Posts Tagged “cardan”

[tab:Hal 1]Sesi XXVIII (31 Jul 2008 – 10 Ags 2008)
• Tentang Pendekar Garuda karya FA Purawan
• Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh fr3d
• Tentang situs kastilfantasi.wordpress.com
• Ceritafantasi kita berakar dari mana?
• Lagi, tentang novel Cardan

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: *fr3d* on *July 31, 2008, 04:33:15 pm*
________________________________________
Villam si Raja Perang ke mana ya? Gak keliatan? Sibuk menyusun strategi untuk ekspansi wilayah? ???
TFH: Q & K akhirnya selesai dibaca juga nih…

________________________________________
Post by: rd_Villam on July 31, 2008, 05:09:31 pm
________________________________________
yow, fred, i’m here…
eh betul tuh, gue emang sedang berekspansi ke suatu wilayah tertentu. serius! hehehe…
gue yakin (mudah-mudahan) ini bisa jadi suatu yang berguna pula buat tret FFDN ini, dan semoga begitu pula buat komunitas penulis fantasi indonesia secara keseluruhan.
cuma langkah kecil sih, tapi barangkali bisa jadi awal.
tunggu saja tanggal mainnya. [bigwink]

________________________________________
Post by: clickdian on July 31, 2008, 05:15:09 pm
________________________________________
Raja Perang dan Sang Peramal? ???
Terus aq ngambil peran sebagai apa? dayang2? ;D
hehehe.. iyalah, mending ngikut ajah. biar gak pusing mikir ;D ;D ;D

________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 08:39:07 am
________________________________________
Hmm… mencurigakan…
[gossip]

________________________________________
Post by: BloodSin on August 01, 2008, 09:47:59 am
________________________________________
@om Pur

Bos, ini sekedar kritik & masukan tambahan dari ane buat PG ente, gara-gara ngeliat ‘fenomena’ orang-orang yg pada gak tamat baca PG ente cuma dengan bermodalkan alasan: “bukan tipe/selera bacaan gw” lha, “terlalu islami” lha, “settingnya terlalu ngindonesia” lha,
Bahkan sebelum beres baca bab pertama-kedua.
(Eh ini bukannya gara-gara mau bales dendam terhadap komen ente atas gaya bahasa Lemures ane yakkk, sama sekali gak ada maksud ke arah situ :P )

Kemaren sempet buka-buka PG lagi yg formatnya .LIT, ingin menyelami gaya bahasa ideal seorang FA Pur, dan emang yg kutemukan, adalah gaya bahasa yang 180 derajat berlawanan dengan Lanang/prolog Lemures: jauh dari
kesan pretensius, dan benar-benar ‘jujur sejujurnya’ ala bocah ngomong blak-blakan. :)

Well.. dulu ane sempet bilang gaya bahasa PG yang ala teenlit itu emang sama sekali bukan seleraku (karena tipe gaya bahasaku sendiri aja udah ‘sok nyastra’ dan formal abiss), tapi setelah kulihat-lihat ke depannya, ternyata si Serpent yg gaya bahasa ceritanya standar pun (cenderung non-pretensius) juga gak tamat baca. Jadi kurasa, ini bukan lagi
persoalan selera pembaca, tapi udah masuk ke masalah teknis.

Ah, menurutku cuma mengada-ada kalo ada pembaca yang menjadikan setting Islami/Indonesia sebagai alasan utama buat berhenti baca PG, karena sebetulnya, setting ‘lokal’nya itu masih dalam taraf yg wajar—belum sampai pada taraf dakwah/propaganda untuk mengajak memeluk Islam/menjatuhkan agama-agama lain seperti novel ‘religi’ pada umumnya. Lagipula toh tetap ada juga pembaca Muslim yg gak beres baca PG, kan?

Menurutku kelemahan yg paling fatal di PG justru terletak pada gaya bahasa (mencakup narasi, deskripsi, sampe dialog) yang terlalu blak-blakan, terlalu jujur, polos nian apa adanya (khususnya bab awal-awalnya yang mestinya bisa dibuat se-memikat/se-elegan mungkin). Apalagi kalo sasarannya buat dewasa muda ke atas, jatuh-jatuhnya bakalan
serasa baca novel teenlit betulan. Kalo sasarannya ABG pun, jelas salah strategi dengan menempatkan setting Jaka yang bertone serius sebagai prolog.

Kalo si fred bilang gaya bahasa ‘pretensius’ boleh diibaratkan sebagai air gula yang dikasih sirup, maka ane mau ngasih analogi gaya bahasa blak-blakan PG itu kayak sepiring nasi putih polos tanpa sedikitpun bumbu/lauk pauk (ehmm, metaforanya kurang pas nih :P ). Gak bisa juga sih dibilang ‘hambar/steril’, karena emang ada beberapa paragraf/dialog PG yg emosinya kentara dapet/atau malah cenderung ‘keasinan’, hueheheh.

Tapi sebagai pembaca, ane sebetulnya mengharapkan penulis (apalagi yg udah sekaliber ente!) bisa menyusupkan sedikit-banyak teknik-tekniknya dalam bertutur kata di dalam karyanya, metafora-metafora yang manis, gaya bahasa yang sejatinya cocok ditujukan buat dewasa muda. (gaya bahasa Forever Wicked-nya ewing pas tuh buat pembanding idealnya, karena sama-sama bersetting jakarta dan bahkan sama-sama bertema ngelawan iblis!–dengan eliminasi kata-kata vulgar/kasar kalo ente gak berkenan)

Kenapa ane bisa enjoy/’dapet’ (bahkan sampe taraf ‘menantikan!’) baca review-review, postingan-postingan ente, sementara ketika baca PG cenderung tak menikmati? Ane juga tersalut-salut waktu baca deskripsi ‘iseng’ ente buat Fulberr di tret GM lho, dan sebetulnya kagum juga dengan sekian banyak teknik penulisan yg ente share di thread-thread cerita Pulpen.

Kurasa, orang yang terbiasa baca tulisan ente di review/postingan ente di Pulpen, pasti bakalan shock ketika baca PG, karena ‘keluguan’ gaya bahasanya malah gak menggambarkan kualitas seorang FA Pur yang sebenarnya.
Yahh, pokoknya sekarang you get what my point is, semoga bisa membantu ente dalam merevisi PG deh. Yo kita sama-sama saling ngebantu. ^-^

note: oh yep, ini komen ketiga ane buat PG ente yak, kalo mau bakal
kupost nih ke milisnya berturut-turut dari komen pertama, gimana?

[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on August 01, 2008, 01:38:44 pm
________________________________________
@Rey,
Boleh-boleh, kayaknya masukan yang terakhir ini sangat bergizi, untuk gue pelajari sungguh-sungguh. Jujur aja, gue udah coba merubah beberapa adegan dalam revisi gue yg baru ini, dengan gaya bahasa yang sudah agak beda (iya lah, ada selang beberapa tahun,…). Tapi gue rasa masih akan ada kepolosan yang melekat di situ, secara gak bisa dipungkiri bahwa material dasarnya adalah karya cipta seorang anak yg baru lulus SMA ;D .
Coba gue liat lagi dah.
BTW revisian gue saat ini sudah menginjak Akhir Bagian 2 :)

Untuk gaya bahasa yg lebih ‘dewasa’ gue punya dua rencana naskah:
Jakarta Paralel / JP (ini udah lama gue ciptakan tapi masih belum lanjut), itu lebih darksih dari PG. Dan satu lagi judul sementaranya “Mata Ketiga”, ini (maunya) lebih darkish lagi daripada JP :P

Gue juga punya naskah space novel lain: Hulka. Tapi bener-bener baru bab awal doang, belum ada passion untuk nerusin walaupun ide besarnya udah ada. Kapan2 gue posting di sini, kali ya? Sekalian biar diliatin apakah
gaya bahasanya berbeda ato gak dengan PG (harusnya sih beda [annoyed], ayo bertekad!)

Silakan boss, masukannya di posting aja dimilis! BTW di milis belum pernah ada diskusi panjang, siapa tahu bakal jadi trigger, tuh. he he he.

@Fred,
Silakan boss, bisa join di FAP_novels@yahoogroups.com komentarnya ditunggu banget.
downloadable pdf ada di halaman FILES, berikut passwordnya.
Salam,
FA Purawan

________________________________________
Post by: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm
________________________________________
Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak?

________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 05:05:26 pm
________________________________________
@villam,
komen buat TFH-nya hari senin aja ya! Baru selesai ngetik good news-nya doang, bad news-nya belum, hehehe… [biggrin]

Quote from: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm

Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak?

Belum. Bagusnya sih seseorang (baca: *clickdian*) beli dan membaca buku itu, terus review-nya di-posting ke forum.
;D ;D ;D

________________________________________
Post by: Amru_Yozar on August 01, 2008, 05:07:42 pm
________________________________________
Halo-halo,
Agen Amru di sini. Muup yah baru nongol skarang, maklum lagi mata2in Otoritas.
Repiu gath na keren Dian! Tapi sori Fr3d, gw belon bisa nerusin. Kalo gw yang nerusin malah jadi norak, hehe…
Oh ya teh Dian, gw udah beli tuh Nicholas Alchemist, tp blon sempet baca. Bakal 2 seri tuh kayakna.

