Pulang kampung?

Apa itu ‘pulang kampung’?

Dan apa yang harus ditulis untuk sebuah ‘pulang kampung’?

Tentu saja, ‘pulang kampung’ yang dimaksud pada kesempatan kali ini, di tempat ini, saat ini, adalah kembali ke Kemudian.com. Di sini, hampir lima tahun yang lampau saya mulai membangun lagi impian lama saya untuk menjadi seorang penulis; impian yang pernah terkubur selama lebih dari sepuluh tahun. Di tempat ini saya bertemu dengan banyak teman seperjuangan, sesama calon penulis dengan mimpi besar. Di sini kami semua belajar bersama, tak hanya untuk membuat cerita yang lebih baik, tapi juga untuk menjadi penulis yang (mudah-mudahan) lebih kokoh, yang tidak rontok oleh cacian maupun pujian.

Maka ketika ada tawaran untuk ikut serta dalam acara pulang kampung, dan bertemu lagi dengan banyak teman lama, saya pun menerimanya dengan senang hati. Kembali ke sebuah rumah lama tempat kita dulu memiliki banyak kenangan baik, siapa yang tidak mau?

Sayangnya, sampai kemarin, saya tetap tidak tahu apa yang harus ditulis untuk acara ini. Saya menulis ribuan kata setiap bulan; di NaNoWriMo bulan kemarin bahkan saya menulis seratus ribu kata. Tetapi apakah semua itu cukup pas untuk dimunculkan dalam sebuah ‘pulang kampung’? Bukankah seharusnya ada sesuatu yang berbeda, sebuah cerita yang punya kenangan lebih manis dibanding cerita-cerita lain yang pernah saya pajang di Kemudian.com? Apakah saya punya?

Terus terang, saya akhirnya sempat memutuskan, mungkin saya tidak akan ikut berpartisipasi. Ya, saya akan datang ke Kemudian.com pada tanggal 11 Desember 2011, tapi mungkin saya hanya akan melihat-lihat dan memberi komentar, juga mengucap salam hangat kepada teman-teman lama, namun saya tidak akan ikut memajang cerita.

Lalu pada saat-saat terakhir, tadi malam, entah dorongan dari mana, tiba-tiba saya membuka-buka buku catatan lama yang tersimpan di lemari, dan menemukan draft novel pertama yang saya tulis lebih dari lima belas tahun silam dengan tulisan tangan, waktu saya baru belajar menulis. Dan rasanya, saya telah menemukan apa yang saya cari.

This is my gold. Salah satu harta karun saya yang paling berharga. Terlepas dari begitu sederhananya (atau mungkin malah sebaliknya: anehnya) ceritanya, dan begitu banyak kesalahan penulisan mendasar yang mungkin ada di sana-sini, ada sesuatu di dalamnya yang bagi saya lebih penting. Semangat, passion, cinta pertama saya pada dunia tulis menulis. Saat-saat ketika saya menulis ya hanya karena ingin menulis, tentang sesuatu yang memang saya cintai sejak kecil.

Ini adalah cerita panjang pertama yang saya tulis, dan tanpa ragu kini saya salin di komputer kemudian saya bagikan kepada teman-teman di Kemudian.com. Dan tanpa editing, saya tampilkan saja semua apa adanya, baik buruknya.

Kenapa apa adanya? Ya, karena bagi saya, di balik ‘pulang kampung’ yang sudah dibahas tadi, ada ‘pulang kampung’ yang lebih berharga ini. Saya kembali untuk sesuatu yang memang saya cari.

Recharge. Buka kenangan. Menemukan kembali alasan kenapa dulu saya mulai menulis. Lalu ambil semangatnya. Dan pasang di tempat yang baru. Supaya saya bisa terus bergairah menulis.

Dengan cara kecil seperti ini saya bisa lebih membuat arti pada acara ‘pulang kampung’ kali ini. Dan mungkin, dengan ini saya juga bisa lebih memberi manfaat kepada seluruh teman di Kemudian.com …

… untuk terus bergairah menulis.

Menulis, karena kita cinta menulis. Menulis, karena memang kita cinta dengan apapun yang kita tulis, bukan karena orang lain bilang beginilah atau begitulah yang seharusnya kita tulis, beginilah atau begitulah yang disukai banyak orang, atau hanya karena kita ingin menunjukkan pada orang lain kalau kita bisa menulis.

Menulis, dengan cinta.

Maka orang lain, kemungkinan besar, akan bisa merasakan cinta itu, dan pada akhirnya mencintai tulisan kita juga.

Mari. Terus menulis.

Salam cinta. Heheheh …

Villam

 

 

Nomor Sembilan

oleh R.D. Villam

Bab Satu, Dua, Tiga

 

Berdua kami berjalan memasuki stadion yang sepi, melalui koridor panjang hingga akhirnya sampai ke sebuah ruangan luas yang letaknya tak jauh dari gerbang utama.

