Archive for the “Dokumentasi” Category

[tab:Hal 1]Sesi IX (5 Apr 2008 – 16 Apr 2008)

  • Bagaimana sebaiknya novel fantasi kita?
  • Tentang Candi Murca karya LKH
  • Lagi, tentang Prolog
  • Sedikit cuplikan Lemures karya BloodSin

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: cheppy70 on April 05, 2008, 08:18:57 pm
________________________________________
@Bloodsin, for the reviews,
Right on, bro. Thanks atas kadonya :)
I see our POV gak selalu sama, tapi kita kan bisa saling melengkapi (apa sih).

Untuk Ledgard, rasanya gue sangat setuju. “Bule Celup”,… hehehe,.. kena banget. Itu sebenernya mark yg sudah lama ingin ku-ekspresikan tapi lama gak nemu istilah yg pas,.. Novel Ledgard sebenernya promising, tapi dia punya suatu kekurangan yang menyebabkan ceritanya menjadi nggak terasa ‘ngek’, gitu. Untuk yg satu ini, gue bahkan berhenti baca di pertengahan buku dan ngga ada hasrat ngelanjutin lagi.
(Makanya Ledgard ga ada reviewnya di gue,.. heheheh. Tapi pikir-pikir jadi pengen buka lagi tuh buku)

Zauri, pengen baca, tapi koq rasanya ga pernah liat judul ini di toko buku ya? Sama kayak Cardan,.. ga pernah liat juga.

Untuk Cardan setelah liat covernya, tumben keren,…. ??? Sub judul Hinkal Core, juga menjanjikan sesuatu. Tapi review kamu udah obyektif bilang bahwa penamaan tokohnya kacau. Dan gua akan setuju banget kalau itu bakal menjadi letdown factor.

Lemuria,…?? Bisa dibeli dimana dong? ;) ;) ;)

OK, happy writing, semuanya.

FA Purawan
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 06, 2008, 07:48:20 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on April 05, 2008, 10:01:28 am

-Misteri Pedang Skinheald (satu2nya novel fantasi bersekuel yang udah terbit sekuelnya–salut!)

Sedikit koreksi mengenai Skinheald.
Sebagaimana udah kutulis juga di blog review gue, Skinheald 1 hardly called Buku 1, soalnya itu bener-bener hanya semacam prolog yang dicetak terpisah. Inget buku-buku Sapta Siaga? Nah, Skinhelad 1 cuma setebel itu aja, dengan konsep penceritaan yang juga belum utuh.

Tapi salutation tetap berhak disampaikan pada Ataka, sebab kalau buku 1 dan buku 2 digabung pun, akhirnya menjadi satu kesatuan cerita yang merupakan sebuah buku tebaaal,.. yang diselesaikan oleh seorang anak usia sebelas tahun. Gue yakin di antara kita aja yang nota bene udah lewat dari usia 11 tahun (bener gak?), pada usia yg sama belum ada yg mampu membuat sebuah cerita utuh dengan kualitas menyamai Ataka punya,… hehehe,….

Persoalan sekarang tinggal masalah produktivitas. Konon akan ada sekuelnya lagi, tapi sampai sekarang masih belum ada kabar (Ataka seperti tenggelam. Lagi sibuk ujian, kali?).

Tapi mungkin juga tema Fantasi panjang (tebal) merupakan tema berat buat ditulis oleh pengarang remaja (gak usah pengarang remaja, yg tua aja ngos-ngosan,.. :( ). Contoh seri Eragon, sampai sekarang buku 3 setelah the Eldest masih belum muncul. Padahal kalo bicara bisnis, terlalu lama jeda antara serial akan menyebabkan penerbit kehilangan momentum, dan pembaca keburu kehilangan excitement.

Kalo dipikir-pikir begitu, berarti emak JK Rowling emang bener-bener top ya? Bisa menyelesaikan 7 bukunya dalam rentang waktu yang cukup berdisiplin (setahun sekali), sementara seluruh dunia menunggu. (Kalo udah gitu, God,… gue bener-bener pengen bercita-cita serius jadi penulis sejak muda, hehehe).

FA Purawan

[tab:Hal 3]

________________________________________
Post by: BloodSin on April 06, 2008, 03:41:19 pm
________________________________________
@villam,
haduh diposting disini lg review-nya kan malu bang, ada om FA Pur(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
But eniwei TQ banged dah buat segala masukannya–terutama untuk adegan2 kemunculan Esther yg terpisah terlalu jauh–i’ll fix it.. ;)
sekali lagi, TQ, ente udah mau ngebacak versi lemuria yg masih superamburadul ituh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
Gak usah dibaca ulang lg deh bang, secara, versi yang ente baca ama versi yg sekarang ada di kompie ane dah lumayan berubah n dipermak di mana2.. (hehe..contohnya, karakter Guillarde udah gw pecah jadi dua orang :D )
Judulnya aja udah bukan Lemuria lg :P
eniwei, ga ada komen buat review keji Cardan gw? ayo donk bantah satu-dua statement gw.. biar nih tret bermutu dikid :P

@clickdian,
ada yang nyari Zauri tuhh :P

@om cepi,
Cardan-nya dibeli ajah om.. serius gw penasaran banged bakal kayak gmn komen resentator sekaliber ente..
lgian tuh buku gak mahal2 amat kok om.. ;)
lagian lagih secara selera kita terkadang beda (untuk novel Hozzo contohnya :D ), siapa tau ajah Cardan keren abis di mata ente.. ;D
Novelnya Ataka terus terang gw cukup penasaran, soalnya banyak yg komen positif, tapi harganya yg cepekceng ngebikin gw mikir jutaan kali buat belik.. :-\
Hmm.. menurut ente, Skinheald ama Ledgard bagusan mana (diukur dari segi gaya penceritaan & plot)?

Novel gw? Belom terbit om.. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Reviewer2 berdarah dingin kelas biawak semodel2 ente yg ngebikin gw lama submit naskah ke penerbit.. :D ;D ;D
________________________________________
Post by: hege on April 06, 2008, 05:18:42 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on April 06, 2008, 08:11:14 am
Quote from: hege on April 05, 2008, 02:59:16 pm
temen-temen, (promosi) portfolio untuk artwork-artwork terbaru hege bisa dilihat di sini http://hege.cgsociety.org

Gambar-gambar Hege itu selalu dahsyat, Fantasy banget.
Heg, gue belum bisa angkat topi buat penulisan novel Sci Fi (whatever istilahnya, deh, hehehe) ente, improvement on the way, I believe, dan gue anxious to see them :) . Dalam hal ini gue berseberangan sama BloodSin, rupanya :p
Tapi gue takluk dan nyembah-nyembah untuk seni illustrasi elo, terutama yang baru-baru. :-*
Cocok banget buat ilustrasi Fantasy. Soalnya gambarnya gak sekedar gambar. Selalu ada aura kisah di dalamnya, sehingga bahkan dari ngeliat satu gambar aja udah bisa ‘keluar’ sebuku novel, atau setidaknya satu bab novel,… hehehe.
BTW, elo gambar pake Photoshop, berarti pakai tablet PC gitu dong? Kalau pake mouse,…. sakti banget, dah.
Salam,
FA Purawan

yeah begitulah, masih di bawah umur hege belum mentok lah tulisannya, masih mencari gaya tulisan yang pas, juga genre yg cocok, jadi improvement selalu akan dan sedang berlangsung, dan jelas hozzo bukan masterpiece-ku, tapi belum yakin juga akan menulis buku-buku keren di masa akan datang.

Mengenai ilustrasi, yak, itu salah satu kesibukan hege belakangan ini, sampai-sampai beberapa tulisan terlantar menyedihkan. Masih menunggu wahyu agung dari alam semesta raya yang bisa membuat semangat menulis membara lagi, heheheh. Btw, iyak hege make photoshop CS2, dan bermodal mouse kecil yang menyenangkan, jadi ga berharap bisa banyak brushing detil dengan aneka warna, dengan mouse hege hanya bisa memakai beberapa warna dengan setuhan-sentuhan brush ala kadarnya. Hasilnya tak begitu jelek kan? (jadi pengen pc tablet atau Wacom)

Oh ya mas, hege tak berhasil membaca ceritamu yang Pendekar Garuda, hege baca sedikit sih yang di group, tapi tak bisa melanjutkan baca karena beda selera jauh banget yak. sorry :)
Tapi sekarang masih nulis kan, mas? umur toh bukan masalah, kapanpun kita bisa menulis cerita, setidaknya sampai kita kehilangan akal sehat, heheheh.
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: cheppy70 on April 07, 2008, 08:44:13 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on April 06, 2008, 03:41:19 pm

@om cepi,
Cardan-nya dibeli ajah om.. serius gw penasaran banged bakal kayak gmn komen resentator sekaliber ente..
lgian tuh buku gak mahal2 amat kok om.. ;)

Done! PM aja berapa duit aku mesti tebus. Termasuk dengan ongkos kirim ke area Pancoran Jakarta Selatan dengan TIKI ONS (yg satu malem itu. Kalo yakin bisa sampai satu hari dengan TIKI biasa sih oke juga). Aku bisa transfer pakai BCA atau Mandiri. Kasih tahu no rek mu aja.

Tapi bukannya masih sampeyan baca?

Quote
lagian lagih secara selera kita terkadang beda (untuk novel Hozzo contohnya :D ), siapa tau ajah Cardan keren abis di mata ente.. ;D

Hmm,… let’s see, my friend, let’s see,….. :)

Quote
Novelnya Ataka terus terang gw cukup penasaran, soalnya banyak yg komen positif, tapi harganya yg cepekceng ngebikin gw mikir jutaan kali buat belik.. :-\
Hmm.. menurut ente, Skinheald ama Ledgard bagusan mana (diukur dari segi gaya penceritaan & plot)?

Secara gue belum menyelesaikan Ledgard, maka komentar gue tentang Ledgard masih belum finish (kayaknya gue akan bikinin reviewnya aja deh sekalian). Tapi so far yang bisa aku katakan adalah kenapa gue baca Ledgard sampai segitu lama gak selesai-selesai.
(Biasanya gue termasuk gigih baca buku. Kalaupun dari sisi gaya atau cerita kurang cocok, tetep gue usahakan diselesaikan walaupun harus makan waktu berbulan-bulan. Makanya khusus Ledgard ini termasuk langka buat aku).

Sebenernya Ledgard itu, seperti gue sempat bilang, cukup menjanjikan. Perjalanan Plotnya so far sebenernya bagus dan terencana dengan baik. Beberapa konsep universe-nya sekali lagi cukup menjanjikan. Misalnya kapal kapal yang melayang (Kayak Final Fantasy series), Sihir 5 unsur, dll, sebenernya cukup membangun universe yang solid, lah. Detail juga patut dipuji. Kekurangan, seperti yg elo udah bilang, adalah unsur bule Celup-nya itu. Tapi kalo gue mau jujur, dalam naming convention Ledgard ini malah udah lebih baik dari Skinheald, atau mungkin juga Cardan. Aspek ilustrasi, standar lah, nggak terlalu mengesankan gue.

Satu kelemahan Ledgard buat gue adalah dalam manajemen tempo. Membaca novelnya adalah seperti mengayuh sepeda dari Cibubur sampai Ancol :’( Alias panjang, santai, dan mendatar. FLATLINER! (eh, asyik nih, kayaknya statemen ini bagus buat review,…hehe). Bukannya nggak ada action scenes, sih, tapi gimana ya? Kayaknya pengarang menganut falsafah seperti orang Jogja, alias jalan pelan-pelan dan biarkan problem datang ke saya bukan saya datang ke problem. Malah gue sebagai pembaca jadi gak sabar! hehehe,… (yg orang Jogja maap yak ;D)

Nah, kalao mau dibandingkan, maka Ataka justru lebih mahir mempertahankan tempo dan ritme. Dia bisa menciptakan ketegangan-ketegangan kecil dan klimaks-klimaks yang membuat pembaca betah membaca novelnya. Sebagai informasi, gue baca novel Ataka kira-kira dalam waktu seminggu. Baca Ledgard? Udah berapa tahun, yaks? Hehehe,……

Lain-lain mengenai Skinheald, aku rasa udah cukup terwakili dalam review gue:)

Quote
Novel gw? Belom terbit om.. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Reviewer2 berdarah dingin kelas biawak semodel2 ente yg ngebikin gw lama submit naskah ke penerbit.. :D ;D ;D

Ha ha ha,.. ;D ;D ;D, Masa ente takut sama biawak?? lagian komentar gue mah gak perlu dipusingin. Komentar editor/ penerbit, kan bisa lain dan justru lebih ‘mematikan’, hehehe.
Satu filosofi biawak: Biawak cuma bisa makan nyamuk. Kalau ente memang Macan, maka biar biawak berkoak-koak kayak apa, juga, ente sejatinya tetap Macan. So, keep your faith with you (and ur writings!).
Moga-moga sukses!

FA Purawan

[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: BloodSin on April 08, 2008, 12:30:32 pm
________________________________________
Ledgard emang sip aturan tata namingnya, tapi kalo buat selera naming dalam Ledgard, ane kurang suka.
Somehow, nama2 dalam Ledgard (contohnya buat bangsa Felis-nya) terkesan dibikin asal jadi, walo emang aromanya masing2 senada dalam satu wadah bangsa.
Hmurrdar Jaar, Nraam, Himraur Darru
C’mon, seharusnya penulis fantasi bisa lebih baik dari itu bikin nama. Kebanyakan penulis fantasi indo (kayak penulis Cardan juga), bikin/milih nama lebih mengandalkan aroma ‘aneh bin ajaib’ daripada keindahan/’ketepatan’nya. Sejauh ini, dari semua fantasi lokal yang pernah ada, gw paling salut sama NAREND buat tata namingnya.. (yg ini ente juga udah baca tah, om? kok tak ada komen/review?)

Alur Ledgard emang lambat, gw juga sempet berhenti baca saking bosennya (baru tamat ampe berbulan2). Ini cukup aneh, secara tipe Ledgard itu RPN–genre fantasi yang amat bertendensi buat ngebut.
BTW gw baru tauk Ledgard ini edar lagi taon 2007 kemaren lho, keren juga eksis dari taon 2006…2 taun euy. BTW lagih kayaknya dari semua fantasi lokal, Ledgard ini yg paling populer.. mungkin karena cetakan pertamanya yang 5000 eks–CMIIMW. Ini ada bbrp link yg ngomongin ledgard,

http://www.goodreads.com/book/show/1396766.Ledgard_Musuh_Dari_Balik_Kabut

http://perca.blogdrive.com/archive/cm-12_cy-2005_m-12_d-30_y-2005_o-0.html

http://groups.yahoo.com/group/dunialedgard/

(yg ini saingan sama yahoogroupsnya si om FA Pur :D )

@om FA Pur lagih,
oom, ane yg notabene sejiwa sama ente (dalam bidang ‘pemburu’ & komentator novel2 fantasi lokal :D ), udah baca semua review2 maut ente–khususnya review novel2 fantasinya. :)
Hampir semua dibabat abis ma ente yak(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
untuk beberapa poin, ane bisa sepakat ama komen2 ente…hehehe.. ;)
tapi novel goran yg ane puji abis2an aja, kayaknya masi belum berhasil menaklukkan selera & standar fantasi ente yak…
serius nih, ane jadi penasaran banged, sebetulnya novel fantasi kayak gimana yang om FA Pur harapkan untuk lahir di tangan penulis fantasi indonesia?
Apakah fantasi yang kuat di plot? Atau yang bersetting mitos lokal? Atau yang memiliki filosopi kuat? Atau yang beride orisinil? ???
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 08, 2008, 03:22:15 pm
________________________________________
Yaaah, kalo ada ditoko buku sih udah gue beli. So far belum nemu tuh? Udah ada budget khusus buat beli buku tiap bulan. Tapi berhubung novel Fantasy lokal jarang, ya yg kebeli kebanyakan novel2 terjemahan :(
Ya gue akan keep looking aja dah.

Somehow, nama2 dalam Ledgard (contohnya buat bangsa Felis-nya) terkesan dibikin asal jadi, walo emang aromanya masing2 senada dalam satu wadah bangsa.
Memang gue juga kurang suka dengan hasil akhir (nama)nya. Terutama justru NASH, hehehe,.. gak mengesankan karakter apapun. Tapi di titik ini gue memuji prosesnya, bahwa pengarang menyadari perlu suatu konsistensi dalam penamaan tokoh dan tempat.

NAREND udah baca, agak lama sih berlalu, makanya gak kubikin review. Tapi Gue setuju juga bahwa tata naming Narend yang paling bagus, setidaknya paling natural. Tapi hal itu mungkin lebih disebabkan setting yang masih semi Fantasy, alias masih ada paralelnya dengan dunia nyata.
Satu hal di Narend yg gue nggak sreg, plot bagian depannya udah cukup memikat dan realistis, tapi endingnya jadi ngga terlalu believable. Udah gitu ngegantung, kan? Seinget gue para tokoh balik dari kuil harta itu, tapi perjalanan belum finish tapi cerita udah di finish-kan oleh pengarang. Jadinya seperti ending tidak pada tempatnya,… hehehe,…

Quote
serius nih, ane jadi penasaran banged, sebetulnya novel fantasi kayak gimana yang om FA Pur harapkan untuk lahir di tangan penulis fantasi indonesia?
Apakah fantasi yang kuat di plot? Atau yang bersetting mitos lokal? Atau yang memiliki filosopi kuat? Atau yang beride orisinil? ???

Wah gimana yah? Kalo ditanya gitu gue malah bingung. Secara gue lahir sebagai tukang cela sehingga apa-apa jauh lebih mudah mencela (ya toh?), daripada menyebutkan saran terbaik. Wong bikin (dengan tangan) sendiri aja hasilnya belum tentu seperti idealisme (di kepala) sendiri, ya gak?

Tapi yang gue ‘tuntut’ dari sebuah Novel (terutama Fantasy) sebenernye ‘sederhana’. “Jadikanlah aku larut dalam Duniamu!”. Jangan jadikan aku bertanya-tanya (karena ada yg nggak jelas atau nggak logis), mengerenyitkan kening (karena sesuatu yg terasa janggal), jangan ‘tarik’ aku keluar dari Duniamu karena justru untuk ‘hidup’ di dalamnya lah aku memilih buku Fantasy, bukannya Chiklit :D .

Dengan requirement sesederhana itu, mestinya sih beberapa sendi-sendi bangunan novel harus kuat, ya? Kalo plotnya ngga genah, gue akan sulit menikmati alasan-alasan tindakan maupun pikiran para tokoh. Kalau setting-nya nggak solid, gue akan sulit bertahan di dalam dunia yang diciptakan pengarang. Kalau tempo-nya ga ‘engaging’, mungkin gue akan sibuk bikin lagu sendiri :) . Kalo tata bahasanya ngga konsisten, bisa jadi gue akan terlempar dari alam fantasy ke dunia lain >:( Even becandaan (humor) yang ngga pada tempatnya pun akan mengalihkan mood dari seharusnya. Gue sendiri nggak akan memaksa pengarang untuk punya pikiran yang searah dengan gue. Kalo gitu berarti gue nggak akan bisa masuk ke dunia ciptaan pengarang ??? Tapi sebuah karangan yang baik tentunya punya satu kekuatan yang menyebabkan orang bersedia ‘masuk’ di dalamnya dengan sedikit atau tanpa resistensi sama sekali.

Kenapa dunia Harry Potter bisa dicintai orang banyak? Menurut gue ya kemampuan melarutkan pembaca itulah. Kenapa Laskar Pelangi bisa digandrungi orang banyak? (bukan novel Fantasy, sich. Tapi sekedar contoh mengenai novel yg booming, aja) karena orang bisa larut, terpesona, tertawa atau menangis bersamanya (Gue sangat ‘terbawa’ di bab Mahar mementaskan tarian Afrika dengan bubuk gatal itu,… dahsyat, man).

Kadang gue ‘mikir,…. apakah mungkin dunia kepengarangan kita masih eforia dengan genre fantasy, sehingga menyangka bahwa untuk bikin Fantasy cukup dengan mengarang nama-nama aneh? Sejatinya untuk bikin pembaca bener-bener percaya dan larut, itu gak mudah. Kuharap,… kita bisa sama-sama meraih keterlarutan ini (busyet jelimet) dalam karya-karya yang kita hasilkan!
Salam,
FA Purawan

________________________________________
Post by: cheppy70 on April 09, 2008, 09:27:48 am
________________________________________
@All,
Allow semuanya, selamat pagi :)
Ada yg mo saya tanyain, nih buat rekan-rekan, yaitu mengenai Novel CANDI MURCA karangan Langit KH. Ini proyek ambisiusnya LKH untuk menerbitkan novelnya sendiri melalui LKH productions, dengan komitmen menulis 10 halaman per hari, sehingga 1 buku 800 halaman bisa diselesaikan dalam waktu 3 bulanan :o

Pertanyaan saya adalah mengenai genre Novel ini, apakah bisa dimasukkan dalam genre Fantasy. Pertimbangannya, dia menggunakan setting era Singasari yang dimodifikasi, istilahnya di rekonstruksi kembali :) , sehingga menghasilkan universe yang berbeda dengan kondisi obyektif singasari yang dikenal melalui studi sejarah.

Seperti yg saya tahu, ciri khusus genre fantasy adalah pengarang menempatkan cerita novelnya dalam sebuah setting yang berbeda (setting imajinatif) dari Dunia yang kita kenal. Dalam praktik, dunia yg bukan dunia kita itu bisa saja berlandas pada planet atau negeri yang bener-bener antah berantah, atau bisa juga masih punya koneksi dengan dunia kita saat ini (seperti di Harry Potter, Stardust, Neverwhere, His Dark Materials dll). Koneksinya bisa temporal, ataupun spatial.

Candi Murca menggunakan setting tahun 2011 M serta delapan ratus tahun sebelumnya secara berganti-ganti. Plotnya bercampur antara kisa misteri dan kisah persilatan, seolah dua buku dijadikan satu jilid.
Apakah dengan kondisi-kondisi ini, Candi Murca layak dimasukkan genre Fantasy?
(Kalo iya, aku masukin di antrian review, nich,… hehehe)

FA Purawan

[tab:Hal 5]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 09, 2008, 12:04:17 pm
________________________________________
Hai…
@rey, my good friend,
Aku rasa kamu terlalu kejam menilai cardan (walau tetap tak sekeji reviewmu dulu atas cerita ancurku. Hehe…). Masak cuma bintang satu. Apa cuma gara-gara naming? Aku rasa sih masih selevel deh sama numeric uno. Hehe… Cuma pendapatku sih…
Btw, kamu dah edit lagi lemurianya? That’s great. Tapi ati-ati ya, editing bisa jadi neverending process. Yeah… kamu tau lah… Kalo ntar butuh komen lagi, aku masih tetap bersedia.
Sip deh. Semoga sukses.

@fapur,
Kehadiranmu di ffdn benar-benar bermanfaat nih… hehe… terutama buatku yang masih perlu banyak belajar lagi dalam menulis. Salut.
Kapan-kapan review cerita-cerita amburadulku juga ya? Tapi jangan pingsan kalo nanti ngeliat banyak banget jeleknya. Hehehe…
Tentang candi murca, aku akan menyebutnya fantasi, yang menyodorkan dunia alternatif.
Kalo gak salah, salah satu nominator Hugo Award 2007 yaitu His Majesty Dragon karya Naomi Novik (huh, bener gak ya namanya?) juga bikin dunia alternatif untuk jaman Napoleon dulu.
Kalo gak salah ya… seperti biasa aku kan sok tau…
________________________________________
Post by: alk on April 09, 2008, 09:50:53 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on April 09, 2008, 09:27:48 am
Ada yg mo saya tanyain, nih buat rekan-rekan, yaitu mengenai Novel CANDI MURCA karangan Langit KH. Ini proyek ambisiusnya LKH untuk menerbitkan novelnya sendiri melalui LKH productions, dengan komitmen menulis 10 halaman per hari, sehingga 1 buku 800 halaman bisa diselesaikan dalam waktu 3 bulanan :o

:o 800 halaman 3 bulan? wew… pengen bisa gitu, 80 halaman 3 bulan aja ga pernah kesampaian gw. ;D
pengen punya, tapi… kalo tebelnya segitu, harga berapa tuh?
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 09, 2008, 10:01:45 pm
________________________________________
liat tuh LKH bikin 10 halaman per hari…
aku butuh 10 jam per hari buat dapet 10 halaman… gila ajah… kayak gak ada kerjaan laen…
dapet 2 halaman per hari udah alhamdulillah…
________________________________________
Post by: BloodSin on April 10, 2008, 04:15:45 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on April 09, 2008, 12:04:17 pm
Hai…
@rey, my good friend,
Aku rasa kamu terlalu kejam menilai cardan (walau tetap tak sekeji reviewmu dulu atas cerita ancurku. Hehe…). Masak cuma bintang satu. Apa cuma gara-gara naming? Aku rasa sih masih selevel deh sama numeric uno. Hehe… Cuma pendapatku sih…

Numeric Uno masih mendingan daripada Cardan, somehow.
But sabar lha, gw kan masi belom beres baca (sampe sekarang, setiap malem, gw masih nyicil baca entah satu paragraf-satu halaman), kalo nanti bagian setengah buku terakhir udah beres gw baca dan gw menemukan ada poin2 yg positif, ratingnya pasti gw naekin dah(walo emang gak bakalan kejadian ratingnya berubah jadi 3 ato 4 bintang, heheheh)
Tapi ya itu, untuk perbandingan ajah, Numeric Uno, walaupun novel ini plotnya cukup blakatak n ide cahaya Zeta-nya mirip banged sama cahaya Zarta MIB 2, gaya bahasanya masih jauh lebih gampang gw cerna daripada Cardan.
Seperti yg udah gw bilang, cardan punya 3 faktor yg ngebikin gw lama ngeberesinnya. And seriously, naming yg amburadul nian itu sebetulnya masih bisa tertolong kalo plotnya masih didukung tata bahasa yang j_e_l_a_s dan alur yang proporsional. Deskripsi-deskripsi dalam Cardan bagi gw burem banged, dialog2nya aneh, dan udah gitu miskin greget–yg berujung alurnya terasa lambat, itu semua faktor yg bikin dia cuman berating 1 di mata gw..
________________________________________
Post by: Yu-shiki on April 11, 2008, 06:59:27 pm
________________________________________
Eh maap keluar jalur bentar.. prolog itu maksudnya apa sih?
Apa setiap cerita novel harus disertakan prolog?
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 11, 2008, 10:28:02 pm
________________________________________
Prolog,…
Gue sih paling demen menggunakan prolog, secara prolog membuka kemungkinan pengarang menjelaskan suatu latar belakang lebih dulu. Umumnya suatu peristiwa yang kelak akan mempengaruhi jalannya cerita. It gives some ‘suspense’ (dalam artian apapun, tidak harus bermakna ketegangan) kepada pembaca, supaya baca novel itu sampe selesei :)
Selain itu prolog memberi keleluasaan bercerita tentang sesuatu yang tak langsung berhubungan dengan tokoh protagonis. DI mana tokoh protagonis biasanya akan muncul di Bab I sebagai titik awal cerita.
Tapi emang ga setiap cerita akan efektif menggunakan prolog. Semua itu tergantung sama strategi penyusunan plot yang diinginkan oleh pengarang.
FA Purawan

[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 12, 2008, 07:55:39 am
________________________________________
mengabaikan definisinya, prolog adalah bonus alias senjata sampingan buat penulis supaya ia bisa memulai cerita dari dua arah yang berbeda (satu di prolog, satu lagi di bab satu).
arah yang berbeda itu bisa berupa lokasi yang berbeda, waktu yang berbeda, tokoh yang berbeda, sudut pandang yang berbeda, dan tentu saja plot yang berbeda.
tidak semua cerita perlu prolog, apalagi kalau ceritanya sederhana. mau langsung masuk ke cerita/plot utama lewat bab satu juga oke-oke aja kok. tapi yang jelas, prolog adalah ‘advantage’ buat penulis, makanya aku bilangnya bonus.

pembahasan tentang prolog kayaknya udah banyak deh di halaman-halaman tret ini sebelumnya, termasuk jenis-jenis prolog yang biasa dipakai, dsb.

tapi yang penting sebenarnya memahami aja dulu apa sebenarnya fungsi prolog, yang kalo menurut pendapat bodohku adalah seperti ini:
- menarik pembaca dengan adegan2 yang memikat.
- memperkenalkan tokoh protagonis (di masa lalu, masa datang, atau masa kini)
- atau memperkenalkan tokoh lain (antagonis, korban)
- memperkenalkan setting (latar cerita: dunia, tempat, kasus)
- memperkenalkan suasana/nada cerita, apakah ini cerita ceria atau cerita gelap misalnya. pembaca tak ingin merasa ditipu nanti, mengira ini cerita aksi padahal isinya nanti bukan aksi, misalnya.
- memperkenalkan tema, inti cerita, masalah ‘hidup mati’ yang akan dijumpai dalam cerita, supaya pembaca merasa ‘ada pentingnya’ buat membaca terus.
- apa lagi ya? wkwkwkwkwk… halah… udahlah, aku ngasih teori-teori lagi…
________________________________________
Post by: clickdian on April 12, 2008, 10:28:55 am
________________________________________
Tambahan tentang prolog, be careful with this one, karena prolog yg ‘salah buat’ akan jadi seperti penyanyi yang salah milih lagu; bikin ilfil. Dan jangan salah, bikin prolog gak gampang, karena harus bisa ‘mengundang’ pembaca untuk lanjut ke bab berikutnya, tapi juga tidak keluar dari ‘tone’ cerita keseluruhan.
Personally, aq kurang suka pake prolog. Dari semua cerita yg aq buat, rasanya baru Segara Wulan yang pake prolog, itu pun belon kelar, hehe..
________________________________________
Post by: BloodSin on April 15, 2008, 11:56:11 am
________________________________________
ini nih gw post sedikit cuplikannya..

Kain membuat beberapa obor dari kayu-kayu bakar—sisa bakaran unggun semalam, dan segera memimpin penjelajahan menembus kegelapan. Lorong gua itu cukup luas pada beberapa langkah awal mereka masuk ke dalamnya, dan kemudian mulai menyempit pada beberapa titik sehingga orang-orang harus berjalan dengan merapat ke dinding.

Ketika mereka telah memasuki lorong gua cukup dalam, mereka menemukan semacam lambung luas. Obor yang dibawa sang marquis menerangi permukaan dinding yang ada di situ, dan segera saja Guillarde berdecak karena terpukau.

“C’est intéressant,” ia berkata takjub. “Tempat ini memiliki banyak hieroglif!”

Semua orang menerangi permukaan dinding yang dilihat Guillarde, dan kemudian menemukan gambar-gambar primitif yang terukir di atas dinding. Mereka menjadi takjub karena menemukan hampir di seluruh sudut lambung luas itu memiliki ukiran-ukiran. Ada banyak gambar yang dilihat mereka di situ: kebanyakan adalah gambar hewan, manusia primitif, dan benda langit.

Langkah Larke terhenti pada suatu ukiran yang menampilkan gambar dari sekelompok mahkluk cebol yang berlari kocar-kacir dari sesuatu yang menukik di atas mereka—seekor burung besar, dan ia melihat pula ukiran bulan sabit dan matahari yang ada berdampingan dalam gambar itu; sebuah lukisan dinding yang amat menarik perhatiannya. Merasa mengenali bentuk burung itu, ia memanggil Fly untuk memastikan.

“Kurasa itu seekor enkidu,” Fly berkata. “Ukiran burung itu memiliki sepucuk bulu lancip di belakang kepalanya serupa jambul, mirip seperti enkidu jantan yang kita lihat di Israd.”

Lama memandang gambar itu, kedua bocah segera mengenali mahkluk-mahkluk cebol yang tampak seperti primata-primata kerdil itu. Mereka segera memanggil semua orang. Dan Guillarde adalah orang yang paling tertarik pada hieroglif temuan mereka.
________________________________________
Post by: BloodSin on April 15, 2008, 12:01:27 pm
________________________________________
@villam,
u bener, gw kayaknya terlalu keji ngasi Cardan poin satu, heheheh.. :D
Gw udah tamat baca (fiuhh akhirnya!), n ratingnya gw naekin jadi 2 bintang (sejajar Ledgard, Pinissi, Nightfall, n Numeric Uno), heheheheh..
Sepuluh bab terakhirnya lumayan kok, gak ‘separah’ bab2 awal sampe pertengahan buku–walopun emang masih tetep gw temukan bbrp hal negatif(contohnya si pengarang acapkali mabok nyebut Tolan sebagai ‘Kota’, padahal Kerajaan, ato mungkin adanya ‘kebetulan2 yang gak alamiah’–hehehe yg ini gw maklum deh, gw sendiri tipe penulis yg cukup berpegang sama pakem kebetulan :P ) .
Endingnya ya gituu deh, payah dah.
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 15, 2008, 12:59:15 pm
________________________________________
endingnya ga ‘ending’, hehehe…
dan gak ada penjelasan kapan bakal muncul lanjutannya. jadi wajar jika muncul perasaan pembaca seperti ini : ‘aku terjebak!’
salah satu problem utama novel fantasi yang baru muncul, kurasa…
kalo mau bikin cerita yang bagus, otomatis seharusnya detil dan plotnya diperkaya dan diperhalus, yang berarti ceritanya bakal panjang banget.
masalahnya penerbit gak mau nerima / mengambil resiko cerita2 yang terlampau panjang. yeah… kita tau lah semua alasannya…
dan langkah penulis untuk menyiasatinya adalah dengan memotong ceritanya jadi dua atau berapapun. yang berarti sekuelnya tentu saja –> ‘ya udah nanti aja dipikirin kalo emang bukunya laku’.
jalan itu memang masih panjang…
tapi jalanin aja deh…
________________________________________
Post by: BloodSin on April 16, 2008, 10:54:44 am
________________________________________
bukan knp2 sih villam, masalahnya di Cardan itu, jelas2 udah dikasi label TAMAT gitu sama penulisnya, sama kaya novel Narend…(which means elu tungguin sampe matik juga ga bakalan terbit sekuelnya) sementara perkara2 dalam plot Cardan masi jauh dari beres, payah dah. ini bener2 menjebak (dan amat mengesalkan) pembaca, i agree with u. :’(
Novel gw juga termasuk novel yg sarat perkara (elu tauk sendiri kan :D ), but at least, kalo satu perkara yg jadi perkara utama dalam novel gw udah diselesain di akhir cerita, masi bisa ditolerirkah? :-\
ato jangan2 naskah gw itu jenis yg ‘menjebak pembaca’ juga? :-[

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi VIII (3 Apr 2008 – 5 Apr 2008)

  • Menulis fantasi berbahasa Inggris
  • Resensi novel-novel fantasi lokal oleh BloodSin
  • Review Cardan oleh BloodSin
  • Review draft Lemuria karya BloodSin oleh rd_Villam

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: Lich on April 03, 2008, 01:20:55 am
________________________________________
wah tambah rame aja nich thread. salut. ;D
lam kenal, Lich
sedih banget sinopsis karya penulisanku baru ditolak penerbit fantasy. katanya bhs inggrisnya masih harus diperbaiki. beda sich inggris sastra dan inggris biasa. Payah nich, masih harus banyak belajar. >.<.
^^ emang referensi fantasy yang mengarah ke sastra apa maksudnya ke tipe high fantasy ? ( wee, itu sebenarnya istilah buat ilustrator/komikus yang bikin cover novel fantasy ). kalo refensi tipe novel kayal gitu, harusnya gue baca karangan siapa yach ? mungkin ntar gue bisa curi2 baca gratis di kinokuniya atau toko buku impor.
atau gue hrs ambil kuliah sastra inggris kalau mau belajar bhs inggris sastra ? wakakakakakak.
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 03, 2008, 09:02:34 am
________________________________________
Hi, Lich,…
Sorry sebelumnya kalau udah pernah sharing hal ini somewhere di belakang ;) (ini thread udah skala mega, nyisirin satu-satu capek juga, hehehe). Tapi aku jadi curious, kamu bikin novel berbahasa Inggris? Hebat bener euy,.. :) tapi mo ditujukan ke pembaca mana? Lokal atau luar?
Kalau lokal,…. mungkin penerbit ngerasa ngga bakalan laku?
Kalau luar,…. gue ga tahu sih. Tapi mungkin memang bikin novel berbahasa inggris jauh lebih sulit dari sekedar menulis dalam bahasa inggris, kali ya,..?
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 03, 2008, 01:38:45 pm
________________________________________
lich,
wuih… kamu bikin cerita basa inggris?
keren…
trus emang nulisnya kudu pake inggris sastra?
kayaknya gak mesti deh…
ada yang bilang inggris biasa justru lebih mudah diterima mayoritas pembaca.
tentang reference high fantasy, ini link wikinya:

http://en.wikipedia.org/wiki/High_fantasy

dan ini daftar buku2 ngetopnya, kalo mau cari di kinokuniya.
kalo mau yang model ada karakter2 berbagai macam ras, bisa baca LOTR, David Edding’s Belgariad, atau Robert Jordan’s Wheel of Time (yang salah satu bukunya pernah kubaca). buku2 pengarang lain belon pernah baca, walau pengen… huhu…
kalo mau yang model intrik2 dan perang antar kerajaan, bisa baca George RR Martin’s A Song of Ice and Fire.
atau baca bukunya Lois McMaster Bujold dan Ursula Le Guin yang langganan dapet Hugo Award.

