Archive for the “Tips Menulis” Category
Yang penting adalah kebenaran, teori atau kenyataan yang dilihat, didengar atau dirasakan oleh tokoh yang menjadi sudut pandang cerita. Inilah yang harus disampaikan oleh penulis, betapapun itu mungkin salah menurut dia atau tidak sesuai dengan segala macam teori, sejarah dan lain-lain yang ada di buku.
Kecuali, jika penulis memang menempatkan dirinya sebagai narator.
Atau, dia tidak menjadi narator, tetapi secara sengaja dia memang menitipkan pesan-pesan kebenarannya pada sang tokoh yang menjadi sudut pandang cerita itu. Alias: ‘menggurui mode on’. heheh…
18 Comments »
Selepas gathering dan membagikan draft naskah The Forgotten Heroes (TFH) dan Gerbang Sungai Tigris (GST) kepada rekan-rekan Pulpen (untuk dibantai), saya lalu membawa kedua naskah tersebut ke meja operasi, dan sekali lagi saya berhasil membuang lebih banyak lemak-lemaknya (mengerat lemak di meja operasi; apakah itu sudah cukup mengerikan? Heheh…).
Read the rest of this entry »
28 Comments »
Menyambung kuliah sebelumnya yang memancing pemberontakan para siswa di Apa Itu ‘Cerita’, Pak Guru nekat memberikan pelajaran berikutnya: apa yang dimaksud dengan plot.
Kali ini dia tak mau berbasa-basi dan langsung mengajukan sebuah definisi. Menurutnya, plot adalah rentetan atau rantai kejadian dalam cerita yang memiliki hubungan sebab akibat. Tak ada cerita jika tak ada plot. Tak ada plot jika tak ada sebab akibat.
Contoh soalnya adalah sebagai berikut:
Read the rest of this entry »
32 Comments »
Oke, menyambung beberapa tulisan sebelumnya—terutama yang terkait dengan karakter dan plot—berikut adalah sedikit catatan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan ‘cerita’. Mungkin ini sudah basi, mungkin juga belum. Heheh… Tapi apapun, semoga ini bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan (terutama yang memang berminat untuk membuat sebuah cerita).
Read the rest of this entry »
15 Comments »
Seorang teman bertanya tentang itu di Pulau Penulis, dan di bawah ini adalah jawaban yang saya tulis di sana.
thriller adalah genre, sedangkan suspense adalah plot devices (penggerak plot).
rada susah untuk mendefinisikan thriller, seperti halnya rada susah kita mendefinisikan fantasi sebagai sebuah genre. paling kita bisa menyebut ciri-ciri yang biasanya ada pada thriller, misalnya: Read the rest of this entry »
17 Comments »
Setiap cerita punya sejumlah informasi yang harus diberikan kepada pembaca agar mereka mengerti latar sebuah kisah atau kejadian yang terjadi. Ada yang disampaikan melalui narasi, ada pula yang lewat dialog. Dialog biasanya sering dipakai melalui metode pembicaraan antara ‘si pintar’ dan ‘si bodoh’. Namun di sini kita harus hati-hati agar pembaca tidak merasa seperti sedang digurui.
Nah, tips sederhana untuk memeriksa apakah dialog yang kita buat terasa menggurui atau tidak adalah dengan cara menyelipkan kata-kata, “Tentu saja seperti yang kamu tahu, Villam (atau nama lain juga boleh… heheh…) …” di awal setiap ucapan tokoh-tokohnya itu.
Read the rest of this entry »
16 Comments »
Di bawah ini adalah tulisan dian k, yang dimuat di salah satu tret Pulau Penulis, mengenai sedikit pengalaman dalam membuat dan menyelesaikan sebuah novel kolaborasi. Semoga bermanfaat.
—–
Tahap pra-penulisan
1. Kenali mitra (skill, gaya tulisan, pribadi, mimpi, motivasinya); kalau bisa sebelum kita memilih seseorang menjadi mitra, kita sudah harus mengenalnya dengan baik. Ini sangat berguna pada saat sharing ide, karena penyampaiannya akan lebih mudah kalau kita sudah mengenal karakter mitra kita.
