Posts Tagged “cerpen fantasi”

The Day

”Akankah kita dikenang sebagai pahlawan?” Si Gendut bergoyang gelisah.

Aku menenangkannya. ”Kalian pahlawan.”

Kolonel Tua mendesah. ”Sebelum mati, kami harus tahu siapa namamu.”

Read the rest of this entry »

Comments 2 Comments »

”Dibanding semua kakakku, aku hanyalah ksatria rendahan. Miskin, bodoh, tak dikenal.” Majikanku menatapku. ”Dan gila, karena hendak menantang manusia paling berbahaya di dunia. Untuk apa? Kau tahu?”

baca lanjutan ceritanya di sini

Comments No Comments »

”Dibanding semua kakakku, aku hanyalah ksatria rendahan. Miskin, bodoh, tak dikenal.” Majikanku menatapku. ”Dan gila, karena hendak menantang manusia paling berbahaya di dunia. Untuk apa? Kau tahu?”

Aku diam saja, memandangi dua gundukan tanah di sampingku. Makam kedua orangtua majikanku.

”Kau pikir demi mereka?” Ia menggeleng. ”Aku tak yakin.”

Ia lalu menepuk dadanya. Ada saputangan cinta berwarna putih di balik jubah perangnya. ”Atau demi dia? Aku tak yakin juga.”

Ia tertawa. ”Apapun, aku tetap harus pergi. Ayo, kita temui takdir kita.”

Kubiarkan ia menaiki punggungku. Aku pun meringkik dengan bangga.

Majikanku, kenapa kau masih bertanya?

Jawabannya sederhana: kaulah sang pahlawan.

Comments No Comments »

Vill : WATAAA!!!
Moon : KYAAA!!!

Vill : Hehehehehe.
Moon : …

Vill : Selamat pagi!
Moon : …

Vill : Hahaha! Wajahmu itu. Haha—
Moon : Diam! Kau terlambat.

Vill : Aku?
Moon : Ya! Kau yang mengajak bertemu di sini, tapi kau sendiri yang terlambat!

Vill : Ah, kau yakin aku terlambat?
Moon : Apa aku yakin?! Demi Tuhan!

Vill : Coba lihat dulu itu, Sayang. Matahari belum lebih tinggi daripada pucuk cerobong rumahmu.
Moon : Dilihat dari mana, Idiot?

Vill : Tentu saja dari sini.
Moon : Mmm … silau.

Vill : Begini melihatnya.
Moon : Jangan dekat-dekat!

Vill : Ck.
Moon : Sana!

Vill : Hehe.
Moon : Ayam merahku sudah berkokok tiga kali, dan kambing belangku sudah mengembik lima kali.

Vill : Maksudmu?
Moon : Itu artinya kau kesiangan!

Vill : Kau mempercayakan hidupmu pada mereka?
Moon : Mereka selalu jujur.

Vill : Kau tahu, bukan aku, tapi mereka itu yang idiot karena berkokok dan mengembik lebih dari sekali.
Moon : Mereka tidak idiot! Otak mereka lebih besar daripada otakmu!

Vill : Begitukah? Biar kulihat nanti saat makan malam.
Moon : Jangaaannn!

Vill : Jangan? Hehe. Otak mereka tidak enak?
Moon : Bukan. Aku bakal muntah melihat otakmu di meja makan.

Vill : Hahaha. Maksudku ‘idiot’ tadi, mungkin mereka agak mabuk pagi ini. Salah makan kemarin malam, mungkin?
Moon : Itu namanya bukan ‘idiot’, Idiot! Dan tidak, mereka tidak salah makan. Cacing rebus untuk ayamku, dan sop rumput untuk kambingku, seperti biasa.

Vill : Tidak sebotol pun dari kotak arak Pak Walikota semalam?
Moon : A—arak?

Vill : Yeah.
Moon : Kau pikir aku yang mengambilnya?!

Vill : Yeah. Dua. Untuk ayammu, dan kambingmu. Kau sayang mereka, kan?
Moon : Tidak! Eh, maksudku, aku sayang mereka, tapi …

Vill : Hehe. Lalu apa itu yang kau bawa semalam di balik bajumu?
Moon : …

Vill : Bukan yang di dadamu tentu saja, tapi di perutmu. Dua botol, iya kan?
Moon : Mmm … itu …

Vill : Mengendap-endap di balik ruang pesta. Mengakulah. Tak mungkin kau bersembunyi dari mata elangku.
Moon : Elang?

