Archive for the “Cerita” Category

Pulang kampung?

Apa itu ‘pulang kampung’?

Dan apa yang harus ditulis untuk sebuah ‘pulang kampung’?

Tentu saja, ‘pulang kampung’ yang dimaksud pada kesempatan kali ini, di tempat ini, saat ini, adalah kembali ke Kemudian.com. Di sini, hampir lima tahun yang lampau saya mulai membangun lagi impian lama saya untuk menjadi seorang penulis; impian yang pernah terkubur selama lebih dari sepuluh tahun. Di tempat ini saya bertemu dengan banyak teman seperjuangan, sesama calon penulis dengan mimpi besar. Di sini kami semua belajar bersama, tak hanya untuk membuat cerita yang lebih baik, tapi juga untuk menjadi penulis yang (mudah-mudahan) lebih kokoh, yang tidak rontok oleh cacian maupun pujian.

Maka ketika ada tawaran untuk ikut serta dalam acara pulang kampung, dan bertemu lagi dengan banyak teman lama, saya pun menerimanya dengan senang hati. Kembali ke sebuah rumah lama tempat kita dulu memiliki banyak kenangan baik, siapa yang tidak mau?

Sayangnya, sampai kemarin, saya tetap tidak tahu apa yang harus ditulis untuk acara ini. Saya menulis ribuan kata setiap bulan; di NaNoWriMo bulan kemarin bahkan saya menulis seratus ribu kata. Tetapi apakah semua itu cukup pas untuk dimunculkan dalam sebuah ‘pulang kampung’? Bukankah seharusnya ada sesuatu yang berbeda, sebuah cerita yang punya kenangan lebih manis dibanding cerita-cerita lain yang pernah saya pajang di Kemudian.com? Apakah saya punya?

Read the rest of this entry »

Comments No Comments »

“Di sana, aku duduk di atas batu yang paling tinggi. Tempat tertinggi di seluruh dunia. Di bawah ada awan putih yang tebal bergumpal-gumpal. Halus, lembut. Aku bisa meraihnya dengan tanganku, aku bisa memainkannya dengan jemariku dan aku bisa meniupnya dengan mulutku. Awan kecil itu terbang, menjauhiku. Tetapi tak apa, karena aku bisa mengambil awan yang lain. Jadi kuambil lagi bergumpal-gumpal yang lain, dengan kedua tangan. Kali ini aku akan memeluknya erat-erat.”

- Yara (Anak-Anak Dunia Mangkok – Meraih Awan)

Comments No Comments »

untuk membaca bagian sebelumnya sila klik di sini.

untuk membaca kisah Vill dan Moon dari awal sila klik di sini.

Vill: Uh ….
Moon: Akhirnya, bangun juga?

Vill: …
Moon: Ini, aku sudah buatkan teh almunt.

Vill: … Moon?
Moon: Ya?

Vill: Kita ada di …
Moon: Penginapan Kuda Bongkok. Ternyata itu namanya! Lucu, ya? Baru kelihatan tadi pagi. Benar-benar aneh pemiliknya. Bagaimana orang bisa tahu kalau ini adalah penginapan, kalau tulisan di depannya susah dilihat?

Vill: …
Moon: Ya, tapi salah orang-orang juga, kenapa datang malam-malam. Salah kita. Mmm … salahmu sih, bukan salahku.

Read the rest of this entry »

Comments 11 Comments »

untuk membaca bagian sebelumnya sila klik di sini.

untuk membaca kisah Vill dan Moon dari awal sila klik di sini.


Vill: Grroookkkk
Moon: Hei, bangun.

Vill: Mmm …
Moon: Bangun.

Vill: Hmm?
Moon: Bangun!

Vill: …
Moon: Bangun, dan pergilah dari kandang kambingku!

Vill: …
Moon: …

Vill: Kandang kambingmu?
Moon: Ya, ini kandang kambingku, dan kau tidak boleh tidur di sini. Lihat, kasihan dia! Gara-gara kau, dia harus tidur di luar!

