Arena futsal empat lapangan itu sebentar lagi ditutup. Tinggal Faisal beserta teman-temannya pengunjung yang tersisa, dan tampaknya, dialah yang bakal menjadi orang terakhir yang meninggalkan tempat.
“Sal, pada mau cabut nih.” Seorang dari mereka, Ivan, menepuk bahunya. Semua yang lain sudah berdiri dengan tas tersampir di bahu.
“Okay. Thank you all, guys. Seneng bisa ketemu, dan maen lagi bareng kalian.” Faisal tersenyum lebar, menjabat tangan mereka satu per satu. Mereka memberi salam, lalu meninggalkan lapangan, menyisakan Ivan bersama Faisal.
“Besok jadi lo balik ke Seattle?” tanya Ivan.
“Jadi.” Faisal melipat kaosnya yang basah oleh keringat. Ia memasukkannya dengan rapi ke dalam tasnya lalu mendongak, tersenyum. “Kenapa?”
“Pengen tau aja, kapan lo bisa maen bola lagi bareng kita.”
“Belum tahu.” Faisal mengangkat bahunya. “Mungkin tahun depan, atau enam bulan lagi. Tergantung bos gue juga. Kalo dikasih tugas ke Singapur, misalnya, pasti gue sempetin kemari. Futsal boleh, lapangan gede juga boleh.”
“Kita tunggu deh.” Ivan tertawa kecil. “Gue, terus terang emang paling enak maen bareng lo. Keren, lo sama sekali gak berubah. Tetep latihan di sono?”
“Enggaklah.” Faisal menggeleng. “Gak sempet, dan gak ada temen maen juga. Terakhir gue maen sebelum ini, ya setahun yang lalu.”
Ivan tertawa lagi. “Sekali jagoan tetep jagoan. Oke, Sal, gue duluan.”
“See you.” Faisal melambaikan tangannya.
Semua rekannya sudah pergi sekarang. Seluruh lapangan sepi, dan lampu-lampu sebagian sudah dimatikan. Seorang petugas memunguti botol-botol air mineral kosong atau sampah-sampah kecil lainnya yang teronggok di pinggir lapangan. Faisal memasang arlojinya. Lewat jam sepuluh malam. Ia harus cepat pulang, beres-beres, tidur nyenyak, dan berangkat ke bandara besok pagi. Selesai sudah liburannya di Jakarta, dan minggu depan, sampai berpuluh-puluh minggu kemudian, akan diisi lagi dengan rutinitas yang sama seperti setahun terakhir.
Ia menenggak habis botol minum terakhirnya, bersiap untuk pulang. Namun perhatiannya kemudian tertuju pada seorang bocah lelaki yang duduk di bangku panjang tak jauh di sampingnya. Bocah itu sedang memandanginya.
“Selamat malam, Om,” bocah itu menyapa.
“Selamat malam,” balas Faisal. Ia memandang berkeliling sambil bertanya-tanya, siapa bocah ini dan kenapa dia sendirian. Bocah itu berumur sekitar sepuluh tahun. Rambutnya lurus dan kulitnya coklat gelap. Ia mengenakan kaos putih polos dan celana pendek coklat selutut. Sandal jepit butut terpasang di kakinya.
“Nungguin siapa?” Faisal mendekatinya. “Gak pulang?”
“Sebentar lagi.”
Faisal memandanginya, dan tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Bocah ini seperti pernah dilihatnya, entah di mana. Tapi mana mungkin? Sudah setahun Faisal tinggal di Seattle; tidak mungkin bocah ini ada di sana. Ia pun duduk di sampingnya.
“Apa kita pernah ketemu ya, sebelum ini?” Faisal menyeringai untuk membuat pertanyaannya terkesan ringan.
Bocah itu tak menjawab, hanya melongo.
Faisal pun tertawa sendiri. “Ah, gak usah dipikirin.”
“Saya kalau malam memang kerja di sini, Om,” bocah itu menjawab. “Tapi bukan di lapangan futsal. Di lapangan tenis. Mungkin Om pernah lihat saya di sana.”
