Posts Tagged “cerita fantasi”

thumb_othf38Pilihlah satu dari tiga ‘gajah’ alias ide plot cerita fantasi nomor 10, 11 dan 12 di bawah ini yang menurut Anda paling menarik. Berikan alasannya, dan silakan berikan ide tambahan untuk membuatnya jadi lebih menarik. Jika seandainya Anda tertarik untuk membuat ceritanya (panjang atau pendek), maka tulislah, jangan sungkan-sungkan. Mari, Teman-teman, kita menari-nari dengan ide!

Gajah-gajah nomor 10 s/d 12 adalah:

Read the rest of this entry »

Comments 19 Comments »

thumb_othf42Pilihlah satu dari tiga ‘gajah’ alias ide plot cerita fantasi nomor 7, 8 dan 9 di bawah ini yang menurut Anda paling menarik. Berikan alasannya, dan silakan berikan ide tambahan untuk membuatnya jadi lebih menarik. Jika seandainya Anda tertarik untuk membuat ceritanya (panjang atau pendek), maka tulislah, jangan sungkan-sungkan. Mari, Teman-teman, kita menari-nari dengan ide!

Gajah-gajah nomor 7 s/d 9 adalah:

Read the rest of this entry »

Comments 11 Comments »

thumb_knightf93Pilihlah satu dari tiga ‘gajah’ alias ide plot cerita fantasi nomor 4, 5 dan 6 di bawah ini yang menurut Anda paling menarik. Berikan alasannya, dan silakan berikan ide tambahan untuk membuatnya jadi lebih menarik. Jika seandainya Anda tertarik untuk membuat ceritanya (panjang atau pendek), maka tulislah, jangan sungkan-sungkan. Mari, Teman-teman, kita menari-nari dengan ide!

Gajah-gajah nomor 4 s/d 6 adalah:

Read the rest of this entry »

Comments 26 Comments »

elephantMau membantu saya memberi makan ‘gajah-gajah’ di bawah ini? Atau barangkali sedang berusaha melahirkan ‘gajah’ Anda sendiri?

Caranya mudah. Pilihlah tiga ‘gajah’ alias ide plot cerita fantasi di bawah ini yang rencananya akan rutin saya berikan setiap hari Senin, Rabu dan Jumat, mana yang menurut Anda paling menarik, melalui komentar Anda. Berikan alasan kenapa Anda memilihnya, dan silakan berikan ide tambahan pada cerita tersebut untuk membuatnya jadi lebih menarik.

Jika seandainya Anda tertarik untuk membuat ceritanya (panjang atau pendek), maka tulislah, jangan sungkan-sungkan. Saya senang jika ide-ide yang muncul di sini pada akhirnya bisa terwujud menjadi cerita, siapapun penulisnya. Mari, Teman-teman, kita menari-nari dengan ide!

Gajah-gajah nomor 1 s/d 3 adalah:

Read the rest of this entry »

Comments 30 Comments »

thumb_roguem118

I Am A: Lawful Good Human Ranger (4th Level)

Ability Scores:
Strength-14
Dexterity-14
Constitution-17
Intelligence-16
Wisdom-14
Charisma-15

Menyambung hasil tes karakter sebelumnya–sesuai masukan ubr, seorang kawan–ini adalah hasil tes lainnya. Selamat mencoba. Lumayan buat lucu-lucuan di awal tahun baru 2009.

Semoga sukses, teman-teman! Mari kita songsong tahun baru dengan semangat baru! Make our first step in the first month!

Untuk melihat penjelasan mengenai Lawful Good, Human dan Ranger, silakan klik link di bawah ini.

Read the rest of this entry »

Comments 81 Comments »

The Slave Market karya Gustave Boulanger

Aku tak akan bercerita tentang tiga belas tahun pertama kehidupanku yang indah di Belen, atau tiga tahun berikutnya yang gelap—dalam arti kiasan maupun sebenarnya—di tambang batu mulia Narttal. Ceritaku dimulai sepuluh hari setelah aku dipajang di pasar budak Ainthala, kota kecil di perbatasan negeri Madhirian. Ketika aku mendapatkan namaku yang baru.

Read the rest of this entry »

Comments 14 Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XXI (10 Jul 2008 – 11 Jul 2008)

  • Cerita fantasi layak untuk diterbitkan!
  • Tentang draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam
  • Tentang para penerbit fantasi lokal
  • Kejujuran dalam sebuah tulisan

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 09:02:10 am
________________________________________
Quote from: Elyasa on July 09, 2008, 08:36:15 pm
Jadi gini, awalnya sih, ENTHIREA itu buat semua kalangan…nah pas masuk kepenerbit, mereka bilang ini segmen buat remaja ya…dari sd sampe sma gitu…nah jadi nya mereka mulai meng-edit buku saya untuk segmen itu.

Kenapa sih penerbit lokal yang nerbitin fantasi masih aja pada dodol2 semua? [annoyed]
Apa mereka gak mikir kalau yang baca genre fantasi bukan anak2 & remaja doang?
Pembaca fantasi di indonesia kan meningkat pesat gara-gara ada fenomena harpot, lalu menyusul film LOTR.
Nah coba dipikir deh, harpot pertama kali terbit 10 tahun lalu, itu berarti fans-nya sekarang semua udah berusia plus 10 tahun dong (kalau dulu umurnya 14, sekarang 24, dstnya.).
Kenapa gak dibidik juga orang2 ini? Padahal mereka kan pasar yang bagus pula?
Dasar DODOL! [cluebat]
Buat para penerbit di indonesia: Semua orang berfantasi!
Jadi, cerita fantasi layak dan bisa dikonsumsi oleh semua kalangan! [tickedoff]
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 12:36:20 pm
________________________________________
ah bener tuh pendapat si fred, tentang penerbit-penerbit novel fantasi kita.
menyebalkan, sekaligus menyedihkan.
kenapa para editornya malah gak bisa bikin naskahnya jadi lebih baik, dan malah jadi lebih jelek sih?
ah capek juga tapi dari dulu gue bisanya cuma ngedumel. hehehe…
kita, para penulis dan pembaca fantasi, harus benar-benar bisa bikin suatu langkah besar sekarang, supaya suara kita didengar! (halah… hehe…)
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 12:36:20 pm
kita, para penulis dan pembaca fantasi, harus benar-benar bisa bikin suatu langkah besar sekarang, supaya suara kita didengar! (halah… hehe…)

Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]

tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…
gue udah pernah ngirim versi lamanya ke sepuluh penerbit, dan gak ada yang lolos! dan sekarang gue gak akan terburu-buru ngirim lagi. kalo emang bolongnya banyak ya mending gue perbaikin dulu. sambil gue menyelesaikan novel2 yang lain, yang mungkin lebih ‘marketable’ di mata penerbit.
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 01:45:24 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…

Villam, kalau gw yang ngebaca boleh gak? [rolleyes]
Tapi yang mau dikasih buat repiu itu versi apa ya? Soft copy atau hard copy?
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 01:52:01 pm
________________________________________
boleh, bos.
softcopy pdf.
emang enakan baca hardcopy pasti, tapi belon sempet ngeprint lagi soalnya.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 02:14:32 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 09:02:10 am
Kenapa sih penerbit lokal yang nerbitin fantasi masih aja pada dodol2 semua? [annoyed]
Apa mereka gak mikir kalau yang baca genre fantasi bukan anak2 & remaja doang?
Pembaca fantasi di indonesia kan meningkat pesat gara-gara ada fenomena harpot, lalu menyusul film LOTR.
Nah coba dipikir deh, harpot pertama kali terbit 10 tahun lalu, itu berarti fans-nya sekarang semua udah berusia plus 10 tahun dong (kalau dulu umurnya 14, sekarang 24, dstnya.).
Kenapa gak dibidik juga orang2 ini? Padahal mereka kan pasar yang bagus pula?
Dasar DODOL! [cluebat]

Well,… gimana ngomentarinnya, yach?
Penerbit ga bisa terlalu disalahkan.
Bagaimana pun juga, di pundak mereka ada resiko yang harus ditanggung. Modal itu kan ada yang punya, dan yang punya pasti minta uangnya kembali berikut profit. Sementara menerbitkan buku adalah usaha yang sangat beresiko. Udah biaya cetak dan sebagainya harus dibayar di depan, uang hasil penjualan baru masuk setelah beberapa bulan. itupun kalo laku. Kalopun laris manis, harus kebat-kebit digerus pembajak.
Dengan resiko demikian tinggi, wajar jika penerbit masih ragu-ragu dengan genre Fantasy, pilih play safe, antara lain menyasar segmen remaja.

Tapi di sisi lain, memang ada masalah, bahwa penerbit Fantasy kita belum begitu mengenal produk; sehingga ngga punya keyakinan atas keberhasilan pemasarannya. Sayang memang, bahwa belum ada penerbit yang ‘dedicated’ dengan genre Fantasy, berani berkonsentrasi dengan genre ini, sehingga menjadi mahir baik dalam visi produk maupun visi pemasaran. Yg gue liat sekarang, kebanyakan pemain Fantasy adalah juga main di genre lain, atau sekedar unit bisnis di bawah suatu kelompok penerbit. Apa pengaruhnya? Kekuatan dia untuk konsentrasi menjadi lemah, sebab juga ikut asyik mikirin genre-genre lain (apalagi yg lebih laku), juga support finansialnya menjadi terbatas karena pemodal juga ingin uangnya diputer di genre lain yang (dipikirnya) lebih gampang dijual.

So kalo gue bilang sih, sementara belum ada penerbit Fantasy yang bener-bener ‘kuat’, ya para penulis aja dulu yang bikin klik yang kuat sehingga kelak bisa membentuk suatu komunitas. Dalam bisnis, komunitas adalah suatu modal yang cukup diperhitungkan sebagai salah satu pendorong pemasaran. Kalau sudah ada komunitas semacam itu, penerbit pun akan merasa lebih aman, dan lebih punya kepastian untuk urusan hitung-hitungan bisnisnya.
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 02:20:14 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]

tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…

Gue gak dilupakan, dong,…. 8) 8) 8)
liat PM ya,… :)
FA Purawan
________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
________________________________________
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 03:28:13 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]

Yakin? Apakah benar mereka merupakan penerbit independen yang khusus Fantasy, atau bagian dari suatu group yang juga menerbitkan buku-buku genre lainnya?
(Gue sih gak yakin ada yg berani bener-bener hanya main di Fantasy,… hehehe). Dari outputnya aja udah keliatan, koq.

Intinya, sih, terutama dalam hal resources, atau modal. Sekarang pikirin aja skenario berikut. Ada satu usaha penerbitan yang punya Unit Fantasy dan Unit Chiklit, yang sedang sama-sama punya program menerbitkan 1 buku di bulan Agustus.
Masing-masing editor udah dapat masukan-masukan naskah, katakanlah masing-masing udah dapat satu naskah jagoannya. Terus dalam momen yang menentukan: Rapat Redaksi (atau sejenis), dibahaslah naskah2 itu, dan kemudian diputuskan naskah mana yang akan diterbitkan. Rapat dan debatlah tuh, berjam-jam.
Berhubung modal yang ada hanya ‘cukup’ untuk commit 1 buku, akhirnya,…. Naskah Fantasy dan Naskah Chiklit ga jadi diterbitkan, pemenangnya adalah naskah Blog Konyol tentang kisah ironi seorang guru SD eksentrik di pedalaman Papua: Buaya Makan Buku IPA, sebuah komedi realitas pendidikan Indonesia di Papua.
Why? Katanya itu yang lagi laku,…. heheheh,…

Bedanya dengan penerbit yang bener-bener khusus Fantasy, program penerbitannya tentu akan konsisten. Kalo rapat, tentunya yang dirapatkan dan diperbandingkan adalah sama-sama naskah fantasy, dan naskah yang ‘terbaik’ (berdasarkan pemahaman penerbit yang semakin baik) lah yang akan terpilih.
lihatlah betapa besar perbedaan akan terjadi dalam dunia penulisan Fantasy, bila kita punya penerbit yang demikian?
Salam,
FA Purawan
NB: Coppernicus, rupanya salah spelling, harusnya Copernican
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 04:00:14 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]

Bukannya katanya liliput udah bubar pula?
Tapi, emang bener seperti yang dibilang om pur.
Kalau memang ada penerbit yang khusus fantasi, kan jadinya dia sendiri bisa bikin divisi2 khususnya, misalnya ada yang khusus ngurusin naskah fantasi segmentasi anak2-remaja, lalu ada yang segmentasi dewasa dan semua umur, dll. Komplit dan spesifik deh manajemennya.
Aaargh, mimpi di siang bolong!
Eh… sore bolong! :D
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 05:14:47 pm
________________________________________
okay…
fred, mas pur dan rey,
besok kukirim…
liliput, coppernican dan rumah pinus, kayaknya udah gak pernah denger lagi terbitan barunya. mungkin dah pada tenggelam.
ada satu penerbit khusus fantasi. matahati.
dulu pernah nelpon, katanya nyari satu fantasi lokal, tapi sejauh ini yang impor-impor melulu yang keluar. payah dah… atau… ya mungkin emang mereka belon dapet naskah fantasi lokal yang bisa bersaing dengan kesemua impor itu.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 05:26:34 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 05:14:47 pm
liliput, coppernican dan rumah pinus, kayaknya udah gak pernah denger lagi terbitan barunya. mungkin dah pada tenggelam.

Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 05:43:23 pm
________________________________________
@om pur
liliput itu aseli penerbit fantasi kok. gw punya 3 novel liliput, tiga2nya fantasi, dan sewaktu liat ‘iklan’ buku2 fantasi lain terbitan dia di halaman2 belakangnya (untuk ketiga buku itu), dan juga official website-nya, emang buku fantasi semua. tapi emang masih payah sih, dia fokusnya ke fantasi anak & remaja doank.
holy shit, kenapa banyak penerbit yg memposisikan genre fantasi dengan target pasar utama anak2? cuma karena terhanyut euforia harpotkah? kuper banged sih penerbit2 yg nganggep fantasi itu cuma buat konsumsi bocah! [annoyed]
(eh kayaknya udah ada orang yg protes beginian duluan sebelom gw yak? :D )
kalo rumah pinus, gw liat di dua contoh novelnya, ada statement dia as ‘penerbit khusus buku2 fantasi yg ditulis penulis lokal muda (baca: bocah)’ emang dua penulis untuk dua bukunya itu gw liat anak2 smp sih, novelnya tipis2 pun
nah kalo copernican (TQ koreksinya :-[), itu bukannya ente sendiri yg nyebut di blog ente waktu ngerepiu nopel ataka?

tapi emang kayaknya, editor di penerbit2 itu, pada gak mumpuni semua di bidang fantasi. bukan cuma penguasaan bahasa dan keahlian menganalisisis logika aja yg harus dikuasain editor fantasi menurutku, tapi juga wawasan tentang berbagai mitologi dan literasi fantasi yg ada di dunia. itulah kayaknya yg terjadi pada editor2 fantasi di indo ini, sampe2 gak peduli lagi kalo ada penulis yg mendeskripsikan orc ketuker ama goblin.
(ah alasan karena tidak mau 'mengintervensi kreativitas pengarang' itu cuma bullshit, menurut gw emang dianya aja yg buta sama sekali ttg mitologi dunia [hammer])
syukur2 kalo dulunya dia ex-RPGer, biar lebih berwawasan lagi deh :P

@fred,
iya kayaknya liliput udah bubar, terakhir gw dapet info sih dia orang ganti manajemen, tp entah kenapa setelah itu gada buku2 terbitannya lagi.
coba itung aja produk fantasi lokal terbitan dia:
-catatan harian alien
-cincin oleodeo
-hozzo
-pinissi
-narend
(dan kayaknya masi ada lagi, tp gw lupa judulnya apa2 aja)
terbukti, liliput cukup konsisten nerbitin fantasi!
tapi rada keji juga cetakan pertamanya cuma 1000 eks(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
ah mungkin juga cetakan 1000 eks itu udah jadi konsekuensi dia karena komitmennya berani nerbitin naskah2 tebel & sekaligus menyertakan gambar2 ilustrasi di setiap bukunya.
yg gak adil itu, kalo ada buku tipis yg kena jatah rata 1000 eks juga, mau brp tuh royalti penulisnya kalo bukunya cuma dibandrol 30rban? cincin oledeo kayaknya tipis tuh :(

dan sekarang, kita ngintip ke fantasi-lit-nya gagasmedia :)
kita liat fantasi terbitan dia:
-nightfall
-transpondex
-cardan
-gemala dan rumah kayu oak
hore! udah nembus 4 bijik, angka yg sama sekali tidak menyedihkan buat penerbit gede yg punya banyak klasifikasi genre ini. :)

kalo c|publishing, setauk gw baru ledgard ama penunggang petir doank. sama kayak serambi yg baru dua bijik: sang penandai ama goran. eh btw gimana tuh nasib sang penandai di tangan lu? gaya bahasanya ajaib punya, entah bakal dimaki atau disanjung ama lu, mengingat sang penandai itu satu2nya fantasi lokal bergaya bahasa nyastra yg udah terbit.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 05:58:56 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 05:43:23 pm
@om pur
nah kalo copernican (TQ koreksinya :-[), itu bukannya ente sendiri yg nyebut di blog ente waktu ngerepiu nopel ataka?

Gue mengutip dari deskripsi mengenai penerbit di buku Ataka.
Yang gue gak tahu pasti, apakah Copernican murni penerbit yang semata hanya menerbitkan Fantasy, atau merupakan brand-name atau unit bisnis dari sebuah grup penerbit. Apa duit modalnya hanya dipakai untuk nerbitin fantasy, atau sharing juga dengan unit bisnis lainnya yang nerbitin Chiklit, misalnya.
Untuk tau hal-hal ini, ya elo mesti orang dalem di industri penerbitan.
________________________________________
Post by: blue_amaranthine on July 10, 2008, 06:23:15 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 10:44:38 am
Samy, bukunya yang lagi in publishing itu apaan? Fantasi juga? Di penerbit Diwan juga? ???

Lagi libur lulus SMA, asik nih bebas... ;D
(*yang kepengen banget libur!*)
Bukan fantasi banget sih, ceritanya princess and kingdom gitu. Tapi, penerbitnya masih mikir-mikir juga, soalnya endingnya rada garing, n kalo endingnya bagus baru maw diterbitin. Palingan yang next adalah Margana, genrenya Puzzle Misteri gitu, lebih mirip Da Vinci. Lagi coba ngegarap berbagai genre biar bisa ngerasain yang mana yang paling ngena n bisa terus di kembangin lagi (betul Gak?)
________________________________________
Post by: Elyasa on July 10, 2008, 08:38:31 pm
________________________________________
OYYY.....
Quote
Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
Gue jelasin nih...Copernican itu...anak penerbit dari jagad media, nah copernican itu bergerak di bidang fantasi aja....
Quote
Bukannya katanya liliput udah bubar pula?
Nah kalo ini gue nggak tau deh...tapi sih setau gue dia cuman ganti jurusan aje ama ganti pemiliki....
Quote
ada satu penerbit khusus fantasi. matahati
Nah kalo matahati jangan deh...mereka agak gimana gitu (pengalaman pribadi :p)
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 09:04:05 pm
________________________________________
Quote
Pretensius jugak, kali yee, tapi in a different sense than your’s. Baca gaya bahasanya, gue jadi inget novel-novel Abdullah Harahap taun 80-an, itu novel seribu perakan yang biasanya bertema misteri lokal. Idenya Abdullah harahap itu cukup dahsyat lo jaman taon segitu,… modelnya kera jadi-jadian etc, romance plus actions. Dan adegan bumbunya juga cukup hot,… hehehe.
Nah, Lanang ini sepertinya mengikuti pakem itu, dengan setting agak modern. Tapi bener deh, gaya bahasa jadulnya buat gue terasa banget. Dan nggak enak dibaca. Makanya, biarpun udah ada sebulanan gue beli, gue berhenti belum habis bab 1. (Lebih parah dari ledgard! Hahahaha)
FA Purawan

jangan2 tiap novel yg ‘sok nyastra’ bakal selalu kena label ‘pretensius’ ama ente nih [hammer]
gini aja deh. langganan kompas gak om? tiap minggu selalu ada cerpennya. dan terus terang aja selain dipengaruhi oleh gaya bahasa paulho coelho & dan brown, gaya bahasa ‘pretensius’ lemures sedikit banyak dipengaruhi juga ama cerpen2 kompas minggu itu. kalo ente kebetulan langganan, gimana penilaian ente untuk cerpen2 kompas minggu itu, secara overall? (emang sih tiap minggu penulisnya beda2, tapi kayaknya cerpen sastra di kompas minggu itu udah ada pakem2 spesifiknya deh)
kalo ente gak langganan kompas, anggap aja paragraf di atas batal kusebutkan :P

Quote
Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
FA Purawan

kalo gitu, sungguh-sungguh malang banged nasib enthirea! dianaktirikan :’(
masak tega mangkas jumlah halamannya sih? sementara novel ataka yg tebelnya bujubuneng dengan nekad dia berani terbitin dan dibandrol cepekceng. [hammer]
tapi mungkin juga, menurut dugaan gw, skinheald II gak laku di pasaran. lagian harganya konyol sih, kayak gak pake pertimbangan market aja. dan karena udah rugi gede di skinheald II, dia jadi paranoid nerbitin novel tebel lagi…. dan berujung dipangkaslah enthirea! ah ini hanya skenario liar yg berkelebatan di otakku saja, belum tentu bener :P

note:
sedikit masukan bos, buat review2 menyusul ente ke depan (atau bisa juga sekalian diupdate semuanya), gimana kalo mulai dilengkapin dengan data2 buku (include penerbit, tebel halaman, harga, ama nama editornya) & rating sebelum masuk ke uraian detilnya? biar review ente semakin lengkap, jelas, dan memuaskan!
emang sih seringkali pemberian rating cenderung ditentukan oleh selera pribadi yg subjektif banged, tapi setidaknya jutaan pembaca blog ente bakal bisa dapet pegangan kan. bisa pake sistem bintang lima, bisa juga pake label: sampah, kurang, lumayan, bagus, dan bagus sekali. soalnya jujur aja, seringkali gw sendiri juga masi ngerasa ‘burem’ setelah baca bbrp repiu ente, kayak penunggang petir dan goran contohnya. makanya dulu gw sempet nanya: jadi kesimpulannya nih buku bagus apa jelek?
yah, sekedar input aja. :)

@blue
gila produktif banged, baru nerbitin novel udah mau nerbitin lagi, keren [thumbsup]
itu yg princess di diwan jugak? hmmm… kalo boleh tauk, cetakan pertama diwan brp eks? ah pertanyaan terakhir ini gak usah dijawab juga gapapa :)

@villam,
oke deh kutunggu kirimanmu, TQ dah. :)
kalo matahati mah emang gak pernah nerbitin fantasi lokal, gak bisa masuk itungan tuh.
oh ya, nanti kan bakalan ada 3 org yg komenin TFH ente, sistemnya mau gimana? kayak grup kritik kemaren? jadi nanti kalo gw mau kirim komen, bakal gw kirim juga ke si om pur ama si fred, gitu?
________________________________________
Post by: eniyorda on July 10, 2008, 10:25:32 pm
________________________________________
:-\

mampir mau ngasih kabar (bagi yang masih ingat, hehe) serta hai untuk yang belum pernah ketemu. Ijin OT sejenak boleh yaaaa…
Lulus maret tadi, terus setelah bingung sana bingung sini mau ngapain, akhirnya saya terdampar –pulang kampung, tepatnya– di pulau kalimantan sebagai tenaga pengajar sementara di PT lokal. Berhubung kurangnya SDM, saya lgsg ditugasi ngajar bahan 1 semester selama 2 bulan saja (dah bulan april gitu lho tapi rupanya ada matakuliah yang belum mulai sama sekali ???). Sibuk, ya, tapi ada asyiknya juga. Aktivitas nulis sangat berkurang. Sedangkan mencari buku bacaan agak sulit. Harganya 10-20% lebih mahal lagi. Di toko Gramedia, ketersediaan yang memadai hanya buku-buku Gramedia Group. Kalau nyari buku penerbit lain, lebih banyak nggak adanya [thumbsdown]. Internet juga susah. Semua komunitas maya yang sering diikuti terputus total, alias nggak sempat bahkan untuk ditengok-tengok, (termasuk di sini) jadi ketinggalan berbagai kabar. Di thread ini aja udah 2 ribu lebih reply-an pula… wah
Yah gitu deh… silakan lanjutkan.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 11, 2008, 08:30:53 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 09:04:05 pm
jangan2 tiap novel yg ‘sok nyastra’ bakal selalu kena label ‘pretensius’ ama ente nih [hammer]

Gimana ya Rey, buat gue di dalam tulisan itu selalu ada ‘kejujuran’. Dan ketika seorang penulis terasa ‘ngga jujur’ (misalnya bikin sesuatu yang nyastra, tapi terasa banget jiwanya ngga kena), gue akan langsung mengatakannya sebagai pretensius. Sebab menurut gue, seharusnya tulisan tersebut dapat lebih bersinar kalau pengarang rela menggunakan ‘dirinya sendiri’ sebagai standar penulisannya.
Emang, gue subyektif,… hehehe,….

Quote
note:
sedikit masukan bos, buat review2 menyusul ente ke depan (atau bisa juga sekalian diupdate semuanya), gimana kalo mulai dilengkapin dengan data2 buku (include penerbit, tebel halaman, harga, ama nama editornya) & rating sebelum masuk ke uraian detilnya? biar review ente semakin lengkap, jelas, dan memuaskan!

Untuk data-data keras, gue usahain masuk deh. Biasanya gue lebih seneng masukin sebagai bagian dari artikel, makanya kadang info itu gak keluar karena gak gue anggep penting, hehehe.

Quote
emang sih seringkali pemberian rating cenderung ditentukan oleh selera pribadi yg subjektif banged, tapi setidaknya jutaan pembaca blog ente bakal bisa dapet pegangan kan. bisa pake sistem bintang lima, bisa juga pake label: sampah, kurang, lumayan, bagus, dan bagus sekali. soalnya jujur aja, seringkali gw sendiri juga masi ngerasa ‘burem’ setelah baca bbrp repiu ente, kayak penunggang petir dan goran contohnya.

Tapi untuk rating,… filosofi review gue adalah untuk pembelajaran. Gue kritik bagian yang gue pikir harus diimprove oleh pengarang. Rasanya style rating bukan tujuan gue, karena gue tetap berharap pembaca (terutama para pembelajar) juga mau membaca bukunya, alih-alih cuma membaca review gue. Proses belajar kan datengnya dari mengalami, dan mengevaluasi.
Kayaknya untuk rating, gue nggak akan terapin dulu, deh. ;)

Quote
makanya dulu gw sempet nanya: jadi kesimpulannya nih buku bagus apa jelek?

That, we have to leave to the real judges: The Readers!
(Lagian, biar kritik gue sepedes apapun, kalo pembaca udah suka sama bukunya, ya suka-suka pembaca, lah! Wong dia yang udah keluarin duit buat beli,… hehehe) :P
Salam,
FA Purawan

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XVII (25 Jun 2008 – 26 Jun 2008)

  • Plot dan karakterisasi di novel fantasi barat
  • Bagaimana seharusnya fiksi ilmiah
  • Seperti apa ending yang bagus dan bikin greget

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on June 25, 2008, 08:59:22 am
________________________________________
Nih topik gw pindahin ke tempat yang seharusnya deh:
Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:22:23 am
terus terang, sekarang ini gw lagi penasaran banged ama judul2 fantasi barat kayak: septimus heap (ini seri Flyte yak?–clikdian pernah ngerepiu kalo gak salah), artemis fowl, stardust, bartimeus trilogy, balthasar oddisey, golden compass. seru2 gak, fred? minimal, apakah punya greget dan kekuatan plot yg sama kayak Da vinci Code? kalo liat kovernya yg memikat daku cukup ngiler.. tapi rada2 kapok gara2 pengalaman baca novel2 barat sebelumnya itu.

Kalau nebak2 dari selera loe, rey, loe gak akan suka sama golden compass dan stardust. Judul sisanya, gw blom baca (udah berbulan-bulan gak baca buku fantasi… :-[).
Loe suka da vinci code dan prison break mungkin salah satunya dari faktor tema konspirasi kali ya?
Di situ emang bagian serunya da vinci code, dan kenyataan bahwa robert langdon mencoba menguak rahasia penting yang akan mengubah dunia (sambil pake acara dikejar-kejar segala) adalah faktor gregetnya; sesuatu yang... OH! TERNYATA GITU!!! ;D
Da vinci code juga menang di riset. Tapi kalau soal plot, menurut gw da vinci code pun masih mudah ditebak. Angels and demons plotnya lebih rapi.

Nah, kalau bicara tentang aspek kejutan di akhir itu, contohnya di novel fantasi yang paling gampang ya harpot. Setiap buku punya kejutan sendiri (kecuali buku 5 dan 7 yang gagal). Khususnya plot di buku 3, 4, dan 6 bener2 rapi dan greget.

Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:22:23 am
kalo yg gw dapet dari baca novel2 itu, menurut gw pengarang2 barat itu ciamik banged dalam menciptakan setting, naming, ama detil2 buat dunia rekaannya, tapi agak payah di karakterisasi ama kekuatan plot.
Kalau novel fantasi luar untuk dewasa yang karakterisasi-nya top dan plotnya juga bagus adalah serial Sword of Truth-nya Terry Goodkind (#1 New York Times Best Seller). Entah kenapa gak diterjemahin ke bahasa indonesia, padahal udah diterjemahin ke banyak bahasa lain. Mungkin karena terlalu dewasa (ada sejumlah adegan berbau pornografinya) atau memang karena terlalu tebel, jadi gak ada penerbit lokal yang berani nerbitin? Meski nanti bakalan ada film seri-nya di Hollywood pun (diambil dari buku 1), gw tetep gak yakin bakal diterjemahin juga ke bahasa indo.
Kalau mau liat, nih official site-nya: www.terrygoodkind.com (http://www.terrygoodkind.com)

Kalau fantasi lokal yang karakterisasi dan plot-nya bagus ya udah pasti novel gw dong! ;D
(*narsis mode: on!*)

Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:22:23 am
kalo bagi gw pribadi sih, prolog lemures udah keren pun [biggrin]
mungkin masalah selera kali yak? si hege juga antipati banged ama lemures(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
tapi kalo lu mau coba menilai tulisan gw dari sudut pandang lain, mungkin bisa coba jajal “Tangerine’ gw (biasanya orang yg gak demen lemures malah suka ama tangerine gw–padahal sama2 sok nyastra dan bermetafora ria :D ):

http://kemudian.com/user/loki

(cari aja link ceritanya di page itu)

Gw gak bisa buka k.com! [hammer]
Gak bisa pula install browser opera atau firefox karena harus ada password admin-nya…

________________________________________
Post by: fr3d on June 25, 2008, 11:05:47 am
________________________________________
Aneh, tadi gw berhasil buka 2 halaman tangerine-nya rey di k.com (prolog dan quest 1) sebelum akhirnya bug-nya situs itu mulai bekerja dan mengacaukan seluruh tampilan browser iexplorer gw… ???
Dari hasil baca 2 halaman itu, kalau dibandingin sama prolog lemures, jelas lebih bagus tangerine lah! ^-^
Soalnya di tangerine, bahasa kiasannya pas a.k.a. kena pada tempatnya. Tapi, sama kayak lemures, dari sedikit halaman itu, blom ada bayangan juga ceritanya tentang apaan.
Btw, rey, gw mau nambahin saran tentang lemures.
Menurut gw bagusan judulnya balik jadi lemuria aja, jadi bisa langsung dikaitin sama legenda lemuria (menurut gw, ini malah bagus, langsung straight to the point).
Terus, kalau loe belum melakukan ini, pas kirim ke penerbit, kirim juga hasil riset loe tentang legenda lemuria di dunia kita (2 atau 3 halaman cukup). Jangan lupa kasih narasumber, pendapat si A atau B, dsbnya. Dengan begini, mungkin penerbit bisa tertarik sama kisah di balik kisah karya ciptaan loe sehingga mereka berani berinvestasi pada seorang bernama Rey L. Tentunya lemures/lemuria masih tetep harus lewat proses editing dulu yang mateng oleh seorang editor.
:)
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on June 25, 2008, 12:57:54 pm
________________________________________
@om pur,
Quote
Gini aja deh,…. apa yang akan elo katakan mengenai ‘ilmuwan’ yang mengatakan dapat mengubah besi menjadi emas, tapi ngga bisa menjelaskan prosesnya? Lalu saat dikonfrontir, ilmuwan itu ngotot mengatakan bahwa ini adalah sebuah temuan ilmiah!
Orang yg ngerti apa yg disebut ilmiah, kan langsung menghela napas. Gimana ya ngasih tahunya?

oow, ilmu yg mempelajari bagaimana cara mengubah besi (lebih tepatnya timah) jadi emas itu istilahnya alkimia, daripada ‘ilmuwan’ tuh orang lebih tepat disebut ‘alkemis’, kali yak?
wah rekayasa genetika, daku dulu pernah jajal coba bikin thriller temanya gini juga, tapi gagal di tengah jalan karena kurang modal riset, kurang modal wawasan dan referensi pulak. (tapi bakalan seru tuh kalo jadi, idenya sih ttg orang2 yg punya skill telekinetik, skill pyrokinesis, anak2 indigo)
bikin novel sci fi jauh lebih menguras tenaga daripada bikin novel fantasi, in my experience :D
idealnya, yang disebut ‘fiksi ilmiah’ itu yg kek gimana sih bos? apakah yg cuma bertaburan istilah2 ilmiah di seisi novel, atau yg mengandung hipotesis2 rumit/kreatif ttg bidang ilmiah yg digarapnya? atau yg cuma sekedar ‘imajinasi liar’ kayak tentang orang kawin silang ama kuda mentek jadi centaur, gitu? ???

@fred,
Quote
Loe suka da vinci code dan prison break mungkin salah satunya dari faktor tema konspirasi kali ya?
Di situ emang bagian serunya da vinci code, dan kenyataan bahwa robert langdon mencoba menguak rahasia penting yang akan mengubah dunia (sambil pake acara dikejar-kejar segala) adalah faktor gregetnya; sesuatu yang… OH! TERNYATA GITU!!!

yep. pada prinsipnya gw suka plot yang cerdas, dan sarat greget.. dan gw juga suka ide2 kreatif yg orisinil. konspirasi? mungkin juga sih. tapi bukan itu poin utamanya. buktinya, gw pun bisa terpikat sama jalinan plot spiderman (yg movie yak).
ah ya, ironi. itu dia. gw suka cerita2 yg mengandung ironi: kayak ironi bagaimana kawan menjadi musuh dan musuh menjadi kawan di prison break pas tiap pergantian season, kayak ironi gimana peter parker harus menyembunyikan jati dirinya dari sahabatnya sendiri–harry osborne–karena si harry salah paham ngira spiderman bunuh bokapnya, kayak ironi gimana Teabing ngirimin hadiah patung antik ke Jacques Sauniere yang ternyata digunakan buat mengintai (eniwei gw lebih suka plot DVC daripada angels and demons :P ).

ya itu lha, betapapun suatu plot ditulis dengan rapi dan sarat intrik, kalo cuma dipaparkan begitu saja ke pembaca tanpa adanya ‘pesan terselubung’ supaya kita bisa menebak2 jalan ceritanya ke depan bakal kayak gimana, bagi gw plot itu standar aja.

dan gw juga mengharapkan suatu penyelesaian konflik yang memuaskan (atau setidaknya kreatif/tak disangka2). Kalo konflik finalnya ttg suatu perang akbar atau ‘final fight’, kumohon jangan bikin klimaks pertempuran ala RPG di mana antagonis/si biang konflik bakal ditaklukkan dengan kekuatan bulannya si protagonis(udah kek sailormoon :D ). kalopun terpaksa pake formula gitu, sajikanlah dengan gaya yang ‘gak biasa’. maksud gw, ciptakanlah suatu kondisi/result yang sama sekali gak bakalan diperkirakan oleh pembaca. daripada bikin ending vulgar di mana si antagonis tewas mengenaskah dengan kondisi berdarah2 setelah kalah bertarung, gw lebih prefer kondisi2 laennya yg mengandung ironi kayak si antagonis jadi ‘kecele’, atau ‘malu’, atau something yg lebih worthed untuk kejahatannya daripada ‘cuma’ kena vonis mati.
ah susah jelasinnya, konflik final lemures gw beginipun buat buku pertamanya :-[, biar om Pur yang menilai segimana level ancurnya :D
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 25, 2008, 01:51:17 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:57:54 pm
@om pur,
wah rekayasa genetika, daku dulu pernah jajal coba bikin thriller temanya gini juga, tapi gagal di tengah jalan karena kurang modal riset, kurang modal wawasan dan referensi pulak. (tapi bakalan seru tuh kalo jadi, idenya sih ttg orang2 yg punya skill telekinetik, skill pyrokinesis, anak2 indigo)

Kalo ngomongin rekayasa genetika, memang ga boleh assal, sebabnya biarpun riset mengenai pengaruh gen terhadap manusia belum terkupas habis (masih banyak misteri), tapi tetep aja ada batasan-batasan yang harus diperhatikan dalam membuat spekulasi mengenai fiksi-fiksi genetikaiyah :) . Contohnya, berkat rekayasa genetik, seseorang bisa terbang kayak gatotkaca, atau bisa nembus tembok, atau telekinesis (kayak-kayak pelem heroes).
Well, apakah mungkin sistem genetik mempengaruhi sesuatu yg ngga ada kaitannya sama fisiologi tubuh? Sebab cara kerja gen adalah memberi informasi (blueprint) kepada sistem sel, untuk kemudian sistem sel membelah diri (berkembang) memenuhi fungsi tertentu (membentuk jantung, membentuk otot, dll). Artinya kemampuan ekstra apapun yang dimiliki manusia tersebut harus bisa dijelaskan pertama-tama dari kemampuan level cellularnya dulu.
Misalnya mo pake plot rekayasa genetik yang menyebabkan seseorang menjadi ekstra genius, itu mungkin, sebab genius adalah fungsi dari sel-sel otak. Tapi kalo rekayasa genetik supaya bisa terbang kayak gatot kaca atau Nathan Petrelli (Heroes), ya harus jelas dulu aspek apa dalam sel manusia yang bisa bikin manusia (mampu) terbang? Kalo menurut gue, paling banter orang tumbuh sayap dulu, baru bisa terbang berkat rekayasa genetika. :)

Quote
bikin novel sci fi jauh lebih menguras tenaga daripada bikin novel fantasi, in my experience :D

he he he,.. it's a matter of akses. Kalo lo punya akses ke data-data ilmiah yang tepat, maka sesungguhnya bikin sci-fi itu relatif lebih ringan dibanding fantasy. Soalnya lo punya basis logika yang jauh lebih terbackup oleh dunia ilmiah yg ada, yang di setiap sudut udah saling mengcover. Beda dengan dunia fantasy dimana elo hrs bisa cover all the bases sendiri.

Quote
idealnya, yang disebut 'fiksi ilmiah' itu yg kek gimana sih bos? apakah yg cuma bertaburan istilah2 ilmiah di seisi novel, atau yg mengandung hipotesis2 rumit/kreatif ttg bidang ilmiah yg digarapnya? atau yg cuma sekedar 'imajinasi liar' kayak tentang orang kawin silang ama kuda mentek jadi centaur, gitu? ???

fiksi ilmiah itu kan awalnya muncul dari literacy di kalangan akademisi, yg memasukkan unsur-unsur science dalam plot novel. Perbedaannya dengan sebuah karya ilmiah, adalah dalam fiksi ilmiah tidak diperlukan suatu sistematika untuk terjadinya pembuktian hipotesis. Dengan demikian fiksi ilmiah biasanya menerapkan sebuah teori atau spekulasi yang sudah diakui secara akademik dalam sebuah plot cerita. Sementara kalo skripsi/ thesis kan penuh pertanggung-jawaban ilmiah untuk mengatakan bahwa hipotesa nol tidak terbukti (hehehe, inget skripsi jaman dulu, bo!)
Kalo mo bicara fiksi ilmiah yg murni, gue rasa adalah karya-karya yang hanya 'kena' di pikiran para profesor2 itu :) Lha sekarang kan ada fiksi ilmiah populer, untuk orang kebanyakan :P Di sini sebetulnya pengarang menceritakan sebuah cerita biasa, namun dibumbui oleh teori-teori ilmiah.
Tapi yang jelas, walaupun niatnya bikin fiksi ilmiah populer, tetep aja pengarang jangan sampai terlalu ngawur membuat spekulasi. Seperti kawin silang manusia sama kuda jadi centaur [hammer]. Kalau menurut gue, setidaknya pengarang harus bisa membuat penjelasan yang masuk akal secara ilmiah untuk fenomena-fenomena yang ditulisnya itu.

(BTW, gue udah kelar baca Lemures, dan kalau angle ilmiah yang dikeluarin oleh tokoh Guillarde itu bener-bener sesuai text book, gue rasa novel elo juga cukup pantas di sebut fiksi ilmiah, terutama untuk sisi ilmu biologi-nya :)

Quote
biar om Pur yang menilai segimana level ancurnya :D

ancur??? sebenernya sih, sebuah cerita yg mengasyikkan. tapi memang perlu diulik-ulik lagi. masukannya menyusul, deh.
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on June 25, 2008, 02:07:16 pm
________________________________________
@om pur,
bused cepet banged, udah kek penerbit jogya yg nolak naskah gw dalam 10 hari, keren :-X
yg paling bikin ane miris buat style plot lemures itu terlalu stereotip fellowship of the ring–mungkin ini yg paling bikin lemures dipandang tak layak terbit.. (walaupun di cerita sama sekali gak pake sihir, gak pake orc, gak pake elf, gak pake dwarf), kira2 ada ide gak om gimana caranya biar gak terlalu LOtR?
terus terang waktu pertama kali nulis (3thn lalu) ane lg tergila2 ama epik LOtR, maka berujung kerangka lemures lotr banged gitu.. duh jadi frustasi.
oke ditunggu bayaran dari ente bos, gak terima ‘duid recehan’ pokoknya ane! [biggrin]

@fred,
gw udah pernah nyoba pake formula yg lu sebutin itu, tapi kayaknya jadi berkesan agak bertele2 padahal maunya penerbit kan cuma tauk isi cerita dan jalinan plot dalam buku itu kek gimana..
terus ada juga formula yg nyuruh nyebutin keunggulan kompetitif isi novel kita itu apa aja, kalo gini kan gw bingung: apa yg gw anggap unggul belum tentu unggul bagi org laen.. gaya bahasa yg ribed itu contohnya. di k.com menuai compliment, disini menuai makian :-\
mana tauk gw selera orang :P
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 09:01:00 am
________________________________________
@Bloodsin
Quote
dan gw juga mengharapkan suatu penyelesaian konflik yang memuaskan (atau setidaknya kreatif/tak disangka2). Kalo konflik finalnya ttg suatu perang akbar atau ‘final fight’, kumohon jangan bikin klimaks pertempuran ala RPG di mana antagonis/si biang konflik bakal ditaklukkan dengan kekuatan bulannya si protagonis(udah kek sailormoon ). kalopun terpaksa pake formula gitu, sajikanlah dengan gaya yang ‘gak biasa’. maksud gw, ciptakanlah suatu kondisi/result yang sama sekali gak bakalan diperkirakan oleh pembaca. daripada bikin ending vulgar di mana si antagonis tewas mengenaskah dengan kondisi berdarah2 setelah kalah bertarung, gw lebih prefer kondisi2 laennya yg mengandung ironi kayak si antagonis jadi ‘kecele’, atau ‘malu’, atau something yg lebih worthed untuk kejahatannya daripada ‘cuma’ kena vonis mati.

Ending yang bagus dan bikin greget itu seperti apa yah?
Apa yang difinish secara tuntas setuntas2nya ampe ceritain masa depan tokohnya udah hidup dengan dmai dan happy ending?
Apa ky film horor yang pada akhirnya hantu/masalahnya ga pernah mati, dan tetap merajalela?
Atau lo demen tuh ama ending2 yang memancing teriakan kesel penonton? Contoh versi acceptablenya ky Hunterxhunter greed Island final dimana pada akhirnya Gon-nya ga jelas ketemu bapaknya atau org lain. (yg belakangan gw baca komiknya ternyata bukan bapaknya). Sampai ke yang bikin orang maki2 karena sudah ngalemin segitu banyak petualangan, ngumpulin puluhan artifak, sampai akhirnya karakter kuncinya dengan entengnya bilang ” ini semua tak pernah terjadi, hanya mimpi” *anjriitt ngeselin banget*
So? exactly what kind of ending did you wish for?
________________________________________
Post by: BloodSin on June 26, 2008, 10:28:29 am
________________________________________
@om pur,
Quote
Yg bilang kayak Fellowship LOTR siapa, tuh?

Menurut gue sih, malah lebih ke arah adventure ala Indiana Jones. What do you think?
frame ceritanya yg terlalu LOtR: perjalanan serombongan orang untuk membuang/mendapatkan benda tertentu dalam rangka menyelamatkan dunia…. (see? sekarang baru nyadar kan LOtR banged(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))
kalo spirit sih emang indiana jones, heheheh :D
‘fisik’ dari ceritanyalah yg ane pusingin, sama kayak si Jeff yg lagi berjuang ngapus style RPN dalam novelnya.

dan itu, aroma ‘fiksi ilmiah’ dan gaya ‘spiritual’ dalam Lemures, ane bikin bukan buat sok pamer ilmu biologi dan berfilosopi ria, tapi semata2 cuma buat meng-kover frame fellowship LOtR-nya, mengalihkan pikiran pembaca biar gak memvonis lemures terjebak sterotip penulis indo kebanyakan (yg entah bergaya harpot, narnia, atau LOtR), entah siasat ini berhasil apa kagak. ah eniwei, ane mau nanya, apa ada cerita laen yg punya format LOtR gini selain LOtR sendiri dan game2 RPG?
kalo Eragon, journey-nya dilatarbelakangi dendam.
kalo Narnia, journey-nya gara2 kejebak dalam dunia paralel.
kalo Ledgard, journey-nya buat menghimpun kekuatan pasukan perang.
nah… kalo Skinheald-nya Ataka, kaya gimana tuh?

Quote
OK, mumpung elo mention, gue pengen informasi dari elo, lemures ini kira-kira mau diposisikan sebagai cerita dewasa atau remaja? Menurut gue dalam ramuan plotnya yang sekarang lemures lebih cocok novel remaja. Tapi kalo elo berambisi untuk membuat kompleksitas konfliknya lebih ‘dalem’, maka segmennya jadi agak naik menjadi dewasa/ muda.
Yg elo tuju yang utama yg mana? Nanti terkait sama masukan gue, sih. more or less.

segmen pembacanya sih niatnya remaja ke atas (>14 tahun), mencakup dewasa muda (25-30an), kira2 anak smp bakal ‘dapet’ gak yah baca Lemures (apalagi selewat bab 1-2 :-X)? maksudnya, bukan ‘dapet’ isi ceritanya, tapi pesan2 dalam ceritanya. apakah gak terlalu berat buat mereka part tentang ‘petunjuk semesta’ itu?
karena tema utama dalam lemures bukan lagi sihir dan pertarungan antara good vs evil, dan remaja biasanya lebih terpikat ke cerita2 yg lebih imajinatif semacam harpot, yg jelas2 menekankan tema good vs evil. tema kayak biologi dan ekologi itu misalnya, nyambungkah ke pemahaman pembaca remaja yang bahkan baru diajarin begituan di sekolah? :D
sebaliknya kalo buat dewasa muda, apakah 2 karakter protagonis utamanya (Larke–16thn & Fly–19thn) terlalu ‘kemudaan’? padahal tema2 dalam dialog mereka udah ane pikirin sedemikian rupa supaya gak terlalu berkesan remajaish, tapi emang cenderung lebih enteng daripada dialog Levantine, Kain, & Guillarde.
atau semestinya, background cerita kudu dibikin lebih suram & darkish kayak Pans Labiryn yak? Pans Labirin itu kayaknya nempel di dewasa muda cuma gara2 unsur kesadisannya doank, padahal kalo mau diliat dari segi cerita mah, kagak rumit2 amat. tokoh utamanya pun perempuan cilik.
menurut ane kompleksitas cerita pun masih bukan tolak ukur buat menentukan segmen pembaca. selama ini ane malah lebih berpegang ke tema cerita dan gaya dialog.

kalo ente pernah nonton naruto, pasti paham deh kalimat ane di atas (btw ane prihatin banged hari minggu kemaren ngeliat bocah balita pake kaos Naruto T_____T–padahal kompleksitas plot naruto bahkan 3x lipet rumitnya dari lemures :D )

yah… ane tunggu tanggepan ente dah, sekalian jawab 2 pertanyaan kontradiktif ini (huahahah ;D) buat masukan nanti:
1. mana bagian dalam lemures yg ngebikin dia lebih cocok buat remaja? (selain kompleksitas ceritanya yg cenderung ‘enteng’ itu)
2. mana bagian dalam lemures yg udah pas kalo emang niatnya ditujukan buat dewasa muda?
bikin review-nya nyantei aja bos, dipersilakan buat bersemedi dulu kayak waktu bahas prolog kemaren, biar mantap punya hasilnya [thumbsup]

note:
thank u for reading anyway [biggrin], tak menyangka lemures bisa dilumat secepet itu, padahal sudah teruji tak layak baca (4x) di mata penerbit :-X
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: cheppy70 on June 26, 2008, 11:11:00 am
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 09:01:00 am
Sampai ke yang bikin orang maki2 karena sudah ngalemin segitu banyak petualangan, ngumpulin puluhan artifak, sampai akhirnya karakter kuncinya dengan entengnya bilang ” ini semua tak pernah terjadi, hanya mimpi” *anjriitt ngeselin banget*

Grrrrr,… kalo sampe berani-beraninya elo bikin yg kayak gini, gue tuemmbbaak! [ranting]
;D ;D ;D

Quote
So? exactly what kind of ending did you wish for?

Ending yang membuat gue merasa waktu yg sudah gue luangkan untuk membaca is worth it.
Dan itu biasanya gue dapatkan dari bangunan universe yang kukuh solid, plot yang tertata masuk akal serta mampu membawa emosi gue dalam sebuah joy ride, dan ‘manfaat intrinsink’ yg mungkin terinspirasikan oleh cerita tersebut.
Salam,
FA PUrawan
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 11:30:04 am
________________________________________
hehe… banyak tuh penulis anime yang bisa om tembak :D
Code geass aja rasanya pengen gw tembak waktu dia mengakhiri season 1 nya ditengah2 action 2 org sahabat sekaligus rival saling tembak. Anjriittt.. ga sopan banget motong ceritanya >.<

Quote
Ending yang membuat gue merasa waktu yg sudah gue luangkan untuk membaca is worth it.
Dan itu biasanya gue dapatkan dari bangunan universe yang kukuh solid, plot yang tertata masuk akal serta mampu membawa emosi gue dalam sebuah joy ride, dan ‘manfaat intrinsink’ yg mungkin terinspirasikan oleh cerita tersebut.

kl gw pribadi sih lebih seneng ending yang bener2 settle down, biar ga ada perasaan ngeganjel. Tapi happy ending sampe ke anak cucu udah ga jaman. Ending ngegantung juga ngeselin. Gw sendiri mungkin bakal bikin ending2 ala gundam seed. (feeling yang mirip). settle pada point dimana mereka sadar perang yang mereka lakukan bertahun2 ga ada artinya. Ending samurai 7 juga aga miris nontonnya dan gw cukup suka ending seperti itu. Dimana si katsushiro yg awalnya anak baik2 maksa pengen ikut perang dan pada akhirnya jadi samurai hebat cuman udah ga ada tampang bahagiannya lagi. dia ngucapin “can you smell the scent of war from me now?” dgn tatapan kosong gt, keren gw suka walau ga special2 amat.
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 26, 2008, 11:58:30 am
________________________________________
Quote
dan itu, aroma ‘fiksi ilmiah’ dan gaya ‘spiritual’ dalam Lemures, ane bikin bukan buat sok pamer ilmu biologi dan berfilosopi ria, tapi semata2 cuma buat meng-kover frame fellowship LOtR-nya, mengalihkan pikiran pembaca biar gak memvonis lemures terjebak sterotip penulis indo kebanyakan (yg entah bergaya harpot, narnia, atau LOtR), entah siasat ini berhasil apa kagak.

Sebenernya penyisipan biologi adalah satu langkah yang baik untuk memberikan warna dan keunikan dalam cerita elo. Tapi buat gue tetap ada ganjalan ketika istilah yg elo gunakan adalah istilah-istilah nama latin standar, sementara gue belum bisa menemukan kaitan universe elo dengan universe standar bumi.
Untuk nuansa ‘spiritual’, hehehe, jujur aja gue sendiri baru-baru ini memasukkan hal yang sama ke dalam PG! Pas gue baca insightnya si Larke tentang bunga2 Hypnolia dama Cemara Tua itu, gue jadi ngakak! Ternyata vibrasi kita sama, tuh Rey :) Gak heran kalau alam semesta mempertemukan kita (busyet, spiritual banget dah!).

Quote
ah eniwei, ane mau nanya, apa ada cerita laen yg punya format LOtR gini selain LOtR sendiri dan game2 RPG?
kalo Eragon, journey-nya dilatarbelakangi dendam.
kalo Narnia, journey-nya gara2 kejebak dalam dunia paralel.
kalo Ledgard, journey-nya buat menghimpun kekuatan pasukan perang.
nah… kalo Skinheald-nya Ataka, kaya gimana tuh?

Skinheald ya tentang perburuan pedang Skinheald di bukit apa gitu. Sama aja dengan setting elo, sebenernya.
Sebenernya sih, seni journey novel itu kan terletak pada komposisi party yang berangkat di awal, dan bagaimana komposisi itu berinteraksi selama perjalanan. Drama antar karakter yang terjadi apa, dan perkembangan karakternya bagaimana sebagai akibat dari interaksi dan petualangan itu. Nah aspek pengembangan karakter ini, nih, kayaknya masih banyak yg belum mengolah. Kulihat kebanyakan tokoh, antara awal dan akhir cerita karakternya masih sama aja, paling cuma ada sedikit pengembangan. Di lemures kecenderungannya juga masih begitu.

Kalo di LOTR, setiap karakter nyaris berubah total. Kalo gak salah inget, Frodo menjadi lebih memahami tujuan hidup dan perilaku Bilbo (sehingga relasinya dengan Bilbo menjadi lebih baik), Sam memahami arti pengabdian seutuhnya, Merry berubah menjadi lebih wise dan mendalami kepemimpinan, kalo ga salah kan kelak dia menjadi pemimpin Shire, dan Pippin menjadi salah satu ksatria Gondor (kayaknya ada peran lebih, tapi gue lupa).
Tapi perubahan klasik yang paling sering diberlakukan terhadap karakter-karakter utama, adalah ‘mengalahkan own demon’, alias mengatasi kelemahan diri sendiri. Contohnya si Aragorn yang berhasil mengalahkan keraguan dirinya dan tampil sebagai Raja Gondor sejati.
Jadi plotting dalam journey novel ini seyogyanya berpedoman pada proses pembentukan karakter para tokoh tersebut. Makanya kalau lihat sebuah novel journey yang cuma ada berangkatnya kemudian ada sampai di tujuan lalu selesai, akan terasa ga ada gregetnya.

Quote
karena tema utama dalam lemures bukan lagi sihir dan pertarungan antara good vs evil, dan remaja biasanya lebih terpikat ke cerita2 yg lebih imajinatif semacam harpot, yg jelas2 menekankan tema good vs evil. tema kayak biologi dan ekologi itu misalnya, nyambungkah ke pemahaman pembaca remaja yang bahkan baru diajarin begituan di sekolah? :D
Jadi tema utamanya apa? Gue jg belum nangkep loh :P

Quote
menurut ane kompleksitas cerita pun masih bukan tolak ukur buat menentukan segmen pembaca. selama ini ane malah lebih berpegang ke tema cerita dan gaya dialog.
Maksud gue dengan kompleksitas adalah jalin menjalin plot yang berseliweran untuk membangun cerita. Semakin kompleks, semakin dalem motifnya, tentunya menjadi menu pembaca yang lebih dewasa. Kalo di lemures, plottingnya belum terlampau kompleks juga, walau gue merasakan bahwa elo akan membawanya menjadi lebih kompleks dalam sekuel-sekuelnya.

Quote
1. mana bagian dalam lemures yg ngebikin dia lebih cocok buat remaja? (selain kompleksitas ceritanya yg cenderung ‘enteng’ itu)

Well, motivasi grup berangkat hanya untuk sebilah busur, faktor-faktor alami yang menghalangi perjalanan, ‘singkatnya’ perjalanan, problem solving, komposisi tokoh yang ‘a-seksual’,

Quote
2. mana bagian dalam lemures yg udah pas kalo emang niatnya ditujukan buat dewasa muda?

Konflik politik, setting peperangan, plotting penculikan dll serta misteri dibelakangnya, siapa aja yang bermain, tokoh Esther sebagai femme-fatale

Quote
thank u for reading anyway [biggrin], tak menyangka lemures bisa dilumat secepet itu, padahal sudah teruji tak layak baca (4x) di mata penerbit :-X

menurut gue sih (perkiraan), ketidak layakan terbit nya lemures bukan karena gak layak baca, melainkan opening yang kurang menjual, serta gaya bahasa yang juga kurang menjual, serta kurang tegasnya tema yang mau dipropose oleh pengarang.
More on this, later deh.
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on June 26, 2008, 02:35:41 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 09:01:00 am
Ending yang bagus dan bikin greget itu seperti apa yah?

ending yg bagus itu relatif bagi tiap pembaca. kebanyakan pembaca lebih suka ama good ending: tokoh utamanya jadi raja atau kawin sama puteri jelita atau hidup bahagia selamanya. wajar sih, gw juga lumayan suka, asal eksekusinya gak klise.
tapi berhubung lu nanya ke gw, maka akan gw jawab berdasarkan selera pribadi gw :P

bagi gw, ending yg bagus itu adalah ending yang bisa ngebikin pembaca merasakan suatu sensasi bunyi “Klop” di benaknya waktu ngebaca kalimat terakhir cerita. Ibaratnya, bunyi dari sebuah kunci yang dipake buat ngebuka peti harta karun. Cerita itu tepat diakhiri ketika peti hartanya hendak dibuka. Jadi nantinya, bukan pengarang yg cape2 mendeskripsikan kayak gimana wujud harta karun itu, tapi imajinasi sang pembaca sendiri.
Atau kalo kagak, ending yg bisa membawa pembawa pada suatu level pemahaman tertinggi atas jalinan plot di sekujur tubuh buku. (Jenis ending ini biasanya ngebikin pembaca berkomentar semacam: “Oh, ternyata selama ini begitu toh! Pantesan aja selama ini dia demen ngupil, blablabla…”) Nah, Da Vinci Code boleh jadi contoh.
Atau kalo kagak, ending yg bisa memancing spekulasi, kayak Life of Pi.
Atau kalo kagak, ending yg bisa ngebikin pembaca nyengir lebar, kayak Laskar Pelangi.
Atau mungkin, ending yg bisa ngebikin hati pembacanya getir kayak Sang Penandai?
Sekali lagi, ini relatif. ^-^
________________________________________
Post by: BloodSin on June 26, 2008, 10:49:05 pm
________________________________________
@om pur,
Quote
Maksud elo dari fisik cerita itu apa bisa diperjelas? Maksudnya gaya berceritanya, penggunaan bahasanya kah, etc?

fisik ceritanya ya stereotip tema journey-nya itu. ah tapi semenjak ente bilang frame kayak begini emang udah bentuk umum, ane jadi cukup lega, walaupun ane juga cuman bisa pasrah kalo ada penerbit yg pake alesan ‘frame klise’ kayak begitu buat nolak lemures..

Quote
Sebenernya penyisipan biologi adalah satu langkah yang baik untuk memberikan warna dan keunikan dalam cerita elo. Tapi buat gue tetap ada ganjalan ketika istilah yg elo gunakan adalah istilah-istilah nama latin standar, sementara gue belum bisa menemukan kaitan universe elo dengan universe standar bumi.

;D ;D ;D
berani taroan, apalagi kalo si fred yg baca beginian, pasti dia udah ngamuk protes jaman ancient lemures gitu mana udah ada istilah2 latinnya, secara penemu istilahnya aja belum lahir.. :D (era lemuria itu sekitar 20 juta tahun yg lalu di bumi)
terus ada juga bagian Guillarde nyebut ‘sekolah’, jaman batu gitu mana ada sekolahan ;D

begini, untuk kasus ‘logical mess’ yg satu ini, gw lebih menekankan pengetahuan bawah sadar pembaca buat hal-hal umum/spesifik yg udah lama terpatri di otaknya, misalnya ya istilah2 latin itu (setidaknya mereka pernah denger istilah2 latin itu waktu smp/sma, dan bisa segera tahu kalau di situ gw lebih merujuk ke pembahasan ilmiahnya, daripada ke dunia imajinasi lemures gw). masak gw harus satu-satu mengkonvert istilah latin itu ke istilah ciptaan gw sendiri sih? kan gak mungkin, lagian gw pikir pembaca juga seharusnya udah bisa ‘memaklumi’ sewajar-wajarnya dengan sendirinya.
kalo gak salah Tolkien bahkan ada nyebut kata ‘Natal’(dari Christmas) di buku pertama LOtR, padahal kalo mau dipikir2 istilah itu gak mungkin banged bisa ada di dunia LOtR.. tapi ya itu lha, kata ‘Natal’ udah terlanjur terpatri kuat di masyarakat Barat sebagai suatu tradisi keluarga yang mendarah daging, jadi Tolkien berani ngambil istilah itu buat dimasukkin ke LOtR. di bukunya, gw kira Tolkien lebih memposisikan ‘Natal’ sebagai suatu ‘istilah’ tradisi, bukan merujuk ke kelahiran Isa Almasih.
dan contoh lain, bisa liat film AAC, di mana ada dialog Maria dan ibunya (dalam keadaan privasi) pake bahasa indo, padahal mereka diceritakan sebagai orang Mesir.
disinilah yg namanya ‘pemakluman’ dari pembaca/penonton diminta oleh sang author, demi kemudahan memahami cerita seutuhnya.

