lihat bab sebelumnya di sini

baca kisah Di Tepi Sungai Ordelahr dari awal di sini

Angin berhembus kencang di sepanjang tepian Sungai Ordelahr, mendadak turun dari hutan lebat di sebelah barat ke arah lembah rendah di  timur. Vilnar memeluk erat tubuh mungil putranya. Di sampingnya Ailene mencoba bersembunyi di balik dua lapis mantel kulit yang paling tebal. Sekarang sudah satu bulan memasuki musim gugur dan angin memang akan bertiup semakin kencang dan sering di Hualeg.

Untuk saat ini, itu hanya berlangsung beberapa saat. Tak lama setelah angin reda Vilnar mengendurkan pelukannya. Ia tersenyum melihat putranya tertawa-tawa seolah tidak terpengaruh dengan angin dingin yang datang. Benar-benar bocah kecil yang kuat dan sehat. Seingat Vilnar sejak lahir putranya memang belum pernah mengalami sakit atau demam, termasuk ketika pindah ke Hualeg. Tubuhnya seperti dapat menyesuaikan diri dengan mudah dengan suhu Hualeg yang dingin.

Namun Ailene sedikit berbeda. Sejak tiba di Hualeg sekitar satu minggu yang lalu ia memang belum pernah sakit dan tidak pernah juga mengeluh, tapi Vilnar tahu bahwa istrinya itu tampak kurang nyaman dengan cuaca di Hualeg. Mungkin ia butuh adaptasi lebih lama.

”Kita pulang ke desa saja sekarang,” kata Vilnar. ”Memang masih siang, tapi matahari sudah hampir terbenam dan angin semakin dingin.”

”Ya.” Ailene mengangguk sambil menggandeng lengan Vilnar. Mereka berdua berjalan menyusuri tepian sungai berbatu, melawan hembusan angin.

”Kalau besok angin semakin kencang, dan pastinya begitu sampai musim dingin nanti, lebih baik kita berjalan-jalan di sekitar desa saja.”

Ailene menyandarkan kepalanya di bahu Vilnar. ”Tetapi aku suka jalan-jalan di sini. Pemandangannya bagus. Pohon dan batunya. Juga suara airnya.”

Vilnar menarik napas perlahan. ”Kau rindu rumah kita di selatan?”

”Ya.” Ailene mengangguk kecil.

”Kau ingin pulang?”

Ailene tak langsung menjawab. Ia diam sejenak, sebelum menjawab, ”Aku terserah kau.”

Vilnar mengangguk. ”Aku juga ingin, Ailene. Tetapi mari kita lihat dulu keadaan di desa satu atau dua minggu ke depan. Ayahku mungkin masih memerlukan aku. Biar kubereskan dulu beberapa urusan, setelah itu kita bisa pulang ke rumah sebelum musim dingin tiba.”

Vilnar berharap tidak terjadi sesuatu yang mengejutkan, tetapi situasi pada satu minggu ke depan sebenarnya agak sulit untuk diperkirakan. Bisa menggembirakan bisa pula sebaliknya. Semua tergantung pada hasil pertempuran di utara melawan Logenir dan sekutunya. Belum lagi urusan dengan Patarag, sang kepala suku Andranir, yang harus diselesaikannya. Urusan yang masih ia sembunyikan dari istrinya.

Mereka sudah berjalan sampai di desa, tak jauh dari balai desa, dan hendak langsung kembali ke rumah besar, ketika kemudian terdengar suara teriakan dari arah utara. ”Pasukan kita sudah pulang!”

Kabar tersebut segera tersebar ke seluruh penjuru desa. Para penduduk berlari keluar dari rumah masing-masing dan berkumpul di lapangan di depan balai desa. Wajah mereka tegang, terutama para wanita yang ditinggalkan suaminya ke medan perang.

Radnar juga sudah muncul di tengah-tengah mereka. Ketika melihat kekhawatiran di wajah ayahnya, Vilnar segera merasakan hal yang sama. Ada sesuatu yang telah terjadi. Vilnar menyerahkan Villam pada Ailene dan menyuruhnya kembali ke rumah besar. Ia tidak ingin Ailene melihat sesuatu yang dikhawatirkannya itu.

Rombongan prajurit Vallanir berjalan memasuki desa. Ekspresi wajah mereka sulit ditebak, apakah gembira atau sedih. Sebagian dari mereka mengusung jenazah rekan-rekan mereka yang tewas. Jumlah jenazah tersebut cukup banyak, Vilnar menghitung satu per satu yang datang, ada sekitar tujuh puluh jenazah.