@ Villam
Hm… mo bikin penerbitan y? Mau dong karya gw ikut diterbitin :D

________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 05:18:41 pm
________________________________________
Quote from: Amru_Yozar on August 01, 2008, 05:07:42 pm

@ Villam
Hm… mo bikin penerbitan y?

Hah?! Beneran?! :o
[gossip]

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 02, 2008, 05:47:40 am
________________________________________
@Fred & Amru

Boleh aja gue kirim by email, tapi kalo pdf ukurannya gede, loh. Makanya gue bagi 3 files @ kira-kira 900kb.

Gue ada format LIT (Ms reader), satu novel lengkap hanya 600kb, tapi syaratnya ente kudu punya Microsoft Reader, terserah versi PC (buat baca di kompie) atau versi Pocket PC buat baca di PDA (Windows Mobile).
Kalo mo dikirim by email, gue akan kirim yg LIT.
Kalo mo download sendiri, join aja di milis. Gratis koq, dan alamat email kalian ga akan gue salah gunakan. Gue perlu milis buat menampung masukan-masukan pembaca. I’ll appreciate kalo temen-temen bisa bantu gue on that :)
Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: fr3d on August 04, 2008, 03:49:43 pm
________________________________________
Tentang TFH: Quazar & Ksatria, komennya udah di-PM langsung ke penulisnya, villam.
Berhubung karyanya belum terbit dan gw takut memberi spoiler, jadi gak di-posting ke tret ini…
(*menunduk-nunduk memohon maaf*) :-[

Intinya komen gw tentang TFH buku 1:
"Villam menunjukkan kebolehannya dalam bercerita di TFH: Q & K. Teknik story-telling-nya sangat apik dan ciamik. Namun, ternyata kelemahannya justru ada pada story-building. Kisah utama dan kisah2 pendukung di dalam novel ini rasanya terlalu hambar dan kurang menjual. Perlu ada penegasan dan "pewarnaan" untuk dapat menyempurnakan karya yang potensial ini."
...
...
Oops! :o
*cepet2 kabur sebelum leher ditebas si Raja Perang!*

________________________________________
Post by: rd_Villam on August 04, 2008, 05:52:47 pm
________________________________________
friends,
daku belon sekaya itu untuk bikin sebuah penerbitan. [biggrin]
tapi jujur, itu memang sebuah pilihan hidup yang menarik nanti. Bikin sebuah penerbitan khusus fiksi fantasi, termasuk juga majalah khusus fiksi fantasi. sapa tau juga bisa bikin penghargaan khusus fiksi fantasi
indonesia. [biggrin]
amin…
anggap aja ini doa. :)

yang gua bikin sebenarnya baru sebatas ini:

http://kastilfantasi.wordpress.com/hall-of-discussion/

silakan dilihat.
jadi, intinya, teman2 tau kan obrolan kita di forum ffdn 3 ini udah sampe skala mega?
nih gua kasih tau, kita udah ngobrol total sebanyak hampir 350 ribu kata. bayangin aja ndiri deh, ini udah seukuran tiga novel masing2 setebal 500 halaman.
nah gua udah coba pilah, mana yang relevan dengan tema penulisan fiksi fantasi, dan membuang sekitar 40% pembicaraan OOT.
mudah-mudahan ini bisa membantu kita menemukan lagi topik2 apa yang udah pernah kita bahas. Dan juga membantu memudahkan orang-orang lain di luar forum ini yang pengen baca-baca dan belajar dari ente-ente… :)
oke sementara itu dulu, ntar gua tambahin.

thank you so much, fred, atas kritikannya!
ah… plot ya…
itu kesalahan yang… memang mestinya udah gue sadari dari awal, dan dengan keras kepalanya gue pertahankan…
hmm… tampaknya pendirian gue emang kudu berubah…

________________________________________
Post by: fr3d on August 05, 2008, 08:59:06 am
________________________________________
Well, kayaknya memang cuma villam deh yang bisa bikin beres2 model beginian! Great! [thumbsup]

________________________________________
Post by: fr3d on August 06, 2008, 08:41:07 am
________________________________________
Quote from: tangochenchen on August 05, 2008, 07:32:57 pm

:D kira-kira fiksi-fiksi fantasi yang sedang kita tulis berakar dari mana?

Kalau gw secara pribadi, menulis berdasarkan suatu tujuan atau maksud.
Karya gw adalah untuk menyampaikan sesuatu.
Akar budaya hanyalah fasilitas atau media yang gw manfaatkan untuk menyampaikan pesan/maksud gw itu.
Kalau ternyata apa yang ingin gw sampaikan akan lebih sesuai atau mudah dipahami dengan menggunakan akar budaya Barat, maka gw akan menggunakan budaya Barat sebagai setting cerita.
Sebaliknya, kalau lebih cocok menggunakan akar budaya Timur, maka gw akan menggunakan setting budaya Timur.

Gw sendiri gak akan men-”diskriminasi” karya2 yang gw hasilkan dengan dikotomi macam “Barat & Timur”.
Yang paling utama adalah tentang pesan yang harus tersampaikan dengan benar, di luar itu, semua hanyalah fasilitas.
Pokoknya, yang penting sebagai penulis, just write what you like, entah itu “Barat” atau “Timur”.
Kita gak akan menghasilkan sesuatu yang bagus dengan mencoba (dan memaksa) menjadi orang lain.
;) ^-^ 8)

________________________________________
Post by: MakMak on August 06, 2008, 09:51:48 am
________________________________________
klo sy menulis karena mengikuti ego saja. ;D ;D
memang sering saya memasukkan politik saya kedalam cerita tersebut, namun tetap saja didominasi oleh ego. ketika sy ingin membuat dengan setting legenda barat, saya buat bersetting legenda barat, ingin berdasarkan legenda lokal, sy buat yang berdasarkan legenda lokal, mau bersetting jepang, sy buat yang seperti itu.
jd tidak ada keterikatan harus dari budaya mana, tetapi saya lebih cenderung ke sy maunya apa.

________________________________________
Post by: tangochenchen on August 06, 2008, 12:08:42 pm
________________________________________
ya [rolleyes] ya, memang setiap pengarang memiliki otoritas….(Pengarang adalah “tuhan” dalam karangannya)
tentu saja kita tidak bisa menyalahkan imajinasi, ide, ilham atau pun gagasan seseorang yang tertuang
dalam karyanya…
meski pun demikian kita sebagai pengarang memiliki “tanggungjawab” terhadap pembaca baik disadari atau tidak, secara langsung maupun tidak langsung, karangan tersebut pasti mempengaruhi alam pikiran pembacanya…
alangkah sayangnya apabila kita tidak bisa menggali khazanah yang berakar dalam kebudayaan kita sendiri,
menurut saya itulah yang membuat karya kita tidak sekadar sebagai “kacang yang laris dijual sesaat” tetapi
bertahan lama dan bisa menjadi sumber inspirasi di dunia, atau pun relevan sepanjang masa….bukankah seperti
tadi dikatakan pengarang memiliki maksud2 tertentu dalam mengarang ceritanya?

tentu saja saya dapat memahami kondisi semacam ini tidak muncul secara tiba-tiba. pengarang2 di Indonesia sebagian besar adalah hasil didikan kurikulum yang meminggirkan sastra dan sejarah: murid-murid SMP dan SMA kita pada umumnya tidak dilatih membaca buku sastra berbobot baik karya dalam negeri maupun dunia – baru-baru ini saja sastrawan seperti Taufik Ismail prihatin dan memberikan perhatian terhadap kelemahan pelajaran sastra kita.
bahkan Ujian Nasional bersifat sangat objektif. tidak ada ujian mengarang maupun soal-soal yang menuntut nalar dan argumentasi kita (misalnya soal-soal sejarah hanya pilihan ganda, tanpa ada soal2 esai).
di samping itu, pelajaran Sejarah kita terus menerus mendiskusikan sejarah politik terutama seputar revolusi kemerdekaan dan G30 S PKI, bahkan sampai di bangku kuliah, mahasiswa-mahasiswa sejarah lebih didorong untuk meneliti sejarah politik dan ekonomi Indonesia saja.
Kalau di Amerika, kita tidak heran kalau sejak di bangku SD pun mereka dilatih menganalisis novel pilihan,
dan belajar mengarang kreatif…He he…menyuruh murid-murid kita berimajinasi saja, yang terpikir adalah
apa yang baru saja mereka tonton dan bukan yang mereka baca…
Tetapi, di Malaysia negara tetangga kita saja, baik siswa SMA IPA, IPS maupun bahasa tetap mempelajari sastra, berlatih mengarang,dan mengerjakan soal-soal esai sejarah…
Saya terkejut ketika salah satu murid SMA dari sekolah swasta mahal mengatakan bahwa dia (mudah2an hanya dia saja) tidak tahu apa-apa tentang renaissance, reformasi Gereja, atau pun zaman pra-sejarah hanya karena menurutnya mungkin tidak dipelajari karena dia adalah murid IPA… Tentu saja saya tidak terkejut
kalau sampai kelas tiga pun nanti dia tidak bisa mengarang sebuah cerita sepanjang 180 kata, bahkan dengan sebuah panduan sekali pun.

Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 06, 2008, 12:59:16 pm
________________________________________
Quote from: tangochenchen on August 06, 2008, 12:08:42 pm

Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak
Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)

YES, bu Tango! Right on mark! (halah, remarks gue aja dalam bahasa Inggress,.. :( )
Gue sangat setuju dengan pemikiran bu Tango. Ketika kita cenderung memilih setting non-lokal, jangan salahkan pengarang. Tapi kenapa hal itu bisa terjadi. Dan apa yg dituturkan oleh bu Tango itu bener-bener sebuah fakta. Kita memang dididik dan terdidik untuk menjauh dari akar kita sendiri.
Dan khususnya Fantasy, kita memang berkiblat pada budaya non-lokal, dan itu juga tidak salah, secara yang tersedia dalam khasanah perbukuan memang ya hanya itu.

Okelah bu, silakan bermigrasi, tapi jangan lupa tetap bimbing anak-anaknya untuk mencintai budaya ibu pertiwi, ya bu,…. [thumbsup]
Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on August 06, 2008, 02:32:04 pm
________________________________________
Jadi, yang salah sebenarnya sistem dong? (pendidikan, sosial/kemasyarakatan, politik, dsbnya?) ???

Kalau mengingat masa2 SMP/SMA, gw juga merasa prihatin, kenapa dulu pelajaran sejarah (khususnya Indonesia), tidak diajarkan dengan cara yang lebih interaktif.
Akhirnya pelajaran sejarah, yang adalah salah satu media pengakaran budaya yang sangat dominan, malah terasa sebagai topik yang kurang menarik, bahkan membebani. :(
Apalagi yang sering ditanyakan ketika ujian adalah tahun A, tahun B, tahun C, dan tahun2 lainnya. Otak pun dirangsang untuk menghapal aja, bukan berimajinasi ([biggrin]).
Padahal gw sangat suka dengan pelajaran sejarah lho (tokoh sejarah indonesia favorit gw adalah Pangeran Diponegoro ^-^), dan pengetahuan2 sejarah “tambahan” memang akhirnya gw peroleh dengan mencari tau sendiri, bukan dari dalam kelas.
Jadi, gw memang setuju kalau terpinggirkannya budaya lokal sebenarnya adalah suatu proses, dan ini bukan sesuatu yang tak bisa dihindari.

Kalau tadi gw menulis bahwa penulis sebaiknya menuliskan apa yang mereka sukai, berarti yang mungkin harus diperhatikan adalah bagaimana caranya calon penulis di masa depan bisa menyukai khazanah budaya lokal sehingga
mereka tak akan berpikir dua kali untuk menggunakan budaya indonesia sebagai materi tulisan mereka.

Lalu kalau kita? Masih mungkinkah memutar arah?
Ya, memang mungkin2 aja.
Tapi kita pribadi harus memahami pula batas kemampuan kita sendiri dalammenulis.
Misalnya, betapa pun gw sangat menyukai tetralogi-nya Pram danmenghormati almarhum, gw gak sanggup menggunakan khazanah budaya lokal dalam karya tulis seperti apa yang telah beliau lakukan.
Kita bisa mencobanya memang (dan mungkin gw akan melakukannya suatu harinanti kalau ada kesempatan, ;) ), tapi kalau kita tidak cermat, bisa-bisa karya kita cuma berakhir seperti novel Phoenix, yang memang memanfaatkan
khazanah budaya lokal, tapi alih-alih membanggakan, malah merusak citra budaya itu sendiri.
Bisakah kita menjamin hal semacam itu tak akan terulang lagi tatkala kita, sebagai penulis, selalu merasa karya kita adalah yang terbaik?

Gw lebih setuju dengan pendapat om pur dulu.
Karya fantasi di Indonesia umurnya masih sebiji jagung.
Ibarat anak-anak, kita masih belajar merangkak, dan cara belajar yang paling mudah adalah dengan meniru.
Jadi, kita harus bisa memahami kenapa hampir semua penulis fantasi yang ada sekarang selalu menggunakan template karya asing (berbudaya asing) untuk karya tulisnya.
Okelah memimpikan bahwa Indonesia nantinya akan dijamuri oleh buku2 fantasi tentang negeri kita sendiri.
Namun, kita tetap harus sadar dengan kemampuan kita sendiri.
Jangankan mencipta sesuatu yang orisinil dengan budaya milik bangsa kita sendiri, yang terinspirasi karya asing saja masih banyak yang gagal kualitasnya. :(
Harapan semacam itu merupakan sebuah proses dan butuh waktu pula.
Dan gw mengatakan ini bukan semata-mata sebagai alasan untuk mengelak dari seorang penulis fantasi.
Well, gw pun berharap, mudah2an kita memang sedang berada di jalur yang benar.

Lalu tentang menghasilkan karya yang bisa menjadi sumber inspirasi dunia, rasanya tidak melulu hal itu harus terkait dengan setting atau sumber materi (budaya) yang kita ambil untuk karya kita.
Itu salah satu faktor, ya benar. Tapi ada hal lain pula yang bisa kita jual sebagai penulis, yaitu ide, dan ide bisa merupakan sesuatu yang universal (tidak terkait faktor budaya).

Begitu deh kira2… :)
Omong2, bu tango, Anda bukan mama piyo kan?
Entah kenapa, kalau tau ada seorang ibu yang menulis fantasi, pasti kebayangnya langsung ke mama piyo. ;D ;D ;D

________________________________________
Post by: blue_amaranthine on August 06, 2008, 05:20:23 pm
________________________________________
Buat Om Pur, makasih ya reviewnya, ngebangun banget. Sori baru bales (Udah berapa lama ya) soalnya sibuk bgt ngurusin penerimaan mahasiswa baru mana minggu depan OSPEK lagi (Thanks God, Akhirnya gw kterima di
FMIPA (Chemistry) ITB hehehe siap-siap bikin bom! [bomb] [bomb]
[bomb]). Thanks sudah dinobatkan sebagai The Best Fantasy in your list. [biggrin]
MOga-moga terbitan selanjutnya bisa diperbaiki. ampir 70% yang om pur rasain tentang penerbit n tetek bengek (perubahan Ms. jadi Mrs. juga g taw siapa yang ngerubah) ternyata sama n banyak bagian yang mesti gw perbaiki bwat cetakan kedua, kata penerbitnya sih bisa asal tidak prinsipil. (Masalah titik koma, nama, EYD yang bikin gw sukses SNMPTN, dll). Thank you! Thank you very much……!!! Ini hadiah terbaik bwat gw setelah tu buku terbit. Yang lain mau ikut kasih hadiah?

________________________________________
Post by: BloodSin on August 06, 2008, 09:49:22 pm
________________________________________
Quote
Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)

Wah keren, kali ini yang masuk tret dari kalangan ibu-ibu, welcome & selamat gabung ama kita-kita deh makcik tango [biggrin]

Kalo buat gw, harga mati dari sebuah novel itu ya faktor entertaining-nya (wujud ‘entertaining’ ini variatif mengikuti genre), yang syukur-syukur kalo disupport juga dengan riset dan wawasan pengarang untuk memperluas pengetahuan pembaca (secara novel berwujud ‘buku’!).
Pemilihan setting gak masalah mau darimana, asal pengarang bener-bener punya kapasitas buat menggarap setting itu.

Daripada novel fantasi dengan setting indo (laen kasusnya kalo ‘indo kuno’ macam PG om pur yg jelas penggarapan settingnya dibutuhkan usaha riset atau at least wawasan pengarang), gw jauuuh lebih appreciate kalo ada pengarang lokal yg punya kapasitas bikin novel bersetting barat/jepang/rekaan lengkap dengan kultur dan atributnya. Dan kalo gw bilang ‘berkapasitas’, itu harus mencakup semuanya, baik secara roh dan fisik setting, bukan setengah-setengah. Yang jadi masalah di kebanyakan novel lokal yg pake setting non-lokal, ya ‘setengah-setengahnya’ itu.
Biasanya settingnya barat kulturnya timur, gak konsisten.

Tentang kenapa selama ini novel lokal yg meledak itu selalu yg bersetting & berkultur lokal juga, mungkin karena emang belum ada penulis lokal yang bener-bener mumpuni buat menggarap setting non-lokal.

Quote
bisa-bisa karya kita cuma berakhir seperti novel Phoenix, yang memang memanfaatkan khazanah budaya lokal, tapi alih-alih membanggakan, malah merusak citra budaya itu sendiri.

Phoenix mah bukannya bersetting gado-gado? ???
btw merusak citra budaya lokalnya gimana sih fred? jadi penasaran gw [biggrin]
Emangnya mengajarkan kekerasan dan pornoaksi? :P

Quote
Tapi kenapa hal itu bisa terjadi.

Selain jawaban ‘kesalahan sistem’ yang disimpulkan si Fred, gw kira masih ada dua alternatif jawaban lain:

1. Selera
Untuk jawaban ini, silakan menyalahkan budaya video games, gempuran film hollywood & anime jepang, sampe manga & novel-novel barat yg masuk gramed. Judul-judul ngetop kayak LOTR, harpot, final fantasy, jelas mempengaruhi alam bawah sadar pengarang manapun yang pernah ‘mengkonsumsi’nya, dalam meng-create setting novelnya.

