Archive for the “Dokumentasi” Category

[tab:Hal 1]Sesi XXIX (10 Ags 2008 – 20 Ags 2008)
• Tentang koleksi novel-novel fantasi lokal
• Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh BloodSin
• Definisi kisah Fantasi
• Tentang waktu tampil novel fantasi lokal di toko-toko buku

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on August 10, 2008, 11:05:06 pm
________________________________________
Quote
Rey, member2 lama (yg gw gak kenal) koq gak muncul2 lagi ya?
Diajak maen2 lagi ke sini dong biar bisa kenalan juga sama member2 baru yang keren2 ini!
Kebanyakan keknya udah pada ‘mokad’ deh as writer.

Kayak Midnight Sun (di vgi nicknya Nataku Yue), ini member cewek yang luar biasa jago dan wise, loe bayangin deh sosok om pur, tapi buang atribut: ‘batangan’, jadul, dan sotoynya heuheuheu ;D, replace dengan atribut: cewek umur 20an, open-minded, berpikiran luas, tapi rada cold-blooded juga sih -_-”
Postingan-postingannya enak dibaca, subjektif, mencerahkan kalbu (halah! ;D), dan berbobot [thumbsup]
Beliau kayaknya telah disibukkan dengan pekerjaan, soalnya ngilang pas dia baru aja lulus kuliah dan masuk kerja :(

Kalo Excel, La Mer, Whiteheaven, ngilang pas peralihan FFDN II ke FFDN III, kayaknya pada males register ulang bikin id baru deh :D

Kalo si Lich, pernah nongol kan di sini? Dia jugak termasuk yg posting di halaman pertama thread FFDN I, wuah udah lama sekali ituh

oke, gw ada:
1. Janos–Legend of Arctic Empire, tipe ‘sci-fi’–tanda kutip di sini merepresentasikan banyak hal ;D (Hadiyanto, kalo belum dicopot sekarang beliau ini masih kepala asslab binus lho [thumbsup])
2. Nightfall–The Element Location, tipe RPN (Rizky YS, jebolan Trisakti)
3. Numeric Uno–Legenda Sang Cahaya Zeta, tipe petualangan luar angkasa, mirip hozzoh (DewiS)
4. Ledgard–Musuh dari Balik Kabut, tipe RPN-kolosal (WD Yoga)
5. Negara Kelima, novel sejarah (Es Ito)

Pinissi (Mama Piyo) sebenernya termasuk buku yang mau gw ‘buang’ jugak, tapi gw cinta mati ama gambar-gambar ilustrasinya. Jadi I’ll keep it. :)

Kalo Cardan, walau jumlah halamannya masih utuh, dan bisa dibilang gw benci mati karena gak ada satupun aspek yg positif dari buku ini (selain kovernya :P ), kayaknya gw gak cukup ati buat ngebarter, secara bukunya udah compang-camping, halamannya pada copot (kualitas jilidnya jelek banged!)

gw berminat dengan:
1. Phoenix–Mahkota dalam Negeri Azura
2. Corruption
3. Reinhart
4. Cincin Oleodeo
6. Para Penunggang Petir
7. dan fantasi-fantasi lokal lain dengan setting non-lokal, dan bukan semi teenlit >_<

sebenernya ada dua judul lagi yg gw penasaran & ngebet banget pengen baca, tapi gak enak hati ama pengarang-pengarangnya yang suka nongol disini heuhueheuheu ;D
well, kalo ada yang minat.. ^-^

________________________________________
Post by: fr3d on August 11, 2008, 09:30:44 am
________________________________________
Sang Penandai dibarter (baca: jual murah) aja tuh ke om pur atau si piet! [rolleyes]
Btw, phoenix dan corruption yang gw pernah baca itu punya co-author gw, rey.
Dia sih gak mungkin ngebarter corruption (buku ini kayaknya masih dijual loh di beberapa toko buku gramedia, tapi kudu rajin nyarinya, soalnya ditaruhnya ngasal, kadang di fiksi lokal, kadang di fiksi asing, atau malah di buku impor :D ).
Nah, kalo phoenix, ntar gw coba tanyain deh. Dia kayaknya rela2 aja tuh ngebuang jauh2 buku itu… Wkwkwk! ;D

________________________________________
Post by: BloodSin on August 11, 2008, 09:55:12 am
________________________________________
Yang jelas, buku-buku lokal yg mau gw simpen ampe akhir hayat itu:
goran, sang penandai, hozzo, narend ama zauri [biggrin]
yodah kapan-kapan kalo ada gathering, tinggal dibarter lha tuh phoenix-nya [biggrin]

[tab::Hal 3]________________________________________
Post by: clickdian on August 15, 2008, 03:33:48 pm
________________________________________
Guys, ada buku baru nih, Magician Guild. Harganya skitar 70-an, naga2nya sih bagus :D
Ada yg udah pernah denger? Kyknya isinya pure fantasy.

________________________________________
Post by: fr3d on August 15, 2008, 03:48:09 pm
________________________________________
Magician Guild itu novel lokal atau terjemahan, mba dian?

________________________________________
Post by: rd_Villam on August 15, 2008, 05:10:45 pm
________________________________________
kayaknya terjemahan tuh.
gue belon liat sih, udah lama gak ke gramedia.
belakangan rada depresi kalo ke toko buku soalnya. sebegitu banyak buku, gak ada satupun tulisan gue. ;D ;D ;D

________________________________________
Post by: fr3d on August 15, 2008, 05:15:28 pm
________________________________________
Rasanya kepengen banget nyalain korek, trus dilempar deh ke salah satu tumpukan! 8)
Apalagi kalau ngerasa buku2 lain lebih jelek daripada buku kita, ya nggak, villam? ^-^
;D ;D ;D

________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 10:42:15 am
________________________________________
Hmm… kalau Supernova dan komik Tony Wong ada yang menganggap fantasi, jadi sekarang definisi karya fantasi sebenernya apa dong? ???

________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 11:41:06 am
________________________________________
Villam, semalam gw baru beres baca TFH loe, itu terhitung dari tiga hari terakhir ini gw fokus ngabisin TFH heuheu [biggrin]

Dan inilah komen resmi gw (gw akan menyamarkan bbrp poin supaya gak jadi spoiler tapi masih bisa ditangkep lu :D ):

Pertama-tama, lemme nyembah-nyembah you dulu (haduh, kok browser gw gak bisa buka page icon yak, sialllll [hammer])
Thanks a lot karena lu udah mengijinkan gw baca masterpiece lu, heheh.

Secara keseluruhan, tulisan lu, walaupun gak secanggih si Ewing, gak secakep sang Penandai, dan gak sememikat tulisan si Hege, tetap masih punya pesona tersendiri di mata gw, mungkin karena kesahajaannya. Lu gak terlalu berpusing-pusing mikiran metafora keren buat ditarok dalam tulisan, lu cuma fokus ingin menyampaikan cerita ke pembaca sebaik mungkin dengan bahasa yang jelas dan enak, dan itu bisa dibilang berhasil. Dan dari karya lu gw bisa belajar, kalo ternyata karya fantasi pun bisa dibuat elegan dengan gaya bahasa ‘biasa’. Salud.

Kedua, This is it! Kayak beginilah sebuah karya baru layak disebut kolosal! Kavaleri Elniri, konsep ‘pasukan perintis’, yel-yel perang yang keren, buah tuluk, dan lain-lainnya, buat gw elu udah berhasil menunjukkan wawasan kolosal yang mumpuni, terutama tentang aspek-aspek perang (ada seni diplomasi, penaklukan, strategi pemenuhan pangan, ect). Keren. Lu juga udah berhasil mendeskripsikan keperkasaan Antharavai dengan wajar, gak berlebihan. Setiap adegan kemenangan, penyergapan, perang, sudah tergambarkan dengan wajar. Masalah belasan bisa mengalahkan ratusan seperti yg dibilang om pur, itu gak terlalu fatal, masih bisa dimaklumi mengingat yg terjadi disitu adalah penyergapan, dan oleh pendekar-pendekar terkuat pula.

Gw suka tiap kali ada orang mati, elu menyebutkan umurnya. Itu kolosal banged heuheu, tapi ada satu karakter penting yg gak lu sebut umur koidnya tuh.. ???

Gw menemukan ada dua tema dominan di TFH: kolosal & romance.

Kalo menurut gw kekuatan utama TFH itu ada di romance alih-alih kolosal, secara elu belum menyajikan sesuatu yang benar-benar ‘brilian’ buat tema kolosalnya. Namun begitu, TFH menjadi buku pertama yang berhasil ngebikin mata gw berkaca-kaca merasa terharu, getir, & sedih, sebelumnya belum pernah ada buku yg ampe segitunya. Banyak orang nangis baca LasPeng & AAC, gw sih masih biasa-biasa aja, karena buat gw tema struggle/romance di kedua karya itu masih terhitung standar, atau malah picis (khusus romance AAc huehue). Tapi untuk TFH, gw takluk seutuhnya :-[ gila keren banged!

Ini di luar kebiasaan gw, biasanya sebanter-banternya buku maenin emosi gw itu gw cuma sampe sebatas ngakak gila aja, gak pernah sampe bikin terharu/mata berkaca-kaca. Ini luar biasa.

TFH gw masukin ke jajaran novel fantasi terbaik yg pernah gw baca, entah itu novel lokal atau luar. Ketebelan bukunya dan penggarapan selama bertahun-tahun sama sekali gak sia-sia. Oh yap, buku ini pun menjadi yang terbaik dari segi plotting, untuk ukuran fantasi lokal yg pernah kubaca, well-done :)

Sekarang, kita masuk ke pertanyaan dan pernyataan gw untuk bbrp hal:

1. Haston, ini kan nama orang (seorang jenderal). Gw agak bingung dengan 'negeri' ini, kok lu gak ngasih nama buat wilayahnya? Di bukunya lu Cuma nyebut wilayah/negeri Haston, well ini gak gitu jadi masalah sih..

2. Tentang adegan final protagonis utama ngelawan antagonis utama, gw rada kurang puas dengan cara elu mengeksekusi adegan itu buat muncul. Terlalu biasa, padahal bisa dibuat lebih dramatis lagi. Kalo gw yg bikin
TFH, gw akan menceritakan si protagonis membangun Tirevr dan menempatinya sedemikian lama, sampe akhirnya keberadaannya diendus oleh si antagonis yg (ceritanya) sedang mengadakan suatu ekspedisi perjalanan menuju suatu tempat yg gak jauh dari Tirevr. Nah di situ si antagonis seperti biasa, menantang seseorang dari desa untuk duel one by one, dan keluarlah si protagonis dengan gagah berani dalam rangka membela desanya heuheu. Jadi effort si protagonis buat melawan si antagonis akan kerasa lebih mengesankan, karena disitu ia melindungi orang-orang yg
dicintainya, terutama Amelia. Well, itu versi imajinasi gw sih :P

3. Naming! Fabian is way too pretty for a warrior name. Serge dan Helmut, itu dua nama super-keren buat ukuran pendekar, bahkan mengalahkan image Kain dan Seth gw heuheu. Gw langsung bisa membayangkan keperkasaan mereka sekali denger namanya. Tapi Fabian? Agak-agak gimanaaa gitu, apalagi dalam bukunya lu bikin dia sebagai penerus Serge dan Helmut, dan sekaligus sebagai si 'penantang' antagonis utama. Tak bisakah mencari nama lain yg berkesan lebih jantan dan perkasa? ^-^

4. Peta, ini mutlak kudu ada kalo bukunya terbit. Lu udah bikin kan? Gw pusing nyimak strategi Anthravai & Thorsti di bab 24, tapi untung strategi itu pada akhirnya mubazir, heuheu :D
(eniwei, daripada Serge dan Helmut, gw lebih suka Anthravai & Thorsti)

5. Ada beberapa kalimat yang salah/kurang kata tuh... tapi ini kayaknya udah dikoreksi si Fred kan?

6. Kritik utama: masalah pendeksripsian adegan perang yg berulang-ulang sama, yg dulu gw nyatakan terlalu standar karena cuma ngomongin jumlah pasukan dan emosi sang pemimpin pasukan, ternyata ke belakangnya masih
tetap begitu heuheu. Waktu awal-awal baca gw liat daftar isi ada judul bab kayak 'Perangkap Helmut', gw udah ngebayangin bakal seru banged tuh disitu, pasti ada strategi perang keren khas villam, eh tauknya itu pun masih strategi standar-_-"
Tapi oke lha, setelah baca keseluruhan buku, adegan-adegan standar ini tertolong dengan plottingnya yang terencana sangat matang, sehingga naskah ini menjadi sama sekali tidak membosankan. Ada banyak adegan mengharukan dan mengesankan dalam naskah ini, kayak 'Bunga di Atas Perahu', 'Kenangan Terakhir', 'Quazar dan Ksatria', dan subplot-subplot menarik kayak Kuil Ksatria, pembangunan desa Tirevr. Gw nyembah-nyembah salut dah, sekali lagi.

Adegan Fabian pertama kali yang jaman dulu gw bilang membosankan, sekarang udah lu modif jadi menarik, salut itu ide Bunga di Atas Perahu-nya, bener-bener mengesankan heuheu.

Beres baca TFH, gw percaya naskah ini akan (harus!) terbit suatu saat nanti, bagaimanapun dan apapun caranya [biggrin]

Gw malah jadi gregetan dengan selera penerbit sini, mereka terus berkoar-koar belum ada dan gak bakalan pernah ada naskah sini yang setara LOTR, atau tentang keburukan/kepayahan penulis lokal yang cenderung mengadopsi setting luar bukannya milih setting lokal, namun ketika ada naskah anak bangsa yang kualitasnya sedikit-banyak mengimbangi panutan mereka–LOTR (TFH, dengan segala kelebihannya, gw berani bilang setara dengan buku pertama LOTR), dengan tololnya mereka menolak naskah itu dengan penilaian dangkal mereka, dan malah
menerbitkan naskah-naskah sampah yang gak layak baca. Gw udah baca 2 naskah kolosal ‘pilihan’ para penerbit sini yang ‘konon’ mirip LOTR, tapi apa yang gw dapat? Membosankan dan bikin ilpil. Sial, apakah standar dan selera gw sedemikian spesifiknya di sini sampe-sampe cuma gw sebagai pembaca yg ngerasa gregetan ginih TFH gak diapprove penerbit, sementara Ledgard yang ke-kolosal-annya konyol begitu bisa terbit dan sampe diagungkan oleh banyak pembacanya? ???

Ini bener-bener suatu kesalahan, sangat salah dan sangat bodoh. Menyedihkan [ranting]

Dari sini gw jadi sepakat dengan omongan si Jeff dulu, Tolkien, kalo idup di indonesia dan mengirimkan LOTR-nya hari gini ke penerbit sini, bisa jadi gak bakalan pernah terbit, boro-boro meledak. ;D

Masih pantas lha kalo mereka menolak naskah gw yg emang punya segudang cacat, tapi TFH? Ini ketololan yg tak bisa dimaafkan, dan kayaknya Cuma elu sendiri yang bisa menghadapinya, bro. Kalau memang udah gak ada
jalan buat TFH, self publishing patut dicoba, setidaknya lu udah punya nama di k.com & pulpen, tinggal merambah ke komunitas-komunitas penulis lainnya aja buat promosi. Tapi ketebelan naskah juga bakal jadi kendala utama, sih.

Gw terkesan dengan effort lu dalam menggarap TFH ini selama bertahun-tahun (yg hasilnya–yaitu versi yg gw baca–bener-bener worthed), silakan gunakan thread ini untuk promosi kalau nanti diterbitkan, dan jangan ragu buat minta bantuan dari gw ke depannya nanti, selama gw bisa membantu, i’ll be here to support you always, villam my good friend ^-^

Salam Pedang!

Note: TFH kalo di word, dengan patokan jenis huruf news roman spasi 1,5 ukuran 12, itu brp halaman sih? Jangan jawab pake jumlah kata pliss, itu sama sekali tidak menunjukkan jawaban jelas >_<

________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 12:02:30 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 11:41:06 am

Gw terkesan dengan effort lu dalam menggarap TFH ini selama bertahun-tahun (yg hasilnya–yaitu versi yg gw baca–bener-bener worthed)

Kalau gw, terkesan dengan effort rey dalam menggarap review-nya TFH selama berjam-jam (yg hasilnya–yaitu versi yg dikirim ke tret–bener-bener rapi & jelas kalimat maupun idenya).
Wkwkwk! Peace ya, bro! ;D
Salam pedang juga, ah! 8)

[tab::Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 12:48:28 pm
________________________________________
Gw bikin repiu itu cepet kok fred, secara gw nulisnya dalam keadaan bersemangat abis baca novelnya heuheu..
Kalo menurut lu, Ledgard ama TFH bagusan mana?
Kalo kudu dikasi nilai dari skala 1-10, ledgard brp TFH brp? [biggrin]

________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 01:08:28 pm
________________________________________
Susaaah… :-\
Ledgard, meski banyak kelemahannya, buat gw ada keunggulannya pula. TFH juga gitu.
Kalau secara overall (seluruh aspek novel), kayaknya emang TFH nilainya lebih baik.
Tapi, secara aspek komersil (“menjual”), Ledgard yang menang.
Harus minta pendapat orang ketiga (om pur) nih. ;D

________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 01:15:12 pm
________________________________________
iyahhh setuju, kemasan Ledgard memang jauh lebih komersil daripada TFH, dan ini yg bikin gw sebel.
Kualitas harus selalu dikorbankan dan kalah dengan komersialitas (eh emang ada kata ini :D ).
Itulah kenapa hari gini sinetron indo kian menjamur, dan serial barat jadi makin sedikit tayang di indo :-\

________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 01:21:47 pm
________________________________________
Kalau gw boleh menduga-duga (ya boleh lah!), TFH belum dapat penerbit karena sisi komersialitasnya itu.
Buat para penerbit, ada sesuatu di TFH yang membuat novel itu gak bakalan laku kalau dilempar ke pasar.
Apaan tuh?
Kalau komen gw ke villam sih, itu dari segi plotnya. Plot TFH terlalu lurus dan kurang intrik.
Kalau villam berani ngasih twist sedikit aja (khususnya di bagian2 ending), pasti nilainya langsung berubah. [bigwink]

________________________________________
Post by: rd_Villam on August 19, 2008, 01:47:29 pm
________________________________________
heheheh…
akhirnya lengkap juga tiga orang dah ngasih repiew TFH. (sebenarnya ada satu orang lagi nih yang udah dikasih draftnya: si serpentwitch. Sayang dia dah gak pernah nongol lagi :-( .
dan ada juga satu orang lagi sebenarnya…
but eniwei, om pur, fred, dan rey, thank you very much!
gue udah catet semua masukan-masukannya. ide-ide baru udah menari-nari di kepala, dan dalam waktu dekat bakal gue mulai proses revisi berikutnya. bakal ada penambahan dan perubahan muatan sebanyak kira2 20%.

seperti usulan fred contohnya, gue emang mau kasih beberapa twist tambahan di tengah dan terutama akhir cerita. ada subplot yang rencananya baru kebuka di buku selanjutnya, tapi memang lebih baik dibuka lebih cepat di buku pertama. ini emang bener2 kesalahan gue, yang kurang memberikan teaser yang sebenarnya sudah ada tapi belon digali.
masih belon yakin sih apakah itu berarti ceritanya bisa jadi lebih ‘menjual’ sesuai dengan selera penerbit atau kebanyakan pembaca (ini bener-bener ukuran yang sangat sangat sangat sulit bagi gue, secara selera gue emang banyak bedanya dibanding mereka), tapi paling gak gue berusaha agar ceritanya jadi kelihatan lebih baik.

sebenernya selain beberapa kelemahan itu, ada satu hal sih, yang terutama bikin penerbit ketakutan. yaitu panjang cerita, dan karena ceritanya adalah bagian dari cerita panjang yang belon selesai. Coba bayangin aja, jika penerbit harus memilih dua cerita: satu pendek dan satu panjang, tentunya dia merasa lebih aman buat nerbitin cerita yang
pendek. apalgi kalo penulisnya masih pemula dan belon dikenal.

dan rey, ente nanyain kalo di word pake times new roman 12 spasi 1,5. karena total ada 100 rebu kata, dan biasanya satu halaman ada 250 kata, ya berarti total ada 400 halaman.
terus terang dengan tampilan tebal dan gahar macam gini, para penimbang naskah juga pasti takut buat mulai baca. makanya kepikir juga, ntar gue mau kirim keluar dari format pakem, misalnya kirim dengan format A5 (separo A4) dengan huruf yang lebih enak dibaca, dengan spasi lebih rapat, dan bolak-balik. jadinya tebelnya 400 halaman juga, tapi bolak balik.
ntar di cover depan ditulis: Go Green. biar kesannya kita lagi ngehemat kertas (halah…).
tapi emang gitu kok kenyataannya: lebih hemat kertas, cuma 100 lembar dibanding 400 lembar. hahaha… buat ngetes…
yeah, intinya… buat terus ngebakar semangat agar tidak padam.
yuk terus menulis.
salam pedang!
(buset. gue mesti siapin bahasa elniri buat istilah ini!)

________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 02:10:22 pm
________________________________________
Tentang tebel naskah, kalau villam emang yakin TFH punya “sesuatu yang lain”, rasanya 400 hlm masih bisa dimaklumi deh sama penerbit. (*sotoy mode: on*)
“Sesuatu yang lain” inilah yang harus digali dan ditonjolkan jelas2, biar para penerbit itu bisa langsung ngeliat.
Eniwei, selamat merevisi ria! [thumbsup]

________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm
________________________________________
Plot TFH yg berkesan lurus tanpa intrik buat gw gak ada masalah, dan bukan kekurangan. Waktu tauk gaya kolosal TFH, terus terang aja gw jadi inget The Hobbit, salah satu buku fantasi yg berplot lurus dan mirip-mirip plot TFH. Tapi tunggu… kita liat juga plot buku pertama LOTR, bisa dibilang gak ada intrik juga kan? Plot twist-nya ada dimana
coba? Pengkhianatan Boromir? Penyergapan Orc? Gak ada kali ye, tapi cukup enjoyable plotnya buat gw tuh [biggrin]

Ledgard emang sarat intrik, tapi buat gw intrik-intriknya gak napsuin, somehow :D Gw lebih suka model plot ‘ngalir’ kayak TFH ginih buat fantasi mah. Well kalo mau bikin intrik, idealnya jangan setengah-setengah memang, ini yg susah gw penuhin di novel fantasi gw sendiri pun. TFH membuka mata gw kalo novel tanpa intrik pun bisa jadi
memikat.

Kalo menurut gw kenapa penerbit takut buku ini gak laku, itu yg pertama dan terutama karena ketebalannya. Ledgard bisa terbit karena dia beruntung dikirim beberapa tahun lalu, waktu naskah fantasi belum terlalu familir di mata penerbit lokal, jadi bisa dianggap cukup langka, dan udah gitu isinya gak jelek-jelek amat pulak. Kalo sekarang mah,
nanti dulu deh [biggrin]

Kedua, setting & naming yg gak user friendly/kurang ‘universal’. Buat gw sih, Anthravai, Elniri, Hadjuk, Hotas, itu nama-nama keren yang amat orisinil. Tapi buat orang laen? Bisa jadi aneh, terlalu ajaib dan gak enak dibaca.

Ketiga, penempatan dunia pihak antagonis di awal-awal buku yg dijabarkan terlalu ‘biadab’ dan prolog yang kurang menjual. Nah buat penulisnya, supaya lebih aman, kayaknya ada baiknya adegan Fabian dimajukan di bab 1, dan bagian Anthravai baru digeser ke belakangnya. Bah tapi kayaknya timeline-nya tak memungkinkan yak. :P

Quote
dan rey, ente nanyain kalo di word pake times new roman 12 spasi 1,5. karena total ada 100 rebu kata, dan biasanya satu halaman ada 250 kata, ya berarti total ada 400 halaman.

ga bisa diukur gitu juga ah, kata ‘di’ dan kata ‘dipertanggung-jawabkannya’ sama-sama terhitung 1 kata, tapi bobotnya
beda bangedd :D

Quote
terus terang dengan tampilan tebal dan gahar macam gini, para penimbang naskah juga pasti takut buat mulai baca. makanya kepikir juga, ntar gue mau kirim keluar dari format pakem, misalnya kirim dengan format A5 (separo A4) dengan huruf yang lebih enak dibaca, dengan spasi lebih rapat, dan bolak-balik. jadinya tebelnya 400 halaman juga, tapi bolak balik.

jangan dah, kalo lu emang niat menerbitkan TFH via penerbit, mending lu cari nama dulu via Gerbang Sungai Tigris/Batu Delima Terakhir, gw liat dua naskah itu cenderung lebih ‘aman’ dan gampang buat masuk ke penerbit. Nah nanti kalo misal dua judul itu laku, naskah mau setebel apapun macam TFH, penerbit udah gak bakal ragu lagi buat nge-publish. :)

[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: clickdian on August 19, 2008, 03:50:47 pm
________________________________________
#Mas Pur,
Thank you so much buat review Zaurinya!! m-_-m
Udah kubaca bbrp hari yg lalu, tapi belum kukomen, gak sempet.. kerjaan kantor lagi numpuk, maaf ya.. [biggrin]
sekalian ntar sama pertanyaan fred dulu deh.

________________________________________
Post by: rd_Villam on August 19, 2008, 05:22:41 pm
________________________________________
betul, fred. dan ‘sesuatu yang lain’ itu kudu dimunculin di bab-bab awal, dipelihara di tengah, dan diselesaikan di akhir. oke deh!

Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm

penempatan dunia pihak antagonis di awal-awal buku yg dijabarkan terlalu ‘biadab’ dan prolog yang kurang menjual. Nah buat penulisnya, supaya lebih aman, kayaknya ada baiknya adegan Fabian dimajukan di bab 1, dan bagian Anthravai baru digeser ke belakangnya. Bah tapi kayaknya timeline-nya tak memungkinkan yak. :P

huh. gue pikir yang versi sekarang ini udah berkurang ‘barbarik’nya dibanding yang gue kirim setahun yang lalu. ternyata masih tetep terasa biadab yak? hahahah…
tapi betul, pertimbangan utama gue tetep bertahan dengan alur begitu adalah timelinenya. gue gak mau banyak-banyak bikin adegan flashback. lebih menyenangkan alur maju. konsekuensinya harus ada trik supaya bab
awal sekarang bisa lebih menarik. hmm…

Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm

kalo lu emang niat menerbitkan TFH via penerbit, mending lu cari nama dulu via Gerbang Sungai Tigris/Batu Delima Terakhir, gw liat dua naskah itu cenderung lebih ‘aman’ dan gampang buat masuk ke penerbit. Nah nanti kalo misal dua judul itu laku, naskah mau setebel apapun macam TFH, penerbit udah gak bakal ragu lagi buat nge-publish. :)

betul. cobain nembus lewat cerita laen dulu. tapi revisi TFH juga tetep jalan, sebelum ide-idenya menghilang.
hmm… begitu banyak ide, begitu sedikit waktu buat menulis. hehe…

________________________________________
Post by: Amru_Yozar on August 19, 2008, 07:08:31 pm
________________________________________
@ juunishi master, piethitam & Fr3d
Hm.. mungkin kita harus menyepakati dulu apa yang dimaksud dengan cerita *fantasy*. Memang dalam wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Fantasy) disebutkan bahwa:

/Fantasy is a genre that uses magic and other supernatural forms as a primary element of plot, theme, and/or setting. Fantasy is generally distinguished from science fiction and horror by the expectation that it steers clear of technological and macabre themes, respectively, though there is a great deal of overlap between the three (collectively known as speculative fiction).

/yang artinya:
/Cerita fantasi adalah genre yang menggunakan sihir dan bentuk supernatural lain sebagai elemen utama plot, tema, dan/atau setting. Fantasi secara umum dibedakan dengan sains fiksi, dan horor yang secara jelas mengetengahkan tema teknologi, dan menakutkan. Meskipun begitu terdapat tumpang tindih diantara ketiganya (secara seluruhnya disebut sebagai fiksi spekulatif)
/
Berdasarkan pengertian di atas, gwe rasa, cerita fantasi nggak harus secara penuh mengandung unsur sihir, tapi bisa bentuk kekuatan supernatural lain. Selain itu unsur fantasi nggak harus ada di plot, tema, serta setting secara kesuluruhan, tapi pada elemen tertentu saja.

Kalo Juunishi nganggep kemampuan Elektra nyetrum orang agak mirip ama fenomena manusia magnet yg bisa bkn sendok dll nempel di badannya sih boleh-boleh aja. Tapi apa semua orang bisa ngelakuin hal itu? Enggak kan? Jadi baik kemampuan/abilty nyetrum orang atau nempelin logam ke badan, menurut gwe adalah salah satu bentuk kekutan supernatural, gak harus sihir doang.

Kemudian, apabila apa yang kita rencanakan, tulis, atau impikan terjadi di dunia nyata, gw rasa itu bukan “kebetulan” tapi “takdir”. Dan “takdir” atau seolah-olah “kebetulan” itu seringkali menjadi elemen penting dalam cerita fantasy. Di HEROES, satu karakter dengan karakter lainnya bertemu dan saling terkait karena mereka di-”takdir”-kan oleh
sang penulis, sebagai Tuhan dalam cerita, untuk begitu.

[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: bjvadis on August 19, 2008, 08:36:22 pm
________________________________________
review untuk the forgotten heroes (tfh): jangan sampai ini menjadi ‘the forgotten novel’ seperti nasib novel2 fantasi indonesia di rak2 toko buku gramedia… sebel juga waktu nggak dapat zauri pas mau beli. Sang penandaipun sudah menghilang (untung sudah beli pas setelah launching). kebagian cardan tapi kehabisan enthirea.

soal naskah:
contoh: naskah fireheart buku 1 yang diketik pakai times new roman uk.12, 1 1/2 spasi dan kertas a4 jadinya 303 halaman (bhs indonesia).

soal naming:
dalam beberapa hal justru g pernah dikritik oleh para kritikus maniak fantasi dari amrik karena pakai nama-nama yang terlalu ‘umum’ macam robert, carolyn, christopher dsb. tapi perlu diinget juga walaupun bikin nama2 yang unik, harus konsisten sesuai dengan wilayah negara yang dimaksud, jadi berikan ‘karakter’ bagi negara2 tersebut lewat nama-nama
orang di sana. kalau fireheart saya memang jiplakan dari benua eropa di dimensi berbeda, jadi nggak heran kalau yang dari escudia (spanyol) nama2nya hernan y parvaez, arcadia (perancis) carolyn deveraux atau talbot dubois, valanis (italia) pakai andreas marvellini, parthenia (yunani) pakai eidos crydias atau nikanomikos paliades etc.

soal jalan cerita:
dari prolognya nggak jauh beda dengan cerita-cerita fantasi yang diposting di kemudian.com lainnya. mungkin kalau mau saya review lebih detail bisa kirimkan sinopsis (rancangan cerita) dari awal sampai akhir supaya saya dapat gambaran lebih jelas. biasa, di andrychang-at-gmail-dot-com

kesimpulan:
just go on, rd! pe-de aja, kirimkan segera naskah kamu ke penerbit kalau memang sudah selesai 1 buku. gak usah terlalu tanya kiri-kanan, toh nantinya juga pada akhirnya editorlah yang akan menilai (dari sudut komersialnya). nanti kan kalau sudah terbit yang saya baca tinggal yang matengnya aja. membanggakan juga kalau ada 1-2 orang lagi ‘alumni’ dari kemudian.com dan pulau penulis yang karyanya diterbitkan. just go on and – seperti kata naruto – never give up, that’s my way of the ninja!

________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 11:28:13 pm
________________________________________
Quote
betul, fred. dan ‘sesuatu yang lain’ itu kudu dimunculin di bab-bab awal, dipelihara di tengah, dan diselesaikan di akhir. oke deh!

hmmmm ‘sesuatu yang lain’ di lemures gw apa yah? Palingan gaya bahasa mautnya ;D

Quote
huh. gue pikir yang versi sekarang ini udah berkurang ‘barbarik’nya dibanding yang gue kirim setahun yang lalu. ternyata masih tetep terasa biadab yak? hahahah…

Yang sekarang sih emang udah rada mendingan daripada yg dulu. Tapi tetap aja bagian awal-awalnya itu bakal jadi ‘anti-tema’ buat psikologi orang indo kebanyakan, apalagi di mata penerbit. Penerbit itu biasanya gak sabaran, baru baca beberapa bab awal, udah langsung mengecap keseluruhan novel itu kayak gimana. Gw kira penerbit yg dulu nerima kiriman TFH Cuma baca beberapa bab awal TFH aja (taroan deh, pasti gak bakalan ada yg baca ampe tamat), dan langsung ngecap isinya murni tentang gerakan invasi bangsa barbar dengan penggambaran yg barbar pulak, begitu terus sampe tamat.

Padahal TFH kan gak gitu, dan ternyata kehidupan biadab itu cuma terjadi di pihak antagonis. Terkait materi novel, gw kira setiap penerbit punya alarm warning yang jauh lebih sensitif daripada alarm para penulis: dan warning ini biasanya mencakup tema-tema tabu semacam SARA, politik, kekerasan, sampe seks. Di TFH, alarmnya berbunyi nyaring pas Anthravai sebagai tokoh sentral (sejauh cerita bergulir) ngebelah kepala Yergai ;D

Quote
hmm… begitu banyak ide, begitu sedikit waktu buat menulis. hehe…

Gw bener-bener sirik dengan orang-orang yg kepalanya selalu dipenuhi berbagai ide, secara gw ini penulis yg miskin ide! Payah dah, padahal gw rajin baca novel, baca artikel wikipedia, nyimak berita di TV/koran, knp masih mentok ide?
Itulah kenapa revisi gw gak kelar-kelar, sekalipun udah dibantu om pur, sejauh ini baru 10% yang tergarap, ini menyedihkan sekali dan benar-benar nohope :(

Quote
Cerita fantasi adalah genre yang menggunakan sihir dan bentuk supernatural lain sebagai elemen utama plot, tema, dan/atau setting. Fantasi secara umum dibedakan dengan sains fiksi, dan horor yang secara jelas mengetengahkan tema teknologi, dan menakutkan. Meskipun begitu terdapat tumpang tindih diantara ketiganya (secara seluruhnya disebut sebagai fiksi spekulatif)

Astaga, kalo gitu berarti Lemures gw sama sekali bukan fantasi :D
Soalnya gw gak ada sedikitpun pake magic, dan elemen supernatural lainnya dalam plot/tema/settingnya. Lha kalo gitu kenapa gw ada di sini? Kenapa gw bisa jadi TS untuk thread penulis fantasi? :D

________________________________________
Post by: clickdian on August 20, 2008, 09:35:44 am
________________________________________
To: Villam
Kalo kasusnya kayak begini, tiap kirim ke penerbit, lampirkan rangkuman cerita keseluruhan dari sudut pandang penulis. Kasih tau kalo tokoh utamanya bukan si A, tapi si B. Review juga aspek2 lain selain battle, misalnya romans, ato (kalo ada) filosofinya. Everything, lah! Tapi bukan sinopsis singkat ya, bener2 rangkuman kayak dulu jaman kita
sekolah dulu disuruh guru Bahasa Indonesia baca novel dan bikin rangkumannya. Ini sebagai tindakan jaga2 kalo editor keburu males baca bab2 awal dan berniat ngelempar ke tong sampah, ada sisipan yg menceritakan isi keseluruhan novel. Siapa tau aja dia jadi berubah pikiran. ;D

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 20, 2008, 10:26:08 am
________________________________________
Definisi yg lebih workable untuk fantasy adalah: penggunaan setting alternatif (alias bukan setting yang kita hidupi sehari-hari ini) untuk mendeliver cerita. Istilah kerennya, alternate reality.
Kenapa alternate reality ini menjadi suatu daya tarik? Karena kita selalu punya keinginan untuk ‘hidup’ dalam kehidupan yang berbeda dengan yg kita jalani sekarang ini. Dan setting Fantasy membuat keberbedaan itu
menjadi lebih kuat/ nyata/ kontras.

Pada alternate reality, menjadi sebuah spekulasi yang ‘menggairahkan’ untuk tahu bagaimana manusia bertindak, bagaimana bereaksi terhadap situasi-situasi unik. Misalnya aku bayangin diri menjadi Bima (nya Mak-mak), apa reaksiku jika tiba-tiba saja Malioboro menjadi ‘senyap’? Woow, gile banget konsepnya etc-etc. :)
Jadi bukan sihir atau teknologinya yang ‘matters’, melainkan bagaimana
‘alternate reality’ itu kemudian mendrive cerita.

So, dalam setiap novel fantasy, setting alternate reality itulah yang menjadi panggung utama. Dan tentunya yg namanya panggung ya harus kuat dan kokoh. Kalo ringkih, baru buat goyang ngebor sekali aja langsung roboh.
Kita sering banget kejebak pemahaman yg salah kaprah tentang Fantasy (atau Sci-Fi), bahwa sebuah karya sudah dikatakan Fantasy kalau mengandung elemen yg ‘khayal’i.

Jadi kalo masih memakai setting kehidupan yang here and now, sebuah novel hardly dikatakan sebagai Fantasy sekalipun mengandung seorang tokoh yg mampu ‘menyihir’, misalnya. Karena belum tentu kemampuan sihir
itu menjadi setting, bisa-bisa aja cuma tempelan sebab sang penyihir ternyata (masih) bereaksi sebagaimana orang-orang kebanyakan, dan cerita mengalir dengan interaksi antar tokoh sebagaimana kehidupan sehari-hari kita aja.

Juga kalo alternate realitynya masih ngga terlalu jauh dengan kehidupan nyata (masih memungkinkan terjadi di dunia nyata), maka nilai fantasy-nya menjadi turun. Sebagai contoh novel lanang, (bukan mo ngajak berantem orang :) tapi mumpung bagus dijadikan contoh aja :) ). Adanya burung babi hutan, menghadirkan elemen fantasy (soalnya gak mungkin ada binatang kayak gitu). Tapi setting rekayasa genetik yang menimbulkan penyakit sapi, atau setting karakter para tokoh yang ga hitam putih bahkan psikopat, pengembangan konflik dalam cerita, semuanya masih bisa
terjadi di dunia nyata, sehingga dalam hal itu novel ini tidak tergolong cerita fantasy. Nah, kita bisa lihat bahwa dalam kondisi ini, keberadaan satu elemen fantasy tidak membuat novel tersebut menjadi Fantasy.

Nah menurut gue sih, Lemures termasuk dalam Fantasy karena mengandung setting alternatif yg bukan di setting kita sekarang ini. Kenapa PG gak gue anggap fantasy, sebab PG berlangsung dalam setting kita sekarang, walaupun ada sedikit-sedikit bagian yang menyentuh alternate reality, tapi gak dominan.
Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: MakMak on August 20, 2008, 11:30:05 am
________________________________________
sedikit komen tentang yang ini.
mungkin dengan adanya burung babi hutan, Lanang bisa dimasukkan kedalam
genre fantasy, tapi fantasi ngawur, asal-asalan n tidak logis.

kenapa? karena untuk dapat terbang, selain membutuhkan sayap yang lebar,
bentuk fisiologi mahluk itu harus segitiga dengan bagian runcing didepan
(entah sudut yang mana terserah, pokoknya bukan bagian sisi). fungsinya
adalah untuk membelah udara. pada burung yang berfugsi demikian adalah
paruhnya, sedangkan pada pesawat, adalah hidungnya. memangnya moncong
babi hutan bisa membelah udara? lha wong bentuk tubuhnya bundar bukan
segitiga.

trus ekor, ekor disini harus lebar karena digunakan untuk mengatur
tekanan udara diatas tubuh dan dibawah tubuh, sehingga bisa membuat
burung atau pesawat menambah atau menurunkan ketinggian. ekor ikal babi
hutan bisa begitu?
anehkan? jelas aneh! mungkin si pengarang tidak tahu teori-teori yang
berhubungan dengan terbang.

________________________________________
Post by: fr3d on August 20, 2008, 11:59:38 am
________________________________________
Tambahan lagi, secara biologis burung juga punya kantong udara.
Rupanya makmak juga udah keseret dalam arus lanang-melanang… ;D

________________________________________
Post by: rd_Villam on August 20, 2008, 01:06:25 pm
________________________________________
@amru,
ane kirim draftnya via email, bos…

@vadis,
tentang novel2 fantasi indonesia yang menghilang, itu bukan karena habis, tapi sudah lewat masa tayangnya di toko buku. gue yakin masih ada tuh stoknya di penerbit (yang memang menganaktirikan buku2 fantasi lokal dan malas mempromosikannya lagi).

tentang TFH, setelah melewati masa perenungan (halah), penting bagi gue untuk tanya kiri kanan dan gak sekedar maen kirim doang. Alhamdulillah kalo ternyata bisa langsung terbit memang, tetapi hanya sekedar ‘diterbitkan’ bukanlah tujuan utama gue. gue pengen itu bisa jadi karya yang baik dengan tetap berciri gue (ini penting buat gue), dihargai banyak orang walau mungkin tidak semuanya suka, juga tidak sekedar memenuhi selera ‘layak jual’ dari sang
editor/penerbit sesaat. terlalu idealis? untuk TFH, iya. tapi kalo untuk cerita2 gue yang lain, gue bakal lebih fleksibel.

@rey n dian,
gue dulu udah bikinin juga kok sinopsis buku dan sinopsis per bab. Tapi memang, kudu belajar lagi buat bikin itu supaya jadi lebih menarik. mesti ditambahin gambar-gambar juga kayaknya. hahahah…

@all,
kalo boleh ada kuda terbang semacam pegasus (yang gendut dan gak punya kantong terbang pulak), kenapa tidak boleh ada babi terbang?
jawabannya mungkin ada di setting cerita. apakah sang penulis bisa membuat percaya pembaca atau tidak, terserah apakah melalui setting negeri dongeng, setting teknis-teknis science fiction, atau setting dunia alternatif yang surealis.
(aku gak ikutan lanang-melanang karena aku gak nyebut-nyebut la–ups!)

________________________________________
Post by: MakMak on August 20, 2008, 01:24:26 pm
________________________________________
pegasus, Sphinx, naga versi asia timur sebenarnya adalah mahluk yang secara fisiologi tidak mungkin bisa terbang. masalahnya, mahluk-mahluk itu sudah terlanjur melegenda, jadi apa mau dikata? mau protes juga kepada siapa?

sedangkan burung babi hutan itu sepertinya kreasi original. dengan ilmu kedokteran hewan dan ilmu penerbangan yang sudah semaju ini, masak ga bisa bikin mahluk fantasi yang lebih logis? ingat setting Lanang adalah di Bumi, bukan alternate universe jadi paling enggak harus sedikit mengikuti rules dan hukum-hukum alam yang ada di bumi (kalau mau dibuat melenceng, harus disertai penjelasan khusus). kalo setting-nya di alternate universe, mau bikin mahluk yang seperti apa saja silahkan.

________________________________________
Post by: rd_Villam on August 20, 2008, 01:44:59 pm
________________________________________
lha justru itu kita gak akan protes (walaupun gak dilarang juga buat protes) karena di belakang makhluk2 ajaib itu ada setting legenda yang telah dibangun dengan sedemikian rupa, dan bukan hanya mereka makhluk2 aneh di dalam legenda tersebut. yang bikin pembaca atau masyarakat jadi percaya betapapun anehnya itu.

Comments 6 Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XXVIII (31 Jul 2008 – 10 Ags 2008)
• Tentang Pendekar Garuda karya FA Purawan
• Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh fr3d
• Tentang situs kastilfantasi.wordpress.com
• Ceritafantasi kita berakar dari mana?
• Lagi, tentang novel Cardan

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: *fr3d* on *July 31, 2008, 04:33:15 pm*
________________________________________
Villam si Raja Perang ke mana ya? Gak keliatan? Sibuk menyusun strategi untuk ekspansi wilayah? ???
TFH: Q & K akhirnya selesai dibaca juga nih…

________________________________________
Post by: rd_Villam on July 31, 2008, 05:09:31 pm
________________________________________
yow, fred, i’m here…
eh betul tuh, gue emang sedang berekspansi ke suatu wilayah tertentu. serius! hehehe…
gue yakin (mudah-mudahan) ini bisa jadi suatu yang berguna pula buat tret FFDN ini, dan semoga begitu pula buat komunitas penulis fantasi indonesia secara keseluruhan.
cuma langkah kecil sih, tapi barangkali bisa jadi awal.
tunggu saja tanggal mainnya. [bigwink]

________________________________________
Post by: clickdian on July 31, 2008, 05:15:09 pm
________________________________________
Raja Perang dan Sang Peramal? ???
Terus aq ngambil peran sebagai apa? dayang2? ;D
hehehe.. iyalah, mending ngikut ajah. biar gak pusing mikir ;D ;D ;D

________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 08:39:07 am
________________________________________
Hmm… mencurigakan…
[gossip]

________________________________________
Post by: BloodSin on August 01, 2008, 09:47:59 am
________________________________________
@om Pur

Bos, ini sekedar kritik & masukan tambahan dari ane buat PG ente, gara-gara ngeliat ‘fenomena’ orang-orang yg pada gak tamat baca PG ente cuma dengan bermodalkan alasan: “bukan tipe/selera bacaan gw” lha, “terlalu islami” lha, “settingnya terlalu ngindonesia” lha,
Bahkan sebelum beres baca bab pertama-kedua.
(Eh ini bukannya gara-gara mau bales dendam terhadap komen ente atas gaya bahasa Lemures ane yakkk, sama sekali gak ada maksud ke arah situ :P )

Kemaren sempet buka-buka PG lagi yg formatnya .LIT, ingin menyelami gaya bahasa ideal seorang FA Pur, dan emang yg kutemukan, adalah gaya bahasa yang 180 derajat berlawanan dengan Lanang/prolog Lemures: jauh dari
kesan pretensius, dan benar-benar ‘jujur sejujurnya’ ala bocah ngomong blak-blakan. :)

Well.. dulu ane sempet bilang gaya bahasa PG yang ala teenlit itu emang sama sekali bukan seleraku (karena tipe gaya bahasaku sendiri aja udah ‘sok nyastra’ dan formal abiss), tapi setelah kulihat-lihat ke depannya, ternyata si Serpent yg gaya bahasa ceritanya standar pun (cenderung non-pretensius) juga gak tamat baca. Jadi kurasa, ini bukan lagi
persoalan selera pembaca, tapi udah masuk ke masalah teknis.

Ah, menurutku cuma mengada-ada kalo ada pembaca yang menjadikan setting Islami/Indonesia sebagai alasan utama buat berhenti baca PG, karena sebetulnya, setting ‘lokal’nya itu masih dalam taraf yg wajar—belum sampai pada taraf dakwah/propaganda untuk mengajak memeluk Islam/menjatuhkan agama-agama lain seperti novel ‘religi’ pada umumnya. Lagipula toh tetap ada juga pembaca Muslim yg gak beres baca PG, kan?

Menurutku kelemahan yg paling fatal di PG justru terletak pada gaya bahasa (mencakup narasi, deskripsi, sampe dialog) yang terlalu blak-blakan, terlalu jujur, polos nian apa adanya (khususnya bab awal-awalnya yang mestinya bisa dibuat se-memikat/se-elegan mungkin). Apalagi kalo sasarannya buat dewasa muda ke atas, jatuh-jatuhnya bakalan
serasa baca novel teenlit betulan. Kalo sasarannya ABG pun, jelas salah strategi dengan menempatkan setting Jaka yang bertone serius sebagai prolog.

Kalo si fred bilang gaya bahasa ‘pretensius’ boleh diibaratkan sebagai air gula yang dikasih sirup, maka ane mau ngasih analogi gaya bahasa blak-blakan PG itu kayak sepiring nasi putih polos tanpa sedikitpun bumbu/lauk pauk (ehmm, metaforanya kurang pas nih :P ). Gak bisa juga sih dibilang ‘hambar/steril’, karena emang ada beberapa paragraf/dialog PG yg emosinya kentara dapet/atau malah cenderung ‘keasinan’, hueheheh.

Tapi sebagai pembaca, ane sebetulnya mengharapkan penulis (apalagi yg udah sekaliber ente!) bisa menyusupkan sedikit-banyak teknik-tekniknya dalam bertutur kata di dalam karyanya, metafora-metafora yang manis, gaya bahasa yang sejatinya cocok ditujukan buat dewasa muda. (gaya bahasa Forever Wicked-nya ewing pas tuh buat pembanding idealnya, karena sama-sama bersetting jakarta dan bahkan sama-sama bertema ngelawan iblis!–dengan eliminasi kata-kata vulgar/kasar kalo ente gak berkenan)

Kenapa ane bisa enjoy/’dapet’ (bahkan sampe taraf ‘menantikan!’) baca review-review, postingan-postingan ente, sementara ketika baca PG cenderung tak menikmati? Ane juga tersalut-salut waktu baca deskripsi ‘iseng’ ente buat Fulberr di tret GM lho, dan sebetulnya kagum juga dengan sekian banyak teknik penulisan yg ente share di thread-thread cerita Pulpen.

Kurasa, orang yang terbiasa baca tulisan ente di review/postingan ente di Pulpen, pasti bakalan shock ketika baca PG, karena ‘keluguan’ gaya bahasanya malah gak menggambarkan kualitas seorang FA Pur yang sebenarnya.
Yahh, pokoknya sekarang you get what my point is, semoga bisa membantu ente dalam merevisi PG deh. Yo kita sama-sama saling ngebantu. ^-^

note: oh yep, ini komen ketiga ane buat PG ente yak, kalo mau bakal
kupost nih ke milisnya berturut-turut dari komen pertama, gimana?

[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on August 01, 2008, 01:38:44 pm
________________________________________
@Rey,
Boleh-boleh, kayaknya masukan yang terakhir ini sangat bergizi, untuk gue pelajari sungguh-sungguh. Jujur aja, gue udah coba merubah beberapa adegan dalam revisi gue yg baru ini, dengan gaya bahasa yang sudah agak beda (iya lah, ada selang beberapa tahun,…). Tapi gue rasa masih akan ada kepolosan yang melekat di situ, secara gak bisa dipungkiri bahwa material dasarnya adalah karya cipta seorang anak yg baru lulus SMA ;D .
Coba gue liat lagi dah.
BTW revisian gue saat ini sudah menginjak Akhir Bagian 2 :)

Untuk gaya bahasa yg lebih ‘dewasa’ gue punya dua rencana naskah:
Jakarta Paralel / JP (ini udah lama gue ciptakan tapi masih belum lanjut), itu lebih darksih dari PG. Dan satu lagi judul sementaranya “Mata Ketiga”, ini (maunya) lebih darkish lagi daripada JP :P

Gue juga punya naskah space novel lain: Hulka. Tapi bener-bener baru bab awal doang, belum ada passion untuk nerusin walaupun ide besarnya udah ada. Kapan2 gue posting di sini, kali ya? Sekalian biar diliatin apakah
gaya bahasanya berbeda ato gak dengan PG (harusnya sih beda [annoyed], ayo bertekad!)

Silakan boss, masukannya di posting aja dimilis! BTW di milis belum pernah ada diskusi panjang, siapa tahu bakal jadi trigger, tuh. he he he.

@Fred,
Silakan boss, bisa join di FAP_novels@yahoogroups.com komentarnya ditunggu banget.
downloadable pdf ada di halaman FILES, berikut passwordnya.
Salam,
FA Purawan

________________________________________
Post by: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm
________________________________________
Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak?

________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 05:05:26 pm
________________________________________
@villam,
komen buat TFH-nya hari senin aja ya! Baru selesai ngetik good news-nya doang, bad news-nya belum, hehehe… [biggrin]

Quote from: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm

Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak?

Belum. Bagusnya sih seseorang (baca: *clickdian*) beli dan membaca buku itu, terus review-nya di-posting ke forum.
;D ;D ;D

________________________________________
Post by: Amru_Yozar on August 01, 2008, 05:07:42 pm
________________________________________
Halo-halo,
Agen Amru di sini. Muup yah baru nongol skarang, maklum lagi mata2in Otoritas.
Repiu gath na keren Dian! Tapi sori Fr3d, gw belon bisa nerusin. Kalo gw yang nerusin malah jadi norak, hehe…
Oh ya teh Dian, gw udah beli tuh Nicholas Alchemist, tp blon sempet baca. Bakal 2 seri tuh kayakna.

@ Villam
Hm… mo bikin penerbitan y? Mau dong karya gw ikut diterbitin :D

________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 05:18:41 pm
________________________________________
Quote from: Amru_Yozar on August 01, 2008, 05:07:42 pm

@ Villam
Hm… mo bikin penerbitan y?

Hah?! Beneran?! :o
[gossip]

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 02, 2008, 05:47:40 am
________________________________________
@Fred & Amru

Boleh aja gue kirim by email, tapi kalo pdf ukurannya gede, loh. Makanya gue bagi 3 files @ kira-kira 900kb.

Gue ada format LIT (Ms reader), satu novel lengkap hanya 600kb, tapi syaratnya ente kudu punya Microsoft Reader, terserah versi PC (buat baca di kompie) atau versi Pocket PC buat baca di PDA (Windows Mobile).
Kalo mo dikirim by email, gue akan kirim yg LIT.
Kalo mo download sendiri, join aja di milis. Gratis koq, dan alamat email kalian ga akan gue salah gunakan. Gue perlu milis buat menampung masukan-masukan pembaca. I’ll appreciate kalo temen-temen bisa bantu gue on that :)
Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: fr3d on August 04, 2008, 03:49:43 pm
________________________________________
Tentang TFH: Quazar & Ksatria, komennya udah di-PM langsung ke penulisnya, villam.
Berhubung karyanya belum terbit dan gw takut memberi spoiler, jadi gak di-posting ke tret ini…
(*menunduk-nunduk memohon maaf*) :-[

Intinya komen gw tentang TFH buku 1:
"Villam menunjukkan kebolehannya dalam bercerita di TFH: Q & K. Teknik story-telling-nya sangat apik dan ciamik. Namun, ternyata kelemahannya justru ada pada story-building. Kisah utama dan kisah2 pendukung di dalam novel ini rasanya terlalu hambar dan kurang menjual. Perlu ada penegasan dan "pewarnaan" untuk dapat menyempurnakan karya yang potensial ini."
...
...
Oops! :o
*cepet2 kabur sebelum leher ditebas si Raja Perang!*

________________________________________
Post by: rd_Villam on August 04, 2008, 05:52:47 pm
________________________________________
friends,
daku belon sekaya itu untuk bikin sebuah penerbitan. [biggrin]
tapi jujur, itu memang sebuah pilihan hidup yang menarik nanti. Bikin sebuah penerbitan khusus fiksi fantasi, termasuk juga majalah khusus fiksi fantasi. sapa tau juga bisa bikin penghargaan khusus fiksi fantasi
indonesia. [biggrin]
amin…
anggap aja ini doa. :)

yang gua bikin sebenarnya baru sebatas ini:

http://kastilfantasi.wordpress.com/hall-of-discussion/

silakan dilihat.
jadi, intinya, teman2 tau kan obrolan kita di forum ffdn 3 ini udah sampe skala mega?
nih gua kasih tau, kita udah ngobrol total sebanyak hampir 350 ribu kata. bayangin aja ndiri deh, ini udah seukuran tiga novel masing2 setebal 500 halaman.
nah gua udah coba pilah, mana yang relevan dengan tema penulisan fiksi fantasi, dan membuang sekitar 40% pembicaraan OOT.
mudah-mudahan ini bisa membantu kita menemukan lagi topik2 apa yang udah pernah kita bahas. Dan juga membantu memudahkan orang-orang lain di luar forum ini yang pengen baca-baca dan belajar dari ente-ente… :)
oke sementara itu dulu, ntar gua tambahin.

thank you so much, fred, atas kritikannya!
ah… plot ya…
itu kesalahan yang… memang mestinya udah gue sadari dari awal, dan dengan keras kepalanya gue pertahankan…
hmm… tampaknya pendirian gue emang kudu berubah…

________________________________________
Post by: fr3d on August 05, 2008, 08:59:06 am
________________________________________
Well, kayaknya memang cuma villam deh yang bisa bikin beres2 model beginian! Great! [thumbsup]

________________________________________
Post by: fr3d on August 06, 2008, 08:41:07 am
________________________________________
Quote from: tangochenchen on August 05, 2008, 07:32:57 pm

:D kira-kira fiksi-fiksi fantasi yang sedang kita tulis berakar dari mana?

Kalau gw secara pribadi, menulis berdasarkan suatu tujuan atau maksud.
Karya gw adalah untuk menyampaikan sesuatu.
Akar budaya hanyalah fasilitas atau media yang gw manfaatkan untuk menyampaikan pesan/maksud gw itu.
Kalau ternyata apa yang ingin gw sampaikan akan lebih sesuai atau mudah dipahami dengan menggunakan akar budaya Barat, maka gw akan menggunakan budaya Barat sebagai setting cerita.
Sebaliknya, kalau lebih cocok menggunakan akar budaya Timur, maka gw akan menggunakan setting budaya Timur.

Gw sendiri gak akan men-”diskriminasi” karya2 yang gw hasilkan dengan dikotomi macam “Barat & Timur”.
Yang paling utama adalah tentang pesan yang harus tersampaikan dengan benar, di luar itu, semua hanyalah fasilitas.
Pokoknya, yang penting sebagai penulis, just write what you like, entah itu “Barat” atau “Timur”.
Kita gak akan menghasilkan sesuatu yang bagus dengan mencoba (dan memaksa) menjadi orang lain.
;) ^-^ 8)

________________________________________
Post by: MakMak on August 06, 2008, 09:51:48 am
________________________________________
klo sy menulis karena mengikuti ego saja. ;D ;D
memang sering saya memasukkan politik saya kedalam cerita tersebut, namun tetap saja didominasi oleh ego. ketika sy ingin membuat dengan setting legenda barat, saya buat bersetting legenda barat, ingin berdasarkan legenda lokal, sy buat yang berdasarkan legenda lokal, mau bersetting jepang, sy buat yang seperti itu.
jd tidak ada keterikatan harus dari budaya mana, tetapi saya lebih cenderung ke sy maunya apa.

________________________________________
Post by: tangochenchen on August 06, 2008, 12:08:42 pm
________________________________________
ya [rolleyes] ya, memang setiap pengarang memiliki otoritas….(Pengarang adalah “tuhan” dalam karangannya)
tentu saja kita tidak bisa menyalahkan imajinasi, ide, ilham atau pun gagasan seseorang yang tertuang
dalam karyanya…
meski pun demikian kita sebagai pengarang memiliki “tanggungjawab” terhadap pembaca baik disadari atau tidak, secara langsung maupun tidak langsung, karangan tersebut pasti mempengaruhi alam pikiran pembacanya…
alangkah sayangnya apabila kita tidak bisa menggali khazanah yang berakar dalam kebudayaan kita sendiri,
menurut saya itulah yang membuat karya kita tidak sekadar sebagai “kacang yang laris dijual sesaat” tetapi
bertahan lama dan bisa menjadi sumber inspirasi di dunia, atau pun relevan sepanjang masa….bukankah seperti
tadi dikatakan pengarang memiliki maksud2 tertentu dalam mengarang ceritanya?

tentu saja saya dapat memahami kondisi semacam ini tidak muncul secara tiba-tiba. pengarang2 di Indonesia sebagian besar adalah hasil didikan kurikulum yang meminggirkan sastra dan sejarah: murid-murid SMP dan SMA kita pada umumnya tidak dilatih membaca buku sastra berbobot baik karya dalam negeri maupun dunia – baru-baru ini saja sastrawan seperti Taufik Ismail prihatin dan memberikan perhatian terhadap kelemahan pelajaran sastra kita.
bahkan Ujian Nasional bersifat sangat objektif. tidak ada ujian mengarang maupun soal-soal yang menuntut nalar dan argumentasi kita (misalnya soal-soal sejarah hanya pilihan ganda, tanpa ada soal2 esai).
di samping itu, pelajaran Sejarah kita terus menerus mendiskusikan sejarah politik terutama seputar revolusi kemerdekaan dan G30 S PKI, bahkan sampai di bangku kuliah, mahasiswa-mahasiswa sejarah lebih didorong untuk meneliti sejarah politik dan ekonomi Indonesia saja.
Kalau di Amerika, kita tidak heran kalau sejak di bangku SD pun mereka dilatih menganalisis novel pilihan,
dan belajar mengarang kreatif…He he…menyuruh murid-murid kita berimajinasi saja, yang terpikir adalah
apa yang baru saja mereka tonton dan bukan yang mereka baca…
Tetapi, di Malaysia negara tetangga kita saja, baik siswa SMA IPA, IPS maupun bahasa tetap mempelajari sastra, berlatih mengarang,dan mengerjakan soal-soal esai sejarah…
Saya terkejut ketika salah satu murid SMA dari sekolah swasta mahal mengatakan bahwa dia (mudah2an hanya dia saja) tidak tahu apa-apa tentang renaissance, reformasi Gereja, atau pun zaman pra-sejarah hanya karena menurutnya mungkin tidak dipelajari karena dia adalah murid IPA… Tentu saja saya tidak terkejut
kalau sampai kelas tiga pun nanti dia tidak bisa mengarang sebuah cerita sepanjang 180 kata, bahkan dengan sebuah panduan sekali pun.

Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 06, 2008, 12:59:16 pm
________________________________________
Quote from: tangochenchen on August 06, 2008, 12:08:42 pm

Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak
Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)

YES, bu Tango! Right on mark! (halah, remarks gue aja dalam bahasa Inggress,.. :( )
Gue sangat setuju dengan pemikiran bu Tango. Ketika kita cenderung memilih setting non-lokal, jangan salahkan pengarang. Tapi kenapa hal itu bisa terjadi. Dan apa yg dituturkan oleh bu Tango itu bener-bener sebuah fakta. Kita memang dididik dan terdidik untuk menjauh dari akar kita sendiri.
Dan khususnya Fantasy, kita memang berkiblat pada budaya non-lokal, dan itu juga tidak salah, secara yang tersedia dalam khasanah perbukuan memang ya hanya itu.

Okelah bu, silakan bermigrasi, tapi jangan lupa tetap bimbing anak-anaknya untuk mencintai budaya ibu pertiwi, ya bu,…. [thumbsup]
Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on August 06, 2008, 02:32:04 pm
________________________________________
Jadi, yang salah sebenarnya sistem dong? (pendidikan, sosial/kemasyarakatan, politik, dsbnya?) ???

Kalau mengingat masa2 SMP/SMA, gw juga merasa prihatin, kenapa dulu pelajaran sejarah (khususnya Indonesia), tidak diajarkan dengan cara yang lebih interaktif.
Akhirnya pelajaran sejarah, yang adalah salah satu media pengakaran budaya yang sangat dominan, malah terasa sebagai topik yang kurang menarik, bahkan membebani. :(
Apalagi yang sering ditanyakan ketika ujian adalah tahun A, tahun B, tahun C, dan tahun2 lainnya. Otak pun dirangsang untuk menghapal aja, bukan berimajinasi ([biggrin]).
Padahal gw sangat suka dengan pelajaran sejarah lho (tokoh sejarah indonesia favorit gw adalah Pangeran Diponegoro ^-^), dan pengetahuan2 sejarah “tambahan” memang akhirnya gw peroleh dengan mencari tau sendiri, bukan dari dalam kelas.
Jadi, gw memang setuju kalau terpinggirkannya budaya lokal sebenarnya adalah suatu proses, dan ini bukan sesuatu yang tak bisa dihindari.

Kalau tadi gw menulis bahwa penulis sebaiknya menuliskan apa yang mereka sukai, berarti yang mungkin harus diperhatikan adalah bagaimana caranya calon penulis di masa depan bisa menyukai khazanah budaya lokal sehingga
mereka tak akan berpikir dua kali untuk menggunakan budaya indonesia sebagai materi tulisan mereka.

Lalu kalau kita? Masih mungkinkah memutar arah?
Ya, memang mungkin2 aja.
Tapi kita pribadi harus memahami pula batas kemampuan kita sendiri dalammenulis.
Misalnya, betapa pun gw sangat menyukai tetralogi-nya Pram danmenghormati almarhum, gw gak sanggup menggunakan khazanah budaya lokal dalam karya tulis seperti apa yang telah beliau lakukan.
Kita bisa mencobanya memang (dan mungkin gw akan melakukannya suatu harinanti kalau ada kesempatan, ;) ), tapi kalau kita tidak cermat, bisa-bisa karya kita cuma berakhir seperti novel Phoenix, yang memang memanfaatkan
khazanah budaya lokal, tapi alih-alih membanggakan, malah merusak citra budaya itu sendiri.
Bisakah kita menjamin hal semacam itu tak akan terulang lagi tatkala kita, sebagai penulis, selalu merasa karya kita adalah yang terbaik?

Gw lebih setuju dengan pendapat om pur dulu.
Karya fantasi di Indonesia umurnya masih sebiji jagung.
Ibarat anak-anak, kita masih belajar merangkak, dan cara belajar yang paling mudah adalah dengan meniru.
Jadi, kita harus bisa memahami kenapa hampir semua penulis fantasi yang ada sekarang selalu menggunakan template karya asing (berbudaya asing) untuk karya tulisnya.
Okelah memimpikan bahwa Indonesia nantinya akan dijamuri oleh buku2 fantasi tentang negeri kita sendiri.
Namun, kita tetap harus sadar dengan kemampuan kita sendiri.
Jangankan mencipta sesuatu yang orisinil dengan budaya milik bangsa kita sendiri, yang terinspirasi karya asing saja masih banyak yang gagal kualitasnya. :(
Harapan semacam itu merupakan sebuah proses dan butuh waktu pula.
Dan gw mengatakan ini bukan semata-mata sebagai alasan untuk mengelak dari seorang penulis fantasi.
Well, gw pun berharap, mudah2an kita memang sedang berada di jalur yang benar.

Lalu tentang menghasilkan karya yang bisa menjadi sumber inspirasi dunia, rasanya tidak melulu hal itu harus terkait dengan setting atau sumber materi (budaya) yang kita ambil untuk karya kita.
Itu salah satu faktor, ya benar. Tapi ada hal lain pula yang bisa kita jual sebagai penulis, yaitu ide, dan ide bisa merupakan sesuatu yang universal (tidak terkait faktor budaya).

Begitu deh kira2… :)
Omong2, bu tango, Anda bukan mama piyo kan?
Entah kenapa, kalau tau ada seorang ibu yang menulis fantasi, pasti kebayangnya langsung ke mama piyo. ;D ;D ;D

________________________________________
Post by: blue_amaranthine on August 06, 2008, 05:20:23 pm
________________________________________
Buat Om Pur, makasih ya reviewnya, ngebangun banget. Sori baru bales (Udah berapa lama ya) soalnya sibuk bgt ngurusin penerimaan mahasiswa baru mana minggu depan OSPEK lagi (Thanks God, Akhirnya gw kterima di
FMIPA (Chemistry) ITB hehehe siap-siap bikin bom! [bomb] [bomb]
[bomb]). Thanks sudah dinobatkan sebagai The Best Fantasy in your list. [biggrin]
MOga-moga terbitan selanjutnya bisa diperbaiki. ampir 70% yang om pur rasain tentang penerbit n tetek bengek (perubahan Ms. jadi Mrs. juga g taw siapa yang ngerubah) ternyata sama n banyak bagian yang mesti gw perbaiki bwat cetakan kedua, kata penerbitnya sih bisa asal tidak prinsipil. (Masalah titik koma, nama, EYD yang bikin gw sukses SNMPTN, dll). Thank you! Thank you very much……!!! Ini hadiah terbaik bwat gw setelah tu buku terbit. Yang lain mau ikut kasih hadiah?

________________________________________
Post by: BloodSin on August 06, 2008, 09:49:22 pm
________________________________________
Quote
Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)

Wah keren, kali ini yang masuk tret dari kalangan ibu-ibu, welcome & selamat gabung ama kita-kita deh makcik tango [biggrin]

Kalo buat gw, harga mati dari sebuah novel itu ya faktor entertaining-nya (wujud ‘entertaining’ ini variatif mengikuti genre), yang syukur-syukur kalo disupport juga dengan riset dan wawasan pengarang untuk memperluas pengetahuan pembaca (secara novel berwujud ‘buku’!).
Pemilihan setting gak masalah mau darimana, asal pengarang bener-bener punya kapasitas buat menggarap setting itu.

Daripada novel fantasi dengan setting indo (laen kasusnya kalo ‘indo kuno’ macam PG om pur yg jelas penggarapan settingnya dibutuhkan usaha riset atau at least wawasan pengarang), gw jauuuh lebih appreciate kalo ada pengarang lokal yg punya kapasitas bikin novel bersetting barat/jepang/rekaan lengkap dengan kultur dan atributnya. Dan kalo gw bilang ‘berkapasitas’, itu harus mencakup semuanya, baik secara roh dan fisik setting, bukan setengah-setengah. Yang jadi masalah di kebanyakan novel lokal yg pake setting non-lokal, ya ‘setengah-setengahnya’ itu.
Biasanya settingnya barat kulturnya timur, gak konsisten.

Tentang kenapa selama ini novel lokal yg meledak itu selalu yg bersetting & berkultur lokal juga, mungkin karena emang belum ada penulis lokal yang bener-bener mumpuni buat menggarap setting non-lokal.

Quote
bisa-bisa karya kita cuma berakhir seperti novel Phoenix, yang memang memanfaatkan khazanah budaya lokal, tapi alih-alih membanggakan, malah merusak citra budaya itu sendiri.

Phoenix mah bukannya bersetting gado-gado? ???
btw merusak citra budaya lokalnya gimana sih fred? jadi penasaran gw [biggrin]
Emangnya mengajarkan kekerasan dan pornoaksi? :P

Quote
Tapi kenapa hal itu bisa terjadi.

Selain jawaban ‘kesalahan sistem’ yang disimpulkan si Fred, gw kira masih ada dua alternatif jawaban lain:

1. Selera
Untuk jawaban ini, silakan menyalahkan budaya video games, gempuran film hollywood & anime jepang, sampe manga & novel-novel barat yg masuk gramed. Judul-judul ngetop kayak LOTR, harpot, final fantasy, jelas mempengaruhi alam bawah sadar pengarang manapun yang pernah ‘mengkonsumsi’nya, dalam meng-create setting novelnya.

2. Akses
Ah jawaban ini datang dari opini om pur dulu waktu gw ngeluh betapa susahnya riset bikin novel sci fi. Well gw pribadi kenapa lebih prefer setting luar alih-alih lokal, karena emang gw non-pribumi, dan gw emang gak ada ‘akses’ sama sekali selain dari sinetron-sinetron silat indo, buku-buku lokal, dan perpustakaan nasional. Gw gak familiar dengan istilah-istilah, budaya dan tradisi lokal. Bahkan setiap kali gw ikut undangan orang kawin, nyaris gak ada yang pake kultur indo, all of them pake kultur barat/tionghoa semuah.

Toh terbukti sekalinya ada fantasi lokal yang pake setting lokal (baca: pinissi), ditulis sama mama piyo yang emang orang makassar aseli dan sering dapet dongeng lokal semasa kecil dari kakeknya… atau kira-kira begitulah.

Well emang gw jugak bukan keturunan bule makanya gw prefer setting barat, tapi kita semua tauk referensi kultur budaya barat jauh lebih bejibun dan gampang pengaksesannya.

Quote
Omong2, bu tango, Anda bukan mama piyo kan?
Entah kenapa, kalau tau ada seorang ibu yang menulis fantasi, pasti kebayangnya langsung ke mama piyo.

Tumben lu pinter fred [thumbsup]
Iya juga yah, tagnya ini: penulis fantasi, ‘seorang ibu’, dan dateng kesini bawa-bawa topik “setting lokal takluk di bawah pengaruh barat” secara Pinissi-nya itu bersetting lokal [biggrin]

[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: cheppy70 on August 07, 2008, 07:53:38 am
________________________________________
Selamat pagi, semuanya :)
Udah mulai baca Cardan, nih,….
Baru sampai halaman 7, dan alamak. Ini gaya penulisan paling ancur yang pernah gue baca!
Tunggu kelar, ye. Next for review.
Buat review, saat ini review Zauri lagi disusun.
Salam,
FA Purawan

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 07, 2008, 08:56:47 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on August 07, 2008, 08:33:30 am

Yap, buat gw sih Cardan kena penyakit bahasa no. 3, gaya bahasa absurd, berputar-putar, gak jelas banged >_<. Dimana indikasi dari gaya bahasa ini adalah, ketika pembaca membalik halaman, ia akan dengan serta merta
tersadar dari lamunannya, lantas berkata-kata tidak mengerti sambil menggaruk kepala, “Eh, udah balik halaman ya? Gw dari tadi baca apaan sih?”

Huahuahuahua (ini niru gaya ketawa siapa?) ;D ;D
Bener banged, tuh. Gue sempat ngebolak-balik halaman, karena kayaknya kalimat lanjutan dari halaman sebelumnya koq ga nyambung banged gitu,… :P
Memang bakalan lama neh, kayaknya, untuk menyelesaikan buku ini :-\

________________________________________
Post by: ewingerwin on August 07, 2008, 09:18:15 am
________________________________________
Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu.

________________________________________
Post by: BloodSin on August 07, 2008, 09:22:51 am
________________________________________
Quote
Memang bakalan lama neh, kayaknya, untuk menyelesaikan buku ini

Semangaaaad bos! Ane aja bisa ngabisin, cuma sebulan-duabulanan doank.
[biggrin]
Nih buku cara kerjanya sama kek Ledgard kok, masuk ke setengah buku, entah kita yg udah adaptive ama gaya bahasanya atau emang gaya bahasanya jadi membaik, bakalan jadi cepet melaju bacanya, serius :D
Endingnya? Ente pasti mencak-mencak laksana kuda ngamuk ;D

@Ewing,
Cardan emang fantasi lokal yg paling kueren kovernya, bukan ‘rada’ lagi dah kalo buat ukuran fantasi lokal mah :)

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 08, 2008, 10:02:29 am
________________________________________
Quote from: ewingerwin on August 07, 2008, 09:18:15 am

Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu.

@Ewing, ini kutipannya,… Sesuai kata Bloodsin, kalo cuma dikutip sepenggal mungkin nggak akan terlalu kelihatan ‘belangnya’. Harus dikutip agak panjang. Maka gue hadirkan aja prolognya sekalian di sini.

Cardan, hal. 1 – 2:

Langit malam ini sangat indah,…… dst

Di daratan ini terdapat sebuah kerajaan bernama Tolan,….

Namun, dibalik semua kelebihannya, Tolan sedang mengalami peperangan,…..

Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam
hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu. Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.

Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh
di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.

Ia kembali melihat kawannya terluka. Bagaimana Cardan sepertinya bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu, meskipun pangkatnya cukup tinggi ia masih
saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.

Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
—————————————————

Mendingan baca dulu dua-tiga kali, biar meresep. Baru abis itu baca ulasan gue di bawah ini.

Perhatikan, di atas itu lebih kurang adalah bagian prolognya, per paragraf. yg gue kasih tanda titik-titik, itu maksudnya masih ada terusan yg melengkapi paragraf tersebut sampai usai 1 paragraf. Isinya ga terlalu penting, yg penting pembukaannya.

Setelah 3 paragraf awal, gue kutipin lengkap untuk memberi gambaran mengenai kehancuran gaya penulisan yang gue maksud.

OK, sekarang kita akan mulai review kecil ini,… (nanti juga bakal gue masukin ke fikfanindo, kali).

Kalau rekan-rekan menganalisis tiga paragraf awal, tentu rekan-rekan bisa memperkirakan alur dari prolog, yaitu (1) suasana malam sebagai pembuka cerita (dan actually tuh paragraf ngomongin 3 bintang penting)
yg menghiasi langit malam. (2) Sebuah negeri bernama Tolan, (3) Situasi politik Tolan,…

Tapi paragraf 4-nya, dengan begitu gak nyambungnya, langsung masuk dalam adegan perang. Halah! Dan cobalah perhatikan isi dari paragraf ke-empat tersebut:

/Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta.
/
ini aja udah kalimat yang subyek-predikat-obyek nya ngaco, kayaknya kurang tanda baca ataupun kata sambung.

/Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka.
/
kalimat selanjutnya ini gak nyambung dengan Subyek “Jendral”, sebab Subyek tiba-tiba berubah menjadi merefer ke “pasukan yang begitu membabi buta”. Terus tau-tau berubah lagi ke subyek yang lain:

/Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu.
/
yang dilanjutkan dengan kalimat ini:

/Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.
/
Yang kalau dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, mengesankan bahwa pedang sang jendral sudah mencabut banyak nyawa nggak cuma musuh melainkan juga dari pihaknya sendiri!

So, the whole paragraf is a mess!!

Terus paragraf berikutnya bikin ketawa lagi:

/Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya.
/
(Kena busur aja luka? cemen banget,….. iye-iye, gue tahu, maksudnya kaki kirinya ketancep panah. BTW, Fatal ya? Panah beracyun,.. kalee?)

/Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat
yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.
/
Ini juga series of incoherent actions. Maksudnya sih bisa kutangkep, tapi masih mendingan juga sastranya Sinchan yg “BABI PERGI,… BABI PULANG” itu, hehehe. Terus membantai sepuluh PASUKAN??? Maksudnya sepuluh PRAJURIT, Kallii,…?

Selanjutnya penggambaran aksi dalam kalimat dan paragraf lanjutannya benar-benar menggambarkan seorang jendral yang lagi bingung dan depresi banget, bukan lagi perang (ini jendral atau prajurit rank & file, sich?
Koq sibuk amat di garis depan. Yang ngatur strategi di war room, terus siapa? Sekretarisnya, kali?)

So, need I say more mengenai keancuran gaya penulisan ini? He he he,.. gue terusin baca dulu aja, kali yee,…. siapa tahu di akhir buku ada perbaikan (cross fingers,…)

Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: ewingerwin on August 08, 2008, 12:15:08 pm
________________________________________
@Om Pur: Makasih banyak, bos :) . Sekarang dah keliatan ‘belangnya’ kayak gimana ;D.

Oke, harus gw akui. Kalimat per kalimatnya memang nggak terlalu bermasalah kalo dibaca sendiri-sendiri, tapi memang alur dan komposisi paragrafnya terasa berantakan banget dan pemilihan kata/diksinya seharusnya bisa lebih baik daripada itu. Di beberapa bagian ada yang ambigu/nggak jelas abis, dll, dll.

Yep, secara keseluruhan, gw hanya bisa mengamini Om Pur aja deh, yang gw baca ini emang berantakan abis. Beli nggak ya? Hmm… dana terbatas…

________________________________________
Post by: cheppy70 on *August 09, 2008, 10:30:28 pm
________________________________________

Ning-nong!!!
@all,
Zauri sudah hadir di fikfanindo :)
Salam

________________________________________
Post by: bjvadis on August 10, 2008, 10:38:19 am
________________________________________
Oh, gpp, beli aja tuh Cardan. Gue sih udah baca abis, dan ceritanya cukup seru walaupun makhluk2 ciptaannya ada yg 100% baru dan bingung ngingetin ciri2nya. Taktik perangnya juga mantap, apalagi penokohan Raja Links yg adalah varian baru, inspiratif [thumbsup]. Hanya soal penamaan saja yang kelihatannya campur aduk dan nggak konsisten – but, what’s in the name? -
It’s worth your money. :D

Tapi waktu lihat cover Cardan pertama kali itu g sempet deg-degan karena desainnya persis dengan desain cover manuskrip yang gue kirim ke GagasMedia (lambang burung elang mirip garuda), konsep definisi Cardan mirip dengan Paladin dari karya gue, trus ada unsur: Musuh Besar yang dianggap sudah mati tapi ternyata masih hidup. Tapi setelah dilihat2 dalamnya, ternyata 100% beda – dan g setidaknya agak bernapas lega.
[hammer]

________________________________________
Post by: tangochenchen on August 10, 2008, 01:21:20 pm
________________________________________
Mungkin kalau diedit dr segi bahasa begini ya…(ini pengalaman jadi asisten pribadi juri lomba karya fiksi…tahu sendiri kalo juri itu hanya manusia biasa yg punya waktu cuma 24 jam sehari) tapi novel ini kan sudah terbit ya

Seorang jendral Tolan (seorang Jendral dalam Perang Tolan?) sudah banyak memenangkan perang. Namun, ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya, bagi pasukan (musuh Tolan?) membunuh
seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup mereka. Membunuh seorang/para Tolan (he he kedengaran seperti handai tolan) sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. Pedang sang jendral Tolan sudah berlumuran darah. Entah sudah berapa banyak nyawa yang ia cabut dengan pedang itu. (Saat ini, lalu, kemarin? Kapan perangnya?) banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.

Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk (nya) lalu membaringkan tubuh kawannya (itu) di atas tanah. Dia berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar
sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal Tolan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.

Ia kembali melihat kawannya (yang) terluka. Bagaimana (seorang) Cardan bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu. Meskipun pangkatnya cukup tinggi,
ia masih saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya, ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.

Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

He he…sepertinya om Pur benar, dari segi bahasa saya sebagai pembaca langsung bingung di halaman pertama…kalau saya ditunjuk jadi asisten lagi, sepertinya bos juri saya itu akan mengizinkan saya untuk tidak meneruskan membacanya.

apakah ini pengaruh bahasa karya2 terjemahan fiksi fantasi ? (terus terang saya lebih menikmati harry potter dll dalam
bahasa aslinya)

________________________________________
Post by: BloodSin on August 10, 2008, 07:31:36 pm
________________________________________
Susah nian merevisi adegan-adegan penting dalam naskah itu, terutama prolog! Gw udah menggarap prolog lemures selama 4 mingguan, tapi gak jadi-jadi euy :’(

Padahal gw udah keburu bikin janji ama orang VGI buat posting lemures gw (huahua penasaran ama POV & komen para penulis RPN untuk naskah lemures gw yg originnya dari RPN :D )
Gawat nih.. :-\

@om pur
Udah baca repiu zauri-nya di: fikfanindo.blogspot.com
(kasih link atuh bos, biar yg anak baru jadi pada bisa baca ^-^)

Well, kali ini kita bisa sepakat zauri emang salah satu novel fantasi indo yg bergaya bahasa ciamik (yang jauh dari kesan membosankan—dan emang pengarangnya bener-bener punya skill gaya bahasa selayaknya ‘penulis’ novel), yang berujung novel ini mudah dikonsumsi oleh berbagai kalangan pembaca [biggrin]

Mengenai font Kover yg ‘gak jelas’, itu sama sekali gak masalah buat gw, malah zauri gw posisikan sebagai fantasi lokal yg kovernya terkeren setelah Cardan, desainernya (bene) jauh lebih berselera daripada windutampan (desainer kover ledgard, hozzo, narend). [biggrin]
(tapi kok kayaknya lakuan ledgard yak? padahal jauh lebih muahal ???)

Kalo kritik utama sih, justru gw gak puas ama penyelesaian konflik (ttg sang amigdalus yang bisa dikalahin dios begitu aja tanpa greget) & endingnya yg terlalu happy (dan gombal :P ), quite cliche.

next review berarti cardan donk? wuah bakal rame nih, setelah sekian lama gak ada yang panas-panas :D

@ewing,
yap, beli aja bos, bagus tuh buat dipelajari anomali gaya bahasanya, gaya bahasa tak kasat mata ;D

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XXVII (27 Jul 2008 – 30 Jul 2008)

  • Review Gathering Pulpen 26 Juli 2008 oleh clickdian
  • Tentang review Dream of Utopia
  • Tentang gaya bahasa

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: clickdian on July 27, 2008, 04:22:40 pm
________________________________________
“Clara, gimana situasi?”

“Masih aman. Fred sudah dateng,” jawab Clara dengan suara yang tidak begitu jelas. “Kamu di mana?”

Aku melirik gedung tinggi di seberang jalan. “On the way, sudah di depan target. Siapa aja yang udah dateng?”

“Fred—“ suara Clara menghilang sejenak. “—dan temenku, David.”

Nama ini tidak kukenal. “Newbie?”

“Yup.”

Ini sudah cukup. Aku sudah hampir sampai, harus segera kuputuskan sambungan teleponku dengan Clara, sebelum menarik perhatian orang. “Oke, aku sebentar lagi sampai di meeting point.”

“Oke.”

Kusimpan lagi ponselku, lalu bergegas masuk ke dalam gedung, berusaha bergerak secepat mungkin tanpa membuat orang curiga. Satpam di resepsionis melirikku tajam. Kukeluarkan jurus andalanku untuk membiusnya—senyuman mautku.

Berhasil. Dia terpukau dan aku berhasil masuk.

Cukup banyak juga orang di gedung ini. Aku tidak tahu berapa banyak yang tahu identitasku yang sebenarnya, bisa saja setengah dari mereka sebenarnya agen musuh yang menyamar. Elevator lebih terbuka dan rawan serangan sniper, jadi aku menyelinap di antara kerumunan orang dan menyelusup ke dalam lift. Sudut mataku menangkap seorang pria bertubuh tambun dengan kaca mata hitam berdiri di depan kantor sebuah agen perjalanan di depan lift, balas menatapku sementara pintu lift menutup.

Mencurigakan.

Dalam hitungan detik aku sampai di lantai empat, yang jauh lebih sepi. Sambil berjalan aku melirik ke bawah, ke arah sebuah ring skating di lantai tiga, yang penuh dengan anak-anak. Mereka harus dievakuasi secepatnya, untuk berjaga-jaga kalau kondisi berubah menjadi siaga merah, aku mencatat dalam hati. Tak jauh dari ring ada tangga darurat, mestinya tidak terlalu sulit.

Aku memasuki area meeting point, menyapukan pandangan ke seluruh ruangan, mencari individu-individu yang bisa saja kaki tangan musuh. Segala sesuatu bisa terjadi, bahkan di dalam food court ini.

Segerombolan anak muda di dekat pintu masuk sepertinya tidak mungkin—too noisy, takkan ada penjahat yang seribut itu. Sepasang kekasih di sudut bisa saja musuh, walau akting mesra mereka terlalu berlebihan. Tetap harus diwaspadai.

Yang paling mencurigakan seorang wanita berpakaian baby sitter dengan bayi di dalam gendongan kain. Jemarinya di-manicure, dan aku tidak yakin isi kain itu benar-benar bayi. Orang ini punya teknik penyamaran yang payah, tapi teknik menembaknya belum tentu sehancur itu. Kuawasi dia dengan sudut mataku sambil mendekati teman-temanku, yang memilih tempat di balik sebuah pilar besar. Pilihan pintar. Posisi yang sulit diawasi.

Aku mengambil tempat sambil menatap teman-temanku—lima orang, enam denganku sendiri. Clara dan Fred duduk bersebelahan, berhadapan dengan dua orang yang belum kukenal.

“Ini David, dan ini Jo.” Clara memperkenalkan. “Member baru.”

“Jo ini partnerku,” Fred menambahkan. Aku mengerti.

Aku mengangguk ke arah mereka—member-member baru itu. Bagus. Kelihatannya mereka bisa diandalkan. Aku menoleh ke arah orang terakhir, yang duduk di depanku, dan langsung merasa lega.

“Senior Amru, senang melihatmu di sini,” ucapku. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya, dan aku senang Amru bergabung dengan misi kali ini. Dia banyak pengalaman, sejak dari generasi pertama organisasi FFDN.

Amru balas tersenyum. “So, wassup? Punya informasi terbaru?”

Aku membuka tasku dan mengeluarkan sebuah buku. “Ini,” kataku, meletakkan buku itu di atas meja. “Isinya tentang pertempuran dua dunia. Aku baru aja dapet.”

Clara mengambil dan membuka-buka buku itu. “Menarik. Mungkin kita bisa ambil sesuatu dari sini.”

“Pastinya. Ini, ada satu lagi,” kataku, mengulurkan sebuah buku lagi.

“Amigdalus?” David membaca judulnya. “Apa ini?”

Aku mengangkat bahu. “Nggak jelas. Penulisnya sok tahu. Tapi paling nggak, kita punya gambaran kondisi lapangan saat ini. Penjelasan tempur di buku ini beda dengan yang pertama.”

“Guys, simpen dulu ini semua. Berapa orang lagi yang direncanain mau dateng?” Fred mengambil alih perhatian.
“Waktu kita terbatas.”

“Rey, sayangnya, nggak bisa dateng. Dia ada misi di Bandung,” kataku menyayangkan, kecewa. “Elyasa rencananya mau dateng.”

Clara menyergah, “Nggak, nggak jadi. Dia tiba-tiba cancel, ada tugas di tempat lain.”

Sial! Aku memaki dalam hati. Dua agen tidak bisa datang. Aku tidak yakin misi kami akan dapat berhasil hanya dengan enam orang, walaupun Amru ikut.

“Cari tahu yang lain!”

Aku mengambil ponsel dan menelepon Hege, sementara Clara menghubungi Arik. Hege saat ini sedang dalam misinya sendiri, entah apa, dan yang jelas tak mungkin bisa datang karena posisinya di Bali. Arik, sama saja. Quistis dan Vadis … tak seorang pun tahu nasib mereka sekarang.

Fred melirikku dan aku tahu ia sedang menghitung jumlah agen yang tersisa. Fapur, Jeff, Piethitam, Juunishi. Hopeless. Mereka agen-agen khusus yang tidak bisa diganggu, dan hanya Tuhan yang tahu bagaimana cara menghubungi mereka.

Harapan kami tinggal satu.

Clara memecah sepi. “Villam?”

“Kukirim SMS,” sahut Fred, dan tangannya menari di atas keyboard ponselnya. “Ada yang tahu di mana posisi Villam sekarang?”

“Dia ada di Jakarta, setahuku,” jawabku. Tapi entah di Jakarta bagian mana dan sedang melakukan misi apa. Dia selalu terlibat pertempuran. Tak bisa disalahkan, Raja Perang selalu sibuk.

Amru bertanya, “Dia tahu kita ada misi besar hari ini?”

“Tahu,” jawab Clara. “Villam bilang mau ngecek jadwalnya dulu, tapi nggak ada kabar lagi sampai sekarang. Fred, Villam bales?”

Fred menatap ponselnya, bingung. “Nggak. Kenapa ya?”

“Ini mendesak,” kataku mengingatkan. “Kita cuma punya waktu dua jam sampai misi dimulai, dan harus ada kepastian saat ini juga.”

“Kutelepon aja,” sahut Fred, menempelkan ponsel di telinganya.

Hening. Semua menanti.

Setelah beberapa saat yang mencekam, Fred menyerah. Ia menurunkan ponselnya, menatap kami dengan putus asa. “Nggak diangkat. Apa itu berarti ….”

Kami saling menatap, terhenyak, merasa ngeri. Kalau sampai Villam tidak merespon, hanya ada satu kemungkinan: dia benar-benar tidak bisa menjawab.

Aku disergap ketakutan. Tidak mungkin! Apa ini berarti … Villam gugur dalam tugas?

“Kita telah kehilangan satu agen lagi.”

Amru mengambil alih situasi. “Guys, kita sedang ada misi. Bukannya nggak khawatir sama Villam, tapi ada yang lebih penting dan mendesak saat ini. Kita harus fokus!”

“Bener,” David berkata. “Sekarang, gimana?”

“Kita cuma berenam,” Clara sangsi. “Emangnya bisa dengan jumlah segini?”

“Misi tetep misi, harus dijalanin,” kata Amru lagi. “Yakin sama diri sendiri, kita pasti bisa!”

“Tenang, Clara. Ada satu member lagi, Andri, udah nyusup di tempat musuh sekarang. Jadi kita bertujuh, lumayan, kan?” Fred menyambung. “Sekarang, gini: kita menyebar, aku pergi duluan bergabung dengan Andri. Kalo situasi aman, kalian nyusul. Oke?”

“Oke!”

“Fine.”

“Go, Fred!”

“Hati-hati, ya.” Aku tidak bisa membayangkan kalau Fred bernasib sama dengan Villam. Tidak bisa dihubungi sama sekali.

“See ya, guys,” Fred memisahkan diri, dan sebentar saja sosoknya hilang di antara manusia-manusia yang hilir mudik. Semoga Tuhan menyertaimu, Kawan.