Tidak mungkin, pikir Faisal. Ia tidak pernah main tenis di sana.
Ia pun menggeleng kecil, akhirnya memilih melupakan perasaan anehnya. Ia menatap si bocah. Anak ini, sekecil ini sudah bekerja? Setiap malam?
“Kamu kerja apa? Mungut bola?”
“Iya.” Bocah itu mengangguk. “Biasanya sih ramai. Tapi malam ini sepi. Jadinya saya nonton bola di sini saja.” Ia menatap Faisal dengan mata berbinar. “Saya suka lihat Om main. Bagus. Om pemain nasional, ya?”
“Ha?” Faisal tertawa. “Bukan.”
“Sayang, Om. Coba Om jadi pemain nasional, Indonesia bisa jadi jagoan.”
Faisal tertawa semakin keras. Senang, bercampur getir. Ia tahu ia dulu pernah punya mimpi seperti itu. Kapan itu? Sepuluh, atau lima belas tahun yang lalu?
“Kamu biasa dapet berapa kerja di sini?”
“Sejam sepuluh ribu. Semalam ya bisa tiga puluh ribu.”
“Malam ini?”
“Kosong.” Bocah itu meringis. “Mungkin karena tadi hujan, bapak-bapak yang biasanya datang sekarang tidak datang.”
Faisal mengangguk prihatin. “Kamu tinggal di mana?”
“Kampung sebelah. Gak jauh, Om. Jalan sebentar juga sampai.”
“Tinggal bareng siapa?”
“Ibu. Sama adik.”
“Udah makan?”
“Mmm …” Bocah itu tampak ragu.
“Belum? Ibu sama adik kamu, juga belum? Sampe malem begini?”
“Mungkin … sudah …”
“Ah, bilang jujur aja. Sebentar.” Faisal berdiri. Ia berjalan ke pinggir pagar dan menyapa seorang penjual nasi goreng yang masih mangkal di halaman; untungnya penjual itu belum pergi, karena si tukang parkir juga sedang makan di sana.
“Pak!” serunya. “Nasi goreng spesial, enam! Dibungkus!” Ia berputar dan menghampiri lagi sang bocah yang masih duduk di kursi panjang. “Tunggu sebentar ya. Kamu nanti bawa itu ke rumah. Sekalian buat besok pagi.”
“Terima kasih, Om.”
“Iya.” Berbarengan dengan itu, ponsel Faisal berdering.
“Ehm, sebentar.” Segera Faisal duduk dan membuka tasnya. Ia meraih ponselnya yang tersimpan di dalam saku celana panjangnya. Begitu melihat nama yang tercantum di layar, alisnya terangkat. Arya? Ada apa?
“Halo?”
“Halo, Faisal!” Suara berat dan riang terdengar di ujung sana. “Apa kabar?”
“Baik, Bang. Liburan lancar, sesuai rencana.”
“Baguslah. Gak rugi lo balik ke Jakarta seminggu.” Arya tertawa. “Terus, jadi lo besok balik ke Seattle?”
Lucu juga, pertanyaan Arya sangat mirip dengan pertanyaan Ivan tadi. Apa mereka berdua keluar dari pabrik yang sama?
“Ya jadilah,” jawab Faisal. “Udah cukup liburannya. Waktunya jadi kuli lagi.”
Arya kembali tertawa. “Gak mau perpanjang sedikit lagi liburannya? Seminggu lagi, mungkin?”
“Hm? Semua udah direncanain, diatur dari awal, Bang. Lagian, mau ngapain?”
“Nadia.”
Nadia?
“Nadia mau datang,” lanjut Arya. “Dari Paris, dua hari lagi.”
Faisal terdiam. Mereka berdua terdiam, beberapa lama.
Nadia, adik Arya. Gadis itu dulu adalah …
Arya berkata lagi, “Lo gak mau ketemu?”
Lama, baru Faisal menjawab, “Gak bisa, Bang. Jadwal gue udah diatur semua.”
