Archive for the “Cerita” Category
lihat bab sebelumnya di sini.
Saat musim semi Ailene melahirkan putranya di rumah Vilnar yang terpencil di salah satu anak sungai Ordelahr. Vilnar memberi nama putranya Villam, yang dalam bahasa Hualeg berarti ’batu bercahaya’—batu permata yang terkeras dan terindah—dengan harapan agar kelak ia bisa menjadi lelaki yang tangguh sekaligus menerangi setiap orang di sekitarnya. Nama Vilnar sendiri berarti ’batu hitam’, dan nyatanya batu bercahaya memang hanya bisa diasah dari batu hitam terbaik. Vilnar jelas menginginkan agar putranya kelak bisa menjadi lelaki yang lebih baik daripada dirinya.
Sekarang sudah empat tahun sejak Vilnar pergi dari desanya di Hualeg, dan ia telah menikmati kehidupan barunya sebagai seorang suami dan ayah. Walau kadang terbersit kerinduan akan kampung halamannya, semakin lama keinginannya untuk kembali semakin meredup. Jika teringat istri dan anaknya, ia tidak ingin lagi hidup sebagai seorang prajurit. Sejak menikah hampir tak pernah lagi ia menyentuh kapak perangnya. Senjata menakutkan itu kini sudah tersimpan di bawah selimut di dalam gudang rumahnya.
Read the rest of this entry »
4 Comments »
lihat bab sebelumnya di sini.
Hari masih jauh dari selesai. Malam masih lama dan Piri tahu, berkat pelajaran kecil tadi, akan ada sesuatu yang berbeda hari ini.
Anak-anak membubarkan diri lalu berlarian ke sana kemari sesuka hati, mencari buah-buahan yang mereka suka untuk makanan hari ini, dan bermain di tempat favorit masing-masing. Berkejaran di padang rumput, berenang di sungai, bermain bola di lumpur, atau berlompatan di kaki tebing. Dalam sekejap semuanya seolah melupakan dunia mangkok.
Tapi Piri yakin, di sela setiap permainan pasti sempat tercetus celetukan-celetukan kecil. Tak mungkin hal semenarik itu terlupakan begitu saja. Seperti itu jugalah yang terjadi ketika ia dan teman-temannya sedang bergelayutan di dahan pohon allumint.
Read the rest of this entry »
4 Comments »
lihat bab sebelumnya di sini.
Vilnar mendayung dengan kewaspadaan penuh. Ia bisa bergerak lebih cepat daripada siapapun di sungai, tapi justru karena itu ia harus berhati-hati pada kawanan Rohgar yang mungkin berkubu di suatu tempat. Rencana Vilnar adalah melewati Rohgar tanpa ketahuan, sekaligus sampai lebih cepat di desa berikutnya dan memperingatkan mereka dari ancaman Rohgar.
Namun sepanjang hari mereka tak menemukan tanda-tanda keberadaan Rohgar. Tidak juga desa lain, ataupun para penduduknya. Sepi, hanya ada burung-burung yang berkicau di pucuk-pucuk pepohonan jangkung yang berbaris di sisi kiri maupun kanan sungai. Barulah di hari kedua, perjalanan terasa lebih mendebarkan. Mereka mungkin akan bertemu Rohgar hari ini.
Read the rest of this entry »
4 Comments »
 Detail of the Ishtar Gate
The Fall of Babbulkund
by Lord Dunsany
Kataku, “Aku akan bangun sekarang dan melihat Babbulkund, Kota Keajaiban. Dia yang seumur dengan bumi, dengan bintang-bintang sebagai saudarinya. Pharaoh penakluk dari masa silam datang dari Arabia, melihatnya pertama kali sebagai gunung di tengah gurun, sebelum memotongnya menjadi menara-menara jangkung dan lapangan-lapangan luas. Mereka menghancurkan bukit Tuhan, tapi mereka membuat Babbulkund. Read the rest of this entry »
4 Comments »
”Dum … du dudum dum …”
Senandung merdu itu terdengar lagi.
Kali ini benar-benar membuat Aran menghentikan hantaman martilnya di dinding batu. Senandung seorang gadis merdu mendayu-dayu di telinganya, menggelitik hatinya, membuat jantungnya berdebar kencang. Awalnya pemuda itu merasa takut–ia punya semua alasan untuk takut–begitu mendengar suara yang muncul entah dari mana itu. Namun akhirnya keingintahuan mengalahkan rasa takutnya.
Read the rest of this entry »
10 Comments »
Api masih berkobar membakar reruntuhan setiap rumah yang kini telah menghitam. Mayat-mayat manusia bergelimpangan di atas rumput, batu dan pasir di tepi Sungai Ordelahr.
Ini adalah desa kedua yang dilewati Vilnar siang ini, dan sama seperti yang pertama, tak ada lagi kehidupan yang tersisa di sana.
