Me & My Writing
ditambahkan oleh R.D. Villam pada pertengahan April 2011
Karena kerja keras itu kini telah memberi hasil. Tak lama setelah tulisan di bawah ini dibuat, pada bulan Desember 2009 novel pertama saya, Akkaddia: Gerbang Sungai Tigris diterbitkan. Lalu setahun kemudian cerpen fantasi saya yang berjudul Matahari Sylvania ikut diterbitkan dalam buku kumcer Fantasy Fiesta 2010. Jalan itu sudah terbuka, Alhamdulillah. Tinggal dipelihara dan terus diperbaiki.
R.D. Villam’s books on Goodreads
—
ditulis oleh R.D. Villam pada akhir Agustus 2009
Saya adalah seorang pegawai kantoran biasa yang—saya percaya—diberikan sedikit bakat menulis oleh Tuhan dan karenanya, demi mensyukuri itu, saat ini berusaha memanfaatkan setiap waktu senggang yang saya miliki untuk menulis.
Saya menulis sejak kecil. Waktu itu saya melakukannya semata-mata karena saya suka dan karenanya jika sedang tidak suka saya akan melakukan hal lain yang lebih mengasyikkan. Cerita panjang pertama saya berjudul Nomor Sembilan, tentang seorang pemain sepakbola asal Indonesia yang bermain di liga Eropa dan kemudian bermain pula di Piala Dunia.
Buat para bocah pencinta sepakbola, cerita semacam ini adalah impian yang hampir pasti selalu ada di dalam benak mereka, dan saya hanya berusaha menuliskan apa yang saya suka, di buku, buat saya pribadi. Tebalnya sudah mencapai hampir dua ratus halaman, ketika kemudian saya bosan dan dan minat saya teralihkan pada hal lain yang lebih mengasyikkan: bermain game di komputer.
Saya suka bermacam game, mulai dari yang tembak-tembakan, pukul-pukulan, balap-balapan, sampai yang strategi semacam Railroad Tycoon, Civilization, Sim City dan Heroes of Might and Magic. Namun dua game lawas yang paling berkesan buat saya adalah Uncharted Waters dan Romance of Three Kingdoms, dua-duanya keluaran KOEI. Maka wajar jika kemudian saya terinspirasi untuk membuat cerita berdasarkan kisah atau gaya di sana.
Si Mata Rajawali saya buat berdasarkan game Uncharted Waters, tentang seorang pelaut pemula di abad ke-15 yang bertualang di lautan, melawan bajak laut, mengelilingi dunia hingga akhirnya menikah dengan putri raja—plot sederhana. Saya menuliskannya di buku, dan selesai tak lebih dari seratus halaman.
Setelah saya punya komputer sendiri (tidak lagi nebeng di komputer kakak), saya menulis Si Rambut Hitam dan Si Rambut Merah (silakan jika ingin tertawa melihat judulnya; tapi buat saya waktu itu judulnya kelihatan keren), tentang dua pemuda dari negeri berbeda yang nantinya akan saling bertempur di peperangan terbesar sejagat sepanjang masa.
Saya merancang beratus tokoh dari berpuluh negeri, sesuai gaya di game Romance of Three Kingdoms dan juga di novel aslinya, Kisah Tiga Negara alias Sam Kok. Cerita ini juga terpengaruh oleh dua novel epik klasik lainnya, yaitu Batas Air dan Taiko. Sayangnya, setelah saya menulis sekitar seratus halaman, cerita itu terlihat seperti terlalu besar buat saya, terlalu melelahkan untuk ditulis. Saya berhenti.
Tapi tak lama kemudian, saat kuliah, keinginan untuk mencoba membuat epos itu muncul lagi—cerita dengan plot yang mungkin bahkan lebih rumit, dan ceritanya bakal lebih panjang, dengan setting yang berubah pula, lebih medieval, terpengaruh oleh kisah-kisah Arthur dan para ksatria meja bundarnya. Inilah cikal bakal The Forgotten Heroes (TFH), yang dalam desain besar saya saat itu nantinya minimal bakal terdiri dari enam buku (mengerikan, bukan?).