* Jim Butcher’s “The Dresden Files
* Lloyd Alexander’s The Chronicles of Prydain
* Poul Anderson’s Three Hearts and Three Lions
* R. Scott Bakker’s Prince of Nothing series
* Peter S. Beagle’s The Last Unicorn
* Martin Bertram’s Vanity of Vanities
* Gillian Bradshaw’s Arthurian trilogy (Hawk of May, Kingdom of Summer, In Winter’s Shadow)
* Marie Brennan’s Doppelganger
* Terry Brooks’s Shannara series
* Lois McMaster Bujold’s Chalion series
* C. J. Cherryh’s Ealdwood and Fortress series
* Susan Cooper’s The Dark Is Rising
* Stephen R. Donaldson’s The Chronicles of Thomas Covenant series
* Sara Douglass’s The Wayfarer Redemption series
* Lord Dunsany’s The King of Elfland’s Daughter
* David Eddings’ Belgariad/Malloreon and Elenium/Tamuli/The Dreamers
* Eric Rücker Eddison’s The Worm Ouroboros and Zimiamvian Trilogy
* Kate Elliott’s The Crown of Stars series
* Michael Ende’s The Neverending Story
* Steven Erikson’s Malazan Book of the Fallen saga
* David Farland’s The Runelords saga
* Raymond E. Feist’s Riftwar Saga and other Midkemian sagas
* Lynn Flewelling’s Nightrunner series
* David Gemmell’s Legend saga
* Terry Goodkind’s Sword of Truth saga
* L. B. Graham’s The Binding of the Blade series
* Frank Grave’s The Ancestral Trail series
* Jim Grimsley’s Kirith Kirin
* Robin Hobb’s Farseer, Liveship and Tawny Man trilogies
* P. C. Hodgell’s Jame of the Kencyrath series
* Ian Irvine’s The Three Worlds Cycle series
* Robert Jordan’s The Wheel of Time saga
* Katharine Kerr’s Deverry series
* Stephen King’s The Dark Tower saga
* Mercedes Lackey’s Valdemar series
* Mercedes Lackey’s and James Mallory’s Obsidian Trilogy
* Mercedes Lackey’s and Andre Norton’s The Halfblood Chronicles
* Stephen R. Lawhead’s Song of Albion Trilogy
* Tanith Lee’s Birthgrave series
* Ursula Le Guin’s Earthsea series
* C.S. Lewis’s Chronicles of Narnia series
* George R. R. Martin’s A Song of Ice and Fire series
* Dennis L. McKiernan’s The Iron Tower trilogy
* Patricia A. McKillip’s The Riddle-Master of Hed trilogy
* Robin McKinley’s The Hero and the Crown
* Hope Mirrlees’s Lud-in-the-Mist
* L. E. Modesitt, Jr.’s The Saga of Recluce and Spellsong Cycle
* Elizabeth Moon’s The Deed of Paksenarrion series
* Michael Moorcock’s Eternal Champion series
* Leslie Ann Moore’s Griffin’s Daughter series
* William Morris’ The Well at the World’s End
* Garth Nix’ Abhorsen Trilogy
* Andre Norton’s Witch World series
* Margaret Ogden’s The Realm of the Elderlings series under the name Robin Hobb
* Mervyn Peake’s Gormenghast books
* Meredith Ann Pierce’s The Darkangel Trilogy
* Terry Pratchett’s Discworld series
* Phillip Pullman’s His Dark Materials trilogy
* Jennifer Roberson’s Chronicles of the Cheysuli and The Sword-Dancer Saga
* Fred Saberhagen’s Earth End sequence
* R. A. Salvatore’s Forgotten Realms and Demon Wars series
* Jonathan Stroud’s The Bartimaeus Trilogy
* Eldon Thompson’s The Legend of Asahiel series
* J. R. R. Tolkien’s The Lord of the Rings, The Hobbit, Silmarillion, Unfinished Tales, Children of Húrin and The History of Middle-Earth
* Jack Vance’s Lyonesse Trilogy
* David Weber’s Oath of Swords saga/War God series
* Margaret Weis’s and Tracy Hickman’s Dragonlance series
* Tad Williams’s Memory, Sorrow, and Thorn trilogy
* Gene Wolfe’s Wizard Knight series and The Book of the New Sun
* Roger Zelazny’s Amber series
* Jennifer Fallon’s The Demon Child Trilogy, The Hythrun Chronicles and Second Sons Trilogy
* Paul Edwin Zimmer’s Dark Border series: “A Gathering of Heroes and Ingulf the Mad

[tab:Hal 3]

________________________________________
Post by: hege on April 03, 2008, 02:21:19 pm
________________________________________
I am currently reading Ursula Le Guin’s Earthsea (English)… dan nyastra banget, kereeeennn (bacanya mesti ulang-ulang dan banyak unfamiliar words) selain baru aja menyelesaikan baca The Alchemist versi Gramedia (terjemahannya lumayan baik, tapi si penerjemah tampaknya penggemar berat istilah ‘sekonyong-konyong’ (ada puluhan ‘sekonyong-konyong’ yg kutemukan sepanjang cerita) dan sekonyong-konyong hege ilfil pun jadinya. Buku alchemist menginspirasi orang-orang untuk mengejar mimpi, selain itu, rasa-rasanya banyak pengetahuan filsafat udah pernah kubaca di buku lain sebelumnya.
________________________________________
Post by: Lich on April 04, 2008, 12:10:38 pm
________________________________________
Vil : aduh mati gue bacanya gimana ;D pokoknya gue embat yang plastiknya dibuka aja wakakakak dasar nggak punya modal. ;D ;D ;D
Horeeee dapet editor baru ! ;D ;D ;D wakakakak mudah2an nggak seaneh editor sebelumnya yang nolak gue wakakakakak ;D
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 04, 2008, 01:37:03 pm
________________________________________
@lich,
aduh… kamu sampe mati bacanya? heheheh…
emang tuh, modal juga yang bikin aku sangat selektif buat memilih buku… hihi…
tapi selamat ya dapet editor barunya…
emang di penerbit mana? share dikit dong tentang novelmu…
________________________________________
Post by: Lich on April 04, 2008, 02:57:56 pm
________________________________________
Vil : lagi nyoba yang penerbit kecil alternatif di Kanada, namanya rahasia dapur hehehe. baru mulai, sih. Tapi aku cuma coba di Graphic Novelnya, itu tuch yang setengah novel setengah byk gambar2nya. ;D berarti bukan pure novel tulisan. Trus karena pendatang baru, jadinya aku ndak di jatah novel yang tebel2, paling cuma kayak novel ecek2 yang tipis, murah, dan kelas teri lach. begitchu. hehehe.
________________________________________
Post by: BloodSin on April 05, 2008, 09:18:58 am
________________________________________
Oke, sekedar resensi/review singkat (yang mengikuti standar & selera baca gw) buat novel-novel fantasi lokal yg udah pernah gw baca (dan menjadi korban gw :P )
Penilaian gw berdasarkan dari segi gaya bahasa, plot, humor, orisinalitas ide, sampai penggarapan untuk hardcopy bukunya.
So…. here we go,
Ket:
*) Novel tak layak baca
**) Novel kelas pemula, alias standar
***) Lumayan, novel pada level ini sudah memiliki tata bahasa yang baik, cuma masih kurang sedikit (entah di logika yg kedodoran, ending yang maksa, atau keklisean di beberapa bagian)
****) Bagus, novel pada level ini boleh disejajarkan dengan karya-karya luar negeri.

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/ledgard.jpg)
Judul: Ledgard–Musuh dari Balik Kabut
Penulis: WD Yoga
Penerbit: C|Publishing
Rating: **
Tipe: RPN, Kolosal
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Berdasarkan riset iseng2 gw searching di dunia maya, cukup banyak pembaca dalam negeri yang menempatkan novel ini di posisi teratas untuk kategori fantasi lokal (alias the best dari novel2 sejenis), dan gw rasa gw bisa mengerti opini mereka.
Novel ini digarap cukup matang: punya plot yang lumayan, penokohan yang lumayan, setting yang cukup orisinil, aturan naming yang cukup konsisten, alur cerita yang pas. Novel ini juga punya filosopi2 karakteristik yang mengadopsi elemen-elemen bumi: air, api, tanah, udara.
Ide itu akan amat menarik, bagi beberapa orang.
Sayangnya, bagi gw yg ex-RPGer, ide itu cenderung klise. (Ada banyak game rpg yg mengadopsi ide serupa)
Gaya bahasanya cukup membosankan, kurang berhasil untuk mengikat pembaca. Humor garing. Dan lagi… Ledgard ini adalah contoh untuk novel fantasi lokal yg kena sindrom ‘bule celup’. Ambil contoh tokoh Nash dalam cerita, yang deskripsinya mengambil gambaran seorang bule, tapi cara berpikirnya + gaya omongannya (dalam dialog) selugu orang indonesia. Terus setting dunia ledgard yg terkesan kebarat-baratan (ada ras Centaur yg notabene dari yunani) terasa tidak sinkron dengan kebudayaan timur yang berlaku di setiap bangsa-bangsanya.

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/pinissi.jpg)
Judul: Pinissi–Kisah orang-orang Setinggi Lutut
Penulis: Mama Piyo
Penerbit: Liliput
Rating: **
Tipe: Dongeng
Sekuel: Ya, dan belum terbit

Novel ini satu-satunya fantasi dalam negeri yang mengangkat setting dari kebudayaan dalam negeri (setting Makassar, tah?). Tentu dari sini udah ada nilai plusnya. Settingnya yang orisinil didukung pula dengan ras2 rekaan & naming (atau emang berasal dari literatur orang makassar tah?) yang unik, pas, dan gak pasaran. Ilustrator Ermambang Bendung dalam novel ini amat berhasil menyajikan ilustrasi-ilustrasi beraroma ‘etnikal’, cukup membantu pembaca dalam berimajinasi terhadap isi buku.
Sayangnya, plotnya ditulis tanpa greget, dan dengan gaya bahasa yang terkesan buat anak kecil A.K.A pas2an. Ada banyak struktur kalimat tak baku dalam novel ini, yang bakal mengganggu ‘pembaca teliti’ kaya gw. Miskin humor pula.

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/hozzoh.jpg)
Judul: Hozzo–Feres yang Hilang
Penulis: ?? (siapa yah gw lupa tuh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif))
Penerbit: Liliput
Rating: ****
Tipe: sci-fi, detektif
Sekuel: Ya, dan belum terbit sampai hari ini pun
Novel tentang petualangan kelompok detektif manusia + alien + robot di luar angkasa. Ditulis dengan gaya bahasa yang friendly dan adaptable*, pengarang novel fantasi ini menguasai teknik karakterisasi yang sungguh luar biasa baik, yang didukung pula humor2 segar, pembangunan setting yang kuat (terutama untuk ras2 alien dan kebudayaannya), dan penyajian ‘pelajaran-pelajaran (baik secara materiil–khususnya biologi–dan spiritual–konsep reinkarnasi)’ yang tidak membosankan untuk disimak.
Terasa lemah di plot, namun teratasi karena unsur ‘tidak membosankan untuk dibaca’ itu.
*mudah mengikat pembaca

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/narend.jpg)
Judul: Narend–Petualangan ke Tanah Kutukan
Penulis: Linuwih Nata permana
Penerbit: Liliput
Rating: ***
Tipe: Petualangan
Sekuel: No
Narend adalah satu satu fantasi yang memiliki setting ciamik, tata naming yang tak bercacat & plot yang cukup solid. Gaya bahasa cukup dapat mengikat pembaca, namun kurang berhasil menciptakan greget.
Ada sedikit logika kedodoran di beberapa adegan, terlebih endingnya yang super duper maksa kebetulannya. Bahasa dalam dialog yang terasa kaku juga menjadi penyebab novel ini hanya masuk kategori lumayan.

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/zauri.jpg)
Judul: Zauri–Legenda Sang Amigdalus
Penulis: yang ini juga gw lupa namanya siapa(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
Penerbit: Grasindo
Rating: ***
Tipe: RPN, Romance
Sekuel: Antara ya dan tidak, tergantung mood si pengarang kali yak(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
Nilai plus yang paling keliatan dari novel ini adalah gaya bahasanya yang mudah ditangkap (karena cukup fleksibel) dan karakterisasi yang dibangun cukup baik. Setting dunia rekaan pengarang cukup orisinil–walau terasa dipengaruhi RPG2 jepang. Penyajian plot dan humor dieksekusi dengan cukup baik. Gw rasa cukup wajar novel ini menerima penghargaan untuk kategori novel remaja terbaik di peringkat kedua ajang IKAPI Award tahun 2007. (banyak amat yak gw ngomong cukup(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif))
Sayangnya, beberapa deskripsi yang dipaparkan penulis masih terkesan buram, monster-monster dalam buku ini mengingatkan monster-monster rekaan Squaresoft dalam seri Final Fantasy (Bubaglop itu contohnya!), dan gaya romance yang terlalu picis–yg mungkin karena imbas dari buku teenlit yang sebelumnya diterbitkan si pengarang. :P

(sori ga nemu gambar kovernya T_T)
Judul: Janos–Legend of Arctic Empire
Penulis: Hadiyanto (lulusan Teknik Informatika Bina Nusantara!(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif))
Penerbit: Agromedia Pustaka
Rating: *
Tipe: Diari, Romance, Sci-Fi
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Lebih kelihatan sebagai diari seseorang bernama Janos daripada sebuah novel fantasi. Satu-satunya novel fantasi lokal (yang pernah gw baca) yang bersudut pandang ‘aku’–ini cukup unik dan berani.
Karena berbentuk diari, novel ini nyaris tak punya konflik, yang akhirnya berujung novel ini terasa tak memiliki plot. Gaya bahasa yang pas2an, humor yang superduper jayus, setting dunia sci-fi yang kurang kreatif dan imajinatif, naming yang bikin ilpil, romance yang terlampau picis, dan ketiadaan dari konflik penting dalam plotnya, menyebabkan novel bikinan senior gw ini masuk kategori tak layak baca.

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/nightfall.jpg)
Judul: Nightfall–The Element Location
Penulis: Rizky YS (lulusan Teknik Informatika Trisakti!)
Penerbit: Gagasmedia
Rating: **
Tipe: RPN
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Salah satu fantasi bertipe RPN dengan sindrom bule celup. Yang paling positif dari novel ini adalah jalinan plotnya yang cukup kompleks, dan setting dunia Medarda yang dibangun cukup orisinil (terutama ide kiamat Nightfall-nya).
yang negatif dari Nightfall, adalah gaya bahasanya yang kurang dapat mengikat, ketiadaan humor dalam novel (padahal materinya cukup enteng), karakterisasi yang buram, dan alur yang terlalu buru-buru (yg menyebabkan pendeskripsian menjadi kedodoran di beberapa bagian).

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/sangpenandai.jpg)
Judul: Sang Penandai
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Serambi
Rating: ****
Tipe: Spiritual, Petualangan, Kolosal
Sekuel: No
Sang Penandai adalah satu-satunya novel fantasi tanpa humor yang bener-bener layak dibaca oleh semua umat. Novel ini menyajikan filosopi yang universal–sebuah renungan mendalam dari kekuatan cinta, gaya bahasa yang aduhai, jalinan plot yang solid, dan petualangan yang seru.
Yang unik (dan keren bagi gw), novel ini juga terang-terangan berani mencela kisah roman yang paling terkenal sedunia: Romeo dan Juliet, namun disertai dengan renungan mendalam sang pengarang sebagai landasan argumentasi.
Sang Penandai merupakan satu-satunya fantasi yang kelihatan tak bercacat di mata gw, walau tokoh ‘sang Penandai’ dalam buku ini terlampau mirip dengan tokoh Melkizedek dalam Sang Alkemis-nya Paulo Coelho.
Untuk endingnya, mungkin sebagian pembaca akan merasa kecewa. Tapi ending Sang Penandai jelas tidak picis dan klise; ending seperti itu jauh lebih indah dibanding happy ending beberapa fantasi yang digambarkan terlampau kebetulan/gombal/picis. :P

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/numeric.jpg)
Judul: Numeric Uno–Legenda Sang Labrarus
Penulis: DewiS
Penerbit: Puspaswara
Rating: **
Tipe: ?
Sekuel: No
Membaca novel ini, gw jadi inget Hozzo, karena menyajikan setting dan ide plot yang hampir sama. Plotnya cukup solid, dan itu yang paling menolong dalam novel ini.
Sayangnya, novel ini disajikan dengan gaya bahasa dialog yang kaku, penokohan yang kurang kuat, pendeskripsian yang buram, setting luar angkasa yang cetek, ending dan penyelesaian konflik yang payah (ada tokoh yang terkesan dipaksakan mati padahal sebetulnya gak perlu mati), dan materi romance yang picis.

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/goran.jpg)
Judul: Goran–Sembilan Bintang Biru
Penulis: Imelda A. Sanjaya
Penerbit: Serambi
Rating: ****
Tipe: Petualangan, Sci-Fi
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Goran adalah novel fantasi komplit, dan itulah yang menjadikannya sebagai the best indonesian fantasy book dari semua yang pernah gw baca (walau dari segi tata bahasa, novel ini punya sedikit cacat–gak kayak Sang Penadai yang terkesan rapih jalih).
Terkesan ‘paket lengkap’, karena novel ini menyajikan 3 setting dunia (yang terbagi dalam: dunia jaman baheula, present, dan futuristik), selera humor yang gila2an (yang seharusnya bisa diterima oleh segala lapisan pembaca), gaya bahasa yang mengalir dan mengikat, plot yang solid, karakterisasi yang dapet banged (walau gak sedahsyat Hozzo), imajinasi & riset yang lumayan mendalam untuk pembangunan ketiga settingnya (kehidupan remaja jepang hari ini, dunia persilatan–dan pejodohan :D –Cina Kuno, dan planet Vida yang futuristik).
Ada beberapa struktur kalimat yang berkesan ‘semau gue’ si pengarang, but overall, that’s no such a big deal for me.
Goran is the best dah.
________________________________________
Post by: BloodSin on April 05, 2008, 09:51:02 am
________________________________________
The last one(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/cardan.jpg)
Judul: Cardan–Inside & Outside The Hinkal Core
Penulis: Chandra Adhitya Winarno
Penerbit: Gagasmedia
Rate: *
Tipe: RPN, Kolosal
Sekuel: ?

Oke.. yang satu ini, berhubung novel fantasi terakhir yang gw baca, pembahasannya bakal gw bikin lumayan panjang :D
Salah satu dari beberapa novel fantasi yang males buat gw baca sampe abis! (selain karena hurufnya yang kecil2 dan bukunya yang lumayan tebel pulak @_@)
Secara gw baru baca setengah isi buku, gw gak bakal ngomongin plotnya.
Yang mau gw review panjang lebar adalah 3 hal yang menyebabkan gw lebih memilih bengong sewaktu mencoba melumat Cardan sampai tamat:

-Naming
Sebetulnya dari paragraf pertama buku, sudah kelihatan bagaimana kacaunya si pengarang memilih nama. Beliau menyebut tiga nama bintang dengan aroma yang berbeda satu sama lainnya: Joan, Sanggu, Colt. Ini sedikit gamang, dan terasa seenak jidat.
Selama membaca Cardan, gw menemukan dengan kreatifnya si pengarang mencomot nama beraroma dari berbagai belahan dunia, untuk diletakkan dalam sebuah setting. Bayangkan, dalam sebuah negara, kita menemukan nama beraroma Indonesia/Jawa (Palawa, Pradnya, Boma, Anya, Aras), Eropa (Monique, Clark, Sam, Heinze, Zavier de Voco, Drake), Israel (Saul, Sonia), Jepang (Furita, Izo, Kei, Shi), sampai nama2 ‘antah berantah’ (Divin, Links, Dupku, Garinka, Fordit)
Ini bener2 kacau, tak berseni, seenak jidat, dan mengganggu setting.
Terus ada lagi yang patut ditertawakan, ada karakter bernama lengkap Zavier de Voco, yang kalau menuruti aturan tata nama Perancis (Thanks to mademoiselle Midnite Sun) berarti: ‘Zavier dari Voco’–’Voco’nya ini merupakan nama tempat asal, biasanya. Akan lumrah dan tak bermasalah, kalau yang jadi ‘nickname’ orang itu Zavier.
Tapi si pengarang Cardan ini, sepanjang buku malah mnggunakan ‘Voco’ buat nama pendek orang itu.
Jadi buat perbandingan… misal ada seseorang yang dilahirkan dengan nama: ‘Budi dari Cikotok’ (karena dia dilahirkan di Cikotok), maka tuh orang kalau ketemu pengarang Cardan bakal dipanggil: Cikotok, bukan Budi. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
Aneh kan? Ironisnya, waktu gw liat di halaman sampul belakang.. disebutkan kalau si penulis ini mahasiswa bahasa Perancis!

-Gaya Bahasa
Kurang berhasil mengikat pembaca, dan deskripsi-deskripsi (baik untuk kejadian, tempat, ataupun tokoh) terkesan absurd bagi gw.. Somehow, gw sering menemukan diri gw malah larut ke dalam alam bengong pikiran gw daripada menyimak isi paragraf-paragraf dalam Cardan (well, hal serupa terjadi waktu gw baca Ledgard, Pinissi, & Janos). Mungkin istilahnya, Cardan gagal meracuni pikiran pembacanya untuk larut dalam cerita.
Cardan juga terlalu banyak membahas peristiwa-peristiwa sepele (yang menyebabkan RPN ini terasa bertele-tele).
Miskinnya wawasan si pengarang juga terasa, ada kalimat yang berbunyi kira-kira begini:
Di kamp latihan itu Aras melihat hewan-hewan tempur dengan berbagai wujud, yaitu Griffin, dan lain-lain.
(Udah pada tau kan kenapa gw sedih baca kalimat kayak begini?)

-greget
Yang gw dapet selama baca ampe setengah buku, Cardan kurang berhasil menciptakan puncak-puncak klimaks kecil.. ibarat sebuah kardiogram, Cardan adalah sebuah garis lurus dari detak jantung orang sekarat yang menunjukkan detak lemah setiap sekian menit.. Tak ada denyut klimaks yang kelihatan berarti, dan gw pikir inilah faktor yang paling fatal.
Adegan terpilihnya Aras sebagai cardan murni, pertarungan Aras dengan Fordit, kasus pembunuhan Max, sebetulnya cukup berpotensi untuk menjadi klimaks-klimaks kecil, tapi sayangnya dideskripsikan kurang menggigit (dengan gaya bahasa yang buram pulak), dan konsekuensinya adalah novel ini terasa hambar.

Well, Cardan adalah sebuah ironi bagi gw; novel ini adalah novel yang memiliki kover paling keren dari semua buku fantasi lokal yang gw punya (menyajikan gambar dari siluet api burung phoenix dengan posisi garuda pancasila, dipadu latar belakang hitam pekat–keren, artistik, dan gak murahan), tapi masuk ke jajaran novel fantasi terburuk menurut standar dan selera baca gw..

________________________________________
Post by: BloodSin on April 05, 2008, 10:01:28 am
________________________________________
well, selain semua novel di atas, masih ada novel2 fantasi lain yang ditulis anak bangsa (yang belom gw baca):
-Phoenix dan Mahkota di Negeri Azura
-The Corruption (fantasi berbahasa inggris)
-Catatan Harian Alien (fantasi liliput yang paling laku, tah?)
-Misteri Pedang Skinheald (satu2nya novel fantasi bersekuel yang udah terbit sekuelnya–salut!)
-Reinhart
-Ratu Calissta
-Cincin Odeoleo
-Magical Seira (yang ini fantasi mixed teenlit(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif))
-apalagi yak?
Kalau mau dirata2 untuk review2 gw di atas, gw kira genre Fiksi Fantasi Dalam Negeri ini cukup punya prospek di masa depan, tapi kita tetap masih kekurangan penulis-penulis fantasi spektakuler nih..

[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 05, 2008, 03:04:32 pm
________________________________________
My good friend Rey,
salut atas review-reviewmu!
Setelah sekian lama tertunda akibat banyak hal, akhirnya aku bisa membaca kisah Lemuria-mu. Maaf beribu maaf karena lama banget ya. Hehe…

Jadi begini, aku udah baca kemaren satu kali, dan kupikir harus kubaca lagi nanti sekali lagi biar aku bisa ngasih reviewnya secara lebih lengkap. Jadi beri aku waktu sekitar satu dua minggu lagi.
Nah untuk sementara, ini adalah komentar awal aja.

Secara keseluruhan, aku suka ceritamu. Dengan model cerita fantasi petualangan dimana ada satu kelompok yang menempuh perjalanan buat menyelesaikan suatu misi, model kayak Fellowship of The Ring, sebenarnya jalan cerita model begitu udah terlalu biasa, namun ada kelebihanmu seperti yang dari dulu udah sering kubilang, yaitu gaya bahasamu.

Aku jamin, gaya bahasa sastramu ini pasti akan menarik pembaca lainnya—dan mungkin juga editor—sejak awal. Memang kerasa bahwa gaya bahasa ini tidak terlalu kaku sastra dari awal sampai akhir. Kalau dibilang agak kurang konsisten, mungkin iya—dan aku gak tau apakah kekonsistenan ini penting atau tidak buat para editor—tapi kupikir kamu udah cukup berhasil menemukan formula yang pas kapan harus bersastra ria dan kapan harus bergaya bahasa biasa.

Kalau menurutku, gaya bahasa sastra akan terdengar indah dan menghanyutkan, namun kurang cocok jika kita hendak membuat pembaca tegang, dimana kalimat-kalimat yang lebih lugas lebih cocok. Jadi itulah yang terasa saat aku membaca ceritamu. Aku terpesona dengan alunan kalimat dalam ceritanya, tapi keinginan hatiku yang ingin dikejut-kejutkan seperti saat membaca cerita-cerita bernuansa thriller tidak terpenuhi.

Intinya akibat gaya bercerita ini aku memang merasa sedang membaca cerita yang indah, tapi tidak membuatku merasa masuk ke dalam ‘menjadi tokoh-tokohnya’. Yeah, dalam hal ini sepertinya kita bicara lagi soal 3rd person Limited POV. Dan… walaupun ini mungkin tidak terlalu bermasalah buatmu, tapi bisa jadi bahan pemikiranmu nanti.

Kelebihan lain, aku suka dialog-dialognya. Ada yang mendayu-dayu, ada yang kocak. Imajinasimu tentang makhluk-makhluk aneh yang muncul di sini juga mengasyikkan—walau di beberapa tempat informasi-informasinya kebanyakan hingga membuatku terlempar terlalu jauh dari plot yang ingin dibangun di adegan tersebut. Sebaliknya, walaupun deskripsi-deskripsi panjangmu menarik di beberapa tempat, tapi ada adegan yang seharusnya membutuhkan deskripsi supaya pembaca bisa lebih merasakan suasananya, malah kurang deskripsinya.

Lalu satu lagi komentar awalku, supaya nanti tidak terlupa, kurasa banyak adegan-adegan pendek yang menggantung dan tanggung (nanti aku jabarin secara lebih detil), yang membuatku berpikir sebenarnya adegan2 itu bisa dieksplor lebih jauh, atau justru sebaiknya dihilangkan sama sekali.

Contoh adegan pendek yang tanggung tersebut adalah adegan pengenalan tokoh Esther (aku suka karakter ini; aku selalu suka karakter cewek jagoan) di awal, yang … duh pendek banget, dan butuh berpuluh-puluh halaman lagi untuk sampai ke lanjutan adegan dimana dia ada lagi. Membuatku berpikir buat apa Esther dimunculkan seawal itu? Buat perkenalan? Tapi keburu lupa karena adegan dia berikutnya jauh banget, aku harus mundur lagi bacanya, untuk tahu apa tadi yang dia lakukan di awal.

Kemudian soal plot dan karakter. Yeah… seperti biasanya model cerita fantasi petualangan perjalanan, plotnya terasa lurus tunggal dan lancar-lancar saja. Konfliknya hanya berupa outer conflict, dimana rombongan harus berhadapan dengan rintangan-rintangan yang muncul dan terselesaikan selama perjalanan. Inner conflict yang terbangun hanyalah kekhawatiran Larke saat dia kehilangan Lyn, yang sayangnya tidak diimbangi dengan cerita yang menggambarkan penderitaan Lyn selama dia diculik, sehingga pembaca tidak bisa ikut banyak bersimpati.

Juga awalnya aku berharap akan ada inner conflict dalam diri tokoh Kain maupun Seth, berhubung seharusnya mereka adalah tokoh terpenting dalam cerita ini, KARENA kamu memunculkan mereka berdua dalam prolog cerita. Tapi ini pun tak dibangun. Kemudian tokoh Guilarde mestinya juga bisa lebih dieksplor, berhubung kamu sudah terlanjur memperkenalkan dia di awal sebagai tokoh yang punya misi tersembunyi.

Kemudian mungkin bisa lebih menarik pula jika di sela-sela cerita perjalanan rombongan, diselingi dengan adegan-adegan lain di tempat lain supaya cerita tidak terlalu terasa lurus dan agak membosankan. Kamu sudah memunculkan adegan pertemuan para gipsi, itu bagus, lalu ada adegan pengejaran para Luminar, itu juga bagus. Tapi aku berharap lebih banyak adegan selingan ini, supaya jantungku bisa berdebar lebih cepat.

Hahaha… dan tentu saja sebagai penulis aku tahu keberatanmu jika harus menambah adegan. Cerita bakalan lebih panjang, buku jadi lebih tebal, terus siapa nanti siapa penerbit yang mau nerima cerita kita? Hihihi… yeah… ini sekadar bahan pertimbangan. Dengan cerita yang berplot lebih kaya, pasti akan terasa lebih mengasyikkan, walau tentu konsekuensinya cerita jadi lebih panjang.
Oke, sementara ini dulu komentarku. Mudah-mudahan aku bisa segera memberimu review yang lebih detil dari tiap babnya.
Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk membaca ceritamu, Rey.
Mari kita semua terus berjuang menjadi lebih baik.

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi VII (14 Mar 2008 – 2 Apr 2008)

  • Fantasi identik dengan hiperbolis?
  • Korban Penculikan Alien Pertama di Indonesia Adalah Seekor Kucing? karya hege
  • Khael dan Marina oleh alk
  • Tentang macam-macam Prolog
  • Membuat greget cerita
  • Blog khusus mengulas novel-novel Fiksi Fantasi Indonesia

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
________________________________________
@Rey
Thanx buat reply-mu yang gondrong abis! ;D
Anyway, aku pikir ada beberapa hal yang emang bener dr apa yg kmu tulis.
Dari situ aku mikir2, ternyata emang bikin novel susah banget ya?
Selama ini aku slalu kesusahan dlm merangkai/mengolah kata.
Jadinya aku pake majas2 utk deskripsi suasana, dst.
Penggambaran tokoh juga pake majas2, kebanyakan majas hiperbolis sih! ;D

Btw, aku mau nanya, apakah novel fantasy identik dengan yg namanya sesuatu yg dilebih-lebihkan?
Alias hiperbolis?
Coz, dulu aku pernah minta saran ke temanku yg udah pernah baca cuplikan critaku, dia bilang critaku kurang hiperbolis utk ukuran sebuah novel fantasy.
Aku ga tau apa maksudnya?
Mgkn yang dia maksudkan tuh semacem mengolah kata2 dgn imajinasi tinggi gitu ya?
Misal : di Narnia, ada Aslan, singa yang bisa ngomong.
Ato mungkin, ada mobil terbang di crita Harry Potter.
Trus, apakah novel fantasy emang menuntut suatu imajinasi yang buat setinggi-tingginya?
Mohon dijawab pertanyaan penulis pemula ini… :)
________________________________________
Post by: alk on March 14, 2008, 11:49:58 pm
________________________________________
Quote from: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
Btw, aku mau nanya, apakah novel fantasy identik dengan yg namanya sesuatu yg dilebih-lebihkan?
Alias hiperbolis?

nggak.

Quote from: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
Trus, apakah novel fantasy emang menuntut suatu imajinasi yang buat setinggi-tingginya?
Mohon dijawab pertanyaan penulis pemula ini… :)

nggak juga.