Read the rest of this entry »
6 Comments »
Kalian tentu tahu, bulan penuh menjelang akhir tahun adalah saat yang paling ditunggu oleh raja. Inilah saatnya berpesta. Pesta khusus sebagai penghargaan untuk kalian, yang tentu saja harus lebih akbar dibanding pesta untuk para bangsawan pada sebelas purnama sebelumnya, apalagi jika disandingkan dengan pesta keluarga kerajaan yang diselenggarakan setiap awal bulan. Dan jika kalian tetap saja mengira pesta yang aku sebutkan terakhir itu hanyalah sebuah pesta kecil, sehingga pesta yang akan kalian datangi nanti pun hanya pesta biasa, maka biar aku katakan di sini: jumlah mereka yang hadir di pesta keluarga kerajaan terakhir mencapai lima ratus orang!
Read the rest of this entry »
11 Comments »
Zahra tak pernah mengira kalau Reno, tokoh khayalannya sendiri, ternyata menginginkan kematiannya. Ia berusaha lari dari pria itu, tetapi sia-sia. Sampai suatu saat ia masuk ke Somniterra, dan belajar bahwa satu-satunya cara mempertahankan hidupnya adalah dengan melawan. Masalahnya, untuk mengalahkan Reno, ia harus menghadapi dirinya sendiri.
Read the rest of this entry »
35 Comments »
Di samping ini adalah gambar (sebagian) peta dunia kisah The Forgotten Heroes, yang baru saja selesai digores langsung di komputer melalui software Corel Draw 11. Memang masih sangat sederhana, tapi sementara ini cukuplah untuk disisipkan ke hardcopy Buku Satu yang akan coba saya lempar lagi ke penerbit awal tahun depan.
Dengan peta ini semoga para pembaca bisa lebih membayangkan dimana Elniri, negeri asal sang penakluk. Lalu negeri Terran, Melbrond, Haston, dan Maltan. Juga tempat Fabien membangun desanya di utara, letak Kuil Ksatria di Gunung Hohn, dan tanah para penyihir di Lembah Heiszl.
Tapi memang, peta ini belum mencakup lebih jauh lagi ke utara (tempat asal muasal Vilnar dan William), dan jauh ke barat, ke tanah mistis tempat berkeliaran hewan-hewan mitologi, dan juga tempat perang dunia yang sesungguhnya, yang nanti bakal diceritakan di buku-buku selanjutnya.
23 Comments »

Aku tak akan bercerita tentang tiga belas tahun pertama kehidupanku yang indah di Belen, atau tiga tahun berikutnya yang gelap—dalam arti kiasan maupun sebenarnya—di tambang batu mulia Narttal. Ceritaku dimulai sepuluh hari setelah aku dipajang di pasar budak Ainthala, kota kecil di perbatasan negeri Madhirian. Ketika aku mendapatkan namaku yang baru.
Read the rest of this entry »
14 Comments »
Namaku Satryo, seorang polisi—sementara ini sebut saja begitu—dan aku harus menginterogasi seorang bocah pagi ini. Seorang gadis berusia tiga belas tahun bernama Tiara. Penyebabnya: ia tiba-tiba meracau di kelasnya kemarin sore. Gadis itu berteriak, “Pak Presiden akan mati ditembak besok malam!”
Terkejut, sudah pasti itulah reaksi pertama guru dan teman-temannya, karena saat itu suasana kelas tengah hening; seluruh siswa sedang sibuk mengerjakan tugas mereka: esai sepanjang satu halaman dengan topik ‘Indonesia 2045: 100 Tahun Setelah Kemerdekaan’. Rencananya, esai yang terbagus nantinya akan dikirim ke Istana Kepresidenan, dan bakal dibacakan langsung oleh Pak Presiden, pada acara khusus malam hari tanggal 16 Agustus 2045.
Malam nanti.
Kalau bocah itu benar, Pak Presiden akan mati malam nanti.
Read the rest of this entry »
7 Comments »
Dunia itu seperti mangkok kayu yang biasa kita pakai untuk makan dan minum. Mereka yang tinggal di lembah seperti hidup di dasarnya, dan deretan pegunungan batu yang mengelilingi lembah adalah dindingnya.”
Itulah pelajaran pertama dari Kakek hari ini, dan anak-anak langsung terpana, sebelum kemudian berebutan bertanya, berteriak-teriak seperti biasa. Tapi bukannya menjawab, Kakek malah tertawa. Ia memang selalu lebih suka melihat mereka bertingkah penuh semangat daripada hanya berdiam diri tanpa kata.
Jadi ia membiarkan mereka, sebelum berkata, “Akan Kakek jelaskan sedikit, Anak-anak, dan setelah itu kalian boleh bertanya.”
Read the rest of this entry »
12 Comments »
|