untuk membaca bagian sebelumnya sila klik di sini.

untuk membaca kisah Vill dan Moon dari awal sila klik di sini.

Vill: Uh ….
Moon: Akhirnya, bangun juga?

Vill: …
Moon: Ini, aku sudah buatkan teh almunt.

Vill: … Moon?
Moon: Ya?

Vill: Kita ada di …
Moon: Penginapan Kuda Bongkok. Ternyata itu namanya! Lucu, ya? Baru kelihatan tadi pagi. Benar-benar aneh pemiliknya. Bagaimana orang bisa tahu kalau ini adalah penginapan, kalau tulisan di depannya susah dilihat?

Vill: …
Moon: Ya, tapi salah orang-orang juga, kenapa datang malam-malam. Salah kita. Mmm … salahmu sih, bukan salahku.

Vill: Salahku?
Moon: Ya, kau yang tiba-tiba tertidur entah kenapa kemarin sore. Di warung makan itu! Kukira cuma sebentar, ternyata tidak!

Vill: …
Moon: Kau tidak ingat? Ya, tentu saja. Berarti kau juga pasti tidak tahu bagaimana akhirnya kita bisa sampai di sini.
Vill: Mmm … kau menyeretku?
Moon: Ya! Bagaimana kau tahu?

Vill: Karena aku pintar?
Moon: Hahahah. Ya, yang penting akhirnya kita bisa istirahat di sini. Lumayan, kamarnya enak juga.

Vill: Ah … Ya.
Moon: Hmm? Kenapa? Kenapa kau nyengir begitu?

Vill: Aku cuma … senang.
Moon: Mmm … ya, aku juga.

Vill: Terima kasih, Moon. Tapi maksudku, aku senang karena ternyata tadi cuma bermimpi.
Moon: Oh … Mimpi buruk?

Vill: Sepertinya.
Moon: Hahah … Mimpi apa? Dikeroyok botol-botolmu?

Vill: Dikeroyok botol …? Kenapa tiba-tiba teringat botol?
Moon: Ya karena kau selalu berurusan dengan botol!

Vill: Kau benar-benar aneh. Tapi, hmm … lucu juga sih, kalau mimpinya begitu. Botol-botol … Hehe … Sayangnya bukan.
Moon: Jadi … mimpi apa?

Vill: Aku bangun di kandang kambingmu.
Moon: Oh? Benarkah?

Vill: Ya.
Moon: Bagaimana kabar kambingku? Dia baik-baik saja?

Vill: Kelihatannya agak sedih.
Moon: Kenapa?! Ayahku lupa memberi makan?

Vill: Hei, aku bermimpi, bukan sedang jalan-jalan ke sana.
Moon: Bukan berarti kamu tidak bisa tahu kenapa dia sedih!

Vill: …
Moon: Jadi kenapa kambingku sedih?

Vill: Karena aku tidur di dalam kandangnya, dan dia harus tidur di luar.
Moon: Jahat! Kenapa kau harus tidur di sana lagi?

Vill: Mana aku tahu!
Moon: Kan dulu sudah kubilang, jangan pernah tidur di kandang kambingku lagi!

Vill: Aku cuma bermimpi. Tidak benar-benar tidur di sana.
Moon: Tetap saja, tidak boleh!

Vill: Ya, ya, baiklah, aku tidak akan tidur di sana lagi.
Moon: Bagus. Kalau tidak kupukul lagi nanti kepalamu.

Vill: Ha?
Moon: Apa? … Oh, maaf, aku cuma bercanda! Tentu saja aku tidak ingin memukulmu! Dulu itu aku juga tidak sengaja, tidak berniat begitu!

Vill: Dulu … kau memukul kepalaku?
Moon: Habis mukamu dulu kelihatannya jahat, jadi aku panik!

Vill: Memukul dengan apa?
Moon: Garpu … penggaruk jerami …

Vill: …
Moon: Mmm … kau ingat, kan? Waktu pertama kali kau muncul di desa, tiga bulan yang lalu. Kau tidur di kandang kambingku.

Vill: Ya, aku ingat itu, tapi aku tidak mengerti maksudmu. Kau dulu tidak sampai memukulku.
Moon: Aku dulu memukulmu. Seperti begini …

Vill: Hei, hei, turunkan pedangku! Itu berbahaya!
Moon: Maaf.

Vill: Kau mengerikan.
Moon: Aaah! Aku kan cuma mau memberi contoh!

