Vill dan Moon 3B (dialog)
Posted by: Villam in Cerita, tags: cerita dialog, cerita fantasi, Vill dan Moonuntuk membaca bagian sebelumnya sila klik di sini.
untuk membaca kisah Vill dan Moon dari awal sila klik di sini.
—
Vill: Uh ….
Moon: Akhirnya, bangun juga?
Vill: …
Moon: Ini, aku sudah buatkan teh almunt.
Vill: … Moon?
Moon: Ya?
Vill: Kita ada di …
Moon: Penginapan Kuda Bongkok. Ternyata itu namanya! Lucu, ya? Baru kelihatan tadi pagi. Benar-benar aneh pemiliknya. Bagaimana orang bisa tahu kalau ini adalah penginapan, kalau tulisan di depannya susah dilihat?
Vill: …
Moon: Ya, tapi salah orang-orang juga, kenapa datang malam-malam. Salah kita. Mmm … salahmu sih, bukan salahku.
Vill: Salahku?
Moon: Ya, kau yang tiba-tiba tertidur entah kenapa kemarin sore. Di warung makan itu! Kukira cuma sebentar, ternyata tidak!
Vill: …
Moon: Kau tidak ingat? Ya, tentu saja. Berarti kau juga pasti tidak tahu bagaimana akhirnya kita bisa sampai di sini.
Vill: Mmm … kau menyeretku?
Moon: Ya! Bagaimana kau tahu?
Vill: Karena aku pintar?
Moon: Hahahah. Ya, yang penting akhirnya kita bisa istirahat di sini. Lumayan, kamarnya enak juga.
Vill: Ah … Ya.
Moon: Hmm? Kenapa? Kenapa kau nyengir begitu?
Vill: Aku cuma … senang.
Moon: Mmm … ya, aku juga.
Vill: Terima kasih, Moon. Tapi maksudku, aku senang karena ternyata tadi cuma bermimpi.
Moon: Oh … Mimpi buruk?
Vill: Sepertinya.
Moon: Hahah … Mimpi apa? Dikeroyok botol-botolmu?
Vill: Dikeroyok botol …? Kenapa tiba-tiba teringat botol?
Moon: Ya karena kau selalu berurusan dengan botol!
Vill: Kau benar-benar aneh. Tapi, hmm … lucu juga sih, kalau mimpinya begitu. Botol-botol … Hehe … Sayangnya bukan.
Moon: Jadi … mimpi apa?
Vill: Aku bangun di kandang kambingmu.
Moon: Oh? Benarkah?
Vill: Ya.
Moon: Bagaimana kabar kambingku? Dia baik-baik saja?
Vill: Kelihatannya agak sedih.
Moon: Kenapa?! Ayahku lupa memberi makan?
Vill: Hei, aku bermimpi, bukan sedang jalan-jalan ke sana.
Moon: Bukan berarti kamu tidak bisa tahu kenapa dia sedih!
Vill: …
Moon: Jadi kenapa kambingku sedih?
Vill: Karena aku tidur di dalam kandangnya, dan dia harus tidur di luar.
Moon: Jahat! Kenapa kau harus tidur di sana lagi?
Vill: Mana aku tahu!
Moon: Kan dulu sudah kubilang, jangan pernah tidur di kandang kambingku lagi!
Vill: Aku cuma bermimpi. Tidak benar-benar tidur di sana.
Moon: Tetap saja, tidak boleh!
Vill: Ya, ya, baiklah, aku tidak akan tidur di sana lagi.
Moon: Bagus. Kalau tidak kupukul lagi nanti kepalamu.
Vill: Ha?
Moon: Apa? … Oh, maaf, aku cuma bercanda! Tentu saja aku tidak ingin memukulmu! Dulu itu aku juga tidak sengaja, tidak berniat begitu!
Vill: Dulu … kau memukul kepalaku?
Moon: Habis mukamu dulu kelihatannya jahat, jadi aku panik!
Vill: Memukul dengan apa?
Moon: Garpu … penggaruk jerami …
Vill: …
Moon: Mmm … kau ingat, kan? Waktu pertama kali kau muncul di desa, tiga bulan yang lalu. Kau tidur di kandang kambingku.
Vill: Ya, aku ingat itu, tapi aku tidak mengerti maksudmu. Kau dulu tidak sampai memukulku.
Moon: Aku dulu memukulmu. Seperti begini …
Vill: Hei, hei, turunkan pedangku! Itu berbahaya!
Moon: Maaf.
Vill: Kau mengerikan.
Moon: Aaah! Aku kan cuma mau memberi contoh!
