Archive for the “Cerita” Category

Teman-teman,

Mulai sekarang kita akan membuat topik-topik khusus yang terkait dengan Fantasy Fiesta 2010, di Forum Kastil Fantasi.

Berikut adalah dua topik pertama:

Harapan, Saran dan Usulan untuk Fantasy Fiesta 2010

Cerpen Favoritmu

Teman-teman bisa memberikan masukan dan pendapat di sana.

Terima kasih.

Villam

Comments 2 Comments »

untuk membaca bagian sebelumnya sila klik di sini.

untuk membaca kisah Vill dan Moon dari awal sila klik di sini.

Vill: Uh ….
Moon: Akhirnya, bangun juga?

Vill: …
Moon: Ini, aku sudah buatkan teh almunt.

Vill: … Moon?
Moon: Ya?

Vill: Kita ada di …
Moon: Penginapan Kuda Bongkok. Ternyata itu namanya! Lucu, ya? Baru kelihatan tadi pagi. Benar-benar aneh pemiliknya. Bagaimana orang bisa tahu kalau ini adalah penginapan, kalau tulisan di depannya susah dilihat?

Vill: …
Moon: Ya, tapi salah orang-orang juga, kenapa datang malam-malam. Salah kita. Mmm … salahmu sih, bukan salahku.

Read the rest of this entry »

Comments 7 Comments »

untuk membaca bagian sebelumnya sila klik di sini.

untuk membaca kisah Vill dan Moon dari awal sila klik di sini.


Vill: Grroookkkk
Moon: Hei, bangun.

Vill: Mmm …
Moon: Bangun.

Vill: Hmm?
Moon: Bangun!

Vill: …
Moon: Bangun, dan pergilah dari kandang kambingku!

Vill: …
Moon: …

Vill: Kandang kambingmu?
Moon: Ya, ini kandang kambingku, dan kau tidak boleh tidur di sini. Lihat, kasihan dia! Gara-gara kau, dia harus tidur di luar!

Read the rest of this entry »

Comments 8 Comments »

Cerita bagian kedua ini ditulis oleh rekan saya, dian k, untuk menyambung kisah Vill dan Moon sebelumnya yang bisa dibaca di sini.

Enjoy.

Vill: Hup.
Moon: …..

Vill: Hm? Kenapa?
Moon: …..

Vill: Ah, hahaha. Kau pasti ngambek! Maaf deh, maaf.
Moon: Dasar idiot, ke mana saja tadi?

Vill: Aku cuma sebentar kok…
Moon: Sebentar? DUA JAM kau bilang sebentar?!

Vill: Hehehe…
Moon: Urgh! Dasar kau idiot menyebalkan!

Read the rest of this entry »

Comments 5 Comments »

lihat bab sebelumnya di sini

baca kisah Di Tepi Sungai Ordelahr dari awal di sini

Desa suku Andranir terletak tak jauh dari muara Sungai Ordelahr. Desa paling utara di Hualeg, yang dapat dicapai dalam waktu dua hari jika menggunakan perahu dan empat hari kalau berjalan kaki, jika memang orang yang hendak pergi itu mau berusaha keras.

Vilnar tahu itu dan ia tak ingin membuang waktu. Ia berangkat saat malam dan sejak awal ia mendayung perahunya dengan kecepatan tinggi, mengikuti arus ke hilir, hanya berhenti untuk tidur di malam berikutnya. Sehingga saat lewat tengah hari di hari kedua ia sudah mendekati pemukiman suku Andranir. Di kejauhan tampak lautan utara yang gelap membiru dengan beberapa bongkah es raksasa mengapung di permukaannya.

Pemandangan yang menakjubkan, apalagi pada saat musim dingin tiba, ketika seluruh lautan berubah menjadi es. Ingin rasanya Vilnar memberikan pemandangan indah itu pada istrinya, tetapi ia tahu Ailene tak bakal tahan dengan suhunya yang dingin. Di tempat ini bahkan Vilnar pun harus menggunakan mantel bulu beruangnya yang paling tebal, yang cukup berguna juga untuk menutupi kapak perang yang tergantung di punggungnya.

Read the rest of this entry »

Comments No Comments »

Arena futsal empat lapangan itu sebentar lagi ditutup. Tinggal Faisal beserta teman-temannya pengunjung yang tersisa, dan tampaknya, dialah yang bakal menjadi orang terakhir yang meninggalkan tempat.

“Sal, pada mau cabut nih.” Seorang dari mereka, Ivan, menepuk bahunya. Semua yang lain sudah berdiri dengan tas tersampir di bahu.

“Okay. Thank you all, guys. Seneng bisa ketemu, dan maen lagi bareng kalian.” Faisal tersenyum lebar, menjabat tangan mereka satu per satu. Mereka memberi salam, lalu meninggalkan lapangan, menyisakan Ivan bersama Faisal.

“Besok jadi lo balik ke Seattle?” tanya Ivan.