Vill : Eh? Mmm … mata burung hantu. Atau … err … mata kucing, ya?
Moon : Kucing saja.

Vill : Ya. Kucing.
Moon : …

Vill : Jadi?
Moon : Itu untuk…

Vill : …
Moon : Ayahku.

Vill : …
Moon : …

Vill : Dasar pemabuk tua.
Moon : Hei.

Vill : Maaf.
Moon : Ah, sudahlah.

Vill : Ya.
Moon : Ya.

Vill : Tapi, sayang sekali kau tak mengambil sebotol. Hehe.
Moon : Kau …?!

Vill : Aku serius. Kenapa kau tidak mengambil sebotol?
Moon : Buat apa? Aku tidak suka arak!

Vill : Bukan araknya. Botolnya! Aku bisa jual botolnya di desa sebelah.
Moon : Oh? Benarkah?

Vill : Iya. Lumayan harganya. Aku kemarin bisa membeli pedang dari hasil menjual botol.
Moon : Pedang?!

Vill : Iya. Benda tajam panjang itu. Yang dari besi.
Moon : Idiot! Maksudku, kau bisa menukar botol dengan pedang?!

Vill : ‘Ditukar’? Itukah istilahnya? Kukira namanya ‘jual beli’. Tapi, mmm … yeah. Hebat, bukan?
Moon : Pedang kan mahal, mana bisa ditukar dengan botol?

Vill : Buktinya bisa.
Moon : Pedagang bodoh dan tolol mana yang mau menukar pedangnya dengan botol?

Vill : Memang aneh dia. Bukan pedagang biasa. Tapi baik.
Moon : Pasti pedangmu pedang murahan.

Vill : Yang penting masih bisa dipakai menyembelih ayam. Hehe. Sudah kucoba kemarin.
Moon : Jangan dekat-dekat ayamku! Kuperingatkan!

Vill : Kemarin itu bukan ayammu, tenang saja.
Moon : Bagus!

Vill : Jadi begini, botolku dua gerobak. Satu kutukar dengan—
Moon : Dua gerobak?! Dari mana kau …?!

Vill : Haha. Operasi pengumpulan botolku sudah berlangsung tiga bulan.
Moon : Tiga bulan?!

Vill : Yeah.
Moon : Ah, tentu saja! Tepat dengan saat kedatanganmu di desa ini. Jadi rupanya kau pencuri kurang ajar itu!

Vill : Aku tidak mencuri, aku mengambil dari tong sampah kalian.
Moon : Kau masuk halaman orang tanpa ijin.

Vill : Hei, kalau tidak ada aku, botol-botol kalian bakal berserakan di seluruh penjuru desa. Akulah yang membantu desa kalian memenangkan penghargaan!
Moon : Mmm… iya.

Vill : Aku baik, kan? Dan otakku paling cemerlang! Gyahahahahah!
Moon : Idiot.

Vill : Sayang sekali, tetap tak ada penghargaan buatku di pesta kemarin. Walikota kalian benar-benar pelit.
Moon : Kalau kau butuh penghargaan, kubilang nanti ke dia.

Vill : Hahaha. Aku bercanda. Lagipula, aku sudah mendapatkan pedang.
Moon : Jadi, mana? Aku mau lihat pedangmu.

Vill : Kusembunyikan di gubuk.
Moon : Kenapa?

Vill : Gila apa aku membawa-bawanya di tengah desa? Aku harus belajar menggunakannya dulu sebelum pamer.
Moon : Mmm, iya. Sebaiknya hati-hati. Orang-orang jahat itu masih berkeliaran. Mereka pasti curiga jika melihatmu membawa pedang.

Vill : Makanya, kupikir lebih baik aku keluar dulu dari desa ini dan belajar di tempat lain.
Moon : Mereka tetap bisa mengejarmu sampai ke desa sebelah.

Vill : Tidak kalau aku pergi lebih jauh lagi.
Moon : …

Vill : Apa?
Moon : Kau … mau pergi jauh?

Vill : Mmm … itu rencanaku nanti. Makanya, satu gerobak botolku yang lain kemarin kubelikan sepatu.
Moon : Sepatu? … Mana? Tetap sandal jelekmu yang kulihat.

Vill : Kusimpan juga di gubuk!
Moon : Kenapa tidak dipakai?

Vill : Aku tidak mau kotor sebelum pergi.
Moon : Nanti juga pasti kotor.

