Setiap akhir tahun, saya selalu seperti punya keharusan untuk menuliskan apa saja yang telah saya capai di tahun ini, dan kemudian apa yang ingin saya capai di tahun depan. Semacam laporan pertanggungjawaban dan resolusi terhadap karir menulis yang saya pilih. Yeah, semacam itulah. Gara-garanya, mungkin karena saya orang yang terlalu serius (dan berlebihan) untuk urusan beginian. Itu yang selalu saya buat di tahun 2007, 2008 dan 2009, tahun-tahun ketika saya mulai serius menekuni dunia tulis-menulis, dan berarti tahun ini juga.

Tapi entah kenapa, setelah begitu banyak kata yang saya tulis sepanjang tahun, saat ini saya justru rada bingung harus menulis apa. Tadinya saya ingin menulis secara ‘panas’ dan menggebu-gebu, tapi di saat-saat terakhir sisi ‘dingin’ itu datang dan menyuruh saya untuk menutup mulut. Seringkali yang terakhir ini yang jadi pemenang. Tapi mungkin saya harus kembali memaksakan diri menulis. Jadi, inilah hasilnya, apa yang sudah saya capai tahun ini, akhirnya semata-mata untuk menjadi pemacu agar saya bisa melakukan yang lebih baik di tahun-tahun mendatang.

Akkadia

Akkadia: Gerbang Sungai Tigris adalah novel pertama saya yang (akhirnya) berhasil diterbitkan. Proses penerbitannya dimulai sejak akhir 2009, dan terima kasih untuk penerbit Adhika Pustaka, kemudian bisa muncul di toko-toko buku pada minggu pertama tahun 2010.  Tak perlu saya ceritakan apa rasanya ketika sebuah karya  akhirnya bisa diterbitkan, setelah bertahun-tahun (atau mungkin berpuluh-puluh yak? :-P ) bermimpi (selalu), berusaha (kemungkinan besar dulu usahanya kurang keras) dan berdoa (yang ini kayaknya masih kurang). Buat yang belum pernah merasakan, rasakan saja sendiri nanti. Saya berdoa untuk kesuksesan Anda.

Akkadia terpilih sebagai Book of the Month untuk bulan Februari 2010 oleh komunitas Goodreads Indonesia, dan alhamdulillah penjualannya tahun ini lumayan bagus. Masih cukup banyak kekurangan di buku tersebut, saya akui, tetapi itu takkan menghalangi saya untuk bersyukur bahwa pada akhirnya saya bisa menghasilkan ‘anak’. Saya mencintainya, lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Beberapa pembaca kemudian meminta saya untuk membuat lanjutan ceritanya. Tapi untuk yang satu ini, biarlah berjalan apa adanya. Yang jelas saya harus berdiskusi dulu dengan Davagni si makhluk batu. Dia sering punya pendapat sarkas yang tidak terduga. :-P

Fantasy Fiesta

Kesibukan saya berikutnya adalah Fantasy Fiesta, lomba menulis cerita pendek fantasi, yang pertama kali saya selenggarakan bareng Dian di tahun 2009 di situs penulis Kemudian.com, dan untuk tahun 2010 di blog Kastil Fantasi. Lomba tahun 2010 diselenggarakan di bulan Agustus dan diikuti oleh 74 penulis. Mau tahu apa rasanya membaca, menilai dan mengulas 74 cerita x 3000 kata dalam waktu kurang dari dua minggu? Ya, begitulah, melelahkan tapi menyenangkan. Dan saya membayangkan bagaimana rasanya nanti di tahun-tahun berikutnya jika pesertanya ada 400 orang. Hmm… gila-gilaan, pastinya.

Sebagai kelanjutan event tersebut, bekerjasama dengan penerbit Adhika Pustaka, 20 cerpen lalu dikumpulkan dan diterbitkan dalam buku Fantasy Fiesta 2010: Antologi Cerita Fantasi Terbaik 2010. 20 penulis tergabung dalam kumcer ini (termasuk saya), sebagian adalah penulis yang sudah pernah menerbitkan novel sebelumnya, dan sebagian lagi adalah penulis yang masih berjuang. Proses penerbitan dimulai sejak September, dan pada Desember 2010 akhirnya sudah bisa dijumpai di toko-toko buku. Pada saat tulisan ini dibuat, bisa dibilang umur buku tersebut masih satu minggu, tapi kelihatannya, respon dari pasar cukup membesarkan hati. :-)

NaNoWriMo

Sekarang, kenapa saya masukkan NaNoWriMo di sini? Buat yang belum paham, NaNoWriMo adalah kegiatan menulis yang berlangsung di seluruh dunia, di mana setiap pesertanya harus bisa menulis draft novel sebanyak 50.000 kata dalam waktu satu bulan, yaitu bulan November. Buat saya pribadi, ini adalah salah satu penyelamat jiwa saya.

