Posts Tagged “cerita fantasi”
Hai, Teman-teman, masih ingat Lomba Cerita Pendek Fantasi, Fantasy Fiesta 2009?
Buat yang masih ingat, inilah saatnya meneruskan tradisi, yang siapa tahu nanti bakal menjadi tonggak sejarah kemajuan dunia fiksi fantasi di Indonesia. Buat yang belum pernah dengar dan tahun lalu belum ikutan, kali ini jangan sampai ketinggalan. Bersiap-siaplah duduk di depan komputer, berimajinasi dan menulis; bersanding dan berkompetisi dengan para penulis fantasi lainnya. Berjuang bersama. Fantasy Fiesta 2010 telah dimulai!
Bagaimana syarat dan ketentuannya? Dan apa saja hadiahnya?
Ini dia. Catat baik-baik ya.
Read the rest of this entry »
61 Comments »
untuk membaca bagian sebelumnya sila klik di sini.
untuk membaca kisah Vill dan Moon dari awal sila klik di sini.
—
Vill: Uh ….
Moon: Akhirnya, bangun juga?
Vill: …
Moon: Ini, aku sudah buatkan teh almunt.
Vill: … Moon?
Moon: Ya?
Vill: Kita ada di …
Moon: Penginapan Kuda Bongkok. Ternyata itu namanya! Lucu, ya? Baru kelihatan tadi pagi. Benar-benar aneh pemiliknya. Bagaimana orang bisa tahu kalau ini adalah penginapan, kalau tulisan di depannya susah dilihat?
Vill: …
Moon: Ya, tapi salah orang-orang juga, kenapa datang malam-malam. Salah kita. Mmm … salahmu sih, bukan salahku.
Read the rest of this entry »
11 Comments »
untuk membaca bagian sebelumnya sila klik di sini.
untuk membaca kisah Vill dan Moon dari awal sila klik di sini.
—
Vill: Grroookkkk
Moon: Hei, bangun.
Vill: Mmm …
Moon: Bangun.
Vill: Hmm?
Moon: Bangun!
Vill: …
Moon: Bangun, dan pergilah dari kandang kambingku!
Vill: …
Moon: …
Vill: Kandang kambingmu?
Moon: Ya, ini kandang kambingku, dan kau tidak boleh tidur di sini. Lihat, kasihan dia! Gara-gara kau, dia harus tidur di luar!
Read the rest of this entry »
8 Comments »
Cerita bagian kedua ini ditulis oleh rekan saya, dian k, untuk menyambung kisah Vill dan Moon sebelumnya yang bisa dibaca di sini.
Enjoy.
—
Vill: Hup.
Moon: …..
Vill: Hm? Kenapa?
Moon: …..
Vill: Ah, hahaha. Kau pasti ngambek! Maaf deh, maaf.
Moon: Dasar idiot, ke mana saja tadi?
Vill: Aku cuma sebentar kok…
Moon: Sebentar? DUA JAM kau bilang sebentar?!
Vill: Hehehe…
Moon: Urgh! Dasar kau idiot menyebalkan!
Read the rest of this entry »
5 Comments »
lihat bab sebelumnya di sini
baca kisah Di Tepi Sungai Ordelahr dari awal di sini
—
Desa suku Andranir terletak tak jauh dari muara Sungai Ordelahr. Desa paling utara di Hualeg, yang dapat dicapai dalam waktu dua hari jika menggunakan perahu dan empat hari kalau berjalan kaki, jika memang orang yang hendak pergi itu mau berusaha keras.
Vilnar tahu itu dan ia tak ingin membuang waktu. Ia berangkat saat malam dan sejak awal ia mendayung perahunya dengan kecepatan tinggi, mengikuti arus ke hilir, hanya berhenti untuk tidur di malam berikutnya. Sehingga saat lewat tengah hari di hari kedua ia sudah mendekati pemukiman suku Andranir. Di kejauhan tampak lautan utara yang gelap membiru dengan beberapa bongkah es raksasa mengapung di permukaannya.
Pemandangan yang menakjubkan, apalagi pada saat musim dingin tiba, ketika seluruh lautan berubah menjadi es. Ingin rasanya Vilnar memberikan pemandangan indah itu pada istrinya, tetapi ia tahu Ailene tak bakal tahan dengan suhunya yang dingin. Di tempat ini bahkan Vilnar pun harus menggunakan mantel bulu beruangnya yang paling tebal, yang cukup berguna juga untuk menutupi kapak perang yang tergantung di punggungnya.