Vill : Nanti rusak sebelum dipakai.
Moon : Nanti juga pasti rusak!

Vill : Kau tidak mengerti. Aku tidak mau itu rusak sebelum dipakai terbang.
Moon : Terbang?

Vill : Iya. Itu sepatu terbang. Bisa membawaku pergi kemana saja yang kusuka dalam waktu singkat.
Moon : …

Vill : Apa?
Moon : Selama ini aku hanya mengenalmu sebagai seorang idiot dan sombong keras kepala, tak kusangka kau juga seorang pembohong.

Vill : Aku tidak berbohong!
Moon : Mana ada sepatu terbang!

Vill : Ada! Kau lihat saja besok. Dua pasang!
Moon : Dua?

Vill : Iya. Satu untukku dan satu untukmu.
Moon : …

Vill : Kenapa? Kau tidak suka?
Moon : Aku … suka, tapi …

Vill : …
Moon : …

Vill : Moon.
Moon : Ya?

Vill : Aku akan membawamu pergi besok.
Moon : …

Vill : Aku akan membawamu keluar dari desa ini.
Moon : Kau serius?

Vill : Aku serius.
Moon : Kenapa?

Vill : Karena kau tidak pantas berada terus di desa kecil seperti ini.
Moon : Kenapa?

Vill : Karena kau harus menggapai mimpimu di dunia yang lebih besar!
Moon : Kenapa?

Vill : …
Moon : Kenapa, Vill?

Vill : Karena … aku bersungguh-sungguh saat memanggilmu ‘Sayang’.
Moon : …

Vill : Jadi, kau mau ikut denganku, kan?
Moon : Tapi, bagaimana dengan ayam dan kambingku?

Vill : Hah? Kau menolak ajakanku demi ayam dan kambing?!
Moon : Aku tidak menolak!

Vill : …
Moon : …

Vill : Maaf.
Moon : Aku hanya ingin tahu, siapa nanti yang mengurus mereka?

Vill : Tentu saja ayahmu.
Moon : Lalu siapa yang mengurus ayahku?

Vill : Tentu saja dia sendiri juga. Ayahmu itu lelaki dewasa!
Moon : Siapa nanti yang akan membelikan dia arak?

Vill : Demi Tuhan! Lupakan arak-arak terkutuk itu!
Moon : Aku tahu!

Vill : …
Moon : Aku hanya kasihan padanya.

Vill : Waktu untuk mengasihani sudah lewat. Silakan saja jika dia hendak menghancurkan dirinya sendiri, tapi jangan membawa-bawa dirimu!
Moon : …

Vill : Jika kau masih takut, biar aku yang bicara padanya. Dia tak akan berani mengusirku lagi sekarang. Aku punya uang!
Moon : Tidak usah begitu.

Vill : Biar kusodorkan uang terakhirku di depan hidungnya, dan dia tak akan berkoar-koar lagi.
Moon : Kau mau memberinya uang?

Vill : Yeah. Supaya dia rela melepaskanmu.
Moon : Jadi kau membeli aku?

Vill : Eh?
Moon : Kau membeli aku dari ayahku?

Vill : Mmm … bukannya tadi istilahnya ‘ditukar’, bukan ‘jual beli’?
Moon : Kau pikir aku ini barang seperti botol-botolmu itu?!

Vill : Hei hei hei.
Moon : …

Vill : …
Moon : …

Vill : …
Moon : Vill.

Vill : Ya, Moon?
Moon : Aku akan bicara pada ayahku. Malam ini.

Vill : Ya.
Moon : Dan apapun yang akan dikatakannya nanti, aku akan tetap pergi besok, bersamamu.

Vill : Iya.
Moon : …

Vill : Terima kasih.
Moon : Terima kasih juga, karena telah bersungguh-sungguh memanggilku ‘Sayang’.

Vill : Jadi kau pikir selama ini aku bercanda?
Moon : Aku takut bertanya.

Vill : Hahaha.
Moon : Dan … aku boleh tetap memanggilmu ‘Idiot’?

Vill : Hahaha. Silakan saja.
Moon : Karena kau memang ‘idiot’. ‘Idiot’ kesayanganku.

Vill : Gombal.
Moon : Aaahhh!!!

Vill : Tapi gombalmu menyenangkan.
Moon : …

Vill : Hehe.
Moon : Huh. Terima kasih banyak!