Read the rest of this entry »

Comments 8 Comments »

Cerita bagian kedua ini ditulis oleh rekan saya, dian k, untuk menyambung kisah Vill dan Moon sebelumnya yang bisa dibaca di sini.

Enjoy.

Vill: Hup.
Moon: …..

Vill: Hm? Kenapa?
Moon: …..

Vill: Ah, hahaha. Kau pasti ngambek! Maaf deh, maaf.
Moon: Dasar idiot, ke mana saja tadi?

Vill: Aku cuma sebentar kok…
Moon: Sebentar? DUA JAM kau bilang sebentar?!

Vill: Hehehe…
Moon: Urgh! Dasar kau idiot menyebalkan!

Read the rest of this entry »

Comments 5 Comments »

lihat bab sebelumnya di sini

baca kisah Di Tepi Sungai Ordelahr dari awal di sini

Desa suku Andranir terletak tak jauh dari muara Sungai Ordelahr. Desa paling utara di Hualeg, yang dapat dicapai dalam waktu dua hari jika menggunakan perahu dan empat hari kalau berjalan kaki, jika memang orang yang hendak pergi itu mau berusaha keras.

Vilnar tahu itu dan ia tak ingin membuang waktu. Ia berangkat saat malam dan sejak awal ia mendayung perahunya dengan kecepatan tinggi, mengikuti arus ke hilir, hanya berhenti untuk tidur di malam berikutnya. Sehingga saat lewat tengah hari di hari kedua ia sudah mendekati pemukiman suku Andranir. Di kejauhan tampak lautan utara yang gelap membiru dengan beberapa bongkah es raksasa mengapung di permukaannya.

Pemandangan yang menakjubkan, apalagi pada saat musim dingin tiba, ketika seluruh lautan berubah menjadi es. Ingin rasanya Vilnar memberikan pemandangan indah itu pada istrinya, tetapi ia tahu Ailene tak bakal tahan dengan suhunya yang dingin. Di tempat ini bahkan Vilnar pun harus menggunakan mantel bulu beruangnya yang paling tebal, yang cukup berguna juga untuk menutupi kapak perang yang tergantung di punggungnya.

Read the rest of this entry »

Comments No Comments »

Arena futsal empat lapangan itu sebentar lagi ditutup. Tinggal Faisal beserta teman-temannya pengunjung yang tersisa, dan tampaknya, dialah yang bakal menjadi orang terakhir yang meninggalkan tempat.

“Sal, pada mau cabut nih.” Seorang dari mereka, Ivan, menepuk bahunya. Semua yang lain sudah berdiri dengan tas tersampir di bahu.

“Okay. Thank you all, guys. Seneng bisa ketemu, dan maen lagi bareng kalian.” Faisal tersenyum lebar, menjabat tangan mereka satu per satu. Mereka memberi salam, lalu meninggalkan lapangan, menyisakan Ivan bersama Faisal.

“Besok jadi lo balik ke Seattle?” tanya Ivan.

Read the rest of this entry »

Comments 10 Comments »

lihat bab sebelumnya di sini

baca kisah Di Tepi Sungai Ordelahr dari awal di sini

Angin berhembus kencang di sepanjang tepian Sungai Ordelahr, mendadak turun dari hutan lebat di sebelah barat ke arah lembah rendah di  timur. Vilnar memeluk erat tubuh mungil putranya. Di sampingnya Ailene mencoba bersembunyi di balik dua lapis mantel kulit yang paling tebal. Sekarang sudah satu bulan memasuki musim gugur dan angin memang akan bertiup semakin kencang dan sering di Hualeg.