Read the rest of this entry »
16 Comments »
Seringkali begitu kita mendapat ide untuk sebuah cerita panjang (bukan cerita pendek ya…), gairah langsung mencuat, dan segera kita membuka komputer (atau buku) lalu menuliskannya. Satu kalimat, satu paragraf, satu adegan, satu bab selesai. Puas, dengan penuh semangat kita melanjutkan ke bab kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Kita perkenalkan tokoh-tokohnya, kita perkenalkan dunianya, kita hajar mereka dengan berpuluh-puluh masalah. Sampai akhirnya, di suatu titik di tengah cerita, kita berhenti, kebingungan. Sebenarnya hendak dibawa ke mana cerita ini? Hendak diakhiri di mana? Hendak diselesaikan seperti apa masalah-masalahnya?
Read the rest of this entry »
17 Comments »
Ya, bagaimana membuat karakter-karakter ciptaan kita menjadi lebih hidup? Apakah dengan membuat detil penampilan fisik tokoh-tokohnya? Wajahnya, tubuhnya, pakaiannya, pedangnya?
Ternyata bukan hal-hal itu yang paling penting.
Nah, berikut ada 40 pertanyaan yang mudah-mudahan bisa membantu. Jawablah, dan tampilkan melalui tindakan, ucapan, dan pikiran mereka. Niscaya tokoh-tokoh kita akan menjadi lebih hidup. Apakah semuanya perlu dijawab? Hahahah… mungkin tidak. Tapi selamat mencoba.
Read the rest of this entry »
38 Comments »
Mana yang lebih bagus: cerita bertempo cepat atau lambat?
Lepas dari masalah selera terhadap genre tertentu (roman dan thriller punya tempo berbeda), jawabannya bisa beragam dan penuh perdebatan.
Read the rest of this entry »
22 Comments »
Pemilihan sudut pandang (Point of View / POV) adalah langkah paling strategis sebelum memulai bercerita. Sudut pandang yang berbeda dapat membuat sebuah cerita terasa berbeda juga efeknya pada pembaca, walaupun dengan plot yang sebenarnya sama.
Ada banyak jenis sudut pandang (tergantung bagaimana cara melihatnya, ada First Person/Third Person, ada Limited/Omniscient, ada Intrusive/Unobtrusive, ada Single/Multiple), dan pembahasan mengenai hal itu semua bisa sangat panjang, melebar dan argumentatif. Jadi di sini–anggap saja ini sebagai awal–saya hanya akan membahas sedikit mengenai mengapa kita menggunakan Sudut Pandang Orang Pertama (First Person Point of View / FP POV), dan apa saja jenisnya.
Read the rest of this entry »
50 Comments »
Saya baru saja membaca sebuah cerita karya rekan penulis, dan saya kagum, karena dia berani menulis dengan menggunakan delapan tokoh sebagai pencerita /sudut pandang. Menggunakan Multiple Point of View (POV), yang semuanya berporsi seimbang. (Benar-benar salut untuk anda, Kawan)
Yang saya kagumi adalah keberaniannya; sang penulis berani ‘bersimbah darah’, meluangkan banyak sekali waktu dan energinya, karena sudah jelas, semakin banyak POV berarti semakin banyak plot dan subplot, dan otomatis semakin banyak pula halaman yang harus ditulis.
Read the rest of this entry »
22 Comments »
[tab:Hal 1]Salah satu tulisan lama saya. Tidak ada salahnya saya buka lagi. Enjoy. —
Apa jadinya ya jika Lord of The Rings tidak diceritakan melalui perspektif/point of view Frodo, melainkan melalui perspektif Gandalf misalnya, atau Strider/Aragorn?
Katakanlah misalnya cerita dimulai ketika Aragorn menemukan Frodo di Bree yang tiba-tiba bisa menghilang, sementara dari awal juga sudah diceritakan bahwa Aragorn sebenarnya adalah keturunan dari Isildur, dan sudah diceritakan pula kenapa ia menyamar jadi Strider.