Kami menanti, dalam senyap. Sesekali ada yang bicara, tapi tak mudah berbicara dengan tenang sementara Fred menantang bahaya, sendirian. Agen baru bernama Andri itu masih misterius, dan aku tidak tahu apa-apa tentangnya.

Ponselku berbunyi. Pesan dari Fred.

“Sekarang, guys! Fred udah ngebuka jalan!” seruku, dan kami bergegas pergi. Sambil lalu kulirik baby sitter tadi, yang sedang melirikku dengan mata besarnya. Tunggu sampai ada kesempatan, kubikin cewek satu ini gak bakal bisa melirik lagi!

Kami tiba di depan markas musuh—sebuah ruangan besar di seberang food court—dan langsung mencari Fred. Aku dan Clara mengitari kerumunan orang.

“Fred; mana dia?” Clara khawatir. “Dia hilang?”

“Nggak, itu dia!” Aku melihat Fred mendekati kami dengan terburu-buru, setengah panik, diikuti seseorang yang kuduga member baru itu.

“Di sini sinyal sulit!” sengalnya. “Untung kalian sudah ada di sini, gerbangnya sudah terbuka, tapi kita harus menyebar dan menyerang di waktu yang bersamaan!”

“Baik,” sahutku cepat. “Kamu pimpin team satu, Fred. Aku team dua.”

Fred membagi informasi yang berhasil dikumpulkannya. Kami harus menyerang tepat pukul setengah empat sore. Tidak boleh kurang, atau lebih. Target kami akan muncul pada waktu tersebut, dan kesempatannya hanya itu.

Sepakat. Fred, Jo dan Andri bergabung dalam team satu, sementara aku, Amru, David dan Clara di team dua. Kami menyebar seketika setelah mencatat waktu infiltrasi di benak masing-masing: 15.30.

Waktu bergerak cepat. Team dua berderap ke lokasi yang sudah disepakati, menempatkan diri di sudut dan menunggu. Syukurlah, tak ada antek-antek musuh yang menghadang kami. Tapi tidak menutup kemungkinan Fred dan yang lain tidak menemui kesulitan. Kukirim SMS untuk team satu.

Fred, we’re on the spot.

Fred membalas: Oke. We’ll be there.

Paling tidak Fred masih hidup! Waktu di ponselku menunjukkan jam 15.09.

Team dua saling berpandangan, menunggu, merasakan ketegangan yang merayapi. Kalau team satu tidak berhasil mencapai lokasi ini, hanya tinggal kami berempat yang tersisa untuk mempertahankan nama organisasi. Keberhasilan misi besar ini berada di tangan kami. Beban yang luar biasa berat. Lawan kami adalah seorang pria legendaris, yang reputasinya sangat terkenal di seluruh dunia. Pria yang lekat dengan kegelapan.

15.30.

Fred, Goddamit, where are you?!

Waktu habis. Kuanggap team satu tidak berhasil.

Aku menghela nafas dan berkata, “Teman-teman, sekarang tinggal kita berempat. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Harus bergerak sekarang juga.”

David mengangguk. Clara dan Amru setuju.

“Baik! Kita pergi sekarang!” aku melirik Clara. “Stick with me, Clara. Jangan jauh-jauh!”

“Oke,” jawab Clara, menyertaiku ke Gerbang Kegelapan.

Tiba-tiba seseorang muncul dari dalam, menerobos pintu. Secara refleks aku memasang kuda-kuda, siap menyerang, Tapi Clara menahanku.

Clara berseru, “Fred!”

Fred berlari menghampiri kami, dan aku sangat lega. Syukurlah, kamu selamat, Fred!

“Sori, tadi ada masalah, ponsel nggak bisa dipake! Kami terpaksa masuk duluan. Andri sama Jo udah di dalem.”

“No probs, Fred. Sekarang mendingan kita cepet masuk, waktunya udah mepet banget!” aku menyahut. Sekarang, setelah tahu kami masih bertujuh, semangatku terpompa lagi.

Fred mendahului kami, berperan sebagai penunjuk jalan. Kami memasuki pintu dan langsung disergap kegelapan. Hanya ada beberapa lampu yang temaram, masih cukup untuk menerangi jalan, tapi ini sangat berbahaya. Musuh bisa muncul setiap saat dari arah yang tak terlihat.

“Tetap waspada,” bisikku.

Aku menoleh sesaat dan mendapati Amru-lah yang berada di posisi paling belakang—posisi paling rawan. Khas Amru, rela berkorban dan melindungi teman-temannya. Clara dan David berlari di belakangku. Langkah kami teredam karpet yang melapisi lantai.

Tempat apa ini?

Kami berlari menuruni undakan. Udara dingin mulai melingkupi, aku tahu Clara mulai kedinginan. Aku menggenggam erat benda di tanganku, tak ingin melepaskannya.

Di ujung undakan, Fred berhenti. “Di sini,” katanya, menatap lurus ke depan. “Bersiaplah. Dia akan datang, sebentar lagi.”

Kami menanti dalam gelap. Kurasakan Andri dan Jo bergabung. Kami bertujuh menatap ke arah yang sama dengan Fred, menghitung detik kemunculan Sang Kegelapan. Yang ada saat ini hanya suara nafas kami, dan waktu yang berdetik.

Suara keras menghentak dan kami terpaku. Dia muncul.

The Dark Knight.

PS: Fred, you’re next. Handle this. ;)
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on July 27, 2008, 07:09:07 pm
________________________________________
Jadi kesimpulannya, yang dateng itu: bjvadis, clickdian, kurara, amru, fred, dan dua orang baru: David, & Jo ? ???
Tujuh orang doank? :D
Sepiiii :P
Villam knp ga dateng lagian?
Terus buntutnya nonton Dark Night? ???
bleh itu si Jeff baru nonton jugak tuh, jangan2 satu bioskop tapi gak nyadar ;D

Nice report eniwei, sis [thumbsup]

@Om Pur,
Nice repiu, jelas dan lengkap [thumbsup]
Tapi ane ngebacanya agak-agak shock jugak, secara ente baru aja ngebantai abis-abisan di repiu sebelumnya, langsung beralih ke yang almost perfect gitu :o
Somehow, repiu ente jauh lebih asik kalo isinya pedes buat ane sih :D
(bukannya gw gak seneng liat novel orang berhasil, tapi gw seru aja kalo liat ente gregetan dan mencak-mencak gak puas ;D ;D)
JAdi buat Blue, congrats! :)
Jarang-jarang ada novel yg bisa lulus seleksi om pur.
Kurasa zauri-nya clickdian (the next, kan?) bakal dapet penilaian antara negatif dan positif, tengah-tengah lha, we’ll see [biggrin]
________________________________________
Post by: fr3d on July 28, 2008, 11:21:11 am
________________________________________
Tentang review Dream Utopia (gak salah nyebut, emang sengaja [biggrin]),
gw setuju sama om pur tentang cover depan yang aneh gambar dan judulnya, dan sinopsis di cover belakang.
Pas gw buka cover dalam (halaman 1), ternyata judulnya beda sama cover luar! :o
Koq bisa2nya ya Diwanteen melakukan itu? Mengubah judul secara tidak konsisten!
Dasar, sangat tidak profesional! [thumbsdown]

@samy,
sabtu kemaren gw liat2 lagi bukunya di gramed TA. Akhirnya ada juga yang kebuka plastiknya… ;D
Kalau diliat sekilas isinya, gw emang berasa novel Dream Utopia itu inspired banget oleh harpot ya?
Sampe ada tabel jadwal mata pelajaran sihir segala… :D
Tapi, maap ye, sam, gw akhirnya gak beli, soalnya bacaan masih menumpuk di rumah… [rolleyes]

Oya, nemu Enthirea dan Neverwhere-nya Neil Gaiman pula, tapi gak beli juga… ;D

Quote from: clickdian on Today at 11:14:10 am
Kan udah kuserahkan padamu ;D ;D ;D
Lanjutin dunk! ^-^

Belum ada tenaga. Masih terkuras habis akibat pertarungan dahsyat kemarin itu…
Dan lagi, masih harus memulihkan otot2 leher… [biggrin]
Mungkin Agen Amru bersedia melanjutkan dulu? ???
________________________________________
Post by: clickdian on July 28, 2008, 12:53:53 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 28, 2008, 11:21:11 am
Dan lagi, masih harus memulihkan otot2 leher… [biggrin]

Ah iya. efek yang sama terhadap semua agen FFDN yang pergi ke misi DarkNight kemaren ;D ;D
Ehm.
lagi terpesona sama deathnote.
*ngeliat review gathering di halaman sebelumnya*
T____T
kalo dibandingin kalah jauh bangettt!! :’(
________________________________________
Post by: fr3d on July 28, 2008, 02:13:47 pm
________________________________________
Berhubung tema Sang Penandai udah reda, gw juga mau skalian meluruskan kalau sebenernya, seandainya gaya bahasa nyastra yang berlebihan di Sang Penandai dikurangin, novel itu justru bakalan bisa dinikmatin banget, karena ceritanya emang sederhana dan tujuan/tema utamanya jelas (meski endingnya gagal).

Ini juga buat gw mikir kalau mungkin (cuma mungkin, :P ) gw sebelumnya telah salah menilai Sang Penandai. Soalnya, gw menggunakan ekspektasi terhadap novel populer untuk menilai Sang Penandai yang padahal, mungkin niat awalnya emang dibikin jadi novel sastra, lalu barulah belakangan “diturunkan” derajatnya menjadi semisastra-semipopuler (?). Well, entah untuk tujuan apa? Menjangkau lebih banyak pembaca mungkin?
Yang jelas, “rujak” itu rasanya jadi kurang asik dan gagal.

Di lain pihak, kalau seandainya aja gw menggunakan kacamata sastra ketika membaca Sang Penandai dan menganggap gaya populer hanya sebagai “tambahan” belaka, maka mungkin justru Sang Penandai akan terasa lebih nikmat (cuma mungkin lagi, :P ).
(:D Puyeng ya?)

Gini deh,
Sang Penandai itu sekarang ibaratnya sirup yang ditambahin gula.
Padahal, (mungkin) seharusnya Sang Penandai adalah air gula titik, tanpa perisa buah-buahan.

Jadi,
@tere-liye,
“Matanya berbunyi air mata!” mungkin akan lebih pas. ;)

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on July 28, 2008, 07:27:06 pm
________________________________________
Quote
Jadi,
@tere-liye,
“Matanya berbunyi air mata!” mungkin akan lebih pas.

(buat yg udah muak gw ngomongin beginian, silakan diskip ;D)

Well, tentang metafora “Matanya berdenting air mata!”, akhirnya gw bisa menemukan konteks yang kuat mengena buat ngebantah elu-elu (semua! termasuk ewing, makmak, juunishi, serpentnyet :P ) yg tempok hari dengan
sotoynya mengecap metafora ini ‘salah/ilegal’ hanya dari sudut teknis aja. :P

Patut diketahui, di Sang Penandai tokoh Jim ini adalah seorang pemain musik–penggesek biola/pemetik dawai. Dalam beberapa scene, digambarkan bahwa Jim ini seneng maenin papan dawai, mendentingkan lagu-lagu di setiap kesempatan. Jadi akhirnya gw bisa dapet alasan kuat kenapa Tere Liye memilih metafor ‘berdenting’ ini alih-alih metafor lainnya yang lebih ‘benar’ secara de facto (minjem istiah om pur :P ).

Emang kalo berdiri sendiri, metafora itu mudah sekali diruntuhkan dari segi teknis.
Tapi kalo berdiri di buku sang Penandai, dalam hal ini gw kira konteks jatidiri Jim sebagai seorang pemusik bener-bener kena di metafora itu, sehingga sebetulnya faktor kesalahan teknisnya (sefatal apapun!) udah gak terlalu relevan lagi buat dipermasalahin.

Jadi ternyata, bener banged yang dibilang om pur, bahwa dalam sebuah novel, idealnya metafora itu dinilai gak dari segi teknis aja, tapi juga konteks yang mungkin cuma berlaku di novel itu.

Terlepas dari kesalahan teknisnya, kasus di atas cukup relevan kalo diibaratkan dengan dua metafora ini:

# 1.
Ia berangkat mengail kehidupan setiap subuh, dan telah menjadi umpan nasib dari semenjak bocah.
# 2.
Ia terbiasa membedah kasus dengan pisau analisis.

Metafora # 1 pas kalo tokohnya seorang nelayan, tapi agak gimanaaa gitu kalo tokohnya detektif.
Metafora # 2 pas banged kalo tokohnya seorang detektif/dokter bedah yang nyambi jadi detektif :D , tapi tidak kalo tokohnya nelayan.

Yah… kira-kira gitulah poin gw.
Ah eniwei, sudahlah tak usah didebatin lagi, suer kapok mampus gw abis dijailin genderuwo malem minggu kemaren x___x

@om pur,
Quote
Kalo gue terapin penilaian gue ala ke Lemures, maka Lanang akan mendapat label pretensius dengan huruf P besar, diunderline dan di bold sekalian. (Rey, silakan bangga atau tersinggung, terserah lo deh,… hehehe)
Entah apa yg dilihat oleh Juri DKJ 2006. Mungkin mereka punya definisi sendiri buat sastra, yang diluar jangkauan orang-orang awam kayak kita

wah kalo gitu ane bangga lha, berarti lemures ane punya kemungkinan menang donk kalo ikutan lomba DKJ ;D ;D
Eniwei, kan yang jadi pertimbangan juri bukan cuma gaya bahasa aja, siapa tauk walau gaya bahasanya cacat/pretensius, tapi plot, karakterisasi, tema, riset, greget novelnya bener-bener mumpuni.

Quote
Buat gue udah jelas. Seni, mo dalam bentuk apapun, pasti punya ‘rasa’ yang akan menunjukkan bahwa ekspresi yg dipilih tersebut pas atau mengada-ada. Itu sebabnya seniman selalu bisa memilih mana yg ‘nyeni’ dan mana yang ‘sok nyeni’.

Well, ini daku sepakat jugak bos, akhirnya. :-[
oh yap, dulu di tret ini, gw pernah nyebut gaya bahasa si Alk buat cuplikan 'Kael & Marina'-nya cenderung 'tidak jujur pada diri sendiri' (waktu itu gw belum kenal istilah 'pretensius' ;D), eh tauknya belakangan gw sendiri yg kena label itu. :-[

________________________________________
Post by: ewingerwin on July 29, 2008, 08:04:45 am
________________________________________Ikutan nimbrung soal gaya bahasa nyastra aaah.

Penggunaan gaya bahasa nyastra tu mirip bedah plastik. Di tangan seorang ahli yang bener-bener tau bidangnya, dia akan menghasilkan keindahan yang luar biasa ngelebihin Luna Maya atau Sandra Dewi atau bahka Aiswarya Ray. Nah, kita tau ketiga nama yang gw sebutin tu memiliki rupa yang wah. Lalu bagaimana dengan Mona Lisa? Apakah Mona Lisa cantik? Mungkin, tapi nggak semua orang bisa menikmati atau menemukan 'kecantikan'-nya. Karya seni tulis tu kayak gitu, ada yang keindahannya bisa diakses dengan mudah oleh publik, ada yang cuma bisa eksklusif
dinikmati oleh sekelompok orang tertentu setelah penelitian mendalam dengan kajian menyeluruh.

Sekarang pertanyaannya bagi para penulis adalah: Lu mau nulis karya tulis yang bisa dinikmati keindahannya oleh khalayak ramai, atau mau bikin karya yang super nyastra dengan gaya bahasa berbunga-bunga yang sulit dicerna oleh publik lengkap dengan risiko dicap pretentious?

Soal kutipan dari karya berjudul "Lanang", gw setuju, itu terasa super pretentious. Bikin kalimat indah nggak harus super berbunga-bunga kayak gitu. Kalimat yang singkat dan efektif tetap bisa menyampaikan keindahan/memiliki unsur estetika jika pilihan kata/diksinya pas dengan konteks.
Ah, iseng bikin satu kalimat sastra sesuai konteks protagonis yang seorang mekanik:
Matanya menurunmesinkan pelumas hati.

[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on July 29, 2008, 06:41:34 pm
________________________________________
gw baca komentar orang di goodreads ttg Lanang, pada bilang, “Lanang bukan untuk anak kemaren sore yang baru belajar sastra” ;D ;D
Itulah yg gw maksud dari kemaren-kemaren. Terkait jugak dengan omongan ewing yg ini:

Quote
Lalu bagaimana dengan Mona Lisa? Apakah Mona Lisa cantik? Mungkin, tapi nggak semua orang bisa menikmati atau menemukan ‘kecantikan’-nya. Karya seni tulis tu kayak gitu, ada yang keindahannya bisa diakses dengan
mudah oleh publik, ada yang cuma bisa eksklusif dinikmati oleh sekelompok orang tertentu setelah penelitian mendalam dengan kajian menyeluruh.

Well, Lanang juara kedua DKJ 2006, kurasa buku ini bolehlah diandaikan sebagai Monalisa. It’s oke kalo orang gak suka sama gaya bahasanya, yang entah apapun alasannya: karena terlalu awam dengan sastra, karena terlalu pretensius, karena norak. Tapi semenjak kualitas buku ini sudah ‘terbukti’ di DKJ 2006, rasanya kita gak lagi berhak menilai buku ini secara serampangan tanpa pernah ngebaca langsung keseluruhan bukunya.

Jadi dengan ini gw mau menarik stempel “norak” gw sebelumnya yg ditujukan ke cuplikan Lanang, karena gw kira, gak adil menilai buku secara keseluruhan cuma dari sepenggal cuplikan itu. Dan bahkan, betapapun noraknya suatu kalimat/paragraf yang terkesan sewaktu kita baca terpisah dari bukunya, kita tetap gak layak untuk buru-buru ngasih
stempel norak/pretensius. Toh bisa aja paragraf itu emang keliatan norak kalo berdiri sendiri, tapi jadi perfect/harmonis kalo berdiri di dalam bukunya, jadi satu kesatuan bersama paragraf-paragraf di keseluruhan buku.

Well intinya ginih, Monalisa emang gak cakep, tapi banyak seniman yg udah menyatakan kalo Monalisa punya aspek seni yg tinggi kan? Apakah ‘gak resek’ kalo ada orang buta seni yg mencak-mencak protes: “Lukisan cewek jelek gini kok dibilang masterpiece? Gw bisa gambar cewek yg jauh lebih cakep dan bahenol dari ini!”

Untuk dapat mengapresiasi suatu karya sastra sekelas Lanang (yg notabene menang di posisi kedua DKJ 2006) sejatinya dibutuhkan pengalaman, analisa mendalam, dan ‘lidah’ dengan kedalaman citarasa tertentu, dan ketika seseorang yg gak memenuhi satu-dua/bahkan seluruh syarat di atas dengan seenaknya ngecap norak/pretensius terhadap karya itu, relevankah komentarnya?

Maksud gw, kalo mau maen adil, jangan terlalu terburu-buru menilai segala sesuatunya dari kaca mata kita aja. ^-^

[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 30, 2008, 05:19:40 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 29, 2008, 06:41:34 pm

gw baca komentar orang di goodreads ttg Lanang, pada bilang, “Lanang
bukan untuk anak kemaren sore yang baru belajar sastra” ;D ;D

Ha ha ha,… gue ga bisa berenti ngakak baca komentar kayak gitu ;D ;D ;D
Karena sikap begitu memang udah lazim di kalangan seni, terutama di kalangan yang masih ‘tanggung’. Pemula bukan, master jugak belum, tapi belum sadar akan ketanggungannya.

Seorang master yg bener kagak akan ngomong begitu. Sebab maestro tahu bahwa justru bila karya seninya tidak bisa nyampai ke orang-orang kemarin sore, then sesungguhnya dia belum berhasil. Liat Pramudya. Terserah orang mau bilang apa buat pribadinya, tapi tak butuh seorang yang ‘pagi ini’ (untuk menyebut antitesis ‘kemarin sore’) untuk bisa
mengapresiasi karyanya.

Dan gue secara pribadi juga udah sering liat sikap kayak gitu dalam bentuk-bentuk kesenian yg lain. Memang ada sekelompok orang yang terlanjur menganggap dirinya udah ‘di atas awam’ dengan menggeluti suatu ekspresi seni tertentu. Entah, keterlibatan dengan seni memang sering memicu kesombongan alami tertentu dalam diri manusia. Yg lucu ya itu, kemudian muncul komentar-komentar yang sejenis yang umumnya merendahkan ke’kemaren sore’an orang lain.

Dan gue langsung tahu, yg ngomong begitu itu sembilan puluh sembilan persen biasanya justru orang-orang ‘tanggung’ yang sedang dalam perjalanan memahami Dunia ini dan dirinya sendiri. Dan orang-orang kayak gitu ya happens aja ada di mana-mana, bahkan dalam lembaga-lembaga tertentu :)

Jadi Rey, kalo menurut gue sih, jangan terlalu diambil kata-katanya secara face value. siapa tahu itu juga minjem dari orang lain ;) , yg minjem juga dari orang lain, dst.

Kalo gue, gue minjem pendapat bahwa seni akan ‘sampai’ ke manapun ia mengalir. Pada saat elo ketemu dengan ekspresi seni yang ‘benar’, maka it’s unmistakable, elo gak perlu jadi seorang ‘pagi ini’ untuk menerimanya. Mungkin kalo kita-kita anak kemarin sore akan menyerapnya sacara global, tanpa tahu bagaimana menguraikannya menjadi aspek-aspek analisis, sebagaimana yang bisa dilakukan seorang ahli. Tapi seperti juga CINTA, elo gak perlu dikasih tahu, elo akan tahu sendiri WHEN it comes.

Quote
Itulah yg gw maksud dari kemaren-kemaren. Terkait jugak dengan omongan ewing yg ini:

Quote
Lalu bagaimana dengan Mona Lisa? Apakah Mona Lisa cantik? Mungkin, tapi nggak semua orang bisa menikmati atau menemukan ‘kecantikan’-nya. Karya seni tulis tu kayak gitu, ada yang keindahannya bisa diakses dengan
mudah oleh publik, ada yang cuma bisa eksklusif dinikmati oleh sekelompok orang tertentu setelah penelitian mendalam dengan kajian menyeluruh.

Ah, kalo gue memahaminya secara gak berbeda. Untuk menikmati seni, memang tetap ada prasyarat, yaitu kemampuan menerima medium yang menjadi perantara seni tersebut. Contohnya sastra, tentunya ada syarat
menikmatinya, yaitu pertama bisa baca, dan kedua menguasai bahasa yang sama.

Seni lukis juga ada persyaratan selain bisa melihat dan ga buta warna, yaitu harus tahu apa-apa saja yang perlu dilihat dalam menikmati lukisan. Kalau seseorang sudah memiliki persyaratan ini, maka karya seni itu bisa dinikmatinya. Tambahan-tambahan informasi akan membuat jendela apresiasinya lebih terbuka lagi. Tapi bahwa sebuah corat-coret jelek akan terlihat jelek di matanya, biarpun orang-orang lain berusaha meyakinkan hal sebaliknya, itu sudah hukum alam dalam seni.

Maka bisa aja orang awam bilang monalisa jelek, karena simply dia belum tahu bagaimana cara menikmati seni lukis. Sebagaimana orang buta huruf akan menggunakan catatan harian bernilai tinggi sebagai kertas toilet, atau orang suku terasing menggunakan cek tunai bernilai seratus juta dollar untuk melinting rokok :o .

Quote
Jadi dengan ini gw mau menarik stempel “norak” gw sebelumnya yg ditujukan ke cuplikan Lanang, karena gw kira, gak adil menilai buku secara keseluruhan cuma dari sepenggal cuplikan itu. Dan bahkan, betapapun noraknya suatu kalimat/paragraf yang terkesan sewaktu kita baca terpisah dari bukunya, kita tetap gak layak untuk buru-buru ngasih
stempel norak/pretensius. Toh bisa aja paragraf itu emang keliatan norak kalo berdiri sendiri, tapi jadi perfect/harmonis kalo berdiri di dalam bukunya, jadi satu kesatuan bersama paragraf-paragraf di keseluruhan buku.

Kalo saran gue sih, jgn buru-buru narik stempel norak itu untuk di cap lagi kemudian ;D ;D ;D. Udah, baca aja dulu sampai tuntas, baru kasih pendapat! He he he,.. stempelnya disimpen aja dulu. ;)

Gue udah baca sampai halaman 32 :o (Gosh, seorang Fapur baru baca sampai segitu??). Terus terang majunya tersendat-sendat. Abis gimana, geli sih. Baca bentar,… geli,… tarok. Ambil lagi buka lagi,… geli lagi,… tarok. Sumpah, memang novel ini tidak membuatku memunculkan reaksi alamiku yang biasa kalo gue baca buku jelek, yaitu tertidur :P . Reaksinya bener-bener baru, di luar kebiasaan (Heheheh, mungkin di situlah aspek ‘seni’ nya! [rolleyes]).

Masak, burung babi hutan adalah perkawinan genetik antara burung dengan babi hutan. Dan pemikiran ini disounding oleh seorang scientist (dalam buku ini). Dan orang-orang seniman ‘pagi ini’ itu berani ada mendaulat buku Lanang sebagai “Science Fiction”???

Tapi iya lah, baru halaman 32, masih kemarin sore, pulak? Bisa ngomong apa, aku? :P

Mendingan kasih hadiah kutipan ini aja deh, salah satu yang pastinya telah membuat ‘orgasme’ para seniman ‘pagi ini’ itu. (Jangan salah, istilah orgasme adalah sebuah istilah dengan muatan seni yang luar biasa kontekstual, secara novel lanang memang diposisikan sebagai novel yang aspek seksualnya tidak dapat dipisahkan dari plot, demikian menurut
komentar salah satu ahli dalam diskusi buku Lanang :) )

==========================
Detam-detam sepatu pada lantai beradu degam dengan degup jantung dan paru-paru kempang kuncup, membawa tubuh-tubuh itu beradu cepat keluar dari ruang, namun tertumbuk pada suara keras nyaring yang diteriakkan
seorang lelaki yang tergopoh-gopoh masuk lewat pintu halaman depan.

“Celaka! Celaka!! Gawat!!! Sapi-sapi perah tak tertolong!! Seperti domino jatuh beruntun!!…”

Keringat mengucur menghujani lantai kantor koperasi.

==========================
(hal. 28-29)
;D ;D ;D
Yo wis, ayo baca lagi,…..
Salam,
FA Purawan

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XXVI (23 Jul 2008 – 24 Jul 2008)
• Lanjutan pembahasan Sang Penandai

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on July 23, 2008, 04:19:08 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 02:01:06 pm
Kalo lu bilang gitu, sama aja lu mempermasalahkan kenapa di LotR ada scene kebiasaan Merry & Pippin yang seneng ngisep cerutu, terus adegan pengejaran orc di deked hutan Lorien yg menyebabkan Boromir mati, tradisi bangsa elf bikin roti lembas, terus scene Aragorn pacaran ama Arwen, terus scene perang Rohan, dan masih banyak lagi.

Semua itu ngaruh gak ke misi utama Frodo ngelebur One Ring? Gak.

Contoh2 di atas gak relevan sama yang gw perdebatkan. [hammer]
Lagian, dari lima contoh di atas, empat di antaranya memang mempengaruhi misi utama Frodo ngelebur One Ring, cuma satu yang kagak dan itu pun bukan masuk kategori plot/subplot.

Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 02:01:06 pm
Apakah setiap detil/subplot kecil dalam suatu tubuh cerita harus selalu mendukung bangunan plot utama secara konkrit? Aturan maen darimana itu? Betapapun sepelenya, yang namanya ‘wisata fantasi’ itu tetap penting, terutama buat faktor entertaining novel, memperkaya warna plot, & memperjelas setting.

Plot2/subplot2 yang gw perdebatkan tidak memperkaya plot (kalau soal warna, gw gak tau maksudnya apaan; plot twist?), dan jelas tidak memperjelas setting.
Kalau segi entertaining (faktor plus) sih iya, untuk orang yang memang suka.
Tapi, untuk entertaining yang mengisi sepertiga novel, tetep aja boros, dan gak ada usaha untuk diberdayakan dengan lebih tepat atau optimal. [hammer]
Males kali ya? Yang penting terbit? ???

Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 02:01:06 pm
Contoh kasusnya, hari ini Budi punya misi pergi ke bogor, apakah segala sesuatu yang terjadi di sekujur perjalanan itu harus merupakan satu kesatuan plot sinkron hingga akhirnya Budi sampe ke bogor? Gw kira, kagak juga. Bisa aja mobil yang Budi kemudikan nabrak bajaj, dan si Budi jadi harus mengantarkan supir bajaj ke rumah sakit terdekat sebelum nyampe ke bogor. Atau bisa juga si supir bajaj tewas dan Budi jadi ditangkep polisi dan malah gak pernah nyampe bogor. Ini yang namanya ‘warna plot’, fred, kalo lu nangkep poin gw.

Argumen yang ngaco. Coba baca lagi deh contoh di atas.
Jelas2 semua kejadian yang dialami Budi itu mempengaruhi perjalanannya ke Bogor.
Jadi, udah pasti gw gak akan bermasalah kalau ceritanya seperti yang dicontohkan di atas ini.

Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 02:01:06 pm
Bagian kura-kura yang mendatangkan badai mahadahsyat, itu jelas buat menguatkan tema struggle dalam tubuh buku, tentang sebuah rintangan tak terduga yang harus dihadapi di tengah perjalanan.

Bagian Puncak Adam, itu jelas Subplot buat karakter Pate lha! Elu ngeprotes bagian ini, sama aja dengan ngeprotes subplot Merry & subplot Pippin (dan masi banyak lagi) di LOtR. Tapi sebetulnya subplot ini pun masi berpengaruh kuat ke plot utama Jim, karena di lereng puncak adam itu Jim kena godaan cinta pertamanya.

Buat Barikade Perawan, apakah gak wajar kalo suatu artefak yang amat berharga dijagain sedemikian rupa ama rintangan yang berat banged?

Cuma Tere-Liye yang tahu pasti apa sebenernya tujuan memasukkan cerita tentang Puncak Adam, kura-kura raksasa, dan Barikade Perawan.

Eniwei, yg gw maksud dengan Puncak Adam itu bukan tentang si Jim ditangkep sama orang2 desa itu, tapi tentang Puncak Adam-nya itu sendiri. Maksudnya gini, Tere-Liye sengaja menciptakan Puncak Adam supaya si Jim bisa ditangkep sama orang2 desa itu, lalu mengalami “godaan” pertama kali. Itu maksud gw dengan menyebutnya sebagai “tempelan”.

(Mendramakan Tere-Liye)

TL: Aduh, yang penting Jim harus ditangkep terus digoda nih sebelum tiba di kota Champa, tapi gimana ya caranya supaya itu logis? :-\
(*berpikir… berpikir… berpikir keras…*)

Lampu tiba-tiba menyala!

TL: Itu dia caranya! Gw buat aja kalau ternyata si Pate kenal pendeta yang kepengen naik ke Puncak Adam! Aaargh! Bagus banget nih pasti! Jadi nantinya ternyata ada desa yang terisolasi di lereng gunung itu! Nah, Jim dan Pate mampir dulu deh ke situ, terus… Hmm… terus gimana ya…
(*berpikir… berpikir… berpikir lebih keras…*)

Lampu menyala lebih terang!

TL: ADA TRADISI! Desa itu punya tradisi yang melarang orang naik ke Puncak Adam! Terus Pate melanggar, dan akhirnya Jim ditangkep! Habis itu, dia “digoda” deh! YES! Hebat banget sih gw! [thumbsup]
(*melompat kegirangan*)
[clap] [winner] [punk]

—TAMAT—

Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 02:01:06 pm
ah gw kira, orang yang udah lulus SMP mestinya bisa langsung ngerti semua kiasan yang ada di Sang Penandai sekali-dua kali baca. Masih cetek banged gitu lho, belom sedalem kiasan dalam cerpen-cerpen kompas minggu.

Kalau mau, gw juga bisa bilang gini, “Tere-Liye mungkin gak lulus SMP kali ya, levelnya ternyata cuma bikin kiasan sejelek itu. Masih jauh sama cerpen-cerpen kompas minggu, yang udah bagus, tepat sasaran pula kiasannya.” :P

Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 02:01:06 pm
Kenapa juga orang harus selalu diibaratkan dengan hal yang bagus-bagus dan gak boleh jelek? Maksud lu kiasan yg ‘lebih bagus’ itu, harus yang bersih-bersih dan steril bebas kuman semacam “Jim berhati seputih malaikat”, “Jim setulus orang suci”, “Jim setampan pangeran Harry” gitu kali ye?

Argumennya gak relevan lagi. [hammer]
Toh gw bukan bilang kiasannya jelek karena gak steril bebas kuman/bersih.
Kenapa pula sampe bawa2 malaikat? ???

Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 02:01:06 pm
Soalnya ini cuman bisa diukur ama orang-orang yang ngerti sastra, dan kapasitas gw untuk menjelaskan belum nyampe ke situ.

Gw penasaran “aspek sastra” dari kalimat terakhir paragraf yang ada “gemerincik separuhnya” itu apaan.
Mudah2an segera bisa dijelaskan oleh seorang dosen sastra. [biggrin]

Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 02:01:06 pm
Terkadang, seorang penulis gak harus menjabarkan segala sesuatunya secara langsung, jelas, dan lengkap. Yang terpenting itu asal konteksnya dari awal udah ada terpatri di pikiran pembaca. Yang Tere Liye coba terapkan di metafora_gak_utuh itu, beliau ingin memancing pemahaman utuh dari pembaca dengan sepotong umpan yang ‘tepat’. Tapi emang gw rasa umpan yang ‘tepat’ ini cuma bisa kena di pembaca yang ‘tepat’ jugak. *sigh*

Buat gw, di situlah seninya, fred.

Yahhh.. Apakah level bahasa gw terlalu tinggi sampe-sampe gw bisa nangkep konteksnya sedangkan elu kagak? Kagak juga ah…

Cuma nyari2 alasan juga nih!
Kalau semua penulis nyari2 alasan kayak gini, kasian lah yang jadi pembaca.
Sayang sekali, seperti kata jeff, berarti pembaca bukan raja. [ban-1]

(Drama contoh; Warning: Don’t try this at home!)

Penulis iblis: Mampus deh loe2 pada yang jadi pembaca! SYUKURIN! (*sambil mengutuk2 keras!*)
Mendingan jadi penulis aja sono! Kayak gw nih! Bisa ngapain aja sesuka gw!
BWAHAHAHA! (*ketawa bos penjahat level 8*)

—END SCENE—

Eniwei, gw kan udah bilang di post sebelumnya kalau gw juga sebenernya paham sama maksudnya Tere-Liye.
Tapi, kalau sesuatu bisa dibuat mudah, kenapa harus dipersulit? ???

Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 02:01:06 pm
Sama aja elu mempermasalahkan semua metafora yang berjenis majas ini (termasuk contoh majas-majas sejenis yang udah gw kasih). Yang satu ini udah masuk ke gaya bahasa personal pengarang, sih.

Wanna know something, rey?
Majas2 contoh yang dikau kasih emang tepat dan emang lebih bagus daripada kalimat “berdenting” itu.
Bahkan, gw inget di prolog Lemuria ada kalimat yang nyinggung2 tentang “kucing pelabuhan” atau apa gitu (gw agak lupa), dan itu masih jauh lebih bagus daripada yang “berdenting” ini. ^-^

“Aaah… membicarakan ini semua, membuat jantungku jadi berdenting tak karuan,” kataku pasrah.
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: juunishi master on July 23, 2008, 08:32:53 pm
________________________________________
Ikutan nimbrung ya. :D
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 23, 2008, 10:21:59 am

Quote
Quote
Quote
Contoh 3: # Jim terdiam melihat siluet pandangan di hadapannya. …. Gadis itu menatap ke gemerincik beningnya air sungai. Mukanya terlihat separuh. Dan hati Jim seketika bergemerincik separuhnya. (hal 178) #

Ini salah satu paragraf terkeren di sang penandai bagi gw, jadi bisa tolong dijabarkan argumen lu untuk komen ‘please deh ah’ lu thd paragraf ini?

Kl ini sih gw setuju dengan Fred. Kalau ga ada embel2 kalimat sebelumnya mungkin gw masih tertarik mengorek arti metafora ini. tapi kalau liat kalimat sebelumnya jelas aneh, ga nyambung dan ga ada artinya. Udah ada gadis menatap gemericik beningnya air sungai, trus mukanya terlihat separuh, kemudian metaforanya gabungin keduanya, hati Jim seketika bergemerincik separuhnya ???

Dari bunyi jelek, estetika biasa aja, dan artinya ga jelas. Seperti kata Fred, metafora yang artinya ga sampai ke pembaca artinya gagal. Tugas kita sebagai penulis itu apa? Menyampaikan cerita/informasi ke pembaca! Kalau pembaca gagal untuk menerima informasi yang diberikan secara benar, artinya kita yang gagal sebagai penulis, bukan mereka yang gagal sebagai pembaca -__-. Pembaca adalah raja.
Buat gw sebagai pembaca, kalimat itu memang terkesan sbg permainan kata, tapi gw tetep ngerasa kalimat2 itu gak enak dibaca. Jd, dalam hal ini, bisa dibilang gw setuju ama fred dan Alpha.

Mau bkn permainan kata sih mnrt gw boleh2 aja, tapi kalo dilempar ke pembaca yang anggap saja awam soal sastra, mgkn sesuatu yg bagus itu malah jd gak penting dan kesannya “cape dehhh~”
CMIIW.
Hehe.
________________________________________
Post by: BloodSin on July 23, 2008, 10:48:12 pm
________________________________________
Quote
Argumen yang ngaco. Coba baca lagi deh contoh di atas.
Jelas2 semua kejadian yang dialami Budi itu mempengaruhi perjalanannya ke Bogor.
Jadi, udah pasti gw gak akan bermasalah kalau ceritanya seperti yang dicontohkan di atas ini.

Oke gw akui gw keliru ngasi contoh kasusnya. Mestinya begini kali ye: Dalam perjalanan ke bogor itu, mobil Budi rusak, dan harus masuk ke bengkel selama dua hari. Jadi terpaksa dia menepikan mobilnya di suatu bengkel di Sentul buat ngebenerin mobilnya. Dan ternyata kebetulan, di Sentul lagi ada Balapan Moto GP tingkat dunia, dan Budi seorang Moto GP freak! Didukung kondisi misi Budi untuk mencapai Bogor itu gak terikat oleh waktu tenggat (dia boleh nyampe hari apapun–yang penting nyampe), dan lagi di Sentul gak ada angkot/mobil sewaan (yang ini jangan diprotes–gw cuma mau ngasih gambaran utuh ttg kondisi subplot ‘Puncak Adam’ yg ada di Sang Penandai) untuk meneruskan perjalanan, akhirnya Budi memutuskan untuk menonton Balapan Moto GP itu selama nunggu mobilnya beres di bengkel.

Apakah ini salah? Apakah ini jadi berkesan dibuat-buat? Apakah subplot kecil nonton Balapan Moto GP ini jadi waste kalo ternyata gak ngaruh langsung ke keseluruhan plot Budi pergi ke Bogor? Buat gw, kagak. :P

Karena udah dibackup sama sistem logika sebab-akibat yang tepat.
Quote
Kalau mau, gw juga bisa bilang gini, “Tere-Liye mungkin gak lulus SMP kali ya, levelnya ternyata cuma bikin kiasan sejelek itu. Masih jauh sama cerpen-cerpen kompas minggu, yang udah bagus, tepat sasaran pula kiasannya.”

Toh kiasan-kiasan Tere Liye yang ‘sejelek’ itu pun masih ada yang gak bisa lu tangkep maksudnya.
Quote
Argumennya gak relevan lagi.
Toh gw bukan bilang kiasannya jelek karena gak steril bebas kuman/bersih.
Kenapa pula sampe bawa2 malaikat?

Karena argumentasi lu sebelumnya itu absurd, konyol, dan gak relevan. Gimana gw mau counter dengan balesan yang relevan? Kalo penulis sekaliber JK Rowling aja gak mempermasalahkan metafora ini–dan malah turut memakainya juga dalam bukunya (gw belom baca Harpot tapi si serpent yang bilang yaa :P ), dan elu mempermasalahkannya dengan alasan subjektif: “Karena metafora itu jelek–masak tampang orang ketakutan mau disamain ama tikus, bisa dibayangin gak bakal sejelek apa?”–padahal metaforanya jelas-jelas udah kena pada posisi dan kondisi sosok tokoh yang emang pengecut, jelas ada seorang dari dua orang ini yang bermasalah. Masalahnya ada di seorang JK Rowling, atau di seorang diri lu, cuma Tuhan yang tauk. [biggrin]
Quote
Eniwei, gw kan udah bilang di post sebelumnya kalau gw juga sebenernya paham sama maksudnya Tere-Liye.
Tapi, kalau sesuatu bisa dibuat mudah, kenapa harus dipersulit?

Nah kalo lu sendiri sebetulnya udah nangkep konteksnya, kenapa juga harus dipermasalahin lagi kalimatnya? ???

Ibaratnya ginih, elu dateng ke dukun buat berkonsultasi akan suatu masalah, dan si dukun ngejawab masalah itu via telepati/penglihatan ke dalam diri elu–tidak dengan kata-kata.

Padahal pesan si dukun udah nyampe di benak elu, tapi elu masih protes nuntut si dukun harus ngejawab pake kata-kata lisan. Penting gak sih elu protes?
Quote
(Drama contoh; Warning: Don’t try this at home!)

Penulis iblis: Mampus deh loe2 pada yang jadi pembaca! SYUKURIN! (*sambil mengutuk2 keras!*)
Mendingan jadi penulis aja sono! Kayak gw nih! Bisa ngapain aja sesuka gw!
BWAHAHAHA! (*ketawa bos penjahat level 8*)

—END SCENE—

Kalo ini sih cuma elu dan imajinasi eksplisit lu
Quote
Wanna know something, rey?
Majas2 contoh yang dikau kasih emang tepat dan emang lebih bagus daripada kalimat “berdenting” itu.
Bahkan, gw inget di prolog Lemuria ada kalimat yang nyinggung2 tentang “kucing pelabuhan” atau apa gitu (gw agak lupa), dan itu masih jauh lebih bagus daripada yang “berdenting” ini.

Karena contoh-contoh dari majas yang gw kasih itu udah kepalang familiar/sering dipake dalam novel-novel indo, maka berkesan ‘lebih bagus dan tepat’ daripada majas berdenting itu. Padahal, kalo mau diliat pola & prinsip kerja majasnya, sama aja. Lu mempermasalahkan kata berdenting itu gara-gara lu baru denger istilahnya/gak biasa dipake.

Sebelomnya gw ada kasih satu contoh majas:

“Pandangan mata yang menyapu seluruh sudut.”

Bahkan di sini metaforanya lebih ekstrem lagi, mata disamain ama sapu! Tapi karena kita dari awal udah tauk konteks ‘menyapu’nya kayak gimana, kita udah gak lagi terheran-heran dengan majas ini.

Dalam kasus ‘berdenting’, mungkin kebetulan aja kali yak gw-nya yang masih inget jenis majas itu (dan kinerjanya gimana) jadi gak lagi mempermasalahkannya?
Quote
“Aaah… membicarakan ini semua, membuat jantungku jadi berdenting tak karuan,” kataku pasrah.

Ahh, nyantai aja lha. :) Gw masih memposisikan pembicaraan ini sebagai diskusi terbuka / bedah buku dari Sang Penandai, di mana gw di posisi pro dan elu di posisi kontra. Gw belom nyampe pada taraf membenci seorang fred / nganggep lu musuh kok. Gw bahkan masih lebih sebel ke si serpent daripada elu ;D ;D

Masalah tarik-tarikan urat/omongan gw yg berkesan sampe emosian, well itu yang namanya ‘darah muda’ om (jadi inget lagu H. Roma Irama :D ), harap dimaklumi dan dimaafkan yak ^-^

Sampe di sini, gw udah bisa liat POV lu kayak gimana, dan kayaknya kalo diperpanjang juga gak ada ujung dan gunanya. Well gw nyerah dah, sampe sini terserah lu dah diskusi pro-kontra ini mau dibilang seri atau elu yang menang.

Yang jelas, Sang Penandai bukan fantasi-lokal yang paling gw favoritin (walau emang buku ini gw posisikan masuk ke dalam jajaran fantasi lokal terbaik), justru gw gak sabar nunggu babak kedua dari ‘diskusi romantis’ kita ini: review Goran elu! [biggrin]
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: ewingerwin on July 24, 2008, 07:03:32 am
________________________________________
Heuheuheu, gw coba ikutan komen deh soal novel yang lagi seru-serunya dibahas. (Gw belum baca, jadi gw mengulasnya per contoh kalimat yang dah disampaikan bos Fr3d aja).

Pertama:
Quote
Contoh 2: # Jim patah-patah mendekat. (hal 147) #

Ini memang super jelek. Serius. Yang ada di bayangan gw adalah goyang patah-patahnya salah satu artis dangdut kita. Kalo mau pake kalimat konotatif, setidaknya pakelah kalimat konotatif yang nyambung sama konteks.
Quote
Contoh 3: # Jim terdiam melihat siluet pandangan di hadapannya. …. Gadis itu menatap ke gemerincik beningnya air sungai. Mukanya terlihat separuh. Dan hati Jim seketika bergemerincik separuhnya. (hal 178) #

Ini juga. Sama kayak di atas. Pertama, apa itu ‘gemerincik’? Gw nyari di KBBI kok nggak ada ya? Yang paling mendekati (dalam konteks kalimat ini) adalah ‘gemercik’. Kalo memang yang dimaksud penulis adalah ‘gemercik’, penggunaan yang pertama rada meleset karena ‘gemercik’ tuh lebih menyiratkan audio ketimbang visual. Dalam kata lain, dia lebih ditujukan untuk telinga dan bukan mata. Dalam kata lain, dia lebih untuk ‘didengar’ dan bukan untuk ‘ditatap’.

Penggunaan ‘gemerincik’ (kalo memang yang dimaksud penulis adalah ‘gemercik’) yang kedua, cukup mengena sih, cuma kalo gw sih lebih memilih kata ‘berdesir’ aja yang lebih tepat sasaran.
Quote
Contoh 5: # Matanya berdenting air mata! (hal 272) #

Gw baca komen Bloodsin dan gw kurang setuju. Berdenting itu berarti mengeluarkan/menghasilkan bunyi (denting), karena itu dia nggak cocok untuk selain bunyi. Sekali lagi, konteks kata. Ini sama kalo gw bilang “Wanita itu menelurkan seorang bayi perempuan yang lucu.” Gimana, nyambung nggak? Kalo lu bilang kalimat yang gw bikin itu nyambung, maka gw berani bilang kalo berdenting tu nyambung sama air mata.

Oke, segitu aja. Lanjut lagi diskusinya.

*Edited* Soal majas personifikasi/antropomorfisme (itu nama yang gw liat di wiki, nggak tau bener atau nggak), dia tetap harus sesuai konteks keadaan aslinya.

Contoh:
Quote
Sirene mobil pemadam kebakaran itu meraung-raung bak hendak merobek telinga para pendengarnya.

Gimana? Itu bener, kan? Coba bandingin sama yang ini:
Quote
Sirene mobil pemadam kebakaran itu berbisik-bisik bak hendak merobek telinga para pendengarnya.

Dua-duanya majas personifikasi, tapi satu sesuai konteks, satu lagi ngasal. Itu maksud gw, majas tu jangan ngasal. Jangan bikin kalimat yang nggak sesuai konteks lalu membenarkannya dengan bilang, “Ini majas loooo”.

Pemilihan kata/diksi yang tepat dan sesuai konteks akan membuat sebuah majas menjadi efektif dan menyampaikan maknanya dengan sempurna. Pemilihan kata/diksi yang salah justru akan membuat majas itu jelek terlepas dari betapa nyastranya tu majas. Dan ingat, majas yang nyastra belum tentu majas yang baik dan benar.

Sedikit pengingat:

menelurkan =/= melahirkan (dalam konteks contoh kalimat yang gw tulis di atas)
berdenting =/= menitikkan
________________________________________
Post by: fr3d on July 24, 2008, 08:44:26 am
________________________________________
Gyaaa! Seru-seru! Bara yang harusnya udah mulai padam, malah ada yang ngipasin lagi… Wkwkwkwk! ;D
Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 10:48:12 pm
Karena argumentasi lu sebelumnya itu absurd, konyol, dan gak relevan. Gimana gw mau counter dengan balesan yang relevan? Kalo penulis sekaliber JK Rowling aja gak mempermasalahkan metafora ini–dan malah turut memakainya juga dalam bukunya (gw belom baca Harpot tapi si serpent yang bilang yaa :P ), dan elu mempermasalahkannya dengan alasan subjektif: “Karena metafora itu jelek–masak tampang orang ketakutan mau disamain ama tikus, bisa dibayangin gak bakal sejelek apa?”–padahal metaforanya jelas-jelas udah kena pada posisi dan kondisi sosok tokoh yang emang pengecut, jelas ada seorang dari dua orang ini yang bermasalah. Masalahnya ada di seorang JK Rowling, atau di seorang diri lu, cuma Tuhan yang tauk. [biggrin]

Tentang tukis, eh tikus, ini gw akan kasih contoh beberapa kalimat:

Contoh 1: # Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap. #

Contoh 2: # Jim seperti tikus dalam perangkap yang mencicit. #

Contoh 3: # Jim kelabakan seperti tikus dalam perangkap. #

Kalimatnya Tere-Liye (yang ternyata pria… :o ) adalah yang contoh 1.
Bisa bedakan kan antara ketiga contoh itu?

Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 10:48:12 pm
Nah kalo lu sendiri sebetulnya udah nangkep konteksnya, kenapa juga harus dipermasalahin lagi kalimatnya? ???

Karena kalimat pengandaiannya salah, dan karena gw adalah pembela kebenaran! HOHOHO! ;D :P

Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 10:48:12 pm
Karena contoh-contoh dari majas yang gw kasih itu udah kepalang familiar/sering dipake dalam novel-novel indo, maka berkesan ‘lebih bagus dan tepat’ daripada majas berdenting itu. Padahal, kalo mau diliat pola & prinsip kerja majasnya, sama aja. Lu mempermasalahkan kata berdenting itu gara-gara lu baru denger istilahnya/gak biasa dipake.

Sebelomnya gw ada kasih satu contoh majas:

“Pandangan mata yang menyapu seluruh sudut.”

Bahkan di sini metaforanya lebih ekstrem lagi, mata disamain ama sapu! Tapi karena kita dari awal udah tauk konteks ‘menyapu’nya kayak gimana, kita udah gak lagi terheran-heran dengan majas ini.

Di contoh “pandangan mata yang menyapu seluruh sudut” itu benar karena sapu memang bisa menyapu seluruh sudut. Jadi, konteks penggunaan sapu untuk analogi “pandangan mata yang menyeluruh ke setiap bagian ruangan” adalah tepat. [thumbsup]

Dalam kasus “matanya berdenting air mata”, gw gak bisa menemukan hubungan seperti di atas. Mata gak bisa berdenting. Dan, hasil dari dentingan udah jelas adalah suara, bukan air mata.
Lagian, menurut gw (mungkin gw juga salah ya…), dua kalimat itu sebenernya majasnya beda.

Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 10:48:12 pm
Quote
“Aaah… membicarakan ini semua, membuat jantungku jadi berdenting tak karuan,” kataku pasrah.

Ahh, nyantai aja lha. :) Gw masih memposisikan pembicaraan ini sebagai diskusi terbuka / bedah buku dari Sang Penandai, di mana gw di posisi pro dan elu di posisi kontra. Gw belom nyampe pada taraf membenci seorang fred / nganggep lu musuh kok. Gw bahkan masih lebih sebel ke si serpent daripada elu ;D ;D

Ih, rey, kalimat “jantung berdenting” itu kan kalimat retoris buat nyindir seseorang (berinisial “R”), koq malah ditanggepin sih? :D

Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 10:48:12 pm
justru gw gak sabar nunggu babak kedua dari ‘diskusi romantis’ kita ini: review Goran elu! [biggrin]

:o
Huweeek!

Lagian, Goran kayaknya bakalan nunggu lama. Masih ada TFH dan Bilangan Fu, dan untuk suatu keperluan mendesak, gw juga harus baca Change-nya Rhenald Kasali.

Oya, gw juga udah selesai baca novel Harafisy-nya Naguib Mahfouz (terjemahan, keluaran Bentang).
Ini jelas bukan cerita fantasi sih, tapi ceritanya bagus. Gayanya mirip kisah2 di Alkitab Perjanjian Lama gitu.
Pertama-tama cerita si A, terus si A beranak si B dan ceritanya jadi tentang B, lalu si B beranak C, ceritanya ganti lagi, dstnya., sampe lebih dari 10 generasi gitu deh. Keren!
Gak aneh juga sih kalau bagus, soalnya dia emang pemenang nobel sastra. [thumbsup]
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 24, 2008, 10:25:56 am
________________________________________
Quote
Karena argumentasi lu sebelumnya itu absurd, konyol, dan gak relevan. Gimana gw mau counter dengan balesan yang relevan? Kalo penulis sekaliber JK Rowling aja gak mempermasalahkan metafora ini–dan malah turut memakainya juga dalam bukunya (gw belom baca Harpot tapi si serpent yang bilang yaa ), dan elu mempermasalahkannya dengan alasan subjektif: “Karena metafora itu jelek–masak tampang orang ketakutan mau disamain ama tikus, bisa dibayangin gak bakal sejelek apa?”–padahal metaforanya jelas-jelas udah kena pada posisi dan kondisi sosok tokoh yang emang pengecut, jelas ada seorang dari dua orang ini yang bermasalah. Masalahnya ada di seorang JK Rowling, atau di seorang diri lu, cuma Tuhan yang tauk.

Waktu baca Harpot dan baca bagian pettigrew yang demen banget mencicit itu, terus terang gw masi merasa aneh, itupun tertolong karena pettigrew memang dasarnya tikus/animagus yang bisa berubah jadi tikus. Nah, apalagi kalau diterapkan ke orang yang bukan tikus, lebih aneh lagi -__-
Quote
Jim seperti tikus dalam perangkap yang mencicit. #

hehe kalau pemilahan kalimatnya dirubah dikit jadinya : Jim [seperti tikus] [di dalam ] [perangkap yang mencicit]
ekekeke… Mending ‘Jim bagai tikus dalam perangkap yang siap untuk disembelih’ (atau diapain lah normalnya bunuh tikus, direbus kali) Dengan begini pembaca bisa membayangkan horor yang dirasakan si tikus atau Jim ini dihadapkan ke kematian atau sesuatu yang menakutkan.
Quote
Karena contoh-contoh dari majas yang gw kasih itu udah kepalang familiar/sering dipake dalam novel-novel indo, maka berkesan ‘lebih bagus dan tepat’ daripada majas berdenting itu. Padahal, kalo mau diliat pola & prinsip kerja majasnya, sama aja. Lu mempermasalahkan kata berdenting itu gara-gara lu baru denger istilahnya/gak biasa dipake.

Sebelomnya gw ada kasih satu contoh majas:

“Pandangan mata yang menyapu seluruh sudut.”

Bahkan di sini metaforanya lebih ekstrem lagi, mata disamain ama sapu! Tapi karena kita dari awal udah tauk konteks ‘menyapu’nya kayak gimana, kita udah gak lagi terheran-heran dengan majas ini.

Pandangan mata menyapu seluruh sudut
matanya berdenting air mata

hmm gimana yah… gw nangkep sih yang dimaksud BloodSin. Seandainya kita baru pertama kali denger majas yang mata menyapu itu mungkin kini pun kita sedang memperdebatkan itu alih2 air mata berdenting. Well, kalau mau membenarkan atau menyalahkan sebuah majas mah ga akan ada habisnya, karena ga pernah ada istilah benar atau salah. Karena itu tolak ukurnya cocok atau tidak cocok, dan informasinya sampai dan diterjemahkan dengan tepat atau tidak ke otak pembaca? Dalam hal ini, jawabannya gw rasa tidak, melihat sudah beberapa orang yang memprotes tapi hanya satu yang membela. Mau dibilang majas itu diakui seluruh dosen sastra pun, kalau ga nyambung ke pembaca ya tetep aja artinya metafora itu gagal dalam menjalankan tugasnya.
________________________________________
Post by: juunishi master on July 24, 2008, 11:19:21 am
________________________________________
Oke, gw tertarik membahas ttg:
Quote
Mata berdenting air mata.

Kalo gw disuruh ngebahas, mula2 gw akan membandingkan dengan yg menggunakan kata “menyapu”.
Quote
Matanya menyapu seluruh sudut ruangan.

Aneh tapi nyata. Kalimat pertama tu pake kata “berdenting”, kalo masih ingat pelajaran bhs Indonesia imbuhan ber- dlm kata “berdenting” itu memiliki arti “mengeluarkan/menimbulkan” (dlm hal ini suara denting, CMIIW kalo ada artian denting selain suara). Kalimat kedua pake kata “menyapu” yg berimbuhan me- yg berarti “melakukan hal” (again, CMIIW).
Dua2nya sama2 predikat, oke. Tapi mnrt gw, yg satu itu kata kerja yg gak perlu pake objek (gw lupa namanya, kasih tahu gw dong), yg satu lagi kata kerja yg bisa diberi objek. Kalo mnrt gw, selain majas yg kurang make sense, faktor jenis kata kerja itu juga berpengaruh ke nggak enak dibacanya.
Hehe.
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: BloodSin on July 24, 2008, 02:07:46 pm
________________________________________
Wahh.. ‘diskusi’nya udah satu lawan tiga ginih :D
Mulai sekarang setiap quote kudu gw namain nih biar gak kecampur-capur orangnya :D

@Serpent,
Quote
Ahh… memang ini comment yang gw expect dari elo Argumen tidak relevan untuk melarikan diri dari pernyataan gw. Apa tidak ada alasan lain selain gw belum baca bukunya bos? Lagian disini gw engga mengkritik buku Sang Penandai, coba baca lagi yang anda Quote itu… komen yang satu ini khusus untuk gaya bicara elo dalam membela Sang Penandai . Untuk menilai diri lo kan ga perlu baca buku dulu…

Sebelum nyuruh gw baca lagi postingan elu yang ini,
Quote
Wakakakak aduh, kocak banget deh perangnya Fred ama Rey XD Terutama drama Tere Liye nya XD

Kalau memihak sih, gw akan memihak Fred. Argumen Bloodsin mirip si Rijon, selalu dibawa2 nyasar ke contoh masalah lain yang ga relevan. Dah, ga usah dilanjutin, fred, lo cuma akan berakhir ngelus2 dada, ati2 kena struk.

Lagian kesimpulan akhirnya disini yang nilai pembaca. Inilah kecenderungan penulis Indo, egois dan suka memaksakan kecanggihan cerita mereka sendiri.

Jika pembaca bilang mereka tidak mengerti tulisan sang penulis, seharusnya sang penulis bilang, “oh berarti level bahasanya mesti diturunkan dikit, nah kl begini gimana? udah lebih gampang dimengerti belum?”

Tp penulis egois akan lebih memilih berkata, “ga ngarti? ya jangan komentar! Emang gw maksa lo beli buku gue?? Buku gw cuma untuk buku orang high class! berpendidikan tinggi! Ga suka, ga usah baca!!”

Well, itulah kesombongan penulis sini, dan gw akui, gw pun masih belum bisa lepas dari hal itu. Padahal penulis yang baik adalah penulis yang sanggup merendahkan dirinya, merakyat, dan selalu menulis dengan memikirkan perasaan pembaca di kepalanya. Cara Bloodsin berkomentar seperti Raja di dalam istana, yang mengira semua rakyat di luar dididik seperti keluarga kerajaan, padahal jelas tidak. Raja yang baik harus melangkah ke bawah dan liat dengan mata kepala sendiri, seperti apa rakyatnya.

Kenapa gak lu duluan yang baca lagi postingan lu di atas secara cermat? ???

Itung deh berapa kali lu nyebut kata ‘penulis’ di situ, apa gak merujuk Tere Liye secara langsung? Lagian konteksnya kan sekarang lagi ngomongin Sang Penandai, otomatis setiap ada istilah ‘penulis’ bakal merujuk Tere Liye.

Kalo lu mau merujuk ke diri gw dan komen-komen gw, mestinya lu pake subjek ‘pembaca/komentator’, atau sekalian merujuk nama gw langsung. Gw gak pernah memposisikan diri gw sebagai penulis dari awal diskusi.

Seharusnya omongan panjang-lebar lu di atas dipersingkat jadi gini aja:
Quote
Kalau memihak sih, gw akan memihak Fred. Argumen Bloodsin mirip si Rijon, selalu dibawa2 nyasar ke contoh masalah lain yang ga relevan.

Cara Bloodsin berkomentar seperti Raja di dalam istana, yang mengira semua rakyat di luar dididik seperti keluarga kerajaan, padahal jelas tidak. Raja yang baik harus melangkah ke bawah dan liat dengan mata kepala sendiri, seperti apa rakyatnya.

Gak usah ditambah-tambahin dengan ceramah menggelikan tentang penulis indo yang egois dan suka memaksakan kecanggihan cerita mereka sendiri.
Quote
Apa lo akan menjadi penulis bergaya Raja tiran, atau mau jadi penulis yang seperti raja yang merakyat dan care ama rakyatnya, itu pilihan lo sendiri

Quote
lagian disini lagi2 lo menunjukkan kesombongan anda sbg penulis. Mungkin bentar lagi requirement untuk orang mengkomentari cerita karangan lo atau bahkan sekedar membaca itu harus sudah membaca semua buku lokal yang ada? Udah mesti S1 sastra, juga mesti berwawasan luas dalam novel2 lokal pula. Ayolah, pembaca anda tuh orang awam, masa pembaca semuanya mesti sekelas reviewer sini yang udah level tinggi? Engga toh? Pembaca lu juga kebanyakan orang2 yang menilai sebelum membaca, dan berkomentar sesuai dengan pengetahuan dalam dirinya.

Gw bener-bener heran lho ama omongan absurd lu di atas. :o

Apakah kalo gw mengomentari omongan si Fred dengan gaya yang lu bilang kayak “Raja di dalam istana”, itu otomatis menjadikan gw juga sebagai penulis yang bergaya “Raja Tiran yang sombong”?

Di mana relevansinya mas?

Sekali lagi, posisi gw dari awal diskusi sampe sekarang masih sebagai pembaca buku Sang Penandai, bukan penulis. Kalo lu tiba-tiba memposisikan gw sebagai penulis, entah nyambung ke mana pun konteksnya, itu udah keluar jalur diskusi, bung.

@ewing
Quote
Gw baca komen Bloodsin dan gw kurang setuju. Berdenting itu berarti mengeluarkan/menghasilkan bunyi (denting), karena itu dia nggak cocok untuk selain bunyi. Sekali lagi, konteks kata. Ini sama kalo gw bilang “Wanita itu menelurkan seorang bayi perempuan yang lucu.” Gimana, nyambung nggak? Kalo lu bilang kalimat yang gw bikin itu nyambung, maka gw berani bilang kalo berdenting tu nyambung sama air mata.

Oke, segitu aja. Lanjut lagi diskusinya.

*Edited* Soal majas personifikasi/antropomorfisme (itu nama yang gw liat di wiki, nggak tau bener atau nggak), dia tetap harus sesuai konteks keadaan aslinya.
Contoh:

Sirene mobil pemadam kebakaran itu meraung-raung bak hendak merobek telinga para pendengarnya.

Gimana? Itu bener, kan? Coba bandingin sama yang ini:

Sirene mobil pemadam kebakaran itu berbisik-bisik bak hendak merobek telinga para pendengarnya.

Dua-duanya majas personifikasi, tapi satu sesuai konteks, satu lagi ngasal. Itu maksud gw, majas tu jangan ngasal. Jangan bikin kalimat yang nggak sesuai konteks lalu membenarkannya dengan bilang, “Ini majas loooo”.

Pemilihan kata/diksi yang tepat dan sesuai konteks akan membuat sebuah majas menjadi efektif dan menyampaikan maknanya dengan sempurna. Pemilihan kata/diksi yang salah justru akan membuat majas itu jelek terlepas dari betapa nyastranya tu majas. Dan ingat, majas yang nyastra belum tentu majas yang baik dan benar.

Nah, ini baru penjelasan yang relevan, jelas, dan memuaskan. [thumbsup] Penjelasan lengkap kayak ginilah yang gw harapkan dari kemaren-kemaren, tapi gak dateng-dateng. Kalo gini jawabannya sih gw rela deh mengakui kalo gw udah ngaco dengan menyamaratakan jenis-jenis majas personifikasi itu dengan kata ‘berdenting’. :)

Tapi sori, khusus untuk dua yang ini:
Quote
Contoh 2: # Jim patah-patah mendekat. (hal 147) #

Gw kira ini udah bener sebener-benernya, dan legal selegal-legalnya. Karena apa yang gw tangkep di benak gw udah sinkron dengan maksud pengarang yang tersirat dalam kalimat itu; bukan gerakan robot, bukan goyang patah-patah penyanyi dangdut, tapi gerakan ragu-ragu, sebentar maju sebentar berhenti.
Quote
Contoh 3: # Jim terdiam melihat siluet pandangan di hadapannya. …. Gadis itu menatap ke gemerincik beningnya air sungai. Mukanya terlihat separuh. Dan hati Jim seketika bergemerincik separuhnya. (hal 178)

Masih tetep paragraf keren di mata gw. Terserah lu pada mau bilang gw norak, aneh, sok nyastra. [biggrin]

@fred
Quote
Tentang tukis, eh tikus, ini gw akan kasih contoh beberapa kalimat:

Contoh 1: # Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap. #

Contoh 2: # Jim seperti tikus dalam perangkap yang mencicit. #

Contoh 3: # Jim kelabakan seperti tikus dalam perangkap. #

Kalimatnya Tere-Liye (yang ternyata pria… ) adalah yang contoh 1.
Bisa bedakan kan antara ketiga contoh itu?

Yap, tentu saja berbeda satu sama lainnya, dan tiga-tiganya bener gak ada yang aneh.

Tapi kalo boleh membandingkan situasinya dengan scene di Sang Penandai, yang paling pas dengan kondisi adegan dan tokoh Jim, adalah metafora nomor #1.
Quote
Karena kalimat pengandaiannya salah, dan karena gw adalah pembela kebenaran! HOHOHO!

Wah berarti elu Superman donk(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)
Quote
Di contoh “pandangan mata yang menyapu seluruh sudut” itu benar karena sapu memang bisa menyapu seluruh sudut. Jadi, konteks penggunaan sapu untuk analogi “pandangan mata yang menyeluruh ke setiap bagian ruangan” adalah tepat.

Dalam kasus “matanya berdenting air mata”, gw gak bisa menemukan hubungan seperti di atas. Mata gak bisa berdenting. Dan, hasil dari dentingan udah jelas adalah suara, bukan air mata.
Lagian, menurut gw (mungkin gw juga salah ya…), dua kalimat itu sebenernya majasnya beda.

Ini udah clear dengan penjelasan si ewing.
Quote
Ih, rey, kalimat “jantung berdenting” itu kan kalimat retoris buat nyindir seseorang (berinisial “R”), koq malah ditanggepin sih?

Well Fred, itu karena gw liat kalimat retorisnya dicetuskan oleh seseorang yang jantungnya lagi berdenting gak karuan, yang kebetulan berinisial “F”[biggrin], gara-gara diskusi seru sama si “R” itu, padahal si “R”-nya ngerasa biasa-biasa aja lho. Jantung die masih berdenting normal!

Jadi gw tanggepin deh, biar si “F” jantungnya bisa berdenting teratur lagi, dan gak terancam mati muda gara-gara resiko kena serangan jantung ^-^

Baeee banged ya si “R’ itu(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)
Quote
Lagian, Goran kayaknya bakalan nunggu lama. Masih ada TFH dan Bilangan Fu, dan untuk suatu keperluan mendesak, gw juga harus baca Change-nya Rhenald Kasali.

Aaahh, eke sih gapapa biar harus nunggu lama, yang penting mas fred jangan pernah melupakan ronde kedua (Goran) kita aja yahh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)

Eniwei, ronde pertama yang memuaskan [biggrin]
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: clickdian on July 24, 2008, 02:42:20 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 24, 2008, 08:44:26 am
Contoh 1: # Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap. #

Contoh 2: # Jim seperti tikus dalam perangkap yang mencicit. #

Contoh 3: # Jim kelabakan seperti tikus dalam perangkap. #

Guys…
Satu bagian yg aq pengen komen, tentang ‘mencicit seperti tikus’ini. menurutku udah tepat.
kalimat ini buatku, menggambarkan dua hal:
1. rasa takut si Jim. nyalinya menciut karena peristiwa yang harus dia hadapi. whether dia sebetulnya karakter dengan sifat pemberani atau tidak, yang jelas pada saat itu dia merasa takut, titik. jadi kalimat itu sebetulnya cuma kiasan untuk kondisi hati si Jim, bukan fisiknya.
2. menggambarkan respon si Jim terhadap rasa takutnya, bisa aja saat itu dia benar-benar ‘mencicit’–alias mengeluarkan suara2 lirih tak jelas, sebagai ungkapan kegugupan–instead of ngeluarin kalimat utuh, dan si penulis menggunakan kalimat ini sebagai penggambaran situasi yang paling mendekati keadaan.

Yang lain-lain aq juga nggak gitu paham. Mesti ditanya sama penulisnya kalo mau bener2 jelas.
Yg ‘patah-patah’, yg kebayang malah gerakan breakdance hahaha ;D ;D ;D

Modified message:
Gadis itu menatap ke gemerincik beningnya air sungai. Mukanya terlihat separuh. Dan hati Jim seketika bergemerincik separuhnya.

Gemerincik.. apa ya? *mikir mode on*
Gemercik? Gemericik? –> kalo gemerincik itu typos dari kedua kata ini, tetep gak match, karena gemercik dan gemericik refer ke pendengaran. sementara kalimat di atas ” … menatap ke gemerincik beningnya air sungai.” jelas-jelas pake indera penglihatan.

*mikiiiiiiiiirrr..*
nggak ah, rasanya gak pas. dan lebih binun lagi dengan kalimat berikutnya: “Dan hati Jim seketika bergemerincik separuhnya.”
Apa ‘gemerincik’ itu separuhnya di penglihatan si gadis dan separuhnya lagi di hati si Jim? –> ngawur mode on ;D

Sementara aq ambil kesimpulan kalo gemerincik itu kata yg belum aq tahu maknanya, yang bisa dipake untuk konteks pandangan mata dan hati sekaligus *hayyah*

Pffiuuhh.. susah juga ternyata urusan majas ini.

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XXV (22 Jul 2008 – 23 Jul 2008)

  • Review Sang Penandai oleh fr3d

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on July 22, 2008, 04:22:58 pm
________________________________________
SANG PENANDAI
(Tere-Liye; Serambi; Cetakan I, Desember 2006; 365 hlm.)

Sebelum mulai, gw kasih sinopsis singkat dulu ya, khususnya buat yang belum baca, berhubung di cover belakang bukunya emang gak ada sinopsisnya, dan malah diisi sama endorsement2.
Sebenernya kalau gak ada endorsement konyol dari Pak Faisal Basri justru bakalan ngejual banget deh back cover itu. Lagian bikin keki sih, koq bisa-bisanya orang yang gak pernah baca satu pun novel sampe selesai endorsement-nya malah dimuat?! Ngerti apaan dia tentang novel kalau satu pun gak ada yang selesai dibaca? ???

Jadi, apa isi novel Sang Penandai sebenarnya? [rolleyes]
Ceritanya, Jim si tokoh utama ditinggal mati kekasihnya, Nayla, dengan tiba-tiba. Dia lalu dikunjungi oleh seorang tua misterius nan kekal bernama Sang Penandai. Sang Penandai “menantang” Jim untuk merajut/menyelesaikan dongeng cintanya sendiri dengan cara menjadi seorang “pencinta sejati” (whatever that means :D ). Akhirnya, Jim ikut bersama Armada Kota Terapung pergi menjelajahi samudra nan luas, meniti petualangan demi petualangan, untuk menemukan Tanah Harapan.

Suatu kisah adventure/journey yang kedengarannya sangat menarik dan indah, kan?
Benar banget! Kebayang gak jadinya gimana kalau Alchemist-nya Paulo Coelho digabung sama Voyage of the Dawn Treader (Narnia 5)-nya C.S. Lewis? Pasti bagus banget! [biggrin]
Apalagi Tere-Liye memulai dongengnya dengan menggunakan kalimat2 yang ciamik. [thumbsup]
Paragraf pertama model Sang Penandai emang sering dipakai oleh novel2 non-fantasi (misalnya di buku2-nya Nicholas Sparks) atau paling gak di novel fantasi luar, tapi belum pernah gw temukan di novel fantasi lokal yang udah terbit dan udah pernah gw baca. Bener2 menarik deh, kalau gak mau dibilang menggugah!

Namun, jangan pada ketipu! [bigno]
Karena kenyataannya, bagian paling bagus dari seluruh novel Sang Penandai itu emang cuma di paragraf pertamanya aja!
Perlahan-lahan, tapi pasti, seluruh isi buku itu menjadi semakin aneh, mengada-ada, membosankan, bahkan sampai ke taraf bikin ilpil, apalagi sejak munculnya karakter Sang Penandai itu sendiri!
Alhasil, mencapai setengahnya Alchemist atau Dawn Treader aja kagak! [thumbsdown]

Hmm… Separah itukah? ???
Gw coba jabarin alasan gw satu2 ya:
(Btw, komen kali ini cenderung subyektif karena emang agak susah kalau mau obyektif… :-[)

Pertama, tentang karakter Sang Penandai.
Gayanya sangat annoying. [annoyed]
Gak tau deh Tere-Liye pake template tokoh apa buat karakter ini. Tapi yang jelas, boro-boro berperan sebagai karakter yang bijak, malah berkesan sotoy, ngeyel, dan kalau ngomong bertele-tele, terus ujung2nya gak ngejawab pertanyaan!
Yang ada di bayangan gw pertama kali tentang Sang Penandai ini adalah Dumbledore (yang juga emang agak jail), tapi setelah si Sang Penandai cuap-cuap lebih banyak lagi, yang kebayang malahan jadi si kakek kura-kura porno yang ada di Dragon Ball! (gw lupa siapa namanya)

Dan mungkin karena desperate (gak ada calon korban yang lain? ???), Sang Penandai juga kerasa agak memaksakan kehendaknya ke Jim, yakni supaya Jim pergi merajut dongeng cintanya.
Akhirnya, si kakek sotoy bukannya membuat Jim mengubah takdirnya sendiri, malahan mengubah takdir Jim sesuai dengan versi keinginannya. [hammer]

Buktinya, di cerita ada kejadian Jim lagi dikejar para pembunuh bayaran. Pada saat itu, Jim belum punya keinginan untuk pergi merajut dongeng seperti yang diminta Sang Penandai. Nah, si Jim seharusnya mati pada adegan itu, tapi tiba-tiba Sang Penandai muncul. Alih-alih berusaha mendorong Jim mengusahakan keselamatannya sendiri, Sang Penandai malah membunuhi para pembunuh bayaran itu untuk Jim!

Contoh lain (di hal 69), Sang Penandai bilang gini: “Ketahuilah, aku hanya muncul tiga kali untuk setiap manusia yang terpilih menjalani dongengnya, Jim…. Sayang, sikap keras kepalamu membuat tiga pertemuan itu terbuang hanya untuk penjelasan… dst.”

Jadi, sesuai SOP-nya Sang Penandai, Jim harusnya udah gak punya kesempatan lagi.
Tapi, di halaman 70, Sang Penandai malah bilang gini: “…. Maka aku akan membuat penyesuaian kecil untukmu. Kuberikan kau kesempatan keempat untuk bertemu denganku…. Kapan pun kau membutuhkan aku, panggillah!”

Tuh! Tokoh “demigod” yang seneng ikut campur takdir orang lain banget gak sih!?! [annoyed]

Tentang tokoh Sang Penandai ini, pada akhirnya yang bagus cuma cara munculnya doang, yaitu pake bawa2 ribuan capung. Pun begitu, cara itu gak ada maksud ataupun penjelasannya sama sekali, atau dengan kata lain, keliatannya emang cuma buat keren2 aja. :P

Kedua, tentang gaya bahasa, gaya narasi, teknik penulisan, dan kerabat2nya.
Agak tricky nih kalau mau menilai ini, karena penulis bisa aja selalu berdalil kalau dia sedang bereksperimental dengan gaya bahasa tulisannya (yang niatnya nyastra kali yee? ???).
Tapi, karena gw sangat mencintai faktor gaya bahasa, gw harus protes keras! [bigno]
Hal2 terkait gaya bahasa yang terpaksa harus gw permasalahkan, a.l.:

a. Tentang kalimat2 pendek
Tere-Liye keliatannya emang suka banget sama kalimat pendek (kalimat gak berstruktur lengkap).
Gak ada masalah!
Lagian ini ternyata dipake pula sebagai media untuk mempermainkan emosi pembaca.
Tapi sayangnya, penggunaan kalimat2 pendek ini (yang ada di 90% bagian novelnya) hampir setengahnya kerasa kurang pas dan gagal. Gak dapet deh maksudnya apaan.

Contoh dari novel:
# Jim menatap Pate lamat-lamat. Tidak mengerti, apa masalahnya kalau muka dan fisik Pate tidak seperti orang-orang benua utara lainnya? Kembali menatap guratan tersebut. Lantas memegang lengan Pate, “Maukah kau mengajariku?” (hal 93) #
Bingung kan!

b. Tentang kalimat pengandaian/kiasan yang gak pas atau aneh

Contoh 1: # Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap. (hal 62) #
Apa coba bagusnya kalimat itu? ???
Jim mencicit aja udah jelek, apalagi mencicit seperti tikus dalam perangkap!
Kebayang gak kayak apaan?

Contoh 2: # Jim patah-patah mendekat. (hal 147) #
Model gerakan robot gitu? ???

Contoh 3: # Jim terdiam melihat siluet pandangan di hadapannya. …. Gadis itu menatap ke gemerincik beningnya air sungai. Mukanya terlihat separuh. Dan hati Jim seketika bergemerincik separuhnya. (hal 178) #
Please deh ah! [hammer]

Contoh 4: # Ajaib! Badai terdahsyat yang pernah ada di lautan itu juga mereda begitu saja. Seperti seorang anak yang diberi permen. (hal 240) #
Kalau ada guru Bahasa Indonesia yang bilang pengandaian itu bener, pasti deh bakalan gw kasih permen! [thumbsup]

Contoh 5: # Matanya berdenting air mata! (hal 272) #
Maksudnya apa ya? ???

c. (Yang ini subyektif) Tentang kalimat2 narasi (bukan dialog) yang menyuruh2 pembaca
Gw ngerasa keganggu banget sama kalimat2 narasi macam itu!
Contohnya model begini:
# Lihatlah dia sekarang kehilangan harta paling berharga yang pernah dimilikinya. # (hal 37)

Terus masih di halaman yang sama ada juga kalimat narasi sok tau kayak gini:
# Bukankah sudah dikatakan di awal kisah ini? Hari itu adalah hari teraneh yang pernah ada di kota tersebut. #

Jadi sebenernya mau bercerita apa ngasih2 instruksi sih?!? [annoyed]
Kalau cuma satu dua kali sih bisa ditolerir, tapi ini berkali-kali! Lebih dari dua puluh kali ada mungkin!
(*geram!*)

d. Penggunaan font italic juga terlalu sering, terkadang bahkan for no good reason.

Ketiga, tentang plot.
Plot2 di dalam cerita, seperti kunjungan ke Puncak Adam, bertemu kura-kura raksasa, dan keberadaan barikade perawan, hampir gak ada gunanya sama sekali dalam keseluruhan bangunan plot utama. Jelas sekali dibuat-buat entah demi memperpanjang cerita atau mencari alasan guna menutupi lubang plot lain… [thumbsdown]

Terus, ada juga sejumlah hal berkaitan plot yang patut dipertanyakan, misalnya:
a. Kenapa Yang Zhuyi menyerang Armada Kota Terapung? Alasannya apa? Apa armada itu bawa banyak barang berharga yang worth it untuk dirampok dengan cara sekolosal itu?
Kalau iya, gak ada penjelasannya tuh!
Yang Zhuyi malah cuma keliatan kayak bajak laut yang kurang kerjaan aja, iseng-iseng berhadiah menghancurkan armada kerajaan benua utara. Kepengen nambah experience dan jadi tenar kali yee? ???

b. Lagian juga, tujuan Armada Kota Terapung menemukan Tanah Harapan apa pula?
Gak jelas.
Kalau cuma ekspedisi penjelajahan untuk mencari daerah baru (seperti yang akhirnya terjadi di ending, yakni cuma mampir terus langsung pulang lagi), mah gak perlu serame-rame itu, sampai bawa 40 kapal berisi 25.000 orang lebih! Kecuali niatnya emang buat perang atau kolonisasi, barulah wajar bawa banyak2 pasukan.

c. Laksamana Ramirez (salah satu tokoh pendukung yang penting di dalam cerita) diceritakan dulunya kriminal yang membunuh 5 orang. Setelah bebas, dia pergi ibukota. Anehnya, dia tiba-tiba bisa jadi seorang laksamana di ibukota, malahan sampe bisa disuruh memimpin Armada Kota Terapung segala!
Penjelasannya apaan nih? [dunno]

Keempat, tentang setting.
Kalau dari aspek sejarah, geografis, kelogisan setting, cerita Sang Penandai ini jelas2 gak terjadi di bumi.
Misalnya aja dari perang lautnya yang masif dan cenderung gak logis, atau juga dari posisi benua2 yang sesuka-sukanya penulis.
Nah, yang jadi pertanyaan, kenapa nama2 istilah “berbau” bumi masih dipake juga seenaknya tanpa ada penjelasan apa pun? (Arab, Buddha, dll.)
Jadi niatnya itu cerita di bumi atau bukan? ???

Kelima, tentang ending.
Gw harus menyatakan kalau seluruh petualangan sepanjang novel itu serasa gak ada artinya sama sekali di ending karena Jim (si tokoh utama kita) gak berhasil atau gagal menemukan jawaban atas pertanyaannya, dan jawaban yang dia butuhkan itu justru malah dikasih tau dalam bentuk kuliah oleh si pemberi pertanyaan itu sendiri!
BYAAAR PET! [ban-1]
Sia-sia.
Sang Penandai dan sang penulis boleh jadi mengatakan kalau Jim berhasil berdamai dengan masa lalunya, tapi kenyataannya, Jim sebenernya tidak berhasil, karena dia justru dipaksa berdamai dan dinyatakan berdamai oleh Sang Penandai…
Payah.

Lah, masak sih novel ini gak ada bagus2nya? [question]
Ada koq. Selain yang udah gw sebut di atas, Tere-Liye ternyata juga seneng menggunakan kata-kata yang kurang umum, misalnya jerih (digunakan tanpa akhiran payah), mengkal, dll. Dan ini sebenernya bagus.
Terus jangan lupa juga, novel yang rada anti-Romeo & Juliet ini ternyata punya kalimat terakhir yang bagus. Kalimat itu intinya mengajak pembaca untuk melangkah ke depan dengan tegar. Very nice! [thumbsup]

Phew…
Dan, untuk menutup sekaligus menyimpulkan komen ini, gw hanya akan meminjam kalimat dari halaman 292 dan mengucapkannya dengan lantang, “Cerita itu terlalu dibesar-besarkan.” [yawn]
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on July 22, 2008, 10:27:15 pm
________________________________________
Seru baca repiu-nya si pred :D
Tapi banyak yang subjektif, memang [biggrin]

Buat gw sih Sang Penandai masuk ke dalam jajaran fantasi lokal terbaik karena buku ini punya konsep ide yang orisinil banged: bagaimana seseorang dipilih oleh penjaga dongeng (sang Penandai) untuk membuat sebuah dongeng bagi dunia. Temanya jelas dan cukup orisinil (walaupun emang buku ini The Alchemist wannabe banged :P ), pondasi plotnya sederhana namun kokoh, teknik bahasa JELAS di atas rata-rata, greget dapet (terutama pas perang ama perompak Yang Zhuyi–btw masif dan gak logis gimana? ???), dan sejumlah orisinalitas lainnya dalam buku kayak capung, Puncak Adam, sampe kura-kura pembawa sial.

Terus gw suka ama gaya Sang penandai pas lagi mencela kisah Romeo & Juliet. Keren banged bagian itu! [thumbsup]

Dan please banged fred, stop memprotes kalo ada novel dengan setting dunia non-bumi pake istilah-istilah/kultur bumi di dalamnya. Liat dulu setting dunianya kek gimana, kali. Kalo template setting dunianya masi mengingatkan kita akan bumi yang kita pijak (kayak keberadaan manusia dalam setting itu), gw kira wajar-wajar aja kalo pengarang mengadop kultur dari negara tertentu buat ditempelin di settingnya (dan emang prinsip inilah yang gw terapin di novel gw). Masih match.

Kalo settingnya jelas-jelas beda banged ama image bumi, semisal kehidupan bangsa cacing supermodern di planet antah berantah, nah baru jangan lu nekad masukin budaya Jawa di setting itu. Jelas gak nyambung :D

Well sekedar mengingatkan, kalo lu konsisten dengan aturan lu itu, maka berarti segala sesuatu yang terjadi di dunia rekaan ciptaan lu (kalo emang setting novel lu itu non-bumi) gak boleh sedikitpun mengingatkan pembaca akan kebiasaan dan atribut manusia, karena manusia berasal dari bumi! Contoh langsung, berarti lu gak boleh pake nama-nama karakter kayak ‘Constantine’ dan ‘Fabian’, karena itu jelas nama-nama yang beraroma bumi. Dan bahkan, sekalian jangan pake ras manusia dalam novel itu. Itu, kalo setting novel lu non-bumi, yak.. :P

Tentang ending/konklusi di akhir buku, satu yang gw respek dari Sang Penandai, dia gak ngikut stereotip good ending kayak umumnya novel kebanyakan, padahal dia gampang banged kalo mau bikin Sang Penandai ke arah situ. Bisa aja ditamatin pas jim jatuh cinta ama puteri kepala suku di lereng puncak adam, atau pas jim ditawarin jadi raja dan kawin ama puteri kota champa yang namanya naila itu. Well Tere Liye menghindari good ending murahan seperti itu untuk menunjukkan pembaca bagaimana konsistensi seorang jim (dan ini sukses bikin pembaca gregetan): yang selalu disiksa perasaan bersalah terhadap kematian Nayla. Dan kata siapa Jim gak dapet jawaban? Dia dapet! Walau menyakitkan dan bikin kecele. Bukannya sang penandai udah ngejawab kalo jim itu sebetulnya boleh berhenti di dua spot ‘menyenangkan’ itu? Itu sebetulnya udah merupakan jawaban buat perjuangan jim, tapi jim mengabaikannya karena masih dihantui perasaan bersalah..

Well gw kira pesan utama Sang Penandai itu adalah bagaimana seseorang mau berjuang (entah untuk apapun alasannya) setelah suatu kekalahan besar, dan misi itulah yang telah dipenuhi Jim di akhir buku, walaupun akhirnya ia ‘salah langkah’ sampe-sampe ngebikin dia mati. Tapi gw salut dengan ‘salah langkah’nya jim ini, karena emang manusiawi banged, dan realistis. 8)
________________________________________
Post by: BloodSin on July 23, 2008, 12:03:27 am
________________________________________
Lagi.. Lagi.. biar seru(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)
Quote
Contoh 1: # Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap. (hal 62) #

Buat gw metafora ini udah pas, dapet, dan gak ada masalah sama sekali. (ini pas si jim dihadang pembunuh bayaran Beduin yak?)

Komen subjektif lu ini:
Quote
Apa coba bagusnya kalimat itu?
Jim mencicit aja udah jelek, apalagi mencicit seperti tikus dalam perangkap!
Kebayang gak kayak apaan?

Benar-benar menyebalkan bagi gw (padahal bukan gw lho penulisnya ;D — tapi emang ada scene di lemures gw yang pake metafora rada-rada mirip kek gini), lu ngerti gak sih konsep metafora? Kenapa juga orang yang ketakutan jadi gak pas diibaratkan sebagai tikus yang mencicit? jujur aja, argumen lu untuk menjatuhkan metafora di atas bener-bener aneh buat gw, kayak seenak jidat gitu…
Quote
Contoh 2: # Jim patah-patah mendekat. (hal 147) #

Yang ini juga gak ada masalah. Dan yang jadi masalah di elu adalah, elu menerjemahkan kalimat konotatif ini sebagai kalimat denotatif.

Orang yang lulus mata pelajaran b. indo waktu SMP pasti bakalan nangkep kalo kalimat di atas tuh mendeskripsikan gerakan Jim yang mendekat ragu-ragu, sebentar berhenti sebentar maju.
Quote
Contoh 3: # Jim terdiam melihat siluet pandangan di hadapannya. …. Gadis itu menatap ke gemerincik beningnya air sungai. Mukanya terlihat separuh. Dan hati Jim seketika bergemerincik separuhnya. (hal 178) #

Ini salah satu paragraf terkeren di sang penandai bagi gw, jadi bisa tolong dijabarkan argumen lu untuk komen ‘please deh ah’ lu thd paragraf ini? [hammer]
Quote
Contoh 4: # Ajaib! Badai terdahsyat yang pernah ada di lautan itu juga mereda begitu saja. Seperti seorang anak yang diberi permen. (hal 240) #

Sekali lagi, ini paragraf metafora sekaligus konotatif yang seharusnya gak bermasalah tapi lu bikin seolah-olah bermasalah.(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)

Tapi wajar kalo keliatan bermasalah buat lu, mungkin lu gagal menafsirkan cara kerja metaforanya gimana.

‘Anak’ di kalimat itu jelas merujuk ‘anak kecil’, dan ‘anak kecil’ di sini punya konteks sebagai sosok yang gak bisa diem (hiperaktif), atau mungkin juga berisik (dalam artian lagi nangis). Match sama sifat badai.

Dan kalo dikasih permen (atau biasanya es krim, di dorama-dorama korea), biasanya anak kecil bakal nurut (untuk term badai, jadi ‘mereda’) ==> ini udah jadi semacam pakem/’resep’ tak tertulis di benak orang-orang dewasa, walau pada kenyataannya gak selalu begitu. Dan pakem itulah yang dimanfaatkan tere liye dalam metafora itu.

note:
Tere Liye itu dosen sastra UI, jadi silakan dikau mengirim permen kepada beliau. [biggrin]

Quote
Contoh 5: # Matanya berdenting air mata! (hal 272) #

Berdenting itu berarti mengeluarkan/menghasilkan bunyi (denting), dan dalam metafora di atas, pengarang lebih menekankan makna utuh ‘mengeluarkan’, jadi sinkron dengan kondisi mata (menangis) yang mengeluarkan air mata.

Prinsipnya sama kayak metafora-metafora:
“Bolpoin yang menari di atas kertas.”
“Kapal layar yang mengukir lautan.”
“Pandangan mata yang menyapu seluruh sudut.”
(sebetulnya ini masuk ke satu jenis majas, tapi gw lupa nama majasnya >_<)

eniwei ampun dah fred, masak metafora materi pelajaran anak smp kek gini aja kudu gw jelasin sih? ???

Well fred, gw bukan fans Tere Liye sampe kayak ngebela mati-matian novelnya gini (gw gak punya urusan ama penjualan bukunya), tapi kalo ada komentar yang gak relevan model di atas, pasti bakal gw babat abis-abisan(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: fr3d on July 23, 2008, 09:28:02 am
________________________________________
Ah, gak seru nih lempar2an cabe kalo gak ada penulisnya! [biggrin]
Lempar2an cabe antarpembaca pasti cuma berakhir ke lubang hitam…
Quote from: cheppy70 on July 22, 2008, 05:32:43 pm
Apa arti “PENANDAI” sesungguhnya? (dari dulu gue gak ngerti arti kata ini :-\

Di dalam novel, emang ditulis kalau kata itu gak akan ditemukan artinya di mana-mana (kurang lebih gitu deh…).
Intinya ya seperti kata vadis, kurang lebih artinya “pencipta dongeng-dongeng”.