2. Akses
Ah jawaban ini datang dari opini om pur dulu waktu gw ngeluh betapa susahnya riset bikin novel sci fi. Well gw pribadi kenapa lebih prefer setting luar alih-alih lokal, karena emang gw non-pribumi, dan gw emang gak ada ‘akses’ sama sekali selain dari sinetron-sinetron silat indo, buku-buku lokal, dan perpustakaan nasional. Gw gak familiar dengan istilah-istilah, budaya dan tradisi lokal. Bahkan setiap kali gw ikut undangan orang kawin, nyaris gak ada yang pake kultur indo, all of them pake kultur barat/tionghoa semuah.

Toh terbukti sekalinya ada fantasi lokal yang pake setting lokal (baca: pinissi), ditulis sama mama piyo yang emang orang makassar aseli dan sering dapet dongeng lokal semasa kecil dari kakeknya… atau kira-kira begitulah.

Well emang gw jugak bukan keturunan bule makanya gw prefer setting barat, tapi kita semua tauk referensi kultur budaya barat jauh lebih bejibun dan gampang pengaksesannya.

Quote
Omong2, bu tango, Anda bukan mama piyo kan?
Entah kenapa, kalau tau ada seorang ibu yang menulis fantasi, pasti kebayangnya langsung ke mama piyo.

Tumben lu pinter fred [thumbsup]
Iya juga yah, tagnya ini: penulis fantasi, ‘seorang ibu’, dan dateng kesini bawa-bawa topik “setting lokal takluk di bawah pengaruh barat” secara Pinissi-nya itu bersetting lokal [biggrin]

[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: cheppy70 on August 07, 2008, 07:53:38 am
________________________________________
Selamat pagi, semuanya :)
Udah mulai baca Cardan, nih,….
Baru sampai halaman 7, dan alamak. Ini gaya penulisan paling ancur yang pernah gue baca!
Tunggu kelar, ye. Next for review.
Buat review, saat ini review Zauri lagi disusun.
Salam,
FA Purawan

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 07, 2008, 08:56:47 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on August 07, 2008, 08:33:30 am

Yap, buat gw sih Cardan kena penyakit bahasa no. 3, gaya bahasa absurd, berputar-putar, gak jelas banged >_<. Dimana indikasi dari gaya bahasa ini adalah, ketika pembaca membalik halaman, ia akan dengan serta merta
tersadar dari lamunannya, lantas berkata-kata tidak mengerti sambil menggaruk kepala, “Eh, udah balik halaman ya? Gw dari tadi baca apaan sih?”

Huahuahuahua (ini niru gaya ketawa siapa?) ;D ;D
Bener banged, tuh. Gue sempat ngebolak-balik halaman, karena kayaknya kalimat lanjutan dari halaman sebelumnya koq ga nyambung banged gitu,… :P
Memang bakalan lama neh, kayaknya, untuk menyelesaikan buku ini :-\

________________________________________
Post by: ewingerwin on August 07, 2008, 09:18:15 am
________________________________________
Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu.

________________________________________
Post by: BloodSin on August 07, 2008, 09:22:51 am
________________________________________
Quote
Memang bakalan lama neh, kayaknya, untuk menyelesaikan buku ini

Semangaaaad bos! Ane aja bisa ngabisin, cuma sebulan-duabulanan doank.
[biggrin]
Nih buku cara kerjanya sama kek Ledgard kok, masuk ke setengah buku, entah kita yg udah adaptive ama gaya bahasanya atau emang gaya bahasanya jadi membaik, bakalan jadi cepet melaju bacanya, serius :D
Endingnya? Ente pasti mencak-mencak laksana kuda ngamuk ;D

@Ewing,
Cardan emang fantasi lokal yg paling kueren kovernya, bukan ‘rada’ lagi dah kalo buat ukuran fantasi lokal mah :)

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 08, 2008, 10:02:29 am
________________________________________
Quote from: ewingerwin on August 07, 2008, 09:18:15 am

Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu.

@Ewing, ini kutipannya,… Sesuai kata Bloodsin, kalo cuma dikutip sepenggal mungkin nggak akan terlalu kelihatan ‘belangnya’. Harus dikutip agak panjang. Maka gue hadirkan aja prolognya sekalian di sini.

Cardan, hal. 1 – 2:

Langit malam ini sangat indah,…… dst

Di daratan ini terdapat sebuah kerajaan bernama Tolan,….

Namun, dibalik semua kelebihannya, Tolan sedang mengalami peperangan,…..

Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam
hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu. Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.

Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh
di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.

Ia kembali melihat kawannya terluka. Bagaimana Cardan sepertinya bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu, meskipun pangkatnya cukup tinggi ia masih
saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.

Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
—————————————————

Mendingan baca dulu dua-tiga kali, biar meresep. Baru abis itu baca ulasan gue di bawah ini.

Perhatikan, di atas itu lebih kurang adalah bagian prolognya, per paragraf. yg gue kasih tanda titik-titik, itu maksudnya masih ada terusan yg melengkapi paragraf tersebut sampai usai 1 paragraf. Isinya ga terlalu penting, yg penting pembukaannya.

Setelah 3 paragraf awal, gue kutipin lengkap untuk memberi gambaran mengenai kehancuran gaya penulisan yang gue maksud.

OK, sekarang kita akan mulai review kecil ini,… (nanti juga bakal gue masukin ke fikfanindo, kali).

Kalau rekan-rekan menganalisis tiga paragraf awal, tentu rekan-rekan bisa memperkirakan alur dari prolog, yaitu (1) suasana malam sebagai pembuka cerita (dan actually tuh paragraf ngomongin 3 bintang penting)
yg menghiasi langit malam. (2) Sebuah negeri bernama Tolan, (3) Situasi politik Tolan,…

Tapi paragraf 4-nya, dengan begitu gak nyambungnya, langsung masuk dalam adegan perang. Halah! Dan cobalah perhatikan isi dari paragraf ke-empat tersebut:

/Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta.
/
ini aja udah kalimat yang subyek-predikat-obyek nya ngaco, kayaknya kurang tanda baca ataupun kata sambung.

/Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka.
/
kalimat selanjutnya ini gak nyambung dengan Subyek “Jendral”, sebab Subyek tiba-tiba berubah menjadi merefer ke “pasukan yang begitu membabi buta”. Terus tau-tau berubah lagi ke subyek yang lain:

/Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu.
/
yang dilanjutkan dengan kalimat ini:

/Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.
/
Yang kalau dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, mengesankan bahwa pedang sang jendral sudah mencabut banyak nyawa nggak cuma musuh melainkan juga dari pihaknya sendiri!

So, the whole paragraf is a mess!!

Terus paragraf berikutnya bikin ketawa lagi:

/Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya.
/
(Kena busur aja luka? cemen banget,….. iye-iye, gue tahu, maksudnya kaki kirinya ketancep panah. BTW, Fatal ya? Panah beracyun,.. kalee?)

/Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat
yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.
/
Ini juga series of incoherent actions. Maksudnya sih bisa kutangkep, tapi masih mendingan juga sastranya Sinchan yg “BABI PERGI,… BABI PULANG” itu, hehehe. Terus membantai sepuluh PASUKAN??? Maksudnya sepuluh PRAJURIT, Kallii,…?

Selanjutnya penggambaran aksi dalam kalimat dan paragraf lanjutannya benar-benar menggambarkan seorang jendral yang lagi bingung dan depresi banget, bukan lagi perang (ini jendral atau prajurit rank & file, sich?
Koq sibuk amat di garis depan. Yang ngatur strategi di war room, terus siapa? Sekretarisnya, kali?)

So, need I say more mengenai keancuran gaya penulisan ini? He he he,.. gue terusin baca dulu aja, kali yee,…. siapa tahu di akhir buku ada perbaikan (cross fingers,…)

Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: ewingerwin on August 08, 2008, 12:15:08 pm
________________________________________
@Om Pur: Makasih banyak, bos :) . Sekarang dah keliatan ‘belangnya’ kayak gimana ;D.

Oke, harus gw akui. Kalimat per kalimatnya memang nggak terlalu bermasalah kalo dibaca sendiri-sendiri, tapi memang alur dan komposisi paragrafnya terasa berantakan banget dan pemilihan kata/diksinya seharusnya bisa lebih baik daripada itu. Di beberapa bagian ada yang ambigu/nggak jelas abis, dll, dll.

Yep, secara keseluruhan, gw hanya bisa mengamini Om Pur aja deh, yang gw baca ini emang berantakan abis. Beli nggak ya? Hmm… dana terbatas…

________________________________________
Post by: cheppy70 on *August 09, 2008, 10:30:28 pm
________________________________________

Ning-nong!!!
@all,
Zauri sudah hadir di fikfanindo :)
Salam

________________________________________
Post by: bjvadis on August 10, 2008, 10:38:19 am
________________________________________
Oh, gpp, beli aja tuh Cardan. Gue sih udah baca abis, dan ceritanya cukup seru walaupun makhluk2 ciptaannya ada yg 100% baru dan bingung ngingetin ciri2nya. Taktik perangnya juga mantap, apalagi penokohan Raja Links yg adalah varian baru, inspiratif [thumbsup]. Hanya soal penamaan saja yang kelihatannya campur aduk dan nggak konsisten – but, what’s in the name? -
It’s worth your money. :D

Tapi waktu lihat cover Cardan pertama kali itu g sempet deg-degan karena desainnya persis dengan desain cover manuskrip yang gue kirim ke GagasMedia (lambang burung elang mirip garuda), konsep definisi Cardan mirip dengan Paladin dari karya gue, trus ada unsur: Musuh Besar yang dianggap sudah mati tapi ternyata masih hidup. Tapi setelah dilihat2 dalamnya, ternyata 100% beda – dan g setidaknya agak bernapas lega.
[hammer]

________________________________________
Post by: tangochenchen on August 10, 2008, 01:21:20 pm
________________________________________
Mungkin kalau diedit dr segi bahasa begini ya…(ini pengalaman jadi asisten pribadi juri lomba karya fiksi…tahu sendiri kalo juri itu hanya manusia biasa yg punya waktu cuma 24 jam sehari) tapi novel ini kan sudah terbit ya

Seorang jendral Tolan (seorang Jendral dalam Perang Tolan?) sudah banyak memenangkan perang. Namun, ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya, bagi pasukan (musuh Tolan?) membunuh
seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup mereka. Membunuh seorang/para Tolan (he he kedengaran seperti handai tolan) sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. Pedang sang jendral Tolan sudah berlumuran darah. Entah sudah berapa banyak nyawa yang ia cabut dengan pedang itu. (Saat ini, lalu, kemarin? Kapan perangnya?) banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.

Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk (nya) lalu membaringkan tubuh kawannya (itu) di atas tanah. Dia berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar
sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal Tolan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.

Ia kembali melihat kawannya (yang) terluka. Bagaimana (seorang) Cardan bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu. Meskipun pangkatnya cukup tinggi,
ia masih saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya, ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.

Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

He he…sepertinya om Pur benar, dari segi bahasa saya sebagai pembaca langsung bingung di halaman pertama…kalau saya ditunjuk jadi asisten lagi, sepertinya bos juri saya itu akan mengizinkan saya untuk tidak meneruskan membacanya.

apakah ini pengaruh bahasa karya2 terjemahan fiksi fantasi ? (terus terang saya lebih menikmati harry potter dll dalam
bahasa aslinya)

________________________________________
Post by: BloodSin on August 10, 2008, 07:31:36 pm
________________________________________
Susah nian merevisi adegan-adegan penting dalam naskah itu, terutama prolog! Gw udah menggarap prolog lemures selama 4 mingguan, tapi gak jadi-jadi euy :’(

Padahal gw udah keburu bikin janji ama orang VGI buat posting lemures gw (huahua penasaran ama POV & komen para penulis RPN untuk naskah lemures gw yg originnya dari RPN :D )
Gawat nih.. :-\

@om pur
Udah baca repiu zauri-nya di: fikfanindo.blogspot.com
(kasih link atuh bos, biar yg anak baru jadi pada bisa baca ^-^)

Well, kali ini kita bisa sepakat zauri emang salah satu novel fantasi indo yg bergaya bahasa ciamik (yang jauh dari kesan membosankan—dan emang pengarangnya bener-bener punya skill gaya bahasa selayaknya ‘penulis’ novel), yang berujung novel ini mudah dikonsumsi oleh berbagai kalangan pembaca [biggrin]

Mengenai font Kover yg ‘gak jelas’, itu sama sekali gak masalah buat gw, malah zauri gw posisikan sebagai fantasi lokal yg kovernya terkeren setelah Cardan, desainernya (bene) jauh lebih berselera daripada windutampan (desainer kover ledgard, hozzo, narend). [biggrin]
(tapi kok kayaknya lakuan ledgard yak? padahal jauh lebih muahal ???)

Kalo kritik utama sih, justru gw gak puas ama penyelesaian konflik (ttg sang amigdalus yang bisa dikalahin dios begitu aja tanpa greget) & endingnya yg terlalu happy (dan gombal :P ), quite cliche.

next review berarti cardan donk? wuah bakal rame nih, setelah sekian lama gak ada yang panas-panas :D

@ewing,
yap, beli aja bos, bagus tuh buat dipelajari anomali gaya bahasanya, gaya bahasa tak kasat mata ;D

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi VIII (3 Apr 2008 – 5 Apr 2008)

  • Menulis fantasi berbahasa Inggris
  • Resensi novel-novel fantasi lokal oleh BloodSin
  • Review Cardan oleh BloodSin
  • Review draft Lemuria karya BloodSin oleh rd_Villam

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: Lich on April 03, 2008, 01:20:55 am
________________________________________
wah tambah rame aja nich thread. salut. ;D
lam kenal, Lich
sedih banget sinopsis karya penulisanku baru ditolak penerbit fantasy. katanya bhs inggrisnya masih harus diperbaiki. beda sich inggris sastra dan inggris biasa. Payah nich, masih harus banyak belajar. >.<.
^^ emang referensi fantasy yang mengarah ke sastra apa maksudnya ke tipe high fantasy ? ( wee, itu sebenarnya istilah buat ilustrator/komikus yang bikin cover novel fantasy ). kalo refensi tipe novel kayal gitu, harusnya gue baca karangan siapa yach ? mungkin ntar gue bisa curi2 baca gratis di kinokuniya atau toko buku impor.
atau gue hrs ambil kuliah sastra inggris kalau mau belajar bhs inggris sastra ? wakakakakakak.
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 03, 2008, 09:02:34 am
________________________________________
Hi, Lich,…
Sorry sebelumnya kalau udah pernah sharing hal ini somewhere di belakang ;) (ini thread udah skala mega, nyisirin satu-satu capek juga, hehehe). Tapi aku jadi curious, kamu bikin novel berbahasa Inggris? Hebat bener euy,.. :) tapi mo ditujukan ke pembaca mana? Lokal atau luar?
Kalau lokal,…. mungkin penerbit ngerasa ngga bakalan laku?
Kalau luar,…. gue ga tahu sih. Tapi mungkin memang bikin novel berbahasa inggris jauh lebih sulit dari sekedar menulis dalam bahasa inggris, kali ya,..?
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 03, 2008, 01:38:45 pm
________________________________________
lich,
wuih… kamu bikin cerita basa inggris?
keren…
trus emang nulisnya kudu pake inggris sastra?
kayaknya gak mesti deh…
ada yang bilang inggris biasa justru lebih mudah diterima mayoritas pembaca.
tentang reference high fantasy, ini link wikinya:

http://en.wikipedia.org/wiki/High_fantasy

dan ini daftar buku2 ngetopnya, kalo mau cari di kinokuniya.
kalo mau yang model ada karakter2 berbagai macam ras, bisa baca LOTR, David Edding’s Belgariad, atau Robert Jordan’s Wheel of Time (yang salah satu bukunya pernah kubaca). buku2 pengarang lain belon pernah baca, walau pengen… huhu…
kalo mau yang model intrik2 dan perang antar kerajaan, bisa baca George RR Martin’s A Song of Ice and Fire.
atau baca bukunya Lois McMaster Bujold dan Ursula Le Guin yang langganan dapet Hugo Award.

* Jim Butcher’s “The Dresden Files
* Lloyd Alexander’s The Chronicles of Prydain
* Poul Anderson’s Three Hearts and Three Lions
* R. Scott Bakker’s Prince of Nothing series
* Peter S. Beagle’s The Last Unicorn
* Martin Bertram’s Vanity of Vanities
* Gillian Bradshaw’s Arthurian trilogy (Hawk of May, Kingdom of Summer, In Winter’s Shadow)
* Marie Brennan’s Doppelganger
* Terry Brooks’s Shannara series
* Lois McMaster Bujold’s Chalion series
* C. J. Cherryh’s Ealdwood and Fortress series
* Susan Cooper’s The Dark Is Rising
* Stephen R. Donaldson’s The Chronicles of Thomas Covenant series
* Sara Douglass’s The Wayfarer Redemption series
* Lord Dunsany’s The King of Elfland’s Daughter
* David Eddings’ Belgariad/Malloreon and Elenium/Tamuli/The Dreamers
* Eric Rücker Eddison’s The Worm Ouroboros and Zimiamvian Trilogy
* Kate Elliott’s The Crown of Stars series
* Michael Ende’s The Neverending Story
* Steven Erikson’s Malazan Book of the Fallen saga
* David Farland’s The Runelords saga
* Raymond E. Feist’s Riftwar Saga and other Midkemian sagas
* Lynn Flewelling’s Nightrunner series
* David Gemmell’s Legend saga
* Terry Goodkind’s Sword of Truth saga
* L. B. Graham’s The Binding of the Blade series
* Frank Grave’s The Ancestral Trail series
* Jim Grimsley’s Kirith Kirin
* Robin Hobb’s Farseer, Liveship and Tawny Man trilogies
* P. C. Hodgell’s Jame of the Kencyrath series
* Ian Irvine’s The Three Worlds Cycle series
* Robert Jordan’s The Wheel of Time saga
* Katharine Kerr’s Deverry series
* Stephen King’s The Dark Tower saga
* Mercedes Lackey’s Valdemar series
* Mercedes Lackey’s and James Mallory’s Obsidian Trilogy
* Mercedes Lackey’s and Andre Norton’s The Halfblood Chronicles
* Stephen R. Lawhead’s Song of Albion Trilogy
* Tanith Lee’s Birthgrave series
* Ursula Le Guin’s Earthsea series
* C.S. Lewis’s Chronicles of Narnia series
* George R. R. Martin’s A Song of Ice and Fire series
* Dennis L. McKiernan’s The Iron Tower trilogy
* Patricia A. McKillip’s The Riddle-Master of Hed trilogy
* Robin McKinley’s The Hero and the Crown
* Hope Mirrlees’s Lud-in-the-Mist
* L. E. Modesitt, Jr.’s The Saga of Recluce and Spellsong Cycle
* Elizabeth Moon’s The Deed of Paksenarrion series
* Michael Moorcock’s Eternal Champion series
* Leslie Ann Moore’s Griffin’s Daughter series
* William Morris’ The Well at the World’s End
* Garth Nix’ Abhorsen Trilogy
* Andre Norton’s Witch World series
* Margaret Ogden’s The Realm of the Elderlings series under the name Robin Hobb
* Mervyn Peake’s Gormenghast books
* Meredith Ann Pierce’s The Darkangel Trilogy
* Terry Pratchett’s Discworld series
* Phillip Pullman’s His Dark Materials trilogy
* Jennifer Roberson’s Chronicles of the Cheysuli and The Sword-Dancer Saga
* Fred Saberhagen’s Earth End sequence
* R. A. Salvatore’s Forgotten Realms and Demon Wars series
* Jonathan Stroud’s The Bartimaeus Trilogy
* Eldon Thompson’s The Legend of Asahiel series
* J. R. R. Tolkien’s The Lord of the Rings, The Hobbit, Silmarillion, Unfinished Tales, Children of Húrin and The History of Middle-Earth
* Jack Vance’s Lyonesse Trilogy
* David Weber’s Oath of Swords saga/War God series
* Margaret Weis’s and Tracy Hickman’s Dragonlance series
* Tad Williams’s Memory, Sorrow, and Thorn trilogy
* Gene Wolfe’s Wizard Knight series and The Book of the New Sun
* Roger Zelazny’s Amber series
* Jennifer Fallon’s The Demon Child Trilogy, The Hythrun Chronicles and Second Sons Trilogy
* Paul Edwin Zimmer’s Dark Border series: “A Gathering of Heroes and Ingulf the Mad