[tab:Hal 2]Atau dari perspektif Gandalf yang punya background cukup panjang, sebagai reinkarnasi Olorin, salah seorang ‘malaikat kecil’ dari jaman sebelum ada manusia.
Mungkin masih bisa menarik juga, tapi nuansa ceritanya pasti akan sangat berbeda.
Yang jelas jalan ceritanya mungkin tidak akan terlalu mengejutkan, karena baik Gandalf atau Aragorn sudah punya terlalu banyak informasi di depan, berbeda dengan Frodo yang polos.
Lalu apa jadinya juga ya jika Tolkien sama sekali tidak mempedulikan perspektif?
Jadi sebagai pencerita ‘orang ketiga’ ia tidak membuat filter sama sekali, dan ia ceritakan semua tokoh-tokohnya secara jelas dan telanjang, mulai dari semua tindakan mereka, perkataan mereka, sampai pikiran mereka.
Jadi ia biarkan saja pembaca mengetahui semua jalan pikiran tokoh-tokohnya, mulai dari Frodo, Gandalf, Aragorn, Boromir, Elrond, Galadriel, semuanya.
Kalau memang Tolkien maunya begitu, kita sebagai pembaca mau protes apa?
Dia kan ‘Tuhan’ di Middleearth. Tahu segalanya. Kita sebagai pembaca ya terima aja apa yang diceritakan. Kita cukup menjadi pembaca aja deh! Tidak usah repot-repot merasakan apa yang dirasakan oleh para tokoh-tokohnya.
Kita sebagai Frodo misalnya udah tahu kok apa yang ada di dalam pikiran Aragorn atau Gandalf, jadi buat apa pusing-pusing menebak-nebak? Kita juga udah tahu semua, kan kita bisa baca langsung yang ditulis.
Tolkien ‘Tuhan’nya, kita ‘wakil Tuhan’nya. Kita bukan manusia! Hahaha!
[tab:Hal 3]Huh! Untung ceritanya tidak seperti itu.
Karena sebagai pembaca saya tidak hanya ingin menjadi ‘pembaca’ yang dibacakan dongeng begitu saja. Saya juga ingin berlagak menjadi ‘pelaku’, benar-benar merasakan apa yang sedang terjadi di dalam dongeng tersebut.
Filter! Filter! Filter! Itu yang dilakukan oleh Tolkien dan semua penulis novel hebat lainnya.
Itu yang tidak saya lakukan saat menceritakan kisah dalam novel saya.
Maklum pemula. Hehehe.
Payah nih, saya baru tahu kalau dalam Storytelling (terutama di novel-novel modern, beda dengan cerita-cerita tradisional yang benar2 hikayat) harus selalu ada dua tahap, yaitu :
1. Anggap saja cerita kita benar-benar nyata, dan tokoh-tokoh kita adalah nyata. Mereka kemudian menceritakan semua tindakan, perkataan, dan pikirannya kepada kita sebagai penulis. Pada tahap pertama ini kita punya semua informasi tentang mereka.
2. Lalu apa mesti kita ceritakan semuanya pada orang lain alias para pembaca? Ya enggak kan. Kita punya tujuan sendiri, kita pilih plot yang paling seru, kita pilih tokoh utamanya, kita pilih tokoh mana yang akan bercerita melalui perspektifnya. Saring. Saring. Saring. Lalu dengan cerdik buka jalan pikiran para pembaca, biarkan pembaca merasakan sendiri apa yang dirasakan tokohnya, biarkan pembaca berpikir dan berkata seperti mereka, biarkan pembaca berkelahi melawan musuh-musuh tokohnya. Dan selesailah! Para pembaca tidak menyadari bahwa ia sebenarnya sedang diceritakan oleh sang penulis.
Wah! Luar biasa kalau bisa begitu ya…
Selama ini karena gak tahu soal beginian, jadinya ya selalu satu tahap doang. Apa saja yang diceritakan oleh si tokoh kepada saya, ya itulah yang diceritakan kepada pembaca. Habis biasanya sayang sih, perkataan dan pikiran mereka yang bagus-bagus kok mesti disembunyikan. Kan sayang tuh.
Huh! Padahal…itu kan sama aja bigos. Biang Gosip. Hahaha!