Vill : Boleh aku titip pesan untuk ayahmu?
Moon : Boleh.

Vill : Kalau araknya sudah habis, aku minta botolnya. Hehehe.
Moon : Dasar! Buat apa lagi?

Vill : Aku melihat cincin perak kemarin. Pasti bagus di jarimu.
Moon : Ah.

Comments No Comments »

Setelah kami memenangkan pertempuran di utara, rekan-rekanku berkata, ”Seharusnya kau yang menjadi kaisar.”

Maximus adalah jenderal Romawi dalam film Gladiator (2000), yang ditawari oleh Kaisar Marcus Aurelius menjadi penggantinya, mengabaikan putra sang kaisar sendiri, Commodus.

baca lanjutan ceritanya di sini

Comments No Comments »

Raja menggelar pesta, di istana beratap kubah emas dengan dinding bertatahkan batu permata. Pesertanya: bangsawan berbaju sutra, ksatria gagah berwibawa, anggota dewan yang terhormat, juragan terpandang. Lengkap seribu orang. Kalian.

baca lanjutan ceritanya di sini

Comments No Comments »

”Tuanku, biarkan jendral bodoh itu yang membunuh ayahmu,” bisikku pada Pangeran.

Di balairung istana kami menyaksikan Jendral menghunjamkan belatinya menembus jantung Raja.

baca lanjutan ceritanya di sini

Comments No Comments »

Setelah kami memenangkan pertempuran di utara, rekan-rekanku berkata, ”Seharusnya kau yang menjadi kaisar.”

Aku tak menanggapinya. Sebagian dari mereka adalah penjilat, sebagian lagi hanyalah orang bodoh. Lagipula, aku tak berminat.

Di ruanganku, kubaca surat yang baru datang. Istriku sehat walafiat, demikian pula putraku. Ah, masih bisakah kuingat wajah mereka?

Seorang perwira membuyarkan lamunanku. ”Jendral, kaisar menunggumu.”

Dengan pikiran bercabang aku berjalan menuju taman.

Sunyi dan damai beraroma surgawi.

”Mana kaisar?” tanyaku.

”Tak ada,” perwiraku menjawab. ”Tapi ini pesannya.”

Belati tajam menghentak punggungku, menerobos hingga ke jantung.

Tak ada benci. Saat mencium lantai aku hanya menangis, membayangkan ratapan istri dan putraku.

Maximus adalah jenderal Romawi dalam film Gladiator (2000), yang ditawari oleh Kaisar Marcus Aurelius menjadi penggantinya, mengabaikan putra sang kaisar sendiri, Commodus.

Comments No Comments »

Raja menggelar pesta, di istana beratap kubah emas dengan dinding bertatahkan batu permata. Pesertanya: bangsawan berbaju sutra, ksatria gagah berwibawa, anggota dewan yang terhormat, juragan terpandang. Lengkap seribu orang. Kalian.

Raja mengangkat cangkirnya. Anggur merah semerah darah. “Untuk kemakmuran hari ini, besok, selamanya.”

Kalian membalasnya. Tanpa kecuali.

Maka masuklah aku menyusuri kerongkongan kalian.

Jangan salah paham, aku datang bukan mewakili rakyat yang tertindas oleh ketidakpedulian kalian. Aku tidak gembira saat mulut kalian menyemburkan darah, dan tubuh kalian menggelepar di lantai marmer.

Mengertilah, ini hanya tugasku.

Salah kalian sendiri ada di sini.

Atau, salahkan saja Raja.

Atau, tak perlu menyalahkan siapapun.

Comments No Comments »

”Tuanku, biarkan jendral bodoh itu yang membunuh ayahmu,” bisikku pada Pangeran.

Di balairung istana kami menyaksikan Jendral menghunjamkan belatinya menembus jantung Raja.

”Sangat mudah membakar dendamnya,” lanjutku.

”Balasan yang setimpal.” Pangeran mengangguk. ”Kau memang pandai, Penasihat. Sekarang giliranku?”

”Betul. Sesuai rencana.”

Lonceng berbunyi. Seketika muncul sebarisan pasukan bertombak yang langsung mencacah habis tubuh Jendral.

Pangeran tertawa keras. ”Akulah penguasa sekarang!”

Jangan terlalu yakin.

Tawanya mendadak terhenti, dan darah hitam tersembur dari dalam mulutnya.

Ketika ia meregang nyawa, aku menyeringai. ” Ayahmu menitip pesan: ’matilah kau, bocah pengkhianat!’.”