Quote from: BloodSin on July 22, 2008, 10:27:15 pm
buku ini punya konsep ide yang orisinil banged: bagaimana seseorang dipilih oleh penjaga dongeng (sang Penandai) untuk membuat sebuah dongeng bagi dunia. Temanya jelas dan cukup orisinil (walaupun emang buku ini The Alchemist wannabe banged :P ).

Setuju.

Plot2 Puncak Adam dan kura-kura raksasa idenya emang menarik (cuih, gw gak sampe hati bilang bagus, karena gw pernah baca banyak yang jauh lebih bagus), tapi jelas yang kura2 gak full orisinil (ini setau gw mitos kuno bangsa timur, kalau ngambil sesuatu, apalagi yang “unik”, dari tempat asalnya, bisa bawa sial).
Masalahnya adalah plot2 ini cuma tempelan belaka dan gak dioptimalkan sebagai penguat bangunan plot utama (dongengnya Jim).
Maksudnya gini, kalau dua plot itu dihapus, ngaruh gak ke ceritanya Jim?
Nggak!
Harusnya, kalau mau, bener2 dipake deh sebisanya tuh dua plot (+ tentang barikade perawan –> kalau ini menurut gw dibuat cuma supaya ada aja yang bisa membunuh di ending; bener2 wasted [yawn]).

Tentang perang laut, masif ya udah jelas.
Gak logis karena: coba deh dibayangin dulu kondisi di tengah laut, ada banyak kapal (kalau gak salah, kapalnya Yang Zhuyi aja ada ratusan… atau ribuan?), terus dari kapal2 itu keluar banyak kano yang gak ada habis2nya, sampe berhari2 (inget kan, dia perangnya berhari-hari?).
Nah, sekarang pertanyaannya, kano2 yang udah sampe ke Armada Kota Terapung itu kan udah gak ada orangnya/orangnya mati, terus menumpuk gitu? Kayak sampah2 di Tanjung Priuk!?!
Gimana dong caranya kano2 yang laen bisa lewat? Apalagi secara simultan gitu!
Macet, bang!
Emangnya gampang apa ngayuh kano di laut, apalagi banyak sampah2 gedenya? [hammer]
Kalau emang ada penjelasannya tentang hal ini, gw gak nemu tuh di dalam buku.

Quote from: BloodSin on July 22, 2008, 10:27:15 pm
Dan please banged fred, stop memprotes kalo ada novel dengan setting dunia non-bumi pake istilah-istilah/kultur bumi di dalamnya. Liat dulu setting dunianya kek gimana, kali. Kalo template setting dunianya masi mengingatkan kita akan bumi yang kita pijak (kayak keberadaan manusia dalam setting itu), gw kira wajar-wajar aja kalo pengarang mengadop kultur dari negara tertentu buat ditempelin di settingnya (dan emang prinsip inilah yang gw terapin di novel gw). Masih match.

Kalo settingnya jelas-jelas beda banged ama image bumi, semisal kehidupan bangsa cacing supermodern di planet antah berantah, nah baru jangan lu nekad masukin budaya Jawa di setting itu. Jelas gak nyambung :D

Bah, cuma nyari2 alasan. [yawn]
Rey sendiri bilang kalau itu cuma tempelan tuh.
Dan please banged deh rey, gw kan gak bilang gak boleh. Tapi gw minta penjelasan ke Tere-Liye, kenapa di situ ada agama Buddha, ada negara Arab, etc.
Dateng dari Hong Kong? Jatuh dari langit? PLOP! Tiba2 ada aja gitu?!? [annoyed]
Kita semua tau pasti kalau agama Buddha ataupun negara Arab bisa ada sekarang ini di bumi karena SEJARAH yang panjang lebar dan berliku-liku. Kalau di dunia Sang Penandai (yang bukan bumi), datang dari mana?!?

Quote from: BloodSin on July 22, 2008, 10:27:15 pm
Well sekedar mengingatkan, kalo lu konsisten dengan aturan lu itu, maka berarti segala sesuatu yang terjadi di dunia rekaan ciptaan lu (kalo emang setting novel lu itu non-bumi) gak boleh sedikitpun mengingatkan pembaca akan kebiasaan dan atribut manusia, karena manusia berasal dari bumi! Contoh langsung, berarti lu gak boleh pake nama-nama karakter kayak ‘Constantine’ dan ‘Fabian’, karena itu jelas nama-nama yang beraroma bumi. Dan bahkan, sekalian jangan pake ras manusia dalam novel itu. Itu, kalo setting novel lu non-bumi, yak.. :P

Sori man, di cerita gw mah semua yang dipertanyakan itu (ada manusia, nama2) ADA ALASANNYA.
8)

Quote from: BloodSin on July 22, 2008, 10:27:15 pm
Tentang ending/konklusi di akhir buku, satu yang gw respek dari Sang Penandai, dia gak ngikut stereotip good ending kayak umumnya novel kebanyakan, padahal dia gampang banged kalo mau bikin Sang Penandai ke arah situ.

Dan kata siapa Jim gak dapet jawaban? Dia dapet! Walau menyakitkan dan bikin kecele. Bukannya sang penandai udah ngejawab kalo jim itu sebetulnya boleh berhenti di dua spot ‘menyenangkan’ itu? Itu sebetulnya udah merupakan jawaban buat perjuangan jim, tapi jim mengabaikannya karena masih dihantui perasaan bersalah..

Gw gak masalah tentang ending sad itu koq. Yang gw permasalahkan adalah Jim gak menemukan jawabannya sendiri. Dia harus dikuliahi dulu sama Sang Penandai barulah sadar.
Ibaratnya: seseorang disuruh cari tahu rasanya air laut apa. Terus orang ini pergi ke laut dan balik lagi. Dia bilang kalau gak ngerasa apa-apa. Akhirnya orang yang menyuruh pertama kali bilang ke dia (mungkin juga karena udah desperate?), “RASANYA ASIN, DODOL!”

Terus ini apa artinya ke pesan yang mau disampaikan oleh penulis ke pembaca?
Artinya, kita harus dikuliahi dulu sama orang lain barulah bisa menjadi “pencinta sejati”.
Dan gw yakin kalau maksudnya Tere-Liye bukan ini. Tapi ternyata jadinya itu, jadi salahnya siapa dong? ???

Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 12:03:27 am
Lagi.. Lagi.. biar seru(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)

Tentang contoh2 kiasan, gw cuma mau membuktikan satu hal.
Kalau misalnya pembaca sampe butuh penjelasan yang dijabarkan sama rey supaya bisa ngerti/paham, ya berarti udah jelas lah kalau kiasan2 itu gagal dan layak dipertanyakan.
Kiasan yang bagus itu, siapa pun yang sekali ngebacanya PASTI langsung nangkep artinya apa. [thumbsup]
Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 12:03:27 am
Quote
Contoh 1: # Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap. (hal 62) #

Buat gw metafora ini udah pas, dapet, dan gak ada masalah sama sekali.

Benar-benar menyebalkan bagi gw, lu ngerti gak sih konsep metafora? Kenapa juga orang yang ketakutan jadi gak pas diibaratkan sebagai tikus yang mencicit? jujur aja, argumen lu untuk menjatuhkan metafora di atas bener-bener aneh buat gw, kayak seenak jidat gitu…

Pernah liat tikus di dalam perangkap? Pernah liat dia mencicitnya seperti apa?
Nah, sekarang bayangin deh kejadian itu diibaratkan ke Jim.

Ada yang setuju kalau kalimat itu bagus?

Gw gak bilang kalimat itu salah, tapi gw bilang itu jelek.
Aneh aja, padahal masih ada banyak kiasan yang lebih bagus gitu. Kenapa harus milih yang itu? ???
Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 12:03:27 am
Quote
Contoh 3: # Jim terdiam melihat siluet pandangan di hadapannya. …. Gadis itu menatap ke gemerincik beningnya air sungai. Mukanya terlihat separuh. Dan hati Jim seketika bergemerincik separuhnya. (hal 178) #

Ini salah satu paragraf terkeren di sang penandai bagi gw, jadi bisa tolong dijabarkan argumen lu untuk komen ‘please deh ah’ lu thd paragraf ini? [hammer]

Norak.
Hanya karena di kalimat sebelumnya ada akhiran kata “separuh” gak menjadikannya legal untuk memasukkan kata yang sama ke akhiran kalimat berikutnya. Butuh pertimbangan solid supaya kalimat itu artinya bisa bener2 bagus.
Lagian apa pula maksudnya “hati Jim bergemerincik separuhnya”? Separuhnya lagi emangnya kenapa? ???
Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 12:03:27 am
Quote
Contoh 4: # Ajaib! Badai terdahsyat yang pernah ada di lautan itu juga mereda begitu saja. Seperti seorang anak yang diberi permen. (hal 240) #

Sekali lagi, ini paragraf metafora sekaligus konotatif yang seharusnya gak bermasalah tapi lu bikin seolah-olah bermasalah.(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)

Tapi wajar kalo keliatan bermasalah buat lu, mungkin lu gagal menafsirkan cara kerja metaforanya gimana.

Gih eksperimen sana, coba deh ngasih permen ke anak kecil yang lagi diam (gak ngapa2in atau gak lagi kenapa2). Terus liat reaksinya apa.
Seneng aja kan?
Nah, analogi “seneng” sama “badai reda” apaan?
Gak ada.

Rey, gw tau maksud loe apa, dan gw juga tau maksud Tere-Liye apa.
Tapi, kalimat yang bener itu kan seharusnya si anak lagi mengalami sesuatu yang perlu “dibuat reda” oleh permen, misalnya nangis.
Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 12:03:27 am
Quote
Contoh 5: # Matanya berdenting air mata! (hal 272) #

Berdenting itu berarti mengeluarkan/menghasilkan bunyi (denting), dan dalam metafora di atas, pengarang lebih menekankan makna utuh ‘mengeluarkan’, jadi sinkron dengan kondisi mata (menangis) yang mengeluarkan air mata.

eniwei ampun dah fred, masak metafora materi pelajaran anak smp kek gini aja kudu gw jelasin sih? ???

Kalau maksudnya memakai kata “berdenting” cuma itu, ada banyak kata lain yang bisa menggambarkan/mewakili kegiatan “mengeluarkan/menghasilkan” dengan lebih tepat daripada “berdenting”, dan lagi, kata-kata yang lain itu gak ada embel2 menghasilkan bunyinya. Silakan liat aja di tesaurus.

Quote from: BloodSin on July 23, 2008, 12:03:27 am
Tere Liye itu dosen sastra UI, jadi silakan dikau mengirim permen kepada beliau. [biggrin]

No. Gw gak akan ngirim permen ke penulisnya. Penulis mana pun udah pasti lah membela tulisannya sendiri (gw juga koq). [biggrin]

Oh… dosen sastra rupanya… di UI pula… (*diam2 nyengir iblis*)
Jangan2 gw pernah ketemu… [rolleyes]

Ya gw maapin deh dia, dosen pun manusia juga toh. :P [biggrin]
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 23, 2008, 10:21:59 am
________________________________________
Btw asik nih ada perang cabe lagi wakakak… untunglah sementara Bloodsin teralihkan ke Fred, jadinya ga gangguin gw mulu hehe… Tapi gatel juga pengen ikut lempar cabe sembunyi tangan. ;D

Tapi kalau yang gw liat sih komen kalian berdua soal metafora itu jelas subjektif. Fred lebih senang dengan gaya bahasa sederhana dan kurang suka bahasa canggih yang dipaksakan (kesannya menyombongkan diri sebagai seorang dosen sastra, malu dong kalau ga pake gaya bahasa maut ala metafora? Gt ya?) Sementara Bloodsin dengan Lemur nya yang selalu puitis jelas senang dengan gaya bahasa canggih dan indah. Metafora yang belum pernah dipakai, unik, mungkin aneh sekalipun, adalah nilai plus sebagai kreatifitas.

Quote
Quote
Quote
Contoh 1: # Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap. (hal 62) #
Buat gw metafora ini udah pas, dapet, dan gak ada masalah sama sekali.

Benar-benar menyebalkan bagi gw, lu ngerti gak sih konsep metafora? Kenapa juga orang yang ketakutan jadi gak pas diibaratkan sebagai tikus yang mencicit? jujur aja, argumen lu untuk menjatuhkan metafora di atas bener-bener aneh buat gw, kayak seenak jidat gitu…

Well, metafora tikus mencicit sudah dipakai untuk deskripsi peter pettigrew di Harpot toh? Nah kalau mau liat seperti apa itu manusia ketakutan mencicit, nonton aja versi film bioskopnya. Ada sih ada aja, itu terserah penulisnya, dan terserah pembacanya untuk mengartikannya. Tapi, bagus atau engga? Jelas engga kalau nginget lagi si pettigrew itu. :P
Quote
Quote
Quote
Contoh 3: # Jim terdiam melihat siluet pandangan di hadapannya. …. Gadis itu menatap ke gemerincik beningnya air sungai. Mukanya terlihat separuh. Dan hati Jim seketika bergemerincik separuhnya. (hal 178) #

Ini salah satu paragraf terkeren di sang penandai bagi gw, jadi bisa tolong dijabarkan argumen lu untuk komen ‘please deh ah’ lu thd paragraf ini?

Kl ini sih gw setuju dengan Fred. Kalau ga ada embel2 kalimat sebelumnya mungkin gw masih tertarik mengorek arti metafora ini. tapi kalau liat kalimat sebelumnya jelas aneh, ga nyambung dan ga ada artinya. Udah ada gadis menatap gemericik beningnya air sungai, trus mukanya terlihat separuh, kemudian metaforanya gabungin keduanya, hati Jim seketika bergemerincik separuhnya ???

Dari bunyi jelek, estetika biasa aja, dan artinya ga jelas. Seperti kata Fred, metafora yang artinya ga sampai ke pembaca artinya gagal. Tugas kita sebagai penulis itu apa? Menyampaikan cerita/informasi ke pembaca! Kalau pembaca gagal untuk menerima informasi yang diberikan secara benar, artinya kita yang gagal sebagai penulis, bukan mereka yang gagal sebagai pembaca -__-. Pembaca adalah raja.
Quote
Quote
Contoh 4: # Ajaib! Badai terdahsyat yang pernah ada di lautan itu juga mereda begitu saja. Seperti seorang anak yang diberi permen. (hal 240) #

Sekali lagi, ini paragraf metafora sekaligus konotatif yang seharusnya gak bermasalah tapi lu bikin seolah-olah bermasalah.
Tapi wajar kalo keliatan bermasalah buat lu, mungkin lu gagal menafsirkan cara kerja metaforanya gimana.

Yang ini mungkin gw lebih memihak ke BloodSin. Secara arti gw rasa masih cukup mudah dimengerti. Pas gw baca sih malah kepikirannya ke metafora ala pendekar, yang biasa mengucapkan ‘anak menangis pun akan terdiam mendengar namaku’. Entah ada sangkut pautnya atau tidak. Maksud sih nyampe, tapi kalau ditilik lebih detil, mestinya bagai seorang anak menangis yang diberi permen. Karena anak jika tidak menangis dikasi permen ya ga terlalu banyak berubah, yang ada lagi anteng2 di kasi permen malah lari2an kegirangan. ;D

Well, balik ke masalah selera dan level pembaca lah… Karena 2 hal itu sangat bervariasi. Kalau bersikeras menggunakan bahasa yang canggihnya sampe menjelimet, mungkin target dia emang kalangan pembaca level tinggi mungkin? atau bukunya perlu dilabelin requirement : pendidikan minimal S1 jurusan sastra Indonesia ;D Yowez segitu dulu deh. [thumbsup]
Salam,
Serpentwitch
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 23, 2008, 11:31:47 am
________________________________________
Nimbrung soal metafora, ah,…
Kalo menurut gue sih, yang bukan dosen sastra UI ;) , Seni menggunakan metafora antara lain bertumpu pada ketepatan metafora tersebut terhadap situasi yang ingin di metaforakannya (tuh, keribetan gue udah ngalahin dosen, khan? :D )
Artinya antara situasi yang ingin digambarkan melalui metafor, dengan metaforanya sendiri, harus ada kesinambungan, entah berupa kesinambungan rasa atau kesinambungan logika, atau kesepadanan karakter. Mungkin dapat kita persamakan dengan rima atau sajak, yaitu dalam sajak ada kesamaan akhiran kata, misalnya. Gue ga tahu istilahnya menurut ilmu sastra ;) , tapi let’s just say ada semacam paralelisme di dalam suatu metafor.

Misalnya metafora:
“Tatap matanya yang sedalam lautan”, akan memberikan pengertian suatu bobot pandangan mata yang memiliki sifat rasa seperti menekan atau menyedot jauh ke dasar (hati yg terdalam), sepadan untuk karakter yang memiliki pesona karismatik tertentu.
Tapi, kalau dituturkan begini:
“Tatap matanya bagai lautan terdalam”, akan memberikan pengertian yang berbeda, mungkin tatapan mata yang terasa penuh misteri, yang tak mudah dibaca oleh orang lain. Somewhat karakter yang tenang tak tergoyahkan, tapi sekaligus ancient penuh pengalaman.
Nah adanya pemahaman karakter ini membuat tidak sembarangan metafora dapat ditempelkan pada sembarang karakter, sebab kesalahan pemasangan akan mengacaukan bentuk karakter tersebut di dalam konsep pemikiran pembaca.

Bayangkan kalau gue menempelkan metafora secara asal seperti ini, “Ahmad, si kenek mikrolet 604 jurusan Pasar Minggu – Kampung Melayu itu bergayut di pintu kijang berwarna hijau telur asin itu, sembari memandang perempatan dengan tatapan matanya yang bagai lautan terdalam,”
Atau, “John Byrson memandangi deretan label harga DVD di display itu dengan tatapan mata sedalam lautan”
;D ;D ;D
Kira-kira ngerti, kan, konsepnya? ;)

Nah, kalo kasus yang disebutkan fred:
“Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap”

menurut gue memang berpotensi membentuk konsep karakter yang kurang tepat, atau menghancurkan karakter Jim yang sudah digariskan oleh pengarang sebelumnya. Kebetulan aku belum baca, dan belum tahu seperti apa karakter Jim seharusnya pada point adegan ini. Tapi metafora itu telah memberikan bayangan pada saya berupa karakter seseorang yang luar biasa pengecutnya, yang dikuasai oleh kepanikan sehingga tak mampu mengambil keputusan secara rasional. Kebayang sosok seperti Ruben Onsu saat menghadapi krisis kebakaran rumah atau gempa, gitu :-\ atau karakter si Pembawa Acara dalam film The Fifth Element [bigwink].

Persoalannya, apakah itu konsisten dengan karakter Jim sebagai tokoh utama? Gue kurang tahu, tapi kurasa yg sudah membaca bisa menilai. Bisa aja karakterisasi seperti itu memang konsisten dengan kondisi Jim saat adegan tersebut berlangsung. Siapa tahu memang di awal-awalnya, Jim adalah pribadi bencong yang kemudian mengalami transformasi berkat petualangannya di novel itu.

Jadi temen-temen, IMO, sebagai suatu perangkat penulisan yang memiliki aspek seni, memang metafora memiliki kekuatan untuk diinterpretasikan secara tak terbatas. Tapi tetap saja, dalam kerangka komunikasi kita kepada pebaca, kita tetap harus memilihkan metafora yang mampu mengantarkan ide (cerita) kita secara tepat ke dalam pikiran pembaca.
Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on July 23, 2008, 02:01:06 pm
________________________________________
Quote
Ah, gak seru nih lempar2an cabe kalo gak ada penulisnya!
Lempar2an cabe antarpembaca pasti cuma berakhir ke lubang hitam…

Tenang aja, gw udah nge-add ym penulisnya di ym gw (masalah diapprove apa kagak ama Tere Liye itu urusan nasib :P ), pasti nanti gw undang beliau kesini (atau at least, dia bisa baca ‘diskusi’ menyenangkan kita ini ^-^)

Quote
Masalahnya adalah plot2 ini cuma tempelan belaka dan gak dioptimalkan sebagai penguat bangunan plot utama (dongengnya Jim).
Maksudnya gini, kalau dua plot itu dihapus, ngaruh gak ke ceritanya Jim?
Nggak!

Kalo lu bilang gitu, sama aja lu mempermasalahkan kenapa di LotR ada scene kebiasaan Merry & Pippin yang seneng ngisep cerutu, terus adegan pengejaran orc di deked hutan Lorien yg menyebabkan Boromir mati, tradisi bangsa elf bikin roti lembas, terus scene Aragorn pacaran ama Arwen, terus scene perang Rohan, dan masih banyak lagi.

Semua itu ngaruh gak ke misi utama Frodo ngelebur One Ring? Gak.

Apakah setiap detil/subplot kecil dalam suatu tubuh cerita harus selalu mendukung bangunan plot utama secara konkrit? Aturan maen darimana itu? Betapapun sepelenya, yang namanya ‘wisata fantasi’ itu tetap penting, terutama buat faktor entertaining novel, memperkaya warna plot, & memperjelas setting.

Apakah karena rintangan-rintangan itu muncul secara ‘alamiah’ maka jadinya aneh dan berkesan sengaja ‘diada-adakan’? Sama sekali kagak, justru realistis dan malah banyak terjadi dalam kehidupan nyata. Contoh kasusnya, hari ini Budi punya misi pergi ke bogor, apakah segala sesuatu yang terjadi di sekujur perjalanan itu harus merupakan satu kesatuan plot sinkron hingga akhirnya Budi sampe ke bogor? Gw kira, kagak juga. Bisa aja mobil yang Budi kemudikan nabrak bajaj, dan si Budi jadi harus mengantarkan supir bajaj ke rumah sakit terdekat sebelum nyampe ke bogor. Atau bisa juga si supir bajaj tewas dan Budi jadi ditangkep polisi dan malah gak pernah nyampe bogor. Ini yang namanya ‘warna plot’, fred, kalo lu nangkep poin gw.

Itu, jawaban gw kalo emang bagian-bagian yg lu sebut itu gak relevan dengan tubuh cerita secara keseluruhan. Karena sesungguhnya bagian-bagian itu tetep nyambung ke dalam cerita. Bagian kura-kura yang mendatangkan badai mahadahsyat, itu jelas buat menguatkan tema struggle dalam tubuh buku, tentang sebuah rintangan tak terduga yang harus dihadapi di tengah perjalanan.

Bagian Puncak Adam, itu jelas Subplot buat karakter Pate lha! Elu ngeprotes bagian ini, sama aja dengan ngeprotes subplot Merry & subplot Pippin (dan masi banyak lagi) di LOtR. Tapi sebetulnya subplot ini pun masi berpengaruh kuat ke plot utama Jim, karena di lereng puncak adam itu Jim kena godaan cinta pertamanya.

Buat Barikade Perawan, apakah gak wajar kalo suatu artefak yang amat berharga dijagain sedemikian rupa ama rintangan yang berat banged?

Quote
Sori man, di cerita gw mah semua yang dipertanyakan itu (ada manusia, nama2) ada ALASANNYA.

oke kalo gitu gw tunggu cerita lu terbit biar gw bisa baca dan nilai langsung ^-^

Quote
Tentang contoh2 kiasan, gw cuma mau membuktikan satu hal.
Kalau misalnya pembaca sampe butuh penjelasan yang dijabarkan sama rey supaya bisa ngerti/paham, ya berarti udah jelas lah kalau kiasan2 itu gagal dan layak dipertanyakan.
Kiasan yang bagus itu, siapa pun yang sekali ngebacanya PASTI langsung nangkep artinya apa.

ah gw kira, orang yang udah lulus SMP mestinya bisa langsung ngerti semua kiasan yang ada di Sang Penandai sekali-dua kali baca. Masih cetek banged gitu lho, belom sedalem kiasan dalam cerpen-cerpen kompas minggu.
Quote
Pernah liat tikus di dalam perangkap? Pernah liat dia mencicitnya seperti apa?
Nah, sekarang bayangin deh kejadian itu diibaratkan ke Jim.

Ada yang setuju kalau kalimat itu bagus?

Gw gak bilang kalimat itu salah, tapi gw bilang itu jelek.
Aneh aja, padahal masih ada banyak kiasan yang lebih bagus gitu. Kenapa harus milih yang itu?

Rumah gw lagi kebanjiran tikus!! Kemaren ada yang ketangkep pake lem tikus anaknya satu ekor, dan tuh anak tikus bercicit-cicit ria pulak(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)

Terus terang aja Fred, dari semua vonis sotoy lu thd penggunaan gaya bahasa di Sang Penandai, bagian ini yang paling konyol dan bikin gw gregetan tujuh keliling :D

Kenapa juga orang harus selalu diibaratkan dengan hal yang bagus-bagus dan gak boleh jelek? Maksud lu kiasan yg ‘lebih bagus’ itu, harus yang bersih-bersih dan steril bebas kuman semacam “Jim berhati seputih malaikat”, “Jim setulus orang suci”, “Jim setampan pangeran Harry” gitu kali ye?

Well bos, yg namanya metafora itu yang penting maknanya pas, kena, dan sinkron dengan posisi dari si yang dimetaforakan. Gak peduli mau berkonotasi positif atau negatif. Dan emang makna yang diniatkan pengarang thd tokoh Jim dari metafora itu adalah kondisi begimana jeleknya tikus kalo lagi terdesak dan mencicit.

Tuh si Serpent bilang penulis sekaliber JK Rowling aja pake metafora ini.
Quote
Norak.
Hanya karena di kalimat sebelumnya ada akhiran kata “separuh” gak menjadikannya legal untuk memasukkan kata yang sama ke akhiran kalimat berikutnya. Butuh pertimbangan solid supaya kalimat itu artinya bisa bener2 bagus.
Lagian apa pula maksudnya “hati Jim bergemerincik separuhnya”? Separuhnya lagi emangnya kenapa?

Well, penilaian ini jelas subjektif banged, dan gak jelas banged isi argumentasi lu itu kayak gimana di atas.

untuk satu poin ini, gw nyerah tanpa syarat dah ;D ;D

Soalnya ini cuman bisa diukur ama orang-orang yang ngerti sastra, dan kapasitas gw untuk menjelaskan belum nyampe ke situ.
Quote
Gih eksperimen sana, coba deh ngasih permen ke anak kecil yang lagi diam (gak ngapa2in atau gak lagi kenapa2). Terus liat reaksinya apa.
Seneng aja kan?
Nah, analogi “seneng” sama “badai reda” apaan?
Gak ada.

Rey, gw tau maksud loe apa, dan gw juga tau maksud Tere-Liye apa.
Tapi, kalimat yang bener itu kan seharusnya si anak lagi mengalami sesuatu yang perlu “dibuat reda” oleh permen, misalnya nangis.

Gw kan udah bilang yang terpenting di sini itu konteks.

Terkadang, seorang penulis gak harus menjabarkan segala sesuatunya secara langsung, jelas, dan lengkap. Yang terpenting itu asal konteksnya dari awal udah ada terpatri di pikiran pembaca. Yang Tere Liye coba terapkan di metafora_gak_utuh itu, beliau ingin memancing pemahaman utuh dari pembaca dengan sepotong umpan yang ‘tepat’. Tapi emang gw rasa umpan yang ‘tepat’ ini cuma bisa kena di pembaca yang ‘tepat’ jugak. *sigh*

Buat gw, di situlah seninya, fred.

Yahhh.. Apakah level bahasa gw terlalu tinggi sampe-sampe gw bisa nangkep konteksnya sedangkan elu kagak? Kagak juga ah…
Quote
Kalau maksudnya memakai kata “berdenting” cuma itu, ada banyak kata lain yang bisa menggambarkan/mewakili kegiatan “mengeluarkan/menghasilkan” dengan lebih tepat daripada “berdenting”, dan lagi, kata-kata yang lain itu gak ada embel2 menghasilkan bunyinya. Silakan liat aja di tesaurus.

Sama aja elu mempermasalahkan semua metafora yang berjenis majas ini (termasuk contoh majas-majas sejenis yang udah gw kasih). Yang satu ini udah masuk ke gaya bahasa personal pengarang, sih. Tapi gw inget dulu waktu jaman gw belajar Bahasa Indonesia di SMP, ada jenis majas yang prinsipnya sama kayak metafora di atas. (@anyone ada yg tauk nama majasnya?)

It’s okelah kalo lu gak sreg ama gaya bahasa ‘memerintah’ yang ada di Sang Penandai, tapi kalo buat metafora-metafora yang udah wajar (dan ternyata dipermasalahkan dengan cara yang tidak relevan) seperti dalam quote-quote di atas, gw dengan senang hati rela membahasnya bersama elu sampe tuntas. [biggrin]

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XXIV (20 Jul 2008 – 22 Jul 2008)

  • Tentang budaya luar yang berpengaruh ke setting lokal
  • Buku fantasi lokal memang dianaktirikan di toko buku?
  • Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh FA Purawan

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 20, 2008, 07:29:25 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 20, 2008, 11:29:54 am
@om pur,
well, daku menilai negatif rata-rata fantasi lokal itu buat semua fantasi lokal dengan settingan dunia barat/alternatif. agak penasaran jugak sih sama ‘fantasi2 indo’ kayak Candi Murka & serial Gajah Mada (ini fantasi bukan?), memuaskan apa mengecewakan nih?

Serial Candi Murca, dan Gajah Mada, ya?
Kalo gajah Mada kurang begitu masuk ke genre Fantasi, lebih tepat roman sejarah.
Kalo Candi Murca, memang kuanggap Fantasi, makanya gue masukin review. Sejauh ini kuanggap sebagai sebuah karya bagus. Tapi kalo mo bicara memuaskan atau enggak, sangat tergantung pada selera.
Gue sendiri biarpun bisa mengapresiasi ceritanya, masih kurang puas dalam menikmati bacaannya. Semata-mata gaya berceritanya buat gue agak ke arah jadul punya (terutama dari aspek penamaan tokoh dan dialog). Selain itu, kalo di Fantasi mungkin ada unsur ‘wisata imajinasi’ dimana pembaca diajak melanglang buana dalam universenya pengarang, menikmati isi dunia itu sendiri tanpa terlalu harus terikat pada menikmati isi cerita. Mungkin semacam aspek WOW hanya terhadap dunia Fantasy yang diciptakannya. Aspek seperti itu kurang ada di dalam Candi Murca.
Untuk aspek wisata ini, kurasa dari yang pernah saya baca, baru Hozzo yang udah memasukkannya, serta satu lagi yang kulihat sudah right on the mark: Dream of Utopia. Frankly, gue belum selesai baca, tapi penjabaran-penjabaran akan dunia fantasy Dream Utopia sudah bisa dinikmati pada bab-bab depan, jadi cukup udah bisa gue omongin, deh :)

Sekarang bicara tentang blantika (halah istilahnya, Prambors taun 80-an banget ;D) Literasi Fantasy di Indonesia.
Menurut gue sih, memang benar bahwa ‘standar’ kualitas karya Fantasy ditentukan dari Barat (atau Jepang :) ), bukan dari referensi yang bersifat lokal. Sudah sewajarnya, sebab ‘trigger’ yang menghidupkan minat terhadap genre itu datang dari karya-karya Barat dan Jepang. Pada generasi pendahulu negeri kita (let’s say saat jaman Majapahit atau Mataram), literasi fantasy datang dari tanah India melalui dua epos terkenalnya Mahabarata dan Ramayana, yang melahirkan kisah-kisah Pewayangan lokal yang khas dengan lakon-lakon non-pakem ciptaan dalang-dalang lokal.
Tapi, seperti sering gue bilang, kita kan memang sudah putus hubungan dengan budaya leluhur. jadi ga heran bila kita lebih menjiwai fantasy ala Barat atau Jepang. Dan apa yang kita hasilkan, tentu saja mencerminkan apa yang kita jiwai,… :P

Dan ga ada yang salah dengan itu. Kurasa problem utama kita (para penulis) jika memang ingin mengembangkan genre ini di tanah air, adalah banyak diantara penulis yang belum menguasai betul teknik kepengarangan. Memang itu merupakan proses belajar seumur hidup, tapi at least ada teknik-teknik dasar yang bisa dipelajari sendiri, serta teknik lanjutan yang bisa didiskusikan dan dipelajari bersama. Ibarat mau main jurus, lha kuda-kuda ada belum kuat, tapi kan bisa dipelajari (secara serius).
Pengarang Fantasy (kita) punya kecenderungan menganggap remeh pelajaran mengarang, dan mau langsung ‘jump’ into bookwriting, karena terlanjur menganggap ide dan fantasynya sudah cukup untuk mewakili cerita yang ada di benaknya :) Isn’t that right? Jawab aja sendiri, hehehe,….
nah, problem selanjutnya adalah semata buah dari situ. Tanpa ilmu kepengarangan yang kuat, karya yang dihasilkan menjadi miskin kualitas. karya yang rendah kualitas membuat penerbit jadi gak percaya diri. Dan pengarang+penerbit pun makin minder ditengah serbuan karya-karya Fantasy dari Barat yang notabene ditulis oleh ‘professional writer’ (liat aja term-nya, sudah begitu mengerikan, karena mengandung adanya kekuatan ilmu dan kekuatan pengolahan sebuah team di belakangnya, if you get what I mean :) )

Sekarang, kita musti ngapain?
Well, kalo di Barat sana para pengarang merupakan subyek-subyek pembelajar yang terus mengolah wawasan dan kemampuan teknisnya, kenapa kita gak tiru kiat tersebut? Di Barat sono, sampe ada majalah khusus SciFi. Di kita, gak perlu sampe majalah deh, forum kayak gini aja udah cukup, yang penting kita sama-sama bisa belajar.
Selain itu, perlu juga ditingkatkan kemampuan dan peran serta para Editor, sebab mereka lah yang sejatinya mendefinisikan kualitas Fantasy hasil terbitan lokal. Kalo bisa digagas sebuah forum khusus para Editor Fantasy, boleh jadi kemajuan penulisan Fantasy di negeri kita bisa mengalami sebuah quantum leap!
Soal segmen pasar terbatas, aku nggak terlalu setuju, sebab sudah dibuktikan melalui terbitan Fantasy terjemahan yang cukup laku di pasar, menandakan bahwa pasar menyukai genre Fantasy. Tinggal pengarang lokal (dengan arahan editor) yang menjawabnya dengan karya-karya yang memenuhi standar kualitas.
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on July 20, 2008, 11:46:55 pm
________________________________________
Quote
Mungkin semacam aspek WOW hanya terhadap dunia Fantasy yang diciptakannya. Aspek seperti itu kurang ada di dalam Candi Murca.

justru fantasi-fantasi lokal yg udah beredar itu kebanyakan pada ngandelin aspek WOW di bukunya, yang ane liat sih. malah payah di plot & karakterisasi. kebanyakan penulis fantasi indo itu punya pikiran kolot: yang namanya genre fantasi cuma penting di imajinasi. plot, gaya bahasa, karakterisasi, gak terlalu dipeduliin. elu punya imajinasi tentang sebuah dunia alternatif, elu terjemahkan dengan kata-kata ber-POV orang pertama/ketiga, dan jreng! Congratulation you’re a fantasy writer already. [thumbsup]
nah kan, ternyata ente sudah mendukung pernyataan ane di atas dengan statement ini:

Quote
Pengarang Fantasy (kita) punya kecenderungan menganggap remeh pelajaran mengarang, dan mau langsung ‘jump’ into bookwriting, karena terlanjur menganggap ide dan fantasynya sudah cukup untuk mewakili cerita yang ada di benaknya Isn’t that right? Jawab aja sendiri, hehehe,….

Candi Murca (thanks koreksinya jun ;D), malah kurang di aspek WOW, gaya bahasa dilabel kuno, berarti plot & karakterisasinya bisa dianggap mumpuni donk? heheheh.. sebetulnya ada gak sih fantasi lokal yang kuat dan sejajar baik di setting, imajinasi, gaya bahasa, plot, karakterisasi? well kita tunggu tanggal mainnya. :)

Quote
Pada generasi pendahulu negeri kita (let’s say saat jaman Majapahit atau Mataram), literasi fantasy datang dari tanah India melalui dua epos terkenalnya Mahabarata dan Ramayana, yang melahirkan kisah-kisah Pewayangan lokal yang khas dengan lakon-lakon non-pakem ciptaan dalang-dalang lokal.

Tapi, seperti sering gue bilang, kita kan memang sudah putus hubungan dengan budaya leluhur. jadi ga heran bila kita lebih menjiwai fantasy ala Barat atau Jepang. Dan apa yang kita hasilkan, tentu saja mencerminkan apa yang kita jiwai,…
Lho? :o
berarti pada prinsipnya, indo emang gak pernah punya literasi orisinil kan? (maksudnya, kebudayaan/mitologi aseli.) kalo ‘budaya leluhur’ itu sendiri originnya dari tanah india, kenapa kita generasi hari ini jadi punya kewajiban buat melestarikan? toh literasi orang-orang majapahit jadul jaman dulu itu juga kena influence dari masuknya kebudayaan asing (india) di nusantara.
di sinetron-sinetron silat indo contohnya, pada pake setting jawa kuno & agama Islam (persis PG-nya om Pur), kalo dipikir-pikir kan Islam masuk indo dari saudagar-saudagar Arab, coba elu bayangin kalo seandainya saudagar-Saudagar Arab itu gak pernah dateng ke indonesia, indonesia bakal masih didominasi sama pengaruh hindu & Buddha. Atau mungkin Nasrani yg dateng dari Belanda & Portugis.

hari gini, giliran literasi barat & jepang yang masuk indo. dan banyak pengarang fantasi yg terpengaruh. kalo ngeliat kronologis di atas, seharusnya ini emang bisa diwajarkan, dan gak sepatutnya ada orang yang mencela generasi sekarang ini udah lupa sama akar budayanya dengan menulis fantasi bersetting barat. (gyahahahah ketauan banged gw lagi membela diri sendiri di sini ;D)
karena itu emang udah jadi ‘budaya’ kita sejak jaman primitif! menyerap, dan beradaptasi terhadap segala perubahan. sesungguhnya kita gak pernah ada niat buat sok kebarat-baratan kok.
(well lagipula yang gw liat terjadi di PG, dengan setting ‘lokal’nya yg kental, malah jadi banyak pembaca yang kurang berkenan dan gak masuk selera, si hege dan si serpent aja udah ngomong terang-terangan, daku pun menyatakan hal yg sama waktu awal-awal baca PG :P –jadi selain urusan beradaptasi, ini emang masuk urusan selera juga sih, dan selera gak pernah bisa dibohongin)
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 21, 2008, 10:30:13 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 20, 2008, 11:46:55 pm

Quote
Mungkin semacam aspek WOW hanya terhadap dunia Fantasy yang diciptakannya. Aspek seperti itu kurang ada di dalam Candi Murca.

justru fantasi-fantasi lokal yg udah beredar itu kebanyakan pada ngandelin aspek WOW di bukunya, yang ane liat sih. malah payah di plot & karakterisasi. kebanyakan penulis fantasi indo itu punya pikiran kolot: yang namanya genre fantasi cuma penting di imajinasi. plot, gaya bahasa, karakterisasi, gak terlalu dipeduliin. elu punya imajinasi tentang sebuah dunia alternatif, elu terjemahkan dengan kata-kata ber-POV orang pertama/ketiga, dan jreng! Congratulation you’re a fantasy writer already. [thumbsup]

Dan, aspek WOW itu ternyata gagal, atau kurang WOW, semata-mata karena bangunan settingnya goyang :) . Dan memang harus dibedain antara aspek WOW ini dengan plot & karakterisasi. Aspek WOW cuma bicara masalah setting, kayak lo bangun rumah dengan arsitektur keren, dengan segala isinya yg hi-tech yang bikin elo terkagum-kagum selama satu jam dua jam pertama (tergantung besarnya rumah,… hehehe).
Tapi Plot dan Karakterisasi adalah apa yg bisa elo kerjain di rumah itu, yang dapat membuat elo betah berhari-hari, bertahun-tahun di dalamnya, dengan sejumlah alasan ‘kenapa’.

Quote
Candi Murca (thanks koreksinya jun ;D), malah kurang di aspek WOW, gaya bahasa dilabel kuno, berarti plot & karakterisasinya bisa dianggap mumpuni donk? heheheh.. sebetulnya ada gak sih fantasi lokal yang kuat dan sejajar baik di setting, imajinasi, gaya bahasa, plot, karakterisasi? well kita tunggu tanggal mainnya. :)

Bener sih, plot dan karakterisasi memang mumpuni, koq. Hiya ya, saat ini belum ada the ultimate Fantasy, mari kita tunggu :)

Quote
berarti pada prinsipnya, indo emang gak pernah punya literasi orisinil kan? (maksudnya, kebudayaan/mitologi aseli.) kalo ‘budaya leluhur’ itu sendiri originnya dari tanah india,

He he, kenapa pukul rata, gitu? Namanya kebudayaan, pastilah merupakan suatu kulminasi dari berbagai pengaruh. Literasi orisinil, rasanya banyak. Budaya bertutur Indonesia melahirkan banyak sekali kisah legenda yang bersumber dari peristiwa-peristiwa di tanah air yang diolah menurut kadar kemampuan fantasi rakyat saat itu. Contohnya legenda Tangkuban Perahu (Sangkuriang), Candi Prambanan, La Galigo.

Kemampuan kita menyerap cerita epos dari India dan merevitalisasi kembali sehingga muncul berbagai format (wayang kulit, wayang golek, wayang tari), yang bahkan menjadikan seolah-olah kejadian Bharata Yudha itu berlangsung di tanah Jawa sendiri :P , itu justru merupakan hasil karya budaya yang levelnya tinggi. Bayangin dari cerita, muncul tarian yang format dan filosofinya jauh lebih dalem & rumit. Di India sendiri malah gak terbentuk sejauh itu.

Quote
kenapa kita generasi hari ini jadi punya kewajiban buat melestarikan? toh literasi orang-orang majapahit jadul jaman dulu itu juga kena influence dari masuknya kebudayaan asing (india) di nusantara.

Ini dua masalah yang jawabannya berbeda :)
Dalam hal influence dari India, yang sudah terbukti adalah terjadinya transformasi cerita asal menjadi bentuk kreativitas baru, baik berupa seni, maupun fiksi-fiksi baru berupa lakon carangan yang tidak ada dalam naskah aslinya. Transformasi ini sangat jauh berbeda sifatnya dengan apa yang kita lakukan sekarang. Pada jaman dulu, mah, istilah kata budaya kita nggak ‘ngalah’ sama budaya luar, melainkan terjadi proses penyerapan, budaya asli kita jadi diperkaya, dan diperkuat. Ciri khasnya, ada nilai tambah dari penyerapan itu, misalnya menyusupnya nilai-nilai kehidupan tradisi lokal dalam fiksi yang diciptakan. Salah satu contoh yang terkenal, kalau terkait pewayangan adalah terciptanya tokoh-tokoh Punakawan (Semar, Petruk, Gareng, Bagong), yang di versi Indianya aja gak ada, tapi begitu diciptakan oleh orang-orang kita, mereka mampu menjadi tokoh dalam Mahabarata versi lokal yang abadi menembus jaman. Atau lakon-lakon yang melibatkan Jimat “Kalimasada”, yang jelas-jelas merupakan pengaruh dari ajaran Islam, yang diintrodusir oleh Sunan Kalijaga dalam seni pewayangan.

Nah, Soal yg katanya warisan budaya, kenapa kita wajib melestarikan? Pertama-tama musti dijabarkan dulu APANYA yg wajib dilestarikan?
Kalo menurut gue sih, kita udah meninggalkan semua aspek budaya lokal kita secara hakiki, sehingga ga ada lagi alasan yang mewajibkan kita melestarikannya. Hehehehe,…. Practically, bangsa Indonesia saat ini adalah sebuah bangsa yang sedang mentrasformasikan dirinya menjadi bangsa Hollywood (bukan otomatis jadi bangsa Amerika), alias bangsa global sesuai yang disefinisikan di media-media dunia.
Ini situasi yang sangat jauh berbeda dengan masa lalu, dimana budaya asinglah yang terserap untuk memperkaya budaya lokal. Situasi kita sekarang, kitalah yang mencair (disolve) untuk bergabung dalam budaya global. Kenapa? Karena kita ‘kalah’ budaya. Kenapa kalah budaya? Karena kita semua sudah meninggalkan budaya lokal kita, tumbuh menjadi bangsa yang ‘a-kultural’ alias gak memiliki budaya lagi (so jangan heran bila dalam aspek kehidupan sehari-hari, kita menemukan banyak sekali anomali dalam masyarakat!)

Jadi salah aja, jika para tetua meminta generasi muda melestarikan warisan budaya Indonesia. Warisan yang mana? Saat ini yg disebut sebagai budaya lokal, practically cuman ‘bahasa daerah’, dan sedikit adat istiadat yang masih dijalankan oleh keluarga (saat kawinan, misalnya :) . Tapi nilai-nilainya udah nggak diyakini dan dipercayai lagi sebagai sesuatu yang perlu dilestarikan :( . So, kehilangan budaya, memang sudah menjadi nasib kita, mo cepat atau lambat. Mungkin kalo mau contoh Indonesia di masa depan, mirip kayak warga Singapura sekarang ini, yang gak punya budaya jelas (karena udah pada ninggalin budaya lokal China, India dan Melayu-nya), kemudian sibuk menganggap diri berbudaya Barat.

Nah, yang menjadi pertanyaan buat kita sekarang ini, kita (Indonesia) mau yang mana?
Saya melihatnya bukan lagi pilihan-pilihan harga mati dari para tetua, yang kalo gak kita laksanakan akan bikin kita kuwalat. Saya ngeliatnya semata aspek strategis buat masa depan kita aja.
Di saat batas antar bangsa menyatu, kita nggak akan punya nilai kalau kita ngga punya keunikan yang bisa kita tawarkan. Apa anehnya ngeliat orang Indonesia ‘meniru’ performance hip-hop sepersis-persisnya? Soalnya remaja Iran, remaja Bangladesh, ato remaja India, semua bisa melakukan peniruan yang sama. Dan kita gak akan mampu masuk status sebagai ‘creator’, paling ‘impersonator’, kenapa? Karena jaringan bisnisnya (blood-nya) akan tetap dikuasai oleh mereka (Ini juga yang ngebedain perluasan Budaya era dulu dengan sekarang).

Nah, pada saat kita menguasai sesuatu yang unik, yg ngga dikuasai oleh bangsa lain (istilahnya, Local Genius, atau Local Ingenuity), kita punya daya jual dan daya tawar yang lebih tinggi. Apa yang unik itu? Ya budaya lokal yang dulu kita punyai. Semakin tinggi penguasaan kita atas budaya lokal, semakin kuat daya saing kita dalam kancah global.
Saat ini kita kan bisa mikir, bila novel-novel Fantasy kita diterjemahkan ke dalam bahasa asing, apakah akan punya appeal yang sama dengan novel asing yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia? Apa menariknya setting yang kita tawarkan di mata pembaca asing? Kalo kita cuma ‘niru’, rasanya ngga ada yg menarik sebab semuanya udah pernah ada di sana (been there, done that [rolleyes]). Dan lagi, gue rasakan sih dalam setiap peniruan, selalu ketara ada ‘soul’ yang gak dapet.
Tapi kalo kita padukan kreativitas dengan setting yang ‘beyond’ their knowledge, kita akan muncul sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam khasanah Fantasy global (keren gak pidato gue? heheh)
Kira-kira gitu deh pendapat gue atas topik ‘berat’ ini,… :)
Yg penting sekarang, mah: ayo, belajar menulis lagi terus!
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 21, 2008, 12:12:23 pm
________________________________________
Emm, sekalian ngungkit dikit, masalah keterbelakangan fantasy indonesia yang sering gw bicarakan.
Ga seluruhnya karena pembaca ga mau baca sih, juga bukan karena penulis sini sepenuhnya engga kompeten. Wong para pembaca aja ga dikasi kesempatan untuk membaca karya lokal. Karena buku lokal, khususnya fantasi, di toko buku itu dianak tirikan, diselipin di tempet yang engga keliatan dalam jumlah yang sangat sedikit. Serius, bulan ini gw dah bolak balik di gramed dan TGA di 3 mal di Jakarta,khusus utk nyari,(yang artinya radar ON) tapi ga melihat satu pun judul buku yang di review disini -__- Coba, yang emang niat nyari aja ga ketemu, gmn yang cuma lewat?? Main area di bookstore di penuhi buku luar semua. Coba kalau ada satu main area toko buku yang mencolok, berisi kumpulan buku lokal seperti Zauri, D.O.Utopia, dan lain2. Gw optimis penjualan akan meningkat jauh seiring dengan awareness pembaca yang meningkat.
Tak kenal maka tak sayang. Ini boro2 di kenal, terlihat ujung bukunya aja kaga >.< gimana orang mau suka? Jadi bukan karena pembaca ga mau membeli, tapi pembaca bahkan ga dikasi kesempatan untuk membeli. Awareness tentang keberadaan buku lokal hanya ada di sesama komunitas penulis aja. Selama pembaca ga dikasi kesempatan untuk ‘aware’, selamanya mereka akan jadi orang yang ‘awam’ terhadap buku lokal.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 21, 2008, 01:29:49 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 21, 2008, 12:12:23 pm
Kl aku sih baca novel Ramayana karya orang Bali. Jujur sih terpaksa gara2 tema tugas akhir gw ngangkat cerita ramayana. Bagian depannya bagai baca silsilah keluarga -__- gile, mulai setengah buku ke atas baru mulai berasa bagus. Bab2 awal ngantuk abis bacanya. [refuse]

Pernah ada diterbitkan satu buku (karya orang Indonesia) yang judulnya kalo gak salah Ravana Tatwa.
Ini buku punya premis yang cukup menarik, yaitu Rahwana (tokoh antagonis di dalam Ramayana), yang justru diposisikan sebagai pahlawan yang menentang hegemoni ras Arya pemuja Wisnu di daratan India yang saat itu dominan pemuja Syiwa.
Kita bisa melihat Ramayana dari sisi yang berbeda, seolah kisah Ramayana itu sejatinya merupakan propaganda satu ras terhadap ras lainnya yang dijajah. Menariknya, memang fakta kultural di daerah Sri Lanka (Alengka Dirja?) bahwa masyarakat di sana lebih pro Rahwana dibanding Rama. Dan bukankah Sri Lanka dan India sampai saat ini pun tidak pernah benar-benar ‘akur’?
Nah, bicara setting Fantasy, sebenernya setting yang dibangun pengarang sungguh realistis dan mencengangkan, walaupun begitu banyak aspek mistis melingkupinya, tapi tetep terasa wajar-wajar saja, sambil membayangkan bahwa jaman dahulu situasinya memang benar-benar demikian.
Hanya saja penceritaannya lemah banget, pengarang terlampau banyak menggunakan cara bertutur ala mendongeng, dengan dialog yang nggak natural. Akibatnya novel ga enak untuk dinikmati. Yg ini malah cuma asyik di depan, waktu ngebabar konsep, ke belakangnya makin boring.
________________________________________
Post by: BloodSin on July 21, 2008, 01:57:51 pm
________________________________________
sekarang nih HUT-nya si Villam lho, potong kue dulu yak ^-^
Happy B’day buat lu bro, semoga di umur yg sekarang ini ada satu judul novel lu yg terbit, gw tunggu momen itu. [thumbsup]
(Sebagai sesama penulis yang sama-sama ber’pengalaman’ menerima berbagai bentuk penolakan penerbit, gw kira wish ini cukup powerful dan menggugah hati :D )
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 21, 2008, 05:29:11 pm
________________________________________
Mumpung RD lagi ulang tahun, sekalian inget kalo udah kelar TFH dari dua hari kemarin ^-^
Sekarang hadiah ultahnya,… hehehe komen dari gue.

Setelah gue baca, TFH memang kuletakkan dalam jajaran karya yang sudah lancar dan enak dibaca, artinya udah nggak mengalami masalah dengan teknik penulisan, penyusunan plot, karakterisasi, sehingga sekalipun ada beberapa kelemahan (yg sifatnya lebih pada pertanyaan bukan penilaian), TFH sudah kuanggap merupakan sebuah karya polished yang siap dibaca oleh konsumen akhir.

However, memang ada beberapa pertanyaan.

Yg pertama mengenai deskripsi dunia Elniri. Gue sempat lost di sini, antara mengaitkan alam Elniri dengan referensi yg gue kenal, atau sepenuhnya memfantasikan sebuah setting yang bener-bener baru. Masyarakat padang rumput Elniri sendiri mengingatkan saya pada masyarakat Mongol, dan ekspansinya ke seberang lautan konsisten dengan sifat ekspansi bangsa Mongol. Tapi pengarang nggak memberikan detail yang memuaskan terhadap bangsa ini, sehingga saya ngga berani bener-bener membayangkan mereka serupa dengan bangsa mongol. Padahal, kurasa itu akan sangat membantu imajinasi saya, terutama terhadap pakaian dan pernik-pernik budaya asli Elniri.

Demikian juga mengenai kerajaan2 yang ditaklukkan oleh Anthravai, gue sempat bingung akan memilih imaji mana untuk nama-nama seperti Newton, Terran, Melhaus, Minerva, dll. Apakah akan kubayangkan sebagai imaji Eropa Tengah/ Barat? Gue pikir mendingan langsung aja pengarang memberi deskripsi yang rinci untuk gambaran-gambaran locale ini, supaya kisah yang panjang itu dapat lebih mudah dikunyah.

Pertanyaan selanjutnya adalah dalam hal naming. Kurasa biarpun sudah ada naming conventions, gue tetap merasa lost. Terutama di saat gue nggak pasti apakah harus mengaitkan nama-nama yang ada dengan suatu budaya tertentu, atau feel free aja. Ada nama Helmut & Serge, yg langsung kupikir sebagai orang Jerman :) Nama-nama kaum penyihir Hajduk, ampun susah banget dibacanya dan membuat pikiran kusut tanpa perlu [bomb]

Ketiga, mengenai prolog yang tiga lapis :o . Terus terang kepala gue langsung penuh di awal-awal bacaan :) Ada Kuga, ada Hajduk, kemudian ada Wyndassi. Emang sih nantinya semua akan terjalin (BTW, Kuga belum muncul di buku 1? Trus ngapain bikin bingung pembaca?). Tapi kalo udah kebanyakan, akan jadi let down factor.

Sebenernya pengkisahan Wyndassi di depan juga membuat gue kecele, sebab ternyata yang menjadi tokoh sentral dari novel ini adalah si Fabian. Pembaca kan perlu mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama. Repotnya saat gue telah terlanjur berjangkar pada Wyndassi (setelah dibingungkan oleh Kuga dan Hadjuk), gue harus memindahkan jangkar gue seterusnya ke kubu Fabian. Gue tahu sih, kisah Wyndassi juga merupakan elemen plot yang cukup penting, secara Wyndassi merupakan salah satu tokoh sentral yang akan mempengaruhi jalan cerita, sehingga latar belakangnya penting untuk dikenal pembaca. Dan ternyata, I love Wyndassi more than Fabian!

Efek minus dari perpindahan tokoh sentral di tengah novel ini antara lain jadi memberi kesan bangunan ceritanya mengulur, sebab pembaca harus mulai dari awal lagi (saat pindah tokoh).

Nah, bangunan yang mengulur inilah yang kupersoalkan, dalam bentuk missi cerita yang buat saya jadi kurang jelas. Saya merasa terlalu jauh berjalan-jalan tanpa punya tujuan yg kuat. Walaupun saya tahu bahwa ada missi utama berupa kemerdekaan rakyat Newton dari Elniri, saya harus mengikuti Fabian yang sempat mengasingkan diri untuk membangun kampung baru (gue jadi inget plotting cerita-cerita lama pada jaman cerita silat populer di Indonesia), Helmut bikin temple segala dll. Well, emang sih, berkat itulah novel ini jadi terasa epik-nya. Tapi kurasa, kemuluran itu ditambah dengan banyaknya adegan perang yang ‘pointless’ (seperti telah diutarakan oleh temen-temen), membuat fokus dari novel ini melebar ketika sampai di pertengahan novel.

Kalo model plotting lo seperti ini, kayaknya format yang tepat bagi TFH buku 1 adalah sebagai Cerbung di Majalah :)

Beberapa konsep kurasa juga masih sedikit perlu di make sense, seperti apa itu pendekar dan kemudian koq tiba-tiba muncul konsep ksatria, yg sebelumnya belum pernah ada dalam bangunan masyarakat Newton (terbukti knighthood bukanlah produk dari Raja Edouin, sebagaiman lazimnya knighthood adalah produk dari raja-raja Eropa). kemampuan para pendekar aku rasa juga sedikit overstatement, belasan bisa mengalahkan ratusan :)

Lalu mengenai kekuasan Anthravai di negeri Newton itu, koq kayaknya rada kurang terasa impact-nya, ya? Bagaimana nasib tanah air Wyndassi sendiri setelah ditinggal oleh Rajanya ke tempat jauh? Bagaimana impact keberadaan penjajah baru ini terhadap kehidupan di Newton? Mestinya ada pengaruh, entah dalam bentuk budaya (bahasa) atau pemandangan (bangunan baru atau aneh yg seleranya ga klop), atau paling sedikit: nama-nama tempat (kayak pemimpin orde baru yang kemudian mengganti seluruh nama jalan protokol di kota-kota Indonesia dengan nama Jalan Sudirman dan Jalan Gatot Subroto) :) . Buat gue itu hal kecil tapi bisa membuat cerita elo lebih meresap.

Terus terang saja, membaca buku 1 sampai habis, saya belum menemukan missi utuh dari novel ini kecuali sekedar perjuangan Fabian, yg menurut saya sangat insignificant. Judging from your expertise, aku rasa ente sebener-benernya memang sudah punya missi yang akan disampaikan pada pembaca. Cuma kulihat ada strategi untuk menghadirkan semuanya tuntas hanya pada buku ke empat. Kalau buat gue sih, itu agak beresiko, mengingat jarak buku ke 1 sampai ke 4 bisa beratus-ratus halaman, dan pembaca bisa ko’it di tengah jalan.

Terakhir, soal judul neh. Kenapa harus ‘Forgotten’ heroes? Kalau terlupakan, berarti perjuangan mereka tak bergema, dong,..??? hehehe.

Anyway, great work! [thumbsup]
Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: rd_Villam on July 21, 2008, 05:39:38 pm
________________________________________
teman-teman,
terima kasih atas seluruh ucapan selamatnya.
semoga kita semua semakin sukses dan selalu berbahagia. :)
________________________________________
Post by: BloodSin on July 21, 2008, 10:46:16 pm
________________________________________
Quote
Hanya saja penceritaannya lemah banget, pengarang terlampau banyak menggunakan cara bertutur ala mendongeng, dengan dialog yang nggak natural. Akibatnya novel ga enak untuk dinikmati. Yg ini malah cuma asyik di depan, waktu ngebabar konsep, ke belakangnya makin boring.

Sebenernya ane kurang ngerti di bagian yg dibold, buat ukuran novel fantasi, bukannya mestinya semakin ‘kuno’ gaya story telling-nya, semakin asik diikutin? Karena sejatinya literasi fantasi itu masuk ke dongeng-dongeng juga, dan akan betapa cucoknya kalo dieksekusi dengan story-telling ala dongeng, seharusnya.
Sejauh ini ada dua novel fantasi luar dengan gaya story-telling ‘kuno’ yg memukau bagiku: The Hobbit & Thief of Baghdad.
Dan gaya komikal di karya ane itu dipengaruhi berat sama dua karya ituh, yang akhirnya berujung kena label ‘pretensius’ dari ente ;D ;D (itu lho, adegan para perampok di bab 2)

@villam,
wah… PG dapet komen positif tuh dari Raja Biawak (tapi tumben gak panjang-panjang amat). Selamat yak, tak sia-sia revisi ente [thumbsup]
Tinggal di-resend ke penerbit lagi tuh ;)
Kalo masi ditolak jugak, berarti lu punya hak buat nge- [bomb] kantor penerbitnya [biggrin]
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 22, 2008, 08:50:12 am
________________________________________
Elo mesti baca bukunya dulu dah, biar ngerti apa yg gue maksud :)
Ini bukan soal kuno atau modern gaya storytelling. Kalo di Ravana Tatwa, banyak sekali kisah dituturkan bukan melalui aksi atau dialog yang membangunkan imajinasi pembaca, melainkan dinarasikan begitu aja oleh pengarang. Contohnya bisa kayak frase seperti ini:

Selama tiga puluh tahun Abvasa mendirikan astana di kaki bukit itu, dan bangunan utama sudah hampir selesai sembilan puluh persen. Druvadi sering mengatakan bahwa rancangan astana ini menyalahi tata aturan pembangunan yang semestinya karena lalai memperhitungkan posisi gunung tang tegak menjulang di sebelah Barat Daya. Sudah dua tahun terakhir ini Abvasa disibukkan oleh pembangunan gapura yang sudah empat kali mengalami perubahan rancangan. Pohon randu kecil di sudut itu yang menjadi penyebabnya, gara-gara pendapat Druvadi yang menjengkelkan.
Druvadi sering mengatakan, “O, suamiku, sang Rsi. Janganlah kau tumpas anak Randu itu,” Selanjutnya Druvadi memberi saran agar Abvasa membiarkannya kelak menjadi batang Randu raksasa yang meneduhkan gapura.
Dalam pembangunan ulang yang ke delapan barulah Abvasa merasa bahwa rancangan gapura kali ini cukup cocok dengan saran Druvadi.

Nah,… baca frasa kayak gitu, capek gak loe??? Padahal dalam buku tersebut satu bab bisa aja hanya berupa narasi tanpa dialog. Jadi bisa dibayangin setelah sekian bab terasa mendera-dera, nggak kayak baca novel tapi kayak baca kitab undang-undang ;D
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 22, 2008, 01:55:03 pm
________________________________________
@mas pur,
thank you berat, bos, atas reviewnya!
berhubung ini pertama kali draft TFH:Q&K dibaca dan direview secara keseluruhan, sudah pasti ini adalah masukan yang sangat berharga dan emang udah ditunggu-tunggu. [thumbsup]
begitu baca reviewnya, langsung deh berkali2 gue menggumam sendiri: ‘iya ya, betul juga…’. hehehe… dan kepala langsung terisi penuh oleh ide-ide baru, semuanya minta langsung ditulis segera.

sementara ini yang udah kepikir adalah cara memperdetil suasana dan budaya seluruh negeri-negeri yang ada, termasuk cara penamaan orang-orang dan kotanya. juga sejarahnya, dan konsep mengenai ksatria. sambil berusaha agar semuanya tetap bisa masuk ke plot dan tidak menjadi infodump.
mengenai efek ekspansi elniri ke utara, mungkin akan lebih kelihatan di buku berikutnya, setelah bertahun-tahun lewat dari kejadiannya. tapi bakal gue coba juga masukin sedikit di buku satu ini.
soal prolog, yang mungkin terasa ganjil bagi kebanyakan pembaca fantasi, memang ada beberapa pilihan, tapi sejauh ini tipe semacam yang gue pake itu adalah solusi yang menurut gue paling cocok jika dikaitkan dengan tema keseluruhan cerita nanti. sejauh ini lho, jadi bisa aja nanti gue berubah pikiran dan mengubah prolog itu.

soal bangunan cerita yang kemudian banyak melebar dan mengulur, itu juga betul. mungkin memang sudah seperti itu resikonya, karena konsep ceritanya memang ‘cerita-cerita kecil dalam cerita besar’ dengan banyak karakter pencerita (multiple point of view). ada plot utama yang bakal terselesaikan di akhir, dan ada plot terpisah di masing-masing buku. sebuah jenis cerita yang memang ganjil buat pasar fantasi modern, mungkin.
tentu saja, ada resiko, ada konsekuensi, dan harus ada solusi dan aksi. gue udah berusaha memilah mana yang penting untuk diceritakan, dan mana yang gak penting buat dihilangkan. tapi jika kemudian plot tersebut masih terasa kabur seperti yang dirasakan mas pur, tampaknya itu semata-mata karena masih kurang terampilnya gue dalam menunjukkan apa sebenarnya pesan-pesan yang ingin gue sampaikan. dan ini yang mesti gue perbaikin.

ah… segitu dulu balasan komen dari gue. udah cukup kenyang nih… hehehe…
sekali lagi, thanks berat buat reviewnya, mas pur. komen dari yang lain ditunggu. [biggrin]
sekarang…
menulis lagi.
ditambah revisi TFH, berarti ada tiga proyek yang mesti diberesin sekarang. hayyah…
semangat semangat!
tapi prioritasnya udah ada kok. :)

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XXIII (15 Jul 2008 – 20 Jul 2008)

  • Komunitas penulis fantasi
  • About changing the tone of a story
  • Tentang fantasi modern
  • Fantasi dengan setting lokal atau luar?
  • Mengapa fantasi lokal dianggap kurang marketable oleh penerbit

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on July 15, 2008, 03:39:37 pm
________________________________________
Karena gak mau kalah sama jeff si dukun ular, gw akhirnya melanggar kontrak dongeng dengan Sang Penandai dan diam2 juga mulai membaca TFH: Q&K.
Sekarang udah sampai bab 3. Sejauh ini menarik.
Setting dunia-nya Elniri bikin gw teringat dengan kisah prekuel novel gw sendiri.
Aaah… jadi pengen nulis bagian itu… [rolleyes]
Btw, seperti kata mba dian waktu itu, ternyata TFH emang novel yang berdarah-darah! Kematian ada di mana2!
Waspadalah! WASPADALAH!
(*gaya bang napi*)
:D
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 15, 2008, 05:13:34 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 15, 2008, 03:39:37 pm
Btw, seperti kata mba dian waktu itu, ternyata TFH emang novel yang berdarah-darah! Kematian ada di mana2!
Waspadalah! WASPADALAH!
(*gaya bang napi*)
:D

heheheheh…
life and death, actually.
kan udah diperingatin di bagian prolog.
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 16, 2008, 11:54:01 am
________________________________________
Sejauh ini baru baca ampe bab 4. Menarik karena engga character based story, melainkan historical/world based story. Model cerita yang tidak punya karakter utama yah? Tapi kesannya buku 1 atau mungkin bab2 awal ini semuanya masih semacam prolog dari kejadian besar yah?

Quote
Atau justru malah sebaliknya: aku yang akan dipengaruhi
olehnya?
Yang jelas saat ini Wyndassi sudah berada di samping
Anthravai, ikut memperhatikan benteng Heyniri di depannya yang
menanti untuk ditaklukkan. Wyndassi kembali dari lamunan
panjangnya.

Gw dmen bagian ini. Cara flashback dan peralihan story yang ciamik [thumbsup] Selama ini gw bingung kl mau bikin flashback di novel itu gmn enaknya ^^ Trus penggunaan italic untuk pikiran dalam hati karakter di sepanjang cerita TFH ternyata sama sekali ga membuat pusing biarpun ganti POV org pertama tanpa dikasi penjelasan. Lebih dinamis dan engga kaku. Top deh, banyak yang bisa dipelajarin [biggrin]
________________________________________
Post by: clickdian on July 16, 2008, 12:34:25 pm
________________________________________
Yups, dulu pernah iseng nanya penulisnya, ternyata ditotal-total smua cerita itu jadi tiga buku.
Personally, aq lebih suka ketika cerita udah masuk ke kisahnya William, kira2 mm… enam puluh tahun (?)–sori lupa–setelah masa Anthravai itu. Rasanya suasananya ‘lebih terang’, sementara pas jaman Anthravai rasanya gelap. Pas jaman Vilnar lebih gelap lagi –> gak tau kenapa bisa kyk gini. Sugesti aja paling.
Oh, satu lagi: dari semua prolog yang pernah kubaca, prolog TFH paling aq suka. Singkat, padat, bermakna.
________________________________________
Post by: BloodSin on July 16, 2008, 01:15:25 pm
________________________________________
guys, ngomong2, gw baru aja registrasi ulang membership vgi, (gw udah bikin nick sebelumnya tapi lupa passwordnya >_<), ternyata forum RPN-nya masih idup! keren jugak, gw ngintip2 sejarah komunitas mereka ternyata umurnya udah jauh lebih tua dari geng fantasi kita :-[
bahkan penulis ledgard pun pernah join kesana.

jadi sejauh ini, komunitas/club/geng penulis fantasi yg gw tauk tuh ada 3 bijik:
-tret fantasi anak2 pulpen (yak kita2 ini lha :P )
-komunitas fantasi kemudian.com (hikikomori-vq, alfare, codenamekey, dllll)
-dan geng vgi (maxim84, juunishi master, maha gnosis, dan konco2nya)

gw jadi berandai2, apakah sebetulnyah masih ada komunitas penulis fantasi selain 3 komunitas itu? dan gimana dengan milis? atau ym? atau jangan2 ada juga komunitas penulis yg ketemuan langsung face-to-face? ah betapa luasnya dunia ini [biggrin]
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 16, 2008, 01:25:30 pm
________________________________________
pasti ada dunia lain yang lebih luas di luar kita, rey. :) cuman kita gak tau para penulis fantasi itu nongkrong di mana.
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: rd_Villam on July 16, 2008, 01:36:29 pm
________________________________________
Quote from: clickdian on July 16, 2008, 12:34:25 pm
Personally, aq lebih suka ketika cerita udah masuk ke kisahnya William, kira2 mm… enam puluh tahun (?)–sori lupa–setelah masa Anthravai itu. Rasanya suasananya ‘lebih terang’, sementara pas jaman Anthravai rasanya gelap. Pas jaman Vilnar lebih gelap lagi –> gak tau kenapa bisa kyk gini. Sugesti aja paling.

gelap? kurang lampukah? hehe…
hmm… masukan berharga. thanks.
mungkin itu juga sebab lain kenapa cerita ini tampak kurang ‘menjual’.
but i cannot change the tone, unfortunately. :(
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 16, 2008, 02:07:50 pm
________________________________________
Tone cerita yang kelam dan darkish sih sesuai ama selera gw, Jadi gw ga akan bilang itu faktor minus dr TFH malah mungkin faktor plus. Sejauh yang gw baca, klimaks kurang diolah sehingga bagian yang mestinya bisa seru dan menegangkan ternyata berlalu begitu saja tanpa bikin pembaca greget. War after war secara historikal tanpa ada bagian cerita yang bener2 ditonjolkan/klimaks. Hmm… mungkin mirip romance of three kingdom kali yah. Membaca TFH lebih terasa seperti menyelami sejarah. Ini cuma kesan aja, gw ga bilang ini poin plus ataupun minus, ada pasar pembacanya masing2. :)
________________________________________
Post by: clickdian on July 16, 2008, 02:10:33 pm
________________________________________
#Villam
ya gak usah diubah, itu paling sugesti aq sendiri aja. paling, kalo mau, mungkin bisa dicari cara gmn membuat tone itu jadi bermanfaat dan bikin TFH lebih ‘mengundang’.
sedikit cangkokan dari tone yg lebih terang, mungkin? mungkin lhoooo… :)
________________________________________
Post by: BloodSin on July 16, 2008, 02:50:50 pm
________________________________________
Quote
Tone cerita yang kelam dan darkish sih sesuai ama selera gw, Jadi gw ga akan bilang itu faktor minus dr TFH malah mungkin faktor plus. Sejauh yang gw baca, klimaks kurang diolah sehingga bagian yang mestinya bisa seru dan menegangkan ternyata berlalu begitu saja tanpa bikin pembaca greget. War after war secara historikal tanpa ada bagian cerita yang bener2 ditonjolkan/klimaks. Hmm… mungkin mirip romance of three kingdom kali yah. Membaca TFH lebih terasa seperti menyelami sejarah. Ini cuma kesan aja, gw ga bilang ini poin plus ataupun minus, ada pasar pembacanya masing2.

ahak, iyak ini dia komen si jeff yg dulu gw tujuin ke cuplikan TFH waktu gw baca jaman dulu… penggambaran jalan perangnya terlalu simple/’lurus’. komandan A bawa sekian ribu pasukan, komandan b bawa sekian ribu pasukan, terus battle deh, dan resultnya pun cuma si komandan a itu menderita kekalahan sekian ratus jiwa, atau kotanya jadi terkuasai musuh. penggambaran adegan perangnya kurang ‘kreatif’ (ente nuntut makian kan? granted! ;D), sehingga kurang berhasil menciptakan greget bagi pembaca.
(tapi emang kalo boleh jujur sih, baca adegan perang TFH masih jauuuuh lebih seru daripada adegan perang di ledgard -.-”)

dulu ente bilang, sebetulnya TFH udah menyuguhkan teknik2/siasat2 perang yang mumpuni, tapi itu baru masuk di pertengahan/akhir buku yak? well villam, sebetulnya gak ada salahnya kalo siasat2 perang itu udah dimasukin dari semenjak plot anthravai nyerbu yergai, atau pas awal2 penyerbuan elniri.. yahh.. siasat yang simple2 aja dulu lha buat ‘apettiser’ bagi pembaca. gw inget tuh waktu baca legenda naga, dia pas awal buku pertama-kedua adegan perangnya aja udah langsung ngejabarin teknik2 perang yg keren, dan disitulah pembaca dapet greget untuk terus ngelumat seri2 selanjutnya. :)

Quote
mungkin itu juga sebab lain kenapa cerita ini tampak kurang ‘menjual’.
but i cannot change the tone, unfortunately

HARUS bisa!!! >_<
well, villam, rupanya kita sedang berada dalam kancah dilema yang sama. daku pun kini sedang struggle ngerombak total prolog & bab 1 lemures. dan ternyata susahnya minta ampun. :(
tapi untungnya, mungkin kerjaan kita gak sesusah si dukun beranak yg kudu ngebuang racun RPN dari bodi anaknya, which is quite impossible i think [biggrin]
________________________________________
Post by: clickdian on July 16, 2008, 04:23:44 pm
________________________________________
yups. bawa pasukan-perang-selesai-bawa pasukan lagi-perang lagi-selesai, gitu ajaaa terus. capek bacanya.
perkembangan karakternya gimana? komplikasi plotnya gimana?
kalo diseling romance–oke, boleh dah pada ketawa–gimana, lebih menarik gak?
Yang seru itu, kalo tiap perang kejadiannya beda, taktiknya beda, efek serangannya beda. gak monoton.
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: rd_Villam on July 16, 2008, 05:25:55 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 16, 2008, 02:50:50 pm
Quote
mungkin itu juga sebab lain kenapa cerita ini tampak kurang ‘menjual’.
but i cannot change the tone, unfortunately

HARUS bisa!!! >_<
well, villam, rupanya kita sedang berada dalam kancah dilema yang sama. daku pun kini sedang struggle ngerombak total prolog & bab 1 lemures. dan ternyata susahnya minta ampun. :(

tentang teknis atau gaya bahasa untuk memikat pembaca, mari kita perbaiki. tapi kalo soal mengubah tone, menurutku lebih baik setiap penulis memilih jujur pada diri mereka sendiri. tone adalah hati sebuah cerita, dan untuk itu lebih baik jujur pada apa sebenarnya yang ingin kita sampaikan dalam cerita tsb.
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 16, 2008, 07:03:01 pm
________________________________________
Betul bos… tone macem apa pun, cerita macem apa pun, kalau diolah pasti bisa jadi bagus. Ga ada istilah benar atau salah. Lagian nulis dengan ngorbanin idealisme sendiri itu bukan sesuatu yang membanggakan juga. Kalau berhasil memperjuangkan idealisme sendiri dan membuatnya sukses dan diterima semua orang itu baru bisa dibanggakan. [thumbsup]

Quote
Yang seru itu, kalo tiap perang kejadiannya beda, taktiknya beda, efek serangannya beda. gak monoton.

Nah ini bener banget. Satu jenis perang cukup disajian sekali aja, kl ada perang lain yang engga berbeda skenarionya dengan itu, dipersingkat dan tidak perlu dijelaskan dengan detil. Perang berikutnya yang dijelaskan dgn detil harus menyajikan sesuatu yang berbeda biar bikin pembaca tetep greget.

Quote
dulu ente bilang, sebetulnya TFH udah menyuguhkan teknik2/siasat2 perang yang mumpuni, tapi itu baru masuk di pertengahan/akhir buku yak? well villam, sebetulnya gak ada salahnya kalo siasat2 perang itu udah dimasukin dari semenjak plot anthravai nyerbu yergai, atau pas awal2 penyerbuan elniri.. yahh.. siasat yang simple2 aja dulu lha buat ‘apettiser’ bagi pembaca. gw inget tuh waktu baca legenda naga, dia pas awal buku pertama-kedua adegan perangnya aja udah langsung ngejabarin teknik2 perang yg keren, dan disitulah pembaca dapet greget untuk terus ngelumat seri2 selanjutnya.

Ini saran yang bagus, three kingdom awal juga menyajikan taktik di setiap perangnya. DIsini justru kita bisa nunjukin pada pembaca gimana tingkat kecerdasan masing2 tactician. Dimulai adri taktik Guan Yu yang termasuk pintar strategi perang, kemudian ganti Xu Shu yang levelnya jenius, ampe akhirnya ketemu Zhu Ge Liang yang levelnya beyond godlike. (wek jadi dota) Dr mengamati semua taktik2 yang disajikan sebelumnya, kita baru bisa memahami seberapa encernya otak Zhugeliang. :)
________________________________________
Post by: BloodSin on July 17, 2008, 06:12:35 pm
________________________________________
Quote
Hmm, TFH… baru baca sampe bab 8…
Masih jauh nih… kurang lebih masih tiga perempat lagi…

pada ngebut2 banged yak baca TFH :-[
gw aja belom nembus bab 2 :P
waktu pertama kali nerima kiriman TFH hari minggu kemaren, gw sih niatnya baca mulai dari bab 5, soalnya jaman dulu gw udah dikirimin sample bab 1-4 dari villam. jadi rada2 males kalo baca ulang dari bab 1.
tapi ternyata kayaknya ada bbrp adegan yg berubah (atau ditambahkan), dan udah itu muncul bbrp istilah/ide baru pulak. Kayak Fairahai, Torahai. Waktu dulu gw baca belon ada istilah2 itu. Mau tak mau harus ngulang lg nih bacanya.
Jadi... sabar aja yak villam my bes pren [biggrin]
(lagian sekalian mau bales dendam juga sih dulu nungguin ente beres baca lemures ane luamak pisan ;D ;D)
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 17, 2008, 11:22:13 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 17, 2008, 06:12:35 pm
anak fantasi sini cukup variatif alirannya: ada silat (om pur), kolosal (villam), romance (clickdian), Sci-Fi (hege), sampe pure RPN (si jeff, op kors(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))
trus belakangan, ada makmak dengan aliran supernatural. gw sendiri maen di aliran adventure. keren dah, semakin banyak yg gabung sini, semakin kaya pulak background geng fantasi anak pulpen [thumbsup]

ah ente ini…
yang beralir-aliran itu kan karyanya, bukan penulisnya. (huh bingung, gimana ya ngomongnya?). satu penulis kan bisa aja menulis karya2 yang jenis alias alirannya beda-beda.

TFH yang gue kirim taun lalu?! :o
buset itu kayaknya hampir separonya udah berubah deh…
kan berdasarkan saran serta makian ente dan yang lain. ;D
walau tetap ada yang dengan keras kepalanya gue jaga supaya gak berubah, demi memuaskan keinginan pribadi/egois gue. ;D
btw, dasar pendendam nih! ;D
________________________________________
Post by: Elyasa on July 18, 2008, 12:55:43 pm
________________________________________
Hehehehe….Ayo balik ke fantasi dong, sekalian gue mau nanya…di Indonesia, fantasi apa yang bisa mewakilkan bangsa kita..tanpa harus ngikut budaya orang lain (india, china, eropa, amerika, dkk)
________________________________________
Post by: clickdian on July 18, 2008, 12:59:54 pm
________________________________________
Dah baca PG-nya Mas Pur? ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 18, 2008, 01:11:13 pm
________________________________________
Kupikir PG bukan bergenre Fantasy, lah. Wong settingnya masih ‘didarat’ pulak [rolleyes] hehehe.
Tapi tetap layak baca! Ha ha ha,…
Kalo mo belajar mengenai penulisan Fantasy berlatar kota modern, baca Neverwhere-nya Neil Gaiman. Gue pengen banget bikin yg sejenis, tuh!
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: clickdian on July 18, 2008, 01:16:26 pm
________________________________________
Buatku udah masuk fantasi, mas :)
nah ituuuu!! di mana bisa dapetin novel itu yaa?
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 18, 2008, 01:29:25 pm
________________________________________
di toko buku dong… :P
________________________________________
Post by: clickdian on July 18, 2008, 01:32:21 pm
________________________________________
ya iyalaaahh [hammer]
masa di toko baju? :D
emangnya dah ada yah? prasaan blon pernah nemu tuh ???
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 18, 2008, 01:40:29 pm
________________________________________
neverwhere kayaknya udah ada dari setahun lalu deh. gak jauh-jauh setelah munculnya stardust (biar laku kali).
________________________________________
Post by: clickdian on July 18, 2008, 01:42:55 pm
________________________________________
*malu* [shy]
heuheuehue… maklum nggak gaul.
#Mas Pur, pernah review neverwhere gak?
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: MakMak on July 18, 2008, 01:45:37 pm
________________________________________
Quote from: Elyasa on July 18, 2008, 12:55:43 pm
di Indonesia, fantasi apa yang bisa mewakilkan bangsa kita..tanpa harus ngikut budaya orang lain (india, china, eropa, amerika, dkk)

klo kmu suka yang history based fantasy, coba baca Nogo Sosro Sabuk Inten atau Kukus Kemelun ing Kartasura. untuk judul terakhir pakai bahasa jawa.
atau kalo kmu suka yang mythology, baca saja ramayana atau Mahabarata, atau lakon-lakonnya.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 18, 2008, 01:47:53 pm
________________________________________
Gue gak ngereview Neverwhere, kan bukan fantasy lokal?
Tapi kurasa worth to read, lah. Penciptaan dunia bawah tanah london-nya cukup unik.
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: juunishi master on July 18, 2008, 02:45:08 pm
________________________________________
oot dikit: Dan kalo ditanya gw tahu tempat ini dari siapa. Itu dari Elyasa. Salam kenal <– ini krn gw gak tahu hrs memperkenalkan diri dimana :P
Ah, dan bicara soal cerita fantasi lokal. Jujur aja, gw agak susah nemuinnya krn rata2 diterbitkan oleh penerbit yang emang kuota bukunya di toko buku semacam Gramedia tu gak terlalu byk. Entah kenapa gw merasa Gramedia tu agak susah nerima naskah cerita fantasi lokal. Disangkanya cerita fantasi penulis lokal masih kalah ama penulis luar kali ya?
Plh yg kemarin gw liat di Gramed Bdg ya Dream of Utopia. Ada di “kawasan” buku2nya CPublishing. Bener CPublishing? CMIIW.
Satu2nya hal yg srg gw angkat alis kalo lagi liat novel lokal (batasannya gak lagi fantasi doang) biasanya cover. Masih ada aja cover yg mirip2 ama karakter anime apa dipajang di depannya. People do judge the book by its cover kalo mnrt gw. :D
Itu membuat gw berpikir utk ngedesain kover sendiri kalo seandainya ada yg terima naskah gw. :D
Hehe.
________________________________________
Post by: BloodSin on July 18, 2008, 03:34:19 pm
________________________________________
oh my, tret ini kedatengan juga seorang dubes dari vgi, akhirnya \(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)/
jadi buat sis juunishi, salam kenal dari saya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)

Quote
Entah kenapa gw merasa Gramedia tu agak susah nerima naskah cerita fantasi lokal. Disangkanya cerita fantasi penulis lokal masih kalah ama penulis luar kali ya?

bentar dulu nih. fantasi lokalnya yg kek gimana dulu? kalo yg ngambil setting barat/non-indo, gw rasa gramed emang gak pernah (dan gak bakalan pernah) nerbitin. -_-”
tapi kalo yg settingnya indo, setauk gw gramed ada nerbitin tuh ‘Panah Patah Sangkuriang’.(btw bener kan nih penerbitnya gramed?)
jadi selama kita penulis lokal, nekad nulis fantasi dengan setting luar, secakep apapun novelnya luar dalem, gw jamin halal gak bakalan pernah nembus gramed deh..
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 18, 2008, 05:36:00 pm
________________________________________
ah, benarkah? secakep apapun gak bakal nembus? mengalahkan faktor ‘layak/tidak layak jual’? gue pikir pertimbangan gramedia justru yang paling kental dalam hal ini: ‘profit adalah nomor satu’, dan buku2 fantasi impor tetap jaminan profit nomor satu. untuk ‘panah patah sangkuriang’ mungkin ada pertimbangan lebih, seperti penulisnya yang sudah dikenal sebelumnya. yeah, bisa aja gue salah sih… hehe…
________________________________________
Post by: ewingerwin on July 18, 2008, 05:53:18 pm
________________________________________
Hmm, susah juga ya kalo gitu. Hmm, jadi selama setting masih Indo, masih punya peluang ya? Hmmmm [rolleyes]
________________________________________
Post by: juunishi master on July 19, 2008, 07:46:59 am
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 18, 2008, 05:36:00 pm
ah, benarkah? secakep apapun gak bakal nembus? mengalahkan faktor ‘layak/tidak layak jual’? gue pikir pertimbangan gramedia justru yang paling kental dalam hal ini: ‘profit adalah nomor satu’, dan buku2 fantasi impor tetap jaminan profit nomor satu. untuk ‘panah patah sangkuriang’ mungkin ada pertimbangan lebih, seperti penulisnya yang sudah dikenal sebelumnya. yeah, bisa aja gue salah sih… hehe…

Tadinya jg gw kira mereka lbh mikir ttg profit. Panah Patah Sangkuriang? Er… kyknya Gramedia yg plg dekat dgn rumah gw itu udah terkontaminasi ama Naruto sedemikian dahsyatnya sampe2 area novel jd lbh sempit daripada area komik… Menyedihkan… :’( Gw kan jadi gak tahu apa2 soal novel gini jadinya…
Hehe.
________________________________________
Post by: BloodSin on July 19, 2008, 09:01:43 am
________________________________________
yep, begitulah. gramed emang terlalu berorientasi sama profit; tapi ini wajar, mengingat cetakan pertama mereka itu mencapai 8000 eks atau setidaknya di atas 5000 eks. mana berani mereka nyetak jumlah segede itu demi ‘jenis’ buku yang kurang marketable? alasan kenapa fantasi lokal dinilai kurang marketable, udah gw ceritain di Ruang Konsultasi kemaren hari [biggrin]
________________________________________
Post by: Elyasa on July 19, 2008, 08:05:19 pm
________________________________________
[Ah, soal kenapa fantasi lokal dianggap kurang marketable/quote]

Jawabannya menurut gue
1. Peminatnye dikit
2. Yang minat juga udah ada mind set bahwa yang keren itu yang dari luar
3. Penerbit ogah2an buat nerbitin fantasi…
Gitu kali yeee 8)
________________________________________
Post by: juunishi master on July 19, 2008, 08:39:32 pm
________________________________________
Cihhh!!!
Sialan! Anggapan macam apa itu?! Memangnya orang sini gak bisa kalo cuma ngalahin Christopher Paolini dengan Eragon-nya?!
Menurut gw bisa!!! Eragon itu hrsnya gak jd terkenal karena penulisnya masih muda! Ceritanya terlalu mirip Star Wars, konsep penunggang naga gak baru2 amat…
Ngg…
Gw kok jadi emosi?
Sori2 :-[
Hehe.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 19, 2008, 10:06:18 pm
________________________________________
Konsepnya memang engga baru, tapi dia berhasil ‘bercerita’ dengan baik. Orang sini pandai mengkonsep, tapi soal bercerita gw rasa masi setingkat dibawah Eragon sekali pun. Pasti ada orang sini yang jago, tp secara mayoritas masih dikit jumlahnya, apalagi di bidang fantasy. Penerbit dan pembaca udah ga mendukung lagi karena mereka udah kapok nyoba2 beli karya lokal, karena pendahulu kita udah terlanjur mengecewakan. :(
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 20, 2008, 07:21:41 am
________________________________________
ada yang punya story hebat, tapi lemah dalam storytelling. ada yang pintar dalam storytelling, tapi storynya lemah. ya begitulah. nah berhubung para penerbit/editor tidak mau dan mampu memupuk bibit-bibit penulis fantasi setengah matang seperti itu, ditambah lagi dengan konsumen yang masih lebih senang menyantap fantasi-fantasi karya penulis impor, ya jadilah akhirnya penulis-penulis fantasi kita tumbuh secara liar demi kehidupannya (halah…).
yeah, tapi mari kita sama2 punya keyakinan, bahwa suatu hari nanti kita bisa membuat sesuatu yang berbeda. belajar dan bekerja (menulis) tanpa henti. mestinya itu kuncinya.
ah, buset… kok gue jadi serius lagi ngomongnya yak? padahal gue lagi pengen becanda di sini… [biggrin]
________________________________________
Post by: BloodSin on July 20, 2008, 11:29:54 am
________________________________________
Quote
Ah, soal kenapa fantasi lokal dianggap kurang marketable, gw penasaran pengen baca tuh. Ada di topic konsultasi kira2 halaman berapa?

hmmm, lupak! >_< sekitar di halaman 30-an, pokoknya pas gw lagi ‘berdiskusi’ sama seorang junior bau kencur bin nyolot(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
ah eniwei, ini update jawaban gw:

1. membaca genre fantasi relatif lebih sulit, karena sedikit-banyak pembaca membutuhkan wawasan dan imajinasi yang lebih tinggi daripada genre teenlit/chicklit. dan itu berarti semakin sempit pulak cakupan pembacanya. tapi sebetulnya wawasan dan imajinasi pembaca disini masih relatif juga sih.
2. kalah pamor sama fantasi luar negeri
3. belum adanya fantasi lokal yang meledak, sehingga sedikit-banyak jadi nilai minus di mata penerbit. coba deh, tungguin ada satuuuu aja yang meledak, pasti penerbit bakal berlomba-lomba nyari naskah fantasi.
4. kebanyakan buku fantasi lokal itu halamannya tebel, berujung harga jual muahal, padahal ditulis oleh penulis gak jelas (belum punya nama), dan didukung pulak dengan ketiga poin di atas, penerbit makin gak berani nanggung resiko.
Tapi gw salut berat sama Copernican, salah-satu penerbit yg berani nerbitin fantasi lokal dengan halaman super-tebel, Misteri Pedang Skinheald II.
5. well, alasan terakhir ini, murni dateng dari pribadi gw sendiri yang udah ngelumat lebih dari sepuluh judul fantasi lokal: kalo dievaluasi dengan nilai rata-rata, buku-buku fantasi yang udah beredar dan terbit di masyarakat itu ‘ngapokin’ orang. (setidaknya pendapat gw ini udah didukung jugak ama statement si fred pas die awal join kesini:D)

Tendesinya masih lebih gede ke ‘mengecewakan’ daripada ke ‘memuaskan’.
Dan kalo elu megang sebuah buku fantasi lokal, lebih baik elu jangan terlalu berharap banyak deh.
well emang ada sih 2-3 fantasi lokal yang bagus banged (boleh dibilang setara ama bikinan orang luar), ada juga 1-2 judul yang ‘lumayan’, tapi yang butut mampus dan bikin ilpil jauh lebih banyak. Dan sialnya, gak sedikit yang butut mampus itu disejajarkan sama LOtR dan HarPot di endorsement-nya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
Sekali lagi, ini penilaian gw pribadi yak, tentu ini subjektif dan bisa aja gak berlaku bagi pembaca lain. :P

Quote
Sialan! Anggapan macam apa itu?! Memangnya orang sini gak bisa kalo cuma ngalahin Christopher Paolini dengan Eragon-nya?!