Well, prinsip yang sama gw coba terapkan untuk pembahasan fenomena-fenomena ilmiah di Lemures; gw menempatkan istilah latin itu ya cuma sebagai ‘istilah’ aja, tanpa perlu memusingkan bagaimana latar belakang istilah itu di dunia kita.
nah, prinsip pemanfaatan bawah sadar pembaca (di mana akan memicu terbentuknya suatu pemakluman) ini juga gw terapkan buat culture dan naming French, West, dan Hebrew di Lemures.

Quote
Drama antar karakter yang terjadi apa, dan perkembangan karakternya bagaimana sebagai akibat dari interaksi dan petualangan itu. Nah aspek pengembangan karakter ini, nih, kayaknya masih banyak yg belum mengolah. Kulihat kebanyakan tokoh, antara awal dan akhir cerita karakternya masih sama aja, paling cuma ada sedikit pengembangan. Di lemures kecenderungannya juga masih begitu.

justru hal di atas itu kulakukan demi menjaga konsistensi sifat tokoh2nya, setidaknya hingga akhir buku satu. well, ane ngerti sih apa poin ente, makanya ane juga ada sengaja nulis beberapa paragraf ttg perenungan batin ‘si bocah’ mengenai petunjuk semesta itu, walau singkat. di bagian itu, ane emang bikin seolah2 dia baru ‘ngebuka’ matanya, dan kujanjikan sedikit-banyak perkembangan dirinya bakal mulai terlihat di sekuelnya. :)

Quote
Jadi tema utamanya apa? Gue jg belum nangkep loh

Tema utamanya yak apa yang menjadi quote utama buku:
There’s a hope in a journey, there I would place my struggle.(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)

Quote
Well, motivasi grup berangkat hanya untuk sebilah busur, faktor-faktor alami yang menghalangi perjalanan, ‘singkatnya’ perjalanan, problem solving, komposisi tokoh yang ‘a-seksual’,
Konflik politik, setting peperangan, plotting penculikan dll serta misteri dibelakangnya, siapa aja yang bermain, tokoh Esther sebagai femme-fatale

walah, kayaknya faktor2 penentu sasaran baca di atas cenderung berimbang, so i’ll simply let the public decide by theirselve (kalo terbit dan beredar di masyarakat nantinya–sekali lagi, kalo terbit :P )..

Quote
menurut gue sih (perkiraan), ketidak layakan terbit nya lemures bukan karena gak layak baca, melainkan opening yang kurang menjual, serta gaya bahasa yang juga kurang menjual, serta kurang tegasnya tema yang mau dipropose oleh pengarang.

gaya bahasa udah rapi jali, dan singkat jelas padat begitu masih kurang menjual(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)
ah pusing……
tema utama ceritanya emang rada2 absurd :D , kuakui itu, gak kayak LOtR yg simple2 aja: perjalanan buat memusnahkan cincin.
bah! tapi bukannya novel fantasi indo kebanyakan yg udah terbit pun punya tema cerita yg cenderung absurd?
(tapi eniwei mungkin inilah konsekuensi untuk novel yg terlalu banyak pake tema–epik petualangan, sci-fi, spiritual, dan sedikit romance(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/bolakbalik.gif))

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XVI (19 Jun 2008 – 21 Jun 2008)

  • Tentang draft Lemures karya BloodSin

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 19, 2008, 08:40:37 am
________________________________________
lemurianya sama kan ky yg di k.com?
yah komen gw masi sama, opening yang menggunakan kata ‘sang perawan’ trus ada ‘bibir kapak bertemu lidah pedang’ yang bikin gw ngakak bayangin aneh2 XD
Soal kesan RPN, engga terasa sama sekali, gw cuma minta lo ganti istilah bak supernova yang mengganggu itu. Btw jangan2 ceritanya ada semacam makhluk kegelapan terlepas dari segel trus hanya lima pendekar roh dalam legenda yang bisa segel dia kembali ? (kesan awal pas baca kebayangnya hal klise semacam ini yang akan membuat ceritanya berubah total ke arah RPN yang tipikal, correct me if I’m wrong)
Trus bahasanya puitis penuh metafora… btw musafir itu apa yah? Trus pada bilang ini cerita legenda Atlantis? Jadi ini cerita original atau mau remake legenda lama yg udah ada? Soalnya gw ga tau sama sekali tentang legenda atlantis.
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 10:20:20 am
________________________________________
Rey, comment-nya gw kirim aja ke e-mail ya, soalnya agak2 jahat… [biggrin]
Tapi, jujur, bukan karena dendam, lho! ;D
Btw, jadi sebenernya “Lemures” itu maksudnya apaan? Koq prolog-nya beda banget sama cuplikan yang waktu itu? Beneran, kayak 2 cerita yang beda sama sekali…
________________________________________
Post by: BloodSin on June 19, 2008, 02:04:54 pm
________________________________________
@jeff,
yap, prolognya masih sama, overall. :P
‘Lima Pendekar Roh’-nya udah gw ganti jadi ‘Lima Pendekar Arwah’ semalem. Kedenger lebih keren, somehow. *tiba2 jadi kepikiran Lima Pendekar Garuda-nya om Pur(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)*
dan sialnya gw belom nemuin metafora lain yg pas buat bunyi benturan dahsyat selain ledakan nova itu.. :’( ada yg bisa membantu? tapi kenapa sih lu bisa berpikiran ledakan supernova gak nyambung ama setting cerita? bagi gw nyambung2 aja ah.. :D
mahkluk kegelapan? ahahahah, lu tauk lha secara gw ini ‘berpakem realistis’, hal2 picis macam setan kegelapan, magic, konsep ‘titisan’, penyihir, monster yang bisa ngomong, gak bakalan ada di kamus gw. (kecuali di Tangerine (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))
alih2 menyajikan imajinasi fantasi liar yg ‘wah’, gw lebih mengandalkan dukungan riset, kekuatan plot, gaya bahasa, dan karakterisasi buat ngebikin pembaca takjub. yah.. setidaknya itulah yg kuusahakan sejauh ini, entah berhasil ato tidak pada kenyataannya.
eniwei serius jeff, lu gak tauk ‘musafir’ itu apaan(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif) Subhanallah, Gusti Allah-ku…

Quote
Trus pada bilang ini cerita legenda Atlantis? Jadi ini cerita original atau mau remake legenda lama yg udah ada? Soalnya gw ga tau sama sekali tentang legenda atlantis.

gw pake setting benua Lemuria (yg belakangan gw samarkan dengan ‘Lemures’–biar gak terlalu ‘picis’ :D ), dan ini sama sekali bukan remake legenda yg udah ada. gw cuma ngadop setting Lemuria itu, karena gw mau bikin cerita fantasi yg setting-nya daratan tropis. eniwei, ketik aja ‘Lemuria’ di google, dan liat brp banyak halaman yg muncul. :)

@fred,
ahahah beda yak? maksud lu gaya bahasanya kali yg beda? gw sih nyesuain gaya bahasa-nya tergantung lg kayak gimana adegannya.. kalo adegan biasa yg gak bakal gw bikin terlalu berbunga2 kayak di prolog..
komen begitu mah biasa aja bagi gw, gw pernah (cukup sering, malah ;D) ngalamin ‘neraka’ yang jauh lebih panas dari itu. [biggrin]
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 19, 2008, 02:15:30 pm
________________________________________
ah maaf kang Musafir Loki. Aku tidak mendalami ajaranmu… jadinya tidak tahu… kl gw tebak2 sih artinya sejenis crusader? hehe…
Btw, bak supernova, apakah dunia dalam Lumures mu itu org2nya familiar dgn kata itu? Peradaban dunia ini sudah sampai ke level mana? Jadi bahasa narasi juga harus disesuaikan dgn dunianya, atau paling tidak bayangkan salah satu karakter dalam dunia seperti itu berkata supernova. apakah terasa aneh? kl engga ya udah lanjutkan aja. Tp tiap gw baca pasti kesandung di supernova itu mulu huahua.
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 02:29:19 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 19, 2008, 02:04:54 pm
komen begitu mah biasa aja bagi gw, gw pernah (cukup sering, malah ;D) ngalamin ‘neraka’ yang jauh lebih panas dari itu. [biggrin]

Yaelah, rupanya udah sering terima komen “neraka”…
Pertanyaan besarnya adalah: Dikau mendengarkan gak komen2 itu? [hammer]
Komen2 itu sih memang bukan keharusan untuk diturutin, tapi, rey, komen2 itu sebenernya datangnya dari calon2 pembaca (bukan penulis, lho! ;) ).
Minimal, jadikan komen2 itu sebagai bahan analisis, bahan telaah, bahan riset.
Kalau ada orang yang protes, itu ya pendapat jujur (berhubung gw orang yang suka protes ;D).
Kalau gak ada masalah, buat apa protes kan?
Lain halnya kalau muji, karena kalau muji tanpa alasan, berarti ada maunya. [bigwink]
________________________________________
Post by: BloodSin on June 19, 2008, 02:37:40 pm
________________________________________
kan gw lagian juga kagak minta compliment elu fred, lu baca dah di pengantar email kiriman gw itu, malah gw mohon2 makian ama kritik kejam disitu.. [hammer]
gw bosen ama pujian (halah dah kek sering dipuji aja.. ;D) tidak menggairahkan lagi semenjak gw berubah jadi orang yg ‘realisitis’. ^-^
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 02:41:30 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 19, 2008, 02:37:40 pm
kan gw lagian juga kagak minta compliment elu fred, lu baca dah di pengantar email kiriman gw itu, malah gw mohon2 makian ama kritik kejam disitu.. [hammer]

True. Dan dikau mendapatkannya, bukan? ;D
Rey, koq malah jadi bangga sih nerima kritikan? Bad habit! [hammer]
Oya, gw juga kirim reply ke e-mail.
________________________________________
Post by: BloodSin on June 19, 2008, 02:46:02 pm
________________________________________
iye, gw dah buka word-nya TQ dah udah memaki secara mendetail gitu. gw seneng. [biggrin]
tapi somehow ada yg berkesan lu buat2 makiannya, payah ah -_-”
yg objektif nape, biar gw juga ngerasanya kena telak :P
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 03:08:45 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 19, 2008, 02:46:02 pm
tapi somehow ada yg berkesan lu buat2 makiannya, payah ah -_-”
yg objektif nape, biar gw juga ngerasanya kena telak :P

Yang mana? ???
Sekali lagi, setiap kali gw komen suatu karya tulis (yang udah terbit atau pun belum), itu adalah komen sebagai seorang pembaca, bukan penulis.
Itulah kerangka penilaian yang gw pake dalam memberikan komentar.
Kenapa begitu?
Pertama, karena gw belum resmi menjadi penulis kalau karya gw sendiri belum terbit. ;)
Kedua, karena seorang penulis harusnya justru merasa lebih senang menerima komen dari seorang pembaca daripada seorang penulis. Ya seperti kata dirimu: obyektifitas. Seburuk2nya cara penilaian pembaca (berhubung gak paham masalah teknis penulisan ini dan itu), mereka selalu memberikan komentar yang jujur terhadap suatu karya. Kalau suka ya suka, enggak ya enggak. [thumbsup]
Nah, sekarang gw dituduh memberikan komentar yang subyektif… :’(
Andaikata memang iya, apa tujuannya coba? Supaya lemures jadi jelek dan gak pernah terbit?
Man, apa gunanya buat gw kalau lemures gak terbit2? [cluebat]
(*merasa terkhianati… aaargh… [refuse]*)

________________________________________
Post by: cheppy70 on June 19, 2008, 03:19:15 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on June 19, 2008, 02:41:30 pm
Rey, koq malah jadi bangga sih nerima kritikan? Bad habit! [hammer]

Memangnya kenapah? Gue juga lebih seneng dapet kritikan dibanding pujian. Kritikan cenderung jujur menyuarakan apa-apa yang masih terasa gak enak, sementara pujian cenderung dicari-cari.
Tapi beda ya, sama penilaian positif, dalam arti serupa pujian tetapi berasal dari evaluasi. Baik kritikan maupun penilaian positif ini sangat berguna buat gue, untuk melihat di mana sih gue udah bener dan dimana gue masih perlu dibenerin,….

@Rey,
Makian sedang disusun. Gue mau konsen dulu,….. wussss,… wussss,…. (cari ilham kiri-kanan). [biggrin]
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 03:28:00 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on June 19, 2008, 03:19:15 pm
Memangnya kenapah? Gue juga lebih seneng dapet kritikan dibanding pujian. Kritikan cenderung jujur menyuarakan apa-apa yang masih terasa gak enak, sementara pujian cenderung dicari-cari.

Ya sama seperti yang gw katakan di atas.
Lagian, om pur, “bangga” sama “seneng” mah beda kali.
Kalau “bangga” itu kesannya udah pasrah (baca: naskah milik gw emang jelek dan gak bisa diselamatin lagi, kalau suka ya bagus, kalau gak ya udah :( ). Itu kesan yang gw tangkep dari kalimat2nya rey…
Gak seru ah, si rey ternyata orangnya sensi-an. [hammer]
Makiannya cabenya jangan banyak2 deh, om pur…

@rey,
gw udah baca entry “lemuria” di wikipedia. Dan ngeliat potensi besar yang bisa diolah dari topik “lemuria” itu sebagai suatu cerita fantasi, gw justru semakin kekeh dengan komen2 gw. Cerita tentang “surga yang hilang” seharusnya pasti menarik, bukan? ???
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on June 19, 2008, 09:38:21 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 19, 2008, 06:23:13 pm

Soal menerima kritik gw juga setuju ama Fred. Kesannya cuma mau sekadar kritikan (baca: cari perhatian) tapi kritikannya ga ada yang didengerin. Sekalipun didengerin, ga ada yang lagsg diterapin.
Peace,
J.K Serpentwitch (ikut2an om Pur, btw initial nya mirip Rowling, JK juga hehe)

Well, chill up, dude 8)
kadang hal itu terjadi karena sang penerima kritik masih belum begitu ngeh maksud konkrit dari pengkritik. Atau, masih mencari-cari cara untuk mengunyah kritik tersebut. Atau ada alasan lain yang sifatnya pribadi.
Setiap orang punya daya sensitivitas yang gak sama, bro. Kadang boro-boro menyimak, menekan tombol scroll down aja udah penuh perjuangan, itu kalo faktor emosi masih kuat melekat. Jangan lupa, dalam seluruh karya kita, kita juga mencurahkan roh emosional kita ke dalamnya. Dan orang butuh kemampuan mengambil jarak terhadap emosi, saat mengunyah kritikan.
Karya itu bagaikan anak. Dan tidak ada orang yang bisa gampang legawa menilai rendah anaknya sendiri, pasti anak gue paling cakep/ cantik/ pandai etc.
Untuk itu, please jangan cepet-cepet menjudge sensitivitas temen-temen lainnya. Kita mesti kembali ke missi. Kita berbaik mengkritik adalah dengan tujuan supportive, jadi mesti bisa juga bantu temen agar mengerti dan menemukan jalannya sendiri untuk meningkatkan performansinya. Ya gak? :)
Ayo kembali improving ourselves!
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on June 20, 2008, 08:41:29 am
________________________________________
Penjelasannya sebenernya begini:
1. Gw kalau nulis sesuatu memang suka mendramatisir (bad habit! [hammer]). Sensi-sensian itu kan becandaan aja, iya kan, rey? ;) Jadi, gw sebenernya ga segitu marah/kecewanya sama rey koq. Karena gimanapun lemuria ya karya milik rey seorang, terserah mau diapain sama dia.
2. Tapi soal kecewa dituduh subyektif sih iya, hehehe [biggrin]. Soalnya rey minta dikritik, trus setelah diberi, gw malah dituduh tidak obyektif… Kan gw merasa telah ditipu! [annoyed]
3. Buat jeff, gw juga gak ngarap orang dikritik langsung berubah. Beneran!
Karena jujur, meskipun diutarakan dengan jujur, suatu kritikan juga sebenernya bisa salah dan berpotensi menyesatkan. Yang gw maksud ke rey adalah supaya dia menelaah/mengkaji lagi kritikan itu. Istilahnya, cari tahulah apakah kritikan gw itu emang bener atau kagak, dan jangan langsung dibuang ke tong sampah. Be critical, that’s the point.
Biar semuanya jelas, gw sebenernya telah mengkritik rey 2 kali: Pertama, tentang prolognya. Kedua, mengkritik karena dia kesannya (sekali lagi, cuma kesan!) bangga menerima kritik, tapi tidak kritis.
Gitu deh…
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 20, 2008, 10:28:40 am
________________________________________
OK Rey, semaleman lebih gue meditasi untuk membahas parkamen yang sudah elo tulis, sekarang Tujuh Dewa Guntur Valenör sudah berbicara, kurasa waktunya sudah tepat untuk menyampaikan makian mereka kepadamu.
Pertama-tama, para Dewa Guntur mohon maap, kompie-nya lagi rusak sehingga tidak bisa kirim email langsung padamu. Pesan mereka padaku, disuruh langsung aja komen di Pulpen, di thread FFDN III yang tersohor itu. BTW, mereka excited banget, lho, bisa ikut menampilkan komen mereka di sini,… 8)
So, apa yang akan dikatakan oleh sang raja biawak?

Gini, ya, temanku yang baik. Raja biawak akan mengevaluasi skrip elo ini dalam dua posisi, satu sebagai karya penulisan, dua sebagai proposal jualan. Untuk yang kedua ini kupikir karena dalam paket yang elo sertakan terlihat bahwa elo memang sudah mempersiapkannya sebagai materi submisi ke penerbit. Antara lain dari pencantuman kontak dan abstrak di dalam daftar isi. Sayangnya gue nggak bisa ikut membaca Sinopsis dan Ringkasan Cerita (BTW dua ini bedanya apa sih?), sekedar siapa tahu ada yg gue bisa bantu dari 2 marketing tools ini.
Tapi mohon dicatat, penilaian gue murni hanya bersandar dari materi prolog yg elo kirim, jadi resiko salahnya cukup besar. Kalo gak tepat mohon dimaapin aja.

Pertama-tama, yang kedua dulu (nah, ribet, kan lo?)
Dalam paket ini gue mendapatkan sebuah halaman judul yang sudah ditata dengan font khusus, sebuah halaman quote, sebuah halaman daftar isi, dan selanjutnya bagian prolog yang entah memang cuman segitu, atau masih ada terusannya.
Penilaian: Membingungkan. :o

Yang bikin bingung apanya? Settingannya, terutama buat body ceritanya. Kenapa elo bikin pakai font Calibri, Rey? Itu jenis font sans seriff, seharusnya kagak dipakai untuk body text yang panjang/ paragraf, hanya bagus untuk dipakai sebagai font judul dan sejenisnya. Kalo elo kirim materi ke penerbit dengan font tersebut, guaranteed, naskah elo udah gak enak dibaca sejak hurup pertama. (cat: Font calibri gak ada di kompie gue, perhaps dia digantikan oleh font lain yang tipenya sans seriff juga.)
Jangan remehkan hal ini, karena impactnya secara psikologik, maupun praktik, akan besar. Naskah elo lebih mudah mendapat penilaian negatif, karena evaluator merasa membacanya capek di mata. Dan itu yg gue alami juga, sehingga akhirnya gue putuskan untuk replace font calibri dengan times new roman dulu, baru gue lalap naskah lo. Untung gue dapet word file.Gimana editor yang cuma terima hardcopy?
Jadi gue bingung, untuk apa elo lakukan itu. Artistik? Kurasa no need for that. Honestly.

Kemudian halaman quote. Frankly, Quote elo ngga enak dibaca (ngga nge-flow), dan ga punya meaning yang jelas. Gue langsung ngebatin, “Apaaaa siiiih?”, (salah satu dewa guntur juga komen, “KAMSUD LOE???”, pake kapital dongs,.. namanya juga dewa!) :P
Kalo menurut gue sih, quote harus bisa menggrip pembaca sejak awal. Gue tahu salah satu seni quoting adalah menampilkan sesuatu yg awalnya ga make sense, tapi kelak akan bertransformasi menjadi make sense setelah pembaca menyelesaikan cerita. Tapi seyogyanya, paling tidak pemilihan kalimatnya megikuti flow yang enak. Kalimat elo gue rasa,… gimana ya? Kayak ngeganjel, gitu.
Kalo menurut gue, sih, mendingan yg di quote itu salah satu frasa prasasti atau apa-lah, yang gue yakin ada di cerita elu, yang akan menghubungkan dunia Lemures lama dengan dunianya Guillarde. Itu akan lebih memikat pembaca dan akan punya fungsi dalam bangunan plot.

Untuk daftar isi, OK banget. Langsung bisa kebayang plotnya dan seru-serunya. Tapi judul “Kelinci dan Golok” kayaknya kurang greget, dan “Rombongan Berjalan” mungkin bisa lebih mantap dibahasakan lain seperti “Ekspedisi anu” atau semacamnya (if it was meant as that).
Trus kalo liat daftar isi dan alokasi halaman, kayaknya pendek Novel mu, ya Rey? Cuma 245 halaman? Apa ga kurang, Rey? Maksud gue apa cerita bisa berkembang cukup bergizi dengan segitu halaman? Ga tau deh. You give me all the stuff, baru gue bisa komen lagi.

Nah itu tadi aspek teknis aja yha,…. Gue harap kalo bagian itu diperbaiki, chance elo untuk mengolkan naskah menjadi lebih baik. At least, elo aman dari hal-hal yang menganggu dan editor bisa lebih fokus pada apa yang harus dia lakukan: mengevaluasi materi cerita.

Sekarang (hold your breath), MATERI CERITA

Well, materi Prolog, anyway.
Dibuka dengan adegan pertarungan (oh, straight to actions, aren’t we?) dengan pemilihan gaya kalimat yang menurut gue,…
Pre-ten-si-us
Sorry.
Menurut gue, gak salah kalo elo mau menggunakan gaya sastraik, atau tepatnya prosa liris (?) dalam paragraf pembuka. Tapi elo harus mahir dulu sebelum menggunakannya, Rey. Dan menurut gue, elo masih harus mengasah keterampilan untuk beberapa waktu dulu (let’s say, 17 tahun? Wakakakakak!!!) [hammer]
Kekurang mahiranmu pun tampak dalam pemilihan kata-kata yang digunakan, baik sebagai perangkai, penjelas maupun sebagai metafora. Ada lho, yang namanya seni pemilihan kata. Jago-jagonya seni ini mampu merasakan kekuatan atau kelemahan suatu kata dalam konteks sastra, dan menempatkannya secara cermat dan tepat. It’s not just about rhyme or sensations, but also about deeper meaning, and the ‘right’ context.
(‘right’ di sini relatif banget, hanya ‘rasa’ dan pengalaman lah yang kelak akan mengatakan mana yang benar dan mana yang salah).

Contoh gaya sastraik elo, “Dentingan pedang menjilat karang, tebasan kapak menempa hentak, dan terjangan lincah menapak tanah,” gue tahu maksudnya, tapi gue merasa pengungkapannya ‘salah’. Rasanya kau menggunakan kata-kata tidak secara tepat, Rey. Yang ‘menempa’ itu bukan kapak, melainkan palu.
Kurasa kalau kau mau menyastra, alternatifnya bisa seperti ini:
Denting pedang menjilat dan menoreh karang,
Kapak menebas keras, mengentak. Bukannya mencari celah, tapi menerobos untuk memecah. Mendobrak segala pertahanan.
Lincah langkah kaki menerjang, menapaki tanah yang licin oleh keringat dan siasat.
Well, gue bukannya mau ngacak adul atau maksain gaya, ya? Ini sekedar pembandingan untuk aspek pemilihan kata, kalo elo emang pengen bergaya sastra-ish di situ.
Terus apa pula bagian ‘Duhai’, itu? Gue tahu, itu nantinya berhubungan dengan ‘Elok namun liar’. Tapi pemilihan angle itu pun gue rasa ngga terlalu tepat konteks. Maksud lo tentu menggambarkan suatu sisi keindahan dari adegan pertempuran. Ide dasarnya boleh juga. Tapi keseluruhan orkestrasinya, bagi gue kurang menghasilkan musik yang koheren. Ibaratnya elo niat bikin Mars, tapi masukin frasa mendayu-dayu ditengah. Missi utama elo jadinya gak tercapai.

Well, sekali lagi, ini udah aspek art. Seorang master art memang akan memiliki kemampuan ‘dewa’ untuk menggabungkan berbagai elemen, yang di tangan orang awam biasa-biasa aja, namun di tangan dia jadinya indah sumindah. Tapi ya itu, harus berkualifikasi MASTER dulu,… he he he. Dan bagi gue, kalo elo belum peka atau mahir betul dalam hal art, lebih baik elo mengambil jalur yang lebih aman yaitu menggunakan gaya penceritaan biasa aja, yang menurut gue udah elo kuasai secara baik.
Apalagi ini bagian depan, bro. Bagian pintu masuk elo. Elo gak akan mau gantungin lukisan norak di ruang tamu, karena elo gak pengen orang-orang jadi menilai seluruh isi rumah elo bakal sama noraknya, khan? Well, not that your writing is norak,… pokoke you get the message, lah.
Lidah pedang dan bibir kapak, menurut gue sih oke-oke aja. Cuma kembali pilih kata sesuai konteks. Bibir kapak menyalak? Kata menyalak itu memiliki kandungan sense berupa daya menyembur / mendorong. Maka yang lebih tepat ialah ‘senapan menyalak’, bukan kapak (ketahuan, elo cuma mikirin rhyme-nya, yach? Hehehe).

Kemudian bicara jurus-jurus. Kembali, harus believable kan ya? Bagaimana dengan jurus kapak berputar dengan dampak yang dihasilkannya? Gerakan kapak berputar koq hasilnya menebas? Ya gak bisa lah booook,…. kapak kalo diputer gitu ya bisanya ngebooor, Inul, kallee,..? :D
Akhir dari petarungan stastra-ish ini adalah berupa ledakan nova yang membangunkan sepuluh ribu penduduk Lemures. Well, nice. Penggambaran aftermathnya juga bagus. Cuma buat gue ketika sepuluh ribu penduduk itu bangun, lalu apa dampaknya? Apakah mereka jadi panik dan kota/ kampung jadi kacau? Apakah suara semacam itu sudah dianggap ‘biasa’ mengingat toh Seth Cavaross adalah penduduk Lemures yang udah pasti ‘pendekar’ selebritis donks,…
“Ohh,.. bang Seth pasti lagi ngamuk abis semalem kalah maen gaple. Udah, tidur lagi aja,…” ^-^
Ketiadaan efek sebab-akibat ini menyebabkan konteks kota/ kampung Lemures menjadi lepas dari cerita, seolah hanya menjadi figuran yang baru datang saat dipanggil sutradara.

Setelah masuk ke gaya bertutur ‘biasa’, mulai terasa aliran yang cukup enak dinikmati. Penamaan Kain dan Seth juga enak, ga ada kesan dipaksain. Penggambaran karakternya juga cukup hidup, walau menurut gue agak tipikal tokoh game. Hiperbola mengenai keperkasaan dua orang itu agak terasa sedikit menganggu, tapi ga terlalu fatal.
Yang kurasa masih belum baik adalah pilihan-pilihan kata yang elo gunakan. Beberapa kata memiliki muatan yang sebetulnya sudah ‘pakem’, tapi elo gunakan secara ngga tepat. Kata ‘keji’, itu ga mungkin digunakan sama sekali dalam konteks persahabatan. Jadi biarpun gue bertarung, istilahnya jajal ilmu, sama sahabat sendiri yang sama-sama pendekar kelas tinggi, gue nggak mungkin memandanginya secara keji. Licik, bersiasat, boleh aja demi kemenangan strategi. Tapi keji?

Penggunaan kata musafir juga perlu sedikit dipoles. Setidaknya ada dua tempat yang menurut gue ga tepat. Pertama, saat kata itu pertama kali muncul. Koq begitu tiba-tiba. Mungkin sebelumnya elo perlu introdusir gaya busananya atau apanya dulu, yg kemudian disimpulkan sebagai seorang pengelana atau musafir. Yang kedua adalah saat si Seth menanyakan, “Apa saja yang kau lakukan, wahai musafir?”
Koq kayak orang baru ketemu atau belum kenal? Mungkin lebih pas, “Apa yang kamu bawa dari pojok dunia kemari, hey musafir tua?”, akan terkesan lebih akrab.
Contoh ini: “Tahan dulu langkahmu, Pengelana. Bukankah Välendhur punya jajaran Ksatria Penunggang Lumyr? Dan bagaimana dengan Kelima Pendekar Arwah dari Tanah Pedang yang pernah bersumpah? Seharusnya orang-orang Valor tak akan berani macam-macam dengan Välendhur!”
Bagus, gue suka. [thumbsup]

Tapi dalam beberapa dialog, gue masih merasakan kurangnya keluwesan. Ada kesan terlampau kaku. Mungkin pilihan kata atau cara mengungkapkan bisa elo olah lagi supaya kesan dialog dua orang sahabat yang udah sama-sama makan asam garam bertempur bahu-membahu dapat lebih terasa.
Pasangan tempur itu tingkatannya udah lebih tinggi dari pada pasangan pemain bulutangkis ganda, satu menyandarkan nyawanya pada yang lain! Tentunya gaya bicara di antara keduanya bisa lebih intimate lagi. Obrolan mereka tentang ‘perempuan’, nah itu contoh bagus.