Vill: Tetap saja, kau mengerikan.
Moon: Aku kan sudah minta maaf!

Vill: Hehe.
Moon: Idiot!

Vill: Moon, aku lagi serius nih, jadi jangan membuatku bingung.
Moon: Serius? Kau tadi yang … Huh, kalau sedang serius justru kau yang selalu membuatku bingung!

Vill: Moon, aku dulu memang tidur di kandang kambingmu, tapi begitu kau menyuruhku keluar, aku langsung keluar dan pergi. Kau tidak sampai memukulku.
Moon: Apaan sih? Aku dulu benar memukulmu. Itu karena kau tidak mau keluar, dan malah bicara yang aneh-aneh.

Vill: Bicara apa?
Moon: Kau bilang waktu itu seharusnya kita berdua sudah tidak ada di sini. Aku tidak mengerti maksudmu, tapi yang jelas kau membuatku panik, jadi aku memukulmu.

Vill: Aku … bilang begitu?
Moon: Iya! Kau bilang begitu. Memang, kau terus lupa. Sehabis kupukul kau pingsan, dan setelah bangun kau tidak ingat apa-apa lagi. Dan karena kau lupa, aku juga tidak mengungkit-ungkitnya lagi. Begitu. Intinya, memang benar aku dulu memukulmu.

Vill: Sepertinya kau senang karena pernah memukulku.
Moon: Bukan begitu, Idiot!

Vill: Kau bisa ingat lebih banyak, apa yang kukatakan dulu?
Moon: Mmm … ya itu, katamu seharusnya kita berdua sudah tidak ada di sini lagi—maksudnya, di desaku itu.

Vill: … Kita seharusnya sudah berada jauh dari desamu. Seharusnya kita sudah berada di … desa yang sekarang ini.
Moon: Ah, kau ingat sekarang!

Vill: Itu karena aku mengucapkannya di mimpiku tadi.
Moon: Jadi kau teringat gara-gara mimpi!

Vill: Bukan, bukan begitu.
Moon: Maksudmu?

Vill: Dulu aku tidak pernah mengucapkan kata-kata itu. Aku juga tidak pernah dipukul, dan aku juga tidak pernah hilang ingatan. Aku tidak mungkin lupa.
Moon: …

Vill: Artinya, apa yang kauceritakan tadi itu … itu hanya terjadi di mimpiku, tidak benar-benar terjadi.
Moon: Itu benar terjadi!

Vill: Tidak.
Moon: Jadi menurutmu aku berbohong?!

Vill: …
Moon: Aku tidak berbohong!

Vill: Bukan berbohong, cuma—
Moon: Cuma apa? Vill, yang salah itu kau! Gara-gara tidur terlalu lama, ingatanmu jadi kacau!

Vill: Ingatanku yang salah? Jadi ingatanku yang salah?
Moon: Iya! Mau bukti?

Vill: Apa?
Moon: Nih! Pegang jidatmu!

Vill: … Apa …?
Moon: Terasa, kan? Ada bekas luka. Itu bekas jahitanku.

Vill: AAAHHH! Kau yang membuat ini?!
Moon: Maaf …

Vill: Jadi benar kau dulu memukulku?!
Moon: … Kan sudah kubilang tadi …

Vill: …
Moon: Maaf kalau membuatmu—

Vill: Tidak, tidak apa-apa. Kalau ini jadi membuatku lebih keren, ya baguslah.
Moon: Huh!

Vill: Berarti … memang ingatanku yang salah?
Moon: …

Vill: Tapi rasanya … tidak mungkin. Tidak mungkin aku salah.
Moon: Ah, sudah! Malas aku mendengarnya lagi!

Vill: …
Moon: Kau makan apa sih kemarin, yang membuat tidurmu lama, dan jadi begini?

Vill: Aku hanya makan apa yang kau makan.
Moon: Sebelum itu. Sebelum kau datang ke rumah makan Dainty. Apa kau makan sesuatu? Atau melakukan sesuatu yang aneh?

Vill: Kan sudah kubilang kemarin, aku pergi untuk menjual botol, dan membeli cincin.
Moon: Cincin apa?

Vill: Cincin … cincin perak! Buatmu!
Moon: Cincin perak apa?