;D wkwkwkw… kependekan ya kalo dijawab gitu. oke deh, penjelasannya:
menurut gw…
novel fantasy bisa hiperbolis, tapi nggak selalu harus begitu. fantasy identik dengan imajinasi. kasarnya identik dengan membuat-buat bukannya melebih-lebihkan.
fantasy butuh imajinasi, memang. imajinasi yang tinggi memang bisa jadi potensi bagus, tapi bukan berarti itu cukup bagi sebuah novel fantasy. merangkai imajinasi menjadi suatu gambaran yang bisa diterima, dipahami dan dinikmati adalah hal yang dituntut seorang pembaca dari penulis novel fantasy, atau seorang penonton dari sutradara film fantasy. 8)
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 15, 2008, 12:02:24 am
________________________________________
Masalahnya gimana caranya agar imajinasi kita bisa diterima and dipahami ama pembaca tanpa mereka mikir kalo ni imajinasinya ketinggian?
Pernah lho ada kasus kaya gitu.
Kesannya jadi aneh and konyol. ???

[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: hege on March 17, 2008, 09:56:19 am
________________________________________
Korban Penculikan Alien Pertama di Indonesia Adalah Seekor Kucing?

Situbondo, 7 Januari 1996, seorang wanita setengah baya bernama Ningsih Prasetia (56) melaporkan penculikan atas kucingnya ‘Mayang’ ke kantor polisi. Dia mengaku dengan bersungguh-sungguh bahwa kucingnya telah diculik alien pada suatu sore yang terik di halaman belakang rumahnya di Jl. Gunung Merbabu no. 17.

“Wanita itu menerobos masuk tanpa menggedor pintu,” kata seorang petugas kepolisian yang—tampak dari wajahnya—merasa bahwa ini adalah lelucon yang menggelikan. “ Saya pikir dia orang gila karena berteriak-teriak histeris kepada kolega saya di divisi penculikan.”

Jelas sekali para polisi tak menanggapi kasus ini dengan cukup serius, sehingga kami berusaha mewawancarai Ny. Ningsih secara eksklusif di rumahnya di Jl. Gunung Merbabu no. 17. Wanita itu tampak pasrah dan menerima nasibnya yang malang.

“Saya sedang mengambil beberapa potong cucian yang telah kering sambil bersenandung,” narasumber mengaku dengan mata bengkak penuh air mata. “Mayang-ku (kucingnya-red) sedang makan biskuit di teras. Segalanya terasa normal dan menyenangkan.”

“Lalu apa yang anda lihat?” saya bertanya.

“Ini betul-betul terjadi dan saya tak peduli apa kata orang mengenai ini,” ia berkata, sepertinya bukan untuk pertanyaan saya. “Demi Tuhan, saya tidak gila, demi leluhur saya di atas sana, saya tidak mengarang atau bermaksud mencari sensasi.”

“Ya, saya tahu. Bisa anda ceritakan detil kejadiannya?” tanya saya tak sabar.

“Tentu,” ia berkata. “Tapi anda jangan berpikir saya sinting ya!”

“Saya tidak akan berpikir seperti itu,” saya berjanji. “Anda dan saya sama warasnya.”

“Segalanya berlangsung sangat cepat,” ia berkata, mengumpulkan segenap tenaga untuk menuturkan pengalamannya. “Mendadak muncul cahaya biru dari langit, lebih terang dari matahari. Saya pikir ada helikopter jatuh atau semacamnya, tapi suasana sangat hening, sungguh tidak wajar, seluruh tubuh saya terasa kaku dan dingin.

“Selama saya meringkuk di tanah, benda yang mirip loyang perak mendarat persis di samping saya, diameternya tak lebih dari enam meter. Tiga mahluk pendek kurus meluncur keluar perlahan-lahan dari dalam benda itu, memakai pakaian ketat sewarna aluminium. Kepala mereka bulat seperti buah pir, dengan lengan-lengan panjang mengerikan. Berikutnya, saya hanya bisa menyaksikan tanpa daya ketika mereka mencengkeram Mayang dan membawanya pergi.”

“Ada lagi yang mereka lakukan?” saya kembali bertanya.
“Sejauh ingatan saya hanya itu,” kata Ny. Ningsih serius. “Tapi saya yakin salah satu mahluk aneh itu menyicipi biskuit-nya sebelum masuk ke dalam pesawat.”

“Bagian itu sangat aneh,” komentar saya berjengit. Wanita itu mengangguk setuju.

“Dan anda tak mendengar kabar kucing itu lagi sampai sekarang?”

“Mayang-ku sayang,” ia bergumam, berlinang air mata. “Aku sangat mencemaskan dia. Anda takkan percaya apa yang biasa dilakukan alien pada korban-korban penculikannya. Mereka dikuliti dan diperkosa.”

Setelah cukup informasi yang kami perolah dari narasumber, kami pun mewancarai para tetangga Ny. Ningsih di sekitar jalan Gunung Merbabu—dan kami mendapat fakta yang cukup mengejutkan.

“Otaknya tidak beres, Ny. Ningsih itu,” kata pak Widodo (66) seorang lelaki dengan perut buncit kepada kami. Pria ini tinggal persis di samping rumah Ny. Ningsih. “Kalian tahu betul apa yang bisa dilakukan orang-orang untuk mendapatkan publisitas dan keuntungan. Ningsih jelas sekali pembual besar dengan otak miring. Tak ada sesuatu yg aneh di langit, percaya padaku. Satu-satunya cahaya yang saya lihat sore itu berasal dari matahari.”

Saat mewawancarai pria aneh ini kami mendapat kesan bahwa dia sangat membenci Ny. Ningsih bahkan sebelum kasus penculikan ini terjadi. Ada nada sentimen berlebihan setiap kali ia membicarakan tetangganya itu.

“Terimakasih atas waktu anda,” potong saya buru-buru ketika Pak Widodo mulai menjelaskan perselisihan turun-temurun antara nenek moyangnya dengan nenek moyang Ny. Ningsih puluhan tahun silam.

Namun kami menjumpai saksi mata yang jauh lebih menyenangkan, ia seorang pemuda yang kos di belakang rumah Ny. Ningsih ( tempat itu hanya dibatasi pagar kayu pendek) Ia bernama Rudi Sanjaya (20)

“Iya. Saya melihat cahaya biru,” katanya semangat. “Saya sedang mandi saat itu. Ketika mata saya terkena busa sampo, meram dan meraba-raba untuk mencari gayung mandi, cahaya biru itu menyorot dari jendela, begitu terang sampai saya lupa kalau mata saya perih. Lalu saya mendengar seseorang wanita berteriak keras di suatu tempat, tapi saya tak repot-repot keluar untuk memeriksa karena saya sedang telanjang dan berlumur sabun.”

“Saya selalu percaya ada mahluk-mahluk cerdas di luar sana sedang mengawasi Bumi,” ia melanjutkan. “Anda tak percaya kan kalau kita satu-satunya mahluk berakal yang menghuni galaksi yang sangat luas ini? Alien dan UFO bukan hanya fiksi yang ada di film-film, anda boleh memegang kata-kata saya. Tunggu lima belas atau dua puluh tahun lagi akan ada kapal induk raksasa yang mendarat secara resmi di bumi. Mereka datang dengan misi perdamaian.”

Pada saat yang sama saya melihat poster film Star Wars dan Men in Black yang besar sekali di tembok kamar kos pria itu, sehingga antusiasme saya akan ceritanya sedikit ternoda.

baca lanjutannya di sini http://kemudian.com/node/101942

[tab:Hal 4]

________________________________________
Post by: BloodSin on March 17, 2008, 12:33:31 pm
________________________________________
payah banged nih.. gw nyambit banyak orang di postingan gw sebelomnya gak ada yg protes/ngomel2, padahal gw amat mengharapkan hal itu.. :P
beneran nih, gak ada yg mau berargumen? ya sudah, berarti eike menang ngelawan ente semua.. ;D

@euthalia,
gw sebagai pembaca novel2 fantasi lokal gak menuntut gaya bahasa yg hiperbolis/bermetafora indah, yg gw harapkan adalah gaya penceritaan yg ‘cerdas’ dan mengalir. Cerdas disini maksudnya gak bertele-tele, konsisten, dan cocok dengan tema yang diusungnya. Kalo yg ditulis tipe fantasi sadis yg mengumbar adegan2 berdarah, gunakanlah gaya bahasa yg ‘dingin’ dan suram. Kalo yg ditulis fantasi ringan, gunakanlah gaya bahasa yang dapat memancing tawa pembaca.
Sementara, gaya bahasa yg mengalir adalah gaya bahasa yang dapat menciptakan mood si pembaca untuk terus membaca sampai akhir. Disini keahlian penulis untuk memilih dan menyusun kata2 mutlak dibutuhkan.

Hmmm.. Gw ngomong begini bukan berarti gw bisa memenuhi dan melakukan hal-hal kayak begini, ini murni opini dan kemauan gw sebagai pembaca..
sebagai penulis, kita menghadapi tantangan yg sama.
________________________________________
Post by: alk on March 19, 2008, 11:30:19 pm
________________________________________
8) halo2 semua…

:-[ masukin sepotong cerita lagi yah, sekedar meramaikan thread ini. gw jarang bikin cerita romantis nih (ga ahli :'() tolong commentnya...

KHAEL DAN MARINA

Marina, sang putri duyung
Senja menjelang. Ufuk barat dihiasi semburat merah tatkala sang surya mulai turun dari singgasananya, hendak bersemayam kembali dalam peraduannya. Cahaya sore yang hangat memancar menerangi pantai sunyi itu, memperindah warna karang dan debur ombak, memikat hati sepasang insan yang dimabuk cinta.

Marina memandang sosok di depannya dengan pandangan memuja yang tak puas-puasnya. Hatinya dipenuhi dengan suasana indah yang berbunga-bunga. Selalu begitu jika mereka berdua bertemu. Ia menyadari dengan sangat jelas bahwa ia sedang jatuh cinta. Cinta yang mustahil untuk tergapai. Namun baginya juga mustahil untuk ditolak atau dienyahkan dari dalam sanubarinya.

“Bisakah kau nyanyikan lagi sepotong lagu untukku, Marina. Suara merdumu... tak pernah jemu aku mendengarnya.” Sosok memukau di depan gadis itu berucap. Suaranya yang tenang dan dalam menggetarkan hati Marina. Permintaannya tak pernah bisa ditolak putri duyung jelita ini.

Marina tersenyum dan mulai bersenandung, lagu merdu tentang kisah penantian Diane akan kembalinya sang kekasih hati Leandor, dua manusia duyung yang menjadi legenda karena cinta abadi mereka.

“Dalam samudra harapan selalu kunantikan,
kehadiranmu Leandor kekasihku.
Kau kan lindungi aku dalam dekapan lembutmu,
dan biarkan malam lewat denganku di pelukmu,
hingga esok waktu cahaya baru menjelang...”

Khael, sang malaikat bersayap hitam
Khael menatap sosok di depannya dengan rasa kasih sayang yang tak tersembunyikan. Ia jatuh cinta, itu tak hendak dipungkirinya. Meskipun mereka begitu berbeda, nada-nada asmara tak mampu diusirnya dari dasar sanubari. Seiring lantunan merdu lagu yang dibawakan sosok jelita di depannya itu, benih-benih cinta yang sudah kuat berakar dalam hatinya mulai tumbuh dan berkembang, tak bisa lagi dihentikan.

“...dan ketika langit semakin terang,
ku takkan jemu bertanya pada sang awan,
kapan Leandorku kan kembali pulang...”

Suara merdu sosok nan indah memukau di depan matanya itu seakan membawa Khael, sang pria bersayap hitam, terbang tinggi di awang-awang, membumbung bersama awan dan elang, menari dibawah sinar mentari.

Tak puas-puasnya mata pemuda perkasa ini memandangi sang pujaan hati. Memandangi rambut keemasannya yang berkilau jelita tanpa noda, mata birunya yang jernih laksana langit cerah di musim panas, hidung mancungnya yang mungil mempesona, bibir indahnya yang merah merona menyejukkan sanubari, kulit langsatnya yang indah tak bercela, dengan jalinan rumput laut sebagai pakaian yang kian memikat hati, dan bahkan sisik mengkilap kebiruan di bagian bawah tubuhnya yang demikian sempurna. Marina, dengan kelembutan hati dan ketulusannya, adalah wujud sempurna yang selalu diimpikannya.

Marina, sang putri duyung
Senandung Marina belum berhenti. Segenap isi sanubari putri duyung jelita ini tertumpah keluar lewat senandung merdu itu. Dan, dengan sosok pujaan hati berada tepat di depannya, hal itu mengalir secara sangat alami, seolah untuk hari inilah lagu yang dinyanyikannya tercipta.

“Kekasihku, pujaan hati...
senandungku kan slalu mengiringi jalanmu,
membawakan kasih sayang yang tertumpah dalam impian,
tentang hidup bahagia, bersama selamanya...”

Bahkan setelah senandungnya memudar habis, Marina tak berhenti menatap sang pujaan hati. Menikmati keindahan sosoknya; wajah yang demikian eloknya, dengan tatapan lembut mata hitamnya yang menenangkan sanubari, hidung kokoh yang tiada duanya, senyum tulus yang penuh kasih sayang, rambut gelap yang indah alami dimainkan angin lalu, tubuh tegap gagah sempurna, dan sayap hitam yang memukau... lembut sekaligus kokoh. Khael, dengan kasih sayang dan keberaniannya, adalah sosok sempurna yang tak pernah lekang dari benak Marina.

[tab:Hal 5]

________________________________________
Post by: BloodSin on March 21, 2008, 12:28:34 pm
________________________________________
@alk,
gw udah baca potongan cerita u.. hmm.. gmn yak. it doesnt work on me, actually. nice try buat kata-kata indahnya, tapi sejujurnya, it’s rather lame to me…

Begini Alk. Ada perbedaan antara gaya bahasa yang ‘dibuat-buat’ dengan gaya bahasa yang mengalir apa adanya… Dalam cuplikan naskah romance lu ini, terasa banged ‘dibuat-buat’nya.. gw sebagai pembaca ngerasa u menulis.. tidak dengan hati yang jujur..(halah :P )
sebagai penulis, kita punya masalah yg sama: mencoba bereksperimen dengan sastra dan hasilnya malah aneh… tapi lebih parah lagi, lu mencoba mengintegrasikan sastra dengan romance.. menurut pengalaman gw, mixing sastra x romance jauh lebih sulit daripada sastra x deskripsi umum/setting, sastra x humor, ato sastra x action..
kalo mau tahu gaya bahasa romance yg jujur (terasa alamiah/gak dibuat-buat), coba baca/tonton karya-karya yg melibatkan literatur shakespeare.. keren banged tuh romance-nya.
tapi dont worry lha, mungkin dalam kasus ini emang gw aja yg gak mengenal konsep romantisme… :P

oya, sekali lagi, gw mengatasnamakan komen gw sebagai seorang pembaca ya.. secara, sebagai penulis, gw ga yakin bisa nulis secakep ini. :D
yg jelas kalo menurut gw sih, nulis romance jauh lebih sulit dari bikin humor. jadi, berhati-hatilah… kita gak mau kan usaha keras kita malah ngebikin cacat naskah kita? ;)
________________________________________
Post by: BloodSin on March 21, 2008, 01:04:50 pm
________________________________________
@all,
new topic! new topic! (seperti biasa, orang bijak selalu muncul belakangan untuk menyelamatkan dunia(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif))
caranya sama kaya kemaren.. gw selaku pembuka topik mau mengemis pendapat ke setiap dari elu orang semua.. kali ini kita bakal ngomongin tentang kemungkinan opening/prolog dalam novel fantasi. (soalnya gw emang lg ngurusin beginian di proyek terbaru gw skrg :P )

ada banyak penulis fantasi yg mengawali kisahnya dengan memperkenalkan dunia rekaannya secara detail, tapi ada juga yg langsung masuk ke pokok permasalahan/action.
yang mau gw minta ke u orang buat dijawab, bukan prolog macam mana yg paling bagus, tapi tambahan opsi bagaimana kemungkinan2 untuk sebuah prolog:
ok, i’l go first.

Versi Prolog #1:
Penggambaran setting secara mendetail dari dunia rekaan/adopsi dalam novel, mencakup latar belakang sejarah, keadaan geografis, ras-ras yang ada, struktur masyarakat, dll..
Akan ada dua kemungkinan reaksi pembaca: terbosan-bosan dengan deskripsi yang menumpuk dalam dunia khayal kita, atau malah cenderung excited.
Contoh prolog semacam ini(sekalian mau pamer ke anak2 baru juga sih(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)):

http://kemudian.com/node/41181

Versi Prolog #2:
Penggambaran sisi dan sejarah kelam dari villain(tokoh/pihak antagonis) yang meneror dunia rekaan/adopsi kita. Keuntungan dari prolog semacam ini, pembaca akan langsung dapat melihat pokok permasalahan yang ada, dan what as master villam said, pembaca akan langsung terikat secara emosi terhadap naskah kita. Terlebih jika dalam prolog itu digambarkan kekejaman si antagonis.. denyut ‘hidup-mati’ dalam novel kita akan langsung terasa.. yah..kira-kira begitulah yg gw pelajari dari mr. villam pada jaman dahulu kala, barangkali yg bersangkutan mau menambahkan.. :)
Contoh prolog ini:
?? (ada yg mau memberi contoh?)

Versi Prolog #3:
Langsung masuk ke action! Penggambaran action bisa macam2: penggambaran sebuah duel sengit, jalannya sebuah perang, prosedur pembunuhan, penyerbuan, dll.
Contohnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif):

http://kemudian.com/node/47324

Versi Prolog #4:
Prolog yang paling pasaran dan klise: penggambaran orang bangun tidur!
Contohnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif):

http://kemudian.com/node/41217

Versi Prolog #5, #6, #7, dst:
Silakan ditambahkan..

n.b:
perlu gw tekankan, bbrp contoh prolog yg gw kasi di atas adalah bukan berarti jenis tulisan prolog yg benar/sempurna (mungkin yang ada malah cacat di sana-sini(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)), dari prolog2 itu gw cuma mau memberikan sedikit pendekatan dari teori2 yg sudah gw paparkan (sekalian sebagai ajang pamer juga sih (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)).. gitchu deh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)
________________________________________
Post by: hege on March 21, 2008, 02:28:34 pm
________________________________________
Rey, topikmu kali ini agak membosankan. Prolog sudah dibahas jutaan kali sebelumnya. But, intinya, pikirkan baik-baik saja kalimat pertama yg akan kau tulis untuk memulai sebuah kisah. hal-hal klise, basi, kuno dan menyebalkan tak bisa ditolerir baik oleh editor penerbitan dan pembaca.

[tab:Hal 6]

________________________________________
Post by: rd_Villam on March 21, 2008, 03:39:29 pm
________________________________________
@rey,
aku belum punya pemikiran baru soal prolog, jadi kukutip saja dulu tulisan dari blogku. mudah-mudahan bisa sedikit menyegarkan kita, baik yang sudah pernah baca maupun yang belum sempat.
————————

Tentang Opening

Apakah kalimat pembuka novel sudah cukup menarik perhatian? Belum?
Kalo gitu apakah paragraf pertama sudah? Belum juga?
Halaman pertama? Belum juga?
Lima halaman pertama? Belum juga?
Prolog ataw bab pertama? Belum juga?
Heheh… berarti bencana ya… mesti dibongkar lagi dari awal.

Katanya sih prolog ataw bab pembuka yang bagus mengandung hal-hal sbb:
§ Menjadi pintu pembuka cerita, alias memberi gambaran pada pembaca jenis cerita macam apa yang bakal dibaca, dan sedikit petunjuk apa yang kira-kira bakal terjadi di akhir cerita. Jangan ngebohongin pembaca nih, misalnya ceritanya cinta-cintaan tapi bukanya kok pake model misteri atau action. Heheh… tone-nya beda kan?
§ Memperkenalkan karakter atau protagonis utama (ataw paling lambat di bab 3 harus sudah muncul. Di halaman berapa tuh? 20, 30 atau 50?). Tentu saja beserta problem (eksternal/internal) yang dihadapinya, jadi ya jangan cuma kenalan basa-basi doank. Lumayan buat bikin pembaca simpati sama protagonis sejak awal.
§ Memperkenalkan setting. Penting juga, tapi emang bakal banyak narasi deskriptif sih, makanya mesti diimbangin sama dialog dan action yang lebih banyak di awal. Heheh… ngomong sih gampang.

Pertanyaan lanjutan:
Apakah ceritanya memakai prolog sebagai opening?
Apakah ceritanya memang benar-benar butuh prolog? Atau cukup bab pertama ajah?

Buat ngejawab, tes ajah dua hal ini:
§ Kalo misalnya prolog itu dihapus, pengaruhnya signifikan gak terhadap plot?
§ Kalo misalnya prolog itu diubah namanya jadi bab pertama, kerasa bedanya gak di plot ataw suasana cerita?
Kalo kedua jawabannya ya, berarti prolognya emang udah berfungsi dengan benar.

Emang sih, keliatannya keren kalo cerita kita pake prolog (trus ada epilog juga di belakang), tapi jangan sampe prolog itu cuma jadi pemanis yang gak perlu. Maksudnya pemanis tuh cuma buat memperkenalkan suasana atau action buat memikat pembaca, tapi ternyata gak terlalu berkontribusi membuka plot utama cerita. Padahal yang terakhir itulah yang jadi tugas utama doi.
Hmm, pusing ya?

Heheh… yang jelas sih bikin prolog gak bisa sembarangan, dan sebagai seorang spesialis, doi emang punya tugas yang berbeda dibanding bab pertama, sesuai dengan empat buah tipenya, yaitu:
§ Memperkenalkan protagonis di masa datang. Ini model seorang anak yang udah jadi orang tua sekarang, trus menceritakan petualangan dia waktu kecil bersama teman-temannya, misalnya. Biasanya suasananya jadi kerasa reflektif, karena tentu saja si anak udah jadi orang bijak sekarang.
§ Memperkenalkan protagonis di masa lalu. Ini model cerita Batman yang membuka cerita dengan masuknya doi ke gua kelelawar di waktu kecil, buat memberi petunjuk pada pembaca mengenai asal mula karakternya, sebelon masuk ke cerita utama.
§ Memperkenalkan POV yang berbeda. Ini model korban penculikan yang bercerita gimana dia diculik, buat pengantar cerita utama dimana POVnya adalah sang detektif, yang nantinya pada tengah atau akhir cerita akan bertemu dengan korban penculikan tersebut.
§ Memperkenalkan background atau setting cerita. Sering ditemukan di cerita Scince Fiction ataw Fantasy, yang menceritakan sebuah kota atau negeri di bagian prolog. Biasanya sih paling susah, karena emang susah buat ngebikin narasi deskriptif yang panjang di awal tanpa membuat pembaca bosan.

Ya gitu deh, sementara… corat-coretnya.

[tab:Hal 7]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 22, 2008, 10:01:53 am
________________________________________
Versi prolog #5:
Cerita diawali dengan pertanda-pertanda/mimpi janggal/kejadian penting/peristiwa aneh.. Keunggulan prolog semacam ini, pembaca akan langsung dibuat penasaran dan terikat pada awal cerita.
Contoh:
Prolog Hozzo: Ferres yang Hilang

Versi prolog #6:
Cerita dibuka dengan pendekatan filosofi yang nantinya filosopi tersebut sinkron dengan keseluruhan isi buku.
Contoh:
Prolog The Forgotten Heroes

Versi prolog #7:
Cerita dibuka dengan sebuah dongeng kecil yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan isi cerita secara keseluruhan. Prolog semacam ini cukup langka, dan jarang ditemui.
Contoh:
Prolog The Alchemist
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 24, 2008, 03:11:24 pm
________________________________________
@Kak Dian…
Kangen banget ni (Cielah…pura2 manja ni ;D)
Aku mau nanya boleh ga?
Cara bikin crita kita ada ‘greget’ itu gimana?
Ada kiat2nya ga?
Trus gimana cara menyelami emosi tokoh2 crita kita?
________________________________________
Post by: clickdian on March 24, 2008, 05:22:34 pm
________________________________________
Lia
Kangen? hehe.. jadi malu :P

Cerita greget? hmm.. ini relatif, ya. sangat tergantung dari keinginan dan keahlian (if you see what i mean) si penulis. intinya sih usahakan meninggalkan sesuatu yang akan berkesan bagi pembaca. entah membuat penasaran, atau yang mengaduk-aduk emosi, atau bisa aja detail dari kejadian sehari-hari biasa tapi karena si penulisnya jago merangkai kata-kata jadi terasa luar biasa.

maaf, lia, untuk yang satu ini aq ga bisa banyak bantu. ini tergantung jam terbang setiap orang, dan yang paling penting, aq juga masih tahap belajar, belum jago bikin greget. practice makes perfect (duh, klise banget, tapi bener).
Kalo menyelami emosi.. ini lebih gampang menurutku..
bayangin aja kalo kamu itu dia.
tapi jangan lupa, kamu harus punya personality sesuai dengan si tokoh yang kamu ceritakan itu; karena beda personality, tindakan yg diambil setiap tokoh akan beda. ini mirip akting, hanya diekspresikan dalam bentuk kata2, bukan visual. kalau kamu udah nguasain ini, karakter kamu akan lebih hidup :)
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 02, 2008, 03:27:58 pm
________________________________________
Rekans semuanya, salam kenal.
Sekaligus memperkenalkan blog pribadi saya yang khusus mengulas buku-buku Fiksi (ilmiah) dan Fantasi karya pengarang Indonesia.

http://fikfanindo.blogspot.com

monggo mampir,… :)

BTW, ada boss Hege di sini, toh. Buku ente ada di reviewku juga lho,.. iya yang dulu itu.

Salam,

Cheppy
aka: FA Purawan

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi VI (3 Mar 2008 – 14 Mar 2008)

  • Down ditolak penerbit?
  • Hal apa yang paling penting dalam novel fantasi?
  • Gaya Bahasa vs Plot

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: alk on March 03, 2008, 09:40:36 pm
________________________________________
@ didie-sy
sekedar comment…
gw juga udah baca GORAN, reviewnya om blood dah mantep kok,
plot bagus, gaya cerita menarik, karakterisasi hebat, ending… mengenaskan… :’(
yg ga puas sama GORAN gara2 endingnya kali, tapi…
judulnya GORAN – Sembilan Bintang Biru, bintang biru yang keluar di cerita baru 3,
logikanya… pasti ada kelanjutannya ntar :D
mungkin jadi trilogi, atau tetralogi, atau pentalogi.
liat aja nanti. ;D ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 03:14:48 pm
________________________________________
Quote from: didie-sy on March 03, 2008, 03:04:04 pm
aloooo semua :-*
aloo blood sin,aku didie n jarang maen-maen ke pulau penulis
tadi aku udah posting siy tp ga tau masuk ga?aku dikasi tau tentang goran sama temenku tapi masi ragu.
review lo tentang goran kok beda banget sama review kobo chan di kutu buku.com?dia negatif gitu.kynya kalian baca buku yang beda ya?yang bener yang mana?

halo didie-sy, salam kenal juga :-* (lagi2 ketemu ama yg batangan(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif), tp gpp deh, eke tetep welcome yey :-*)
gw udah baca review versi dia… yg ini kan:

http://www.kutubuku.com/review/kobo-chan/goran—sembilan-bintang-biru.html

?
kalo yg gw liat, dia protes (ane lg menggebu2 ngikutin eniyorda pas ngebelain hozzo ceritanya nih :P ):
1. knp tokohnya bukan orang indo?
2. terus… knp dalem planet vida, ada istilah2 bahasa inggris?

poin 1 bener2 subjektif sifatnya… dia menilai itu murni pake selera dia… payah banged dah(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
hmmm.. kalo dia terus pake standar ini buat menilai fantasy2 indo, gw jamin dia kagak bakalan ada puasnya, secara hampir semua fantasi lokal yg udah terbit bersetting non-indo. (cuman 1-2 doank setau gw yg settingnya indo, itupun cuman depan2nya aja, kayak hozzo/numeric uno :P )

yg poin 2, dia bener2 blunder tuh, gak ada orang/istilah vida yg pake bahasa Inggris!
justru disini gw salut sama pengarang bisa kepikiran bikin ‘bahasa ajaib’ dari bahasa inggris yg dibolak-balik.. :D
serius gw ngakak pas baca dialog2 ajaib Soil..
kalo gw bilang sih, review nih orang bahkan lebih nyebelin dari review si ‘FP’ (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)

hmmm.. gw gak bisa nentuin ente bakal demen apa kaga sama novel ini, tapi kalo mengukur dari segi plot, setting, gaya bahasa, jokes, GORAN ini yg paling ‘fleksibel’ buat diterima semua kalangan dibanding novel2 fantasi lokal laennya..

maksud gw, ga peduli tuh orang dari aliran RPN/LOTR/HarPot, harusnya bisa dapet mood kalo baca GORAN.. novel ini gak seserius novel fantasi kebanyakan, tapi juga gak seenteng novel2 tenlit.. pokoknya ‘seimbang’ dah. jadi harusnya target pembacanya cukup luas.. makanya gw sebut dia ‘the best novel fantasy indo’ dari semua yg pernah gw baca..
tapi tergantung selera juga sih :P

[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 05, 2008, 03:37:31 pm
________________________________________
btw, rey, penjelasan lanjutan lu tentang goran cukup obyektif nih. salut.
tapi memang, namanya pembaca pasti akan menilai berdasarkan selera masing-masing. dan pasti akan ada yang positif dan negatif. bahkan seorang kritikus yang katanya mumpuni pun sebenarnya menilai berdasarkan seleranya pula.
jadi jika ada yang berbeda pendapat, ya nikmati sajalah… heheheheh…
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 03:48:53 pm
________________________________________
bukannya gw gak mau menerima beda pendapat bang.. :D
gw paling sebel kalo ada orang yg nge-review novel udah kaya pemain sepakbola ngomentarin pemain basket..
dia protes kenapa pemaen basket boleh megang bola, jumlah pemainnya cuman lima, ga ada kiper, dll..
kalo menurut gw sih kurang bisa berpikir luas tuh orang :P
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 04:01:25 pm
________________________________________
tapi ya.. sebetulnya wajar juga sih ada juga orang-orang yg protes kalo ada penulis indo yg nulis pake setting asing..
sebetulnya sih, ini tergantung dulu.
kita liat dulu gmn si penulis mendeskripsikan setting asing dalam ceritanya, ‘berhasil’ apa kagak?
kalo yg gw liat di GORAN, penulis udah cukup berhasil ngebawain setting jepang sama tiongkok dengan kebudayaan2nya.
buat contoh, di GORAN tokoh aniki dikejar2 ama cewe..
secara statistik ini valid, di jepang emang lebih banyak cowo yg ditembak cewe daripada sebaliknya.
gw justru ilpill kalo ada penulis yg berani bikin setting barat, tapi gaya idup/kebudayaan yg berlaku di settingnya itu malah mirip ama gaya anak jakarta.. kalo nemuin yg kayak begitu, gw jadi ngerasa kayak nyaksiin adegan2 yg diperanin ama ‘bule celup’ :P
ada beberapa novel fantasy indo yg kayak begitu. dan emang justru setting luar-nya itu malah jadi kecacatan..
tapi ada juga novel2 fantasi indo bersetting luar yg sukses nampilin setting luar-nya, dan mestinya, yg kayak begini udah ga bisa dihujat lg dari segi settingnya..
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 05, 2008, 04:15:52 pm
________________________________________
yeah…
elu bener lagi…
apalagi kalo liat cerita bersetting barat tapi dengan gaya bahasa ‘elu-gue’. duh duh duh…
mbok ya gaya bahasa itu disesuaikan dengan setting dan karakternya…
btw, kalo aku pribadi sih, bagus kalo kita bisa bikin fantasy yang bersetting lokal. tapi kalo emang kita merasa lebih cocok membuat setting barat, timur, utara, selatan atau bahkan antah berantah, dan ini lebih nyaman buat kita, ini lebih bagus. apalagi jika riset kita soal setting ini juga bagus, hasilnya tentu dijamin bagus pula dah.
________________________________________
Post by: clickdian on March 06, 2008, 12:43:00 pm
________________________________________
# Lia
What’s on you?
Bener down karena ditolak penerbit?
Hmm.. itu mah biasa.. ga perlu malu, ga usah mundur, apalagi sampe kehilangan kepercayaan diri.

Gini lho.. naskah ditolak bukan berarti naskah jelek atau penulisnya tidak berbakat. Seringkali karena rule dan kondisi dari penerbitnya.
Misal… penerbit hanya mau menerbitkan genre tertentu, smntara kita ga tau itu dan mreka ga publish mngenai rule ini.. maka karya di luar genre tsb otomatis dieliminasi.

atau, naskah bagus tapi setelah dipertimbangkan ternyata diprediksi tidak sesuai/ tidak akan banyak permintaan pasar. ini mah ilmu ekonomi ikut bicara, aq ga banyak tau soal ini.

atau…. selera editor, seperti yg kita ketahui setiap org kan seleranya beda2 (contoh nyata deh, Rey bilang Goran bagus, tapi aq–walopun emang ngejogrok di genre fiksi fantasi–ampe sekarang belum punya keinginan untuk baca sama sekali). editor penerbit A bisa jadi akan mengatakan hal yang sebaliknya dengan editor penerbit B untuk naskah yang sama.

kalau naskah kamu ditolak, bisa jadi karena ketiga hal ini, atau hal lain yg aq belum mention di atas.
but anyway, mundur bukan jalan terbaik, menurut aq, ya. kamu cuma belum dapet jalannya aja. tunggulah, semua akan indah pada waktunya…

ngomong2 soal ditolak.. aq pernah tuh, masukin naskah ke gramed, dan ditolak dengan sukses ;D
naskah itu terus aq masukin ke penerbit lain, yang editornya bilang sebenernya bagus, cuman dia bingung mau masukin ke genre mana, walhasil tu naskah setaun lebih nangkring di meja dia detik reply ini diposting! T_T
digantung, tuh, bageuuussss… :D

mending ditolak, kan, ada kepastian iya ato nggaknya ;D
tinggal kirim ke penerbit lain, berdoa, menunggu, beres.

