Cerita bagian kedua ini ditulis oleh rekan saya, dian k, untuk menyambung kisah Vill dan Moon sebelumnya yang bisa dibaca di sini.

Enjoy.

Vill: Hup.
Moon: …..

Vill: Hm? Kenapa?
Moon: …..

Vill: Ah, hahaha. Kau pasti ngambek! Maaf deh, maaf.
Moon: Dasar idiot, ke mana saja tadi?

Vill: Aku cuma sebentar kok…
Moon: Sebentar? DUA JAM kau bilang sebentar?!

Vill: Hehehe…
Moon: Urgh! Dasar kau idiot menyebalkan!

Vill: Aku kan tidak meninggalkanmu di pinggir jalan. Rumah minum ini aman dan ramai, kan?
Moon: Tetap saja menyebalkan! Lelaki macam apa yang meninggalkan perempuan begitu saja?!

Vill: ….
Moon: Apa?

Vill: Aku kan sudah minta maaf.
Moon: ….

Vill: Kau maafkan aku, tidak?
Moon: Baiklah… lagi pula, aku tidak terlalu kesepian. Tadi Pierre menemaniku.

Vill: Pi… siapa?
Moon: Itu, pria berambut pirang keriting itu! Nah, dia melambai padaku!

Vill: Kau kenal dengannya?
Moon: Tadinya tidak. Tiba-tiba ia menghampiriku, mengajak berkenalan.

Vill: Namanya asing. Orang mana dia?
Moon: Hmm… kurasa dia bilang ‘Galia’ atau sesuatu semacam itu. Kelihatannya kaya.

Vill: Dia sopan padamu, kan?
Moon: Iya. Dia mencium tanganku.

Vill: Dia APA?!
Moon: Mencium tanganku. Memangnya ada yang aneh?

Vill: …..
Moon: …..

Vill: ….
Moon: Ada apa? Kenapa kau diam saja?

Vill: Tidak ada apa-apa.
Moon: Aku tahu pasti ada apa-apa! Ayo, katakan saja!

Vill: Sudah kubilang tidak ada apa-apa.
Moon: ….. Kenapa kau kikuk begitu?

Vill: Hm?
Moon: Ah! Aku tahu!

Vill: Apa?
Moon: Kau cemburu! Ha! Kau cemburu pada Pierre!

Vill: Aku? Ti.. tidak. Siapa bilang aku cemburu?
Moon: Hihihi!

Vill: ….
Moon: ….

Vill: Aku tidak cemburu.
Moon: Hihi.. iya deh, kau tidak cemburu.

Vill: Ya sudah kalau tidak percaya.
Moon: ….

Vill: Kenapa lihat-lihat?!
Moon: Sok galak! Ini, cicipi dulu.

Vill: Apa ini?
Moon: Buah Simari. Yang ini matangnya tepat, manisnya pas.

Vill: …..
Moon: Ada apa? Kenapa tidak dimakan?

Vill: … seperti lendir Bubaglop. Memangnya ini bisa dimakan?
Moon: Idiot! Tentu saja sudah dikeluarkan dari buahnya! Kau pikir praktis menaruh buah sebesar kepala di atas meja begitu saja?!

Vill: Tapi ini menjijikkan. Aku jadi ingat ingusku waktu aku pilek.
Moon: Dasar bodoh! Jangan memikirkan hal seperti itu di depan makanan!

Vill: Kalau kau pikir aku akan… mm!
Moon: Nah! Ayo telan.

Vill: ….
Moon: Manis, kan? Kubilang juga apa!

Vill: ….
Moon: Kenapa diam saja? Ada masalah dengan buahnya?

Vill: Uh… tidak. Buahnya manis.
Moon: Lalu kenapa mendadak diam?

Vill: Aku… tidak mengira kau akan menyuapiku.
Moon: Ah… itu….

Vill: Hehe.
Moon: … hehe.

Vill: Kau benar-benar suka padaku, ya?
Moon: Eh?

Vill: Buktinya kau menyuapiku.
Moon: Itu karena kau begitu cerewet!

Vill: Sekarang mukamu merah, hahaha!
Moon: Uh… bukan begitu! Aku cuma….

Vill: Apa? Hehe…
Moon: Aku cuma ingat pada kambingku. Biasanya setiap pagi kusuapi dia.

Vill: Aku tidak percaya kau samakan aku dengan kambingmu! Semirip itukah kami?
Moon: Mirip bodohnya.

Vill: Ha! Mana buktinya aku sebodoh kambingmu?
Moon: Kau membawa-bawa karung botolmu sepanjang perjalanan, padahal kita terbang dan bukan naik kuda!

Vill: Isi karung itu penting.
Moon: Botol-botol bekas kaubilang penting? Oh, astaga!

Vill: Kau lupa berkat apa kuperoleh pedang di tanganku ini dan sepatu kita?
Moon: Bukan itu maksudku, botol kan bisa diperoleh di mana saja, kita tidak perlu repot-repot membawa ke mana pun pergi.

Vill: Sayang kalau kutinggal, sudah terkumpul banyak.
Moon: Tapi kau tahu kalau aku tidak pandai terbang.

Vill: Lalu? Apa hubungannya dengan botol-botolku?
Moon: Karena kau lebih suka memegangi karung sialan itu daripada aku!

Vill: Oh.
Moon: ….

Vill: Aku mengerti.
Moon: Perkembangan yang bagus untuk seorang idiot.

Vill: Kau cemburu pada karungku.
Moon: APA?! Ugh! Kutarik pujianku barusan!

Vill: Hehe… aku cuma bercanda, Sayang.
Moon: Terlambat. Aku sudah terlanjur marah.

Vill: ….
Moon: ….

Vill: Ya sudah. Marah saja terus.
Moon: Kau tidak bisa selembut Pierre, ya?

