Di Tepi Sungai Ordelahr 8
Posted by: Villam in Cerita, tags: cerita fantasi, Hikayat Orang Utara, short versionlihat bab sebelumnya di sini
baca kisah Di Tepi Sungai Ordelahr dari awal di sini
—
Desa suku Andranir terletak tak jauh dari muara Sungai Ordelahr. Desa paling utara di Hualeg, yang dapat dicapai dalam waktu dua hari jika menggunakan perahu dan empat hari kalau berjalan kaki, jika memang orang yang hendak pergi itu mau berusaha keras.
Vilnar tahu itu dan ia tak ingin membuang waktu. Ia berangkat saat malam dan sejak awal ia mendayung perahunya dengan kecepatan tinggi, mengikuti arus ke hilir, hanya berhenti untuk tidur di malam berikutnya. Sehingga saat lewat tengah hari di hari kedua ia sudah mendekati pemukiman suku Andranir. Di kejauhan tampak lautan utara yang gelap membiru dengan beberapa bongkah es raksasa mengapung di permukaannya.
Pemandangan yang menakjubkan, apalagi pada saat musim dingin tiba, ketika seluruh lautan berubah menjadi es. Ingin rasanya Vilnar memberikan pemandangan indah itu pada istrinya, tetapi ia tahu Ailene tak bakal tahan dengan suhunya yang dingin. Di tempat ini bahkan Vilnar pun harus menggunakan mantel bulu beruangnya yang paling tebal, yang cukup berguna juga untuk menutupi kapak perang yang tergantung di punggungnya.
Saat ia merapatkan perahunya di dermaga, ia melihat belasan prajurit Andranir berdatangan dan berjaga dengan sikap waspada. Tangan mereka menggenggam tombak atau pedang yang tergantung di pinggang. Para penduduk juga tampak; ada yang mengintip dengan sembunyi-sembunyi, ada juga yang melongokkan kepala penuh rasa ingin tahu.
Vilnar berusaha tetap tenang. Setelah mengikatkan perahunya ia naik ke dermaga, menatap para prajurit dan berkata, ”Namaku Vilnar, putra Radnar dari Vallanir. Aku ingin bertemu dengan Patarag, kepala suku Andranir.”
Vilnar dari Vallanir.
Para prajurit berpandang-pandangan dan para penduduk saling berbisik. Vilnar tahu, nama itu mengagetkan semua orang. Setelah empat tahun menghilang, ternyata ia masih tetap dikenal di seluruh penjuru Hualeg. Walaupun pasti hanya sebagian kecil yang mengingatnya dengan rasa kagum; sebagian besar dari mereka takut. Apapun pengaruhnya, Vilnar berharap itu bisa membantu tugasnya kali ini.
Seorang prajurit berkata, ”Tuan, kami akan menyampaikan kabar kedatangan Anda kepada kepala suku. Silakan Anda ikut kami dan menunggu di rumah tamu.”
Vilnar diantar menuju rumah tamu sederhana yang terletak di tepi tebing, sekitar tiga ratus langkah dari dermaga. Di sana ia menunggu, selama beberapa lama hanya duduk menghadap lautan dan separuh waktunya ia isi justru dengan memejamkan mata, membayangkan wajah istri dan anaknya; hanya sesekali menoleh ke arah para prajurit yang berjaga di belakang.
Menjelang petang ia mendapat kabar bahwa Patarag siap menerimanya. Diantar beberapa prajurit ia pergi menuju ke rumah sang kepala suku. Sepanjang perjalanan Vilnar berusaha tak mempedulikan orang-orang yang memperhatikan dirinya, termasuk para prajurit yang ada di beberapa sudut jalan dan memberinya tatapan tajam.
Di depan rumah seorang pengawal menyambutnya. ”Tuan, sebelum masuk, Anda bersedia menitipkan senjata anda kepada kami?”
”Tentu saja.” Tanpa ragu Vilnar membuka mantel dan mencabut kapak perang yang tergantung di punggungnya, lalu menyerahkannya pada si pengawal. Pengawal itu hanya bisa terkejut saat menerima kapaknya yang luar biasa berat, lalu memilih menyandarkannya saja di dinding rumah. Vilnar memakai lagi mantelnya, dan masuk ke dalam rumah.
Di dalam, Patarag sudah menunggu di kursinya. Ia bertubuh tinggi kurus dan mempunyai janggut panjang berwarna putih. Seorang pemuda berambut coklat dan bertubuh gagah duduk di sebelah kanannya. Itu pasti Federag, putra sulungnya. Sedangkan di sebelah kirinya duduk dua orang wanita cantik, pastilah istrinya dan Varda putrinya. Sejumlah pemuka suku Andranir dan beberapa pengawal juga hadir di sana.
Vilnar melirik sebentar ke arah Varda yang berambut panjang berwarna emas. Gadis itu tersenyum manis ketika melihat Vilnar menatapnya. Benar kata orang, dia mungkin gadis paling cantik di Hualeg. Gadis yang kabarnya hendak dijodohkan dengannya. Vilnar berusaha tidak mempedulikannya, dan menatap Patarag kembali.