”Lihat belakangmu, tolol!” balasnya.

Sedetik kemudian sebilah pedang menyambar leherku.

Orang kelima sialan.

Comments 4 Comments »

Bab 1

Sudah seratus tahun patungku berdiri tegak di depan gerbang Utopia, saat seorang bocah menunjuk pedangku. “Ibu, kenapa tak seorangpun boleh menyentuhnya?”

“Hanya dia yang pantas.”

“Tapi dia sudah mati.”

lihat catatan saya mengenai penulisan Cerpen 100 Kata di sini

—–

“Tidak, anakku. Dia tidak bisa mati. Dia akan selalu melindungi kita.”

Bodoh!

Malam itu ketika semuanya terlelap, musuh kami yang telah berhasil menaklukkan rasa takutnya dengan kebencian, akhirnya datang.

Aku hanya bisa menjerit melalui mimpi mereka, “Bangun! Ambil pedangku! Hanya itu yang bisa menolong kalian!”

Jawab mereka, “Tenanglah, pelindung kami akan datang.”

Mereka tak mengenaliku.

Setelah beratus tahun aku diterima dewa untuk pertama kalinya, membawa kepedihan, menyaksikan rakyatku dimusnahkan oleh kebodohan.

*

Bab 2

Entah apa maksud Dewa Langit kala menyuruhku kembali ke Utopia. Menghukumku lebih jauh dengan membuatku menyaksikan kembali kegagalanku?

Di lembah kematian ini, aku meruntuhkan bukit untuk mengubur rakyatku.

Ketika aku selesai, seorang lelaki tua menghampiri. “Kau kembali. Memang, sebanyak apapun putaran kehidupanmu nanti, selamanya kau tetaplah Pelindung Utopia.”

“Tak satupun nyawa tersisa, apalagi yang harus kulindungi?”

“Semangatnya.”

“Utopia hanyalah angan-angan. Keberhasilanku telah membuat mereka terlena, dan itulah awal dari kehancuran semuanya.”

“Lalu apa yang akan kaulakukan?”

“Mencari pedangku,” jawabku penuh dendam. “Akan kubinasakan semua musuhku tanpa ampun.”

Lelaki tua itu menangis.

Dewa Langit pun mungkin kini menyesal telah mengirimku kembali.

*

Bab 3

Gunung dan lembah kulompati, demi mencapai negeri musuhku. Kubayangkan wajah kejam mereka, demi memupuk dendamku.

Akan kubunuh SEMUANYA!

Tapi di kota pertama, hanya kutemui wajah tanpa dosa. Di kedai mereka berbincang, ”Syukurlah, pasukan kita telah berhasil membinasakan musuh.”

Aku meradang. ”Mana pasukan kalian?!”

Meringkuklah mereka. ”Ke ibukota! Jangan bunuh kami!”

”Kuampuni kalian.”

Kulanjutkan perjalanan ke kota kedua, tempat aku mengancam lagi, ”Mana jalan ke ibukota?!”

”Ke selatan! Jangan bunuh kami!”

”Kuampuni kalian.”

Sampailah aku di kota ketiga. ”Mana ibukota kalian?!”

”Di sini!” Mereka menangis. ”Kau masih ingin membunuh kami?”

Ah.

Aku tidak bisa.

Aku terlalu pengampun untuk kembali menjadi pembunuh.

*

Bab 4

Di tepi sungai aku termenung, memperhatikan sebarisan prajurit yang keluar dari gerbang ibukota dan akhirnya bersenda-gurau di sebuah rumah.

Mereka musuhku. Tapi haruskah kubunuh mereka?

Pemimpin mereka berseru, ”Shyla! Mana minuman kami?”

”Sebentar, Ayah!” Seruan seorang gadis terdengar.

Di kebun belakang berlarilah ia. Mungil, berambut panjang, berkulit putih.

Cantik.

Ia meraih sebuah kendi, hendak membawanya masuk ke rumah, dan… tiba-tiba semuanya terjadi. Kakinya tergelincir, kendinya melayang di udara, dan seketika aku telah terbang ke sisinya. Tubuhnya di tangan kiriku, kendi di tangan kananku.

Ia memandangiku, tersenyum.

Tahulah aku, dengan cara sesederhana itu aku telah jatuh cinta.

Pada manusia biasa.

