Posts Tagged “dream of utopia”

[tab:Hal 1]Sesi XXVII (27 Jul 2008 – 30 Jul 2008)

  • Review Gathering Pulpen 26 Juli 2008 oleh clickdian
  • Tentang review Dream of Utopia
  • Tentang gaya bahasa

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: clickdian on July 27, 2008, 04:22:40 pm
________________________________________
“Clara, gimana situasi?”

“Masih aman. Fred sudah dateng,” jawab Clara dengan suara yang tidak begitu jelas. “Kamu di mana?”

Aku melirik gedung tinggi di seberang jalan. “On the way, sudah di depan target. Siapa aja yang udah dateng?”

“Fred—“ suara Clara menghilang sejenak. “—dan temenku, David.”

Nama ini tidak kukenal. “Newbie?”

“Yup.”

Ini sudah cukup. Aku sudah hampir sampai, harus segera kuputuskan sambungan teleponku dengan Clara, sebelum menarik perhatian orang. “Oke, aku sebentar lagi sampai di meeting point.”

“Oke.”

Kusimpan lagi ponselku, lalu bergegas masuk ke dalam gedung, berusaha bergerak secepat mungkin tanpa membuat orang curiga. Satpam di resepsionis melirikku tajam. Kukeluarkan jurus andalanku untuk membiusnya—senyuman mautku.

Berhasil. Dia terpukau dan aku berhasil masuk.

Cukup banyak juga orang di gedung ini. Aku tidak tahu berapa banyak yang tahu identitasku yang sebenarnya, bisa saja setengah dari mereka sebenarnya agen musuh yang menyamar. Elevator lebih terbuka dan rawan serangan sniper, jadi aku menyelinap di antara kerumunan orang dan menyelusup ke dalam lift. Sudut mataku menangkap seorang pria bertubuh tambun dengan kaca mata hitam berdiri di depan kantor sebuah agen perjalanan di depan lift, balas menatapku sementara pintu lift menutup.

Mencurigakan.

Dalam hitungan detik aku sampai di lantai empat, yang jauh lebih sepi. Sambil berjalan aku melirik ke bawah, ke arah sebuah ring skating di lantai tiga, yang penuh dengan anak-anak. Mereka harus dievakuasi secepatnya, untuk berjaga-jaga kalau kondisi berubah menjadi siaga merah, aku mencatat dalam hati. Tak jauh dari ring ada tangga darurat, mestinya tidak terlalu sulit.

Aku memasuki area meeting point, menyapukan pandangan ke seluruh ruangan, mencari individu-individu yang bisa saja kaki tangan musuh. Segala sesuatu bisa terjadi, bahkan di dalam food court ini.

Segerombolan anak muda di dekat pintu masuk sepertinya tidak mungkin—too noisy, takkan ada penjahat yang seribut itu. Sepasang kekasih di sudut bisa saja musuh, walau akting mesra mereka terlalu berlebihan. Tetap harus diwaspadai.

Yang paling mencurigakan seorang wanita berpakaian baby sitter dengan bayi di dalam gendongan kain. Jemarinya di-manicure, dan aku tidak yakin isi kain itu benar-benar bayi. Orang ini punya teknik penyamaran yang payah, tapi teknik menembaknya belum tentu sehancur itu. Kuawasi dia dengan sudut mataku sambil mendekati teman-temanku, yang memilih tempat di balik sebuah pilar besar. Pilihan pintar. Posisi yang sulit diawasi.

Aku mengambil tempat sambil menatap teman-temanku—lima orang, enam denganku sendiri. Clara dan Fred duduk bersebelahan, berhadapan dengan dua orang yang belum kukenal.

“Ini David, dan ini Jo.” Clara memperkenalkan. “Member baru.”

“Jo ini partnerku,” Fred menambahkan. Aku mengerti.

Aku mengangguk ke arah mereka—member-member baru itu. Bagus. Kelihatannya mereka bisa diandalkan. Aku menoleh ke arah orang terakhir, yang duduk di depanku, dan langsung merasa lega.

“Senior Amru, senang melihatmu di sini,” ucapku. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya, dan aku senang Amru bergabung dengan misi kali ini. Dia banyak pengalaman, sejak dari generasi pertama organisasi FFDN.