Menurut gw bisa!!! Eragon itu hrsnya gak jd terkenal karena penulisnya masih muda! Ceritanya terlalu mirip Star Wars, konsep penunggang naga gak baru2 amat…

eragon mah gak ada bagus-bagusnya :P
ide-idenya gak ada yang kreatip, plot standar abis, miskin greget, dan dieksekusi dengan gaya bahasa yang ngebikin ngantuk pulak. (mohon maap kalo di sini ada yg maniak ama eragon, eniwei :-[)
gw setengah buku pun gak lewat bacanya. eh tapi ini gw baca yang versi terjemahan GPU, mungkin versi bahasa aselinya (english) better kali yak. :)

Quote
Penerbit dan pembaca udah ga mendukung lagi karena mereka udah kapok nyoba2 beli karya lokal, karena pendahulu kita udah terlanjur mengecewakan.

sotoy lu ah, belom pernah beli dan baca satupun judul fantasi lokal jugak ;D ;D
tapi emang bener begitu sih… :P

@om pur,
well, daku menilai negatif rata-rata fantasi lokal itu buat semua fantasi lokal dengan settingan dunia barat/alternatif. agak penasaran jugak sih sama ‘fantasi2 indo’ kayak Candi Murka & serial Gajah Mada (ini fantasi bukan?), memuaskan apa mengecewakan nih?
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 20, 2008, 12:21:05 pm
________________________________________
Kesimpulannya, kecuali orang2 iseng sesama komunitas penulis yang pengen ‘ngecek’ dah sejauh mana kemampuan saingan sesama penulis lokal, udah nyaris ga ada orang yang punya pikiran untuk membeli fantasi lokal.
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 20, 2008, 03:41:38 pm
________________________________________
menyedihkan jika memang benar begini… :(
tapi sebodo amat dah. itu tetap gak menghentikan gue untuk tetap menulis. fantasi terutama. hahaha… nikmati sajalah… ;D
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 20, 2008, 05:02:04 pm
________________________________________
Nyaris seperti itu. Well, kl ga ada perubahan yang nyata, susah mendobrak keadaan ky gini. Kita cuma bisa terus menulis dan menulis sampai suatu saat karya kita diterima toh? Atau seperti yang gw ingin lakukan, kl tidak ada jalan, gw akan merintis jalan gw sendiri melalui self publishing. Ada yang punya alternatif lain menyangkut keadaan yang memprihatinkan ini? :(
Btw, mana nih review2 buku yang ramai dijanjikan 2 minggu lalu? :)

Comments No Comments »

[tab:Hal 1Sesi XXII (11 Jul 2008 - 15 Jul 2008)
• Sukseskah Tolkien dan Rowling jika mereka tinggal di Indonesia?
• Tips dari Roald Dahl

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 11, 2008, 10:20:07 am
________________________________________
Btw, kalian pernah ngebayangin ga sih, kalo misalnya tokien ama J.K Rowling itu tinggelnya di Indonesia, bisa terbit dan laku apa engga tuh buku? :D Kalo gw bilang sih kegagalan novel fantasy lebih dari 50% karena faktor Indoensianya itu, ya masyarakatnya lah, ya pendidikannya lah, editornya lah, faktor jual murahnya lah…, kejer profitnya lah. Ada banyak sekali faktor disini yang mungkin akan menghancur leburkan penulis selevel Tolkien hingga LOTR mungkin jadi novel sampah yang tergeletak tak terjual jika dia ada di Indonesia ^^.
________________________________________
Post by: MakMak on July 11, 2008, 10:32:26 am
________________________________________
sepertinya akan sama saja. penulis yang bagus, dimanapun dia tinggal, tetap saja penulis yang bagus.
for ex: JKR tinggal di Indonesia, trus bikin nopel, tapi ga laku krn seperti kondisi diatas. mungkin untuk novel-novel selanjutnya, dia akan mengirimkan naskahnya ke penerbit luar negeri. novelnya laku, trus dia jd terkenal. novelnya yang tidak laku di Indonesia mungkin akan di terjemahkan ke bhs Inggris, dan kemudian laku n tidak jadi novel sampah lagi.
sama saja kan?
penulis yang bagus, dimanapun dia tinggal, tetap saja penulis yang bagus.
________________________________________
Post by: fr3d on July 11, 2008, 10:42:35 am
________________________________________
Mungkin catatannya gini, Mak.
Di indonesia, semua elemen yang disebut jeff itu justru bukannya mendukung lahirnya penulis bagus, melainkan malah seringkali menjadi penghalang.
Kalau berdasarkan contoh di atas, berarti sama aja kan yang menelurkan penulis bagus dan sukses adalah penerbit/editor luar negeri, bukan penerbit/editor lokal. ;)
Ibaratnya gini: seekor elang yang tinggal seumur hidup bersama kumpulan ayam, bisa ngira dirinya ayam, padahal seharusnya dia jadi elang. Syukur2 ada elang lewat, terus dianya sadar, kalau gak ada… payah dong…
Pengandaiannya terlalu jauh ya? :D
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 11, 2008, 11:10:32 am
________________________________________
hmm… gw juga ga gitu yakin. Intinya gini kl menurut gw,
‘penulis berbakat’ hanyalah kekuatan seorang individu, satu orang. Dan kekuatan satu orang mau sesakti apapun, tanpa didukung lingkungan dan masyarakat, individu itu powerless, tak berdaya. Kalau gw mengandaikan, anda sendirian berkata A, sementara seluruh Indonesia mengatakan B, apakah satu orang individu yang menyuarakan A itu berpengaruh? Jelas tidak, satu orang tidak bisa mengubah dunia tanpa didukung oleh satu golongan yang kuat dan diakui. Dan itulah yang terjadi di Indonesia.

Bahkan jika seorang sekaliber Tolkien lahir di Indonesia, menurut gw tidak akan berhasil di Indonesia, palingan seperti yang mak bilang tadi, suksesnya di luar negeri yang memang mengakui bakatnya. Indo mah cuman ikut2an doang, orang lain bilang bagus, baru mau ikutan baca. Kl contoh nyatanya sih yang gw tau cuma dari dunia komik, krn gw lebih lama berkutat dibidang itu. Ada banyak banget komikus Indonesia yang udah pindah ke luar negeri dan sukses. Jepang sendiri menawarkan jaminan hidup sebagai komikus disana asalkan kita mau pindah kewarganegaraan. Bayangkan, Jepang yang disananya sendiri udah kebanjiran mangaka jenius aja masih mau ngambil komikus sini, yang di negaranya sendiri tidak diperdulikan sama sekali. -__-.

Apa pada akhirnya semua orang berbakat harus memilih:
pergi keluar negeri dan meninggalkan rasa nasionalisnya, atau
tetap di dalam negeri demi rasa nasionalis dan membusuk disini tanpa menghasilkan satu pencapaian pun?
Well? :-\ 10 tahun kedepan, sisa berapa yah SDM Indo yang berbakat yang masih tersisa disini? Negara maju dengan gencarnya merekrut orang berbakat, sementara Indo tanpa sadar terus menghancurkan ribuan orang berbakat, yang gw istilahkan sebagai ‘korban kondisi’.
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: fr3d on July 11, 2008, 11:39:12 am
________________________________________
Terlepas dari membicarakan profesi penulis atau bukan, kalau soal di luar negeri yang lebih menghargai orang berbakat sih gw setuju sama jeff. Di negeri kita tercinta ini, apresiasi buat orang2 berbakat emang kurang. Misalnya aja dari segi penghasilan. Jadi, gak aneh lah kalau pada “kabur” ke luar negeri, dan kita gak berhak mempertanyakan nasionalisme mereka.
Jadi kenapa bisa begini? Masalahnya apa?
Knapa juga gw jadi OOT gini… [hammer]
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 11, 2008, 01:01:57 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 11, 2008, 11:10:32 am
hmm… gw juga ga gitu yakin. Intinya gini kl menurut gw,
‘penulis berbakat’ hanyalah kekuatan seorang individu, satu orang. Dan kekuatan satu orang mau sesakti apapun, tanpa didukung lingkungan dan masyarakat, individu itu powerless, tak berdaya.

Sesuai hukum alam. Bibit harus tumbuh di tanah yang cocok.
Tanah Indonesia bukannya tidak cocok. Cuma kurang pupuk, dan lemah dalam manajemen. Di segala aspek, semuanya saling terkait sehingga menciptakan sistem yang ‘mematikan’.
Kalo bicara bibit, sebetulnya Tuhan sudah mengkaruniai negeri kita dengan bibit-bibit terbaik. Kita pernah punya padi yang demikian tinggi kualitasnya, sehingga muncul nama Yawadwipa (Pulau Padi).
Durian Indonesia pernah dikatakan sebagai galur murni, induk semua durian yang ada di Bumi.
Tapi sekarang liat aja, padi,…. bah. Impor.
Durian, kalah kualitas sama durian monthong.
Kita jadi umat yang kufur nikmat, makanya Tuhan mencabut nikmat itu dari kita.

Tapi, berita baiknya, Tuhan memberi kita rahmat tersembunyi.
Di tanah yang tandus, bibit harus bener-bener berjuang keras untuk bisa tumbuh. Maka dia akan menjadi tanaman yang liat, dan tahan gempuran.
Kalau kita tetap berjuang keras untuk tumbuh, against all odds, maka kita akan muncul sebagai pribadi yang tahan gempuran dan teruji dalam situasi tersulit.
Nah, makanya, pilihlah untuk terus berjuang, jangan pilih yang enak-enak aja. Perjuangan akan membesarkan kita, kenikmatan akan mengerdilkan kita.
Salam perjuangan! (Apa sih?)
FA Purawan
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 11, 2008, 01:46:50 pm
________________________________________
haha…
keren nih:
salam perjuangan! [thumbsup]

@rey, fred, mas pur,
udah gue kirim tuh TFH nya…
silakan dibantai. hehehe…
hasil pembantaiannya boleh aja kok dikirim langsung ke tret ini, asal jangan spoiler yak. heheh… supaya nanti lebih mudah jika ada yang bisa didiskusikan bersama.
namun kalau seandainya sangat panjang dan detil, silakan direply langsung saja ke email gue.

@eniyorda,
welcome back!
kamu salah satu reviewer terbaik di sini.
we need you.
hehehe…
________________________________________
Post by: Elyasa on July 11, 2008, 04:09:18 pm
________________________________________
Ngebahas masalah penulis fantasi lokal yang nggak bisa berkembang….
Kalo menurut gue sih…karena orang bule itu jauh lebih kreatif dan open minded dibandingin kita…dan juga mereka sekarang berpikaran global, nggak kaya kita yang ujung-ujungnya dukun, cinta, seks, dll….
dan satu lagi…menurut gue sih, bahasa inggris itu jauh lebih keren dari bahasa kita…contohnya
Inggris : lets attack them boys, give them blood!
Indo : Ayo kita serang mereka anak-anak, berikan mereka darah!
bener ga sih??/
________________________________________
Post by: MakMak on July 11, 2008, 04:29:17 pm
________________________________________
nggak juga sih. kreatif tidaknya seseorang tidak ditentukan oleh ras. tapi kualitas seseorang. kalau penulis bagus, mau orang bule, mau orang indonesia, tetep aja penulis bagus.
kayaknya dulu ada sastrawan indonesia yang dapat nominasi nobel sastra. kalo ga salah namanya Pramudya Ananta Toer. (memang ga menang, tapi nominasi nobel lho)
Quote from: Elyasa on July 11, 2008, 04:09:18 pm
dan satu lagi…menurut gue sih, bahasa inggris itu jauh lebih keren dari bahasa kita
bahasa Indonesia adalah bahasa yang luar biasa menurutku. satu-satunya bahasa yang konfrensinya digelar setiap tahun, sehingga selalu terjadi penyempurnaan. hanya kita saja yang kurang mampu menggali potensi bahasa kita.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 11, 2008, 04:41:58 pm
________________________________________
Quote from: Elyasa on July 11, 2008, 04:09:18 pm
Ngebahas masalah penulis fantasi lokal yang nggak bisa berkembang….
Kalo menurut gue sih…karena orang bule itu jauh lebih kreatif dan open minded dibandingin kita…dan juga mereka sekarang berpikaran global, nggak kaya kita yang ujung-ujungnya dukun, cinta, seks, dll….

Gue setuju hanya bila yang elo maksud adalah budaya kita SEKARANG.
Budaya adiluhung kita di masa lalu itu BENER-BENER adiluhung beneran! Gak cuma stempel budaya tinggi aja.
Tahukah kita, bahwa corak kain batik aja memiliki makna yang dalem banget?
Persoalannya, kita sekarang udah terputus obor dengan leluhur, yang kita warisi adalah budaya serba tanggung yang diasah oleh perilaku bejat selama bertahun-tahun. So, ngga ada hal positif yang bisa tumbuh di atas sampah itu.
Open minded-nya budaya barat, itu baru terjadi di dekade belakangan ini aja, setelah mereka terpapar pada budaya-budaya Timur yang naskahnya di boyong ke museum negeri mereka,.. [hammer] [hammer] [hammer]

Quote
dan satu lagi…menurut gue sih, bahasa inggris itu jauh lebih keren dari bahasa kita…contohnya
Inggris : lets attack them boys, give them blood!
Indo : Ayo kita serang mereka anak-anak, berikan mereka darah!
bener ga sih??/

Gak, itu karena elo memang ‘live’ in english language (sebagai anak sastra, elo juga pasti paham bahwa ‘live’ di sini bermakna bahwa seluruh program pikiran kita menggunakan software yang ditulis dalam bahasa ‘anglic’. Tidak ada manusia di negri kita (terutama yg ‘terdidik’) yang lepas dari software tersebut.

Perhatikan bahwa contoh elo saja berakar dari dari sikap dan perilaku yang lazim di dalam budaya Amerika, dimana seseorang menyelesaikan masalah dengan ‘otot’ dan ‘darah’, dimana hal tersebut ngga begitu lazim di budaya kita (makanya kita ngga punya istilah yang kena untuk hal-hal tersebut).

Kalau mau yang sesuai budaya kita, nah contohnya seperti ini:
Indonesia: udalah, berapa banyak you sediain buat ngegosok bapak anu?
Inggris: C’mon, how much you have prepared to rub mr. anu? ;D ;D ;D ;D
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: hege on July 11, 2008, 07:19:21 pm
________________________________________
Whoa, hundred pages already, incredible.
yg novelnya baru trebit, selamat yak. yg suka review, hayo lebih keji lagi! yang lagi desperate dan yg berupaya nulis, sip.

Ah akhirnya diriku mampir dan say hi, being abit busy lately, having great times in the new place :)

anyway, salah satu tulisan yang menginspirasi hege buat nulis adalah ini:

A fiction writer is a person who invents stories. But how does one start out on a job like this? How does one become a full-time professional fiction writer? Charles Dickens found it easy. At the age of twenty-four, he simply sat down and wrote Pickwick Papers, which became an immediate best seller. But Dickens was a genius, and geniuses are different from the rest of us. In this century (it was not always so in the last one), just about every single writer who has finally become successful in the world of fiction has started out in some other job — a schoolteacher, perhaps, or a doctor or a journalist or a lawyer. (Alice in Wonderland was written by a mathematician, and The Wind in the Willows by a civil servant.) The first attempts at writing have there¬fore always had to be done in spare time, usually at night. The reason for this is obvious. When you are adult, it is necessary to earn a living. To earn a living, you must get a job. You must if possible get a job that guarantees you so much money a week. But however much you may want to take up fiction writing as a career, it would be pointless to go along to a publisher and say. “I want a job as a fiction writer.” If you did that, he would tell you to buzz off and write the book first. And even if you brought a finished book to him and he liked it well enough to publish it, he still wouldn’t give you a job. He would give you an advance of perhaps five hundred pounds, which he would get back again later by deducting it from your royalties. (A royalty, by the way, is the money that a writer gets from the publisher for each copy of his book that is sold. The average royalty a writer gets is ten percent of the price of the book itself in the bookshop. Thus, for a book selling at four pounds, the writer would get forty pence. For a paperback selling at fifty pence, he would get five pence.) It is very common for a hopeful fiction writer to spend two years of his spare time writing a book which no publisher will publish. For that he gets nothing at all except a sense of frustration. If he is fortunate enough to have a book accepted by a publisher, the odds are that as a first novel it will in the end sell only about three thousand copies. That will earn him maybe a thousand pounds. Most novels take at least one year to write, and one thousand pounds a year is not enough to live on these days. So you can see why a budding fiction writer invariably has to start out in another job first of all. If he doesn’t, he will almost certainly starve.

Here are some of the qualities you should possess or should try to acquire if you wish to become a fiction writer: 1. You should have a lively imagination. 2. You should be able to write well. By that I mean you should be able to make a scene come alive in the reader’s mind. Not everybody has this ability. It is a gift, and you either have it or you don’t. 3. You must have stamina. In other words, you must be able to stick to what you are doing and never give up, for hour after hour, day after day, week after week and month after month. 4. You must be a perfectionist. That means you must never be satisfied with what you have written until you have rewritten it again and again, making it as good as you possibly can. 5. You must have strong self-discipline. You are working alone. No one is employing you. No one is around to give you the sack if you don’t turn up for work, or to tick you off if you start slacking. 6. It helps a lot if you have a keen sense of humor. This is not essential when writing for grown-ups, but for children, it’s vital. 7. You must have a degree of humility. The writer who thinks that his work is marvelous is heading for trouble.

- Roald Dahl
(From his book “The Wonderful Story of Henry Sugar and Six More)

hege akan terus mampir dan baca-baca. sukses buat semuanya.

________________________________________
Post by: blue_amaranthine on July 11, 2008, 07:36:25 pm
________________________________________
Quote from: hege on July 11, 2008, 07:19:21 pm
In this century (it was not always so in the last one), just about every single writer who has finally become successful in the world of fiction has started out in some other job — a schoolteacher, perhaps, or a doctor or a journalist or a lawyer. (Alice in Wonderland was written by a mathematician, and The Wind in the Willows by a civil servant.) The first attempts at writing have there¬fore always had to be done in spare time, usually at night.

Thanks bwat hege, paragraf itu cukup inspiring. Wah, ternyata pilihan aq buat jadi Scientist di bidang Chemistry (FMIPA Kimia ITB, doain ya biar masuk) ga salah. My life is for writing. Ga harus jadi sastrawan buat nulis fantasi. everyone has they own dream and imagination. Pekerjaan kita emang ga harus sama ama fantasy fiction. Kegemaran itu udah ada pada diri kita n jadi apapun kita, hal itu takkan pernah berubah. Thank you again, Hege! Kedatanganmu membawa berkah
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 11, 2008, 11:44:08 pm
________________________________________
Quote from: blue_amaranthine on July 11, 2008, 07:36:25 pm
Thanks bwat hege, paragraf itu cukup inspiring. Wah, ternyata pilihan aq buat jadi Scientist di bidang Chemistry (FMIPA Kimia ITB, doain ya biar masuk) ga salah. My life is for writing. Ga harus jadi sastrawan buat nulis fantasi. everyone has they own dream and imagination. Pekerjaan kita emang ga harus sama ama fantasy fiction. Kegemaran itu udah ada pada diri kita n jadi apapun kita, hal itu takkan pernah berubah. Thank you again, Hege! Kedatanganmu membawa berkah

he…
ada adik sealmamater lagi di sini… heheh…
(sayang si kokonoka dah gak pernah muncul lagi)
tetaplah menulis yak, walau nanti dibantai tugas-tugas kuliah dan praktikum. wakakakak…

@hege,
itu tulisan yang sangat bagus. [thumbsup]
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 12, 2008, 10:00:37 am
________________________________________
Btw soal penulis lokal yang ga bisa berkembang, kita engga separah itu kok kualitasnya sebagai penulis, kl yang gw bilang itu tatanan masyarakatnya yang udah terbiasa mengkonsumsi produk luar dan mencap jelek produk lokal. Bule kreatif? Coba aja suru bule kreatif itu berjuang sbg penulis di Indo, setahun juga gulung tikar pulang kampung. Nominasi2 dan penghargaan cuma 1 kelompok kecil yang mengapresiasi dan kl gw mau kejam dikit, gw katakan sbg kelompok kecil yang ‘memaksakan diri’ untuk memperjuangkan novelis lokal yang ada. Sementara itu masyarakat awam di luar organisasi itu dan komunitas penulisnya sendiri, tidak ada yang ‘aware’ sama sekali udah sampai mana perkembangan novel lokal. Yang menang award aja judulnya ga dikenal, 10% populasi jakarta aja ga sampe yang aware tentang adanya award seperti itu. Dan dari segitu dikitnya yang aware dan tahu, ga sampe 50% nya yang mau beli, sekalipun tuh buku dipuji setinggi apapun juga.

Seorang penulis menulis dan ‘terpacu’ untuk menulis karena mengharapkan ada yang mau membaca karyanya kan? Jika masyarakatnya ogah2an dan emang dasarnya menolak membaca buku lokal, gmn caranya supaya bisa maksa mereka baca yah? Apa semua penulis harus menggunakan nama samaran sebagai orang asing? Kl ga ada yang mau baca kan mood jadi ilang dan kinerja serta kreatifitas kita secara keseluruhan akan menurun jauh dari kemampuan kita yang sebenarnya.

Kalau bergantung sama penerbit sini, liat aja hasilnya, nyari novel lokal segitu banyak judul yang udah direview Om Pur aja susah banget >.< Lokasinya diselipin di tempat yang tidak terlihat, tenggelam sama novel2 best seller luar yang bertebaran disekelilingnya. Asli, kalau lay out tokonya seperti itu, siapa yang mau ‘aware’ ada novel lokal disitu??
Diluar negeri jelas enak, animo masyarakatnya terhadap seni dan sastra sangat tinggi. Disini mah animo masyarakat cuma terpicu naik seputar kata duid dan murah. -__-. Atau semua negara berkembang seperti ini yah? saking miskinnya dah ga ada waktu mikirin hal lain selain duid? Brp banyak dan waktu yang dibutuhkan untuk merubah tatanan masyarakat yg udah terlanjur terbentuk dan mendarah daging begini ? ???

Quote
@Hege
4. You must be a perfectionist. That means you must never be satisfied with what you have written until you have rewritten it again and again, making it as good as you possibly can.

masalahnya perfeksionis dooesn’t know when to stop -__- Gw tiap baca ulang karya gw rasanya pengen diulang2 terus… so…I wonder if it’s a bad thing or a good thing. :P Ada yang bilang hal ini bagus, ada juga yg bilang ini bad habit yang harus dihilangkan ^^
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 12, 2008, 11:01:47 am
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 12, 2008, 10:00:37 am
masalahnya perfeksionis dooesn’t know when to stop -__- Gw tiap baca ulang karya gw rasanya pengen diulang2 terus… so…I wonder if it’s a bad thing or a good thing. :P Ada yang bilang hal ini bagus, ada juga yg bilang ini bad habit yang harus dihilangkan ^^

Perfect Perfectionist, knows when to stop! ;)
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 12, 2008, 11:13:59 am
________________________________________
emm… there’s no such a thing as perfect. Dalam novel atau apapun, kemampuan nulis kita berkembang tanpa henti setiap harinya dan ketika skill kita berkembang, ngeliat hasil karya kita yang lama lagi, pasti rasanya pengen diedit lagi. So, kita sendiri yang harus membatasi diri kita untuk berhenti mengedit dan berhenti berkembang? atau biarkan aja berkembang lagi di buku2 selanjutnya? Soalnya detik ketika lo merasa puas diri, artinya lo merasa perkembangan lo cukup sampai disini aja ^^ [rolleyes]
________________________________________
Post by: BloodSin on July 12, 2008, 03:42:23 pm
________________________________________
baru donlot TFH-nya villam :D
udah buka dan liat2 dikid… ternyata ada 400 halaman, panjang juga yak, tapi hurupnya gede2. jadi sebetulnya itu di word brp halaman sih?
gw baru baca ‘subprolog’-nya yg pertama kali (yg semacam wejangan 2 halaman itu, heheheh), dan kayaknya isinya gak beda jauh sama versi jaman dulu yg gw bacak. kalo dulu gw gak protes di bagian ‘khotbah/kesaksian’ itu, sekarang gw protes deh.. daripada menjabarkan filosopi panjang lebar ttg kehidupan dan kematian kayak begitu di awal cerita, gw pikir bakal lebih ‘kena’ ke pembaca kalo lu langsung kasi contoh kasusnya aja, bisa berupa satu contoh dongeng dunia yg relevan dengan topik itu (ala buku2 paulo coelho), bisa juga lu karang sendiri sebuah adegan perang yg digambarkan secara dramatis, sehingga muncul kesan mendalam bagi pembaca ttg hakikat dari filosopi kematian dan kehidupan itu.
maksudnya, gw lebih mengharapkan penyajian suatu bentuk ‘aplikasi’ cerita–sependek apapun, daripada ‘omongan teoritis’ panjang-lebar kayak begitu.
metafora, yak villam, carilah suatu bentuk cerita/adegan sederhana buat jadi metafora dari omongan filosopis 2 halaman itu.
(sebetulnya sih daripada prolog, mungkin part itu lebih tepat disebut pendahuluan/catatan penulis. nah prolog yg sebenernya baru masuk pas scene hajduk.)
oke deh untuk sementara, komen gw segini dulu. komen buat isi cerita nanti menyusul. ^-^
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 12, 2008, 08:05:14 pm
________________________________________
rey,
buku satu itu berisi 95 ribu kata.
iya emang panjang, apa boleh buat. hahaha…
thanks udah donlot yak.
thanks juga kalo bisa/mau baca sampe selesai, dan kasih kritik. gue emang sangat membutuhkan kritik, membantu gue mencari yang bolong-bolong.
kadar keteoritisan dan filosofis dapat dengan mudah dikurangi, apalagi kalo gue memang berniat menyasar segmen yang lebih luas. tapi gue jelasin nanti saja: alasan, kesulitan, keinginan, pilihan gue kenapa pake model prolog kayak begitu.
dan bisa saja nanti bentuknya gue ubah, sesuai saran ente.
btw, itu memang prolog kok (mungkin memang tipe yang tidak biasa, dan gue punya nafsu bikin yang aneh-aneh. hihi…), bukan catatan penulis. karena tokoh yang ngomong gitu nanti emang muncul dalam cerita, dan kejadian aneh dalam prolognya memang benar terjadi. dan itu adalah pemikiran filosofis sang tokoh, bukan semata-mata catatan gue selaku penulis.
thanks again, rey. [thumbsup]
________________________________________
Post by: fr3d on July 14, 2008, 10:18:08 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 12, 2008, 03:42:23 pm
baru donlot TFH-nya villam :D
oke deh untuk sementara, komen gw segini dulu. komen buat isi cerita nanti menyusul. ^-^

Villam, gw belum sempat baca TFH! :-[
Komen Sang Penandai yang gw janjikan ke forum (khususnya ke rey) juga belum bisa di-post karena belum selesai baca bukunya. Baru baca setengahnya aja.
Tapi, TFH pasti bakal dibaca setelah Sang Penandai kelar. [thumbsup]
Goran terpaksa harus menunggu lebih lama lagi…
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on July 14, 2008, 02:08:14 pm
________________________________________
@fred
Quote
Sang Penandai udah dibaca sekitar 5 bab-an. Komennya ntar gw kasih hari senin aja.
Berhubung ada yang berguru pada Tere Liye soal gaya bahasa (baca: rey), jadi gw sengaja nyatet banyak contoh kalimat cuplikan dari novelnya khusus buat orang itu.
Sejauh ini, komentar gw… ah tunggu hari senin aja lah!
Quote
Komen Sang Penandai yang gw janjikan ke forum (khususnya ke rey) juga belum bisa di-post karena belum selesai baca bukunya. Baru baca setengahnya aja.

guru gw banyak sebetulnya, fred. Ada juga Paulo Coelho (untuk gaya penceritaan biasa dan style dialog), Alexander Romanoff (untuk adegan2 komikal/humor), dan Dan Brown (untuk adegan2 suspense). kalo dari Tere Liye, gw cuman absorp jurus ‘Duhai’ dan ‘Lihatlah!’ punya dia aja kok ;D ;D

kalo permainan bunyi rima dan ‘sensasi’ di prolog (dan adegan2 ‘spesial’ lainnya di novel), itu gw ambil spiritnya dari cerpen-cerpen kompas minggu.
udah lewat seminggu dan elu baru nembus setengah buku? emang sambil rangkap baca novel laen jugak yak? kalo bacaan elu emang cuma sang penandai doank seminggu terakhir ini, kayaknya gw udah bisa mengira2 dah gimana komen lu :D
lu gak cocok sama gaya bahasanya. sama kayak temen gw yg maniak novel, eh pas gw pinjemin sang penandai malah gak tamat bacak. (dia bilang gaya bahasanya bikin ‘capek’ ;D ;D)
tapi pas gw pinjemin ledgard dia malah tamat baca dalam 3 hari -.-”
________________________________________
Post by: fr3d on July 14, 2008, 03:50:24 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 14, 2008, 02:08:14 pm
udah lewat seminggu dan elu baru nembus setengah buku? emang sambil rangkap baca novel laen jugak yak? kalo bacaan elu emang cuma sang penandai doank seminggu terakhir ini, kayaknya gw udah bisa mengira2 dah gimana komen lu :D

Selain baca Sang Penandai, juga lagi baca Harafisy-nya Naguib Mahfouz (terjemahan, keluaran Bentang) dan Wizard of Earthsea-nya Ursula K. LeGuin (e-book). Menyusul adalah TFH.
Tapi, gw kan juga nyambi ngerjain novel sendiri, jalan2, sama nonton DVD pula (rutin tiap minggu, minimal 1 film). ;D
Dan jangan lupa, kerja. :(
________________________________________
Post by: piethitam on July 15, 2008, 08:58:19 am
________________________________________
@fr3d
jadwalmu padat banget ya?pacaran ga termasuk?ato seperti kutu buku laen, gaya pacarannya ngebahas buku terbaru? ;D
iya nih udah saatnya ngebahas nopel fantasi laen. kayanya sang penandai masuk itungan gue tuh, soalnya gue pernah baca di kemudian.com cuplikannya alpha serphentwitch, terus terang gue mabok darat.terlalu ajaib dan jenius kali,ya?istilah-istilah hebatnya banyaaaak banget.mungkin ga perlu catatan kaki kaya supernova, glossary kaya sang pemimpi ato ensiklopedia kaya Harry Potter? (sorry nih bang ALpha, ga bermaksud…)
:)
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 10:46:03 am
________________________________________
Quote
iya nih udah saatnya ngebahas nopel fantasi laen. kayanya sang penandai masuk itungan gue tuh, soalnya gue pernah baca di kemudian.com cuplikannya alpha serphentwitch, terus terang gue mabok darat.terlalu ajaib dan jenius kali,ya?istilah-istilah hebatnya banyaaaak banget.mungkin ga perlu catatan kaki kaya supernova, glossary kaya sang pemimpi ato ensiklopedia kaya Harry Potter? (sorry nih bang ALpha, ga bermaksud…)

Hehe terlalu banyak istilah ya? Ntar coba aku review lagi deh, coba liat ada istilah yang bisa dikurangi apa engga. Gatel sih kl ga bikin istilah aneh2, gw rasa Felgirth/GM emang lebih utk pembaca hardcore tertentu yah -__-. Gw memang udah mulai bikin index istilah dari A-Z. Niatnya sih bikin ky indexnya Silmarillion. Selain itu gw juga berniat menjabarkan constructed language gw, asal katanya, dan artinya. Walau… menurut gw yang demen liat index beginian cuma yang bener2 maniak fantasy aja sih ^^.

@Villam
TFH nya udah wa download. Thanx, gw baca dulu ya ^^
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 01:03:12 pm
________________________________________
@Villam,
baru baca dikit, dan ini cuma kesan pertamanya aja, pendapat bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan hehe…
Kl format final bukunya memang seperti itu, beberapa baris yang spasi antar katanya jadi ketarik melebar karena allignnya justify, mending diperbaikin, aga mengganggu.
cara perbaikinnya ya tinggel potong kata selanjutnya dengan strip. misal kata di baris berikutnya ‘menghancurkan’, bisa dipotong jd menghancur-kan, atau meng-hancurkan sehingga bagian awal kata yang dipotong naik mengisi space berlebih di baris atasnya. Dengan begitu spacenya jadi lebih rapat, konstan dan enak dilihat.

Baru baca dikit, tapi nama Wyndassi mungkin bisa dipertimbangkan untuk dirubah? Aga kurang kena bunyinya. Lagian krn gaya bicaranya, gw j bayangin Wyndassi itu cewe.^^ Yang lainnya sih keren namanya, sekali baca langsung klop sama selera gw.
Trus constructed language kamu basis dasarnya dari bahasa apa yah? Susah ditebak, beberapa dari Inggris, beberapa terdengar sangat asing. Di bagian awal, mungkin supaya imbang William si mata rajawali sekalian dikasi nama versi conlang juga. Mungkin ‘qin ev Cundolerat’ huehue. (COndor melarat) XD. Kavalerat itu dari kata cavalier atau apa yah?
Yowez segini dulu ^^. baca lagi ah… jarang2 ada bacaan yang sesuai selera gw…
Btw, naming dalam TFH nya Villam kynya beberapa lebih ribet dari Felgirth gw deh…
________________________________________
Post by: fr3d on July 15, 2008, 01:14:36 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 01:03:12 pm
Btw, naming dalam TFH nya Villam kynya beberapa lebih ribet dari Felgirth gw deh…

Dilarang mencari pembenaran dari karya orang lain untuk karya sendiri! [hammer]
Karya sendiri adalah tanggung jawab diri sendiri!
(*sok-sok lurus… :P *)
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: rd_Villam on July 15, 2008, 01:31:39 pm
________________________________________
thanks udah mau baca, jeff. :)
soal format, itu emang kerjaan eksperimen untuk membuang-buang waktu. hehehe… emang masih banyak kekurangan.
itu gue emang rencananya suatu hari nanti mau ngeprint sendiri dan kopi beberapa eksemplar buat disebar kemana-mana. sukur2 kalo ada yang mau beli. heheheh…
kekurangan satu lagi, ada peta dunia di rumah yang karena gak ada scanning jadi belon bisa gue masukin. huh.
soal naming, itu juga bisa diubah. secara teknis gampang. secara mental yang repot. karena banyak nama di sana yang sudah tercetak sedemikian rupa di kepala sampe bertahun-tahun. kadang sulit dilepas begitu saja. i love the names too much. but too much love will kill you, yak? [biggrin]
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 02:07:32 pm
________________________________________
Quote
soal format, itu emang kerjaan eksperimen untuk membuang-buang waktu. hehehe… emang masih banyak kekurangan.

oh, kl masih eksperimen ya gpp.

Quote
soal naming, itu juga bisa diubah. secara teknis gampang. secara mental yang repot. karena banyak nama di sana yang sudah tercetak sedemikian rupa di kepala sampe bertahun-tahun. kadang sulit dilepas begitu saja. i love the names too much. but too much love will kill you, yak?

Hehe, iya. Kl gw bilang mungkin termasuk idealisme juga untuk mempertahankan beginian. Write to please the readers, and then write to please the smartest reader of all, yourself.
Btw, ini TFH kesannya masih jaman tribal gt ya? Sebelum masuk ke masa kerajaan?
Quote from: fr3d on July 15, 2008, 01:14:36 pm
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 01:03:12 pm
Btw, naming dalam TFH nya Villam kynya beberapa lebih ribet dari Felgirth gw deh…

Dilarang mencari pembenaran dari karya orang lain untuk karya sendiri! [hammer]
Karya sendiri adalah tanggung jawab diri sendiri!
(*sok-sok lurus… :P *)

Wah, tega… Kl gt diterbalikin dikit. Mencari kesalahan dari karya sendiri untuk menyalahkan orang lain. Wkwkwk malah makin parah ;D ;D ;D

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XXI (10 Jul 2008 – 11 Jul 2008)

  • Cerita fantasi layak untuk diterbitkan!
  • Tentang draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam
  • Tentang para penerbit fantasi lokal
  • Kejujuran dalam sebuah tulisan

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 09:02:10 am
________________________________________
Quote from: Elyasa on July 09, 2008, 08:36:15 pm
Jadi gini, awalnya sih, ENTHIREA itu buat semua kalangan…nah pas masuk kepenerbit, mereka bilang ini segmen buat remaja ya…dari sd sampe sma gitu…nah jadi nya mereka mulai meng-edit buku saya untuk segmen itu.

Kenapa sih penerbit lokal yang nerbitin fantasi masih aja pada dodol2 semua? [annoyed]
Apa mereka gak mikir kalau yang baca genre fantasi bukan anak2 & remaja doang?
Pembaca fantasi di indonesia kan meningkat pesat gara-gara ada fenomena harpot, lalu menyusul film LOTR.
Nah coba dipikir deh, harpot pertama kali terbit 10 tahun lalu, itu berarti fans-nya sekarang semua udah berusia plus 10 tahun dong (kalau dulu umurnya 14, sekarang 24, dstnya.).
Kenapa gak dibidik juga orang2 ini? Padahal mereka kan pasar yang bagus pula?
Dasar DODOL! [cluebat]
Buat para penerbit di indonesia: Semua orang berfantasi!
Jadi, cerita fantasi layak dan bisa dikonsumsi oleh semua kalangan! [tickedoff]
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 12:36:20 pm
________________________________________
ah bener tuh pendapat si fred, tentang penerbit-penerbit novel fantasi kita.
menyebalkan, sekaligus menyedihkan.
kenapa para editornya malah gak bisa bikin naskahnya jadi lebih baik, dan malah jadi lebih jelek sih?
ah capek juga tapi dari dulu gue bisanya cuma ngedumel. hehehe…
kita, para penulis dan pembaca fantasi, harus benar-benar bisa bikin suatu langkah besar sekarang, supaya suara kita didengar! (halah… hehe…)
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 12:36:20 pm
kita, para penulis dan pembaca fantasi, harus benar-benar bisa bikin suatu langkah besar sekarang, supaya suara kita didengar! (halah… hehe…)

Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]

tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…
gue udah pernah ngirim versi lamanya ke sepuluh penerbit, dan gak ada yang lolos! dan sekarang gue gak akan terburu-buru ngirim lagi. kalo emang bolongnya banyak ya mending gue perbaikin dulu. sambil gue menyelesaikan novel2 yang lain, yang mungkin lebih ‘marketable’ di mata penerbit.
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 01:45:24 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…

Villam, kalau gw yang ngebaca boleh gak? [rolleyes]
Tapi yang mau dikasih buat repiu itu versi apa ya? Soft copy atau hard copy?
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 01:52:01 pm
________________________________________
boleh, bos.
softcopy pdf.
emang enakan baca hardcopy pasti, tapi belon sempet ngeprint lagi soalnya.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 02:14:32 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 09:02:10 am
Kenapa sih penerbit lokal yang nerbitin fantasi masih aja pada dodol2 semua? [annoyed]
Apa mereka gak mikir kalau yang baca genre fantasi bukan anak2 & remaja doang?
Pembaca fantasi di indonesia kan meningkat pesat gara-gara ada fenomena harpot, lalu menyusul film LOTR.
Nah coba dipikir deh, harpot pertama kali terbit 10 tahun lalu, itu berarti fans-nya sekarang semua udah berusia plus 10 tahun dong (kalau dulu umurnya 14, sekarang 24, dstnya.).
Kenapa gak dibidik juga orang2 ini? Padahal mereka kan pasar yang bagus pula?
Dasar DODOL! [cluebat]

Well,… gimana ngomentarinnya, yach?
Penerbit ga bisa terlalu disalahkan.
Bagaimana pun juga, di pundak mereka ada resiko yang harus ditanggung. Modal itu kan ada yang punya, dan yang punya pasti minta uangnya kembali berikut profit. Sementara menerbitkan buku adalah usaha yang sangat beresiko. Udah biaya cetak dan sebagainya harus dibayar di depan, uang hasil penjualan baru masuk setelah beberapa bulan. itupun kalo laku. Kalopun laris manis, harus kebat-kebit digerus pembajak.
Dengan resiko demikian tinggi, wajar jika penerbit masih ragu-ragu dengan genre Fantasy, pilih play safe, antara lain menyasar segmen remaja.

Tapi di sisi lain, memang ada masalah, bahwa penerbit Fantasy kita belum begitu mengenal produk; sehingga ngga punya keyakinan atas keberhasilan pemasarannya. Sayang memang, bahwa belum ada penerbit yang ‘dedicated’ dengan genre Fantasy, berani berkonsentrasi dengan genre ini, sehingga menjadi mahir baik dalam visi produk maupun visi pemasaran. Yg gue liat sekarang, kebanyakan pemain Fantasy adalah juga main di genre lain, atau sekedar unit bisnis di bawah suatu kelompok penerbit. Apa pengaruhnya? Kekuatan dia untuk konsentrasi menjadi lemah, sebab juga ikut asyik mikirin genre-genre lain (apalagi yg lebih laku), juga support finansialnya menjadi terbatas karena pemodal juga ingin uangnya diputer di genre lain yang (dipikirnya) lebih gampang dijual.

So kalo gue bilang sih, sementara belum ada penerbit Fantasy yang bener-bener ‘kuat’, ya para penulis aja dulu yang bikin klik yang kuat sehingga kelak bisa membentuk suatu komunitas. Dalam bisnis, komunitas adalah suatu modal yang cukup diperhitungkan sebagai salah satu pendorong pemasaran. Kalau sudah ada komunitas semacam itu, penerbit pun akan merasa lebih aman, dan lebih punya kepastian untuk urusan hitung-hitungan bisnisnya.
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 02:20:14 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]

tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…

Gue gak dilupakan, dong,…. 8) 8) 8)
liat PM ya,… :)
FA Purawan
________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
________________________________________
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 03:28:13 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]

Yakin? Apakah benar mereka merupakan penerbit independen yang khusus Fantasy, atau bagian dari suatu group yang juga menerbitkan buku-buku genre lainnya?
(Gue sih gak yakin ada yg berani bener-bener hanya main di Fantasy,… hehehe). Dari outputnya aja udah keliatan, koq.

Intinya, sih, terutama dalam hal resources, atau modal. Sekarang pikirin aja skenario berikut. Ada satu usaha penerbitan yang punya Unit Fantasy dan Unit Chiklit, yang sedang sama-sama punya program menerbitkan 1 buku di bulan Agustus.
Masing-masing editor udah dapat masukan-masukan naskah, katakanlah masing-masing udah dapat satu naskah jagoannya. Terus dalam momen yang menentukan: Rapat Redaksi (atau sejenis), dibahaslah naskah2 itu, dan kemudian diputuskan naskah mana yang akan diterbitkan. Rapat dan debatlah tuh, berjam-jam.
Berhubung modal yang ada hanya ‘cukup’ untuk commit 1 buku, akhirnya,…. Naskah Fantasy dan Naskah Chiklit ga jadi diterbitkan, pemenangnya adalah naskah Blog Konyol tentang kisah ironi seorang guru SD eksentrik di pedalaman Papua: Buaya Makan Buku IPA, sebuah komedi realitas pendidikan Indonesia di Papua.
Why? Katanya itu yang lagi laku,…. heheheh,…

Bedanya dengan penerbit yang bener-bener khusus Fantasy, program penerbitannya tentu akan konsisten. Kalo rapat, tentunya yang dirapatkan dan diperbandingkan adalah sama-sama naskah fantasy, dan naskah yang ‘terbaik’ (berdasarkan pemahaman penerbit yang semakin baik) lah yang akan terpilih.
lihatlah betapa besar perbedaan akan terjadi dalam dunia penulisan Fantasy, bila kita punya penerbit yang demikian?
Salam,
FA Purawan
NB: Coppernicus, rupanya salah spelling, harusnya Copernican
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 04:00:14 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]

Bukannya katanya liliput udah bubar pula?
Tapi, emang bener seperti yang dibilang om pur.
Kalau memang ada penerbit yang khusus fantasi, kan jadinya dia sendiri bisa bikin divisi2 khususnya, misalnya ada yang khusus ngurusin naskah fantasi segmentasi anak2-remaja, lalu ada yang segmentasi dewasa dan semua umur, dll. Komplit dan spesifik deh manajemennya.
Aaargh, mimpi di siang bolong!
Eh… sore bolong! :D
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 05:14:47 pm
________________________________________
okay…
fred, mas pur dan rey,
besok kukirim…
liliput, coppernican dan rumah pinus, kayaknya udah gak pernah denger lagi terbitan barunya. mungkin dah pada tenggelam.
ada satu penerbit khusus fantasi. matahati.
dulu pernah nelpon, katanya nyari satu fantasi lokal, tapi sejauh ini yang impor-impor melulu yang keluar. payah dah… atau… ya mungkin emang mereka belon dapet naskah fantasi lokal yang bisa bersaing dengan kesemua impor itu.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 05:26:34 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 05:14:47 pm
liliput, coppernican dan rumah pinus, kayaknya udah gak pernah denger lagi terbitan barunya. mungkin dah pada tenggelam.

Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 05:43:23 pm
________________________________________
@om pur
liliput itu aseli penerbit fantasi kok. gw punya 3 novel liliput, tiga2nya fantasi, dan sewaktu liat ‘iklan’ buku2 fantasi lain terbitan dia di halaman2 belakangnya (untuk ketiga buku itu), dan juga official website-nya, emang buku fantasi semua. tapi emang masih payah sih, dia fokusnya ke fantasi anak & remaja doank.
holy shit, kenapa banyak penerbit yg memposisikan genre fantasi dengan target pasar utama anak2? cuma karena terhanyut euforia harpotkah? kuper banged sih penerbit2 yg nganggep fantasi itu cuma buat konsumsi bocah! [annoyed]
(eh kayaknya udah ada orang yg protes beginian duluan sebelom gw yak? :D )
kalo rumah pinus, gw liat di dua contoh novelnya, ada statement dia as ‘penerbit khusus buku2 fantasi yg ditulis penulis lokal muda (baca: bocah)’ emang dua penulis untuk dua bukunya itu gw liat anak2 smp sih, novelnya tipis2 pun
nah kalo copernican (TQ koreksinya :-[), itu bukannya ente sendiri yg nyebut di blog ente waktu ngerepiu nopel ataka?

tapi emang kayaknya, editor di penerbit2 itu, pada gak mumpuni semua di bidang fantasi. bukan cuma penguasaan bahasa dan keahlian menganalisisis logika aja yg harus dikuasain editor fantasi menurutku, tapi juga wawasan tentang berbagai mitologi dan literasi fantasi yg ada di dunia. itulah kayaknya yg terjadi pada editor2 fantasi di indo ini, sampe2 gak peduli lagi kalo ada penulis yg mendeskripsikan orc ketuker ama goblin.
(ah alasan karena tidak mau 'mengintervensi kreativitas pengarang' itu cuma bullshit, menurut gw emang dianya aja yg buta sama sekali ttg mitologi dunia [hammer])
syukur2 kalo dulunya dia ex-RPGer, biar lebih berwawasan lagi deh :P

@fred,
iya kayaknya liliput udah bubar, terakhir gw dapet info sih dia orang ganti manajemen, tp entah kenapa setelah itu gada buku2 terbitannya lagi.
coba itung aja produk fantasi lokal terbitan dia:
-catatan harian alien
-cincin oleodeo
-hozzo
-pinissi
-narend
(dan kayaknya masi ada lagi, tp gw lupa judulnya apa2 aja)
terbukti, liliput cukup konsisten nerbitin fantasi!
tapi rada keji juga cetakan pertamanya cuma 1000 eks(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
ah mungkin juga cetakan 1000 eks itu udah jadi konsekuensi dia karena komitmennya berani nerbitin naskah2 tebel & sekaligus menyertakan gambar2 ilustrasi di setiap bukunya.
yg gak adil itu, kalo ada buku tipis yg kena jatah rata 1000 eks juga, mau brp tuh royalti penulisnya kalo bukunya cuma dibandrol 30rban? cincin oledeo kayaknya tipis tuh :(

dan sekarang, kita ngintip ke fantasi-lit-nya gagasmedia :)
kita liat fantasi terbitan dia:
-nightfall
-transpondex
-cardan
-gemala dan rumah kayu oak
hore! udah nembus 4 bijik, angka yg sama sekali tidak menyedihkan buat penerbit gede yg punya banyak klasifikasi genre ini. :)

kalo c|publishing, setauk gw baru ledgard ama penunggang petir doank. sama kayak serambi yg baru dua bijik: sang penandai ama goran. eh btw gimana tuh nasib sang penandai di tangan lu? gaya bahasanya ajaib punya, entah bakal dimaki atau disanjung ama lu, mengingat sang penandai itu satu2nya fantasi lokal bergaya bahasa nyastra yg udah terbit.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 05:58:56 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 05:43:23 pm
@om pur
nah kalo copernican (TQ koreksinya :-[), itu bukannya ente sendiri yg nyebut di blog ente waktu ngerepiu nopel ataka?

Gue mengutip dari deskripsi mengenai penerbit di buku Ataka.
Yang gue gak tahu pasti, apakah Copernican murni penerbit yang semata hanya menerbitkan Fantasy, atau merupakan brand-name atau unit bisnis dari sebuah grup penerbit. Apa duit modalnya hanya dipakai untuk nerbitin fantasy, atau sharing juga dengan unit bisnis lainnya yang nerbitin Chiklit, misalnya.
Untuk tau hal-hal ini, ya elo mesti orang dalem di industri penerbitan.
________________________________________
Post by: blue_amaranthine on July 10, 2008, 06:23:15 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 10:44:38 am
Samy, bukunya yang lagi in publishing itu apaan? Fantasi juga? Di penerbit Diwan juga? ???

Lagi libur lulus SMA, asik nih bebas... ;D
(*yang kepengen banget libur!*)
Bukan fantasi banget sih, ceritanya princess and kingdom gitu. Tapi, penerbitnya masih mikir-mikir juga, soalnya endingnya rada garing, n kalo endingnya bagus baru maw diterbitin. Palingan yang next adalah Margana, genrenya Puzzle Misteri gitu, lebih mirip Da Vinci. Lagi coba ngegarap berbagai genre biar bisa ngerasain yang mana yang paling ngena n bisa terus di kembangin lagi (betul Gak?)
________________________________________
Post by: Elyasa on July 10, 2008, 08:38:31 pm
________________________________________
OYYY.....
Quote
Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
Gue jelasin nih...Copernican itu...anak penerbit dari jagad media, nah copernican itu bergerak di bidang fantasi aja....
Quote
Bukannya katanya liliput udah bubar pula?
Nah kalo ini gue nggak tau deh...tapi sih setau gue dia cuman ganti jurusan aje ama ganti pemiliki....
Quote
ada satu penerbit khusus fantasi. matahati
Nah kalo matahati jangan deh...mereka agak gimana gitu (pengalaman pribadi :p)
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 09:04:05 pm
________________________________________
Quote
Pretensius jugak, kali yee, tapi in a different sense than your’s. Baca gaya bahasanya, gue jadi inget novel-novel Abdullah Harahap taun 80-an, itu novel seribu perakan yang biasanya bertema misteri lokal. Idenya Abdullah harahap itu cukup dahsyat lo jaman taon segitu,… modelnya kera jadi-jadian etc, romance plus actions. Dan adegan bumbunya juga cukup hot,… hehehe.
Nah, Lanang ini sepertinya mengikuti pakem itu, dengan setting agak modern. Tapi bener deh, gaya bahasa jadulnya buat gue terasa banget. Dan nggak enak dibaca. Makanya, biarpun udah ada sebulanan gue beli, gue berhenti belum habis bab 1. (Lebih parah dari ledgard! Hahahaha)
FA Purawan

jangan2 tiap novel yg ‘sok nyastra’ bakal selalu kena label ‘pretensius’ ama ente nih [hammer]
gini aja deh. langganan kompas gak om? tiap minggu selalu ada cerpennya. dan terus terang aja selain dipengaruhi oleh gaya bahasa paulho coelho & dan brown, gaya bahasa ‘pretensius’ lemures sedikit banyak dipengaruhi juga ama cerpen2 kompas minggu itu. kalo ente kebetulan langganan, gimana penilaian ente untuk cerpen2 kompas minggu itu, secara overall? (emang sih tiap minggu penulisnya beda2, tapi kayaknya cerpen sastra di kompas minggu itu udah ada pakem2 spesifiknya deh)
kalo ente gak langganan kompas, anggap aja paragraf di atas batal kusebutkan :P

Quote
Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
FA Purawan

kalo gitu, sungguh-sungguh malang banged nasib enthirea! dianaktirikan :’(
masak tega mangkas jumlah halamannya sih? sementara novel ataka yg tebelnya bujubuneng dengan nekad dia berani terbitin dan dibandrol cepekceng. [hammer]
tapi mungkin juga, menurut dugaan gw, skinheald II gak laku di pasaran. lagian harganya konyol sih, kayak gak pake pertimbangan market aja. dan karena udah rugi gede di skinheald II, dia jadi paranoid nerbitin novel tebel lagi…. dan berujung dipangkaslah enthirea! ah ini hanya skenario liar yg berkelebatan di otakku saja, belum tentu bener :P

note:
sedikit masukan bos, buat review2 menyusul ente ke depan (atau bisa juga sekalian diupdate semuanya), gimana kalo mulai dilengkapin dengan data2 buku (include penerbit, tebel halaman, harga, ama nama editornya) & rating sebelum masuk ke uraian detilnya? biar review ente semakin lengkap, jelas, dan memuaskan!
emang sih seringkali pemberian rating cenderung ditentukan oleh selera pribadi yg subjektif banged, tapi setidaknya jutaan pembaca blog ente bakal bisa dapet pegangan kan. bisa pake sistem bintang lima, bisa juga pake label: sampah, kurang, lumayan, bagus, dan bagus sekali. soalnya jujur aja, seringkali gw sendiri juga masi ngerasa ‘burem’ setelah baca bbrp repiu ente, kayak penunggang petir dan goran contohnya. makanya dulu gw sempet nanya: jadi kesimpulannya nih buku bagus apa jelek?
yah, sekedar input aja. :)

@blue
gila produktif banged, baru nerbitin novel udah mau nerbitin lagi, keren [thumbsup]
itu yg princess di diwan jugak? hmmm… kalo boleh tauk, cetakan pertama diwan brp eks? ah pertanyaan terakhir ini gak usah dijawab juga gapapa :)

@villam,
oke deh kutunggu kirimanmu, TQ dah. :)
kalo matahati mah emang gak pernah nerbitin fantasi lokal, gak bisa masuk itungan tuh.
oh ya, nanti kan bakalan ada 3 org yg komenin TFH ente, sistemnya mau gimana? kayak grup kritik kemaren? jadi nanti kalo gw mau kirim komen, bakal gw kirim juga ke si om pur ama si fred, gitu?
________________________________________
Post by: eniyorda on July 10, 2008, 10:25:32 pm
________________________________________
:-\

mampir mau ngasih kabar (bagi yang masih ingat, hehe) serta hai untuk yang belum pernah ketemu. Ijin OT sejenak boleh yaaaa…
Lulus maret tadi, terus setelah bingung sana bingung sini mau ngapain, akhirnya saya terdampar –pulang kampung, tepatnya– di pulau kalimantan sebagai tenaga pengajar sementara di PT lokal. Berhubung kurangnya SDM, saya lgsg ditugasi ngajar bahan 1 semester selama 2 bulan saja (dah bulan april gitu lho tapi rupanya ada matakuliah yang belum mulai sama sekali ???). Sibuk, ya, tapi ada asyiknya juga. Aktivitas nulis sangat berkurang. Sedangkan mencari buku bacaan agak sulit. Harganya 10-20% lebih mahal lagi. Di toko Gramedia, ketersediaan yang memadai hanya buku-buku Gramedia Group. Kalau nyari buku penerbit lain, lebih banyak nggak adanya [thumbsdown]. Internet juga susah. Semua komunitas maya yang sering diikuti terputus total, alias nggak sempat bahkan untuk ditengok-tengok, (termasuk di sini) jadi ketinggalan berbagai kabar. Di thread ini aja udah 2 ribu lebih reply-an pula… wah
Yah gitu deh… silakan lanjutkan.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 11, 2008, 08:30:53 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 09:04:05 pm
jangan2 tiap novel yg ‘sok nyastra’ bakal selalu kena label ‘pretensius’ ama ente nih [hammer]

Gimana ya Rey, buat gue di dalam tulisan itu selalu ada ‘kejujuran’. Dan ketika seorang penulis terasa ‘ngga jujur’ (misalnya bikin sesuatu yang nyastra, tapi terasa banget jiwanya ngga kena), gue akan langsung mengatakannya sebagai pretensius. Sebab menurut gue, seharusnya tulisan tersebut dapat lebih bersinar kalau pengarang rela menggunakan ‘dirinya sendiri’ sebagai standar penulisannya.
Emang, gue subyektif,… hehehe,….

Quote
note:
sedikit masukan bos, buat review2 menyusul ente ke depan (atau bisa juga sekalian diupdate semuanya), gimana kalo mulai dilengkapin dengan data2 buku (include penerbit, tebel halaman, harga, ama nama editornya) & rating sebelum masuk ke uraian detilnya? biar review ente semakin lengkap, jelas, dan memuaskan!

Untuk data-data keras, gue usahain masuk deh. Biasanya gue lebih seneng masukin sebagai bagian dari artikel, makanya kadang info itu gak keluar karena gak gue anggep penting, hehehe.

Quote
emang sih seringkali pemberian rating cenderung ditentukan oleh selera pribadi yg subjektif banged, tapi setidaknya jutaan pembaca blog ente bakal bisa dapet pegangan kan. bisa pake sistem bintang lima, bisa juga pake label: sampah, kurang, lumayan, bagus, dan bagus sekali. soalnya jujur aja, seringkali gw sendiri juga masi ngerasa ‘burem’ setelah baca bbrp repiu ente, kayak penunggang petir dan goran contohnya.

Tapi untuk rating,… filosofi review gue adalah untuk pembelajaran. Gue kritik bagian yang gue pikir harus diimprove oleh pengarang. Rasanya style rating bukan tujuan gue, karena gue tetap berharap pembaca (terutama para pembelajar) juga mau membaca bukunya, alih-alih cuma membaca review gue. Proses belajar kan datengnya dari mengalami, dan mengevaluasi.
Kayaknya untuk rating, gue nggak akan terapin dulu, deh. ;)

Quote
makanya dulu gw sempet nanya: jadi kesimpulannya nih buku bagus apa jelek?

That, we have to leave to the real judges: The Readers!
(Lagian, biar kritik gue sepedes apapun, kalo pembaca udah suka sama bukunya, ya suka-suka pembaca, lah! Wong dia yang udah keluarin duit buat beli,… hehehe) :P
Salam,
FA Purawan

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XX (8 Jul 2008 – 9 Jul 2008)

  • How to make a positive review?
  • Tentang gambar peta dan ilustrasi

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 08, 2008, 01:13:37 pm
________________________________________
Rekans,
Review Enthirea udah kuposting di blog.

http://fikfanindo.blogspot.com

ahhh, sekarang ambil lagi Dream of Utopia, lanjutin baca.
(BTW, gue seneng sama gaya penulisannya si Blue di novel ini,… temen-temen jangan kaget ya, kayaknya bakalan dapat review positif, nich. So far, soal penceritaan udah ‘masuk’ ke ideal gue. Tinggal plottingnya aja nih, yg baru bisa gue komentarin setelah selesai ngebaca).
Kalo gue bilang sebagai kandidat juara menggantikan ledgard, koq kayaknya ngga mustahil, yach? :P
Sekarang, please somebody tell me, how to make a positive review?? ;D ;D ;D
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: MakMak on July 08, 2008, 02:39:11 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on July 08, 2008, 01:13:37 pm
Sekarang, please somebody tell me, how to make a positive review?? ;D ;D ;D

review positif = review jujur
kalau jelek bilang jelek, tanpa menjelek-jelekkan
kalau bagus, bilang bagus, tanpa melebih-lebihkan.
kalau ada kekurangan, berikanlah saran
kalau ada keunggulan, berikanlah pujian.
(kok kelihatannya sy jadi sok pinter gini ;D ;D ;D)

@Fr3d
klo ada waktu baca juga dong, karyaku di tret sebelah. aku pingin dengar komentar dr sang ular kadut ;D ;D.
(padahal baru jd 3 chapter, apa yang mau dikomentarin? [dunno] [dunno] [dunno])

mas pur kalo mau juga monggo meskipun genrenya supranatural, bukan fantasi. apa mas pur suka genre selain fantasy?.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 08, 2008, 06:00:11 pm
________________________________________
Quote from: MakMak on July 08, 2008, 02:39:11 pm
mas pur kalo mau juga monggo meskipun genrenya supranatural, bukan fantasi. apa mas pur suka genre selain fantasy?.

IMO Supranatural juga Fantasy, kan pengarang ‘menciptakan’ universe baru untuk settingan ceritanya?
Kalo boleh, sih Mak, aku prefer baca karya lengkap, supaya bisa dapet feelnya dari ujung ke ujung.
Kalo udah kelar, boleh dikirim ke aku jika berkenan. Tapi kalo ga berkenan juga gapapa. ntar aku baca kalau udah jadi buku,… hehehe,…
So far di bab-bab yang udah diposting, buatku sih ga masalah, kayaknya asyik.
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on July 09, 2008, 09:12:27 am
________________________________________
Habis baca review Enthirea-nya om pur…
Saran untuk mba dian, baca deh review itu, pasti akan merasa jauh lebih baik ;D, secara om biawak kembali menunjukkan taring dan cakarnya dengan sadis! (Btw, biawak ada taring gak sih? ???)
Buat Elyaz, sabar aja ya. Mudah2an review itu gak mengurungkan niatmu untuk membuat sekuelnya atau menulis fantasi lain lagi, ok! [thumbsup]
Semangaaat!
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: clickdian on July 09, 2008, 12:17:58 pm
________________________________________
Udah baca, dan masih biasa aja, hehe..
Bukan apa-apa, bisa jadi nasib Zauri di tangan Mas Pur justru lebih terpuruk hihihi ;D ;D
________________________________________
Post by: BloodSin on July 09, 2008, 02:36:43 pm
________________________________________
udah baca repiu terbaru-nya om pur(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)
seru, dan juga sadis sangat! akhirnya setelah sekian lama melempem, sang raja biawak berhasil membuktikan naluri pembunuhnya! maka pangeran ular kadut pun jatuh bersimpuh tak berdaya di hadapan sang biawak.. *apa coba*
(sialan juga sih, udah jelas2 bukan novel gw yg direpiu, tapi gw tetep deg2an bacanya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif))
seperti biasa, gw komenin di tret, boleh kan?

Quote
Enthirea adalah sebuah kisah Fantasy epik klasik dengan plot klasik: seorang nobody yang ternyata merupakan somebody yang bertugas untuk menyelamatkan everybody.

plot kayak begini udah jamak banged diterapin, sebut aja: cardan, janos, goran, harpot, the matrix, dan bahkan PG :P
kudu ati2 juga sih pake formula gini. kalo gak menyajikan hal yang baru, pasti bakal jatuh ke jurang keklisean yang membosankan pembaca.
ah lega juga deh. ternyata sterotip klise journey adventure lemures gw ada temen klise-nya. \(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)/

Quote
Kalau mau dirangkum, area kelemahan Enthirea ada di dalam hal-hal ini:
Setting yang kurang meyakinkan
Logika yang kacau
Dialog yang ‘corny’.

gimana dengan greget plot-nya, apakah dapet? terus ada jokes-nya gak? tebel bukunya brp halaman sih? ???

Quote
Coba liat petanya dulu,…

ah peta. emang, bagian ini yang paling musingin dan ribed sangat. selain harus konsisten ama deskripsi dalam novel, juga harus mikirin skala dan logika terrain yang berlaku dalam settingnya.
dua tahun lalu, waktu gw ngirim pertama kali lemures ke penerbit (dulu judulnya masi Lemuria :-[), gw kasi lampiran 3 peta, mantap dah. eh tapi pas dibandingkan dengan deskripsi dalam novel ama temen gw, dia dapet kesan kalo ternyata 'benua' lemures gw ukurannya cuma setengah pulau jawa! T____T
gw baru nyadar kalo disitu gw udah mengabaikan aspek skala! dan sekarang gw lg pusing juga nih ngegambar ulang peta lemures, belum lagi mikirin lokasi Sierra Kuno-nya yg pas :D
terus logika terrain: wilayah padang pasir gak mungkin bisa ketemu dengan pegunungan bersalju dalam satu benua. sebuah kota gak mungkin bisa berdiri di puncak gunung. dan sebuah pusat pemerintahan gak bakalan berdiri di tempat yg sulit diakses/terpencil.
gampangnya sih, petanya dibikin burem kayak di ledgard :P

Quote
"Gunsa kau hendak kemana?"
"Elyaz aku hendak ke tebing itu."
"Gunsa untuk apa kamu ke tebing itu?"
"Elyaz aku ingin mengamati matahari terbenam"
"Gunsa maukah kau kutemani"
"Boleh saja Elyaz"
"Ehm, Gunsa, betapa indahnya matahari terbenam"
"Betul Elyaz, ha ha ha"
"Gunsa apa yang kau ingat"
"Elyaz aku teringat kampung halamanku"

kalo baca dialog semacam ini, entah kenapa gw jadi kebayang orang maen bola ping-pong :D
tapi kayaknya masi ada satu lagi fantasi lokal yg kayak begini: pinissi. tapi gak separah dialog di atas sih.

Quote
Okeh (tarik napas panjang), selain tiga faktor yang perlu diimprove di atas, kupikir Enthirea adalah sebuah gagasan yang cukup workable untuk sebuah novel. Pengarang nyata-nyata sudah membangun plotnya dengan cukup bagus, antara jalan lurus, tikungan maupun persimpangan semuanya saling terkait dan saling menunjang. Karakter masing-masing tokoh juga cukup terbangun, walaupun belum sampai pada kedalaman yang 'pas' untuk pembaca dewasa; kalau untuk pembaca remaja, udah lumayan cukup, lah. Plot twist di ujung novel pun mampu menimbulkan efek kejut pada diri pembaca dan membuat penasaran akan buku sekuelnya. Padahal, love storynya cukup kacangan sebelum plot twist itu,... hehehe,...

dammit gw jadi kebayang lemures gw sendiri yg cuma selevel pembaca remaja juga.. :-[
sebegitu dangkalnyakah logika berpikir anak remaja? :(

Quote
Karena 'kependekan' sejarahnya, dan minimnya referensi, wajar bila masih banyak pengarang kita belum 'grip' banget apa yang disebut dengan kisah Fantasy itu seharusnya, dan masih rancu dengan segala aspek yang berbau 'khayal' semata. Padahal Fantasy pun tetap mengacu pada pakem-pakem dasar penulisan di dalam genre apapun, yaitu bangunan setting dan bangunan logika yang 'utuh' untuk mengantarkan cerita. Perbedaannya hanya pada model bangunan setting & logikanya saja, yang masih terbuka untuk didefinisikan kembali oleh pengarang, dalam batas-batas yang masih bisa diikuti (dan dipercayai) oleh pembaca.

nah, inilah yg gw maksud waktu tempo hari ngomentarin konsep kasta vampir-nya si makmak, kalo mau bikin setting baru, sebisa mungkin kudu menuruti pakem2 dasar yang udah ada. jangan mabok deskripsi goblin ama orc ketuker. (eh setauk gw nenek moyang orc itu masi elf juga deh. mungkinkah sebetulnya yg disebut dark elf itu merujuk ke orc? ???)
note: setelah baca repiu sadis enthirea, gw jadi semakin gak sabar nungguin repiu Cardan terbit di fikfanindo.blogspot.com (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)
________________________________________
Post by: BloodSin on July 09, 2008, 02:38:56 pm
________________________________________
@bang elyasa (the author),
jangan sakit ati baca review si om pur yak, dari dulu2 kita orang disini juga udah ngeganjar punishment buat kelakuan jahanam beliau dengan makian (atau malah pujian? ???) 'biawak'--semoga ente masih betah posting di sini dan diskusi bareng ama kita2. kita di sini terbiasa komen jujur, kalo jelek pasti bakal dimaki abis2an, kalo bagus pasti disanjung abis2an pulak. daripada munafik bilang bagus tapi pada kenyataannya novelnya gak laku di pasaran, kan jauh lebih sucks buat pengarangnya. (eh ane ngomong gini bukan berarti maksudnya enthirea bakal gak laku di pasar yak--gw baca aja belom. selera fantasi gw sendiri ama si om pur beda banged. bisa aja enthirea bagus di mataku nanti, kalo udah baca ^-^)
sekedar menghibur, gw nulis novel fantasi udah 3 thn lewat, tp gak terbit2. ente cuma setahun, udah langsung terbit. itu udah achievement yg luar biasa di mata gw sih.
ente seorang psikolog, lebih pinter dalam menghadapi masalah guncangan batin kek begini daripada ane lha.. :)
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: MakMak on July 09, 2008, 03:16:58 pm
________________________________________
@Bloodsin
lupa. Dulu panjenengan pernah tanya ini.
kenapa Origin bisa hidup dibawah sinar matahari? karena dari ke-4 jenis vampire itu, hanya origin yang masih berstatus mahluk hidup. berbeda dengan ketiga vampire lainnya yang pernah mengalami fase kematian. karena itu hanya origin yang bisa hidup di bawah sinar matahari, tubuhnya hangat, dan bisa berkembang biak.
dan sy tidak menganut asas vampire itu bisa berubah mjd kelelawar. vampire ya vampire. dalam dunia rekaanku, yang bisa berubah menjadi binatang hanyalah kaum transformator dan siluman.
transformator itu mahluk yang memiliki 2 wujud secara alami. contohnya manusia serigala, manusia harimau, dll
siluman itu mahluk yang bisa berubah wujud menggunakan sihir (tidak semua penyihir adalah siluman) contohnya siluman kera, siluman babi, siluman ular, dll
________________________________________
Post by: fr3d on July 09, 2008, 03:19:29 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 09, 2008, 02:36:43 pm
terus logika terrain: wilayah padang pasir gak mungkin bisa ketemu dengan pegunungan bersalju dalam satu benua. sebuah kota gak mungkin bisa berdiri di puncak gunung. dan sebuah pusat pemerintahan gak bakalan berdiri di tempat yg sulit diakses/terpencil.

Padang pasir dan pegunungan bersalju di satu benua: Gurun Gobi dan Pegunungan Himalaya tetanggaan tuh. Di Afrika juga ada Gurun Sahara dan Gunung Kilimanjaro.
Kota di puncak gunung dan pusat pemerintahan di tempat terpencil: Machu Picchu-nya Inca di Peru.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 09, 2008, 03:41:32 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 09, 2008, 02:36:43 pm
kudu ati2 juga sih pake formula gini. kalo gak menyajikan hal yang baru, pasti bakal jatuh ke jurang keklisean yang membosankan pembaca.

Percis! Yang penting olahannya, biarpun bumbu dan bahan masakannya sama.

Quote
gimana dengan greget plot-nya, apakah dapet? terus ada jokes-nya gak? tebel bukunya brp halaman sih? ???

Tebal buku sekitar 280-an halaman, greget plot kuanggap ngga terlalu dapet, buat gue sih biasa aja. Tapi plot twistnya cukup menohok, memang. Cukuplah memotivasi untuk baca lanjutannya.

Quote
dammit gw jadi kebayang lemures gw sendiri yg cuma selevel pembaca remaja juga.. :-[
sebegitu dangkalnyakah logika berpikir anak remaja? :(

Persoalan kedangkalan logika berpikir mah ngga relevan. Remaja pun punya kapasitas untuk mengolah ide-ide kompleks. Gue baca novel-novel pujangga jaman dulu kayak Salah Asuhan atau Layar Terkembang, itu kan usia SMP. Gue baca karyanya Yukio Mishima (lupa judulnya, yg penting ada adegan nude di gubuk [rolleyes]) itu juga SMP. Itu gaya bahasanya juga rumit dengan tempo lambat banget. Gue baca stensilan juga pas SMP,… ups! (kalo gitu guenya yang kecepetan mateng,.. huehe he)
Namun kalau kita mau menggolongkan novel kita, ya harus diperhatiin bagaimana kedalaman masalah yang kita infuse di dalam plot. Semakin ‘dalam’, semakin untuk konsumsi dewasa, kan? Kita bisa bicara kisah cinta untuk konsumsi semua umur, tapi hanya bisa memasukkan persoalan ranjang seputar kisah percintaan tersebut, dalam novel dewasa. Cerita detektif juga bisa dibuat untuk semua umur, tapi untuk remaja, mungkin motif-motifnya masih lebih sederhana dibanding dewasa. Coba, pantes gak bikin motif serial killer yang psikopat buat konsumsi remaja?
Yang sekarang juga lagi ngetrend, adalah memasukkan value-value filsafati dalam novel. Ini juga agak susah buat konsumsi remaja, tapi mulai disenangi oleh pembaca yg lebih dewasa.
Gichu kali ye.
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: Elyasa on July 09, 2008, 08:03:03 pm
________________________________________
HI Guys..and Girls…
Wah…makasih nih mas Pur…udah di bantai, namun obyektif kok…. [thumbsup]
Sebelumnya sorry nih, tapi masalah “anthurium itu salah banget mas
yang bener tuh si Bloodsin, yang bilang entire…hehehehehe….

Dan cuman mau ngejelasin, itu novel saya tadinya penuh sama deskripsi lokasi, situasi, dan karakter…tapi editor dari penerbit yang memangkasnya….kata dia novel indonesia gak perlu banyak2 deskripsi…(bingung gak tuh) hehehehe….. :P
dan untuk dialog yang ‘corny’ mungkin bukan itu kata yang tepat…tapi mungkin ‘lame’ (sory saya punya gelar Sarjana Sastra Inggris soalnya) ehehehehe
dan untuk peta itu semua yang gambar mas catur…bukan saya….
Nah untuk matematika pasukan, mungkin waktu itu kalkulator saya mati, hehehehe….
Tapi seneng juga sih, di puji masalah twist di akhir buku ENTHIREA…karena emang tujuannya buat orang penasaran dan tertarik beli buku ke 2 nya….

Well…anyway buat temen-temen yang belum baca….beli dan baca dulu, ya….hehehehe….
Saya bersyukur banget ada yang mau memberikan perhatian kepada karya saya, dan Alhamdullillah, Enthirea bisa terbit… [rolleyes]
PS: Thx ya mas Pur buat kritik yang membangunnya dan Thx juga nih udah di sambut di kalangan penulis fantasi dalam negeri….hehehehehe [thumbsup]
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 09, 2008, 08:21:01 pm
________________________________________
Quote from: Elyasa on July 09, 2008, 08:03:03 pm
Sebelumnya sorry nih, tapi masalah “anthurium itu salah banget mas
yang bener tuh si Bloodsin, yang bilang entire…hehehehehe….

He he he,…. emang cuma humor situasional, koq. Buat bukaan artikel biar menarik doang,… ;)
Terserah pengarangnya,.. :)

Quote
Dan cuman mau ngejelasin, itu novel saya tadinya penuh sama deskripsi lokasi, situasi, dan karakter…tapi editor dari penerbit yang memangkasnya….kata dia novel indonesia gak perlu banyak2 deskripsi…(bingung gak tuh) hehehehe….. :P

kalo gitu bilang aja gara-gara hasil pangkasan editor, novel elo kena semprot raja biawak! He he he (emang penting, gituh?).
BTW, pls sharing dong, target pembaca Enthirea awalnya siapa? Apakah ada pengaruh dari penerbit untuk membidik ke segmen remaja, sehingga (akhirnya) terjadilah pangkas memangkas itu? Soalnya menurut gue hasil pangkasannya gak bisa gue terima :P tapi kelo buat segmen SMP gitu memang masih masuk, sich.

Quote
dan untuk dialog yang ‘corny’ mungkin bukan itu kata yang tepat…tapi mungkin ‘lame’ (sory saya punya gelar Sarjana Sastra Inggris soalnya) ehehehehe

Terima kasih udah dikoreksi :P

Lha sampeyan ini benernya sarjana psikologi atau sarjana sastra inggris? Atau double degree nich? Wuah, hebat [thumbsup]

Quote
Nah untuk matematika pasukan, mungkin waktu itu kalkulator saya mati, hehehehe….

Tapi seneng juga sih, di puji masalah twist di akhir buku ENTHIREA…karena emang tujuannya buat orang penasaran dan tertarik beli buku ke 2 nya….
hayo, sambil tulis buku kedua, segala error itu dibenerin, yach!

Quote
Thx juga nih udah di sambut di kalangan penulis fantasi dalam negeri….hehehehehe [thumbsup]

Heh, itu sambutan serius, loh. Jajaran penulis fantasy harus terus diperkuat. Dan temen-temen yg udah punya buku (yg terbit) adalah garda depannya. Makanya, karya-karya berikutnya ditunggu. (banyak nih kalo di Fantasy, terbit satu buku trus ngilang!)
Semoga sukses,
FA Purawan
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: Elyasa on July 09, 2008, 08:36:15 pm
________________________________________
Quote
BTW, pls sharing dong, target pembaca Enthirea awalnya siapa?

MAu cerita dikit deh….
Jadi gini, awalnya sih, ENTHIREA itu buat semua kalangan…nah pas masuk kepenerbit, mereka bilang ini segmen buat remaja ya…dari sd sampe sma gitu…nah jadi nya mereka mulai meng-edit buku saya untuk segmen itu.
Tapi kalo masalah love stoty nya itu lain, saya memang sengaja nggak membuat terlalu ‘vulgar’ soalnya biar bisa masuk aja gitu ke semua kalangan… ;)
Quote
banyak nih kalo di Fantasy, terbit satu buku trus ngilang!
Emang sih, bener juga kalo novel fantasy indonesia itu sering cuman keluar bentar trus ngilang…nah makanya butuh dukungan dari semua pihak buat menggalakkan Fantasy Indonesia…baik itu dari penulis, pembaca, dan yang paling penting tuh PENERBIT!!! [ranting]
PS : Yup gue dual degree…hehehehehe… 8)
________________________________________
Post by: BloodSin on July 09, 2008, 09:49:42 pm
________________________________________
gw baru zoom-out peta enthirea dari repiu-nya om pur, kok begitu banged yak? ???
aneh dan gak jelas.. kayak gak alamiah gitu alamnya, pantesan aja settingnya dibilang ‘kurang meyakinkan’ :D
yg gw maksud gak alamiah itu, kayaknya setiap tempat berdiri sendiri, lebih keliatan kayak petak ular tangga daripada peta :D
alokasi tempat2nya saling gak sinkron, dan kayak dibikin dengan gak niat gitu :’(
sama buremnya ama peta ledgard buat gw sih -.-”
terus ilustrasinya. ehm, buat gw sih sama aja kayak ledgard (tp emang lebih rapi yg di ledgard sih). Tapi ilustratornya, kalo ngeliat dari gambar yg ada di blog, kayaknya emang udah punya style gambar. kalo diukur pake selera art gw sih sama sekali tak memenuhi kriteria. gambar karakter2nya terlalu standar dan gak eksotik, membosankan :P
apalagi buat gambar2 karakter ceweknya. kenapa harus selalu berkerudung dan nenteng tongkat? sama sekali tak menarik buat pembaca lelaki, dan ironisnya mayoritas pembaca fantasi adalah laki2 :’(
tak bisakah dibikin berbusana sedikit ‘terbuka’? sedikiiiit aja dah, gak harus sampe pamer aurat (tp secara genrenya ‘fantasi’ sih, sejujurnya gw mengharapkan ilustrasi karakter2 ceweknya sensual :-[) maksud gw ‘sensual’, itu bukan berarti seksi, pantat bahenol dada gede, atau pakem2 yg berkesan murahan lainnya, tapi yg berkelas lha. yg namanya wanita yak kudu punya kesan feminim dan sensual.
satu2nya ilustrator fantasi yg gambarnya keren sangat di mata gw (khususnya buat tipe ancient/medieval fantasi), itu ermambang bendung (ilustrator pinissi). tapi emang beliau lebih keren di ilustrasi item/mahkluk2 fantasi, daripada gambar orang.
________________________________________
Post by: BloodSin on July 09, 2008, 09:51:03 pm
________________________________________
@fred,
weks ada yak? wah ketauan dah gw kupernya, jadi malyuu :-[

tapi tetep aja yg kayak begitu jarang, walau emang masi memungkinkan (ngeyel.com). itu yg gurun gobi, lebih ke tipe gurun dataran tinggi kan daripada tipe gurun pasir dataran rendah yg kayak di mesir/arab? yg gw maksud ‘gurun pasir’ itu ya yg tipenya panas menyiksa kayak di setting aladin. kan janggal juga kalo tiba2 ada karakter yg abis menyeberang gurun terik gitu ketemu pegunungan bersalju. :P
btw saman itu plotnya kayak gimana? drama?

@makmak,
nah, bagus deh kalo udah ada backup jawabannya. tapi semoga aja jawaban2 itu nantinya tertera di tubuh novel, supaya pembaca gak bertanya2 lagi. kalo gak gitu, nantinya bakal kayak nasib zauri kalo novel ente jatuh ke tangan si fred, abis diobok2 karena banyak menyisakan pertanyaan yg tidak/belum terjawab di nopelnya. :P

@om pur,
eheheheh, kalo ane sih masih tetep berpegang ke aspek tema dan gaya dialog/gaya bahasa (‘kemasan’ lha, istilahnya) buat mengukur ke mana level pembaca suatu novel. cerita yg rumit (dengan kedalaman masalah tertentu) gak selalu bakal cocok dilabeli buat dewasa, dan cerita yg simple juga gak selalu pasti dilabeli buat remaja/anak kecil.
naruto, sekali lagi buat contoh, kerangka plotnya bener2 bercabang dan semrawut udah kayak bulu ketek, tapi karena dikemas dengan tokoh utama ‘bocah ninja’, jadilah target market utamanya bocah.
AAC, kalo diliat dari cerita dan kedalaman masalahnya, cenderung simple dan picis buat gw sih, tapi kok kayaknya gw ngerasa lebih cocok buat konsumsi dewasa yak? mungkin karena temanya, dan ‘kemasan’nya itu. :)

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XIX (3 Jul 2008 – 8 Jul 2008)

  • Tentang kontrak penulis-penerbit
  • Tentang Zauri karya clickdian
  • Tentang Pesta Buku 5 Juli 2008
  • Tentang Enthirea
  • Review Zauri karya clickdian oleh fr3d

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: blue_amaranthine on July 03, 2008, 07:38:09 pm
________________________________________
Hei, udah ada sinopsis Dream of Utopia lho di forum BuBar. Mumpung aqyu lagi di sini, siapa yang mau komen? kritik juga boleh! Tapi yang membangun ya, nanti ga ada novel kedua deh kalo kepedesan. Hehehe baru terbit jadi narsis neeh>… :D :D :D [thumbsup]
________________________________________
Post by: fr3d on July 04, 2008, 09:02:54 am
________________________________________
Quote from: blue_amaranthine on July 03, 2008, 07:38:09 pm
Hei, udah ada sinopsis Dream of Utopia lho di forum BuBar. Mumpung aqyu lagi di sini, siapa yang mau komen? kritik juga boleh! Tapi yang membangun ya, nanti ga ada novel kedua deh kalo kepedesan. Hehehe baru terbit jadi narsis neeh>… :D :D :D [thumbsup]

Si sammy akhirnya maen juga ke sini. :)
Btw, gw nanya dong, emang kalau di negeri kita tercinta ini (:P), kontrak penulis-penerbit itu per buku ya?
Maksudnya, meskipun bukunya rencananya bakalan jadi serial, tapi yang dikontrak satu-satu, jadi gak dikontrak penulisnya harus nyelesain serinya atau ada jumlah minimal bukunya (3 atau 5?) khusus di penerbit itu aja.
Kalau begini, berarti bisa aja dong buku 1 serial A diterbitin oleh penerbit X, terus buku 2-nya oleh penerbit Y?
________________________________________
Post by: MakMak on July 04, 2008, 09:17:49 am
________________________________________
kayaknya seri candi murca (LKH) juga diterbitakan ma beberapa penerbit. jadi seri 1 oleh penerbit x, seri 2 oleh penerbit Y, dst. tapi aku juga ga yakin sih, nanti klo aku ketemu temenku yg nge-fans ma LKH, ta tanyain.
@blue amaranthine
btw, kok dreams of Utopia ga ada di gramed pasar festival? ta tanyain ke yang jaga, jawabnya mau dicarikan dulu di gudang. sudah habis kali. (larisss manisss) ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: fr3d on July 04, 2008, 09:29:02 am
________________________________________
Iya? Gw taunya cuma serial supernova-nya Dee. Tapi itu kan dia emang nerbitin sendiri (rekanan gitu, ;D), jadinya gak aneh kalau dia seenaknya aja ganti2 penerbit.
Soalnya kalau di luar sono, penulis biasanya dikontrak penerbit untuk nyelesain serialnya, makanya ada istilah “dikejar-kejar editor”.
Apa ini sebabnya novel fantasi lokal yang katanya berseri hampir semuanya gak terbit kelanjutannya?
Karena gak terlalu laku, terus putus kontrak, dan gagal mencari penerbit lain untuk menerbitkan kelanjutan karya yang kurang laku itu?
Hmm…
Jadi, enakan dikontrak sepaket atau satu2 ya?
________________________________________
Post by: clickdian on July 04, 2008, 10:37:34 am
________________________________________
*Ehm*
Berhubung banyak yang nanya–berarti ini masalah serius sama distribusi–aq mau nanya nih.
Kalo kucariin Zauri langsung ke penerbit, terus kukirim ke yg rekues, ada yang mau gak ganti harga buku plus ongkos kirimnya? Bisa dapet tanda tangan, dan mungkin akan kukasih juga bonus laen (lagi mikirin apa yang bagus). ;D ;D ;D
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: fr3d on July 04, 2008, 11:07:26 am
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 04, 2008, 10:47:08 am
bonus ‘kiss mark’ dari mba Dian wekekek XD
masa bonusnya minta diskon…

Ngomong2 soal bonus, gw jadi kepikiran…
Bonus selipan buku kan udah hampir dipake semua novel sekarang, jadi udah terlalu standar.
Di Eldest-nya si Paolini, ada bonus foto penulisnya seukuran postcard –> ini mah gak penting banget [hammer]
Nah, kalau si ataka, dia ngasih bonus cd film animasi yang diambil dari cerita novelnya.
Jadi menurut kalian, bonus apa yang paling oke atau pas buat sebuah novel fantasi?
Terlepas dari mungkin atau tidaknya diwujudkan oleh penerbit, gw jawab #1: figurin si tokoh utama. [thumbsup]
________________________________________
Post by: clickdian on July 04, 2008, 11:15:16 am
________________________________________
Quote from: fr3d on July 04, 2008, 11:07:26 am
Ngomong2 soal bonus, gw jadi kepikiran…
Bonus selipan buku kan udah hampir dipake semua novel sekarang, jadi udah terlalu standar.
Di Eldest-nya si Paolini, ada bonus foto penulisnya seukuran postcard –> ini mah gak penting banget [hammer]
Nah, kalau si ataka, dia ngasih bonus cd film animasi yang diambil dari cerita novelnya.
Jadi menurut kalian, bonus apa yang paling oke atau pas buat sebuah novel fantasi?

Terlepas dari mungkin atau tidaknya diwujudkan oleh penerbit, gw jawab #1: figurin si tokoh utama. [thumbsup]

Kalo selipan bukunya unik dan gak sama dengan yg laen, boleh gak?
figurin bagus tuh (walo terbentur budget). ato gantungan hp/ kunci senjata si tokohnya aja dah.
________________________________________
Post by: fr3d on July 04, 2008, 11:25:59 am
________________________________________
Quote from: clickdian on July 04, 2008, 11:15:16 am
Kalo selipan bukunya unik dan gak sama dengan yg laen, boleh gak?

figurin bagus tuh (walo terbentur budget). ato gantungan hp/ kunci senjata si tokohnya aja dah.

Selipan buku unik, uniknya dalam arti apa?
Gantungan kunci senjata si tokoh juga keren tuh! Atau mungkin logo sesuatu, misalnya kelompok/organisasi si tokoh, atau logo novelnya sendiri. Ini kayaknya mungkin deh, bukannya gantungan kunci gak terlalu mahal ya?
Tapi, tetep aja bikinnya harus sekaligus banyak biar harganya turun banget.
Jawaban gw #2: peta dunia rekaannya. Bener2 berbentuk peta, gak cuma ngambil 1 halaman belakang/depan. Mungkin kayak di novel abarat, tapi kalau bisa yang kayak peta indonesia itu (ada gradien tinggi rendah, skala, dll). Tapi, kalau ini pasti kebentur harus bayar ilustrator/cartographer, kecuali si penulisnya mampu bikin sendiri, hehehe… :D
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 04, 2008, 12:06:17 pm
________________________________________
kl mau unik, bikin bungkusan buku/cover kedua berbentuk kotak bolong yang ngepas buat ‘slide in’ bukunya. (emm.. pada ngerti ga yah ^^)terbuat dari karton/kertas yang cukup tebal, dengan desain yang unik dan imagenya berhubungan/sama seperti di cover bukunya. Selain bagus, bisa buat jaga agar bukunya ga gampang rusek kl disimpen, berfungsi sebagai second cover. [thumbsup]

________________________________________
Post by: blue_amaranthine on July 04, 2008, 05:30:17 pm
________________________________________
Akhirnya ;D…. www.dream-of-utopia.com beres juga. Promosi terus!!!!!!!! Udah bisa di visit lho, tapi belom ada apa-apa hehehe ;D… nanti deh kalo udah komplite 100% di post lagi…. SEMANGAT PROMOSI! (Besok mesti Prom Night n gw bakalan promosi sambil pake baju penyihir, mumpung tema Promnya Fairy Nite gitu. Yellow Robe yang nantung n kependekan…. Ga pede nih pake bajunya :-[, tapi demi promosi apa pun aku lakukan!!!!! [thumbsup]
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 05, 2008, 06:30:13 pm
________________________________________
(Pada kemana, neh?) :(
Baru habis dari Pesta Buku, yang ternyata ruarrr biasa ramainya, di tempat yang spacenya tergolong kecil (istora). Akibatnya gue malah gak betah dan cepet-cepet pergi dari situ.
Lumayan dapat barang-barang ini:
1. Cardan
2. Transpondex
3. Zauri [thumbsup] [thumbsup]
Gue liat Zauri dipajang, koq, ada sekitar 7 copy. Tapi gue agak heran dengan persoalan distribusi yang dialami Dian. Mengingat Zauri merupakan pemenang sayembara, kupikir gak sulit lho menjualnya. Cukup bikin banner/ sign dan bikin event promosi di sini-situ,… kayaknya koq masih bisa jalan, tuh? (tapi anyway, ini komen sementara, soalnya gue belum baca bukunya, pan :D )
Makin banyak aja yg mesti gue baca neh,… hehehe,…

Oh iya, mengenai review, sekarang yg sedang antre adalah:
1. Enthirea
2. Dream of Utopia (Sorry Blue, gue geser dulu soalnya punya ente lebih tebel,.. hehehe. Tapi tenang aja, pasti kugarap.
3. Zauri (obviously!)
4. Cardan
Sebenernya masih ada lagi yg belum sempat kubaca yaitu:
1. Planet Smarta
2. Zona Masa Depan
Hmmm,… kurasa, genre Fantasy memang sedang menggeliat!
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on July 05, 2008, 08:39:34 pm
________________________________________
@blue
wah kalo bayar gitu, bikin website-nya jangan yang standar2 aja biar gak rugi, pake forum diskusi ama fasilitas donlot gratis juga donk biar seru [biggrin]

@om pur
selamat bos dapet tangkepan gede nih, tak sabar kumenanti repiu2-nya [thumbsup]
Quote
1. Enthirea
2. Dream of Utopia (Sorry Blue, gue geser dulu soalnya punya ente lebih tebel,.. hehehe. Tapi tenang aja, pasti kugarap.
3. Zauri (obviously!)
4. Cardan
berani taroan, list yg no empat ini ente bakal luamaaaaa banged beresinnya, setidaknya itu sudah teruji bagi 3 orang di tret ini [biggrin]

@clickdian
noh stoknya ada 7 eks gitu sis, berarti udah cetak ulang donk? [biggrin]
sebetulnya kalo ditilik dari ilmu marketing, menurut ane zauri adalah novel fantasi yang paling berpotensi buat jadi bestseller (atau setidaknya cetak ulang): kovernya keren, gaya bahasanya adaptable buat semua lapisan pembaca, udah punya NAMA dengan menang sayembara, dan harganya pun cenderung reasonable buat ukuran novel fantasi indo. saranku sih sis, mending ente bikin promosite-nya aja sekalian, pajang gambar2 karakternya yg dulu ente kasi liat ane di bonray (walaupun rada2 cupu yg penting karya sendiri(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)), pajang repiu2 positif dari pembaca, kayak di promosite hozzo [biggrin]
________________________________________
Post by: Elyasa on July 05, 2008, 10:01:11 pm
________________________________________
Halo….guys…
Gue mau promosi nih…buku gue udah terbit…seperti yang dibilang sama cheppy…heheehhehe
Judulnya : Enthirea : Pertempuran Dua Dunia.
Penerbit : Jagad Media
Author : Aulya Elyasa
Beredar di Gramed, Gunung Agung, dan Toga Mas….
So silahkan beli…nikmati, kritik, dan nikmati lagi….mohon masukannya ya setelah kalian beli dan bacca…thx…:P
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 06, 2008, 12:52:54 pm
________________________________________
lha, om pur dateng ke pesta buku juga hari sabtu?
gua ma dian n fred juga dateng, dan sempet ngobrol lama lho…
yee… kagak bilang-bilang sih…
si fred tuh dapet tandatangannya dia. wkwkwkwk…
dan rey, zauri tuh bukan dicetak ulang kayaknya, tapi emang masih ada stoknya di grasindo, tapi kagak didistribusikan dengan baik. emang, kalo menurut gue, pemasaran buku gak bisa mengandalkan dari penerbit dan toko buku doang, tapi juga harus ada jalur lainnya. misal: toko buku online, atau para penggemar bisa mendapatkan/beli langsung dari penulis.
________________________________________
Post by: clickdian on July 07, 2008, 09:11:36 am
________________________________________
Quote from: cheppy70 on July 05, 2008, 06:30:13 pm
Baru habis dari Pesta Buku, yang ternyata ruarrr biasa ramainya, di tempat yang spacenya tergolong kecil (istora). Akibatnya gue malah gak betah dan cepet-cepet pergi dari situ.