Read the rest of this entry »
No Comments »
lihat bab sebelumnya di sini
baca kisah Di Tepi Sungai Ordelahr dari awal di sini
—
Angin berhembus kencang di sepanjang tepian Sungai Ordelahr, mendadak turun dari hutan lebat di sebelah barat ke arah lembah rendah di timur. Vilnar memeluk erat tubuh mungil putranya. Di sampingnya Ailene mencoba bersembunyi di balik dua lapis mantel kulit yang paling tebal. Sekarang sudah satu bulan memasuki musim gugur dan angin memang akan bertiup semakin kencang dan sering di Hualeg.
Untuk saat ini, itu hanya berlangsung beberapa saat. Tak lama setelah angin reda Vilnar mengendurkan pelukannya. Ia tersenyum melihat putranya tertawa-tawa seolah tidak terpengaruh dengan angin dingin yang datang. Benar-benar bocah kecil yang kuat dan sehat. Seingat Vilnar sejak lahir putranya memang belum pernah mengalami sakit atau demam, termasuk ketika pindah ke Hualeg. Tubuhnya seperti dapat menyesuaikan diri dengan mudah dengan suhu Hualeg yang dingin.
Namun Ailene sedikit berbeda. Sejak tiba di Hualeg sekitar satu minggu yang lalu ia memang belum pernah sakit dan tidak pernah juga mengeluh, tapi Vilnar tahu bahwa istrinya itu tampak kurang nyaman dengan cuaca di Hualeg. Mungkin ia butuh adaptasi lebih lama.
Read the rest of this entry »
9 Comments »
lihat bab sebelumnya di sini
baca kisah Di Tepi Sungai Ordelahr dari awal di sini
—
“Nnn-nnn! Nnn-nnn!”
“Kau memanggilku, Anakku?”
Villam mencakar hidung Vilnar sambil tertawa-tawa, bahkan menarik pula cambangnya. Kedua kaki mungil bocah itu menendang-nendang leher dan telinganya. Tendangan yang hebat, kuat dan mantap.
Vilnar membiarkannya dan tersenyum lebar. Ia meletakkan dagunya di tepi tempat tidur, duduk santai di lantai kayu yang berselimut kulit tebal rusa jantan, kemudian memejamkan mata, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari selama lima bulan terakhir setiap kali ia menyambut putranya di pagi hari.
Jemari lembut Ailene membelai wajah Vilnar dari belakang, dan desah napas istrinya itu terasa pula di telinganya. Vilnar membiarkan Ailene menyentuh dan membelai seluruh tubuhnya. Ia kemudian teringat, istrinya itu baru saja melewatkan malam dingin pertamanya di Hualeg.
Vilnar membuka mata dan melirik. ”Lebih hangat sekarang?”
Read the rest of this entry »
18 Comments »
lihat bab sebelumnya di sini.
—
Radnar sang kepala suku tua diberkati kemampuan untuk menilai potensi atau bakat tersembunyi yang dimiliki seorang anak. Kemampuan itu sudah dipahami oleh setiap orang di Hualeg. Vilnar tak tahu apa yang dirasakan oleh ayahnya saat ia memegang putranya. Pastilah sesuatu yang sangat berbeda, karena selama hidupnya Radnar tak pernah menyebutkan kata ’istimewa’ jika ia sedang menilai seorang bocah.
Vilnar justru menjadi takut dan berharap orang lain tidak ada yang tahu, atau hal itu hanya akan mengundang bencana. Begitu semua orang tahu bahwa anaknya akan menjadi seorang yang istimewa, musuh-musuhnya pasti akan berusaha melenyapkannya. Vilnar sudah lama meninggalkan Hualeg, dan kini ia harus mempelajari dulu, siapa saja orang-orang yang masih bisa dipercayai dan siapa saja yang berpotensi untuk mencelakainya.
Read the rest of this entry »
10 Comments »
lihat bab sebelumnya di sini.
Vilnar membawa istri dan anaknya mengarungi Sungai Ordelahr selama berhari-hari. Mereka menerobos hutan gelap melalui sungai berliku, yang untungnya, walaupun tampak menyeramkan dengan pohon-pohon besar dan dedaunan yang menjuntai, sebenarnya tidak banyak binatang buas yang berdiam di sana. Hanya beruang dan ular yang cukup berbahaya, yang lainnya hanyalah kucing hutan dan beberapa jenis kera. Selama binatang-binatang itu tidak merasa terganggu, mereka juga tidak akan menyerang.