Memang dasar pemula…
8 Comments »
[tab:Hal 1]Sekali lagi ada pembahasan mengenai prolog di forum Pulau Penulis Fiksi Fantasi. Saya kutip jawaban-jawaban saya di sana mengenai soal yang satu ini. Mau gimana lagi? ‘Pembukaan’ memang bagian paling penting dalam penulisan novel. Setiap penulis harus meluangkan waktu paling banyak di sini, untuk membuat kalimat pertama, paragraf pertama, adegan pertama, yang terbaik, yang mampu membuat pembaca mau membaca terus dan terus.
[tab:Hal 2]Adakah batasan-batasan dalam membuat prolog?
pelajaran terbaru yang gue dapet: fleksibel dan inovatif-lah. writing is an art, and there are no certain rules.
‘prolog’ itu hanya sekedar nama; tidak ada bedanya dengan ‘bab 1′. penulis menggunakan ‘prolog’ untuk meyakinkan pembaca bahwa cerita dimulai dari dua arah.
Apakah prolog harus selalu berpace cepat?
tidak harus. bukan ‘pace cepat’ yang penting dalam prolog, tapi seberapa cepat pembaca bisa tertarik untuk membaca terus dan terus.
Apakah prolog tidak boleh lebih dari dua halaman?
tidak harus. jawaban ini terkait dengan dua jawaban sebelumnya. yang penting adalah penulis bisa menyampaikan pesannya dengan jelas, dan bisa membuat pembaca penasaran. jangan membatasi diri dengan jumlah halaman.
[tab:Hal 3]Apakah isi prolog harus mudah dipahami seutuhnya?
harus mudah dipahami iya. tapi gue gak ngerti maksud ‘seutuhnya’. justru prolog harus meninggalkan pertanyaan buat pembaca, yang bikin dia penasaran.
Apakah prolog harus mewakilkan gambaran keseluruhan isi buku?
prolog harus bisa memberi petunjuk pada pembaca bahwa cerita ini adalah mengenai sesuatu (entah melalui sebuah peristiwa atau sebuah pesan), tapi bukan gambaran keseluruhan isi buku. emangnya sinopsis atau daftar isi?
Ayoo Villam, Om Pur, gw tauk kalian juga belum begitu yakin dengan definisi prolog yg sesungguhnya, gw bisa liat sendiri kayak gimana prolog dalam karya ente orang (ada yg mabok nyampur ke isi bab2 awal segala, malah ) Pertanyaan gw, apa alasan kalian bikin prolog kayak begitu? 
tentu saja setiap penulis punya alasan. gue gak terlalu mikirin definisi. yang gue pikirin adalah bagaimana bisa membuat pembaca tertarik (dengan sesuatu yang berbeda), penasaran (dengan membuat pertanyaan2 yang menggantung), dan mengerti (tentang cerita apa yang akan dia baca, dan tidak akan merasa tertipu nanti). jika tujuan tersebut belum berhasil, ya sederhana saja, format prolognya kudu diubah. dan gue juga gak masalah jika harus melakukan itu. tapi seperti yang gue bilang di awal, jangan terlalu terpaku pada yg standar2. beranilah mencoba hal yang baru. buatlah cerita kita menjadi berbeda.
