Archive for the “100 Words” Category

”Wahai, Pasir,” Lautan menyapaku. ”Manusia dalam pelukanmu itu, dialah makhluk tercantik di seluruh penjuru dunia.”

”Apa maumu?”

”Aku ingin mengambilnya.”

”Jangan coba-coba! Aku telah meminta Bulan untuk menjaganya darimu.”

Lautan tertawa. ”Kau pikir Bulan bisa terus menahanku?”

”Apa?! Kau hendak menantangnya?”

”Sudah waktunya. Bulan jauh di atas sana, mau mengekang kita selamanya?! Aku telah berbicara dengan Tanah dan Angin, mereka setuju denganku.”

”Bodoh!” seruku panik. “Membuat Bulan menangis hanya akan membuat Matahari murka! Kau membuat kesalahan!”

”Kau yang bodoh! Kita bisa hidup tanpa keduanya!”

”Tidaaakkk!!!” Aku menggigil ngeri sambil memandangi makhluk indah dalam pelukanku.

Kehancuran itu akan datang, karena KEHADIRANMU?

Comments 15 Comments »

Kaulah manusia pertama yang menyentuhku, sejak awal masa aku diciptakan. Sepasang telapak kaki lembutmu lambat menjejakkan bentuk indahnya di permukaan tubuhku.

Makhluk terindah yang pernah kulihat, aku tak tahu bagaimana kau bisa sampai di sini. Yang jelas, Tuhan telah menjawab kerinduanku.

Menjelang Matahari pergi kau datang, berdiri memandangi Lautan, membiarkan Angin mengibarkan rambutmu.

Lalu kau berbaring di atasku, membiarkanku memelukmu. Matamu terpejam, telingamu menikmati alunan ombak dan nyanyian burung pantai.

”Tuhan, terima kasih,” kau bersyukur.

Aku menengadah. “Wahai Bulan, terangi dirinya, tetapi jangan biarkan ombak besar datang menjemput. Aku takut ia pergi, dan aku takkan pernah bisa melihatnya lagi.”

Comments 6 Comments »

The Day

”Akankah kita dikenang sebagai pahlawan?” Si Gendut bergoyang gelisah.

Aku menenangkannya. ”Kalian pahlawan.”

Kolonel Tua mendesah. ”Sebelum mati, kami harus tahu siapa namamu.”

Read the rest of this entry »

Comments 4 Comments »

”Naik sekarang?” sang sopir bertanya.

”Nanti,” jawabku. Aku masih tetap berdiri di sampingmu yang terus termenung di kursi taman.

Sudah terlalu lama, Sayang.

Lihatlah lelaki yang kini menghampirimu, menyentuh lembut bahumu sambil berkata, ”Menikahlah denganku.”

Read the rest of this entry »

Comments 6 Comments »

Setiap malam aku menulis, selalu ditemani dua orang.

Orang pertama, wanita cantik bergaun putih, selalu berdiri rapat di sampingku. Ia berbisik, ”Menulislah tentang cinta.”

Orang kedua, lelaki berjas kelabu yang selalu duduk di sofa, menukas, ”Mana mungkin? Dia tak tahu apa itu cinta.”

”Akan kuajarkan,” balas sang wanita.

Sang lelaki mendengus. ”Menyerahlah, Sayang. Dia selamanya dingin, pemurung, egois. Seperti aku. Karenanya, aku selalu lebih lama berada di sini dibanding kau.”

”Diam!” Aku tak tahan. ”Aku punya teman baru sekarang.”

Dari sudut ruangan muncul pria berjubah hitam dengan tatapan tajam menusuk.

Aku menyeringai. ”Teman-teman, malam ini aku akan menulis tentang… KEMATIAN.”

Comments 6 Comments »

”Dibanding semua kakakku, aku hanyalah ksatria rendahan. Miskin, bodoh, tak dikenal.” Majikanku menatapku. ”Dan gila, karena hendak menantang manusia paling berbahaya di dunia. Untuk apa? Kau tahu?”

Aku diam saja, memandangi dua gundukan tanah di sampingku. Makam kedua orangtua majikanku.