Untuk berjaga-jaga, sepanjang perjalanan dua buah obor dinyalakan di depan dan belakang perahu, siang maupun malam, sebagai penerangan sekaligus pengusir binatang buas. Selain itu Vilnar juga tetap mendayung saat malam. Ia hanya beristirahat dan tidur saat siang, kala Ailene terjaga.
Read the rest of this entry »
4 Comments »
lihat bab sebelumnya di sini.
Saat musim semi Ailene melahirkan putranya di rumah Vilnar yang terpencil di salah satu anak sungai Ordelahr. Vilnar memberi nama putranya Villam, yang dalam bahasa Hualeg berarti ’batu bercahaya’—batu permata yang terkeras dan terindah—dengan harapan agar kelak ia bisa menjadi lelaki yang tangguh sekaligus menerangi setiap orang di sekitarnya. Nama Vilnar sendiri berarti ’batu hitam’, dan nyatanya batu bercahaya memang hanya bisa diasah dari batu hitam terbaik. Vilnar jelas menginginkan agar putranya kelak bisa menjadi lelaki yang lebih baik daripada dirinya.
Sekarang sudah empat tahun sejak Vilnar pergi dari desanya di Hualeg, dan ia telah menikmati kehidupan barunya sebagai seorang suami dan ayah. Walau kadang terbersit kerinduan akan kampung halamannya, semakin lama keinginannya untuk kembali semakin meredup. Jika teringat istri dan anaknya, ia tidak ingin lagi hidup sebagai seorang prajurit. Sejak menikah hampir tak pernah lagi ia menyentuh kapak perangnya. Senjata menakutkan itu kini sudah tersimpan di bawah selimut di dalam gudang rumahnya.
Read the rest of this entry »
4 Comments »
lihat bab sebelumnya di sini.
Hari masih jauh dari selesai. Malam masih lama dan Piri tahu, berkat pelajaran kecil tadi, akan ada sesuatu yang berbeda hari ini.
Anak-anak membubarkan diri lalu berlarian ke sana kemari sesuka hati, mencari buah-buahan yang mereka suka untuk makanan hari ini, dan bermain di tempat favorit masing-masing. Berkejaran di padang rumput, berenang di sungai, bermain bola di lumpur, atau berlompatan di kaki tebing. Dalam sekejap semuanya seolah melupakan dunia mangkok.
Tapi Piri yakin, di sela setiap permainan pasti sempat tercetus celetukan-celetukan kecil. Tak mungkin hal semenarik itu terlupakan begitu saja. Seperti itu jugalah yang terjadi ketika ia dan teman-temannya sedang bergelayutan di dahan pohon allumint.
Read the rest of this entry »
4 Comments »
lihat bab sebelumnya di sini.
Vilnar mendayung dengan kewaspadaan penuh. Ia bisa bergerak lebih cepat daripada siapapun di sungai, tapi justru karena itu ia harus berhati-hati pada kawanan Rohgar yang mungkin berkubu di suatu tempat. Rencana Vilnar adalah melewati Rohgar tanpa ketahuan, sekaligus sampai lebih cepat di desa berikutnya dan memperingatkan mereka dari ancaman Rohgar.
Namun sepanjang hari mereka tak menemukan tanda-tanda keberadaan Rohgar. Tidak juga desa lain, ataupun para penduduknya. Sepi, hanya ada burung-burung yang berkicau di pucuk-pucuk pepohonan jangkung yang berbaris di sisi kiri maupun kanan sungai. Barulah di hari kedua, perjalanan terasa lebih mendebarkan. Mereka mungkin akan bertemu Rohgar hari ini.
Read the rest of this entry »
4 Comments »
Berikut adalah ulasan saya untuk setiap cerpen yang menjadi peserta pada ajang Fantasy Fiesta 2009. Di sini saya hanya membuat ulasan secara garis besar dan tidak mengritisi secara detil (karena saya percaya masing-masing penulis pasti bisa menemukan sendiri masalah-masalah detilnya, tidak perlu terlalu diberitahu), dan banyak dari ulasan tersebut sifatnya pun subyektif alias ‘menurut saya’. Apapun, saya berharap ini bisa memberi manfaat, tidak hanya bagi penulisnya, tapi juga bagi siapapun yang tertarik pada dunia tulis-menulis, termasuk saya sendiri.
