sini’kan?
Hehe. Keep up the good work.
March 5th, 2010 at 8:19 am
hehehe…
we’ll see…
March 23rd, 2010 at 3:54 pm
Sori OOT bro…
Berawal dari posting fikfanindo terbaru, dulu rasanya aku pernah liat daftar klise fantasi. Apakah di lautan atau di sini ya? Tapi tadi ngecek di daftar isi layar kiri rasanya ga ada.
Hehe.
March 23rd, 2010 at 4:18 pm
yang ini?
http://www.rdvillam.com/2008/12/daftar-klise-fiksi-fantasi/
March 25th, 2010 at 5:50 pm
Ah, ya betul!
Thx boz!
April 19th, 2010 at 8:00 pm
Huaho. Waktunya Alfare komen bagian keenam! (yang belum direvisi)
Bang Villam bener. Di antara semua Bab Ondelahr yang udah sejauh ini kubaca, ini yang kayaknya paling belum mateng. Salah satu alasannya adalah karena masih belum jelasnya kondisi keberpihakan rakyat Hualeg kepada empat bersaudara itu. Sejauh mana sebenarnya orang-orang desa menyukai Villnar? Apa kepergiannya yang begitu lama membuat pandangan mereka terhadapnya berubah? Apa sifat Tamar sesuai dengan perangai mereka? Begitu. Lalu penjelasan ini mesti lebih menegaskan lagi seperti apa persisnya sifat ketiga kakak Villnar.
Aku setuju ama Heinz. Aku pengen ngeliat intrik politik antar suku.
Kalo ngomong gini, terus terang aku jadi penasaran ama bacaan-bacaan apa aja yang Bang Villam pake buat bahan novel ini. Bang Villam ga pernah nulisin di website ya?
April 20th, 2010 at 5:37 pm
ho… iya, kayaknya perlu ditambahin sedikit adegan dan perilaku buat menggambarkan beberapa hal kecil itu (dengan menghindari narasi yg terlalu ‘telling’).
intrik politik antar suku? ada sih… tapi sejauh yg terlihat dalam sudut pandang vilnar.
kalo soal bacaan2 buat bahan?
hmm… susah jawabnya. gak ada bahan khusus. gue rasa dalam hal tema, plot atau karakterisasi, pada semua cerita yg pernah gue tulis, itu adalah merupakan akumulasi campur aduk pengalaman, penglihatan dan bacaan dari sejak berpuluh-puluh tahun yang lampau, dan semua muncul dengan sendirinya. dan mungkin, gue justru lebih terpengaruh dari apa yg gue liat melalui film daripada buku.
April 22nd, 2010 at 2:52 pm
maksudku, apa ga pernah kepikiran buat bikin hal kayak gini, tapi ga yakin ngeksekusiinnya gimana, dan akhirnya ngeliat contoh ke karya yang udah ada? bukan bahan buat materi cerita sih, maksudku.
aku sering ngelakuin itu cuma buat mastiin plot yang kubayangin beneran menarik apa engga.
April 24th, 2010 at 12:31 am
maksudmu, di tengah jalan kita gak yakin dengan apa yang kita tulis, lalu baca karya lain buat meyakinkan diri?
kalo sejauh yg gue bisa ingat, jika di tengah jalan gue gak yakin, gue memilih buat cuek dan jalan terus ajah. kita gak bakal tau akhirnya ini bakal jadi menarik ataw enggak jika itu belon selesai kita tulis.
ini jika itu yang kamu maksudkan. atau mungkin gue salah nangkep?
April 26th, 2010 at 2:40 pm
enggak juga sih. yang kumaksud lebih ke soal teknis penceritaannya daripada ke inti ceritanya sendiri.
tapi sudahlah. ga masalah kok.
aku cuma keingat bahwa kekurangan utama di Akkadia menurutku cuma di soal dramatisasi karakternya. aku jadi pengen tau pengaruh-pengaruh tulisan Bang Villam tu dateng dari mana aja agar pas ngomong ntar bisa lebih nyambung.
(masi inget narasi pembuka TFH? dramatisasi yang kubayangin cocok buat Akkadia tuh yang ngasi nuansa kayak gitu..)
April 26th, 2010 at 3:01 pm
hehe…
dramatisasi ya…
kenyataannya, sebagian orang suka drama, sebagian yang lain benci…
April 28th, 2010 at 12:09 am
Ikut nimbrung ah.
Kupikir mayoritas pembaca novel (dan juga rela mengeluarkan uang buat beli) masih berpendapat bahwa dramatisasi itu penting. Cerita terlalu datar tanpa emosi itu kurang gurih. Asal pada tempatnya dan gak berlebihan.
Nah menurutku yang sulit adalah menentukan kadar berlebihannya. Jujur buatku sih di Akkadia agak kurang. Ordelahr lebih kena malah. Mungkin gara-gara di Akkadia terlalu banyak tokoh ==> sindrom X-Man? Ah, so many words to tell about, so little space.
April 28th, 2010 at 8:09 am
bukan sindrom, bro. itu memang pilihan.
dan dalam sebuah pilihan, memang ada yang harus (sedikit–atau lebih) dikorbankan.
May 3rd, 2010 at 8:34 am
ah, makanya nyambungnya pada teknik gimana caranya bisa menggambarkan para tokoh secra efektif. itu alasan utama kenapa aku suka baca terjemahan-terjemahan light novel Jepang.
tapi tenang aja bang villam. aku yakin entar bang villam bakal nyadar sendiri caranya kok. (aku juga punya perasaan aneh kalo seandainya bang villam fokus pada dramatisasi pas pembuatan akkadia, bisa jadi novel itu malah belum kita baca ampe sekarang ^^)
May 3rd, 2010 at 8:58 am
bahkan teknik secanggih apapun gak menjamin semua orang bakal suka.
yup, mudah2an entar gue sadar. heheh…
tapi bener seratus persen, jika gue gak membuat pilihan2 tertentu, dijamin tulisan gue gak bakal selesai ditulis sampai kapan pun.
June 3rd, 2010 at 6:12 am
[...] Penulis kreatif akan membiarkan pembaca menemukan sendiri apa yang sedang penulis coba tunjukkan, ketika menonton sebuah karakter bertindak atau berdialog. Pembaca lebih suka menonton aktor-aktor memerankan suatu peristiwa di panggung sandiwara, daripada mendengarkan seorang dramawan monolog berdiri di panggung melukiskan karakter, setting, konflik, alur cerita dari awal sampai akhir (…Zzzz..Zzzzzzz.. ) [...]