*

Bab 5

”Siapakah kau?” Shyla—yang dalam hatiku dengan bodohnya telah kupanggil sebagai ’Kekasih’—bertanya justru ketika aku telah pergi menjauh dari rumahnya menuju hutan.

”Aku teman ayahmu, datang dari jauh.”

Ia tersenyum begitu manisnya seolah tak pernah mendengar sebuah kebohongan. ”Kenapa tidak menemuinya tadi?”

Karena aku takut akan membunuhnya di hadapanmu.

Tentu saja tak mungkin kukatakan itu, jadi kujawab, ”Nanti saja.”

”Kubawakan roti.” Ia menyodorkan bungkusannya. ”Jika kau lapar.”

Putih hatinya.

Oh, Dewa Langit, sebenarnya apa rencanamu untukku?

”Shyla!”

Seruan itu mengagetkan kami. Dari balik pohon ayahnya muncul. Dan pedang itu—PEDANGKU!—tergenggam di tangan kanannya.

Darahku menggelegak.

Kekasih, maafkan aku.

*

Bab 6

”Mau apa kau?” Musuhku mengacungkan pedang ke arahku sambil menarik Shyla.

Gadis itu berkata, “Ayah, bukankah dia temanmu?”

“Bukan! Dia iblis dari Utopia yang hendak membinasakan kita!”

“Berikan pedangku,” ancamku.

Ia malah menantang, “Serbu!”

Ratusan panah mendekatiku, tapi kurontokkan semuanya dengan sekali kibasan. Sepasukan prajurit mengepungku, tapi kulontarkan mereka dengan sekali hentakan di bumi.

Aku melompat, mengelak dari sabetan pedang musuhku, dan meninju wajahnya hingga ia terkapar. Kudapatkan kembali PEDANGKU, yang kini kuarahkan ke lehernya.

Shyla meratap di kakiku, “Jangan bunuh ayahku!”

Lihat, betapa memalukan, ternyata aku bisa lemah karena cinta.

Mataku terpejam, dan sebuah pukulan pun datang menghantam kepalaku.

*

Bab 7

Pukulan macam apa yang mampu membuatku pingsan?

Gelap di sekelilingku. Rantai di kedua tangan dan kakiku.

Sel.

Suara jernih terdengar di balik kegelapan. “Dewa Langit memintamu menyerah.”

Diakah Sang Pembawa Pesan?

“Untuk apa?” tanyaku.

“Demi membangun Utopia yang baru di sini.”

Aku menggeram. “Lalu, kenapa aku harus MENYERAH?!”

“Pencapaian tertinggi didapat melalui pengorbanan terbesar.”

“Aku bukan martir!” Tubuhku memberontak. Kucoba menyalurkan energi ke empat penjuru, untuk menghancurkan seluruh rantai besiku.

Tapi percuma.

Aku mendelik. “Apa yang terjadi? Mana kekuatanku?!”

“Dewa Langit telah mengambilnya. Mengertilah, tubuhmu bukan milikmu.” Ia menghilang dalam gelap.

“Tidaaakkk!” jeritku ketakutan. “Dewa Langit! Kenapa kau meninggalkan aku?!”

*

Bab 8

Pemakan nasi basi. Peminum air comberan.

Makanan empuk cambuk dan rantai besi. Sasaran tunggal tomat dan telur busuk. Terlupakan. Terhina.

Sederajat anjing.

Makhluk terendah pengutuk diri sendiri.

Tapi mengapa, aku masih mendapatkan senyum gadis itu?

Di tiang alun-alun kota aku diikat, tersungkur disirami cahaya rembulan. Dalam hening ia datang mengendap-endap, untuk kesekian kali.

“Rotimu.” Jemarinya lembut mengangkat wajahku.

“Ini yang terakhir, Shyla. Kau membahayakan dirimu.”

Ia tersenyum. “Baru kudengar tadi, kisah seorang pahlawan dari Utopia.”

“Negeri musuhmu? Akan kuceritakan bagaimana ia menjadi terkutuk!”

“Ia bisa kembali menjadi yang termulia.”

“Mengapa kau mempercayai itu?”

“Kami membutuhkannya!”

Maaf. Sudah terlambat.

*

Bab 9

Setelah siksaan fisik di sel berbau bangkai demi memuaskan dendam musuhku, kini, anehnya, aku dibawa ke kamar emas kerajaan.

Harum tubuhku kini, untuk menandingi aroma ratu jelita di hadapanku.

“Apa maumu?” tanyaku.