So, kembalilah.. *duh, telenovela banget yah? :D *
Kita discuss lagi, poles lagi, dan jadi lebih baik. Dan someday, kalo kamu inget pernah ditolak, kesuksesan kamu akan lebih terasa nikmatnya ;)

[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 10, 2008, 07:39:37 am
________________________________________
belakangan ini gw suka bingung kalo masuk sini mau posting apaan :P
lagi keabisan topik diskusi yak.. :D
hmm.. gw selaku TS bikin bahasan baru dech.. :-* :D

menurut kalian para penulis fantasi, mana yg lebih penting antara:
-plot
-karakterisasi
-gaya bahasa
-setting
-jokes
dalem sebuah novel fantasi?
hmm.. gw mau liat proporsi selera lu orang berdasarkan prioritas (urut dari prioritas 1 sampe 4)..

kalo gw pribadi sih:
1. plot
2. setting
3. karakterisasi
4. gaya bahasa
5. jokes (gw gak pinter bikin jokes :P )
hmm.. ato mungkin yg laen mau nambah elemen2 lainnya? ???
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 10, 2008, 08:42:34 am
________________________________________
refrensi rey..
itu penting banget.

sekalian deh,

buat penulis Hozzo

sebelumnya, makasih udah memberikan pinjaman bersyarat atas buku anda. selain itu, saya sebagai pembaca berterimakasih atas “KERAMAHAN” anda atas komplain saya beberapa waktu lalu atas betapa jeleknya sebenarnya sosok hege yang sebenarnya :P .

nah memasuki hal inti, sebelumnya mohon maaf karena ini adalah tanggapan pribadi atas apa yang saya baca. jika ada yang kurang berkenan, mohon dimaafin :P

buku itu beneran deh, kek perpustakaan berjalan. bikin pala pusing kala dibaca malam2, tapi akan sangat menyenangkan jika dibaca pagi-pagi buta. perjalanan yang aneh, butuh konsentrasi untuk ikut serta dalam perjalanannya. nah berhubung bacanya tak selalu konsen jadi bagian perjalanan ke Tudag ga bisa ngebayangin jenis pulaunya begimana. tapi saat berkendara dengan pla-veos, hee… keren oe..

nah, terlalu banyak hal baru yang ada di buku ini, jadinya semua hal-hal fantasinya terasa datar. mungkin karena diceritakannya secara umum kali ya, tapi ada beberapa detail yang tak bisa aku bayangkan penggambarannya, seperti semangka bergerigi ataupun pintu yang membuka dengan gerakan silang (saat di ruang inkubasi)

yang menarik juga yaitu, tentang kehidupan para alien di planet huminiz. ternyata, biarpun penulisnya mau membuat setting tempat yang berbeda, tapi kesan bumi masih melekat. tentang sebutan rumah sakit, dokter dan tukang kebun. kenapa tak dibuatkan sebutan yang lain, untuk menghilangkan kesan kalau mereka masih di bumi?

selain itu, ALIEN, merupakan sebutan orang-ornag bumi pada makhluk luar angkasa, tapi kenapa sih para makhluk luar angkasa masih juga menyebut sesama mereka dengan sebutan alien.sekali lagi, kenapa mereka tak punya merk untuk jenis mereka,

untuk tokoh utamanya, entah karena aku yang kurang konsen atau emang tak disebut, aku tak tahu umur Alan berapa ya? hee… maaf kalau di buku udha disebut ya
tapi pembicaraan dan pola pikir mereka sedikit terllau dewasa untuk anak remaja seumuran mereka.

pemakaian sebuah istilah yang tak konsisten.
WANITA ALIEN dan ALIEN WANITA timbul bergantian.
Nah kepada bang Villam, master bahasa, coba mana sih diantara istilah itu yang tepat untuk menunjukkan alien yang berjenis kelamin wanita?

secara umum, buku ini hebat. refrensinya komplit dan benar-benar mendukung. tak salah plotnya disusun dalam dua tahun (plotna aja mbo.. apalagi bukunya coba ;D). aku maish nungguin buku lanjutannya yang entah kapan nyusul terbit (tentunya minjem gratisan lagi yak. hee ;D)

dan mungkin seperti seseornag yang disebu penulis, buku ini ngebuat aku minder sendiri. huu… :’(
________________________________________
Post by: hege on March 10, 2008, 10:24:42 am
________________________________________
Terimakasih untuk TS kita tercinta untuk bahasan barunya, mari tingkatkan kualitas thread tersayang ini. Post seperlunya dengan topik bermutu dan memang pantas didiskusikan.

Semua itu penting, semua mendukung kualitas cerita, tapi kadang kala beberapa lebih menonjol dari yang lainnya.

Menurut hege Gaya Bahasa atau bentuk tulisan menduduki peringkat pertama, karena itu love-at-the-first-sight, apalagi untuk editor, paragraf2 pertama novel adalah harga mati, gak peduli sekeren apa ceritanya di dalam, atau seganteng apa karakternya di dalam. Bentuk tulisan sangat menentukan betah-tidaknya pembaca untuk melanjutkan.

berikutnya dengan porsi baik, pas dan seimbang: plot, setting, karakterisasi dan humor sense (hege tak menyebutnya jokes, karena kadang kala humor sense itu ga mesti jokes yg bikin ngakak, tapi kalimat-kalimat yang membuat pembaca antusias, takjub dan terbius)

@arik
terimakasih atas reviewnya. Sangat kuhargai. Mengenai istilah dan sebutan di planet Huminiz, oh tentu hege sudah menterjemahkannya ke dalam bahasa bumi, dan itu penting untuk pemahaman dalam membaca (well tentu saja kan?). Jika arik penasaran, zooke adalah sebutan tukang kebun dalam bahasa Humin, Var adalah sebutan dokter, dan banyak lagi yg lain. Tapi itu akan semakin memusingkan pembaca bukan? (ada ratusan istilah baru yg telah kuciptakan di novel ini ;D)

mengenai sebutan alien, oh pls rik, penggunaannya hanya untuk pemahaman pembaca saja, sekali lagi, terlalu banyak ras yang ada di planet luar sana untuk hege ciptakan sebutan, hehehe. Lagipula Wet dalam bahasa bumi menerjemahkannya seperti itu.

Tentang semangka bergerigi dan pintu terbuka dengan gerakan menyilang. Come on, anak SD pun bisa membayangkan itu ;D

but once again thanks so much for your review, rik (ini review pertamamu bukan?) semua review pembaca (lewat buku pinjaman atau beli) sangat berharga untuk saya.
—-

[tab:Hal 5]

________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 10, 2008, 01:44:17 pm
________________________________________
1. Klo aku setuju ama Hege, gaya bahasa tuh paling penting dlm sebuah karya.
Coz gaya bahasa nunjukin keunikan and ciri khas dr seorang penulis itu.
Mgkn bisa dibilang seperti identitas gitu dech!
2. Truz Setting, membangun suasana negeri fantasy tuh sulit, jd penting banget klo ini diprioritasin.
Semakin oke setting, bakal lebih mudah membuat pembaca seakan bisa ikut ‘tersedot’ di dlm dunia fantasy itu.
3.Plot.
4. Karakterisasi, semakin baik penggambaran karakternya maka pembaca bisa kenal lebih deket ama para tokoh.
Asyik banget kalo pembaca bisa menyelami kepribadian tokoh2 kita and seakan2 pembaca kenal baik ama para tokoh.
5. Jokes? wah, selera humorku ga bagus. jadi kayanya ni kelemahanku.
Ada solusi?
Btw, ni smua pendapatku lho!
Gimana pendapat yg laennya?
________________________________________
Post by: alk on March 10, 2008, 08:55:37 pm
________________________________________
bagiku:
1. plot (gaya bahasa penting buat first impression, tapi tetep aja kalo plotnya nggak mengesankan, sebentar juga dah lupa ceritanya)
2. gaya bahasa + jokes (menurutku sih, jokes masuk dalam gaya bahasa juga)
3. karakterisasi (nggak seru kalo karakternya nggak bisa dibayangin ;D)
4. setting (biarpun urutannya bawah gini, ga berarti ga penting nih >:()
5. referensi (kalo ada bagus banget, kalo ga ada… ya diadain lah ;D)
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: hege on March 12, 2008, 11:19:10 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on March 11, 2008, 07:53:20 am
>Quote from: hege on March 10, 2008, 02:16:56 pm
>baca novel2 dengan selera humor layak akan membantu
>Rowling, RL Stine, Roald Dahl, Tolkien’s Hobbit
RL Stine gada lucu2 om, serem mah iya :P
Hmm.. setelah gw pertimbangkan secara mendalam, selera humor sama sekali gak bisa diukur.
Penulis fantasi ga bakal bisa ngerti/ngakak baca humor2 ala teenlit, dan begitupun sebaliknya. Jadi, sebetulnya kita gak bisa menjudge suatu bacaan kocak mampus/jayus kronis tanpa mengatasnamakan “menurut gw/aku/ane/eike”.
kalaupun ada pengecualian di mana ada pembaca yg ngakak baca teenlit maupun fantasy maupun jenis2 bacaan lainnya, berarti sang pembaca itu emang memiliki selera humor yang fleksibel.

Jadi yang susah adalah, bagaimana menciptakan humor yang diselerai masyarakat luas (dari berbagai kalangan pembaca)?

Selera humornya RL Stine agak-agak miring dan mengerikan, but I really really liked it… oh hege itu penggemar berat RL Stine. Phil itu karakter yg dipengaruhi banyak karakter di Goosebumps (buku-buku karangan Stine terjual lebih dari 300 juta eksemplar ke seluruh dunia dan terjemahkan ke dalam 28 bahasa)

Once again rey, hege menyebutnya Humor sense, bukan sekedar isi jokes atau lelucon atau hal-hal gokil lain yang bikin ngakak. Humor sense itu terkandung dalam tulisan, dan itu sangat mempengaruhi betah tidaknya pembaca. Hege membaca beberapa teenlit-nya Meg cabot, serius keren kok (meski beberapa penerjemah gramed mengacaukan beberapa novel beliau) dan hege impress akan humorsense-nya doi. dari banyak buku2 best seller lain yg hege baca, kuambil kesimpulan, humor sense yg baik akan menarik lebih banyak pembaca.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 12, 2008, 01:30:58 pm
________________________________________
halo semuanya…
apa kabar?
proyek menulisnya masih berjalan semua kan?

bagus-bagus nih pembahasan di beberapa halaman terakhir, tentang mana yang paling penting dalam sebuah novel fantasi. aku bisa banyak belajar. :-)

tentang gaya bahasa, hege benar, itu penting buat menumbuhkan ‘cinta pertama’. serius, ini memang sangat penting. walau sebenarnya, istilah ‘gaya bahasa’ ini terlalu sempit, yang lebih luas dan cocok sebenarnya adalah ‘cara menyampaikan cerita lewat jalinan kata dan kalimat’ (halah…).

tapi, menurutku pribadi sebagai pembaca, bukan gaya bahasa yang bisa bikin aku bertahan baca novel sampai akhir, melainkan ceritanya, yang berisi plot n karakter.
udah banyak kasusnya, cerita dan novel yang kututup di tengah jalan atau bahkan di dua halaman pertama, yang walaupun bergaya bahasa bagus dan mengalir, tapi karena aku gak sreg sama plot dan karakternya, ya udah gak kubaca lagi. apa boleh buat. yeah… tentu saja ini hanya menurutku…

mendingan mana tuh?
cepet jatuh cintanya tapi cepet patah hati juga?
atau lambat jatuh cintanya, tapi langgeng sampai akhir?
wkwkwkwk

sementara untuk setting, itu bagus untuk menambah suasana dan masuk ke dalam cerita. yeah… penting juga, terutama untuk menegaskan bahwa cerita kita adalah cerita fantasi. tapi di urutan berikutnya deh…
sedangkan jokes, menurutku bisa disetarakan dengan romance, action, atau sex scene. semuanya adalah bumbu untuk menarik perhatian pembaca. umumnya hal-hal ini disukai pembaca, dan berarti penting juga. tapi aku pribadi menempatkannya di bawah faktor-faktor lainnya yang telah disebutkan.
yeah… hanya pendapat bodohku saja…
mari menulis lagi.
________________________________________
Post by: kokonoka on March 12, 2008, 03:32:39 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on March 12, 2008, 01:30:58 pm
mendingan mana tuh?
cepet jatuh cintanya tapi cepet patah hati juga?
atau lambat jatuh cintanya, tapi langgeng sampai akhir?
wkwkwkwk

Point yang bagus buat dipikirkan!
mau nanya kecepatan menulis orang kan beda2. Dari sudut pandang pembaca, mending “my pace” tapi jadinya puas atau rilis berkala yang cepet tapi kurang puas?
Abisnya kadang mood dateng pas lagi sibuk2nya.. eh pas lagi senggang idenya belum keluar..
Selain itu gimana mengakali supaya pembaca ga bosen? terutama kalo Act yang kita tulis panjang sampe beberapa bab (dengan perubahan setting yang minim dan karakter yang itu2 aja)

[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: hege on March 12, 2008, 04:10:16 pm
________________________________________
Koko,
biar ga bosen? gimana bisa bosen sih? kalau ga ada greget di dalam tulisan/ceritanya sih mau sependek apa juga pembaca bisa jadi bosen. Artinya, setelah rangkaian karakter,plot, penulisan, setting dengan kadar dan posisi pas, apik, rapi dan jali, ceritanya takkan pernah mengebosenin, trust me! ::)

All,
beberapa tips memancing minat pembaca untuk membaca tulisan kita sampai selesai dan takjub.
1. Twist di akhir bab, ini sangat menyenangkan, it works for me, actually, hehehe..
2. pakai atau selipkan tokoh2 yg ekstraordinari dalam cerita, ini pasti berhasil, pasti! (masalahnya, karakter2 ekstraordinari sulit sekali dibuat, bahkan oleh penulis yg jam terbangnya tinggi)
3. stop cliche things, oh please guys! buatlah sesuatu yg gak sering dibuat orang, dengan begini ceritamu lebih cepat melejit.
4. Terakhir, (ini bukan untuk mematahkan semangat siapa2 yak, heheheh) kalau ceritamu terus-menerus jelek dan tidak enak dibaca, segimanapun usahamu, bahkan setelah menulis jutaan kali dengan usaha sekeras-kerasnya, bahkan sampai berguru dan belajar nulis ke mana-mana. menyerah saja, mungkin hoki dan bakatmu tidak disitu.
nb. kalau belum nyerah juga, teruslah berusaha dan berdoa, cita-cita dan mimpi itu milik semua insan.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 12, 2008, 05:23:34 pm
________________________________________
1. bagus, kokon. silakan dipikirkan ya… heheheh…
2. saranku, buat dirimu lebih puas lebih dulu, baru puaskan orang lain. (dalam konteks ini ya… dalam soal lain, lebih indah memuaskan orang lain terlebih dulu. hehe…)
3. hmm… mungkin harus ada kejutan di setiap 5 halaman. sesuatu yang baru dan bikin orang penasaran. jadi kepikir juga cerita Robinson Crusoe atau film Cast Away-nya Tom Hanks, kok gak bosen ya walaupun tokohnya cuma satu, dan di satu pulau lagi…

@all,
ada yang sudi menyerah sekarang?
hihihihi…

oya tambahan…
di halaman berapa tuh arik pernah nanya mana yang bener:
‘Wanita Alien’ atau ‘Alien Wanita’.
kalo dianalogikan dengan : ‘Wanita Indonesia’, ‘Wanita Jawa’ ataw ‘Wanita Jepang’,
mungkin ‘Wanita Alien’ benar.
tapi kalo dibandingkan dengan : ‘Manusia Wanita’, ‘Jin Perempuan’ ataw ‘Singa Betina’,
mungkin ‘Alien Wanita’ juga benar.
jadi… bingung juga sih… hehehe…
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 13, 2008, 08:07:01 am
________________________________________
Villam, setelah kupikir, jika ditinjau dari segi Menerangkan Diterangkan,
Wanita Alien ==> lebih menekankan pada wanita, dengan alien sebagai unsur menerangkan spesifikasi jenis wanitanya.
Alien Wanita ==> lebih menekankan pada alien, dengan wanita menjelaskan jenis kelaminnya.

tapi dari buku hozzo, istilah alien wanita cuma seklai muncul (ini penulisnya rasanya ge-er deh aku ngebahas istilahnya dia). yah jika disesuaikan dnegan telinga, kekna aku lebih menarik jika memakai alien wanita. karena kedengarannya wanita hantu itu agak aneh… ;D
but, sudahlah, toh juga revisi udah dikirim dan menunggu penolakan enam bulan lagi. wkwkwk .. peace… ;D

gus, aku ga ngerti poin2na, jangan pke bahasa inggris atu….
yah, tapi jadi penikmat juga kadang menyenangkan. :)
________________________________________
Post by: hege on March 13, 2008, 10:01:36 am
________________________________________
minimal 3 bulan untuk keputusannya, jangan libatkan pengalaman pribadi yak ;D. hege pasrah saja pun jika ditolak. masih ada penerbit-penerbit cadangan ::)
btw, hege lebih suka menggunakan istilah Wanita alien (contoh: wanita alien Hezezoic), and its NOT a big deal, demi langit dan bumi. Banyak hal yg bisa dikritik dan didiskusikan selain hal-hal sepele gini.
Rik, poin-poin mana yg tak berhasil dicerna otakmu? Tips itu? I dont explain thing twice, thank you.

[tab:Hal 7]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 14, 2008, 11:48:43 am
________________________________________
hayah gw tinggal dua hari nih tret udah cukup banyak postingan berbobotnya (walo ada jg dua orang yg keliatan banged mesra2annya :P ), elu orang emang keren semua dah(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)

Udah gw duga, berdasarkan tulisan2 elu orang yg pernah gw baca, jawaban dari setiap orang disini bakalan beda2 buat pertanyaan priority itu.
Bisa gw ambil konklusinya, ada dua pendapat dominan disini:

Gaya Bahasa VS Plot

Sepakat sama Villam, terus terang gw pribadi lebih condong ke plot, karena bagaimanapun juga, yg kita bikin itu novel, bukan katalog lelucon/kuliner/wisata jalan2(i poin no finger, i name no name :P , tapi kalo ada yg ngerasa kesambit, (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif) aja deh). Harus ada suatu ide dasar yang kuat untuk plot yg ditulis, yg syukur2 plot itu bisa dibikin secerdas mungkin, gak bertele2, dan gak klise.
Cerdas disini maksudnya adalah menciptakan rangkaian logika dalam plot.

Kalo ada tokoh antagonis setengah dewa yang kekuatannya tak terkira (yg udah digembar-gemborin dari awal sampe akhir cerita), ya konsistenlah thp karakter itu. Jangan nantinya ada tokoh protagonis yg mendadak dengan kekuatan bulannya, malah bisa ngebabat tuh si antagonis… ini gak asik sama sekali. Harus ada solusi yg logis untuk setiap permasalahan yang dihadapi.

Di lain sisi, karena yg dibikin itu novel, dan bukanlah film/komik/anime/lagu/karya seni lainnya, keahlian merangkai kata-kata juga gak kalah penting. Dalam hal ini gw sepakat sama Hege. Ketika kita beli sebuah buku, apa yang kita dapat? Cuma lembaran-lembaran kertas dan hamparan kata-kata..(halah..–ngikutin gaya bang villam :P )

Film, komik, novel, semuanya sama2 menampilkan cerita. Tapi novel hanya berisi kata-kata, gak ada sound, gambar, atau video untuk mendukung cerita yg ditampilkan. Satu-satunya yang akan ditemui pembaca cuma kata-kata, dan mau gak mau kita mesti menyajikan kata-kata itu sespesial mungkin buat menggantikan sound, gambar, video yang gak ada itu.

Menurut gw, menulis novel dengan gaya bahasa (dan dialog) datar* sama aja kaya mencoba menyajikan nasi goreng tanpa bumbu. Nasi goreng itu emang bisa diabisin, sesendok demi sesendok, tapi itu akan menyiksa si pelahap nasi goreng itu.

Dengarlah kawan, yang kita tulis itu novel, bukan berita surat kabar ato daftar belanjaan! :)

*)’Bahasa datar’ yg gw maksud disini gaya bahasa orang tamatan SD.

Jadi, thanks to hege and villam, dimensi plot dan gaya bahasa sama2 vital, dan gak boleh keteteran satupun dari keduanya. ;)

Selain dua hal itu, ada hal lain yg mau gw sorot, karena cukup banyak fantasi lokal yg udah pernah gw baca miskin atau bahkan gak memiliki satu hal ini: greget–thanks to hege.
Betapapun orisinil/apik/keren sebuah jalinan plot, kalo ga ada greget, pembaca akan mudah sekali bosan. Kecakapan menulis dialog, mendeskripsikan kronologi antar peristiwa, menyusun dan memotong scene2, amat diperlukan disini… ga peduli mau novel genre apa, yg namanya greget itu penting, novel tanpa greget ibarat orang ga ada semangat.

Udah ah, gw bukan senior apalagi master, tapi udah ngebacot panjang kek begini… jadi malu(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)

Salam Dangdut
(Aiih gw emang TS yg ganteng dan bijak..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif) eh kalo kek gini gw netral ato menikam semua orang yak?)
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 14, 2008, 12:46:10 pm
________________________________________
jadi kesimpulannya, menulis itu memerlukan seni dnegan beragamn faktor yang mempengaruhi. bukankah itu artinya semuanya penting rey, cuma tergantung kemampuan kita untuk menambal faktor mana yang kita bolong dengan meninggikan faktor lain yang dimana kita ahli.

Comments 1 Comment »

[tab:Hal 1]Sesi V (8 Feb 2008 – 3 Mar 2008)

  • Review Goran oleh BloodSin
  • Frogs karya hege
  • Fantasi tetap harus logis
  • Tentang science fiction
  • Cahaya Bulan karya clickdian
  • Konferensi Hantu Sedunia karya alk
  • Tanggapan atas review Goran

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: BloodSin on February 08, 2008, 02:43:50 pm
________________________________________
Gw udah beres baca GORAN, dalam hitungan 4-5 hari.

Dan inilah repiu yg udah gw janjikan (Karena buku ini ‘berkesan’ banged buat gw, gw bikin repiu-nya rada beda ama yg kemaren2 ;) ):

Judul buku: GORAN-Sembilan Bintang Biru
Penulis: Imelda A. Sanjaya
Penerbit: Serambi
Genre: Fiksi Fantasi
Tebal: 335 halaman

Secara general, GORAN adalah sebuah novel dengan plot kompleks yang dieksekusi dengan gaya bahasa sederhana namun cerdas (paragraf antar paragraf gampang dimengerti, plus disisipi lelucon2 ringan yang menghibur). Mengambil setting 3 dunia, dengan 3 tokoh utama, Goran rasanya punya 3 anak plot, yang baru dipertengahan buku melebur jadi 1 plot raksasa.

Nah, sekarang kita masuk ke elemen2 detailnya:

Opening, dibuka dengan plot Aniki Kodama, tokoh utama pertama dengan sifat-sifat ajaibnya. Opening ini lumayan manis, walau di sini pengarang belum terlalu kelihatan gilanya.

Plot. Ide utamanya adalah tentang perpindahan portal waktu dan dimensi ala Chrono Trigger dan Chrono Cross, dengan medium orang sakti. Makin masuk ke dalam cerita, makin gila si pengarang bercerita. Beberapa scene terasa kacau nian, tapi tetap saja kreatif dan masih masuk jalur logika. Pokoknya seru dah.

Setting. Inilah kelebihan utama novel ini: settingnya ada 3 dunia. Setting dunia hari ini, dunia ‘futuristik’, dan dunia masa lalu. Gw terutama salut sama pengetahuan dan kreatifitas pengarang yang notabene cewek tentang dunia persilatan Cina Kuno, yang digambarkan cukup detail dan realistik.
Satu2nya setting karangan dia mungkin adalah setting ‘futuristik’ planet Vida. Kehidupan barbar para Theft Ryder digambarkan dengan baik sekali, ide advanced technology-nya keren dan unik, plus penggambaran yang matang untuk kesenjangan sosial antara Theft Ryder dan kaum borguic yang jadi ide utama settingnya.

Karakterisasi. Ada 3 tokoh utama (dan beberapa tokoh pendukung favorit gw):
-Aniki Kodama, si tukang tidur yang cuek abis, disini gw rasa pengarangnya kepengaruh berat dari manga2 jepang. Dia mewakili setting dunia hari ini, dieksekusi dalam kehidupan remaja jepang. (mirip cerita2 si kokonoka)
-Orphann, theft ryder barbar yang punya pemikiran-pemikiran aneh. Dia mewakili setting dunia ‘futuristik’, planet vida.
-Xin Ai, cewek gendut manja yang jago silat dan strategi. Dia mewakili setting masa lampau di Cina, yang masih terkondisi sebagai dunia persilatan dan perjodohan :D .
-Panglima Sam, ini karakter favorit gw! Karakter antagonis yang selalu bernasib malang.. gw selalu ngakak kalo baca scene2 dia..
-Guru Besar, yang ini kebagian porsi kecil di plot, tapi emang berkesan banged bagi gw. Salut berat buat pengarang yang udah ngebikin tokoh seantik begini. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)
-Soil, cewek botak (yang semula gw kira cowok) temennya Orphann yang cerdas.
-Onatsu, emaknya Aniki yang punya karakter keibuan banged…
-dan sebetulnya masih banyak lagi karakter pendukung, yang emang diperlukan dalam cerita..(maksudnya keberadaannya bukan asal tempel)

P.O.V (kalau gak tau ini apaan, belajar dulu sana sama bang Villam!)
Tereksekusi dengan sempurna! Villam, i think u’ll love this book, karena emang ‘ente banged’. ;)

Endingnya, parah. Tega nian, padahal di sepanjang jalan cerita, sama sekali gak ketebak endingnya bakal begitu..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
Apakah Serambi mensyaratkan ending model begitu untuk naskah2 yang masuk ke meja redaksi? (Endingnya sama persis sama ending Sang Penandai(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif) )
Tapi gw salut banged, emang mendingan ending kaya begitu daripada ‘ending bagus’ tapi tidak berkesan sama sekali. Makna endingnya lumayan dalam, dan ngebikin gw berpikir ngejelimet di akhir kalimat ending. :D

Kekurangan novel ini mungkin terletak pada masalah editing; ada banyak struktur kalimat rancu n ‘semau gue’ si pengarang. Tapi gaya bahasanya emang kreatif, gokil, dan simple. Ada beberapa ‘kalimat berbahasa gaul’ yang tau2 muncul di tengah2 kalimat formal, mungkin pengarangnya lagi mabok pas ngetik di situ. Tapi berhubung plotnya sendiri udah gila dan mengalir banged, rasanya kerancuan-kerancuan yang ada bisa ditolerir..

Menuruti standar gw, GORAN dapet poin 5 dari 5, dan menjadi yang terbagus dari lebih dari 10 judul fantasi lokal yang pernah gw baca. Highly recomended buat semua anak sini, yang mau belajar bahwa sebetulnya genre fantasi bisa dieksekusi segokil mungkin tanpa harus keluar dari kekuatan fantasi itu sendiri. Salut berat buat pengarangnya*!(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)

*)Setelah baca Goran gw jadi naksir berat sama pengarangnya** nihh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif) (serius, pengarangnya gokil mampus (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)), tapi apa daya yang bersangkutan tidak meninggalkan jejak apapun di buku selain namanya..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif) Mau donk kenalan..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)

**)Pengarangnya cewek***, entah udah tante2 ato masih ABG.. yang jelas gaya bahasa novelnya mengingatkan gw sama gaya bahasa satu member sini (dulu)..

***)Namanya Imelda A. Sanjaya…. dari namanya kayanya cewek cakep nihh****(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)

*****) Oke deh, kayaknya gw kudu berhenti sampe sini, sebelom ngelantur terlalu jauh..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif)

[tab:Hal 3]

________________________________________
Post by: BloodSin on February 08, 2008, 02:45:19 pm
________________________________________
Guys n Gals, selain GORAN, kemaren gw ngebaca satu judul fantasi lokal laennya di kemudian.. yg kayaknya masih ditulis oleh penulis pemula sama kaya kita. Judulnya The Rohriant (id penulisnya: codenameKEY), yg ngebikin gw kecele mampus karena skill menulis gw gak ada apa2nya dibanding skill dia.. The same case terjadi waktu gw baca CO** (M.S), Sang Penandai(Tere Liye) n Goran (Imelda Sanjaya).. gw merasa begitu kerdil, tulisan gw cupu nian, dangkal, gak berbobot.. kalo dibandingkan sama karya2 mereka. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif)

Sial, ada banyak penulis fantasi lokal berbakat di luar sana, yg bahkan mungkin sekaliber Rowling/Tolkien. Personally, gw frustasi berat karena gw nyadar seorang diri gw ibarat kecebong di tengah2 samudera yang berisi ikan2 predator gede (gw selalu demen pake metafora ini, walaupun pada faktanya gak ada kecebong yang idup di laut(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))

But secara nasionalis (dalam dunia fantasi lokal maksudnya :P ), gw seneng karena genre fantasi mulai berkembang di sini.. Hmmm.. gw percaya genre fantasi punya masa depan cerah di indonesia berkat penulis2 berbakat kayak mereka.. Apa daya kalaupun gw gak bisa berdiri sejajar di antara mereka, at least naskah gw bisa terbit buat berpartisipasi aja di dalam wadah yang sama… itulah tekad gw sebagai penulis fantasi lokal nan cupu.. how about u, friends? ;)
________________________________________
Post by: hege on February 27, 2008, 10:39:01 am
________________________________________
F.R.O.G.S.

Tiga ekor kodok sehat dengan pipi merona merah sedang bersantai selonjoran di pinggir kolam. Mereka adalah kodok-kodok yang luar biasa beruntung, kalian pasti tahu kenapa—ada banyak sekali saudara-saudara, kawan, bekas tetangga, buyut, kerabat atau sepupu jauh mereka sedang dibedah dan dikuliti di luar sana.

Mereka adalah sahabat karib, masing-masing bernama Rodi, Joni dan Sam. Rodi dan Joni bersaudara beda ayah (ibu mereka punya banyak sekali suami sehingga tak ada yang tahu persis yang mana ayah untuk anak-anaknya). Sementara Sam dulunya tinggal di rawa-rawa di selatan Inggris sebelum angin topan atlantik mengangkatnya tinggi-tinggi ke atmosfir dan melontarkannya ke Asia.

“Kalian lihatlah ke langit!” seru Rodi, dialah kodok yang paling gemuk dan paling berotot di antara ketiganya, di depan mereka tersedia seloyang besar lalat dan nyamuk goreng balado. Joni menjulurkan lidahnya dan menyambar seekor lalat yang kaki-kakinya mencuat kaku ke udara.

“What in the world I must look at the sky!” protes Sam, meski dia sudah belajar bahasa Indonesia selama dua tahun dari para sahabatnya, dia masih sangat bangga menjadi warga negara Inggris dan sedang mencari-cari cara untuk kembali ke negerinya.

“Ada awan berbentuk donat!” seru Rodi berbinar-binar. “Kalian pasti terpesona.”

“Itu tidak mungkin!” koak Joni, lalu ia mendongak ke langit, matanya melebar. “Tidak pernah ada awan berbentuk donat sebelumnya. Awan itu bentuknya selalu tidak karuan. Tapi yang satu ini merupakan keajaiban alam.”

“Menakjubkan!” kata Rodi.

“Fantastic! Terrifically marvelous,” gumam Sam, yang akhirnya mendongak.

“Bentuknya mulai berubah, wahai saudaraku!” jerit Joni beberapa saat kemudian. “Menurutmu kenapa awan donat sempurna tadi berubah bentuk? Sekarang mulai tak begitu seperti donat.”

“Itu karena ada raksasa yang memakannya,” ujar Rodi yakin. “Kita tak bisa melihat raksasa yang kumaksud, kata ibu, raksasa yang tak nampak ini memakan awan-awan dan memuntahkannya kembali menjadi hujan dan petir.”

“Oh that’s full of nonsense!” kata Sam menggeleng. “Itu karena angin yang membuatnya berubah bentuk, it always be that way. Angin di langit sangat kencang, lebih kencang dari apa yang kalian bayangkan. You knew exactly what the hell happened with me, didn’t you? Angin serupa membuatku melayang-layang di stratosfer!”

“Aku heran kenapa kau tidak mati saja saat itu,” kata Rodi, “kau mulai meracau lagi!”

“Otaknya tidak beres,” sahut Joni, mendukung saudaranya.

“Whatever!” gumam Sam kalem.

Read the rest of the story here http://kemudian.com/node/94838

[tab:Hal 4]

________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on February 28, 2008, 09:11:18 am
________________________________________
Kalo di fantasy, makin ga logis makin bagus. Tapi yang susah tuh daya khayalnya kudu kemana-mana.
________________________________________
Post by: rd_Villam on February 28, 2008, 09:18:56 am
________________________________________
hehe…
biarpun fantasi tetap harus logis dunk…
maksudnya, harus ada alasan atas setiap kejadian, juga harus ada alasan untuk setiap tingkah laku karakternya, betapapun anehnya itu.
alasan2 itulah yang dimaksud logis, yang kudu dibedakan dengan imajinatif/tidak imajinatif.
setiap cerita, apakah itu teenlit ataupun fantasi, tetap harus logis dan sekaligus juga imajinatif (membuat pembaca terbayang-bayang… halah).
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on February 29, 2008, 11:31:52 am
________________________________________
Ngomong2, aku masi agak bingung ama definisi scie-fi ama fiksi fantasy.
Aku udah baca reply yang di depan tapi aku butuh contoh konkritnya.
Kebetulan crita baruku ini agak mirip city of angel gitu dech (udah pada nonton kan? ;) )
Jadi ntar ada sosok tokoh yang bukan manusia tapi diturunkan di dunia untuk nolong dua orang tokoh utamaku. Ntar mereka bakal mengarungi alam pikiran manusia and cari tahu problem psikis apa yang diderita ama dua tokoh utamaku ini.
Btw, ni termasuk apa ya?
________________________________________
Post by: rd_Villam on February 29, 2008, 02:02:41 pm
________________________________________
thalia,
ceritamu itu bisa dimasukkan ke dalam genre fantasi. fantasi tentang dunia alternatif yang kita diami sekarang.
sementara kalo science fiction, menurutku adalah merupakan bagian juga dari genre fantasi, yang menitikberatkan pada spekulasi penulisnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan / teknologi di masa kini atau masa datang.

Nah untuk membuat ceritanya dapat dipercaya maka penulis itu melakukan riset mendalam terhadap ilmu pengetahuan / teknologi tersebut (misal : genetika, komputer, kendaraan, persenjataan, ruang angkasa, bawah laut, dsb), dan hasil spekulasinya dipamerkan pada pembaca, entah berupa science fiction murni, atau bisa juga digabungkan dengan jenis fantasi lainnya, seperti fantasi dunia alternatif ceritamu, atau fantasi dunia lain yang penuh dengan makhluk-makhluk menakjubkan dan lain-lain.

kalo buatku, penulis science fiction yang paling kusuka tetaplah Jules Verne (1828-1905), yang menulis : Journey to the Center of the Earth, From the Earth to the Moon, 20000 Leagues Under the Sea, Around the World in 80 Days, Mysterious Island.
dan film science fiction yang paling kusuka adalah trilogi Back to the Future.
hehehe…

[tab:Hal 5]
________________________________________
Post by: clickdian on March 01, 2008, 03:47:31 pm
________________________________________
Guys…
Aq post sebagian dari cerpenku ya.. tolong komennya, kalau berkenan, dan mohon dimaklum kekurangannya karena penulisnya masih belajar. :)
Buat yang udah baca Zauri, pasti familiar dengan scene ini, walau dari point of view yang berbeda. Dan oh, maaf cuma sebagian. Kalo terlalu banyak kasian yang nggak minat baca, liat postingan yg kepanjangan ;D

Cahaya Bulan

Rasanya baru saja kurebahkan tubuhku ketika tiba-tiba saja aku terbangun lagi. Langit-langit kamar hampir tidak terlihat karena kristal cahaya dimatikan, tetapi sinar bulan masuk lewat jendela sehingga di sekitar lantai—terutama di tempat tidur Regia—masih terlihat walaupun remang. Aku sendiri bercahaya, tetapi tidak seberapa.