Para wanita yang menemukan suami-suami mereka kembali dengan selamat berteriak gembira dan saling berpelukan. Tetapi mereka yang menemukan suaminya pulang tidak bernyawa meraung sedih. Suasana gembira langsung lenyap diliputi kesedihan.

Hanya Tarnar dan Erenar yang datang menghadap Radnar. Mereka dan beberapa prajurit lainnya mengusung sosok bertubuh besar yang sudah terbujur kaku, lalu meletakkannya di hadapan Radnar dan Vilnar. Tarnar yang biasanya selalu berkoar-koar kali ini hanya diam membisu.

Erenar yang lalu berbicara dan menunjukkan ketenangannya. ”Ayah, kita memenangkan pertempuran, tapi kita kehilangan tujuh puluh orang. Maafkan kami, Kronar telah wafat.”

”Anakku.” Radnar berlutut, menangis sambil memeluk jenazah Kronar. Melihat tangisan sang kepala suku, seluruh rakyat pun ikut menangis tak tertahankan.

”Siapa yang membunuhnya?” Bibir Vilnar bergetar saat berkata. Suaranya dalam dan berat menahan kesedihan dan amarah yang menggelegak di dalam tubuhnya. Tangannya terkepal dan matanya menatap tajam ke arah Tarnar dan Erenar bergantian.

”Aku akan menceritakan semuanya,” jawab Erenar. ”Tetapi sebelum itu lebih baik kita berikan dulu penghormatan kita yang terakhir kepada mereka yang mati.”

Ia memerintahkan para prajurit untuk mempersiapkan pemakaman, sesuai tradisi Hualeg. Mereka membuat sebuah menara kayu di tepi sungai, dan di bawahnya diletakkan setumpuk kayu bakar. Seluruh jenazah diletakkan dengan rapi pada menara tersebut, dengan tubuh Kronar diletakkan paling atas. Saat malam tiba seluruh penduduk berkumpul di sekelilingnya. Para wanita dan orangtua yang ditinggalkan telah siap dengan obor di tangan.

Pradiar sang dukun mengucapkan doanya yang terakhir kepada sang dewa angin. ”Terimalah seluruh jiwa para pemberani ini di sisimu, bergabung dengan seluruh pendahulu kami. Biarlah tubuh mereka hancur menjadi abu, tapi ijinkan jiwa mereka menjadi pengawal setiamu hingga akhir zaman, saat ketika semua manusia kembali kepadamu.”

Seluruh obor dilemparkan ke arah jenazah para prajurit. Api menjilati seluruh menara kayu, membakar seluruh benda yang ada di dalamnya menjadi abu. Angin yang berhembus perlahan menerbangkannya ke langit, menyatukan kembali tubuh mereka dengan alam.

Setelah seluruh upacara selesai Radnar dan ketiga anaknya berkumpul di rumah Radnar. Seluruh pintu ditutup sehingga tak ada orang lain yang dapat mendengar mereka. Radnar duduk di kursinya dengan tubuh lemas, matanya menatap kosong ke depan. Tarnar tetap terdiam, hampir tak pernah berbicara sejak pulang ke desa. Di seberangnya Vilnar duduk dengan wajah yang masih tetap mengeras, belum bisa menutupi kegusarannya. Hanya Erenar yang terlihat lebih tenang dan dapat menguasai keadaan.

Erenar bercerita, ”Kami memulai pertempuran dengan baik. Lima ratus prajurit kita dari Vallanir, Brahanir dan Drakknir melawan lima ratus prajurit Malagar. Seluruh prajurit bertempur dengan gagah berani. Tiga puluh prajurit kita dan beberapa dari Brahanir dan Drakknir tewas, tapi kami berhasil membunuh seratus prajurit Malagar. Kami memukul mundur mereka. Lalu, karena kami merasa sudah menang, kami mengijinkan prajurit Brahanir dan Drakknir pulang ke desa mereka.

”Tapi di hari kedua kami mendengar bahwa pasukan Malagar berhasil mencegat seratus prajurit Andranir yang hendak bergabung dengan kita tetapi datang terlambat ke medan pertempuran. Kami mengejar. Begitu tiba di tepi sungai kami melihat pasukan Andranir ternyata sudah mundur ke utara, dan tanpa kami sangka Malagar sudah menyiapkan jebakan panah dan api. Kami terkepung, namun Kronar memimpin dengan gagah berani menghancurkan kepungan dan membunuh banyak prajurit mereka. Ia bertempur langsung melawan Malagar, dan saling membunuh. Empat puluh prajurit kita tewas, tapi kita juga membunuh seratus lagi prajurit musuh. Prajurit musuh yang selamat menyeberangi sungai dan pulang ke barat. Kami menang, tapi kehilangan tujuh puluh orang, termasuk kakak kita Kronar.”