Masukan terakhir, mengenai penamaan senjata mereka.
Dua nama yang bagus, Leviathan dan Salamander, tapi elo salah makenya, kayaknya!
Secara umum, pengertian Leviathan adalah semacam naga air, yang punya sifat sedingin es (at least menurut gambaran serial Final Fantasy, hehehe), sementara Salamander masuk ke golongan lizard/ kadal.
Menurut gue, malah lebih konsisten bila pedang elo namain Leviathan, putih licin berkilau dan sambarannya bisa menimbulkan luka yang terasa perih mengigit tembus ke inti tubuh. See? Ular naga, lurus panjang? Pedang, lurus panjang? Kilat putih Leviathan yang gesit meliuk-liuk mencari sasaran? Bukankah demikian gaya jurus pedang? (Pedang, BTW, tapi kenapa elo sebut belati, ya? Pan ukurannya beda jauh?)
Sementara Salamander, kadal yang punya kepala berbentuk pipih melebar, cocok banget untuk sebuah kapak, disamping warna kulitnya yang kecoklatan tembaga, menyiratkan usia panjangnya dan bayangan percik darah korban entah berapa banyaknya telah meresap dalam setiap pori bilahnya. Dan bila kepala salamander menyambar, gigitannya bisa membelah daging dan meremukkan tulang.
Well, kalau masih sempat, ga ada salahnya, kan, dua nama itu dituker? [biggrin]

OK Rey, kira-kira segitu dulu maki-makian dari tujuh dewa guntur. Satu hal yang bisa aku simpulkan, elo justru beruntung ditolak oleh penerbit, karena kalo sampe materi elo yang ini diterima, maka elo akan ended up very, very, screwed in my blog! ;D Berkahnya, sekarang elo dapat memikirkan alternatif-alternatif perbaikan sebagaimana kusebutkan di atas sesuai dengan cara yang pas buat elo.
Satu hal utama yang menurut gue harus elo improve bener-bener, adalah keterampilan dalam menerapkan kata yang tepat untuk maksud yang tepat. Jika berkaca pada hal-hal yang udah elo kerjakan di prolog ini, I’m afraid ‘plague’ yang sama telah mengisi sekujur novel elo sampai dengan halaman terujung.
Untuk memperbaikinya (satu-per-satu), I think satu atau dua tahun lagi cukup, lah. He he he.
So, don’t even think to quit too early! ;)
Oh, ya. Salam ya, buat sedokur gue, Salamander,…
FA Purawan
a.k.a Raja Biawak
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on June 20, 2008, 01:22:52 pm
________________________________________
@fred,
Quote
2. Tapi soal kecewa dituduh subyektif sih iya, hehehe . Soalnya rey minta dikritik, trus setelah diberi, gw malah dituduh tidak obyektif… Kan gw merasa telah ditipu!

yang model gini maksud gw ‘beberapa_kritik_elu’ (gw gak pernah nyebut semua_kritik_elu) yang dibuat2, mengada-ada, subjektif:

Quote
3.Penyebutan “gravitasi bumi”. Bumi? Pembaca mau tak mau langsung mendapat kesan seluruh kejadian itu (perkelahian fantasi) sedang terjadi di bumi. Di tempat mereka tinggal ini. Apakah benar memang dunia lemures adalah bumi? Tapi koq ada tempat2 bernama aneh dan jurus-jurus dengan senjata2 ajaib itu?

terlepas dari fakta bahwa setting lemures itu emang diperkirakan pernah eksis di bumi yang kita pijakin ini, suatu tempat yang disebut ‘bumi’ itu cakupan maknanya luas. gak cuma merujuk bumi yang kita pijakin ini aja. ambil contoh dunia LOtR-nya tolkien (yang murni rekaan), bagi gue wajar2 aja kalo Gandalf ngomong, “Di bumi yang kupijaki ini, blablabla…”
lagian udah gw cek di kamus kalo ‘bumi’ itu bisa juga berarti ‘jagad’, atau ‘dunia’

Quote
7.Tentang catatan kaki. Catatan kaki itu hanya sekedar keterangan untuk editor/penerbit atau juga untuk pas penerbitan nanti? Karena jujur, untuk penerbitan nanti sebaiknya jangan menggunakan catatan kaki. Sesusah apa pun memasukkan penjelasan ke dalam cerita novel fantasi, tetap harus dilakukan oleh penulisnya. Apalagi keterangan itu keterangan penting buat cerita yang gak cocok kalau diletakkan di Appendix.

gw akui footnotenya emang agak overdosis, tapi sejak kapan sebuah novel gak boleh pake footnote sama sekali? LasPeng lu udah baca kan? footnote/apendiks (dilabelin sebagai glosarium) dia malah jauh lebih parah lagi.
Untuk kritik2 lain lu yang emang tepat guna, as I said before, gw bener2 nge-welcome dan berterima kasih.
________________________________________
Post by: BloodSin on June 20, 2008, 01:31:40 pm
________________________________________
om pur,
TQ dah buat makiannya yang membangun, gw juga emang agak2 gamang ama gaya sok sastranya (orang di k.com banyak yang kasi pujian menyesatkan dan berujung gw jadi gak tau betapa noraknya ternyata gaya bahasa kek begitu T_T)
biar kubaca dulu pelan2 di rumah komen ente… heheh bisa jebol kantong gw kalo baca diwarnet.. [biggrin]

@jeff & sis dian,
secara overall sama aja ama yg dulu2 (yg di k.com), kalo ada yg berubah itu palingan cuma beberapa frase/istilah

@yg kemaren2 nuduh gw gak mau denger kritik
gw gak bakal concern ama kritik yang dibuat-buat, diada-adain seolah gak wajar padahal udah wajar.
sejauh ini ada dua orang kompeten yang kritiknya terbukti udah gw terapin di lemures. Villam, untuk konflik batin dalam cerita yang kurang tergarap, dan clickdian, untuk karakterisasi yang masi absurd. dua orang itu ngasi kritik yang emang betul2 jadi kelemahan cerita gw, maka gw tanggepi dengan merevisi lemures sesuai dengan kritik mereka di versi terbaru.
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 20, 2008, 02:25:42 pm
________________________________________
soal gaya bahasa puitis gw pribadi sih menganggap itu antik. Yang jadi masalah, bahasa level tinggi itu sudah sesuai belum dengan level pasar/pembaca? Karena bukan cuma menulis aja yang butuh skill, membaca pun perlu skill.
Ketika lo tulis suatu karya dgn level 99 sementara pembacanya masi chupu2 level 50 an, mereka ga bisa menikmati ceritanya. Switching adegan yang unik, pembukaan cerita yang lain dari yang lain… etc2.. semua emang bagus. Tp jujur, kalau kemampuan membaca dan berimajinasi si pembaca engga tinggi, sangat sulit bacanya. Karena itulah novel fantasy aga dikit peminat. Contoh ya LOTR, bahasanya sama sekali engga merakyat, ga reader friendly, bener2 bacaan level 99. Bagi orang yang selevel atau mendekati levelnya, ini bacaan masterpiece sepanjang masa, tp bagi yang level rendah, bisa dianggap sampah. Kemudian ada Harry potter yang berkonsep dgn level yang cukup tinggi, namun bercerita dengan level yang sedang, atau kl istilah gw merakyat. Bahasa Harpot itu sangat ringan, karena itulah bisa menjangkau berbagai lapisan masyarakat, tua muda, kaya miskin.
Jadi gw sih punya pemikiran, gw harus melihat dulu sampai dimana level pembaca di Indonesia sekarang ini, dan tulis lah menurut level mereka. Gaya bercerita terlalu canggih pun ada poin minusnya.
________________________________________
Post by: fr3d on June 20, 2008, 05:55:00 pm
________________________________________
Rey, gw mempertanyakan hal tentang bumi ini karena gw sama sekali blank tentang legenda lemuria.
Jadi, setelah gw tau, dan gw udah punya bayangan loe nulis apa di 200-an halaman berikutnya itu, pertanyaan gw kan udah jadi gak valid lagi. Pinter2 lah dikau menempatkan diri sebagai si penerima kritikan.
Kan seperti gw bilang, kritikan bisa menyesatkan (apalagi kalau si pengkritik mengkritik sesuatu yang memang belum dia pahami). Makanya selama ini, gw selalu menghindari mengomentari plot atau tema berhubung setiap kali ada posting-an cerita, selalu cuma sebagian/belum selesai, dan jelas gw tak mungkin paham maksud si penulis sebelum membaca ceritanya sampe final.
Trus, Tolkien sebenernya mencoba menceritakan bumi di masa lalu versi bayangannya dia sendiri (ya middle-earth itu). Itulah sebabnya dia tetap menggunakan kata bumi, karena memang tidak salah dengan tujuannya.
Kalau lemures mencoba melakukan hal yang sama, yaitu membuat sejarah bumi alternatif, ya sah2 aja. ;)
Lalu, terlepas dari seluruh masalah di atas yang udah gw coba jelaskan, gw pengen nambahin kalau frase “gravitasi bumi” itu sebenernya bisa dipotong menjadi “gravitasi”.
Beneran deh, maknanya bakalan sama, karena penekanannya adalah di “gravitasi”, bukan di “bumi”.

Quote
gw akui footnotenya emang agak overdosis, tapi sejak kapan sebuah novel gak boleh pake footnote sama sekali? LasPeng lu udah baca kan? footnote/apendiks (dilabelin sebagai glosarium) dia malah jauh lebih parah lagi.

Hei, rey, gw gak pernah bilang kalau sebuah novel gak boleh pake footnote sama sekali. Gw bilang kalau novel fantasi sebaiknya gak pake footnote. Kenapa? Karena di dalam cerita fantasi, penulis membangun sebuah dunia/kondisi dunia yang baru (entah di bumi atau bukan).
Indahnya fantasi adalah kalau kalimat2 yang dipakai si penulis bisa membawa para pembaca ke dunia baru itu.
Inilah tantangannya, bagaimana meng-grip pembaca sekaligus tetap mempertahankan faktor believability dari cerita kita.
Nah, dengan membuat footnote:
1. Kita membuat jarak dengan pembaca; footnote seolah-olah adalah “dunia lain” yang sulit dipahami oleh pembaca. Bacalah lagi laspeng dan loe akan paham maksud gw tentang jarak ini.
2. Keberadaan footnote (bahkan appendix) sangatlah mengganggu bila kita menggunakannya untuk sesuatu yang sebenernya penting dan harus dipahami pembaca supaya mereka nantinya bisa paham novel kita secara keseluruhan.
Mengganggu bagaimana? Karena pembaca harus lepas dari irama membaca mereka, terus melirik ke bawah, apalagi yang parah, harus bolak-balik di halaman terakhir.
Itulah sebabnya, footnote atau appendix biasanya jarang disentuh pembaca.
Nah, di sinilah saatnya penulis menggunakan footnote dan appendix dengan efektif, yaitu dengan hanya memasukkan ke kedua bagian itu hal2 yang kurang penting aja atau hal2 yang kalau gak dibaca pembaca pun, gak akan mempengaruhi pemahaman mereka tentang ceritanya.
Contoh lagi, liat laspeng. Kalau pun kita gak paham nama2 latin hewan/tanaman yang disebut si penulis, kita gak akan kekurangan greget-nya cerita itu, bukan?
Tolkien pun menggunakan teknik ini untuk appendix-nya. Semua pembaca yang membaca LOTR dan tidak membaca appendix-nya tidak kehilangan satu arti penting pun dari maksud cerita yang ingin disampaikan Tolkien. Appendix Tolkien justru akhirnya jadi harta yang sangat berharga buat para fans dan orang2 yang ingin mengkaji dunia rekaan Tolkien, misalnya untuk bikin film, etc.

3. Tantangan sebagai seorang penulis fantasi.
Apa? Ya menceritakan dunia fantasinya di dalam novel, bukan di dalam footnote.
Rey, kita, para penulis fantasi, beneran kagak bakalan mau deh kalau karya kita dianggap seperti buku teks (yang banyak footnote-nya). Kita bercerita, bukan memaparkan teori dan definisi ke pembaca. [hammer]
Mungkin ada tambahan/argumen tentang masalah footnote ini dari yang lain?

Terakhir, jangan ngebandingin laspeng dengan novel fantasi lah, secara laspeng itu sebagian besar berdasarkan kisah nyata dan dulunya merupakan jurnal/diari yang dibuat andrea hirata. Trus OOT, laspeng boleh jadi memang laris, tapi menurut gw dia gak sesempurna itu koq, apalagi sampai ada yang meng-endorse penulisnya sebagai penggantinya Pramoedya Ananta Toer. OMG! :o Masih jauh banget kualitasnya!
Terus kalau mau tau penggunaan footnote yang sangat membuat kesal gw, bacalah Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (kalau belum baca). Mungkin ada yang memuji karya itu bagus karena banyak footnote-nya, tapi jujur, dengan menempatkan footnote yang bejibun itu, Dee (si penulis) telah memaksa pembaca menjadi bodoh dan meninggikan dirinya sendiri (penulis) menjadi jenius. Untungnya, Dee akhirnya gak lagi mengulangi hal yang sama di buku kedua dan ketiganya (Akar dan Petir). [thumbsup]
Quote from: BloodSin on June 20, 2008, 01:22:52 pm
Untuk kritik2 lain lu yang emang tepat guna, as I said before, gw bener2 nge-welcome dan berterima kasih.
Well, thx juga karena telah mengizinkan gw mengkritik lemures. Sebuah keberanian tersendiri [thumbsup], mengingat lemures sudah sering ditolak penerbit dan dikau mungkin juga udah jenuh sama penolakan dan kritikan itu sendiri.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on June 21, 2008, 12:42:20 am
________________________________________
Quote
Trus kalo liat daftar isi dan alokasi halaman, kayaknya pendek Novel mu, ya Rey? Cuma 245 halaman? Apa ga kurang, Rey? Maksud gue apa cerita bisa berkembang cukup bergizi dengan segitu halaman?

naskah 250 halaman itu emang udah dipertimbangkan demi sisi komersil dan kemudahan terbit (naskah tebel jauh lebih susah terbit), karena sebegitu inginnya daku menerbitkan naskahku. tentang pertanyaan apakah bergizi ato tidak, ane tetep berpakem novel tebel pun belum tentu bergizi.
(tapi tentu, karena ketipisan ini, ceritanya belom tamat di endingnya, heheheh.. karena emang tujuannya naskah itu buat jadi buku satu lemures kok :P )

Quote
Kemudian bicara jurus-jurus. Kembali, harus believable kan ya? Bagaimana dengan jurus kapak berputar dengan dampak yang dihasilkannya? Gerakan kapak berputar koq hasilnya menebas? Ya gak bisa lah booook,…. kapak kalo diputer gitu ya bisanya ngebooor, Inul, kallee,..?

yang ini kayaknya ada salah tangkep, maksud ane untuk frase ‘kapak putar’ itu bukan diputer ala ngebor, tapi diputer ala baling-baling..makanya bisa menebas :D
(ah btw fred, yg lu tangkep sama juga ama om pur? ngebor gitu? >__<)

Quote
Cuma buat gue ketika sepuluh ribu penduduk itu bangun, lalu apa dampaknya? Apakah mereka jadi panik dan kota/ kampung jadi kacau? Apakah suara semacam itu sudah dianggap ‘biasa’ mengingat toh Seth Cavaross adalah penduduk Lemures yang udah pasti ‘pendekar’ selebritis donks,…

itu bukan sepuluh ribu penduduk, tapi sepuluh pasang mata dari jangkrik, belalang, musang, dan lemur…secara mereka gak lagi berantem di tengah kampung/kota, tapi di ‘belantara perawan surga’ itu >_<
dan tentu gada dampak apa2 dan tidak perlu diperpanjang lagi apa yang terjadi setelah mahkluk2 itu terbangun ^-^
tapi wajar juga sih kalo ente nangkepnya suara ‘ledakan nova’ itu sedemikian gandengnya ampe2 merambat ribuan mil dan sampe ke pemukiman penduduk :P
ah jatuh satu orang lagi korban yang termakan bahasa hiperbolisku :-[

komen ente panjang banged om, gurih pun rasanya, nikmat (komen lo kalah nikmat, fred :P ), Thanks alot dah..realy appreciate that. :)
note: dan ada 'reward' bagi sang pemenang, tentu [biggrin]
________________________________________
Post by: BloodSin on June 21, 2008, 02:54:27 pm
________________________________________
@fred,
hari ini gw baca ulang komen ‘jahat’mu yang di word itu, dan akhirnya gw mau minta maap karena gw sempet berkesan gak tauk terima kasih dengan nuduh lu komen subjektif, this is my bad habit, terlalu terburu2 dalam menjudge segala sesuatunya T___T
sekarang pas gw liat2 lagi, ternyata dikau pun sama perhatiannya dengan om pur (yang baru belakangan berkomentar), rela ngetik panjang2 dua halaman word untuk cuplikan yang ‘sependek’ itu, menyorot setiap poin yang ada, berkomentar dengan jujur dan cermat, sampe pada kesediaan lu memberi masukan-masukan buat prolognya.
jujur ajah, waktu pertama kali gw buka file word lu itu, timingnya bener2 kagak tepat, (mungkin elunya yg lagi sial kecepetan ngirim komennya :D ), mata gw lagi kalap waktu itu, gara-gara terlibat ngadu bacot ama junior nyolot ;D, sampe2 gw kagak bisa ngeliat itikad baik elu di komen itu.
oke deh semoga dengan ini, elu bisa memaklumi gw, bahkan seorang TS yang arif bijaksana dan rupawan ini pun bisa aja berbuat salah, kalo lagi kalap(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)

Quote
3. Tantangan sebagai seorang penulis fantasi.
Apa? Ya menceritakan dunia fantasinya di dalam novel, bukan di dalam footnote.
Rey, kita, para penulis fantasi, beneran kagak bakalan mau deh kalau karya kita dianggap seperti buku teks (yang banyak footnote-nya). Kita bercerita, bukan memaparkan teori dan definisi ke pembaca.

yang tentang footnote itu (khususnya poin yg gw quote), gw masi kagak sepakat sama elu :P , itu harus diliat juga dari jenis fantasinya. Kalo fantasi semacam narnia yang pure fantasy, bakalan konyol banged pake footnote kurasa, masalahnya fantasi yg kubikin ini bukan bener2 pure fantasi, dia jenis fantasi yang condong banged ke fiksi ilmiah (dari segi tema, gaya penulisan, dialog), kayak hozzo-nya si hege (yg malah kebanjiran footnote–footnote hozzo ada seratusan kurasa, ‘untungnya’, footnote lemures gw ga nembus ampe 30).
di lemures itu banyak paparan tentang hipotesis-hipotesis dan teorema-teorema ekologis (bacotnya si Guillarde :D ), mau gak mau gw harus mengandalkan footnote yang ironisnya justru demi kelancaran irama cerita.

misal, ada dialog Guillarde kayak begini:
“Cairan ini adalah konsentrat termurni dari proses distilasi bertekanan ekstrem selama dua puluh satu malam, dan merupakan proporsi ideal dari darah tikus, liur tupai, jeroan ubur-ubur, air kemih katak, feromon* kuda jantan, dan berbagai saripati rempah-rempah—untuk menetralkan bau amisnya.”
*)Cairan pemikat lawan jenis yang dikeluarkan secara alamiah dari tubuh binatang
kalo gak pake footnote, masa mau gw bikin kayak begini:
“Cairan ini adalah konsentrat termurni dari proses distilasi bertekanan ekstrem selama dua puluh satu malam, dan merupakan proporsi ideal dari darah tikus, liur tupai, jeroan ubur-ubur, air kemih katak, feromon* kuda jantan, dan berbagai saripati rempah-rempah—untuk menetralkan bau amisnya.”
Feromon adalah cairan pemikat lawan jenis yang dikeluarkan secara alamiah dari tubuh binatang. (ujug2 masuk paragraf baru cuma semata2 demi penjelasan satu baris ini, gak banged dah >_<)

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XV (15 Jun 2008 – 18 Jun 2008)

  • Apa yang terjadi jika karya kita tak pernah terbit
  • Fantasi dan anime

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on June 15, 2008, 10:53:34 pm
________________________________________
guess what, gw lg terheran2 sama ‘daya tahan’ penulis fantasi sini, villam dengan TFH-nya yg udah lewat 10 thn, om pur dengan PG-nya yg udah 17 tahun ((http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)), fred dengan naskah rahasianya yg udah 7 tahun, dan junior baru kita((http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)) dengan Gefallene Masse-nya yg udah 9 tahun.

Oh my, kalo ginih caranya sih lemures gw (3thn) bisa diitung masih balita. so inocent.. :P
Sialnya, selama ini gw selalu memandang ke atas: penulis ledgard nyelesain buku pertamanya dalam 2 tahun–kalo ga salah, penulis pinissi nyelesain pinissi 6 bulan, si hege nyelesain hozzo 2 tahun, penulis enthirea nyelesaian enthirea 1 tahun, andrea hirata nulis Laspeng cuma 3 minggu, belom lg ada penulis teenlit yg beresin bukunya dalam 2 hari saja (dan terbit, tentu)
dammit kenapa ada orang yg begitu gampang nerbitin naskahnya dan menjadi bestseller, kenapa ada juga yg udah bertahun2 berkutat dan berjuang thd suatu naskah tapi gak terbit2.
selama ini gw gregetan sama naskah gw sendiri yg udah mandek 3 tahun, tapi setelah mengetahui ada begitu banyak penulis fantasi di luar sana yg udah berkutat selama hampir/bahkan lewat satu dekade, gw jadi agak sedikit terhibur dan lega.. hehehehe, mungkin ini yg namanya senang di atas penderitaan orang lain..

kepada penulis2 fantasi yg sabar lahir batin itu, gw cuma punya satu pertanyaan, tak harus dijawab, tapi kalo mau dijawab boleh asal harus jujur: gimana kalo seandainya karya abadi itu kagak pernah terbit? apakah lu bakal menyesal karena telah menghabiskan waktu dan tenaga untuk sesuatu (yg tadinya lu pikir bakal bisa dinikmati oleh banyak orang) yang gak bakal pernah dinikmati oleh siapapun selain diri lu sendiri?
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 16, 2008, 08:18:13 am
________________________________________
Kalo gue yang pertama menjawab, bukan karena rekor gue paling lama ;) hehehe. Soalnya pas udah online aja :)
Pertama-tama soal menyesal. Soal lama (ngerjain) itu, gue gak pernah menyesal. Gue pikir waktu adalah proses, dan sepanjang visi kita adalah menyempurnakan karya tersebut, buat gue waktu yang lama pasti akan membawa sesuatu balik ke karya itu lagi. Dan kalo visi kita menyempurnakan, berarti karya kita menjadi lebih baik.
Tapi mesti distate juga di awal, supaya pengertiannya pas. Sebelumnya kita harus bener-bener punya belief bahwa karya yang sedang kita tulis adalah sesuatu yang bagi kita (pribadi) bener-bener spesial. Tanpa itu, kita pasti tidak mau spend waktu lama, atau tetap bersetia kepadanya.
Pengarang2 yang elo lihat, Rey, terutama yang mengarang instan dua hari kelar :o mungkin memang sudah sangat terlatih, atau mereka memang menyesuaikan diri dengan tuntutan profesi. Jaman sekarang menerbitkan buku sudah seperti balapan, takut kehilangan momen.

Sekarang mengenai karya abadi yang gak pernah terbit.
Jujur aja, kalo gue, bikin karya pastilah ingin agar dibaca orang lain. Setiap pengarang pasti ingin bukunya diterbitkan, dan sukur-sukur disukai. Tapi kesuksesan, terutama kesuksesan komersil, buat gue adalah nomor dua. Mungkin karena secara ekonomi gue udah cukup mapan, kali ye? Artinya udah punya job sehingga ngga berpikir untuk berkarir sebagai penulis full-time. Jadi soal apakah buku gue akan sukses komersil ato nggak, gak jadi begitu penting.
Buat gue yg penting adalah pesan/missi karangan dapat dishare ke banyak orang, siapa tahu ikut membantu orang-orang melaluinya. Pahala, bo.
Tapi tentu saja ada sisi sukses komersil yang diharapkan. Sukses komersil (balik modal, ada profit) sangat diperlukan demi eksistensi karya-karya selanjutnya. Kalo mo bikin buku kedua, ketiga dst, pasti akan butuh modal. Buat riset dsb, pasti butuh dana untuk ngebayar orang, karena gue gak akan punya waktu seleluasa ketika mengarang buku pertama, kan?
Nah, ini dia kalo udah masuk ke industri, kalo mo nerbitin buku kedua dst, kagak boleh kehilangan momen. Ini ngeselin, susah, tapi realita [tickedoff]

Makanya, sekalipun tujuan penerbitan itu sekarang bisa dipenuhi lewat penerbitan internet swadaya, tetap aja gue lihat perlunya diterbitkan secara komersil. Makanya itu pula yang membuat gue tetap termotivasi untuk terus memperbaiki karya gue.
BTW, masih terkait penyempurnaan. Malam ini gue tiba-tiba aja ‘ticked-off’, ada ide baru mengenai salah satu plot di PG. Ini berkat masukan-masukan temen-temen juga, dalam rangka memperbaiki bab-bab awal PG. Gue lagi garap, dan kayaknya jadi exciting banget!
Tuh, kata siapa proses panjang itu melelahkan? [biggrin]
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 16, 2008, 09:01:57 am
________________________________________
haha bener banget kata Loki, banyak banget penulis yang menghabiskan waktu bertahun2 demi menyempurnakan karyanya dan gw yakin mayoritas diantaranya adalah penulis novel fantasy. Genre lain, drama atau cinta misalnya, ceritanya tidak perlu konsep yang benar2 mendetil, cinta juga tidak butuh logika, yang penting lo pernah ngerasain cinta itu dan warna2 warni rasanya dan sisanya let your heart do the rest. Toh kita ga perlu memikirkan ‘apa asal usul cinta, terbentuk dari apa, legendanya apa, etc2 ky fantasy XD

Gw sendiri sebagai penulis jauh lebih muda dari kalian. emm… kl ga salah baru mulai menulis sejak A.Hirata keluarin Lasper, yang menurut gw merupakan momentum yang bagus utk menyusul. Tp konsep dasar cerita, sampai bangun konsep dunia etc udah gw mulai sejak 9 tahun yang lalu, ketika gw masi menulis cerita utk komik gw. Perjalanan yang panjang banget memang, masalahnya, kenapa kita bisa smpai memakan waktu bertahun2 itu, karena kita engga pernah fokus punya waktu 100% menulis sejak kecil, ditambah lagi kemampuan menulis kita selalu berkembang seiring waktu.

Coba ingat2 lagi. dr waktu dulu SD, gw bahkan ga berpikir plot cerita,wong masi bocah yang nontonnya pokoke kartun berantem action aja (contoh saint saiya). Kemudian naik SMP, kita makin dituntut untuk belajar, belajar, dan belajar. Mana ada waktu utk mikir yang lain? (kecuali mikir main PS itu selalu ada waktu XD). Saat itu kemampuan gambar gw berkembang lagi, gw mulai belajar plot dasar yang basic sekali disegala genre battle yaitu ‘balas dendam’. (kira2 kelas 2, dimana gw anggap sebagai starting point gw as a writer)

Lanjut lagi naik ke SMA, nilai gw semakin lama semakin parah lantaran gw hanya pintar logika dan sangat lemot dalam menghapal teori. (terakhir penah merah 5 dan semuannya dari sub pelajaran IPA-IPS) Sukur dulu standar nilai ga kaya skarang, kl engga gw dah jd murid sekolah abadi >.<. Nah, tuntutan sekolah macem gini ditambah tekanan orang tua ga memungkinkan kita serius ke hobi kita yang mereka angap ga berguna. Disini gbr gw dah one of the best di kelas, dan satu2nya yang ngembangkan komik dengan serius. (jadi beberapa jilid walau ceritanya masi kacau balau) Disini gw masi terpengaruh berbagai game terutama xenogear (gr2 xeno gw gatel banget pengen ngisi char utama gw dengan berbagai multiple personality, karakter Arlond yang dulunya bernama Naoru pun mulai terlahir)

Akhirnya lanjut ke kuliah, jurusan design. Pribadi semakin matang, gw melupakan gambar untuk sementara waktu dan belajar desain yang ternyata banyak membantu dari segi grafis apapun termasuk kemampuan gw membuat komik. Dr sini gw bergabung di deviantart, sadar ternyata dewa gambar ada bejibun di dunia ini, kemudian saat itu gw baru nonton yang namanya Lotr, matrix etc, segala movie yang memilik konsep cerita dahsyat sekali, dan akhirnya gw kembali ke dunia menulis dan merancang dunia bagi cerita lama gw. (karakter yg sama, plot dasar sama, cuma dikasi konsep dunia)

Akhir masa kuliah, jujur gw baru mulai menyentuh yang namanya novel. Gw dulunya pecinta gambar dan sangat takut dengan textbook. Kakak gw beli 5 jilid Harpot sekadar ikut2an, tp ampe setahun ngangur masi tersegel, ga dibuka sama sekali. Akhirnya gw iseng2 baca, dan ternyata gw berubah jadi maniak nulis novel [rolleyes]

Setelah itu, ya gw join berbagai forum, ke k.com, ampe akhirnya kesini, dan sadar perjalanan gw masi panjang sekali dan jauh dari selesai. Tapi coba liat lagi ke belakang, tengok karya kita beberapa tahun lalu, sama seperti gambar, kemampuan menulis gw berkembang jauh dibanding beberapa bulan lalu dimana ceritanya masi bener2 berantakan. Darisitu kita bisa tahu, kl perjalanan panjang kita itu ga pernah sia2. The only thing that never betray us is hard training and careful planning. That is what I believe. Kemampuan kita akan terus menerus berkembang tanpa batasan, it is ourself that decide when it is the time to stop and start putting our training into real result (terbitkan). Dan disini lah yang namanya momentum berperan. Terlalu lama skill kita akan terus menerus outdated dan keduluan oleh orang lain (yg akhirnya kita hanya menghabiskan waktu mengejar orang lain dan tak pernah terbitin apapun), tp terlalu cepet juga kita bisa merusak segalanya dan kehilangan chance utk menjadi penulis terkenal dan sukses. Inget kl br di ms word, ada yang salah dan disesali masi bisa diedit. Tp kl udah sampai terbit, artinya itulah kemampuanmu yang sudah kau perlihatkan ke dunia, tak bisa diundo ataupun diedit. Lo harus membuat karya baru yang bisa mengubah penilaian sebelumnya dan hal itu akan 2x lipat lebih susah dari karyamu yang pertama. Segalanya harus PAS dalam rasa, komposisi, dan juga waktu.

Satu kesimpulan lagi dr penjelasan ruwet diatas, yaitu dari waktu bertahun2 yang kita habiskan, waktu sebenarnya kita hanya menghabiskan ga sampai setahun ‘jam kerja’ yang bener2 dimana kita fokus mengembangkan cerita kita. Om Pur yang ampe 17 tahun juga begitukan? Ga mungkin 17 tahun itu anda habiskan bener2 fokus pada yang namanya menulis kan? :) So sebenernya kita yang menulis bertahun2 ini sebenernya baru menulis dengan jam kerja yang tak sampai 10 % waktu tersebut, 90 % sisanya we go with other things in our life.

Hmm sebenernya masih banyak yang pengen dibicarakan, :P tp gw akan berhenti disini dulu hehe.
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 16, 2008, 12:45:07 pm
________________________________________
Well, sejarah singkat PG,… :)
Finish pertamakali bulan november tahun 1991, untuk satu proses yang sudah kumulai dari 89-90-an. Penulisannya on-off tapi cukup intens deh, di sela kegiatan sebagai mahasiswa.
Setelah itu cukup lama ga pernah disentuh lagi, ada beberapa editing minor tapi hilang akibat kompie bergati-ganti :( masih nyimpen di disket segala kan jaman-jaman itu,… hehehe,…
Hanya ada satu hardcopy, yg gue pinjamkan ke beberapa sodara, terutama yg tinggal (ngikut) di rumah gue. Lumayan dapet banyak komentar. Jujur, pada saat itu gue pernah memikirkan untuk submit naskah ke penerbit. Tapi selain belum kenal jalurnya, hardcopy yg setebel alaihim itu (3 jilid pulak) membuat gue ragu-ragu, jangan-jangan udah ditolak editor sejak pandangan pertama!