Amru balas tersenyum. “So, wassup? Punya informasi terbaru?”

Aku membuka tasku dan mengeluarkan sebuah buku. “Ini,” kataku, meletakkan buku itu di atas meja. “Isinya tentang pertempuran dua dunia. Aku baru aja dapet.”

Clara mengambil dan membuka-buka buku itu. “Menarik. Mungkin kita bisa ambil sesuatu dari sini.”

“Pastinya. Ini, ada satu lagi,” kataku, mengulurkan sebuah buku lagi.

“Amigdalus?” David membaca judulnya. “Apa ini?”

Aku mengangkat bahu. “Nggak jelas. Penulisnya sok tahu. Tapi paling nggak, kita punya gambaran kondisi lapangan saat ini. Penjelasan tempur di buku ini beda dengan yang pertama.”

“Guys, simpen dulu ini semua. Berapa orang lagi yang direncanain mau dateng?” Fred mengambil alih perhatian.
“Waktu kita terbatas.”

“Rey, sayangnya, nggak bisa dateng. Dia ada misi di Bandung,” kataku menyayangkan, kecewa. “Elyasa rencananya mau dateng.”

Clara menyergah, “Nggak, nggak jadi. Dia tiba-tiba cancel, ada tugas di tempat lain.”

Sial! Aku memaki dalam hati. Dua agen tidak bisa datang. Aku tidak yakin misi kami akan dapat berhasil hanya dengan enam orang, walaupun Amru ikut.

“Cari tahu yang lain!”

Aku mengambil ponsel dan menelepon Hege, sementara Clara menghubungi Arik. Hege saat ini sedang dalam misinya sendiri, entah apa, dan yang jelas tak mungkin bisa datang karena posisinya di Bali. Arik, sama saja. Quistis dan Vadis … tak seorang pun tahu nasib mereka sekarang.

Fred melirikku dan aku tahu ia sedang menghitung jumlah agen yang tersisa. Fapur, Jeff, Piethitam, Juunishi. Hopeless. Mereka agen-agen khusus yang tidak bisa diganggu, dan hanya Tuhan yang tahu bagaimana cara menghubungi mereka.

Harapan kami tinggal satu.

Clara memecah sepi. “Villam?”

“Kukirim SMS,” sahut Fred, dan tangannya menari di atas keyboard ponselnya. “Ada yang tahu di mana posisi Villam sekarang?”

“Dia ada di Jakarta, setahuku,” jawabku. Tapi entah di Jakarta bagian mana dan sedang melakukan misi apa. Dia selalu terlibat pertempuran. Tak bisa disalahkan, Raja Perang selalu sibuk.

Amru bertanya, “Dia tahu kita ada misi besar hari ini?”

“Tahu,” jawab Clara. “Villam bilang mau ngecek jadwalnya dulu, tapi nggak ada kabar lagi sampai sekarang. Fred, Villam bales?”

Fred menatap ponselnya, bingung. “Nggak. Kenapa ya?”

“Ini mendesak,” kataku mengingatkan. “Kita cuma punya waktu dua jam sampai misi dimulai, dan harus ada kepastian saat ini juga.”

“Kutelepon aja,” sahut Fred, menempelkan ponsel di telinganya.

Hening. Semua menanti.

Setelah beberapa saat yang mencekam, Fred menyerah. Ia menurunkan ponselnya, menatap kami dengan putus asa. “Nggak diangkat. Apa itu berarti ….”

Kami saling menatap, terhenyak, merasa ngeri. Kalau sampai Villam tidak merespon, hanya ada satu kemungkinan: dia benar-benar tidak bisa menjawab.

Aku disergap ketakutan. Tidak mungkin! Apa ini berarti … Villam gugur dalam tugas?

“Kita telah kehilangan satu agen lagi.”

Amru mengambil alih situasi. “Guys, kita sedang ada misi. Bukannya nggak khawatir sama Villam, tapi ada yang lebih penting dan mendesak saat ini. Kita harus fokus!”

“Bener,” David berkata. “Sekarang, gimana?”

“Kita cuma berenam,” Clara sangsi. “Emangnya bisa dengan jumlah segini?”