“Gue gak nanya lo bisa atau kagak. Gue nanya, lo mau ketemu nggak?!”
“Mmm … buat apa?”
“Ya … setelah setahun, mungkin udah waktunya lo nemuin dia.”
“Gue? Yang nemuin—? Bang, bukan gue, orang yang mutusin untuk pergi, ilang entah ke mana, tanpa alasan, tanpa pemberitahuan, tanpa memberi kabar apapun sampe setahun. Bukan gue, orang yang berbuat begitu semata-mata demi menuruti keinginannya sendiri, gak peduli orang lain, bahkan pada orang yang terdekatnya sekalipun.”
“Nadia punya alasan, Sal. Walaupun gue juga sering gak ngerti. Dan mungkin, dia sekarang mau ketemu lo.”
“Dia? Mau ketemu gue?” Faisal tertawa, getir. “I don’t think so.”
Keduanya kembali terdiam beberapa lama.
“Ya udah,” akhirnya Arya berkata. “Terserah lo. Gue cuma ngasih kabar.”
“Terima kasih, Bang.” Faisal merasa tidak enak, dan segera mengganti topik pembicaraan. “Mmm … Zahra dan anak lo, siapa tuh namanya? Oh ya, Intan, gimana kabarnya? Sehat semua?”
“Sehat semua. Alhamdulillah.”
“Sori, gue belon sempet nengok. Tapi nanti kalo gue balik, gue pasti mampir.”
“Iya, lo pasti dateng, gue tau.” Suara Arya begitu menyenangkan; Faisal yakin lelaki itu pasti sedang tersenyum di sana. “Oke deh kalo gitu. Selamat jalan, Sal. Jaga diri di negeri orang. Mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi secepatnya.”
“Iya. Mudah-mudahan.” Keduanya memberi salam.
Faisal termangu di tempat duduknya.
Arya memintanya menemui Nadia? Tidak tahukah—atau sadarkah—Arya bahwa semuanya sudah berakhir, dan sudah waktunya memulai sesuatu yang baru? Setahun sudah berlalu, apalagi yang mau diharapkan?
“Mas.”
“Huh?” Faisal tersadar. Ia mendongak, menatap lelaki yang tersenyum lebar sambil membawa bungkusan plastik terisi penuh di depannya.
“Nasi gorengnya, Mas. Sudah selesai.”
“Eh? Iya. Tapi—“ Faisal tertegun. Ia memandang berkeliling. “Lho, Pak? Anak kecil yang bareng saya tadi mana?”
“Wah.” Si penjual nasi goreng ikut celingukan. “Saya juga ndak tau, Mas.”
Faisal berdiri, memandang berkeliling sekali lagi, ke seluruh penjuru, bahkan yang tergelap di sudut-sudut lapangan. Tapi ia tak bisa menemukan sosok yang dicarinya. Apakah dia sudah pulang? Faisal langsung menyesal; ia tadi mungkin menelepon terlalu lama dan tak memperhatikan kala bocah itu pergi.
Ia mendesah. “Berapa, Pak?” tanyanya kemudian.
“Empat puluh dua ribu, Mas.”
Faisal merogoh tasnya. Ia menemukan dua lembar seribuan di kantong celana panjangnya, dan untuk mendapatkan dua lembar dua puluh ribuan ia pun membuka dompetnya.
Saat itulah mendadak angin berhembus kencang, mencabut dan menerbangkan beberapa lembar kertas dari dalam dompet Faisal. Ia mengumpat dalam hati, tapi untunglah angin itu hanya datang sebentar. Segera ia mencabut dua lembar dua puluh ribuan dan memberikannya pada si penjual nasi goreng.
“Makasih, Mas.” Si penjual menyerahkan bungkusan nasi gorengnya.
“Ya.” Faisal tak terlalu memperhatikannya. Ia sudah berjongkok memunguti beberapa lembar kertasnya yang terjatuh.
Macam-macam saja. Bagaimana bisa tercabut keluar begini? Apa ini? Huh? Nomor telepon teman kuliah?