Vill: Tetap saja, kau mengerikan.
Moon: Aku kan sudah minta maaf!
Vill: Hehe.
Moon: Idiot!
Vill: Moon, aku lagi serius nih, jadi jangan membuatku bingung.
Moon: Serius? Kau tadi yang … Huh, kalau sedang serius justru kau yang selalu membuatku bingung!
Vill: Moon, aku dulu memang tidur di kandang kambingmu, tapi begitu kau menyuruhku keluar, aku langsung keluar dan pergi. Kau tidak sampai memukulku.
Moon: Apaan sih? Aku dulu benar memukulmu. Itu karena kau tidak mau keluar, dan malah bicara yang aneh-aneh.
Vill: Bicara apa?
Moon: Kau bilang waktu itu seharusnya kita berdua sudah tidak ada di sini. Aku tidak mengerti maksudmu, tapi yang jelas kau membuatku panik, jadi aku memukulmu.
Vill: Aku … bilang begitu?
Moon: Iya! Kau bilang begitu. Memang, kau terus lupa. Sehabis kupukul kau pingsan, dan setelah bangun kau tidak ingat apa-apa lagi. Dan karena kau lupa, aku juga tidak mengungkit-ungkitnya lagi. Begitu. Intinya, memang benar aku dulu memukulmu.
Vill: Sepertinya kau senang karena pernah memukulku.
Moon: Bukan begitu, Idiot!
Vill: Kau bisa ingat lebih banyak, apa yang kukatakan dulu?
Moon: Mmm … ya itu, katamu seharusnya kita berdua sudah tidak ada di sini lagi—maksudnya, di desaku itu.
Vill: … Kita seharusnya sudah berada jauh dari desamu. Seharusnya kita sudah berada di … desa yang sekarang ini.
Moon: Ah, kau ingat sekarang!
Vill: Itu karena aku mengucapkannya di mimpiku tadi.
Moon: Jadi kau teringat gara-gara mimpi!
Vill: Bukan, bukan begitu.
Moon: Maksudmu?
Vill: Dulu aku tidak pernah mengucapkan kata-kata itu. Aku juga tidak pernah dipukul, dan aku juga tidak pernah hilang ingatan. Aku tidak mungkin lupa.
Moon: …
Vill: Artinya, apa yang kauceritakan tadi itu … itu hanya terjadi di mimpiku, tidak benar-benar terjadi.
Moon: Itu benar terjadi!
Vill: Tidak.
Moon: Jadi menurutmu aku berbohong?!
Vill: …
Moon: Aku tidak berbohong!
Vill: Bukan berbohong, cuma—
Moon: Cuma apa? Vill, yang salah itu kau! Gara-gara tidur terlalu lama, ingatanmu jadi kacau!
Vill: Ingatanku yang salah? Jadi ingatanku yang salah?
Moon: Iya! Mau bukti?
Vill: Apa?
Moon: Nih! Pegang jidatmu!
Vill: … Apa …?
Moon: Terasa, kan? Ada bekas luka. Itu bekas jahitanku.
Vill: AAAHHH! Kau yang membuat ini?!
Moon: Maaf …
Vill: Jadi benar kau dulu memukulku?!
Moon: … Kan sudah kubilang tadi …
Vill: …
Moon: Maaf kalau membuatmu—
Vill: Tidak, tidak apa-apa. Kalau ini jadi membuatku lebih keren, ya baguslah.
Moon: Huh!
Vill: Berarti … memang ingatanku yang salah?
Moon: …
Vill: Tapi rasanya … tidak mungkin. Tidak mungkin aku salah.
Moon: Ah, sudah! Malas aku mendengarnya lagi!
Vill: …
Moon: Kau makan apa sih kemarin, yang membuat tidurmu lama, dan jadi begini?
Vill: Aku hanya makan apa yang kau makan.
Moon: Sebelum itu. Sebelum kau datang ke rumah makan Dainty. Apa kau makan sesuatu? Atau melakukan sesuatu yang aneh?
Vill: Kan sudah kubilang kemarin, aku pergi untuk menjual botol, dan membeli cincin.
Moon: Cincin apa?
Vill: Cincin … cincin perak! Buatmu!
Moon: Cincin perak apa?
Vill: …
Moon: …
Vill: Aku tidak pernah memberimu cincin perak?
Moon: …
Vill: Benar aku tidak pernah memberimu cincin perak?!
Moon: …
Vill: …
Moon: Waaah! Mukamu pucat begitu! Hahaha! Duh, jangan panik. Cincin yang ini maksudmu?
Vill: MOON!