”Kau pikir demi mereka?” Ia menggeleng. ”Aku tak yakin.”

Ia lalu menepuk dadanya. Ada saputangan cinta berwarna putih di balik jubah perangnya. ”Atau demi dia? Aku tak yakin juga.”

Ia tertawa. ”Apapun, aku tetap harus pergi. Ayo, kita temui takdir kita.”

Kubiarkan ia menaiki punggungku. Aku pun meringkik dengan bangga.

Majikanku, kenapa kau masih bertanya?

Jawabannya sederhana: kaulah sang pahlawan.

Comments No Comments »

Setelah kami memenangkan pertempuran di utara, rekan-rekanku berkata, ”Seharusnya kau yang menjadi kaisar.”

Aku tak menanggapinya. Sebagian dari mereka adalah penjilat, sebagian lagi hanyalah orang bodoh. Lagipula, aku tak berminat.

Di ruanganku, kubaca surat yang baru datang. Istriku sehat walafiat, demikian pula putraku. Ah, masih bisakah kuingat wajah mereka?

Seorang perwira membuyarkan lamunanku. ”Jendral, kaisar menunggumu.”

Dengan pikiran bercabang aku berjalan menuju taman.

Sunyi dan damai beraroma surgawi.

”Mana kaisar?” tanyaku.

”Tak ada,” perwiraku menjawab. ”Tapi ini pesannya.”

Belati tajam menghentak punggungku, menerobos hingga ke jantung.

Tak ada benci. Saat mencium lantai aku hanya menangis, membayangkan ratapan istri dan putraku.

Maximus adalah jenderal Romawi dalam film Gladiator (2000), yang ditawari oleh Kaisar Marcus Aurelius menjadi penggantinya, mengabaikan putra sang kaisar sendiri, Commodus.

Comments No Comments »

Raja menggelar pesta, di istana beratap kubah emas dengan dinding bertatahkan batu permata. Pesertanya: bangsawan berbaju sutra, ksatria gagah berwibawa, anggota dewan yang terhormat, juragan terpandang. Lengkap seribu orang. Kalian.

Raja mengangkat cangkirnya. Anggur merah semerah darah. “Untuk kemakmuran hari ini, besok, selamanya.”

Kalian membalasnya. Tanpa kecuali.

Maka masuklah aku menyusuri kerongkongan kalian.

Jangan salah paham, aku datang bukan mewakili rakyat yang tertindas oleh ketidakpedulian kalian. Aku tidak gembira saat mulut kalian menyemburkan darah, dan tubuh kalian menggelepar di lantai marmer.

Mengertilah, ini hanya tugasku.

Salah kalian sendiri ada di sini.

Atau, salahkan saja Raja.

Atau, tak perlu menyalahkan siapapun.

Comments No Comments »

”Tuanku, biarkan jendral bodoh itu yang membunuh ayahmu,” bisikku pada Pangeran.

Di balairung istana kami menyaksikan Jendral menghunjamkan belatinya menembus jantung Raja.

”Sangat mudah membakar dendamnya,” lanjutku.

”Balasan yang setimpal.” Pangeran mengangguk. ”Kau memang pandai, Penasihat. Sekarang giliranku?”

”Betul. Sesuai rencana.”

Lonceng berbunyi. Seketika muncul sebarisan pasukan bertombak yang langsung mencacah habis tubuh Jendral.

Pangeran tertawa keras. ”Akulah penguasa sekarang!”

Jangan terlalu yakin.

Tawanya mendadak terhenti, dan darah hitam tersembur dari dalam mulutnya.

Ketika ia meregang nyawa, aku menyeringai. ” Ayahmu menitip pesan: ’matilah kau, bocah pengkhianat!’.”

”Lihat belakangmu, tolol!” balasnya.

Sedetik kemudian sebilah pedang menyambar leherku.

Orang kelima sialan.

Comments 11 Comments »

Bab 1

Sudah seratus tahun patungku berdiri tegak di depan gerbang Utopia, saat seorang bocah menunjuk pedangku. “Ibu, kenapa tak seorangpun boleh menyentuhnya?”

“Hanya dia yang pantas.”