Sayangnya karena kesibukan saya berkuliah (dan ini memang benar-benar sulit untuk dilawan), saya hanya bisa menulis sedikit sekali. Baru setelah saya lulus dan menyandang gelar pengangguran sementara, saya bisa menyelesaikan TFH – Buku 1 : Sang Penguasa dan Sang Ksatria.
Namun sampai di situ, sepertinya karir menulis saya tamat. Saya mulai bekerja, mulai banyak urusan, mulai punya banyak tujuan lain yang terasa lebih penting untuk diraih. Selama sepuluh tahun tak pernah lagi terpikir dalam benak saya soal tulis-menulis. Saya berhenti total sepenuhnya dari dunia itu, yang jika dipikir-pikir sekarang, saya tidak menyesal, karena toh saya mendapat banyak hal yang patut saya syukuri dalam rentang waktu sepuluh tahun itu.
Lagipula saat itu saya memang tidak punya tujuan dalam soal tulis-menulis. Setelah kemunculan film trilogi Lord of The Rings seseorang berkata, “Lho, bukannya kamu dulu pernah bikin novel fantasi kayak gitu? Kenapa nggak diterbitin juga? Siapa tau bisa difilemin?”. Saya hanya tertawa. Buat apa, saya pikir. Saya dulu menulis buat senang-senang. Saya bahkan lebih terpikir untuk menjadikan tulisan saya itu sebagai warisan buat anak cucu, alih-alih diterbitkan apalagi difilmkan.
Saya tetap belum memikirkannya, sampai kemudian datang tahun 2007. Saat sedang iseng-iseng browsing internet di kantor (yeah!), tiba-tiba saya menemukan berbagai macam obrolan tentang dunia tulis menulis, tentang mereka yang punya karya dan ingin diterbitkan, mereka yang punya mimpi untuk diwujudkan. Saya tertegun.
Saya lalu pulang dan membongkar isi komputer saya, membaca apa yang pernah saya tulis sepuluh tahun yang lampau, dan saya sadar, selama ini mungkin saya telah menyia-nyiakan bakat terbaik yang pernah diberikan oleh Tuhan kepada saya. Sejak itulah saya punya tujuan baru. Saya pikir, apa salahnya kalau novel saya nanti difilmkan oleh Peter Jackson? Heheheh…
Sejak itu selama berbulan-bulan, setiap hari, saya belajar segala macam yang perlu saya ketahui tentang tulis-menulis. Mencari tips, obrolan, pendapat, cerita, dari luar negeri, dari dalam negeri. Belajar mana yang bagus, dan mana yang tidak bagus, kemudian coba memanfaatkan setiap ilmu tersebut di cerita lama saya.
Lalu, saya memberanikan diri mengirim TFH – Buku 1 ke penerbit. Hasilnya, ditolak tentu saja, karena novel tersebut, baik cerita maupun gaya berceritanya masih jauh dari matang. Saya juga mengirimkan naskah tersebut pada beberapa teman seperjuangan yang baru saya kenal di forum, dan hasilnya pun serupa, dilempar cabe yang sepedas-pedasnya.
Tapi anehnya, walaupun sempat kesal, kegagalan itu kemudian terasa nikmat. Itu semua sama sekali bukan masalah, karena ternyata, begitu saya sudah mulai membangun impian saya, dan menemukan diri saya di dunia yang memang cocok untuk saya, saya tidak akan pernah bisa berhenti lagi.
Saya akan maju terus, betapapun kuat angin atau arus yang harus saya lawan (hahah…). Saya sudah kembali di sini, dan saya tidak akan pergi lagi. Ada pelajaran yang bisa diambil dari setiap kegagalan, dan jika saya mampu memperbaikinya, tidak ada alasan saya tidak akan berhasil suatu hari nanti. Saya tidak akan berhenti menulis. Saya tidak akan berhenti membuat cerita.
Begitulah, 2007 menjadi tahun kebangkitan saya dari tidur panjang (halah…). Saya menyelesaikan TFH – Buku 2 : Hikayat Orang Utara, yang terdiri dari tiga bagian: Di Tepi Sungai Ordelahr, Qin Difensorat, dan Pertempuran Terakhir (The Last Battle).