Hahah… mungkin agak berlebihan. Tapi maksud saya begini: terus terang, walaupun tahun 2010 adalah tahun penuh warna, di mana saya bisa menerbitkan dua buku dan juga bisa kembali menyelenggarakan lomba Fantasy Fiesta, sebagai penulis saya merasa gelisah. Penyebabnya tak lain karena selama berbulan-bulan saya gagal menulis dalam jumlah yang berarti, dan akibatnya belum berhasil menyelesaikan draft novel yang menjadi target saya di awal tahun 2010.  Penyebab lebih jauh, saya juga terjerumus main di banyak game online (yang sama sekali gak akan disebutkan namanya di sini! grrr!).

Kemudian, datanglah bulan November, dan tiba-tiba tanpa saya rencanakan sebelumnya sama sekali, semuanya berubah. Tanpa ba-bi-bu pikir panjang macam-macam saya memasang writing mode dan mulai menulis kembali. Hanya menulis, menulis dan menulis selama satu bulan, menyelesaikan satu draft yang sudah setengah jalan, dan langsung tancap gas menyelesaikan satu draft berikutnya. Total saya berhasil menulis sebanyak 75.000 kata dalam satu bulan. Dan serius, itu adalah obat mujarab yang bisa membuat hati saya tenang, melebihi terbitnya Akkadia maupun Fantasy Fiesta. Hahahah… Karena, mungkin, dengan kembali menulis dalam jumlah yang berarti, saya bisa tetap menganggap diri saya sebagai seorang penulis.

2011

Maka, akhirnya, apa yang ingin saya capai di tahun 2011?

Ya, gak terlalu muluk juga. Memang, mudah-mudahan saya bisa menyamai pencapaian di tahun 2010. Ada dua buku lagi yang bisa diterbitkan, dan lomba menulis cerpen fantasinya juga tetap bisa terlaksana. Tapi seperti sudah disebutkan di atas, yang paling penting adalah bagaimana agar bisa terus menulis. Penerbitan buku adalah hal yang tidak bisa saya kontrol, tetapi menulis adalah hal yang bisa saya kontrol sepenuhnya. Saya harus tetap bisa menulis dan menyelesaikan minimal dua naskah novel dalam satu tahun. Supaya di akhir tahun 2011  saya tetap bisa menyebut diri saya sebagai seorang penulis. Gak muluk-muluk amat, kan?

8 Responses to “Tahun 2010: Antara Akkadia, Fantasy Fiesta, NaNoWriMo dan 2011”

  1. 1
    Illuminatus Says:

    50rb kata dalam satu bulan ya…

    Maaf ni mas Villam, saya ni newbie. Uda bikin dua draft novel “setengah gantung”.

    Problem saya satu. Naskahnya ketipisan, saya jadi gak pede. Mau dilanjutin jadi gak enak, gak dilanjutin “dihantui perasaan bersalah” karena udah nulis tapi gak nyelesein.

    Gimana solusinya yah mas?

    Mohon petunjuk.

  2. 2
    Villam Says:

    solusi dari saya cuma satu:
    selesaikan apa yang sudah kamu mulai.
    gak usah terlalu banyak mikir hal2 yg negatif sekarang. selesaikan saja semuanya dulu. kalo udah selesai, baru boleh mikir macem2. :-)

  3. 3
    kirzo Says:

    err.. numpang tanya, nanowrimo itu apa harus dalam bahasa inggris ya? (kalau buka web-nya sih, kesannya begitu) -_-

  4. 4
    Villam Says:

    enggak, pake bahasa apapun yg penting pake alfabet gak masalah. dia cuma menghitung kata, sama aja kayak ms word.

  5. 5
    kirzo Says:

    wah terima kasih infonya, bang Villam. *berharap tahun ini bisa ikut =3*

  6. 6
    Villam Says:

    yup. mari kita nanti ketemu di sana. :-)

  7. 7
    kirzo Says:

    *angguk-angguk*
    Saya akan berjuang! >=3

  8. 8
    Villam Says:

    mari berjuang sama-sama. :-)

Leave a Reply