Apa lagi ini? Nomor rekening? Tagihan telepon?
Faisal mengeleng kesal. Itu semua kertas-kertas bulukan tak berguna yang entah sudah berapa lama mendekam di dalam dompetnya. Ini memang salah satu kebiasaan buruknya: tak pernah membereskan isi dompet. Jika ia membongkarnya sekarang, mungkin bakal lebih banyak lagi catatan tak berguna yang berhasil ditemukan.
Secarik kertas tebal seukuran KTP adalah yang tergeletak terakhir di tanah. Warnanya putih, bersih dan empat buah kata yang tertulis di atasnya membuat Faisal tertegun. ‘yang pertama, yang terakhir’.
Dadanya bergolak kencang. Kenangan lama, yang telah menghilang, datang lagi. Faisal menghela napas. Sepertinya ia memang belum bisa melupakannya. Mungkin itu alasan kenapa kertas ini masih bisa berada di dompetnya, bukan hanya karena ia malas membereskannya.
Tetapi Faisal tahu, sebaiknya ia tak terbawa perasaan sentimentil semacam ini. Semua itu sudah tak ada gunanya. Perlahan ia mengambil kertas tersebut dan menyisipkannya di antara kertas-kertas lainnya.
Angin kencang bertiup sekali lagi. Kali ini, dibarengi suara aneh.
“Ghaaakkk!”
Dalam jongkoknya Faisal mendongak, dan ia pun terperangah. Sosok gelap melintas cepat di depan wajahnya, membuatnya terlompat mundur. Belum sempat ia bereaksi lebih jauh, sosok gelap tersebut sudah melayang menjauhinya, berputar satu kali di atas lapangan tengah dan akhirnya meluncur keluar ruangan.
Itu burung! Burung apa itu?
Faisal merasakan jantungnya berdegup kencang. Bukan hanya karena takut, juga karena terpompa oleh gairah aneh yang muncul tiba-tiba. Penasaran. Rasa ingin tahu. Sambil menggendong tasnya, dan juga membawa bungkusan nasi gorengnya, ia berlari keluar mengikuti rute terbang burung tersebut.
Di luar ia menoleh ke kiri. Si penjual nasi goreng dan gerobaknya tampak di ujung halaman, di samping pohon besar. Di dekatnya terparkir sedan hitam milik Faisal, kendaraan terakhir yang masih tersisa di tempat ini. Tapi burung itu tidak ada di sana, sehingga Faisal pun menoleh ke kanan.
Di sanalah, di balik pagar besi setinggi satu meter, tampak burung itu. Seekor burung besar, dengan paruh melengkung dan mata menyorot tajam, bertengger di atas bahu seseorang. Si bocah lelaki tadi.
Faisal terpaku, kaget, kehilangan akal selama beberapa saat. Tatapannya beradu dengan tatapan mata sang bocah, yang memandangnya tanpa berkedip. Barulah ketika bocah itu tersenyum, Faisal tersadar.
“Hei!” Ia memanggil.
Bocah itu tak menjawab, diam tak bergerak.
Faisal mengangkat bungkusannya. “Hei! Ini nasimu!”
Bocah itu tersenyum lalu mengangkat tangannya, melambai. Sesaat kemudian ia berputar, dan berjalan pergi menghilang di balik dinding tinggi yang memisahkan arena futsal dengan jalanan kecil di sebelahnya.
Secepat kilat Faisal berlari mendekati pagar. Di sana ia melongok, menoleh ke kanan. Darahnya berdesir kencang, begitu ia tak melihat sosok si bocah dan elangnya di sana. Ke mana bocah itu menghilang? Tak mungkin dia menghilang begitu saja; tak ada belokan di jalan itu!
Faisal berlari lagi, keluar halaman. Ia memutari pagar lalu menyusuri jalanan kecil yang dilewati bocah itu. Empat buah rumah ada di kiri kanan jalan, semua pintunya tertutup rapat. Semakin jauh jalanan menjadi semakin gelap, mau tak mau membuat Faisal berhenti.