“Misi tetep misi, harus dijalanin,” kata Amru lagi. “Yakin sama diri sendiri, kita pasti bisa!”

“Tenang, Clara. Ada satu member lagi, Andri, udah nyusup di tempat musuh sekarang. Jadi kita bertujuh, lumayan, kan?” Fred menyambung. “Sekarang, gini: kita menyebar, aku pergi duluan bergabung dengan Andri. Kalo situasi aman, kalian nyusul. Oke?”

“Oke!”

“Fine.”

“Go, Fred!”

“Hati-hati, ya.” Aku tidak bisa membayangkan kalau Fred bernasib sama dengan Villam. Tidak bisa dihubungi sama sekali.

“See ya, guys,” Fred memisahkan diri, dan sebentar saja sosoknya hilang di antara manusia-manusia yang hilir mudik. Semoga Tuhan menyertaimu, Kawan.

Kami menanti, dalam senyap. Sesekali ada yang bicara, tapi tak mudah berbicara dengan tenang sementara Fred menantang bahaya, sendirian. Agen baru bernama Andri itu masih misterius, dan aku tidak tahu apa-apa tentangnya.

Ponselku berbunyi. Pesan dari Fred.

“Sekarang, guys! Fred udah ngebuka jalan!” seruku, dan kami bergegas pergi. Sambil lalu kulirik baby sitter tadi, yang sedang melirikku dengan mata besarnya. Tunggu sampai ada kesempatan, kubikin cewek satu ini gak bakal bisa melirik lagi!

Kami tiba di depan markas musuh—sebuah ruangan besar di seberang food court—dan langsung mencari Fred. Aku dan Clara mengitari kerumunan orang.

“Fred; mana dia?” Clara khawatir. “Dia hilang?”

“Nggak, itu dia!” Aku melihat Fred mendekati kami dengan terburu-buru, setengah panik, diikuti seseorang yang kuduga member baru itu.

“Di sini sinyal sulit!” sengalnya. “Untung kalian sudah ada di sini, gerbangnya sudah terbuka, tapi kita harus menyebar dan menyerang di waktu yang bersamaan!”

“Baik,” sahutku cepat. “Kamu pimpin team satu, Fred. Aku team dua.”

Fred membagi informasi yang berhasil dikumpulkannya. Kami harus menyerang tepat pukul setengah empat sore. Tidak boleh kurang, atau lebih. Target kami akan muncul pada waktu tersebut, dan kesempatannya hanya itu.

Sepakat. Fred, Jo dan Andri bergabung dalam team satu, sementara aku, Amru, David dan Clara di team dua. Kami menyebar seketika setelah mencatat waktu infiltrasi di benak masing-masing: 15.30.

Waktu bergerak cepat. Team dua berderap ke lokasi yang sudah disepakati, menempatkan diri di sudut dan menunggu. Syukurlah, tak ada antek-antek musuh yang menghadang kami. Tapi tidak menutup kemungkinan Fred dan yang lain tidak menemui kesulitan. Kukirim SMS untuk team satu.

Fred, we’re on the spot.

Fred membalas: Oke. We’ll be there.

Paling tidak Fred masih hidup! Waktu di ponselku menunjukkan jam 15.09.

Team dua saling berpandangan, menunggu, merasakan ketegangan yang merayapi. Kalau team satu tidak berhasil mencapai lokasi ini, hanya tinggal kami berempat yang tersisa untuk mempertahankan nama organisasi. Keberhasilan misi besar ini berada di tangan kami. Beban yang luar biasa berat. Lawan kami adalah seorang pria legendaris, yang reputasinya sangat terkenal di seluruh dunia. Pria yang lekat dengan kegelapan.

15.30.

Fred, Goddamit, where are you?!

Waktu habis. Kuanggap team satu tidak berhasil.

Aku menghela nafas dan berkata, “Teman-teman, sekarang tinggal kita berempat. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Harus bergerak sekarang juga.”

David mengangguk. Clara dan Amru setuju.

“Baik! Kita pergi sekarang!” aku melirik Clara. “Stick with me, Clara. Jangan jauh-jauh!”

“Oke,” jawab Clara, menyertaiku ke Gerbang Kegelapan.

