Pasir Berbisik (100 Kata)
Posted by: Villam in 100 Words, tags: 100 kata, Cerita, Wahai BulanKaulah manusia pertama yang menyentuhku, sejak awal masa aku diciptakan. Sepasang telapak kaki lembutmu lambat menjejakkan bentuk indahnya di permukaan tubuhku.
Makhluk terindah yang pernah kulihat, aku tak tahu bagaimana kau bisa sampai di sini. Yang jelas, Tuhan telah menjawab kerinduanku.
Menjelang Matahari pergi kau datang, berdiri memandangi Lautan, membiarkan Angin mengibarkan rambutmu.
Lalu kau berbaring di atasku, membiarkanku memelukmu. Matamu terpejam, telingamu menikmati alunan ombak dan nyanyian burung pantai.
”Tuhan, terima kasih,” kau bersyukur.
Aku menengadah. “Wahai Bulan, terangi dirinya, tetapi jangan biarkan ombak besar datang menjemput. Aku takut ia pergi, dan aku takkan pernah bisa melihatnya lagi.”
—





Entries (RSS)
June 28th, 2010 at 12:39 pm
Kayak puisi. Hahahaha….
June 28th, 2010 at 4:08 pm
karna saya gak bisa bikin puisi makanya saya bikin yang beginian. hehe…
June 28th, 2010 at 8:00 pm
Bagus kok.
June 29th, 2010 at 9:02 am
terima kasih.
June 29th, 2010 at 3:54 pm
It’s nice.
June 30th, 2010 at 1:27 pm
thanks.