Tahun 2005, setelah sekian tahun gak pernah menyentuh lagi (tapi masih dibaca-baca juga, kadang-kadang), plus kehidupan berjalan, married, pindah ke rumah mertua, intens di musik, dll, aku menatap kembali naskah PG di lemari file, kebetulan saat pindahan ke rumah baru, rumah sendiri, hehehe,…
Mulai terpikir untuk mengabadikan dalam bentuk softcopy, sekaligus merevisi beberapa bagian yang udah terasa jadul. Saat itu gue berkenalan dengan beberapa anak SMK yg lagi PKL di kantor gue. Dengan iming2 honor mengetik, alhasil hard copy bersalinlah kembali menjadi soft copy. YES!
Itu titik balik perbaikan-perbaikan besar yang dialami PG. Cukup banyak yg gue lakukan, yang merupakan akumulasi ide-ide perbaikan sekian tahun, plus usaha untuk melicinkan kembali logika cerita dibagian-bagian yg masih terasa aneh, serta merelevankan setting dengan situasi terkini (adanya kultur HP, SMS-ing dll), plus nanya-nanya sama anak-anak SMA itu! (target market, bo,… hihihi).
So, true, ngerjainnya gak straight 17 tahun tiap ‘ari ;D

Tapi menurut gue, saat-saat idle time itu juga merupakan sebuah proses pematangan. Karena saat itulah gue berinteraksi dengan berbagai fakta yang membuat penilaian artistik maupun logika gue terhadap novel itu terbentuk. Misalnya percakapan dengan somebody, membaca suatu karya, dll. Day-by-day, sebenernya Novel itu terforming kembali dalam kepala gue dan pada saatnya kemudian mengalami pengeditan.
Dan nyatanya, proses itu sampai sekarang masih berlangsung. Dan gue sendiri belum merasa bentuk yg sekarang sudah ‘final’.
Jadi kalo gue bilang sih waktu yang ter-spent sepanjang itu adalah memang waktu yang diperlukan bagi karya gue untuk menjadi dewasa in it’s own right. Kalau memang sudah waktunya diterbitkan nanti, itu Insya Allah memang merupakan waktu yang sudah ditetapkan oleh alam semesta bahwa memang sudah saatnya PG lahir ke dunia,… hehehehe,….
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: rd_Villam on June 16, 2008, 01:33:41 pm
________________________________________
gue dah pernah bilang soal ini sejak dulu berkali-kali. jika seandainya naskah bertahun2 itu akhirnya tetap tidak bisa terbit, no problemo buat gue.
karena jujur, dulu TFH memang tidak dirancang buat dipublikasikan, tapi karena memang gue senang menulis itu, sepenuh hati, dan memang itu untuk hanya konsumsi pribadi gue dan keluarga gue. jadi isinya memang rada berat dan dulu sangat tidak marketable.
silakan kalo gak percaya: ngapain juga menulis kalo bukan buat jadi penulis? tapi memang begitulah adanya. gue tuh baru kepikiran jadi penulis itu setahun yang lalu (2007), dan barulah naskah lama TFH akhirnya dipermak sana-sini. gue sih tetap percaya bahwa naskah ini nantinya akan berhasil, tapi gue tau bahwa hasilnya memang tidak akan cepat. gue sadar lebih baik gue menulis cerita2 lain lebih dulu, yang lebih marketable, baru gue nanti coba masuk lagi dengan TFH.

tapi, seandainya nanti tetap saja TFH tidak bakal tembus, lalu apakah gue harus menyesal karena sudah buang waktu dan tenaga? lebih jauh lagi, seandainya nanti gue gagal jadi penulis profesional, apakah gue bakal menyesal melakukan ini semua?
jawabnya tidak, gue gak bakal menyesal sedikit pun. ngapain juga nyesel-nyesel? repot-repot…
proses menulis selama bertahun-tahun gue adalah proses yang gue lewatin buat jadi manusia seperti gue sekarang. di dalamnya ada proses bermimpi, merenungi nilai-nilai kehidupan, berefleksi, dan juga bekerja keras. dan karena gue bersyukur gue udah bisa jadi manusia seperti sekarang, dan gue bangga, maka tak perlu ada yang disesali.

gue gak peduli orang lain bisa menulis 2 hari selesai, seminggu selesai, sebulan selesai, setahun selesai. so what? emang gue pikirin?
yang paling ngerti kemampuan gue adalah gue sendiri. kalo emang gue dengan segala keterbatasan gue cuma bisa bikin dua novel dalam satu tahun, ya sudah. kalo emang semuanya belum bisa diterbitkan, ya gampang saja, tinggal menulis lagi yang lain.
yang penting gue udah melakukan itu penuh hati, dengan niat yang tulus untuk membuat sesuatu yang mungkin nanti bisa bermanfaat buat orang2 di sekitar gue (bukan karya-karya yang selesai dua hari yang mudah dilupakan orang), syukur-syukur bisa dibaca banyak orang. gue menulis karena gue cinta, dan gue tahu cinta gue itu nanti pada akhirnya bisa dirasakan oleh orang lain, orang-orang terdekat gue terutama. itulah warisan yang bisa gue tinggalkan sebagai manusia.
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 16, 2008, 10:03:23 pm
________________________________________
hmmm ternyata ada juga orang benar-benar menulis sebagai hobi dan tidak menjadikannya ambisi dalam hidup. Mungkin gw yang terlalu ambisius yah? Gw sih terus terang ngincer target tinggi, baik ketika menggambar komik, atau pun menulis, gw ga pernah puas sebelum jadi yang terbaik. Karena itu rasanya kalau belum yakin jadi penulis terbaik gw ga akan terbitin… soalnya semuanya terasa ga ada artinya kalau waktu bertahun2 yang gw habiskan ternyata hanya untuk menjadi nomor dua apalagi hanya tergeletak begitu saja di toko buku tanpa ada yang membeli.
Memang rasanya mimpi yang susah dicapai, tp gw yakin seperti kt pak mario teguh (weks) orang yang berpikir besar akan menjadi besar pula. :P
________________________________________
Post by: clickdian on June 17, 2008, 08:40:33 am
________________________________________
Hmm.. rada bingung juga mau komen apa. Soalnya aq kebetulan pertama kali nulis novel langsung terbit, dan ini rada beda sama yang laen. Novel kedua terbit juga, walopun genrenya beda *terdengar tawa Rey di kejauhan*
Tapi dulu waktu nulis Zauri, jujur gak kepikiran mau nerbitin. Bener2 buat diri sendiri aja, dan malah gak kepikiran buat ngewarisin itu untuk anak cucu heheh.. Yang kepikiran waktu itu, aq bakal mati penasaran kalo cerita yg ngehantuin terus itu gak dibikin dalam bentuk tulisan. Itu aja.
Kalo gak dikomporin temen gak bakal deh kayaknya nyamperin penerbit, soalnya asli gak pede. Sampe sekarang pun, kalo ngedenger orang baca Zauri, malah sampe bela-belain beli segala, masih nggak percaya. Kok mau-maunya sih? hehehe..
Yah.. jalannya Zauri sedikit lebih lancar dari teman-temannya yang lain di sini, tapi nggak berarti dia pasti lebih bagus. It’s only a matter of time. Yang lain nanti menyusul. Semua akan indah pada waktunya *hayyah* ;D ;D
PS: kok jadi pada mellow begini yah?? :D
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on June 17, 2008, 01:13:46 pm
________________________________________
Duh, pusing… :D :D :D
Gw pengen posting reply, tapi masih berkutat membaca reply2 laen yang panjang-panjang banget… malah omongannya serius banget lagi…
Beginilah akibatnya kalau cuti 1 hari… ketinggalan berita! ;D
Sebagai permulaan, gw mau share kalau revisi novel gw bagian 1-nya akhirnya udah slesai! Yay!
(tapi masih ada 2 bagian lagi: 500 hlm, [hammer])
Ayo semuanya smangat menulis! [thumbsup]
Oya, rey, gw baru 6 taon. Jangan ditambah ah umurnya… :-[
________________________________________
Post by: fr3d on June 17, 2008, 01:44:10 pm
________________________________________
Gw gak akan ngejawab panjang lebar deh... seperti kata mba dian, udah mellow banget tret ini jadinya...
Seolah-olah, kita semua adalah kumpulan pemimpi yang menyedihkan... hiks... :'(
Jadi, jawaban gw atas pertanyaan rey cuma 1:
Yang jelas, dunia akan MENYESAL dan RUGI BESAR kalau karya gw gak terbit!!!
[bomb] [bomb] [bomb] BWAHAHAHAHAHA! (*tawa bos penjahat*)
^
^
^
Maksudnya spesial efek gitu… ada ledakan2 di belakangnya… ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: rd_Villam on June 17, 2008, 04:59:18 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 16, 2008, 10:03:23 pm
hmmm ternyata ada juga orang benar-benar menulis sebagai hobi dan tidak menjadikannya ambisi dalam hidup.

haha…
gak usah terlalu dipikirin deh.
setiap orang yang paling tahu soal mimpi dan ambisinya masing-masing.
sekarang sederhana aja,
selama kita masih ngobrol bareng di sini,
berarti kita masih punya mimpi dan ambisi tersebut.
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 17, 2008, 09:06:39 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on June 17, 2008, 04:59:18 pm
selama kita masih ngobrol bareng di sini,
berarti kita masih punya mimpi dan ambisi tersebut.

Well said, bro, well said! [thumbsup] [thumbsup] [thumbsup]
FA Purawan
________________________________________
Post by: BloodSin on June 17, 2008, 10:35:34 pm
________________________________________
@Om Pur, Serpent, Villam,
TQ buat long explaination-nya dudes, realy appreciate it!
Quote
Buat gue yg penting adalah pesan/missi karangan dapat dishare ke banyak orang, siapa tahu ikut membantu orang-orang melaluinya. Pahala, bo.

Tapi tentu saja ada sisi sukses komersil yang diharapkan. Sukses komersil (balik modal, ada profit) sangat diperlukan demi eksistensi karya-karya selanjutnya.

Quote
proses menulis selama bertahun-tahun gue adalah proses yang gue lewatin buat jadi manusia seperti gue sekarang. di dalamnya ada proses bermimpi, merenungi nilai-nilai kehidupan, berefleksi, dan juga bekerja keras. dan karena gue bersyukur gue udah bisa jadi manusia seperti sekarang, dan gue bangga, maka tak perlu ada yang disesali.

Quote
hmmm ternyata ada juga orang benar-benar menulis sebagai hobi dan tidak menjadikannya ambisi dalam hidup. Mungkin gw yang terlalu ambisius yah? Gw sih terus terang ngincer target tinggi, baik ketika menggambar komik, atau pun menulis, gw ga pernah puas sebelum jadi yang terbaik. Karena itu rasanya kalau belum yakin jadi penulis terbaik gw ga akan terbitin… soalnya semuanya terasa ga ada artinya kalau waktu bertahun2 yang gw habiskan ternyata hanya untuk menjadi nomor dua apalagi hanya tergeletak begitu saja di toko buku tanpa ada yang membeli.

bagi gue pribadi, sebetulnya ini bukan masalah kesuksesan komersil, bukan juga buat urusan pahala, bukan juga gara2 gw gak pernah mensyukuri idup gw, dan bukan juga ttg ambisi menjadi yg terbaik..
kenapa gw berambisi naskah gw harus terbit (ato kalo kagak gw bakal resign), itu lebih ke arah tentang misi pencapaian gw di suatu bidang. sekali lagi, pencapaian, man.
gw gak akan pernah bisa bangga pada diri gw sendiri kalo pencapaian tulis menulis gw masih stagnan kayak yg sekarang: bangun pagi bikin kopi terus nyalain kompie buat ngetik novel, ngepost di k.com hasil ketikan tadi pagi, dapet pujian, dapet kritik, dapet poin, nyengir seneng, tidur. besoknya lagi bangun pagi lagi bikin kopi, nyalain kompi, lanjutin ngetik novel, post di k.com, dapet pujian, dapet kritik, dapet poin, nyengir seneng, dan seterusnya…. sampe kiamat. tanpa adanya komitmen untuk suatu pencapaian. berartikah itu semua?
menulis buat iseng, silakan. menulis buat hobi, jamak. menulis dijadiin profesi, susah.
di indonesia, orang gak bisa idup dari menulis novel (kalopun bisa, itu minoritas banged). paling banter dijadiin buat hobi. dan karena cuma sebatas ‘hobi’, gw percaya pada akhirnya setiap ‘penulis’ cepat-lambat bakal meninggalkan hobi menulis itu, beralih ke profesi dirinya yg sebenarnya, karena gimanapun juga orang itu perlu makan, perlu duid buat kehidupannya, perlu pencapaian2 karir yg gak ada hubungannya dengan menulis novel. belom lagi kalo nantinya dia berkeluarga.

trust me, akan ada suatu titik di mana pada akhirnya elu2 semua jenuh dan bahkan melupakan sama sekali novel elu yg udah digeluti bertahun2.. dan jangankan melirik kembali novel abadi lu itu, menulis buat judul lain pun lu bakal keilangan gairah, karena lu tersiksa dengan fakta bahwa sesungguhnya selama ini lu gak pernah mencapai apa2.
tiba-tiba lu menyangkal dengan tegas: siapa bilang gw gak pernah mencapai apa-apa? om pur dan bang villam pernah bilang, ‘proses’-lah yang terpenting, yg paling berharga. yeah, sure. tapi berartikah proses itu tanpa adanya output konkrit?
be realistic lha, titik jenuh itu bakal datang, cepat-lambat.. entah itu dateng pada esok hari, ato di hari tua lu.
dan gw percaya in the future, gw bakal ngalami ini juga. maka dari itu kenapa gw berkomiten naskah gw harus terbit, karena gw menginginkan pencapaian. setidaknya, kalopun nanti gw udah gak menulis lagi, ada ‘bukti fisik’ akan pencapaian itu, yaitu cetakan hardkopi novel gw.
yg terjadi pada gw, itu bukan ‘repot-repot’ menyesali waktu dan tenaga yang terbuang, tapi gw mau menempatkan diri gw cuma berada di dua pilihan ekstrem: mencapai sesuatu, atau tidak sama sekali untuk selamanya.

note: td pagi gw dapet telpon dari jogjakarta, bilang mau balikin naskah gw, ahahahah cepet banged keputusannya (kurang dari 2 minggu(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)), dan gw ‘optimis’ kalo udah sampe tahap balikin naskah begitu, hasilnya tidak lain tidak bukan: ditolak. parah.. segitu bututnyakah naskah gw sampe penerbit cepet banged nolaknya (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif)
eniwei, satu dari sekian banyak ‘judges’ itu sudah menjatuhkan vonis bagiku… :’(
hmmm.. masih ada judges yg lain, luckily.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 17, 2008, 10:42:27 pm
________________________________________
hmm… sekalian mengubah topik dikit. Menurut kalian apa yang membedakan antara cerita fantasy kelas berat seperti Lotr dan sejenis dengan sebuah anime berimajinasi tinggi pada umumnya? Soalnya selama ini gw baca fanficnya anak k.com mayoritas lebih kebayang nya just another anime’ish story.
So? apa yang harus dilakukan agar sebuah fantasy story yang kita buat bisa terlepas dari kesan anime?
- apakah semua cerita nya harus darkish dan serius?
- apakah tidak boleh ada jurus2?
- apakah karakternya harus bersikap dewasa dan tidak ada konyol2an?
- apakah semuanya harus pakai logika?
- atau sebuah fanfic berbeda dari anime krn ‘kesempurnaannya’ ?
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 17, 2008, 11:19:31 pm
________________________________________
Quote
di indonesia, orang gak bisa idup dari menulis novel (kalopun bisa, itu minoritas banged). paling banter dijadiin buat hobi. dan karena cuma sebatas ‘hobi’, gw percaya pada akhirnya setiap ‘penulis’ cepat-lambat bakal meninggalkan hobi menulis itu, beralih ke profesi dirinya yg sebenarnya, karena gimanapun juga orang itu perlu makan, perlu duid buat kehidupannya, perlu pencapaian2 karir yg gak ada hubungannya dengan menulis novel. belom lagi kalo nantinya dia berkeluarga.
trust me, akan ada suatu titik di mana pada akhirnya elu2 semua jenuh dan bahkan melupakan sama sekali novel elu yg udah digeluti bertahun2.. dan jangankan melirik kembali novel abadi lu itu, menulis buat judul lain pun lu bakal keilangan gairah, karena lu tersiksa dengan fakta bahwa sesungguhnya selama ini lu gak pernah mencapai apa2.

Bro,.. bro,…
Situasi yang elo sebutin di atas itu apply sepenuhnya ke gue. Dan gue gak sedikitpun ngerasain kejenuhan seperti yg elo perkirakan.
Gairah bikin novelpun gak pernah pudar. Selain PG, ada beberapa project lain. Memang belum diintens kan, tapi bukan karena gak bergairah. Simply ga ada waktu dan belum bisa riset aja :) Dan hobby dgn profesi itu tidak harus sama,.. koq.
Gue rasa sih, pendapat elo gak tepat dalam hal ini. Tapi,… it’s your opinion. It’s your choice.
Perhaps kalo helicopter view elo udah lebih tinggi lagi, elo akan bisa memahami point of view gue :)
Happy voyage!
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on June 18, 2008, 09:15:43 am
________________________________________
Rey, kalau belum pernah ngalamin, emang susah deh, pikirannya pasti macem2…
Jadi, kita dengerin aja kata om pur yang udah pernah ngalaminnya sendiri (meski blom pernah ngirim ke penerbit, paling gak udah melalang buana sampe belasan tahun).
Gw sendiri lebih setuju sama om pur.
Lupa karena terdorong ke pojokan yang gelap mungkin iya, tapi yang namanya “gairah” gak akan pernah hilang.
Dan gw pun setuju, proses juga bisa dihitung hasil/pencapaian, apalagi seperti pengalaman pribadi gw, selama proses penulisan novel justru mengubah cara pandang gw ke banyak hal. Gak cuma tokoh2 di novel gw aja yang karakterisasi-nya berkembang, tapi penulisnya pun juga. ;D Dan itu adalah suatu pencapaian besar buat gw.
Kalau memang terbit, tentunya diitung sebagai pencapaian yang lebih tinggi lagi, sekaligus satu hal: pembuktian.
:)
________________________________________
Post by: fr3d on June 18, 2008, 11:05:24 am
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 17, 2008, 10:42:27 pm
hmm… sekalian mengubah topik dikit. Menurut kalian apa yang membedakan antara cerita fantasy kelas berat seperti Lotr dan sejenis dengan sebuah anime berimajinasi tinggi pada umumnya? Soalnya selama ini gw baca fanficnya anak k.com mayoritas lebih kebayang nya just another anime’ish story.
So? apa yang harus dilakukan agar sebuah fantasy story yang kita buat bisa terlepas dari kesan anime?
- apakah semua cerita nya harus darkish dan serius?
- apakah tidak boleh ada jurus2?
- apakah karakternya harus bersikap dewasa dan tidak ada konyol2an?
- apakah semuanya harus pakai logika?
- atau sebuah fanfic berbeda dari anime krn ‘kesempurnaannya’ ?

Gw jawab pertama kali neh… ;D ;D ;D
Jeff, kalau menurut gw, sebenernya kedua hal itu emang dua style fantasi yang beda: gaya west dan gaya east.
Jadi gak ada pakem yang menyatakan salah satunya benar atau salah satunya salah.
Ya semua tergantung sama kesukaan si penulisnya aja atau selera pembacanya.
Apakah gak ada cerita fantasy gaya anime/manga yang pernah terbit sebagai buku/novel (selain hanya sebagai background game)? Jawabannya: ada.
Paling gak gw tau satu judul: Arcanum de Selum (kalo gak salah nulisnya gitu). Novel fantasi bahasa mandarin ini termasuk novel fantasi laris di negerinya (ngalahin sejumlah novel terjemahan).

Trus komentar lain dari gw:
1. Gak ada korelasi positif antara cerita serius/dark atau karakter dewasa/tidak konyol dan novel fantasi bagus. Yang penting semuanya tergantung penempatan aja, cocok atau gak dengan niat si penulis terhadap cerita atau tokohnya dengan yang akhirnya tersampaikan ke pembaca. Tidak ada masalah anime atau bukan anime. Semua sama aja kewajibannya. Bahkan anime pun banyak yang serius dan dark, dan tetep bagus, contohnya: Noir, Grave of Fireflies, dll.
2. Novel fan fic pada umumnya juga banyak yang ada jurus2-nya, cuma gayanya lain aja, misalnya ngucapin mantra sihir, etc. Semata-mata karena kalau ngucapin “Mutiara Beraksi!!!” atau “Meteor Pegasus!!!” gak cocok aja sama budaya yang mereka ciptakan di novel mereka.
3. Logika?
Maksudnya gini, meskipun kita ciptain kapal interstellar yang canggih banget di dalam novel kita (misalnya kapal yang bisa pindah antardimensi), kita harus punya alasan kenapa kapal itu bisa begitu (pindah dimensi), dan alasan itu sendiri harus logis di dunia fantasi yang kita ciptakan.
Contohnya: Tolkien menulis frodo dan sam sepanjang jalan ke mount doom cuma makan roti elf doang. Kenapa dua hobbit itu gak mati karena kekurangan gizi?! Padahal kalau di buku mereka jalannya sampe berbulan-bulan! So? Apakah itu masuk akal/logis seperti kata loe? Jawabannya: iya.
Kenapa? Karena Tolkien menceritakan apa itu roti elf. Betapa roti itu gak cuma enak banget ([biggrin]), tapi bener2 bergizi tinggi. [thumbsup]
Hal yang sama terjadi pula dengan mithril. Apaan pula zat itu sampe bisa2nya lebih kuat daripada baja?! Orang2 pasti bilang itu gak masuk akal! Tapi, itu masuk akal karena Tolkien menciptakan alasannya.
Itulah maksudnya logis atau enggak.
Suatu karya fantasi yang bagus adalah suatu karya yang menceritakan dunia yang believeable dalam cakupan fantasi yang diceritakan itu sendiri.
Ingat, bukan berarti logis untuk di dunia nyata! (Yang notabene gak mungkin, berhubung genre-nya aja udah fantasi!)
4. Tentang kesempurnaan, karena gw gak pernah kotak-kotakin jenis2 fantasi, maka gw menilai kesempurnaan dari nilai suatu karya (apa pun) secara keseluruhan. Secara keseluruhan ini berarti gabungan plot, penokohon, alur, tema, setting, gaya bahasa, orisinalitas, eksekusi penulis, ya semuanya lah…
Kalau semuanya itu pas, berimbang, tepat guna, serta sampai ke pembaca, maka karya itu bisa dikategorikan sempurna.
Even anime-like story can be perfect. :)
Gitu dulu ah…
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 18, 2008, 11:29:34 am
________________________________________
@Fred
Hmm.. thx… pikiran gw jadi lebih terbuka. Gw selama ini cuma terpaku gmn caranya supaya tidak terbaca seperti sebuah anime/game tanpa liat garis besar masalah sebenarnya. Terutama soal logika. Artinya kita harus menciptakan sebuah pakem logika yang baru, dan buat pembaca berpikir ‘logis’ menurut logika yang kita buat.

Quote
tapi yang namanya “gairah” gak akan pernah hilang.

Kl berdasarkan pengalaman pribadi gw sih, gw ga setuju. Dulu gw hobi dan cinta mati ama yang namanya gambar, apalagi komik. Dulu gw pernah bertekad seumur hidup gw paling tidak harus bisa terbitin satu buku komik yang gw kerjakan (gefallene masse terdahulu). Dan dulu waktu gw utk menggambar sangat sedikit krn sekolah dan lain2. Sekarang akhirnya gw lulus dan bisa ‘beruntung’ mendapat project komik Amrik yang gw sukai. tapi apa nyatanya sekarang? Gw sampai muak mengambar, gairah gw hilang, dan gw menganggap gambar sebagai hal yang menggangu hidup gw skrg ini, mengganggu waktu gw untuk menulis novel.
Mungkin ada yang bilang, itu karena cerita komik itu bukan cerita gw, bukan idealisme gw, dan gw bekerja demi orang lain. Tadinya gw juga berpikir begitu pada awalnya. Tapi gw pikir lagi ternyata kasusnya bukan begitu. Hal ini terjadi semata2 karena gw hanya ‘menginginkan’ yang aku ingin kerjakan, dan ketika gw mendapat yang gw inginkan, ternyata manisnya hilang…
Sperti juga ketika dulu masih sekolah rasanya mau main game sepuasnyaa…. setelah liburan datang dan akhirnya gw main seharian, ternyata cuma butuh 3-4 hari untuk membuat gw bosan dgn itu. Jujur gw takut kl nanti gw dah lepas kerjaan komik gw utk fulltime menulis, hasrat menulis gw pun akan menghilang seperti itu…. :’(
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: fr3d on June 18, 2008, 11:46:16 am
________________________________________
Ya… gak bisa dibandingin juga kali antara “gairah” nulis sama maen game.
Kalau mah udah tamatin suatu game, gw juga selalu gak bergairah lagi maen game. ;D
Tapi, seperti yang gw bilang tadi, sebenernya “gairah” itu cuma tertimbun aja sama gairah yang lain.
Kita jadi bosen ya, tapi itu cuma sementara, semata-mata karena kepuasannya berkurang aja dan kita menemukan sumber kepuasan lain. Masih ingetkan hukum ekonomi yang diajarin di sma dulu: kalau kita laper berat, trus makan sesuatu, lama-lama pasti kenyang, tapi lama-lama nilai kepuasannya makanan itu juga berkurang (kurang lebih gitu lah maksudnya, [biggrin]) Tapi karena kita akhirnya muak sama makanan itu, bukan berarti kita gak akan pernah laper lagi kan?
;)
Gw percaya, kalau momennya tepat, loe pasti bakal bikin komik lagi. Kita tunggu aja. Mungkin setelah GM terbit? Hehehe…
________________________________________
Post by: BloodSin on June 18, 2008, 01:48:22 pm
________________________________________
sebetulnya dulu gw pernah mengklasifikasi stereotipe2 yg mungkin muncul dari suatu karya fantasi, gaya RPN(Role Playing Novel–stereotipe yg dipengaruhi berat oleh RPG/manga/anime) ini lha salah satu stereotipe yg paling sering di indo ini. sebetulnya streotipe ini gak jelek kok. malah, RPN-nya clickdian–Zauri, dapet penghargaan juara dua kategori remaja di ajang IKAPI award..
tapi emang, alangkah baiknya kalo kita gak terseret tendesi penulis fantasi lokal kebanyakan, ya genre RPN itu lha.. ini bukan berarti semua RPN gak bakal terhitung spesial di mata gw (halah udah kek orang penting aja gw ;D), setidaknya seumur2 gw baca novel fantasi, ada satu judul RPN dahsyat di mata gw, bikinan ex-member sini juga, tapi judulnya masi di-r.a.h.a.s.i.a-kan bagiku hueheheh.. :P

bagi gue, yg ngebuat suatu karya fantasi itu terhitung RPN ato bukan, itu penilaiannya gak satupun dateng dari pertanyaan2 rinci lu di atas, melainkan harus yg berciri2 berikut:
1. alur ngebut, ciri ini yg paling mungkin muncul dalam suatu RPN.
2. gaya cerita yg kerasa game RPG banged: masuknya karakter satu per satu buat jadi anggota party, bekerja sama ngelawan monster, pake magic, summon guardian, ada spesial moves segala ;D, dan… seterusnya.
3. setting & peraturan dalam dunia rekaan yg ala RPG, alih2 menuruti rules dalam dunia konkrit. misal orang bunuh monster bakal dapet duid ato item berharga, tokoh2 yg udah terbiasa banged ama monster dan keanehan2 yg gak lazim di dunia nyata, dan bangunan setting yg seutuhnya imajinasi pengarang tanpa dukungan riset/fakta dari dunia nyata.
4. minimnya refleksi/konflik batin dalam cerita, dan penceritaan terfokus pada pendeskripsian rentetan peristiwa antar peristiwa–mungkin ini yg ngebikin jadi berkesan ngebut. tak jarang bbrp aspek lainnya jadi kedodoran pula karena faktor ngebut itu, seperti karakterisasi, pembangunan setting, dll..
5. naming! umumnya naming buat tokoh2nya beraroma barat, tapi ajaib punya bunyinya. somehow nama2 itu berasa familiar dalam ingatan (tentu ini cuma berlaku buat pembaca ex-RPGer), tapi anehnya sebetulnya lu baru pertama kali denger nama itu.
beberapa RPN mungkin gak menuruti satu-dua pakem di atas, kayak ledgard yg cenderung bertempo lambat alih2 ngebut, atau Zauri yg teknik karakterisasinya masi terjaga.. tapi umumnya yg gw dapet setelah baca Ledgard, Zauri, Nightfall, Cardan, Holy Knight (RPN majalah ultima) dan satu judul RPN r.a.h.a.s.i.a itu, yak pakem2 di atas itu lha yg muncul.
note:
eh eniwei, gw mau tanya ke elo, gimana kesan lo baca prolog lemuria gw? kerasa gak RPN-nya? soalnya harus gw akui, gw pun awal2 nulis lemuria itu kepengaruh banged ama gaya game rpg… :P

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XII (19 Mei 2008 – 23 Mei 2008)

  • Penjelajahan FFDN oleh Fred
  • Cuplikan Lemures karya BloodSin

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 19, 2008, 09:47:10 pm
________________________________________
Boss Rey,
Keren sukeren. Thanks buat komplimen-nya, bikin gue yakin bahwa di part itu gue udah right on spot. Untuk kritikannya, mari kita bahas,….

1. Masalah tanda baca
Iye deh, ane beresin lagi semuanya,… hehehe,… terima kasih udah ditunjukkan kesalahan2.
Quote

2. Ketidakkonsistenan kata panggil
Gue liat lagi deh, sebaiknya memang diperbaiki biar lebih kuat konsistensinya.

5. Pemilihan kata
Sekaligus untuk menjawab pertanyaan mengenai target market. Memang ditujukan ke level SMA s/d kuliahan, lah. Jadi kupikir kata-kata “keren” lebih bunyi di level mereka. Tadinya gue coba pakai kata “gagah”, tapi kesannya jadi tua,.. hahaha,… memang rada dilematis juga sih. Mungkin gue coba cari padanan lain: mengagumkan, jumawa, menggetarkan, etc.

Quote
-)Ane berharap, ada penjelasan logis kenapa kelima keturunan Pendekar Garuda itu bisa tinggal dalam satu lingkungan yang sama (SMA Raya). Selang setting Jaka – Sentika itu 600 tahunan, betapa mestinya keturunan kelima pendekar itu udah terpencar2 IMO sih.