“Tapi dia sudah mati.”

lihat catatan saya mengenai penulisan Cerpen 100 Kata di sini

—–

“Tidak, anakku. Dia tidak bisa mati. Dia akan selalu melindungi kita.”

Bodoh!

Malam itu ketika semuanya terlelap, musuh kami yang telah berhasil menaklukkan rasa takutnya dengan kebencian, akhirnya datang.

Aku hanya bisa menjerit melalui mimpi mereka, “Bangun! Ambil pedangku! Hanya itu yang bisa menolong kalian!”

Jawab mereka, “Tenanglah, pelindung kami akan datang.”

Mereka tak mengenaliku.

Setelah beratus tahun aku diterima dewa untuk pertama kalinya, membawa kepedihan, menyaksikan rakyatku dimusnahkan oleh kebodohan.

*

Bab 2

Entah apa maksud Dewa Langit kala menyuruhku kembali ke Utopia. Menghukumku lebih jauh dengan membuatku menyaksikan kembali kegagalanku?

Di lembah kematian ini, aku meruntuhkan bukit untuk mengubur rakyatku.

Ketika aku selesai, seorang lelaki tua menghampiri. “Kau kembali. Memang, sebanyak apapun putaran kehidupanmu nanti, selamanya kau tetaplah Pelindung Utopia.”

“Tak satupun nyawa tersisa, apalagi yang harus kulindungi?”

“Semangatnya.”

“Utopia hanyalah angan-angan. Keberhasilanku telah membuat mereka terlena, dan itulah awal dari kehancuran semuanya.”

“Lalu apa yang akan kaulakukan?”

“Mencari pedangku,” jawabku penuh dendam. “Akan kubinasakan semua musuhku tanpa ampun.”

Lelaki tua itu menangis.

Dewa Langit pun mungkin kini menyesal telah mengirimku kembali.

*

Bab 3

Gunung dan lembah kulompati, demi mencapai negeri musuhku. Kubayangkan wajah kejam mereka, demi memupuk dendamku.

Akan kubunuh SEMUANYA!

Tapi di kota pertama, hanya kutemui wajah tanpa dosa. Di kedai mereka berbincang, ”Syukurlah, pasukan kita telah berhasil membinasakan musuh.”

Aku meradang. ”Mana pasukan kalian?!”

Meringkuklah mereka. ”Ke ibukota! Jangan bunuh kami!”

”Kuampuni kalian.”

Kulanjutkan perjalanan ke kota kedua, tempat aku mengancam lagi, ”Mana jalan ke ibukota?!”

”Ke selatan! Jangan bunuh kami!”

”Kuampuni kalian.”

Sampailah aku di kota ketiga. ”Mana ibukota kalian?!”

”Di sini!” Mereka menangis. ”Kau masih ingin membunuh kami?”

Ah.

Aku tidak bisa.

Aku terlalu pengampun untuk kembali menjadi pembunuh.

*

Bab 4

Di tepi sungai aku termenung, memperhatikan sebarisan prajurit yang keluar dari gerbang ibukota dan akhirnya bersenda-gurau di sebuah rumah.

Mereka musuhku. Tapi haruskah kubunuh mereka?

Pemimpin mereka berseru, ”Shyla! Mana minuman kami?”

”Sebentar, Ayah!” Seruan seorang gadis terdengar.

Di kebun belakang berlarilah ia. Mungil, berambut panjang, berkulit putih.

Cantik.

Ia meraih sebuah kendi, hendak membawanya masuk ke rumah, dan… tiba-tiba semuanya terjadi. Kakinya tergelincir, kendinya melayang di udara, dan seketika aku telah terbang ke sisinya. Tubuhnya di tangan kiriku, kendi di tangan kananku.

Ia memandangiku, tersenyum.

Tahulah aku, dengan cara sesederhana itu aku telah jatuh cinta.

Pada manusia biasa.

*

Bab 5

”Siapakah kau?” Shyla—yang dalam hatiku dengan bodohnya telah kupanggil sebagai ’Kekasih’—bertanya justru ketika aku telah pergi menjauh dari rumahnya menuju hutan.