Aku memutar tubuhku di atas bantal yang kugunakan sebagai alas tidur. Dari tempatku sekarang—di atas bupet kayu di tepi ruangan. Kulihat Regia tertidur menghadap ke jendela, dan aku bisa melihat dengan jelas wajahnya di sana, tertimpa temaram sinar rembulan.

Setelah sekian lama menjadi temannya, sejak dari kami masih di istana sampai sekarang kami berkelana, baru kusadari kalau Regia benar-benar cantik. Di luar dugaan, kristal mungil yang menempel di keningnya membuatnya bertambah cantik, terutama sekarang. Kristal berwarna ungu muda transparan itu berkilauan. Aku bangkit dengan susah payah dan duduk. Debu-debu cahayaku bertaburan di atas bantal seiring gerakanku, lalu jatuh dan menghilang.

Tubuhku masih sakit sekali rasanya, sejak pertempuran kami dengan Mario. Awalnya seluruh tubuhku terasa sakit karena hangus terkena api Mario, dan tak bisa digerakkan untuk waktu yang sangat lama. Setelah beberapa minggu, pada malam hari, aku bisa duduk seperti ini, walaupun masih terasa nyeri dan kaku. Entah mengapa aku lebih nyaman bergerak setelah matahari terbenam. Apakah itu karena aku peri, aku tidak tahu. Aku belum lama jadi peri, jadi tak punya jawaban untuk ini.

Hmm.. sayapku agak terlipat di tepinya. Aku memutar badanku untuk membetulkan ujung sayapku. Tidak terlalu sulit, ini sering terjadi dan selalu bisa diselesaikan dengan baik. Tiba-tiba aku mendengar suara lirih dari arah tempat tidur.

“Dios…”

Aku menoleh ke arah Regia. Lagi-lagi ia mengigau. Sudah berapa lama sejak kepergian pemuda itu, ya? Satu bulan? Atau lebih? Aku sering sekali melihat Regia melamun sejak Dios pergi—yah, kami semua seperti itu, tapi ialah yang paling sering melamun. Sayangnya, tak seorang pun yang tahu ke mana ia pergi.

Sebutir air mata meluncur di pipi Regia.

next…. on http://www.kemudian.com/node/96104

[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: alk on March 02, 2008, 02:42:24 pm
________________________________________
8) ehem… satu tambahan post lagi dari cerita Ghost vs Aliensku…
buat yang ga ada kerjaan, silakan menebak hantu-hantu apa sih yang deskrispinya aku kasih ‘italic’…
;D ;D ;D
KONFERENSI HANTU SEDUNIA

Zephyr melayang, menembus dinding, memasuki bangunan tua itu tanpa semangat. Ia hantu, itu jelas terlihat dari ektoplasma keperakan yang merupakan wujud tubuhnya. Sosoknya yang berwujud anak-anak membuat banyak hantu lain melecehkan atau tak mempedulikannya. Namun, satu dua hantu yang mengenalnya tampak mengangguk hormat kepadanya. Ia membalas anggukan hormat itu dengan lambaian tangan acuh.

Zephyr hidup jauh lebih lama dari kebanyakan hantu di bangunan itu. Ia sudah hidup lebih dari delapan ratus tahun, hampir sembilan ratus tahun malah.

Betapapun, ada beberapa hal yang tak pernah berubah tentang Zephyr. Ia masih tetap berwujud roh bocah kecil, sama seperti delapan ratus tahun yang lalu. Ia juga masih tak bisa mengingat bagaimana ia menjadi hantu, atau bagaimana ia hidup sebelum menjadi hantu.

Nama Zephyr sendiri adalah pemberian dari seorang hantu kuno yang ditemuinya di Athena. Nama itu berarti angin dari barat. Tapi Zephyr sendiri tidak tahu apakah ia sebenarnya berasal dari barat, atau dari timur, atau malah dari selatan. Ia tak pernah bisa mengingatnya.

Zephyr terus melayang perlahan, melewati beberapa kelompok hantu, menembus dinding, menjelajahi bangunan itu tanpa arah.

Bangunan itu adalah sebuah bangunan kuno di Transylvania, tempat yang memunculkan kisah Count Dracula, sang vampir penghisap darah. Malam ini, bangunan itu adalah bangunan paling berhantu di seluruh penjuru dunia. Ribuan hantu berada di sekitar bangunan itu, sebagian kecil di dalam, sebagian besar di luar.

Malam ini adalah sebuah peristiwa luar biasa bagi para hantu. Selama sebulan lebih, energi aneh menarik mereka dari segenap penjuru dunia untuk datang ke tempat itu. Para hantu yang sudah berusia lebih dari limaratus tahun, termasuk Zephyr, tahu apa artinya itu, undangan untuk Konferensi Hantu. Hantu-hantu yang berusia di bawah itu kebanyakan datang mengikuti nalurinya saja. Tentu saja ada juga banyak hantu yang tegas-tegas tidak mengindahkan hal itu, entah karena ragu, terlalu angkuh, atau karena takut akan jebakan.

Zephyr sendiri datang, jauh-jauh dari pedalaman hutan di Zaire, meninggalkan penelitiannya tentang suku Afrika disana, karena tertarik pada aura yang dikeluarkan untuk memanggil mereka. Jelas sekali baginya bahwa yang mengeluarkan undangan itu memiliki energi hantu yang sangat kuat, jauh lebih kuat darinya, dan juga mungkin jauh lebih tua darinya. Ia melayang-layang mencari sumber energi ini tapi belum juga berhasil menemukannya.

Menjelang tengah malam…

“Saudara-saudariku, para hantu dari seluruh pelosok dunia.” Tiba-tiba terdengar suara bergetar aneh. Bahasa hantu. Bahasa yang secara alami langsung dipahami oleh semua hantu di dunia.

“Selamat datang di Konferensi Hantu Dunia yang ke tujuh. Akulah, Asmodeus, yang mengundang kalian semua kemari.” Suara itu kembali terdengar. Kali ini para hantu yang berada di luar bisa dengan mudah menemukan sumbernya. Asmodeus, sang pembicara, berada di puncak kastil kuno itu, menjulang tinggi, tegap dan berpendar keemasan.

Nama Asmodeus yang disebutkan sosok itu menimbulkan bisik-bisik riuh dari para hantu yang berada di situ. Ratusan hantu yang berada di dalam bangunan segera melesat keluar dan bergabung dengan mereka yang sudah di luar.

“Asmodeus, harusnya aku sudah menduganya,” Zephyr menggumam. Ia mengenal nama itu. Nama sesosok hantu yang berusia sudah lebih dari dua ribu tahun. Hantu yang lebih sering dikenal dengan sebutan Lord. Hantu terkuat yang posisinya disejajarkan dengan Mephisto, sang Raja Iblis.

“Malam ini, ditempat ini akan diadakan Konferensi Ketujuh Hantu Sedunia. Adapun hal yang akan dibicarakan disini adalah situasi kita yang semakin memburuk akibat ulah manusia,” Asmodeus berseru lantang.

Zephyr langsung mendengus sinis. Tak punya kreatifitas para hantu ini, begitu pikirnya. Hal yang dibicarakan dalam Rapat Besar malam ini dan Rapat Besar limaratus tahun yang lalu sama saja. Limaratus tahun tanpa perkembangan sama sekali.

“Benar. Ulah manusia membuat situasi hidup kita jadi semakin sulit!” Sesosok hantu berucap. Ia sangat jelek. Bulu panjang tebal menutupi sekujur tubuhnya dan mulutnya tebal dipenuhi gigi-gigi besar.

“Sekarang ini sulit sekali bagi kita untuk menunjukkan kebanggaan diri kita sebagai hantu. Kita harus terus menerus menyembunyikan diri. Kalau tidak, segerombolan pendeta sialan pasti akan datang dan langsung mengeksorsis kita,” ucap hantu itu.

Zephyr menyeringai. Sejak dulu, eksorsisme atau pemusnahan hantu adalah hal yang paling menjadi momok bagi para hantu. Bangsa manusia dalam hal satu ini sama tidak kreatifnya dengan para hantu ini. Sejak dulu cara eksorsisme yang mereka lakukan ya itu-itu saja, tak ada perkembangannya.

“Juga pabrik-pabrik sialan bangsa manusia itu,” sambung sesosok hantu cantik berjubah kelabu yang suaranya melengking, menyayat menyeramkan. “Asap dan limbah pabrik sialan itu mengacaukan fungsi rohku ini. Polusi yang mereka ciptakan tak baik bagi kesehatan kita, bangsa hantu.”

Zephyr mendengus meremehkan. Kesehatan? Hantu mengeluhkan kesehatan? Mereka itu sudah mati, apanya yang punya kesehatan.

“Sejak dulu sudah ditentukan kalau terangnya siang adalah bagian manusia sementara kegelapan malam adalah bagian kita. Tapi sekarang, cahaya memenuhi segenap penjuru kota sekalipun sudah tengah malam. Bangsa manusia yang kemaruk itu telah menjajah hak kita,” tambah sesosok hantu kuno Mesir yang entah kenapa sepertinya terjebak dalam balutan panjang kain kafan.

Kembali Zephyr mendengus meremehkan. Siang buat manusia, malam buat hantu? Sejak kapan hal itu diputuskan. Ia tahu bahwa banyak hantu yang karena begitu tololnya telah mengikuti jejak para iblis, sangat takut dengan cahaya matahari dan selalu menyembunyikan diri waktu siang. Hal yang sangat bodoh. Sinar matahari sama tidak berbahayanya dengan sinar bintang bagi para hantu.

“Kita harus bertindak untuk mengatasi hal ini saudara-saudara!” Sesosok hantu kecil berkepala botak plontos dan cuma memakai cawat berkata. “Kita lawan bangsa manusia! Kita rebut hak kita!” serunya bersemangat.

“Dan bagaimana caramu untuk melawan manusia?” Suara tenang sesosok hantu dari Jepang yang berjubah pendeta dan berhidung sangat panjang menanggapi, mendinginkan semangat mereka yang mendengarnya.

“Manusia sudah berkembang biak terlalu banyak. Mungkin berjuta-juta kali lebih banyak dari jumlah kita semua dikumpulkan. Tidak sedikit dari mereka yang mengenal cara-cara eksorsisme. Melawan mereka adalah bunuh diri yang sia-sia belaka,” ucap hantu itu dengan lagak bijak.

Zephyr menyeringai setengah setuju. Ia menyetujui seluruh perkataan pria tua itu kecuali bagian ‘bunuh diri’nya. Hantu sudah mati, mana bisa bunuh diri. Melenyapkan diri mungkin lebih tepat.

“Kita bisa mulai dengan bersatu lalu menyerang, merasuki dan menghantui satu kota. Merubah kota itu menjadi milik kita.” Si hantu botak tak mau menyerah begitu saja. “Kita bisa merebut satu kota dalam satu malam.”

“Ya. Dan malam berikutnya kita semua musnah karena bangsa manusia pasti akan langsung mengirim pasukan pendeta pemburu hantunya untuk menghancurkan kita,” cemooh sesosok hantu penunggang kuda yang menjinjing kepalanya sendiri.

Dan satu jam berikutnya dipenuhi debat yang tak beraturan dan tak berkesudahan tentang hal itu. Tempat itu dipenuhi riuh suara para hantu, semuanya berbicara bersamaan. Zephyr merengut sebal. Ia sudah berniat untuk beranjak pergi saja dari tempat itu. Sama saja dengan limaratus tahun lalu, pikirnya kesal. Pasti akan berakhir mengambang lagi.

Tapi tebakan Zephyr itu ternyata salah besar. Tepat sebelum ia beranjak pergi, Asmodeus yang dari tadi diam saja mendadak membuka suara…

“Perhatian saudara-saudariku kaum hantu…!!” Suara menggelegar ini langsung membungkam suara semua hantu di situ.

“Aku mengusulkan suatu pemecahan masalah bagi kita,” Asmodeus berkata lagi, tegas dan angkuh. “Ada sebuah dunia lain yang tidak dihuni satu hantupun. Dunia itu jauh lebih nyaman dari dunia kita sekarang ini. Usulku, kita semua berpindah masuk ke dunia itu.”

Sesaat suasana hening…

“Anda tidak sedang membicarakan dunia akhirat kan?” Sesosok hantu wanita dari pulau Jawa memberanikan diri bertanya. Ia berambut riap-riap, perutnya berlubang dan baju putihnya dipenuhi bercak darah.

“Bukan, bukan akhirat,” Asmodeus langsung menjawab tegas. “Dunia yang kusebut itu nyata dan benar ada. Aku sudah melihatnya sendiri. Ada yang tidak mempercayaiku?”

Semua hantu terdiam. Meragukan Asmodeus tak pernah terlintas di pikiran sebagian besar dari mereka. Bagi sebagian kecil yang ragu, mereka tahu bahwa tidak bijaksana mengemukakan hal itu terang-terangan pada hantu sekaliber dia.

“Di dunia itu ada manusia?” Sesosok hantu bertanya, memecah kesunyian. Sosoknya yang mengenakan topeng ice-hockey dan memegang gergaji mesin, tampak sangat menyeramkan.

“Tidak ada manusia dan tidak ada hantu,” Asmodeus menjawab tegas.

“Tapi ada makhluk lain?” Zephyr akhirnya membuka suara, menyimpulkan.

Asmodeus menatap Zephyr dengan tajam selama beberapa saat. “Ya,” akhirnya ia menjawab. “Ada makhluk-makhluk aneh yang di dunia ini dianggap dongeng di dunia itu. Tapi mereka sama sekali bukan masalah bagi kita.”

“Jadi kau berpikir kita bisa kesana, menginvasi dunia itu dan merebutnya untuk kita kaum hantu?” Zephyr berkata lagi.

“Itu memang tujuanku,” Asmodeus menjawab tegas. Kharisma yang dipancarkan hantu ini bisa membuat ciut nyali semua hantu lain, tapi tampak tak berpengaruh sedikitpun pada Zephyr.

“Kaubilang disana tak ada hantu kan? Apakah kau yakin bahwa itu tidak disebabkan karena semua hantu disana telah dieksorsis?” Zephyr dengan kalem bertanya lagi.

“Aku yakin,” Asmodeus berkata. “Sudah dua bulan aku meneliti disana. Aku sudah memperlihatkan wujud di depan banyak makhluk. Tak ada satupun yang mengenaliku sebagai hantu. Aku sudah menangkap, menyiksa dan memaksa seorang peri untuk menceritakan sejarah dunia itu. Tak ada satupun legenda yang menyebutkan tentang eksorsisme hantu.”

Zephyr mengerutkan kening. Ia tahu bahwa hantu itu tak berbohong. Beberapa hantu yang sudah cukup tua, termasuk dia sendiri, bisa memadatkan ektoplasmanya dan memegang benda benda. Tentu saja itu juga berarti mereka bisa memukul dan menyakiti makhluk lain. Walaupun begitu, Zephyr tak menyukai kekerasan. Siksaan jelas-jelas bertentangan dengan sifatnya. Namun ia menahan diri dari keinginan untuk berkomentar sinis. Ia malah terus bertanya, “Kalau begitu, apa rencanamu dengan makhluk-makhluk yang tinggal disana?”

“Sudah jelas kan? Kita akan mengusir mereka,” Asmodeus menjawab sinis. “Kalau perlu kita akan memusnahkan mereka. Kita tak bisa mengambil resiko mereka berkembak biak seperti manusia dan menghancurkan kita dengan eksorsisme.”

Terdengar suara riuh menyambut ucapan itu. Sebagian setuju, sebagian lagi menentang.

“Diam semua…!!” Asmodeus membentak. Wajahnya berubah jadi beringas dan menakutkan.

“Aku mengajak kalian ke sana demi kepentingan kita juga. Yang setuju denganku dan bersedia mengikuti keinginanku silahkan tetap disini. Yang tidak setuju, silahkan menyingkir dari sini dan membusuk di dunia ini.” Asmodeus berkata dengan ketegasan tak terbantahkan.

Zephyr mendesah sedih. Ia sangat ingin melihat dunia yang disebutkan Asmodeus itu. Tapi, ia benar-benar anti kekerasan. Merampas dunia lain dan mengusir atau memusnahkan penghuninya sama sekali tidak sesuai dengan gayanya.

Dengan muram Zephyr melayang meninggalkan tempat itu diikuti sejumlah hantu lainnya. Tapi mereka yang masih tinggal ada banyak, sangat sangat banyak.

[tab:Hal 7]

________________________________________
Post by: didie-sy on March 03, 2008, 03:04:04 pm
________________________________________
aloooo semua :-*
aloo blood sin,aku didie n jarang maen-maen ke pulau penulis
tadi aku udah posting siy tp ga tau masuk ga?aku dikasi tau tentang goran sama temenku tapi masi ragu.
review lo tentang goran kok beda banget sama review kobo chan di kutu buku.com?dia negatif gitu.kynya kalian baca buku yang beda ya?yang bener yang mana?
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 03, 2008, 03:51:38 pm
________________________________________
@didie sy, teman baruku…
kok malah mempertanyakan apakah om blood membaca buku GORAN ataw tidak? hehehe…
aku sendiri belum baca, tapi menurutku wajar jika ada pembaca yang pendapatnya berseberangan, satu positif, satu negatif.
gak mungkin semua suka, atau sebaliknya semua gak suka. harry potter aja ada yang gak suka dan yang gak suka, apalagi buku yang lain.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 03, 2008, 04:09:02 pm
________________________________________
Quote from: yuzuriha on March 03, 2008, 02:58:02 pm
lia……………
gak tau kanapa tiba2 aku jadi capek banget nulis dan berpikir………
padahal semua masih terangkum rapi di otakku padahal deadline novellet nyata tgl 29 maret……. :’(
aku gak bakat kali yah?????
hehe…
yuzu, jika masalahmu adalah capek, ya beristirahatlah.
jika masalahmu karena tiba2 gak bisa nulis padahal semua udah ada di otak, mungkin coba dengan lebih fokus, jangan mikirin hal lainnya.
tapi jangan sampai menyalahkan si ‘bakat’ ya… hehehe…
Tuhan sudah menganugerahkan ‘bakat’, pasti ada tujuannya. tapi sebenernya ada yang lebih penting daripada bakat, yaitu ‘usaha’.
barangkali ‘usaha’ kita buat belajar dan menulis belum terlalu kuat. masalah yang sama selalu dihadapi setiap penulis kok, tapi sebenarnya kita udah tau jawabannya. cuma melakukannya yang sulit.

Comments No Comments »

[tab: Hal 1]Sesi IV (22 Jan 2008 – 3 Feb 2008)

  • Review KLA 2008 oleh clickdian
  • Terra Mater Aftermath karya clickdian
  • Monster’s Tales karya hege
  • Tentang tampilan cover
  • Hati-hati posting naskah ke publik
  • Lagi, tentang Fans Fiction dan Fantasy Fiction
  • Review Septimus Heap: Magyk oleh clickdian

[tab: Hal 2]

________________________________________

Post by: clickdian on January 22, 2008, 08:48:21 am ________________________________________

Hi guys… I’d like to report the ceremony of Khatulistiwa Literary Award 2006-2007 event, held on 18th January 2008 at Plaza Senayan. Semua orang bisa dateng dan ngeliat, dari lantai dasar ampe atas, jadi center of attention banget.

Acaranya oke… straight to the point dan ga bertele-tele, everything went quite fast. I loved it karena acaranya malem dan aq ga terlalu enjoy keluyuran malem di Jakarta, soalnya ga apal jalan dan nggak banget deh kalo harus nyasar malem-malem, hehe.. Dan band-nya kerennn!! Akustik! Tiga gitar dan satu gendang (kayaknya sih gendang, dari tempat aq duduk ga terlalu jelas)—i like accoustic. Lagunya asing, tapi aq enjoy.. the voices blended nicely with the music.

Banyak orang hebat yang dateng ke sana… Richard Oh, . Djenar, ah, kalo tau dia?penggagas award ini—of course he’d come bakal dateng aq bawa deh novel Nayla. Andrea Hirata, he’s a nice man.. sangat ramah.. sayang ngobrolnya ga bisa lama-lama, udah kemaleman for all of us.. Mbak Dianing Widya, very grounded and full of smile. Happy Salma, ga sempet ngobrol, dia pulang cepet. Rieke Diah Pitaloka—face to face banget, tapi aq speechless dan cuma bisa tukeran senyum doang sama dia, hehe.. Adilla Anggraeni, blon sempet ngobrol juga padahal duduk sebaris. Farida Susanty, wah dia mah emang udah lama kenal, gara2 dia buka thread untuk Run! di FI ini jaman belon direvisi dulu. Dan kayaknya aq ngeliat Moammar Emka, tapi pas dicari lagi udah ngilang. And last but not least, para finalis lain—walopun ga ngobrol langsung—they’re all great. Hebat-hebat semua… waaa… dan aq bukan siapa-siapa… ga ada yang kenal, hehe..

I am so lucky to have opportunity to join this event. Banyak praktisi sastra yang hadir—penulis, pembaca, pemerhati… sekelompok orang dengan minat yang sama: writing. I am not the best on it, but to be in the same room with people with the same interest makes me feel like home.

Satu hal yang bikin aq seneng banget.. walopun nggak menang, tapi Zauri salah satu finalis yang di-sort dari seratus-an buku2 lain, and it means, genre fiksi fantasi juga dihargai sekali lagi sebagai karya sastra di negeri kita tercinta ini, setelah penghargaan Adikarya IKAPI. I’m very thankful for that, alhamdulillah… akhirnya kita dapet tempat juga, teman-teman, dan nggak dipandang sebelah mata. Bahwa Zauri tidak berhasil jadi pemenang, itu berarti Allah udah punya jalan sendiri untuk Zauri, yang insya Allah lebih baik. Mungkin tempat utama itu kelak akan diperoleh oleh salah satu dari mereka yang bergabung di thread ini? I hope so… Mari terus berkarya, teman-teman. Ayo kita buat paling tidak satu dari finalis award ini tahun-tahun yang akan datang adalah novel dengan genre fiksi fantasi, dunia kita.

Note: The winner for prose category is Gus tf Sakai (Perantau). The winner for poetry category is Acep Zamzam Noor (Menjadi Penyair Lagi..) The winner for young writer category is Farida Susanty (Dan Hujan Pun Berhenti) ?Congratulations!

[tab: Hal 3]

________________________________________

Post by: clickdian on January 23, 2008, 08:57:58 am ________________________________________

Terra Mater, Aftermath

Felicity menatap jendela. Wajah cantiknya menyiratkan kesedihan. Biasanya, ia melihat pemandangan yang sama dari jendelanya setiap hari. Tetapi kali ini berbeda. Setelah merasakan hari-hari alami di Bumi, jendela kamarnya terasa sangat asing, walaupun ia sudah menatapnya selama dua puluh enam tahun hidupnya. Ada perasaan aneh yang membuatnya ingat pada Bumi. Sinar matahari alami yang menembus sela gorden pada pagi hari, senyapnya senja yang perlahan-lahan membawakan malam, hembusan angin yang meniup pelan rambutnya…

Perasaan aneh itu bernama rindu.

Ia membuka jendela dan mendapati jalanan di sini jauh lebih tenang dari biasanya. Menyesap kopinya yang masih mengepul, Felicity mendapati dirinya lagi-lagi teringat ketika masih di Bumi. Hari-hari di mana ia harus menenggak berliter-liter cairan kopi untuk membuatnya tetap terjaga dan menyelesaikan misi.

Bahkan meminum kopi pun terasa lain, pikirnya sedih. Terlalu banyak hal-hal alami di Bumi yang takkan pernah diperoleh di sini. Harga yang amat-sangat mahal yang harus dibayar manusia sebagai upah dari keserakahannya. Tidak hanya itu. Bahkan nyawa pun menghilang untuk memperoleh hal-hal berharga itu kembali. Sia-siakah? Atau berusaha memperoleh surga itu adalah keputusan paling bodoh yang pernah kubuat? Aku tidak hanya kehilangan banyak teman, aku juga kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri atas kegagalan ini. Ah, mungkin belum waktunya aku menyebut kegagalan. Masih ada harapan, seperti yang Dewa katakan padaku. Walaupun harus menghabiskan banyak waktu untuk melihat harapan itu menjadi kenyataan atau tidak.

Menghela nafas, Felicity membuka genggaman tangan kirinya. Sebuah tabung kaca, berisi sepotong jari telunjuk di dalam cairan pengawet—satu-satunya yang tersisa dari pria yang ternyata ayah biologisnya. Tes DNA telah membuktikannya. Ia harus membuat pegawai Lab Biologi bersumpah untuk tidak membocorkan hal ini pada siapa pun. Dewa, Nathan dan Chen Li telah berjanji untuk menyimpan rahasia ini sampai mati. Dan Azusa… yah, untungnya dia tidak mengetahuinya, jadi rasanya bukan masalah. Walaupun rahasia ini mungkin terbuka juga suatu hari nanti, setidaknya untuk saat ini biarlah publik buta tentangnya.

Benda yang mengerikan untuk dijadikan kenang-kenangan, batinnya. Tapi setidaknya ada yang tersisa untuk dibawa pulang…

Malam semakin larut. Kopi di cangkirnya sudah hampir habis. Udara kotanya yang datar, sungguh berbeda dengan Bumi, dan lagi-lagi Felicity menelan kenyataan kalau ia sangat ingin untuk kembali ke Bumi.

Felicity menelengkan kepala menatap taman buatan di bawahnya. Hanya ada beberapa orang di sana, dan perhatiannya tertambat pada sepasang kekasih yang sedang berdiri di bawah pohon. Matanya langsung memanas. Hatinya langsung teringat pada sebuah nama.

”Ian,” bisiknya lirih, tanpa sadar.

Dan matanya basah. Kehilangan Ian adalah pukulan telak baginya. Dan ironisnya, beberapa saat sebelum shuttle itu meledak, ketika pandangan mata mereka terikat, dan Ian mengucapkan selamat tinggal untuknya, barulah Felicity menyadarinya.

Ian adalah satu-satunya orang yang dicintainya. * * *

Taman buatan itu adalah satu-satunya tempat di Fasilitas Riset Luar Angkasa yang memiliki koleksi tumbuh-tumbuhan cukup lengkap. Semua tumbuhan di sini adalah hasil dari kultur jaringan dan rekayasa genetika, itulah sebabnya disebut taman buatan.

Tidak banyak orang yang ada di taman malam ini. Tetapi tempat ini tetap saja terang benderang, hasil dari puluhan lampu yang dipasang secara artistik di segala penjuru. Lebih tepatnya, lampu-lampu itu melayang di berbagai tempat dan ketinggian, yang secara berkala berpindah-pindah membentuk formasi-formasi tertentu. Dari kejauhan lampu-lampu yang berwarna-warni itu membuat taman terlihat indah. Azusa menarik Dewa ke satu pohon; pohon ek besar dengan lubang di bawahnya.

“Dewa, kau ingat dulu kita sering menyembunyikan barang di situ waktu kecil?” Azusa menunjuk ke dalam lubang.

“Tentu saja! Kau menyembunyikan barang-barangku di sana,” Dewa mulai menghitung. “Mulai dari robot rakitan pertamaku, lalu pena elektrik hadiah dari Damian kakakku, kemudian benda-benda lain entah apa saja. Jadi sebenarnya kau yang suka menyembunyikan barang, bukan ‘kita’.” Dewa menyeringai.

Azusa tersipu. “Kusembunyikan robotmu karena kau tidak mengajakku dalam kompetisi itu. Lalu pena elektrikmu—karena kau menjodohkanku dengan Ian Bright, si bengal itu. Aku dulu tidak suka padanya.”

“Oh, jadi itu caramu membalas dendam—menyembunyikan barang?” goda Dewa.

“Bukan begitu…”

Azusa baru saja akan membela diri ketika Dewa berkata lagi, “Tapi aku heran, kenapa kausembunyikan juga coklat valentine yang kuterima dari Sakura?”

Wajah Azusa kontan memerah, membuat Dewa semakin bersemangat menggodanya.

“Itu..”

“Kau tidak cemburu kan?” Dewa menundukkan kepala ke arah Azusa.

“Aku?” balas Azusa cepat. “Tentu saja tidak! Kenapa aku harus cemburu? Terserah Sakura mau memberi coklat pada siapa!”

“Lalu kenapa kausembunyikan?”

Azusa terdiam, kehabisan kata-kata. Ia langsung kikuk dan Dewa tertawa melihatnya. Mereka sama-sama tahu apa alasan Azusa melakukan hal itu, dan alasan itu sudah tidak penting lagi untuk diutarakan.

“Sudah lama sekali sejak terakhir kausembunyikan barang milikku. Kita sekarang sudah dewasa, Azusa.”

Azusa mengangguk. “Benar. Dan aku sudah tidak berminat lagi pada barang-barangmu, Dewa. Jadi kalau ada barangmu yang hilang, jangan tuduh aku, ya.”

Dewa mengerucutkan bibirnya, berpikir sejenak. Setelah yakin ia lantas menoleh ke arah Azusa sambil berkata, “Kalau pada pemiliknya, kau berminat atau tidak?”

“Hah?” Azusa tersentak mendengar pertanyaan Dewa.

Atmosfer di antara mereka langsung berubah. Pertama kalinya sejak Dewa mengenal Azusa selama bertahun-tahun, ia tidak ingin lagi mengenal Azusa sebagai teman.

Dewa menatap Azusa lekat-lekat. Ada bekas luka memanjang di kening gadis itu. Bekas operasi. Terlihat jelas berkat sinar lampu taman yang kebetulan salah satunya melintas di atas mereka.

”Jangan tatap aku seperti itu,” keluh Azusa, memalingkan wajahnya dari Dewa.

”Mengapa?”

”Kau pasti menatap keningku lagi. Bekas lukaku ini…” Azusa menunduk, tidak menyelesaikan kalimatnya. ”Aku… aku malu.”

Dewa menaikkan sebelah alisnya. ”Malu?”

Azusa semakin menunduk.

Dewa menyadari bibirnya membentuk seulas senyum. ”Kenapa? Karena kau telah ikut misi Casero dan mengawali perjuangan untuk Bumi? Atau karena kau mendapatkan luka yang telah menyelamatkan teman-temanmu?”

Azusa mendongak mendengar kata-kata Dewa. Teman kecilnya itu, baru disadarinya kini, telah berubah menjadi laki-laki dewasa. Dewa yang ia kenal biasnya tidak berkata seserius ini. Ataukah selama ini ia tidak memperhatikan?

”Chen Li telah mengambil chip itu dari tubuhku. Kalau tak ada dia, mungkin aku sekarang sudah…” Azusa terdiam, lalu menoleh ke arah sebuah gedung tak jauh dari situ, bentuknya seperti setengah bola dengan banyak jendela yang lampunya menyala.

”Jenius, memang, dia,” Dewa ikut-ikutan menatap gedung itu. Merasakan kehangatan menyelimuti hatinya karena tahu sahabatnya itu ada di situ. Chen Li telah menyelamatkan banyak nyawa, termasuk Azusa, walaupun beberapa orang yang sempat ditolong olehnya pada akhirnya tidak dapat bertahan hidup.

”Azusa,” panggil Dewa kemudian.

”Ya?” jawab Azusa, memberanikan diri untuk menatap Dewa.

”Kau harus bangga pada bekas lukamu itu. Itu luka kehormatan.”

”Tapi aku jadi diperhatikan banyak orang karenanya.”

”Biarkan saja mereka!”

”Tapi aku jadi jelek,” protes Azusa keras kepala. ”Mungkin aku operasi ulang saja supaya bekas ini hilang dan…”

Dewa meraih kepala Azusa dengan sebelah tangannya, lalu dengan sangat lembut, ia menyentuh bekas luka di kening Azusa itu dengan ibu jarinya. Gadis berambut hitam panjang itu tersentak. Tapi ia tidak melepaskan dirinya dari Dewa, hanya menatap matanya dengan pandangan bertanya.

Dewa tersenyum. ”Jangan dihilangkan. Kau tetap cantik dengannya.”

Pipi Azusa bersemu merah.

”Sungguh?”

Dewa mengangguk. Mereka bertatapan dalam diam.

”Ngomong-ngomong, Azusa. Kau belum menjawab pernyataanku dulu..”

”Memangnya kau butuh jawaban?” Azusa membuat senyum terindah yang pernah diberikannya pada Dewa. * * *

”Ngapain di sini?”

Chen Li melirik ke jendela. Lalu tanpa menoleh, ia menjawab, ”Memangnya siapa yang melarang? Kau pikir gara-gara siapa kau masih hidup dan bisa masuk ke sini?”

Nathan langsung menumbuknya. ”Dasar! Masih tetap pede, kau, hah? Bukannya Felicity yang menyelamatkan kita semua?”

”Mungkin Dewa. Atau mungkin Azusa, atau mungkin malah kau. Kita saling menyelamatkan, kau tahu?” jawab Chen Li tanpa fokus. Matanya masih melirik ke arah taman. ”Sialan dua makhluk itu,” gerutunya, membuat Nathan ikut melihat ke jendela. ”Bikin iri saja!”

Menyadari siapa yang sedang berdiri, Nathan langsung tertawa. ”Iri? Pantas saja, memangnya ada yang mau padamu, Blondie? Di dalam otakmu kan hanya ada komputer dan program?”

”Enak saja,” Chen Li tersenyum sinis. ”Aku tidak ada waktu, dan bukan aku tidak ada yang mau. Bisa saja aku pacaran dengan semua gadis di sini kalau aku mau. Mana ada sih yang tidak terkagum-kagum padaku, Chen Li The Invisible?!”

Nathan pura-pura menguap sebagai jawaban. Dia sudah hafal sifat narsis Chen Li yang sudah pada taraf akut itu.

“Basi, kau,” katanya singkat, dan Chen Li balas menumbuknya. “Cepatlah berburu sebelum jadi kakek tua!”

“Bah! Lihat siapa yang bicara! Kau sendiri ‘masih tersangkut di Bumi, bukannya mengejar Bidadari’mu itu!” Chen Li menggedikkan kepala ke arah flat Felicity di seberang taman. “Gadis secantik dia, cuma ada seribu tahun sekali!”

Nathan tidak menjawab. Kalimat Chen Li membuatnya teringat pada dua hal. Felicity Adams adalah yang pertama. Makhluk terindah yang pernah dilihatnya. Nathan tahu meraih gadis itu akan sulit sekali. Tetapi, sulit bukan berarti mustahil, kan? Tiba-tiba ia tersenyum sendiri. Masih ada harapan, katanya dalam hati. Selama aku masih hidup, akan kukejar dia.

“Ngapain cengar-cengir?” Chen Li menaikkan alisnya ketika menanyakan hal ini, membuat Nathan memutuskan untuk tidak mengatakan isi kepalanya pada Chen Li. Itu hanya akan membuat Chen Li semakin punya alasan untuk meledeknya.