Destiny guides them,…. kira-kira gitu konsepnya. Sebisa mungkin gue coba bikin ngga ada yg kebetulan di setting PG. Kutipannya kira-kira begini:
Seharusnya Jaka menyadari lebih dini. Persahabatan Jaka-Ratih-Rani sesungguhnya bukan cuma pertemuan kebetulan, ketiga anak itu sudah diarahkan oleh garis leluhurnya masing-masing untuk bertemu di sekolah yang sama, dan kecocokan di antara mereka bertiga juga merupakan warisan naluri dari persaudaraan di antara leluhur mereka. Sayang seribu sayang, kesadaran itu datang terlambat.
Emang sih, kurang logis,… hehehe. Kayak too convenient coincidence. Tapi harap diinget bahwa musuh merekapun udah mengikuti jejak mereka jauh sebelum mereka lahir.

Quote
-)Tokoh abu2 juga sebetulnya gw harapkan muncul dalam cerita, entah dia itu adalah tokoh penjilat licik yg kadang ada di pihak putih atau hitam, atau malah netral. Dan lebih seru lagi kalo ente bikin tokoh abu2 itu ada di setting jaman Sentika, dan muncul keturunannya juga.

wah boleh juga idenya :) . Ntar gue musti tempatkan dulu kira-kira peran tokoh abu-abu ini apa dalam permainan dulu dan sekarang. Kebetulan memang belum ada motivasi yg kuat sih. Secara rel utama cerita ini sesungguhnya adalah pertarungan antara Kitab Putih (kitab lontar) versus Kitab Hitam dari jaman ke jaman, di mana masing-masing memiliki proponent-nya.
Tapi ide tokoh abu-abu ini kayaknya bakal bisa gue terapkan di sekuelnya :D

Quote
-)Tokoh Johannes Domingus Pasaribu yang NOTABENE berdarah Batak, gimana urusannya bisa nyambung ke silsilah Rangga yang orang Jawa? Tentu kalo yg dipake konsep titisan, hal ini gak bakalan jadi masalah.

Demikian kisah spin-off mengenai Rangga: Kira-kira lima belas tahun setelah peristiwa turunnya Utusan Iblis di era Sentika, Pendekar Garuda resmi membubarkan diri. Sentika dan Pramesti menetap di daerah yang kelak menjadi Demak, dan salah satu garis keturunannya memecah ke daerah yang nantinya menjadi Yogyakarta, yang menjadi garis silsilah (you know who). Widura menetap di daerah yang kelak menjadi Surakarta (Solo), sehingga keturunannya menjadi abdi kraton Mangkunegaran sampai ke garis keluarga Bun. Anggraini meneruskan petualangannya sampai ke pesisir Timur yang kelak menjadi Surabaya. Dari situlah ibunya Rani mendapatkan selera kuliner terbaiknya :) Sementara Rangga berkelana ke sampai Aceh serambi Mekah. Bila dari sana keturunannya ada yang nyangkut sama orang Medan, wajar aja dong,… hehehe.
Ah spoiler-spoiler bertebaran,… nih. Tapi jujur gue ngga terlalu risau. Soalnya buat gue membaca adalah seperti menikmati makanan. Masakannya gue udah tahu, rasanya pasti gue juga udah tahu, tapi bukankah kenikmatan utamanya ada di saat kita mengunyah makanan tersebut?

Untuk Jo, memang spesial kondisi dia, nih. Dia bisa ngga tidur dua bulanan berturut-turut. Dia bisa ngga napas lebih dari lima jam. Dia bisa telepati dalam kondisi kepepet. Sedikit banyak ‘ilmu’nya memang telah membantu tanpa dia sadari. Tapi kenapa dia gak worry? Kira-kira sistematika gue begini: pertama, gengsi Jo melebihi akal warasnya sendiri. Jadi buat dia lebih baik masuk situasi aneh dari pada dia harus menanggung malu (tentu saja, definisi malu anak ini memang rada gak waras juga). Kedua, sesuai juga dengan konstitusi dia: pecahkan masalah gue dulu, urusan lain belakangan. Jo takut sama mimpinya. Reaksi emosi dia menerima sinyal dari masa lalu itu lebih parah daripada yang lain. Maka bagi Jo, solusi “Ngga Mimpi” itu jauh lebih utama dibanding rational question. “Kenapa” buat dia nggak penting, tapi “Gimana supaya” jauh lebih penting. Dan memang jalan keluar yg dipercaya ama Jo juga gak waras, sih. Yah kalo dia waras, mana mungkin jadi preman sekolah, hehehe,…

Tapi gue memang punya proposisi yang menarik buat karakter Jo ini. Gue mencoba menggambarkan seorang manusia yang fitrahnya punya potensi luar biasa, tapi potensi itu terkunci di balik keterbatasan akal pikiran, status sosial, kecerdasan, kemalasan, igonrance, yang gitu-gitulah,…. Makanya salah satu perwujudan potensi luar biasa itu gue bikin ekstrim, di luar kewajaran normal.
Hmm,.. gimana caranya agar situasi ini bisa dibikin lebih believable, ya?

Quote
-) Suka OOT
Ada penjelasan ttg bahaya merokok, masyallah, keluar banged itu dari bangunan plot! Mendingan dicut aja IMO sih. Terus masa abis Jo nyikat Robbi, malah ngomongin tawuran?

Ehm, tahun 1991, memasukkan adegan remaja merokok dalam sebuah karya Novel sangatlah tidak umum [rolleyes]. Kalo sekarang sih udah biasa, ya? Tapi honestly, gara-gara itu pula gue merasa punya tanggung-jawab moral untuk membuat keseimbangan dalam novel gue. Dalam hal ini ngambil perwujudan ideal seorang pendidik (pak Kepsek), gimana caranya sih melarang remaja merokok tanpa membuat mereka ngelawan. Sorry, emang sih kadang gue pikir,… ini too preachy gak ya? terus mending dipotong, gak ya? Tapi kembali, karena niatnya tanggung-jawab moral,… hehehe kayaknya akan tetap kupertahankan. Dan ntar gue bikin twist buat sekuel,… kenapa sepulang dari Kemping, si Tongpes jadi gak demen sama Rokok. Ha ha ha, temen-temennya bingung, dianya sendiri juga bingung!
Ngomongin “jo ngga mau tawuran lagi” juga gitu, tanggung-jawab moral juga. Tapi part itu memang bisa lebih dipendekin. Itu nantinya akan menjelaskan kenapa di sekuel, Jo nggak lagi mau ikut-ikutan tawuran pelajar, dan trouble yang dia alami gara-gara itu.

Anyway, thanks dua jempol ya atas repiu-nya :)
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: fr3d on May 21, 2008, 01:21:12 pm
________________________________________
Pada suatu masa, di sebuah ruangan yang sepi nian dan damai…

Fr3d: “Eh, apaan nih? Kayaknya menarik!”

Open link in new window.

Fr3d: “Kayaknya asik nih! Ikutan ah! Tapi, harus tau dulu seluk beluk-nya dari awal nih biar paham…”

Klik.

Fr3d: “Ok! Mulai!”

Fr3d: (*melihat reply #1*) “Ayo smangat!!!” [letsdoit]
Reply #99: “Semuanya? Beneran yakin nih anak?”
Reply #1253: “HA-HA!”

Beberapa saat kemudian…

Fr3d: (*memijat kening dan mengerjap-ngerjapkan mata*) “Mungkin harus dipilah nih… Ada banyak tips-tips bagus dan pembicaraan berbobot, tapi yang OOT rupanya cukup banyak juga…”

Fr3d: “Mungkin BENAR-BENAR harus dipilah nih… Gak mungkin dibaca semua kata per kata…”

Reply #99: “Kasian banget sih, loe!?”
Reply #1253: “HA-HA!”
Reply #1379: “Dah, guys! Gw mau pergi makan dulu! Bu-bye!” [yawn]

Fr3d: “Selangkah… demi… selangkah… seperti keong yang dibahas panjang lebar…”
Reply #99: “Lho? Sial! Knapa jadi begini?! AAAAH!”
Fr3d: (*meng-klik tombol page 11*) “Yes!”
Reply #575: “Ah, biasalah newbie! Pasti masih semangat ’45. Liat bentar lagi aja, ntar juga keok…”
Reply #1253: “HA-HA!”

Dan waktu pun berlalu…

Fr3d: “Hmm… ternyata banyak juga ya yang suka nulis-nulis cerita fantasi.” (*kagum dan sedikit tercengang*)
Fr3d: “Slama ini ke mana aja daku? Terisolasi dari dunia luar dan menganggap fiksi fantasi dalam negeri perkembangannya cuma begitu aja…?”

Klik.

Reply #142: “OH, SH*T!” [buck] —-communication loss—-
Fr3d: “Ada gal yang menang penghargaan IKAPI & masuk nominee KLA juga! This tret must be really worth it!”

Reply #574: “Eh, Reply #575, kita harus melakukan sesuatu nih! Anak ini kayaknya malah tambah semangat tuh!”
Reply #575: (*menimbang-nimbang dengan serius*)
Reply #1253: “HA-HA!”

Fr3d: “Hei! Pemuda yang satu ini ternyata bener-bener bisa gambar! Artwork-artwork-nya keren!” [thumbsup]

Reply #574: “Launcher I dan II siap! Prepare bombing! Target’s locked!”
Reply #575: “3! 2! 1!”
[bomb] [bomb] [bomb] [bomb]
Fr3d: “Lho, ternyata banyak anggota baru juga ya di tret ini!” (*menunduk, melihat tanggal reply yang masih dalam hitungan kurang dari 6 bulan*)
Fr3d: “Gak cuma diriku saja! Senangnya!” [biggrin]

Reply #574: “Damn! Gak kena! Gimana nih?!” (*panik*)
Reply #575: “Dia cuma hoki aja! Coba lagi! 3! 2! 1!”
[bomb] [bomb] [bomb] [bomb]
Fr3d: “Tunggu sebentar…” (*berbalik dan memperhatikan lebih jelas*)
Fr3d: “Ada apaan nih antara TS dan sang penghuni huminiz?”

Reply #574: “AAARGH! Meleset lagi!”
Fr3d: “Kura-kura/KuRara? Mocca_chi = Mochi? Karisuma Ren? Ah… bingung! Maju lagi ah…”
Reply #575: “Tunggu! Tunggu! JANGAAAN!”
Reply #574: “MAMAAA—” [confus_55]
Reply #1253: “HA-HA!”

Klik.

Fr3d: :o “Hmm… Yang satu ini rasanya berpengalaman menulis banget nih! Pembahasan tekniknya dan tips-tipsnya oke juga!”

Reply #1596: “Bos, baru dapet kabar nih dari garrison guard #1000! Ada ancaman baru!”
Reply #1643: (*cool*) “Fufufu…”

Fr3d: “Penulis baru… Baru ditolak penerbit… Sedang diproses… Lagi kehilangan mood… ASL pliss…” (*mengelus-elus dagu*)
Fr3d: “Interesting!”

Reply #887: (*terbangun dari tidur*) “Udah lama nih gak mimpi indah… Senangnya… Buka jendela dulu ah biar udara seger masuk…”
Reply #887: (*berjalan ke jendela, mendorong frame jendela, sesaat terdiam…*) “OMG, apaan tuh?”

Klik. Klik.

Reply #907: “Run! Run! Catch me if u can!”
Fr3d: (*minum segelas air, kembali ke hadapan monitor*) “Ada rasa dingin… dingin… Lho?! Ini kan udah dibaca!”
Klik.
Reply #907: “What the f—”
Reply #1253: “HA-HA!”

Klik.

Reply #1000: “WARNING! WARNING! SECURITY BREACH ALERT! WARNING!”

Klik.

Fr3d: “Ada ribut-ribut apa nih?”
Reply #1066: “Anak ini progress-nya cepet juga! Amazing! Surrender aja ah…” [giveup]

Reply #1094: “Jeng, tau gak sih si anu itu ternyata gini-gono!”
Reply #1095: “Masa iya sih?! Ah, gak percaya aye!”
Sesuatu melesat cepat…
Reply #1094: (*termangu*) “I…i…i-tu…”
Reply #1095: (*merapikan rambut*) “ADUH! Padahal baru dari salon!!!”
Reply #1253: “HA-HA!”

Fr3d: “Sedih nih membaca orang saling berteriak dan menunjuk satu sama lain…” :(
Reply #1253: “HA—”
Fr3d: “HA!”

Klik.

Fr3d: “Eh, ada reviewer baru… Tapi… Lho?! Biawak?” :o

Reply #1379: (*baru pulang makan*) “Kenapa sepi nih? Pada ke mana yah reply-reply yang laen?”
Lampu mendadak mati.
Reply #1379: “Hei! Siapa yang matiin lampu?! Aduh, gelap! Takuuut…” :’(

Klik.

Reply #1596: (*mengambil perlengkapan perang dari gudang*) “Sial! Kenapa pada karatan gini? Maintenance-nya siapa sih?”
Reply #1501: “Awas! Awas!”
Reply #1596: (*berjalan ke luar*) “Ada apaan? Jangan berisik! Bos lagi tidur di atas!”
Reply #1501: “Gawat! Gawat!”
Reply #1534: “Itu dia datang!”
Reply #1596: “NO WAY!” (*menghunuskan pedang*)

Beberapa jurus kemudian…

Reply #1596: [stretcher]

Fr3d: “Dari Guang Zhou, melintasi pelangi sambil menunggangi petir, melewati terra eternia, masuk ke labirin, dan akhirnya tiba di titian ayat-ayat…”

Reply #1596: (*mengeluarkan ponsel dan mengetik sms*) “Bos, maafkan aku…” [sorry]
Sending…
Report: Delivered

Fr3d: “Satu reply lagi!” (*penuh tekad*)
Reply #1643: (*cool*) “Rupanya kaulah yang disebut-sebut yang lain… Fufufu…” (*perlahan-lahan berubah menjadi monster mengerikan!*)
Monster Reply #1643: “Waktumu sudah habis, Fr3d!”
Fr3d: “?!?” [rolleyes]
Monster Reply #1643: “CIAAAT!!!”
Fr3d: (*membuka notes*) “Semoga ini bisa menghentikannya…”
Monster Reply #1643: “18 TELAPAK NAGA!”
Fr3d: (*membacakan isi notes dengan lantang*) “Semenjak dahulu kala sampai sekarang, inilah yang telah terjadi…”

DAFTAR PEMBAGIAN KURSI DEWAN:

Reply #100: rd_villam
Reply #200: eniyorda
Reply #300: bloodsin
Reply #400: kura2
Reply #500: hege
Reply #600: mocca_chi
Reply #700: bloodsin
Reply #800: mocca_chi
Reply #900: euthalia_calisto
Reply #1000: clickdian
Reply #1100: euthalia_calisto
Reply #1200: apocrief
Reply #1300: alk
Reply #1400: kura2
Reply #1500: lich
Reply #1600: bloodsin
Reply #1700: …

Monster Reply #1643: “HAH?! APAAN TUH?”
Monster Reply #1643: (*tertawa mengejek*) “Ternyata gak ada efeknya! Saatnya serangan lagi! Terimalah serangan terakhir ini! METEOR PEGASUS!”

Fr3d: “Sotoy… Engga… Sotoy… Engga… Sotoy… Engga…”
Fr3d: (*memutuskan*) “Well, everything happens for a reason!” 8)

Klik.

Monster Reply #1643: “TIDAAAK!!!” (*menyusut, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya lenyap*)
Fr3d: “Phew! Akhirnya selesai juga ngebaca semua posting-an tret ini…” [winner]

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: clickdian on May 21, 2008, 04:04:48 pm
________________________________________
#Fred
[lol] [lol] [lol]
hueahuahaaa
kocak! kocak!
aq jadi pengen tau tulisanmu. posting cuplikannya di sini dong, kalo gak keberatan [bigwink]
________________________________________
Post by: fr3d on May 21, 2008, 04:34:30 pm
________________________________________
Quote from: clickdian on May 21, 2008, 04:04:48 pm
aq jadi pengen tau tulisanmu. posting cuplikannya di sini dong, kalo gak keberatan [bigwink]

Tulisanku? Wah, malah lucu-lucunya jarang banget! Lebih banyak kisah tragis dan kejadian penuh ironinya…
Mungkin pelampiasannya ya nulis gila-gilaan di forum atau milis gini deh… ;D
Kalau di-posting blom boleh, mba dian… :-\
Untuk novelku ada “masa kadaluarsa” minta review-nya gitu… dan skarang udah habis masa kadaluarsa-nya itu… Memang udah kebiasaan dan ada aturannya gitu… Aku gak mau ngasih orang baca kalo ceritanya blom lengkap, soalnya kepengennya dapet penilaian secara keseluruhan –> ribet ya? yup! [rolleyes]
Versi review/editan trakhir, masa kadaluarsanya berakhir tahun 2006 lalu… (memang dah lama banget sih, maap ya… :-\)

Nah, skarang aku lagi ngerjain review trakhir nih (sebelum dikirim ke penerbit). Niatnya sih setelah review trakhir ini selesai barulah mau ditawarin lagi untuk dibaca orang lain (biasanya sih ditawarinnya full, gak boleh cuma secuplik, bentuknya hardcopy sebuku besar & berat, dan harus ada komentar/feed back-nya –> kami sebut kegiatannya “korespondensi”).
Kami? Yup, novelku memang ditulis sama dua orang.
Targetnya sih review trakhir ini selesai bulan juli. Mudah2an gak ada masalah…
Kalo udah slesai nanti, aku pengen nih minta pendapat dari rekan2 penulis laen di sini! :)
Boleh ya? (Beramai-ramai menjawab: “Boleh koq!” ;D ;D ;D)
Oya, genre-nya ya fantasi dong! ^-^
________________________________________
Post by: rd_Villam on May 21, 2008, 05:02:48 pm
________________________________________
@fred,
you’re good. really good. [thumbsup]
salam kenal.
boleh juga deh nanti aku review draft novelmu. :)
pendapatku biasanya ga begitu bermutu sih, tapi gak masalah kan? :D :D :D
________________________________________
Post by: BloodSin on May 21, 2008, 08:12:21 pm
________________________________________
@fred,
this is EXTREMELY serious, ati2 kalo minta komen ke villam & clickdian, kedua member itu kritikus kelas buaya, sadis dan suka mengumbar kata2 kejam, mahajahat, tukang cela, dan jarang banged kasih komplimen.
saranku: untuk ukuran newbie, sebaiknya ente minta komen ke hege atau FA Pur saja, mereka ini reviewer2 baik hati, murah senyum, arif bijaksana, dan suka kasih pujian. Dijamin tokcer dah [thumbsup]
*ketawa setan [biggrin]*
________________________________________
Post by: BloodSin on May 22, 2008, 01:28:20 pm
________________________________________
Quote from: Amru_Yozar on May 21, 2008, 11:43:01 am
@ All
Udah pada tau Ramaditya? Dia tuh tunanetra yang ikut bikin sontrek di game-na Nintendo. Dia juga bikin nopel Fantasy lho. Sekilas sih mirip Gundam gitu. Kalo mo donlot ada di sini http://www.ramaditya.com/novelrama.zip Kalo mo baca blog-na ada di sini http://ramaditya.multiply.com/

Amru, Thanks link-nya, dulu gw pernah liat orangnya, jadi tamu di empat mata, biar tunanetra gitu selera sarkasmenya sadis juga, tukul abis dikatain sama dia [biggrin]
Udah baca sekilas2 fantasi dia, idenya sih emang lumayan orisinil, dan tata bahasanya rapi ciamik pun, naming lumayan. [thumbsup]
Cuman somehow (gejala ini juga ditunjukkan naskah2 excel), walaupun rapi ciamik gitu, bahasa dia kurang bisa mengikat pembaca, gw langsung close begitu masuk baca halaman 3, entah kenapa. Mungkin nanti lanjut baca lagihh..
note: untuk ukuran tunanetra, fantasi dia bener2 lumayan banged, cuma cuma bermasalah di gaya bahasa IMO sih :-\
________________________________________
Post by: BloodSin on May 23, 2008, 01:11:46 am
________________________________________
Boleh posting cerita jg kan? Boleh? Boleh? Boleh… [biggrin]
cuplikan dari LEMURÉS: Surga yang Hilang, naskah fantasi gw yg lagi berjibaku VS penerbit :D

Kegelapan beranjak dari tempat, dan hari kembali bergulir di Sierra Kuno. Mereka berhasil melalui malam pertama di Sangkar Hantu tanpa sedikit pun gangguan berarti, kecuali serbuan dari koloni serangga malam yang mengusik tidur mereka sedemikian rupa: nyamuk tropis.

Pagi itu mereka sarapan dengan melahap pakis-pakisan hutan yang tumbuh di ketinggian; dan untuk itu mereka mengandalkan si bocah Sirat untuk memanjat pohon.

Ketika hari mulai terik, mereka kembali melakukan pencarian dengan menembus kerimbunan semakin dalam. Semua orang menyadari bahwa mereka semakin jauh melangkahi wilayah Sangkar Hantu.

Pada suatu wilayah di tempat itu, mereka melihat jajaran pohon aneh: kelompok pohon tinggi semampai dengan bagian atas yang amat rimbun, di mana mereka melihat sarang-sarang yang dibangun dari ranting kering dan tanah liat. Di wilayah itu ada lebih dari selusin barisan pohon aneh, dan setiap pohon memiliki lebih dari selusin sarang.

Dari semua anggota Rombongan, hanya Guillarde yang memiliki minat mendalam terhadap sarang-sarang itu; rupanya sang marquis dibakar oleh rasa penasaran terhadap rupa mahkluk penghuni sarang-sarang itu.

Ia melemparkan sebatang ranting jatuh ke arah sarang-sarang itu, namun tidak pernah bisa mencapainya, oleh karena ketinggian sarang-sarang itu. Kendati demikian, ia sudah cukup menimbulkan keberisikan untuk membangunkan apapun mahkluk yang tertidur dalam sarang-sarang itu.

Namun tak ada reaksi, tak ada balasan. Sarang-sarang itu tidak menampakkan penghuni-penghuninya; membuat orang-orang yang ada di situ menarik kesimpulan bahwa sarang-sarang itu kosong belaka.

Tidak mau berlama-lama mengalihkan perhatian pada sarang-sarang aneh itu, sang pemimpin meminta orang-orang kembali melangkahkan kaki. Jadi siang hari itu mereka terus berjalan hingga gelap menyentuh sisi barat cakrawala, menembus wilayah Sangkar Hantu yang memiliki pohon-pohon dengan sarang aneh.

Sarang-sarang itu masih ada di tempat perhentian mereka, namun tak seekor pun mahkluk penghuninya yang menunjukkan tanda keberadaan.

Sewaktu Kain memutuskan untuk bermalam di situ, si bocah Sirat menyuarakan kegelisahannya.

“Bagaimana dengan sarang-sarang itu?”

“Kosong,” jawab Kain sekenanya, terlihat tidak terlalu yakin. “Apapun mahkluk penghuninya, kukira sudah bermigrasi dari sini. Aku pernah mendengar tentang kawanan angsa yang bermigrasi dari tempat ke tempat.”

“Burung-burung yang bermigrasi tidak membangun sarang di atas pohon,” Guillarde berpendapat. “Dan burung-burung yang membangun sarang tidak akan bermigrasi kemana pun, pada umumnya.”

“Jadi,” Kain berkata, “apa idemu, Tuan de Lusignan?”

“Mempertimbangkan ukuran sarang-sarang itu, kukira mereka hanyalah satu koloni burung kecil atau tupai kerdil,” jawab Guillarde, tidak yakin. “Perlukah kita mengkuatirkannya?”
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on May 23, 2008, 09:52:12 am
________________________________________
Ok, karna rey juga udah komen, aku mau nutup aja topik review cuplikan novelku supaya tidak berpanjang lebar ria berhubung cuplikannya sendiri pendek sekali :D .
Thx u buat mba dian, villam, om pur, hege, dan rey yang udah membaca dan menyampaikan pendapat kalian.
Aku akan menyimpulkan aja ya:

1. Masalah plot yang masih jadi tanda tanya/tak jelas seperti yang dijabarkan villam memang tak bisa dibahas lebih jauh. Tapi, berhubung villam berhasil point out semua hal penting berhubungan dengan plot yang sengaja aku sebut sekilas di cuplikan itu (yakni: mimpi apa, kehilangan apa, persiapan apa, dua benda itu), berarti aku menganggap cuplikan itu sudah cukup dalam hal memberi input awal/pembukaan kepada pembaca mengenai hal-hal kunci tadi dan cukup pula memberi gambaran atau ekspektasi mengenai apa2 yang mungkin akan diceritakan/dijelaskan pada adegan2 berikutnya.

2. Om pur merasa cuplikan itu sebagai prolog dan temponya lambat. Dan itu tidak sepenuhnya salah, karena cuplikan itu memang “prolog” untuk masuk ke permasalahan utama kedua di dalam novelku. Temponya lambat karena memang sedang memulai lagi pembangunan kisah dari awal.

3. “Cerita yang kurang mengalir dan tak cukup ada tease yang mengundang” komentar hege ini juga aku memaklumi karena memang cuplikannya sendiri pendek, dan “tease” itu sebenarnya ada di balik pintu yang belum sempat dibuka oleh si tokoh di dalam cerita [rolleyes].

4. Feed back yang aku harapkan pada awalnya sebenarnya lebih ke arah gaya bahasa (seperti yang kukatakan di awal posting). Dan tentang gaya bahasa ini, aku dapat menyimpulkan beberapa hal dari komen2 yang ada:

a. Meski minim detil, mba dian berhasil menangkap tujuanku menulis adegan itu di dalam kamar (spesifik) itu, yaitu hanya sekedar untuk menunjukkan si tokoh adalah orang yang sangat penting di dalam dunianya. Ini sudah cukup membuatku puas. Kalau si tokoh tidur di kamar lain, misalnya nginep di rumah temannya, hasilnya pasti beda dari harapanku. ;D

b. Mba dian juga mengatakan: “belum menemukan sesuatu yang aneh”; dan rey mengatakan: “gaya dan tata bahasanya tak ada yang jelek dan tak ada yang spesial”. Dua komen ini juga cukup buatku, karena ini berarti tak ada yang salah dengan gaya dan tata bahasa itu sendiri. (*lega*)
Soal spesial atau gak, rey, gw memang menyimpan yang spesial2 untuk adegan lain yang lebih membutuhkan. Kalau semuanya ditulis dengan spesial, nanti malah jadinya berasa gak ada yang spesial sama sekali kan? [biggrin] (*buru-buru melarikan diri sebelum dirajam!*)

c. Tentang detil yang tampaknya jadi perhatian utama (rey bahkan mengaitkannya dengan “wawasan luas” dan “kreatif”; membuat diriku bertanya, apa memang ada hubungan sebab akibatnya antara kedua hal itu? ???); harus kuakui lagi, cukup sulit untuk memasukkan terlalu banyak detil ke dalam novelku yang punya banyak istilah, set, prop, tokoh, dan aspek pendukung world building lainnya, karena novelku sudah cukup tebal oleh plot yang rumit. Detil2 itu sebenarnya bukan tak ada sama sekali, tapi aku memilih memasukkannya ke lokasi2 yang lebih appropriate atau hal2 yang lebih membutuhkan. Hal ini semata-mata supaya tidak menyibukkan para pembaca ketika aku mengharapkan mereka disibukkan oleh plot. Ini cuma soal penempatan aja koq. ;)

Oya, soal membagi ke beberapa buku, sekarang memang tengah dilakukan koq! Tenang aja, rey, tiap “buku” itu sudah ada plot2 kecilnya yang punya awal dan ending, sekaligus tetap mempertahankan satu plot besar untuk keseluruhan cerita.
Rasanya itu sudah mencakup semuanya…
Skali lagi, thx u all! :D
Untuk mba dian dan villam yang sempet aku janjiin versi yang lebih panjang,
Setelah aku berdiskusi dengan co-author-ku, kami akhirnya sepakat untuk kembali ke peraturan semula, yaitu selesaikan dulu seluruh pengeditan sebelum meminta review dari orang lain supaya bisa dapat komentar yang lebih lengkap. Jadi, untuk sekarang, belum bisa men-japri apa pun. Maap ya, sudah menebar janji-janji palsu. ;D ;D ;D
Mudah-mudahan saja pengeditan terakhirku ini selesai pada waktunya. (*crossing finger*)
Ayo semuanya, kita smangat menulis/mengedit!!! [letsdoit]

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi VII (14 Mar 2008 – 2 Apr 2008)

  • Fantasi identik dengan hiperbolis?
  • Korban Penculikan Alien Pertama di Indonesia Adalah Seekor Kucing? karya hege
  • Khael dan Marina oleh alk
  • Tentang macam-macam Prolog
  • Membuat greget cerita
  • Blog khusus mengulas novel-novel Fiksi Fantasi Indonesia

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
________________________________________
@Rey
Thanx buat reply-mu yang gondrong abis! ;D
Anyway, aku pikir ada beberapa hal yang emang bener dr apa yg kmu tulis.
Dari situ aku mikir2, ternyata emang bikin novel susah banget ya?
Selama ini aku slalu kesusahan dlm merangkai/mengolah kata.
Jadinya aku pake majas2 utk deskripsi suasana, dst.
Penggambaran tokoh juga pake majas2, kebanyakan majas hiperbolis sih! ;D

Btw, aku mau nanya, apakah novel fantasy identik dengan yg namanya sesuatu yg dilebih-lebihkan?
Alias hiperbolis?
Coz, dulu aku pernah minta saran ke temanku yg udah pernah baca cuplikan critaku, dia bilang critaku kurang hiperbolis utk ukuran sebuah novel fantasy.
Aku ga tau apa maksudnya?
Mgkn yang dia maksudkan tuh semacem mengolah kata2 dgn imajinasi tinggi gitu ya?
Misal : di Narnia, ada Aslan, singa yang bisa ngomong.
Ato mungkin, ada mobil terbang di crita Harry Potter.
Trus, apakah novel fantasy emang menuntut suatu imajinasi yang buat setinggi-tingginya?
Mohon dijawab pertanyaan penulis pemula ini… :)
________________________________________
Post by: alk on March 14, 2008, 11:49:58 pm
________________________________________
Quote from: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
Btw, aku mau nanya, apakah novel fantasy identik dengan yg namanya sesuatu yg dilebih-lebihkan?
Alias hiperbolis?

nggak.

Quote from: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
Trus, apakah novel fantasy emang menuntut suatu imajinasi yang buat setinggi-tingginya?
Mohon dijawab pertanyaan penulis pemula ini… :)

nggak juga.