Yah, mas Pur. knape gak bilang2? ??? kan bisa sekalian reunian di sana *hayyah*

Quote from: cheppy70 on July 05, 2008, 06:30:13 pm
Lumayan dapat barang-barang ini:
3. Zauri [thumbsup] [thumbsup]
Gue liat Zauri dipajang, koq, ada sekitar 7 copy. Tapi gue agak heran dengan persoalan distribusi yang dialami Dian. Mengingat Zauri merupakan pemenang sayembara, kupikir gak sulit lho menjualnya. Cukup bikin banner/ sign dan bikin event promosi di sini-situ,… kayaknya koq masih bisa jalan, tuh? (tapi anyway, ini komen sementara, soalnya gue belum baca bukunya, pan :D )

*glek* :-\
Zauri udah di tangan mas Pur nih! Aq kabur dulu dehhhh!
Heuheuehueu [biggrin]
Tolong dibantai yah! Buat persiapan novel2 berikutnya [thumbsup]
Nuhun pisan!

Quote from: BloodSin on July 05, 2008, 08:39:34 pm
@clickdian
noh stoknya ada 7 eks gitu sis, berarti udah cetak ulang donk? [biggrin]
sebetulnya kalo ditilik dari ilmu marketing, menurut ane zauri adalah novel fantasi yang paling berpotensi buat jadi bestseller (atau setidaknya cetak ulang): kovernya keren, gaya bahasanya adaptable buat semua lapisan pembaca, udah punya NAMA dengan menang sayembara, dan harganya pun cenderung reasonable buat ukuran novel fantasi indo. saranku sih sis, mending ente bikin promosite-nya aja sekalian, pajang gambar2 karakternya yg dulu ente kasi liat ane di bonray (walaupun rada2 cupu yg penting karya sendiri(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)), pajang repiu2 positif dari pembaca, kayak di promosite hozzo [biggrin]

Rey, psssttt!! jangan disebut-sebut gambar buluk ituuh! itu mah jeprut banget, maluuu [shy]
*EHEM!*
Kayaknya aq mau buat gambar2 baru, kali ini serius.
Dan soal promosite, lagi ngumpulin info2 dulu. —> gak mau ngaku kalo gaptek, hehehe ;D ;D ;D

#Elyasa,
Nice to see you here! :)

#Blue
Umm.. novelnya gak ada di pesta buku yah? dicari2 gak ketemu… :(
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on July 07, 2008, 09:13:52 am
________________________________________
Laporan dari pesta buku jakarta 2008:
Akhirnya… akhirnya… kesampean juga mampir ke sana tahun ini. [biggrin]
Seperti yang dibilang villam & mba dian, kita ketemuan hari sabtu bertiga, dan sempet ngobrol lama.
(Om pur ada di mana? Dateng jam berapa pula? ???)
Setelah keliling ke semua stand, gw membawa pulang 3 buku fantasi lokal:
1. Zauri (+ signature)
2. Sang Penandai
3. Goran
Dan 2 buku fantasi terjemahan:
1. Pria Cilik Merdeka – Terry Prachett
2. Tunnels (lupa pengarangnya siapa, ada 2 orang)
Tunnels ini novel fantasi terjemahan baru keluaran mizan. Kalau di-endorsement-nya sih disebut bakal gantiin harpot karena ditemukan oleh editornya harpot, tapi apa korelasinya coba antara dua hal itu? (*gubraks!*)

Emang ngeliat pula Cardan dan Alexa, tapi gak beli. Enthirea dan Dream of Utopia gak ada di stand toko buku pun.
Mau cari Neverwhere-nya Neil Gaiman juga gak nemu.
Di pesta buku kemarin itu yang paling memuaskan adalah stand-nya serambi (villam, mba dian, om pur sempat mampir?). Serambi ngasih diskon gila2an dan ngejual banyak buku yang harganya diketok sama: 5ribu, 10ribu, dan 20ribu. Padahal buku2nya itu ada yang aslinya 60ribu-an! Buku2nya Dan Brown juga diskon 50% (untuk semua versi). Tahun ini, top banget deh serambi! [thumbsup]
Oya, kbbi juga ternyata ada di stand-nya balai pustaka. Tapi diskonnya cuma 20%, jadi harganya masih 190ribu-an. Gak jadi beli deh… T_T
(Villam dan mba dian akhirnya nemu gak? Maap, gak bales sms terakhir karena batere hp-nya abis… :-[)

Sempet juga dapet tanda tangannya Ayu Utami yang lagi ngadain book signing novel terbarunya, Bilangan Fu.
Udah gak sabar, kepengen baca. Tapi, untuk menghormati tret FFDN, gw menyingkirkan dulu buku itu dan mengambil Zauri, ^-^.
Alhasil, Zauri udah selesai dibaca. Yup, selesai dalam tempo kurang lebih 4 jam.
Komen-nya segera ya, mba dian!
Sekian laporannya!
Pokoke, puas bener deh!
;D
________________________________________
Post by: fr3d on July 07, 2008, 04:06:58 pm
________________________________________
Mba dian, komen nih ya buat Zauri! Mudah2an berkenan.
(buat yang belum baca dan tertarik baca Zauri, SPOILER ALERT!)

Pertama-tama: Bohong. Bohong kalau kubilang aku suka dengan ceritanya Zauri.
Karena kenyataannya, aku memang gak suka, meski gak sampe benci. :D
Apa karena masalah selera? Hmm… mungkin… ???
Tapi, berhubung penilaiannya harus obyektif, jadi rasa gak suka itu harus dibuang jauh2 dulu.
Kedua, menjawab pertanyaan mba dian: Ya, Zauri termasuk RPN, bahkan keliatan sangat jelas sekali (dari pace, team building, dan aspek2 yang kusebut di bawah ini).

Seperti biasa, karena gak sanggup bikin review macam om biawak ([biggrin]), jadi komen2nya model singkat straight to the point aja ya:

1. Ada beberapa hal yang jadi pertanyaan. Sebutan tepatnya apaan ya? Mungkin logika cerita kali ya?
Contoh: dahl yang jaga gua ke ruang penyucian. Gua itu kan seharusnya sering dilewati karpathian, berarti sebagian pasti pernah ketemu sama dahl itu. Memang dahl-nya cuma ada 1 ekor (yg dibunuh Dios)? Kalau iya, berarti orang2 lain bisa lolos ke ruang penyucian tanpa perlu membunuh dahl itu? Tapi, kalau ada banyak, kenapa gak ada mayatnya atau rombongan Dios gak ketemu?
Nah, di Zauri ada beberapa kejanggalan model begitu. Yang kayak gini biasanya di game rpg memang gak terlalu dipermasalahin (kata rey, “Ciri RPN!”), tapi buatku, beginian udah dihitung plot hole.
Contoh lain: Mio si peri kan punya tangan. Kenapa dia gak nulis di pasir atau tanah sebagai cara komunikasinya ke Kayla? Kalaupun pemahaman bahasanya beda antara manusia dan peri, bisa aja si Mio ngegambar, misalnya mahkota untuk merujuk Kayla sebagai seorang putri?

2. Ciri khas RPN lain: hal-hal yang sebenarnya rumit, banyak yang kemudian disederhanakan.
Misalnya, pas raja negeri Elgamb mati, koq aftermath-nya begitu aja? Si Zen sebagai pangeran malah bisa-bisanya pergi nyari tunangannya, gak mikirin rakyatnya atau minimal keamanan negerinya-lah. Memang sih ada kakaknya, tapi Zen sendiri kan juga pangeran yang bapaknya baru mati! Bukannya merasa bersalah pula telah ninggalin istana buat nyari cewek pas istananya diserang, malah fine-fine aja! (*geram!*) [hammer]

3. Dari segi plot, hampir gak ada hal baru di dalam Zauri, bahkan plot2 utamanya juga. Mayoritas udah pernah ada di cerita lain. Contohnya: tentang kakak yang hilang dan ternyata jadi jahat, tentang putri yang dikutuk dan hilang ingatan, tentang cinta segitiga Dios-Regia/Kayla-Zen dan keputusan akhir mereka, tentang sang Amigdalus yang justru dimanfaatkan orang lain, dll.
Intinya, mungkin bisa disebut kalau plotnya Zauri kurang greget. [rolleyes]

4. Zauri sebenernya ceritanya sederhana dan pendek. Tapi, citra RPN lagi, ceritanya dipanjang-panjangin dengan ketemu monster A, B, C, atau ketemu barrier X, Y, Z.
Akhirnya jadi boros. Banyak makhluk atau komponen setting dunia fantasi lain yang muncul hanya di 1 adegan aja, terus gak ada gunanya lagi. [hammer]

5. Masalah teknis tentang penggunaan tanda baca udah dibantah oleh penulis (hehehe… ;D).
Kalaupun ada yang lain adalah penggunaan kata “yang” yang merujuk ke seseorang atau sebagai pengganti subyek, khususnya di bagian2 awal novel.
Misalnya (ini contoh kalimat asal, bukan diambil dari novel): Yang dipanggil belakangan, Yang membawa pedang. Pokoknya yang model2 gitu deh.
Itu gak salah sih, cuma agak terlalu sering aja. [bigwink]

6. Bagian 1 itu sebenernya prolognya Zauri, mba dian.

7. Lalu kenapa Zauri bisa dapat 2 penghargaan itu (1-nya nominee)?
Kalau tebakanku adalah karena kelebihan Zauri, yaitu: Pas.
Zauri adalah novel romance fantasy yang berhasil.
Berhasil dalam hal apa? Dalam mencapai tujuannya itu (sebagai romance fantasy; kalau tujuan penulisnya bukan ini, berarti argumen ini salah).
Segala aspek yang ada di dalam Zauri sudah menunjang dengan tepat tujuan itu. Istilah kasarnya, apa yang ditujuankan penulis sampai ke pembaca. Romance-nya masih dalam taraf believable, tidak terlalu cengeng, segala aspek fantasi yang ada menunjang kisah romance itu sendiri dengan tepat. Pokoknya pas deh semuanya sebagai sebuah novel romance fantasy. [thumbsup]
Kalaupun ada nilai positif lain buat para juri, mungkin dari faktor kesederhanaan cerita itu sendiri yang gak terlalu berlebihan, apalagi sengaja dilebih2kan.
For achieving those things, Zauri layak koq masuk nominee KLA. ;)

Sekian dulu komentarnya. Ntar kalau inget yang lain lagi, bakal kutambahi belakangan ya.
Sebagai penutup, sejauh ini yang menduduki posisi novel fantasi lokal terbaik yang pernah kubaca adalah Ledgard.
Nah, secara keseluruhan, menurutku Zauri mendapatkan nilai yang gak terlalu berbeda dengan Ledgard.
Tapi, bila keduanya harus seri, maka pemenangnya adalah Zauri.
Good job! [thumbsup]
NB: Aku bacanya gak pake scroll fast koq, mba dian. Lengkap, kata demi kata. :)
________________________________________
Post by: clickdian on July 07, 2008, 04:37:34 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on July 07, 2008, 02:13:43 pm
BTW Dian, kepesertaan dalam sayembara itu, apakah ada inisiatif dari kamu untuk memasukkan, atau inisitaif penerbit, atau bagaimana sih?

Not me, yg jelas..
Kemungkinan sih penerbitnya berperan aktif. Tapi mungkin pihak penyelenggara juga nggak ‘tunggu dan terima’. Mereka pasti pantau peredaran novel-novel yang masuk nominasi. Cuman setauku, untuk yg IKAPI, Zauri tersisih dari sekitar 90-an novel lain untuk kategorinya.
Kalo KLA… silakan ditebak aja deh. Jurinya ada 10, bisa jadi Zauri ngelewatin 10 ‘barrier’ sebelum akhirnya masuk 10 besar.
(kalo gak salah ya..)
________________________________________
Post by: clickdian on July 07, 2008, 05:06:22 pm
________________________________________
Fred,
Thank youuuu, udah nyempetin baca, dan maaf kalo nggak memuaskan. Namanya juga novel pertama, blon pengalaman hehehe –> mencari pembenaran ;D
Ah! Dapet banyak ilmu darimu nih! Makasih udah ngebedah Zauri sampe detil yah :)
Terlepas dari masalah selera, aq seneng kamu mau ngakuin kalo gak suka sama Zauri. Gak mungkin Zauri punya penggemar universal; pasti ada aja yg gak suka, tapi gak semua yg gak suka mau repot2 ngakuin, apalagi sampe nge-review. ;D

Masalah logika, plot, teknis penulisan, ‘RPN banget’, dan hal-hal lain yang mengganggumu selama baca Zauri, kuusahakan tereliminasi di novel-novel berikutnya. Jujur, faktor ‘novel pertama’ ngaruh banget di sini, karena selain karena waktu nulis Zauri skill nulis-ku belum terasah, kematangan jalan pikiran (istilah lain: kedewasaan) juga lumayan berperan. That is why, pas tau Zauri dapet nominasi, selain seneng aq juga bingung, kok bisa yah? hehehe.. so far aq masih berpikir kalo itu keberuntungan aja. Masih perlu belajar, dan belajar itu neverending process. Makanya butuh banyak masukan :)
Sekali lagi makasih banget ya, aq tunggu novelmu terbit [thumbsup]
(nggak, nggak niat balas dendam, kok! cuma mau hunting tandatangan ;D ;D ;D)
________________________________________
Post by: fr3d on July 07, 2008, 05:10:40 pm
________________________________________
Aih, aih, mba dian, gak perlu sampe membela diri koq, apalagi sampe minta maaf segala… :D
Kalau aku jadi mba dian, aku udah pasti bangga banget karena novelku udah terbit dan dapet penghargaan.
Beneran deh! [thumbsup]
Oya, klarifikasi, aku gak sekecewa itu koq sama Zauri. Malahan aku puas karena faktor “pas” itu. Tapi, ya memang masalah selera aja yang berperan sehingga aku gak suka. [biggrin]
Makasih juga, dan kutunggu novel yang sedang dibuat itu! ;)
________________________________________
Post by: MakMak on July 08, 2008, 08:18:39 am
________________________________________
Quote from: clickdian on July 07, 2008, 05:06:22 pm
Fred,
Thank youuuu, udah nyempetin baca, dan maaf kalo nggak memuaskan. Namanya juga novel pertama, blon pengalaman hehehe –> mencari pembenaran ;D

novel pertama + blon pengalaman = dapat penghargaan ;D ;D ;D
menandakan bahwa anda adalah penulis yang potensial [thumbsup] [thumbsup] [thumbsup]
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on July 08, 2008, 08:37:06 am
________________________________________
gila fred, gw salut banged lu bisa bikin repiu sejujur itu, keren! keren banged, gw bener2 ampe terperangah bacanya (lebih terperangah waktu gw dulu baca komen lu ke prolog gw ;D)
di dunia ini dikid banged orang yg bisa berkata sejujur elu, apalagi semenjak elu pernah bertatap muka dan bahkan minta ttd penulisnya langsung! sumpah top banged dah.
komen jujur itu langka banged buat seorang pengarang.
(jadi buat ente sis dian, jangan ngambek, atau setidaknya jadi ilpil/sebel ama si fred yak! daku dulu sempet ilpil liat komen die ke prolog lemures ane–tapi sekarang malah seneng banged karena komen dia cukup ngebantu ane ngerevisi lemures :D )
ah mau ikutan nimbrung komenin repiunya si fred jahanam(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif):

Quote
Kedua, menjawab pertanyaan mba dian: Ya, Zauri termasuk RPN, bahkan keliatan sangat jelas sekali (dari pace, team building, dan aspek2 yang kusebut di bawah ini).

aha! udah gw bilang lu orang sempet gak percaya kemaren2.. ^-^

Quote
Memang dahl-nya cuma ada 1 ekor (yg dibunuh Dios)? Kalau iya, berarti orang2 lain bisa lolos ke ruang penyucian tanpa perlu membunuh dahl itu? Tapi, kalau ada banyak, kenapa gak ada mayatnya atau rombongan Dios gak ketemu?

maksud lu ‘mayatnya’ itu mayat dahl yang dibantai karpathian apa mayat karpathian yg dibantai dahl? :D
seinget gw (udah lama banged gw baca zauri :P ), dahl itu matinya kempes.. terus nyisa lendir2 gitu, gak bertulang sama sekali. wajar gada mayatnya lhaa… :P
(btw gw agak kagok ngingetnya soalnya di nightfall ada monster yg penggambarannya mirip dahl, dan idupnya di gua pulak >__<)

Quote
Contoh lain: Mio si peri kan punya tangan. Kenapa dia gak nulis di pasir atau tanah sebagai cara komunikasinya ke Kayla? Kalaupun pemahaman bahasanya beda antara manusia dan peri, bisa aja si Mio ngegambar, misalnya mahkota untuk merujuk Kayla sebagai seorang putri?

entah udah berapa juta pembaca yg protes beginian(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
(om pur pasti entar nyusul dah, taroan yuk ;D ;D ;D)

Quote
3. Dari segi plot, hampir gak ada hal baru di dalam Zauri, bahkan plot2 utamanya juga. Mayoritas udah pernah ada di cerita lain. Contohnya: tentang kakak yang hilang dan ternyata jadi jahat, tentang putri yang dikutuk dan hilang ingatan, tentang cinta segitiga Dios-Regia/Kayla-Zen dan keputusan akhir mereka, tentang sang Amigdalus yang justru dimanfaatkan orang lain, dll.
Intinya, mungkin bisa disebut kalau plotnya Zauri kurang greget.

kalo menurut gw (sebagai pembaca setia fantasi, tentu :P ) untuk beberapa aspek greget zauri dapet, tapi tidak buat beberapa aspek lainnya. aspek2 kayak jokes, dialog, gaya bahasa, gregetnya lumayan dapet. tapi buat adegan klimaks, gak dapet.
(inilah yg gw maksud waktu itu: kalo mau bikin adegan klimaks, kumohon jangan bikin adegan pertempuran ala rpg di mana si antagonis dikalahkan dengan kekuatan bulan si protagonis)

Quote
7. Lalu kenapa Zauri bisa dapat 2 penghargaan itu (1-nya nominee)?
karena penghargaan buat Zauri itu penghargaan buat kategori remaja! dibanding teenlit2 gak jelas as the competitors, jelas zauri jauh lebih unggul lha.. ^-^

sekali lagi, remaja coy! pake logika dan standar remaja, biar penilaian lebih adil dan objektif!

Quote
Sebagai penutup, sejauh ini yang menduduki posisi novel fantasi lokal terbaik yang pernah kubaca adalah Ledgard.
Nah, secara keseluruhan, menurutku Zauri mendapatkan nilai yang gak terlalu berbeda dengan Ledgard.
Tapi, bila keduanya harus seri, maka pemenangnya adalah Zauri.

statement gak konsisten -.-”
ledgard emang bagus di plot, orisinalitas, ama setting, tapi gaya bahasa over-detil (dan membosankan) dan style dialog yg gak banged, itu bener2 fatal buat gw. gw bahkan sampe benci sama ledgard waktu dulu beres baca! :D
wah sayang fred lu gak ambil Cardan, padahal si om pur udah ngambil tuh… kan asik bisa disidang disini rame2.
oke next review ente berarti sang penandai & goran–dua novel unggulan gw tuh, walaupun tebelnya cuma sepertiga ledgard, tapi buat gw kualitasnya 3x lebih bagus dari ledgrad :P
(btw gaya bahasa berduhai2 ria lemures itu gw absorp dari sang penandai, yah ketauan deh :-[)
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: fr3d on July 08, 2008, 10:06:56 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 08, 2008, 08:37:06 am
jadi buat ente sis dian, jangan ngambek, atau setidaknya jadi ilpil/sebel ama si fred yak!

Aduh, yang ini sih akhirnya udah japri-an sama mba dian. :-[
Sebelum ngelanjutin, mba dian, kemaren aku lupa ngasih komen kalau ada sejumlah aspek fantasi di Zauri yang sebenernya udah bagus. Mudah2an para pembaca komen gak sampe ngerasa Zauri jelek banget yah, karena kenyataannya gak begitu. ;)
Sejumlah aspek fantasi yang udah oke, menurutku, misalnya: fusan, bubaglop (meski gak sepenuhnya orisinil), mohaz, legenda sang amigdalus itu sendiri, dll. [thumbsup]
Cover-nya juga bagus. Kalaupun ada kritik adalah di tulisan judul “Zauri”-nya, mba dian. Kalau diliat sekilas, orang pasti gak ngeh itu dibacanya “Zauri”.

Quote from: BloodSin on July 08, 2008, 08:37:06 am
gila fred, gw bener2 ampe terperangah bacanya (lebih terperangah waktu gw dulu baca komen lu ke prolog gw ;D)

Nah, biar gw tebak, pasti karena kalimat pertama gw di komen itu (tentang bohong dan gak suka).
Padahal, itu kan penerapan “trik kalimat pertama”. :P
Kalau pernyataan itu gw taruh di akhir komen, pasti efeknya beda.

Quote from: BloodSin on July 08, 2008, 08:37:06 am
seinget gw (udah lama banged gw baca zauri :P ), dahl itu matinya kempes.. terus nyisa lendir2 gitu, gak bertulang sama sekali. wajar gada mayatnya lhaa… :P

Oh iya lupa, matinya kempes! Kepikiran soal mayat, soalnya pas Dios dkk. kabur dari gunung mau meletus itu mereka katanya sempet ngelewatin “mayat” dahl yang gosong gara2 apinya Mario.
Hmm… berarti sebenernya ada banyak dahl di gua itu? Tapi pas didatengin Dios dkk. cuma tinggal 1 atau kebetulan mereka gak ketemu yang lain kali ya?

Quote from: BloodSin on July 08, 2008, 08:37:06 am
kalo menurut gw (sebagai pembaca setia fantasi, tentu :P ) untuk beberapa aspek greget zauri dapet, tapi tidak buat beberapa aspek lainnya. aspek2 kayak jokes, dialog, gaya bahasa, gregetnya lumayan dapet. tapi buat adegan klimaks, gak dapet.

Kalau maksud gw, yang greget itu adalah semacam faktor X (biasanya dari plot).
Susah ngejelasinnya karena kadang2 pun gw kesulitan untuk point it out hal itu yang mana.
Faktor X si bikin greget ini membuat apa yang dirasakan penulis sewaktu menulis novelnya dirasakan pula oleh pembaca sewaktu membaca novel itu.
Misalnya:
- kalau adegannya sedih nian, pembaca pun benar2 merasa sedih, minimal sampe mau nangis (contohnya di Kite Runner, kalau gak ditahan2, gw pasti udah nangis bombay… :-[);
- kalau adegannya thriller kejar2an, pembaca dibuat merasa cemas, resah, takut ketangkap, adrenalin terpompa, etc. (contohnya di Da Vinci Code, atau yang paling jelas ya, di film Prison Break);
- kalau pas adegan endingnya happy, pembaca ngerasa kebahagiaan itu pula, entah sampai membuat pembaca menangis haru, tersenyum lebar karena lega, atau bahkan tepuk tangan (ini gak gw dapet di buku terakhir harpot [hammer]);
- kalau adegannya komedik, pembacanya tertawa lepas, kalau mungkin bahkan sampe gak bisa berhenti! ;D
Adegan2 itu semuanya mau gak mau terkait sama plot di dalam cerita.

Quote from: BloodSin on July 08, 2008, 08:37:06 am
statement gak konsisten -.-”

Maksud gw “sejauh ini, sebelum baca Zauri”. Setelah baca Zauri, pemenangnya adalah Zauri.
Next komen adalah Sang Penandai.
Goran terpaksa harus belakangan. Gw masih bertanya2 lho, kenapa sih sinopsis di cover belakangnya Goran harus begitu? Karena siapa pun yang ngebaca sinopsis itu pasti bakal ngerasa pusing, bahkan sebelum baca novelnya… [hammer]

Quote from: BloodSin on July 08, 2008, 09:26:47 am
kalo om pur gw kasih stempel sebagai biawak, maka si fred gw stempel sebagai ular kadut(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)

Apaan sih ular kadut itu?

Quote from: BloodSin on July 08, 2008, 08:37:06 am
karena ngebantu ane ngerevisi lemures :D

Oh, jadi akhirnya lemures direvisi juga… [rolleyes]
(*sambil buru2 kabuuur…*)
________________________________________
Post by: clickdian on July 08, 2008, 12:10:18 pm
________________________________________
Quote from: blue_amaranthine on July 08, 2008, 09:20:08 am
waduh, waduh, ngedengar reviewnya fr3d bikin gw merinding. Kalo aq jadi dian, kayanya ga bisa tidur deh semaleman, karena gw juga pernah dikomentarin kaya gitu.

Blue, biasa aja tuh, tetep tidur seperti biasa :D

Quote from: MakMak on July 08, 2008, 08:18:39 am
novel pertama + blon pengalaman = dapat penghargaan ;D ;D ;D
menandakan bahwa anda adalah penulis yang potensial [thumbsup] [thumbsup] [thumbsup]

Wekekek.. penulis potensial sekalipun butuh latihan. Dapet masukan dari orang adalah salah satu prosesnya [thumbsup]

Quote from: BloodSin on July 08, 2008, 09:26:47 am
kalo om pur gw kasih stempel sebagai biawak, maka si fred gw stempel sebagai ular kadut(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)

Gyahahahah!! ;D
Ati2 lho ntar dibales. Nah, Om Biawak dan Mas ular kadut, TS kita mau dicap dengan nama apa nih? [gossip][biggrin]
Nggak marah kok. Lah, orang dibantuin kenapa jadi marah?
Fred kasih tahu kan berarti dia care, ya nggak? ^-^
heheh [biggrin]

komen jujur itu langka banged buat seorang pengarang. –> benar sekali!
Soal cover, thanks to Bene (illustrator-nya Grasindo). Dan editorku juga bantuin banget, secara aq lumayan bawel soal cover, comment mulu! [angry]–>penulis nyebelin, nih! [hammer]
Oww.. soal Dahl, kepikiran gak kalo gua di gunung Ner itu sebenernya bercabang2? Prasaan udah kujelasin kalo gunung itu berbopeng-bopeng (alias lubangnya banyak)?
Nah, logis gak kalo Dahl2 yg laen pada ngumpet di cabang gua yg laen? [rolleyes]

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XVIII (30 Jun 2008 – 3 Jul 2008)

  • Tentang Dream of Utopia
  • Review draft Lemures karya BloodSin oleh FA Purawan
  • Image dunia vampire

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on June 30, 2008, 08:47:56 am
________________________________________
Oya, hari sabtu kemaren sempet ke gramed dan ada novel fantasi lokal baru, judulnya “Dream of Utopia”.
Ternyata karangan penduduk pulpen juga, si blue_amaranthine (kalau gak salah nama penanya sammy something… :) ).
Penerbitnya lupa, tapi harganya 50ribu-an (inget banget, soalnya mau beli tapi gak jadi –> kali aja nemu yang diskon di istora, ;D).
Terus udah ada tret-nya juga di info bubar.
Om pur, silakan dilahap tuh, berhubung penulisnya maen ke sini juga, jadi bisa lempar2an cabe (meminjam istilah jeff), hehehe…
________________________________________
Post by: BloodSin on July 01, 2008, 08:55:59 am
________________________________________
okeh, berhubung skrg nih FFDN lg seret bahasan, gak da salahnya gw posting beginian :P
(review ‘singkat’ LEMURES gw dari om pur [thumbsup])

Quote
Pertama banget, adalah overall impresi gue terhadap naskah lemures. Bagian ini boleh aja elo posting di FFDN III kalau elo berkenan, tapi kurasa catatan-catatan khusus terhadap part-part yg gue tandain gak usah di share ke thread, takutnya terlalu spesifik sehingga ga menarik minat belajar rekan-rekan lain.

Secara keseluruhan Lemures adalah cerita yang cukup menarik untuk dibaca, dengan kisah petualangan perburuan artefak berbumbu humor dan ketegangan. Plotting lemures sudah kuanggap tepat dan cukup, walau aku masih menyimpan catatan mengenai strategi positioning elo terkait niat elo untuk me’laku’kan naskah ini di penerbit. Itu akan menjadi bahasan tersediri. Sebelumnya gue masih ingin ngomongin general aspect dulu.

Penokohan: menurut gue, elo sudah cukup berhasil meramu sebagian besar karakter secara tepat dan menunjang cerita. Setiap karakter utama sudah tergambar cukup realistik, dan gaya masing-masing pun sudah cukup teridentifikasi dan memiliki ciri. Namingnya juga udah ga ada masalah.. Ada catatan mengenai personalisasi karakter, gue bahas nanti.

Alur cerita sebagaimana urut-urutan yang sudah kamu sajikan dalam bab-bab itu juga sudah runtut dan cukup logis. Gue ga ada masalah dengan penempatan urutan alurnya.
Sistem logika cerita menurut gue juga sudah cukup untuk segmen remaja. Tapi kalo elo mengincar segmen lebih dewasa lagi, elo harus bisa mengembangkan logika yang lebih dalem. Journey untuk sepotong busur masuk akal untuk remaja, tapi kurang nendang buat dewasa. Logika ‘putri kembar’ cucok buat remaja, tapi mengada-ada buat dewasa. Kalau ada putri kembar, raja manapun akan langsung menganggapnya sebagai ‘threat’ alih-alih opportunity. Apalagi ini putri mahkota!

Settings yang elo ciptakan buat lemures juga cukup realistik dan masuk akal. Paling-paling seperti pernah gue tanyain, bagaimana relasi budaya french di lemures dengan yang sesungguhnya, termasuk budaya ilmiah latin di sini? Kalo menurut elo memang harus hadir tanpa perlu dipaksa diperjelas konteksnya, ya sudah. Ada sedikit kekekurangan logis di area Sierra Kuno, nanti gue coba bahas di tempatnya. Tapi menurut gue ada baiknya elo menggambar peta besar lemures untuk memudahkan bayangan editor, soalnya gue juga merasa belum dapat gambarannya secara utuh.

Nah, kritik secara general impression kurasa masih konsisten dengan yg udah pernah gue sebutkan sewaktu ngebahas prolog elo dulu, yaitu pemilihan kata yang kurang tepat serta susastra yang belum ‘megang’. Setelah gue genapkan membaca sampai akhir, memang gue rasakan masalah itu berkurang (karena gue mungkin jadi terbiasa), tapi gue mendapatkan view yang lebih jelas mengenai kritik yang harus gue sampaikan pada gaya penulisan elo.

Dulu gue sempat komentar: Pretensius.

Saat elo sok nyastra di prolog, gue ngerasa itu pretensius. Ke belakang-belakangnya lagi, gue ngerasa elo tetap ada sok nyastranya dan tetap pretensius, tapi gue mulai terbiasa (walau tetep dengan wajah berjengit-jengit). Namun ada temuan yang kurasa harus cepet-cepet disampaikan supaya elo bisa cepet-cepet benerin.

Ini mengenai dialog. Ada bagian dialog yang udah bagus dan shining, dan pada part-part itu gue merasa itu udah you as yourself (THE Writer) banget. Tapi ada bagian dialog lain yang gue rasakan masih pretensius, sepertinya elo berusaha over the top, jadinya elo malah jauh dari gaya elo sendiri.

Pada part-part tersebut, gue merasakan bahwa pengarang lagi sok ‘keminter’, seperti berusaha menempatkan diri lebih pinter atau lebih tinggi dari pembaca. Dan gue harus cepat-cepat mengingatkan dan mencegah elo melakukan ini. Ada sebuah kredo yang harus dipegang oleh pengarang, bahwa pembaca adalah it’s own master, pembaca tidak suka dikuliahi, dan pembaca tidak nyaman menyimak uraian yang melebih-lebihkan smartness ini dari yang secukupnya.

Ada beberapa part yang elo begitu, yang kalo elo robah gayanya lebih mencirikan gaya lo sendiri, gue rasa akan menjadi jauh lebih humble dan kena ke pembaca.

Dan part-part ‘sok smart’, antara lain yang membuat novel elo somehow agak ‘menyebalkan’ buat dibaca, terutama oleh pembaca yang gak punya missi nyelesaikan novel, gak kayak gue. Tapi elo bisa bayangin bila para evaluator novel elo di penerbitan adalah termasuk golongan itu.

(sebenernya cukup beresiko buat gue untuk mengungkap evaluasi seperti ini, sebab probabilitasnya cukup besar bahwa elo gak terima penilaian gue. Secara mungkin aja elo gak berniat untuk over the top sama sekali, atau gak merasakan apa-apa yg gue nilai itu ada dalam hasil karya elo. Tapi gue harus jujur, anyway, demi kemajuan elo. Ciaaah)

Gue sebenernya juga ada kritik mengenai flow pengklimaksan seri buku pertama ini, yang gue rasakan masih kurang nendang. Gue merasakan bahwa perjalanan para rombongan serta hasil yang sudah didapatkan, ternyata tidak bermakna cukup penting bagi pembaca, sehingga keseluruhan buku elo jadi terasa agak ‘waste’. Tapi untuk ngebahas ini, gue harus mundur dulu ke langkah-langkah yang justru sangat-sangat awal dalam penulisan karangan. Sekarang akan kita bicarakan langkah-langkah itu, yang kelak juga akan mempertemukan elo dengan masalah-masalah pemasaran yang udah elo alami belakangan ini.

TEMA LEMURES

Apa sih, Rey, tema INTI Lemures sesungguhnya? Gue sempet nanya di thread, ya? Dan jawaban elo adalah ini:
(where ever) there’s a hope in a journey, there I would place my struggle.
Kenapa gue ngotot nanyain tema. Because gue rasa itu juga yang dicari-cari oleh para evaluator buku lo, dan yang tidak mereka temukan. Dan gue rasa, kalo memang bener elo gunakan kalimat itu sebagai tema, gue juga gak bisa nemuin “What the Hell” yg lo maksud itu, dan “Where the Hell” is tema-nya.

Di ‘hope’nya, di ‘journey’nya, atau di ‘struggle’nya?

Kenapa gue angkat masalah ini, sebab kalau ditilik dari apa yang semata sudah tersaji di naskah, dari depan sampai belakang, elo belum menghadirkan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai penjawab atau definitor atas tema yang elo tetapkan di embrio cerita. Tidak ada (atau mungkin kurang terolah) suatu konklusi atas tindakan atau peristiwa, yang menegaskan kepada pembaca mengenai tema yang dipilih oleh pengarang.
Misalnya kalau temanya ‘Hope’, peristiwa konlusif di akhir buku mestinya juga menonjolkan the power of hope, bagaimana sepotong asa bernama harapan mampu menegasikan hambatan segawat dewa kematian. Kalau temanya struggle, mustinya proses struggling itu menjadi kuat betul, halangannya berat betul, ada korban dll, dll, sehingga di ujung novel, struggle itu sangat terasa, dan menumbuhkan nilai-nilai tertentu di hati dan pikiran pembaca.

Yg simpel buat contoh aja deh. Tema utama PG adalah penyerahan diri seutuhnya pada YME (akar segala agama, tuh!), yang dikonklusikan dalam adegan klimaks Jaka memasrahkan segalanya dan datanglah keajaiban (tentu saja dengan segala bumbunya untuk mensignifikansi peristiwa itu, sejak halaman pertama buku).

Nah untuk Lemures gue belum bisa mendapatkan konklusi seperti itu. Adegan finale Sepasang Taring Harimau vs Pisau Penjuru juga nggak bisa dilihat sebagai konklusi struggle atau hope, just showdown aja, udah.

Ketiadaan relasi konklusi vs tema inilah, yg kurasa membuat kisah elo menjadi kurang bernilai di mata penerbit. Tema yang nggak jelas ini pula yang membuat climaxing novel ini juga menjadi nggak jelas, jadinya kurang nendang. Tanpa tema yang kuat, seluruh perjalanan itu menjadi sekedar perpindahan dari titik A ke titik B. Lantas dimana juice-nya?

Berita baiknya, semua unsur tema itu sesungguhnya sudah ada dalam naskah yang elo bikin. Dan gue percaya dah, sekaliber elo tentu urusan tema juga udah nggak usah dikasih tau lagi. Tinggal sekarang lebih di highlight aja tema apa yang ingin elo tonjolkan untuk buku pertama, dan lakukan penggarapan khusus di situ. Simpel koq, elo hanya perlu menumbuhkan ‘makna’ atau pengertian khusus di dalam batin pembaca mengenai signifikansi peran/ tindakan sang tokoh yang elo anggap mewakili tema yang elo pilih. Ada banyak kesempatan kan?
Larke – hope, ingenuity
Fly – trusting others, ketulusan
Kain – leadership
Levantine – pembuktian diri/ courage?
Elo yang tentukan, lah

Pointnya, jadikan sesuatu di dalam buku elo yang bisa dijual, yang menguatkan alasan penerbit untuk menerbitkannya. Dan menurut gue, sesuai dengan pakem filosofi buku, ya tema yang ‘megang’, itulah. Dan for the sake of focus, elo cukup menghighlight 1 tema utama aja, walaupun elo bisa juga menambahkan sub tema, tapi jangan sampai overshadowing tema yang utama.

Kira-kira begitu deh gambaran overall nya. Kalo masih ada yg kurang mantep, let’s discuss. Meanwhile, mari kita bahas per –bab satu persatu!

(btw sori ada satu kalimat yg kuhapus karena spoiler banged buat kejutan adegan klimaksnya, huehehehe :P )
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on July 01, 2008, 08:57:18 am
________________________________________
dan inilah tanggepan aye buat review-nya om pur [biggrin]
pertama, dan yang terutama: Arigatouuu gozaimazu, Tararengkyu, Matur Nuhun, Kamsia, Todah Rabbah, Merci, Terima Kasih (banged) buat om Pur, realy appreciate all of the compliments, critics, & input-nya, you’re the best dah, wahai Boss Biawak [thumbsup] ;D ;D

Quote
Penokohan: menurut gue, elo sudah cukup berhasil meramu sebagian besar karakter secara tepat dan menunjang cerita. Setiap karakter utama sudah tergambar cukup realistik, dan gaya masing-masing pun sudah cukup teridentifikasi dan memiliki ciri.

untuk poin ini, clickdian-lah yg jaman dahulu kala memberi masukan, & thanks god sudah teratasi dengan ‘cukup berhasil’, heheheh. kalo gini ane ‘cukup lega’ juga dah, dan gak sia2 hokus fokus yg kulakukan selama menggarap versi revisi lemures ini (yg ternyata masih banyak yg perlu direvisi lg(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif))..

tapi sebetulnya ada satu lagi saran seorang reader lemures lain (villam) yg sudah kuintegrasikan ke dalam naskah: konflik & perenungan batin. nah gimana om pur, menurut ente apakah unsur ini masih kurang tergarap, atau sudah lumayan tergarap? ???

Quote
Nah, kritik secara general impression kurasa masih konsisten dengan yg udah pernah gue sebutkan sewaktu ngebahas prolog elo dulu, yaitu pemilihan kata yang kurang tepat serta susastra yang belum ‘megang’.

ini ironis: kritik utama ente malah kontradiksi dengan compliment villam (dan banyak member k.com) yg bilang kelebihan utama LEMURES malah ada di gaya bahasanya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/bolakbalik.gif)
sejujurnya lemures emang merupakan novel pertama ane yg jadi objek percobaan gaya bahasa ‘maut’ kaya begitu, dan ternyata hasilnya ‘antara’ mengenaskan dan sukses, kurasa. :D
yang sulit bagiku, bagaimana cara mengaplikasikan gaya bahasa cantik yang kira2 aproveable buat semua kalangan pembaca? terus, bagaimana pula cara mengetahui apakah suatu kiasan/metafora sudah pas di mata pembaca, atau belum? kalo ngeliat penyisiran om Pur thd gaya bahasa LEMURES di prolog & bab 1-nya (dan komen si fred juga thd prolognya tempo hari), tampaknya ada beberapa kiasan yang tepat sasaran, dan ada juga yang gak tepat (yg sialnya jauh lebih banyak (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif)).
ah ini bener2 PR berat buatku :(

Quote
Namun ada temuan yang kurasa harus cepet-cepet disampaikan supaya elo bisa cepet-cepet benerin.
Ini mengenai dialog. Ada bagian dialog yang udah bagus dan shining, dan pada part-part itu gue merasa itu udah you as yourself (THE Writer) banget. Tapi ada bagian dialog lain yang gue rasakan masih pretensius, sepertinya elo berusaha over the top, jadinya elo malah jauh dari gaya elo sendiri.
Pada part-part tersebut, gue merasakan bahwa pengarang lagi sok ‘keminter’, seperti berusaha menempatkan diri lebih pinter atau lebih tinggi dari pembaca. Dan gue harus cepat-cepat mengingatkan dan mencegah elo melakukan ini. Ada sebuah kredo yang harus dipegang oleh pengarang, bahwa pembaca adalah it’s own master, pembaca tidak suka dikuliahi, dan pembaca tidak nyaman menyimak uraian yang melebih-lebihkan smartness ini dari yang secukupnya.

ah sudah sangat kuduga sebelumnya [biggrin], pasti cepat lambat bakal ada pembaca yg protes beginian :)
kalo boleh jujur, gw dapet influence kayak gini dari Paulo Coelho :-[, and i'm afraid i can do nothing about it (selain mendelete-nya :'(), soalnya itu udah masuk ke dialog sih. kalo masih di narasi/deskripsi, masih ada harapan untuk kuotak-atik lagi. tapi kita liat dulu yg mana2 aja sebetulnya dialog pretensius yg ente maksud.

Quote
Ada beberapa part yang elo begitu, yang kalo elo robah gayanya lebih mencirikan gaya lo sendiri, gue rasa akan menjadi jauh lebih humble dan kena ke pembaca.

yeah i know, part2 kayak waktu Levantine bikin filosopi ttg 'wajah gurun' buat end suatu scene, atau waktu encounter rombongan dengan Gaeus, ya kan? atau mungkin waktu percakapan Larke-Levantine pas giliran jaga malam, atau Larke-Fly di depan api unggun pas di Negeri Angin itu yak?
sebetulnya ane masih gambling untuk dialog2 yg bergaya menguliahi semacam itu, sejauh ini ada satu orang yg gak protes dan (akhirnya) ada satu orang protes. oke, i'll do something to fix it.
btw maksud ente gaya 'keminter' dialognya diubah pake gaya ane sendiri, itu maksudnya gimana sih? soalnya dari yg ane duga, itu masalah 'keminter'nya bukan di gaya bahasanya, tapi emang udah masuk ke inti dialognya (isi percakapan yg terlalu menggurui). maksudnya inti percakapannya diubah atau gimana?
coba deh kalo ente gak keberatan, bisa di-quote contoh gaya dialog yg 'keminter' itu (yg paling pendek aja lha, jangan yang Gaeus ;D), terus ente ubah dengan gaya bahasa yang gak lagi berkesan keminter, emang bisa yak? sekalian buat pembelajaran di tret ini neh: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menggunakan suatu gaya dialog. :)

eniwei, sebetulnya di pm kemaren ane udah nyebut apa2 aja yg memungkinkan LEMURES ditolak penerbit:

1. terlalu sterotip fellowship LOtR
2. terlalu banyak unsur kebetulan; selalu adanya tokoh-tokoh, benda, dan peristiwa di tempat dan waktu yang 'tepat' :-[
3. terasa menggurui
gimana dengan unsur kebetulannya? apakah masih wajar? ah, poin ini bisa ente sorot buat masukan di bab2 selanjutnya, dan amat kunantikan hal itu. :)
sebelum dinilai ente, ane malah sama sekali gak ngelirik kekurangtegasan tema & gaya bahasanya--dan sejujurnya malah tadinya kuanggap dua hal itu jadi kelebihan naskah.
tapi eniwei, masukan bagus itu untuk memperkuat tema dalam LEMURES, i'll fix it for sure :)
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 01, 2008, 07:21:37 pm
________________________________________
aduh, sebel,…. pas ngeposting tanggapan ini pertama kalinya, web site masuk ke mode maintenance, selama berjam-jam, tak tahunya begitu on-line tanggapan gue nggak ke broadcast! Ngulangin lagi? Arrrrgh [ranting]

Quote
yang sulit bagiku, bagaimana cara mengaplikasikan gaya bahasa cantik yang kira2 aproveable buat semua kalangan pembaca? terus, bagaimana pula cara mengetahui apakah suatu kiasan/metafora sudah pas di mata pembaca, atau belum? kalo ngeliat penyisiran om Pur thd gaya bahasa LEMURES di prolog & bab 1-nya (dan komen si fred juga thd prolognya tempo hari), tampaknya ada beberapa kiasan yang tepat sasaran, dan ada juga yang gak tepat (yg sialnya jauh lebih banyak ).

Namanya ‘art’, parameternya adalag ‘rasa’, dan nggak ada yang bisa menjelaskan perihal rasa secara gamblang. Yang penting adalah latihan dan latihan terus, rasakan efeknya seperti kita mencicipi makanan. Satu saat, kita akan ngerasa juga, koq apa yg ‘pas’ dan apa yg masih ‘ngga pas’.
Tapi aku pikir parameter yang paling gampang adalah, apapun yg elo tulis itu harus dengan mudah dipahami oleh orang berkat kesederhanaannya dalam mengungkap, tidak berlebih-lebih dalam hal yang tak perlu.
Penggunaan kiasan juga harus memperhatikan pemahaman umum pembaca, konsep pengias tidak boleh terlalu jauh maknanya dari yg dikiaskan, sesuai dengan konteks dimana kiasan tersebut biasa dipakai. Ini bukan perkara anti kreativitas atau menjauhi originalitas (suatu prestise bagi pengarang apabila dapat ‘menciptakan’ suatu istilah baru yg kemudian populer), tapi merupakan penerapan dari prinsip dasar komunikasi: antara penulis dan pembaca harus berada dalam frame yang sama.

Quote
kalo boleh jujur, gw dapet influence kayak gini dari Paulo Coelho Embarrassed, and i’m afraid i can do nothing about it (selain mendelete-nya Cry), soalnya itu udah masuk ke dialog sih. kalo masih di narasi/deskripsi, masih ada harapan untuk kuotak-atik lagi. tapi kita liat dulu yg mana2 aja sebetulnya dialog pretensius yg ente maksud.
coba deh kalo ente gak keberatan, bisa di-quote contoh gaya dialog yg ‘keminter’ itu (yg paling pendek aja lha, jangan yang Gaeus Grin), terus ente ubah dengan gaya bahasa yang gak lagi berkesan keminter, emang bisa yak? sekalian buat pembelajaran di tret ini neh: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menggunakan suatu gaya dialog. Smiley

Rey, elo udah paham belum dengan konsep: KONTEKS? Setiap istilah, atau pengertian, akan memiliki makna apabila memiliki sebuah relasi dengan konteksnya. Dan bicara novel, sering kali konteks itu harus dibangun dengan susah payah, disulam hati-hati kata per-kata, sehingga di saat kata-kata/ konsep yang bersangkutan timbul, dia tidak muncul begitu aja dari kekosongan. Dia sudah didukung oleh sejumlah besar situasi yang menyebabkan keberadaan konsep baru tersebut menjadi ‘pada tempatnya’, atau, ‘kontekstual’.
Lantas pada saat sebuah istilah muncul secara ‘inkontekstual’, pembaca akan bertanya-tanya. Dan kalo kemudian kesannya pengarang membubuhkan kata-kata itu sekedar supaya kelihatan ‘berkelas’ (baca: pinter, cerdas, hebat dll), :P yep, disitulah kemudian pembaca menilai sebagai: ‘keminter’.

Mari bicara contoh :)

salah satu dialog di Prolog:
Kain Ellohym mendengus, ”’Musafir Cinta’—dulu orang-orang menyebutku. Tetapi hari ini, keberangkatanku ke negeri ini adalah untuk kepentingan di luar itu.”
Seth masih tertawa. “Memangnya apa kepentingan di luar itu, aku mau tahu!”
“Sebuah prosedur atas dasar inisiatif,” jawab Kain mantap.

Menurut gue dalam banyak hal kata-kata ini inkontekstual. Kata-kata ini tidak disupport oleh latar belakang Kain sebagai pendekar, tidak disupport oleh setting Lemures yang konon berjuta tahun lampau (dua kata: prosedur & inisiatif, menjadi way out of place), Malah kalau kita cuma melihat baris-baris dialog di atas, kita dengan mudah bisa menyangka bahwa percakapan ini terjadi di dalam lift perkantoran :)
Terus elo minta gue bikin alternate-nya? Lah gimana seh? Kan elo yg pengarangnya, bukan gue. Kalo gue yang bikin, bisa-bisa gue salah menjabarkan intensi Kain :o

Tapi let’s try,….
Kain Ellohym mendengus, ”’Musafir Cinta’—dulu orang-orang menyebutku. Tetapi hari ini, keberangkatanku ke negeri ini adalah untuk kepentingan di luar itu.”
Seth masih tertawa. “Memangnya apa kepentingan di luar itu, aku mau tahu!”
“Mungkin akan kedengaran bukan seperti Kain yang kau kenal,” sang musafir terkekeh. Tetapi senyum tipis di wajahnya itu perlahan memudar, dan ia menatap Seth dengan pandangan lurus yang tegas, pandangan yang mengingatkan Seth akan kemantapan hati seorang Kain Ellohym bertahun-tahun lampau, “Aku datang atas kehendakku, mungkin juga kehendak para Dewa, mungkin juga kehendak negeri-negeri di Selatan,”
…. dan seterusnya,… ;)

Sekarang mohon dirasakan (sebagai latihan), baca dua versi di atas berkali-kali, dan rasakan di part mana terasa ada ‘paksaan’ untuk men-swallow (menelan) kata-kata itu, dan di part mana kata-kata terasa meluncur nyaman?
Untuk versi gue, apakah gue menggunakan kata-kata ‘eksotik’, apakah dengan kata-kata yang cukup umum seperti itu, sastranya dapat dirasakan?
Mungkin itu aja kali dulu ya? For starters, coba elo refrase kalimat-kalimat di atas buat latihan, cari berbagai alternatif pengungkapan yg lebih enak, menggunakan kata-kata yang sederhana.
Practice makes perfect!
FA Purawan
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on July 02, 2008, 12:37:28 pm
________________________________________
Oke TQ for the example, bos, i’ll try my best at home!
yang paling penting itu konteks yak [biggrin]
________________________________________
Post by: MakMak on July 02, 2008, 01:37:21 pm
________________________________________
@all of you….
ini saya sedang buat image dunia vampire sendiri, lepas dari image vampire dalam Dracula. masalahnya, aku tidak tahu apakah image dunia baru vampire buatanku ini bagus atau tidak.
nah saya ingin mendengar pendapat anda semua mengenai hal tersebut.
dunia vampire buatan saya itu seperti ini:
vampire saya bagi menjadi 4 jenis

yang pertama, saya beri nama Origin Vampire (Native)
ciri-ciri:
1. merupakan keturunan dari origin vampire yang lain (kalau ayahnya origin vampire, ibunya origin vampire, maka anaknya juga origin vampire)
2. bisa hidup dibawah sinar matahari meskipun kekuatannya akan menurun drastis.
3. yang menonjol dari jenis ini adalah kekuatan fisiknya.
4. bagi mereka, makan dan memperoleh nutrisi adalah dua hal yang berbeda. mereka bisa makan makanan biasa seperti manusia hanya untuk sekedar mengenyangkan perut, tapi mereka harus meminum darah untuk memperoleh nutrisi (sumber nutrisinya adalah darah)
5. berumur panjang dan awet muda, tapi tidak abadi.

yang kedua, saya beri nama Slave
1. adalah manusia yang menjadi vampire karena meminum darah vampire. (disini, kalau ada manusia yang darahnya dihisap oleh vampire, dia akan mati, tapi tidak akan menjadi vampire. manusia menjadi vampire kalau meminum darah original vampire)
2. tidak memiliki kebebasan. Slave hanya bisa mematuhi perintah Origin vampire yang memberikan darahnya.
3. kekuatan fisik meningkat, meskipun tidak bisa menyamai origin vampire.
4. tdk bisa hidup dibawah sinar matahari.
5. makan dan memperoleh nutrisi merupakan 2 hal yang berbeda.
6. tidak berumur panjang dan tidak awet muda.

yang ketiga, Alter
1. Slave yang kehilangan tuannya (Origin yang membuatnya jadi vampire mati terbunuh atau sakit) kemudian secara berangsur, memperoleh kembali ingatannya ketika dia masih menjadi manusia.
2. memiliki kebebasan untuk bertindak sendiri.
3. yang lainnya sama dengan Slave.

yang terakhir, Outcast.
1. Manusia yang menjadi vampire tanpa campur tangan Origin Vampire. (dengan sihir, kutukan, ritual khusus, dll)
2. kekuatan fisiknya sama dengan ketika dia masih menjadi manusia.
3. darah merupakan makanan dan sumber nutrisinya.
4. tidak bisa hidup dibawah sinar matahari.
5. berumur panjang dan awet muda selama dia terus mendapat pasokan darah.

nah, bagaimana pendapat kalian? bagus? lumayan? jelek? jelek sekali?
(Btw, klo tanya seperti ini OOT ga ya?)
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 02, 2008, 04:25:31 pm
________________________________________
Mak, semua udah bagus, tapi baru separuh bagus. [thumbsup]
Untuk menjadi bagus, harus disempurnakan dengan setting yang memuat karakter-karakter tersebut, yang mendukung interaksi masyarakat vampir ini sehingga cerita yang kamu karang bisa berlangsung lancar dan believable. Kalo menurut saya, tanpa dukungan setting yang pas, karakter-karakter ini kurang bisa berkembang secara maksimal.
Segitu aja dulu, kita tunggu konsep lanjutannya :)
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on July 03, 2008, 08:26:14 am
________________________________________
Mak, ide apa pun pasti bagus. Yang penting adalah pewujudannya. Kalau bisa menjalin semuanya dalam cerita dengan pas dan sampai ke pembaca secara tepat pula, pastilah bakalan oke! [thumbsup]
Udah baca the historian-nya elizabeth kostova belum? Itu buku juga tentang vampir. Katanya sih salah satu buku tentang vampir terbaik yang pernah ada.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on July 03, 2008, 03:46:55 pm
________________________________________
@makmak
yap, idenya sih udah asik mak, ada sistem pengkastaan vampir gitu, tapi kayaknya masi ada celah di sini:
Quote
yang pertama, saya beri nama Origin Vampire (Native)
ciri-ciri:
1. merupakan keturunan dari origin vampire yang lain (kalau ayahnya origin vampire, ibunya origin vampire, maka anaknya juga origin vampire)
2. bisa hidup dibawah sinar matahari meskipun kekuatannya akan menurun drastis.

nah, kalo kasusnya ayahnya origin vampire, ibunya non-origin vampire, anaknya masuk klasifikasi vampire yang mana donk(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)
terus gw juga mengharapkan ada penjelasan logis kenapa tipe Origin Vampire ini bisa tahan sama sinar matahari–karena konsep ini bener2 menyalahi aturan terdasar dunia per-vampir-an (halah ;D), di mana seharusnya semakin ‘pure’ kadar ke-vampir-an seorang vampir, maka semakin gak tahan pula dia sama sinar matahari.
(gw pikir konsep vampir takut matahari ini murni berasal dari pengetahuan tentang kebiasaan kelelawar yang selalu ngumpet di tempat tertutup pas siang hari)
kalo di film Blade (yang jagoannya mirip tukul(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)), ada penjelasan logisnya kenapa si Blade yang notabene juga termasuk vampir ini bisa tahan sama matahari: sewaktu ibunya lagi mengandung, ibunya digigit vampir, maka lahirlah si Blade–dengan perpaduan DNA manusia dan vampir. nah DNA manusia dalam diri Blade menyebabkan dia terlahir sebagai day-walker (tahan sama sinar ultraviolet), juga kebal sama material perak dan bawang putih, sementara DNA vampir menyebabkan Blade memiliki kekuatan super seorang vampir–dan malah melebihi vampir kebanyakan. singkatnya, Blade dapet semua keuntungan manusia dan vampir.

maksud gw, kalo ente mau bikin cerita vampir, idealnya sih sebisa mungkin menuruti semua referensi dunia per-vampir-an umumnya. Kalopun terpaksa melanggar satu-dua pakem yang ada, ente harus menyertakan alasan dan logika yang relevan dengan rules yang berlaku dalam dunia vampir ente. :)
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 03, 2008, 05:21:26 pm
________________________________________
di Blade Trinity (sekuel ketiga ya?) ada tokoh musuh yang menyebut dirinya sebagai the first vampire, king of gnome (dia yang pertama… halah…), dan seperti daywalker dia juga gak masalah kena sinar matahari, tapi gua gak ngerti kenapa bisa begitu. gua nontonnya gak konsen sih…
lebih baik emang seperti kata rey, lebih diperkuat lagi alasan-alasannya, mak, supaya ceritamu juga bisa lebih kuat.

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XVII (25 Jun 2008 – 26 Jun 2008)

  • Plot dan karakterisasi di novel fantasi barat
  • Bagaimana seharusnya fiksi ilmiah
  • Seperti apa ending yang bagus dan bikin greget

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on June 25, 2008, 08:59:22 am
________________________________________
Nih topik gw pindahin ke tempat yang seharusnya deh:
Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:22:23 am
terus terang, sekarang ini gw lagi penasaran banged ama judul2 fantasi barat kayak: septimus heap (ini seri Flyte yak?–clikdian pernah ngerepiu kalo gak salah), artemis fowl, stardust, bartimeus trilogy, balthasar oddisey, golden compass. seru2 gak, fred? minimal, apakah punya greget dan kekuatan plot yg sama kayak Da vinci Code? kalo liat kovernya yg memikat daku cukup ngiler.. tapi rada2 kapok gara2 pengalaman baca novel2 barat sebelumnya itu.

Kalau nebak2 dari selera loe, rey, loe gak akan suka sama golden compass dan stardust. Judul sisanya, gw blom baca (udah berbulan-bulan gak baca buku fantasi… :-[).
Loe suka da vinci code dan prison break mungkin salah satunya dari faktor tema konspirasi kali ya?
Di situ emang bagian serunya da vinci code, dan kenyataan bahwa robert langdon mencoba menguak rahasia penting yang akan mengubah dunia (sambil pake acara dikejar-kejar segala) adalah faktor gregetnya; sesuatu yang... OH! TERNYATA GITU!!! ;D
Da vinci code juga menang di riset. Tapi kalau soal plot, menurut gw da vinci code pun masih mudah ditebak. Angels and demons plotnya lebih rapi.

Nah, kalau bicara tentang aspek kejutan di akhir itu, contohnya di novel fantasi yang paling gampang ya harpot. Setiap buku punya kejutan sendiri (kecuali buku 5 dan 7 yang gagal). Khususnya plot di buku 3, 4, dan 6 bener2 rapi dan greget.

Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:22:23 am
kalo yg gw dapet dari baca novel2 itu, menurut gw pengarang2 barat itu ciamik banged dalam menciptakan setting, naming, ama detil2 buat dunia rekaannya, tapi agak payah di karakterisasi ama kekuatan plot.
Kalau novel fantasi luar untuk dewasa yang karakterisasi-nya top dan plotnya juga bagus adalah serial Sword of Truth-nya Terry Goodkind (#1 New York Times Best Seller). Entah kenapa gak diterjemahin ke bahasa indonesia, padahal udah diterjemahin ke banyak bahasa lain. Mungkin karena terlalu dewasa (ada sejumlah adegan berbau pornografinya) atau memang karena terlalu tebel, jadi gak ada penerbit lokal yang berani nerbitin? Meski nanti bakalan ada film seri-nya di Hollywood pun (diambil dari buku 1), gw tetep gak yakin bakal diterjemahin juga ke bahasa indo.
Kalau mau liat, nih official site-nya: www.terrygoodkind.com (http://www.terrygoodkind.com)

Kalau fantasi lokal yang karakterisasi dan plot-nya bagus ya udah pasti novel gw dong! ;D
(*narsis mode: on!*)

Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:22:23 am
kalo bagi gw pribadi sih, prolog lemures udah keren pun [biggrin]
mungkin masalah selera kali yak? si hege juga antipati banged ama lemures(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
tapi kalo lu mau coba menilai tulisan gw dari sudut pandang lain, mungkin bisa coba jajal “Tangerine’ gw (biasanya orang yg gak demen lemures malah suka ama tangerine gw–padahal sama2 sok nyastra dan bermetafora ria :D ):

http://kemudian.com/user/loki

(cari aja link ceritanya di page itu)

Gw gak bisa buka k.com! [hammer]
Gak bisa pula install browser opera atau firefox karena harus ada password admin-nya…

________________________________________
Post by: fr3d on June 25, 2008, 11:05:47 am
________________________________________
Aneh, tadi gw berhasil buka 2 halaman tangerine-nya rey di k.com (prolog dan quest 1) sebelum akhirnya bug-nya situs itu mulai bekerja dan mengacaukan seluruh tampilan browser iexplorer gw… ???
Dari hasil baca 2 halaman itu, kalau dibandingin sama prolog lemures, jelas lebih bagus tangerine lah! ^-^
Soalnya di tangerine, bahasa kiasannya pas a.k.a. kena pada tempatnya. Tapi, sama kayak lemures, dari sedikit halaman itu, blom ada bayangan juga ceritanya tentang apaan.
Btw, rey, gw mau nambahin saran tentang lemures.
Menurut gw bagusan judulnya balik jadi lemuria aja, jadi bisa langsung dikaitin sama legenda lemuria (menurut gw, ini malah bagus, langsung straight to the point).
Terus, kalau loe belum melakukan ini, pas kirim ke penerbit, kirim juga hasil riset loe tentang legenda lemuria di dunia kita (2 atau 3 halaman cukup). Jangan lupa kasih narasumber, pendapat si A atau B, dsbnya. Dengan begini, mungkin penerbit bisa tertarik sama kisah di balik kisah karya ciptaan loe sehingga mereka berani berinvestasi pada seorang bernama Rey L. Tentunya lemures/lemuria masih tetep harus lewat proses editing dulu yang mateng oleh seorang editor.
:)
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on June 25, 2008, 12:57:54 pm
________________________________________
@om pur,
Quote
Gini aja deh,…. apa yang akan elo katakan mengenai ‘ilmuwan’ yang mengatakan dapat mengubah besi menjadi emas, tapi ngga bisa menjelaskan prosesnya? Lalu saat dikonfrontir, ilmuwan itu ngotot mengatakan bahwa ini adalah sebuah temuan ilmiah!
Orang yg ngerti apa yg disebut ilmiah, kan langsung menghela napas. Gimana ya ngasih tahunya?

oow, ilmu yg mempelajari bagaimana cara mengubah besi (lebih tepatnya timah) jadi emas itu istilahnya alkimia, daripada ‘ilmuwan’ tuh orang lebih tepat disebut ‘alkemis’, kali yak?
wah rekayasa genetika, daku dulu pernah jajal coba bikin thriller temanya gini juga, tapi gagal di tengah jalan karena kurang modal riset, kurang modal wawasan dan referensi pulak. (tapi bakalan seru tuh kalo jadi, idenya sih ttg orang2 yg punya skill telekinetik, skill pyrokinesis, anak2 indigo)
bikin novel sci fi jauh lebih menguras tenaga daripada bikin novel fantasi, in my experience :D
idealnya, yang disebut ‘fiksi ilmiah’ itu yg kek gimana sih bos? apakah yg cuma bertaburan istilah2 ilmiah di seisi novel, atau yg mengandung hipotesis2 rumit/kreatif ttg bidang ilmiah yg digarapnya? atau yg cuma sekedar ‘imajinasi liar’ kayak tentang orang kawin silang ama kuda mentek jadi centaur, gitu? ???

@fred,
Quote
Loe suka da vinci code dan prison break mungkin salah satunya dari faktor tema konspirasi kali ya?
Di situ emang bagian serunya da vinci code, dan kenyataan bahwa robert langdon mencoba menguak rahasia penting yang akan mengubah dunia (sambil pake acara dikejar-kejar segala) adalah faktor gregetnya; sesuatu yang… OH! TERNYATA GITU!!!

yep. pada prinsipnya gw suka plot yang cerdas, dan sarat greget.. dan gw juga suka ide2 kreatif yg orisinil. konspirasi? mungkin juga sih. tapi bukan itu poin utamanya. buktinya, gw pun bisa terpikat sama jalinan plot spiderman (yg movie yak).
ah ya, ironi. itu dia. gw suka cerita2 yg mengandung ironi: kayak ironi bagaimana kawan menjadi musuh dan musuh menjadi kawan di prison break pas tiap pergantian season, kayak ironi gimana peter parker harus menyembunyikan jati dirinya dari sahabatnya sendiri–harry osborne–karena si harry salah paham ngira spiderman bunuh bokapnya, kayak ironi gimana Teabing ngirimin hadiah patung antik ke Jacques Sauniere yang ternyata digunakan buat mengintai (eniwei gw lebih suka plot DVC daripada angels and demons :P ).

ya itu lha, betapapun suatu plot ditulis dengan rapi dan sarat intrik, kalo cuma dipaparkan begitu saja ke pembaca tanpa adanya ‘pesan terselubung’ supaya kita bisa menebak2 jalan ceritanya ke depan bakal kayak gimana, bagi gw plot itu standar aja.

dan gw juga mengharapkan suatu penyelesaian konflik yang memuaskan (atau setidaknya kreatif/tak disangka2). Kalo konflik finalnya ttg suatu perang akbar atau ‘final fight’, kumohon jangan bikin klimaks pertempuran ala RPG di mana antagonis/si biang konflik bakal ditaklukkan dengan kekuatan bulannya si protagonis(udah kek sailormoon :D ). kalopun terpaksa pake formula gitu, sajikanlah dengan gaya yang ‘gak biasa’. maksud gw, ciptakanlah suatu kondisi/result yang sama sekali gak bakalan diperkirakan oleh pembaca. daripada bikin ending vulgar di mana si antagonis tewas mengenaskah dengan kondisi berdarah2 setelah kalah bertarung, gw lebih prefer kondisi2 laennya yg mengandung ironi kayak si antagonis jadi ‘kecele’, atau ‘malu’, atau something yg lebih worthed untuk kejahatannya daripada ‘cuma’ kena vonis mati.
ah susah jelasinnya, konflik final lemures gw beginipun buat buku pertamanya :-[, biar om Pur yang menilai segimana level ancurnya :D
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 25, 2008, 01:51:17 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:57:54 pm
@om pur,
wah rekayasa genetika, daku dulu pernah jajal coba bikin thriller temanya gini juga, tapi gagal di tengah jalan karena kurang modal riset, kurang modal wawasan dan referensi pulak. (tapi bakalan seru tuh kalo jadi, idenya sih ttg orang2 yg punya skill telekinetik, skill pyrokinesis, anak2 indigo)

Kalo ngomongin rekayasa genetika, memang ga boleh assal, sebabnya biarpun riset mengenai pengaruh gen terhadap manusia belum terkupas habis (masih banyak misteri), tapi tetep aja ada batasan-batasan yang harus diperhatikan dalam membuat spekulasi mengenai fiksi-fiksi genetikaiyah :) . Contohnya, berkat rekayasa genetik, seseorang bisa terbang kayak gatotkaca, atau bisa nembus tembok, atau telekinesis (kayak-kayak pelem heroes).
Well, apakah mungkin sistem genetik mempengaruhi sesuatu yg ngga ada kaitannya sama fisiologi tubuh? Sebab cara kerja gen adalah memberi informasi (blueprint) kepada sistem sel, untuk kemudian sistem sel membelah diri (berkembang) memenuhi fungsi tertentu (membentuk jantung, membentuk otot, dll). Artinya kemampuan ekstra apapun yang dimiliki manusia tersebut harus bisa dijelaskan pertama-tama dari kemampuan level cellularnya dulu.
Misalnya mo pake plot rekayasa genetik yang menyebabkan seseorang menjadi ekstra genius, itu mungkin, sebab genius adalah fungsi dari sel-sel otak. Tapi kalo rekayasa genetik supaya bisa terbang kayak gatot kaca atau Nathan Petrelli (Heroes), ya harus jelas dulu aspek apa dalam sel manusia yang bisa bikin manusia (mampu) terbang? Kalo menurut gue, paling banter orang tumbuh sayap dulu, baru bisa terbang berkat rekayasa genetika. :)

Quote
bikin novel sci fi jauh lebih menguras tenaga daripada bikin novel fantasi, in my experience :D

he he he,.. it's a matter of akses. Kalo lo punya akses ke data-data ilmiah yang tepat, maka sesungguhnya bikin sci-fi itu relatif lebih ringan dibanding fantasy. Soalnya lo punya basis logika yang jauh lebih terbackup oleh dunia ilmiah yg ada, yang di setiap sudut udah saling mengcover. Beda dengan dunia fantasy dimana elo hrs bisa cover all the bases sendiri.

Quote
idealnya, yang disebut 'fiksi ilmiah' itu yg kek gimana sih bos? apakah yg cuma bertaburan istilah2 ilmiah di seisi novel, atau yg mengandung hipotesis2 rumit/kreatif ttg bidang ilmiah yg digarapnya? atau yg cuma sekedar 'imajinasi liar' kayak tentang orang kawin silang ama kuda mentek jadi centaur, gitu? ???

fiksi ilmiah itu kan awalnya muncul dari literacy di kalangan akademisi, yg memasukkan unsur-unsur science dalam plot novel. Perbedaannya dengan sebuah karya ilmiah, adalah dalam fiksi ilmiah tidak diperlukan suatu sistematika untuk terjadinya pembuktian hipotesis. Dengan demikian fiksi ilmiah biasanya menerapkan sebuah teori atau spekulasi yang sudah diakui secara akademik dalam sebuah plot cerita. Sementara kalo skripsi/ thesis kan penuh pertanggung-jawaban ilmiah untuk mengatakan bahwa hipotesa nol tidak terbukti (hehehe, inget skripsi jaman dulu, bo!)
Kalo mo bicara fiksi ilmiah yg murni, gue rasa adalah karya-karya yang hanya 'kena' di pikiran para profesor2 itu :) Lha sekarang kan ada fiksi ilmiah populer, untuk orang kebanyakan :P Di sini sebetulnya pengarang menceritakan sebuah cerita biasa, namun dibumbui oleh teori-teori ilmiah.
Tapi yang jelas, walaupun niatnya bikin fiksi ilmiah populer, tetep aja pengarang jangan sampai terlalu ngawur membuat spekulasi. Seperti kawin silang manusia sama kuda jadi centaur [hammer]. Kalau menurut gue, setidaknya pengarang harus bisa membuat penjelasan yang masuk akal secara ilmiah untuk fenomena-fenomena yang ditulisnya itu.

(BTW, gue udah kelar baca Lemures, dan kalau angle ilmiah yang dikeluarin oleh tokoh Guillarde itu bener-bener sesuai text book, gue rasa novel elo juga cukup pantas di sebut fiksi ilmiah, terutama untuk sisi ilmu biologi-nya :)

Quote
biar om Pur yang menilai segimana level ancurnya :D

ancur??? sebenernya sih, sebuah cerita yg mengasyikkan. tapi memang perlu diulik-ulik lagi. masukannya menyusul, deh.
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on June 25, 2008, 02:07:16 pm
________________________________________
@om pur,
bused cepet banged, udah kek penerbit jogya yg nolak naskah gw dalam 10 hari, keren :-X
yg paling bikin ane miris buat style plot lemures itu terlalu stereotip fellowship of the ring–mungkin ini yg paling bikin lemures dipandang tak layak terbit.. (walaupun di cerita sama sekali gak pake sihir, gak pake orc, gak pake elf, gak pake dwarf), kira2 ada ide gak om gimana caranya biar gak terlalu LOtR?
terus terang waktu pertama kali nulis (3thn lalu) ane lg tergila2 ama epik LOtR, maka berujung kerangka lemures lotr banged gitu.. duh jadi frustasi.
oke ditunggu bayaran dari ente bos, gak terima ‘duid recehan’ pokoknya ane! [biggrin]

@fred,
gw udah pernah nyoba pake formula yg lu sebutin itu, tapi kayaknya jadi berkesan agak bertele2 padahal maunya penerbit kan cuma tauk isi cerita dan jalinan plot dalam buku itu kek gimana..
terus ada juga formula yg nyuruh nyebutin keunggulan kompetitif isi novel kita itu apa aja, kalo gini kan gw bingung: apa yg gw anggap unggul belum tentu unggul bagi org laen.. gaya bahasa yg ribed itu contohnya. di k.com menuai compliment, disini menuai makian :-\
mana tauk gw selera orang :P
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 09:01:00 am
________________________________________
@Bloodsin
Quote
dan gw juga mengharapkan suatu penyelesaian konflik yang memuaskan (atau setidaknya kreatif/tak disangka2). Kalo konflik finalnya ttg suatu perang akbar atau ‘final fight’, kumohon jangan bikin klimaks pertempuran ala RPG di mana antagonis/si biang konflik bakal ditaklukkan dengan kekuatan bulannya si protagonis(udah kek sailormoon ). kalopun terpaksa pake formula gitu, sajikanlah dengan gaya yang ‘gak biasa’. maksud gw, ciptakanlah suatu kondisi/result yang sama sekali gak bakalan diperkirakan oleh pembaca. daripada bikin ending vulgar di mana si antagonis tewas mengenaskah dengan kondisi berdarah2 setelah kalah bertarung, gw lebih prefer kondisi2 laennya yg mengandung ironi kayak si antagonis jadi ‘kecele’, atau ‘malu’, atau something yg lebih worthed untuk kejahatannya daripada ‘cuma’ kena vonis mati.

Ending yang bagus dan bikin greget itu seperti apa yah?
Apa yang difinish secara tuntas setuntas2nya ampe ceritain masa depan tokohnya udah hidup dengan dmai dan happy ending?
Apa ky film horor yang pada akhirnya hantu/masalahnya ga pernah mati, dan tetap merajalela?
Atau lo demen tuh ama ending2 yang memancing teriakan kesel penonton? Contoh versi acceptablenya ky Hunterxhunter greed Island final dimana pada akhirnya Gon-nya ga jelas ketemu bapaknya atau org lain. (yg belakangan gw baca komiknya ternyata bukan bapaknya). Sampai ke yang bikin orang maki2 karena sudah ngalemin segitu banyak petualangan, ngumpulin puluhan artifak, sampai akhirnya karakter kuncinya dengan entengnya bilang ” ini semua tak pernah terjadi, hanya mimpi” *anjriitt ngeselin banget*
So? exactly what kind of ending did you wish for?
________________________________________
Post by: BloodSin on June 26, 2008, 10:28:29 am
________________________________________
@om pur,
Quote
Yg bilang kayak Fellowship LOTR siapa, tuh?

Menurut gue sih, malah lebih ke arah adventure ala Indiana Jones. What do you think?
frame ceritanya yg terlalu LOtR: perjalanan serombongan orang untuk membuang/mendapatkan benda tertentu dalam rangka menyelamatkan dunia…. (see? sekarang baru nyadar kan LOtR banged(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))
kalo spirit sih emang indiana jones, heheheh :D
‘fisik’ dari ceritanyalah yg ane pusingin, sama kayak si Jeff yg lagi berjuang ngapus style RPN dalam novelnya.

dan itu, aroma ‘fiksi ilmiah’ dan gaya ‘spiritual’ dalam Lemures, ane bikin bukan buat sok pamer ilmu biologi dan berfilosopi ria, tapi semata2 cuma buat meng-kover frame fellowship LOtR-nya, mengalihkan pikiran pembaca biar gak memvonis lemures terjebak sterotip penulis indo kebanyakan (yg entah bergaya harpot, narnia, atau LOtR), entah siasat ini berhasil apa kagak. ah eniwei, ane mau nanya, apa ada cerita laen yg punya format LOtR gini selain LOtR sendiri dan game2 RPG?
kalo Eragon, journey-nya dilatarbelakangi dendam.
kalo Narnia, journey-nya gara2 kejebak dalam dunia paralel.
kalo Ledgard, journey-nya buat menghimpun kekuatan pasukan perang.
nah… kalo Skinheald-nya Ataka, kaya gimana tuh?

Quote
OK, mumpung elo mention, gue pengen informasi dari elo, lemures ini kira-kira mau diposisikan sebagai cerita dewasa atau remaja? Menurut gue dalam ramuan plotnya yang sekarang lemures lebih cocok novel remaja. Tapi kalo elo berambisi untuk membuat kompleksitas konfliknya lebih ‘dalem’, maka segmennya jadi agak naik menjadi dewasa/ muda.
Yg elo tuju yang utama yg mana? Nanti terkait sama masukan gue, sih. more or less.

segmen pembacanya sih niatnya remaja ke atas (>14 tahun), mencakup dewasa muda (25-30an), kira2 anak smp bakal ‘dapet’ gak yah baca Lemures (apalagi selewat bab 1-2 :-X)? maksudnya, bukan ‘dapet’ isi ceritanya, tapi pesan2 dalam ceritanya. apakah gak terlalu berat buat mereka part tentang ‘petunjuk semesta’ itu?
karena tema utama dalam lemures bukan lagi sihir dan pertarungan antara good vs evil, dan remaja biasanya lebih terpikat ke cerita2 yg lebih imajinatif semacam harpot, yg jelas2 menekankan tema good vs evil. tema kayak biologi dan ekologi itu misalnya, nyambungkah ke pemahaman pembaca remaja yang bahkan baru diajarin begituan di sekolah? :D
sebaliknya kalo buat dewasa muda, apakah 2 karakter protagonis utamanya (Larke–16thn & Fly–19thn) terlalu ‘kemudaan’? padahal tema2 dalam dialog mereka udah ane pikirin sedemikian rupa supaya gak terlalu berkesan remajaish, tapi emang cenderung lebih enteng daripada dialog Levantine, Kain, & Guillarde.
atau semestinya, background cerita kudu dibikin lebih suram & darkish kayak Pans Labiryn yak? Pans Labirin itu kayaknya nempel di dewasa muda cuma gara2 unsur kesadisannya doank, padahal kalo mau diliat dari segi cerita mah, kagak rumit2 amat. tokoh utamanya pun perempuan cilik.
menurut ane kompleksitas cerita pun masih bukan tolak ukur buat menentukan segmen pembaca. selama ini ane malah lebih berpegang ke tema cerita dan gaya dialog.

kalo ente pernah nonton naruto, pasti paham deh kalimat ane di atas (btw ane prihatin banged hari minggu kemaren ngeliat bocah balita pake kaos Naruto T_____T–padahal kompleksitas plot naruto bahkan 3x lipet rumitnya dari lemures :D )

yah… ane tunggu tanggepan ente dah, sekalian jawab 2 pertanyaan kontradiktif ini (huahahah ;D) buat masukan nanti:
1. mana bagian dalam lemures yg ngebikin dia lebih cocok buat remaja? (selain kompleksitas ceritanya yg cenderung ‘enteng’ itu)
2. mana bagian dalam lemures yg udah pas kalo emang niatnya ditujukan buat dewasa muda?
bikin review-nya nyantei aja bos, dipersilakan buat bersemedi dulu kayak waktu bahas prolog kemaren, biar mantap punya hasilnya [thumbsup]

note:
thank u for reading anyway [biggrin], tak menyangka lemures bisa dilumat secepet itu, padahal sudah teruji tak layak baca (4x) di mata penerbit :-X
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: cheppy70 on June 26, 2008, 11:11:00 am
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 09:01:00 am
Sampai ke yang bikin orang maki2 karena sudah ngalemin segitu banyak petualangan, ngumpulin puluhan artifak, sampai akhirnya karakter kuncinya dengan entengnya bilang ” ini semua tak pernah terjadi, hanya mimpi” *anjriitt ngeselin banget*

Grrrrr,… kalo sampe berani-beraninya elo bikin yg kayak gini, gue tuemmbbaak! [ranting]
;D ;D ;D

Quote
So? exactly what kind of ending did you wish for?

Ending yang membuat gue merasa waktu yg sudah gue luangkan untuk membaca is worth it.
Dan itu biasanya gue dapatkan dari bangunan universe yang kukuh solid, plot yang tertata masuk akal serta mampu membawa emosi gue dalam sebuah joy ride, dan ‘manfaat intrinsink’ yg mungkin terinspirasikan oleh cerita tersebut.
Salam,
FA PUrawan
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 11:30:04 am
________________________________________
hehe… banyak tuh penulis anime yang bisa om tembak :D
Code geass aja rasanya pengen gw tembak waktu dia mengakhiri season 1 nya ditengah2 action 2 org sahabat sekaligus rival saling tembak. Anjriittt.. ga sopan banget motong ceritanya >.<

Quote
Ending yang membuat gue merasa waktu yg sudah gue luangkan untuk membaca is worth it.
Dan itu biasanya gue dapatkan dari bangunan universe yang kukuh solid, plot yang tertata masuk akal serta mampu membawa emosi gue dalam sebuah joy ride, dan ‘manfaat intrinsink’ yg mungkin terinspirasikan oleh cerita tersebut.

kl gw pribadi sih lebih seneng ending yang bener2 settle down, biar ga ada perasaan ngeganjel. Tapi happy ending sampe ke anak cucu udah ga jaman. Ending ngegantung juga ngeselin. Gw sendiri mungkin bakal bikin ending2 ala gundam seed. (feeling yang mirip). settle pada point dimana mereka sadar perang yang mereka lakukan bertahun2 ga ada artinya. Ending samurai 7 juga aga miris nontonnya dan gw cukup suka ending seperti itu. Dimana si katsushiro yg awalnya anak baik2 maksa pengen ikut perang dan pada akhirnya jadi samurai hebat cuman udah ga ada tampang bahagiannya lagi. dia ngucapin “can you smell the scent of war from me now?” dgn tatapan kosong gt, keren gw suka walau ga special2 amat.
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 26, 2008, 11:58:30 am
________________________________________
Quote
dan itu, aroma ‘fiksi ilmiah’ dan gaya ‘spiritual’ dalam Lemures, ane bikin bukan buat sok pamer ilmu biologi dan berfilosopi ria, tapi semata2 cuma buat meng-kover frame fellowship LOtR-nya, mengalihkan pikiran pembaca biar gak memvonis lemures terjebak sterotip penulis indo kebanyakan (yg entah bergaya harpot, narnia, atau LOtR), entah siasat ini berhasil apa kagak.

Sebenernya penyisipan biologi adalah satu langkah yang baik untuk memberikan warna dan keunikan dalam cerita elo. Tapi buat gue tetap ada ganjalan ketika istilah yg elo gunakan adalah istilah-istilah nama latin standar, sementara gue belum bisa menemukan kaitan universe elo dengan universe standar bumi.
Untuk nuansa ‘spiritual’, hehehe, jujur aja gue sendiri baru-baru ini memasukkan hal yang sama ke dalam PG! Pas gue baca insightnya si Larke tentang bunga2 Hypnolia dama Cemara Tua itu, gue jadi ngakak! Ternyata vibrasi kita sama, tuh Rey :) Gak heran kalau alam semesta mempertemukan kita (busyet, spiritual banget dah!).

Quote
ah eniwei, ane mau nanya, apa ada cerita laen yg punya format LOtR gini selain LOtR sendiri dan game2 RPG?
kalo Eragon, journey-nya dilatarbelakangi dendam.
kalo Narnia, journey-nya gara2 kejebak dalam dunia paralel.
kalo Ledgard, journey-nya buat menghimpun kekuatan pasukan perang.
nah… kalo Skinheald-nya Ataka, kaya gimana tuh?

Skinheald ya tentang perburuan pedang Skinheald di bukit apa gitu. Sama aja dengan setting elo, sebenernya.
Sebenernya sih, seni journey novel itu kan terletak pada komposisi party yang berangkat di awal, dan bagaimana komposisi itu berinteraksi selama perjalanan. Drama antar karakter yang terjadi apa, dan perkembangan karakternya bagaimana sebagai akibat dari interaksi dan petualangan itu. Nah aspek pengembangan karakter ini, nih, kayaknya masih banyak yg belum mengolah. Kulihat kebanyakan tokoh, antara awal dan akhir cerita karakternya masih sama aja, paling cuma ada sedikit pengembangan. Di lemures kecenderungannya juga masih begitu.

Kalo di LOTR, setiap karakter nyaris berubah total. Kalo gak salah inget, Frodo menjadi lebih memahami tujuan hidup dan perilaku Bilbo (sehingga relasinya dengan Bilbo menjadi lebih baik), Sam memahami arti pengabdian seutuhnya, Merry berubah menjadi lebih wise dan mendalami kepemimpinan, kalo ga salah kan kelak dia menjadi pemimpin Shire, dan Pippin menjadi salah satu ksatria Gondor (kayaknya ada peran lebih, tapi gue lupa).
Tapi perubahan klasik yang paling sering diberlakukan terhadap karakter-karakter utama, adalah ‘mengalahkan own demon’, alias mengatasi kelemahan diri sendiri. Contohnya si Aragorn yang berhasil mengalahkan keraguan dirinya dan tampil sebagai Raja Gondor sejati.
Jadi plotting dalam journey novel ini seyogyanya berpedoman pada proses pembentukan karakter para tokoh tersebut. Makanya kalau lihat sebuah novel journey yang cuma ada berangkatnya kemudian ada sampai di tujuan lalu selesai, akan terasa ga ada gregetnya.

Quote
karena tema utama dalam lemures bukan lagi sihir dan pertarungan antara good vs evil, dan remaja biasanya lebih terpikat ke cerita2 yg lebih imajinatif semacam harpot, yg jelas2 menekankan tema good vs evil. tema kayak biologi dan ekologi itu misalnya, nyambungkah ke pemahaman pembaca remaja yang bahkan baru diajarin begituan di sekolah? :D
Jadi tema utamanya apa? Gue jg belum nangkep loh :P

Quote
menurut ane kompleksitas cerita pun masih bukan tolak ukur buat menentukan segmen pembaca. selama ini ane malah lebih berpegang ke tema cerita dan gaya dialog.
Maksud gue dengan kompleksitas adalah jalin menjalin plot yang berseliweran untuk membangun cerita. Semakin kompleks, semakin dalem motifnya, tentunya menjadi menu pembaca yang lebih dewasa. Kalo di lemures, plottingnya belum terlampau kompleks juga, walau gue merasakan bahwa elo akan membawanya menjadi lebih kompleks dalam sekuel-sekuelnya.

Quote
1. mana bagian dalam lemures yg ngebikin dia lebih cocok buat remaja? (selain kompleksitas ceritanya yg cenderung ‘enteng’ itu)

Well, motivasi grup berangkat hanya untuk sebilah busur, faktor-faktor alami yang menghalangi perjalanan, ‘singkatnya’ perjalanan, problem solving, komposisi tokoh yang ‘a-seksual’,

Quote
2. mana bagian dalam lemures yg udah pas kalo emang niatnya ditujukan buat dewasa muda?

Konflik politik, setting peperangan, plotting penculikan dll serta misteri dibelakangnya, siapa aja yang bermain, tokoh Esther sebagai femme-fatale

Quote
thank u for reading anyway [biggrin], tak menyangka lemures bisa dilumat secepet itu, padahal sudah teruji tak layak baca (4x) di mata penerbit :-X

menurut gue sih (perkiraan), ketidak layakan terbit nya lemures bukan karena gak layak baca, melainkan opening yang kurang menjual, serta gaya bahasa yang juga kurang menjual, serta kurang tegasnya tema yang mau dipropose oleh pengarang.
More on this, later deh.
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on June 26, 2008, 02:35:41 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 09:01:00 am
Ending yang bagus dan bikin greget itu seperti apa yah?

ending yg bagus itu relatif bagi tiap pembaca. kebanyakan pembaca lebih suka ama good ending: tokoh utamanya jadi raja atau kawin sama puteri jelita atau hidup bahagia selamanya. wajar sih, gw juga lumayan suka, asal eksekusinya gak klise.
tapi berhubung lu nanya ke gw, maka akan gw jawab berdasarkan selera pribadi gw :P

bagi gw, ending yg bagus itu adalah ending yang bisa ngebikin pembaca merasakan suatu sensasi bunyi “Klop” di benaknya waktu ngebaca kalimat terakhir cerita. Ibaratnya, bunyi dari sebuah kunci yang dipake buat ngebuka peti harta karun. Cerita itu tepat diakhiri ketika peti hartanya hendak dibuka. Jadi nantinya, bukan pengarang yg cape2 mendeskripsikan kayak gimana wujud harta karun itu, tapi imajinasi sang pembaca sendiri.
Atau kalo kagak, ending yg bisa membawa pembawa pada suatu level pemahaman tertinggi atas jalinan plot di sekujur tubuh buku. (Jenis ending ini biasanya ngebikin pembaca berkomentar semacam: “Oh, ternyata selama ini begitu toh! Pantesan aja selama ini dia demen ngupil, blablabla…”) Nah, Da Vinci Code boleh jadi contoh.
Atau kalo kagak, ending yg bisa memancing spekulasi, kayak Life of Pi.
Atau kalo kagak, ending yg bisa ngebikin pembaca nyengir lebar, kayak Laskar Pelangi.
Atau mungkin, ending yg bisa ngebikin hati pembacanya getir kayak Sang Penandai?
Sekali lagi, ini relatif. ^-^
________________________________________
Post by: BloodSin on June 26, 2008, 10:49:05 pm
________________________________________
@om pur,
Quote
Maksud elo dari fisik cerita itu apa bisa diperjelas? Maksudnya gaya berceritanya, penggunaan bahasanya kah, etc?

fisik ceritanya ya stereotip tema journey-nya itu. ah tapi semenjak ente bilang frame kayak begini emang udah bentuk umum, ane jadi cukup lega, walaupun ane juga cuman bisa pasrah kalo ada penerbit yg pake alesan ‘frame klise’ kayak begitu buat nolak lemures..

Quote
Sebenernya penyisipan biologi adalah satu langkah yang baik untuk memberikan warna dan keunikan dalam cerita elo. Tapi buat gue tetap ada ganjalan ketika istilah yg elo gunakan adalah istilah-istilah nama latin standar, sementara gue belum bisa menemukan kaitan universe elo dengan universe standar bumi.