”Aku teman ayahmu, datang dari jauh.”

Ia tersenyum begitu manisnya seolah tak pernah mendengar sebuah kebohongan. ”Kenapa tidak menemuinya tadi?”

Karena aku takut akan membunuhnya di hadapanmu.

Tentu saja tak mungkin kukatakan itu, jadi kujawab, ”Nanti saja.”

”Kubawakan roti.” Ia menyodorkan bungkusannya. ”Jika kau lapar.”

Putih hatinya.

Oh, Dewa Langit, sebenarnya apa rencanamu untukku?

”Shyla!”

Seruan itu mengagetkan kami. Dari balik pohon ayahnya muncul. Dan pedang itu—PEDANGKU!—tergenggam di tangan kanannya.

Darahku menggelegak.

Kekasih, maafkan aku.

*

Bab 6

”Mau apa kau?” Musuhku mengacungkan pedang ke arahku sambil menarik Shyla.

Gadis itu berkata, “Ayah, bukankah dia temanmu?”

“Bukan! Dia iblis dari Utopia yang hendak membinasakan kita!”

“Berikan pedangku,” ancamku.

Ia malah menantang, “Serbu!”

Ratusan panah mendekatiku, tapi kurontokkan semuanya dengan sekali kibasan. Sepasukan prajurit mengepungku, tapi kulontarkan mereka dengan sekali hentakan di bumi.

Aku melompat, mengelak dari sabetan pedang musuhku, dan meninju wajahnya hingga ia terkapar. Kudapatkan kembali PEDANGKU, yang kini kuarahkan ke lehernya.

Shyla meratap di kakiku, “Jangan bunuh ayahku!”

Lihat, betapa memalukan, ternyata aku bisa lemah karena cinta.

Mataku terpejam, dan sebuah pukulan pun datang menghantam kepalaku.

*

Bab 7

Pukulan macam apa yang mampu membuatku pingsan?

Gelap di sekelilingku. Rantai di kedua tangan dan kakiku.

Sel.

Suara jernih terdengar di balik kegelapan. “Dewa Langit memintamu menyerah.”

Diakah Sang Pembawa Pesan?

“Untuk apa?” tanyaku.

“Demi membangun Utopia yang baru di sini.”

Aku menggeram. “Lalu, kenapa aku harus MENYERAH?!”

“Pencapaian tertinggi didapat melalui pengorbanan terbesar.”

“Aku bukan martir!” Tubuhku memberontak. Kucoba menyalurkan energi ke empat penjuru, untuk menghancurkan seluruh rantai besiku.

Tapi percuma.

Aku mendelik. “Apa yang terjadi? Mana kekuatanku?!”

“Dewa Langit telah mengambilnya. Mengertilah, tubuhmu bukan milikmu.” Ia menghilang dalam gelap.

“Tidaaakkk!” jeritku ketakutan. “Dewa Langit! Kenapa kau meninggalkan aku?!”

*

Bab 8

Pemakan nasi basi. Peminum air comberan.

Makanan empuk cambuk dan rantai besi. Sasaran tunggal tomat dan telur busuk. Terlupakan. Terhina.

Sederajat anjing.

Makhluk terendah pengutuk diri sendiri.

Tapi mengapa, aku masih mendapatkan senyum gadis itu?

Di tiang alun-alun kota aku diikat, tersungkur disirami cahaya rembulan. Dalam hening ia datang mengendap-endap, untuk kesekian kali.

“Rotimu.” Jemarinya lembut mengangkat wajahku.

“Ini yang terakhir, Shyla. Kau membahayakan dirimu.”

Ia tersenyum. “Baru kudengar tadi, kisah seorang pahlawan dari Utopia.”

“Negeri musuhmu? Akan kuceritakan bagaimana ia menjadi terkutuk!”

“Ia bisa kembali menjadi yang termulia.”

“Mengapa kau mempercayai itu?”

“Kami membutuhkannya!”

Maaf. Sudah terlambat.

*

Bab 9

Setelah siksaan fisik di sel berbau bangkai demi memuaskan dendam musuhku, kini, anehnya, aku dibawa ke kamar emas kerajaan.