Tiba-tiba seseorang muncul dari dalam, menerobos pintu. Secara refleks aku memasang kuda-kuda, siap menyerang, Tapi Clara menahanku.

Clara berseru, “Fred!”

Fred berlari menghampiri kami, dan aku sangat lega. Syukurlah, kamu selamat, Fred!

“Sori, tadi ada masalah, ponsel nggak bisa dipake! Kami terpaksa masuk duluan. Andri sama Jo udah di dalem.”

“No probs, Fred. Sekarang mendingan kita cepet masuk, waktunya udah mepet banget!” aku menyahut. Sekarang, setelah tahu kami masih bertujuh, semangatku terpompa lagi.

Fred mendahului kami, berperan sebagai penunjuk jalan. Kami memasuki pintu dan langsung disergap kegelapan. Hanya ada beberapa lampu yang temaram, masih cukup untuk menerangi jalan, tapi ini sangat berbahaya. Musuh bisa muncul setiap saat dari arah yang tak terlihat.

“Tetap waspada,” bisikku.

Aku menoleh sesaat dan mendapati Amru-lah yang berada di posisi paling belakang—posisi paling rawan. Khas Amru, rela berkorban dan melindungi teman-temannya. Clara dan David berlari di belakangku. Langkah kami teredam karpet yang melapisi lantai.

Tempat apa ini?

Kami berlari menuruni undakan. Udara dingin mulai melingkupi, aku tahu Clara mulai kedinginan. Aku menggenggam erat benda di tanganku, tak ingin melepaskannya.

Di ujung undakan, Fred berhenti. “Di sini,” katanya, menatap lurus ke depan. “Bersiaplah. Dia akan datang, sebentar lagi.”

Kami menanti dalam gelap. Kurasakan Andri dan Jo bergabung. Kami bertujuh menatap ke arah yang sama dengan Fred, menghitung detik kemunculan Sang Kegelapan. Yang ada saat ini hanya suara nafas kami, dan waktu yang berdetik.

Suara keras menghentak dan kami terpaku. Dia muncul.

The Dark Knight.

PS: Fred, you’re next. Handle this. ;)
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on July 27, 2008, 07:09:07 pm
________________________________________
Jadi kesimpulannya, yang dateng itu: bjvadis, clickdian, kurara, amru, fred, dan dua orang baru: David, & Jo ? ???
Tujuh orang doank? :D
Sepiiii :P
Villam knp ga dateng lagian?
Terus buntutnya nonton Dark Night? ???
bleh itu si Jeff baru nonton jugak tuh, jangan2 satu bioskop tapi gak nyadar ;D

Nice report eniwei, sis [thumbsup]

@Om Pur,
Nice repiu, jelas dan lengkap [thumbsup]
Tapi ane ngebacanya agak-agak shock jugak, secara ente baru aja ngebantai abis-abisan di repiu sebelumnya, langsung beralih ke yang almost perfect gitu :o
Somehow, repiu ente jauh lebih asik kalo isinya pedes buat ane sih :D
(bukannya gw gak seneng liat novel orang berhasil, tapi gw seru aja kalo liat ente gregetan dan mencak-mencak gak puas ;D ;D)
JAdi buat Blue, congrats! :)
Jarang-jarang ada novel yg bisa lulus seleksi om pur.
Kurasa zauri-nya clickdian (the next, kan?) bakal dapet penilaian antara negatif dan positif, tengah-tengah lha, we’ll see [biggrin]
________________________________________
Post by: fr3d on July 28, 2008, 11:21:11 am
________________________________________
Tentang review Dream Utopia (gak salah nyebut, emang sengaja [biggrin]),
gw setuju sama om pur tentang cover depan yang aneh gambar dan judulnya, dan sinopsis di cover belakang.
Pas gw buka cover dalam (halaman 1), ternyata judulnya beda sama cover luar! :o
Koq bisa2nya ya Diwanteen melakukan itu? Mengubah judul secara tidak konsisten!
Dasar, sangat tidak profesional! [thumbsdown]