“Ini ruang pertemuan antara para pemain, pelatih dan pengurus klub. Tuan Otto Hadler biasanya berbicara di tempat ini,” kata orang yang mendampingiku. Aku mengangguk-angguk.

“Luas sekali,” gumamku.

“Ya. Mau kuperlihatkan tempat ganti para pemain, Tuan Ardison?”

“Tentu saja, Tuan Schmidt,” jawabku sambil tersenyum.

Kami lalu berjalan lagi menuju ruangan sebelah, yang penuh dengan lemari-lemari tempat penyimpanan barang dan pakaian terbuat dari logam yang ditata membentuk lorong-lorong. Bangku-bangku panjang terletak di sepanjang lorong tersebut.

“Di tim senior ada sebanyak dua puluh dua pemain saat ini. Kebanyakan dari mereka kami didik sejak masih yunior,” kata Tuan Schmidt. Ia adalah salah seorang pengurus klub Wienerberg. “Tahun ini kami merekrut tiga pemain untuk memperkuat tim senior. Anda Tuan Ardison, lalu Jesse Laamers kiper muda dari Belanda, dan Anton Plummer yang baru kami ambil dari tim yunior.

“Oh ya, anda lihat ruangan di depan itu? Itu tempat melatih otot para pemain. Anda bisa menjadi Arnold di sana,” katanya sambil menatap tubuhku yang jangkung dan langsing. Yang ia maksud dengan Arnold tentu saja adalah Arnold Schwarzenegger, binaragawan asal Austria yang kini jadi bintang film di Hollywood. Aku ikut tersenyum. “Sekarang mari kita ke lapangan. Tuan Joseph Berger, pelatih kita ada di sana.”

Stadion Wienerberg yang kecil mempunyai kapasitas penonton 20.000 orang. Baik lapangan maupun bangunannya terawat sangat baik. Tempat duduk penonton terletak di seluruh penjuru stadion, bertingkat-tingkat landai dari bawah sampai ke atas. Atap yang tinggi melindunginya. Di sebelah barat terdapat tribun khusus untuk para tamu. Kutebarkan pandangan ke seluruh penjuru lapangan. Rumputnya terawat, hijau dan segar diterpa cahaya matahari. Aku tak melihat ada permukaan yang cacat. Benar-benar hebat!

Seorang berkumis tebal dan berwajah keras berdiri tak jauh dariku sambil memperhatikan berkas-berkas dokumen, mungkin catatan mengenai tim dan para pemain. Tubuhnya besar walaupun lebih pendek dariku. Matanya menatap tajam kami berdua yang datang menghampiri. Cerutunya dilepaskan.

“Tuan Berger, ini pemain baru kita, Rick Ardison.”

Aku mengangguk hormat dan kami berjabat tangan.

“Dari Indonesia, ah?”

“Ya,” jawabku. Ia membolak-balik catatannya sebentar.

“Kau harus kerja keras di sini, Nak. Kulihat Tuan Hadler berharap banyak darimu. Tapi itu belum cukup. Kau tentu tahu apa yang harus kau lakukan.”

“Ya.”

Percakapan kami hanya sampai di situ saja. Kulihat Tuan Berger adalah orang yang tak suka banyak bicara. Tuan Schmidt membawaku keluar stadion.

“Kami sudah menyediakan kamar apartemen untuk anda. Tak jauh dari sini. Anda tentu sudah lelah bukan—sehabis perjalanan?”

“Yeah.” Aku tersenyum. Tuan Schmidt ini sudah mendampingiku sejak bandar udara tadi.

Kami sampai ke tempat yang dituju dengan kendaraan kami tak lama kemudian. Letaknya lumayan jauh dari pusat kota Wina. Sebuah gedung apartemen yang cukup bagus dengan enam lantai. Setiap lantai mempunyai empat sampai lima kamar yang cukup luas.

“Kamar anda di lantai paling atas. Kami pikir cocok buat anda. Semoga anda senang di sini.”

“Oh pasti, Tuan Schmidt.”

Dia benar, kamarku benar-benar menyenangkan. Luas, dengan dua buah kamar tidur, satu kamar mandi dan sudah dilengkapi pula dengan berbagai macam barang. Meja makan, televisi, tempat duduk, lemari dan lainnya. Semua tertata rapi.

“Istirahatlah, Tuan Ardison,” katanya. “Besok pagi datanglah ke stadion jam 10 untuk latihan bersama.”

“Terima kasih, Tuan Schmidt, atas kebaikan anda.”

Ia tersenyum lalu pergi meninggalkanku.

Kini mulailah kehidupan baru bagiku.

 

 

baca lanjutannya di Kemudian.com

http://www.kemudian.com/node/260648

Leave a Reply