Untuk saat ini, itu hanya berlangsung beberapa saat. Tak lama setelah angin reda Vilnar mengendurkan pelukannya. Ia tersenyum melihat putranya tertawa-tawa seolah tidak terpengaruh dengan angin dingin yang datang. Benar-benar bocah kecil yang kuat dan sehat. Seingat Vilnar sejak lahir putranya memang belum pernah mengalami sakit atau demam, termasuk ketika pindah ke Hualeg. Tubuhnya seperti dapat menyesuaikan diri dengan mudah dengan suhu Hualeg yang dingin.

Namun Ailene sedikit berbeda. Sejak tiba di Hualeg sekitar satu minggu yang lalu ia memang belum pernah sakit dan tidak pernah juga mengeluh, tapi Vilnar tahu bahwa istrinya itu tampak kurang nyaman dengan cuaca di Hualeg. Mungkin ia butuh adaptasi lebih lama.

Read the rest of this entry »

Comments 9 Comments »

Davagni : Agak sedikit pahit, dan hambar.
Nergal : Benarkah? Tidak cocok untuk lidah batumu?

Davagni *tertawa* : Masalahnya bukan di aku. Tetapi apa kau tidak malu tidak bisa berbuat lebih baik setelah belajar satu milenium? Atau, mungkin memang itu kutukanmu, tidak akan bisa membuat teh yang baik sampai kapan pun. Mungkin kau memang harus menerimanya, bahwa itu bukan bakatmu.
Nergal : Mungkin, tetapi kau tahu aku tidak akan berhenti mencoba.

Davagni : Baik, akan kutunggu. Kau mau mengundangku lagi di masa berikutnya?
Nergal : Kita memang harus selalu bertemu, bukan? Untuk menjaga tali persaudaraan, dan … tentu saja, bertukar informasi tentang pencapaian manusia berikutnya.

Davagni : Masih dengan ambisimu yang lama?
Nergal : Tugas, Davagni, tugas. Itulah kenapa aku ada. Membukakan pintu untuk mereka. Hei, kau sudah jalan?

Read the rest of this entry »

Comments 25 Comments »

038097lihat bab sebelumnya di sini

baca kisah Di Tepi Sungai Ordelahr dari awal di sini

“Nnn-nnn! Nnn-nnn!”

“Kau memanggilku, Anakku?”

Villam mencakar hidung Vilnar sambil tertawa-tawa, bahkan menarik pula cambangnya. Kedua kaki mungil bocah itu menendang-nendang leher dan telinganya. Tendangan yang hebat, kuat dan mantap.

Vilnar membiarkannya dan tersenyum lebar. Ia meletakkan dagunya di tepi tempat tidur, duduk santai di lantai kayu yang berselimut kulit tebal rusa jantan, kemudian memejamkan mata, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari selama lima bulan terakhir setiap kali ia menyambut putranya di pagi hari.

Jemari lembut Ailene membelai wajah Vilnar dari belakang, dan desah napas istrinya itu terasa pula di telinganya. Vilnar membiarkan Ailene menyentuh dan membelai seluruh tubuhnya. Ia kemudian teringat, istrinya itu baru saja melewatkan malam dingin pertamanya di Hualeg.

Vilnar membuka mata dan melirik. ”Lebih hangat sekarang?”

Read the rest of this entry »

Comments 18 Comments »

lihat bab sebelumnya di sini.

Radnar sang kepala suku tua diberkati kemampuan untuk menilai potensi atau bakat tersembunyi yang dimiliki seorang anak. Kemampuan itu sudah dipahami oleh setiap orang di Hualeg. Vilnar tak tahu apa yang dirasakan oleh ayahnya saat ia memegang putranya. Pastilah sesuatu yang sangat berbeda, karena selama hidupnya Radnar tak pernah menyebutkan kata ’istimewa’ jika ia sedang menilai seorang bocah.