@samy,
sabtu kemaren gw liat2 lagi bukunya di gramed TA. Akhirnya ada juga yang kebuka plastiknya… ;D
Kalau diliat sekilas isinya, gw emang berasa novel Dream Utopia itu inspired banget oleh harpot ya?
Sampe ada tabel jadwal mata pelajaran sihir segala… :D
Tapi, maap ye, sam, gw akhirnya gak beli, soalnya bacaan masih menumpuk di rumah… [rolleyes]

Oya, nemu Enthirea dan Neverwhere-nya Neil Gaiman pula, tapi gak beli juga… ;D

Quote from: clickdian on Today at 11:14:10 am
Kan udah kuserahkan padamu ;D ;D ;D
Lanjutin dunk! ^-^

Belum ada tenaga. Masih terkuras habis akibat pertarungan dahsyat kemarin itu…
Dan lagi, masih harus memulihkan otot2 leher… [biggrin]
Mungkin Agen Amru bersedia melanjutkan dulu? ???
________________________________________
Post by: clickdian on July 28, 2008, 12:53:53 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 28, 2008, 11:21:11 am
Dan lagi, masih harus memulihkan otot2 leher… [biggrin]

Ah iya. efek yang sama terhadap semua agen FFDN yang pergi ke misi DarkNight kemaren ;D ;D
Ehm.
lagi terpesona sama deathnote.
*ngeliat review gathering di halaman sebelumnya*
T____T
kalo dibandingin kalah jauh bangettt!! :’(
________________________________________
Post by: fr3d on July 28, 2008, 02:13:47 pm
________________________________________
Berhubung tema Sang Penandai udah reda, gw juga mau skalian meluruskan kalau sebenernya, seandainya gaya bahasa nyastra yang berlebihan di Sang Penandai dikurangin, novel itu justru bakalan bisa dinikmatin banget, karena ceritanya emang sederhana dan tujuan/tema utamanya jelas (meski endingnya gagal).

Ini juga buat gw mikir kalau mungkin (cuma mungkin, :P ) gw sebelumnya telah salah menilai Sang Penandai. Soalnya, gw menggunakan ekspektasi terhadap novel populer untuk menilai Sang Penandai yang padahal, mungkin niat awalnya emang dibikin jadi novel sastra, lalu barulah belakangan “diturunkan” derajatnya menjadi semisastra-semipopuler (?). Well, entah untuk tujuan apa? Menjangkau lebih banyak pembaca mungkin?
Yang jelas, “rujak” itu rasanya jadi kurang asik dan gagal.

Di lain pihak, kalau seandainya aja gw menggunakan kacamata sastra ketika membaca Sang Penandai dan menganggap gaya populer hanya sebagai “tambahan” belaka, maka mungkin justru Sang Penandai akan terasa lebih nikmat (cuma mungkin lagi, :P ).
(:D Puyeng ya?)

Gini deh,
Sang Penandai itu sekarang ibaratnya sirup yang ditambahin gula.
Padahal, (mungkin) seharusnya Sang Penandai adalah air gula titik, tanpa perisa buah-buahan.

Jadi,
@tere-liye,
“Matanya berbunyi air mata!” mungkin akan lebih pas. ;)

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on July 28, 2008, 07:27:06 pm
________________________________________
Quote
Jadi,
@tere-liye,
“Matanya berbunyi air mata!” mungkin akan lebih pas.

(buat yg udah muak gw ngomongin beginian, silakan diskip ;D)

Well, tentang metafora “Matanya berdenting air mata!”, akhirnya gw bisa menemukan konteks yang kuat mengena buat ngebantah elu-elu (semua! termasuk ewing, makmak, juunishi, serpentnyet :P ) yg tempok hari dengan
sotoynya mengecap metafora ini ‘salah/ilegal’ hanya dari sudut teknis aja. :P

Patut diketahui, di Sang Penandai tokoh Jim ini adalah seorang pemain musik–penggesek biola/pemetik dawai. Dalam beberapa scene, digambarkan bahwa Jim ini seneng maenin papan dawai, mendentingkan lagu-lagu di setiap kesempatan. Jadi akhirnya gw bisa dapet alasan kuat kenapa Tere Liye memilih metafor ‘berdenting’ ini alih-alih metafor lainnya yang lebih ‘benar’ secara de facto (minjem istiah om pur :P ).