Patarag tersenyum dan berkata, ”Vilnar, senang bisa bertemu lagi denganmu. Silakan duduk.”
”Tuan, aku senang bertemu lagi denganmu juga.” Vilnar menundukkan kepala memberi hormat kepada semua orang, kemudian duduk di kursi yang disediakan di tengah ruangan, tepat di hadapan Patarag.
”Bagaimana kabar ayahmu, sudah lebih sehat?” tanya Patarag. ”Aku terakhir bertemu dengannya setahun yang lalu.”
”Ayahku sehat dan baik-baik saja. Terima kasih atas doa Anda.”
”Maaf, aku belum mengenalkan keluargaku. Ini putraku Federag, dan ini istriku Freda dan putriku Varda. Kau belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya, tapi mungkin ayahmu pernah bercerita sedikit.”
Vilnar mengerti arah pembicaraan Patarag, dan ia pun menjawab dengan sopan, ”Tuanku, ayahku banyak bercerita tentang mereka, terutama tentang putrimu yang cantik. Nanti aku akan membicarakan hal itu khusus dengan Anda, tapi sebelumnya aku ingin menyampaikan dulu tentang hal lainnya, kalau anda mengijinkan.”
“Silakan,” jawab Patarag.
“Ini adalah tentang pertempuran yang baru saja terjadi antara pasukan kita melawan Malagar dari Logenir,” kata Vilnar tanpa basa-basi. ”Kami ingin menanyakan beberapa hal. Anda tidak keberatan aku mengatakannya langsung di sini?”
Patarag terdiam sesaat, kemudian membisikkan sesuatu pada istrinya. Istri dan putrinya itu mengangguk hormat kepada Patarag, lalu kepada Vilnar, sebelum berdiri dan diikuti beberapa orang lainnya. Mereka berjalan pergi meninggalkan ruangan. Di dalam kini tinggal ada lima orang: Vilnar, Patarag, Federag dan dua lelaki lainnya. Sudah jelas bahwa Patarag tidak ingin banyak orang tahu apa yang akan mereka bicarakan. Mungkin memang ada sesuatu yang disembunyikan.
Patarag seolah bisa memahami pikiran Vilnar. ”Vilnar, mengenai soal peperangan aku memang tidak ingin terlalu banyak orang yang tahu, termasuk istri dan putriku. Di sini hanya ada tiga orang lainnya yang benar-benar terlibat langsung dalam pertempuran: putraku Federag, adikku Aasrag dan pemimpin prajurit kami Aradril, putra Aasrag.”
”Aku menghargai keputusanmu,” kata Vilnar. ”Maafkan aku kalau terlalu berterus terang. Seperti yang Anda tahu kita berhasil memenangkan perang melawan Logenir, tapi kita kehilangan cukup banyak orang, termasuk Kronar kakakku. Sebagai prajurit aku paham betul bahwa mati di medan pertempuran adalah sebuah resiko yang harus diterima. Tapi ada dua hal yang menggangguku, yang menurutku seharusnya tidak terjadi, sehingga tidak mengakibatkan korban yang cukup besar bagi kita.
”Yang pertama adalah mengapa prajurit Andranir terlambat bergabung dengan kami di pertempuran hari pertama. Yang kedua adalah mengapa prajurit Andranir mundur begitu cepat saat diserang Logenir di hari kedua, padahal prajurit kami sudah hampir sampai di sana. Akibatnya prajurit kami yang terkepung dan mengakibatkan banyak korban. Aku berharap bisa mendapatkan jawabannya di sini.”
Suasana menjadi hening. Vilnar telah mengutarakan maksudnya dengan sangat jelas, berani dan terus terang.
Patarag berkata, ”Vilnar, aku dan ayahmu sudah lama bersahabat, lebih daripada sekadar sekutu biasa. Mengkhianati seorang sahabat tidak pernah terpikir dalam benak kami berdua. Aku tahu kau sama sekali tidak berniat meragukan kesetiaan kami, kau hanya ingin mengetahui mengapa semua itu bisa terjadi. Vilnar, kita semua menyesalinya. Sekarang kita berharap itu tidak terjadi, tapi kadang para dewa berkehendak lain.
”Untuk hal yang pertama, memang pasukan kami berangkat sehari lebih lambat dibanding pasukan kalian, karena informasi yang kami terima dari Vallanir juga terlambat. Selain itu perjalanan kami juga lebih lama karena kami memilih berjalan kaki dibanding naik perahu, sebab jika naik perahu kami akan lebih mudah diserang jika bertemu pasukan Logenir dari arah barat. Aku kira itu merupakan alasan yang bisa diterima.
”Untuk hal yang kedua, permasalahannya lebih pada komunikasi antara pasukan kami dan pasukan Vallanir. Kami tidak tahu pasukan Vallanir akan datang untuk membantu, sementara kami kalah jumlah dibanding pasukan Logenir, tentu saja lebih bijak jika kami mundur.”
”Ada korban di pihak kalian?”
