Archive for the “Review Film” Category

Jangan salah sangka, tulisan ini bukan tentang pelajaran bahasa Inggris. Ini sekadar celoteh ringan dari seorang penggemar film. Buat yang belum tahu, judul di atas adalah kutipan dialog dari film The Godfather (rilis tahun 1972)—salah satu film terfavorit saya; satu dari sekian banyak baris dialog sederhana namun begitu diingat dari film tersebut. Dialog di atas sendiri merupakan bagian dari sepotong kisah dan (salah satu) adegan yang paling berkesan (buat saya) dari film The Godfather.

Jadi ceritanya, setelah Michael, putra bungsu Don Vito Corleone, menembak mati polisi korup dan musuhnya di sebuah restoran sepi, ia kabur dari New York ke kampung halaman ayahnya di Corleone, Sisilia. Tempat yang sepi, terpencil, kering, terik, namun indah. Di sana Michael bertemu gadis cantik bernama Apollonia, yang kemudian ia lamar untuk menjadi istrinya. Keduanya menikah, dalam sebuah pesta sederhana namun khas Sisilia, berdansa diiringi lagu merdu (versi Inggrisnya adalah Speak Softly Love yang populer dinyanyikan Andy Williams, favorit buat saya nyanyikan di tempat karaoke. hehe…).

Read the rest of this entry »

Comments 11 Comments »

xiaoqiaoAgak memalukan memang, baru semalam saya menonton Red Cliff 2, tiga bulan setelah film itu diluncurkan! Hahahahah… Yeah, saya punya banyak alasan kenapa saya baru menonton (percayalah, saya paling jago membuat-buat alasan). Tapi itu tidak penting, lebih bermanfaat saya ceritakan saja kesan saya setelah menonton ini.

Semalam saya menyetel DVD dengan hati gembira (halah…), tidak merasa bersalah karena tidak menulis, karena toh sampai 12 hari di bulan Mei ini saya sudah berhasil menulis 7200 kata alias 600 kata per hari untuk proyek GST saya, melebihi target di awal bulan. Saya menonton sampai tengah malam, tersenyum, dan kini saya menuliskannya untuk Anda.

Read the rest of this entry »

Comments 14 Comments »

Kemarin saya baru saja nonton Stardust (ya ya ya, ini film udah lewat setahun lebih dan saya baru sempet nonton sekarang), yang diangkat dari novel fantasi laris karya Neil Gaiman. Saya gak akan review soal film atau novelnya, karena sudah banyak dibahas di tempat lain sebelumnya. Di sini saya hanya akan mengupas sedikit soal adaptasinya dari novel ke film, betapa banyak perubahan yang harus dilakukan, demi mencapai tujuan berfilm, tanpa harus kehilangan inti ceritanya.

Ceritanya, setelah novelnya terbit tahun 1998 di Amrik, dan Miramax membeli haknya untuk dijadikan film, Neil Gaiman kemudian mencoba membuat audiobooknya, dan ternyata kemudian terlihat bahwa panjangnya (jika dibuat film) bisa mencapai 10-12 jam. Artinya, jika memang hendak dibuat film berdurasi 2 jam, harus ada banyak sekali adegan yang dipotong.

Masalah berikutnya adalah bagaimana mengubah ‘tone’ gelap dan dewasa (alias ada adegan seks di bukunya), menjadi film yang lebih ringan dan bisa dinikmati keluarga dan anak-anak, tanpa harus mengurangi daya tariknya. Jadilah kemudian film tersebut dipenuhi dengan banyak adegan humor, yang, terus terang memang cukup menghibur. Saya terutama suka dengan rentetan adegan 7 pangeran hantu (sebagian sebelumnya belum menjadi hantu).

[tab:Hal 3]Dengan perubahan-perubahan tersebut saya rasa Gaiman berhasil meluaskan pangsa pasarnya. Sama seperti di banyak kasus sebelumnya, ada penggemar novel yang kemudian senang dengan adaptasi filmnya (seperti di kasus Lord of The Rings–walau ada juga yang sebaliknya: kecewa), dan ada pula yang lalu terpancing untuk membaca  bukunya setelah menonton. filmnya.

Apapun, inilah bagian dari industri hiburan. Aji mumpung. Dan selama itu menghibur, kita sebagai penonton dan pembaca yang senang-senang saja.

Comments 4 Comments »

[tab: Hal 1]Sebagai penggemar game lawas Romance of the Three Kingdoms keluaran KOEI dan juga pembaca novel berjudul sama, ditambah mendengar niatan sutradara John Woo sebelumnya untuk membuat film epik terbesar dari tanah Asia, ditambah lagi dengan bintang semacam Tony Leung dan Takeshi Kaneshiro, tentu saja adalah keharusan buat saya menonton film Red Cliff.

Read the rest of this entry »

Comments 96 Comments »