[tab:Hal 3]

________________________________________
Post by: hege on April 03, 2008, 02:21:19 pm
________________________________________
I am currently reading Ursula Le Guin’s Earthsea (English)… dan nyastra banget, kereeeennn (bacanya mesti ulang-ulang dan banyak unfamiliar words) selain baru aja menyelesaikan baca The Alchemist versi Gramedia (terjemahannya lumayan baik, tapi si penerjemah tampaknya penggemar berat istilah ‘sekonyong-konyong’ (ada puluhan ‘sekonyong-konyong’ yg kutemukan sepanjang cerita) dan sekonyong-konyong hege ilfil pun jadinya. Buku alchemist menginspirasi orang-orang untuk mengejar mimpi, selain itu, rasa-rasanya banyak pengetahuan filsafat udah pernah kubaca di buku lain sebelumnya.
________________________________________
Post by: Lich on April 04, 2008, 12:10:38 pm
________________________________________
Vil : aduh mati gue bacanya gimana ;D pokoknya gue embat yang plastiknya dibuka aja wakakakak dasar nggak punya modal. ;D ;D ;D
Horeeee dapet editor baru ! ;D ;D ;D wakakakak mudah2an nggak seaneh editor sebelumnya yang nolak gue wakakakakak ;D
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 04, 2008, 01:37:03 pm
________________________________________
@lich,
aduh… kamu sampe mati bacanya? heheheh…
emang tuh, modal juga yang bikin aku sangat selektif buat memilih buku… hihi…
tapi selamat ya dapet editor barunya…
emang di penerbit mana? share dikit dong tentang novelmu…
________________________________________
Post by: Lich on April 04, 2008, 02:57:56 pm
________________________________________
Vil : lagi nyoba yang penerbit kecil alternatif di Kanada, namanya rahasia dapur hehehe. baru mulai, sih. Tapi aku cuma coba di Graphic Novelnya, itu tuch yang setengah novel setengah byk gambar2nya. ;D berarti bukan pure novel tulisan. Trus karena pendatang baru, jadinya aku ndak di jatah novel yang tebel2, paling cuma kayak novel ecek2 yang tipis, murah, dan kelas teri lach. begitchu. hehehe.
________________________________________
Post by: BloodSin on April 05, 2008, 09:18:58 am
________________________________________
Oke, sekedar resensi/review singkat (yang mengikuti standar & selera baca gw) buat novel-novel fantasi lokal yg udah pernah gw baca (dan menjadi korban gw :P )
Penilaian gw berdasarkan dari segi gaya bahasa, plot, humor, orisinalitas ide, sampai penggarapan untuk hardcopy bukunya.
So…. here we go,
Ket:
*) Novel tak layak baca
**) Novel kelas pemula, alias standar
***) Lumayan, novel pada level ini sudah memiliki tata bahasa yang baik, cuma masih kurang sedikit (entah di logika yg kedodoran, ending yang maksa, atau keklisean di beberapa bagian)
****) Bagus, novel pada level ini boleh disejajarkan dengan karya-karya luar negeri.

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/ledgard.jpg)
Judul: Ledgard–Musuh dari Balik Kabut
Penulis: WD Yoga
Penerbit: C|Publishing
Rating: **
Tipe: RPN, Kolosal
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Berdasarkan riset iseng2 gw searching di dunia maya, cukup banyak pembaca dalam negeri yang menempatkan novel ini di posisi teratas untuk kategori fantasi lokal (alias the best dari novel2 sejenis), dan gw rasa gw bisa mengerti opini mereka.
Novel ini digarap cukup matang: punya plot yang lumayan, penokohan yang lumayan, setting yang cukup orisinil, aturan naming yang cukup konsisten, alur cerita yang pas. Novel ini juga punya filosopi2 karakteristik yang mengadopsi elemen-elemen bumi: air, api, tanah, udara.
Ide itu akan amat menarik, bagi beberapa orang.
Sayangnya, bagi gw yg ex-RPGer, ide itu cenderung klise. (Ada banyak game rpg yg mengadopsi ide serupa)
Gaya bahasanya cukup membosankan, kurang berhasil untuk mengikat pembaca. Humor garing. Dan lagi… Ledgard ini adalah contoh untuk novel fantasi lokal yg kena sindrom ‘bule celup’. Ambil contoh tokoh Nash dalam cerita, yang deskripsinya mengambil gambaran seorang bule, tapi cara berpikirnya + gaya omongannya (dalam dialog) selugu orang indonesia. Terus setting dunia ledgard yg terkesan kebarat-baratan (ada ras Centaur yg notabene dari yunani) terasa tidak sinkron dengan kebudayaan timur yang berlaku di setiap bangsa-bangsanya.

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/pinissi.jpg)
Judul: Pinissi–Kisah orang-orang Setinggi Lutut
Penulis: Mama Piyo
Penerbit: Liliput
Rating: **
Tipe: Dongeng
Sekuel: Ya, dan belum terbit

Novel ini satu-satunya fantasi dalam negeri yang mengangkat setting dari kebudayaan dalam negeri (setting Makassar, tah?). Tentu dari sini udah ada nilai plusnya. Settingnya yang orisinil didukung pula dengan ras2 rekaan & naming (atau emang berasal dari literatur orang makassar tah?) yang unik, pas, dan gak pasaran. Ilustrator Ermambang Bendung dalam novel ini amat berhasil menyajikan ilustrasi-ilustrasi beraroma ‘etnikal’, cukup membantu pembaca dalam berimajinasi terhadap isi buku.
Sayangnya, plotnya ditulis tanpa greget, dan dengan gaya bahasa yang terkesan buat anak kecil A.K.A pas2an. Ada banyak struktur kalimat tak baku dalam novel ini, yang bakal mengganggu ‘pembaca teliti’ kaya gw. Miskin humor pula.

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/hozzoh.jpg)
Judul: Hozzo–Feres yang Hilang
Penulis: ?? (siapa yah gw lupa tuh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif))
Penerbit: Liliput
Rating: ****
Tipe: sci-fi, detektif
Sekuel: Ya, dan belum terbit sampai hari ini pun
Novel tentang petualangan kelompok detektif manusia + alien + robot di luar angkasa. Ditulis dengan gaya bahasa yang friendly dan adaptable*, pengarang novel fantasi ini menguasai teknik karakterisasi yang sungguh luar biasa baik, yang didukung pula humor2 segar, pembangunan setting yang kuat (terutama untuk ras2 alien dan kebudayaannya), dan penyajian ‘pelajaran-pelajaran (baik secara materiil–khususnya biologi–dan spiritual–konsep reinkarnasi)’ yang tidak membosankan untuk disimak.
Terasa lemah di plot, namun teratasi karena unsur ‘tidak membosankan untuk dibaca’ itu.
*mudah mengikat pembaca

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/narend.jpg)
Judul: Narend–Petualangan ke Tanah Kutukan
Penulis: Linuwih Nata permana
Penerbit: Liliput
Rating: ***
Tipe: Petualangan
Sekuel: No
Narend adalah satu satu fantasi yang memiliki setting ciamik, tata naming yang tak bercacat & plot yang cukup solid. Gaya bahasa cukup dapat mengikat pembaca, namun kurang berhasil menciptakan greget.
Ada sedikit logika kedodoran di beberapa adegan, terlebih endingnya yang super duper maksa kebetulannya. Bahasa dalam dialog yang terasa kaku juga menjadi penyebab novel ini hanya masuk kategori lumayan.