Vill: Hmph. Dia lagi. Banci itu takkan bisa bermain pedang, aku yakin.
Moon: Dia membawa pedang. Aku yakin bisa.

Vill: Pedang itu? Yang penuh permata itu? Itu pedang perempuan!
Moon: Paling tidak dia pasti tidak menukar dengan botol untuk memperolehnya!

Vill: ….
Moon: ….

Vill: ….
Moon: ….

Vill: Kalau kau begitu ingin bersama si Pierre itu, pergi saja.
Moon: ….

Vill: Tunggu apa lagi?
Moon: Baik, aku pergi!

Vill: Hei, tunggu!
Moon: Apa lagi?!

Vill: Kalau kau minum arak dengannya….
Moon: Ya?

Vill: Jangan lupa.
Moon: Apa?

Vill: Bawa kemari botolnya.
Moon: ARRRGGHH! Kau dan botol-botolmu membuatku gila!

Vill: Hehehe….
Moon: Dan jangan cengengesan seperti itu atau aku akan benar-benar meninggalkanmu!

Vill: ….
Moon: Aku serius!

Vill: ….
Moon: Kenapa lagi? Kau tidak membantahku, aneh sekali!

Vill: Kau bilang kalau aku cengengesan kau akan benar-benar meninggalkanku.
Moon: Eh…?

Vill: Jadi aku serius sekarang.
Moon: …..

Vill: Susah payah kubawa kau dari desamu, dari ayahmu, dari kambingmu dan dari ayammu. Jangan harap aku lepaskan kau begitu saja.
Moon: ….

Vill: …..
Moon: ….

Vill: ….
Moon: Aku… tetap di sini.

Vill: Hm? Kenapa?
Moon: Pedang botolmu telah menyelamatkanku dari Arugis waktu kita bermalam di hutan.

Vill: ….
Moon: Dan aku yakin pedang penuh permata takkan bisa melindungiku seperti itu.

Vill: ….
Moon: Dan… aku… lebih suka bersama idiot kesayanganku.

Vill: ….
Moon: ….

Vill: Kau sungguh-sungguh dengan kata-katamu barusan?
Moon: Mmm… iya.

Vill: Terima kasih.
Moon: Untuk apa?

Vill: Untuk memberi kesempatan pedangku memperlihatkan kebolehannya.
Moon: Terima kasih juga.

Vill: Untuk apa?
Moon: Untuk kebolehan pedangmu menjauhkanku dari taring-taring Arugis.

Vill: Hehe…
Moon: Sekarang habiskan Simarinya.

Vill: Ha? Kenapa aku?
Moon: Karena sudah dibeli! Uangnya sudah kuberikan pada Dainty, pemilik tempat ini.

Vill: Kau pakai uang kita?!
Moon: Iya, memangnya kenapa? Salah sendiri kenapa kautinggalkan aku lama sekali!

Vill: Itu uang terakhir kita.
Moon: Tenang, kan masih ada karung botolmu.

Vill: Uh… soal itu….
Moon: Ada apa? Ke mana karungmu?

Vill: Sudah kujual isinya.
Moon: Kapan?

Vill: Waktu aku pergi tadi.
Moon: Ha, bagus! Mana uang hasil penjualannya?

Vill: Tidak ada. Sudah kubelanjakan.
Moon: …..

Vill: Mmm… Sayang?
Moon: Sayang, sayang! Dasar idiot, kenapa belanja sembarangan? Sekarang kita benar-benar tidak punya uang!

Vill: Kenapa memangnya kalau aku belanjakan?
Moon: Kenapa? Hah! Setelah berpuluh kilometer terbang penuh perjuangan dengan menggondol karung berat sialan itu, sekarang kau mau bilang kalau semua kesulitan itu sia-sia, eh?

Vill: Aku tadi menemukan barang bagus….
Moon: Aku tidak percaya! Paling-paling cuma rongsokan, aku tahu seleramu!

Vill: Bukan, tadi betul-betul barang bagus.
Moon: Bagus kalau bisa dimakan, kalau hanya akan memberatkan perjala… apa ini?

Vill: Buka.
Moon: Kantung kulit kecil? Apa isinya?

Vill: Kubilang buka.
Moon: ….

Vill: ….
Moon: Oh!

Vill: Bagaimana?
Moon: ….

Vill: Hei, jangan menangis, bodoh!
Moon: Tapi….

Vill: Ck! Sekarang kau membuatku seperti baru saja berusaha menyiksamu. Hentikan tangismu dan hapus ingusmu!
Moon: …..

Vill: Oh, baiklah! Sayang, seisi rumah minum ini melihat ke arah kita, berhentilah menangis.
Moon: Habis, kau….

Vill: Ya?
Moon: Kau… kau… idiot kesayanganku.

Vill: Hehe….
Moon: ….

Vill: Sini, biar kusematkan di jari manismu.
Moon: ….

Vill: Kau suka?
Moon: Ini indah sekali. Terima kasih.

Vill: Kau belum menjawab pertanyaanku.
Moon: Tidak akan kulepas lagi.

Vill: Ah.
Moon: Ya. Takkan kulepas lagi.

lihat bagian selanjutnya di sini.

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

5 Responses to “Vill dan Moon 2 (dialog)”

  1. 1
    Bebek Says:

    Saya udah baca ini di k.com. Haha….
    Tinggal nunggu bagian 3!

  2. 2
    Villam Says:

    iya bagian 3nya ntar dipajang juga.

  3. 3
    Bebek Says:

    Kapan? Sampai berbulan-bulankah?

  4. 4
    Villam Says:

    heheheh…
    bentar lagi kok.

  5. 5
    Bebek Says:

    Ditunggu. :-)

Leave a Reply

CommentLuv Enabled