
”Tuanku, biarkan jendral bodoh itu yang membunuh ayahmu,” bisikku pada Pangeran.
Di balairung istana kami menyaksikan Jendral menghunjamkan belatinya menembus jantung Raja.
”Sangat mudah membakar dendamnya,” lanjutku.
”Balasan yang setimpal.” Pangeran mengangguk. ”Kau memang pandai, Penasihat. Sekarang giliranku?”
”Betul. Sesuai rencana.”
Lonceng berbunyi. Seketika muncul sebarisan pasukan bertombak yang langsung mencacah habis tubuh Jendral.
Pangeran tertawa keras. ”Akulah penguasa sekarang!”
Jangan terlalu yakin.
Tawanya mendadak terhenti, dan darah hitam tersembur dari dalam mulutnya.
Ketika ia meregang nyawa, aku menyeringai. ” Ayahmu menitip pesan: ’matilah kau, bocah pengkhianat!’.”
”Lihat belakangmu, tolol!” balasnya.
Sedetik kemudian sebilah pedang menyambar leherku.
Orang kelima sialan.