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/zauri.jpg)
Judul: Zauri–Legenda Sang Amigdalus
Penulis: yang ini juga gw lupa namanya siapa(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
Penerbit: Grasindo
Rating: ***
Tipe: RPN, Romance
Sekuel: Antara ya dan tidak, tergantung mood si pengarang kali yak(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
Nilai plus yang paling keliatan dari novel ini adalah gaya bahasanya yang mudah ditangkap (karena cukup fleksibel) dan karakterisasi yang dibangun cukup baik. Setting dunia rekaan pengarang cukup orisinil–walau terasa dipengaruhi RPG2 jepang. Penyajian plot dan humor dieksekusi dengan cukup baik. Gw rasa cukup wajar novel ini menerima penghargaan untuk kategori novel remaja terbaik di peringkat kedua ajang IKAPI Award tahun 2007. (banyak amat yak gw ngomong cukup(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif))
Sayangnya, beberapa deskripsi yang dipaparkan penulis masih terkesan buram, monster-monster dalam buku ini mengingatkan monster-monster rekaan Squaresoft dalam seri Final Fantasy (Bubaglop itu contohnya!), dan gaya romance yang terlalu picis–yg mungkin karena imbas dari buku teenlit yang sebelumnya diterbitkan si pengarang. :P

(sori ga nemu gambar kovernya T_T)
Judul: Janos–Legend of Arctic Empire
Penulis: Hadiyanto (lulusan Teknik Informatika Bina Nusantara!(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif))
Penerbit: Agromedia Pustaka
Rating: *
Tipe: Diari, Romance, Sci-Fi
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Lebih kelihatan sebagai diari seseorang bernama Janos daripada sebuah novel fantasi. Satu-satunya novel fantasi lokal (yang pernah gw baca) yang bersudut pandang ‘aku’–ini cukup unik dan berani.
Karena berbentuk diari, novel ini nyaris tak punya konflik, yang akhirnya berujung novel ini terasa tak memiliki plot. Gaya bahasa yang pas2an, humor yang superduper jayus, setting dunia sci-fi yang kurang kreatif dan imajinatif, naming yang bikin ilpil, romance yang terlampau picis, dan ketiadaan dari konflik penting dalam plotnya, menyebabkan novel bikinan senior gw ini masuk kategori tak layak baca.

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/nightfall.jpg)
Judul: Nightfall–The Element Location
Penulis: Rizky YS (lulusan Teknik Informatika Trisakti!)
Penerbit: Gagasmedia
Rating: **
Tipe: RPN
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Salah satu fantasi bertipe RPN dengan sindrom bule celup. Yang paling positif dari novel ini adalah jalinan plotnya yang cukup kompleks, dan setting dunia Medarda yang dibangun cukup orisinil (terutama ide kiamat Nightfall-nya).
yang negatif dari Nightfall, adalah gaya bahasanya yang kurang dapat mengikat, ketiadaan humor dalam novel (padahal materinya cukup enteng), karakterisasi yang buram, dan alur yang terlalu buru-buru (yg menyebabkan pendeskripsian menjadi kedodoran di beberapa bagian).

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/sangpenandai.jpg)
Judul: Sang Penandai
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Serambi
Rating: ****
Tipe: Spiritual, Petualangan, Kolosal
Sekuel: No
Sang Penandai adalah satu-satunya novel fantasi tanpa humor yang bener-bener layak dibaca oleh semua umat. Novel ini menyajikan filosopi yang universal–sebuah renungan mendalam dari kekuatan cinta, gaya bahasa yang aduhai, jalinan plot yang solid, dan petualangan yang seru.
Yang unik (dan keren bagi gw), novel ini juga terang-terangan berani mencela kisah roman yang paling terkenal sedunia: Romeo dan Juliet, namun disertai dengan renungan mendalam sang pengarang sebagai landasan argumentasi.
Sang Penandai merupakan satu-satunya fantasi yang kelihatan tak bercacat di mata gw, walau tokoh ‘sang Penandai’ dalam buku ini terlampau mirip dengan tokoh Melkizedek dalam Sang Alkemis-nya Paulo Coelho.
Untuk endingnya, mungkin sebagian pembaca akan merasa kecewa. Tapi ending Sang Penandai jelas tidak picis dan klise; ending seperti itu jauh lebih indah dibanding happy ending beberapa fantasi yang digambarkan terlampau kebetulan/gombal/picis. :P

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/numeric.jpg)
Judul: Numeric Uno–Legenda Sang Labrarus
Penulis: DewiS
Penerbit: Puspaswara
Rating: **
Tipe: ?
Sekuel: No
Membaca novel ini, gw jadi inget Hozzo, karena menyajikan setting dan ide plot yang hampir sama. Plotnya cukup solid, dan itu yang paling menolong dalam novel ini.
Sayangnya, novel ini disajikan dengan gaya bahasa dialog yang kaku, penokohan yang kurang kuat, pendeskripsian yang buram, setting luar angkasa yang cetek, ending dan penyelesaian konflik yang payah (ada tokoh yang terkesan dipaksakan mati padahal sebetulnya gak perlu mati), dan materi romance yang picis.

(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/goran.jpg)
Judul: Goran–Sembilan Bintang Biru
Penulis: Imelda A. Sanjaya
Penerbit: Serambi
Rating: ****
Tipe: Petualangan, Sci-Fi
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Goran adalah novel fantasi komplit, dan itulah yang menjadikannya sebagai the best indonesian fantasy book dari semua yang pernah gw baca (walau dari segi tata bahasa, novel ini punya sedikit cacat–gak kayak Sang Penadai yang terkesan rapih jalih).
Terkesan ‘paket lengkap’, karena novel ini menyajikan 3 setting dunia (yang terbagi dalam: dunia jaman baheula, present, dan futuristik), selera humor yang gila2an (yang seharusnya bisa diterima oleh segala lapisan pembaca), gaya bahasa yang mengalir dan mengikat, plot yang solid, karakterisasi yang dapet banged (walau gak sedahsyat Hozzo), imajinasi & riset yang lumayan mendalam untuk pembangunan ketiga settingnya (kehidupan remaja jepang hari ini, dunia persilatan–dan pejodohan :D –Cina Kuno, dan planet Vida yang futuristik).
Ada beberapa struktur kalimat yang berkesan ‘semau gue’ si pengarang, but overall, that’s no such a big deal for me.
Goran is the best dah.
________________________________________
Post by: BloodSin on April 05, 2008, 09:51:02 am
________________________________________
The last one(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/cardan.jpg)
Judul: Cardan–Inside & Outside The Hinkal Core
Penulis: Chandra Adhitya Winarno
Penerbit: Gagasmedia
Rate: *
Tipe: RPN, Kolosal
Sekuel: ?

Oke.. yang satu ini, berhubung novel fantasi terakhir yang gw baca, pembahasannya bakal gw bikin lumayan panjang :D
Salah satu dari beberapa novel fantasi yang males buat gw baca sampe abis! (selain karena hurufnya yang kecil2 dan bukunya yang lumayan tebel pulak @_@)
Secara gw baru baca setengah isi buku, gw gak bakal ngomongin plotnya.
Yang mau gw review panjang lebar adalah 3 hal yang menyebabkan gw lebih memilih bengong sewaktu mencoba melumat Cardan sampai tamat:

-Naming
Sebetulnya dari paragraf pertama buku, sudah kelihatan bagaimana kacaunya si pengarang memilih nama. Beliau menyebut tiga nama bintang dengan aroma yang berbeda satu sama lainnya: Joan, Sanggu, Colt. Ini sedikit gamang, dan terasa seenak jidat.
Selama membaca Cardan, gw menemukan dengan kreatifnya si pengarang mencomot nama beraroma dari berbagai belahan dunia, untuk diletakkan dalam sebuah setting. Bayangkan, dalam sebuah negara, kita menemukan nama beraroma Indonesia/Jawa (Palawa, Pradnya, Boma, Anya, Aras), Eropa (Monique, Clark, Sam, Heinze, Zavier de Voco, Drake), Israel (Saul, Sonia), Jepang (Furita, Izo, Kei, Shi), sampai nama2 ‘antah berantah’ (Divin, Links, Dupku, Garinka, Fordit)
Ini bener2 kacau, tak berseni, seenak jidat, dan mengganggu setting.
Terus ada lagi yang patut ditertawakan, ada karakter bernama lengkap Zavier de Voco, yang kalau menuruti aturan tata nama Perancis (Thanks to mademoiselle Midnite Sun) berarti: ‘Zavier dari Voco’–’Voco’nya ini merupakan nama tempat asal, biasanya. Akan lumrah dan tak bermasalah, kalau yang jadi ‘nickname’ orang itu Zavier.
Tapi si pengarang Cardan ini, sepanjang buku malah mnggunakan ‘Voco’ buat nama pendek orang itu.
Jadi buat perbandingan… misal ada seseorang yang dilahirkan dengan nama: ‘Budi dari Cikotok’ (karena dia dilahirkan di Cikotok), maka tuh orang kalau ketemu pengarang Cardan bakal dipanggil: Cikotok, bukan Budi. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
Aneh kan? Ironisnya, waktu gw liat di halaman sampul belakang.. disebutkan kalau si penulis ini mahasiswa bahasa Perancis!