Ia memandang jauh ke depan, mencoba mengenali bentuk jalan ataupun bentuk-bentuk lain yang bisa dikenalinya, dan akhirnya ia menyerah. Bocah itu memang telah menghilang, entah ke mana di dalam kegelapan.
“Dik.” Seseorang memanggilnya dari belakang, membuatnya terperanjat. Faisal cepat membalikkan badan. Di depannya kini berdiri seorang lelaki tua dengan kemeja putih dan peci hitam.
“Cari siapa, Dik?” tanya lelaki tua itu lagi.
Faisal melirik rumah kecil yang tadi dilewatinya. Pintunya terbuka sedikit; tampaknya lelaki ini tinggal di rumah itu dan keluar karena mendengar langkah kaki Faisal. “Ehm, tadi … Bapak lihat, atau dengar, ada anak kecil lewat jalan ini?”
Lelaki tua itu menggeleng. “Tidak.”
“Tidak ada yang lewat sama sekali?!”
“Tidak ada, Dik.”
Faisal sebenarnya ingin bertanya sekali lagi, untuk meyakinkan, namun melihat wajah lelaki tua itu, yang tampak begitu polos, ia pun mengurungkan niatnya. Ia kembali ke parkiran.
Di dalam mobil ia termenung memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya. Siapa sebenarnya bocah itu tadi? Kenapa ada seekor elang bersamanya? Apakah mereka hantu?
Ia tidak percaya!
Tapi kenapa mereka berdua bisa hilang begitu saja? Juga, benarkah ia pernah melihat bocah itu sebelumnya?
Bau harum menusuk-nusuk hidungnya, mengundang rasa laparnya. Ada sesuatu yang lebih penting untuk dipikirkan sekarang.
Apakah ia harus menghabiskan semua enam bungkus nasi goreng ini?
*
Ting.
Faisal terbangun. Selama beberapa saat tatapannya kosong, ke hamparan warna biru laut di depannya. Ia memejamkan mata satu kali, kemudian membukanya lagi, dan barulah ia bisa tersadar sepenuhnya, ia tengah memandangi bagian belakang kursi penumpang di depannya. Dan suara berdenting tadi, pastilah alarm pesawat yang memperbolehkan penumpang untuk membuka sabuk pengamannya.
“Selamat sore.”
Seseorang menyapanya dari sebelah kanan. Faisal menoleh, menatap lelaki tua berkacamata dan berjas hitam rapi yang sedang memandanginya. Lelaki itu duduk dua kursi darinya—kursi di tengah mereka kosong.
“Sore,” balas Faisal. Ia melirik sebentar ke arah jendela di sebelah kirinya. Matahari jingga tampak rendah tertutup berlapis-lapis awan. Sudah hampir petang; berarti ia tertidur cukup lama siang ini. Ia menoleh ke kanan, tersenyum ke arah sang lelaki tua dan melengkapi kalimatnya dengan lebih sopan, “Selamat sore, Pak.”
“Tidurmu nyenyak,” kata lelaki tua itu. “Kurang tidur semalam?”
“Ya.” Faisal tertawa kecil, sambil berusaha mengingat-ingat apakah lelaki tua ini duduk di sampingnya saat mereka berangkat tadi pagi. Tidak. Seingat Faisal tempat itu tadi kosong.
“Kau bermimpi?” lelaki tua itu bertanya lagi.
Dahi Faisal berkerut. Ia tak menyangka seorang asing yang tak dikenalnya mengeluarkan pertanyaan aneh semacam itu. Mulanya Faisal tak ingin menjawab, tapi begitu melihat senyuman lembut di wajah sang lelaki tua, tiba-tiba Faisal merasa nyaman. Lelaki tua itu terasa seperti seseorang yang betul-betul dekat dengannya.
Faisal menggeleng. “Tidak. Aku tidak bermimpi. Aku tidak ingat apapun.”