Vilnar justru menjadi takut dan berharap orang lain tidak ada yang tahu, atau hal itu hanya akan mengundang bencana. Begitu semua orang tahu bahwa anaknya akan menjadi seorang yang istimewa, musuh-musuhnya pasti akan berusaha melenyapkannya. Vilnar sudah lama meninggalkan Hualeg, dan kini ia harus mempelajari dulu, siapa saja orang-orang yang masih bisa dipercayai dan siapa saja yang berpotensi untuk mencelakainya.

Read the rest of this entry »

Comments 10 Comments »

lihat bab sebelumnya di sini.

Vilnar membawa istri dan anaknya mengarungi Sungai Ordelahr selama berhari-hari. Mereka menerobos hutan gelap melalui sungai berliku, yang untungnya, walaupun tampak menyeramkan dengan pohon-pohon besar dan dedaunan yang menjuntai, sebenarnya tidak banyak binatang buas yang berdiam di sana. Hanya beruang dan ular yang cukup berbahaya, yang lainnya hanyalah kucing hutan dan beberapa jenis kera. Selama binatang-binatang itu tidak merasa terganggu, mereka juga tidak akan menyerang.

Untuk berjaga-jaga, sepanjang perjalanan dua buah obor dinyalakan di depan dan belakang perahu, siang maupun malam, sebagai penerangan sekaligus pengusir binatang buas. Selain itu Vilnar juga tetap mendayung saat malam. Ia hanya beristirahat dan tidur saat siang, kala Ailene terjaga.

Read the rest of this entry »

Comments 4 Comments »

lihat bab sebelumnya di sini.

Saat musim semi Ailene melahirkan putranya di rumah Vilnar yang terpencil di salah satu anak sungai Ordelahr. Vilnar memberi nama putranya Villam, yang dalam bahasa Hualeg berarti ’batu bercahaya’—batu permata yang terkeras dan terindah—dengan harapan agar kelak ia bisa menjadi lelaki yang tangguh sekaligus menerangi setiap orang di sekitarnya. Nama Vilnar sendiri berarti ’batu hitam’, dan nyatanya batu bercahaya memang hanya bisa diasah dari batu hitam terbaik. Vilnar jelas menginginkan agar putranya kelak bisa menjadi lelaki yang lebih baik daripada dirinya.

Sekarang sudah empat tahun sejak Vilnar pergi dari desanya di Hualeg, dan ia telah menikmati kehidupan barunya sebagai seorang suami dan ayah. Walau kadang terbersit kerinduan akan kampung halamannya, semakin lama keinginannya untuk kembali semakin meredup. Jika teringat istri dan anaknya, ia tidak ingin lagi hidup sebagai seorang prajurit. Sejak menikah hampir tak pernah lagi ia menyentuh kapak perangnya. Senjata menakutkan itu kini sudah tersimpan di bawah selimut di dalam gudang rumahnya.

Read the rest of this entry »

Comments 4 Comments »

tinggi bener tuh pohonlihat bab sebelumnya di sini.

Hari masih jauh dari selesai. Malam masih lama dan Piri tahu, berkat pelajaran kecil tadi, akan ada sesuatu yang berbeda hari ini.

Anak-anak membubarkan diri lalu berlarian ke sana kemari sesuka hati, mencari buah-buahan yang mereka suka untuk makanan hari ini, dan bermain di tempat favorit masing-masing. Berkejaran di padang rumput, berenang di sungai, bermain bola di lumpur, atau berlompatan di kaki tebing. Dalam sekejap semuanya seolah melupakan dunia mangkok.

Tapi Piri yakin, di sela setiap permainan pasti sempat tercetus celetukan-celetukan kecil. Tak mungkin hal semenarik itu terlupakan begitu saja. Seperti itu jugalah yang terjadi ketika ia dan teman-temannya sedang bergelayutan di dahan pohon allumint.

Read the rest of this entry »

Comments 4 Comments »

image005lihat bab sebelumnya di sini.