Nathan mengalihkan pembicaraan, pada hal yang kedua.

“Rasanya baru kemarin kita pergi, ya? Tahu-tahu sudah di sini lagi.”

Chen Li mengangguk. “Tahu, tidak, misi Casero membuatku takut mati.”

Dengan sebelah alis terangkat, Nathan berujar, “Hei, aku tidak pernah mengira seorang Chen Li akan takut mati!”

Tadinya Nathan mengharapkan jawaban asal khas Chen Li, tapi ia keliru.

“Sungguh, aku jadi takut mati. Terlalu banyak kematian yang berhubungan dengan Bumi. Teman-temanku. Benda-benda ciptaanku. Aku takut ketika aku mati nanti, tak ada orang yang bisa aku warisi. Rasanya aku perlu menikah dan punya banyak anak.”

Nathan ternganga.

“Hei… kau tak apa-apa?” tanyanya prihatin.

Chen Li menggeleng. Diletakkannya kotak kaca mungil berisi prototipe robot mikro yang sedari tadi digenggamnya. Robot ini adalah karya Chen Li terbaru, akan berguna untuk mendeteksi penyakit pada organ dalam manusia—robot ini akan bisa menjelajahi tubuh manusia dengan mudah. Kemudian ia beranjak menuju pintu.

“Aku mau pulang,” kata Chen Li.

Nathan tidak mencegahnya. Ia hanya melambai asal pada sahabatnya itu.

Sebelum pintu menutup, Chen Li berbalik sekejap. “Tapi aku serius mau punya anak banyak,” katanya, menutup pembicaraan, meninggalkan Nathan yang masih terheran-heran mendengar kalimatnya.

Nathan masih terdiam lama setelah pintu itu tertutup. Terhanyut dalam pikirannya sendiri. Ia, seperti juga Chen Li, ikut dalam misi Casero. Dan ia tahu seberapa besar pesona Bumi bisa menarik hati. Bumi telah mengubah banyak orang. Bahkan Chen Li sekalipun.

Ia melirik hologram Bumi yang terpampang di sudut ruangan, berputar anggun dengan gerakan pelan. Satu-satunya benda yang baginya, tidak hanya lebih indah dari Felicity Adams. Tetapi juga jauh, jauh lebih agung.

Keagungan yang masih jauh untuk dapat diraih. * * *

[tab: Hal 4]

________________________________________

Post by: hege on January 26, 2008, 11:33:51 am ________________________________________

MONSTER’S TALES

To Celebrate Monster’s Day – 26 January

Pada suatu hari di negeri para monster, dua monster gemuk bersaudara memasuki pintu berukuran raksasa. Boks neon besar bercahaya pucat dengan tulisan “Monster’s Bar, Just for Monsters!” bertengger miring di atasnya. Kedua monster ini berjalan serampangan menuju sudut ruangan, meninggalkan jejak kaki berlendir di lantai.

Bar-bar dan diskotik di manapun di negeri itu sedang sepi pengunjung. Di Monster’s bar hari ini hanya ada enam atau tujuh monster bertanduk. Kebanyakan rakyat sipil negeri monster bersembunyi di rumah atau gua saat malam hari tiba, negeri mereka sedang dilanda krisis multidimensi.

“Ini sungguh mengenaskan, Zchuib,” gumam salah satu monster yang baru saja memilih tempat duduk, ia memandang ke sekeliling, ruangan bercahaya remang-remang itu terasa sunyi sekali. Kawannya mengerjapkan ketiga matanya bersamaan dan bersendawa.

Kedua monster ini adalah monster bertampang paling menjijikkan yang pernah ada. Kulit mereka seperti terbuat dari lilin hijau yang hampir mencair berikut duri-duri gemuk di sekujur punggung. Mereka memiliki kepala besar tak proporsional dengan posisi mata, mulut dan hidung berantakan. Dua lengan mereka yang gempal pendek dan kaku berukuran tak sama di kiri-kanan. Jari-jari mereka pun hanya empat saja di setiap tangan, beberapa jari itu buntung dan lengket.

Salah satu pelayan monster dengan wujud yang tak kalah menyedihkannya datang kepada mereka, membawakan pesanan dua gelas kayu berukuran besar yang dipenuhi minuman gobra (merupakan hasil fermentasi darah kerbau)

“Kita semua mengenaskan, ZeZe,” gerung Zchuib meraih gelasnya dan minum, sebagian isinya tumpah ke badannya yang bengkak penuh bisul. “Aku rindu masa-masa di mana HAM (Hak Asasi Monster) ditegakkan seadil-adilnya. Belum pernah jalanan di malam hari bisa sampai selengang ini.”

“Iya,” sahut kawannya pelan, minum gobra-nya habis sekali tenggak. “Tapi bisa kau pelankan suaramu sedikit! Mereka ada di mana-mana, para mata-mata itu!”

“Ah sejak kapan kau takut sama mereka,” ujar Zchuib santai. “Mahluk-mahluk kecil menjijikkan yang disebut manusia itu. Kau lihat cara mereka makan? Aku heran bagaimana mereka melahap daging hewan dengan merebus atau menggorengnya. Yang aku tahu semestinya mereka memakan rumput mentah.”

“Manusia banyak sekali saat ini, Zchuib sayang. Ada di mana-mana dengan senjata yang meledak-ledak di ujungnya. Kita harus hati-hati!” kata ZeZe melirik ke sana ke mari. “Izib bahkan sulit menemukan kerbau di manapun di gunung, para manusia menangkap mereka semua dan mengurungnya di semacam tempat, mereka menyebutnya kandang, kurasa.”

“Kandang?” tanya Zchuib menggeleng, tak percaya mendengar kabar ini. “Para manusia itu tak hanya saja mencuri makanan kita, tapi juga kebudayaan kita.” (kandang adalah sebutan untuk bangunan istana di negeri para monster, dahulu kala, lama berselang—sebelum para manusia datang dan merebut kekuasaan)

“Raja kita, Perzekouloth, kira-kira bagaimana nasibnya?” tanya ZeZe hati-hati.

“Para manusia pasti telah mengulitinya dan mengubahnya menjadi dendeng,” ujar Zchuib yakin. “Perzekouloth yang malang, salahnya mau menandatangani surat kerja sama dengan manusia—mahluk-mahluk yang sulit dipercaya, tengil dan licik.”

“Iya benar, sekarang rakyat sipil menjadi korban,” kata ZeZe sedih. “Aku mau membakar diri saja sebelum para manusia memasak dagingku menjadi sup.”

“Jangan putus asa begitu, ZeZe!” geram Zchuib tajam. “Kita akan melakukan gerilya, inilah yang disebut perang sipil, kita akan menegakkan keadilan. Manusia harus dimusnahkan dari negeri tercinta ini, jangan biarkan mereka membuat lebih banyak kandang lagi! Kita harus melakukan tindakan nyata.”

“Tunggu sebentar, Zchuib sayang!” bisik ZeZe mengingatkan. “Kurasa tak bijaksana merencanakan hal-hal seperti ini di ruang publik, para manusia bisa mendengar, dan celakalah kita!”

“Diamlah kau, ZeZe! Jangan paranoid seperti itu!” geram Zchuib. “Apa kau sudah kehilangan instingmu seperti kebanyakan monster belakangan ini? Monster sejati dilahirkan untuk tidak takut terhadap apapun!”

“Kita ditetaskan, Zchuib sayang!” protes ZeZe buru-buru.

Read the rest of the story here http://kemudian.com/node/79357 dont forget to leave any comment.

[tab: Hal 5]

________________________________________

Post by: BloodSin on January 28, 2008, 07:55:41 am ________________________________________

kemaren gw ke gramed n melakukan sedikit riset iseng2: ngeliat2 judul semua novel yg ada.. hmm.. kalo diliat2, hampir semuanya punya judul memikat n bisa bikin orang penasaran.. ini ngebikin gw bertanya: apakah judul novel gw udah mantep? dan jawaban gw, belom.. :( gimana dengan temen2? ??? ada yg bilang yg penting isi, bukan judul/kover dari suatu buku.. tapi kalo menurut gw judul cukup mempengaruhi penjualan di pasar.. soalnya dari judul sedikit banyak bisa merepresentasikan isi sebuah buku, satu frase/kalimat yg mewakili ribuan kata dalam 1 buku (halah, gw ngomong apa sih?) temen2, coba dilist donk ente2 pada udah ngebikin cerita dengan judul apa aja, kita sekalian bisa share nihh.. :)

oya, kemaren gw ngeliat novel GORAN.. hmm.. ngeliat ringkasan plotnya di belakang buku sih cukup menjanjikan.. tapi ‘Pasukan Jas Hujan Putih’-nya itu lho :-\.. bikin ilpil. :P

________________________________________

Post by: BloodSin on January 28, 2008, 04:01:50 pm ________________________________________

Quote from: rd_Villam on January 28, 2008, 03:27:06 pm hehe… TFH itu kerjaan bertahun-tahun, rik… itu ambisiku yang paling gede, yang gak kelar-kelar, dan gak tau kapan bakal kelar… yang di k.com itu baru prolog dan 6 bab awal dari buku 1.

ati2….. jangan terlalu banyak posting naskah kalo emang diniatin buat terbit nantinya, bang…. kadang ada penerbit yg gak mau naskah yg diterbitinnya terlalu beredar luas, lagipula kalopun ada penulis yg mau mempromosikan naskahnya yg udah terbit, dia pasti cuman ngasih sebagian kecil halaman2nya…….. itu yg ngebikin gw setop posting lemuria n tangerine di kemudian, soalnya karena emang naskah gw cuman 2 itu, dan gw ada niat ngerampungin untuk dikirim ke penerbit, someday ;)

eh keknya gw pernah diajarin teori beginian ama seseorang disini yak.. :D ________________________________________

Post by: rd_Villam on January 28, 2008, 04:36:12 pm ________________________________________

that’s why, rey… aku mungkin ga bakal ngepost lanjutan cerita-cerita tersebut di sana… tapi yang sudah telanjur, ya sudah biarkan saja…

________________________________________

Post by: mocca_chi on January 28, 2008, 04:42:01 pm ________________________________________

iyah.. villam banyak bgt post naskahnya. biarpun nda dibajak orang, takutna kan idenya dicuri orang (kalau nda bisa dibilang menginspirasi) kan nda banget liat ide kita di naskah karya orang lain, mending jika lebih jelek, klo lebih bagus ketimbang naskah kita kan keki juga…

[tab: Hal 6]

________________________________________

Post by: blue_amaranthine on January 28, 2008, 06:00:02 pm ________________________________________

Kawand, berdasarkan saran Villiam, so aku nimbrung di sini dech. Hehe.. baru sich, jadi belom taw apa-apa. Bout fiksi fantasi, emangnya apa-apa aja sih yang perlu dimunculin dalam fiksi fantasi, hingga orang-orang bisa bilang, “Jadi, ini novel fanfic” sualnya banyak bget temen-temen yang ngeidentikin ama science fiction. Apa jangan-jangan fanfic itu salah satu science fiction?

________________________________________

Post by: BloodSin on January 28, 2008, 06:31:22 pm ________________________________________

istilah fanfic itu bukan mengacu ke genre fantasy bro, tapi ke suatu genre buat wadah para fans fiksi tertentu. nah bingung kan? jadi misal ente penggemar LOTR, n terus saking cinta matinya ente ma LOTR, ente ngarang cerita gmn kehidupan frodo setelah one ring ancur… nah cerita yg ente bikin itu, dikategoriin fan-fic. hmmm sebetulnya gampang kok ngebedain fantasi ama science fiction, kalo fantasy lebih menitikberatkan pada kekuatan imajinasi/fantasi si pengarang, sci-fi cenderung mengandalkan riset buat landasan cerita.. jadi antara fantasi ama sci-fi itu kayak antara imajinasi dan fakta lapangan… beuh, ini cuman pendapat ngasal dari eke sahaja, mungkin master2 fantasy disini mau menambahkan, hege n villam espesially. :-*

________________________________________

Post by: rd_Villam on January 28, 2008, 11:00:11 pm ________________________________________

@blue, welcome to the club! :) jadikan ini rumah keduamu, ya… heheh… penjelasan mengenai perbedaan antara ‘fans fiction’ dan ‘fantasy fiction’ dapat dilihat pula di halaman pertama thread ini. sementara kalo menurut gue sih, science fiction itu termasuk bagian dari fantasy juga. (star wars atau star trek itu fantasi juga kan?) soalnya kalo bicara fantasy, itu luas banget sebenernya, seluas imajinasi para pengarangnya. ada yang jenis sci-fi kayak contoh tadi, ada jenis high fantasy macam LOTR yang bikin dunia sendiri, ada jenis Harry Potter yang menonjolkan dunia sihir, ada jenis Bartimaeus yang bikin dunia alternatif, dll dsb. trus kalo yang dibilang rey, bahwa sci-fi cenderung mengandalkan riset, mungkin kudu diperjelas bahwa riset yang dimaksud di sini adalah riset teknologi. soalnya riset kan macem2, ada riset sejarah, riset geografi, riset budaya dan bahasa, riset tokoh, dan segala macam lainnya. dan segala macam riset itu wajar pula muncul di genre-genre lainnya.

[tab: Hal 7]

________________________________________

Post by: clickdian on February 03, 2008, 04:43:52 pm ________________________________________

Septimus Heap: Magyk

Angie Sage

Buku yang baru terbit seri pertamanya ini meng-klaim dirinya sebagai pengganti Harry Potter. Ini salah satu alasan kenapa aq beli (duh, strategi pasarnya jitu juga! korban nih, korban). Sayangnya, aq agak kecele setelah baca. Jalan ceritanya mudah ditebak.

Magyk adalah plesetan dari ‘magic’, sama dengan istilah ‘magick’ di FF12 yang sebenernya ‘magic’ juga. Semua orang di dalam cerita ini akan memiliki mata berwarna hijau begitu mulai mempelajari Magyk. Dan ada satu posisi terhormat di dunia Magyk yaitu Penyihir Luar Biasa, yaitu pemimpin para penyihir yg bekerja untuk kerajaan, tinggal dalam menara khusus di dalam istana.

Kisah ini berawal dari saat kelahiran Septimus Heap. Cerita magyk ini berpusat pada sebuah kota imajiner (settingnya jaman dahulu) yang dikelilingi benteng tinggi berbataskan sungai melingkari kota. Pemimpin kota (ato negeri) ini adalah seorang Ratu, dengan garis matrilineal, yang otomatis membuat kekuasaan diturunkan pada para perempuan. Nah.. keluarga Heap tinggal di dalam satu kamar di dalam sebuah rumah besar di dalam benteng tersebut.

Ada sebuah legenda (yg semakin jauh aq mengikuti cerita ternyata benar adanya) bahwa keturunan ketujuh dari anak ketujuh keluarga penyihir akan memiliki kekuatan magyk yang luar biasa. Dalam kasus ini, Silas Heap–ayah Septimus–adalah anak ketujuh. sementara septimus sendiri juga anak ketujuh di dalam keluarganya.

Jadi, pada saat bayi, Septimus diincar oleh penyihir jahat, dikabarkan sudah mati dan diculik. pada saat bersamaan Ratu dibunuh dan bayi perempuannya diselamatkan Penyihir Luar Biasa dan dimasukkan ke keluarga Heap. Intinya, keluarga Heap kemudian merawat sang putri sementara anak mereka sendiri–yang dianggap sudah mati–sebenarnya masih hidup dan berada di tempat lain. Cerita kemudian bergulir ke saat sepuluh tahun kemudian, di mana anak2 tersebut sudah berkenalan dengan magyk dan mulai dikejar2 penyihir jahat lantaran si putri ketahuan tinggal bersama mereka.

Dalam buku ini, u will find different kind of magic. ga ada wand sama sekali, semua penyihir bisa menyihir begitu saja, selama mereka punya spell. power dan jenis sihir sangat tergantung pada mantera ini, tapi penyihir bisa membuat spell sendiri, walaupun masih banyak tergantung buku mantera.

Overall… aq masih ngerasa kurang greget. mungkin krn lebih suka cerita yg ngelibatin emosi yang kuat, sementara style-nya Angie justru lebih di story daripada emosi. selama mengikuti cerita rasanya datar2 aja, dan aq ketawa karena joke baru di halaman 315 (kalo ga salah). Kalau mau dibilang pengganti Harry Potter, menurut aq, mending tunggu buku kedua dulu. mungkin lebih menarik. Tapi kalo kamu suka fantasi dengan dunia yang benar-benar baru, novel ini bisa jadi pilihan. Angie cukup kreatif dan imajinatif dalam meramu yang satu itu.

Comments No Comments »

[tab: Hal 1]Sesi III (15 Des 2007 – 22 Jan 2008)

  • Tentang Hozzo karya hege
  • Tentang Goran dan Sang Penandai, terbitan Serambi
  • Tentang tanggapan pembaca di kemudian.com

[tab: Hal 2]

________________________________________
Post by: eniyorda on December 15, 2007, 09:47:11 am
________________________________________
Here goes…
ini aku re-post (dengan sedikit editing).
Sebelumnya:
- Ilmuku dikit. yang mau saya tambahkan di sini lebih kepada hasil pengamatan saja, tidak pakai referensi ini itu, dan saya menulis ini karena mempunyai sudut pandang yang sedikit berbeda dari reviewer di AK.
- Latar belakang saya adalah seorang penulis bacaan anak, dan seorang pembaca yang lebih banyak membaca fantasi daripada yang lain-lain. Jadi sedikit banyak ini pasti mewarnai cara pikir saya.
==========================

Kritik dari FAP yang panjang lebar itu, setelah ditilik-tilik sebenarnya cuma terdiri dari dua poin utama:
1. “Hozzo bukan fiksi ilmiah!”
2. “Plotnya amburadul.”
Selain itu ada beberapa poin kecil yang sudah ditanggapi oleh mas hege sendiri, seperti soal cover yang aneh, dll. Mungkin itu nggak perlu kutanggapi disini. Nah, sekarang akan membahas kedua poin di atas satu persatu.

1. “Hozzo bukan fiksi ilmiah!”
Pertama-tama, saya heran mengapa beliau mengasumsikan ini fiksi ilmiah, dan mengkritiknya sebagai fiksi-ilmiah. Setahu saya Liliput sendiri mengatakan ini fantasi, demikian Hege sendiri. Dan seandainya, ada yang menganggap fiksi ilmiah, seharusnya sah-sah saja, karena fiksi ilmiah yang dijelaskan olehnya (“ilmu pengetahuan sebagai dasar cerita”) adalah definisi yang tidak salah, tapi sempit. Anehnya dia bilang space opera bukan sf, tapi lalu bilang Star Wars adalah space opera. Jadi harusnya kesimpulannya adalah: Star Wars bukan sf. Tapi habis itu ngasih contoh-contoh sf dari Star Wars, bingung saya.

Adikku (cowok) sering bilang. “‘A long time ago in a galaxy far, far away…’[kalimat pembuka film]–Star Wars is fantasy!”, hehehe. Selain itu mayoritas buku di toko yang terkategori sebagai sf, disebut adikku ini sebagai fantasy. Mengapa, karena dia memegang definisi sf yang sama dengan si mas. Nggak salah memang. Tapi kalau ngomong soal ini kan sebenarnya mengkritik pengkategorian di toko, bukan mengkritik isi buku. Di toko Indonesia juga nggak ada kategori fantasy/sf. Jadi, kegemesan beliau lebih karena ada yang menganggap Hozzo adalah sf, bukan karena buku Hozzo sendiri.

Saya beranggapan pengkotak-kotakan sub-genre tidak usah terlalu saklek atau terlalu dipusingkan. Malah saya cenderung lebih suka fantasy, sf, horror diistilahkan sebagai speculative fiction saja, karena ketiganya sangat terkait erat. (Memangnya fantasy tidak bisa “mempunyai ilmu pengetahuan sebagai dasar cerita”?)

Kedua, dan ini lebih penting daripada yang di atas, adalah mengenai kritik terhadap kultur anak-anak alien yang anehnya sama dengan anak manusia seperti suka main ‘games’, tentang pembuatan dunia yang tanpa nalar, tentang eksotisme tanpa aturan, dan sejenisnya.

Kalau dilihat dari aturan “dunia”-nya, secara umum fantasy (+sf) terbagi dua kutub, tradisional dan non-tradisional. Dunia fantasi tradisional adalah dunia di mana “anything can happen”. Kadang tidak ada logika dunia sama sekali, kadang punya logika yang ‘twisted’. Contoh jenis ini adalah semua jenis dongeng, cerita rakyat, dan buku-buku fantasi/sf zaman dulu. Selain itu, banyak buku fantasi anak klasik jatuh pada kategori ini, termasuk semua buku Narnia, “Peter Pan”, “Wizard of Oz”, “The Little Prince”. Istilahnya, di dunia ini, kalau ada tokoh ibu peri bisa “simsalabim” menyihir apa pun tanpa aturan atau konsekuensi, nggak usah dipertanyakan lagi. Demikian juga jika batu yang dilempar terlalu tinggi bisa menjatuhkan bintang yang rupanya seorang cewek (‘Stardust’). Dewasa ini, fantasi dengan dunia dengan logika yang nyeleneh udah jarang. Biasanya dibuat untuk anak-anak, atau kalau bukan untuk anak-anak, dibuat untuk menonjolkan sesuatu entah itu kritik sosial, satire, atau plot dan imajinasi.

Di kutub yang lain, fantasi yang non-tradisional, mempunyai dunia dengan aturan yang dirancang jelas, detil, dan masuk akal, termasuk: sihir/teknologinya, budayanya, sejarahnya, sistem sosialnya, pemerintahannya, dll. LOTR sering dianggap tonggak pertama kemunculan fantasi jenis ini.

Nah, saya justru menganggap Hozzo lebih mendekati jenis yang pertama, sedangkan si mas menilai Hozzo dari pendekatan jenis yang kedua. Ya, jelas nggak adil. Nggak cocok jadinya. Apakah fantasi tradisional itu kuno, ketinggalan zaman, seperti kata beliau “ternyata masih ketinggalan, sejaman dengan era Flash Gordon belaka”? Ini yang justru saya nggak setuju, karena soal bagus yang mana banyak terkait dengan selera. Saya pribadi beranggapan, fiksi fantasi itu mau condong ke jenis yang mana, tetap berpotensi untuk menarik jika digarap dengan baik, entah itu akibat kombinasi plot yang seru, tokoh yang asik, imajinasi yang hebat, isinya daleeem, penuh metafor dan analogi, bahasa indah dan nyastra, konsep unik, atau unsur-unsur lain.

Apakah Hege harus merevisi seperti yang disarankan FAP tentang membuat dunia yang lebih nalar? –dunia, bukan plot atau tokoh (plot nanti akan dibahas di bawah). Kalo dari saya, terserah aja, karena toh sejauh ini saya tidak manganggap salah.
(Hai, hai, mudahan ngerti. Aku kesusahan menjelaskan apa yang ada di kepalaku).

2. “Plot amburadul”
Sepakat. Hege bagus kalo nulis scene atau bab, yang masih sedikit-sedikit–tapi kalo udah ditumpukin jadi satu buku, kerasa alur global cerita itu kurang terkendali.

*Sejujurnya saya sebagai pembaca memaklumi soal ini, karena kelemahan ini tertutupi dengan deskripsi dunia-dunia eksotis bikinan Hege itu. Tapi tidak semua pembaca mau melupakan soal masalah plot itu, rupanya.*

Saran revisi apa ya? Saya pengen detil sebenarnya, cuma lagi-laginya bukunya udah di kampung, jadi sekarang nggak bisa dibaca-baca. Takut lupa. Kalau dilihat, review ybs sebenarnya sudah menyebutkan semua yang penting. Saya ngga berani menyarankan bagaimana langkah-langkah perbaikannya. Selain udah rada lupa itu, juga tergantung sejauh mana hege bersedia mengeditnya. Misalnya, mau ngga kalau ada tokoh-tokoh yang dibuang?

Oh ya, mengenai percakapan tentang hal-hal yang nggak penting, seperti tentang reinkarnasi/karma. Kalau mau memasukkan hal yang filosofis ataw spiritual, sebaiknya jangan ditempel di percakapan aja, tapi masukkan sebagai tema. Atau setidaknya sesuatu yang bisa dieksplor sepanjang buku. Seperti hubungan Alan (atau siapa, lupa) dengan ayahnya yang buruk. Itu dah lumayan, digali aja lebih dalam dan bikin lebih menyatu dengan cerita utama. Atau sematkan unsur spiritual pada salah satu budaya planet alien yang dikunjungi (semacam satiris gitu).

Sekian, ada pendapat lain? biar membuka pandanganku juga.

[tab: Hal 3]

________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: BloodSin on December 15, 2007, 10:18:39 am
________________________________________
@eniyorda,
Oke deh, ane kelompokin aja mana yg lumayan(a.k.a standar abis) n mana yg good (unik n bener2 bagus)…. pake pakem selera ane.. inget, pakem selera ane lho.. ;)

lumayan: ledgard, pinissi, nightfall

bagus (sekalian ane kasi ranking deh):
rank 1: satu judul novel RPN yg gak pernah terbit yg menurutku almost perfect di setiap aspek novel(@sis, we know who)
rank 2: sang penandai (highly rekomended buat semua penggemar fantasy)
rank 3: hozzo (very entertaining, nice setting, n good characterization–halah :D , tapi sayang kurang di plot..)
rank 4: narend (nice setting, nice naming, good plot.. tapi terasa ada yg hambar dalam novel ini–entahlah)
untuk zauri, di antara kelas lumayan dan bagus.. rank 5 kali yah.. :P
novel laennya, silakan simpulkan sendiri.. :)

n.b 1:
jangan pernah tertipu ma judul.. :P
n.b 2;
hozzo ma ledgard mah beda kelas atuh.. :o
________________________________________
Post by: eniyorda on December 15, 2007, 10:54:39 am
________________________________________
Akan kuusahakan nyari sang penandai, sama buku-buku yang lain (walau ngga ada bayangan sama sekali ttg covernya). Ya, semua memang kembali ke soal selera. Ttg ledgard, bagiku ini buku dengan ide standar yang dieksekusi dgn lumayan (bukan sempurna). Masalahnya buku2 yang lain yg udah kubaca, baru sedikit, dan berada di bawah itu terutama segi teknis penggarapan. Sedang narend, menurutku kalah unik kebanding ama hozzo, jd ga kupilih.
________________________________________
Post by: hege on December 15, 2007, 08:02:53 pm
________________________________________
hihihi… thanks alot buat pencerahannya mba Fin.
I wont change the general plot on this first Book, becoz what happened in there is what exactly I plan for years. I just revised scenes and eliminated some characters (for publishing purposes).
sekuel hozzo yg lebih seru menyusul, sebelumnya akan ada Aura dan Samar. :D

[tab: Hal 4]
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: BloodSin on December 18, 2007, 12:53:01 pm
________________________________________
Quote from: eniyorda on December 15, 2007, 09:47:11 am
Dunia fantasi tradisional adalah dunia di mana “anything can happen”. Kadang tidak ada logika dunia sama sekali, kadang punya logika yang ‘twisted’.
Di kutub yang lain, fantasi yang non-tradisional, mempunyai dunia dengan aturan yang dirancang jelas, detil, dan masuk akal, termasuk: sihir/teknologinya, budayanya, sejarahnya, sistem sosialnya, pemerintahannya, dll.
Nah, saya justru menganggap Hozzo lebih mendekati jenis yang pertama, sedangkan si mas menilai Hozzo dari pendekatan jenis yang kedua.

hmmm.. kalo menurut ane, hozzo justru masuk fantasy non-tadisional.. kok bisa ente masukin fantasy tradisional si?
bukannya segala hal dalem hozzo dijelaskan mendetail, ttg misteri2nya, sejarah2 yg ada, sistem masyarakat, dll-nya? jadi ga gitu aja ada dan jadi kan.. malah hozzo ada juga pake penjelasan2 ilmiah gitu..
________________________________________
Post by: eniyorda on December 18, 2007, 01:46:11 pm
________________________________________
bloodsin, iya hozzo memang detil, cuma entah kenapa aku merasa semua detil2 itu lebih banyak akibat sesuka hati si pengarang, bukan detil dari ‘kesatuan’ rancangan aturan di dunianya. Buat contoh konkrit agar lebih jelas, entar ya, mau coba dicari dulu di bukunya.
________________________________________
Post by: hege on December 18, 2007, 03:02:08 pm
________________________________________
kok ga ada yg nanya pengarangnya, hozzo masuk fantasy yg mana ya? ::)
________________________________________
Post by: eniyorda on December 18, 2007, 08:46:48 pm
________________________________________
hege,
begitu karyamu diterbitkan, karya itu sudah menjadi milik pembaca mau ditafsirkan bagaimana, he5x.
oke deh, kutanya. Karyamu dimaksudkan utk masuk jenis yang mana? (terlepas apakah orang2 lain menilainya berhasil atau belum).

[tab: Hal 5]
________________________________________
Post by: rd_Villam on December 18, 2007, 10:40:29 pm
________________________________________
ah, ya…
dulu pernah ada yang berkata padaku: saat menulis kita menjadi raja, tapi begitu udah terbit, pembaca adalah rajanya.
terserah mereka yang sekarang akan menilai.
aku dulu membalas: menerbitkan buku–atau publikasi kecil2an sekalipun–itu seperti mengucapkan sesuatu yang tidak mungkin ditarik kembali, seperti halnya mencoba menarik batu yang sudah telanjur dilempar. kita berkesempatan merevisi, tapi jejak pertama kita tetap akan terekam, indah ataupun tidak indah.
dan kemudian, setelah aku menjawab itu, aku tersadar betapa tidak nyambungnya jawabanku itu (multiple choice – pilihan C: pernyataan 1 benar, pernyataan 2 benar, tapi tidak berkaitan sebab akibat).
sebagaimana aku tersadar sekarang, betapa tidak nyambungnya pernyataanku dengan pernyataan eniyorda, ataupun pernyataan2 lain sebelumnya. ;D ;D ;D
maklum, semakin malam, otak semakin korslet… :D
________________________________________
Post by: eniyorda on December 18, 2007, 11:19:18 pm
________________________________________
villam, kurasa nyambung kok. satu judul, tapi ada lebih dari 1 versi, karena versi lama ngga mungkin dihapus begitu saja. Jadi penasaran sama buku2 yang pernah terbit berbeda sebelumnya (misal eragon, yang katanya byk perubahan dari edisi self-publishednya).
Itu jenis pilihan ganda zaman kaapaaan gitu. saya lebih suka jenis yang A) 1, 2, 3 benar, B) 1 dan 3 benar. dst (nah ngga nyambung)
________________________________________
Post by: hege on December 19, 2007, 09:52:39 am
________________________________________
:o
fin,
It doesnt really matter hozzo masuk fantasy yg mana :D hihihih… actually. Hege asyik ajah para pembaca mengkategorikan hozzo sebagai fiksi ilmiah, space opera or whatever (me, somehow think of it as science fiction though, meski lebih suka menyebutnya sebagai fantasy belaka) Mengenai traditional and non-traditional, ini juga tak berlaku mutlak, karena pengarang menciptakan dunia tertentu berdasarkan apa yg ia kehendaki (seenak udel) but on purposes.
Hozzo sangat menyenangkan untuk ditulis(dan dibaca) namun saya akui ada kontrol tertentu yg dilewatkan (ini bukan utk menyudutkan siapapun) tapi peran editor dalam dunia penerbitan sangat signifikan, so sial hege aja yg ga dapet editor yg kompeten utk hozzo. hal-hal teknis tentu akan mendukung kenikmatan membaca.
well, seperti kata fin dan villam, jejak pertama sudah tercipta, bagi pembaca yg kebetulan mendapat versi awal, jadi mereka dapet yg original version (siapa tahu kapan2 versi2 kaya gini jadi rebutan para kolektor wakakakakak ;D kidding) Untuk versi selanjutnya naskah harusnya lebih matang dan disempurnakan. finger cross 4 that!
________________________________________
Post by: BloodSin on December 19, 2007, 10:06:57 am
________________________________________
Quote from: hege on December 19, 2007, 09:52:39 am
Untuk versi selanjutnya naskah harusnya lebih matang dan disempurnakan. finger cross 4 that!

Dan dipertipis, tentu.. :D (berlaku bagi hozzo)
________________________________________
Post by: hege on December 19, 2007, 10:11:06 am
________________________________________
yeah, sejauh ini 100 pages kubabat tanpa ampun, liat betapa ngalor ngidul-nya naskah ini (well beberapa dialog yg menyenangkan juga kena sikat)

[tab: Hal 6]
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: eniyorda on December 25, 2007, 02:20:10 pm
________________________________________
Pandangan dua penerbit (GPU, Matahati) yang konsisten menerbitkan fantasi luar negeri mengenai genre fantasi di Indonesia dan potensi penulis fantasi lokal. Cuma… yah, menurutku kurang lengkap reportasinya karena nggak memuat bagaimana pandangan penerbit lain yang udah lebih sering menerbitkan karya fantasi lokal.

===================
Dari Koran Tempo, 23 Des 2007:

http://www.korantempo.com/korantempo/2007/12/23/Buku/krn,20071223,21.id.html

Setelah Harry Pergi
Fiksi fantasi belum kehilangan gairahnya.

Sampai umur 11 tahun, Jack hanyalah seorang bocah biasa dari keluarga Saxon yang sederhana. Ia tinggal bersama ayah, ibu, dan adiknya, Lucy, di sebuah desa pantai. Kalau ada yang agak istimewa di keluarga itu adalah kemampuan ibunya membuat sihir-sihir kecil.
Keadaan mulai berubah saat Bard meminta Jack menjadi muridnya. Cuma sebentar berguru sihir kepada Bard, kekacauan datang. Tahun itu, tahun 773, sekelompok prajurit terganas bangsa Viking menyerbu desanya. Bard mendadak gila, Jack dan Lucy menjadi tawanan Viking.
Petualangan Jack dan Lucy bersama Viking membawa mereka ke tempat-tempat yang hanya pernah didengarnya dalam dongeng. Mereka menjadi saksi pemusnahan Desa Gizur, mampir di Desa Olaf One Brow, menjejaki kampung raksasa Jotunheim, sampai mencicipi air dari Sumur Mimir yang magis.

***

Fiksi fantasi seperti novel The Sea of Trolls karya Nancy Farmer yang dicuplik di atas sepertinya tidak pernah loyo. Meski sang master fantasi Harry Potter sudah tutup buku Juli silam, novel-novel fiksi fantasi terus mengguyur pasar buku dunia.
Di dalam negeri, gairah fiksi fantasi juga belum padam. Tahun ini saja, penerbit Gramedia Pustaka Utama melepas cukup banyak karya sastra khayalan ini. Beberapa novel yang menjadi andalannya adalah trilogi Bartimaeus (Jonathan Stroud) yang terbit tiga buku sekaligus. Lalu dua seri dari trilogi His Dark Materials (Philip Pullman) dan Serbuk Bintang (Neil Gaiman).
Penerbit lain yang cukup menonjol di kategori fiksi fantasi adalah Matahati. Sepanjang 2007 mereka meluncurkan andalannya berupa serial Septimus Heap-Magyk (Angie Sage), The Sea of Trolls (Nancy Farmer), Chronicles of Ancient Darkness (Michelle Paver), serta Mitsuko (Kara Dalkey).