;D wkwkwkw… kependekan ya kalo dijawab gitu. oke deh, penjelasannya:
menurut gw…
novel fantasy bisa hiperbolis, tapi nggak selalu harus begitu. fantasy identik dengan imajinasi. kasarnya identik dengan membuat-buat bukannya melebih-lebihkan.
fantasy butuh imajinasi, memang. imajinasi yang tinggi memang bisa jadi potensi bagus, tapi bukan berarti itu cukup bagi sebuah novel fantasy. merangkai imajinasi menjadi suatu gambaran yang bisa diterima, dipahami dan dinikmati adalah hal yang dituntut seorang pembaca dari penulis novel fantasy, atau seorang penonton dari sutradara film fantasy. 8)
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 15, 2008, 12:02:24 am
________________________________________
Masalahnya gimana caranya agar imajinasi kita bisa diterima and dipahami ama pembaca tanpa mereka mikir kalo ni imajinasinya ketinggian?
Pernah lho ada kasus kaya gitu.
Kesannya jadi aneh and konyol. ???

[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: hege on March 17, 2008, 09:56:19 am
________________________________________
Korban Penculikan Alien Pertama di Indonesia Adalah Seekor Kucing?

Situbondo, 7 Januari 1996, seorang wanita setengah baya bernama Ningsih Prasetia (56) melaporkan penculikan atas kucingnya ‘Mayang’ ke kantor polisi. Dia mengaku dengan bersungguh-sungguh bahwa kucingnya telah diculik alien pada suatu sore yang terik di halaman belakang rumahnya di Jl. Gunung Merbabu no. 17.

“Wanita itu menerobos masuk tanpa menggedor pintu,” kata seorang petugas kepolisian yang—tampak dari wajahnya—merasa bahwa ini adalah lelucon yang menggelikan. “ Saya pikir dia orang gila karena berteriak-teriak histeris kepada kolega saya di divisi penculikan.”

Jelas sekali para polisi tak menanggapi kasus ini dengan cukup serius, sehingga kami berusaha mewawancarai Ny. Ningsih secara eksklusif di rumahnya di Jl. Gunung Merbabu no. 17. Wanita itu tampak pasrah dan menerima nasibnya yang malang.

“Saya sedang mengambil beberapa potong cucian yang telah kering sambil bersenandung,” narasumber mengaku dengan mata bengkak penuh air mata. “Mayang-ku (kucingnya-red) sedang makan biskuit di teras. Segalanya terasa normal dan menyenangkan.”

“Lalu apa yang anda lihat?” saya bertanya.

“Ini betul-betul terjadi dan saya tak peduli apa kata orang mengenai ini,” ia berkata, sepertinya bukan untuk pertanyaan saya. “Demi Tuhan, saya tidak gila, demi leluhur saya di atas sana, saya tidak mengarang atau bermaksud mencari sensasi.”

“Ya, saya tahu. Bisa anda ceritakan detil kejadiannya?” tanya saya tak sabar.

“Tentu,” ia berkata. “Tapi anda jangan berpikir saya sinting ya!”

“Saya tidak akan berpikir seperti itu,” saya berjanji. “Anda dan saya sama warasnya.”

“Segalanya berlangsung sangat cepat,” ia berkata, mengumpulkan segenap tenaga untuk menuturkan pengalamannya. “Mendadak muncul cahaya biru dari langit, lebih terang dari matahari. Saya pikir ada helikopter jatuh atau semacamnya, tapi suasana sangat hening, sungguh tidak wajar, seluruh tubuh saya terasa kaku dan dingin.

“Selama saya meringkuk di tanah, benda yang mirip loyang perak mendarat persis di samping saya, diameternya tak lebih dari enam meter. Tiga mahluk pendek kurus meluncur keluar perlahan-lahan dari dalam benda itu, memakai pakaian ketat sewarna aluminium. Kepala mereka bulat seperti buah pir, dengan lengan-lengan panjang mengerikan. Berikutnya, saya hanya bisa menyaksikan tanpa daya ketika mereka mencengkeram Mayang dan membawanya pergi.”

“Ada lagi yang mereka lakukan?” saya kembali bertanya.
“Sejauh ingatan saya hanya itu,” kata Ny. Ningsih serius. “Tapi saya yakin salah satu mahluk aneh itu menyicipi biskuit-nya sebelum masuk ke dalam pesawat.”

“Bagian itu sangat aneh,” komentar saya berjengit. Wanita itu mengangguk setuju.

“Dan anda tak mendengar kabar kucing itu lagi sampai sekarang?”

“Mayang-ku sayang,” ia bergumam, berlinang air mata. “Aku sangat mencemaskan dia. Anda takkan percaya apa yang biasa dilakukan alien pada korban-korban penculikannya. Mereka dikuliti dan diperkosa.”

Setelah cukup informasi yang kami perolah dari narasumber, kami pun mewancarai para tetangga Ny. Ningsih di sekitar jalan Gunung Merbabu—dan kami mendapat fakta yang cukup mengejutkan.

“Otaknya tidak beres, Ny. Ningsih itu,” kata pak Widodo (66) seorang lelaki dengan perut buncit kepada kami. Pria ini tinggal persis di samping rumah Ny. Ningsih. “Kalian tahu betul apa yang bisa dilakukan orang-orang untuk mendapatkan publisitas dan keuntungan. Ningsih jelas sekali pembual besar dengan otak miring. Tak ada sesuatu yg aneh di langit, percaya padaku. Satu-satunya cahaya yang saya lihat sore itu berasal dari matahari.”

Saat mewawancarai pria aneh ini kami mendapat kesan bahwa dia sangat membenci Ny. Ningsih bahkan sebelum kasus penculikan ini terjadi. Ada nada sentimen berlebihan setiap kali ia membicarakan tetangganya itu.

“Terimakasih atas waktu anda,” potong saya buru-buru ketika Pak Widodo mulai menjelaskan perselisihan turun-temurun antara nenek moyangnya dengan nenek moyang Ny. Ningsih puluhan tahun silam.

Namun kami menjumpai saksi mata yang jauh lebih menyenangkan, ia seorang pemuda yang kos di belakang rumah Ny. Ningsih ( tempat itu hanya dibatasi pagar kayu pendek) Ia bernama Rudi Sanjaya (20)

“Iya. Saya melihat cahaya biru,” katanya semangat. “Saya sedang mandi saat itu. Ketika mata saya terkena busa sampo, meram dan meraba-raba untuk mencari gayung mandi, cahaya biru itu menyorot dari jendela, begitu terang sampai saya lupa kalau mata saya perih. Lalu saya mendengar seseorang wanita berteriak keras di suatu tempat, tapi saya tak repot-repot keluar untuk memeriksa karena saya sedang telanjang dan berlumur sabun.”

“Saya selalu percaya ada mahluk-mahluk cerdas di luar sana sedang mengawasi Bumi,” ia melanjutkan. “Anda tak percaya kan kalau kita satu-satunya mahluk berakal yang menghuni galaksi yang sangat luas ini? Alien dan UFO bukan hanya fiksi yang ada di film-film, anda boleh memegang kata-kata saya. Tunggu lima belas atau dua puluh tahun lagi akan ada kapal induk raksasa yang mendarat secara resmi di bumi. Mereka datang dengan misi perdamaian.”

Pada saat yang sama saya melihat poster film Star Wars dan Men in Black yang besar sekali di tembok kamar kos pria itu, sehingga antusiasme saya akan ceritanya sedikit ternoda.

baca lanjutannya di sini http://kemudian.com/node/101942

[tab:Hal 4]

________________________________________
Post by: BloodSin on March 17, 2008, 12:33:31 pm
________________________________________
payah banged nih.. gw nyambit banyak orang di postingan gw sebelomnya gak ada yg protes/ngomel2, padahal gw amat mengharapkan hal itu.. :P
beneran nih, gak ada yg mau berargumen? ya sudah, berarti eike menang ngelawan ente semua.. ;D

@euthalia,
gw sebagai pembaca novel2 fantasi lokal gak menuntut gaya bahasa yg hiperbolis/bermetafora indah, yg gw harapkan adalah gaya penceritaan yg ‘cerdas’ dan mengalir. Cerdas disini maksudnya gak bertele-tele, konsisten, dan cocok dengan tema yang diusungnya. Kalo yg ditulis tipe fantasi sadis yg mengumbar adegan2 berdarah, gunakanlah gaya bahasa yg ‘dingin’ dan suram. Kalo yg ditulis fantasi ringan, gunakanlah gaya bahasa yang dapat memancing tawa pembaca.
Sementara, gaya bahasa yg mengalir adalah gaya bahasa yang dapat menciptakan mood si pembaca untuk terus membaca sampai akhir. Disini keahlian penulis untuk memilih dan menyusun kata2 mutlak dibutuhkan.

Hmmm.. Gw ngomong begini bukan berarti gw bisa memenuhi dan melakukan hal-hal kayak begini, ini murni opini dan kemauan gw sebagai pembaca..
sebagai penulis, kita menghadapi tantangan yg sama.
________________________________________
Post by: alk on March 19, 2008, 11:30:19 pm
________________________________________
8) halo2 semua…

:-[ masukin sepotong cerita lagi yah, sekedar meramaikan thread ini. gw jarang bikin cerita romantis nih (ga ahli :'() tolong commentnya...

KHAEL DAN MARINA

Marina, sang putri duyung
Senja menjelang. Ufuk barat dihiasi semburat merah tatkala sang surya mulai turun dari singgasananya, hendak bersemayam kembali dalam peraduannya. Cahaya sore yang hangat memancar menerangi pantai sunyi itu, memperindah warna karang dan debur ombak, memikat hati sepasang insan yang dimabuk cinta.

Marina memandang sosok di depannya dengan pandangan memuja yang tak puas-puasnya. Hatinya dipenuhi dengan suasana indah yang berbunga-bunga. Selalu begitu jika mereka berdua bertemu. Ia menyadari dengan sangat jelas bahwa ia sedang jatuh cinta. Cinta yang mustahil untuk tergapai. Namun baginya juga mustahil untuk ditolak atau dienyahkan dari dalam sanubarinya.

“Bisakah kau nyanyikan lagi sepotong lagu untukku, Marina. Suara merdumu... tak pernah jemu aku mendengarnya.” Sosok memukau di depan gadis itu berucap. Suaranya yang tenang dan dalam menggetarkan hati Marina. Permintaannya tak pernah bisa ditolak putri duyung jelita ini.

Marina tersenyum dan mulai bersenandung, lagu merdu tentang kisah penantian Diane akan kembalinya sang kekasih hati Leandor, dua manusia duyung yang menjadi legenda karena cinta abadi mereka.

“Dalam samudra harapan selalu kunantikan,
kehadiranmu Leandor kekasihku.
Kau kan lindungi aku dalam dekapan lembutmu,
dan biarkan malam lewat denganku di pelukmu,
hingga esok waktu cahaya baru menjelang...”

Khael, sang malaikat bersayap hitam
Khael menatap sosok di depannya dengan rasa kasih sayang yang tak tersembunyikan. Ia jatuh cinta, itu tak hendak dipungkirinya. Meskipun mereka begitu berbeda, nada-nada asmara tak mampu diusirnya dari dasar sanubari. Seiring lantunan merdu lagu yang dibawakan sosok jelita di depannya itu, benih-benih cinta yang sudah kuat berakar dalam hatinya mulai tumbuh dan berkembang, tak bisa lagi dihentikan.

“...dan ketika langit semakin terang,
ku takkan jemu bertanya pada sang awan,
kapan Leandorku kan kembali pulang...”

Suara merdu sosok nan indah memukau di depan matanya itu seakan membawa Khael, sang pria bersayap hitam, terbang tinggi di awang-awang, membumbung bersama awan dan elang, menari dibawah sinar mentari.

Tak puas-puasnya mata pemuda perkasa ini memandangi sang pujaan hati. Memandangi rambut keemasannya yang berkilau jelita tanpa noda, mata birunya yang jernih laksana langit cerah di musim panas, hidung mancungnya yang mungil mempesona, bibir indahnya yang merah merona menyejukkan sanubari, kulit langsatnya yang indah tak bercela, dengan jalinan rumput laut sebagai pakaian yang kian memikat hati, dan bahkan sisik mengkilap kebiruan di bagian bawah tubuhnya yang demikian sempurna. Marina, dengan kelembutan hati dan ketulusannya, adalah wujud sempurna yang selalu diimpikannya.

Marina, sang putri duyung
Senandung Marina belum berhenti. Segenap isi sanubari putri duyung jelita ini tertumpah keluar lewat senandung merdu itu. Dan, dengan sosok pujaan hati berada tepat di depannya, hal itu mengalir secara sangat alami, seolah untuk hari inilah lagu yang dinyanyikannya tercipta.

“Kekasihku, pujaan hati...
senandungku kan slalu mengiringi jalanmu,
membawakan kasih sayang yang tertumpah dalam impian,
tentang hidup bahagia, bersama selamanya...”

Bahkan setelah senandungnya memudar habis, Marina tak berhenti menatap sang pujaan hati. Menikmati keindahan sosoknya; wajah yang demikian eloknya, dengan tatapan lembut mata hitamnya yang menenangkan sanubari, hidung kokoh yang tiada duanya, senyum tulus yang penuh kasih sayang, rambut gelap yang indah alami dimainkan angin lalu, tubuh tegap gagah sempurna, dan sayap hitam yang memukau... lembut sekaligus kokoh. Khael, dengan kasih sayang dan keberaniannya, adalah sosok sempurna yang tak pernah lekang dari benak Marina.

[tab:Hal 5]

________________________________________
Post by: BloodSin on March 21, 2008, 12:28:34 pm
________________________________________
@alk,
gw udah baca potongan cerita u.. hmm.. gmn yak. it doesnt work on me, actually. nice try buat kata-kata indahnya, tapi sejujurnya, it’s rather lame to me…

Begini Alk. Ada perbedaan antara gaya bahasa yang ‘dibuat-buat’ dengan gaya bahasa yang mengalir apa adanya… Dalam cuplikan naskah romance lu ini, terasa banged ‘dibuat-buat’nya.. gw sebagai pembaca ngerasa u menulis.. tidak dengan hati yang jujur..(halah :P )
sebagai penulis, kita punya masalah yg sama: mencoba bereksperimen dengan sastra dan hasilnya malah aneh… tapi lebih parah lagi, lu mencoba mengintegrasikan sastra dengan romance.. menurut pengalaman gw, mixing sastra x romance jauh lebih sulit daripada sastra x deskripsi umum/setting, sastra x humor, ato sastra x action..
kalo mau tahu gaya bahasa romance yg jujur (terasa alamiah/gak dibuat-buat), coba baca/tonton karya-karya yg melibatkan literatur shakespeare.. keren banged tuh romance-nya.
tapi dont worry lha, mungkin dalam kasus ini emang gw aja yg gak mengenal konsep romantisme… :P

oya, sekali lagi, gw mengatasnamakan komen gw sebagai seorang pembaca ya.. secara, sebagai penulis, gw ga yakin bisa nulis secakep ini. :D
yg jelas kalo menurut gw sih, nulis romance jauh lebih sulit dari bikin humor. jadi, berhati-hatilah… kita gak mau kan usaha keras kita malah ngebikin cacat naskah kita? ;)
________________________________________
Post by: BloodSin on March 21, 2008, 01:04:50 pm
________________________________________
@all,
new topic! new topic! (seperti biasa, orang bijak selalu muncul belakangan untuk menyelamatkan dunia(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif))
caranya sama kaya kemaren.. gw selaku pembuka topik mau mengemis pendapat ke setiap dari elu orang semua.. kali ini kita bakal ngomongin tentang kemungkinan opening/prolog dalam novel fantasi. (soalnya gw emang lg ngurusin beginian di proyek terbaru gw skrg :P )

ada banyak penulis fantasi yg mengawali kisahnya dengan memperkenalkan dunia rekaannya secara detail, tapi ada juga yg langsung masuk ke pokok permasalahan/action.
yang mau gw minta ke u orang buat dijawab, bukan prolog macam mana yg paling bagus, tapi tambahan opsi bagaimana kemungkinan2 untuk sebuah prolog:
ok, i’l go first.

Versi Prolog #1:
Penggambaran setting secara mendetail dari dunia rekaan/adopsi dalam novel, mencakup latar belakang sejarah, keadaan geografis, ras-ras yang ada, struktur masyarakat, dll..
Akan ada dua kemungkinan reaksi pembaca: terbosan-bosan dengan deskripsi yang menumpuk dalam dunia khayal kita, atau malah cenderung excited.
Contoh prolog semacam ini(sekalian mau pamer ke anak2 baru juga sih(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)):

http://kemudian.com/node/41181

Versi Prolog #2:
Penggambaran sisi dan sejarah kelam dari villain(tokoh/pihak antagonis) yang meneror dunia rekaan/adopsi kita. Keuntungan dari prolog semacam ini, pembaca akan langsung dapat melihat pokok permasalahan yang ada, dan what as master villam said, pembaca akan langsung terikat secara emosi terhadap naskah kita. Terlebih jika dalam prolog itu digambarkan kekejaman si antagonis.. denyut ‘hidup-mati’ dalam novel kita akan langsung terasa.. yah..kira-kira begitulah yg gw pelajari dari mr. villam pada jaman dahulu kala, barangkali yg bersangkutan mau menambahkan.. :)
Contoh prolog ini:
?? (ada yg mau memberi contoh?)

Versi Prolog #3:
Langsung masuk ke action! Penggambaran action bisa macam2: penggambaran sebuah duel sengit, jalannya sebuah perang, prosedur pembunuhan, penyerbuan, dll.
Contohnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif):

http://kemudian.com/node/47324

Versi Prolog #4:
Prolog yang paling pasaran dan klise: penggambaran orang bangun tidur!
Contohnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif):

http://kemudian.com/node/41217

Versi Prolog #5, #6, #7, dst:
Silakan ditambahkan..

n.b:
perlu gw tekankan, bbrp contoh prolog yg gw kasi di atas adalah bukan berarti jenis tulisan prolog yg benar/sempurna (mungkin yang ada malah cacat di sana-sini(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)), dari prolog2 itu gw cuma mau memberikan sedikit pendekatan dari teori2 yg sudah gw paparkan (sekalian sebagai ajang pamer juga sih (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)).. gitchu deh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)
________________________________________
Post by: hege on March 21, 2008, 02:28:34 pm
________________________________________
Rey, topikmu kali ini agak membosankan. Prolog sudah dibahas jutaan kali sebelumnya. But, intinya, pikirkan baik-baik saja kalimat pertama yg akan kau tulis untuk memulai sebuah kisah. hal-hal klise, basi, kuno dan menyebalkan tak bisa ditolerir baik oleh editor penerbitan dan pembaca.

[tab:Hal 6]

________________________________________
Post by: rd_Villam on March 21, 2008, 03:39:29 pm
________________________________________
@rey,
aku belum punya pemikiran baru soal prolog, jadi kukutip saja dulu tulisan dari blogku. mudah-mudahan bisa sedikit menyegarkan kita, baik yang sudah pernah baca maupun yang belum sempat.
————————

Tentang Opening

Apakah kalimat pembuka novel sudah cukup menarik perhatian? Belum?
Kalo gitu apakah paragraf pertama sudah? Belum juga?
Halaman pertama? Belum juga?
Lima halaman pertama? Belum juga?
Prolog ataw bab pertama? Belum juga?
Heheh… berarti bencana ya… mesti dibongkar lagi dari awal.

Katanya sih prolog ataw bab pembuka yang bagus mengandung hal-hal sbb:
§ Menjadi pintu pembuka cerita, alias memberi gambaran pada pembaca jenis cerita macam apa yang bakal dibaca, dan sedikit petunjuk apa yang kira-kira bakal terjadi di akhir cerita. Jangan ngebohongin pembaca nih, misalnya ceritanya cinta-cintaan tapi bukanya kok pake model misteri atau action. Heheh… tone-nya beda kan?
§ Memperkenalkan karakter atau protagonis utama (ataw paling lambat di bab 3 harus sudah muncul. Di halaman berapa tuh? 20, 30 atau 50?). Tentu saja beserta problem (eksternal/internal) yang dihadapinya, jadi ya jangan cuma kenalan basa-basi doank. Lumayan buat bikin pembaca simpati sama protagonis sejak awal.
§ Memperkenalkan setting. Penting juga, tapi emang bakal banyak narasi deskriptif sih, makanya mesti diimbangin sama dialog dan action yang lebih banyak di awal. Heheh… ngomong sih gampang.

Pertanyaan lanjutan:
Apakah ceritanya memakai prolog sebagai opening?
Apakah ceritanya memang benar-benar butuh prolog? Atau cukup bab pertama ajah?

Buat ngejawab, tes ajah dua hal ini:
§ Kalo misalnya prolog itu dihapus, pengaruhnya signifikan gak terhadap plot?
§ Kalo misalnya prolog itu diubah namanya jadi bab pertama, kerasa bedanya gak di plot ataw suasana cerita?
Kalo kedua jawabannya ya, berarti prolognya emang udah berfungsi dengan benar.

Emang sih, keliatannya keren kalo cerita kita pake prolog (trus ada epilog juga di belakang), tapi jangan sampe prolog itu cuma jadi pemanis yang gak perlu. Maksudnya pemanis tuh cuma buat memperkenalkan suasana atau action buat memikat pembaca, tapi ternyata gak terlalu berkontribusi membuka plot utama cerita. Padahal yang terakhir itulah yang jadi tugas utama doi.
Hmm, pusing ya?

Heheh… yang jelas sih bikin prolog gak bisa sembarangan, dan sebagai seorang spesialis, doi emang punya tugas yang berbeda dibanding bab pertama, sesuai dengan empat buah tipenya, yaitu:
§ Memperkenalkan protagonis di masa datang. Ini model seorang anak yang udah jadi orang tua sekarang, trus menceritakan petualangan dia waktu kecil bersama teman-temannya, misalnya. Biasanya suasananya jadi kerasa reflektif, karena tentu saja si anak udah jadi orang bijak sekarang.
§ Memperkenalkan protagonis di masa lalu. Ini model cerita Batman yang membuka cerita dengan masuknya doi ke gua kelelawar di waktu kecil, buat memberi petunjuk pada pembaca mengenai asal mula karakternya, sebelon masuk ke cerita utama.
§ Memperkenalkan POV yang berbeda. Ini model korban penculikan yang bercerita gimana dia diculik, buat pengantar cerita utama dimana POVnya adalah sang detektif, yang nantinya pada tengah atau akhir cerita akan bertemu dengan korban penculikan tersebut.
§ Memperkenalkan background atau setting cerita. Sering ditemukan di cerita Scince Fiction ataw Fantasy, yang menceritakan sebuah kota atau negeri di bagian prolog. Biasanya sih paling susah, karena emang susah buat ngebikin narasi deskriptif yang panjang di awal tanpa membuat pembaca bosan.

Ya gitu deh, sementara… corat-coretnya.

[tab:Hal 7]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 22, 2008, 10:01:53 am
________________________________________
Versi prolog #5:
Cerita diawali dengan pertanda-pertanda/mimpi janggal/kejadian penting/peristiwa aneh.. Keunggulan prolog semacam ini, pembaca akan langsung dibuat penasaran dan terikat pada awal cerita.
Contoh:
Prolog Hozzo: Ferres yang Hilang

Versi prolog #6:
Cerita dibuka dengan pendekatan filosofi yang nantinya filosopi tersebut sinkron dengan keseluruhan isi buku.
Contoh:
Prolog The Forgotten Heroes

Versi prolog #7:
Cerita dibuka dengan sebuah dongeng kecil yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan isi cerita secara keseluruhan. Prolog semacam ini cukup langka, dan jarang ditemui.
Contoh:
Prolog The Alchemist
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 24, 2008, 03:11:24 pm
________________________________________
@Kak Dian…
Kangen banget ni (Cielah…pura2 manja ni ;D)
Aku mau nanya boleh ga?
Cara bikin crita kita ada ‘greget’ itu gimana?
Ada kiat2nya ga?
Trus gimana cara menyelami emosi tokoh2 crita kita?
________________________________________
Post by: clickdian on March 24, 2008, 05:22:34 pm
________________________________________
Lia
Kangen? hehe.. jadi malu :P

Cerita greget? hmm.. ini relatif, ya. sangat tergantung dari keinginan dan keahlian (if you see what i mean) si penulis. intinya sih usahakan meninggalkan sesuatu yang akan berkesan bagi pembaca. entah membuat penasaran, atau yang mengaduk-aduk emosi, atau bisa aja detail dari kejadian sehari-hari biasa tapi karena si penulisnya jago merangkai kata-kata jadi terasa luar biasa.

maaf, lia, untuk yang satu ini aq ga bisa banyak bantu. ini tergantung jam terbang setiap orang, dan yang paling penting, aq juga masih tahap belajar, belum jago bikin greget. practice makes perfect (duh, klise banget, tapi bener).
Kalo menyelami emosi.. ini lebih gampang menurutku..
bayangin aja kalo kamu itu dia.
tapi jangan lupa, kamu harus punya personality sesuai dengan si tokoh yang kamu ceritakan itu; karena beda personality, tindakan yg diambil setiap tokoh akan beda. ini mirip akting, hanya diekspresikan dalam bentuk kata2, bukan visual. kalau kamu udah nguasain ini, karakter kamu akan lebih hidup :)
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 02, 2008, 03:27:58 pm
________________________________________
Rekans semuanya, salam kenal.
Sekaligus memperkenalkan blog pribadi saya yang khusus mengulas buku-buku Fiksi (ilmiah) dan Fantasi karya pengarang Indonesia.

http://fikfanindo.blogspot.com

monggo mampir,… :)

BTW, ada boss Hege di sini, toh. Buku ente ada di reviewku juga lho,.. iya yang dulu itu.

Salam,

Cheppy
aka: FA Purawan

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi V (8 Feb 2008 – 3 Mar 2008)

  • Review Goran oleh BloodSin
  • Frogs karya hege
  • Fantasi tetap harus logis
  • Tentang science fiction
  • Cahaya Bulan karya clickdian
  • Konferensi Hantu Sedunia karya alk
  • Tanggapan atas review Goran

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: BloodSin on February 08, 2008, 02:43:50 pm
________________________________________
Gw udah beres baca GORAN, dalam hitungan 4-5 hari.

Dan inilah repiu yg udah gw janjikan (Karena buku ini ‘berkesan’ banged buat gw, gw bikin repiu-nya rada beda ama yg kemaren2 ;) ):

Judul buku: GORAN-Sembilan Bintang Biru
Penulis: Imelda A. Sanjaya
Penerbit: Serambi
Genre: Fiksi Fantasi
Tebal: 335 halaman

Secara general, GORAN adalah sebuah novel dengan plot kompleks yang dieksekusi dengan gaya bahasa sederhana namun cerdas (paragraf antar paragraf gampang dimengerti, plus disisipi lelucon2 ringan yang menghibur). Mengambil setting 3 dunia, dengan 3 tokoh utama, Goran rasanya punya 3 anak plot, yang baru dipertengahan buku melebur jadi 1 plot raksasa.

Nah, sekarang kita masuk ke elemen2 detailnya:

Opening, dibuka dengan plot Aniki Kodama, tokoh utama pertama dengan sifat-sifat ajaibnya. Opening ini lumayan manis, walau di sini pengarang belum terlalu kelihatan gilanya.

Plot. Ide utamanya adalah tentang perpindahan portal waktu dan dimensi ala Chrono Trigger dan Chrono Cross, dengan medium orang sakti. Makin masuk ke dalam cerita, makin gila si pengarang bercerita. Beberapa scene terasa kacau nian, tapi tetap saja kreatif dan masih masuk jalur logika. Pokoknya seru dah.

Setting. Inilah kelebihan utama novel ini: settingnya ada 3 dunia. Setting dunia hari ini, dunia ‘futuristik’, dan dunia masa lalu. Gw terutama salut sama pengetahuan dan kreatifitas pengarang yang notabene cewek tentang dunia persilatan Cina Kuno, yang digambarkan cukup detail dan realistik.
Satu2nya setting karangan dia mungkin adalah setting ‘futuristik’ planet Vida. Kehidupan barbar para Theft Ryder digambarkan dengan baik sekali, ide advanced technology-nya keren dan unik, plus penggambaran yang matang untuk kesenjangan sosial antara Theft Ryder dan kaum borguic yang jadi ide utama settingnya.

Karakterisasi. Ada 3 tokoh utama (dan beberapa tokoh pendukung favorit gw):
-Aniki Kodama, si tukang tidur yang cuek abis, disini gw rasa pengarangnya kepengaruh berat dari manga2 jepang. Dia mewakili setting dunia hari ini, dieksekusi dalam kehidupan remaja jepang. (mirip cerita2 si kokonoka)
-Orphann, theft ryder barbar yang punya pemikiran-pemikiran aneh. Dia mewakili setting dunia ‘futuristik’, planet vida.
-Xin Ai, cewek gendut manja yang jago silat dan strategi. Dia mewakili setting masa lampau di Cina, yang masih terkondisi sebagai dunia persilatan dan perjodohan :D .
-Panglima Sam, ini karakter favorit gw! Karakter antagonis yang selalu bernasib malang.. gw selalu ngakak kalo baca scene2 dia..
-Guru Besar, yang ini kebagian porsi kecil di plot, tapi emang berkesan banged bagi gw. Salut berat buat pengarang yang udah ngebikin tokoh seantik begini. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)
-Soil, cewek botak (yang semula gw kira cowok) temennya Orphann yang cerdas.
-Onatsu, emaknya Aniki yang punya karakter keibuan banged…
-dan sebetulnya masih banyak lagi karakter pendukung, yang emang diperlukan dalam cerita..(maksudnya keberadaannya bukan asal tempel)

P.O.V (kalau gak tau ini apaan, belajar dulu sana sama bang Villam!)
Tereksekusi dengan sempurna! Villam, i think u’ll love this book, karena emang ‘ente banged’. ;)

Endingnya, parah. Tega nian, padahal di sepanjang jalan cerita, sama sekali gak ketebak endingnya bakal begitu..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
Apakah Serambi mensyaratkan ending model begitu untuk naskah2 yang masuk ke meja redaksi? (Endingnya sama persis sama ending Sang Penandai(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif) )
Tapi gw salut banged, emang mendingan ending kaya begitu daripada ‘ending bagus’ tapi tidak berkesan sama sekali. Makna endingnya lumayan dalam, dan ngebikin gw berpikir ngejelimet di akhir kalimat ending. :D

Kekurangan novel ini mungkin terletak pada masalah editing; ada banyak struktur kalimat rancu n ‘semau gue’ si pengarang. Tapi gaya bahasanya emang kreatif, gokil, dan simple. Ada beberapa ‘kalimat berbahasa gaul’ yang tau2 muncul di tengah2 kalimat formal, mungkin pengarangnya lagi mabok pas ngetik di situ. Tapi berhubung plotnya sendiri udah gila dan mengalir banged, rasanya kerancuan-kerancuan yang ada bisa ditolerir..