Radnar mengangguk lemah. ”Kalian semua telah bertempur dengan gagah berani dan memenangkan peperangan. Seluruh rakyat berterimakasih atas perjuangan kalian.” Ia lalu menoleh pada Vilnar. ”Musuh sudah kalah dan Malagar sudah mati. Tidak ada lagi yang perlu kita lakukan untuk membalas kematian Kronar.”

Vilnar menatap kedua kakaknya tajam. Ia belum bisa menerima. ”Jelaskan dulu kenapa orang-orang Brahanir dan Drakknir langsung pulang di hari pertama.”

”Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, kita sudah menang di hari pertama,” jawab Erenar. ”Jadi mereka minta ijin untuk langsung pulang.”

”Itu tindakan yang sangat bodoh!” seru Vilnar. ”Ini perang! Belum bisa dikatakan selesai jika belum benar-benar selesai! Mengapa kalian begitu bodoh membiarkan mereka pergi?”

”Kronar yang mengijinkan mereka.” Akhirnya Tarnar berani angkat bicara, walaupun dengan nada rendah.

”Ya, tapi sayangnya Kronar tak bisa berbicara lagi sekarang!”

”Apa yang kau harapkan?” Tarnar mulai berani menatap Vilnar. ”Kau berharap kami yang mati, bukan Kronar?”

”Apa?!” Vilnar hampir terlompat dari kursinya.

”Tarnar, Vilnar, tenanglah!” Erenar buru-buru mengangkat tangan untuk menenangkan mereka. Sementara Radnar hanya terhenyak di kursinya.

Erenar berkata lagi, ”Vilnar, kita semua menyesali apa yang telah terjadi. Kita tidak bisa menyalahkan Kronar, dan kuharap kau juga tidak menyalahkan kami. Tapi kalau kau memang ingin melakukan itu, salahkan saja aku karena tidak memberi Kronar peringatan. Kau tidak berada di sana, tidak tahu bagaimana perasaan kami melihat Kronar tewas di sana.”

”Kuharap aku ada di sana untuk membereskan semuanya.” Vilnar masih tetap geram. ”Dan memastikan semuanya berjalan seperti seharusnya.”

Erenar menjawab hati-hati. ”Kalau kau ingin lebih yakin mengenai apa yang sebenarnya terjadi, kau bisa bertanya langsung pada para prajurit.”

”Vilnar, sudahlah,” Radnar akhirnya berkata.

”Satu lagi.” Vilnar belum selesai. ”Mengapa orang-orang Andranir datang terlambat? Bukankah letak desa mereka ke medan pertempuran sebenarnya lebih dekat daripada desa kita?”

Erenar terdiam, sebelum menjawab, ”Mengenai itu aku tidak tahu.”

”Mungkin mereka terlambat menerima kabar dari kita,” Radnar yang menjawab. Matanya bergerak-gerak menunjukkan kalau ia sedang berpikir.

”Siapa yang memimpin pasukan mereka?” tanya Vilnar.

”Kabarnya Federag putra Patarag,” jawab Erenar.

Vilnar mengangguk-angguk, lalu menoleh. ”Ayah, aku akan mendatangi Patarag di Andranir untuk menanyakan tentang hal ini.”

”Ke Andranir? Apakah itu tindakan yang bijak?” tanya Radnar ragu.

”Kalau Patarag memang tetap sekutu kita, tak ada yang perlu Ayah takutkan,” jawab Vilnar.

”Bagaimana jika tidak?” tanya Radnar.

”Kalau begitu aku akan membereskannya,” jawab Vilnar dingin.

Semua orang saling menatap. Vilnar memperhatikan wajah Tarnar dan Erenar, berusaha menebak apa yang ada dalam pikiran mereka, tapi bahkan Tarnar yang biasanya ekspresif pun kini tak menampakkan perubahan wajah.

Radnar bertanya lagi, ”Berapa orang yang ingin kau bawa?”

”Tidak perlu. Aku pergi sendirian saja. Kalau Patarag memang tidak bermaksud jahat, maka aku juga tidak ingin membuatnya merasa terancam.”

”Ini berbahaya.” Radnar menggelengkan kepala.

”Cepat atau lambat kita harus berbicara dengannya. Ayah tidak usah khawatir, aku bisa menjaga diri. Aku cuma minta agar kepergianku dirahasiakan. Untuk berjaga-jaga.” Vilnar menatap Tarnar dan Erenar bergantian.