Vilnar mendayung dengan kewaspadaan penuh. Ia bisa bergerak lebih cepat daripada siapapun di sungai, tapi justru karena itu ia harus berhati-hati pada kawanan Rohgar yang mungkin berkubu di suatu tempat. Rencana Vilnar adalah melewati Rohgar tanpa ketahuan, sekaligus sampai lebih cepat di desa berikutnya dan memperingatkan mereka dari ancaman Rohgar.

Namun sepanjang hari mereka tak menemukan tanda-tanda keberadaan Rohgar. Tidak juga desa lain, ataupun para penduduknya. Sepi, hanya ada burung-burung yang berkicau di pucuk-pucuk pepohonan jangkung yang berbaris di sisi kiri maupun kanan sungai. Barulah di hari kedua, perjalanan terasa lebih mendebarkan. Mereka mungkin akan bertemu Rohgar hari ini.

Read the rest of this entry »

Comments 4 Comments »

Detail of the Ishtar Gate at Babylon

Detail of the Ishtar Gate

The Fall of Babbulkund

by Lord Dunsany

Kataku, “Aku akan bangun sekarang dan melihat Babbulkund, Kota Keajaiban. Dia yang seumur dengan bumi, dengan bintang-bintang sebagai saudarinya. Pharaoh penakluk dari masa silam datang dari Arabia, melihatnya pertama kali sebagai gunung di tengah gurun, sebelum memotongnya menjadi menara-menara jangkung dan lapangan-lapangan luas. Mereka menghancurkan bukit Tuhan, tapi mereka membuat Babbulkund. Read the rest of this entry »

Comments 4 Comments »

stones_ruby”Dum … du dudum dum …”

Senandung merdu itu terdengar lagi.

Kali ini benar-benar membuat Aran menghentikan hantaman martilnya di dinding batu. Senandung seorang gadis merdu mendayu-dayu di telinganya, menggelitik hatinya, membuat jantungnya berdebar kencang. Awalnya pemuda itu merasa takut–ia punya semua alasan untuk takut–begitu mendengar suara yang muncul entah dari mana itu. Namun akhirnya keingintahuan mengalahkan rasa takutnya.

Read the rest of this entry »

Comments 10 Comments »

mount9Api masih berkobar membakar reruntuhan setiap rumah yang kini telah menghitam. Mayat-mayat manusia bergelimpangan di atas rumput, batu dan pasir di tepi Sungai Ordelahr.

Ini adalah desa kedua yang dilewati Vilnar siang ini, dan sama seperti yang pertama, tak ada lagi kehidupan yang tersisa di sana.

Read the rest of this entry »

Comments 6 Comments »

bloodKalian tentu tahu, bulan penuh menjelang akhir tahun adalah saat yang paling ditunggu oleh raja. Inilah saatnya berpesta. Pesta khusus sebagai penghargaan untuk kalian, yang tentu saja harus lebih akbar dibanding pesta untuk para bangsawan pada sebelas purnama sebelumnya, apalagi jika disandingkan dengan pesta keluarga kerajaan yang diselenggarakan setiap awal bulan. Dan jika kalian tetap saja mengira pesta yang aku sebutkan terakhir itu hanyalah sebuah pesta kecil, sehingga pesta yang akan kalian datangi nanti pun hanya pesta biasa, maka biar aku katakan di sini: jumlah mereka yang hadir di pesta keluarga kerajaan terakhir mencapai lima ratus orang!

Read the rest of this entry »

Comments 11 Comments »

padang-rumputZahra tak pernah mengira kalau Reno, tokoh khayalannya sendiri, ternyata menginginkan kematiannya. Ia berusaha lari dari pria itu, tetapi sia-sia. Sampai suatu saat ia masuk ke Somniterra, dan belajar bahwa satu-satunya cara mempertahankan hidupnya adalah dengan melawan. Masalahnya, untuk mengalahkan Reno, ia harus menghadapi dirinya sendiri.

Read the rest of this entry »

Comments 37 Comments »