14 Comments »
[tab:1-3]
- It is a truth universally acknowledged that a single man in possession of a good fortune must be in want of a wife. Pride and Prejudice – Jane Austen, 1813
- Lolita, light of my life, fire of my loins. My sin, my soul. Lo-lee-ta: the tip of the tongue taking a trip of three steps down the palate to tap, at three, on the teeth. Lo. Lee. Ta. Lolita – Vladimir Nabokov, 1955
[tab:3-9]
- It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity, it was the season of Light, it was the season of Darkness, it was the spring of hope, it was the winter of despair, we had everything before us, we had nothing before us, we were all going direct to Heaven, we were all going direct the other way–in short, the period was so far like the present period, that some of its noisiest authorities insisted on its being received, for good or for evil, in the superlative degree of comparison only. A Tale of Two Cities – Charles Dickens, 1859
- Call me Ishmael. Moby Dick – Herman Melville, 1850
- If you really want to hear about it, the first thing you’ll probably want to know is where I was born, and what my lousy childhood was like, and how my parents were occupied and all before they had me, and all that David Copperfield kind of crap, but I don’t feel like going into it, if you want to know the truth. The Catcher in the Rye – JD Salinger, 1951
- In my younger and more vulnerable years my father gave me some advice that I’ve been turning over in my mind ever since. The Great Gatsby – F Sott Fitzgerald, 1925
- Last night I dreamt I went to Manderley again. Rebecca – Daphne De Maurier, 1938
- What can you say about a twenty-five-year-old girl who died? That she was beautiful. And brilliant. That she loved Mozart and Bach. And the Beatles. And me. Love Story – Erich Segal, 1970
- As Gregor Samsa awoke one morning from uneasy dreams he found himself transformed in his bed into a gigantic insect. The Metamorphosis – Franz Kafka, 1916
[tab:10-17]
- Happy families are all alike; every unhappy family is unhappy in its own way. Anna Karenina – Leo Tolstoy, 1873-7
- The capacity for friendship is God’s way of apologising for our families. The Last of the Savages – Jay McInerney, 1996
- The past is a foreign country: they do things differently there. The Go-Between – LP Hartley, 1953
- Whether I shall turn out to be the hero of my own life, or whether that station will be held by anybody else, these pages must show. David Copperfield – Charles Dickens, 1850
- Many years later, as he faced the firing squad, Colonel Aureliano Buendía was to remember that distant afternoon when his father took him to discover ice. One Hundred Years of Solitude – Gabriel Garcia Marquez, 1967
- It was a dark and stormy night; the rain fell in torrents–except at occasional intervals, when it was checked by a violent gust of wind which swept up the streets (for it is in London that our scene lies), rattling along the housetops, and fiercely agitating the scanty flame of the lamps that struggled against the darkness. Paul Clifford – Edward George Bulwer-Lytton, 1830
- When I finally caught up with Abraham Trahearne, he was drinking beer with an alcoholic bulldog named Fireball Roberts in a ramshackle joint just outside of Sonoma, California, drinking the heart right out of a fine spring afternoon. The Last Good Kiss – James Crumley, 1978
- For my 90th birthday I wanted to give myself the gift of a night of mad love with an adolescent virgin. A Memoir of My Sad Whores – Gabriel Garcia Marques, 2004
[tab:18-25]
- Something a little strange, that’s what you notice, that she’s not a woman like all the others. Kiss of the Spider Woman – Manuel Puig, 1976
- I had a farm in Africa, at the foot of the Ngong Hills. Out of Africa – Isak Dinesen (Karin Blixen), 1937
- In our family, there was no clear line between religion and fly fishing. A River Runs Through it – Norman Maclean, 1989
- All children, except one, grow up. Peter Pan – JM Barrie, 1911
- I have just returned from a visit to my landlord – the solitary neighbour that I shall be troubled with. Wuthering Heights – Emily Bronte, 1847
- In a hole in the ground there lived a hobbit. Not a nasty, dirty, wet hole, filled with the ends of worms and an oozy smell, nor yet a dry, bare, sandy hole with nothing in it to sit down on or to eat; it was a hobbit hole, and that means comfort. The Hobbit – JRR Tolkien, 1937
- The day the men disappeared started as a typical Sunday morning in Mariquita: the roosters forgot to announce dawn, the sexton overslept, the church bell didn’t summon the faithful to attend the early service, and (as on every Sunday for the past ten years) only one person showed up for six o’clock mass: Doña Victoria viuda de Morales, the Morales widow. Tales From the Town of Widows & Chronicles From the Land of Men – James Cañón, 2007
- “Take my camel, dear,” said my aunt Dot, as she climbed down from this animal on her return from High Mass. The Towers of Trebizond – Rose MacAulay, 1956
[tab:26-35]
- It was inevitable: the scent of bitter almonds always reminded him of the fate of unrequited love. Love in the Time of Cholera – Gabriel Garcia Marques, 1985
- To the red country and part of the gray country of Oklahoma, the last rains came gently, and they did not cut the scarred earth. The Grapes of Wrath – John Steinbeck, 1939