“Ah, ya.” Lelaki tua itu mengangguk-angguk. “Ada yang bilang, semakin tua seseorang, akan semakin sulit ia mengingat mimpinya. Mungkin, karena semakin banyak hal lain yang dipikirkannya, hal-hal yang lebih penting, begitu ia terbangun dari tidurnya.”
Faisal menggeleng lagi. “Bukan begitu. Kurasa aku memang tidak bermimpi tadi. Kalau aku bermimpi, aku pasti ingat.”
“Benarkah?” Mata lelaki tua itu berbinar. “Kau bisa mengingat mimpi-mimpimu sebelum ini? Coba, barangkali kau bersedia bercerita, apa mimpimu yang paling berkesan selama ini?”
Faisal bersandar, menenggelamkan dirinya di kursi. Pikirannya menerawang. Mimpinya? Yang paling berkesan? Ada, ia yakin ada, satu yang paling berkesan. Sebuah mimpi yang besar. Tapi, apakah ia ingat? Tidak. Tidak sedikit pun!
Mengapa?
“Jadi?” si lelaki tua mendesak.
Faisal menggeleng. “Ada satu, yang paling berkesan. Tapi aku tidak ingat.”
Si lelaki tua tersenyum tipis. “Mimpi itu mirip dengan kenangan.”
“Hm? Maksudmu?”
“Beberapa kenangan hilang begitu saja, karena tak berarti sejak awal. Beberapa yang lain hilang setelah sekian lama, tanpa kita sadari, karena tergantikan oleh hal lain yang lebih berarti.” Si lelaki tua memandang Faisal lekat-lekat, membuat Faisal menahan napas. Lelaki tua itu tak berhenti; ia mendekatkan tubuhnya lalu berbisik, “Dan beberapa yang lain sengaja kita hilangkan, karena kenangan itu terlalu menyakitkan buat diingat. Itulah kenangan, dan seperti itu jugalah mimpi.”
Faisal menghembuskan napas perlahan; pikirannya berusaha mencerna. “Yeah … mungkin.”
“Jadi yang mana, mimpimu yang kau bilang berkesan tadi?”
“Yang …” Faisal menggaruk kepalanya.
“Yang kedua, bukan?” Si lelaki tua menatap tajam. “Hilang setelah sekian lama, tergantikan oleh hal-hal lain yang lebih berarti.”
“Tidak! Tidak seperti itu,” bantah Faisal. “Itu hilang begitu saja. Aku tidak bisa mengingatnya, dan aku tidak mengerti kenapa!”
Si lelaki tua tertawa. “Tentu saja, kau yang paling tahu. Silakan kau pikirkan.”
“Aku tidak mau memikirkannya,” balas Faisal kesal. Ia membuang muka, menatap langit petang yang mulai kehilangan cahaya. Dalam hati, kekesalan Faisal tertumpah. Kenapa ia mau mendengarkan pendapat sok tahu dari kakek ini? Memangnya siapa dia?!
Ting.
Perhatian Faisal teralih, serta merta ia menatap tombol kuning yang menyala di atas kepalanya. Ia menunduk, melihat bahwa sabuk pengamannya ternyata masih terpasang. Ia pun melirik lagi ke luar. Ada apa? Apa pesawat hendak melewati badai? Kelihatannya cerah-cerah saja di luar.
Hei! Apa itu?
Seekor burung terbang di samping pesawat. Burung elang.
Mustahil! Bagaimana mungkin bisa ada burung terbang setinggi ini?! Secepat ini?! Dan … apakah itu elang yang sama dengan yang ia lihat semalam?!
Faisal menoleh cepat ke kanan, untuk memberitahu si lelaki tua. “Hei, kau lihat burung—“
Tapi orang itu tak ada di sampingnya.
Faisal diam terpaku. Ke mana orang itu?
Seorang pramugari melintas, dan segera Faisal memanggilnya, “Excuse me.”
“Yes, Sir?” Gadis itu tersenyum. “May I help you?”
“Did you see an old man who sat here a few seconds ago?”
