Archive for the “Review Buku” Category

hattin1187Buat yang sudah menonton film Kingdom of Heaven karya Ridley Scott yang dibintangi oleh Orlando Bloom dan Jeremy Irons, bakal lebih afdol lagi jika dilanjutkan dengan membaca Hattin 1187: Kemenangan Terakbar Shalahuddin karya David Nicolle yang diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), supaya dapat lebih paham mana kisah yang benar dan yang tidak menurut sejarah.

Read the rest of this entry »

Comments 12 Comments »

[tab:Hal 1]Di forum Pulau Penulis Fiksi Fantasi Dalam Negeri, saya sempat bicara tentang audio novel, yaitu sebuah novel yang disampaikan melalui media audio seperti kaset, CD, atau MP3, dibacakan oleh seorang pencerita, atau bisa juga dalam bentuk seperti sandiwara radio jaman dulu, dan bisa dinikmati kala kita bengong di dalam mobil saat jalanan macet, naik bis, atau bahkan saat berkebun di rumah. Hahahah…

Kemudian saya teringat, bahwa sebenarnya saya dulu pernah membuat audio novel, saat masih SD, walau bukan berasal dari cerita saya sendiri. [tab:Hal 2](sambil tertegun sejenak, betapa masa dua puluh tahun yang lampau itu sepertinya masa-masa yang lebih kreatif buat saya dibanding sekarang—saya bikin cerita audio, komik, majalah, cerita panjang, cerita pendek, bahkan kartun, dan lain-lain).

Korban saya dulu adalah novel-novel Trio Detektif, karya Robert Arthur Jr. Buat anak-anak jaman sekarang yang gak kenal, ini dulu adalah serial yang sangat sangat populer, sebanding dengan Lima Sekawan karya Enid Blyton. Bercerita tentang tiga detektif remaja bernama Jupiter Jones, Pete Crenshaw dan Bob Andrews, yang berasal dari kota kecil Rocky Beach di California. (kembali saya tertegun, betapa dulu anak-anak santapannya adalah buku-buku novel, bukan manga apalagi komputer dan playstation seperti sekarang).

Melalui serial ini, anak-anak diajak berpetualang memecahkan berbagai misteri, berhadapan dengan para penjahat, tinggal di markas ketiga detektif berupa bis trailer bekas dan penuh dengan jalan keluar masuk rahasia, menaiki mobil mewah Rolls Royce dengan sopir Inggris bernama Worthington, dan bertemu sutradara thriller terkenal Alfred Hitchcock. Yang menarik juga adalah karakter tokoh-tokohnya. Jupiter yang gendut, cerdas, tapi suka ngomong tinggi. Pete yang kuat, rada lemot, tapi ahli mematai-matai. Bob yang berkacamata, tekun, tapi agak lemah dan pincang. Menarik. Dan bagi saya pribadi, saat itu adalah masa-masa membaca dan berpetualang yang menyenangkan.

[tab:Hal 3]Nah kembali ke topik awal, memang sih, yang saya buat dulu mungkin tidak terlalu pas disebut sebagai audio novel, melainkan cerita bermedia audio yang diangkat dari sebuah novel. Dan dulu juga gak kepikiran soal hak cipta. Hehe… Bersama kakak dan adik, saya mengadaptasi novel-novelnya menjadi kaset. Tiga judul yang kita buat adaptasinya adalah Misteri Mata Berapi, Misteri Nuri Gagap dan Misteri Rumah Yang Mengkerut. (uh… saya bisa cerita panjang lebar tentang kisah-kisahnya, sebenarnya, saking semangatnya, tapi mungkin tidak saat ini. Hehe…).

Masing-masing buku dibuat menjadi tiga buah kaset, alias berdurasi sekitar tiga jam. Dan sungguh, seluruh prosesnya sangat menyenangkan. Mulai dari mengedit novelnya (karena jika tidak, satu buku mestinya bakal lebih dari enam jam), kemudian memilih peran, siapa yang akan mengisi suara siapa. Contohnya di Misteri Mata Berapi, kakak saya berperan sebagai Jupiter dan Bob, sementara saya menjadi Pete dan August. Bahkan Mama juga kita ajak berperan menjadi Bibi Mathilda, bibinya si Jupiter. Hahahah…

Asyiknya adalah mengubah-ubah warna suara dan cara bicara disesuaikan dengan tokohnya (walau tetap, sejauh mana sih suara anak-anak bisa berbeda?). Kemudian proses berikutnya adalah merekam di kaset, dan tidak lupa memberi tambahan efek suara sederhana, seperti suara mobil dan piring pecah misalnya, hehe… Setiap selesai potongan adegan, lalu diedit, jika misalnya kepanjangan. Terakhir, setelah semua proses rekaman beres, lalu kita melukis buat covernya. Menyenangkan. Semuanya.

[tab:Hal 4]Tapi sayang memang, karena dulu hanya bisa dibuat dalam media kaset yang gak tahan lama, sekarang sudah gak bisa dinikmati lagi. Udah hampir dua puluh tahun, gila. Tapi saya masih sempat denger lagi beberapa tahun yang lalu, dan ketawa-ketawa sendiri, mendengar suara-suara saya pas masih kecil. Hmm… bisa gak ya direvitalisasi lagi? Urusannya adalah urusan kenangan nih, soalnya.

Lalu apakah nanti saya berminat untuk membuat audio novel semacam ini lagi?

Oh, yes, absolutely! Jika ada waktu dan kesempatan (yang semakin tua kayaknya semakin sedikit). Dan kali ini harus cerita karya saya sendiri. Bahkan biar lebih serius, memakai studio khusus. Hahaha…

It’s just like the old time.