Menuruti standar gw, GORAN dapet poin 5 dari 5, dan menjadi yang terbagus dari lebih dari 10 judul fantasi lokal yang pernah gw baca. Highly recomended buat semua anak sini, yang mau belajar bahwa sebetulnya genre fantasi bisa dieksekusi segokil mungkin tanpa harus keluar dari kekuatan fantasi itu sendiri. Salut berat buat pengarangnya*!(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)

*)Setelah baca Goran gw jadi naksir berat sama pengarangnya** nihh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif) (serius, pengarangnya gokil mampus (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)), tapi apa daya yang bersangkutan tidak meninggalkan jejak apapun di buku selain namanya..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif) Mau donk kenalan..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)

**)Pengarangnya cewek***, entah udah tante2 ato masih ABG.. yang jelas gaya bahasa novelnya mengingatkan gw sama gaya bahasa satu member sini (dulu)..

***)Namanya Imelda A. Sanjaya…. dari namanya kayanya cewek cakep nihh****(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)

*****) Oke deh, kayaknya gw kudu berhenti sampe sini, sebelom ngelantur terlalu jauh..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif)

[tab:Hal 3]

________________________________________
Post by: BloodSin on February 08, 2008, 02:45:19 pm
________________________________________
Guys n Gals, selain GORAN, kemaren gw ngebaca satu judul fantasi lokal laennya di kemudian.. yg kayaknya masih ditulis oleh penulis pemula sama kaya kita. Judulnya The Rohriant (id penulisnya: codenameKEY), yg ngebikin gw kecele mampus karena skill menulis gw gak ada apa2nya dibanding skill dia.. The same case terjadi waktu gw baca CO** (M.S), Sang Penandai(Tere Liye) n Goran (Imelda Sanjaya).. gw merasa begitu kerdil, tulisan gw cupu nian, dangkal, gak berbobot.. kalo dibandingkan sama karya2 mereka. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif)

Sial, ada banyak penulis fantasi lokal berbakat di luar sana, yg bahkan mungkin sekaliber Rowling/Tolkien. Personally, gw frustasi berat karena gw nyadar seorang diri gw ibarat kecebong di tengah2 samudera yang berisi ikan2 predator gede (gw selalu demen pake metafora ini, walaupun pada faktanya gak ada kecebong yang idup di laut(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))

But secara nasionalis (dalam dunia fantasi lokal maksudnya :P ), gw seneng karena genre fantasi mulai berkembang di sini.. Hmmm.. gw percaya genre fantasi punya masa depan cerah di indonesia berkat penulis2 berbakat kayak mereka.. Apa daya kalaupun gw gak bisa berdiri sejajar di antara mereka, at least naskah gw bisa terbit buat berpartisipasi aja di dalam wadah yang sama… itulah tekad gw sebagai penulis fantasi lokal nan cupu.. how about u, friends? ;)
________________________________________
Post by: hege on February 27, 2008, 10:39:01 am
________________________________________
F.R.O.G.S.

Tiga ekor kodok sehat dengan pipi merona merah sedang bersantai selonjoran di pinggir kolam. Mereka adalah kodok-kodok yang luar biasa beruntung, kalian pasti tahu kenapa—ada banyak sekali saudara-saudara, kawan, bekas tetangga, buyut, kerabat atau sepupu jauh mereka sedang dibedah dan dikuliti di luar sana.

Mereka adalah sahabat karib, masing-masing bernama Rodi, Joni dan Sam. Rodi dan Joni bersaudara beda ayah (ibu mereka punya banyak sekali suami sehingga tak ada yang tahu persis yang mana ayah untuk anak-anaknya). Sementara Sam dulunya tinggal di rawa-rawa di selatan Inggris sebelum angin topan atlantik mengangkatnya tinggi-tinggi ke atmosfir dan melontarkannya ke Asia.

“Kalian lihatlah ke langit!” seru Rodi, dialah kodok yang paling gemuk dan paling berotot di antara ketiganya, di depan mereka tersedia seloyang besar lalat dan nyamuk goreng balado. Joni menjulurkan lidahnya dan menyambar seekor lalat yang kaki-kakinya mencuat kaku ke udara.

“What in the world I must look at the sky!” protes Sam, meski dia sudah belajar bahasa Indonesia selama dua tahun dari para sahabatnya, dia masih sangat bangga menjadi warga negara Inggris dan sedang mencari-cari cara untuk kembali ke negerinya.

“Ada awan berbentuk donat!” seru Rodi berbinar-binar. “Kalian pasti terpesona.”

“Itu tidak mungkin!” koak Joni, lalu ia mendongak ke langit, matanya melebar. “Tidak pernah ada awan berbentuk donat sebelumnya. Awan itu bentuknya selalu tidak karuan. Tapi yang satu ini merupakan keajaiban alam.”

“Menakjubkan!” kata Rodi.

“Fantastic! Terrifically marvelous,” gumam Sam, yang akhirnya mendongak.

“Bentuknya mulai berubah, wahai saudaraku!” jerit Joni beberapa saat kemudian. “Menurutmu kenapa awan donat sempurna tadi berubah bentuk? Sekarang mulai tak begitu seperti donat.”

“Itu karena ada raksasa yang memakannya,” ujar Rodi yakin. “Kita tak bisa melihat raksasa yang kumaksud, kata ibu, raksasa yang tak nampak ini memakan awan-awan dan memuntahkannya kembali menjadi hujan dan petir.”

“Oh that’s full of nonsense!” kata Sam menggeleng. “Itu karena angin yang membuatnya berubah bentuk, it always be that way. Angin di langit sangat kencang, lebih kencang dari apa yang kalian bayangkan. You knew exactly what the hell happened with me, didn’t you? Angin serupa membuatku melayang-layang di stratosfer!”

“Aku heran kenapa kau tidak mati saja saat itu,” kata Rodi, “kau mulai meracau lagi!”

“Otaknya tidak beres,” sahut Joni, mendukung saudaranya.

“Whatever!” gumam Sam kalem.

Read the rest of the story here http://kemudian.com/node/94838

[tab:Hal 4]

________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on February 28, 2008, 09:11:18 am
________________________________________
Kalo di fantasy, makin ga logis makin bagus. Tapi yang susah tuh daya khayalnya kudu kemana-mana.
________________________________________
Post by: rd_Villam on February 28, 2008, 09:18:56 am
________________________________________
hehe…
biarpun fantasi tetap harus logis dunk…
maksudnya, harus ada alasan atas setiap kejadian, juga harus ada alasan untuk setiap tingkah laku karakternya, betapapun anehnya itu.
alasan2 itulah yang dimaksud logis, yang kudu dibedakan dengan imajinatif/tidak imajinatif.
setiap cerita, apakah itu teenlit ataupun fantasi, tetap harus logis dan sekaligus juga imajinatif (membuat pembaca terbayang-bayang… halah).
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on February 29, 2008, 11:31:52 am
________________________________________
Ngomong2, aku masi agak bingung ama definisi scie-fi ama fiksi fantasy.
Aku udah baca reply yang di depan tapi aku butuh contoh konkritnya.
Kebetulan crita baruku ini agak mirip city of angel gitu dech (udah pada nonton kan? ;) )
Jadi ntar ada sosok tokoh yang bukan manusia tapi diturunkan di dunia untuk nolong dua orang tokoh utamaku. Ntar mereka bakal mengarungi alam pikiran manusia and cari tahu problem psikis apa yang diderita ama dua tokoh utamaku ini.
Btw, ni termasuk apa ya?
________________________________________
Post by: rd_Villam on February 29, 2008, 02:02:41 pm
________________________________________
thalia,
ceritamu itu bisa dimasukkan ke dalam genre fantasi. fantasi tentang dunia alternatif yang kita diami sekarang.
sementara kalo science fiction, menurutku adalah merupakan bagian juga dari genre fantasi, yang menitikberatkan pada spekulasi penulisnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan / teknologi di masa kini atau masa datang.

Nah untuk membuat ceritanya dapat dipercaya maka penulis itu melakukan riset mendalam terhadap ilmu pengetahuan / teknologi tersebut (misal : genetika, komputer, kendaraan, persenjataan, ruang angkasa, bawah laut, dsb), dan hasil spekulasinya dipamerkan pada pembaca, entah berupa science fiction murni, atau bisa juga digabungkan dengan jenis fantasi lainnya, seperti fantasi dunia alternatif ceritamu, atau fantasi dunia lain yang penuh dengan makhluk-makhluk menakjubkan dan lain-lain.

kalo buatku, penulis science fiction yang paling kusuka tetaplah Jules Verne (1828-1905), yang menulis : Journey to the Center of the Earth, From the Earth to the Moon, 20000 Leagues Under the Sea, Around the World in 80 Days, Mysterious Island.
dan film science fiction yang paling kusuka adalah trilogi Back to the Future.
hehehe…

[tab:Hal 5]
________________________________________
Post by: clickdian on March 01, 2008, 03:47:31 pm
________________________________________
Guys…
Aq post sebagian dari cerpenku ya.. tolong komennya, kalau berkenan, dan mohon dimaklum kekurangannya karena penulisnya masih belajar. :)
Buat yang udah baca Zauri, pasti familiar dengan scene ini, walau dari point of view yang berbeda. Dan oh, maaf cuma sebagian. Kalo terlalu banyak kasian yang nggak minat baca, liat postingan yg kepanjangan ;D

Cahaya Bulan

Rasanya baru saja kurebahkan tubuhku ketika tiba-tiba saja aku terbangun lagi. Langit-langit kamar hampir tidak terlihat karena kristal cahaya dimatikan, tetapi sinar bulan masuk lewat jendela sehingga di sekitar lantai—terutama di tempat tidur Regia—masih terlihat walaupun remang. Aku sendiri bercahaya, tetapi tidak seberapa.

Aku memutar tubuhku di atas bantal yang kugunakan sebagai alas tidur. Dari tempatku sekarang—di atas bupet kayu di tepi ruangan. Kulihat Regia tertidur menghadap ke jendela, dan aku bisa melihat dengan jelas wajahnya di sana, tertimpa temaram sinar rembulan.

Setelah sekian lama menjadi temannya, sejak dari kami masih di istana sampai sekarang kami berkelana, baru kusadari kalau Regia benar-benar cantik. Di luar dugaan, kristal mungil yang menempel di keningnya membuatnya bertambah cantik, terutama sekarang. Kristal berwarna ungu muda transparan itu berkilauan. Aku bangkit dengan susah payah dan duduk. Debu-debu cahayaku bertaburan di atas bantal seiring gerakanku, lalu jatuh dan menghilang.

Tubuhku masih sakit sekali rasanya, sejak pertempuran kami dengan Mario. Awalnya seluruh tubuhku terasa sakit karena hangus terkena api Mario, dan tak bisa digerakkan untuk waktu yang sangat lama. Setelah beberapa minggu, pada malam hari, aku bisa duduk seperti ini, walaupun masih terasa nyeri dan kaku. Entah mengapa aku lebih nyaman bergerak setelah matahari terbenam. Apakah itu karena aku peri, aku tidak tahu. Aku belum lama jadi peri, jadi tak punya jawaban untuk ini.

Hmm.. sayapku agak terlipat di tepinya. Aku memutar badanku untuk membetulkan ujung sayapku. Tidak terlalu sulit, ini sering terjadi dan selalu bisa diselesaikan dengan baik. Tiba-tiba aku mendengar suara lirih dari arah tempat tidur.

“Dios…”

Aku menoleh ke arah Regia. Lagi-lagi ia mengigau. Sudah berapa lama sejak kepergian pemuda itu, ya? Satu bulan? Atau lebih? Aku sering sekali melihat Regia melamun sejak Dios pergi—yah, kami semua seperti itu, tapi ialah yang paling sering melamun. Sayangnya, tak seorang pun yang tahu ke mana ia pergi.

Sebutir air mata meluncur di pipi Regia.

next…. on http://www.kemudian.com/node/96104

[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: alk on March 02, 2008, 02:42:24 pm
________________________________________
8) ehem… satu tambahan post lagi dari cerita Ghost vs Aliensku…
buat yang ga ada kerjaan, silakan menebak hantu-hantu apa sih yang deskrispinya aku kasih ‘italic’…
;D ;D ;D
KONFERENSI HANTU SEDUNIA

Zephyr melayang, menembus dinding, memasuki bangunan tua itu tanpa semangat. Ia hantu, itu jelas terlihat dari ektoplasma keperakan yang merupakan wujud tubuhnya. Sosoknya yang berwujud anak-anak membuat banyak hantu lain melecehkan atau tak mempedulikannya. Namun, satu dua hantu yang mengenalnya tampak mengangguk hormat kepadanya. Ia membalas anggukan hormat itu dengan lambaian tangan acuh.

Zephyr hidup jauh lebih lama dari kebanyakan hantu di bangunan itu. Ia sudah hidup lebih dari delapan ratus tahun, hampir sembilan ratus tahun malah.

Betapapun, ada beberapa hal yang tak pernah berubah tentang Zephyr. Ia masih tetap berwujud roh bocah kecil, sama seperti delapan ratus tahun yang lalu. Ia juga masih tak bisa mengingat bagaimana ia menjadi hantu, atau bagaimana ia hidup sebelum menjadi hantu.

Nama Zephyr sendiri adalah pemberian dari seorang hantu kuno yang ditemuinya di Athena. Nama itu berarti angin dari barat. Tapi Zephyr sendiri tidak tahu apakah ia sebenarnya berasal dari barat, atau dari timur, atau malah dari selatan. Ia tak pernah bisa mengingatnya.

Zephyr terus melayang perlahan, melewati beberapa kelompok hantu, menembus dinding, menjelajahi bangunan itu tanpa arah.

Bangunan itu adalah sebuah bangunan kuno di Transylvania, tempat yang memunculkan kisah Count Dracula, sang vampir penghisap darah. Malam ini, bangunan itu adalah bangunan paling berhantu di seluruh penjuru dunia. Ribuan hantu berada di sekitar bangunan itu, sebagian kecil di dalam, sebagian besar di luar.

Malam ini adalah sebuah peristiwa luar biasa bagi para hantu. Selama sebulan lebih, energi aneh menarik mereka dari segenap penjuru dunia untuk datang ke tempat itu. Para hantu yang sudah berusia lebih dari limaratus tahun, termasuk Zephyr, tahu apa artinya itu, undangan untuk Konferensi Hantu. Hantu-hantu yang berusia di bawah itu kebanyakan datang mengikuti nalurinya saja. Tentu saja ada juga banyak hantu yang tegas-tegas tidak mengindahkan hal itu, entah karena ragu, terlalu angkuh, atau karena takut akan jebakan.

Zephyr sendiri datang, jauh-jauh dari pedalaman hutan di Zaire, meninggalkan penelitiannya tentang suku Afrika disana, karena tertarik pada aura yang dikeluarkan untuk memanggil mereka. Jelas sekali baginya bahwa yang mengeluarkan undangan itu memiliki energi hantu yang sangat kuat, jauh lebih kuat darinya, dan juga mungkin jauh lebih tua darinya. Ia melayang-layang mencari sumber energi ini tapi belum juga berhasil menemukannya.

Menjelang tengah malam…

“Saudara-saudariku, para hantu dari seluruh pelosok dunia.” Tiba-tiba terdengar suara bergetar aneh. Bahasa hantu. Bahasa yang secara alami langsung dipahami oleh semua hantu di dunia.

“Selamat datang di Konferensi Hantu Dunia yang ke tujuh. Akulah, Asmodeus, yang mengundang kalian semua kemari.” Suara itu kembali terdengar. Kali ini para hantu yang berada di luar bisa dengan mudah menemukan sumbernya. Asmodeus, sang pembicara, berada di puncak kastil kuno itu, menjulang tinggi, tegap dan berpendar keemasan.

Nama Asmodeus yang disebutkan sosok itu menimbulkan bisik-bisik riuh dari para hantu yang berada di situ. Ratusan hantu yang berada di dalam bangunan segera melesat keluar dan bergabung dengan mereka yang sudah di luar.

“Asmodeus, harusnya aku sudah menduganya,” Zephyr menggumam. Ia mengenal nama itu. Nama sesosok hantu yang berusia sudah lebih dari dua ribu tahun. Hantu yang lebih sering dikenal dengan sebutan Lord. Hantu terkuat yang posisinya disejajarkan dengan Mephisto, sang Raja Iblis.

“Malam ini, ditempat ini akan diadakan Konferensi Ketujuh Hantu Sedunia. Adapun hal yang akan dibicarakan disini adalah situasi kita yang semakin memburuk akibat ulah manusia,” Asmodeus berseru lantang.

Zephyr langsung mendengus sinis. Tak punya kreatifitas para hantu ini, begitu pikirnya. Hal yang dibicarakan dalam Rapat Besar malam ini dan Rapat Besar limaratus tahun yang lalu sama saja. Limaratus tahun tanpa perkembangan sama sekali.

“Benar. Ulah manusia membuat situasi hidup kita jadi semakin sulit!” Sesosok hantu berucap. Ia sangat jelek. Bulu panjang tebal menutupi sekujur tubuhnya dan mulutnya tebal dipenuhi gigi-gigi besar.

“Sekarang ini sulit sekali bagi kita untuk menunjukkan kebanggaan diri kita sebagai hantu. Kita harus terus menerus menyembunyikan diri. Kalau tidak, segerombolan pendeta sialan pasti akan datang dan langsung mengeksorsis kita,” ucap hantu itu.

Zephyr menyeringai. Sejak dulu, eksorsisme atau pemusnahan hantu adalah hal yang paling menjadi momok bagi para hantu. Bangsa manusia dalam hal satu ini sama tidak kreatifnya dengan para hantu ini. Sejak dulu cara eksorsisme yang mereka lakukan ya itu-itu saja, tak ada perkembangannya.

“Juga pabrik-pabrik sialan bangsa manusia itu,” sambung sesosok hantu cantik berjubah kelabu yang suaranya melengking, menyayat menyeramkan. “Asap dan limbah pabrik sialan itu mengacaukan fungsi rohku ini. Polusi yang mereka ciptakan tak baik bagi kesehatan kita, bangsa hantu.”

Zephyr mendengus meremehkan. Kesehatan? Hantu mengeluhkan kesehatan? Mereka itu sudah mati, apanya yang punya kesehatan.

“Sejak dulu sudah ditentukan kalau terangnya siang adalah bagian manusia sementara kegelapan malam adalah bagian kita. Tapi sekarang, cahaya memenuhi segenap penjuru kota sekalipun sudah tengah malam. Bangsa manusia yang kemaruk itu telah menjajah hak kita,” tambah sesosok hantu kuno Mesir yang entah kenapa sepertinya terjebak dalam balutan panjang kain kafan.

Kembali Zephyr mendengus meremehkan. Siang buat manusia, malam buat hantu? Sejak kapan hal itu diputuskan. Ia tahu bahwa banyak hantu yang karena begitu tololnya telah mengikuti jejak para iblis, sangat takut dengan cahaya matahari dan selalu menyembunyikan diri waktu siang. Hal yang sangat bodoh. Sinar matahari sama tidak berbahayanya dengan sinar bintang bagi para hantu.

“Kita harus bertindak untuk mengatasi hal ini saudara-saudara!” Sesosok hantu kecil berkepala botak plontos dan cuma memakai cawat berkata. “Kita lawan bangsa manusia! Kita rebut hak kita!” serunya bersemangat.

“Dan bagaimana caramu untuk melawan manusia?” Suara tenang sesosok hantu dari Jepang yang berjubah pendeta dan berhidung sangat panjang menanggapi, mendinginkan semangat mereka yang mendengarnya.

“Manusia sudah berkembang biak terlalu banyak. Mungkin berjuta-juta kali lebih banyak dari jumlah kita semua dikumpulkan. Tidak sedikit dari mereka yang mengenal cara-cara eksorsisme. Melawan mereka adalah bunuh diri yang sia-sia belaka,” ucap hantu itu dengan lagak bijak.

Zephyr menyeringai setengah setuju. Ia menyetujui seluruh perkataan pria tua itu kecuali bagian ‘bunuh diri’nya. Hantu sudah mati, mana bisa bunuh diri. Melenyapkan diri mungkin lebih tepat.

“Kita bisa mulai dengan bersatu lalu menyerang, merasuki dan menghantui satu kota. Merubah kota itu menjadi milik kita.” Si hantu botak tak mau menyerah begitu saja. “Kita bisa merebut satu kota dalam satu malam.”

“Ya. Dan malam berikutnya kita semua musnah karena bangsa manusia pasti akan langsung mengirim pasukan pendeta pemburu hantunya untuk menghancurkan kita,” cemooh sesosok hantu penunggang kuda yang menjinjing kepalanya sendiri.

Dan satu jam berikutnya dipenuhi debat yang tak beraturan dan tak berkesudahan tentang hal itu. Tempat itu dipenuhi riuh suara para hantu, semuanya berbicara bersamaan. Zephyr merengut sebal. Ia sudah berniat untuk beranjak pergi saja dari tempat itu. Sama saja dengan limaratus tahun lalu, pikirnya kesal. Pasti akan berakhir mengambang lagi.

Tapi tebakan Zephyr itu ternyata salah besar. Tepat sebelum ia beranjak pergi, Asmodeus yang dari tadi diam saja mendadak membuka suara…

“Perhatian saudara-saudariku kaum hantu…!!” Suara menggelegar ini langsung membungkam suara semua hantu di situ.

“Aku mengusulkan suatu pemecahan masalah bagi kita,” Asmodeus berkata lagi, tegas dan angkuh. “Ada sebuah dunia lain yang tidak dihuni satu hantupun. Dunia itu jauh lebih nyaman dari dunia kita sekarang ini. Usulku, kita semua berpindah masuk ke dunia itu.”

Sesaat suasana hening…

“Anda tidak sedang membicarakan dunia akhirat kan?” Sesosok hantu wanita dari pulau Jawa memberanikan diri bertanya. Ia berambut riap-riap, perutnya berlubang dan baju putihnya dipenuhi bercak darah.

“Bukan, bukan akhirat,” Asmodeus langsung menjawab tegas. “Dunia yang kusebut itu nyata dan benar ada. Aku sudah melihatnya sendiri. Ada yang tidak mempercayaiku?”

Semua hantu terdiam. Meragukan Asmodeus tak pernah terlintas di pikiran sebagian besar dari mereka. Bagi sebagian kecil yang ragu, mereka tahu bahwa tidak bijaksana mengemukakan hal itu terang-terangan pada hantu sekaliber dia.

“Di dunia itu ada manusia?” Sesosok hantu bertanya, memecah kesunyian. Sosoknya yang mengenakan topeng ice-hockey dan memegang gergaji mesin, tampak sangat menyeramkan.

“Tidak ada manusia dan tidak ada hantu,” Asmodeus menjawab tegas.

“Tapi ada makhluk lain?” Zephyr akhirnya membuka suara, menyimpulkan.

Asmodeus menatap Zephyr dengan tajam selama beberapa saat. “Ya,” akhirnya ia menjawab. “Ada makhluk-makhluk aneh yang di dunia ini dianggap dongeng di dunia itu. Tapi mereka sama sekali bukan masalah bagi kita.”

“Jadi kau berpikir kita bisa kesana, menginvasi dunia itu dan merebutnya untuk kita kaum hantu?” Zephyr berkata lagi.

“Itu memang tujuanku,” Asmodeus menjawab tegas. Kharisma yang dipancarkan hantu ini bisa membuat ciut nyali semua hantu lain, tapi tampak tak berpengaruh sedikitpun pada Zephyr.

“Kaubilang disana tak ada hantu kan? Apakah kau yakin bahwa itu tidak disebabkan karena semua hantu disana telah dieksorsis?” Zephyr dengan kalem bertanya lagi.

“Aku yakin,” Asmodeus berkata. “Sudah dua bulan aku meneliti disana. Aku sudah memperlihatkan wujud di depan banyak makhluk. Tak ada satupun yang mengenaliku sebagai hantu. Aku sudah menangkap, menyiksa dan memaksa seorang peri untuk menceritakan sejarah dunia itu. Tak ada satupun legenda yang menyebutkan tentang eksorsisme hantu.”

Zephyr mengerutkan kening. Ia tahu bahwa hantu itu tak berbohong. Beberapa hantu yang sudah cukup tua, termasuk dia sendiri, bisa memadatkan ektoplasmanya dan memegang benda benda. Tentu saja itu juga berarti mereka bisa memukul dan menyakiti makhluk lain. Walaupun begitu, Zephyr tak menyukai kekerasan. Siksaan jelas-jelas bertentangan dengan sifatnya. Namun ia menahan diri dari keinginan untuk berkomentar sinis. Ia malah terus bertanya, “Kalau begitu, apa rencanamu dengan makhluk-makhluk yang tinggal disana?”

“Sudah jelas kan? Kita akan mengusir mereka,” Asmodeus menjawab sinis. “Kalau perlu kita akan memusnahkan mereka. Kita tak bisa mengambil resiko mereka berkembak biak seperti manusia dan menghancurkan kita dengan eksorsisme.”

Terdengar suara riuh menyambut ucapan itu. Sebagian setuju, sebagian lagi menentang.

“Diam semua…!!” Asmodeus membentak. Wajahnya berubah jadi beringas dan menakutkan.

“Aku mengajak kalian ke sana demi kepentingan kita juga. Yang setuju denganku dan bersedia mengikuti keinginanku silahkan tetap disini. Yang tidak setuju, silahkan menyingkir dari sini dan membusuk di dunia ini.” Asmodeus berkata dengan ketegasan tak terbantahkan.

Zephyr mendesah sedih. Ia sangat ingin melihat dunia yang disebutkan Asmodeus itu. Tapi, ia benar-benar anti kekerasan. Merampas dunia lain dan mengusir atau memusnahkan penghuninya sama sekali tidak sesuai dengan gayanya.

Dengan muram Zephyr melayang meninggalkan tempat itu diikuti sejumlah hantu lainnya. Tapi mereka yang masih tinggal ada banyak, sangat sangat banyak.

[tab:Hal 7]

________________________________________
Post by: didie-sy on March 03, 2008, 03:04:04 pm
________________________________________
aloooo semua :-*
aloo blood sin,aku didie n jarang maen-maen ke pulau penulis
tadi aku udah posting siy tp ga tau masuk ga?aku dikasi tau tentang goran sama temenku tapi masi ragu.
review lo tentang goran kok beda banget sama review kobo chan di kutu buku.com?dia negatif gitu.kynya kalian baca buku yang beda ya?yang bener yang mana?
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 03, 2008, 03:51:38 pm
________________________________________
@didie sy, teman baruku…
kok malah mempertanyakan apakah om blood membaca buku GORAN ataw tidak? hehehe…
aku sendiri belum baca, tapi menurutku wajar jika ada pembaca yang pendapatnya berseberangan, satu positif, satu negatif.
gak mungkin semua suka, atau sebaliknya semua gak suka. harry potter aja ada yang gak suka dan yang gak suka, apalagi buku yang lain.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 03, 2008, 04:09:02 pm
________________________________________
Quote from: yuzuriha on March 03, 2008, 02:58:02 pm
lia……………
gak tau kanapa tiba2 aku jadi capek banget nulis dan berpikir………
padahal semua masih terangkum rapi di otakku padahal deadline novellet nyata tgl 29 maret……. :’(
aku gak bakat kali yah?????
hehe…
yuzu, jika masalahmu adalah capek, ya beristirahatlah.
jika masalahmu karena tiba2 gak bisa nulis padahal semua udah ada di otak, mungkin coba dengan lebih fokus, jangan mikirin hal lainnya.
tapi jangan sampai menyalahkan si ‘bakat’ ya… hehehe…
Tuhan sudah menganugerahkan ‘bakat’, pasti ada tujuannya. tapi sebenernya ada yang lebih penting daripada bakat, yaitu ‘usaha’.
barangkali ‘usaha’ kita buat belajar dan menulis belum terlalu kuat. masalah yang sama selalu dihadapi setiap penulis kok, tapi sebenarnya kita udah tau jawabannya. cuma melakukannya yang sulit.

Comments No Comments »

Dunia itu seperti mangkok kayu yang biasa kita pakai untuk makan dan minum. Mereka yang tinggal di lembah seperti hidup di dasarnya, dan deretan pegunungan batu yang mengelilingi lembah adalah dindingnya.”

Itulah pelajaran pertama dari Kakek hari ini, dan anak-anak langsung terpana, sebelum kemudian berebutan bertanya, berteriak-teriak seperti biasa. Tapi bukannya menjawab, Kakek malah tertawa. Ia memang selalu lebih suka melihat mereka bertingkah penuh semangat daripada hanya berdiam diri tanpa kata.

Jadi ia membiarkan mereka, sebelum berkata, “Akan Kakek jelaskan sedikit, Anak-anak, dan setelah itu kalian boleh bertanya.”

Read the rest of this entry »

Comments 12 Comments »

[tab: Hal 1]Oleh-oleh Lebaran saya dari Bandung adalah novel Jonathan Strange & Mr Norrell karya Susanna Clarke, terbitan Bloomsbury 2004 dan pemenang Hugo Award 2005. Dengan tebal 1000 halaman serta berhuruf kecil hingga saya perkirakan novel ini berisi 350.000 kata alias sepuluh kali novel teenlit (hehe…), saya pikir wajar jika sampai sekarang saya baru membaca 200 halaman, betapapun bagus isinya.

[tab: Hal 2]Novel ini mengambil setting mulai tahun 1807 di Inggris, pada masa Perang Napoleon, dan dibuka dengan pertanyaan ‘masih adakah sihir di Inggris?’. Pada masa itu sihir hanya dipelajari oleh para penyihir teoritis, yang sama sekali tidak bisa menyihir. Dan kemudian muncullah Mr Norrell, yang mengklaim bahwa dia adalah praktisi sihir. Di kota York dia meminta para penyihir teoritis itu berkumpul di katedral, dan jika dia berhasil membuktikan sihirnya, maka orang lain tidak boleh lagi menyebut diri mereka penyihir. Di katedral itulah, batu-batu kemudian berbicara.

[tab: Hal 3]Jonathan Strange & Mr Norrell adalah novel pertama Susanna Clarke. Sulit dipercaya memang bahwa ini adalah yang pertama, melihat begitu elegannya kisah ini ditulis, dengan gaya bahasa yang berbeda dengan Harry Potter yang ringan, dan justru mendekati gaya penulis klasik macam Charles Dickens dan Jane Austen. Neil Gaiman bahkan menyebutnya sebagai novel fantasi dengan Bahasa Inggris terbaik dalam kurun waktu tujuh puluh tahun terakhir.

[tab: Hal 4]Mengenai plot atau cerita, saya belum bisa berkomentar berhubung saya belum selesai membacanya. Yang menjadi kelebihannya–selain gaya bahasanya–saya rasa adalah detil backstory yang dibuat Clarke melalui catatan-catatan kaki yang lumayan banyak. Sebagian pembaca mungkin membenci catatan kaki, tapi saya rasa dengan cara ini Clarke berhasil menciptakan sebuah dunia, di mana pembaca menjadi percaya, bahwa dulu memang ada sihir dan komunitas sihir yang nyata di Inggris.

Oke. Sementara, sekian dulu komentar saya. Saatnya saya melanjutkan membacanya dulu sampai selesai.

Comments 21 Comments »