- Ours is essentially a tragic age, so we refuse to take it tragically. Lady Chatterley’s Lover – DH Lawrence, 1928
- We were about to give up and call it a night when somebody dropped the girl off the bridge. Darker Than Amber – John D MacDonald, 1966
- My brother Ward was once a famous man. The Paperboy – Pete Dexter, 1995
- Let me say this: bein a idiot is no box of chocolates. Forrest Gump – Winston Groom, 1986
- It was the afternoon of my eighty-first birthday, and I was in bed with my catamite when Ali announced that the archbishop had come to see me. Earthly Powers – Anthony Burgess, 1980
- They came like a caravan of carnival folk up through the swales of broomstraw and across the hills in the morning sun, the truck rocking and pitching in the ruts and the musicians on chairs in the truckbed teetering and tuning their instruments, the fat man with guitar grinning and gesturing to others in a car behind and bending to give a note to the fiddler who turned a fiddlepeg and listened with a wrinkled face. Child of God – Cormac McCarthy, 1973
- The man in black fled across the desert, and the gunslinger followed. The Gunslinger – Stephen King, 1982
- The sky above the port was the color of television, tuned to a dead channel. Neuromancer -William Gibson, 1984
[tab:36-41]
- If I could tell you one thing about my life it would be this: when I was seven years old the mailman ran over my head. The Miracle Life of Edgar Mint – Brady Udall, 2001
- You are about to begin reading Italo Calvino’s new novel, If on a winter’s night a traveler. Relax. If on a winter’s night a traveller – ItaloCalvino, 1979
- I wish either my father or my mother, or indeed both of them, as they were in duty both equally bound to it, had minded what they were about when they begot me; had they duly considered how much depended upon what they were then doing;—that not only the production of a rational Being was concerned in it, but that possibly the happy formation and temperature of his body, perhaps his genius and the very cast of his mind;—and, for aught they knew to the contrary, even the fortunes of his whole house might take their turn from the humours and dispositions which were uppermost:—Had they duly weighed and considered all this, and proceeded accordingly,—I am verily persuaded I should have made a quite different figure in the world, from that, in which the reader is likely to see me. Tristram Shandy – Laurence Sterne, 1759–1767
- There is a lovely road that runs from Ixopo into the hills. These hills are grass-covered and rolling, and they are lovely beyond any singing of it. Cry the Beloved Country – Alan Paton, 1948
- You better not never tell nobody but God. The Color Purple – Alice Walker, 1982
- Cannery Row in Monterey in California is a poem, a stink, a grating noise, a quality of light, a tone, a habit, a nostalgia, a dream. Cannery Row – John Steinbeck, 1939
[tab:42-50]
- For some time I debated over whether I should start these memoirs at the beginning or at the end, that is, whether I should put my birth or my death in the first place. The Posthumous Memoirs of Bras Cubas – Joaquim Maria Machado de Assis, 1881 (Tr. Gregory Rabassa, 1997)
- I will tell you in a few words who I am: lover of the hummingbird that darts to the flower beyond the rotted sill where my feet are propped; lover of bright needlepoint and the bright stitching fingers of humorless old ladies bent to their sweet and infamous designs; lover of parasols made from the same puffy stuff as a young girl’s underdrawers; still lover of that small naval boat which somehow survived the distressing years of my life between her decks or in her pilothouse; and also lover of poor dear black Sonny, my mess boy, fellow victim and confidant, and of my wife and child. But most of all, lover of my harmless and sanguine self. Second Skin – John Hawkes, 1964
- We are each the love of someone’s life. The Confessions of Max Tivoli – Andrew Sean Greer, 2004
- “Conquer taste, and you will have conquered the self,” said Jagan to his listener, who asked, “Why conquer the self?” Jagan said, “I do not know, but all our sages advise us so.” The Vendor of Sweets – RK Narajan, 1967
- They shoot the white girl first. Paradise – Toni Morrison, 1997
- You don’t know about me, without you have read a book by the name of The Adventures of Tom Sawyer, but that ain’t no matter. The Adventures of Huckleberry Finn – Mark Twain, 1884
- Ages ago, Alex, Allen and Alva arrived at Antibes, and Alva allowing all, allowing anyone, against Alex’s admonition, against Allen’s angry assertion: another African amusement . . . anyhow, as all argued, an awesome African army assembled and arduously advanced against an African anthill, assiduously annihilating ant after ant, and afterward, Alex astonishingly accuses Albert as also accepting Africa’s antipodal ant annexation. Alphabetical Africa – Walter Abish, 1974
- My name was Salmon, like the fish; first name, Susie. I was fourteen when I was murdered on December 6, 1973. The Lovely Bones – Alice Sebold, 2002
- The two men appeared out of nowhere, a few yards apart in the narrow, moonlit lane. Harry Potter and the Deadly Hallows – JK Rowling, 2007
33 Comments »

[tab:Hal 1]Setahun yang lalu saya membuat beberapa tulisan mengenai tulis-menulis di Multiply, dan rasanya tak ada salahnya sekarang saya muat lagi di sini, buat mengingatkan betapa ternyata saya masih sering membuat kesalahan-kesalahan yang sama.