“Kau.”

“Aku bukan siapa-siapa.”

“Kau adalah Pelindung Utopia.” Ia membelai pedangnya. Pedangku.

“Dulu,” jawabku.

“Memang. Kau pecundang sekarang. Tapi…” Ia beranjak dari kursinya, lalu menjilati wajahku. “Kau masih bisa menjadi budakku. Dan nanti, kau bisa memberiku keturunan, yang lebih hebat dibanding sang Pelindung Utopia.”

“Apa?! Aku tidak akan tunduk padamu!”

“Nikmatilah saja nanti, Sayang, surga terakhirmu, sebelum kau mati.” Ia tertawa seperti sundal.

Dewa Langit, inikah rencanamu UNTUKKU?!

*

Bab 10

“Dewa Langit telah mencampakkanmu. Sadarlah.”

Di dalam sel baruku, yang lebih manusiawi namun tetap gelap, aku mendongak mencari sang pemilik suara. Ada, hitam di ujung ruangan.

“Siapa kau?” tanyaku. “Sang Pembawa Pesan?”

“Dari langit sucimu itu?” Ia tertawa. “Tidak. Aku dari tempat lainnya.”

“Dewa Kematian?”

“Terserah kau menyebutku apa. Yang jelas, aku bisa memberimu kekuatan untuk membunuh musuhmu.”

“Musuhku?”

“Ratu jahanam itu.”

“Aku tak butuh janji!”

Ia tertawa lagi. “Buka saja mulutmu.”

Entah iblis apa yang membuatku menuruti keinginannya. Mulutku terbuka, dan hawa panas menyelimuti bibirku, memasuki rongga mulutku.

Pahit. Hangat. Manis.

“Apa ini?” tanyaku.

“Kekuatanku, sekarang milikmu.”

Kematian?

Milikku.

*

Bab 11

Pelayan bertudung putih memasuki sangkar emasku, mengantarkan makanan dan minuman. “Makanlah,” Ia berkata.

Aku tetap meringkuk, hingga ia menyapa lagi, “Tuan.”

Aku tertegun. “Shyla?”

Wajahnya kini tampak di balik tudungnya. “Ya.”

“Kenapa kau kemari?! Penjaga bisa melihatmu!”

“Bagi mereka aku hanya pelayan biasa.”

“Ayahmu?”

“Dia jauh.”

“Shyla.” Bibirku bergetar. “Kenapa?”

Ia tersenyum, begitu dekat denganku. “Tak mengertikah kau? Kau yang selalu mengunjungi mimpiku, memelukku, membisikkan kata cinta di telingaku.”

“Aku?”

“Kau tak ingat? Dalam mimpi terakhir kau berkata, ‘Dalam kehidupanku selanjutnya, aku akan mendatangimu.’.”

Benarkah?

“Kau salah orang,” jawabku.

“Tapi—”

“Pergilah! Dan jangan kembali!”

Menangis, ia terhuyung meninggalkan aku.

*

Bab 12

“Kau mengusir kekasihmu? Bagus.” Tawa keji itu terdengar lagi di balik kegelapan. Aku pasti menghajarnya, jika saja tangan dan kakiku tak terantai di dinding, tak peduli dia Dewa Kegelapan.

“Dia bukan kekasihku!”

“Entah kau memang bodoh, atau sedang membohongi dirimu.”

Aku mengelak. “Dia membahayakan dirinya dengan datang menemuiku.”

“Kau tak percaya, bahwa kau telah mengunjunginya dalam mimpi?”

“Aku pasti ingat setiap detik kehidupanku di bumi, tapi tidak untuk waktu yang kuhabiskan selama aku di langit. Lagipula, aku punya tujuan lain sekarang.”

Ia menyeringai. “Aku senang kau tidak lupa. Walau aku tetap sedih, kau telah mengabaikan cintamu.”

Cintaku?

Omong kosong! “Pergi!”

*

kisah Pelindung Utopia belum berakhir di sini

Comments No Comments »

Sudah seratus tahun patungku berdiri tegak di depan gerbang Utopia, saat seorang bocah menunjuk pedangku. “Ibu, kenapa tak seorangpun boleh menyentuhnya?”

“Hanya dia yang pantas.”

“Tapi dia sudah mati.”

baca kisah Pelindung Utopia selengkapnya di sini

lihat catatan saya mengenai penulisan Cerpen 100 Kata di sini

Comments No Comments »