Tingkat penjualan buku-buku fiksi fantasi tersebut juga relatif bagus. Seri Bartimaeus-Amulet Samarkand sudah cetak ketiga, total 15 ribu eksemplar. Adapun kedua seri lain dalam trilogi ini masing-masing telah dicetak 10 ribu eksemplar. Serbuk Bintang juga sudah cetak ketiga, total 13 ribu eksemplar.
Dari kelompok Matahati, The Sea of Trolls sudah dua kali naik cetak dalam waktu dua bulan, masing-masing 3.000 eksemplar. Chronicles of Ancient Darkness-Soul Eater dicetak 8.000 eksemplar dan Mitsuko 5.000 eksemplar.

Editor fiksi Gramedia Pustaka Utama, Hetih Rusli, menuturkan peluang pasar fiksi fantasi tetap besar. Setelah kemunculan Harry Potter, kata dia, telah muncul satu pasar baru penggemar buku-buku fiksi fantasi yang menjadi pasar potensial. “Pasar bertambah lebar karena pembaca berasal dari segala umur,” kata Hetih.
Begitu pun, menurut dia, penerbit tidak pernah tahu persis judul buku fiksi yang bakal laris di pasar. Contohnya, Gramedia tidak menyangka trilogi Bartimaeus bisa merengkuh sukses besar hingga bisa cetak ulang tiga kali dalam setahun. Mereka sebelumnya mengira seri His Dark Materials yang bakal meledak.

Anggota staf pemasaran Matahati, Mohammad Haikal, senada seirama dengan Hetih. Ia mengatakan, meski sejak kepergian Harry Potter fiksi fantasi mulai ditinggalkan, sebagian besar penggemar si “anak yang bertahan hidup” itu masih mencari buku penggantinya. Merekalah salah satu pasar potensial fiksi fantasi.
Keberlanjutan fiksi fantasi, dia melanjutkan, juga akan ditopang oleh promosi melalui media layar lebar. Menurut Haikal, ada beberapa film yang dari buku-buku fantasi yang akan beredar, seperti film yang diangkat dari novel Septimus Heap, Chronicles of Ancient Darkness, Children of the Lamp. “Film-film tersebut merupakan film serial seperti film Harry Potter,” ujarnya.

Sayangnya, semua karya fantasi unggulan 2007 dipenuhi karya terjemahan. Karya-karya pengarang lokal hanya ada dua yang bersinar, yaitu Cinta Andromeda karya Tria Barmawi yang telah dicetak 7.000 eksemplar dan The Bookaholic Club karangan Poppy D. Chusfani yang dicetak 8.000 eksemplar.
Sebenarnya, kata Hetih, ada beberapa karya lokal yang mendarat ke meja redaksi. Tapi, dari sedikit karya yang masuk itu, lebih sedikit lagi yang “bergigi” untuk diterbitkan. Kelemahan utamanya ada di teknik menulis dan cerita yang “tidak masuk akal”. “Padahal tugas pengarang fiksi fantasi membuat pembaca percaya kisah fantasi yang ditulisnya nyata,” tuturnya.

Haikal pun menilai buku fiksi fantasi pengarang Indonesia masih kurang diminati pasar. Persoalannya, dia melanjutkan, karena cara berkomunikasi yang kurang lancar plus masyarakat Indonesia yang apriori terhadap buku fiksi pengarang dalam negeri. Walau demikian, penerbit Matahati tetap berkomitmen menerbitkan novel dari pengarang Indonesia. “Minimal dua pengarang,” ujarnya. EFRI RITONGA

[tab: Hal 7]
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 09, 2008, 08:43:06 am
________________________________________
inget gelandangan dekil, jadi inget film Kungfu Hustle semalem.
jadi bisa kayak gini:
“hai, bocah. kamu punya bakat terpendam untuk jadi penulis terhebat sepanjang masa. aku punya buku ‘tips menulis’ yang cocok untukmu. ini adalah kumpulan tips terbaik di dunia tulis menulis. harganya cukup ceban. tertarik?”
;D
________________________________________
Post by: cha_patrelli on January 09, 2008, 04:47:04 pm
________________________________________
udah baca nightfall kan?
ntu novel masih ada lanjutannya ya?
critanya ngambang c…
pi kok gw cari2 g ada ya tu lanjutan novel?
________________________________________
Post by: BloodSin on January 11, 2008, 01:57:25 pm
________________________________________
iye.. udah lama banged kok bacanya.. nightfall masuk kategori lumayan doank bagi ane sih.. masuk kategori RPN tuh..
kayaknya emang belum keluar de lanjutannya.. emang endingnya masi ngambang sih. biasanya kalo ngambang2 gitu ujung2nya trilogi.. heheh.. daripada nungguin sekuelnya, mendingan cari fantasi lokal laennya… kan masi banyak tuh.. masi ada Zauri, Hozzo, Narend, dll.. banyak dah.
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 11, 2008, 11:01:31 pm
________________________________________
btw, barusan di toko buku gua liat buku fantasi anak negeri terbaru.
judulnya: GORAN, karya Imelda Sanjaya, terbitan Serambi.
kayaknya bergenre Fantasi berbalut Sci-Fi (atau sebaliknya ya? hehe… binun), soalnya bersetting planet lain, tapi ada juga tokoh dari buminya (hmm… jadi inget Numeric Uno).
jadi silakan, kalo ada yang ingin berburu ke toko buku…
gua sendiri mungkin belum akan beli dalam waktu dekat ini, takut nanti nasibnya bakal kayak Numeric Uno dan Cardan, yang gak selesai2 gua baca, karena belum sempet…
kasihan dua buku itu…
tampaknya gua memang bukan pembaca yang baik…
________________________________________
Post by: bjvadis on January 11, 2008, 11:14:24 pm
________________________________________
whoalah, sama kita. mungkin juga karena kepepet kerjaan, novel cardan dan numeric uno yang g beli juga belum sempat kebaca habis (begitu juga dgn peter n the starcatcher). mungkin perlu pelan2 dan sedikit kesabaran. mungkin ntar pas mau tidur g nyicil cardan.
terus terang shock g pas pertama kali lihat cover dpn cardan, agak mirip dengan naskah asli fh g yang g kirim ke gagasmedia. trus di keterangan sinopsis di belakangnya ada kata ‘musuh yang dikira sudah tewas’, agak2 mirip2 (buat yang pernah baca fireheart mungkin bisa tahu). tapi setelah dibaca cerita di dalamnya, lega g, ternyata beda.

[tab: Hal 8]
________________________________________
Post by: BloodSin on January 12, 2008, 12:50:59 am
________________________________________
@villam n bjvadis,
ga pernah ngeliat cardan di gramedia :D
ada yg mau hibah buku? kyahahahah sapa tau ada yg kayak resentator ganas hozzo disini, kalo gak doyan buku suka bagi2 gratis :D
wah kalo GORAN penerbitnya serambi gitu, gw optimis tuh novel bukan ecek2. Serambi biasa nerbitin novel2 serius sih.. dan gw puas ama 1 fantasi lokal terbitannya, Sang Penandai.. buku layak hunted tuh..
________________________________________
Post by: bjvadis on January 15, 2008, 08:57:46 pm
________________________________________
Yup, Sang Penandai udah g baca 2x (satu2nya yg g baca sampai lebih dari 1x)
Janos, Cardan dsb belum habis dibaca…
Skinheald 1&2 karya Ataka sudah dibaca dan dibolak-balik lagi…
Sisanya belum ada di koleksi g… (Entah mengapa, tanyakan pada rumput yang bergoyang…)
Sang Penandai masuk kategori MUST BUY karena sejauh ini hanya ini novel fantasi Indonesia yang pernah g baca yang gaya bahasanya indah banget, 100% sastra.
________________________________________
Post by: BloodSin on January 15, 2008, 11:17:46 pm
________________________________________
knapa Cardan pada ga beres baca yak? :o
penerbitnya penerbit mana seh?
Villam kayanya pernah ngomong Cardan masih lebih mendingan dari Numeric Uno dehh.. :)
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 16, 2008, 12:25:05 am
________________________________________
cardan terbitan gagas.
kan gua dah bilang, seperti halnya numeric uno, gua gak abis baca karena baru baca separo, trus langsung inget: ah, mendingan nerusin nulis novel gua ajah… hahaha…
gak jelek kok, cuman emang ceritanya gak bisa mengikat gua.
dan betul itu, kalo menurut gua, cardan lebih baik daripada numeric uno.
________________________________________
Post by: BloodSin on January 16, 2008, 06:25:15 am
________________________________________
@villam
novel gagas lebih ditujukan buat remaja.. itu yg gw tangkep dari nightfall..
padahal ente punya selera baca yang lebih toleran dari ane, masa ga mengikat sih?
apa yg ngebikin ‘gak mengikat’? (kalo gak mau dibilang jelek :P )
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 16, 2008, 08:31:29 am
________________________________________
hehe…
kalo yang dimaksud selera baca yang toleran itu adalah gua bisa menikmati berbagai jenis genre dan gaya bahasa, mungkin itu benar. dari teenlit sampe yang serius banget, gua bisa menikmati, pada dasarnya.

tapi yang mungkin gak toleran itu adalah mood gua, hahaha… terutama jika sudah melihat plot yang kurang logis hubungan sebab-akibatnya, atau terlalu banyak kebetulan. juga alur atau jalan cerita yang terlalu lambat dan terlalu lurus, tidak menjanjikan sebuah masalah ‘hidup-mati’ yang menarik di awal.
yang sebenarnya, bisa jadi gak masalah, seandainya gua menemukan sisi lain yang menarik, seperti karakter2 dan deskripsi latar yang menarik dan tidak terlalu stereotip.
begitulah, gua selalu ingin belajar sesuatu yang baru dari setiap buku yang gua baca, dan begitu tak menemukan, mood membacanya sering langsung ngacir ntah kemana.

walau sebenarnya itu salah juga. seharusnya gua tidak boleh berekspektasi terlalu tinggi. semua penulis kan ada proses belajarnya, gak bisa langsung sempurna, dan langsung coba kita bandingkan dengan karya2 mereka yang sudah mumpuni.
malah jika mungkin, kita bisa ikut membantu mereka dan bersama-sama maju menjadi penulis yang lebih baik.
hahaha… ngomong apa sih gua?
kenapa jadi serius begini?
udah ah… maju terus para penulis fantasi indonesia!!!

[tab: Hal 9]
________________________________________
Post by: kokonoka on January 17, 2008, 10:26:01 am
________________________________________
menurut kalian lebih penting mana kepuasan kita akan novel kita apa tanggepan orang2? Studi kasus gw di kemudian.. Kalo disana ada yang menurut gw biasa aja tapi dapet nilai 100an gt.. Ada yang cuma satu scene doang nilainya bagus banget 9 10 9 10..
Adegan di tulisan gw terlalu kompleks kali ya.. ato terlalu ribet.. kalo dikalahin sama yang biasa2 aja kan males banget.. bahkan ada yang tulisannya ancur tapi dapet nilai tinggi banget ampe 100an padahal orang banyak yang ngasih dia nilai 5 tapi saking banyak yang respon, nilainya jadi tinggi..
Nah giliran gw, sekali ngepos yang komen paling max 6 orang T-T yang gw ga terima kenapa gw bisa dikalahin sama orang yang dapet nilai 5 tapi banyak.. Ada juga orang yang comot dari sana-sini PERSIS tapi nilainya bagus2 banget..
Huuu tidak terima..
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: eniyorda on January 17, 2008, 10:29:56 am
________________________________________
Omong-omong soal buku yang nggak selesai. Kalo sy sih tiap buku dipikir masak-masak dulu sebelum beli, jadi selesai semua. Minat baca terlalu tinggi–wishlistku panjang banget–sedang kantong nggak mendukung. Lagian satu-satunya aktivitas yang nggak bikin diriku rasa bersalah nggak menulis, adalah membaca, wakakakk

@bloodsin: cinta andromeda (futuristik) dan bookaholic club (fantasi setting modern) kalo nggak salah tergolong metropop dan teenlit. Jadi bukan pake label fantasi, bahkan dari blurb di belakangnya mungkin nggak kentara banget ada unsur fantasi. Penghuni thread ini kan suka fantasi yang kelas berat, jadi mungkin kelewat. Terus kayaknya standar deh Gramedia itu cetakan pertama 6000-10000. Tria Barmawi juga bikin buku futuristik lain judulnya “Lost in Teleporter” (belum baca juga). Tentang ngirim naskah, sy cuma pernah ngirim ke Liliput (tolak) dan Gramedia (belum ada kabar, tapi pesimis dah). Selama ini sih lebih banyak konsen ngirim cerpen ke majalah, walau sekarang mau berubah haluan (novel).
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 17, 2008, 11:20:16 am
________________________________________
@kokonoka,
hmm… apa ya? kepuasan pribadi itu bagus. bagaimanapun itu karya kita, sudah selayaknya kalo kita bangga atas hasil kerja keras kita. tapi tentunya kalo emang kita menulis supaya bisa juga dinikmati orang laen, tentunya tanggapan mereka, apapun bentuknya, apakah itu pujian basa-basi atau komentar pedas, ya kita butuhkan juga.

satu hal penting adalah kita mesti tau dulu apa niat kita ngirim ke k.com.
- buat sharing (kita tak peduli apakah mau ada yang komentar atau gak, yang penting kita berbagi dengan orang lain),
- buat menumbuhkan motivasi (semacam banyak yang baca dan ngasih poin, semakin semangatlah kita),
- atau buat memancing komentar pembaca (kita gak butuh nilai, yang penting kita dapet masukan, semakin tajam semakin baik, atas karya kita).
nah, seperti apakah niat kita? haha…

saranku buatmu sih, gak usah pusingin nilai atau komentar yang diperoleh karya lain. konsentrasi saja ke karyamu. pertama sesuaikan niat. kemudian, kalo ingin banyak yang membaca dan memberi nilai karyamu, ajak saja mereka secara langsung untuk melihat dan menilai. kuyakin ada cukup banyak orang yang bisa mengkritik secara obyektif, tidak hanya memuji basa-basi. walau sering, kita pun senang pula dengan basa-basi itu. itu manusiawi… haha…
jadi maksudku, tak perlu berkecil hati, atau tak terima.
santai sajalah… yang penting kita tau mana yang terbaik buat kita…
________________________________________
Post by: kokonoka on January 18, 2008, 10:10:20 am
________________________________________
Hoo gw merasa sirik tanda tak mampu nih..kalo diumpamain sama manga mungkin gambar gw masih jelek kali ya.. jadi susah dimengerti..
Satu2nya yang bisa gw lakuin ya nulis lebih banyak lagi.
kayanya kalo soal tujuan gw yang terakhir.. gw perlu banyak masukan.. makanya begitu komennya dikit sebel juga..
________________________________________
Post by: clickdian on January 21, 2008, 09:48:27 am
________________________________________
# Rey
Do you have any idea how many times people laugh at me before they see Run! and Zauri at bookstore? Aq malah dikira stres sama ortu lantaran ngerem terus di kamar.
The point is, just ignore them for this time. If you want to be a writer, go for it, believe in your dream and pursue.
If you cannot be a full writer, start with ‘half-timer’ writer.
YOU ARE NOT ALONE.
We’re here and chasing the same dream as you are.

[tab: Hal 10]
________________________________________
Post by: kokonoka on January 22, 2008, 08:25:33 am
________________________________________
Villam tadi baru kepikiran nih.. Soal yang Indonesia 2045 ada sesuatu yang baru keinget..
Kalo menurutku walopun settingnya berpuluh2 tahun yang akan datang.. tapi serasa ga ada perusahaan dalam setting.. mestinya harus ada penanda ‘masa depan’ kaya teknologi yang digunakan aparat kepolisian, gadget yang dipakai, dll.. mungkin itu yang bikin agak hambar ceritanya..
terus mungkin ga sih kondisi politik indonesia jaman itu masih tetep sama.. mungkin aja saat itu indonesia dipimpin oleh para elder.. hohoho ngayal..
Ato indonesia udah dijajah lagi.. Kalo maen FF XII misalnya aja Indonesia itu Dalmasca, terus Malingsia itu Rozarria dan Australia itu Archadia.. pasti keren banget tuh..
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 22, 2008, 08:39:43 am
________________________________________
@kokonoka, cerita itu memang masih terbuka buat diacak-acak kok… lanjutannya memang masih dipikirkan…
dan usulku, gimana kalo masing-masing dari kita bikin cerita pendek dengan tema, tokoh, dan gaya masing-masing. tapi semuanya menggunakan setting Indonesia 2045, sesuai dengan fantasi masing-masing… hehehe…

Comments No Comments »

[tab: Hal 1]Sesi II (23 Nov 2007 – 15 Des 2008)

  • Tips Dan Brown: 7 hal untuk menarik perhatian editor, oleh rd_Villam
  • Fakta Seputar Kehidupan Penulis, oleh Midu Khullar
  • Informasi alamat penerbit
  • Tentang fantasi modern
  • Tentang kritik pembaca
  • Tentang novel fantasi lokal

[tab: Hal 2]

________________________________________
Post by: rd_Villam on November 23, 2007, 10:19:27 am
________________________________________
Friends,
Di bawah ini adalah 7 karakter novel yang menurut om Dan Brown bisa menarik perhatian editor, tidak peduli apapun genrenya: thriller, fantasy, romance atau yang lainnya.
Tapi ya mohon dimaklumi, ini kan menurut editor di amrik sono.
Editor sini pastinya punya penilaian lain (terutama yang berkaitan dengan ‘market’ di indonesia). Pastinya juga, bisa jadi penulis lain punya tips yang berbeda, yang mungkin bertentangan dengan pendapat si om.
Buat yang belon kenal si om, beliau adalah penulis Da Vinci Code, Angels & Demons, dan juga Digital Fortress. Mau kenalan lebih lanjut, hubungi beliau di www.danbrown.com
Begini nih 7 hal tersebut, yang gua tambahin juga sedikit komen gua (yang bisa salah lho… hihihi…):

1. Sole dramatic question
Naskah-naskah bagus katanya selalu punya satu buah ide utama, gak peduli mau serumit apa plotnya, yang bisa dinyatakan dalam satu buah kalimat atau pertanyaan, seperti:
Apakah Frodo mampu menunaikan tugasnya menghancurkan ‘the Ring of Power’?
Apakah Harry berhasil mengalahkan musuh besarnya, Voldemort?
Apakah Cinderella bakal nikah sama pangerannya (or live happily ever after. heheh…)?
Coba kita liat naskah kita, bisa gak kita simpulkan dalam satu buah kalimat. Kalo gak, artinya cerita kita kurang kuat.

2. Setting, setting, setting
Bikin pembaca tertarik dengan mengenalkan sebuah ‘dunia’ yang baru, yang belon mereka kenal, seperti: kehidupan di peternakan, kantor agen rahasia, tambang batubara, kantor dpr, sekolah luar biasa, penjara nusakambangan, batavia tempo doeloe, pantai ujungkulon, dll.
Boleh-boleh aja sih kita beranggapan bahwa beberapa pembaca lebih suka setting kehidupan sehari-hari di rumah, sekolah, mal, cafe. Tapi barangkali kita bisa mencari sesuatu yang baru dan gak membosankan.
Kalo ceritanya bergenre fantasi, kita bisa lebih bebas sih. tapi hati-hati juga, sekalipun fantasi, settingnya tetap harus bisa diterima pembaca. Setting Lord of the Rings atau Harry Potter bisa diterima karena pengarangnya punya bejibun cerita sejarah di belakangnya, sehingga punya jawaban logis atas setiap pertanyaan-pertanyaan yang timbul.

3. In and Out Scene building
Buat cerita yang terus mengalir cepat tanpa berhenti. Potong, bahkan kalau perlu buang adegan-adegan yang sebenarnya gak perlu dan bikin lambat cerita. Biasanya masalah ini berbentuk narasi berkepanjangan atau dialog basa-basi yang gak perlu di awal atau di akhir adegan.
Jadi emang mesti pinter-pinter nih masuk (in) ke sebuah adegan, jangan terlalu cepat tapi juga jangan terlalu lambat. Dan juga saat keluar (out) adegan, jangan terlalu lama. Kalau perlu adegannya digantung, biar pembaca penasaran.
Tapi kata beberapa penulis lain, sebaiknya hati-hati menggunakan teknik ‘scene cutting’ yang menggantung begini, soalnya bisa memutus emosi pembaca yang udah kita bangun dengan susah payah. Kata seorang teman, ini ibarat nonton film action, tiba-tiba dipotong iklan saat adegan puncak.
Hmmm, gak sedep kan…

4. Creating tension – the 3 C’s (the clock, the crucible, the contract)
Beberapa teknik buat bikin tegang pembaca:
The clock : masukin protagonis kita dalam tekanan waktu, entah itu dalam detik, jam, hari. yang membuat si tokoh ini harus bertindak segera, kalo nggak doi bakalan kehilangan segalanya. Boleh yang berbentuk eksplisit seperti bom waktu kayak film Speed, atau boleh juga yang model mesti dapet pacar dalam 30 hari.
The crucible : masukin protagonis dalam ‘mobil panas’. Si om ngasih contoh film Jaws, dimana tokohnya dimasukin ke kapal bocor, radio mati, jauh dari pantai, ditemenin ikan hiu. Pokoknya dia gak bisa lari kemana-mana, dan akhirnya harus berjuang. Jangan perlakukan protagonis kita terlalu manis, kasih masalah terus-menerus.
The contract : bikin janji buat para pembaca, lalu ditepati. Istilah terkenalnya Chekov’s Gun, maksudnya kalo di awal cerita kita nyeritain ada sebuah senapan yang tergantung di dinding, berarti itu adalah janji kita buat pembaca bahwa nanti senjata itu bakalan ditembakkan.
Kalo misalnya kita baca novelnya Agatha Christie, kita berusaha tidak melewatkan detilnya sedikitpun, kita terus berpikir apakah detil ini penting atau gak, apakah tokoh ini penting atau gak. Dan itu yang bikin tegang.

5. Specifics
Ceritanya jangan terlalu ‘polos’. Kasih detil-detil deskripsi yang bisa membuat pembaca terpesona. (duh duh duh…)
Bisa tentang flora fauna, bangunan, kota, ilmu-ilmu kedokteran, atau bahkan yang sederhana seperti cara membuat minuman atau masakan. Kuncinya ada di riset, jadi beriset-riset ria lah sebanyak-banyaknya… heheh…
Dengan melakukan riset sendiri kita bakalan terhindar dari deskripsi-deskripsi yang stereotip dan basi. Nantinya novel kita juga bisa keliatan lebih ‘kredibel’.
Huh, repot ya.

6. Information weaving
Terkait sama nomor 5, setelah mati-matian melakukan riset, jangan informasi lalu dijejalkan begitu saja ke dalam novel kita.
Kasian novel kita yang jadi keberatan info, kasian juga pembacanya. Deskripsi panjang lebar sepanjang setengah halaman udah cukup tuh buat pembaca males ngebacanya.
Jadinya sedapat mungkin masukkan informasi ke dalam dialog (tapi mesti wajar lho), atau ke dalam action, jadinya deskripsinya bisa keliatan dinamis, gak statis.
Sedapat mungkin gunakan indera si tokoh pencerita (Point of View) buat merasakan suasana atau berpikir mengenai soal-soal spesifik tersebut.
Hah, susah ya.

7. Revision
Revisi la la la…
Banyak dibenci, tapi justru paling penting. kalo menurut si om: paling mengasyikkan.
Ide ceritanya udah masuk semua? Struktur plotnya udah cukup ‘berpuncak-puncak’? Masing-masing scene/adegannya sudah dipilih dan diceritakan dengan baik, mana yang penting dipoles dan yang gak penting dibuang? Dan lain-lain.
Dibuang sayang? Ya jangan dibuang ke tong sampah, simpen aja buat cerita lainnya nanti.
Hmm, asik kan…

Hihihi… udah cukup pusing?
Jangan dong.
Kalo emang masih pusing, pikirin nanti aja ya gak papa.
Yang penting kita nulis aja dulu semua yang ada di kepala…
Kebut ajah…
Ngetik aja kok repot ya?

[tab: Hal 3]
________________________________________
Post by: mocca_chi on November 23, 2007, 01:43:00 pm
________________________________________
ngg.. soal tips neh… yah aku ada suatu artikel yang aku terima dari milis entah apa itu, aku lupa namanya. siapa tau bisa menginspirasikan sesuatu buat teman-teman.
upss… mungkin ada teman yang pernah tak kirimin, tapi nggak apa-apa kan kalu dibaca lagi.

Fakta Seputar Kehidupan Penulis
Oleh: Mridu Khullar
Diterjemahkan secara bebas oleh Syam Asinar Radjam

Jadi, anda bermimpi menjadi penulis terkenal? Anda ingin menyelesaikan sebuah artikel di selembar kertas
secepat mungkin dan melihatnya dimuat di suatu media cetak. Anda memiliki ide yang luar biasa untuk sebuah buku dan anda akan memulainya sekarang. Tapi tahukah anda bagaimana sebenarnya kehidupan riil seorang penulis? Bacalah untuk menemukan jawabannya?

1. Penolakan adalah bagian dari hidup. (Tulisan) anda bakal ditolak. Tak peduli seberapa bagus (tulisan) anda, seberapa ciamiknya teknik (menulis) anda, atau sedetil apapun tulisan anda. Suatu hari, anda bangun dari tidur dan menemukan penolakan (dari penerbit) melalui surat. Janganlah patah arang. Hal ini terjadi ada setiap penulis.

2. Penulisan ulang (rewriting) pasti terjadi. Tanpa peduli sebagus apapun kosakata yang anda pakai, sebagus apapun materi tulisan anda, pasti akan datang suatu ketika, manakala seorang editor meminta anda menulis ulang naskah anda. Sebenarnya, itu berarti sang editor menyukai karya anda, namun butuh anda memoles kembali sejumlah detail yang ia butuhkan.

3. Deadline pasti anda jumpai. Taat deadline merupakan bagian penting dalam karir (menulis) anda. Luput satu deadline, dapat dipastikan bahwa anda kehilangan kesempatan untuk menulis di penerbit tersebut. Waspadalah, jangan mengambil terlalu banyak (pesanan tulisan) yang tidak mampu anda rampungkan.
Ini akan menurunkan reputasi anda dan membuat anda tampak tidak profesional.

4. Kebuntuan Penulis (Writer’s Block) bukan mitos. Writer’s block adalah realitas. Suatu hari anda terbangun dari tidur dan mendapati bahwa diri anda sedang tak mampu lagi menulis. Santai. Itu cuma sebuah fase. Tingkatkan motivasi anda, dan anda akan kembali pulih tanpa memakan waktu lama.

5. Lakukan selingan, lakukan selingan, lakukan selingan. Jika anda bekerja di rumah, anda memiliki
kemudahan untuk melakukan kegiatan selingan. Anak anda butuh makanan, pakaian kotor perlu dicuci, anda butuh secangkir kopi. Dan ketika semua telah dirampungkan, telepon berbunyi. Itu mungkin telepon dari suami atau istri anda, yang mengingatkan anda agar tak lupa hal-hal yang perlu dikerjakan.

6. Tak dapat dilakukan tanpa “thesaurus” atau kamus. Tak peduli sebetapa bagus daftar kosakata yang anda kuasai atau betapa kocaknya gaya penulisan anda. Faktanya dalam kehidupan menulis anda membutuhkan “thesaurus”. Bakal ada saatnya anda terlalu sering menggunakan kata yang sama, atau sulit menemukan ungkapan yang lebih baik. Saat itulah anda memerlukan thesaurus.

7. Anda tak mungkin dapat menyenangkan semua orang. Setiap orang berbeda. Lusinan orang yang akan
mengapresiasi pekerjaan anda. Ada juga orang yang akan merobek karya anda dengan kritik pedas mereka.
Belajarlah mengambil hal-hal baik dari hal-hal buruk.

8. Perlu kesabaran yang luar biasa. Banyak editor yang aneh. Para editor membutuhkan waktu mereka, dan
kita butuh kesabaran kita. Jangan meminta jawaban sehari setelah kita mengirimkan pengajuan. Kesempatan
membutuhkan waktu.

9. Uang tidak datang dengan mudah. Dalam dunia penulisan, uang tak datang semudah di dunia kerja yang
lain. Anda mungkin menulis lusinan artikel setiap minggu, dan berharap banyak akan sejumlah uang akan
datang darinya. Atau, anda mungkin berharap buku andaakan melampaui target yang anda perkirakan. Anda tidak pernah tahu, ini cuma dalam angan-angan, namun tidaksetiap orang bisa menjadi Stephen King. Dan anda berpeluang untuk belajar menjalaninya bersama fakta bahwa tak akan ada film (movie) dibuat berdasarkan novel pertama anda.

10. Jalan Penulis itu panjang dan keras. Jalannya bergelombang, dan bakal ada saatnya dimana anda merasa
ingin menyerah. Tapi tujuan akhir merupakan sebuah kepuasan. Jangan biarkan jalan itu menghalangi anda
dari mimpi yang anda bangun. Dan, jangan pernah menyerah.

maaf kalu ada yang tersinggung karena aku asal comot artikel orang. mahap ya Om/Mas

[tab: Hal 4]
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 23, 2007, 03:35:54 pm
________________________________________
friends,
di bawah ini adalah jenis informasi yang lain: alamat penerbit.
ini daftar yang gua punya. kalo ada yang tau alamat lainnya, tambahin ya, terutama yang cukup ‘prospektif’ buat dikirimin naskah novel bergenre fantasi (atau yang umum juga boleh deh).
haha… genre yang umum aja susah, apalagi fantasi…
tapi maju terus pantang mundur wow nekat aja dah… ;D
——————–

Penerbit Gramedia Pustaka Utama
up. Redaksi Fiksi
Gedung Gramedia lantai 3
Jl. Palmerah Barat 33-37
Jakarta 10270

Penerbit Matahati
up. Redaksi Novel
Plaza Karinda B1.17
Jln. Karang Tengah
Jakarta Selatan

Penerbit GagasMedia
up. Redaksi Novel (FantasyLit)
Jl. H. Montong No. 57
Ciganjur – Jagakarsa
Jakarta Selatan 12630

Penerbit Serambi
up. Redaksi Novel
Jl. Kemang Timur Raya no. 16
Jakarta 12730

Penerbit Grasindo
Up. Redaksi Fiksi
Jl. Palmerah Selatan 22-28
Jakarta 10270

Penerbit AKOER
up. Redaksi Novel
Jl. Kemang Raya No. 1
Jakarta 12730

Penerbit Hikmah (Mizan)
up. Redaksi Novel
Gedung MP Book Point
Jl. Puri Mutiara Raya No. 72
Jakarta 12410

Penerbit Dastan Books
up. Redaksi Novel
Jl. Batu Ampar III No. 14
Condet, Jakarta Timur 13520

Penerbit Ufuk Press
up. Redaksi Novel
Jl. Warga No. 23 A Pejaten Barat
Ps. Minggu – Jakarta Selatan 12510

Pustaka Alvabet
up. Redaksi Novel
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl.Ir.H.Juanda No 5A
Ciputat Jakarta Selatan 15411

Pustaka Primatama
up. Redaksi Novel
Jl. Beruang Raya 28A
Kampung Peladen Pondok Bintaro
Ciputat 15225

[tab: Hal 5]

________________________________________
Post by: rd_Villam on December 01, 2007, 03:28:57 pm
________________________________________
barusan mampir ke toko buku, gua nemuin tuh novel Reinhart yang rey ceritain. Iya betul fantasi dengan gaya bahasa remaja.
ini penerbitnya (buat nambahin daftar sebelumnya):

Pustaka Populer Obor
Jl. Plaju No. 10
Jakarta 10230
www.obor.co.id

hmm, kayaknya daftar sebelumnya mesti ditambahin websitenya juga ya…
________________________________________
Post by: eniyorda on December 03, 2007, 11:06:50 am
________________________________________
Btw, di sini ada yang suka baca/nulis fantasi modern (?) ngga? Tipe-tipenya macam Sarah Singleton, Neil Gaiman. Soalnya sepintas kayaknya orang-orang pada senang yang epik.
________________________________________
Post by: rd_Villam on December 03, 2007, 11:52:44 am
________________________________________
pasti banyak yang suka. apalagi kalo udah yang ngetop kayak neil gaiman. lumayan menginspirasi.
dari cover stardust-nya aja aku bisa dapet inspirasi cerita tuh. walaupun belon baca novelnya. ;D
________________________________________
Post by: clickdian on December 03, 2007, 12:32:34 pm
________________________________________
Epik? nggak juga.. kita mah macem2 fantasi dilalap dah. Stardust bagus.
Btw mksdnya fantasi modern gimana? yg futuristik? hege udah punya satu tuh, Hozzo.. aq lagi revisi satu yg kyk gini.. coba, yg lain gimana.. ada komen?
________________________________________
Post by: eniyorda on December 03, 2007, 02:26:28 pm
________________________________________
@villam, clickdian: O iya hozzo bisa juga, bagian awalnya, cuma di belakang2 sudah jd dunia bikinan semua. Yg dimaksud fantasi modern itu yang dunianya masih kayak sehari2, tp ada unsur ajaib/fantasinya. Ngga tau juga istilah yg benar apa. Contoh yang paling terkenal harry potter. Kalo stardust mungkin nggak ya, tapi karya neil gaiman yang lain termasuk.
________________________________________
Post by: hege on December 03, 2007, 05:20:53 pm
________________________________________
hello mb Fatma, mb ini yg bikin resensi pertama utk hozzo, hehehe…. mari2 sini mampir.