-Gaya Bahasa
Kurang berhasil mengikat pembaca, dan deskripsi-deskripsi (baik untuk kejadian, tempat, ataupun tokoh) terkesan absurd bagi gw.. Somehow, gw sering menemukan diri gw malah larut ke dalam alam bengong pikiran gw daripada menyimak isi paragraf-paragraf dalam Cardan (well, hal serupa terjadi waktu gw baca Ledgard, Pinissi, & Janos). Mungkin istilahnya, Cardan gagal meracuni pikiran pembacanya untuk larut dalam cerita.
Cardan juga terlalu banyak membahas peristiwa-peristiwa sepele (yang menyebabkan RPN ini terasa bertele-tele).
Miskinnya wawasan si pengarang juga terasa, ada kalimat yang berbunyi kira-kira begini:
Di kamp latihan itu Aras melihat hewan-hewan tempur dengan berbagai wujud, yaitu Griffin, dan lain-lain.
(Udah pada tau kan kenapa gw sedih baca kalimat kayak begini?)

-greget
Yang gw dapet selama baca ampe setengah buku, Cardan kurang berhasil menciptakan puncak-puncak klimaks kecil.. ibarat sebuah kardiogram, Cardan adalah sebuah garis lurus dari detak jantung orang sekarat yang menunjukkan detak lemah setiap sekian menit.. Tak ada denyut klimaks yang kelihatan berarti, dan gw pikir inilah faktor yang paling fatal.
Adegan terpilihnya Aras sebagai cardan murni, pertarungan Aras dengan Fordit, kasus pembunuhan Max, sebetulnya cukup berpotensi untuk menjadi klimaks-klimaks kecil, tapi sayangnya dideskripsikan kurang menggigit (dengan gaya bahasa yang buram pulak), dan konsekuensinya adalah novel ini terasa hambar.

Well, Cardan adalah sebuah ironi bagi gw; novel ini adalah novel yang memiliki kover paling keren dari semua buku fantasi lokal yang gw punya (menyajikan gambar dari siluet api burung phoenix dengan posisi garuda pancasila, dipadu latar belakang hitam pekat–keren, artistik, dan gak murahan), tapi masuk ke jajaran novel fantasi terburuk menurut standar dan selera baca gw..

________________________________________
Post by: BloodSin on April 05, 2008, 10:01:28 am
________________________________________
well, selain semua novel di atas, masih ada novel2 fantasi lain yang ditulis anak bangsa (yang belom gw baca):
-Phoenix dan Mahkota di Negeri Azura
-The Corruption (fantasi berbahasa inggris)
-Catatan Harian Alien (fantasi liliput yang paling laku, tah?)
-Misteri Pedang Skinheald (satu2nya novel fantasi bersekuel yang udah terbit sekuelnya–salut!)
-Reinhart
-Ratu Calissta
-Cincin Odeoleo
-Magical Seira (yang ini fantasi mixed teenlit(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif))
-apalagi yak?
Kalau mau dirata2 untuk review2 gw di atas, gw kira genre Fiksi Fantasi Dalam Negeri ini cukup punya prospek di masa depan, tapi kita tetap masih kekurangan penulis-penulis fantasi spektakuler nih..

[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 05, 2008, 03:04:32 pm
________________________________________
My good friend Rey,
salut atas review-reviewmu!
Setelah sekian lama tertunda akibat banyak hal, akhirnya aku bisa membaca kisah Lemuria-mu. Maaf beribu maaf karena lama banget ya. Hehe…

Jadi begini, aku udah baca kemaren satu kali, dan kupikir harus kubaca lagi nanti sekali lagi biar aku bisa ngasih reviewnya secara lebih lengkap. Jadi beri aku waktu sekitar satu dua minggu lagi.
Nah untuk sementara, ini adalah komentar awal aja.

Secara keseluruhan, aku suka ceritamu. Dengan model cerita fantasi petualangan dimana ada satu kelompok yang menempuh perjalanan buat menyelesaikan suatu misi, model kayak Fellowship of The Ring, sebenarnya jalan cerita model begitu udah terlalu biasa, namun ada kelebihanmu seperti yang dari dulu udah sering kubilang, yaitu gaya bahasamu.

Aku jamin, gaya bahasa sastramu ini pasti akan menarik pembaca lainnya—dan mungkin juga editor—sejak awal. Memang kerasa bahwa gaya bahasa ini tidak terlalu kaku sastra dari awal sampai akhir. Kalau dibilang agak kurang konsisten, mungkin iya—dan aku gak tau apakah kekonsistenan ini penting atau tidak buat para editor—tapi kupikir kamu udah cukup berhasil menemukan formula yang pas kapan harus bersastra ria dan kapan harus bergaya bahasa biasa.

Kalau menurutku, gaya bahasa sastra akan terdengar indah dan menghanyutkan, namun kurang cocok jika kita hendak membuat pembaca tegang, dimana kalimat-kalimat yang lebih lugas lebih cocok. Jadi itulah yang terasa saat aku membaca ceritamu. Aku terpesona dengan alunan kalimat dalam ceritanya, tapi keinginan hatiku yang ingin dikejut-kejutkan seperti saat membaca cerita-cerita bernuansa thriller tidak terpenuhi.

Intinya akibat gaya bercerita ini aku memang merasa sedang membaca cerita yang indah, tapi tidak membuatku merasa masuk ke dalam ‘menjadi tokoh-tokohnya’. Yeah, dalam hal ini sepertinya kita bicara lagi soal 3rd person Limited POV. Dan… walaupun ini mungkin tidak terlalu bermasalah buatmu, tapi bisa jadi bahan pemikiranmu nanti.

Kelebihan lain, aku suka dialog-dialognya. Ada yang mendayu-dayu, ada yang kocak. Imajinasimu tentang makhluk-makhluk aneh yang muncul di sini juga mengasyikkan—walau di beberapa tempat informasi-informasinya kebanyakan hingga membuatku terlempar terlalu jauh dari plot yang ingin dibangun di adegan tersebut. Sebaliknya, walaupun deskripsi-deskripsi panjangmu menarik di beberapa tempat, tapi ada adegan yang seharusnya membutuhkan deskripsi supaya pembaca bisa lebih merasakan suasananya, malah kurang deskripsinya.

Lalu satu lagi komentar awalku, supaya nanti tidak terlupa, kurasa banyak adegan-adegan pendek yang menggantung dan tanggung (nanti aku jabarin secara lebih detil), yang membuatku berpikir sebenarnya adegan2 itu bisa dieksplor lebih jauh, atau justru sebaiknya dihilangkan sama sekali.

Contoh adegan pendek yang tanggung tersebut adalah adegan pengenalan tokoh Esther (aku suka karakter ini; aku selalu suka karakter cewek jagoan) di awal, yang … duh pendek banget, dan butuh berpuluh-puluh halaman lagi untuk sampai ke lanjutan adegan dimana dia ada lagi. Membuatku berpikir buat apa Esther dimunculkan seawal itu? Buat perkenalan? Tapi keburu lupa karena adegan dia berikutnya jauh banget, aku harus mundur lagi bacanya, untuk tahu apa tadi yang dia lakukan di awal.

Kemudian soal plot dan karakter. Yeah… seperti biasanya model cerita fantasi petualangan perjalanan, plotnya terasa lurus tunggal dan lancar-lancar saja. Konfliknya hanya berupa outer conflict, dimana rombongan harus berhadapan dengan rintangan-rintangan yang muncul dan terselesaikan selama perjalanan. Inner conflict yang terbangun hanyalah kekhawatiran Larke saat dia kehilangan Lyn, yang sayangnya tidak diimbangi dengan cerita yang menggambarkan penderitaan Lyn selama dia diculik, sehingga pembaca tidak bisa ikut banyak bersimpati.

Juga awalnya aku berharap akan ada inner conflict dalam diri tokoh Kain maupun Seth, berhubung seharusnya mereka adalah tokoh terpenting dalam cerita ini, KARENA kamu memunculkan mereka berdua dalam prolog cerita. Tapi ini pun tak dibangun. Kemudian tokoh Guilarde mestinya juga bisa lebih dieksplor, berhubung kamu sudah terlanjur memperkenalkan dia di awal sebagai tokoh yang punya misi tersembunyi.

Kemudian mungkin bisa lebih menarik pula jika di sela-sela cerita perjalanan rombongan, diselingi dengan adegan-adegan lain di tempat lain supaya cerita tidak terlalu terasa lurus dan agak membosankan. Kamu sudah memunculkan adegan pertemuan para gipsi, itu bagus, lalu ada adegan pengejaran para Luminar, itu juga bagus. Tapi aku berharap lebih banyak adegan selingan ini, supaya jantungku bisa berdebar lebih cepat.

Hahaha… dan tentu saja sebagai penulis aku tahu keberatanmu jika harus menambah adegan. Cerita bakalan lebih panjang, buku jadi lebih tebal, terus siapa nanti siapa penerbit yang mau nerima cerita kita? Hihihi… yeah… ini sekadar bahan pertimbangan. Dengan cerita yang berplot lebih kaya, pasti akan terasa lebih mengasyikkan, walau tentu konsekuensinya cerita jadi lebih panjang.
Oke, sementara ini dulu komentarku. Mudah-mudahan aku bisa segera memberimu review yang lebih detil dari tiap babnya.
Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk membaca ceritamu, Rey.
Mari kita semua terus berjuang menjadi lebih baik.

Comments No Comments »