Moon: Demi Tuhan, Vill, aku tadi cuma bercanda! Iya, ini cincinnya. Ada. Jangan khawatir.
Vill: Grrr, Moon … Aku benar-benar panik, tahu tidak?! Karena kalau ternyata cincinnya tidak ada, berarti …
Moon: Apa?
Vill: Berarti mungkin aku sudah gila!
Moon: Biasanya kau lebih suka bercanda dibanding aku. Kenapa sekarang jadi aneh begini? Tenanglah, kali ini tidak ada ingatanmu yang salah. Kau belum gila. Belum terlalu.
Vill: Belum tentu! Lihat ini, aku tidak ingat ada ukiran bunga di cincin ini kemarin. Kenapa sekarang ada?
Moon: Jangan macam-macam, Vill! Ini memang cincin yang kauberikan kemarin!
Vill: …
Moon: Benar! Dan ukiran bunganya bagus kok. Aku suka.
Vill: … Kau suka?
Moon: Iya.
Vill: … Baguslah … kalau begitu.
Moon: Serius, Vill, kau benar-benar tidak makan sesuatu yang aneh kemarin?
Vill: Huh, apa ada yang lebih aneh daripada buah simari yang kaubeli kemarin?
Moon: Atau mungkin melakukan sesuatu?
Vill: Kemarin, ya aku ketemu pedagang itu. Dia memberiku cincin, dan … permen.
Moon: Permen?
Vill: Ya, rasanya manis, warnanya merah.
Moon: …
Vill: … Kau tidak berpikir kalau itu yang …?
Moon: Aku tidak tahu.
Vill: Itu cuma permen!
Moon: Ya sudah!
Vill: Ah, sudahlah. Aku tidak mau memikirkannya lagi.
Moon: Ya. Habiskan saja tehmu. Setelah itu kita bisa pergi.
Vill: Betul. Aku sudah lapar.
Moon: Aku juga.
Vill: Moon, aku masih bingung. Rasanya ada yang salah …
Moon: Kau bilang tadi tidak mau memikirkannya lagi!
Vill: Sedikit saja … selagi aku masih bisa berpikir, atau mengingat-ingat.
Moon: Jangan sekarang!
Vill: Baik, baik. Galak betul.
Moon: …
Vill: Masalahnya begini …
Moon: Vill, jangan sampai membuatku kesal! Kalau tidak …
Vill: Kenapa, Sayang? Kau mau memukulku lagi?
Moon: Mmm … ya. Mungkin!
Vill: Mengerikan.
Moon: …
Vill: Tapi kalau memukulnya pelan, bolehlah.
Moon: Huh, ya sudah, rasakan ini!
Vill: Hehehe.
Moon: Idiot.
—








Entries (RSS)
July 8th, 2010 at 8:37 pm
Kalau gak salah di dialog ke-19 (atau sekitarnya), Moon manggil Vill dengan ‘kamu’, kedengaran aneh. Haha….
Kenapa yang A dan B gak digabung? Adakah tujuannya? Atau memang lagi ingin dipisah-pisah?
July 10th, 2010 at 6:03 am
ah iya betul, mestinya pake ‘kau’. thx buat koreksinya, Bek.
a dan b dipisah ya supaya beda waktunya terasa.
July 10th, 2010 at 7:35 am
Ooh, gitu. Iya juga sih, kalau cuma dialog jadi gak tahu waktunya kapan.
July 11th, 2010 at 1:08 am
maksudnya, dipisah itu supaya efek kejutnya kerasa, dan rasa penasaran pembaca bisa muncul. hehe… trik remeh sebenarnya…
July 11th, 2010 at 8:46 am
Saya kira….
July 13th, 2010 at 4:00 am
trims..y ..info nya bagus banget
July 13th, 2010 at 8:40 am
trims juga.
October 13th, 2010 at 4:48 pm
Gyahahahaha, lucu banget!!! Hampir ngakak sendirian bacanya, untung nyadar masih di kantor. Bisa dipelototin bos nanti.
Walaupun bentuknya dialog, ekspresi dan tindakan Vill dan Moon langsung kebayang jelas. Hebat, hebat.
Ada ya tokoh high fantasy tapi ngaco kayak gini?
Ditunggu lanjutannya!
October 14th, 2010 at 9:26 am
iya nih, saya juga lagi nunggu tindakan Vill dan Moon berikutnya. hehe…
October 17th, 2010 at 4:06 pm
Ummm .. apakah ini berarti aq harus menulis lanjutannya?
*winkwink*
October 18th, 2010 at 5:13 pm
yo… hayo dibikin.
)