;D ;D ;D
berani taroan, apalagi kalo si fred yg baca beginian, pasti dia udah ngamuk protes jaman ancient lemures gitu mana udah ada istilah2 latinnya, secara penemu istilahnya aja belum lahir.. :D (era lemuria itu sekitar 20 juta tahun yg lalu di bumi)
terus ada juga bagian Guillarde nyebut ‘sekolah’, jaman batu gitu mana ada sekolahan ;D

begini, untuk kasus ‘logical mess’ yg satu ini, gw lebih menekankan pengetahuan bawah sadar pembaca buat hal-hal umum/spesifik yg udah lama terpatri di otaknya, misalnya ya istilah2 latin itu (setidaknya mereka pernah denger istilah2 latin itu waktu smp/sma, dan bisa segera tahu kalau di situ gw lebih merujuk ke pembahasan ilmiahnya, daripada ke dunia imajinasi lemures gw). masak gw harus satu-satu mengkonvert istilah latin itu ke istilah ciptaan gw sendiri sih? kan gak mungkin, lagian gw pikir pembaca juga seharusnya udah bisa ‘memaklumi’ sewajar-wajarnya dengan sendirinya.
kalo gak salah Tolkien bahkan ada nyebut kata ‘Natal’(dari Christmas) di buku pertama LOtR, padahal kalo mau dipikir2 istilah itu gak mungkin banged bisa ada di dunia LOtR.. tapi ya itu lha, kata ‘Natal’ udah terlanjur terpatri kuat di masyarakat Barat sebagai suatu tradisi keluarga yang mendarah daging, jadi Tolkien berani ngambil istilah itu buat dimasukkin ke LOtR. di bukunya, gw kira Tolkien lebih memposisikan ‘Natal’ sebagai suatu ‘istilah’ tradisi, bukan merujuk ke kelahiran Isa Almasih.
dan contoh lain, bisa liat film AAC, di mana ada dialog Maria dan ibunya (dalam keadaan privasi) pake bahasa indo, padahal mereka diceritakan sebagai orang Mesir.
disinilah yg namanya ‘pemakluman’ dari pembaca/penonton diminta oleh sang author, demi kemudahan memahami cerita seutuhnya.

Well, prinsip yang sama gw coba terapkan untuk pembahasan fenomena-fenomena ilmiah di Lemures; gw menempatkan istilah latin itu ya cuma sebagai ‘istilah’ aja, tanpa perlu memusingkan bagaimana latar belakang istilah itu di dunia kita.
nah, prinsip pemanfaatan bawah sadar pembaca (di mana akan memicu terbentuknya suatu pemakluman) ini juga gw terapkan buat culture dan naming French, West, dan Hebrew di Lemures.

Quote
Drama antar karakter yang terjadi apa, dan perkembangan karakternya bagaimana sebagai akibat dari interaksi dan petualangan itu. Nah aspek pengembangan karakter ini, nih, kayaknya masih banyak yg belum mengolah. Kulihat kebanyakan tokoh, antara awal dan akhir cerita karakternya masih sama aja, paling cuma ada sedikit pengembangan. Di lemures kecenderungannya juga masih begitu.

justru hal di atas itu kulakukan demi menjaga konsistensi sifat tokoh2nya, setidaknya hingga akhir buku satu. well, ane ngerti sih apa poin ente, makanya ane juga ada sengaja nulis beberapa paragraf ttg perenungan batin ‘si bocah’ mengenai petunjuk semesta itu, walau singkat. di bagian itu, ane emang bikin seolah2 dia baru ‘ngebuka’ matanya, dan kujanjikan sedikit-banyak perkembangan dirinya bakal mulai terlihat di sekuelnya. :)

Quote
Jadi tema utamanya apa? Gue jg belum nangkep loh

Tema utamanya yak apa yang menjadi quote utama buku:
There’s a hope in a journey, there I would place my struggle.(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)

Quote
Well, motivasi grup berangkat hanya untuk sebilah busur, faktor-faktor alami yang menghalangi perjalanan, ‘singkatnya’ perjalanan, problem solving, komposisi tokoh yang ‘a-seksual’,
Konflik politik, setting peperangan, plotting penculikan dll serta misteri dibelakangnya, siapa aja yang bermain, tokoh Esther sebagai femme-fatale

walah, kayaknya faktor2 penentu sasaran baca di atas cenderung berimbang, so i’ll simply let the public decide by theirselve (kalo terbit dan beredar di masyarakat nantinya–sekali lagi, kalo terbit :P )..

Quote
menurut gue sih (perkiraan), ketidak layakan terbit nya lemures bukan karena gak layak baca, melainkan opening yang kurang menjual, serta gaya bahasa yang juga kurang menjual, serta kurang tegasnya tema yang mau dipropose oleh pengarang.

gaya bahasa udah rapi jali, dan singkat jelas padat begitu masih kurang menjual(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)
ah pusing……
tema utama ceritanya emang rada2 absurd :D , kuakui itu, gak kayak LOtR yg simple2 aja: perjalanan buat memusnahkan cincin.
bah! tapi bukannya novel fantasi indo kebanyakan yg udah terbit pun punya tema cerita yg cenderung absurd?
(tapi eniwei mungkin inilah konsekuensi untuk novel yg terlalu banyak pake tema–epik petualangan, sci-fi, spiritual, dan sedikit romance(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/bolakbalik.gif))

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XVI (19 Jun 2008 – 21 Jun 2008)

  • Tentang draft Lemures karya BloodSin

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 19, 2008, 08:40:37 am
________________________________________
lemurianya sama kan ky yg di k.com?
yah komen gw masi sama, opening yang menggunakan kata ‘sang perawan’ trus ada ‘bibir kapak bertemu lidah pedang’ yang bikin gw ngakak bayangin aneh2 XD
Soal kesan RPN, engga terasa sama sekali, gw cuma minta lo ganti istilah bak supernova yang mengganggu itu. Btw jangan2 ceritanya ada semacam makhluk kegelapan terlepas dari segel trus hanya lima pendekar roh dalam legenda yang bisa segel dia kembali ? (kesan awal pas baca kebayangnya hal klise semacam ini yang akan membuat ceritanya berubah total ke arah RPN yang tipikal, correct me if I’m wrong)
Trus bahasanya puitis penuh metafora… btw musafir itu apa yah? Trus pada bilang ini cerita legenda Atlantis? Jadi ini cerita original atau mau remake legenda lama yg udah ada? Soalnya gw ga tau sama sekali tentang legenda atlantis.
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 10:20:20 am
________________________________________
Rey, comment-nya gw kirim aja ke e-mail ya, soalnya agak2 jahat… [biggrin]
Tapi, jujur, bukan karena dendam, lho! ;D
Btw, jadi sebenernya “Lemures” itu maksudnya apaan? Koq prolog-nya beda banget sama cuplikan yang waktu itu? Beneran, kayak 2 cerita yang beda sama sekali…
________________________________________
Post by: BloodSin on June 19, 2008, 02:04:54 pm
________________________________________
@jeff,
yap, prolognya masih sama, overall. :P
‘Lima Pendekar Roh’-nya udah gw ganti jadi ‘Lima Pendekar Arwah’ semalem. Kedenger lebih keren, somehow. *tiba2 jadi kepikiran Lima Pendekar Garuda-nya om Pur(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)*
dan sialnya gw belom nemuin metafora lain yg pas buat bunyi benturan dahsyat selain ledakan nova itu.. :’( ada yg bisa membantu? tapi kenapa sih lu bisa berpikiran ledakan supernova gak nyambung ama setting cerita? bagi gw nyambung2 aja ah.. :D
mahkluk kegelapan? ahahahah, lu tauk lha secara gw ini ‘berpakem realistis’, hal2 picis macam setan kegelapan, magic, konsep ‘titisan’, penyihir, monster yang bisa ngomong, gak bakalan ada di kamus gw. (kecuali di Tangerine (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))
alih2 menyajikan imajinasi fantasi liar yg ‘wah’, gw lebih mengandalkan dukungan riset, kekuatan plot, gaya bahasa, dan karakterisasi buat ngebikin pembaca takjub. yah.. setidaknya itulah yg kuusahakan sejauh ini, entah berhasil ato tidak pada kenyataannya.
eniwei serius jeff, lu gak tauk ‘musafir’ itu apaan(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif) Subhanallah, Gusti Allah-ku…

Quote
Trus pada bilang ini cerita legenda Atlantis? Jadi ini cerita original atau mau remake legenda lama yg udah ada? Soalnya gw ga tau sama sekali tentang legenda atlantis.

gw pake setting benua Lemuria (yg belakangan gw samarkan dengan ‘Lemures’–biar gak terlalu ‘picis’ :D ), dan ini sama sekali bukan remake legenda yg udah ada. gw cuma ngadop setting Lemuria itu, karena gw mau bikin cerita fantasi yg setting-nya daratan tropis. eniwei, ketik aja ‘Lemuria’ di google, dan liat brp banyak halaman yg muncul. :)

@fred,
ahahah beda yak? maksud lu gaya bahasanya kali yg beda? gw sih nyesuain gaya bahasa-nya tergantung lg kayak gimana adegannya.. kalo adegan biasa yg gak bakal gw bikin terlalu berbunga2 kayak di prolog..
komen begitu mah biasa aja bagi gw, gw pernah (cukup sering, malah ;D) ngalamin ‘neraka’ yang jauh lebih panas dari itu. [biggrin]
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 19, 2008, 02:15:30 pm
________________________________________
ah maaf kang Musafir Loki. Aku tidak mendalami ajaranmu… jadinya tidak tahu… kl gw tebak2 sih artinya sejenis crusader? hehe…
Btw, bak supernova, apakah dunia dalam Lumures mu itu org2nya familiar dgn kata itu? Peradaban dunia ini sudah sampai ke level mana? Jadi bahasa narasi juga harus disesuaikan dgn dunianya, atau paling tidak bayangkan salah satu karakter dalam dunia seperti itu berkata supernova. apakah terasa aneh? kl engga ya udah lanjutkan aja. Tp tiap gw baca pasti kesandung di supernova itu mulu huahua.
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 02:29:19 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 19, 2008, 02:04:54 pm
komen begitu mah biasa aja bagi gw, gw pernah (cukup sering, malah ;D) ngalamin ‘neraka’ yang jauh lebih panas dari itu. [biggrin]

Yaelah, rupanya udah sering terima komen “neraka”…
Pertanyaan besarnya adalah: Dikau mendengarkan gak komen2 itu? [hammer]
Komen2 itu sih memang bukan keharusan untuk diturutin, tapi, rey, komen2 itu sebenernya datangnya dari calon2 pembaca (bukan penulis, lho! ;) ).
Minimal, jadikan komen2 itu sebagai bahan analisis, bahan telaah, bahan riset.
Kalau ada orang yang protes, itu ya pendapat jujur (berhubung gw orang yang suka protes ;D).
Kalau gak ada masalah, buat apa protes kan?
Lain halnya kalau muji, karena kalau muji tanpa alasan, berarti ada maunya. [bigwink]
________________________________________
Post by: BloodSin on June 19, 2008, 02:37:40 pm
________________________________________
kan gw lagian juga kagak minta compliment elu fred, lu baca dah di pengantar email kiriman gw itu, malah gw mohon2 makian ama kritik kejam disitu.. [hammer]
gw bosen ama pujian (halah dah kek sering dipuji aja.. ;D) tidak menggairahkan lagi semenjak gw berubah jadi orang yg ‘realisitis’. ^-^
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 02:41:30 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 19, 2008, 02:37:40 pm
kan gw lagian juga kagak minta compliment elu fred, lu baca dah di pengantar email kiriman gw itu, malah gw mohon2 makian ama kritik kejam disitu.. [hammer]

True. Dan dikau mendapatkannya, bukan? ;D
Rey, koq malah jadi bangga sih nerima kritikan? Bad habit! [hammer]
Oya, gw juga kirim reply ke e-mail.
________________________________________
Post by: BloodSin on June 19, 2008, 02:46:02 pm
________________________________________
iye, gw dah buka word-nya TQ dah udah memaki secara mendetail gitu. gw seneng. [biggrin]
tapi somehow ada yg berkesan lu buat2 makiannya, payah ah -_-”
yg objektif nape, biar gw juga ngerasanya kena telak :P
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 03:08:45 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 19, 2008, 02:46:02 pm
tapi somehow ada yg berkesan lu buat2 makiannya, payah ah -_-”
yg objektif nape, biar gw juga ngerasanya kena telak :P

Yang mana? ???
Sekali lagi, setiap kali gw komen suatu karya tulis (yang udah terbit atau pun belum), itu adalah komen sebagai seorang pembaca, bukan penulis.
Itulah kerangka penilaian yang gw pake dalam memberikan komentar.
Kenapa begitu?
Pertama, karena gw belum resmi menjadi penulis kalau karya gw sendiri belum terbit. ;)
Kedua, karena seorang penulis harusnya justru merasa lebih senang menerima komen dari seorang pembaca daripada seorang penulis. Ya seperti kata dirimu: obyektifitas. Seburuk2nya cara penilaian pembaca (berhubung gak paham masalah teknis penulisan ini dan itu), mereka selalu memberikan komentar yang jujur terhadap suatu karya. Kalau suka ya suka, enggak ya enggak. [thumbsup]
Nah, sekarang gw dituduh memberikan komentar yang subyektif… :’(
Andaikata memang iya, apa tujuannya coba? Supaya lemures jadi jelek dan gak pernah terbit?
Man, apa gunanya buat gw kalau lemures gak terbit2? [cluebat]
(*merasa terkhianati… aaargh… [refuse]*)

________________________________________
Post by: cheppy70 on June 19, 2008, 03:19:15 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on June 19, 2008, 02:41:30 pm
Rey, koq malah jadi bangga sih nerima kritikan? Bad habit! [hammer]

Memangnya kenapah? Gue juga lebih seneng dapet kritikan dibanding pujian. Kritikan cenderung jujur menyuarakan apa-apa yang masih terasa gak enak, sementara pujian cenderung dicari-cari.
Tapi beda ya, sama penilaian positif, dalam arti serupa pujian tetapi berasal dari evaluasi. Baik kritikan maupun penilaian positif ini sangat berguna buat gue, untuk melihat di mana sih gue udah bener dan dimana gue masih perlu dibenerin,….

@Rey,
Makian sedang disusun. Gue mau konsen dulu,….. wussss,… wussss,…. (cari ilham kiri-kanan). [biggrin]
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 03:28:00 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on June 19, 2008, 03:19:15 pm
Memangnya kenapah? Gue juga lebih seneng dapet kritikan dibanding pujian. Kritikan cenderung jujur menyuarakan apa-apa yang masih terasa gak enak, sementara pujian cenderung dicari-cari.

Ya sama seperti yang gw katakan di atas.
Lagian, om pur, “bangga” sama “seneng” mah beda kali.
Kalau “bangga” itu kesannya udah pasrah (baca: naskah milik gw emang jelek dan gak bisa diselamatin lagi, kalau suka ya bagus, kalau gak ya udah :( ). Itu kesan yang gw tangkep dari kalimat2nya rey…
Gak seru ah, si rey ternyata orangnya sensi-an. [hammer]
Makiannya cabenya jangan banyak2 deh, om pur…

@rey,
gw udah baca entry “lemuria” di wikipedia. Dan ngeliat potensi besar yang bisa diolah dari topik “lemuria” itu sebagai suatu cerita fantasi, gw justru semakin kekeh dengan komen2 gw. Cerita tentang “surga yang hilang” seharusnya pasti menarik, bukan? ???
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on June 19, 2008, 09:38:21 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 19, 2008, 06:23:13 pm

Soal menerima kritik gw juga setuju ama Fred. Kesannya cuma mau sekadar kritikan (baca: cari perhatian) tapi kritikannya ga ada yang didengerin. Sekalipun didengerin, ga ada yang lagsg diterapin.
Peace,
J.K Serpentwitch (ikut2an om Pur, btw initial nya mirip Rowling, JK juga hehe)

Well, chill up, dude 8)
kadang hal itu terjadi karena sang penerima kritik masih belum begitu ngeh maksud konkrit dari pengkritik. Atau, masih mencari-cari cara untuk mengunyah kritik tersebut. Atau ada alasan lain yang sifatnya pribadi.
Setiap orang punya daya sensitivitas yang gak sama, bro. Kadang boro-boro menyimak, menekan tombol scroll down aja udah penuh perjuangan, itu kalo faktor emosi masih kuat melekat. Jangan lupa, dalam seluruh karya kita, kita juga mencurahkan roh emosional kita ke dalamnya. Dan orang butuh kemampuan mengambil jarak terhadap emosi, saat mengunyah kritikan.
Karya itu bagaikan anak. Dan tidak ada orang yang bisa gampang legawa menilai rendah anaknya sendiri, pasti anak gue paling cakep/ cantik/ pandai etc.
Untuk itu, please jangan cepet-cepet menjudge sensitivitas temen-temen lainnya. Kita mesti kembali ke missi. Kita berbaik mengkritik adalah dengan tujuan supportive, jadi mesti bisa juga bantu temen agar mengerti dan menemukan jalannya sendiri untuk meningkatkan performansinya. Ya gak? :)
Ayo kembali improving ourselves!
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on June 20, 2008, 08:41:29 am
________________________________________
Penjelasannya sebenernya begini:
1. Gw kalau nulis sesuatu memang suka mendramatisir (bad habit! [hammer]). Sensi-sensian itu kan becandaan aja, iya kan, rey? ;) Jadi, gw sebenernya ga segitu marah/kecewanya sama rey koq. Karena gimanapun lemuria ya karya milik rey seorang, terserah mau diapain sama dia.
2. Tapi soal kecewa dituduh subyektif sih iya, hehehe [biggrin]. Soalnya rey minta dikritik, trus setelah diberi, gw malah dituduh tidak obyektif… Kan gw merasa telah ditipu! [annoyed]
3. Buat jeff, gw juga gak ngarap orang dikritik langsung berubah. Beneran!
Karena jujur, meskipun diutarakan dengan jujur, suatu kritikan juga sebenernya bisa salah dan berpotensi menyesatkan. Yang gw maksud ke rey adalah supaya dia menelaah/mengkaji lagi kritikan itu. Istilahnya, cari tahulah apakah kritikan gw itu emang bener atau kagak, dan jangan langsung dibuang ke tong sampah. Be critical, that’s the point.
Biar semuanya jelas, gw sebenernya telah mengkritik rey 2 kali: Pertama, tentang prolognya. Kedua, mengkritik karena dia kesannya (sekali lagi, cuma kesan!) bangga menerima kritik, tapi tidak kritis.
Gitu deh…
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 20, 2008, 10:28:40 am
________________________________________
OK Rey, semaleman lebih gue meditasi untuk membahas parkamen yang sudah elo tulis, sekarang Tujuh Dewa Guntur Valenör sudah berbicara, kurasa waktunya sudah tepat untuk menyampaikan makian mereka kepadamu.
Pertama-tama, para Dewa Guntur mohon maap, kompie-nya lagi rusak sehingga tidak bisa kirim email langsung padamu. Pesan mereka padaku, disuruh langsung aja komen di Pulpen, di thread FFDN III yang tersohor itu. BTW, mereka excited banget, lho, bisa ikut menampilkan komen mereka di sini,… 8)
So, apa yang akan dikatakan oleh sang raja biawak?

Gini, ya, temanku yang baik. Raja biawak akan mengevaluasi skrip elo ini dalam dua posisi, satu sebagai karya penulisan, dua sebagai proposal jualan. Untuk yang kedua ini kupikir karena dalam paket yang elo sertakan terlihat bahwa elo memang sudah mempersiapkannya sebagai materi submisi ke penerbit. Antara lain dari pencantuman kontak dan abstrak di dalam daftar isi. Sayangnya gue nggak bisa ikut membaca Sinopsis dan Ringkasan Cerita (BTW dua ini bedanya apa sih?), sekedar siapa tahu ada yg gue bisa bantu dari 2 marketing tools ini.
Tapi mohon dicatat, penilaian gue murni hanya bersandar dari materi prolog yg elo kirim, jadi resiko salahnya cukup besar. Kalo gak tepat mohon dimaapin aja.

Pertama-tama, yang kedua dulu (nah, ribet, kan lo?)
Dalam paket ini gue mendapatkan sebuah halaman judul yang sudah ditata dengan font khusus, sebuah halaman quote, sebuah halaman daftar isi, dan selanjutnya bagian prolog yang entah memang cuman segitu, atau masih ada terusannya.
Penilaian: Membingungkan. :o

Yang bikin bingung apanya? Settingannya, terutama buat body ceritanya. Kenapa elo bikin pakai font Calibri, Rey? Itu jenis font sans seriff, seharusnya kagak dipakai untuk body text yang panjang/ paragraf, hanya bagus untuk dipakai sebagai font judul dan sejenisnya. Kalo elo kirim materi ke penerbit dengan font tersebut, guaranteed, naskah elo udah gak enak dibaca sejak hurup pertama. (cat: Font calibri gak ada di kompie gue, perhaps dia digantikan oleh font lain yang tipenya sans seriff juga.)
Jangan remehkan hal ini, karena impactnya secara psikologik, maupun praktik, akan besar. Naskah elo lebih mudah mendapat penilaian negatif, karena evaluator merasa membacanya capek di mata. Dan itu yg gue alami juga, sehingga akhirnya gue putuskan untuk replace font calibri dengan times new roman dulu, baru gue lalap naskah lo. Untung gue dapet word file.Gimana editor yang cuma terima hardcopy?
Jadi gue bingung, untuk apa elo lakukan itu. Artistik? Kurasa no need for that. Honestly.

Kemudian halaman quote. Frankly, Quote elo ngga enak dibaca (ngga nge-flow), dan ga punya meaning yang jelas. Gue langsung ngebatin, “Apaaaa siiiih?”, (salah satu dewa guntur juga komen, “KAMSUD LOE???”, pake kapital dongs,.. namanya juga dewa!) :P
Kalo menurut gue sih, quote harus bisa menggrip pembaca sejak awal. Gue tahu salah satu seni quoting adalah menampilkan sesuatu yg awalnya ga make sense, tapi kelak akan bertransformasi menjadi make sense setelah pembaca menyelesaikan cerita. Tapi seyogyanya, paling tidak pemilihan kalimatnya megikuti flow yang enak. Kalimat elo gue rasa,… gimana ya? Kayak ngeganjel, gitu.
Kalo menurut gue, sih, mendingan yg di quote itu salah satu frasa prasasti atau apa-lah, yang gue yakin ada di cerita elu, yang akan menghubungkan dunia Lemures lama dengan dunianya Guillarde. Itu akan lebih memikat pembaca dan akan punya fungsi dalam bangunan plot.

Untuk daftar isi, OK banget. Langsung bisa kebayang plotnya dan seru-serunya. Tapi judul “Kelinci dan Golok” kayaknya kurang greget, dan “Rombongan Berjalan” mungkin bisa lebih mantap dibahasakan lain seperti “Ekspedisi anu” atau semacamnya (if it was meant as that).
Trus kalo liat daftar isi dan alokasi halaman, kayaknya pendek Novel mu, ya Rey? Cuma 245 halaman? Apa ga kurang, Rey? Maksud gue apa cerita bisa berkembang cukup bergizi dengan segitu halaman? Ga tau deh. You give me all the stuff, baru gue bisa komen lagi.

Nah itu tadi aspek teknis aja yha,…. Gue harap kalo bagian itu diperbaiki, chance elo untuk mengolkan naskah menjadi lebih baik. At least, elo aman dari hal-hal yang menganggu dan editor bisa lebih fokus pada apa yang harus dia lakukan: mengevaluasi materi cerita.

Sekarang (hold your breath), MATERI CERITA

Well, materi Prolog, anyway.
Dibuka dengan adegan pertarungan (oh, straight to actions, aren’t we?) dengan pemilihan gaya kalimat yang menurut gue,…
Pre-ten-si-us
Sorry.
Menurut gue, gak salah kalo elo mau menggunakan gaya sastraik, atau tepatnya prosa liris (?) dalam paragraf pembuka. Tapi elo harus mahir dulu sebelum menggunakannya, Rey. Dan menurut gue, elo masih harus mengasah keterampilan untuk beberapa waktu dulu (let’s say, 17 tahun? Wakakakakak!!!) [hammer]
Kekurang mahiranmu pun tampak dalam pemilihan kata-kata yang digunakan, baik sebagai perangkai, penjelas maupun sebagai metafora. Ada lho, yang namanya seni pemilihan kata. Jago-jagonya seni ini mampu merasakan kekuatan atau kelemahan suatu kata dalam konteks sastra, dan menempatkannya secara cermat dan tepat. It’s not just about rhyme or sensations, but also about deeper meaning, and the ‘right’ context.
(‘right’ di sini relatif banget, hanya ‘rasa’ dan pengalaman lah yang kelak akan mengatakan mana yang benar dan mana yang salah).

Contoh gaya sastraik elo, “Dentingan pedang menjilat karang, tebasan kapak menempa hentak, dan terjangan lincah menapak tanah,” gue tahu maksudnya, tapi gue merasa pengungkapannya ‘salah’. Rasanya kau menggunakan kata-kata tidak secara tepat, Rey. Yang ‘menempa’ itu bukan kapak, melainkan palu.
Kurasa kalau kau mau menyastra, alternatifnya bisa seperti ini:
Denting pedang menjilat dan menoreh karang,
Kapak menebas keras, mengentak. Bukannya mencari celah, tapi menerobos untuk memecah. Mendobrak segala pertahanan.
Lincah langkah kaki menerjang, menapaki tanah yang licin oleh keringat dan siasat.
Well, gue bukannya mau ngacak adul atau maksain gaya, ya? Ini sekedar pembandingan untuk aspek pemilihan kata, kalo elo emang pengen bergaya sastra-ish di situ.
Terus apa pula bagian ‘Duhai’, itu? Gue tahu, itu nantinya berhubungan dengan ‘Elok namun liar’. Tapi pemilihan angle itu pun gue rasa ngga terlalu tepat konteks. Maksud lo tentu menggambarkan suatu sisi keindahan dari adegan pertempuran. Ide dasarnya boleh juga. Tapi keseluruhan orkestrasinya, bagi gue kurang menghasilkan musik yang koheren. Ibaratnya elo niat bikin Mars, tapi masukin frasa mendayu-dayu ditengah. Missi utama elo jadinya gak tercapai.

Well, sekali lagi, ini udah aspek art. Seorang master art memang akan memiliki kemampuan ‘dewa’ untuk menggabungkan berbagai elemen, yang di tangan orang awam biasa-biasa aja, namun di tangan dia jadinya indah sumindah. Tapi ya itu, harus berkualifikasi MASTER dulu,… he he he. Dan bagi gue, kalo elo belum peka atau mahir betul dalam hal art, lebih baik elo mengambil jalur yang lebih aman yaitu menggunakan gaya penceritaan biasa aja, yang menurut gue udah elo kuasai secara baik.
Apalagi ini bagian depan, bro. Bagian pintu masuk elo. Elo gak akan mau gantungin lukisan norak di ruang tamu, karena elo gak pengen orang-orang jadi menilai seluruh isi rumah elo bakal sama noraknya, khan? Well, not that your writing is norak,… pokoke you get the message, lah.
Lidah pedang dan bibir kapak, menurut gue sih oke-oke aja. Cuma kembali pilih kata sesuai konteks. Bibir kapak menyalak? Kata menyalak itu memiliki kandungan sense berupa daya menyembur / mendorong. Maka yang lebih tepat ialah ‘senapan menyalak’, bukan kapak (ketahuan, elo cuma mikirin rhyme-nya, yach? Hehehe).

Kemudian bicara jurus-jurus. Kembali, harus believable kan ya? Bagaimana dengan jurus kapak berputar dengan dampak yang dihasilkannya? Gerakan kapak berputar koq hasilnya menebas? Ya gak bisa lah booook,…. kapak kalo diputer gitu ya bisanya ngebooor, Inul, kallee,..? :D
Akhir dari petarungan stastra-ish ini adalah berupa ledakan nova yang membangunkan sepuluh ribu penduduk Lemures. Well, nice. Penggambaran aftermathnya juga bagus. Cuma buat gue ketika sepuluh ribu penduduk itu bangun, lalu apa dampaknya? Apakah mereka jadi panik dan kota/ kampung jadi kacau? Apakah suara semacam itu sudah dianggap ‘biasa’ mengingat toh Seth Cavaross adalah penduduk Lemures yang udah pasti ‘pendekar’ selebritis donks,…
“Ohh,.. bang Seth pasti lagi ngamuk abis semalem kalah maen gaple. Udah, tidur lagi aja,…” ^-^
Ketiadaan efek sebab-akibat ini menyebabkan konteks kota/ kampung Lemures menjadi lepas dari cerita, seolah hanya menjadi figuran yang baru datang saat dipanggil sutradara.

Setelah masuk ke gaya bertutur ‘biasa’, mulai terasa aliran yang cukup enak dinikmati. Penamaan Kain dan Seth juga enak, ga ada kesan dipaksain. Penggambaran karakternya juga cukup hidup, walau menurut gue agak tipikal tokoh game. Hiperbola mengenai keperkasaan dua orang itu agak terasa sedikit menganggu, tapi ga terlalu fatal.
Yang kurasa masih belum baik adalah pilihan-pilihan kata yang elo gunakan. Beberapa kata memiliki muatan yang sebetulnya sudah ‘pakem’, tapi elo gunakan secara ngga tepat. Kata ‘keji’, itu ga mungkin digunakan sama sekali dalam konteks persahabatan. Jadi biarpun gue bertarung, istilahnya jajal ilmu, sama sahabat sendiri yang sama-sama pendekar kelas tinggi, gue nggak mungkin memandanginya secara keji. Licik, bersiasat, boleh aja demi kemenangan strategi. Tapi keji?

Penggunaan kata musafir juga perlu sedikit dipoles. Setidaknya ada dua tempat yang menurut gue ga tepat. Pertama, saat kata itu pertama kali muncul. Koq begitu tiba-tiba. Mungkin sebelumnya elo perlu introdusir gaya busananya atau apanya dulu, yg kemudian disimpulkan sebagai seorang pengelana atau musafir. Yang kedua adalah saat si Seth menanyakan, “Apa saja yang kau lakukan, wahai musafir?”
Koq kayak orang baru ketemu atau belum kenal? Mungkin lebih pas, “Apa yang kamu bawa dari pojok dunia kemari, hey musafir tua?”, akan terkesan lebih akrab.
Contoh ini: “Tahan dulu langkahmu, Pengelana. Bukankah Välendhur punya jajaran Ksatria Penunggang Lumyr? Dan bagaimana dengan Kelima Pendekar Arwah dari Tanah Pedang yang pernah bersumpah? Seharusnya orang-orang Valor tak akan berani macam-macam dengan Välendhur!”
Bagus, gue suka. [thumbsup]

Tapi dalam beberapa dialog, gue masih merasakan kurangnya keluwesan. Ada kesan terlampau kaku. Mungkin pilihan kata atau cara mengungkapkan bisa elo olah lagi supaya kesan dialog dua orang sahabat yang udah sama-sama makan asam garam bertempur bahu-membahu dapat lebih terasa.
Pasangan tempur itu tingkatannya udah lebih tinggi dari pada pasangan pemain bulutangkis ganda, satu menyandarkan nyawanya pada yang lain! Tentunya gaya bicara di antara keduanya bisa lebih intimate lagi. Obrolan mereka tentang ‘perempuan’, nah itu contoh bagus.

Masukan terakhir, mengenai penamaan senjata mereka.
Dua nama yang bagus, Leviathan dan Salamander, tapi elo salah makenya, kayaknya!
Secara umum, pengertian Leviathan adalah semacam naga air, yang punya sifat sedingin es (at least menurut gambaran serial Final Fantasy, hehehe), sementara Salamander masuk ke golongan lizard/ kadal.
Menurut gue, malah lebih konsisten bila pedang elo namain Leviathan, putih licin berkilau dan sambarannya bisa menimbulkan luka yang terasa perih mengigit tembus ke inti tubuh. See? Ular naga, lurus panjang? Pedang, lurus panjang? Kilat putih Leviathan yang gesit meliuk-liuk mencari sasaran? Bukankah demikian gaya jurus pedang? (Pedang, BTW, tapi kenapa elo sebut belati, ya? Pan ukurannya beda jauh?)
Sementara Salamander, kadal yang punya kepala berbentuk pipih melebar, cocok banget untuk sebuah kapak, disamping warna kulitnya yang kecoklatan tembaga, menyiratkan usia panjangnya dan bayangan percik darah korban entah berapa banyaknya telah meresap dalam setiap pori bilahnya. Dan bila kepala salamander menyambar, gigitannya bisa membelah daging dan meremukkan tulang.
Well, kalau masih sempat, ga ada salahnya, kan, dua nama itu dituker? [biggrin]

OK Rey, kira-kira segitu dulu maki-makian dari tujuh dewa guntur. Satu hal yang bisa aku simpulkan, elo justru beruntung ditolak oleh penerbit, karena kalo sampe materi elo yang ini diterima, maka elo akan ended up very, very, screwed in my blog! ;D Berkahnya, sekarang elo dapat memikirkan alternatif-alternatif perbaikan sebagaimana kusebutkan di atas sesuai dengan cara yang pas buat elo.
Satu hal utama yang menurut gue harus elo improve bener-bener, adalah keterampilan dalam menerapkan kata yang tepat untuk maksud yang tepat. Jika berkaca pada hal-hal yang udah elo kerjakan di prolog ini, I’m afraid ‘plague’ yang sama telah mengisi sekujur novel elo sampai dengan halaman terujung.
Untuk memperbaikinya (satu-per-satu), I think satu atau dua tahun lagi cukup, lah. He he he.
So, don’t even think to quit too early! ;)
Oh, ya. Salam ya, buat sedokur gue, Salamander,…
FA Purawan
a.k.a Raja Biawak
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on June 20, 2008, 01:22:52 pm
________________________________________
@fred,
Quote
2. Tapi soal kecewa dituduh subyektif sih iya, hehehe . Soalnya rey minta dikritik, trus setelah diberi, gw malah dituduh tidak obyektif… Kan gw merasa telah ditipu!

yang model gini maksud gw ‘beberapa_kritik_elu’ (gw gak pernah nyebut semua_kritik_elu) yang dibuat2, mengada-ada, subjektif:

Quote
3.Penyebutan “gravitasi bumi”. Bumi? Pembaca mau tak mau langsung mendapat kesan seluruh kejadian itu (perkelahian fantasi) sedang terjadi di bumi. Di tempat mereka tinggal ini. Apakah benar memang dunia lemures adalah bumi? Tapi koq ada tempat2 bernama aneh dan jurus-jurus dengan senjata2 ajaib itu?

terlepas dari fakta bahwa setting lemures itu emang diperkirakan pernah eksis di bumi yang kita pijakin ini, suatu tempat yang disebut ‘bumi’ itu cakupan maknanya luas. gak cuma merujuk bumi yang kita pijakin ini aja. ambil contoh dunia LOtR-nya tolkien (yang murni rekaan), bagi gue wajar2 aja kalo Gandalf ngomong, “Di bumi yang kupijaki ini, blablabla…”
lagian udah gw cek di kamus kalo ‘bumi’ itu bisa juga berarti ‘jagad’, atau ‘dunia’

Quote
7.Tentang catatan kaki. Catatan kaki itu hanya sekedar keterangan untuk editor/penerbit atau juga untuk pas penerbitan nanti? Karena jujur, untuk penerbitan nanti sebaiknya jangan menggunakan catatan kaki. Sesusah apa pun memasukkan penjelasan ke dalam cerita novel fantasi, tetap harus dilakukan oleh penulisnya. Apalagi keterangan itu keterangan penting buat cerita yang gak cocok kalau diletakkan di Appendix.

gw akui footnotenya emang agak overdosis, tapi sejak kapan sebuah novel gak boleh pake footnote sama sekali? LasPeng lu udah baca kan? footnote/apendiks (dilabelin sebagai glosarium) dia malah jauh lebih parah lagi.
Untuk kritik2 lain lu yang emang tepat guna, as I said before, gw bener2 nge-welcome dan berterima kasih.
________________________________________
Post by: BloodSin on June 20, 2008, 01:31:40 pm
________________________________________
om pur,
TQ dah buat makiannya yang membangun, gw juga emang agak2 gamang ama gaya sok sastranya (orang di k.com banyak yang kasi pujian menyesatkan dan berujung gw jadi gak tau betapa noraknya ternyata gaya bahasa kek begitu T_T)
biar kubaca dulu pelan2 di rumah komen ente… heheh bisa jebol kantong gw kalo baca diwarnet.. [biggrin]

@jeff & sis dian,
secara overall sama aja ama yg dulu2 (yg di k.com), kalo ada yg berubah itu palingan cuma beberapa frase/istilah

@yg kemaren2 nuduh gw gak mau denger kritik
gw gak bakal concern ama kritik yang dibuat-buat, diada-adain seolah gak wajar padahal udah wajar.
sejauh ini ada dua orang kompeten yang kritiknya terbukti udah gw terapin di lemures. Villam, untuk konflik batin dalam cerita yang kurang tergarap, dan clickdian, untuk karakterisasi yang masi absurd. dua orang itu ngasi kritik yang emang betul2 jadi kelemahan cerita gw, maka gw tanggepi dengan merevisi lemures sesuai dengan kritik mereka di versi terbaru.
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 20, 2008, 02:25:42 pm
________________________________________
soal gaya bahasa puitis gw pribadi sih menganggap itu antik. Yang jadi masalah, bahasa level tinggi itu sudah sesuai belum dengan level pasar/pembaca? Karena bukan cuma menulis aja yang butuh skill, membaca pun perlu skill.
Ketika lo tulis suatu karya dgn level 99 sementara pembacanya masi chupu2 level 50 an, mereka ga bisa menikmati ceritanya. Switching adegan yang unik, pembukaan cerita yang lain dari yang lain… etc2.. semua emang bagus. Tp jujur, kalau kemampuan membaca dan berimajinasi si pembaca engga tinggi, sangat sulit bacanya. Karena itulah novel fantasy aga dikit peminat. Contoh ya LOTR, bahasanya sama sekali engga merakyat, ga reader friendly, bener2 bacaan level 99. Bagi orang yang selevel atau mendekati levelnya, ini bacaan masterpiece sepanjang masa, tp bagi yang level rendah, bisa dianggap sampah. Kemudian ada Harry potter yang berkonsep dgn level yang cukup tinggi, namun bercerita dengan level yang sedang, atau kl istilah gw merakyat. Bahasa Harpot itu sangat ringan, karena itulah bisa menjangkau berbagai lapisan masyarakat, tua muda, kaya miskin.
Jadi gw sih punya pemikiran, gw harus melihat dulu sampai dimana level pembaca di Indonesia sekarang ini, dan tulis lah menurut level mereka. Gaya bercerita terlalu canggih pun ada poin minusnya.
________________________________________
Post by: fr3d on June 20, 2008, 05:55:00 pm
________________________________________
Rey, gw mempertanyakan hal tentang bumi ini karena gw sama sekali blank tentang legenda lemuria.
Jadi, setelah gw tau, dan gw udah punya bayangan loe nulis apa di 200-an halaman berikutnya itu, pertanyaan gw kan udah jadi gak valid lagi. Pinter2 lah dikau menempatkan diri sebagai si penerima kritikan.
Kan seperti gw bilang, kritikan bisa menyesatkan (apalagi kalau si pengkritik mengkritik sesuatu yang memang belum dia pahami). Makanya selama ini, gw selalu menghindari mengomentari plot atau tema berhubung setiap kali ada posting-an cerita, selalu cuma sebagian/belum selesai, dan jelas gw tak mungkin paham maksud si penulis sebelum membaca ceritanya sampe final.
Trus, Tolkien sebenernya mencoba menceritakan bumi di masa lalu versi bayangannya dia sendiri (ya middle-earth itu). Itulah sebabnya dia tetap menggunakan kata bumi, karena memang tidak salah dengan tujuannya.
Kalau lemures mencoba melakukan hal yang sama, yaitu membuat sejarah bumi alternatif, ya sah2 aja. ;)
Lalu, terlepas dari seluruh masalah di atas yang udah gw coba jelaskan, gw pengen nambahin kalau frase “gravitasi bumi” itu sebenernya bisa dipotong menjadi “gravitasi”.
Beneran deh, maknanya bakalan sama, karena penekanannya adalah di “gravitasi”, bukan di “bumi”.

Quote
gw akui footnotenya emang agak overdosis, tapi sejak kapan sebuah novel gak boleh pake footnote sama sekali? LasPeng lu udah baca kan? footnote/apendiks (dilabelin sebagai glosarium) dia malah jauh lebih parah lagi.

Hei, rey, gw gak pernah bilang kalau sebuah novel gak boleh pake footnote sama sekali. Gw bilang kalau novel fantasi sebaiknya gak pake footnote. Kenapa? Karena di dalam cerita fantasi, penulis membangun sebuah dunia/kondisi dunia yang baru (entah di bumi atau bukan).
Indahnya fantasi adalah kalau kalimat2 yang dipakai si penulis bisa membawa para pembaca ke dunia baru itu.
Inilah tantangannya, bagaimana meng-grip pembaca sekaligus tetap mempertahankan faktor believability dari cerita kita.
Nah, dengan membuat footnote:
1. Kita membuat jarak dengan pembaca; footnote seolah-olah adalah “dunia lain” yang sulit dipahami oleh pembaca. Bacalah lagi laspeng dan loe akan paham maksud gw tentang jarak ini.
2. Keberadaan footnote (bahkan appendix) sangatlah mengganggu bila kita menggunakannya untuk sesuatu yang sebenernya penting dan harus dipahami pembaca supaya mereka nantinya bisa paham novel kita secara keseluruhan.
Mengganggu bagaimana? Karena pembaca harus lepas dari irama membaca mereka, terus melirik ke bawah, apalagi yang parah, harus bolak-balik di halaman terakhir.
Itulah sebabnya, footnote atau appendix biasanya jarang disentuh pembaca.
Nah, di sinilah saatnya penulis menggunakan footnote dan appendix dengan efektif, yaitu dengan hanya memasukkan ke kedua bagian itu hal2 yang kurang penting aja atau hal2 yang kalau gak dibaca pembaca pun, gak akan mempengaruhi pemahaman mereka tentang ceritanya.
Contoh lagi, liat laspeng. Kalau pun kita gak paham nama2 latin hewan/tanaman yang disebut si penulis, kita gak akan kekurangan greget-nya cerita itu, bukan?
Tolkien pun menggunakan teknik ini untuk appendix-nya. Semua pembaca yang membaca LOTR dan tidak membaca appendix-nya tidak kehilangan satu arti penting pun dari maksud cerita yang ingin disampaikan Tolkien. Appendix Tolkien justru akhirnya jadi harta yang sangat berharga buat para fans dan orang2 yang ingin mengkaji dunia rekaan Tolkien, misalnya untuk bikin film, etc.

3. Tantangan sebagai seorang penulis fantasi.
Apa? Ya menceritakan dunia fantasinya di dalam novel, bukan di dalam footnote.
Rey, kita, para penulis fantasi, beneran kagak bakalan mau deh kalau karya kita dianggap seperti buku teks (yang banyak footnote-nya). Kita bercerita, bukan memaparkan teori dan definisi ke pembaca. [hammer]
Mungkin ada tambahan/argumen tentang masalah footnote ini dari yang lain?

Terakhir, jangan ngebandingin laspeng dengan novel fantasi lah, secara laspeng itu sebagian besar berdasarkan kisah nyata dan dulunya merupakan jurnal/diari yang dibuat andrea hirata. Trus OOT, laspeng boleh jadi memang laris, tapi menurut gw dia gak sesempurna itu koq, apalagi sampai ada yang meng-endorse penulisnya sebagai penggantinya Pramoedya Ananta Toer. OMG! :o Masih jauh banget kualitasnya!
Terus kalau mau tau penggunaan footnote yang sangat membuat kesal gw, bacalah Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (kalau belum baca). Mungkin ada yang memuji karya itu bagus karena banyak footnote-nya, tapi jujur, dengan menempatkan footnote yang bejibun itu, Dee (si penulis) telah memaksa pembaca menjadi bodoh dan meninggikan dirinya sendiri (penulis) menjadi jenius. Untungnya, Dee akhirnya gak lagi mengulangi hal yang sama di buku kedua dan ketiganya (Akar dan Petir). [thumbsup]
Quote from: BloodSin on June 20, 2008, 01:22:52 pm
Untuk kritik2 lain lu yang emang tepat guna, as I said before, gw bener2 nge-welcome dan berterima kasih.
Well, thx juga karena telah mengizinkan gw mengkritik lemures. Sebuah keberanian tersendiri [thumbsup], mengingat lemures sudah sering ditolak penerbit dan dikau mungkin juga udah jenuh sama penolakan dan kritikan itu sendiri.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on June 21, 2008, 12:42:20 am
________________________________________
Quote
Trus kalo liat daftar isi dan alokasi halaman, kayaknya pendek Novel mu, ya Rey? Cuma 245 halaman? Apa ga kurang, Rey? Maksud gue apa cerita bisa berkembang cukup bergizi dengan segitu halaman?

naskah 250 halaman itu emang udah dipertimbangkan demi sisi komersil dan kemudahan terbit (naskah tebel jauh lebih susah terbit), karena sebegitu inginnya daku menerbitkan naskahku. tentang pertanyaan apakah bergizi ato tidak, ane tetep berpakem novel tebel pun belum tentu bergizi.
(tapi tentu, karena ketipisan ini, ceritanya belom tamat di endingnya, heheheh.. karena emang tujuannya naskah itu buat jadi buku satu lemures kok :P )

Quote
Kemudian bicara jurus-jurus. Kembali, harus believable kan ya? Bagaimana dengan jurus kapak berputar dengan dampak yang dihasilkannya? Gerakan kapak berputar koq hasilnya menebas? Ya gak bisa lah booook,…. kapak kalo diputer gitu ya bisanya ngebooor, Inul, kallee,..?

yang ini kayaknya ada salah tangkep, maksud ane untuk frase ‘kapak putar’ itu bukan diputer ala ngebor, tapi diputer ala baling-baling..makanya bisa menebas :D
(ah btw fred, yg lu tangkep sama juga ama om pur? ngebor gitu? >__<)

Quote
Cuma buat gue ketika sepuluh ribu penduduk itu bangun, lalu apa dampaknya? Apakah mereka jadi panik dan kota/ kampung jadi kacau? Apakah suara semacam itu sudah dianggap ‘biasa’ mengingat toh Seth Cavaross adalah penduduk Lemures yang udah pasti ‘pendekar’ selebritis donks,…

itu bukan sepuluh ribu penduduk, tapi sepuluh pasang mata dari jangkrik, belalang, musang, dan lemur…secara mereka gak lagi berantem di tengah kampung/kota, tapi di ‘belantara perawan surga’ itu >_<
dan tentu gada dampak apa2 dan tidak perlu diperpanjang lagi apa yang terjadi setelah mahkluk2 itu terbangun ^-^
tapi wajar juga sih kalo ente nangkepnya suara ‘ledakan nova’ itu sedemikian gandengnya ampe2 merambat ribuan mil dan sampe ke pemukiman penduduk :P
ah jatuh satu orang lagi korban yang termakan bahasa hiperbolisku :-[

komen ente panjang banged om, gurih pun rasanya, nikmat (komen lo kalah nikmat, fred :P ), Thanks alot dah..realy appreciate that. :)
note: dan ada 'reward' bagi sang pemenang, tentu [biggrin]
________________________________________
Post by: BloodSin on June 21, 2008, 02:54:27 pm
________________________________________
@fred,
hari ini gw baca ulang komen ‘jahat’mu yang di word itu, dan akhirnya gw mau minta maap karena gw sempet berkesan gak tauk terima kasih dengan nuduh lu komen subjektif, this is my bad habit, terlalu terburu2 dalam menjudge segala sesuatunya T___T
sekarang pas gw liat2 lagi, ternyata dikau pun sama perhatiannya dengan om pur (yang baru belakangan berkomentar), rela ngetik panjang2 dua halaman word untuk cuplikan yang ‘sependek’ itu, menyorot setiap poin yang ada, berkomentar dengan jujur dan cermat, sampe pada kesediaan lu memberi masukan-masukan buat prolognya.
jujur ajah, waktu pertama kali gw buka file word lu itu, timingnya bener2 kagak tepat, (mungkin elunya yg lagi sial kecepetan ngirim komennya :D ), mata gw lagi kalap waktu itu, gara-gara terlibat ngadu bacot ama junior nyolot ;D, sampe2 gw kagak bisa ngeliat itikad baik elu di komen itu.
oke deh semoga dengan ini, elu bisa memaklumi gw, bahkan seorang TS yang arif bijaksana dan rupawan ini pun bisa aja berbuat salah, kalo lagi kalap(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)

Quote
3. Tantangan sebagai seorang penulis fantasi.
Apa? Ya menceritakan dunia fantasinya di dalam novel, bukan di dalam footnote.
Rey, kita, para penulis fantasi, beneran kagak bakalan mau deh kalau karya kita dianggap seperti buku teks (yang banyak footnote-nya). Kita bercerita, bukan memaparkan teori dan definisi ke pembaca.

yang tentang footnote itu (khususnya poin yg gw quote), gw masi kagak sepakat sama elu :P , itu harus diliat juga dari jenis fantasinya. Kalo fantasi semacam narnia yang pure fantasy, bakalan konyol banged pake footnote kurasa, masalahnya fantasi yg kubikin ini bukan bener2 pure fantasi, dia jenis fantasi yang condong banged ke fiksi ilmiah (dari segi tema, gaya penulisan, dialog), kayak hozzo-nya si hege (yg malah kebanjiran footnote–footnote hozzo ada seratusan kurasa, ‘untungnya’, footnote lemures gw ga nembus ampe 30).
di lemures itu banyak paparan tentang hipotesis-hipotesis dan teorema-teorema ekologis (bacotnya si Guillarde :D ), mau gak mau gw harus mengandalkan footnote yang ironisnya justru demi kelancaran irama cerita.

misal, ada dialog Guillarde kayak begini:
“Cairan ini adalah konsentrat termurni dari proses distilasi bertekanan ekstrem selama dua puluh satu malam, dan merupakan proporsi ideal dari darah tikus, liur tupai, jeroan ubur-ubur, air kemih katak, feromon* kuda jantan, dan berbagai saripati rempah-rempah—untuk menetralkan bau amisnya.”
*)Cairan pemikat lawan jenis yang dikeluarkan secara alamiah dari tubuh binatang
kalo gak pake footnote, masa mau gw bikin kayak begini:
“Cairan ini adalah konsentrat termurni dari proses distilasi bertekanan ekstrem selama dua puluh satu malam, dan merupakan proporsi ideal dari darah tikus, liur tupai, jeroan ubur-ubur, air kemih katak, feromon* kuda jantan, dan berbagai saripati rempah-rempah—untuk menetralkan bau amisnya.”
Feromon adalah cairan pemikat lawan jenis yang dikeluarkan secara alamiah dari tubuh binatang. (ujug2 masuk paragraf baru cuma semata2 demi penjelasan satu baris ini, gak banged dah >_<)

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XV (15 Jun 2008 – 18 Jun 2008)

  • Apa yang terjadi jika karya kita tak pernah terbit
  • Fantasi dan anime

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on June 15, 2008, 10:53:34 pm
________________________________________
guess what, gw lg terheran2 sama ‘daya tahan’ penulis fantasi sini, villam dengan TFH-nya yg udah lewat 10 thn, om pur dengan PG-nya yg udah 17 tahun ((http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)), fred dengan naskah rahasianya yg udah 7 tahun, dan junior baru kita((http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)) dengan Gefallene Masse-nya yg udah 9 tahun.

Oh my, kalo ginih caranya sih lemures gw (3thn) bisa diitung masih balita. so inocent.. :P
Sialnya, selama ini gw selalu memandang ke atas: penulis ledgard nyelesain buku pertamanya dalam 2 tahun–kalo ga salah, penulis pinissi nyelesain pinissi 6 bulan, si hege nyelesain hozzo 2 tahun, penulis enthirea nyelesaian enthirea 1 tahun, andrea hirata nulis Laspeng cuma 3 minggu, belom lg ada penulis teenlit yg beresin bukunya dalam 2 hari saja (dan terbit, tentu)
dammit kenapa ada orang yg begitu gampang nerbitin naskahnya dan menjadi bestseller, kenapa ada juga yg udah bertahun2 berkutat dan berjuang thd suatu naskah tapi gak terbit2.
selama ini gw gregetan sama naskah gw sendiri yg udah mandek 3 tahun, tapi setelah mengetahui ada begitu banyak penulis fantasi di luar sana yg udah berkutat selama hampir/bahkan lewat satu dekade, gw jadi agak sedikit terhibur dan lega.. hehehehe, mungkin ini yg namanya senang di atas penderitaan orang lain..

kepada penulis2 fantasi yg sabar lahir batin itu, gw cuma punya satu pertanyaan, tak harus dijawab, tapi kalo mau dijawab boleh asal harus jujur: gimana kalo seandainya karya abadi itu kagak pernah terbit? apakah lu bakal menyesal karena telah menghabiskan waktu dan tenaga untuk sesuatu (yg tadinya lu pikir bakal bisa dinikmati oleh banyak orang) yang gak bakal pernah dinikmati oleh siapapun selain diri lu sendiri?
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 16, 2008, 08:18:13 am
________________________________________
Kalo gue yang pertama menjawab, bukan karena rekor gue paling lama ;) hehehe. Soalnya pas udah online aja :)
Pertama-tama soal menyesal. Soal lama (ngerjain) itu, gue gak pernah menyesal. Gue pikir waktu adalah proses, dan sepanjang visi kita adalah menyempurnakan karya tersebut, buat gue waktu yang lama pasti akan membawa sesuatu balik ke karya itu lagi. Dan kalo visi kita menyempurnakan, berarti karya kita menjadi lebih baik.
Tapi mesti distate juga di awal, supaya pengertiannya pas. Sebelumnya kita harus bener-bener punya belief bahwa karya yang sedang kita tulis adalah sesuatu yang bagi kita (pribadi) bener-bener spesial. Tanpa itu, kita pasti tidak mau spend waktu lama, atau tetap bersetia kepadanya.
Pengarang2 yang elo lihat, Rey, terutama yang mengarang instan dua hari kelar :o mungkin memang sudah sangat terlatih, atau mereka memang menyesuaikan diri dengan tuntutan profesi. Jaman sekarang menerbitkan buku sudah seperti balapan, takut kehilangan momen.

Sekarang mengenai karya abadi yang gak pernah terbit.
Jujur aja, kalo gue, bikin karya pastilah ingin agar dibaca orang lain. Setiap pengarang pasti ingin bukunya diterbitkan, dan sukur-sukur disukai. Tapi kesuksesan, terutama kesuksesan komersil, buat gue adalah nomor dua. Mungkin karena secara ekonomi gue udah cukup mapan, kali ye? Artinya udah punya job sehingga ngga berpikir untuk berkarir sebagai penulis full-time. Jadi soal apakah buku gue akan sukses komersil ato nggak, gak jadi begitu penting.
Buat gue yg penting adalah pesan/missi karangan dapat dishare ke banyak orang, siapa tahu ikut membantu orang-orang melaluinya. Pahala, bo.
Tapi tentu saja ada sisi sukses komersil yang diharapkan. Sukses komersil (balik modal, ada profit) sangat diperlukan demi eksistensi karya-karya selanjutnya. Kalo mo bikin buku kedua, ketiga dst, pasti akan butuh modal. Buat riset dsb, pasti butuh dana untuk ngebayar orang, karena gue gak akan punya waktu seleluasa ketika mengarang buku pertama, kan?
Nah, ini dia kalo udah masuk ke industri, kalo mo nerbitin buku kedua dst, kagak boleh kehilangan momen. Ini ngeselin, susah, tapi realita [tickedoff]

Makanya, sekalipun tujuan penerbitan itu sekarang bisa dipenuhi lewat penerbitan internet swadaya, tetap aja gue lihat perlunya diterbitkan secara komersil. Makanya itu pula yang membuat gue tetap termotivasi untuk terus memperbaiki karya gue.
BTW, masih terkait penyempurnaan. Malam ini gue tiba-tiba aja ‘ticked-off’, ada ide baru mengenai salah satu plot di PG. Ini berkat masukan-masukan temen-temen juga, dalam rangka memperbaiki bab-bab awal PG. Gue lagi garap, dan kayaknya jadi exciting banget!
Tuh, kata siapa proses panjang itu melelahkan? [biggrin]
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 16, 2008, 09:01:57 am
________________________________________
haha bener banget kata Loki, banyak banget penulis yang menghabiskan waktu bertahun2 demi menyempurnakan karyanya dan gw yakin mayoritas diantaranya adalah penulis novel fantasy. Genre lain, drama atau cinta misalnya, ceritanya tidak perlu konsep yang benar2 mendetil, cinta juga tidak butuh logika, yang penting lo pernah ngerasain cinta itu dan warna2 warni rasanya dan sisanya let your heart do the rest. Toh kita ga perlu memikirkan ‘apa asal usul cinta, terbentuk dari apa, legendanya apa, etc2 ky fantasy XD

Gw sendiri sebagai penulis jauh lebih muda dari kalian. emm… kl ga salah baru mulai menulis sejak A.Hirata keluarin Lasper, yang menurut gw merupakan momentum yang bagus utk menyusul. Tp konsep dasar cerita, sampai bangun konsep dunia etc udah gw mulai sejak 9 tahun yang lalu, ketika gw masi menulis cerita utk komik gw. Perjalanan yang panjang banget memang, masalahnya, kenapa kita bisa smpai memakan waktu bertahun2 itu, karena kita engga pernah fokus punya waktu 100% menulis sejak kecil, ditambah lagi kemampuan menulis kita selalu berkembang seiring waktu.

Coba ingat2 lagi. dr waktu dulu SD, gw bahkan ga berpikir plot cerita,wong masi bocah yang nontonnya pokoke kartun berantem action aja (contoh saint saiya). Kemudian naik SMP, kita makin dituntut untuk belajar, belajar, dan belajar. Mana ada waktu utk mikir yang lain? (kecuali mikir main PS itu selalu ada waktu XD). Saat itu kemampuan gambar gw berkembang lagi, gw mulai belajar plot dasar yang basic sekali disegala genre battle yaitu ‘balas dendam’. (kira2 kelas 2, dimana gw anggap sebagai starting point gw as a writer)

Lanjut lagi naik ke SMA, nilai gw semakin lama semakin parah lantaran gw hanya pintar logika dan sangat lemot dalam menghapal teori. (terakhir penah merah 5 dan semuannya dari sub pelajaran IPA-IPS) Sukur dulu standar nilai ga kaya skarang, kl engga gw dah jd murid sekolah abadi >.<. Nah, tuntutan sekolah macem gini ditambah tekanan orang tua ga memungkinkan kita serius ke hobi kita yang mereka angap ga berguna. Disini gbr gw dah one of the best di kelas, dan satu2nya yang ngembangkan komik dengan serius. (jadi beberapa jilid walau ceritanya masi kacau balau) Disini gw masi terpengaruh berbagai game terutama xenogear (gr2 xeno gw gatel banget pengen ngisi char utama gw dengan berbagai multiple personality, karakter Arlond yang dulunya bernama Naoru pun mulai terlahir)

Akhirnya lanjut ke kuliah, jurusan design. Pribadi semakin matang, gw melupakan gambar untuk sementara waktu dan belajar desain yang ternyata banyak membantu dari segi grafis apapun termasuk kemampuan gw membuat komik. Dr sini gw bergabung di deviantart, sadar ternyata dewa gambar ada bejibun di dunia ini, kemudian saat itu gw baru nonton yang namanya Lotr, matrix etc, segala movie yang memilik konsep cerita dahsyat sekali, dan akhirnya gw kembali ke dunia menulis dan merancang dunia bagi cerita lama gw. (karakter yg sama, plot dasar sama, cuma dikasi konsep dunia)

Akhir masa kuliah, jujur gw baru mulai menyentuh yang namanya novel. Gw dulunya pecinta gambar dan sangat takut dengan textbook. Kakak gw beli 5 jilid Harpot sekadar ikut2an, tp ampe setahun ngangur masi tersegel, ga dibuka sama sekali. Akhirnya gw iseng2 baca, dan ternyata gw berubah jadi maniak nulis novel [rolleyes]

Setelah itu, ya gw join berbagai forum, ke k.com, ampe akhirnya kesini, dan sadar perjalanan gw masi panjang sekali dan jauh dari selesai. Tapi coba liat lagi ke belakang, tengok karya kita beberapa tahun lalu, sama seperti gambar, kemampuan menulis gw berkembang jauh dibanding beberapa bulan lalu dimana ceritanya masi bener2 berantakan. Darisitu kita bisa tahu, kl perjalanan panjang kita itu ga pernah sia2. The only thing that never betray us is hard training and careful planning. That is what I believe. Kemampuan kita akan terus menerus berkembang tanpa batasan, it is ourself that decide when it is the time to stop and start putting our training into real result (terbitkan). Dan disini lah yang namanya momentum berperan. Terlalu lama skill kita akan terus menerus outdated dan keduluan oleh orang lain (yg akhirnya kita hanya menghabiskan waktu mengejar orang lain dan tak pernah terbitin apapun), tp terlalu cepet juga kita bisa merusak segalanya dan kehilangan chance utk menjadi penulis terkenal dan sukses. Inget kl br di ms word, ada yang salah dan disesali masi bisa diedit. Tp kl udah sampai terbit, artinya itulah kemampuanmu yang sudah kau perlihatkan ke dunia, tak bisa diundo ataupun diedit. Lo harus membuat karya baru yang bisa mengubah penilaian sebelumnya dan hal itu akan 2x lipat lebih susah dari karyamu yang pertama. Segalanya harus PAS dalam rasa, komposisi, dan juga waktu.

Satu kesimpulan lagi dr penjelasan ruwet diatas, yaitu dari waktu bertahun2 yang kita habiskan, waktu sebenarnya kita hanya menghabiskan ga sampai setahun ‘jam kerja’ yang bener2 dimana kita fokus mengembangkan cerita kita. Om Pur yang ampe 17 tahun juga begitukan? Ga mungkin 17 tahun itu anda habiskan bener2 fokus pada yang namanya menulis kan? :) So sebenernya kita yang menulis bertahun2 ini sebenernya baru menulis dengan jam kerja yang tak sampai 10 % waktu tersebut, 90 % sisanya we go with other things in our life.

Hmm sebenernya masih banyak yang pengen dibicarakan, :P tp gw akan berhenti disini dulu hehe.
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 16, 2008, 12:45:07 pm
________________________________________
Well, sejarah singkat PG,… :)
Finish pertamakali bulan november tahun 1991, untuk satu proses yang sudah kumulai dari 89-90-an. Penulisannya on-off tapi cukup intens deh, di sela kegiatan sebagai mahasiswa.
Setelah itu cukup lama ga pernah disentuh lagi, ada beberapa editing minor tapi hilang akibat kompie bergati-ganti :( masih nyimpen di disket segala kan jaman-jaman itu,… hehehe,…
Hanya ada satu hardcopy, yg gue pinjamkan ke beberapa sodara, terutama yg tinggal (ngikut) di rumah gue. Lumayan dapet banyak komentar. Jujur, pada saat itu gue pernah memikirkan untuk submit naskah ke penerbit. Tapi selain belum kenal jalurnya, hardcopy yg setebel alaihim itu (3 jilid pulak) membuat gue ragu-ragu, jangan-jangan udah ditolak editor sejak pandangan pertama!

Tahun 2005, setelah sekian tahun gak pernah menyentuh lagi (tapi masih dibaca-baca juga, kadang-kadang), plus kehidupan berjalan, married, pindah ke rumah mertua, intens di musik, dll, aku menatap kembali naskah PG di lemari file, kebetulan saat pindahan ke rumah baru, rumah sendiri, hehehe,…
Mulai terpikir untuk mengabadikan dalam bentuk softcopy, sekaligus merevisi beberapa bagian yang udah terasa jadul. Saat itu gue berkenalan dengan beberapa anak SMK yg lagi PKL di kantor gue. Dengan iming2 honor mengetik, alhasil hard copy bersalinlah kembali menjadi soft copy. YES!
Itu titik balik perbaikan-perbaikan besar yang dialami PG. Cukup banyak yg gue lakukan, yang merupakan akumulasi ide-ide perbaikan sekian tahun, plus usaha untuk melicinkan kembali logika cerita dibagian-bagian yg masih terasa aneh, serta merelevankan setting dengan situasi terkini (adanya kultur HP, SMS-ing dll), plus nanya-nanya sama anak-anak SMA itu! (target market, bo,… hihihi).
So, true, ngerjainnya gak straight 17 tahun tiap ‘ari ;D

Tapi menurut gue, saat-saat idle time itu juga merupakan sebuah proses pematangan. Karena saat itulah gue berinteraksi dengan berbagai fakta yang membuat penilaian artistik maupun logika gue terhadap novel itu terbentuk. Misalnya percakapan dengan somebody, membaca suatu karya, dll. Day-by-day, sebenernya Novel itu terforming kembali dalam kepala gue dan pada saatnya kemudian mengalami pengeditan.
Dan nyatanya, proses itu sampai sekarang masih berlangsung. Dan gue sendiri belum merasa bentuk yg sekarang sudah ‘final’.
Jadi kalo gue bilang sih waktu yang ter-spent sepanjang itu adalah memang waktu yang diperlukan bagi karya gue untuk menjadi dewasa in it’s own right. Kalau memang sudah waktunya diterbitkan nanti, itu Insya Allah memang merupakan waktu yang sudah ditetapkan oleh alam semesta bahwa memang sudah saatnya PG lahir ke dunia,… hehehehe,….
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: rd_Villam on June 16, 2008, 01:33:41 pm
________________________________________
gue dah pernah bilang soal ini sejak dulu berkali-kali. jika seandainya naskah bertahun2 itu akhirnya tetap tidak bisa terbit, no problemo buat gue.
karena jujur, dulu TFH memang tidak dirancang buat dipublikasikan, tapi karena memang gue senang menulis itu, sepenuh hati, dan memang itu untuk hanya konsumsi pribadi gue dan keluarga gue. jadi isinya memang rada berat dan dulu sangat tidak marketable.
silakan kalo gak percaya: ngapain juga menulis kalo bukan buat jadi penulis? tapi memang begitulah adanya. gue tuh baru kepikiran jadi penulis itu setahun yang lalu (2007), dan barulah naskah lama TFH akhirnya dipermak sana-sini. gue sih tetap percaya bahwa naskah ini nantinya akan berhasil, tapi gue tau bahwa hasilnya memang tidak akan cepat. gue sadar lebih baik gue menulis cerita2 lain lebih dulu, yang lebih marketable, baru gue nanti coba masuk lagi dengan TFH.

tapi, seandainya nanti tetap saja TFH tidak bakal tembus, lalu apakah gue harus menyesal karena sudah buang waktu dan tenaga? lebih jauh lagi, seandainya nanti gue gagal jadi penulis profesional, apakah gue bakal menyesal melakukan ini semua?
jawabnya tidak, gue gak bakal menyesal sedikit pun. ngapain juga nyesel-nyesel? repot-repot…
proses menulis selama bertahun-tahun gue adalah proses yang gue lewatin buat jadi manusia seperti gue sekarang. di dalamnya ada proses bermimpi, merenungi nilai-nilai kehidupan, berefleksi, dan juga bekerja keras. dan karena gue bersyukur gue udah bisa jadi manusia seperti sekarang, dan gue bangga, maka tak perlu ada yang disesali.

gue gak peduli orang lain bisa menulis 2 hari selesai, seminggu selesai, sebulan selesai, setahun selesai. so what? emang gue pikirin?
yang paling ngerti kemampuan gue adalah gue sendiri. kalo emang gue dengan segala keterbatasan gue cuma bisa bikin dua novel dalam satu tahun, ya sudah. kalo emang semuanya belum bisa diterbitkan, ya gampang saja, tinggal menulis lagi yang lain.
yang penting gue udah melakukan itu penuh hati, dengan niat yang tulus untuk membuat sesuatu yang mungkin nanti bisa bermanfaat buat orang2 di sekitar gue (bukan karya-karya yang selesai dua hari yang mudah dilupakan orang), syukur-syukur bisa dibaca banyak orang. gue menulis karena gue cinta, dan gue tahu cinta gue itu nanti pada akhirnya bisa dirasakan oleh orang lain, orang-orang terdekat gue terutama. itulah warisan yang bisa gue tinggalkan sebagai manusia.
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 16, 2008, 10:03:23 pm
________________________________________
hmmm ternyata ada juga orang benar-benar menulis sebagai hobi dan tidak menjadikannya ambisi dalam hidup. Mungkin gw yang terlalu ambisius yah? Gw sih terus terang ngincer target tinggi, baik ketika menggambar komik, atau pun menulis, gw ga pernah puas sebelum jadi yang terbaik. Karena itu rasanya kalau belum yakin jadi penulis terbaik gw ga akan terbitin… soalnya semuanya terasa ga ada artinya kalau waktu bertahun2 yang gw habiskan ternyata hanya untuk menjadi nomor dua apalagi hanya tergeletak begitu saja di toko buku tanpa ada yang membeli.
Memang rasanya mimpi yang susah dicapai, tp gw yakin seperti kt pak mario teguh (weks) orang yang berpikir besar akan menjadi besar pula. :P
________________________________________
Post by: clickdian on June 17, 2008, 08:40:33 am
________________________________________
Hmm.. rada bingung juga mau komen apa. Soalnya aq kebetulan pertama kali nulis novel langsung terbit, dan ini rada beda sama yang laen. Novel kedua terbit juga, walopun genrenya beda *terdengar tawa Rey di kejauhan*
Tapi dulu waktu nulis Zauri, jujur gak kepikiran mau nerbitin. Bener2 buat diri sendiri aja, dan malah gak kepikiran buat ngewarisin itu untuk anak cucu heheh.. Yang kepikiran waktu itu, aq bakal mati penasaran kalo cerita yg ngehantuin terus itu gak dibikin dalam bentuk tulisan. Itu aja.
Kalo gak dikomporin temen gak bakal deh kayaknya nyamperin penerbit, soalnya asli gak pede. Sampe sekarang pun, kalo ngedenger orang baca Zauri, malah sampe bela-belain beli segala, masih nggak percaya. Kok mau-maunya sih? hehehe..
Yah.. jalannya Zauri sedikit lebih lancar dari teman-temannya yang lain di sini, tapi nggak berarti dia pasti lebih bagus. It’s only a matter of time. Yang lain nanti menyusul. Semua akan indah pada waktunya *hayyah* ;D ;D
PS: kok jadi pada mellow begini yah?? :D
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on June 17, 2008, 01:13:46 pm
________________________________________
Duh, pusing… :D :D :D
Gw pengen posting reply, tapi masih berkutat membaca reply2 laen yang panjang-panjang banget… malah omongannya serius banget lagi…
Beginilah akibatnya kalau cuti 1 hari… ketinggalan berita! ;D
Sebagai permulaan, gw mau share kalau revisi novel gw bagian 1-nya akhirnya udah slesai! Yay!
(tapi masih ada 2 bagian lagi: 500 hlm, [hammer])
Ayo semuanya smangat menulis! [thumbsup]
Oya, rey, gw baru 6 taon. Jangan ditambah ah umurnya… :-[
________________________________________
Post by: fr3d on June 17, 2008, 01:44:10 pm
________________________________________
Gw gak akan ngejawab panjang lebar deh... seperti kata mba dian, udah mellow banget tret ini jadinya...
Seolah-olah, kita semua adalah kumpulan pemimpi yang menyedihkan... hiks... :'(
Jadi, jawaban gw atas pertanyaan rey cuma 1:
Yang jelas, dunia akan MENYESAL dan RUGI BESAR kalau karya gw gak terbit!!!
[bomb] [bomb] [bomb] BWAHAHAHAHAHA! (*tawa bos penjahat*)
^
^
^
Maksudnya spesial efek gitu… ada ledakan2 di belakangnya… ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: rd_Villam on June 17, 2008, 04:59:18 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 16, 2008, 10:03:23 pm
hmmm ternyata ada juga orang benar-benar menulis sebagai hobi dan tidak menjadikannya ambisi dalam hidup.

haha…
gak usah terlalu dipikirin deh.
setiap orang yang paling tahu soal mimpi dan ambisinya masing-masing.
sekarang sederhana aja,
selama kita masih ngobrol bareng di sini,
berarti kita masih punya mimpi dan ambisi tersebut.
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 17, 2008, 09:06:39 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on June 17, 2008, 04:59:18 pm
selama kita masih ngobrol bareng di sini,
berarti kita masih punya mimpi dan ambisi tersebut.

Well said, bro, well said! [thumbsup] [thumbsup] [thumbsup]
FA Purawan
________________________________________
Post by: BloodSin on June 17, 2008, 10:35:34 pm
________________________________________
@Om Pur, Serpent, Villam,
TQ buat long explaination-nya dudes, realy appreciate it!
Quote
Buat gue yg penting adalah pesan/missi karangan dapat dishare ke banyak orang, siapa tahu ikut membantu orang-orang melaluinya. Pahala, bo.

Tapi tentu saja ada sisi sukses komersil yang diharapkan. Sukses komersil (balik modal, ada profit) sangat diperlukan demi eksistensi karya-karya selanjutnya.

Quote
proses menulis selama bertahun-tahun gue adalah proses yang gue lewatin buat jadi manusia seperti gue sekarang. di dalamnya ada proses bermimpi, merenungi nilai-nilai kehidupan, berefleksi, dan juga bekerja keras. dan karena gue bersyukur gue udah bisa jadi manusia seperti sekarang, dan gue bangga, maka tak perlu ada yang disesali.

Quote
hmmm ternyata ada juga orang benar-benar menulis sebagai hobi dan tidak menjadikannya ambisi dalam hidup. Mungkin gw yang terlalu ambisius yah? Gw sih terus terang ngincer target tinggi, baik ketika menggambar komik, atau pun menulis, gw ga pernah puas sebelum jadi yang terbaik. Karena itu rasanya kalau belum yakin jadi penulis terbaik gw ga akan terbitin… soalnya semuanya terasa ga ada artinya kalau waktu bertahun2 yang gw habiskan ternyata hanya untuk menjadi nomor dua apalagi hanya tergeletak begitu saja di toko buku tanpa ada yang membeli.

bagi gue pribadi, sebetulnya ini bukan masalah kesuksesan komersil, bukan juga buat urusan pahala, bukan juga gara2 gw gak pernah mensyukuri idup gw, dan bukan juga ttg ambisi menjadi yg terbaik..
kenapa gw berambisi naskah gw harus terbit (ato kalo kagak gw bakal resign), itu lebih ke arah tentang misi pencapaian gw di suatu bidang. sekali lagi, pencapaian, man.
gw gak akan pernah bisa bangga pada diri gw sendiri kalo pencapaian tulis menulis gw masih stagnan kayak yg sekarang: bangun pagi bikin kopi terus nyalain kompie buat ngetik novel, ngepost di k.com hasil ketikan tadi pagi, dapet pujian, dapet kritik, dapet poin, nyengir seneng, tidur. besoknya lagi bangun pagi lagi bikin kopi, nyalain kompi, lanjutin ngetik novel, post di k.com, dapet pujian, dapet kritik, dapet poin, nyengir seneng, dan seterusnya…. sampe kiamat. tanpa adanya komitmen untuk suatu pencapaian. berartikah itu semua?
menulis buat iseng, silakan. menulis buat hobi, jamak. menulis dijadiin profesi, susah.
di indonesia, orang gak bisa idup dari menulis novel (kalopun bisa, itu minoritas banged). paling banter dijadiin buat hobi. dan karena cuma sebatas ‘hobi’, gw percaya pada akhirnya setiap ‘penulis’ cepat-lambat bakal meninggalkan hobi menulis itu, beralih ke profesi dirinya yg sebenarnya, karena gimanapun juga orang itu perlu makan, perlu duid buat kehidupannya, perlu pencapaian2 karir yg gak ada hubungannya dengan menulis novel. belom lagi kalo nantinya dia berkeluarga.

trust me, akan ada suatu titik di mana pada akhirnya elu2 semua jenuh dan bahkan melupakan sama sekali novel elu yg udah digeluti bertahun2.. dan jangankan melirik kembali novel abadi lu itu, menulis buat judul lain pun lu bakal keilangan gairah, karena lu tersiksa dengan fakta bahwa sesungguhnya selama ini lu gak pernah mencapai apa2.
tiba-tiba lu menyangkal dengan tegas: siapa bilang gw gak pernah mencapai apa-apa? om pur dan bang villam pernah bilang, ‘proses’-lah yang terpenting, yg paling berharga. yeah, sure. tapi berartikah proses itu tanpa adanya output konkrit?
be realistic lha, titik jenuh itu bakal datang, cepat-lambat.. entah itu dateng pada esok hari, ato di hari tua lu.
dan gw percaya in the future, gw bakal ngalami ini juga. maka dari itu kenapa gw berkomiten naskah gw harus terbit, karena gw menginginkan pencapaian. setidaknya, kalopun nanti gw udah gak menulis lagi, ada ‘bukti fisik’ akan pencapaian itu, yaitu cetakan hardkopi novel gw.
yg terjadi pada gw, itu bukan ‘repot-repot’ menyesali waktu dan tenaga yang terbuang, tapi gw mau menempatkan diri gw cuma berada di dua pilihan ekstrem: mencapai sesuatu, atau tidak sama sekali untuk selamanya.

note: td pagi gw dapet telpon dari jogjakarta, bilang mau balikin naskah gw, ahahahah cepet banged keputusannya (kurang dari 2 minggu(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)), dan gw ‘optimis’ kalo udah sampe tahap balikin naskah begitu, hasilnya tidak lain tidak bukan: ditolak. parah.. segitu bututnyakah naskah gw sampe penerbit cepet banged nolaknya (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif)
eniwei, satu dari sekian banyak ‘judges’ itu sudah menjatuhkan vonis bagiku… :’(
hmmm.. masih ada judges yg lain, luckily.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 17, 2008, 10:42:27 pm
________________________________________
hmm… sekalian mengubah topik dikit. Menurut kalian apa yang membedakan antara cerita fantasy kelas berat seperti Lotr dan sejenis dengan sebuah anime berimajinasi tinggi pada umumnya? Soalnya selama ini gw baca fanficnya anak k.com mayoritas lebih kebayang nya just another anime’ish story.
So? apa yang harus dilakukan agar sebuah fantasy story yang kita buat bisa terlepas dari kesan anime?
- apakah semua cerita nya harus darkish dan serius?
- apakah tidak boleh ada jurus2?
- apakah karakternya harus bersikap dewasa dan tidak ada konyol2an?
- apakah semuanya harus pakai logika?
- atau sebuah fanfic berbeda dari anime krn ‘kesempurnaannya’ ?
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 17, 2008, 11:19:31 pm
________________________________________
Quote
di indonesia, orang gak bisa idup dari menulis novel (kalopun bisa, itu minoritas banged). paling banter dijadiin buat hobi. dan karena cuma sebatas ‘hobi’, gw percaya pada akhirnya setiap ‘penulis’ cepat-lambat bakal meninggalkan hobi menulis itu, beralih ke profesi dirinya yg sebenarnya, karena gimanapun juga orang itu perlu makan, perlu duid buat kehidupannya, perlu pencapaian2 karir yg gak ada hubungannya dengan menulis novel. belom lagi kalo nantinya dia berkeluarga.
trust me, akan ada suatu titik di mana pada akhirnya elu2 semua jenuh dan bahkan melupakan sama sekali novel elu yg udah digeluti bertahun2.. dan jangankan melirik kembali novel abadi lu itu, menulis buat judul lain pun lu bakal keilangan gairah, karena lu tersiksa dengan fakta bahwa sesungguhnya selama ini lu gak pernah mencapai apa2.

Bro,.. bro,…
Situasi yang elo sebutin di atas itu apply sepenuhnya ke gue. Dan gue gak sedikitpun ngerasain kejenuhan seperti yg elo perkirakan.
Gairah bikin novelpun gak pernah pudar. Selain PG, ada beberapa project lain. Memang belum diintens kan, tapi bukan karena gak bergairah. Simply ga ada waktu dan belum bisa riset aja :) Dan hobby dgn profesi itu tidak harus sama,.. koq.
Gue rasa sih, pendapat elo gak tepat dalam hal ini. Tapi,… it’s your opinion. It’s your choice.
Perhaps kalo helicopter view elo udah lebih tinggi lagi, elo akan bisa memahami point of view gue :)
Happy voyage!
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on June 18, 2008, 09:15:43 am
________________________________________
Rey, kalau belum pernah ngalamin, emang susah deh, pikirannya pasti macem2…
Jadi, kita dengerin aja kata om pur yang udah pernah ngalaminnya sendiri (meski blom pernah ngirim ke penerbit, paling gak udah melalang buana sampe belasan tahun).
Gw sendiri lebih setuju sama om pur.
Lupa karena terdorong ke pojokan yang gelap mungkin iya, tapi yang namanya “gairah” gak akan pernah hilang.
Dan gw pun setuju, proses juga bisa dihitung hasil/pencapaian, apalagi seperti pengalaman pribadi gw, selama proses penulisan novel justru mengubah cara pandang gw ke banyak hal. Gak cuma tokoh2 di novel gw aja yang karakterisasi-nya berkembang, tapi penulisnya pun juga. ;D Dan itu adalah suatu pencapaian besar buat gw.
Kalau memang terbit, tentunya diitung sebagai pencapaian yang lebih tinggi lagi, sekaligus satu hal: pembuktian.
:)
________________________________________
Post by: fr3d on June 18, 2008, 11:05:24 am
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 17, 2008, 10:42:27 pm
hmm… sekalian mengubah topik dikit. Menurut kalian apa yang membedakan antara cerita fantasy kelas berat seperti Lotr dan sejenis dengan sebuah anime berimajinasi tinggi pada umumnya? Soalnya selama ini gw baca fanficnya anak k.com mayoritas lebih kebayang nya just another anime’ish story.
So? apa yang harus dilakukan agar sebuah fantasy story yang kita buat bisa terlepas dari kesan anime?
- apakah semua cerita nya harus darkish dan serius?
- apakah tidak boleh ada jurus2?
- apakah karakternya harus bersikap dewasa dan tidak ada konyol2an?
- apakah semuanya harus pakai logika?
- atau sebuah fanfic berbeda dari anime krn ‘kesempurnaannya’ ?

Gw jawab pertama kali neh… ;D ;D ;D
Jeff, kalau menurut gw, sebenernya kedua hal itu emang dua style fantasi yang beda: gaya west dan gaya east.
Jadi gak ada pakem yang menyatakan salah satunya benar atau salah satunya salah.
Ya semua tergantung sama kesukaan si penulisnya aja atau selera pembacanya.
Apakah gak ada cerita fantasy gaya anime/manga yang pernah terbit sebagai buku/novel (selain hanya sebagai background game)? Jawabannya: ada.
Paling gak gw tau satu judul: Arcanum de Selum (kalo gak salah nulisnya gitu). Novel fantasi bahasa mandarin ini termasuk novel fantasi laris di negerinya (ngalahin sejumlah novel terjemahan).

Trus komentar lain dari gw:
1. Gak ada korelasi positif antara cerita serius/dark atau karakter dewasa/tidak konyol dan novel fantasi bagus. Yang penting semuanya tergantung penempatan aja, cocok atau gak dengan niat si penulis terhadap cerita atau tokohnya dengan yang akhirnya tersampaikan ke pembaca. Tidak ada masalah anime atau bukan anime. Semua sama aja kewajibannya. Bahkan anime pun banyak yang serius dan dark, dan tetep bagus, contohnya: Noir, Grave of Fireflies, dll.
2. Novel fan fic pada umumnya juga banyak yang ada jurus2-nya, cuma gayanya lain aja, misalnya ngucapin mantra sihir, etc. Semata-mata karena kalau ngucapin “Mutiara Beraksi!!!” atau “Meteor Pegasus!!!” gak cocok aja sama budaya yang mereka ciptakan di novel mereka.
3. Logika?
Maksudnya gini, meskipun kita ciptain kapal interstellar yang canggih banget di dalam novel kita (misalnya kapal yang bisa pindah antardimensi), kita harus punya alasan kenapa kapal itu bisa begitu (pindah dimensi), dan alasan itu sendiri harus logis di dunia fantasi yang kita ciptakan.
Contohnya: Tolkien menulis frodo dan sam sepanjang jalan ke mount doom cuma makan roti elf doang. Kenapa dua hobbit itu gak mati karena kekurangan gizi?! Padahal kalau di buku mereka jalannya sampe berbulan-bulan! So? Apakah itu masuk akal/logis seperti kata loe? Jawabannya: iya.
Kenapa? Karena Tolkien menceritakan apa itu roti elf. Betapa roti itu gak cuma enak banget ([biggrin]), tapi bener2 bergizi tinggi. [thumbsup]
Hal yang sama terjadi pula dengan mithril. Apaan pula zat itu sampe bisa2nya lebih kuat daripada baja?! Orang2 pasti bilang itu gak masuk akal! Tapi, itu masuk akal karena Tolkien menciptakan alasannya.
Itulah maksudnya logis atau enggak.
Suatu karya fantasi yang bagus adalah suatu karya yang menceritakan dunia yang believeable dalam cakupan fantasi yang diceritakan itu sendiri.
Ingat, bukan berarti logis untuk di dunia nyata! (Yang notabene gak mungkin, berhubung genre-nya aja udah fantasi!)
4. Tentang kesempurnaan, karena gw gak pernah kotak-kotakin jenis2 fantasi, maka gw menilai kesempurnaan dari nilai suatu karya (apa pun) secara keseluruhan. Secara keseluruhan ini berarti gabungan plot, penokohon, alur, tema, setting, gaya bahasa, orisinalitas, eksekusi penulis, ya semuanya lah…
Kalau semuanya itu pas, berimbang, tepat guna, serta sampai ke pembaca, maka karya itu bisa dikategorikan sempurna.
Even anime-like story can be perfect. :)
Gitu dulu ah…
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 18, 2008, 11:29:34 am
________________________________________
@Fred
Hmm.. thx… pikiran gw jadi lebih terbuka. Gw selama ini cuma terpaku gmn caranya supaya tidak terbaca seperti sebuah anime/game tanpa liat garis besar masalah sebenarnya. Terutama soal logika. Artinya kita harus menciptakan sebuah pakem logika yang baru, dan buat pembaca berpikir ‘logis’ menurut logika yang kita buat.

Quote
tapi yang namanya “gairah” gak akan pernah hilang.

Kl berdasarkan pengalaman pribadi gw sih, gw ga setuju. Dulu gw hobi dan cinta mati ama yang namanya gambar, apalagi komik. Dulu gw pernah bertekad seumur hidup gw paling tidak harus bisa terbitin satu buku komik yang gw kerjakan (gefallene masse terdahulu). Dan dulu waktu gw utk menggambar sangat sedikit krn sekolah dan lain2. Sekarang akhirnya gw lulus dan bisa ‘beruntung’ mendapat project komik Amrik yang gw sukai. tapi apa nyatanya sekarang? Gw sampai muak mengambar, gairah gw hilang, dan gw menganggap gambar sebagai hal yang menggangu hidup gw skrg ini, mengganggu waktu gw untuk menulis novel.
Mungkin ada yang bilang, itu karena cerita komik itu bukan cerita gw, bukan idealisme gw, dan gw bekerja demi orang lain. Tadinya gw juga berpikir begitu pada awalnya. Tapi gw pikir lagi ternyata kasusnya bukan begitu. Hal ini terjadi semata2 karena gw hanya ‘menginginkan’ yang aku ingin kerjakan, dan ketika gw mendapat yang gw inginkan, ternyata manisnya hilang…
Sperti juga ketika dulu masih sekolah rasanya mau main game sepuasnyaa…. setelah liburan datang dan akhirnya gw main seharian, ternyata cuma butuh 3-4 hari untuk membuat gw bosan dgn itu. Jujur gw takut kl nanti gw dah lepas kerjaan komik gw utk fulltime menulis, hasrat menulis gw pun akan menghilang seperti itu…. :’(
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: fr3d on June 18, 2008, 11:46:16 am
________________________________________
Ya… gak bisa dibandingin juga kali antara “gairah” nulis sama maen game.
Kalau mah udah tamatin suatu game, gw juga selalu gak bergairah lagi maen game. ;D
Tapi, seperti yang gw bilang tadi, sebenernya “gairah” itu cuma tertimbun aja sama gairah yang lain.
Kita jadi bosen ya, tapi itu cuma sementara, semata-mata karena kepuasannya berkurang aja dan kita menemukan sumber kepuasan lain. Masih ingetkan hukum ekonomi yang diajarin di sma dulu: kalau kita laper berat, trus makan sesuatu, lama-lama pasti kenyang, tapi lama-lama nilai kepuasannya makanan itu juga berkurang (kurang lebih gitu lah maksudnya, [biggrin]) Tapi karena kita akhirnya muak sama makanan itu, bukan berarti kita gak akan pernah laper lagi kan?
;)
Gw percaya, kalau momennya tepat, loe pasti bakal bikin komik lagi. Kita tunggu aja. Mungkin setelah GM terbit? Hehehe…
________________________________________
Post by: BloodSin on June 18, 2008, 01:48:22 pm
________________________________________
sebetulnya dulu gw pernah mengklasifikasi stereotipe2 yg mungkin muncul dari suatu karya fantasi, gaya RPN(Role Playing Novel–stereotipe yg dipengaruhi berat oleh RPG/manga/anime) ini lha salah satu stereotipe yg paling sering di indo ini. sebetulnya streotipe ini gak jelek kok. malah, RPN-nya clickdian–Zauri, dapet penghargaan juara dua kategori remaja di ajang IKAPI award..
tapi emang, alangkah baiknya kalo kita gak terseret tendesi penulis fantasi lokal kebanyakan, ya genre RPN itu lha.. ini bukan berarti semua RPN gak bakal terhitung spesial di mata gw (halah udah kek orang penting aja gw ;D), setidaknya seumur2 gw baca novel fantasi, ada satu judul RPN dahsyat di mata gw, bikinan ex-member sini juga, tapi judulnya masi di-r.a.h.a.s.i.a-kan bagiku hueheheh.. :P

bagi gue, yg ngebuat suatu karya fantasi itu terhitung RPN ato bukan, itu penilaiannya gak satupun dateng dari pertanyaan2 rinci lu di atas, melainkan harus yg berciri2 berikut:
1. alur ngebut, ciri ini yg paling mungkin muncul dalam suatu RPN.
2. gaya cerita yg kerasa game RPG banged: masuknya karakter satu per satu buat jadi anggota party, bekerja sama ngelawan monster, pake magic, summon guardian, ada spesial moves segala ;D, dan… seterusnya.
3. setting & peraturan dalam dunia rekaan yg ala RPG, alih2 menuruti rules dalam dunia konkrit. misal orang bunuh monster bakal dapet duid ato item berharga, tokoh2 yg udah terbiasa banged ama monster dan keanehan2 yg gak lazim di dunia nyata, dan bangunan setting yg seutuhnya imajinasi pengarang tanpa dukungan riset/fakta dari dunia nyata.
4. minimnya refleksi/konflik batin dalam cerita, dan penceritaan terfokus pada pendeskripsian rentetan peristiwa antar peristiwa–mungkin ini yg ngebikin jadi berkesan ngebut. tak jarang bbrp aspek lainnya jadi kedodoran pula karena faktor ngebut itu, seperti karakterisasi, pembangunan setting, dll..
5. naming! umumnya naming buat tokoh2nya beraroma barat, tapi ajaib punya bunyinya. somehow nama2 itu berasa familiar dalam ingatan (tentu ini cuma berlaku buat pembaca ex-RPGer), tapi anehnya sebetulnya lu baru pertama kali denger nama itu.
beberapa RPN mungkin gak menuruti satu-dua pakem di atas, kayak ledgard yg cenderung bertempo lambat alih2 ngebut, atau Zauri yg teknik karakterisasinya masi terjaga.. tapi umumnya yg gw dapet setelah baca Ledgard, Zauri, Nightfall, Cardan, Holy Knight (RPN majalah ultima) dan satu judul RPN r.a.h.a.s.i.a itu, yak pakem2 di atas itu lha yg muncul.
note:
eh eniwei, gw mau tanya ke elo, gimana kesan lo baca prolog lemuria gw? kerasa gak RPN-nya? soalnya harus gw akui, gw pun awal2 nulis lemuria itu kepengaruh banged ama gaya game rpg… :P

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XIV (3 Jun 2008 – 14 Jun 2008)

  • Mengapa mengirim naskah dengan hardcopy?
  • Cuplikan Aura karya hege
  • Tentang Ledgard

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: cheppy70 on June 03, 2008, 01:54:21 pm
________________________________________
Pertama-tama, sekali lagi Selamat buat Rey yg udah lulus ujian kesabaran. Moga-moga hikmah yg bisa diambil adalah Lemures menjadi 10×10 lebih baik.
Nunggu 3 tahun? nunggu 6 tahun?
Hear this. PG has been around 17 tahun. Menurut gue, it still worth the time. Dan kala aku membagi-bagikan novel ini secara gratis, pun, tentunya bukan semata-mata gratisnya, melainkan dengan kesadaran bahwa PG masih harus terus disempurnakan, dan saya butuh pandangan orang lain untuk melihat dimana kekurangan2nya.
Hikmahnya, gue terus berusaha memperbaiki style, logika, karakter, sampe rasanya gue begitu mengenal setiap tokoh di dalamnya, serta proses sebab-akibat yang terjadi dapat kususun lebih rapat dibanding pertama kali ditulis, dulu. Mungkin aja hasil rombakan gue yg baru pun belum bisa memenuhi standar penerbit. Tapi setidaknya, Novel ini menjadi jauh lebih ‘matang’ dalam pemahaman sang pengarang.
Emang sih, ketinggalan gue dibanding elo adalah: gue belum pernah tawarin ke penerbit!
Tapi ada sisi lain dimana mungkin sebagai orang yg udah menjalaninya selama 17 tahun, gue punya cukup pengalaman buat ngomong ini: Aku bersyukur bisa nulis PG sampai ke bentuk yg sekarang, aku ga nyesel bila sampai sekarang pun belum gue terbitin, dan gue treat PG as something valuable I did in my life.