Saya juga mulai menulis Batu Delima Terakhir (BDT) dan Gerbang Sungai Tigris (GST), namun kedua cerita ini kemudian terpotong di tengah jalan karena saya mulai mengerjakan Somniterra, novel kolaborasi saya dengan dian k. Sepanjang tahun 2008 saya isi dengan menulis novel itu, yang akhirnya selesai di awal tahun 2009. GST kemudian menyusul, selesai di pertengahan tahun 2009.
Selanjutnya, sejak bulan Agustus ini, saya menulis cerita baru berjudul Anak-anak Dunia Mangkok. Saya menargetkannya selesai di bulan November. Berikutnya, di tahun 2010, saya berharap bisa menyelesaikan BDT, Belenir dan mulai menulis satu novel lagi, mungkin TFH – Buku 3. Seterusnya, dan seterusnya, saya akan terus menulis, minimal bisa menyelesaikan dua buah novel setiap tahun.
Saya tahu saya bisa.
Sementara soal penerbitan—apakah karya-karya saya nanti ada yang bisa diterbitkan—saya percaya itu pun akan datang dengan sendirinya, jika memang waktunya sudah tepat. Asalkan terus menulis, saya pasti akan menjadi lebih baik, dan punya kesempatan.
Hanya itu kuncinya.
Salam.
Me and my writing.





Entries (RSS)
September 22nd, 2008 at 4:22 pm
ha. invasi lagi, bos?
*grin*
September 2nd, 2009 at 11:54 am
jangan pernah menyerah.
^Somniterra sudah dilempar ke penerbit?
September 2nd, 2009 at 12:42 pm
yup, jangan pernah.
udah dikirim kok, ke tiga biji penerbit, dan masih ditunggu kabar kelanjutannya… hehe…
September 28th, 2009 at 7:18 pm
Memukau.
September 29th, 2009 at 8:24 am
apanya?
heheh…
October 1st, 2009 at 12:30 pm
Cara si pengisah mengisahkan kisahnya
…selalu ada yang bisa dipetik dari sana.
October 1st, 2009 at 1:11 pm
bagaimana sang pemetik memetik petikannya… bagus juga. heheh…
October 1st, 2009 at 1:46 pm
hahahahahah. skakmat saya.
October 1st, 2009 at 1:54 pm
hehe…
btw aku ikutan bikin mypersonality test kayak di tempatmu itu. lha… memang benar ternyata aku ekstra introvert. hahah…
October 9th, 2009 at 8:33 am
hah??
ekstraintrovert? hahahahaha. 50-50% ya, Kak?
eh, ekstraintrovert namanya ambivert bukan, sih, Kak? :p
October 9th, 2009 at 8:47 am
wah kalo ambivert sih keren.
ibarat amfibi. keren kan? bisa hidup di dua dunia. heheh…
bukan.
maksudku ekstra introvert seperti ukuran baju XXL.
introvert yang keterlaluan.
hahah…
November 9th, 2009 at 5:27 pm
Gile, banyak banget bro
Gw satu aja blom beres-beres he.he
November 10th, 2009 at 8:02 am
nah yang satu itu diberesin dong… hehe…
November 22nd, 2009 at 12:19 am
Sepertinya kita sealiran. Pertama kali nulis sejak umur 6 taunan, SD kelas 1. Tentang si kancil. Sampe sekarang keterusan. Banyak ide yang datang dari game juga. Dan hebatnya game yang nyaris sama pula: Sam Kok, Bandit Kings, Uncharted Water, Might Magic, Heroes, Suikoden, Knight of Xentar (oops…), dll.
Sempet berenti juga sekitar 4 taun karena kesibukan dan lemes semangat. Soalnya doyan cerita panjang, sulit diterbitkan. But never give up hope and dream.
November 22nd, 2009 at 6:40 am
heheheh… bener, sealiran kita. that old game rocks!!!
eh tapi sekarang masih lanjutin nulisnya kan?
November 22nd, 2009 at 9:37 am
Yup masih dong. Sebenarnya sih ga pernah bener-bener berenti. Walaupun selama 4 tahun berenti tapi ide sih ngalir terus dan dicatet. Jadi pas nulis lagi, langsung lancar. Tapi tetep aja alirannya masih ga sederas situ.
November 22nd, 2009 at 10:39 pm
betul, yg penting jgn sampe bener-bener berenti, soalnya ngidupin lagi mesinnya itu biasanya susah. bisa rutin menulis tiap hari, walaupun sedikit, tetap lebih baik.