Vill: …
Moon: …

Vill: Aku tidak pernah memberimu cincin perak?
Moon: …

Vill: Benar aku tidak pernah memberimu cincin perak?!
Moon: …

Vill: …
Moon: Waaah! Mukamu pucat begitu! Hahaha! Duh, jangan panik. Cincin yang ini maksudmu?

Vill: MOON!
Moon: Demi Tuhan, Vill, aku tadi cuma bercanda! Iya, ini cincinnya. Ada. Jangan khawatir.

Vill: Grrr, Moon … Aku benar-benar panik, tahu tidak?! Karena kalau ternyata cincinnya tidak ada, berarti …
Moon: Apa?

Vill: Berarti mungkin aku sudah gila!
Moon: Biasanya kau lebih suka bercanda dibanding aku. Kenapa sekarang jadi aneh begini? Tenanglah, kali ini tidak ada ingatanmu yang salah. Kau belum gila. Belum terlalu.

Vill: Belum tentu! Lihat ini, aku tidak ingat ada ukiran bunga di cincin ini kemarin. Kenapa sekarang ada?
Moon: Jangan macam-macam, Vill! Ini memang cincin yang kauberikan kemarin!

Vill: …
Moon: Benar! Dan ukiran bunganya bagus kok. Aku suka.

Vill: … Kau suka?
Moon: Iya.

Vill: … Baguslah … kalau begitu.
Moon: Serius, Vill, kau benar-benar tidak makan sesuatu yang aneh kemarin?

Vill: Huh, apa ada yang lebih aneh daripada buah simari yang kaubeli kemarin?
Moon: Atau mungkin melakukan sesuatu?

Vill: Kemarin, ya aku ketemu pedagang itu. Dia memberiku cincin, dan … permen.
Moon: Permen?

Vill: Ya, rasanya manis, warnanya merah.
Moon: …

Vill: … Kau tidak berpikir kalau itu yang …?
Moon: Aku tidak tahu.

Vill: Itu cuma permen!
Moon: Ya sudah!

Vill: Ah, sudahlah. Aku tidak mau memikirkannya lagi.
Moon: Ya. Habiskan saja tehmu. Setelah itu kita bisa pergi.

Vill: Betul. Aku sudah lapar.
Moon: Aku juga.

Vill: Moon, aku masih bingung. Rasanya ada yang salah …
Moon: Kau bilang tadi tidak mau memikirkannya lagi!

Vill: Sedikit saja … selagi aku masih bisa berpikir, atau mengingat-ingat.
Moon: Jangan sekarang!

Vill: Baik, baik. Galak betul.
Moon: …

Vill: Masalahnya begini …
Moon: Vill, jangan sampai membuatku kesal! Kalau tidak …

Vill: Kenapa, Sayang? Kau mau memukulku lagi?
Moon: Mmm … ya. Mungkin!

Vill: Mengerikan.
Moon: …

Vill: Tapi kalau memukulnya pelan, bolehlah.
Moon: Huh, ya sudah, rasakan ini!

Vill: Hehehe.
Moon: Idiot.

Related posts:

  1. Vill dan Moon 3A (dialog) untuk membaca bagian sebelumnya sila klik di sini. untuk membaca...
  2. Vill dan Moon 2 (dialog) Cerita bagian kedua ini ditulis oleh rekan saya, dian k,...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

7 Responses to “Vill dan Moon 3B (dialog)”

  1. 1
    Bebek Says:

    Kalau gak salah di dialog ke-19 (atau sekitarnya), Moon manggil Vill dengan ‘kamu’, kedengaran aneh. Haha….
    Kenapa yang A dan B gak digabung? Adakah tujuannya? Atau memang lagi ingin dipisah-pisah?

  2. 2
    Villam Says:

    ah iya betul, mestinya pake ‘kau’. thx buat koreksinya, Bek. :-)

    a dan b dipisah ya supaya beda waktunya terasa.

  3. 3
    Bebek Says:

    Ooh, gitu. Iya juga sih, kalau cuma dialog jadi gak tahu waktunya kapan.

  4. 4
    Villam Says:

    maksudnya, dipisah itu supaya efek kejutnya kerasa, dan rasa penasaran pembaca bisa muncul. hehe… trik remeh sebenarnya…

  5. 5
    Bebek Says:

    Saya kira….

  6. 6
    Amelia Says:

    trims..y ..info nya bagus banget :)

  7. 7
    Villam Says:

    trims juga. :-)

Leave a Reply

CommentLuv Enabled