Pertanyaan Vilnar membuat keempat lawan bicaranya terkejut, sepertinya mereka sama sekali tak menyangka Vilnar akan bertanya begitu. Keempatnya saling berpandangan sesaat. Federag sang putra kepala suku yang lalu berbicara, ”Tidak ada. Kami semua berhasil pergi dengan selamat.”
”Kalian sama sekali tidak bertempur?”
”Tentu saja kami bertempur,” jawab Federag cepat. ”Tapi kami segera mundur begitu tahu kami kalah jumlah.”
Dalam hati Vilnar merasa kesal dengan jawaban Federag dan juga pada cerita Patarag. Baginya sudah jelas bahwa niat mereka untuk bertempur memang hanya setengah-setengah. Tapi ia berusaha menahan kekesalannya. ”Bukankah kalian yang mengirim berita bahwa kalian diserang kepada kakakku Kronar? Pasukan Vallanir pasti akan datang karena kami merasa bahwa kalian adalah sekutu kami. Kenapa kalian tidak percaya?”
”Kejadiannya begitu cepat, kami tidak sempat berpikir panjang,” Federag menjawab dengan lebih lancar. ”Serangan Logenir sangat berbahaya. Tentu saja kami harus menyelamatkan nyawa para prajurit kami.”
”Kakakku Kronar dan para prajurit kami mengorbankan nyawanya demi menolong kalian, karena kami percaya pada persekutuan antara Vallanir dan Andranir untuk saling membantu dalam pertempuran! Karena kami menghormati persekutuan kita!”
Wajah Federag memerah. Ia sudah ingin menjawab lagi, tapi Patarag mengangkat tangan meminta anaknya itu untuk diam.
”Vilnar,” katanya pelan. ”Kami sangat menyesali apa yang telah terjadi. Kami sangat berduka dengan kematian Kronar dan seluruh prajurit kalian yang tewas di medan pertempuran. Kami harap di masa datang kami punya kesempatan lain untuk menunjukkan bahwa sebenarnya kami sangat menghormati persekutuan di antara kita.”
Vilnar menatapnya tajam selama beberapa saat, lalu mengangguk. ”Aku akan memegang kata-katamu.” Ia melirik Federag dan Aradril.
Kedua orang itu menahan napas dan matanya melotot, pasti karena marah mendengar ucapannya yang terakhir. Vilnar tahu apa yang mereka pikirkan. Buat mereka, walaupun Vallanir adalah sekutu yang lebih kuat dibandingkan Andranir, Vilnar tetap cuma seorang pemuda yang seumur dengan mereka, tak sepantasnya berbicara seperti itu kepada seorang kepala suku seperti Patarag.
Namun Patarag dan adiknya Aasrag yang lebih matang mungkin bisa segera memahami ucapan Vilnar yang penuh arti. Ucapan tersebut memang hanya pantas dikeluarkan oleh seorang kepala suku. Dengan ucapan ini Vilnar mengirim sedikit pesan. Dialah yang mungkin akan menjadi pemimpin baru di Vallanir. Patarag pasti tahu ia tidak boleh salah langkah. Dengan Vilnarlah kini ia harus membina persekutuannya.
Patarag mengangguk. ”Vilnar, kau bisa memegang kata-kataku.”
”Aku akan menyampaikan seluruh pembicaraan kita pada ayahku. Beliau selalu berharap persekutuan antara suku kita bisa selalu langgeng. Semoga kabar ini bisa menggembirakan hatinya. Tuan, aku mohon diri.” Vilnar menegakkan tubuhnya bersiap untuk pergi.
Patarag terkejut. ”Vilnar, jangan pulang dulu. Kami bukan tuan rumah yang baik jika tidak memperlakukan tamu kami sebagaimana mestinya. Kami sudah menyiapkan makan malam dan kamar tidur untuk kau beristirahat malam ini. Menginaplah semalam di sini, supaya kau dapat mengenal kami dengan lebih baik. Kau bisa pulang besok pagi.”
Vilnar terdiam sambil mengamati Patarag dan lelaki-lelaki lain di sekelilingnya, terutama Federag dan Aradril yang masih menatapnya dengan tajam. Undangan tersebut wajar diberikan, dan nantinya Vilnar dan Patarag mungkin bisa berbicara lebih banyak tentang beberapa hal penting yang memang patut diselesaikan. Namun tetap saja, apakah bijak menerima tawaran Patarag? Apakah itu tidak berbahaya?
Tetapi kemudian, dengan satu pertimbangan singkat, Vilnar akhirnya memutuskan. Ia mengangguk. ”Terima kasih, Tuan. Aku terima tawaranmu. Kurasa tidak ada ruginya beristirahat satu malam di Andranir.”
Ya, Vilnar yakin ia bisa menjaga diri, dan tak akan terjadi apapun. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Vilnar memilih percaya pada Patarag, walaupun putra kepala suku itu, Federag, dan mungkin juga beberapa lelaki Andranir lainnya, tidak menyukainya—satu alasan sederhana yang sebenarnya sudah cukup untuk membuat orang-orang saling membunuh.
—
bersambung





Entries (RSS)