Di samping ini adalah gambar (sebagian) peta dunia kisah The Forgotten Heroes, yang baru saja selesai digores langsung di komputer melalui software Corel Draw 11. Memang masih sangat sederhana, tapi sementara ini cukuplah untuk disisipkan ke hardcopy Buku Satu yang akan coba saya lempar lagi ke penerbit awal tahun depan.
Dengan peta ini semoga para pembaca bisa lebih membayangkan dimana Elniri, negeri asal sang penakluk. Lalu negeri Terran, Melbrond, Haston, dan Maltan. Juga tempat Fabien membangun desanya di utara, letak Kuil Ksatria di Gunung Hohn, dan tanah para penyihir di Lembah Heiszl.
Tapi memang, peta ini belum mencakup lebih jauh lagi ke utara (tempat asal muasal Vilnar dan William), dan jauh ke barat, ke tanah mistis tempat berkeliaran hewan-hewan mitologi, dan juga tempat perang dunia yang sesungguhnya, yang nanti bakal diceritakan di buku-buku selanjutnya.
23 Comments »

Aku tak akan bercerita tentang tiga belas tahun pertama kehidupanku yang indah di Belen, atau tiga tahun berikutnya yang gelap—dalam arti kiasan maupun sebenarnya—di tambang batu mulia Narttal. Ceritaku dimulai sepuluh hari setelah aku dipajang di pasar budak Ainthala, kota kecil di perbatasan negeri Madhirian. Ketika aku mendapatkan namaku yang baru.
Read the rest of this entry »
14 Comments »
Namaku Satryo, seorang polisi—sementara ini sebut saja begitu—dan aku harus menginterogasi seorang bocah pagi ini. Seorang gadis berusia tiga belas tahun bernama Tiara. Penyebabnya: ia tiba-tiba meracau di kelasnya kemarin sore. Gadis itu berteriak, “Pak Presiden akan mati ditembak besok malam!”
Terkejut, sudah pasti itulah reaksi pertama guru dan teman-temannya, karena saat itu suasana kelas tengah hening; seluruh siswa sedang sibuk mengerjakan tugas mereka: esai sepanjang satu halaman dengan topik ‘Indonesia 2045: 100 Tahun Setelah Kemerdekaan’. Rencananya, esai yang terbagus nantinya akan dikirim ke Istana Kepresidenan, dan bakal dibacakan langsung oleh Pak Presiden, pada acara khusus malam hari tanggal 16 Agustus 2045.
Malam nanti.
Kalau bocah itu benar, Pak Presiden akan mati malam nanti.
Read the rest of this entry »
7 Comments »
Dunia itu seperti mangkok kayu yang biasa kita pakai untuk makan dan minum. Mereka yang tinggal di lembah seperti hidup di dasarnya, dan deretan pegunungan batu yang mengelilingi lembah adalah dindingnya.”
Itulah pelajaran pertama dari Kakek hari ini, dan anak-anak langsung terpana, sebelum kemudian berebutan bertanya, berteriak-teriak seperti biasa. Tapi bukannya menjawab, Kakek malah tertawa. Ia memang selalu lebih suka melihat mereka bertingkah penuh semangat daripada hanya berdiam diri tanpa kata.
Jadi ia membiarkan mereka, sebelum berkata, “Akan Kakek jelaskan sedikit, Anak-anak, dan setelah itu kalian boleh bertanya.”
Read the rest of this entry »
12 Comments »
Vill : WATAAA!!!
Moon : KYAAA!!!
Vill : Hehehehehe.
Moon : …
Vill : Selamat pagi!
Moon : …
Vill : Hahaha! Wajahmu itu. Haha—
Moon : Diam! Kau terlambat.
Vill : Aku?
Moon : Ya! Kau yang mengajak bertemu di sini, tapi kau sendiri yang terlambat!
Vill : Ah, kau yakin aku terlambat?
Moon : Apa aku yakin?! Demi Tuhan!
Read the rest of this entry »
15 Comments »