Kaulah manusia pertama yang menyentuhku, sejak awal masa aku diciptakan. Sepasang telapak kaki lembutmu lambat menjejakkan bentuk indahnya di permukaan tubuhku.

Makhluk terindah yang pernah kulihat, aku tak tahu bagaimana kau bisa sampai di sini. Yang jelas, Tuhan telah menjawab kerinduanku.

Menjelang Matahari pergi kau datang, berdiri memandangi Lautan, membiarkan Angin mengibarkan rambutmu.

Lalu kau berbaring di atasku, membiarkanku memelukmu. Matamu terpejam, telingamu menikmati alunan ombak dan nyanyian burung pantai.

”Tuhan, terima kasih,” kau bersyukur.

Aku menengadah. “Wahai Bulan, terangi dirinya, tetapi jangan biarkan ombak besar datang menjemput. Aku takut ia pergi, dan aku takkan pernah bisa melihatnya lagi.”

6 Responses to “Pasir Berbisik (100 Kata)”

  1. 1
    Bebek Says:

    Kayak puisi. Hahahaha….

  2. 2
    Villam Says:

    karna saya gak bisa bikin puisi makanya saya bikin yang beginian. hehe…

  3. 3
    Bebek Says:

    Bagus kok.

  4. 4
    Villam Says:

    terima kasih. :-)

  5. 5
    heinz Says:

    It’s nice.

  6. 6
    Villam Says:

    thanks.

Leave a Reply