Sang pramugari memandanginya beberapa saat dengan tatapan aneh, lalu menggeleng. “No, Sir.”
“Are you sure?”
“Yes, I didn’t see anyone here. Is he a friend of yours?”
“Mmm … no.”
“I’m sorry.”
“That’s okay.” Faisal terhenyak, membiarkan sang pramugari pergi.
Apa ini? Sama sekali tak ada lelaki tua yang tadi duduk di sini? Itu tadi tidak nyata?! Cuma ilusi?!
Ia menatap ke luar jendela. Tak ada lagi sang burung elang. Itu juga hanya ilusi?! Kalau benar begitu, apa kemarin si bocah dan burungnya itu hanya ilusi pula?
Faisal memejamkan mata. Semua kejadian ini tak bisa lagi dicerna akal sehatnya. Ia berdiam diri beberapa lama, mencoba berpikir lebih jernih, dan akhirnya menerima kenyataan, bahwa—mungkin—sang bocah, burung elang dan si lelaki tua, kesemuanya hanyalah ilusi, khayalan belaka, betapapun tampak nyatanya mereka.
Tapi, apa tujuannya semua khayalan itu datang padanya?
Khayalan. Ilusi. Mimpi. Ini semua hanya mimpi? Ataukah, mereka datang keluar dari mimpinya yang telah terlupakan itu, karena alasan tertentu?
Angin kencang berhembus, menyapu wajahnya.
Cepat ia membuka mata. Angin?! Bagaimana mungkin ada angin seperti tadi di kabin pesawat? Jelas itu bukan AC!
Ia menegakkan tubuh, memandang ke depan dan ke belakang. Semua orang tetap duduk di kursi masing-masing. Sebagian berbincang dengan suara pelan, sebagian sedang membaca buku, sebagian lagi tertidur. Tenang. Sama sekali tidak ada yang aneh. Satu-satunya yang aneh di sini adalah ia sendiri!
Kesal, Faisal menghempaskan lagi tubuhnya. Ia menggeram. Jadi, apa itu tadi yang lewat? Ilusi yang lain lagi?
Ia memejamkan mata sekali lagi, mengosongkan pikirannya. Saat tenang, seketika ia teringat, tadi malam ia merasakan angin yang sama. Angin itu disebabkan oleh kepakan kuat sayap sang burung elang.
Tetapi jika itu benar—walaupun kebenaran tersebut hanya ilusi—seharusnya ada burung elang tadi. Masalahnya, Faisal sama sekali tidak melihatnya di dalam kabin. Jangan-jangan, burung elang itu ada, tapi ia tidak bisa melihatnya?
Tidak, tidak. Bukan itu jawabannya. Bukan itu yang menjadi inti dari seluruh kejadian ini. Ada yang lain.
Malam tadi, apa yang terjadi saat burung elang itu datang? Angin berhembus, kertas-kertas beterbangan, termasuk secarik kertas itu. Ah … itukah?
Faisal membuka mata. Buru-buru ia mengulurkan tangan mencabut dompet dari saku belakangnya. Ia membuka, mencari-cari, dan akhirnya menemukan secarik kertas yang dicarinya. Kertas tebal berwarna putih, dengan tulisan tangan empat kata di atasnya: ‘yang pertama, yang terakhir’.
Faisal membalikkannya. Ada foto dirinya di sana, menggendong seorang gadis berambut pendek di belakang punggungnya. Itu Nadia. Tawa mereka berdua lebar. Saat paling bahagia mereka.
Faisal ingat, dulu ia pernah berkata, “Aneh kamu, Nadia. Orang-orang tuh biasanya nulis pesan di bagian depan foto, di bawah gambar. Ini kamu malah nulis di belakang.”
Nadia menjawab, “Kita dipertemukan di dua sisi kehidupan, Faisal: dunia nyata dan dunia mimpi. Dan aku mau kamu mengingat keduanya, saat kamu melihat kedua sisi foto ini.”
“Terus, apa maksudnya kata-katamu ini?”
“Sederhana saja. Kamu yang pertama bagiku, Faisal. Dan semoga yang terakhir.”