[tab:tambahan]Catatan tambahan:

Saat ini audio novel sudah cukup populer di Amrik. Termasuk sudah banyak pula novel-novel fantasi yang kemudian diubah menjadi audio. Durasinya? Untuk buku setebal 600 halaman biasanya menjadi 600 menit, alias 10 jam. Sebagian dijual dalam bentuk CD, tapi ada juga yang bisa didownload gratis. Tinggal ketik saja ‘audio novel’ di search engine untuk mencari tahu. Sementara kalau di Indonesia memang belum populer, dan jika ada kebanyakan adalah buku-buku bertema agama (ceramah).

Comments 38 Comments »

[tab:Hal 1]Rekan saya dian k baru saja menulis review Magician’s Guild, novel fantasi karya Trudi Canavan, penulis asal Australia, terbitan Mizan Fantasi, 2008, di blog Kastil Fantasi. Silakan dinikmati.

Komentar saya singkat saja: baguslah kalau semakin banyak penerbit lokal yang menerbitkan novel-novel fantasi. Tapi saya akan lebih senang lagi jika yang diterbitkan adalah karya-karya penulis fantasi lokal juga.

[tab:Hal 2]Tentu saja penerbit beralasan, tidak ada karya lokal yang benar-benar bagus buat diterbitkan. Dan pangsa pasarnya pun masih sangat kecil. Topik semacam ini sudah sering dibahas di forum, dan para penulis sebenarnya punya argumen untuk melawan pendapat tersebut, bahwa karya yang bagus itu bukannya tidak ada, tapi memang tidak diberikan kesempatan untuk muncul dan berkembang.

Yeah, jalan memang masih panjang buat membuktikan kalau penulis fantasi lokal pun bisa eksis di Indonesia. Kita tidak akan menjadi peminta-minta; kita akan berusaha keras untuk bisa tampil, jangan khawatir.

Comments 42 Comments »

[tab: Hal 1]Oleh-oleh Lebaran saya dari Bandung adalah novel Jonathan Strange & Mr Norrell karya Susanna Clarke, terbitan Bloomsbury 2004 dan pemenang Hugo Award 2005. Dengan tebal 1000 halaman serta berhuruf kecil hingga saya perkirakan novel ini berisi 350.000 kata alias sepuluh kali novel teenlit (hehe…), saya pikir wajar jika sampai sekarang saya baru membaca 200 halaman, betapapun bagus isinya.

[tab: Hal 2]Novel ini mengambil setting mulai tahun 1807 di Inggris, pada masa Perang Napoleon, dan dibuka dengan pertanyaan ‘masih adakah sihir di Inggris?’. Pada masa itu sihir hanya dipelajari oleh para penyihir teoritis, yang sama sekali tidak bisa menyihir. Dan kemudian muncullah Mr Norrell, yang mengklaim bahwa dia adalah praktisi sihir. Di kota York dia meminta para penyihir teoritis itu berkumpul di katedral, dan jika dia berhasil membuktikan sihirnya, maka orang lain tidak boleh lagi menyebut diri mereka penyihir. Di katedral itulah, batu-batu kemudian berbicara.

[tab: Hal 3]Jonathan Strange & Mr Norrell adalah novel pertama Susanna Clarke. Sulit dipercaya memang bahwa ini adalah yang pertama, melihat begitu elegannya kisah ini ditulis, dengan gaya bahasa yang berbeda dengan Harry Potter yang ringan, dan justru mendekati gaya penulis klasik macam Charles Dickens dan Jane Austen. Neil Gaiman bahkan menyebutnya sebagai novel fantasi dengan Bahasa Inggris terbaik dalam kurun waktu tujuh puluh tahun terakhir.

[tab: Hal 4]Mengenai plot atau cerita, saya belum bisa berkomentar berhubung saya belum selesai membacanya. Yang menjadi kelebihannya–selain gaya bahasanya–saya rasa adalah detil backstory yang dibuat Clarke melalui catatan-catatan kaki yang lumayan banyak. Sebagian pembaca mungkin membenci catatan kaki, tapi saya rasa dengan cara ini Clarke berhasil menciptakan sebuah dunia, di mana pembaca menjadi percaya, bahwa dulu memang ada sihir dan komunitas sihir yang nyata di Inggris.

Oke. Sementara, sekian dulu komentar saya. Saatnya saya melanjutkan membacanya dulu sampai selesai.

Comments 21 Comments »

[tab:Hal 1]Penulis : Steven Saylor; Penerbit : Onread Books; Tahun Terbit : 2008; Tebal : 735 Halaman; Genre : Fiksi Sejarah.

Setelah membaca beberapa buku fantasi karya penulis dalam negeri, dan lebih banyak lagi membaca komik Detektif Conan, akhirnya saya membaca buku tebal berjudul Roma, karya Steven Saylor.

[tab:Hal 2]Sebagai penggemar kisah-kisah epik dan sejarah, tentu saja inilah jenis buku yang memang ingin saya baca. Dan setelah membaca, saya memang puas. Pertama, karena Steven Saylor memang tukang cerita (jangan salah, ini adalah novel, dan Saylor sungguh pandai bercerita) dan ahli sejarah Roma yang mumpuni. Kedua, karena saya banyak belajar hal baru tentang mitologi Roma yang unik, dan intrik-intrik sosial politik yang mewarnai sejarah negeri tersebut sejak 1000 tahun Sebelum Masehi, hingga masa Julius Caesar dan Octavianus di abad pertama Masehi.

Sangat beruntung saya bisa membaca ini (terima kasih sebesar-besarnya buat seseorang yang bisa membuat saya membaca ini). Banyak yang bisa saya pelajari. Baik mengenai sejarah, maupun dalam hal ‘cara yang baik dan benar untuk menulis kisah epik fantasi’. Hah!

Comments 8 Comments »