[tab: Hal 6]
________________________________________
Post by: clickdian on December 04, 2007, 09:51:38 am
________________________________________
Hmm.. klo gitu kali kyk Magical Seira-nya Sitta Karina ya? Blom pernah baca sih, tapi denger2 ceritanya dunia nyata nyampur fantasi.
________________________________________
Post by: eniyorda on December 04, 2007, 05:28:14 pm
________________________________________
@dian: ya betul, seperti magical seira. Udah baca yg pertama, dan masih mikir2 beli buku ke2. Gw pernah komen di goodreads dgn tanggapan yg agak terlalu negatif (pdhl ga maksud begitu). Dan gw rasa kejeduk, karna dlm hitungan jam mbak sitta sendiri yg menanggapi, dgn besar hati pula. *serasa bersalah* Gw gak ngira beliau ada di sana. Inti komplainku sih dunia Madriva-nya kurang berasa, terlalu “tipis”.
@hege, dian + semua yg dah bikin buku: adakah kalian pernah dpt surat pembaca yg isinya kritik semua?
________________________________________
Post by: clickdian on December 05, 2007, 08:43:51 am
________________________________________
Surat pembaca sih belum ya. Rata2 pada suka. Malah temenku yg ngomong langsung, itu pun nggak kritik semua. Dia bilang ceritanya bagus, dia sebenernya suka, cuman keberatan sama endingnya. Sebegitu pentingnyakah hubungan antara Dios dan Regia, sampe aq bikin satu bab khusus tentang mereka?
Temenku ini ga tau klo sebenernya Zauri itu love story ;D
________________________________________
Post by: hege on December 05, 2007, 12:18:10 pm
________________________________________
btw, mb fatma, hege pernah mempir ke forum tertentu dan nemu satu review hozzo yg isinya kritik pedas panjang. Meski rada sotoy gitu review-nya, tapi sangat kuhargai. Revisi naskahnya jadi lancar.
________________________________________
Post by: clickdian on December 05, 2007, 12:20:15 pm
________________________________________
Sebetulnya kritik itu bagus buat kita. Semakin banyak yang muji aq malah curiga.. masa sih se-perfect itu, kyknya ga mungkin deh hehehe..

[tab: Hal 7]
________________________________________
Post by: eniyorda on December 05, 2007, 06:00:29 pm
________________________________________
Pengen tau juga kritik pedas hozzo ;p Hozzo edisi baru udah naik cetak belum? mau nambahin kritik soalnya, tp kalo udah final, ga jd deh.
mb dian, td nyari bukumu. blm ketemu, jadi penasaran…
Buku fantasy-related yg dibeli 2 mg ke blkg:
- The Bookaholic Club, Poppy D C, GPU, fantasy teenlit
- Ratu Callista, Vinca R., Gagas, fantasy teenlit
- Catatan Harian Alien, Vinda S, Liliput, fantasy anak
- Janda dari Jirah, Cok Sawitri, GPU, historical fantasy/folklore retelling
Baru baca 2 sih. Ada yg diminati?
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: eniyorda on December 11, 2007, 11:50:56 am
________________________________________
hege, saya mau nunjukkin kalo Hozzo ngga separah as he makes out. Tunggu aja, soalnya sekarang pikiranku lagi kusut.

to semua,
Baru bikin list ebooks beserta sedikit komentarku. Format file-nya macam-macam, ada doc, pdf, dan lit. Mayoritas judul di sini adalah yang populer, klasik, atau award-winning. Jadi bukan yang langka-langka, atau yang hardcore. Disclaimer: Ada kemungkinan menderita sakit mata ;)

Douglas Adams – Hitchhiker’s Guide to the Universe Series (Book 1 – 5)
Sebaiknya nonton filmnya dulu. Ini salah satu seri buku yang kusarankan nonton film sebelum baca. Filmnya berasal dari buku 1, ditambah sedikit unsur dari buku-buku lain. Bukunya British banget, dan biasanya banyak yang nggak suka humornya. Tapi aku suka hehehe.
Clive Barker – Abarat Book 1
Sudah diterjemahkan oleh Gramedia. Belum baca.
Orson Scott Card – Ender Series (specific titles: Ender’s Game/Speaker for the Dead/Xenocide/Ender’s Shadow)
Recommended!
Eoin Colfer – Artemis Fowl (Book 4-5)
Eoin Colfer – The Supernaturalist
Kalo suka Artemis Fowl, recommended.
Cornelia Funke – Inkheart
Fantasy anak. Pengarangnya yang nulis Thief Lord/Pangeran Pencuri.
William Gibson – Neuromancer
Belum baca
William Goldman – The Princess Bride
Kemasan unik–ngerti deh, kalo udah baca. Gaya ceritanya mirip cerita heroik di dongeng-dongeng.
Ursula K Le Guin – Earthsea Cycle (Book 2 – 6)
Recommended book 1-3 ajah. Le Guin hebat dalam membangun suasana, dan saya suka gaya bahasanya. Plot dan idenya biasa aja sih.
Frank Herbert – Dune (Book 1)
Belum baca.
Diana Wynne Jones – Howl’s Moving Castle
Yang dijadikan film oleh Hayao Miyazaki. Nggak sama persis. Both film and book GREAT in their own right.
Robert Jordan – Wheel of Time Series (Book 1 – 11)
Buat yang suka epic macam LOTR. Lagi stuck di book 2.
Mercedes Lackey – Heralds of Valdemar/Last Herald Mage (Book 1 – 3)
Belum baca
George RR Martin – Song of Ice and Fire (Book 1 – 3)
Epic juga, baru baca yang no 1. Nggak ada good guys-nya di sini. Semua tokohnya mengerikan dah.
Larry Niven – Ringworld (Book 1 – 3)
Belum baca
Terry Pratchett – Discworld Series (first 27 books + Wee Free Men + Hat Full of Sky)
British banget. Tapi aku suka juga. Nggak mesti baca urut, karena tiap ceritanya berdiri sendiri. Baru 10 bukuan yang kubaca.
Philip Pullman – His Dark Materials Trilogy (Book 1 – 3)
Ada terjemahannya.
Jonathan Stroud – Bartimaeus Trilogy (Book 1 – 3)
Ada terjemahannya juga. I love you, Genie!
Asterix Book 1 – 24 (English version) – ini humourous fantasy ataw historical fantasy kali, hehehe
________________________________________
Post by: rd_Villam on December 11, 2007, 12:22:33 pm
________________________________________
eniyorda,
dari daftarmu itu, aku punya novel aslinya Robert Jordan, Wheel of Time yang Crown of Swords.
pendapatku, si jordan ini mungkin lebih gila daripada tolkien. dia bikin dunianya bener-bener detil, dengan latar sejarah yang panjang juga. bukunya tebel bener lagi, bacanya mesti sepenuh hati tuh… ;D
________________________________________
Post by: eniyorda on December 11, 2007, 12:54:28 pm
________________________________________
villam,
iya tuh, harus kuat konsentrasi. Mestinya jangan baca lewat komputer kali. ya, saya cuma nyebutin LOTR karena wheel of time ini epik, sehingga kontras dengan buku-buku lain yang ada di daftar tadi.
Betul juga, WoT sangat detil dan kompleks dari segi pembangunan dunia. banyak fantasi epik sering dituduh LOTR wannabe. Berdasarkan review, WoT adalah yang menonjol dibanding seri-seri lain itu. Buktinya, plot dan dunianya solid (dan laku) sampai jadi buku 11 biji.

[tab: Hal 8]
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: eniyorda on December 12, 2007, 04:08:52 pm
________________________________________
Oh ya ini yang dijanjikan:

Card, Orson Scott – Enderverse.rar
hxxp://www.mediafire.com/?6gmywyjswnf

Colfer, Eoin – The Supernaturalist.zip
hxxp://www.mediafire.com/?6t0ml6fmwxd

Jones, Diana Wynne – Howl’s Moving Castle.rar
hxxp://www.mediafire.com/?dnqdll9gczz

Le Guin, Ursula K – Earthsea Cycle.rar
hxxp://www.mediafire.com/?9hydvywq4ls

Pullman, Philip – His Dark Materials Trilogy.rar
hxxp://www.mediafire.com/?71nibmz1zmg

Stroud, Jonathan – Bartimaeus Trilogy.rar
hxxp://www.mediafire.com/?2mmmm6kxtzm

file lit buka dengan Microsoft Reader di sini: http://www.microsoft.com/Reader/
________________________________________
Post by: BloodSin on December 14, 2007, 10:25:52 am
________________________________________
@enyorda,
just for my curiousity,
novel fantasi lokal apa aja yg pernah ente baca?
ane: hozzo, narend, janos, ledgard, pinissi, sang penandai, zauri, nightfall.. huaaaa..baru dikid. :-[
penasaran nih ma coruption, skinheald, phoenix, dll..
________________________________________
Post by: eniyorda on December 14, 2007, 11:16:54 am
________________________________________
@bloodsin, saya juga baru dikit kok. yang pernah: semua buku lokal liliput selain cincin odeleodeo (gak nemu), ledgard, skinheald (buku no 1 doang), phoenix, sama yang terakhir ratu callista. pengen baca yang lain, cuma kadang pas lihat diriku nggak ngeh itu buku fantasi, atau kadang nggak ketemu. biasanya juga gw mikiiir laaamaaa dulu kalo lihat harganya >50ribu.
________________________________________
Post by: eniyorda on December 15, 2007, 09:07:56 am
________________________________________
@bloodsin:
dari buku lokal yang dah dibaca dan menurutku lumayan cuma Hozzo dan Ledgard. ‘Lumayan’ dalam definisiku adalah mempunyai daya tarik untuk kalangan pembaca luas, nggak khusus ‘anak-anak’ atau terlalu ‘teenlit’. Selain itu dari segi teknik penulisan dan penceritaan nggak parah-parah amat, atau setidaknya ada kelebihan yang bisa dinikmati. :D Aku nggak menuntut tingkat orisinalitas yang terlalu tinggi, atau ide baru yang heboh. Terus ini juga nggak termasuk dongeng yang dinovelkan, karena ada satu yang bagus menurutku, yaitu “Panah Patah Sangkuriang” oleh mbak femmy syahrani.
Kalau menurutmu yang mana? Terus dari buku yang udah kamu baca tapi aku belum–Janos, Sang Penandai, Nightfall, Zauri–adakah yang sama atau lebih bagus dari kedua buku itu? Kalau dilihat dari judulnya, nampaknya seru-seru tuh. :D

Comments 2 Comments »

[tab: Hal 1]Sesi I (8 Nov 2007 – 20 Nov 2007)

  • Tentang forum ini
  • Zauri masuk nominasi Adikarya IKAPI dan Khatulistiwa Literary Award
  • Perbedaan Fans Fiction dan Fantasy Fiction
  • Character-Mix Technique: let the characters lead the story, oleh rd_Villam
  • Tentang Cardan, terbitan Gagasmedia
  • Zauri menjadi juara II Adikarya IKAPI 2007
  • Writer’s Obstacle: The Beast Inside My Head, oleh rd_Villam
  • Soal perbedaan novel dan film

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: BloodSin on November 08, 2007, 07:10:09 pm
________________________________________
hmmm.. admin.. jangan dipindah ke sub-topik fanfic (fan-fiction–yang berarti istilah yg ditujukan untuk fans fiksi-fiksi tertentu) lagi yah.. soalnya thread ini sudah berada pada tempat yg benar. ;)
Salam hangat
Rey L,
penguasa thread fantasi Indosiar yang baru naik tahta.. :-* :-* :-*
________________________________________
Post by: clickdian! on November 09, 2007, 08:30:17 am
________________________________________
Yo Guys! Glad to be back!
Mumpung udah bisa masuk, aq mo minta doa nih..
Zauri masuk nominasi Adikarya IKAPI dan Khatulistiwa Literary Award..
Wish me luck, Guys!
Link:

http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com/2007/11/05/pengumuman-hasil-seleksi-tahap-1-longlist-khatulistiwa-literary-award-2007/

________________________________________
Post by: rd_Villam on November 12, 2007, 02:05:39 pm
________________________________________
fanfic berasal dari kata fans fiction, yaitu cerita yang dibuat oleh para penggemar fanatik kisah-kisah yang sudah ada (entah macam harry potter, cerita anime, ataw drama2 asia), dengan alternatif cerita yang dibuat berbeda walaupun menggunakan tokoh2 yang sama.
fantasy fiction, seperti dalam thread ini, adalah cerita fiksi bergenre fantasi (dunia imajinatif dimana hal2 yang tidak mungkin jadi biasa, walau ada banyak sih alirannya) yang tokoh2 dan latarnya diciptakan oleh para penulis (dalam hal ini ya kita-kita ini) sendiri… tidak berdasarkan tokoh-tokoh dalam cerita lain.
kalo soal karya asli atau enggak, terus terang sebenarnya rada bingung juga sih gua… cerita2 fanfic tersebut kadang2 sangat berbeda juga dengan cerita aslinya, sehingga layak juga mestinya disebut karya ‘asli’ si pengarang baru tersebut (cukup asli deh…).
oleh karenanya, tentang asli atau tidak asli mungkin perlu lebih dicermati lagi maksudnya. (halah… basa belibet… bikin pusing…)
ini adalah thread tentang para penulis yang nekat menceburkan diri masuk ke dunia fantasi, mungkin itu udah cukup.
kalo ada yang tambah pusing, ya begitulah…
ini tempatnya para pemimpi… heheheh…

[tab: Hal 3]
________________________________________
Post by: mocca_chi on November 13, 2007, 07:42:53 am
________________________________________
wah jadi kepengen juga buat fiksi fantasi. tapi apa ya temanya…
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 13, 2007, 10:00:06 am
________________________________________
usul nih, daripada pusing nyari tema buat cerita, usulku coba bikin empat karakter2 yang aneh dan unik terlebih dulu. nanti tema cerita bakal muncul dengan sendirinya…
let the characters lead the story…
ini… barangkali tertarik menggunakan teknik character-mix…
(kukopi corat-coret gak jelas dari blogku ini)
—————————–

Yakin mau bikin tema cerita dulu baru bikin karakternya?
A : Mau bikin cerita baru nih!
B : Boleh. Mau mulai dari mana: bikin tema dulu atau karakter dulu?
A : Ya dari tema dulu dong! Gimana sih? Biasanya kan begitu.
B : Yakin? Ya udah, mau bikin tema apa?
A : Biasa, fantasi. Perang melawan penyihir jahat. Jagoannya cowok, punya emak di desa tukang bikin kue, dan punya temen cewek pencopet cilik.
B : Jadi inget sama…. Ya udah, jadi ada empat karakter nih: Panglima, Penyihir, Tukang Kue, sama Pencopet. Sok atuh… dibikin gambaran karakternya.
A : Lihat nih…

Panglima Cowok 20 tahun Bijaksana
Penyihir Cowok 50 tahun Licik
Tukang kue Cewek 40 tahun Pemarah
Pencopet Cewek 10 tahun Periang

B : Terlalu biasa nih! Boleh gua utak-atik, gak?
A: Mmm, boleh deh.
B Begini nih…

Panglima Cewek 20 tahun Bijaksana
Penyihir Cewek 50 tahun Licik
Tukang kue Cowok 40 tahun Pemarah
Pencopet Cowok 10 tahun Periang

A : He he, boleh juga sih. Jadi sekarang tokoh utamanya cewek nih, trus lawan cewek juga? Terus si tukang kue jadi bokapnya? Pencopet cowok kecil, itu sih udah biasa juga.
B : Eh, emang gua bilang tokoh utamanya si panglima cewek ini? Bisa aja kan si tukang roti yang jadi tokoh utama, atau si pencopet kecil itu.
A : Si tukang roti? Ya bisa juga.
B : Atau mau diutak-atik lagi?
A : Ntar dulu! Gua suka juga tuh sama tokoh panglima cewek. Yang itu jangan diubah.
B : Boleh. Jadi tinggal tiga terakhir nih…

Panglima Cewek 20 tahun Bijaksana
Penyihir Cewek 10 tahun Licik
Tukang kue Cowok 50 tahun Pemarah
Pencopet Cowok 40 tahun Periang

A : Heheh, jadi penjahatnya sekarang anak kecil 10 tahun nih? Menarik juga. Tapi tukang kue sama pencopet tua, apa menariknya?
B : Ya si tukang kue jadi babe yang pemarah. Trus si pencopet cowok itu, dijadiin pacarnya si panglima cewek aja…
A : Ketuaan ah…
B : Soal umur mah gampang atuh… Tinggal dikurangin. Mau jadi umur berapa? 25 tahun? Boleh. Tapi udah puas belon nih?
A : Sifatnya belon diutak-atik kan?
B : Yoi. Nih coba liat…

Panglima Cewek 20 tahun Periang
Penyihir Cewek 10 tahun Pemarah
Tukang kue Cowok 50 tahun Licik
Pencopet Cowok 25 tahun Bijaksana

A : Wah! Tambah aneh nih! Penjahatnya tukang kue?
B : Iya! Si bokap yang tukang kue ini ternyata jahat, dan berhasil merebut kekuasaan. Si panglima cewek terpaksa kabur dari negerinya, dibantu kabur sama si pencopet bijaksana.
A : Terus si penyihir kecil jadi apaan?
B : Boleh juga kalo mau dijadiin partner in crime-nya si tukang roti.
A : Heheh. Boleh juga.
B : Atau bisa juga begini…

Panglima Cewek 20 tahun Pemarah
Penyihir Cewek 10 tahun Bijaksana
Tukang kue Cowok 50 tahun Licik
Pencopet Cowok 25 tahun Periang

A : Artinya?
B : Si panglima cewek sering ngamuk. Si pencopet cowok jahil. Nah sih penyihir cilik nih jadi orang bijaksana, mesti dicari dulu di tengah hutan, karena ternyata dia yang menyimpan kunci untuk melawan senjata rahasia milik si tukang kue.
A : Wah bagus nih ! Yang ini aja deh.
B : Jangan puas dulu. Coba elu utak-atik sendiri deh. Gua cuma pengen kasih tau nih, ada 4 kali 4 alias 16 kemungkinan cerita di sini. Bisa nambah lagi kalo elu masukin juga variabel-variabel lainnya.
A : Eh, iya yah… kok temanya berubah dari tema awal gua?
B : Hehe, emang itu tujuan gua. Daripada bikin tema dulu baru karakter, yang hasilnya terlalu stereotip, mendingan elu bikin dulu karakternya, baru masuk ke tema.
A : Ah, belagu lu. Tapi boleh juga sih cara ini.

catetan :
Hitungan si B salah tuh. Mestinya ada 9216 kemungkinan cerita.
Angka dari mana? Nanti aja deh dibahas di kelas matematika. heheh…
———————-

[tab: Hal 4]
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 14, 2007, 09:48:24 am
________________________________________
eh…
ada fantasi lokal baru terbit agustus kemaren ya?
judulnya Cardan, terbitan gagas (haha… ternyata mereka nerbitin fantasi juga…)
pengen baca, tapi belon nemu di toko buku…
ada yang udah baca?
________________________________________
Post by: BloodSin on November 14, 2007, 03:31:00 pm
________________________________________
hmmm.. ente ktinggalan info ne.. ;D
gagas udah nerbitin 2 fantasi sebelomnya: nightfall (yg ini gw udah baca) ma satu lg.. lupa judulnya pokonya nyinggung2 time machine gitu deh.. hmm.. yg unik, kayanya gagas udah ngebagi divisi genre untuk novel2na: ada fantasy-lit, teenlit, dan lain sebagainya.. :)
kalo yg novel cardan itu, malah kayanya gw yg ketinggalan info.. baru denger ne.. ente denger dr mana?
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 14, 2007, 04:59:35 pm
________________________________________
rey, gua tau cardan pas buka site tokobuku online.
maksud gua tuh… gua pikir gagas cuma tertarik sama fantasi dengan tema yang ringan dan tipis,
sementara cardan ini kayaknya bertipe epik dengan tebal sampe 330 halaman.
jadi… apa kita harus mengarahkan senjata ke sana? hehehe…
________________________________________
Post by: clickdian on November 15, 2007, 08:36:24 am
________________________________________
Guys,
Alhamdulillah Zauri dapet juara 2 Adikarya IKAPI, makasih untuk doa dan dukungannya yaaa.. :D
To all:
Fiksi fantasi lokal sudah diterima di negeri sendiri nih, jadi jangan ragu berkarya ya!
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 15, 2007, 08:52:17 am
________________________________________
hoho…
selamat, dian!
wah… hebat bener ya…
ayo deh, mari kita tetap bersemangat menulis fantasi!
ah… gua bermimpi suatu hari nanti fantasi-fantasi buatan anak negerilah yang merajai toko-toko buku,
dan ada penghargaan semacam hugo award setiap tahunnya (dian award mungkin, heheheh…, khusus untuk buku-buku fantasi tersebut (mulai dari novel, novelet, hingga short stories).
jalan yang panjang, tapi bukannya gak mungkin…
________________________________________
Post by: clickdian on November 15, 2007, 08:58:12 am
________________________________________
Tq, Villam :D
Aq juga surprise banget, satu2nya fiksi fantasi yg masuk nominasi. Sempet jiper juga, ga pede soalnya yg lain dari genre yg lebih banyak penggemarnya. Tapi kyknya juri2 juga suka berimajinasi, jadinya zauri kepilih deh.
Tinggal Khatulistiwa nih T_T
Ini mah kayaknya ga mungkin abisss… saingannya super ketat.
Tapi yah, harapan walopun cuma 1% tetep harapan kan? ;)
Minta doanya ya, guys..
________________________________________
Post by: BloodSin on November 15, 2007, 10:01:40 am
________________________________________
@ sis,
whwhwwh.. juara 2.. keren banged.. congrats ya.. ;D jadi makan2 duank.. ;D ;D
@villam,
gagas bukannya udah ngasi limit halaman naskah.. pokonya setau gw limit halamannya tipis banged deh.. cuman 125/150 halaman spasi 1.5.. ato berapalah.. kok tuh novel lumayan tebel bs terbit ya? ??? ???
@aree,
tertarik nulis fantasy?

[tab: Hal 5]
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 16, 2007, 10:53:37 am
________________________________________
mmm…
buat iphrite alias kokonoka yang meminta gua membagi tips lagi.
hahaha… kayaknya yang di bawah ini mungkin bukan tips, cuma corat-coret gak jelas dari penulis yang baru bisa bermimpi…
kukopi juga dari blogku.
yah, walau gak jelas, semoga bermanfaat dan bisa membangkitkan semangat…
ciao.
—————————-

Writer’s Obstacle : The Beast Inside My Head

Ouch! You killed my brother!
It’s time for revenge,
but what is the main obstacle to become a real writer?
Dari sekian banyak tahapan yang dilalui penulis, mana yang paling menantang?

A. Aktivitas menulis
(proses ngebikin novel impian itu maksudnya)

A1. Persiapan (atau perencanaan)
Macem-macemlah, mulai dari ngimpi, corat-coret tokoh, plot, dunia impian, action outline (sebelon jadi scene outline), dll.
Sampe minimal kita tau 70% dari keseluruhan cerita yang kita buat. Pokoknya jangan sampe blank, kita gak tau cerita yang kita tulis ujungnya ada di mana.
Oy! Jangan lupa risetnya. Mau bikin cerita detektif/pembunuhan coba dateng ke kantor polisi ataw ke rumah sakit (/jiwa?). Mau bikin cerita luar angkasa, coba ke bulan. Mau tau kayak apa Eiffel di bulan Februari, ya coba dateng ke Paris, biar gak bingung ini musim dingin apa musim panas.
Gak punya duit, surfing internet ajah di wikipedia.
Oke? Udah siap semua pedang dan armor kita?
Siap, boss!
It’s time to go to the dungeon and kill the beast!

A2. Menulis
Kerjaan utama yang paling berat nih, ngeluarin the beast dari dalem kepala.
Gaya dan kecepatan para penulis beda-beda. Ada yang bisa ngebut ngetik selesai dalam seminggu (mereka-mereka yang ngetop sebagai prolific authors nih), ada juga yang bisa berbulan-bulan.
Barangkali ada yang berminat kayak Tolkien, bikin LOTR dalam 13 tahun?
Biar gak keliatan menakutkan, maju aja sedikit-sedikit. Ya sebulan satu bab deh…
Kan kita mesti sekolah, ke kantor, jalan-jalan ke mal, chatting, surfing, ngurus anak, dll dsb. Ya gitu deeh…

A3. Rehat

Udah selesai semua 30 babnya? Weh, jadi hampir tiga tahun nih nulisnya?
Luar biasa, dan selamat! Iya. Pokoknya selamat!
Kita udah lolos tahap kualifikasi yang paling berat buat jadi penulis!
Konon katanya, dari 100 orang yang bermimpi jadi penulis, cuma 50 orang yang berani mencoba menulis. Dari 50, cuma 25 yang menulis sampe selesai novelnya. Dari 25, cuma 12 yang berani ngirim ke penerbit. Dari 12, cuma 6 yang mau memperbaiki setelah ditolak. Dari 6, cuma 3 yang berani mengirim ulang. Dari 3, cuma 1 yang akhirnya berhasil diterbitin.
Kalo gak salah sih.
Eh, tapi ngapain dibahas sekarang? Udah deeh…
Saran para penulis top: print draft pertama tersebut, masukin ke kulkas selama sebulan, jangan pernah disentuh-sentuh. Biar semuanya hilang dari otak kita buat sementara.
Simpan dulu pedang kita. Waktunya pergi ke tavern.
Sementara nganggur, kita bisa mulai ngelayap kemana-mana (lihat bagian B. Aktivitas lain-lain), atau coba bikin konsep buat novel berikutnya.

A4. Kritik sendiri
Asumsinya udah belajar banyak dong dari proses belajar kita.
Sekarang ambil lagi tuh naskah dari dalem kulkas. Senjata yang mesti disiapkan: pulpen/pinsil dan notes (ya pedang yang itu maksudnya).
Hiaat! Dengan ganasnya kita bantai tulisan kita sendiri dari awal.
Kill the goblin! Kill the goblin!
Hoaahh! Apaan nih?
Kenapa kok plotnya jadi keliatan gak masuk akal sekarang?
Lho, ini tokoh ngapain muncul di cerita ini? Gak ada gunanya!
Ini apaan nih narasi panjang lebar gak jelas?
Waduh, kok lambat banget sih ceritanya? Bikin ngantuk!
Catet dulu di notes, jangan buang sekarang, jalan terus dulu.
Yang ini, deskripsinya kok ngambang? Ya catet juga, nanti ditambahin.
Nyantai, man… nyantai…

A5. Kritik dari orang lain
Puas dengan kritikan sendiri?
Jangan.
Beranikan diri, kasih tuh draft naskah ke orang laen.
Semakin expert orang tsb tentu semakin bagus. Tapi kalo gak ada, ya papi, mami, kakak, adek, pacar, temen juga bisa. Minimal mereka bisa ngasih tau di halaman berapa mereka tertidur karena bosennya.
Pembaca/kritikus yang expert bisa ngasih tau poin-poin lemah mana ajah yang sebelumnya gak kita pikirkan.
Tentang ini ntar kita bahas khusus deh.

A6. Rewrite (tulis ulang)
Udah dapet semua kritiknya?
Bagus? Jelek? Perlu diterima? Atau ditolak ajah?
Ya terserah kita.
Yang jelas kalo kita berani rewrite alias tulis ulang (bukan sekedar potong kiri potong kanan, tambah atas tambah bawah), berarti kita udah selangkah lebih maju.
Gak usah takut, rewrite dan edit selalu membuat tulisan kita menjadi lebih bagus, gak pernah jadi lebih jelek.

A7. Ulang lagi dari A3
Hah? Muter lagi?
Hehe, terserah sih. Ini saran ajah.
Ok deee…
Balik lagi ke gua, bang! Ada harta karun yang belon sempet diambil di sana!

A8. Ulang lagi dari A3
Maksud loh?!
Ya itu maksud saya. Pokoknya periksa ulang dan periksa terus!
Hmm, editing is a never ending process. Setiap kita tengok lagi tuh naskah, pasti selalu ada aja yang cacat.
Gak percaya, coba liat lagi sekarang. Pasti masih ada yang salah. Berani taruhan? (hus, haram!)

A9. Kirim ke penerbit dan tunggu
Udah deh, capek nih ngedit. Udah gak sabar nih…
Sip! Selamat karena kita udah berani nekat naik ke Arena.
Face the minotaur and its great axe!
Itu lebih bagus daripada gak pernah berani mencoba.
Tentu saja ada syaratnya: naskah yang kita kirim sudah kita edit sedemikian rupa, sehingga kita yakin itu adalah yang terbaik bisa kita buat, setidaknya sampai saat ini.
Jangan lupa perhatikan tatacara pengiriman naskah. Editor dan penerbit banyak maunya lho…
Setelah itu, tunggu dengan sabar ya.
Bisa seminggu, tiga bulan, atau setaon. Seumur hidup?
Sementara nunggu, coba deh ngelayap lagi, atau bikin novel lainnya.

A10. Ditolak
Hore! Ditolak buat yang pertama kali!
Toast! With the minotaur.
Sambutlah dengan senyum, simpan baik-baik surat penolakannya.
Itu bakalan jadi kenangan indah buat kita nanti, suatu saat.
Inilah saatnya naik level.
Ketemu naga, bukan lagi minotaur, apalagi goblin kroco.

A11. Ditolak lagi dan ditolak lagi
Ouch! You killed my brother!
Hooo. Keep smiling, man…
Baca baik-baik surat-surat penolakan tersebut, dan kita akan menemukan apa yang membuat naskah kita ditolak.
Kita akan belajar menerima kenyataan pahit ini: tidak penting sebagus apa naskah kita, kalau tidak sesuai dengan selera atau standar editor dan penerbit, ya tetep aja ditolak.
Tapi minimal ada yang bisa kita pelajarin.
Sesuatu yang bisa menjadi senjata pamungkas kita.

A12. Moment of Truth
Saatnya penentuan, apakah kita bener-bener seorang penulis atau bukan.
It’s the main obstacle.
Face the dragon in the final battle.
Mereka pikir kita akan menyerah setelah ditolak sepuluh kali?
Duapuluh? Limapuluh?
No, Master! Wait for my revenge!
Ada 3 jalan di depan kita:
1. Perbaiki lagi tuh novel yang ditolak, dan coba kirim lagi. Teruus dan teruuuss…
2. Bikin cerita yang laen. Kita penulis kok, kita bisa bikin satu, kenapa gak bisa bikin yang kedua, ketiga, dst? Ditolak juga? So what? It’s my life.
3. Simply Quit. Goodbye, brother. Don’t worry, you’re still my friend. Maybe we’ll meet again, someday, etc, etc.
The dragon is in our mind.
Make your decision.

A13. Revenge
The sweetest time.
The evil dragon is dead.
Saat ketika semua pengorbanan terbayar lunas. Duh duh duh…
Perlu dibahas?
No, just dream it.

B. Aktivitas lain-lain
(nangkring & nongkrong)

B1. Belajar
Ya macem-macem juga deh yang dipelajari.
Paling penting adalah belajar tatacara penulisan yang baik. Mesti rajin-rajin dong buka buku EYD, tatacara Editing, Pelajari Tips n Trick dari internet.
Apa aja sih yang biasanya jadi topik pembunuhan naskah, favoritnya para kritikus?
Jangan malu nanya para penulis top yang pinter-pinter itu. Cari tau seperti apa novel yang bagus, dan yang gak bagus. Ya mesti banyak baca-baca novel laen buat benchmarking (ceile…), impor maupun ekspor (hah?).
Tapi jangan nangkring di depan komputer doang (kayak saya).
Nongkrong juga dimana kek. Liatin juga tuh kelakuan orang-orang di pasar, di stasiun, di stadion, di bank, di ruang tunggu dokter.
Lumayan buat database tingkah laku orang.

B2. Survey pasar dan penerbit
Jalan-jalan yuk, ke toko buku.
Liat majalah Trubus, hmm… bisa gak ya kirim cerita fantasi ke sini?
Dimana alamatnya? Lihat di cover belakang, atau ada di halaman dalam?
Oke deee… beli.
Huh? Isinya kok pohon semua? Mau bikin cerita Wood Elves? Walah…
Cari lagi deh yang laen…
Oke, nih ada novel fantasi yang keren, terbitan penerbit ABC (bukan kecap itu tapinya). Laris juga kabarnya.
Dimana alamat penerbitnya? Catet. Coba cari info tentang penerbit ini di internet. Cukup bonafid dan bisa dipercaya? Mana alamat emailnya?
Oke, kenalan dulu via email.
Mau terima fantasi gak? Gimana cara ngirimnya? Begini begitu.
Mereka mungkin bilang: sori belon minat. Tapi mungkin ada juga yang jawab: coba kirim sinopsis dan 10 halaman pertama.
Voila! Jalan sudah terbuka.
Mungkin ada juga yang jawab: kirim hardcopy langsung aja semuanya. Syaratnya ini dan itu. Oke. Meluncur.
Tapi kalo ada yang minta diemail semuanya pake ms word, mending tahan dulu deh.

B3. Gaul di forum penulis.
Ya, namanya juga pemula, tau dirilah.
Belajar dari penulis-penulis lain yang lebih paham. Kenalan juga dengan sesama penulis pemula yang senasib sepenanggungan.
Banyak kok forum semacam ini di internet.
Dengan mereka-mereka ini kita nanti bisa minta masukan mengenai draft naskah kita. Banyaklah informasi yang berguna dari mereka.

B4. Kegiatan lain
Hmm, banyak sih.
Ketemu penggemar di mal dan universitas, bedah buku, tanda tangan.
Heheh…
Woy, bangun! Udah siang!
Kerja, kerja!
Just face that beast, okay?

B5. Belajar lagi, sampe akhir hayat
At last, everything we do is about learning.

[tab: Hal 6]

________________________________________
Post by: rd_Villam on November 19, 2007, 02:46:25 pm
________________________________________
rey,
cardan belon selesai juga nih bacanya. ada satu hal penting yang kurang di novel ini, seperti halnya numeric uno, yaitu kurang ‘pressure’ awalnya. tapi sampe separo jalan, gua rasa masih lebih bagus daripada numeric uno kok. gua saranin elu tetap beli deh. heheh…
soal reviewnya, ntar deh, mudah2an bisa dibedah secepatnya. ada kesulitan tersendiri. gua gak bisa konsen bacanya, soalnya kemudian malah mikirin cerita gua yang gak selesai-selesai. payah dah…
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 20, 2007, 11:37:15 am
________________________________________
soal perbedaan antara novel dan film,
dalam beberapa kasus memang jadi lebih berkualitas filmnya.
seperti LOTR dulu, peter jackson juga bisa bikin interpretasi yang lebih mantap, seperti karakter yang lebih ‘believable’, walaupun tentu saja banyak cerita yang hilang.
tapi banyak dalam kasus lainnya, biasanya timbul kekecewaan karena filmnya ‘dirasakan’ menjadi lebih buruk.
________________________________________
Post by: BloodSin on November 20, 2007, 11:48:33 am
________________________________________
@villam,
bah, tapi kalo udah dari bukunya jelek mah kayana udah gak mungkin bisa bagus ya kalo dipelemin.. :)
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 20, 2007, 02:50:57 pm
________________________________________
u know what? bagi gua, seringkali nonton film selalu mendatangkan lebih banyak ide daripada membaca bukunya.
kita bisa belajar tentang gaya atau teknis penulisan dari membaca buku, tapi cara penyusunan plot dalam film (pembukaan, konflik, klimaks, penutup), dan cara visualisasinya, yang justru sebenarnya sangat berguna buat para penulis yang hendak membuat novel.
sepertinya para sutradara itu tau betul bagaimana harus membuat penonton tertarik dari awal, dan meringkas dalam film yang padat dalam 2 atau 3 jam.
yah, tentu saja cuma film-film yang bagus ajah…
heheh…

Comments No Comments »