Harum tubuhku kini, untuk menandingi aroma ratu jelita di hadapanku.

“Apa maumu?” tanyaku.

“Kau.”

“Aku bukan siapa-siapa.”

“Kau adalah Pelindung Utopia.” Ia membelai pedangnya. Pedangku.

“Dulu,” jawabku.

“Memang. Kau pecundang sekarang. Tapi…” Ia beranjak dari kursinya, lalu menjilati wajahku. “Kau masih bisa menjadi budakku. Dan nanti, kau bisa memberiku keturunan, yang lebih hebat dibanding sang Pelindung Utopia.”

“Apa?! Aku tidak akan tunduk padamu!”

“Nikmatilah saja nanti, Sayang, surga terakhirmu, sebelum kau mati.” Ia tertawa seperti sundal.

Dewa Langit, inikah rencanamu UNTUKKU?!

*

Bab 10

“Dewa Langit telah mencampakkanmu. Sadarlah.”

Di dalam sel baruku, yang lebih manusiawi namun tetap gelap, aku mendongak mencari sang pemilik suara. Ada, hitam di ujung ruangan.

“Siapa kau?” tanyaku. “Sang Pembawa Pesan?”

“Dari langit sucimu itu?” Ia tertawa. “Tidak. Aku dari tempat lainnya.”

“Dewa Kematian?”

“Terserah kau menyebutku apa. Yang jelas, aku bisa memberimu kekuatan untuk membunuh musuhmu.”

“Musuhku?”

“Ratu jahanam itu.”

“Aku tak butuh janji!”

Ia tertawa lagi. “Buka saja mulutmu.”

Entah iblis apa yang membuatku menuruti keinginannya. Mulutku terbuka, dan hawa panas menyelimuti bibirku, memasuki rongga mulutku.

Pahit. Hangat. Manis.

“Apa ini?” tanyaku.

“Kekuatanku, sekarang milikmu.”

Kematian?

Milikku.

*

Bab 11

Pelayan bertudung putih memasuki sangkar emasku, mengantarkan makanan dan minuman. “Makanlah,” Ia berkata.

Aku tetap meringkuk, hingga ia menyapa lagi, “Tuan.”

Aku tertegun. “Shyla?”

Wajahnya kini tampak di balik tudungnya. “Ya.”

“Kenapa kau kemari?! Penjaga bisa melihatmu!”

“Bagi mereka aku hanya pelayan biasa.”

“Ayahmu?”

“Dia jauh.”

“Shyla.” Bibirku bergetar. “Kenapa?”

Ia tersenyum, begitu dekat denganku. “Tak mengertikah kau? Kau yang selalu mengunjungi mimpiku, memelukku, membisikkan kata cinta di telingaku.”

“Aku?”

“Kau tak ingat? Dalam mimpi terakhir kau berkata, ‘Dalam kehidupanku selanjutnya, aku akan mendatangimu.’.”

Benarkah?

“Kau salah orang,” jawabku.

“Tapi—”

“Pergilah! Dan jangan kembali!”

Menangis, ia terhuyung meninggalkan aku.

*

Bab 12

“Kau mengusir kekasihmu? Bagus.” Tawa keji itu terdengar lagi di balik kegelapan. Aku pasti menghajarnya, jika saja tangan dan kakiku tak terantai di dinding, tak peduli dia Dewa Kegelapan.

“Dia bukan kekasihku!”

“Entah kau memang bodoh, atau sedang membohongi dirimu.”

Aku mengelak. “Dia membahayakan dirinya dengan datang menemuiku.”

“Kau tak percaya, bahwa kau telah mengunjunginya dalam mimpi?”

“Aku pasti ingat setiap detik kehidupanku di bumi, tapi tidak untuk waktu yang kuhabiskan selama aku di langit. Lagipula, aku punya tujuan lain sekarang.”

Ia menyeringai. “Aku senang kau tidak lupa. Walau aku tetap sedih, kau telah mengabaikan cintamu.”

Cintaku?

Omong kosong! “Pergi!”

*

kisah Pelindung Utopia belum berakhir di sini

Comments 4 Comments »