December 17th, 2009 at 2:40 pm
wow…luar biasa..selalu kagum sama orang2 yang piawai nulis….maju terus ya….btw..tulisan “nomor sembilan” nya masih ada? krn seneng maen bola, ikal seneng banget cerita sepakbola…buku”mimpi sang garuda” dia baca berkali kali, ga ada buku lain ttg sepak bola….sukses terus ya…
December 17th, 2009 at 3:34 pm
@teh dian, kayaknya masih ada tuh di dalem lemari. heheheh…
December 22nd, 2009 at 7:57 pm
kalo aku sihhh…
yaa gitu dehhhh….
dari dulu masih N I H I L
semoga taun depan menjadi era kebangkitanku untuk menulis ide2 yg msh bergentayangan di kepalaku
hahahahaha
December 22nd, 2009 at 9:52 pm
oke. semoga.
just do it!
July 4th, 2010 at 3:01 am
i played the original SimCity in the 90′s and until now i still play the latest version of SimCity`;’
July 5th, 2010 at 8:32 am
amazing…
August 7th, 2010 at 2:59 am
sebelumnya salam kenal kakak.
saya salut sama anda,.
dari kisah yang diceritakan diatas,terpikir bahwa anda akan menjadi penulis besar nantinya.itu mungkin terjadi.
saya selalu bermimpi ingin mempunyai cerita yang bisa dibaca oleh semua orang,namun semua itu selalu terhalang oleh keadaan dan diri saya sendiri.
August 7th, 2010 at 9:36 am
selamat berjuang, anex.
tidak mudah mewujudkan impian, tapi itu bisa.
September 20th, 2010 at 11:01 pm
Aa Villam,
Gua pernah baca tulisan lu sekitar taun 99-an atau awal 2000-an, kalo ngga salah judulnya Black Arrows ya…
Ceritanya bagus tuh, walaupun alur ceritanya agak sedikit terlalu bersemangat hehehe…
Masih ada ngga ya prototypenya? Atau udah ganti judul ya? Kalo di sempurnakan, bakal jadi Top tuh…. At least menurut gua….
September 21st, 2010 at 9:44 am
HAH? SERIUS?!
elu masih inget itu? sepuluh taun yang lalu!
dulu baca di mana? di yahoogroups ya?
Black Arrows itu dulu cikal bakalnya The Forgotten Heroes. emang tergolong karya pertama, jadi ya penceritaannya masih ancur-ancuran. hehe…
September 21st, 2010 at 11:36 am
Udah gua duga, pasti judulnya diganti. Soalnya kok ngga pernah disebut-sebut. Tapi sepertinya Black Arrows lebih menjual ya ketimbang TFH, just my thought. Tapi yg pasti sih RDV lebih menjual daripada ASI, huehehehe… :-p
Mungkin judul TFH lebih cocok kalo based on isi pengembangan ceritanya, hmmm ngga tau juga deh…
Ngga ancur kok, teteup enak di baca…
September 21st, 2010 at 11:44 am
pengennya sih nanti judulnya pake basa indonesia ajah.
jadi ada judul cerita keseluruhan (yg gue pikir TFH bakal lebih pas dibanding Black Arrow), trus ada judul per buku.
ah, milih judul emang selalu paling susah. heheh…
September 21st, 2010 at 1:26 pm
Tul banget….
Nanti juga tiba2 ketemu sendiri judul yg pas…
Happy writing, di tunggu launchingnya…
September 21st, 2010 at 2:22 pm
thanks.
setelah Akkadia di awal taun, mudah2an akhir tahun ini ada satu lagi yang bisa dilaunching.
September 28th, 2010 at 12:43 pm
simcity is my all time favorite game, my dad even played that game :;~
January 30th, 2011 at 3:38 am
Halah eta judul meuni sababaraha, tamatkeun heula hiji2 atuh kang, gaya weh mamanjang daftar :p
January 30th, 2011 at 10:26 pm
heu… tulisan ini juga belum di-update…
ditulis agustus 2009, padahal sekarang udah januari 2011.
kan sekarang udah terbit dua buku.
February 7th, 2011 at 11:28 pm
ngerti sunda ternyata hahaha
)