”Baiklah.” Radnar akhirnya mengangguk setuju.

”Kau tenang saja, Vilnar. Tidak ada orang lain yang tahu,” kata Erenar.

”Ya.” Tarnar hanya berkata singkat.

Vilnar mengangguk-angguk. ”Baiklah. Kalau begitu aku akan pergi malam ini juga.”

Radnar berkata pada Tarnar dan Erenar, ”Kalian berdua pulang dan beristirahatlah. Aku mau bicara dulu dengan Vilnar sebelum ia pergi.”

Tarnar dan Erenar menjawab bersamaan. ”Ya, Ayah.”

Keduanya lalu bangkit dan berjalan pergi meninggalkan Vilnar dan Radnar yang masih saling duduk berhadapan.

Setelah pintu ditutup Radnar berdiri dari kursinya. Ia mematikan dua buah obor sehingga kini hanya ada dua buah obor lainnya yang menerangi ruangan. Ia lalu duduk, namun kali ini tepat di sebelah Vilnar.

Ia berkata, ”Vilnar, aku baru saja kehilangan kakakmu Kronar. Aku berat mengijinkanmu pergi.”

Vilnar berusaha tersenyum. ”Ayah, percayalah aku akan baik-baik saja. Aku hanya minta agar Ayah menjaga diri baik-baik selama aku pergi, dan juga tolong jaga istri dan anakku.”

”Istri dan anakmu aman di sini. Tidak usah takut.”

“Kalau begitu aku bisa pergi dengan tenang.”

Radnar mengangguk. ”Cintamu yang besar pada istri dan anakmu terkadang membuatku malu sebagai seorang ayah. Aku sudah melihatnya selama kalian berada di sini, caramu berbicara pada istrimu dan bercanda dengan anakmu, cara kalian berjalan bersama. Indah. Aku tak pernah melakukannya saat kau masih kecil. Aku telah melewatkan masa-masa yang indah, dan singkat seperti itu begitu saja, dan sekarang aku hanya bisa menyesal.”

”Jangan begitu, Ayah. Aku adalah anak kesayanganmu, bukan?” Vilnar mencoba bercanda. ”Kalau padaku saja berkata seperti itu, apa yang Ayah katakan pada kakak-kakakku?”

Radnar menghela napas. ”Tapi itu membuatku khawatir juga.”

”Mengapa, Ayah?”

Radnar mendekatkan tubuhnya, dan juga wajahnya ke arah Vilnar. ”Ketika musuh-musuhmu melihat besarnya cintamu pada istri dan anakmu, mereka bisa menganggap itu sebagai kelemahan terbesarmu.”

”Musuhku akan mencelakai mereka untuk bisa mengalahkan aku?” kata Vilnar geram. ”Mereka berani bermain nyawa denganku?!”

”Tenang, Vilnar.” Radnar menepuk lembut tangan putranya. ”Tentu saja mereka tak akan berani melakukan itu. Oleh karenanya, bisa dibilang, cintamu bisa pula menjadi kekuatan terbesarmu. Kau berani melakukan apa saja untuk istri dan anakmu, dan tak seorang pun yang berani menghadapi kemurkaanmu jika terjadi sesuatu pada mereka berdua.”

Vilnar justru menjadi khawatir. Ia berusaha menenangkan dirinya. ”Berarti mereka akan baik-baik saja, bukan?”

”Aku akan melindungi mereka. Kau tak usah khawatir selama masih ada aku,” jawab Radnar. ”Tapi jika terjadi sesuatu yang buruk dengan kita berdua, mereka tak akan terlindungi lagi.”

Vilnar mengangguk. ”Aku akan baik-baik saja di Andranir, dan Ayah juga akan baik-baik saja di sini. Tapi jika memang kemungkinan terburuk itu terjadi, di mana aku sampai mati misalnya, apakah istri dan anakku tetap bisa menjadi ancaman bagi musuhku, sehingga mereka pun pantas dicelakai?”

Radnar menggeleng kecil. ”Istri dan anakmu tak akan membahayakan siapa pun saat ini. Tapi jika anakmu sudah tumbuh besar dan menjadi lelaki yang lebih kuat daripada kau sekarang—dan aku percaya itu, Vilnar, setelah aku memegang putramu untuk pertama kali, dan kau bisa bayangkan ada lelaki yang lebih kuat daripada kau di Hualeg?—maka ia akan menjadi ancaman besar buat musuh-musuhmu. Mereka akan takut pada pembalasan dendam yang mungkin dilakukan oleh anakmu itu.”

”Kata-katamu membuatku takut, Ayah.”