Read the rest of this entry »
23 Comments »
Teman-teman,
Kami membuka kesempatan bagi Teman-teman yang sudah mengirimkan karyanya sebelum ini untuk dapat memperbaiki dan mempercantik karya tersebut.
Syarat dan ketentuannya sama, jumlah kata berada di antara 2700 dan 3000 kata (karena ada perbedaan cara penghitungan kata di Kemudian.com dan MSWord, maka yang kami jadikan patokan adalah jumlah kata pada dokumen MS Word yang kami terima). File MS Word versi revisi tersebut harus kami terima paling lambat tanggal 10 Agustus 2009 jam 12 malam, demikian pula cerita yang dipajang di Kemudian.com harus direvisi sebelum tanggal itu.
Read the rest of this entry »
8 Comments »
Berikut adalah daftar cerita pendek peserta Fantasy Fiesta 2009.
Terima kasih kepada seluruh Teman-teman yang telah mengirimkan karyanya dan berpartisipasi pada ajang ini.
Villam
16 Comments »
ehm…
Pengumuman. Pengumuman.
Untuk memberi kesempatan lebih banyak kepada Teman-teman yang ingin ikut berpartisipasi di ajang Fantasy Fiesta 2009, dengan ini kami memberitahukan bahwa batas waktu pengiriman cerpen yang awalnya ditetapkan tanggal 3 Agustus 2009, secara resmi diundur menjadi tanggal 10 Agustus 2009. Pengumuman pemenang tetap akan dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 2009.
Sekian. Terima kasih.
Villam
16 Comments »
 Detail of the Ishtar Gate
The Fall of Babbulkund
by Lord Dunsany
Kataku, “Aku akan bangun sekarang dan melihat Babbulkund, Kota Keajaiban. Dia yang seumur dengan bumi, dengan bintang-bintang sebagai saudarinya. Pharaoh penakluk dari masa silam datang dari Arabia, melihatnya pertama kali sebagai gunung di tengah gurun, sebelum memotongnya menjadi menara-menara jangkung dan lapangan-lapangan luas. Mereka menghancurkan bukit Tuhan, tapi mereka membuat Babbulkund. Read the rest of this entry »
4 Comments »
 Poor little birdie teased, by Victorian era illustrator Richard Doyle depicts the traditional view of an elf from later English folklore as a diminutive woodland humanoid.
“waktu kecil di bandung, elf pertama yang gue tau adalah seperti ini: beroda empat, bisa memasukkan sampe lebih dari dua puluh penumpang, kalo jalan bener-bener ngeraja, dan jurusannya banyak, bisa ke lembang, ke pengalengan, atau ke soreang… dan lain-lain… yeah… begitulah…”
Jawaban saya ketika ada yang bertanya di forum Pulau Penulis – Fiksi Fantasi Dalam Negeri, seperti apa sosok elf yang kita tahu.
Elf menurut Wikipedia, lihat di sini.
46 Comments »
Api masih berkobar membakar reruntuhan setiap rumah yang kini telah menghitam. Mayat-mayat manusia bergelimpangan di atas rumput, batu dan pasir di tepi Sungai Ordelahr.
Ini adalah desa kedua yang dilewati Vilnar siang ini, dan sama seperti yang pertama, tak ada lagi kehidupan yang tersisa di sana.
Read the rest of this entry »
6 Comments »
Kalian tentu tahu, bulan penuh menjelang akhir tahun adalah saat yang paling ditunggu oleh raja. Inilah saatnya berpesta. Pesta khusus sebagai penghargaan untuk kalian, yang tentu saja harus lebih akbar dibanding pesta untuk para bangsawan pada sebelas purnama sebelumnya, apalagi jika disandingkan dengan pesta keluarga kerajaan yang diselenggarakan setiap awal bulan. Dan jika kalian tetap saja mengira pesta yang aku sebutkan terakhir itu hanyalah sebuah pesta kecil, sehingga pesta yang akan kalian datangi nanti pun hanya pesta biasa, maka biar aku katakan di sini: jumlah mereka yang hadir di pesta keluarga kerajaan terakhir mencapai lima ratus orang!
Read the rest of this entry »
11 Comments »
|