Mereka berdua berdoa bersama saat itu, untuk hal tersebut.
Ya, mereka hanya bisa berdoa, dan berusaha. Tetapi pada akhirnya, mereka tetaplah manusia biasa dengan segala kelemahan dan kebodohan mereka.
Faisal mengusap lembut wajah gadis manis di foto itu, lalu menyandarkan lagi tubuhnya ke belakang. Matanya terpejam, dan mendadak wajah sang lelaki tua misterius muncul lagi di hadapannya.
Dalam benaknya.
“Oke, Pak Tua,” Faisal berkata dalam hati. “Pertama aku harus mengucapkan selamat. Dengan berbagai cara anehmu yang berbelit-belit, akhirnya kau bisa membuatku teringat kembali pada foto ini. Tapi tentu kau tahu, semua ini sudah lama berlalu, dan aku—juga Nadia—sudah punya jalan masing-masing.”
“Tapi jangan khawatir,” lanjutnya. “Aku mungkin bisa membuatmu senang, karena aku bisa menambahkan sedikit hal buat teorimu. Ini dia. Beberapa kenangan—walaupun menyakitkan—yang masih tersisa sekarang, akan kusimpan dan kujaga baik-baik. Tak akan kuhilangkan. Tak akan kulupakan. Karena suatu hari nanti, mungkin aku ingin mengingatnya lagi.”
Ting.
Faisal membuka matanya, melirik ke atas. Lampu kuning di tombol sudah mati. Sekali lagi ia tersenyum memperhatikan foto di tangannya. Tak lama, karena ia segera memasukkannya kembali ke dompet. Ia membuka sabuk pengamannya dan berdiri. Tiba-tiba ia ingin ke kamar kecil.
Ia melangkah keluar dari barisan tempat duduknya, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari kamar kecil yang kosong. Tatapannya kemudian terpaku ke arah sosok lelaki yang berdiri tepat di ujung gang. Lelaki tua itu!
Orang itu tersenyum, dan melambaikan tangan ke arahnya.
Huh! Faisal membalas senyuman dan lambaian tangannya. Lelaki tua itu pasti akan menghilang sebentar lagi, tapi Faisal yakin, dia akan muncul kembali entah kapan di suatu tempat, mungkin bersama sang bocah dan burung elangnya.
Mereka tidak akan pernah menyerah.
Tidak apa. Mungkin nanti ia memang akan membutuhkan mereka.
—
to all memories
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)
June 23rd, 2010 at 4:44 pm
Hold them, dear.
Those are the most beautiful pains. Impossible, I know. But one spot of hope is still shining somehow. May be that’s what they called ‘second life’.
June 23rd, 2010 at 4:48 pm
Yes, it’s true.
June 23rd, 2010 at 6:27 pm
The feeling will remain when we get there.
June 23rd, 2010 at 9:09 pm
Menarik. Ada kelanjutannya?
June 23rd, 2010 at 11:32 pm
ada sih…
June 24th, 2010 at 6:15 am
Mau dijadiin novel juga?
June 24th, 2010 at 6:52 am
misterius…..
aku mencium bau misteri…..
._.
June 24th, 2010 at 8:31 am
ini cerita lepasan dari novel yang ini:
http://www.rdvillam.com/2009/02/somniterra/
June 24th, 2010 at 11:04 am
Hehe, teaser dari somniterra….
Kapan jadi terbitnya bos?
Taste-nya gaul. Beda dengan Akkadia.
Tapi gayanya si Faisal liat aki-aki ama bocah langsung mengingatkanku pada schizofrenia di Beautiful Minds.
It’s nice but I can’t believe it is 700 pages….
June 24th, 2010 at 11:23 am
wah terbitnya kapan masih belon tau…
pengennya sih taun ini. ya liat nanti aja deh.
soal halaman, emang kalo diitung2 sedikit lebih tebal daripada akkadia. makanya… ada opsi buat ngebagi jadi dua buku. tapi belon tau juga gimana.