Read the rest of this entry »

Comments 10 Comments »

lihat bab sebelumnya di sini

baca kisah Di Tepi Sungai Ordelahr dari awal di sini

Angin berhembus kencang di sepanjang tepian Sungai Ordelahr, mendadak turun dari hutan lebat di sebelah barat ke arah lembah rendah di  timur. Vilnar memeluk erat tubuh mungil putranya. Di sampingnya Ailene mencoba bersembunyi di balik dua lapis mantel kulit yang paling tebal. Sekarang sudah satu bulan memasuki musim gugur dan angin memang akan bertiup semakin kencang dan sering di Hualeg.

Untuk saat ini, itu hanya berlangsung beberapa saat. Tak lama setelah angin reda Vilnar mengendurkan pelukannya. Ia tersenyum melihat putranya tertawa-tawa seolah tidak terpengaruh dengan angin dingin yang datang. Benar-benar bocah kecil yang kuat dan sehat. Seingat Vilnar sejak lahir putranya memang belum pernah mengalami sakit atau demam, termasuk ketika pindah ke Hualeg. Tubuhnya seperti dapat menyesuaikan diri dengan mudah dengan suhu Hualeg yang dingin.

Namun Ailene sedikit berbeda. Sejak tiba di Hualeg sekitar satu minggu yang lalu ia memang belum pernah sakit dan tidak pernah juga mengeluh, tapi Vilnar tahu bahwa istrinya itu tampak kurang nyaman dengan cuaca di Hualeg. Mungkin ia butuh adaptasi lebih lama.

Read the rest of this entry »

Comments 9 Comments »

Davagni : Agak sedikit pahit, dan hambar.
Nergal : Benarkah? Tidak cocok untuk lidah batumu?

Davagni *tertawa* : Masalahnya bukan di aku. Tetapi apa kau tidak malu tidak bisa berbuat lebih baik setelah belajar satu milenium? Atau, mungkin memang itu kutukanmu, tidak akan bisa membuat teh yang baik sampai kapan pun. Mungkin kau memang harus menerimanya, bahwa itu bukan bakatmu.
Nergal : Mungkin, tetapi kau tahu aku tidak akan berhenti mencoba.

Davagni : Baik, akan kutunggu. Kau mau mengundangku lagi di masa berikutnya?
Nergal : Kita memang harus selalu bertemu, bukan? Untuk menjaga tali persaudaraan, dan … tentu saja, bertukar informasi tentang pencapaian manusia berikutnya.

Davagni : Masih dengan ambisimu yang lama?
Nergal : Tugas, Davagni, tugas. Itulah kenapa aku ada. Membukakan pintu untuk mereka. Hei, kau sudah jalan?

Read the rest of this entry »

Comments 25 Comments »

038097lihat bab sebelumnya di sini

baca kisah Di Tepi Sungai Ordelahr dari awal di sini

“Nnn-nnn! Nnn-nnn!”

“Kau memanggilku, Anakku?”

Villam mencakar hidung Vilnar sambil tertawa-tawa, bahkan menarik pula cambangnya. Kedua kaki mungil bocah itu menendang-nendang leher dan telinganya. Tendangan yang hebat, kuat dan mantap.

Vilnar membiarkannya dan tersenyum lebar. Ia meletakkan dagunya di tepi tempat tidur, duduk santai di lantai kayu yang berselimut kulit tebal rusa jantan, kemudian memejamkan mata, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari selama lima bulan terakhir setiap kali ia menyambut putranya di pagi hari.

Jemari lembut Ailene membelai wajah Vilnar dari belakang, dan desah napas istrinya itu terasa pula di telinganya. Vilnar membiarkan Ailene menyentuh dan membelai seluruh tubuhnya. Ia kemudian teringat, istrinya itu baru saja melewatkan malam dingin pertamanya di Hualeg.

Vilnar membuka mata dan melirik. ”Lebih hangat sekarang?”

Read the rest of this entry »

Comments 18 Comments »

lihat bab sebelumnya di sini.

Radnar sang kepala suku tua diberkati kemampuan untuk menilai potensi atau bakat tersembunyi yang dimiliki seorang anak. Kemampuan itu sudah dipahami oleh setiap orang di Hualeg. Vilnar tak tahu apa yang dirasakan oleh ayahnya saat ia memegang putranya. Pastilah sesuatu yang sangat berbeda, karena selama hidupnya Radnar tak pernah menyebutkan kata ’istimewa’ jika ia sedang menilai seorang bocah.

Vilnar justru menjadi takut dan berharap orang lain tidak ada yang tahu, atau hal itu hanya akan mengundang bencana. Begitu semua orang tahu bahwa anaknya akan menjadi seorang yang istimewa, musuh-musuhnya pasti akan berusaha melenyapkannya. Vilnar sudah lama meninggalkan Hualeg, dan kini ia harus mempelajari dulu, siapa saja orang-orang yang masih bisa dipercayai dan siapa saja yang berpotensi untuk mencelakainya.

Read the rest of this entry »

Comments 10 Comments »