[tab:Hal 2]10 kesalahan saya yang pertama (masih banyak yang lain sih) adalah :
- Tidak mulai menulis. Ya ini masalah niat sih. Sebenarnya kita mau jadi penulis atau tidak? Padahal sudah banyak ide-ide yang muncul di kepala, yang lalu saya sia-siakan semua dan akhirnya hilang begitu saja.Tidak tanggung-tanggung, lebih dari lima tahun saya tidak mencoba menulis apa yang saya pikirkan, baru tahun inilah saya mencoba meluruskan niat saya lagi. Untungnya dulu saya sudah sempat membuat konsepnya, jadi memulainya lagi juga tidak susah. Tapi coba bayangkan, berapa banyak waktu yang sudah terbuang?
- Tidak menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Nah! ini lebih buruk lagi dari yang pertama. Saya sudah membuat cukup banyak, tapi berhenti di tengah jalan. Terus apa artinya waktu yang sudah saya habiskan jika tidak diteruskan sampai selesai. Hmm, balik lagi, niatnya belum lurus sih.
- Tidak membuat karakter dan plot yang menarik. Sekarang masuk ke isi cerita nih. Terkadang karena bernafsunya kita membuat novel, kita menulis saja apa yang kita mau. Setelah setengah jalan, baru kelihatan bahwa karakter yang saya buat ternyata tidak menarik karena terlalu lurus, demikian juga plotnya, akhir ceritanya tidak jelas dan mengambang, dan konfliknya kurang greget. Mubazir deh kalau diteruskan. Jadi lebih baik memang kita membuat konsep tokoh dan cerita yang bagus sejak awal. Minimal 70% kita harus sudah tahu akan seperti apa keseluruhan novel kita. Satu hal yang pasti adalah karakter dan plot itu hal yang tidak bisa dipisahkan. Kita tidak perlu pusing-pusing menambahkan karakter yang tidak sesuai dengan plot. Dan juga konflik sebenarnya hanyalah akhir dari sebuah proses, akan muncul dengan sendirinya seiring dengan berjalannya karakter yang kita buat.
[tab:Hal 3]
- Tidak memberikan yang terbaik sejak awal. Banyak yang bilang ‘save the best for last’. Sama, awalnya saya juga berpendapat demikian. Saya terlalu terfokus pada membuat plot akhir cerita yang bagus, tidak memikirkan konflik atau adegan kecil yang menarik untuk diceritakan di awal cerita. Jadinya pembaca keburu bosan di awal, dan malas untuk terus membaca. Jadi yang lebih baik adalah ‘give the best since the beginning’. Sejak awal cerita, setiap kalimat, setiap paragraf, setiap dialog, harus dibuat sebaik-baiknya. Ada prinsip yang bagus nih : Beri api sejak awal, masukkan kayu bakar sedikit demi sedikit selama cerita berjalan, sehingga api makin membesar dan menjadi ledakan di akhir cerita.
