Archive for June, 2010

Tinggal delapan tim yang tersisa. Dari delapan itu, lima adalah tim yang sejak sebelum Piala Dunia dimulai memang telah diprediksi akan berada di perempat final: Brasil, Spanyol, Argentina, Jerman dan Belanda. Sedangkan Paraguay, Uruguay dan Ghana ada di tempat yang seharusnya diisi oleh Italia, Prancis dan Inggris.

Uruguay, dua kali juara dunia di masa lampau, akan melawan Ghana, harapan terakhir benua Afrika. Brasil, juara dunia lima kali dan selalu jadi unggulan utama di mana pun dan sampai kapan pun, akan menjalani duel klasik melawan Belanda, ahli waris total-football. Argentina, yang memiliki pemain terbaik dunia dan dilatih oleh orang yang dulu juga merupakan pemain terbaik dunia, akan beradu dengan Jerman, tim panser dengan gaya mutakhir, dalam laga menarik dan penuh emosi. Sementara Spanyol, sang juara Eropa yang setia pada prinsip sepakbola menyerang, akan menghadapi tantangan Paraguay, tim kejutan dari Amerika Latin.

Uruguay, Brasil, Argentina dan Spanyol lebih diunggulkan oleh banyak orang, tetapi apakah benar mereka akan melaju mulus?

Read the rest of this entry »

Comments No Comments »

Kaulah manusia pertama yang menyentuhku, sejak awal masa aku diciptakan. Sepasang telapak kaki lembutmu lambat menjejakkan bentuk indahnya di permukaan tubuhku.

Makhluk terindah yang pernah kulihat, aku tak tahu bagaimana kau bisa sampai di sini. Yang jelas, Tuhan telah menjawab kerinduanku.

Menjelang Matahari pergi kau datang, berdiri memandangi Lautan, membiarkan Angin mengibarkan rambutmu.

Lalu kau berbaring di atasku, membiarkanku memelukmu. Matamu terpejam, telingamu menikmati alunan ombak dan nyanyian burung pantai.

”Tuhan, terima kasih,” kau bersyukur.

Aku menengadah. “Wahai Bulan, terangi dirinya, tetapi jangan biarkan ombak besar datang menjemput. Aku takut ia pergi, dan aku takkan pernah bisa melihatnya lagi.”

Comments 6 Comments »

Setengah bulan berlalu. Akhirnya kita mendapatkan 16 tim yang layak dan beruntung  lolos ke babak perdelapan final. Awalnya saya sempat khawatir piala dunia kali ini akan menjadi salah satu yang paling membosankan setelah melihat 32 partai pertama. Kebanyakan tim main bertahan, dan terlalu banyak kartu merah (sebagian tidak layak dikeluarkan menurut saya) yang membuat tim-tim yang dirugikan menjadi main semakin bertahan. Setiap mau bertanding jadinya selalu muncul lelucon ‘hayo, malam ini siapa yang bakal dikartumerah? siapa yang sial?’.

Untungnya 16 partai terakhir babak penyisihan grup menghadirkan kejadian-kejadian penuh drama, mengejutkan, menyedihkan sekaligus mengasyikkan, yang ditandai dengan tersisihnya Italia, Juara Dunia 2006, dan runner-upnya, Prancis. Lalu, tim-tim dari Afrika yang digadang-gadang bakal mengejutkan dunia, ternyata gagal dan hanya Ghana yang lolos. Justru Asia yang sukses dengan masuknya Korea Selatan dan Jepang ke babak 16 besar. Pasukan dari Eropa rata-rata mengecewakan, sebaliknya semua jagoan dari benua Amerika–kecuali Honduras–meluncur mulus.

Read the rest of this entry »

Comments 6 Comments »

Jangan salah sangka, tulisan ini bukan tentang pelajaran bahasa Inggris. Ini sekadar celoteh ringan dari seorang penggemar film. Buat yang belum tahu, judul di atas adalah kutipan dialog dari film The Godfather (rilis tahun 1972)—salah satu film terfavorit saya; satu dari sekian banyak baris dialog sederhana namun begitu diingat dari film tersebut. Dialog di atas sendiri merupakan bagian dari sepotong kisah dan (salah satu) adegan yang paling berkesan (buat saya) dari film The Godfather.

Jadi ceritanya, setelah Michael, putra bungsu Don Vito Corleone, menembak mati polisi korup dan musuhnya di sebuah restoran sepi, ia kabur dari New York ke kampung halaman ayahnya di Corleone, Sisilia. Tempat yang sepi, terpencil, kering, terik, namun indah. Di sana Michael bertemu gadis cantik bernama Apollonia, yang kemudian ia lamar untuk menjadi istrinya. Keduanya menikah, dalam sebuah pesta sederhana namun khas Sisilia, berdansa diiringi lagu merdu (versi Inggrisnya adalah Speak Softly Love yang populer dinyanyikan Andy Williams, favorit buat saya nyanyikan di tempat karaoke. hehe…).

Read the rest of this entry »

Comments 11 Comments »

There is nothing so simple as pure class.

The new world star has born.

mesut ozil 1

Comments 8 Comments »

Arena futsal empat lapangan itu sebentar lagi ditutup. Tinggal Faisal beserta teman-temannya pengunjung yang tersisa, dan tampaknya, dialah yang bakal menjadi orang terakhir yang meninggalkan tempat.

“Sal, pada mau cabut nih.” Seorang dari mereka, Ivan, menepuk bahunya. Semua yang lain sudah berdiri dengan tas tersampir di bahu.

“Okay. Thank you all, guys. Seneng bisa ketemu, dan maen lagi bareng kalian.” Faisal tersenyum lebar, menjabat tangan mereka satu per satu. Mereka memberi salam, lalu meninggalkan lapangan, menyisakan Ivan bersama Faisal.

“Besok jadi lo balik ke Seattle?” tanya Ivan.

Read the rest of this entry »

Comments 10 Comments »

lihat bab sebelumnya di sini

baca kisah Di Tepi Sungai Ordelahr dari awal di sini

Angin berhembus kencang di sepanjang tepian Sungai Ordelahr, mendadak turun dari hutan lebat di sebelah barat ke arah lembah rendah di  timur. Vilnar memeluk erat tubuh mungil putranya. Di sampingnya Ailene mencoba bersembunyi di balik dua lapis mantel kulit yang paling tebal. Sekarang sudah satu bulan memasuki musim gugur dan angin memang akan bertiup semakin kencang dan sering di Hualeg.

Untuk saat ini, itu hanya berlangsung beberapa saat. Tak lama setelah angin reda Vilnar mengendurkan pelukannya. Ia tersenyum melihat putranya tertawa-tawa seolah tidak terpengaruh dengan angin dingin yang datang. Benar-benar bocah kecil yang kuat dan sehat. Seingat Vilnar sejak lahir putranya memang belum pernah mengalami sakit atau demam, termasuk ketika pindah ke Hualeg. Tubuhnya seperti dapat menyesuaikan diri dengan mudah dengan suhu Hualeg yang dingin.

Namun Ailene sedikit berbeda. Sejak tiba di Hualeg sekitar satu minggu yang lalu ia memang belum pernah sakit dan tidak pernah juga mengeluh, tapi Vilnar tahu bahwa istrinya itu tampak kurang nyaman dengan cuaca di Hualeg. Mungkin ia butuh adaptasi lebih lama.

Read the rest of this entry »

Comments 9 Comments »