BTW, @all,
Gue penasaran dengan kesulitan Rey harus mencetak sampai 5 hardcopies segala. Apakah sampai hari gini para penerbit masih mengharuskan naskah dikirim dalam bentuk hardcopy? Bukankah sekeping CD aja udah cukup untuk memuat doc files atau pdf files. Save the forest! Gimana komentar temen-temen yg udah biasa gaul dengan penerbit?
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: clickdian on June 03, 2008, 02:41:04 pm
________________________________________
Fapur,
tentang pengiriman ke penerbit, to bad kita harus menggunduli hutan karena ini.
Ada tiga alasan kenapa kita mesti kirim dalam bentuk hardcopy (walopun jujur, sayanggg banget):
1. editing akan lebih mudah dalam bentuk ini.
2. mengurangi kemungkinan pencurian naskah (yang mudah dicopy-paste kalau dalam bentu file). PDF bisa diekstrak.
3. aturan penerbit. mreka gak mau bentuk softcopy.
kalau bisa pake file sih mau aja.. kalo ada program yang bisa mencegah ekstraksi file.
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on June 03, 2008, 03:02:19 pm
________________________________________
Quote from: clickdian on June 03, 2008, 02:41:04 pm
Fapur,
tentang pengiriman ke penerbit, to bad kita harus menggunduli hutan karena ini.

Ada tiga alasan kenapa kita mesti kirim dalam bentuk hardcopy (walopun jujur, sayanggg banget):
1. editing akan lebih mudah dalam bentuk ini.

Karena gampang dicoret-coret, ya? Oke deh, bisa setuju.
Tapi kalo masih pengiriman naskah tahap awal (evaluasi), apakah sudah diperlukan proses editing dimaksud? Konkritnya, apakah penerbit sudah perlu mencorat-coret (ngasih catatan editing dll) sebelum sampai pada keputusan menolak/ menerima kiriman naskah?
Tadinya kupikir proses itu baru berlangsung setelah naskah masuk dalam daftar antrian untuk diterbitkan, atau diconsider, lah :) Pada saat itu harusnya memang ga masalah bila pengarang harus mencetak hardcopy.

Quote
2. mengurangi kemungkinan pencurian naskah (yang mudah dicopy-paste kalau dalam bentu file). PDF bisa diekstrak.

Well, memang bener sich, kalau yg dikuatirkan adalah pencurian naskah. Tapi kalo diliat dari sisi lain, kalo memang niat banget untuk mencuri naskah, segala cara di jaman sekarang mah mudah aja dilakukan, hehehe.
Gue inget cara Helmy Yahya melindungi Proposal yg di ajukan (proposal itu kan isinya cuma ide, yg gak bisa dipatenkan pulak). Dia bikin tanda terima, sebagai bukti bahwa dia pernah menyerahkan ide tersebut ke perusahaan bersangkutan. Itu buat ‘nakut-nakutin’ juga kalau perusahaan itu punya niatan macem-macem.
Hmm,… gue udah bagiin naskah PG tanpa reserve. Apa rasanya bila cerita a la PG diterbitin oleh orang lain dengan plot yg mirip-mirip, ya? he he he,..kesel, kali. Tapi denger-denger kalau gue udah mempublikasikan karya tersebut ke khalayak umum, maka hak ciptanya diakui secara hukum sebagai milik gue. Hahhh,.. untung gue udah bikin milis, heheh!
Tapi soal pencurian naskah ini, gue pernah punya pemikiran bahwa orang bisa aja mencuri sebagian naskah kita, tapi mereka tetap tidak dapat mengambil seluruh cerita utuh dari tangan kita.

Quote
3. aturan penerbit. mreka gak mau bentuk softcopy.

Udah gitu penerbitnya sok ikutan bikin slogan “Go Green!”, Ha ha ;D
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on June 03, 2008, 04:12:08 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on June 03, 2008, 03:02:19 pm
Karena gampang dicoret-coret, ya? Oke deh, bisa setuju.

Mungkin karena lebih mudah di-share ke orang lain. Yang ada dalam bayanganku, si editor gak cuma baca sendirian, kalau bukan ada tim-nya, minimal dia juga harus nunjukkin naskah itu ke atasannya. Kalau naskahnya menarik atau punya potensi, dia kan bisa ngasih liat langsung wujudnya, sekalian memaparkan positif dan negatifnya naskah itu. Kalau dalam bentuk file kan repot, harus nyiapin LCD segala atau minimal komputer buat ngebaca dan memaparkannya.
Gitu kali ya…

Oya, satu hal lagi,
aku gak tau aturannya di indonesia, tapi kalau di luar negeri, seorang penulis cuma boleh mengirimkan naskahnya ke 1 penerbit dalam waktu bersamaan.
Kalau ketahuan mengirimkan secara simultan, naskah itu (beserta penulisnya) akan masuk black list penerbit.
Alasannya, karena penerbit luar harus menggaji/mengupah editor untuk membaca naskah yang dikirim ke mereka. Kalau naskah itu sedang dibaca oleh editor dari penerbit lain, mereka akan rugi.
Nah, untuk menanggulangi ini, itulah sebabnya penerbit luar lebih suka kalau naskah diserahkan lewat literary agent karena agen biasanya mengikuti norma ini atau, kalaupun tidak begitu, agen akan mengadakan lelang untuk naskah bersangkutan yang sengaja dikirim secara simultan oleh si agen (ada pemberitahuannya ke para penerbit; itu pun kalau naskahnya memang sangat potensial sekali sehingga agen berani membuka lelang).

@all,
kalau belum pernah baca, bacalah buku Stephen King’ On Writing. Ada terjemahan indonya koq yang sampulnya hitam dan sekarang udah sering didiskon. Di buku itu (khususnya bagian toolbox), ada banyak banget masukan buat para penulis dan para calon penulis dari Stephen King.
Buku itu TOP BANGET! [thumbsup]
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on June 03, 2008, 10:01:26 pm
________________________________________
@All,
umpan gw kena! ;D
tret ini jadi rame lagi gara2 umpan gw, wuakakakak.. :D

Begini, tentang orang harus punya ‘impian2′ dalam hidupnya, itu gw setuju. Tapi orang juga harus punya tolak ukur/standar limit untuk impian2nya itu. Gw termasuk orang yg skeptis untuk bermimpi, gw bakal ngetawain abis2an kalo ada kodok yg jatuh cinta sama Sandra Dewi, gw bakal meremehkan seorang pincang yang bermimpi untuk jadi juara lari. Kalo gw bilang gw bakal stop nulis setelah karya gw ditolak 9 penerbit, i beg y’all jangan membawa2 nama penulis luar negeri sukses yg sebelumnya ditolak puluhan kali. Sekali lagi, setiap orang punya standar limit. Standar gw, 9 penerbit untuk satu naskah yg gw garap 3 tahun itu. :)
Emang ada orang kecil yg punya impian besar, dan bisa mewujudkannya tanpa disangka2. Tapi gw ini orang yang realistis: yang kayak begitu itu satu diantara sejuta, mayoritas adalah kegagalan dan penyesalan.
in my case, gw gak akan keep on struggling untuk suatu hal yg udah gak punya harapan lagi. :)

@clickdian,
sis, ane kagak pernah bikin cerpen karena ane emang gak bisa bikin cerpen T_T

@om pur,
Quote
Gue penasaran dengan kesulitan Rey harus mencetak sampai 5 hardcopies segala. Apakah sampai hari gini para penerbit masih mengharuskan naskah dikirim dalam bentuk hardcopy? Bukankah sekeping CD aja udah cukup untuk memuat doc files atau pdf files. Save the forest! Gimana komentar temen-temen yg udah biasa gaul dengan penerbit?

yg modal 5 hardcopy itu buat urusan sayembara aja kok, yang diadain Dewan Kesenian Jakarta 2008 ini. Kalo buat mengajukan ke penerbit, 1 hardkopi udah cukup.
Kenapa mayoritas penerbit minta naskah dalam bentuk printout? karena naskah yg masuk ke meja redaksi mereka setiap harinya bejibun! Dan karena bejibun itu, mereka tentu memilih cara praktis supaya bisa melahap naskah2 itu dengan cepat: dengan baca dari printoutnya.
Taroan, kalo seandainya setiap minggu cuma masuk 1 naskah ke meja redaksi, gw pikir mereka pun gak bakal keberatan baca softkopi.
________________________________________
Post by: rd_Villam on June 04, 2008, 05:04:41 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 03, 2008, 10:01:26 pm
Emang ada orang kecil yg punya impian besar, dan bisa mewujudkannya tanpa disangka2. Tapi gw ini orang yang realistis: yang kayak begitu itu satu diantara sejuta, mayoritas adalah kegagalan dan penyesalan.

ah, buang-buang tenaga, pake nyesel-nyesel segala. ngapain juga… repot-repot…
emangnya ga bakal berguna apa yang udah kita tulis sepenuh jiwa itu?
seandainya masterpiece kita itu gagal diterbitkan setelah berpuluh tahun, ya tinggal diwariskan saja buat anak cucu. dijamin itu bakal jadi warisan yang lebih berharga buat mereka dibandingkan Harpot, LOTR atau The Alchemist sekalipun.
________________________________________
Post by: Amru_Yozar on June 04, 2008, 05:52:00 pm
________________________________________
@ Rey
Yang ditolak 9 penerbit itu 1 novel aja yah? Kalo saran aku si, lu bikin karya lagi aja. Gwe 4.. novel ditolak banyak penerbit. So… jangan nyerah lah
Gwe mayan se-7 ama pendapat Villam. Apa pun yang kita lakukan, pasti itu ada efeknya, ntah untuk mempertajam kita di tulisan selanjutnya ato kah sebagai penyemangat dalam berjuang.
Gwe sebagai orangnya yang tadinya bukan apa-apa (dan sekarang juga masih belon bisa dibilang sukses sih), ngerasa, meskipun nopel2 gwe ditolak, gwe gak pengen nyerah. Lumayan lah ada cerpen gwe yang dimuat di buku, blog, majalah, ato website. Ga ada ruginya usaha.
________________________________________
Post by: mocca_chi on June 04, 2008, 06:03:49 pm
________________________________________
tenaganya dipakai buat ngadepin kenaikan BBM aja. ;D
masalah nyesel kasi penjahat yang dipenjara saja.
soal mau berhenti atau kagak, klo sudah doyan mau diapain juga bakalan balik. seperti orang suka dangdut, diapain pun ujung2nya dia bakal kembali denger dangdut.
waduh villam, beda LOTR beda kita dong. tak semua bernasib begitu. tapi yakin semua ujungnya bagus [biggrin]
________________________________________
Post by: rd_Villam on June 04, 2008, 10:38:54 pm
________________________________________
Quote from: mocca_chi on June 04, 2008, 06:03:49 pm
waduh villam, beda LOTR beda kita dong. tak semua bernasib begitu. tapi yakin semua ujungnya bagus [biggrin]

apa bedanya? sama-sama tulisan manusia kok.
bedanya, karya kita bisa bikin anak cucu, nyak babe, atau siapapun di dekat kita bangga, sedangkan karya orang laen kagak. jadi, bikin yang bagus, bikin mereka bangga. bangga bukan hanya karena ceritanya, tapi juga karena proses yang kita lalui buat ngebikin itu. halah, cukuplah… terserah kitalah mau diapain karya kita…
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: cheppy70 on June 05, 2008, 07:59:03 am
________________________________________
Quote from: cheppy70 on June 04, 2008, 08:02:28 am
Quote from: BloodSin on June 03, 2008, 10:01:26 pm
Eniwei, you havent answered my question yet T_T
Ups, sorry boss. Aku lupa. [hammer]
Untuk Penunggang Petir, kalo ga salah C Publishing
Untuk Alexa, gue gak inget tapi sekilas kayaknya penerbit baru atau sebelumnya ga main di fantasy, bukunya ada di rumah, tar malem aku liatin lagi deh.
@Rey, Nih, untuk penerbit Alexa:
Penerbit LiNTAS
Jl. Kemang Raya No.33
tel. 7192351
mlb@cbn.net.id
——————————————

@Villam,
PROSES. Itu yg gue setuju banget, karena sudah ngerasain. Howgh!
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: clickdian on June 05, 2008, 09:02:30 am
________________________________________
#arik,
welcome home [thumbsup]
#all,
yups. proses. kadang prosesnya malah lebih berarti daripada novelnya –> pengalaman dari novel yg ditolak penerbit [biggrin]
________________________________________
Post by: hege on June 05, 2008, 10:13:55 am
________________________________________
Kurasa pendapat siapa saja benar, namun tidak pernah ada batasan untuk segala sesuatu yang kita inginkan. Hasrat-hasrat kita terlalu bejibun sehingga alam semesta butuh beberapa waktu untuk mewujudkannya. Jika tak hari ini, mungkin di kehidupan yang akan datang.
________________________________________
Post by: hege on June 08, 2008, 04:52:37 pm
________________________________________
From Aura.

“Ada yang tak kau ceritakan?” Tanya Ben. “Kenapa tidak Marin saja yang mengantar kita ke rumahnya? Kita tak sedang tersesat, kan? Kau mendengarkanku? Oh Adam, kau melamun lagi!”
“Dia harus kuliah,” sahut Adam membaca diari dengan kusyuk.
“Apa aku tidak harus kuliah?” protes Ben menggeleng.
“Kita sudah hampir sampai,” kata Adam, memandang ke depan. Jalanan aspal itu begitu lurus. Tepat di ujung dua ratus meter jauhnya mobil semakin mendekat pada bangunan rumah yang di kelilingi pagar semak tinggi dan pepohonan.
“Di sana!” tunjuk Adam, “sesuai deskripsi Marin.”
“Kita akan masuk ke sana?” Tanya Ben merinding. “Demi Tuhan tempat itu menakutkan sekali.”
“Entahlah.”
Mobil berhenti di persimpangan jalan yang sepi. Ada beberapa petani yang lewat dari sisi jalanan menuju ke arah utara dan selatan. “Kita parkir di sana!” Adam memberi instruksi. Ben segera memutar kemudi dan meminggirkan mobil. Mereka sekarang berada di sisi kanan dari pintu gerbang rumah itu.
“Kau ikut?” Tanya Adam.
“Tidak, aku akan menunggumu di sini, terimakasih!” tolak Ben. “Kembalikan diari itu dan kita akan pulang secepatnya!”
“Baiklah,” sahut Adam, membuka pintu mobil dan turun.
Ben mengamati dari dalam mobil, Adam melangkah menuju pintu gerbang besi.
Ia berdiri di depan pintu gerbang besi hijau yang dibangun kokoh—meski agak berkarat dengan sulur-sulur tumbuhan di sekelilingnya. Adam mencari-cari tombol bel pintu, namun tak menemukannya. Lalu remaja itu menoleh ke belakang, seorang petani dengan gerobak penuh rumput berhenti di dekatnya. Ia seoarang pria setengah baya berwajah pucat dan berpakaian kumal dengan sabit tajam terselip di pinggangnya. Petani itu hanya mengamati Adam sebentar—tatapannya tak terduga. Lalu ia melanjutkan perjalanan dengan terburu-buru.
Adam mengamati petani itu berbelok dan masuk ke dalam jalan setapak kecil dua puluh meter dari tempatnya berdiri. Ia berlari kecil mengikutinya.
“Hey, kau mau ke mana?” ia bisa mendengar Ben memanggil.
Ia melangkah hati-hati memasukinya. Jalanan berbatu itu panjang, menikung, sedikit berumput, membentuk lorong sempit yang diapit pagar semak tinggi. Ia menyusurinya dengan mata tertuju ke arah puncak atap rumah, dua ratus meter jauhnya, melampaui semak dan pucuk-pucuk pepohonan tinggi. Aku harus menyelidiki rumah itu, Adam membathin.
Tak ada tanda-tanda keberadaan si petani. Adam melangkah dengan cepat untuk menemukan jalanan itu bercabang, ia memilih cabang sebelah kanan. Mungkin petani itu berbelok ke kiri, pikirnya.
Sebelum ia berjalan semakin dekat ke arah rumah itu, kira-kira dua ratus meter pertama, perhatiannya tertuju pada sosok berkaus putih di dasar semak. Anak laki-laki kecil berumur kira-kira delapan tahun, duduk di sana sambil bersenandung. Adam mendekatinya.
“Helo,” sapanya ramah, buku diari masih terkepit aman di tangannya. Anak itu masih menunduk, seakan tuli.
Seekor kucing berwarna coklat muncul dari lubang di semak-semak, mengeong dan berjalan memutar. Setelah puas menyundul-nyundulkan kepalanya di betis anak itu, si kucing berbaring dan melingkarkan tubuh di lantai batu. Anak itu masih bergeming.
“Hey,” sapa Adam lagi. Anak itu kini menoleh, sangat pelan. Ia memandang Adam sebentar dengan tatapan hampa sebelum menuduk lagi dan melanjutkan senandungnya.
“Permisi,” sapa Adam, tak mau menyerah. Anak itu menoleh lagi dan mengamatinya penuh curiga.
“Ibuku melarangku berbicara dengan orang asing,” katanya lancar.
Ia sangat kumal, Adam memerhatikan, seolah ia baru saja berlari menembus semak-semak basah dan sawah berlumpur.
“Ehm… kau baru saja melakukannya.”
Anak itu akan menunduk lagi.
“Apakah aku kelihatan seperti orang asing?” tanya Adam berjongkok di dekatnya.
Anak itu mengangguk. “Ya, kau sangat mencurigakan. Kau tidak akan menculikku kan?”
Adam menggeleng seraya tersenyum.
“Aku tidak perlu berbasa-basi sebelum menculik seseorang. Oh ya, bagaimana kau yakin aku orang asing? Bisa saja aku salah satu pamanmu yang tidak pernah kau kenal,” kata Adam santai.
“Yang kutahu, aku hanya punya dua paman selama ini. Salah satunya mati karena serangan jantung,” kata anak itu serius. “Sisanya digigit ular weling.”
Adam menggigit bibir.
“Atau … mungkin aku salah satu saudara keponakan sepupu ibumu atau kerabat jauh kakekmu,” kata Adam lagi, menggaruk-garuk hidung.
Anak itu mengangkat alis dan tersenyum untuk pertama kalinya. “Kau lucu,” gumamnya. “Orang asing yang lucu.”
“Jadi siapa namamu?” tanya Adam. “Rasanya aneh berbicara dengan seseorang yang tidak kuketahui namanya. Dan kau bisa memanggilku Adam.”
“Roni,” kata anak itu. “Roni Maren.”
Sesuatu berkeresak di dalam pagar semak sedetik begitu anak itu menyebutkan namanya. Adam menoleh kaget. Roni mendadak diam bergeming, matanya mendelik ke arah semak.
Adam mulai cemas mengamati ketika mulut anak itu menganga, badannya naik turun, Ia kelihatan berjuang sekuat tenaga untuk menarik nafas—seperti seseorang yang menderita asma.
“Roni, kau tahu apa itu tadi?” tanya Adam, tubuhnya mendadak dingin. Anak itu masih bergeming. “Roni, kau baik-baik saja?”
Anak itu duduk kaku, kepalanya meneleng ke kiri. Adam bisa melihat urat-urat tipis menonjol di leher anak itu, menegang.
Sesuatu membuat semak berkeresak lagi. Adam mengamati lekat-lekat, sosok aneh yang bersembunyi di seberang semak, tepat di hadapannya. Kucing yang tidur di dekat Roni seketika melompat bangun dan melesat ke arah pagar semak yang berlawanan.
“Roni, kau tidak apa-apa?” Adam mengangkat tangannya dan menyentuh pundak anak itu. Semak berkeresak lagi.
“Oh Tuhan,” desah Adam kaget, sesuatu yang gelap berdiri tepat di seberang semak. Ia pendek dan tampak memiliki kaki-kaki hitam kurus. Semacam bentuk kepala condong ke depan, semakin masuk ke dalam semak, menembusnya tanpa halangan ranting dan daun. Adam mendesah keras, kepala itu tak memiliki wajah, sangat gelap, sama sekali tidak nyata, hanya sepasang mata tak berpelupuk dan menyala merah.
Adam merayap mundur dengan kengerian luar biasa, dan kepalanya terantuk semak di belakang. Mahluk itu menghilang dari pandangan.
Adam menunduk dan berusaha mengambil nafas, keringat dingin membasahi tengkuknya. Semeter di depannya Roni meringkuk di lantai dengan tangan memeluk lutut. Tubuhnya menggigil. Ia akan memanggil anak itu saat dua tangan hitam kurus melesak muncul dari dalam semak di belakang dan meraih kepalanya.

[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: cheppy70 on June 12, 2008, 08:14:56 am
________________________________________
Ledgard sudah selesai kubaca 8)
Review on the way!
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on June 13, 2008, 10:22:00 am
________________________________________
Hehehe… selamet deh buat om pur yang finally (ya, finally!) selesai juga melahap novel itu.
Aku udah baca review-nya (yang panjang banget!) dan puas (maksudnya sama review-nya).
Emang, dari novel2 fantasi lokal lain yang sudah kubaca (baru 4, :D ) ledgard adalah yang paling kuharapkan ada kelanjutannya. Sebenernya sih bukan karena aku ngefans (malahan sebenernya kurang puas dengan buku pertama itu), tapi aku harapnya si mas ganjar (skarang udah ketauan namanya, ;D) bakal mengikuti jejak paolini dalam hal membuat buku kedua yang jauh lebih berkembang secara kualitas keseluruhan daripada buku pertamanya (menurutku eragon memang kurang memuaskan dan masih banyak celah, tapi eldest udah jauh lebih solid). Ya, mudah2an aja si mas ganjar ini udah belajar banyak dalam 3 tahun ini dan memang tengah membuat kelanjutannya. ;D ;D ;D
Oya, memangnya ada ya “mailing list Fantasi Indonesia”? Adakah penghuni FFDN yang ikutan?
________________________________________
Post by: fr3d on June 13, 2008, 11:26:18 am
________________________________________
Masih tentang ledgard,
Gak tau apa ini pernah muncul di FFDN 1 dan 2, tapi gw nemu nih pernyataan langsung dari si mas ganjar di milis dunialedgard:
Pernyataan 1:
“Tentang konsep novel ini : ini adalah novel berseri. Jadi event di buku satu sangat berhubungan dengan event-event di buku dua dsb. Plot utama dalam universe ini menceritakan Nash, Rhavi dkk yang sekarang menjadi tokoh utama. Mungkin sekali nanti akan ada spin-off dengan tokoh utama minor characters yang ada di plot utama.”
Pernyataan 2:
“Kayaknya mirip dengan konsep spin-off kita deh. Peta, bangsa,
culture, semua dah siap. Karakter dah siap. Jadi… Wait and see aja
yah! (heheh)
Btw, sesuka apapun pembaca dengan karakternya, Ledgard seri pertama
nggak akan lebih dari 8 buku. Plot dan storyline-nya sekarang dah
fix, jadi nggak akan dipanjang-panjangkan kayak sinetron kita kok.
Satisfaction guaranteed :)
Catatan: kedua pernyataan itu muncul beberapa bulan sebelum ledgard terbit
Sumber: Milis Dunialedgard (http://groups.yahoo.com/group/dunialedgard/messages/1?l=1)
— Edited —

Oya, karena penasaran, gw juga udah nyari milis fantasi indonesia itu.
Akhirnya ketemu juga, tapi rupanya udah lama gak aktif.
Kayaknya penghuninya juga udah banyak yang maen ke milisnya bentang.
Karena aksesnya public, jadi bisa dibuka-buka. Nih link-nya: Milis fantasi-indo (http://groups.yahoo.com/group/fantasi-indo/)
Pernyataan mas ganjar pertama kali tentang novelnya di milis ini:
“Ini Ganjar attach file fantasi yang sudah Ganjar tulis. Seluruh novel Ganjar
berada di sebuah dunia bernama ‘Ledgard’. Buku I mengisahkan tentang sekelompok
pejuang menghadapi Perang Akbar, sebuah perang terbesar yang pernah ada di
sepanjang sejarah Ledgard. Buku II mengisahkan tentang masa 25 th setelah Perang
Akbar berakhir. Jadinya mungkin agak spoiler untuk cerita buku I.
Sebenarnya buku I sudah jadi tapi karena kualitasnya jelek banget (sampai kalau
Ganjar baca lagi jadi malu sendiri! ) Ganjar menulis ulang, baru jadi sampai bab
4. Buku II sudah jadi ¾ tapi juga Ganjar tulis ulang, baru jadi sampai bab 6.
Jadi… walaupun agak aneh karena buku I belum selesai dah baca buku II, silahkan
dinikmati dan dikritisi! Mulai dari setting, alur, perwatakan, world-building,
konflik, etc, etc, etc, silahkan deh! Jangan tanggung-tanggung! Ganjar pasrah
(hiiiiiiii!) Tapi coba deh, bacanya buku I dulu. Baru bab-bab awal buku II.”

@mas ganjar,
jika dirimu membaca:
1. Maap banget ya telah meng-copy-paste isi surat2mu ke forum tanpa seizinmu. [biggrin]
2. Jadi, kapan ada lanjutannya tuh serial?!?
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: BloodSin on June 14, 2008, 09:38:47 pm
________________________________________
repiu ledgard om pur dibahas disini yak? boleh? boleh? boleh..
beda sama fred, kalu gw malah gak puas ma repiu ledgard om pur, kurang sadis ah [biggrin]
(mana nih pakem biawak-nya? :D )
alih2 bakal dimaki abis2an karena nopel ini ‘begitu tidak menyenangkan’ untuk dibaca (sampe2 membutuhkan 3 tahun ;D), eh malah dinobatkan sebagai the best indonesian fantasy.. gak salah? objection, your higness! :D
terutama sama 3 paragraf compliment ini:

Quote
Finally kedua, adalah akhirnya aku menemukan sebuah Novel yang sudah dikerjakan secara well-done, dengan proses yang well-done, dan hasil akhir yang bisa kukatakan well-done!
Finally ketiga, bahwa akhirnya aku bisa menemukan sebuah Novel yang sedikit banyak bisa dijadikan role model untuk sebuah Novel Fantasy lokal, khususnya bagi para aspiran penulisan cerita fantasy.
Yeah. Ledgard, memang segitu bagusnya. Walaupun saya tidak akan menobatkannya sebagai novel yg sudah ‘sempurna’ dalam pandangan ideal saya, setidaknya Ledgard dapat saya anggap sebagai yang terbaik di antara karya-karya lokal bergenre Fantasy yang ada saat ini.

dari sini, tampaknya standar kita bener2 makin keliatan beda jauh dalam menilai novel, om.. [biggrin]
plot ledgard bagus? iya, walo gw gak begitu terkesan. sematang-matangnya dan serumit-rumitnya perencanaan plot, kalo dieksekusi tanpa greget, bakal mubazir, itu yg terjadi pada ledgard bagiku. Tak ada unsur kejut. flatliner–tepat seperti yg ente sebut, dan emang itu yg paling fatal. koneksitas antar scene-nya tidak tergarap secara cerdas pun, bagi gw. kalah jauh sama goran yg tebelnya cuma sepertiga ledgard. tebel belom tentu bagus, bagiku.
hmmm.. jadi wondering (sambil melirik ke PG juga), apakah suatu novel fantasi yg bagus bagi om pur itu harus yg ‘lengkap’? lengkap maksudnya berformula gini: opening-pengenalan konflik-konflik-klimaks-refleksi-ending? formula ledgard emang lengkap begitu sih, dan goran (kenapa dari tadi ane bawa2 goran, karena goran ini lha yg masuk the best indonesian fantasy di mataku) tak memenuhi kelengkapan itu, memang. :(

Quote
Terus-terang saja, bagi saya desain kostum yang digambarkan ilustrator masih tak jauh dari kostum ala tokoh-tokoh negeri dongeng di majalah Bobo. Artinya, belum dipikirkan secara mendalam. Dan sebagai akibatnya, kostum-kostum ini nggak berhasil memancarkan ‘excitement’ sebuah kisah fantasi sebagus yang sudah dituliskan pengarang di dalam Ledgard.

kalo yg gw liat / IMO, ilustrasi dalam ledgard sedikit banyak emang masih dipengaruhi sama ‘siapa’ penerbitnya, C|Publishing, yg merupakan anak perusahaan Mizan….penerbit yg berpakem Islami. gw emang kagak puas juga sih sama ilustrasi tokoh2nya, kesannya (khususnya buat karakter2 ceweknya :-[) ‘kurang berani’ tampil gitu. tanggung.
btw itu yg tersemat di pinggul Serra bukan trompet om, tapi sarung pisaunya lha ;D

Quote
Label: Dewasa, epik, fantasi, novel, remaja

kalo ngeliat gaya bahasa tokoh2 protagonisnya yg terlalu metropop (bahkan tokoh ‘Deedek’ yg dijabarkan garang, serius, dan susah bercanda pun, di bbrp scene pengarangnya keceplosan mendialogkannya dengan begitu ‘cemen’), rasanya label dewasa itu agak kurang tepat bagiku (apalagi endorsnya ada anak kelas 5 sd-nya pulak), walopun emang novel ini ada nyinggung intrik2 politik. lebih pas ke dewasa muda, mungkin.
jadi… berhubung gw di sini menilai ledgard dengan membandingkan langsung dengan goran, dengan ngepost komen ini bukan berarti gw lebih jago dari penulis ledgard yak.. :-[
emang sih, gw juga agak ngerasa dilema kalo mau maki ledgard abis2an. novel ini emang secara fisik bagus, tapi secara spirit tidak. setengah-setengah. dan itu yg membuatku ‘tega’ dengan tidak menjajarkannya bersama Sang Penandai, Goran, dan Hozzo.. bahkan tidak pula sejajar dengan narend dan zauri.

oh ya, satu hal lain yg bakal ngebikinku takluk pada suatu literatur fantasi, adalah terkait dengan wawasan pengarang terhadap tema yg diusungnya. pengarang fantasi sepatutnya gak melulu menjabarkan segala sesuatunya secara ‘fiktif’, kalo gak mau ceritanya dicap picis.
bagi gue, fantasi yg bagus itu fantasi yg dapat menggabungkan fiksi (fantasi imajinatif) dengan fakta (wawasan dan riset pengarang) secara berimbang dan relevan.. kalo kita nulis fantasi semi filsafat, pengarang sepatutnya (telah) mendalami kajian filsafat tertentu yg berkaitan dengan tema yg diusungnya, itu yg terkesan dari ‘Sang Penandai’.. Kalo kita mau nulis fantasi sci-fi luar angkasa dengan penyajian setting berbagai ras alien, pengarang sepatutnya jago biologi dan ilmu anthropologi, itu yg kutemukan di hozzo..
ledgard boleh unggul jauh di imajinasi, tapi tanpa penyajian wawasan pengarang yang terkait demi menunjang beliavable imajinasi tersebut (untuk ledgard wawasan ttg seni perang terutama–masak cara ngatasin kapal2 terbangnya itu cuman pake ketapel batu aja sih? gak kreatif sama sekali -_-”), bagi gue bacaan itu gak lebih dari roman picisan aja..
Salam Dangdut

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XIII (23 Mei 2008 – 3 Jun 2008)

  • Bagaimana memulai adegan baru tanpa mengurangi mood pembaca
  • Tentang GunEye karya Ramaditya
  • Naskah Yang Memikat Editor oleh Anwar Holid
  • Tentang retire from writing fantasy

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on May 23, 2008, 01:52:51 pm
________________________________________
padahal cuman iseng posting, eh langsung dibantai tanpa ampun, wuakakakak, seru2, TQ semua yg udah ngobok2 tulisan gw, realy appreciate that.. [thumbsup]
akhirnya, kena karma deh gw dari kemaren2 nyela naskah orang.. :-[

@clickdian,
iye disitu temponya terlalu cepet, eke juga baru nyadar :D
tapi sebetulnya alinea 1 settingnya udah pagi kok (walopun nyinggung kata 'malam', kan udah ada keterangan 'beranjak dari tempat', malah diperkuat juga dengan statement 'melalui malam pertama :-[' hueheheheh :ngeyel:)
hmm.. tapi emang lebih tepat kalo digabung aja dua alinea 'pagi' itu yak..

note: iyak, om pur bener, yg sesuai EYD itu malah 'kuatir', bukan khawatir, weeeee :P

@om pur,
justru ane baru tauk kalo 'Sierra' itu artinya gunung, wueleh.
hmmh.. 'Sierra Kuno' itu jadi nama tempat, emang kedenger agak2 gimana gitu, kurang pas yak? Justru ane ngambil 'Sierra' ini dari Sierra Nevada / Sierra Leonne.. dan ane malah kagak tauk itu dari bahasa spanyol T_T
Buku satu ane cuman ngambil terms French doank, niatnya sih. (gara2 tokoh Guillarde itu :D ).
kalo 'Kuno'nya itu nyolong dari Old Fangorn-nya LOtR (hutan tempat merry-pippin ketemu kaum Ent), tapi ane buat Sierra Kuno ini lebih merujuk ke suatu wilayah yang lebih luas daripada hutan.
deskripsinya dalam novel begini:
Sierra Kuno adalah nama untuk bentangan alam raksasa yang berada di region tengah Lemurés; suatu medan liar yang terdiri dari gelaran hutan hujan tropis maha luas, jajaran gunung dan perbukitan kapur, ratusan anak sungai dan ngarai air terjun, hingga spesies flora dan fauna endemik yang tak terbayangkan.

Oke TQ alternatif & sarannya, i'll fix it soon. :)

@fred,
paragraf pertama itu bukan joke oy, gaya penuturan LEMURES gw emang 'gak biasa' semacam begitu (kita beda aliran, tentu! :D )
Ttg 'beranjak dari tempat' itu, emang sebetulnya naskah gw pake aliran metafora (dan juga hiperbolis), jadi gw berusaha konsisten akan hal itu di sepanjang naskah..
melangkahi, menjejaki, itu arti luasnya sama aja dengan 'berjalan', 'bergerak ke'.. tapi ya itu tadi, naskah gw emang udah terikat dengan gaya bahasa yg gak biasa, jadi sebisa mungkin di setiap deskripsi/narasi gw memilih kata2 yang gak umum. gitu lho...

eniwei, yg 'pun' itu gw juga masih keder euy, eh yg betul itu dipisah ato sambung sih?
'meskipun', 'sekalipun', 'di manapun', 'apapun', atau 'meski pun', 'sekali pun', 'di mana pun', 'apa pun' nih?
sekalian dah (mumpung lu lagi megang kamus thesaurus :P ): 'mahaluas' ato 'maha luas'? 'kemana' atau 'ke mana'? 'tujuhpuluh' atau 'tujuh puluh'?
yang 'mahkluk', iye bener gw ngaco (baru buka kamus), huahahah dua orang protes dua kata satu bener satu salah :P

note:
gileee baru sepenggal gini ajah naskah gw udah banyak ngaconya, gimana kalo orang baca satu buku? T_T

[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on May 24, 2008, 10:48:07 am
________________________________________
Quote from: fr3d on May 22, 2008, 11:44:02 am
Pertanyaan besarnya: Bagaimana cara efektif memulai bab/adegan baru tanpa menghilangkan mood pembaca?
(Mudah-mudahan belum pernah dibahas di tret yang lama, kalaupun udah, disinggung lagi ya, gpp kan? [rolleyes])

gw jawab juga deh, soalnya gw jg termasuk penulis yg suka motong adegan seenak perut [biggrin]
sebetulnya teknik Scene-Cutting semacam ini lebih banyak diadop penulis thriller (Dan Brown) dan Horror (RL Stine), daripada penulis fantasi sih.
Intinya, elu cuman kudu tauk bagaimana dan kapan harus mengakhiri adegan dengan pas. Misal, lo bisa tutup adegan itu dengan satu kalimat dialog/statement yg mencengangkan, ato bisa juga pake pertanyaan retoris.
Jawaban gw di atas kagak nyambung & kagak jelas? Emang. [biggrin]
tapi pertanyaan lo di atas serius emang kagak bisa dijawab, itu tergantung skill elu sebagai penulis dalam mengolah kata dan menjaga mood pembaca. Cara memulai adegan baru sama aja cara elu memulai adegan di scene pertama, IMO sih. :P
________________________________________
Post by: hege on May 24, 2008, 01:56:59 pm
________________________________________
Intinya, elu cuman kudu tauk bagaimana dan kapan harus mengakhiri adegan dengan pas. Misal, lo bisa tutup adegan itu dengan satu kalimat dialog/statement yg mencengangkan, ato bisa juga pake pertanyaan retoris.
mengakhiri bab (dan bahkan setiap scene) dengan formula* begitu membuat pembaca dahaga terus akan tulisanmu, it’ll works, yes, ofcors it does.
*kita sebut saja dengan formula RL Stine atau formula Dan Brown atau–ah whatever
________________________________________
Post by: cheppy70 on May 24, 2008, 11:05:36 pm
________________________________________
Quote
@ All
Udah pada tau Ramaditya? Dia tuh tunanetra yang ikut bikin sontrek di game-na Nintendo. Dia juga bikin nopel Fantasy lho. Sekilas sih mirip Gundam gitu. Kalo mo donlot ada di sini http://www.ramaditya.com/novelrama.zip Kalo mo baca blog-na ada di sini http://ramaditya.multiply.com/

Setelah kubaca, sampai sekitar lima ratus halaman (dalam format LIT, mungkin setara 100-an halaman biasa, kali ye?). Sebenernya udah gatel ngeripyu. Tapi berhubung bukan terbitan publik, dan pengarangnya pun gak minta, gue cuma kasih komen pointers aja:
1. Tematik bagus, plot lancar, permainan tempo terjaga apik.
2. Manga-ish banget (curious,… katanya pengarangnya tuna netra, koq sepertinya pembaca manga banget? Apakah dulu sempat bisa melihat secara normal?). Secara,… how to convey manga picture to a blind person? Teknik berceritanya soo manga!
3. Penuh ketidak logisan, yang dapat dipahami sebagai gaya manga.
4. Latar belakang (terciptanya) universe tidak kuat
5. Universe kacau balau (just like Alexa Chimaera). Tapi kembali dapat dimaklumi karena ke-manga-annya.
6. Dialog nya TOP NOTCH (dalam hal kelancaran dan konektivitas terhadap plot)
7. Dialog nya LAME (dalam hal kepantasan terhadap situasi dan setting).
8. But, emang settingnya lemah juga anyway.
9. Action keren, dan sangat terinspirasi Game-game jepun.
10. Tema dan plotnya kuat dan workable, sebagai kerangka cerita cukup solid.

Kayaknya sih pengarang agak salah persepsi mengenai konsep Fantasy. Mungkin masih memegang definisi awam, bahwa fantasi adalah berkhayal/ just khayalan. Jadinya believability universenya nggak dipedulikan.

Cuma ada satu yang ENGGAK BANGET: Adegan Seks [drool]
Sorry, menurut gue adegan seksnya low taste, dan ngga pantes ada di novel yang melihat gaya penulisan dan konsep ceritanya, ditargetkan ke remaja SMA. Dan sorry kalo gue gak bisa terima. If we think we are writers, then we should think that it came with responsibilities. Gak maen-maen, man. Lo masuk ke dalam pikiran orang straight through. Don’t mess with it.

So, kalo minta saran gue (kalo mo denger,… hehehe):
1. Hilangin adegan seks ga jelas dan ga mutu itu, ganti jadi adegan yang lebih sesuai target pembaca.
2. Pertahankan kerangka/ plot, tokoh-tokoh (tapi relasinya harus lebih logis).
3. Diisi dengan perangkat universe yang lebih believable, kuat, terencana.
Ini materi bagus, sayang kalo gak diolah secara pantes, gichu,…. 8)

however, semua terserah pengarangnya, sih,….
Yuuuuk
FA Purawan

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on May 26, 2008, 07:46:29 pm
________________________________________
@heg & fapur,
menanggapi komen ente orang ttg GunEye-nya ramaditya,
Sebetulnya ga bisa dibilang gada seninya juga, IMHO novel ini udah punya modal ide yg lumayan orisinil & kuat kok (yang didukung wawasan pengarang pulak), tapi emang sayang banged dieksekusi pake bahasa yg ala kadarnya gitu (pengarangnya kurang kreatif dalam berkata2).
Dialog yg ala anak jakarta, sementara di dalam novel bertaburan istilah2 IT dan pembangunan setting yg manga(/game/anime/tekno jepang) banged, bener2 bikin ilpil, gak banged dah.

Terus terang semenjak pertama kali buka file word-nya (yg baru dibaca memasuki halaman 3) bbrp hari yg lalu, gw kagak ada niat buka2 lagi, hueheheh (ampun bang rama, maafkan daku yg hina dina ini T_T), tapi gara2 ada satu poin dalam novel ini yang ENGGAK BANGED menurut om Pur di atas, gw jadi penasaran buka2 lagih, sengaja nyari part itu, tapi kagak ketemu2 :-[
alih2 gundam, kurasa novel GunEye ini lebih terinspirasi ke manga Chobits, ada karakter cewe polos yg selalu nurut sama tokoh utama, bener2 fantasi liar yang bakal 'menyenangkan' pembaca2 yg pikirannya kagak lurus kayak ane [biggrin]
Tapi gw lebih puas baca Chobits, ada gambar ceweknya jadi lebih asik buat diliatin :-[)
________________________________________
Post by: BloodSin on May 29, 2008, 07:46:01 am
________________________________________
@all,
nemu artikel bagus ttg penulisan (kemaren gw berusaha menghibur diri dengan mencari sebanyak2nya kisah2 penolakan, dari penolakan lamaran kerja sampe penolakan cinta :-[)
enjoy it! (sori copas)

NASKAH YANG MEMIKAT EDITOR

Category: Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author: Republika, Minggu, 30 Juli 2006

>> Anwar Holid

‘KAMI memang mencari permata,’ kata editor sebuah penerbitan tentang banyaknya naskah yang mereka tolak. Sebagai editor, dia harus betul-betul sabar menghadapi naskah yang ditawarkan ke penerbit tempatnya bekerja. Kondisi naskah macam-macam; ada yang masih mentah, tapi ternyata ditulis ratusan halaman; ada yang cara penyampaian ceritanya menarik, tapi di dalamnya mengandung banyak inkoherensi; ada yang cukup matang, tetapi berpotensi melahirkan kontroversi dan respons negative karena menyerang banyak institusi agama; sebagian gagal memancing rasa ingin tahu bahkan ketika sudah dibaca hingga setengah naskah.

Semua naskah yang jadi tanggung jawabnya dibaca, diberi catatan dan tanda---entah karena menarik perhatian atau justru kurang masuk akal dan merupakan kelemahan.

Editor punya banyak alasan kenapa harus menolak naskah, dan harus diakui, pertimbangan itu memang wajar, masuk akal. Dalam industri penerbitan, naskah yang ditolak itu memiliki kesamaan kesalahan umum---dalam istilah Inggris dinamai common flaw.

Kesalahan umum bisa terdiri banyak faktor, mulai dari keterampilan menulis, cara mengungkapkan tulisan (gaya bahasa), hingga masalah nonteknik yang menghambat kemajuan karir kepenulisan; yang paling kerap dilakukan ialah penulis tergesa-gesa mengirim naskah kasar, belum dipoles, belum dibaca ulang, dipikirkan masak-masak isi dan cara penulisannya. ‘Biarkan tulisan Anda mengendap sebentar, kemudian poleslah pelan-pelan. Edit dan revisi sendiri dulu. Sebelum bermaksud dikirim atau ditawarkan, minta orang dekat atau orang lain baca sejenak, mintai komentar mereka, dengar yang mereka rasakan,’ begitu saran editor lain.

FIKSI misalnya, memiliki sejumlah unsur pokok, antara lain tema, karakter (tokoh), plot (alur cerita), konflik, dialog, sudut pandang, setting (latar), peristiwa, struktur; tanpa kematangan unsur-unsur tersebut, sulit mengharapkan penulis bisa menghasilkan karya yang mampu memikat khalayak. Memang tidak semua karya mengandung seluruh syarat unsur, tapi setidaknya penulis tahu hendak mengedepankan unsur mana atau mengejar apa, misalnya apa mau bereksperimen, menekankan setting, atau mendahulukan penokohan. Ketika baca, idealnya editor tahu kekuatan dan kelemahan naskah, mana yang tercapai dengan baik, bagian apa yang justru bertele-tele atau bahkan inkoheren.

‘Terlalu banyak penulis mengorbankan tokoh di hadapan plot,’ kata Mark McLaughlin mengomentari soal plot. ‘Plot yang klise biasanya muncul dari karakter yang juga klise.’ Editor ternyata sering menemukan plot yang terlalu dibuat-buat, basi, lemah, mudah ditebak, bahkan terlalu banyak; sementara semua itu ditulis dengan dangkal, dengan bahasa kurang membangkitkan imajinatif, berdasar observasi klise.

‘Kadang-kadang penulis kurang menghargai karakter mereka sendiri; campur tangan pengarang di dalam cerita justru menyelewengkan karakter dan situasi menjadi akhir yang terlalu jelas,’ simpul editor Northwest Review, Janice McRae.

Ada banyak sebab kenapa karakter jadi klise, antara lain perkembangan emosi dan pikirannya kurang, lagian kekurangan aksi penting; sebagai tokoh, dia kurang terbangun, terlalu berlebihan, terlalu umum, stereotipe, dan datar, tak nyata, sulit dipercaya, tak punya perkembangan kuat dan orisinalitas sifat.

Dalam mengungkapkan kisah atau menuangkan gagasan pun, kadang-kadang penulis terlalu cepat puas. Ternyata ketika dibaca orang lain, apalagi editor, tulisan tersebut masih statis, kekurangan pemecahan masalah dan imajinasi.

Pembukaan yang kurang memancing, bertele-tele, lambat, melelahkan, berpanjang-panjang dengan kalimat berputar-putar dan mengumbar kata, terlalu menceramahi, sementara isi pemikiran kurang dipertimbangkan dengan matang, diperburuk akhiran yang dipaksakan, tulisan penuh tatabahasa berlepotan, salah menggunakan diksi, mengabaikan kaidah berbahasa, hanya akan membuat tulisan kehilangan fokus tema, bahkan bisa mementahkan, akhirnya melantur ke subjek lain yang lepas dari niat awal. Editor yang dari awal kehilangan kesabaran membaca naskah akan cepat menyerah, akhirnya memutuskan menolak naskah, karena setelah meraba raba, gagal menemukan subjek yang ingin diketengahkan penulis.

Ada kala penulis hanya menawarkan naskah, tanpa disertai book description (sinopsis), maksud penulisan, positioning, atau subjek yang ingin disampaikan. Padahal, dengan menyertakan keterangan selengkap mungkin, termasuk komentar jujur dari para pembaca awal, akan memudahkan editor mendapat gambaran utuh tentang naskah yang sedang dihadapi.

Fakta ini mengarah pada pandangan ternyata kerja editor, bahkan sebelum menyunting, sejak awal membutuhkan konsentrasi tinggi; dia dituntut baik oleh perusahaan dan calon pembaca agar menetaskan karya yang matang, memikat, disiapkan sebaik mungkin, membuat pembeli pantas membelanjakan sejumlah uang dan mendapat ganti setimpal. Karena ada banyak unsure penulisan yang harus terpenuhi, apa tampaknya ‘merayu’ editor agar mudah meloloskan karya terasa sulit? ‘Editor berpikir bagaimana agar buku laku dan terbit dengan baik,’ komentar Firman Venayaksa, seorang penulis. ‘Sementara penulis berpikir bagaimana cara karya itu diterima penerbit.’

Editor punya masalah dan dilema sendiri, meski keinginannya sederhana, yaitu mendapatkan naskah yang cocok buat penerbitan tempat dia bekerja. Kata Elbert Hubbard (1856 - 1915), editor adalah orang yang dipekerjakan penerbit untuk memisahkan gandum dari dedak dan memastikan bahwa dedak itu tercetak.

Satu hal patut diingat pula, editor tentu bukan segala-galanya, dia bisa juga luput (salah) membaca dan menilai naskah. Bukti dari ini ialah banyak juga naskah yang awalnya ditolak puluhan editor, gagal diterbitkan penerbit tertentu, ternyata setelah terbit akhirnya jadi karya abadi, bisa diterima publik dengan sangat baik, dihargai dengan reputasi tinggi. Editor yang pernah menolak naskah tersebut tentu harus gigit jari. Baik penulis dan editor sama-sama punya peran penting---dalam kasus industri penerbitan luar negeri juga melibatkan literary agent.

Paham naskah seperti apa yang dikehendaki editor agar memudahkan pertimbangan sejak awal fase pertimbangan, mestinya penulis mau mengikuti ketentuan ini. Pastikan Anda menawarkan naskah pada penerbit yang tepat, dengan begitu Anda bisa menekan penolakan. Naskah yang disiapkan dengan sempurna, lengkap, dipertimbangkan masak-masak akan memudahkan editor menyerap, memahami upaya dan maksud penulis, membuka peluang diterima. Walhasil, penulis, editor, dan penerbit boleh berharap bisa menemukan ‘permata.’[]

PENGAKUAN: Kolom ini dipicu setelah aku baca artikel ’50 Best Short Story Markets’ dari majalah ‘Writer’s Digest’ yang kebetulan aku miliki. Karena keterbatasan ruang, ini tak aku ungkap di kolom; ditambah pengalaman pribadi sebagai editor.

Kontak Anwar Holid: Jalan Kapten Abdul Hamid,
Panorama II No. 26 B Bandung 40141 |
HP: 08156140621
| R: (022) 2037348 | e-mail: wartax@yahoo. com
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on May 30, 2008, 07:15:03 pm
________________________________________
Quote
Teteup harus diakui, dibalik kemiskinan penceritaannya, materi novel ini cukup kuat. Bahkan cukup berpotensi dilirik penerbit. Eh, bukannya ngejatohin orang-orang yg udah serius berfantasy termasuk elo, ya,…
Gue liat ada kecenderungan penerbit bergerak ke arah literasi ringan yang memiliki nuansa ‘masa kini’ (that is, karya-karya ala chiklit), dengan bahasa yg ringan dan pemikiran yg dangkal.

Jangan salah.
Menurut gw materi GunEye cenderung berat malah, alih-alih terhitung ‘literasi ringan’. Pemikiran pengarang dalam novel juga gak bisa dibilang dangkal, cukup dalam dan orisinil.
Penamaan ‘Lapis Lazuli’ & ‘Orihalcon’(nama2 jenis kristal) buat nama dua cewek super (GunEye), bagi gw terhitung keren dan gak bisa dibilang pasaran pun. Tapi apa daya dalam cerita malah muncul nama2 lainnya yg ‘tak senonoh’ semacam Ririn, Tari, Shinta. Gak nyambung banged. Kalo mau pake nama yg berbau2 RPG, kenapa gak semua diseragamin? Ato kalo mau pake nama lokal, kenapa GunEye-nya gak pake nama Euis, Inem, Ijah.. (kok gw malah nyebut nama2 pembokat ginih :D )

Quote
Mungkin mereka beranggapan pasar saat ini memang karakter pembacanya demikian, kagak mau dikasih yg berat-berat (dan gak ‘nyampe’ diajak mikir berat-berat,… hehehe).

Sekali lagi, ini semua masuk urusan teknik pendeskripsian sang pengarang. Bagi gue sih, gak peduli mau serumit apa tema yg diusung/segimana kompleksitas plotnya, kalo emang si pengarang udah piawai bertutur kata (dan memilih kata), memberikan analogi yg pas, dan berhasil membangkitkan mood pembaca, maka buku profesor setebel apapun pasti bakal cepet abis dilumat pembaca..
I experienced this on Da Vinci Code. :)
________________________________________
Post by: fr3d on June 02, 2008, 09:55:29 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on May 30, 2008, 07:15:03 pm
@heg,
Quote
bisakah seseorang membuat indeks atau list untuk semua buku fantasi lokal yang sudah terbit di halaman depan tret komplit dengan blog atau website untuk informasi buku yang dimaksud? Rey? Om Pur?

Malas, lagian kebanyakan fantasi lokal yang terbit gak punya website, seinget gw malah Janos doank satu2nya yg punya (itupun udah ilang skrg) :P

Ide hege bagus koq, rey. Kalau gak ada website-nya, ya ditulis aja judul buku dan pengarangnya/penerbitnya. Tapi, berhubung gw blom banyak baca fantasi lokal, gw juga gak tau ada apaan aja yang udah terbit. [rolleyes]
*buru-buru ngeles*

Quote from: bjvadis on June 01, 2008, 02:47:12 pm
Kalau pakai literary agent luar gila2an harganya oi. coba, untuk 1 item aja (copyright) feenya 300 poundsterling. Sementara ini nyoba di bbrp penerbit yang mau terima kiriman langsung tapi sejauh ini hampir semuanya nolak dan 1 kelihatannya cuekin. Skarang buku 2 udah selesai dan mau digeber lagi ke bbrp yang lain. Kalo JK Rowling aja ditolak 20 literary agent, masa’ gue gak bisa coba lebih keras?

Setau gw (dari pengalaman nelusurin web), lit agent yang bener gak akan minta fee awal, bukan?
Setelah mereka deal dengan si penulis, mereka bakal berjibaku nyariin publisher buat karya si penulis, lalu kalau udah dapet penerbit, barulah mereka minta fee (antara 10-20% dari royalti penulis –> emang lumayan gede sih, tapi bagi sejumlah penulis, yang penting bisa terbit :( ). Katanya juga sih kalau lewat lit agent, penerbit luar lebih prefer, soalnya karya itu udah sempat diuji “keampuhannya” sama lit agent itu dan minimal si lit agent juga udah berperan jadi editor awal buat karya itu. Gitu deh…
Kalau mengajukan copyright, urusannya memang lain lagi.

Oya, gw udah berkunjung ke fireheart.tk. Koq gw berasa navigasinya agak puyeng ya? :D
Mungkin karena udah banyak posting-an kali? Atau emang gw-nya yang gaptek… hehehe… ;D
Eniwei, gw baru sempat baca prolog-nya fireheart. Itu cerita lengkapnya ada semua di web?
Kalau dari prolog-nya sih interesting. Secara fantasi buatan lokal versi bahasa inggris yang pernah gw baca cuma the corruption, gw ngerasa fireheart gaya bahasa-nya lebih oke daripada buku itu. [thumbsup]
________________________________________
Post by: BloodSin on June 03, 2008, 06:59:22 am
________________________________________
@heg & clickdian,
lemures ternyata emang kagak bisa ikutan sayembara, selain gara2 pake setting luar & udah diposting sebagian (prolog dan sedikit bab 1) di kemudian.com, novelnya masih bersekuel pun, u’re quite rite dude hegenyet, lemures emang tak ada harapan :(

@om pur,
ohh yeah, i got it. Kalo begitu Lemures-ku emang jauh dari pakem kayak begitu, semua yg terjadi dalem novel kupastikan memiliki sebab-akibat. Dan emang novel ini alih-alih disebut fantasi medieval, gw lebih mengkategorikan sebagai sci-fi yang dibungkus epik fantasi.. Mungkin karena hal ini juga yg bikin susah masuk penerbit, penerbit bakal bingung mengkategorikan genrenya. Bungkusnya sih medieval, tapi isinya kayak gak niat jadi fantasi gitu.. ;D
Mau tanya donk om, penerbit Electric Girl & Para Penunggang Petir itu penerbit mana aja?

@All,
Sabtu kemaren gw kirim lagi naskah gw (yg udah ditolak 3 penerbit) ke 1 penerbit via email, dan hari Senen kemaren ke 3 penerbit via pos (Mahalll!). Di rumah masi ada 2 kopian naskah lagi, rencananya emang masih mau gw kirim lg sih.
Then I made a deal with myself, kalo dari sekian banyak kiriman ke penerbit itu gada satupun yg diterima, i’ll retire from writting fantasy. (dan kemungkinan gede naskah gw bakal gw bagiin gratis via yahoogroup kayak om Pur, heheheh :) )
I’m not a dreamer, I wont waste my time for sumthin not in place.. [yawn]
________________________________________
Post by: fr3d on June 03, 2008, 09:23:03 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 03, 2008, 06:59:22 am
Then I made a deal with myself, kalo dari sekian banyak kiriman ke penerbit itu gada satupun yg diterima, i’ll retire from writting fantasy. (dan kemungkinan gede naskah gw bakal gw bagiin gratis via yahoogroup kayak om Pur, heheheh :) )
I’m not a dreamer, I wont waste my time for sumthin not in place.. [yawn]

Ah, dirimu cemen, rey! [thumbsdown]
Baru ditolak beberapa penerbit aja udah lost hope… [hammer]
(adalah kata-kata dari seseorang yang bahkan belum pernah mengirimkan karyanya ke penerbit mana pun :D )
Penolakan itu artinya perbaikan, revisi, refleksi.
Kalau tak sanggup menghadapi itu semua, berarti memang tak layaklah kau menyebut dirimu sebagai seorang penulis! [tickedoff]
Tapi… kalau ada naskah yang dibagi-bagi gratis, gw juga mau sih… [shy]
________________________________________
Post by: clickdian on June 03, 2008, 10:15:48 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 03, 2008, 06:59:22 am
@heg & clickdian,
lemures ternyata emang kagak bisa ikutan sayembara, selain gara2 pake setting luar & udah diposting sebagian (prolog dan sedikit bab 1) di kemudian.com, novelnya masih bersekuel pun, u’re quite rite dude hegenyet, lemures emang tak ada harapan :(

Rey,
Kayaknya setting nggak terlalu ngaruh. Liat aja Zauri, isinya negeri antah berantah tapi toh tetep bisa terbit. Masih diliat sama pengamat sastra (walopun nggak semua suka). Hozzo juga, bisa terbit. Narend, settingnya luar negeri, tapi bisa terbit di Indonesia. Bahkan Janos juga bisa.
JADI KENAPA LEMURES GAK BISA ? ? ?
Jujur, kalo dirimu nyerah sekarang, aq kecewa.
Kenapa gak mencoba terus? Kenapa gak simpen Lemures untuk beberapa saat, buat novel baru yang lebih baik, terbitin, dan setelah itu coba lagi Lemures? Kalo perlu dibenahin, benahin deh. May be it’s only a matter of time, Rey. All you have to do is be patient.
Sana, baca k.com. Cari dan baca style penulisan yang lain plus plot2 yang lebih bagus. Jangan gengsi bikin cerpen, karena ini ternyata sangat berguna. I’m doing it right now, dan someday, setelah skillku terasah lebih baik, aq bakal ngeluarin novel yang lebih bagus dari Zauri (yang banyak cacatnya itu), and I’ll proudly bring it to you.

Quote
I’m not a dreamer, I wont waste my time for sumthin not in place.. [yawn]

I am a dreamer.
And I will prove you that dream, no matter how absurd it is, always have possibility to come true.
Because being a author was my dream, and Zauri was my dream, and right now, I have obtained both of them.
Now is your turn.
Dream is hope, and without hope you won’t be able to live.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on June 03, 2008, 11:38:12 am
________________________________________
@fred,
Pertama kali lemures ditolak itu sekitar 2 tahun lalu. Waktu itu gw kirim 500 halaman, spasi 1, gaya tulisan masih mentah. Ke penerbit yg paling gede pulak. Serius, gw pikir waktu itu gw emang masih lugu dalam bidang penerbitan dan penulisan. Waktu itu gw menulis all out ajah, apa yg gw suka, seenak standar dan selera gw lha. Gw gak peduli sama sekali selera masyarakat luas, selera penerbit, tata bahasa, standar pertimbangan penerbitan suatu buku oleh penerbit. Dan sialnya, gw baru menyadari betapa bejibun hal ilpil dalam naskah gw setelah naskah gw terkirim. Jadi alih-alih berduka cita, waktu tauk naskah gw ditolak, gw malah seneng. Kalopun sampe terbit pasti bakal malu2in gw sebagai pengarangnya.
1 tahun kemudian (which means at this very present day), sewaktu gw pikir gaya bahasa gw udah cukup matang (dan naskah lama itu gw rombak sedemikian rupa sampe 10x lebih bagus dari naskah versi beta-nya, dari segi kualitas), gw kirim lagi ke satu penerbit yg gw pikir paling match sama spirit dalam naskah gw. Sampe bagian ini, semua orang di tret ini udah tauk persis gimana endingnya. [biggrin]

Sebetulnya ini bukan masalah gw cemen apa kagak, ini betulan ttg apa yg dulu si hegenyet pernah bilang, apakah seseorang berbakat/berjodoh/bertakdir pada suatu hal, ato kagak.
I put all my best di lemures: gaya bahasa, plot, karakterisasi, riset. Seumur2 gw gak pernah seserius ini dalam menggarap sesuatu, yang nantinya gw kira bakal bisa ditujukan untuk masyarakat luas.
Kisah penolakan gw agak berbeda dengan kisah penolakan naskah2 yang laen: gw bikin naskah ini 3 thn, editing setiap hari, dan berusaha sebisa mungkin meng-universal-kan materi dalam naskah itu.
Gw emang udah ditolak ‘beberapa’ penerbit, tapi gw belom lost hope ouy! Total, gw masih mau kirim ke 6 penerbit lain; dan tentu, sampe disitu udah gak bisa diitung sebagai ‘beberapa’ lagi. Nah, makanya, kalo sampe pada tahap ini gak satupun penerbit approve, barulah elo bisa nyebut gw lost hope..
Dalam The Alchemist, Coelho said all these thing as “Personal Legend”. Gw rasa, setelah 3 penolakan itu, wajar2 aja kalo gw memposisikan 6 penerbit terakhir ini sebagai judge untuk membantu gw menentukan, apakah menulis fantasi ini emang betul2 ‘Personal Legend’ gw, apa kagak. ;)

@sis dian,
Quote
Rey,
Kayaknya setting nggak terlalu ngaruh. Liat aja Zauri, isinya negeri antah berantah tapi toh tetep bisa terbit. Masih diliat sama pengamat sastra (walopun nggak semua suka). Hozzo juga, bisa terbit. Narend, settingnya luar negeri, tapi bisa terbit di Indonesia. Bahkan Janos juga bisa.
JADI KENAPA LEMURES GAK BISA ? ? ?

gak nyambung -.-”
itu ane ngomongin sayembara 20jt yg kemaren, bukan masalah penerbitan ouy.. omongan itu ttg ane ‘menyerah’ kirim lemures buat sayembara ituh ;D
Kalo ttg penerbitan, ane kan emang lg kirim ke penerbit2 laen.. rencananya sih ane mau nunggu skrg, biar waktu yg bakal menentukan apakah ane nanti betul2 bakal retire apa kagak.

Quote
Dream is hope, and without hope you won’t be able to live.

Ah, sis.. you dont know at all gimana isi pikiran ane untuk satu hal ini. :)
________________________________________
Post by: hege on June 03, 2008, 12:26:00 pm
________________________________________
@Reymur (Rey si Lemur),
Diriku mengerti perasaanmu. I knew you took all of your strengths to Lemures (we had this topic for almost a year). if you could make it more light and with a good mood, I am sure one of those editors will get interest. I didnt say Lemures is bad or something, it will be published eventually. :) pretty sure, remember the signs
Fred, mengenai Hozzo, sudah hege bahas jutaan kali sebelumnya di tret, tapi kurasa di tret fantasy yg telah ilang dulu. I will inform everybody when Hozzo get republish next time.
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: fr3d on June 03, 2008, 01:03:01 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 03, 2008, 11:38:12 am

Gw rasa, setelah 3 penolakan itu, wajar2 aja kalo gw memposisikan 6 penerbit terakhir ini sebagai judge untuk membantu gw menentukan, apakah menulis fantasi ini emang betul2 ‘Personal Legend’ gw, apa kagak. ;)

Si Frank Herbert penulisnya Dune saga (salah satu serial science fiction paling terkenal di dunia) aja ditolak hampir 20 penerbit. :o Trus dia butuh 6 taon buat nyelesain naskahnya (beberapa bulan lagi, gw juga akan ulang tahun ke-6… :-[).
Jadi, ya, kita liat aja "ketahanan"-nya lemures dan pengarangnya.
Eniwei, rey, kalau ternyata nanti ditolak juga, maksud gw adalah seharusnya loe merevisi lagi, jangan langsung menyerah.
Kan sayang udah jungkir balik selama 3 taon, tapi lemures akhirnya gak pernah melihat penerbitan.
Guillarde dan para lemur bakalan pada nangis tuh! :'(
Dikau tak kasian sama mereka?
Untuk ngilangin jenuh dan nambah wawasan, coba aja sarannya mba dian.
Skarang lagi gak revisi kan? Mulai aja nulis2 sesuatu yang baru sambil nunggu kabar dari penerbit lain.
Yang gampang aja materinya, kalau bisa yang gak serumit lemures. [thumbsup]
________________________________________
Post by: rd_Villam on June 03, 2008, 01:15:12 pm
________________________________________
ehm…
rey, ada apaan nih?
kok tiba-tiba berencana menyerah?
tunggu dulu deh sepuluh tahun, sampe seumur gua, baru memutuskan mau menyerah atau kagak. ente masih mudah ini… hahahah…
masih boleh mimpi macam-macam dan melakukan macam-macam.
gue coba ngerti deh, bahwa elu udah coba kasih segala2nya di lemuria. bahwa itu mungkin masterpiece lu. tapi… itu selalu bisa dibuat lebih bagus kok. seandainya proses perbaikan jalan terus, setahun lagi elu bakal bisa bilang bahwa ternyata lemuria emang bisa dibuat lebih bagus kok.

oh iya, jangan pernah gantungkan nasib lu pada satu buah karya doang. cobalah cari ide baru dan buat lagi cerita yang baru. dua, tiga, empat dan seterusnya. dan elu bakal heran nanti… eh… ‘ternyata gue juga bisa bikin cerita lain yang lebih bagus daripada lemuria’ dan pastinya lebih prospektif.
btw, soal jodoh-jodohan dengan penerbit, yeah… mungkin itu bener juga. tapi soal jodoh kan dah ada yang ngatur, ngapain kita musing mikirin? hihihi… bukan urusan kita…

setahuku pula sekarang emang masa-masa sulit juga buat penerbit, banyak tuh yang gulung tikar gara-gara harga2 naek. dan pastinya semua penerbit lagi selektif banget sekarang.
dan kalo emang mereka lagi puyeng sekarang, ya maklumi aja kali. mending kita melakukan apa yang bisa dilakukan sebagai penulis: menulis sajalah. menulis apapun, yang kita suka. entah itu fantasi atau bukan. gak perlu memaksakan diri nulis fantasi kalo kita gak suka. gue sendiri, karena dah kadung cinta, sampe sekarang ya tetep nulis fantasi itu, walau kadang diseling yang non-fantasi.
ah, cukuplah.

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XII (19 Mei 2008 – 23 Mei 2008)

  • Penjelajahan FFDN oleh Fred
  • Cuplikan Lemures karya BloodSin

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 19, 2008, 09:47:10 pm
________________________________________
Boss Rey,
Keren sukeren. Thanks buat komplimen-nya, bikin gue yakin bahwa di part itu gue udah right on spot. Untuk kritikannya, mari kita bahas,….

1. Masalah tanda baca
Iye deh, ane beresin lagi semuanya,… hehehe,… terima kasih udah ditunjukkan kesalahan2.
Quote

2. Ketidakkonsistenan kata panggil
Gue liat lagi deh, sebaiknya memang diperbaiki biar lebih kuat konsistensinya.

5. Pemilihan kata
Sekaligus untuk menjawab pertanyaan mengenai target market. Memang ditujukan ke level SMA s/d kuliahan, lah. Jadi kupikir kata-kata “keren” lebih bunyi di level mereka. Tadinya gue coba pakai kata “gagah”, tapi kesannya jadi tua,.. hahaha,… memang rada dilematis juga sih. Mungkin gue coba cari padanan lain: mengagumkan, jumawa, menggetarkan, etc.

Quote
-)Ane berharap, ada penjelasan logis kenapa kelima keturunan Pendekar Garuda itu bisa tinggal dalam satu lingkungan yang sama (SMA Raya). Selang setting Jaka – Sentika itu 600 tahunan, betapa mestinya keturunan kelima pendekar itu udah terpencar2 IMO sih.

Destiny guides them,…. kira-kira gitu konsepnya. Sebisa mungkin gue coba bikin ngga ada yg kebetulan di setting PG. Kutipannya kira-kira begini:
Seharusnya Jaka menyadari lebih dini. Persahabatan Jaka-Ratih-Rani sesungguhnya bukan cuma pertemuan kebetulan, ketiga anak itu sudah diarahkan oleh garis leluhurnya masing-masing untuk bertemu di sekolah yang sama, dan kecocokan di antara mereka bertiga juga merupakan warisan naluri dari persaudaraan di antara leluhur mereka. Sayang seribu sayang, kesadaran itu datang terlambat.
Emang sih, kurang logis,… hehehe. Kayak too convenient coincidence. Tapi harap diinget bahwa musuh merekapun udah mengikuti jejak mereka jauh sebelum mereka lahir.

Quote
-)Tokoh abu2 juga sebetulnya gw harapkan muncul dalam cerita, entah dia itu adalah tokoh penjilat licik yg kadang ada di pihak putih atau hitam, atau malah netral. Dan lebih seru lagi kalo ente bikin tokoh abu2 itu ada di setting jaman Sentika, dan muncul keturunannya juga.

wah boleh juga idenya :) . Ntar gue musti tempatkan dulu kira-kira peran tokoh abu-abu ini apa dalam permainan dulu dan sekarang. Kebetulan memang belum ada motivasi yg kuat sih. Secara rel utama cerita ini sesungguhnya adalah pertarungan antara Kitab Putih (kitab lontar) versus Kitab Hitam dari jaman ke jaman, di mana masing-masing memiliki proponent-nya.
Tapi ide tokoh abu-abu ini kayaknya bakal bisa gue terapkan di sekuelnya :D

Quote
-)Tokoh Johannes Domingus Pasaribu yang NOTABENE berdarah Batak, gimana urusannya bisa nyambung ke silsilah Rangga yang orang Jawa? Tentu kalo yg dipake konsep titisan, hal ini gak bakalan jadi masalah.

Demikian kisah spin-off mengenai Rangga: Kira-kira lima belas tahun setelah peristiwa turunnya Utusan Iblis di era Sentika, Pendekar Garuda resmi membubarkan diri. Sentika dan Pramesti menetap di daerah yang kelak menjadi Demak, dan salah satu garis keturunannya memecah ke daerah yang nantinya menjadi Yogyakarta, yang menjadi garis silsilah (you know who). Widura menetap di daerah yang kelak menjadi Surakarta (Solo), sehingga keturunannya menjadi abdi kraton Mangkunegaran sampai ke garis keluarga Bun. Anggraini meneruskan petualangannya sampai ke pesisir Timur yang kelak menjadi Surabaya. Dari situlah ibunya Rani mendapatkan selera kuliner terbaiknya :) Sementara Rangga berkelana ke sampai Aceh serambi Mekah. Bila dari sana keturunannya ada yang nyangkut sama orang Medan, wajar aja dong,… hehehe.
Ah spoiler-spoiler bertebaran,… nih. Tapi jujur gue ngga terlalu risau. Soalnya buat gue membaca adalah seperti menikmati makanan. Masakannya gue udah tahu, rasanya pasti gue juga udah tahu, tapi bukankah kenikmatan utamanya ada di saat kita mengunyah makanan tersebut?

Untuk Jo, memang spesial kondisi dia, nih. Dia bisa ngga tidur dua bulanan berturut-turut. Dia bisa ngga napas lebih dari lima jam. Dia bisa telepati dalam kondisi kepepet. Sedikit banyak ‘ilmu’nya memang telah membantu tanpa dia sadari. Tapi kenapa dia gak worry? Kira-kira sistematika gue begini: pertama, gengsi Jo melebihi akal warasnya sendiri. Jadi buat dia lebih baik masuk situasi aneh dari pada dia harus menanggung malu (tentu saja, definisi malu anak ini memang rada gak waras juga). Kedua, sesuai juga dengan konstitusi dia: pecahkan masalah gue dulu, urusan lain belakangan. Jo takut sama mimpinya. Reaksi emosi dia menerima sinyal dari masa lalu itu lebih parah daripada yang lain. Maka bagi Jo, solusi “Ngga Mimpi” itu jauh lebih utama dibanding rational question. “Kenapa” buat dia nggak penting, tapi “Gimana supaya” jauh lebih penting. Dan memang jalan keluar yg dipercaya ama Jo juga gak waras, sih. Yah kalo dia waras, mana mungkin jadi preman sekolah, hehehe,…

Tapi gue memang punya proposisi yang menarik buat karakter Jo ini. Gue mencoba menggambarkan seorang manusia yang fitrahnya punya potensi luar biasa, tapi potensi itu terkunci di balik keterbatasan akal pikiran, status sosial, kecerdasan, kemalasan, igonrance, yang gitu-gitulah,…. Makanya salah satu perwujudan potensi luar biasa itu gue bikin ekstrim, di luar kewajaran normal.
Hmm,.. gimana caranya agar situasi ini bisa dibikin lebih believable, ya?

Quote
-) Suka OOT
Ada penjelasan ttg bahaya merokok, masyallah, keluar banged itu dari bangunan plot! Mendingan dicut aja IMO sih. Terus masa abis Jo nyikat Robbi, malah ngomongin tawuran?

Ehm, tahun 1991, memasukkan adegan remaja merokok dalam sebuah karya Novel sangatlah tidak umum [rolleyes]. Kalo sekarang sih udah biasa, ya? Tapi honestly, gara-gara itu pula gue merasa punya tanggung-jawab moral untuk membuat keseimbangan dalam novel gue. Dalam hal ini ngambil perwujudan ideal seorang pendidik (pak Kepsek), gimana caranya sih melarang remaja merokok tanpa membuat mereka ngelawan. Sorry, emang sih kadang gue pikir,… ini too preachy gak ya? terus mending dipotong, gak ya? Tapi kembali, karena niatnya tanggung-jawab moral,… hehehe kayaknya akan tetap kupertahankan. Dan ntar gue bikin twist buat sekuel,… kenapa sepulang dari Kemping, si Tongpes jadi gak demen sama Rokok. Ha ha ha, temen-temennya bingung, dianya sendiri juga bingung!
Ngomongin “jo ngga mau tawuran lagi” juga gitu, tanggung-jawab moral juga. Tapi part itu memang bisa lebih dipendekin. Itu nantinya akan menjelaskan kenapa di sekuel, Jo nggak lagi mau ikut-ikutan tawuran pelajar, dan trouble yang dia alami gara-gara itu.

Anyway, thanks dua jempol ya atas repiu-nya :)
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: fr3d on May 21, 2008, 01:21:12 pm
________________________________________
Pada suatu masa, di sebuah ruangan yang sepi nian dan damai…

Fr3d: “Eh, apaan nih? Kayaknya menarik!”

Open link in new window.

Fr3d: “Kayaknya asik nih! Ikutan ah! Tapi, harus tau dulu seluk beluk-nya dari awal nih biar paham…”

Klik.

Fr3d: “Ok! Mulai!”

Fr3d: (*melihat reply #1*) “Ayo smangat!!!” [letsdoit]
Reply #99: “Semuanya? Beneran yakin nih anak?”
Reply #1253: “HA-HA!”

Beberapa saat kemudian…

Fr3d: (*memijat kening dan mengerjap-ngerjapkan mata*) “Mungkin harus dipilah nih… Ada banyak tips-tips bagus dan pembicaraan berbobot, tapi yang OOT rupanya cukup banyak juga…”

Fr3d: “Mungkin BENAR-BENAR harus dipilah nih… Gak mungkin dibaca semua kata per kata…”

Reply #99: “Kasian banget sih, loe!?”
Reply #1253: “HA-HA!”
Reply #1379: “Dah, guys! Gw mau pergi makan dulu! Bu-bye!” [yawn]

Fr3d: “Selangkah… demi… selangkah… seperti keong yang dibahas panjang lebar…”
Reply #99: “Lho? Sial! Knapa jadi begini?! AAAAH!”
Fr3d: (*meng-klik tombol page 11*) “Yes!”
Reply #575: “Ah, biasalah newbie! Pasti masih semangat ’45. Liat bentar lagi aja, ntar juga keok…”
Reply #1253: “HA-HA!”

Dan waktu pun berlalu…

Fr3d: “Hmm… ternyata banyak juga ya yang suka nulis-nulis cerita fantasi.” (*kagum dan sedikit tercengang*)
Fr3d: “Slama ini ke mana aja daku? Terisolasi dari dunia luar dan menganggap fiksi fantasi dalam negeri perkembangannya cuma begitu aja…?”

Klik.

Reply #142: “OH, SH*T!” [buck] —-communication loss—-
Fr3d: “Ada gal yang menang penghargaan IKAPI & masuk nominee KLA juga! This tret must be really worth it!”

Reply #574: “Eh, Reply #575, kita harus melakukan sesuatu nih! Anak ini kayaknya malah tambah semangat tuh!”
Reply #575: (*menimbang-nimbang dengan serius*)
Reply #1253: “HA-HA!”

Fr3d: “Hei! Pemuda yang satu ini ternyata bener-bener bisa gambar! Artwork-artwork-nya keren!” [thumbsup]

Reply #574: “Launcher I dan II siap! Prepare bombing! Target’s locked!”
Reply #575: “3! 2! 1!”
[bomb] [bomb] [bomb] [bomb]
Fr3d: “Lho, ternyata banyak anggota baru juga ya di tret ini!” (*menunduk, melihat tanggal reply yang masih dalam hitungan kurang dari 6 bulan*)
Fr3d: “Gak cuma diriku saja! Senangnya!” [biggrin]

Reply #574: “Damn! Gak kena! Gimana nih?!” (*panik*)
Reply #575: “Dia cuma hoki aja! Coba lagi! 3! 2! 1!”
[bomb] [bomb] [bomb] [bomb]
Fr3d: “Tunggu sebentar…” (*berbalik dan memperhatikan lebih jelas*)
Fr3d: “Ada apaan nih antara TS dan sang penghuni huminiz?”

Reply #574: “AAARGH! Meleset lagi!”
Fr3d: “Kura-kura/KuRara? Mocca_chi = Mochi? Karisuma Ren? Ah… bingung! Maju lagi ah…”
Reply #575: “Tunggu! Tunggu! JANGAAAN!”
Reply #574: “MAMAAA—” [confus_55]
Reply #1253: “HA-HA!”

Klik.

Fr3d: :o “Hmm… Yang satu ini rasanya berpengalaman menulis banget nih! Pembahasan tekniknya dan tips-tipsnya oke juga!”

Reply #1596: “Bos, baru dapet kabar nih dari garrison guard #1000! Ada ancaman baru!”
Reply #1643: (*cool*) “Fufufu…”

Fr3d: “Penulis baru… Baru ditolak penerbit… Sedang diproses… Lagi kehilangan mood… ASL pliss…” (*mengelus-elus dagu*)
Fr3d: “Interesting!”

Reply #887: (*terbangun dari tidur*) “Udah lama nih gak mimpi indah… Senangnya… Buka jendela dulu ah biar udara seger masuk…”
Reply #887: (*berjalan ke jendela, mendorong frame jendela, sesaat terdiam…*) “OMG, apaan tuh?”

Klik. Klik.

Reply #907: “Run! Run! Catch me if u can!”
Fr3d: (*minum segelas air, kembali ke hadapan monitor*) “Ada rasa dingin… dingin… Lho?! Ini kan udah dibaca!”
Klik.
Reply #907: “What the f—”
Reply #1253: “HA-HA!”

Klik.

Reply #1000: “WARNING! WARNING! SECURITY BREACH ALERT! WARNING!”

Klik.

Fr3d: “Ada ribut-ribut apa nih?”
Reply #1066: “Anak ini progress-nya cepet juga! Amazing! Surrender aja ah…” [giveup]

Reply #1094: “Jeng, tau gak sih si anu itu ternyata gini-gono!”
Reply #1095: “Masa iya sih?! Ah, gak percaya aye!”
Sesuatu melesat cepat…
Reply #1094: (*termangu*) “I…i…i-tu…”
Reply #1095: (*merapikan rambut*) “ADUH! Padahal baru dari salon!!!”
Reply #1253: “HA-HA!”

Fr3d: “Sedih nih membaca orang saling berteriak dan menunjuk satu sama lain…” :(
Reply #1253: “HA—”
Fr3d: “HA!”

Klik.

Fr3d: “Eh, ada reviewer baru… Tapi… Lho?! Biawak?” :o

Reply #1379: (*baru pulang makan*) “Kenapa sepi nih? Pada ke mana yah reply-reply yang laen?”
Lampu mendadak mati.
Reply #1379: “Hei! Siapa yang matiin lampu?! Aduh, gelap! Takuuut…” :’(

Klik.

Reply #1596: (*mengambil perlengkapan perang dari gudang*) “Sial! Kenapa pada karatan gini? Maintenance-nya siapa sih?”
Reply #1501: “Awas! Awas!”
Reply #1596: (*berjalan ke luar*) “Ada apaan? Jangan berisik! Bos lagi tidur di atas!”
Reply #1501: “Gawat! Gawat!”
Reply #1534: “Itu dia datang!”
Reply #1596: “NO WAY!” (*menghunuskan pedang*)

Beberapa jurus kemudian…

Reply #1596: [stretcher]

Fr3d: “Dari Guang Zhou, melintasi pelangi sambil menunggangi petir, melewati terra eternia, masuk ke labirin, dan akhirnya tiba di titian ayat-ayat…”

Reply #1596: (*mengeluarkan ponsel dan mengetik sms*) “Bos, maafkan aku…” [sorry]
Sending…
Report: Delivered

Fr3d: “Satu reply lagi!” (*penuh tekad*)
Reply #1643: (*cool*) “Rupanya kaulah yang disebut-sebut yang lain… Fufufu…” (*perlahan-lahan berubah menjadi monster mengerikan!*)
Monster Reply #1643: “Waktumu sudah habis, Fr3d!”
Fr3d: “?!?” [rolleyes]
Monster Reply #1643: “CIAAAT!!!”
Fr3d: (*membuka notes*) “Semoga ini bisa menghentikannya…”
Monster Reply #1643: “18 TELAPAK NAGA!”
Fr3d: (*membacakan isi notes dengan lantang*) “Semenjak dahulu kala sampai sekarang, inilah yang telah terjadi…”

DAFTAR PEMBAGIAN KURSI DEWAN:

Reply #100: rd_villam
Reply #200: eniyorda
Reply #300: bloodsin
Reply #400: kura2
Reply #500: hege
Reply #600: mocca_chi
Reply #700: bloodsin
Reply #800: mocca_chi
Reply #900: euthalia_calisto
Reply #1000: clickdian
Reply #1100: euthalia_calisto
Reply #1200: apocrief
Reply #1300: alk
Reply #1400: kura2
Reply #1500: lich
Reply #1600: bloodsin
Reply #1700: …

Monster Reply #1643: “HAH?! APAAN TUH?”
Monster Reply #1643: (*tertawa mengejek*) “Ternyata gak ada efeknya! Saatnya serangan lagi! Terimalah serangan terakhir ini! METEOR PEGASUS!”

Fr3d: “Sotoy… Engga… Sotoy… Engga… Sotoy… Engga…”
Fr3d: (*memutuskan*) “Well, everything happens for a reason!” 8)

Klik.

Monster Reply #1643: “TIDAAAK!!!” (*menyusut, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya lenyap*)
Fr3d: “Phew! Akhirnya selesai juga ngebaca semua posting-an tret ini…” [winner]

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: clickdian on May 21, 2008, 04:04:48 pm
________________________________________
#Fred
[lol] [lol] [lol]
hueahuahaaa
kocak! kocak!
aq jadi pengen tau tulisanmu. posting cuplikannya di sini dong, kalo gak keberatan [bigwink]
________________________________________
Post by: fr3d on May 21, 2008, 04:34:30 pm
________________________________________
Quote from: clickdian on May 21, 2008, 04:04:48 pm
aq jadi pengen tau tulisanmu. posting cuplikannya di sini dong, kalo gak keberatan [bigwink]

Tulisanku? Wah, malah lucu-lucunya jarang banget! Lebih banyak kisah tragis dan kejadian penuh ironinya…
Mungkin pelampiasannya ya nulis gila-gilaan di forum atau milis gini deh… ;D
Kalau di-posting blom boleh, mba dian… :-\
Untuk novelku ada “masa kadaluarsa” minta review-nya gitu… dan skarang udah habis masa kadaluarsa-nya itu… Memang udah kebiasaan dan ada aturannya gitu… Aku gak mau ngasih orang baca kalo ceritanya blom lengkap, soalnya kepengennya dapet penilaian secara keseluruhan –> ribet ya? yup! [rolleyes]
Versi review/editan trakhir, masa kadaluarsanya berakhir tahun 2006 lalu… (memang dah lama banget sih, maap ya… :-\)

Nah, skarang aku lagi ngerjain review trakhir nih (sebelum dikirim ke penerbit). Niatnya sih setelah review trakhir ini selesai barulah mau ditawarin lagi untuk dibaca orang lain (biasanya sih ditawarinnya full, gak boleh cuma secuplik, bentuknya hardcopy sebuku besar & berat, dan harus ada komentar/feed back-nya –> kami sebut kegiatannya “korespondensi”).
Kami? Yup, novelku memang ditulis sama dua orang.
Targetnya sih review trakhir ini selesai bulan juli. Mudah2an gak ada masalah…
Kalo udah slesai nanti, aku pengen nih minta pendapat dari rekan2 penulis laen di sini! :)
Boleh ya? (Beramai-ramai menjawab: “Boleh koq!” ;D ;D ;D)
Oya, genre-nya ya fantasi dong! ^-^
________________________________________
Post by: rd_Villam on May 21, 2008, 05:02:48 pm
________________________________________
@fred,
you’re good. really good. [thumbsup]
salam kenal.
boleh juga deh nanti aku review draft novelmu. :)
pendapatku biasanya ga begitu bermutu sih, tapi gak masalah kan? :D :D :D
________________________________________
Post by: BloodSin on May 21, 2008, 08:12:21 pm
________________________________________
@fred,
this is EXTREMELY serious, ati2 kalo minta komen ke villam & clickdian, kedua member itu kritikus kelas buaya, sadis dan suka mengumbar kata2 kejam, mahajahat, tukang cela, dan jarang banged kasih komplimen.
saranku: untuk ukuran newbie, sebaiknya ente minta komen ke hege atau FA Pur saja, mereka ini reviewer2 baik hati, murah senyum, arif bijaksana, dan suka kasih pujian. Dijamin tokcer dah [thumbsup]
*ketawa setan [biggrin]*
________________________________________
Post by: BloodSin on May 22, 2008, 01:28:20 pm
________________________________________
Quote from: Amru_Yozar on May 21, 2008, 11:43:01 am
@ All
Udah pada tau Ramaditya? Dia tuh tunanetra yang ikut bikin sontrek di game-na Nintendo. Dia juga bikin nopel Fantasy lho. Sekilas sih mirip Gundam gitu. Kalo mo donlot ada di sini http://www.ramaditya.com/novelrama.zip Kalo mo baca blog-na ada di sini http://ramaditya.multiply.com/

Amru, Thanks link-nya, dulu gw pernah liat orangnya, jadi tamu di empat mata, biar tunanetra gitu selera sarkasmenya sadis juga, tukul abis dikatain sama dia [biggrin]
Udah baca sekilas2 fantasi dia, idenya sih emang lumayan orisinil, dan tata bahasanya rapi ciamik pun, naming lumayan. [thumbsup]
Cuman somehow (gejala ini juga ditunjukkan naskah2 excel), walaupun rapi ciamik gitu, bahasa dia kurang bisa mengikat pembaca, gw langsung close begitu masuk baca halaman 3, entah kenapa. Mungkin nanti lanjut baca lagihh..
note: untuk ukuran tunanetra, fantasi dia bener2 lumayan banged, cuma cuma bermasalah di gaya bahasa IMO sih :-\
________________________________________
Post by: BloodSin on May 23, 2008, 01:11:46 am
________________________________________
Boleh posting cerita jg kan? Boleh? Boleh? Boleh… [biggrin]
cuplikan dari LEMURÉS: Surga yang Hilang, naskah fantasi gw yg lagi berjibaku VS penerbit :D

Kegelapan beranjak dari tempat, dan hari kembali bergulir di Sierra Kuno. Mereka berhasil melalui malam pertama di Sangkar Hantu tanpa sedikit pun gangguan berarti, kecuali serbuan dari koloni serangga malam yang mengusik tidur mereka sedemikian rupa: nyamuk tropis.

Pagi itu mereka sarapan dengan melahap pakis-pakisan hutan yang tumbuh di ketinggian; dan untuk itu mereka mengandalkan si bocah Sirat untuk memanjat pohon.

Ketika hari mulai terik, mereka kembali melakukan pencarian dengan menembus kerimbunan semakin dalam. Semua orang menyadari bahwa mereka semakin jauh melangkahi wilayah Sangkar Hantu.

Pada suatu wilayah di tempat itu, mereka melihat jajaran pohon aneh: kelompok pohon tinggi semampai dengan bagian atas yang amat rimbun, di mana mereka melihat sarang-sarang yang dibangun dari ranting kering dan tanah liat. Di wilayah itu ada lebih dari selusin barisan pohon aneh, dan setiap pohon memiliki lebih dari selusin sarang.

Dari semua anggota Rombongan, hanya Guillarde yang memiliki minat mendalam terhadap sarang-sarang itu; rupanya sang marquis dibakar oleh rasa penasaran terhadap rupa mahkluk penghuni sarang-sarang itu.

Ia melemparkan sebatang ranting jatuh ke arah sarang-sarang itu, namun tidak pernah bisa mencapainya, oleh karena ketinggian sarang-sarang itu. Kendati demikian, ia sudah cukup menimbulkan keberisikan untuk membangunkan apapun mahkluk yang tertidur dalam sarang-sarang itu.

Namun tak ada reaksi, tak ada balasan. Sarang-sarang itu tidak menampakkan penghuni-penghuninya; membuat orang-orang yang ada di situ menarik kesimpulan bahwa sarang-sarang itu kosong belaka.

Tidak mau berlama-lama mengalihkan perhatian pada sarang-sarang aneh itu, sang pemimpin meminta orang-orang kembali melangkahkan kaki. Jadi siang hari itu mereka terus berjalan hingga gelap menyentuh sisi barat cakrawala, menembus wilayah Sangkar Hantu yang memiliki pohon-pohon dengan sarang aneh.