- Tidak fokus pada hal yang menarik buat pembaca. Dalam bercerita di setiap adegannya kadang saya telalu kronologis, maksudnya bercerita secara runtut dari awal sampai akhir, tapi karena saya tidak tahu apa yang sebenarnya menarik dari adegan tersebut, akhirnya jadi kelihatan monoton. Misalnya: si A datang, si A melakukan sesuatu, terjadilah kejadiannya. Memang alurnya sudah benar sih, walaupun bisa juga dibalik supaya lebih menarik, tapi kadang kita tidak fokus pada hal yang paling menarik buat pembaca. Mana yang menarik, apakah kedatangannya, kelakuannya, atau kejadiannya? Nah yang paling menarik itulah yang harus jadi fokus kita, untuk dibuatkan detil, deskripsi atau emosi.
- Tidak membuat detil atau deskripsi. Berhubung dulu wawasan saya masih terbatas, maka detil atau deskripsi yang saya buat memang tidak menggigit. Padahal cerita bisa menjadi lebih menarik jika bisa kita tambahkan detil tentang tempat, waktu, tokoh, alat, atau latar belakang sejarah. Hanya saja, terkait juga dengan poin no.5, kadang kita terlalu berlebihan dalam membuat deskripsi tentang hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Selain itu biasanya kita juga terburu-buru memberikan banyak informasi atau deskripsi sejak awal, sedetil-detilnya. Padahal kalau memang informasi itu penting, biarkanlah muncul secara perlahan-lahan dalam cerita atau melalui dialog antar tokoh yang wajar.
[tab:Hal 4]
- Tidak membangun emosi. Pertama kali membuat novel, karakter-karakter saya yang ada sedemikian hambarnya, tidak ada emosi, tidak ada visualisasi gerak tubuh yang dinamis, tidak ada penggunaan panca indra tokoh-tokohnya. Tidak menarik deh. Sebenarnya emosi bukan hanya bisa dibangun melalui penggambaran tokohnya sih, melalui konflik juga bisa. Tapi konflik yang bagus biasanya adalah yang dapat menggambarkan konflik di dalam diri tokoh-tokohnya (inner conflict). Tapi bukan berarti outer conflict tidak bagus lho.
- Tidak menggunakan bahasa yang baik dan benar. Awalnya saya juga menulis dengan gaya bahasa gaul atau slang. Mungkin para penulis teenlit bisa tidak sependapat dengan saya. Tapi setelah saya pikir-pikir, kalau saya tidak bisa membuat karya yang bisa dinikmati oleh generasi berikutnya (genre apapun), lima tahun atau lebih dari sekarang, hanya gara-gara bahasa yang saya pakai sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan jaman, buat apa? Ini prinsip nih. Hanya bahasa Indonesia yang baik dan benarlah yang akan tahan sampai kapanpun, bukan bahasa gaul atau slang.
- Tidak mau mengoreksi. Biasa nih. Karena terlalu pede-nya berhasil membuat novel pertama, dengan semangatnya saya langsung kirim ke penerbit. Hasilnya pasti dong, ditolak. Setelah saya baca-baca lagi, ya pasti dong ditolak, soalnya banyak sekali kesalahan-kesalahan yang saya buat di naskah tersebut. Sejak itu saya tidak pernah bosan untuk meng-edit sendiri. Mungkin tips ini bisa membantu : setelah novel kita selesai, print dan simpan dulu di kulkas selama satu bulan jangan disentuh-sentuh. Setelah itu barulah kita coba buka lagi dan kita baca. Ikatan batin kita dengan novel itu sudah berkurang, dan kita akan bisa menjadi editor yang obyektif.
- Tidak mau meminta pendapat orang lain. Hampir sama dengan poin no.9. Sebagai penulis pemula, saya selalu menganggap karya pertama saya adalah masterpiece. Alhasil, saya menjadi tidak obyektif, dan sulit menerima pendapat orang lain. Kuncinya cuma satu kok, banyak membaca dan menimba ilmu, maka kita akan tahu ternyata masih banyak kekurangan yang kita miliki.
26 Comments »
|