”Anakku, lebih baik kau merasakan takut sekarang daripada tak pernah merasakannya sama sekali. Rasa takut membuatmu waspada. Waspada membuatmu menjadi lebih kuat, dan dengan kekuatanmu kau akan berani menghadapi rasa takutmu.”

Vilnar menegakkan tubuh dan berkata dengan lebih tegas, ”Aku akan tetap waspada, Ayah. Percayalah, aku tahu apa yang harus kulakukan di Andranir. Aku tak akan menyia-nyiakan nyawaku di sana.”

”Baguslah.” Radnar tersenyum lega. ”Jangan sia-siakan nyawamu. Semoga para dewa senantiasa melindungi kita.”

”Ya, Ayah.” Vilnar mengangguk.

”Vilnar, ada satu lagi yang ingin kukatakan.” Radnar mendekatkan tubuhnya, seolah ingin memastikan tidak ada yang bisa mendengarkannya di ruangan tertutup itu. ”Setelah Kronar meninggal aku sudah memutuskan, kaulah yang nanti akan menggantikan aku sebagai kepala suku.”

Dahi Vilnar berkerut. Ia terhenyak sesaat, lalu berkata lambat-lambat, ”Itu keputusan besar. Apakah Ayah sudah memperkirakan reaksi Tarnar atau Erenar jika mendengar ini?”

Radnar mengangguk. ”Mereka tidak akan suka, itu sudah pasti. Tapi aku lebih memikirkan rakyat kita, apa yang terbaik buat mereka. Dan kurasa mereka akan bisa menerimamu dengan baik.”

”Bahkan walaupun aku tidak punya sekutu?”

”Sekutu-sekutu kita akan belajar menerimamu, Vilnar, dan mereka akan tunduk kepadamu.” Radnar tampak sangat yakin.

Tetapi Vilnar tiba-tiba teringat janjinya pada Ailene untuk mengajak istri dan anaknya pulang ke selatan sebelum musim dingin. Rasanya tak mungkin ia mengingkari mereka.

Vilnar berkata, ”Sebaiknya, Ayah pikirkan saja dulu hal ini selama aku pergi. Kita bicarakan lagi setelah aku pulang.”

”Baiklah kalau begitu.” Radnar akhirnya setuju.

”Aku pergi dulu. Jaga dirimu, Ayah.” Vilnar berpamitan.

Vilnar lalu menemui Ailene dan Villam di kamarnya dan menceritakan semua kejadian hari ini. Ia juga menyampaikan bahwa ia harus pergi dulu ke desa suku Andranir di utara sekitar satu minggu, dan minta maaf karena tidak bisa bersama dengan istri dan anaknya selama itu.

”Kau tidak usah khawatir, aku akan baik-baik saja,” kata Vilnar pada istrinya. ”Kau dan Villam juga akan aman di sini bersama ayahku. Ia akan menemani kalian selama aku pergi.”

”Hidup dan mati kita di tangan Tuhan,” jawab Ailene. ”Kau percaya kepada dewa angin, tetapi di sini aku berdoa kepada Tuhan. Pergilah, suamiku. Tuhan akan melindungi kita.”

lihat bab selanjutnya di sini

9 Responses to “Di Tepi Sungai Ordelahr 7”

  1. 1
    Bebek Says:

    Tumben….

  2. 2
    alfare Says:

    Ini. Bagus. Banget.
    Emosi para karakternya terasa. Ada kalimat-kalimat keren di dalamnya.
    Serius. Bagian ini bagus banget.

  3. 3
    Villam Says:

    sejauh apapun gue coba menulis cerita2 di dunia yang lainnya, pada akhirnya gue selalu balik ke dunia yang ini. kenapa ya? :-P

  4. 4
    Bebek Says:

    Udah terbiasa tuh.

  5. 5
    Villam Says:

    cinta lama, mungkin itu… (halah)

  6. 6
    restya Says:

    baru sadar kalau nama anaknya villam.
    Haha.. Sama kayak siapa yaaaa? *smirk* :p

    jadi, om villam, apakah ayah anda pulang dgn selamat? :D

  7. 7
    Villam Says:

    nah itu dia…
    bagaimanakah kelanjutannya?
    heheh…

  8. 8
    heinz Says:

    Yup walau temponya agak pelan di bab ini, tapi ditulis bagus dan rapi. Emosinya terasa.
    Dan selalu balik ke dunia ini? Bukannya bagus? Jadi tidak melakukan kesalahan klise: tidak menyelesaikan apa yang sudah ditulis. Hehe.

  9. 9
    Villam Says:

    setuju. emang harus diberesin…

Leave a Reply