Sarang-sarang itu masih ada di tempat perhentian mereka, namun tak seekor pun mahkluk penghuninya yang menunjukkan tanda keberadaan.

Sewaktu Kain memutuskan untuk bermalam di situ, si bocah Sirat menyuarakan kegelisahannya.

“Bagaimana dengan sarang-sarang itu?”

“Kosong,” jawab Kain sekenanya, terlihat tidak terlalu yakin. “Apapun mahkluk penghuninya, kukira sudah bermigrasi dari sini. Aku pernah mendengar tentang kawanan angsa yang bermigrasi dari tempat ke tempat.”

“Burung-burung yang bermigrasi tidak membangun sarang di atas pohon,” Guillarde berpendapat. “Dan burung-burung yang membangun sarang tidak akan bermigrasi kemana pun, pada umumnya.”

“Jadi,” Kain berkata, “apa idemu, Tuan de Lusignan?”

“Mempertimbangkan ukuran sarang-sarang itu, kukira mereka hanyalah satu koloni burung kecil atau tupai kerdil,” jawab Guillarde, tidak yakin. “Perlukah kita mengkuatirkannya?”
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on May 23, 2008, 09:52:12 am
________________________________________
Ok, karna rey juga udah komen, aku mau nutup aja topik review cuplikan novelku supaya tidak berpanjang lebar ria berhubung cuplikannya sendiri pendek sekali :D .
Thx u buat mba dian, villam, om pur, hege, dan rey yang udah membaca dan menyampaikan pendapat kalian.
Aku akan menyimpulkan aja ya:

1. Masalah plot yang masih jadi tanda tanya/tak jelas seperti yang dijabarkan villam memang tak bisa dibahas lebih jauh. Tapi, berhubung villam berhasil point out semua hal penting berhubungan dengan plot yang sengaja aku sebut sekilas di cuplikan itu (yakni: mimpi apa, kehilangan apa, persiapan apa, dua benda itu), berarti aku menganggap cuplikan itu sudah cukup dalam hal memberi input awal/pembukaan kepada pembaca mengenai hal-hal kunci tadi dan cukup pula memberi gambaran atau ekspektasi mengenai apa2 yang mungkin akan diceritakan/dijelaskan pada adegan2 berikutnya.

2. Om pur merasa cuplikan itu sebagai prolog dan temponya lambat. Dan itu tidak sepenuhnya salah, karena cuplikan itu memang “prolog” untuk masuk ke permasalahan utama kedua di dalam novelku. Temponya lambat karena memang sedang memulai lagi pembangunan kisah dari awal.

3. “Cerita yang kurang mengalir dan tak cukup ada tease yang mengundang” komentar hege ini juga aku memaklumi karena memang cuplikannya sendiri pendek, dan “tease” itu sebenarnya ada di balik pintu yang belum sempat dibuka oleh si tokoh di dalam cerita [rolleyes].

4. Feed back yang aku harapkan pada awalnya sebenarnya lebih ke arah gaya bahasa (seperti yang kukatakan di awal posting). Dan tentang gaya bahasa ini, aku dapat menyimpulkan beberapa hal dari komen2 yang ada:

a. Meski minim detil, mba dian berhasil menangkap tujuanku menulis adegan itu di dalam kamar (spesifik) itu, yaitu hanya sekedar untuk menunjukkan si tokoh adalah orang yang sangat penting di dalam dunianya. Ini sudah cukup membuatku puas. Kalau si tokoh tidur di kamar lain, misalnya nginep di rumah temannya, hasilnya pasti beda dari harapanku. ;D

b. Mba dian juga mengatakan: “belum menemukan sesuatu yang aneh”; dan rey mengatakan: “gaya dan tata bahasanya tak ada yang jelek dan tak ada yang spesial”. Dua komen ini juga cukup buatku, karena ini berarti tak ada yang salah dengan gaya dan tata bahasa itu sendiri. (*lega*)
Soal spesial atau gak, rey, gw memang menyimpan yang spesial2 untuk adegan lain yang lebih membutuhkan. Kalau semuanya ditulis dengan spesial, nanti malah jadinya berasa gak ada yang spesial sama sekali kan? [biggrin] (*buru-buru melarikan diri sebelum dirajam!*)

c. Tentang detil yang tampaknya jadi perhatian utama (rey bahkan mengaitkannya dengan “wawasan luas” dan “kreatif”; membuat diriku bertanya, apa memang ada hubungan sebab akibatnya antara kedua hal itu? ???); harus kuakui lagi, cukup sulit untuk memasukkan terlalu banyak detil ke dalam novelku yang punya banyak istilah, set, prop, tokoh, dan aspek pendukung world building lainnya, karena novelku sudah cukup tebal oleh plot yang rumit. Detil2 itu sebenarnya bukan tak ada sama sekali, tapi aku memilih memasukkannya ke lokasi2 yang lebih appropriate atau hal2 yang lebih membutuhkan. Hal ini semata-mata supaya tidak menyibukkan para pembaca ketika aku mengharapkan mereka disibukkan oleh plot. Ini cuma soal penempatan aja koq. ;)

Oya, soal membagi ke beberapa buku, sekarang memang tengah dilakukan koq! Tenang aja, rey, tiap “buku” itu sudah ada plot2 kecilnya yang punya awal dan ending, sekaligus tetap mempertahankan satu plot besar untuk keseluruhan cerita.
Rasanya itu sudah mencakup semuanya…
Skali lagi, thx u all! :D
Untuk mba dian dan villam yang sempet aku janjiin versi yang lebih panjang,
Setelah aku berdiskusi dengan co-author-ku, kami akhirnya sepakat untuk kembali ke peraturan semula, yaitu selesaikan dulu seluruh pengeditan sebelum meminta review dari orang lain supaya bisa dapat komentar yang lebih lengkap. Jadi, untuk sekarang, belum bisa men-japri apa pun. Maap ya, sudah menebar janji-janji palsu. ;D ;D ;D
Mudah-mudahan saja pengeditan terakhirku ini selesai pada waktunya. (*crossing finger*)
Ayo semuanya, kita smangat menulis/mengedit!!! [letsdoit]

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XI (12 Mei 2008 – 19 Mei 2008)

  • Model stereotip novel fantasi
  • Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh clickdian
  • Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh BloodSin

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on May 12, 2008, 12:47:30 am
________________________________________
@villam,
BTW ide ente buat novel fantasi terbaik tahunan asik juga, idealnya sih dikategoriin dua kelompok, fantasi indo & fantasi luar. ;)
Tapi payahnya ane selaku TS tret lebih intens beli fantasi2 lokal, fantasi luar mah jarang (tapi clickdian kayaknya sering ;D), lagian yg mau jadi juri siapa? Paling disini yg lumayan sering baca buku fantasi lokal secara rutin cuman ane ma om pur, masih kurang 1 mahkluk lg tuh buat bikin kelompok penjurian..
ada yg minat mendaptar?

@clickdian,
asik review-nya, sip dah. ;)
pertama ane suka namingnya, seperti biasa pengarang luar selalu punya nilai plus buat urusan naming.
kedua, buat idenya, sekilas kalo diliat dari gambaran ente, IMO sih yak masuk lajur klise ahh.. stereotip fantasi kan gak cuma seputar kisah heroik dunia peri-centaur-elf, tapi masuk juga yg model magic2an ala harpot (dengan spell2 yg kedengeran aneh n complicated, tentu)
Septimus masih berkutat di dunia per-magic-an (walo udah disamarin istilahnya jadi ‘magyc’ :D ), dan rasanya masih termasuk klise..
Tapi keklisean itu pun sama sekali bukan masalah, ane rasa cukup mustahil buat bikin fantasi yg idenya pure original buat hari gini mah.

Kalo diliat2 buat ukuran fantasi hari gini, keklisean itu bisa dikelompokkan jadi 6 stereoptipe IMHO:
-model fantasi epik petualangan
-model fantasi dunia sihir
-model fantasi kolosal
-model fantasi fabel
-model fantasi futuristik
-model fantasi RPN
ada tambahan? dan… yg mana tipe fantasi yg kita masing2 anut yak?
________________________________________
Post by: fr3d on May 14, 2008, 03:33:48 pm
________________________________________
Alow, salam kenal semuanya! ;D
Di sini banyak rekan2 yang novel fantasinya udah diterbitin ya? Wah2, ok deh! Siapa aja ya & karyanya apa?
Fiksi fantasi dalam negeri? Hmm… lebih sering baca luar negeri…
Yang pernah kubaca cuma yang keluaran tahun 2005/2006: ledgard, pinissi, phoenix, dan corruption. Yang setelah itu, blom pernah lagi deh. Kalau liat di toko buku sih pengen beli, tapi takut kecewa karena kebanyakan harganya cukup mahal kan… :-\
Tapi, aku seneng di negeri kita tercinta ini ;D, perkembangan fiksi fantasi udah ke arah jalan yang bener. Mudah2an makin banyak aja terbitannya dan makin berkualitas seiring berjalannya waktu. [bigwink]
________________________________________
Post by: BloodSin on May 16, 2008, 01:08:56 am
________________________________________
buat fr3d, welcome dude, udah baca 4 judul novel fantasi itu? gimana komen ente? puas tak sama fantasi2 karya penulis lokal itu? boleh donk gw minta review ente buat 4 novel itu :)
(wakakakak, baru nongol udah langsung gw palak nih orang ;D)
________________________________________
Post by: fr3d on May 16, 2008, 09:55:38 am
________________________________________
@rey (ini bloodsin kan ya?),
Empat novel fantasi lokal itu mengecewakan semua buat gw… (eh, gak ada para penulisnya kan ya? Kalo ada, maap, lho. Ini kan pendapat pribadi ;) )
Hmm… review ya… gak sanggup kayak om pur sampe ke masalah teknis deh… :D
Lagian udah rada-rada lupa juga sih. Jadi, komentar sebagai seorang pembaca aja ya. Seinget gw begini…

Ledgard
Kayaknya udah di-review banyak orang. Kecuali soal novel itu bagus banget, umumnya sih pendapat gw sama aja sama para reviewer itu, misalnya soal cover yang gak relevan sama isinya (meskipun bagus), tokoh antagonis yang muncul terlalu di akhir, dll. Kalaupun ada tambahan:
1. Sihir-sihirnya terlalu semaunya! Maksudnya, gak ada aturan jelasnya. Gw lupa kelompok apaan tuh yang dikunjungin para tokoh utama pas pertengahan cerita. Nah, kelompok itu (yang seolah-olah kumpulan para ahli sihir) kayaknya terlalu jago deh. Sama kaum ceweknya nash (siapa sih namanya? lupa juga!) kemampuannya juga hebat banget. Seharusnya dengan kemampuan yang mereka kuasai, mereka udah bisa menguasai seluruh dunia di ledgard tuh! Gak perlu takut sama serangan orang-orang asing. Gak masuk akal aja, apalagi sampe kewalahan pas perang terakhir…
2. Centaur yang cuma punya satu jenis kelamin? Awalnya sih menarik, tapi setelah ada penjelasan bagaimana cara reproduksinya… [rolleyes] Rasanya salah banget… Satu-satunya kaum yang sukses merebut hati ya memang cuma kaum felis itu.
3. Petanya! Aduh, bukannya membantu malah bikin puyeng… :o
4. Gambar karakternya oke dan keputusan untuk memasukkan list karakter di bagian awal itu juga oke! Karena jujur aja, waktu pertama kali ngeliat ledgard, gw tertarik beli karena liat list karakter itu. Jadi penasaran, kumpulan orang ini mengalami petualangan apa sih di dalam buku?
5. Gaya penulisan adegan/percakapan romance-nya juga terlalu… gak cocok :D . Kalimat-kalimatnya berasa sinetron/telenovela gitu.

Pinissi
Jujur dari keempat novel yg sudah gw baca itu, pinissi adalah yang idenya paling bagus 8). Tapi, cuma sampe ide itu aja, karena ternyata perwujudannya gak sesuai yang gw harapkan.
1. Boros kertas banget tuh novel. Ada banyak pembahasan/adegan yang diulang-ulang melulu penjelasannya. Kalau diulang sebagai penyebutan satu dua kalimat sih ok aja, tapi ini satu adegan penuh. Serasa di-copy-paste…
Banyak juga kalimat-kalimat yang kurang efektif dan terlalu berputar-putar. Jadi curiga, jangan-jangan sengaja biar halamannya banyak ya, trus harga jualnya jadi naik, lalu otomatis hasil royalti juga… (eh, bener kan ya analoginya begitu? ???)
2. Endingnya gak jelas. Apa tujuannya juga pembaca diajak muter-muter sepanjang buku kalau akhirnya cuma begitu aja?
3. Artwork-nya lumayan. Tapi knapa yang dipilih jadi cover malah yang itu? Padahal banyak gambar di dalam buku yang lebih bagus…
4. Penyelesaian permasalahannya terlalu di-simplified.

Phoenix
1. Selain telah mengundang seluruh makhluk jejadian lokal ke dalam buku itu (yang merupakan keputusan yang kurang bijak, berhubung setting-nya sendiri masih ngambil-ngambil dunia barat), penulisnya juga tampaknya kurang memahami konsep ruang dan waktu di dalam ceritanya sendiri.
2. Trus si phoenix (manusia) lahirnya dari phoenix (burung) beneran, bukan? Melanggar aturan biologi banget! Kecuali ada penjelasan yang memuaskan, tapi ternyata gak ada tuh… [yawn]
3. Ide jam burung yang burungnya bisa dipanggil keluar itu sebenernya bagus, tapi sayang ketutup sama hal-hal aneh laennya.
4. Yang paling parah adalah filosofi di akhir bukunya ternyata kontradiksi sama seluruh filosofi yang udah dibangun di sepanjang cerita! Walah…

Corruption
1. Mungkin karena diterbitin sama keluarga sendiri kali ya, jadi kayaknya buku itu gak di-edit editor sama sekali. Berasa banget itu cuma suatu proyek yang dibuat si penulis buat tugas sekolahnya. Ya itu dia, karena gak di-edit, akhirnya cuma cocok buat dikumpulin ke gurunya aja. [bigwink]
2. Dari segi tema, dunia rekaan, karakter, dan plot, sebenernya corruption punya potensi besar untuk jadi sebuah series yang bagus, tapi penulisnya butuh critic group. Butuh banget, om dan tante! Jangan dimanja gitu dong anaknya! [annoyed]
3. Udah nerbitin sendiri, harganya mahal banget lagi! Memang niatnya laris atau cuma iseng doang sih?! [tickedoff]
4. Covernya jelek. Dan tulisan judul “The Corruption” model begitu niatnya apaan lagi?

Urutan penilaian gw terhadap keempat novel itu:
(Terbaik) 1. Ledgard; 2. Pinissi; 3. Corruption; 4. Phoenix (Terburuk)

Hmm… pasti pada ngerasa kesel kali ya kenapa gw dari tadi kerjanya protes melulu aja? [rolleyes]
Maap ya, kalo para penulisnya baca. Sebenernya itu karena gw punya ekspektasi besar buat penulis-penulis fantasi lokal. Gw percaya, Indonesia mampu juga koq melahirkan penulis sekaliber Tolkien, Rowling, Dahl, Pullman, Goodkind, Jordan, bahkan Frank Herbert!
Trus mana juga peran editornya? Yang jadi editor itu selama ini baca buku fantasi atau enggak sih? [ranting]
Peran penerbit buat publikasi/promosi juga kurang banget. Tapi, ini mungkin juga karena penerbit menilai kualitas bukunya kurang kali ya, jadi gak terlalu niat. Nah tuh jadi balik lagi kan, kalau memang rasanya kurang, kenapa gak ditahan dulu penerbitannya? Jadinya si penulis disuruh perbaikin novelnya sampe jadi bagus. Sekali lagi, editornya gimana sih?!

Satu hal yang membuat gw bertanya-tanya, keempat novel itu kan disebut-sebut baru buku pertama tuh, lalu mana lanjutannya sampe sekarang? Apa karena kurang laku, trus penerbit gak bersedia nerbitin lagi? Kasian dong… Berarti penerbit juga udah mengkhianati pembaca yang mungkin udah jadi fans karya-karya itu (tapi gw gak termasuk, lho [biggrin]). Kalau bener, model penerbit gitu yang gak konsisten tuh!

Jadi, itulah, kawan-kawan, alasannya kenapa gw gak belanja fantasi lokal lagi, karena takut kecewa… :’(
Kesimpulan uneg-uneg panjang lebar ini:
“Ayo, semangat memajukan fiksi fantasi dalam negeri!!!” (Lho?! :o [rolleyes] ;D)
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on May 17, 2008, 12:01:38 am
________________________________________
@fr3d,
asik reviewnya, ternyata emang banyak yg mengeluhkan gaya dialog metropop dalam ledgard, kesannya pan tokoh2nya jadi kayak ‘bule celup’ gitu, wakakakak…
Kalo Pinissi, emang kurang ada gregetnya dan gaya berceritanya muter2, gw juga gak suka sama kovernya (padahal ilustrasi di dalam bukunya cakep2 banged), ironis emang. Tapi mungkin karena emang sasaran pembacanya anak kecil, gaya berceritanya jadi diulang2 gitu yak :D
Kalo Phoenix emang cukup banyak pembaca yg udah komen negatif dimana2, gw sih belom baca.. Penasaran juga sih segimana parahnya :D
Kalo corruption, penasaran nih gw, ada yg bilang bagus, ada yg kagak kayak ente..
Tapi mungkin dia mahal karena kualitas kertas HVS, dan lagi kualitas kover-nya bagus banged pan?
BTW jangan salah, sebetulnya ada juga lho fantasi2 penulis lokal yg dahsyat, cobain deh baca Goran, Sang Penandai, ato Hozzo, 3 novel lokal itu masuk kategori the best dari semua yg pernah gw baca. Lagian fantasi indo semenjak era Ledgard-Pinissi-Phoenix itu, udah gak tebel2 n mahal2 amat lg kok, sekarang mah kisarannya 30-40rban.. tapi yak emang masih pada bersekuel sih ;D
________________________________________
Post by: fr3d on May 17, 2008, 12:45:17 am
________________________________________
Corruption idenya gak jelek, beneran deh. Tapi, ya sayang itu, kurang digali aja. (sotoy mode: on)
Jadinya, kayak cuma laporin resep masak-memasak gitu (analogi yang aneh nih… ;D). Itu kisah cuma dilaporin aja. Bet, bet, bet, eh… tamat… Gak ada perasaan apa-apa setelah ngebaca itu…
Karena banyak yang muji (mengapresiasi penulisnya yang masih muda), mungkin itu yang jadi sebabnya juga kenapa penulisnya begitu pede menerbitkan karyanya begitu aja (tanpa mengedit ulang kedalaman plot, unsur greget, deskripsi setting, dll. –> kalau gak salah di wawancaranya, dia pernah bilang cuma perbaikin grammar dan nambahin beberapa adegan ke proyek sekolahnya itu).
Hozzo masih di atas 50rb, bukan? (Kalo kualitasnya ok, gak pa-pa sih, hege ;) )
Kalau Sang Penandai emang waktu itu pernah tertarik beli karena baca gaya bahasanya. Hmm… ntar deh gw liat lagi di toko buku. Kalau Goran, pas baca sinopsis di cover bagian belakangnya, rasanya agak aneh gitu sama ceritanya, jadinya waktu itu udah megang, langsung dipulangin lagi ke rak…
________________________________________
Post by: BloodSin on May 17, 2008, 06:38:42 pm
________________________________________
@fred,
sebetulnya balik ke masalah selera ente dulu sih, ane pan baru aja nyebut stereotipe2 fantasi di halaman belakang, selera fantasi ente cenderung ke tipe yg mana?
Kalo Hozzo, mendingan authornya aja dah yg ngomong, gw udah gak berkepentingan lg disini :D
Kalo sang Penandai, cukup mengingatkan The Alchemist-nya Paulo Coelho, cuman yak kalo tema alkemis lebih oriented ke ‘kehidupan’, penandai lebih ke urusan ‘broken heart’ gitu lha, tapi kedua novel ini sama2 membahas penemuan jati diri, dan Sang Penandai alih2 disebut novel spiritual, dia malah lebih condong ke fantasi epik adventure (dan ada kolosal2nya dikid).
Sinopsis belakang kover Goran emang berkesan cupu (gw juga waktu pertama kali baca langsung jatuh ilpil pun, bayangin masa ada Pasukan Jas Hujan segala ;D), tapi serius novel ini tertolong oleh penyajian setting yg ciamik, karakter2 yg hidup, dan jokes yg gilak, gw gak pernah bosen bilang ini: Goran novel fantasi indo terbaik dari semua yg pernah gw baca (udah belasan judul), mungkin mengikuti ide Villam, nih novel bakal kunobatkan jadi best fantasy 2008 di tret ini.. [biggrin]
(dengan harapan pengarangnya kepancing masuk ke tret inih :-[)
________________________________________
Post by: clickdian on May 18, 2008, 05:07:58 pm
________________________________________
Mas Pur, ini janjiku.
Maaf makan waktu lama..

First of all, I gotta tell you that I’m not a prologue lover. Kebanyakan prolog yang aq temuin di novel2 biasanya aq skip, kecuali prolog yang cukup pendek untuk dibaca dalam waktu 10 menit, itu pun skimming. T_T sorry if I dissapoint you, but that’s me. Dari semua novelku, yang ada prolognya cuma Segara Wulan, itu pun cuma terdiri dari 100 kata.

Jadi, dengan kebiasaan jelek di atas, to find a prologue which has two sequels (all three), to be honest, aq harus baca dua kali karena yang pertama aq loncatin terus. Dan setelah kubaca aq tetep penasaran kenapa gak dibuat bab 1-3 aja? Atau kalo kisah Pendekar Garuda mau dibuat prolog, sebetulnya bisa dibuat singkat padat aja, mungkin satu sampai tiga halaman. Bukankah prolog berfungsi sebagai pengantar atau pengenalan cerita sebelum pembaca masuk ke cerita tersebut?

Ada opsi lain untuk prolognya. Kasih judul di depan, ‘PROLOG’, baru di baliknya, ‘Bagian 1, Pakulangit’, lalu kemudian, ‘Bagian 2’, dst. Kalo kuinget-inget salah satu novel seri Samurai modelnya kyk begini, prolog panjang banget sampe sepertiga novel, terus sepertiganya baru isi cerita, dan sepertiga lain epilog (novel tipe begini bikin aq mau gak mau baca prolognya, kalo nggak isinya sampe tujuh turunan gak bakal aq ngerti).
Muncul pertanyaan, “Bo, terus apa bedanya konsep prolog yang lo bilang dengan dengan konsep prolog Pendekar Garuda (PG) yang sekarang?”
Lebih rapi dan enak diliat yang jelas, dan mengurangi jumlah orang iseng semodel aq dan Rey yang melontarkan pertanyaan gak penting, ‘Prolognya kok panjang banget sih?’

Ato gini deh.. skip aja prolognya. Cerita para pendekar itu bisa dimasukkan ke mimpi Jaka, sekalian biar jadi ‘proses pembelajaran’ jaka menjadi seorang pendekar, biar dia gak langsung bleg aja jadi jagoan. (>.< duh, aq malah kegatelan ngubah2 novel orang. Punten, punten).

Okeh, gini aja. Daripada mengundang debat kusir gak jelas soal ini, mending loncat ke topik berikutnya yang jauh lebih penting. Forget whatever it was named, gak usah pikirin bab2 awal itu disebut prolog ato ngga. Kita jalan ke masalah teknis aja deh kalo gitu. Oh iya, FYI, aq lebih suka bikin review per bagian, karena dengan begitu bisa lebih menyeluruh. Mudah2an gak keberatan.

Prolog 1
Dari awal baca bagian ini, aq jadi ngerasa kangen sama buku2 yang aq baca waktu kecil. Rada laen dengan selera cewek kebanyakan, aq dulu gak cuma baca Lima Sekawan dan Malory Towers aja, tapi juga komik2 silat (kayak serial Gina-nya Gerdi WK), cerita pewayangan (bikinan Kosasih itu lho) dan Wiro Sableng (gara2 taman bacaan deket rumah buku2nya udah abis kulalap dan akhirnya serial WS ini ikut kupinjem juga, hehe). Gak cuma sekedar suka, lama2 jadi sengaja nyari, dan sempet beli beberapa, terutama komik2 wayang :P

PG punya gaya penuturan yang mirip dengan cerita2 lawas itu. Dari penggunaan bahasa sampe isilah2 baheula, kerasa banget. Dan mengingat udah jarang penulis sekarang yang menulis dengan gaya ini, kukasih jempol deh. Segara Wulan, walopun settingnya sama, gak berhasil kubuat dengan gaya ini. Selain emang gak bisa, gak pengen juga, hehehe..

Cuman... ada beberapa hal yang masih ngeganjel, yang sebenernya bisa dipertimbangkan lagi (kalo mau).

Yang pertama, karakterisasi yang kurang kegali. Aq lumayan sering koar-koar soal ini di banyak review yang aq buat, termasuk Rey dan Villam pernah jadi korban, hihihi. Hege aman, karena dia emang oke untuk hal yang satu ini.

Contoh simpel, aq masih belum bisa ngebayangin dengan jelas wujud fisik Sentika dkk itu kyk gimana. Cuma bisa kebayang samar2. Satu lagi, sifat-sifat karakter itu lebih kena kalau digambarkan dalam bahasa tubuh dan cara bicara, lho, bukan deskripsi panjang lebar dalam kalimat.

Hal lain yang lumayan ngeganggu adalah masalah tanda baca. Please tell me why did you have to put comma, dot, question mark and shout mark, all four in a row? Dan kadang-kadang tidak hanya masing-masing satu, tapi banyak.
Ada maksud tertentukah?

Next, kalimat-kalimat yang muncul dalam benak si tokoh, bercampur dengan kalimat deskripsi biasa dalam alinea. Ini harus dibedakan karena memusingkan pembaca. Kalo aq, biasanya membuat ‘suara hati’ dengan huruf miring. Di prolog 1 ini banyak sekali deskripsi, kalau bisa sebar informasi2 ini dalam percakapan singkat padat aja, jgn ditumpuk di alinea.

Hal berikutnya, alinea yang terlalu padat. Ini maksudnya bukan cuma font huruf yang besar atau halaman novel yang terlalu kecil, tapi kalimat-kalimat yang seharusnya terbagi dalam dua bagian disatukan dalam satu alinea. Jujur, aq sering pusing dengan huruf-huruf yang terlalu rapat dan kalimat2 deskripsi yang ‘berat’, akibatnya banyak bagian yang terpaksa aq skip (btw, ini bahkan aq temuin di Laskar Pelangi, dan novel sekaliber itu pun terpaksa ngalemin aq skip hiks.. maaph Bang Andrea..).

Efeknya, banyak informasi yang terlewat dan aq harus balik lagi untuk lebih memahami jalan cerita. Wasting time walopun salah sendiri. Masalah skip-skipan ini sebenernya tanggung jawab penulis. Mestinya dia bisa pake penuturan yang mengikat pembaca untuk keep reading sampe ke akhir (ini teori yang implementasinya susah bukan main >.<).

Kemudian, masalah flashback Sentika. Di awal lamunan dijelasin si kakek udah dalam kondisi sekarat dan nafasnya tinggal satu2, tapi aq heran dia masih bisa bicara sebanyak itu. Kalau dibuat kalimatnya pendek2 dan terputus2, efek misi misterius akan muncul, lho. Dan karena si kakek cuman cerita sepotong, ini akan memancing keingintahuan, ‘emang sebenernya ada apa dgn si Utusan Iblis?’. Kalo pembaca udah keiket kayak gini, dia akan terus membaca bagian berikutnya ;)

Satu lagi. Bagian flashback ini seharusnya bisa dibuat mencekam. Tapi sori, ini aq gak dapet sama sekali. Coba sisipkan deskripsi setting dan bahasa tubuh di bagian ini, dijamin kalo tau caranya, hasilnya bakal beda banget. Walopun jujur, if i were you, i will cut banyak adegan flashback yang sebetulnya gak perlu diceritakan terlalu detil, apalagi kalo ada repetisi. Or, may be I would cut them all, sorry.

Terus terang di bagian flashback ini aq rada bingung. Terlalu panjang. Tapi kalo nggak ada, sejarah terbentuknya kelompok pendekar ini bakal kegusur. Sori, aq gak punya ide gimana cara bikin bagian ini jadi lebih menarik T_T. Mungkin trik lama—menyebar info via dialog bisa membantu?

Berikutnya, masalah point of view. Di prolog jelas ada banyak pov; para tokoh plus sudut pandang si penulis itu sendiri. Untuk masalah pov ini, Villam jauh lebih baik dari aq, better ask him (#Villam, could you gimme a hand on this one?).

Bagian sajak, Cahayanya menerangi seisi limbah, gak salah? Limbah artinya sampah, kotoran, hasil pembuangan dari suatu proses. Sori, aq gak paham makna kalimat ini, baik konotasi atau denotasi.

Last, adegan akhir prolog 1 kurang menggigit. Rasanya lebih smooth kalo mereka melihat paku langit, tercengang, lalu Sentika teringat pada lontar, dan kembali ke percakapan antar pendekar garuda.

Prolog 2
You need footnote untuk kata ageman. Makna kata ini jangan simpan di alinea, it broke my continuity of reading, to be honest.

Tentang Ki Sangeti, deskripsi sifatnya udah kerasa, tapi fisiknya buatku masih blur. Hampir semua tokoh di dalam prolog, kecuali tokoh2 wanita dan gambaran Widura yang tambun, masih belum jelas buatku. Sepele banget kan? Tapi toh berperan besar dalam imajinasi pembaca.

Alinea yang terlalu panjang, sampai setengah halaman, mestinya masih bisa dibagi-bagi. Dan masalah kasta... gimana ya? Sejak awal aq dapet asumsi kalau latar dunia Sentika itu Islam, tapi tiba2 unsur kasta muncul—which is gak dikenal di Islam—dan ini bikin cerita jadi gak match. Memang hal ini dilontarkan oleh Ki Sangeti yang agamanya wallahu alam apa, tapi mestinya mereka hidup di dalam lingkungan budaya yang sama, kan? Kecuali, kalau Sentika dan isterinya awalnya Hindu, misalnya, kemudian memeluk Islam. Kalau begini, masih wajar. Mereka berdua awalnya punya kasta, tapi terhapus setelah memeluk Islam.

Prolog 3
Oke, now the battle.
Jujur aq kurang puas sama adegan battle ini. Kayak baru setengah, atau mungkin permasalahannya di penuturannya? Misal, bagian Sentika memberi isyarat teman2nya untuk menggempur si ratu lelembut, lebih bagus dimasukkan sebagai adegan dan bukannya deskripsi di alinea, karena ini membuat adegan lebih hidup.

Kemudian, tempo pertempuran, sangat cepat. Untuk ukuran Sentika (yang katanya pendekar kelas wahid masa itu) dan Ki Sangeti (yang katanya tokoh hitam yang lumayan punya pamor), cuma butuh tiga alinea sebelum jurus pamungkas Sentika keluar? Ini pun satu alinea hanya deskripsi kondisi kedua belah pihak, bukan gambaran pertempuran mereka berdua. Dan maksud kalimat ‘Tak banyak yang dapat diingat lagi setelah itu’—diingat sama siapa? Sebenarnya ini sudut pandang siapa?

Satu lagi, ‘Yang masih tergambar jelas adalah adegan terakhir saat matinya Ki Sangeti di tangan Sentika’. Kata ‘adegan’ di dalam paragraf make it sounds like watching movie or something, seperti di luar kisah. Kalau aq, kalimat ini nggak perlu. Langsung aja ceritain bagian matinya Ki Sangeti, tidak perlu repot-repot buat kalimat pengumuman seperti ini.

Toya Batara Guru, yang ada di bayanganku pedangnya Anakin di Star Wars, betul kayak gitu? Oke, permasalahan yang sebenarnya buatku ada di bagian penjelasan panjang lebar tentang senjata ini.

Belok bentar ya, soal kebiasaanku baca atau nonton Naruto (don’t get me wrong, di dalam Naruto banyak ilmu yang bisa kuambil untuk menulis. Makanya aq lumayan intens ngikutin serial ini). Kubilang secara plot, karakterisasi, battle story, Naruto bagus. Tapi ada kebiasaan OOT di saat battle, dan itu ngeganggu. Misal pas Sasuke lagi tempur seru ngelawan Orochimaru dan Orochimaru tiba2 nyebut soal Itachi (kakaknya Sasuke), adegan tiba2 aja flashback ke bagian Itachi dan Sasuke belajar ngelempar shuriken, terus Sasuke digendong pulang, terus keadaan makan pagi di rumah Sasuke kecil, terus Itachi diciduk petugas keamanan setempat, terus satu klan keluarga Sasuke dibunuh Itachi, terus kehidupan Sasuke kecil yang jadi sebatang kara, barulah setelah itu adegan kembali ke Sasuke yang berdiri terengah-engah kelelahan menatap Orochimaru yang sedang merapal jurus pamungkas. T__T

Dan ini aq dapetin di Toya Batara Guru. Mungkin penjelasannya nggak perlu panjang lebar dengan ‘versi sejarah’, akan lebih mencekam kalau langsung aja dipraktekkan oleh Sentika yang menebas sebatang pohon yang tumbuh di dekat mereka. Kan keliatan tuh dahsyatnya si toya. Kalo gini kan tinggal disebut Ki Sangeti jadi rada jiper juga tuh ngeliat kesaktiannya.

And btw, tentang Sentika yang mencari Ki Sangeti yang asli (dari klonnya yang bejibun itu), terus terang aq pengen tau gmn caranya. Kalo di Naruto ilmu membelah diri ini ada, dan cara mencari yang asli juga diceritain gimana, jadinya cerita absurd itu sounds make sense. Bukan maksudnya bandingin, hanya saja kalau kesaktian Sentika ini diceritakan lebih detil akan .?lebih meyakinkan, dan pembaca lebih respek sama dia

Muncul pertanyaan: “Hei, ini kan fiksi fantasi, terserah dong mau tulis apa aja!”
Masalahnya, fiksi fantasi sebenarnya bukan melogiskan yang tidak logis, tapi membuat hal yang tidak logis jadi terasa logis. Jadi hal-hal yang tidak penting dan sepintas nggak perlu kayak detil di atas, tetap dibutuhin dalam pembuatan novel fikfan. Siapa bilang bikin novel fikfan itu gampang? Ngayal aja gak cukup T_T

Terakhir, ending prolog 3. Kurang crunchy. Rasanya kayak ‘This is the end and that’s it’. Sebenarnya ini justru bagian yang paling penting, karena harus menghubungkan pembaca dengan isi novel yang sepintas kuliat udah pindah waktu. Ikatlah pembaca di bagian ini, sehingga dia penasaran untuk pindah dari prolog ke isi. Bukannya gak bagus, cuma kurang greget.

Inilah kenapa kubilang masukin aja bagian2 Sentika ini langsung ke bagian Jaka. Bakal lebih menarik, pinter2 aja raciknya.

Isi
Wadoh, Sentika dkk ternyata cuma mimpi Jaka, toh?

Di bab satu ini sejak awal udah keliatan ‘pindah dunia’ dengan pengubahan cara bertutur dari yang ala Wiro Sableng ke teenlit. Kalo boleh share pengalaman, sebetulnya ‘menulis ala teenlit’ cukup di bagian dialognya saja. Narasinya tetap pake bahasa EYD. Karena aq liat jadi nggak konsisten, ada narasi yang ala teenlit, dan ada yang ala EYD.

Masalah kedua, ini jadi bikin aq pengen tau, sebenernya Pendekar Garuda ini target pasarnya siapa, ya? Pembaca teenlit, atau pembaca dewasa? Karena dua gaya penuturan dalam satu novel membuat rancu mengenai segmentasi pasar.

Oke balik ke review. Di sini masih banyak alinea2 yang terlalu panjang dan masih bisa dipotong supaya lebih singkat dengan maksud yang sama. Deskripsi karakter lebih bagus jangan ditumpuk di awal, kecuali terpaksa. aq liat masih bisa diselip2kan di tengah cerita.

Satu hal yang aq liat agak aneh. Aq pernah ngalemin beberapa kali berada di tengah tawuran, dan setauku cewek gak pernah ikutan tawuran, walaupun dia yang jadi penyebabnya. Cewek secara naluriah akan menyingkir, gak peduli siapa dia dan apa jabatannya. Jadi ngeliat Rani, Ratih dan Siska tetep ada di ‘medan pertempuran’, jujur aq heran. Kalaupun terpaksa harus ada di sana (seperti yang pernah aq alamin), cowok2 di sekitarnya nggak nantangin dia. Tapi ya sudahlah, pengalaman tiap orang bisa beda.

Kemudian, masih banyak kalimat2 yang tidak efektif, spt 'Topo dilarikan ke UKS (sambil berlari sendiri)'. Kalau dia bisa berlari sendiri, kenapa dilarikan? Gimana kalo kalimatnya, ‘Mereka berlari membawa Topo ke UKS, yang untungnya masih bisa menggunakan kakinya’?

Lalu huruf italic di tengah tanda petik-->apa bedanya dengan yg di luar tanda petik?

Soal ‘alam lain’ yang dimasuki Jaka cs saat bertarung dengan lelembut, masih belum jelas di bab ini. Tapi satu hal, fact bahwa mereka adalah keturunan Pendekar Garuda terlalu mudah terungkap. Lebih pas kalau mereka tahu hal ini setelah ketemu Sentika dan dijelaskan olehnya—ini dengan mengabaikan kebetulan2 yang ada ya, bahwa tiga dari lima keturunan Pendekar Garuda ada di lingkungan yang sama dan bahkan Kitab Lontar tahu2 ada di tangan ibu Jaka.

Oke, overall, sebetulnya ceritanya sudah mengalir, hanya masih perlu ramuan yang tepat untuk menyajikannya. Masalahnya di cara penuturan. Oh satu lagi, sepele banget tapi menghambat proses membaca, EYD dan tanda baca. Walaupun ini sebenarnya akan dibantu editor, nggak ada salahnya kita penulis tahu, kan? :)

Mudah2an bermanfaat, dan mengeluarkan omong kosong panjang lebar ini nggak berarti tulisanku sendiri sempurna.
Btw, gandrik itu siapa ya? :D

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 18, 2008, 06:25:46 pm
________________________________________
Thankyou, thankyou, thankyou (sambil membungkuk bersoja tiga kali)
Kumplit, dan thorough. Akan butuh waktu untuk menyimak (pelan-pelan) dan mempelajari saran-saran kamu serta membandingkan dengan part yg sedang dibicarakan. Tapi, wow. Sungguh beruntung saya bisa dapat masukan ini. terima kasih.

Dalam rangka prolog, saya mulai paham maksud Dian, walau memang tak mudah untuk begitu saja merubah apa yg sudah ditorehkan bertahun-tahun, yg udah kubaca (kuedit) berkali-kali. Tapi seriously gue pertimbangkan untuk merubah angle Prolog ini semaksimal mungkin, mengingat komentar senada cukup signifikan. Great challenge, sih, aku tahu (merinding, bisa gak ya?). BTW, sudah baca versi alternate dimana Prolog dan bab diselang-seling? bagaimana komentar Dian? (eh kalo belum gue kirim by PM dah, sekaligus yg lengkap sampai the End).

EYD? :-[ hehehe malu deh. Harus kuperbaiki lagi. Hayuuk!!

LIMBAH? Typo kali ye,… maksudnya pasti LEMBAH. Emang, sewaktu diketik ulang oleh beberapa siswa SMK, cukup banyak typo terjadi di banding versi hardcopy. Tapi bisa mendigitalisasinya aja gw dah bersyukur banget. Sampai sekarang saya masih menyisiri seteliti mungkin, tetep aja masih ketemu 1-2 typo atau hilang kata.

Hmm,… Siska jelas akan berada di sana, sebab dialah Ketua geng keamanan, dan dia akan dengan senang hati berkelahi dengan siapapun yang menantangnya.
Rani, memang sifatnya berangasan dan gelap mata,… hehehe.
Ratih, kalo dia memang jauh lebih suka menyingkir,… cuma gimana dia lari kalau dua sahabatnya terlibat di sana?

Kenapa seperti kebetulan? Mestinya sih semuanya terungkap di akhir cerita. He he he,.. tapi point kamu clear. Mana ada yg bakal sampai ke akhir cerita kalau di bagian awalnya aja udah ngga engaging?
OK, time to rework.
Terima kasih Suci Dian telah berkenan memberi beberapa petunjuk kepada Teecu.
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: BloodSin on May 19, 2008, 02:43:31 pm
________________________________________
@om pur.
Akhirnya beres juga ane baca PG full version pagi ini.. hehehe semalem begadang gak sanggup beresin :-[
Oke, ane gak bakal ngomongin masalah prolog, bilangan 666, dan gaya bahasa lagi dah. Kita concern ke hal2 yg belom dibahas aja yak (bahasan yg di review ane sebelomnya, tentu).
Dan tentu karena ini review, bakal ada bbrp poin yg jadi SPOILER.. so bagi pembaca lain, skip aja tambahan review ini kalo ada yg belom beres baca PG dan ada niat ngelanjutin baca.

1. Masalah tanda baca
Khusus yg ini ada dua macam yg mau ane komen:
*)Pengulangan tanda baca
Seperti yg pernah dibilang clikdian entah di mana, misal untuk kalimat pertanyaan, mau pake tanda tanya sekali (contoh: apa?) atau tiga kali (contoh: apa???), maknanya bakal sama aja. Kalo ente ingin menggambarkan betapa terkejut atau penasarannya si tokoh yg bertanya itu, kurasa akan lebih bagus kalo dibikin dia mengajukan pertanyaan beruntun/repetitif aja. (contoh: Apa? Kau yakin?)
Ini juga berlaku buat kalimat perintah/seruan (!).
**)overdosis tanda baca
“Eh,… makasih ya Bun,…”
PLAAAAAAAKK,…!!!
Jangan pernah bikin kalimat dengan dua/lebih tanda baca sekaligus kayak begini>_<
Yang paling sering itu orang bikin kalimat berakhiran ‘?!’ untuk pertanyaan dalam keadaan emosi tertentu, dan yg satu itu masih bisa diwajarkan karena emang udah jamak dipake.
Tapi untuk variasi-variasi dua/lebih penggunaan tanda baca dalam PG, kurasa itu cukup nyeleneh, at least clickdian juga protes beginian, heheheh.

2. Ketidakkonsistenan kata panggil
“Gue mau tidur dulu sekarang. Eh kamu mau keluar kan? Aku boleh pesen beli sesuatu ke elu gak?”
Kalimat di atas gak ada di PG, tapi ada bbrp kalimat semacam itu di PG, banyak malah, heheheh..
Orang yg mengatasnamakan dirinya ‘Gue’, idealnya manggil temennya ‘lu’, dan orang yg mengatasnamakan dirinya ‘aku’, idealnya nyebut temennya ‘kamu/kau’. Jangan diputer2 yak, kurasa akhirnya ketemu juga letak kejanggalan gaya bahasa anak jakarta di setting Jaka, ya itulah menurutku :D
terus ada juga yg dikali pertama seorang tokoh pake ‘aku’, di lain kalimat pake ‘gw’.. ada juga yg nyebut ‘elo’, di lain kesempatan pake ‘kamu’, padahal masih ditujukan ke orang yg sama.. menurutku ketidakkonsistenan gw-elu-aku-kamu ini bakal cukup mengganggu pembaca.

3. Scene cutting
Kayaknya kita menganut aliran yg berbeda nih om, heheheh.. Kalo yg gw liat di PG, setiap scene2 peristiwa ‘seru’ yg berhubungan pasti terus dirangkai jadi satu kesatuan, sambung menyambung sampe pembaca terpuaskan pada satu titik jawaban. hmm.. sebetulnya ini prerogatif pengarang sih, tapi menurutku betapa asiknya kalo kita sebagai penulis, bisa ‘menyiksa’ pembaca dengan menyisipkan scene2 lain yg tidak ada hubungannya sama sekali dengan bahasan scene ‘seru’ sebelomnya. Jadi scene-nya dipotong2 ala genre suspense/thriller gitu lho. Kan asik aja bisa bikin pembaca gregetan, hehehehe
Tapi emang pilihan teknik memotong cerita ini gak gitu vital2 amat sih, cuman yak bagi pembaca yg udah terbiasa baca novel2 Dan Brown, pasti bakal ngerasa agak gimanaaa gitu sama gaya penceritaan yg ‘lempeng’ kayak begini..

5. Pemilihan kata
Mahisa Ganurawang segera melompat tinggi, dan dengan keren ia melayang bagaikan terbang menuju ke arah gelaran pasukan kerajaan lelembut.
‘Keren’-nya itu lho!
Entah di dialog, deskripsi, atau narasi, suka muncul kata2 ‘ajaib’ semacam itu. Dan ada juga beberapa judul bab nyeleneh semacam ‘Naik Kereta Api Tut Tut Tut’, ‘T.O.P. B.G.T’, dan beberapa lainnya yg ngebikin gimanaaa gitu.
Tidak begitu vital sih untuk keseluruhan bangunan cerita, tapi cukup mempengaruhi konsistensi bahasa dalam novel ini.
oke, cukuplah masalah teknik penulisan/EYD/tanda bacanya, hehehehe..

6. Sekarang kita masuk ke plot,
-)Plot bikinan ente mengingatkan ane ke plot Naruto, terutama pas konflik Penyerbuan Orochimaru ke Desa Konoha. Dan sejujurnya, walopun gw kagak berselera sama sekali sama settingnya, dan cukup tersiksa malah sama gaya teenlit-nya di awal-awal, hueheheh (ini subjektif sekali, tentu), akhirnya gw mesti mengakui, plot yg ente bikin cukup asik (dan kurasa, ‘keasyikan’ novel ini lebih cocok ditargetkan ke anak smp-sma). Terus terang setelah melewati gaya bahasa teenlit yg ‘parah’ di bab2 awal, gw mulai bisa mengikuti aliran ceritanya, dan bahkan sampe pada tahap menikmati karena ‘terikat’ pada plotnya. Yah karena itu tadi, mungkin karena sedikit banyak genre PG ini mirip2 genre Naruto, salah satu judul anime favorit ane.. :-[

sedikit OOT:
hehehe, gak usah malu sama umur om (istri dan anak pula ;D), tapi ane (dan ane percaya clickdian juga) mau suggest: ente coba simak anime/manga Naruto deh, serius, untuk genre silat yg ente usung ini, banyak ilmu yg bisa dipetik dari Naruto. Mumpung besok libur panjang… buruan cari dvd-nya di glodok gih! ;D
BTW, sedikit intepretasi iseng antara PG dengan Naruto:
(sengaja ngebandingin pake moyangnya biar gak spoiler)
Sentika – Sasuke/Naruto
Widura – Akimichi Chouji
Rangga – Hyugaa Neji
Anggraini – Tenten
Pramesti – Sakura
Ki Sangeti – Orochimaru banged (kepala copot-nya itu lho! :D )
Robbi – Garra
Okee, okee, cukup OOT-nya, lanjut ke PG. :P

-)Ane berharap, ada penjelasan logis kenapa kelima keturunan Pendekar Garuda itu bisa tinggal dalam satu lingkungan yang sama (SMA Raya). Selang setting Jaka – Sentika itu 600 tahunan, betapa mestinya keturunan kelima pendekar itu udah terpencar2 IMO sih.
-)Tokoh abu2 juga sebetulnya gw harapkan muncul dalam cerita, entah dia itu adalah tokoh penjilat licik yg kadang ada di pihak putih atau hitam, atau malah netral. Dan lebih seru lagi kalo ente bikin tokoh abu2 itu ada di setting jaman Sentika, dan muncul keturunannya juga.
-)Tokoh Johannes Domingus Pasaribu yang NOTABENE berdarah Batak, gimana urusannya bisa nyambung ke silsilah Rangga yang orang Jawa? Tentu kalo yg dipake konsep titisan, hal ini gak bakalan jadi masalah.
(BTW, yg bikin ane tertarik (dan cukup menikmati) untuk terus lanjut baca Pendekar Garuda adalah aroma ‘detektip2an’–memprediksi siapa gerangan yg jadi keturunan tokoh2 masa lampau itu–itu bagus, walaupun sebetulnya semua tokoh bisa dengan gampang ane tebak keturunan2nya dari siapa aja, kecuali si Jo gara2 atribut bataknya ;D)
BTW, orang gak tidur selama seminggu aja dijamin koit om, 1000 jam? Yeah, walopun Jo keturunan pendekar sakti, at least ente jabarin fact itu supaya reasonable bagi pembaca.. Misal hal ini terungkap waktu si Jo (entah gimana caranya) kebetulan baca artikel dari internet yg nyebut daya tahan orang begadang sewajarnya adalah cuma beberapa hari, dan betapa ia tidak mengerti menemukan dirinya sanggup begadang jauh lebih lama dari yg sewajarnya: Kok gw bisa gak matik, dan masih seger sampe sekarang?
-) Kebalikan dari komen Clickdian, menurutku adegan2 battle di PG malah kepanjangan, terlalu detil (gileee bener adegan battle final-nya: dari Bun Vs Monster ijo, disambung Robby Vs Jo, Ratih Vs Ki Sangeti, terus yg paling panjang, Kelima pendekar garuda vs Ki Sangeti-Suromenjani-Utusan Iblis. What a long journey! :D )
Tapi emang sebetulnya ini wajar juga sih, secara tipe fantasi yg diusung silat.
-) Suka OOT
Ada penjelasan ttg bahaya merokok, masyallah, keluar banged itu dari bangunan plot! Mendingan dicut aja IMO sih. Terus masa abis Jo nyikat Robbi, malah ngomongin tawuran?

OKeh.. i’ve finished for all of these inputs & critics, now lets talk about the positives. (yg ente tunggu2 nih ;D)
-)Sekali lagi, bangunan plotnya emang cukup kuat. Gw jadi ngerti kenapa ente mencak2 banged nanggepin plot Hozzo, hueheheheh. Perencanaan plot emang cukup matang, walaupun sebetulnya ini mengakibatkan beberapa adegan di depan jadi cukup mudah ketebak.
-)Begitupun karakterisasinya. Yahh, cukuplah. Jaka yang kadang bijak kadang dongo (ini istilah dari Rani, hahah gw suka!), Rani yang ceplas-ceplos dan beringas, Jo yang berandal tapi cool, Ratih yang lemah lembut dan cerdik, Bun yang kalem dan humoris (walo humor2nya cenderung garing bagiku): kelima tokoh itu emang udah keliatan perbedaan dasar sifat2nya. Cool, & good job.
-)DAN walaupun disini gw dapet kesan betapa Jaka begitu naif dan tolol (gampang banged dirayu Prasti), gw salut ente bisa menciptakan karakter2 yang ‘manusiawi’, maksudnya jauh dari titel sempurna gitu (Tapi ini cuma berlaku untuk keturunan2 kelima PG itu–Sentika malah keliatan too perfect). Gw selalu eneg baca novel dengan tokoh protagonis yang terlampau sempurna, untungnya PG gak ikut2an pakem itu.
-)Muncul juga tokoh2 baru semacam Mahisa Ganurawang untuk mengecoh pembaca memprediksi keturunan Rangga, dan Gagak Prabaketu untuk menjadi penolong pihak putih secara tak terduga-duga, itu bagus.
-Namingnya (baik untuk tokoh2, jurus2, tempat2), walaupun bukan selera gw, patut gw acungi dua jempol. Emang pas banged sama bangunan Setting Jawa Kuno-nya.
-)Adegan cinta monyet Siska-Jo, Tongpes-Olga, dan percekcokan geng Seksi Keamanan terhadap Olga juga lumayan asik diikuti.
-)Walaupun gw dapet kesan over-dramatis, adegan-adegan emosional kayak: Prasti ngecelein Jaka, Jaka ngusir Ratih, Olga ngusir Jo, persidangan Jo, cukup membangun aspek emosi pembaca dalam novel ini. Good job.
-)Beberapa Ide & Background, seperti teknik Mawar Kematian & Dewi Kebajikan itu boleh juga, cool. Ide Formasi Garuda-nya juga keren. Terus bagian di mana Bun menghadapi monster yang sengaja dirancang untuk menangkal kemampuan dirinya, dan betapa Rani kemudian dapat membinasakannya dengan mudah, itu juga keren. I like it.
-)Walaupun awal2 PG pake background Islam, gw menemukan content PG ini cukup universal, layak dibaca semua umat lha. Ada tokoh Johannes Pasaribu yang notabene Kristen, dan gimana ente dengan kocaknya mengungkapkan itu pas keadaan genting di mana kelima PG ingin mencoba merapal ayat Quran untuk mencegah Utusan Iblis turun ke bumi, itu menarik.
Dan tentu, gw seneng di sini ente kagak terjebak ego pengarang2 fanatik geblek dengan tidak mengkonvert agama yang dianut Jo di akhir cerita. Sip dah. Salut berat dari seorang pembaca Nasrani!

n.b:
OOT dikid, eh kalo ane liat2 keknya ente cukup tahu istilah2 perkempingan, sleeping bag, parafin, tenda peleton.. kurasa cuman orang yg pernah kemping aja yg tauk istilah2 itu, huheheheh.. emang ente pernah kemping dmn aja?
Desember 2007 kmrn ane kemping di kandang badak, tapi gak nyampe puncak gunung gede gara2 tepar duluan, kena ujan, becek, gada ojek… :-[

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi X (18 Apr 2008 – 11 Mei 2008

  • Heart of Desperado karya BloodSin
  • Tentang Para Penunggang Petir
  • Lagi, tentang novel fantasi lokal dan peran editor
  • Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh BloodSin
  • Review Septimus Heap: Flyte oleh clickdian

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: BloodSin on April 18, 2008, 02:23:57 pm
________________________________________
Heart of Desperado: Prolog

Siang itu, sewaktu matahari mengintip dari awan tebal di langit barat El Banderas, orang-orang berkuda hitam menuruni bukit di sebelah utara desaku. Mereka memacu tunggangannya sambil mengacung-acungkan Colt hitam yang digenggam tangan kanan mereka, menarik pelatuk dan meletuskan tembakan berulangkali ke udara.

Selama sesaat aku mengira iring-iringan ribut itu adalah Cicero bersaudara yang baru pulang dari perantauan—mereka memang eksentrik dan biang ribut—yang ingin mengejutkan kampungnya seolah tengah diserbu penjarah-penjarah dari gurun Sierra Nevada.

Tapi aku segera menyadari kekeliruanku: para pendatang ini mengenakan segala sesuatunya serba hitam, tidak seperti Cicero bersaudara yang selalu berpenampilan mencolok dan agak norak. Mereka bukanlah orang-orang dari desa kami, El Banderas, yang memiliki sepuluh keluarga petani dan limapuluh hewan ternak yang digembalakan di balik bukit selatan El Banderas.

Mereka adalah iring-iringan asing yang menunggangi sepuluh kuda hitam, bercadar hitam, dan ber hitam-hitam. Aku dan Piedro tidak mengenali mereka.

Aku terhenyak tatkala iring-iringan sepuluh orang itu melompati pagar kawat berduri yang menghalangi jalur mereka dengan lentingan sempurna; menerjang jalanan utama desa dengan penampilan dan sikap yang mengintimidasi. Detik berikutnya aku melihat gigil gelisah dari bibir Piedro yang mengintip di sampingku; ia menggumamkan sesuatu, tapi perhatianku teralih pada pemandangan yang ada di luar istal kuda, tempat kami membenamkan diri dalam ilalang kering.

Aku menyadari bahwa mereka seutuhnya adalah para perompak yang menyerbu desa kami, sewaktu pemimpin mereka meletuskan tembakan ke dada Eduardo tua yang malang. Para lelaki desa kami melakukan perlawanan dengan mengambil revolver-revolver berkarat yang sudah bertahun-tahun tak digunakan, bersembunyi untuk membidik para penyerbu dari balik drum-drum anggur di gudang suatu bar kumuh.

Tapi iring-iringan itu bergerak lebih cepat dari mata, lebih lihai dari tembakan, dan lebih tajam dari bidikan. Para pelawan dari desa kami tak pernah dapat menumbangkan bahkan hanya seorang dalam iring-iringan itu. Peluru-peluru selalu meleset seperti ditiup setan yang bersekutu dengan mereka.

Tampaknya mereka bukan perompak sembarangan.

“Mereka adalah Las Mephisto,” Piedro mendesis gentar dekat telingaku. “Perompak legendaris yang tak bisa mati oleh peluru,”
………………………………..
………………………………..

http://kemudian.com/node/117151

________________________________________
Post by: BloodSin on April 28, 2008, 12:54:10 pm
________________________________________
@om pur,
poin pertama (yg ini murni cuman cuap2 selera pribadi gw aja–boleh langsung di-skip masuk poin kedua kok, heheheh), gw kagak demen novel fantasi anak2 ‘tertentu’.
makanya dari hexalogi(eh apa oktalogi yak?) chronicle of narnia, gw cuman tamat baca buku pertamanya doank (padahal dulu gw dipinjemin komplit semua seri-nya ma temen lho). ini berlaku juga buat harpot–buku satunya bahkan tak tamat kubaca pun>_<
tak peduli mau dalam bentuk buku/film, ane kurang excited sama narnia/harpot/golden compass, somehow. (padahal waktu jaman sd-smp dulu ane freak sama seri goosebump n bahkan langganan majalah bobo jg lho!(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif))
umur memang menentukan selera bacaan.
tapi emang ada juga sih fantasi anak2 tertentu laennya yg gw demen, kayak bridge to terabhytia & hozzo contohnya. yg ini gw gak tau knp, barangkali ada faktor x tertentu dalam cerita yg bersinggungan sama selera gw, makanya gw bisa takluk(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)

kedua, yg namanya novel fantasi kudu bisa berdiri sendiri lha, masa harus pake template novel2 tertentu.. kalo iya begitu, cupu amat >_<
kalo masih terinspirasi, masih amat wajar.
tapi kalo udah ter’asosiasi’ sama novel dari pengarang laen(bener gak gini istilahnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)), bakal jadi kecacatan kalo bagi gw sih.
Kasusnya untuk novel Penunggang Petir, gimana nasib pembacanya kalo gak pernah baca/nonton/tahu cerita narnia?

ketiga, emang yg namanya ‘kerjaan’ editor buat novel2 fantasi lokal tertentu dari bbrp yg pernah gw baca, suka bikin gw gregetan.
Gak usah musingin sampe tahap isi & logika dalam cerita dah, untuk urusan EYD, tanda baca, struktur kalimat baku, & ‘ketelitian mata’ aja masih sering kebablasan tuh. suer, ini pengalaman gw untuk belasan fantasi lokal yg pernah gw lumat sampe tamat(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)
Tapi emang mau gak mau gw mesti bisa memaklumi, biar gimanapun, novel lokal bergenre fantasi belum terlalu lama (& banyak) muncul di indo, jadi gw rasa sebetulnya mereka adalah editor2 fantasi dadakan–yg sebelumnya terbiasa dengan naskah2 teenlit/chicklit yg bertendensi menggunakan gaya bahasa tak baku & ber-plot tak serumit fantasi.
yaahh.. begitulah kira2 yg terjadi IMO.

note:
eh gw ngomong begini bukannya mau ngejepret penulis & editor teenlit/chicklit sini lho…jangan sampe salah paham yak, demi sejuta jemuran kolor.
*ngikutin gaya ngomong si hegenyet(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)*
Tapi ini kenyataan: umumnya, orang yg telah terbiasa berkecimpung dalam dunia teenlit gak bakal pernah bisa memahami dunia fantasi seutuhnya, dan begitupun sebaliknya.
dan gw selalu suka pake analogi ini: orang yg udah terbiasa & demen musik dangdut sampe mengakar di otaknya gak bakalan bisa memahami sepenuhnya konsep musik jazz, dan begitupun sebaliknya…kecuali mungkin kalo musikalitas orang itu tinggi banged & emang fleksibel (si orakarik pernah gw jelasin panjang lebar beginian(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif))

jadi… sekedar masukan dari gw (seorang penulis fantasi mahacupu gak tauk diri yg sotoy akut dan doyan mencela karya orang(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)), ditujukan buat penerbit2 yg ada niat nerbitin naskah fantasi: rekrutlah editor2 yg berkapasitas menguasai betul tata bahasa & EYD indonesia (secara naskah bergenre fantasi umumnya menggunakan bahasa baku) dan benar2 berwawasan sebagaimana sejatinya editor fantasi–maksudnya, minimal familiar sama berbagai mitologi & literatur fantasi dunia lha (secara mayoritas naskah fantasi indo bertendensi mengambil setting luar).
Segitu aja sih, cuap2 TS thread inih di hari senen yg suntuk & membosankan, yg barangkali malah menambah suntuk pikiran semua yg baca tulisan ini skrg.. hehehe :D
Salam Dangdut,
Rey L

[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on April 29, 2008, 12:07:44 pm
________________________________________
Quote
kedua, yg namanya novel fantasi kudu bisa berdiri sendiri lha, masa harus pake template novel2 tertentu.. kalo iya begitu, cupu amat >_<
kalo masih terinspirasi, masih amat wajar.
tapi kalo udah ter’asosiasi’ sama novel dari pengarang laen(bener gak gini istilahnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)), bakal jadi kecacatan kalo bagi gw sih.
Kasusnya untuk novel Penunggang Petir, gimana nasib pembacanya kalo gak pernah baca/nonton/tahu cerita narnia?
Memang, itulah kelemahan apabila pengarang kurang mengestablish universe secara komplit. Kalo ‘males’ bikin universe yg lengkap, jatuh-jatuhnya jadi mirip Fan-Fic.

Quote
Tapi emang mau gak mau gw mesti bisa memaklumi, biar gimanapun, novel lokal bergenre fantasi belum terlalu lama (& banyak) muncul di indo, jadi gw rasa sebetulnya mereka adalah editor2 fantasi dadakan–yg sebelumnya terbiasa dengan naskah2 teenlit/chicklit yg bertendensi menggunakan gaya bahasa tak baku & ber-plot tak serumit fantasi.

Bisa setuju dengan sinyalemen lo, bro. Tapi kalo menurut gue sih, perhatian terhadap ‘universe’ harusnya merupakan sesuatu yang sudah standar ada dalam pemikiran seorang editor. Biarpun ‘hanya’ untuk cerita Chiklit sekalipun, sebuah dunia rekaan yang lengkap dan masuk akal seyogyanya tetap menjadi perhatian.
Makanya yg gue sorot mungkin bukan sekadar ilmunya. Tapi ‘attention’ terhadap kebutuhan pengarang. Kalo editornya gak menguasai medan cerita, dia kan masih bisa belajar. Tapi kalo editornya gak peka terhadap kebutuhan pengarang, dia dapat ‘menjerumuskan’ pengarang sebab yg punya otoritas ke hasil akhir adalah sang editor.

Tapi emang menurut gue sih, terkait kompleksitasnya, nggak pernah ada salahnya bila editor/ pengarang mau menshare tulisannya (terutama sehubungan dengan pembangunan universe cerita) ke dalam suatu forum diskusi para antusias. Soalnya universe itu memang harus berkali-kali mengalami pengujian dan perbaikan, sampai bener-bener didapatkan universe yang solid dan kokoh sebagai fondasi dimana cerita akan dihidupkan.

Kalo ‘dibenturkan’ pada komunitas, kan nantinya akan ada kritik dan perbaikan. Soalnya kepala banyak orang kan beda-beda, masing-masing bisa memberikan wawasan fresh yang bisa melengkapi pembentukan suatu universe.
Itu sebabnya gue juga bikin milis buat ngediskusiin universe cerita yg gue bikin. Hanya sayangnya gak terlalu banyak diskusi di situ,… heheheh,….
Salam,
FA PUrawan

________________________________________
Post by: BloodSin on May 01, 2008, 12:27:06 pm
________________________________________
@om pur lagih,
(belakangan ini gw lg demen posting panjang gak kira2 buat musingin orang yg buka tret ini ;D)
Quote
Itu sebabnya gue juga bikin milis buat ngediskusiin universe cerita yg gue bikin. Hanya sayangnya gak terlalu banyak diskusi di situ,… heheheh,….
sebetulnya ane udah join milis enthe dari lama, email kukumerah_id (dulu gara2 penasaran setengah koid pengen tahu mahakarya penulis yg berani mencela Hozzo abis2an, hehehehe ;D), cuman yak senasip sama si hege, selera ane kebentur sama selera ente yg ibarat langit dan bumi ;D
but at least let me tell you panjang x lebar apa yg ngebikinku tak kuasa bacak sampe abis, rasanya tak adil juga kalau ane yg udah ‘minta’ novel ente gak ‘bayar’ apa2, heheheh :D
(eniwei serius ini penilaian yg subjektif banged, karena emang udah masuk urusan selera pribadi sih, jadi kalo terasa nyelekit harusnya gak jadi pikiran kan?)

pertama, prolognya kepanjangan–terlampau panjang (pake prolog i-iii pulak) T_T
kedua, salah satu faktor yg ngebikin ane lebih prefer baca novel bergenre horor/thriller/fantasi dibanding teenlit/chicklit, adalah gaya bahasa dialognya. Ane entah kenapa kurang bisa tahan sama gaya bahasa anak jakarte, tapi sebetulnya ini gak gitu masalah juga kalo emang dalam gaya bahasa itu betul2 mengandung selera humor yg bisa mengocok perut ane (novel Jomblo-nya aditya mulya sukses bikin ane ngakak gilak n baca tiada henti)

tapi di luar itu, gaya bahasa dialog anak jakarte dalam Pendekar Garuda tetap terasa gimanaaa gitu, kayak kurang natural. tapi yg satu ini mungkin karena novel ente ditulis taun 90an, makanya waktu dibaca ane taon skrg, jadi ada sedikit pergeseran gaya dialog, heheheh, bukan salah ente juga sih.

Terus rasanya (sekali lagi, ‘rasanya’–ini murni perasaan ane doank lho :P ) ada inkonsistensi gaya bahasa antara setting dunia Sentika & dunia Jakarte si Jaka. Kalau sebelumnya pas prolog adegan Sentika pake gaya bahasa yg aduhai, agak nyastra, dan cenderung bermetafora (istilahnya, ‘bahasa rapih’ gitu lha), ehh pas masuk dunia jakarte langsung berubah drastis ke bahasa Teenlit, baik dari segi bahasa deskripsi, narasi, sampe dialognya. (yg dua pertama gak terlalu teenlit sih, malah cenderung berbahasa baku–tp bbrp segmen digambarkan secara ‘teenlit’ nian, dan itu bener2 ngebikin gw terlempar keluar dari bangunan plot)

Gw tauk kok maksud ente gimana, biar terkesan lebih natural kan? Gak mungkin banged donk gaya bahasa dialog si jaka sama kayak gaya dialog Sentika, heheheh.. Tapi sebagai pembaca, gw mau pengarang setidaknya menunjukkan daya upaya untuk menjadikan keseluruhan universe novelnya selaras & tampak konsisten, daripada ‘berpasrah’ mendeskripsikan dua universe yg emang bener2 berbeda itu secara kontras.
(btw sebagai penulis, konsistensi gaya bahasa gw sendiri acakadul nian, Villam know it well :P )
ambil contoh novel goran yg menyajikan 3 dunia, tapi gw ngerasa gaya bahasanya konsisten, dan ajaibnya seperti yg udah ente sebut dalam review ente, pembangunan setting ketiga dunianya cukup believable.

menurutku gaya bahasa dialog Jaka masih boleh pake teenlit-style, tapi deskripsi & narasi yg sebelomnya terkesan rapi banged, jangan ikut2an jadi teenlit donk.. at least kalo tak dimungkinkan pake gaya bahasa yg rapih itu, tampilkan saja bahasa baku yg lugas. Paragraf2 awal bab satu udah good di mataku, masih acceptable, tapi makin ke dalem cenderung ber-teenlit ria–apalagi kalo udah narasi ttg ‘kekonyolan’ anak2 sma seputar si jaka.. dan sebetulnya itu yg ngebuatku merasa kurang nyaman untuk terus ngelahap tulisan ente.

Terus kalo ane boleh memberi sedikit pendapat lain ttg idenya (yg tentunya sotoy akut padahal gak tahu apa2–seperti biasa bukan gw namanya kalo gak sotoy :D ),
rasanya ide ‘titisan’ (reinkarnasi) tak cocok dengan ajaran Islam yg menjadi background Pendekar Garuda, karena setahu ane kayaknya ajaran agama2 rumpun abraham tak mempercayai konsep reinkarnasi. Jadi yak, disitu agak2 terasa tidak konsisten dgn background Islam-nya IMO, heheheh
tapi sebetulnya ane juga rada bingung membedakan arti titisan sama reinkarnasi, sama tak? kalo beda, berarti pendapat di atas totally absurd(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif)
dan kalo tak salah ada nyebut angka ’666′ juga yak? kayaknya setahu ane angka ’666′ itu origin literaturnya dari alkitab, disebut sebagai bilangan anak manusia.. nah kan lagi2 kepentok sama background Islam-nya..
tapi (lagi2 oh lagi2) secara ane bukan Muslim, sebetulnya ane juga kurang yakin, apakah Al-Quran ada nyebutin bilangan 666 itu juga? kalo di dalam Quran juga ada, berarti pendapat ane di atas sekali lagi absurd (makan tempe pake sayur lodeh, capeee deh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif))

terus waktu jaka beraksi dengan mengeluarkan jurus kanuragannya pas diserbu anak2 stm, rasanya kok tiba2 banged, cuman bermodalkan mimpi berulang2 sbg seorang pendekar tangguh & titel ‘titisan’ itu, ujug2 dia digambarin berubah menjadi tokoh yg ‘sakti mandraguna’ dalam tawuran itu (bisa mecahin batu :D ), dari sebelumnya anak sma biasa. kalau menurut gw, biar kesannya lebih natural & believable, ada baiknya diceritakan dulu tahap2an sepele di mana jaka perlahan menggali bakatnya yg terpendam.. mungkin dari hal2 kecil kayak di sekolah dia sering mecahin kapur pas nulis di papan tanpa sebab (ceritanya pan gara2 luapan energi kanuragannya itu, heheheh), ato hal2 sepele laennya, sampe akhirnya, adegan tawuran itu jadi klimaks di mana dia bisa menunjukkan bakatnya secara utuh.

ambil contoh lagi novel goran, heheheh… pas aniki pelan2 menguasai bakatnya, pertama kan dia suka ga sengaja ledakin benda2, sampe akhirnya bakatnya itu bisa dikuasai sepenuhnya, ato pernah nonton kungfu hustle? disitu tokoh utamanya nemuin bakatnya pas akhir2 cerita sih, sebelomnya dia malah digambarin cupu banged, namun di balik kecupuannya itu ada tanda2 ‘sepele’ yg menunjukkan kalo dia sebetulnya berbakat atas sesuatu (kalo formula ini diterapin di plot Pendekar Garuda rasanya gak mungkin juga sih, nanti satu buku malah abis cuman buat begituan doank ;D)

itu saja sih sedikit pendapat mahakonyol dari penerawangan serampangan ane, tak adil? iya banged! hahahah, harap dimaklumi yak.. TS sinih emang suka geblek, semua orang disini udah tauk, bahkan ekek pun suka gregetan sendiri(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)

(mampus dah gw, berani komentar nyelekit ginih ke mahakarya seorang reviewer kelas biawak, bener2 cari matik(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif))
Salam Dangdut

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 02, 2008, 11:07:38 am
________________________________________
Halagh!!,….. SATU komentar aja, gue tunggu-tunggu,… lama banget. Hehehehe,.. inget kan di milis cuma 1 member yang berkenan kasih input. Padahal yg join udah 40-an, hehehe.
So,… apapun yang akan elo katakan, gue hargai banget! Santai aja, bro. Setiap masukan adalah buah pikiran orang, dan setiap buah pikiran adalah permata buat gue. Kadang justru kritik lah yg membuat gue tahu ke arah mana gue harus melangkah. Pujian emang asik, tapi gue gak pernah tahu bagian mana yg harus gue perbaiki kalo dasarnya adalah pujian.
Komen ente aku tanggapin, bukan buat ngebela diri, ya? Aku sekedar ingin share latar belakang pilihan yg aku lakukan aja. Bagaimanapun, bikin karya tulis memang nggak terlepas dari menentukan pilihan-pilihan, hehehe,…
BTW, berkenan memposting komentar ente di milis? Silakan lho,…. (tapi gue hanya akan diskusiin di sini aja, soalnya di forum ini kan kita bisa jadikan pembelajaran)

Quote
pertama, prolognya kepanjangan–terlampau panjang (pake prolog i-iii pulak) T_T

OK, noted. Gue memang pernah bimbang apakah akan bikin prolog ini dalam satu BAB aja (jujur, awalnya satu bab. Tapi kemudian dengan pengembangan detail dst, tiba-tiba satu bab jadi terasa awkwardly kebanyakan halaman.) Makanya terus gue bagi tiga bab aja. Tapi missi gue adalah membabar konflik utama di awal, supaya pembaca udah punya bekal cukup untuk melanjutkan cerita ke belakang.
Di milis kemarin pernah ada saran untuk menyelang-nyeling prolog dengan Bab. Nah, itu yg sekarang lagi aku coba lakukan, apakah flownya masih enak :)

Quote
kedua, salah satu faktor yg ngebikin ane lebih prefer baca novel bergenre horor/thriller/fantasi dibanding teenlit/chicklit, adalah gaya bahasa dialognya.

Masih gak natural ya? Hmm,… rasanya gue udah cukup mentok di sini :-\ Naskah 1991 jauh lebih jayus dari yg ini,.. hehehe,…. waktu 2005 ditulis ulang, aku sempetin minta pendapat anak-anak SMA, kebetulan mereka gak komplain. Tapi saya coba perbaikin lagi sebisanya sesuai gaya mutakhir mereka.
Tapi gaya itu memang saya pilih untuk mengkontraskan perbedaan jaman, harapannya agar konflik batin Jaka bisa lebih muncul, bahwa masalah yg dia hadapi itu bener-bener diluar ‘dunia’ anak-anak itu, gitu seh. Ceritanya gue pengen bikin pembaca ‘mikir’ bahwa, giiila anak SMA dihadapkan pada masalah seperti itu,….

Quote

Terus rasanya (sekali lagi, ‘rasanya’–ini murni perasaan ane doank lho :P ) ada inkonsistensi gaya bahasa antara setting dunia Sentika & dunia Jakarte si Jaka.

Gue juga ‘dapet’ concern elo. Bener juga sih. Elo belum baca Part 3, ya? Sebenernya dua kontras itu akhirnya memang akan ‘menyatu’, terutama di Part 3. Di Part 1 (di luar prolog) Dunianya masih Dunia Jaka (SMA Masa Kini), Part 2 mulai masuk ada pengaruh-pengaruh dari Dunia Mistik ke Dunia Jaka (aku buat suasana perkemahan kacau balau, dan peserta mulai ngalamin keanehan-keanehan secara di depan mata, tapi belum 100% realized), dan di Part 3, anak-anak SMA itu bener-bener masuk dalam dunia mistik. Pada saat itu, gaya bahasanya udah lebih kurang kembali ke warna gaya bahasa Sentika.
Terus terang rancangan proses ini membuat gue excited juga, cuma untuk eksekusinya, ya masih perlu dikritik oleh temen-temen,… :)

Quote
rasanya ide ‘titisan’ (reinkarnasi) tak cocok dengan ajaran Islam yg menjadi background Pendekar Garuda, karena setahu ane kayaknya ajaran agama2 rumpun abraham tak mempercayai konsep reinkarnasi. Jadi yak, disitu agak2 terasa tidak konsisten dgn background Islam-nya IMO, heheheh

Well, sebenernya novel ini pun gak menggunakan ajaran Islam sebagai landasan, koq. Islam hanya sekedar menjadi dudukan setting aja, terkait sama perkiraan jaman saat konflik pertama berlangsung (enam ratus tahun yg lalu, kerajaan yg dominan di Jawa kan kerajaan islam, hehehe).
Terus konsep gue bukan titisan, melainkan ‘keturunan’. Yg menurun juga ilmu-ilmu silat dari para pendekar itu. Ceritanya diilhami dari temuan ilmiah yang ga ilmiah-ilmiah juga :) bahwa ilmu pun dapat imprint di DNA. Tapi sengaja gue bikin kabur hal-hal ilmiah, soalnya mau lebih pake pendekatan mistik,.. hehehe,…
Jadi kalo pun novel ini mau dibilang punya spirit ajaran Islam, kayaknya sih lebih ke konsep islam jawa, yang masih sinkretis dengan Hinduisme, sebagaimana kondisi setting di Jaman Sentika seharusnya.

Quote
dan kalo tak salah ada nyebut angka ’666′ juga yak? kayaknya setahu ane angka ’666′ itu origin literaturnya dari alkitab, disebut sebagai bilangan anak manusia.. nah kan lagi2 kepentok sama background Islam-nya..
tapi (lagi2 oh lagi2) secara ane bukan Muslim, sebetulnya ane juga kurang yakin, apakah Al-Quran ada nyebutin bilangan 666 itu juga? kalo di dalam Quran juga ada, berarti pendapat ane di atas sekali lagi absurd (makan tempe pake sayur lodeh, capeee deh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif))

hehehe,… bener banget, bro. di Islam konsep ini ga ada. kenapa gue pilih? Soalnya ide 666 udah sangat populer sebagai sesuai yang ‘evil’. Terutama sejak muncul film Damien Omen, :) Nah ceritanya gue mau memanfaatkan ‘pemahaman bawah sadar’ pembaca tentang suatu ‘evil’ yang sangat ‘tradisional’, ya konsep 666 itu.
Tapi emang gue gak berani memunculkan konsep ini terlalu sering, takut jadi benturan. Makanya gue lebih banyak ngomong “enam ratus tahun yg lalu etc”.

Quote
terus waktu jaka beraksi dengan mengeluarkan jurus kanuragannya pas diserbu anak2 stm, rasanya kok tiba2 banged, cuman bermodalkan mimpi berulang2 sbg seorang pendekar tangguh & titel ‘titisan’ itu, ujug2 dia digambarin berubah menjadi tokoh yg ‘sakti mandraguna’ dalam tawuran itu (bisa mecahin batu :D ), dari sebelumnya anak sma biasa. kalau menurut gw, biar kesannya lebih natural & believable, ada baiknya diceritakan dulu tahap2an sepele di mana jaka perlahan menggali bakatnya yg terpendam.. mungkin dari hal2 kecil kayak di sekolah dia sering mecahin kapur pas nulis di papan tanpa sebab (ceritanya pan gara2 luapan energi kanuragannya itu, heheheh), ato hal2 sepele laennya, sampe akhirnya, adegan tawuran itu jadi klimaks di mana dia bisa menunjukkan bakatnya secara utuh.

Hmm,.. agak susah. Soalnya konsep gue memang ilmu itu udah ‘ada’ di dalam diri Jaka sejak lahir, tapi baru keluar hanya di saat keadaan amat berbahaya. Kondisi-kondisi berbahaya kan dialami oleh dua tokoh, Jaka dan Rani, dua-duanya sempat sekelebat ‘muncul’ ilmunya. Ini juga alasannya karena mereka memang ‘dilindungi’ oleh Sentika, terutama dari ancaman musuh2 Sentika di jaman ini.
Kalo konsepnya semacam ‘pertumbuhan’ ilmu, berarti ada akumulasi, makin lama makin jago, gitu. Susahnya, gue harus mempertahankan kondisi Jaka sebagai orang yg ngga ngerti ada apa dengan dirinya, makanya ilmunya ngedadak muncul, tapi ngedadak juga hilang lagi. Buat gue Jaka tetep jadi orang biasa adalah penting, sebab gue mau bikin misteri itu tersingkap di depan mata Jaka satu persatu, sampe bikin dia ngeri sendiri :) hehehe.
Baru saat akhir Part 1, melalui sebuah proses ‘klimaks’ kecil, akhirnya Jaka bener-bener mewarisi ilmu itu, diajar langsung oleh Sentika (part ini udah baca, belum?)

Quote
(mampus dah gw, berani komentar nyelekit ginih ke mahakarya seorang reviewer kelas biawak, bener2 cari matik(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif))

;D ;D ;D mahakarya! ;D ;D ;D
Seriously, yg pengen gue anggep sebagai mahakarya adalah sekuelnya! Cuma belum start bikin! hwkakakak
This time, I’ll let you live,…!!!
Beribu thanks,……

FA Purawan
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: rd_Villam on May 05, 2008, 01:20:47 pm
________________________________________
halo semuanya…
rey, dian, hege, fapur, vadis, kokon, arik, clara, cil, lich, eniyorda, dan semuanya dan semuanya (<–ciri khas penulis malas yang enggan berdeskripsi ria… hehe…)
apa kabar?
gimana proyek novel kalian semua?
udah berapa persen? dah pada dikirim lagi ke penerbit belon? tetap semangat ya…
lama gak masuk ternyata banyak pembahasan menarik, terutama pembahasan om fapur dan rey.
hmm… jika melihat review2 ente, aku kok optimis suatu hari nanti bakalan ada FFDN Award, buat novel fantasi terbaik Indonesia setiap tahunnya. hehehe… siapa tau jadi ajang yang ngetop nanti. coba aja bikin mulai tahun 2008 ini.
buat om fapur, aku belum baca draft novelmu, tapi aku penasaran dengan konsep 666 tahun itu. bukan soal arti angka itu, tapi soal penanggalannya. itu berarti pake penanggalan jawa, hindu atau islam ya? yang jelas jaman dulu belon ada penanggalan masehi ya. (berhubung 666 tahun yang lalu di tanah jawa masih jaman majapahit, budaya islam belum masuk. pelaut belanda juga baru dateng 400-an tahun yang lalu)
hmm… menarik juga neh… coba deh ntar kubaca… (belon baca udah cerewet duluan. hihihi… sori…)
ciao.
________________________________________
Post by: cheppy70 on May 05, 2008, 03:14:24 pm
________________________________________
Ya pakai penanggalan masehi aja, lah biar gak usah pusing-pusing, hehehe,…. Kan sekedar sebagai referensi waktu aja, enam ratus tahun sebelum jaman sekarang.
Dengan setting 1990-an (ngga tahu deh apakah tetep aplicable dengan setting 2000-an), maka peristiwa dalam prolog novelku akan berada di sekitar tahun 1300-an.
Di tahun-tahun segitu, Islam sudah masuk Indonesia, misalnya kerajaan Samudra Pasai aja udah ada sejak tahun 1000-an. Di Jawa sendiri masih sekitar menjelang akhir dinasti majapahit (Dinasti Mataram baru ada tahun 1500-an). Aku merekonstruksikan kondisi masyarakat waktu itu sebagai peralihan antara budaya Hindu dengan budaya Islam. Maka konflik yg terjadi di dalam prolog, mungkin bisa juga diinterpretasikan sebagai pertentangan pandangan antara pandangan lama vs pandangan baru di jaman itu. Oh iya, ini juga untuk mengoreksi statemen gue di posting sebeumnya, ternyata memang di tahun-tahun itu kerajaan islam belum dominan,… hehehe,… :-[
Monggo dibaca.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: clickdian on May 11, 2008, 04:56:26 pm
________________________________________
Oke guys, ini review buku kedua Septimus Heap, Flyte.

To be honest, yang pertama kali narik aq untuk baca buku pertamanya adalah endorsement dari Kirkus Review, “Awas Harry… Ada penyihir muda baru yang sedang naik daun.” Secara gak langsung review ini menyejajarkan karya Angie Sage ini dengan Harry Potter, dan aq pengen tau kenapa.

Buku pertamanya, Magyk, nggak terlalu menarik buatku karena pengaruh endorsement tadi, yang bikin aq bandingin kisah Septimus Heap dengan Harry Potter (hey, don’t blame me, that’s what you’ll get with endorsement like that!). Rowling lebih sukses menghidupkan tokoh2nya dengan dunia yang lebih mendekati natural, deskripsi khayalan yang lebih nyata, joke yang lebih kena, dan emosi yang lebih menyentuh. Angie lebih dingin, dunianya lebih asing dan tanpa pengenalan di awal, joke2nya datar—please, deh, masa setelah halaman tiga ratus sekian aq baru nyengir, sih?—dan langka, lebih banyak kerut di kening karena belum menangkap isi cerita, dan spell2 yang membingungkan. Di akhir cerita barulah aq ngerasa ada something di buku karya Angie ini, dan aq baca ulang dari awal sekali lagi untuk nemuin apa yang hilang. Yang aq temuin, dia punya originalitas, terutama di sisi spell words, dan plot yang beda dengan tipikal kingdom-fantasy stories yang biasanya. But still, aq kurang puas.

Baru di buku kedua aq nemu apa yang salah. Si endorsement itu tadi! Mestinya gak usah ada, karena bikin sugesti Harry Potter syndrom duluan, dan sejak awal karena aq udah mikirin Harry, udah sebel duluan karena mengira Septimus salah satu buku peniru Harry Potter, duh! Penilaiannya jadi subyektif. Pas buku kedua, aq skip sinopsis di belakang bukunya dan langsung baca, and I feel comfortable with the story. Pertama tentu saja karena udah tau gimana cara magyc spells bekerja di dunia Septimus—puluhan spell berserakan di setiap lembarnya dan awalnya mengganggu karena ditulis dengan huruf2 bold, kedua karena segunung tokoh2 di dalamnya udah kukenal sebelumnya, dan ketiga karena aq gak keingetan soal ‘membandingkan serial ini dgn Harry Potter’—sehubungan dengan endorsement tadi.
Oke, OOT-nya udah kelewat jauh, back to the topic.

Oh, btw, Septimus adalah anak ketujuh dari Silas dan Sarah Heap. Anak2 yang lain tinggal di hutan karena merasa kehidupan hutan lebih fun: Sam, Edd, Erik, dan Jo-Jo. Nicko, yang menggemari kapal dan dunia perairan, lebih suka berada di pelabuhan. Simon sendiri sudah setahun menghilang, sejak pengangkatan Septimus menjadi Murid. Jenna, sang Puteri, sejak bayi sudah tinggal sebagai anak di keluarga Heap yang menemukannya ditelantarkan di tengah salju dan tidak mengetahui fakta kalau ia seorang Puteri sampai ulang tahunnya yang kesepuluh.

Yang jadi pokok permasalahan adalah, Septimus adalah anak ketujuh dari Silas—yang juga anak ketujuh dari Benji Heap (kakek Sep telah berubah menjadi pohon dan membaur di hutan bersama pohon2 lain). Nah, putra ketujuh dari putra ketujuh diyakini memiliki kekuatan Magyc yang luar biasa, karena itulah Marcia mengangkat Sep menjadi Muridnya padahal waktu itu Sep baru sepuluh tahun.

Beda dengan buku pertama, buku kedua lumayan enak diikuti. Cerita berawal dari kehidupan Septimus setelah jadi Murid dari Marcia Overstrand, Penyihir Luar Biasa—orang yang sangat dihormati di dunia Septimus—dan tinggal di apartemen Marcia di Menara Penyihir. Tiba-tiba Jenna, calon Ratu, diculik oleh Simon Heap, kakak sulung Septimus yang iri setengah mati pada Septimus yang diangkat menjadi Murid Marcia.
Sep yang menjadi saksi penculikan menceritakan pada orang2 kalau Simon telah membawa Jenna, tapi tak seorang pun yang percaya kecuali Nicko, dan mereka berdua pergi mencari Jenna. Agak aneh, memang dari banyak sekali orang di sekitar mereka tak satu pun orang dewasa yang cukup wise untuk mengkonfirmasi berita ini, dan sebagai akibatnya dua anak di bawah umur harus menyelamatkan adik angkat mereka.

Jenna sendiri akhirnya bisa menyelamatkan diri dengan usaha yang bisa dibilang terlalu mudah, mengingat ia tidak mengenal Magyc sebaik Heap bersaudara, dan Simon telah lekat dengan Magyc Gelap. Duh, seharusnya Simon lebih kuat dari yang diceritakan. Kok bisa anak perempuan lolos dari pengawasannya begitu mudah T_T. Sep dan Nicko menemukan Jenna di pelabuhan (Jenna pergi ke sana naik kuda yang dicurinya dari Simon)—which is too coincidental, dan agak aneh karena lumayan hebat juga Jenna bisa pergi ke pelabuhan dari tempat tinggal Simon nun jauh di utara (kalo dilihat di peta). Ada Stanley si tikus dari Dinas Rahasia Tikus memang, tapi tanpa makanan yang cukup dan peta sama sekali, dua jempol buat Jenna deh, bisa sampe di pelabuhan tanpa mengalami pingsan di jalan.

Dan Marcia sendiri, sebagai petinggi di kerajaan ini, tidak cocok dengan tipe orang-kepercayaan-rakyat yang biasanya. Dia pemarah, kadang egois, sedikit ceroboh, sering tidak mau kalah walaupun sebenarnya salah, agak mudah tertipu dan yang tadi itu—kurang wise. Pertimbangan2 Marcia masih kalah dari Alther, hantu gurunya yang masih keluyuran di dunia, bahkan untuk urusan penjagaan Istana pun Alther yang bertanggungjawab (karena ibu Jenna sudah meninggal, ayahnya entah ke mana dan Jenna masih terlalu muda untuk jadi Ratu). Walaupun demikian, dia sakti, penyayang (tapi jaim), dan bisa diandalkan. Tapi terus terang, dalam banyak hal, Sep yang baru sebelas tahun lebih baik darinya (semoga Septimus cepat dewasa dan menggantikan Marcia sebagai Penyihir Luar Biasa, amin). Dan di buku kedua ini bahkan Nicko jauh lebih berguna dari Marcia. :(

Flyte sendiri adalah sebuah jimat kuno yang bisa menerbangkan orang, yang telah lama hilang, dan terdiri dari dua bagian. Ternyata bagian pertama ada di dalam buku yang dipegang oleh Marcia, dan bagian yang satu lagi juga dimiliki Marcia, tapi diberikan pada Sep setahun lalu. Sampai sini aq mikir, KOK BISA Marcia nggak nyadar dua potongan jimat itu ada di tangannya selama ini, sih? Yang satu malah sampai jatuh ke tangan musuh segala. >:(

Masih ada kebetulan-kebetulan dan aturan2 lain yang sebenernya agak mengganggu, seperti garis matrilineal yang mengangkat anak perempuan jadi Ratu tapi suaminya bisa bebas keluyuran sebagai pengelana tanpa terikat dengan urusan kerajaan (jadi, tokoh raja di cerita ini murni hanya untuk urusan reproduksi). Tapi aq putusin udahlah, mending nikmatin aja ceritanya, dan ternyata not bad. Aq suka originalitas Angie dalam serial ini, dia gak kejebak sama stereotype fiksi fantasi yang kalo nggak seputar kisah heroik ya dunia peri-centaur-elf dan mitos2 lainnya. Di dunia Septimus Heap bener2 banyak hal baru.

Dan akhirnya, setelah baca dua buku pertama, I finally admit that Septimus Heap series is worth to read :) .

Note:
Reading Instruction
1.Singkirkan hal-hal yang berbau Harry Potter, LOTR, Artemis Fowl, dan Zauri
(hehehe ;D) out of your mind before reading Septimus Heap. It’s a brand new
thing.
2.Disarankan baca buku pertama, di situlah semua masalah berawal. Kalo
nekat juga skip dan ngerasa bego pas baca buku kedua, resiko ditanggung sendiri,
ya! ;D
3.Baca pelan-pelan kalo ketemu huruf tebal atau italic, kata-kata yang diperlakukan
dengan bentuk huruf demikian bisa sangat mempengaruhi jalan cerita—yang bold
adalah spell yang dikeluarkan para tokoh, dan yang italic biasanya hint atau clue
atau nama sesuatu. Dan, spell yang berbeda bisa menghasilkan efek magyc yang
sama. Selamat pusing, hihihi. :o
4.Ukuran novelnya nggak enak buat dipegang T_T, nanggung. Cari posisi yang enak
aja deh kalo baca, mudah2an nggak ngalemin pegel2. :D
5. Buat yang pusing liat postingan ini, sori dori mori yah :D :D :D

Comments No Comments »