Emang kalo berdiri sendiri, metafora itu mudah sekali diruntuhkan dari segi teknis.
Tapi kalo berdiri di buku sang Penandai, dalam hal ini gw kira konteks jatidiri Jim sebagai seorang pemusik bener-bener kena di metafora itu, sehingga sebetulnya faktor kesalahan teknisnya (sefatal apapun!) udah gak terlalu relevan lagi buat dipermasalahin.

Jadi ternyata, bener banged yang dibilang om pur, bahwa dalam sebuah novel, idealnya metafora itu dinilai gak dari segi teknis aja, tapi juga konteks yang mungkin cuma berlaku di novel itu.

Terlepas dari kesalahan teknisnya, kasus di atas cukup relevan kalo diibaratkan dengan dua metafora ini:

# 1.
Ia berangkat mengail kehidupan setiap subuh, dan telah menjadi umpan nasib dari semenjak bocah.
# 2.
Ia terbiasa membedah kasus dengan pisau analisis.

Metafora # 1 pas kalo tokohnya seorang nelayan, tapi agak gimanaaa gitu kalo tokohnya detektif.
Metafora # 2 pas banged kalo tokohnya seorang detektif/dokter bedah yang nyambi jadi detektif :D , tapi tidak kalo tokohnya nelayan.

Yah… kira-kira gitulah poin gw.
Ah eniwei, sudahlah tak usah didebatin lagi, suer kapok mampus gw abis dijailin genderuwo malem minggu kemaren x___x

@om pur,
Quote
Kalo gue terapin penilaian gue ala ke Lemures, maka Lanang akan mendapat label pretensius dengan huruf P besar, diunderline dan di bold sekalian. (Rey, silakan bangga atau tersinggung, terserah lo deh,… hehehe)
Entah apa yg dilihat oleh Juri DKJ 2006. Mungkin mereka punya definisi sendiri buat sastra, yang diluar jangkauan orang-orang awam kayak kita

wah kalo gitu ane bangga lha, berarti lemures ane punya kemungkinan menang donk kalo ikutan lomba DKJ ;D ;D
Eniwei, kan yang jadi pertimbangan juri bukan cuma gaya bahasa aja, siapa tauk walau gaya bahasanya cacat/pretensius, tapi plot, karakterisasi, tema, riset, greget novelnya bener-bener mumpuni.

Quote
Buat gue udah jelas. Seni, mo dalam bentuk apapun, pasti punya ‘rasa’ yang akan menunjukkan bahwa ekspresi yg dipilih tersebut pas atau mengada-ada. Itu sebabnya seniman selalu bisa memilih mana yg ‘nyeni’ dan mana yang ‘sok nyeni’.

Well, ini daku sepakat jugak bos, akhirnya. :-[
oh yap, dulu di tret ini, gw pernah nyebut gaya bahasa si Alk buat cuplikan 'Kael & Marina'-nya cenderung 'tidak jujur pada diri sendiri' (waktu itu gw belum kenal istilah 'pretensius' ;D), eh tauknya belakangan gw sendiri yg kena label itu. :-[

________________________________________
Post by: ewingerwin on July 29, 2008, 08:04:45 am
________________________________________Ikutan nimbrung soal gaya bahasa nyastra aaah.

Penggunaan gaya bahasa nyastra tu mirip bedah plastik. Di tangan seorang ahli yang bener-bener tau bidangnya, dia akan menghasilkan keindahan yang luar biasa ngelebihin Luna Maya atau Sandra Dewi atau bahka Aiswarya Ray. Nah, kita tau ketiga nama yang gw sebutin tu memiliki rupa yang wah. Lalu bagaimana dengan Mona Lisa? Apakah Mona Lisa cantik? Mungkin, tapi nggak semua orang bisa menikmati atau menemukan 'kecantikan'-nya. Karya seni tulis tu kayak gitu, ada yang keindahannya bisa diakses dengan mudah oleh publik, ada yang cuma bisa eksklusif
dinikmati oleh sekelompok orang tertentu setelah penelitian mendalam dengan kajian menyeluruh.

Sekarang pertanyaannya bagi para penulis adalah: Lu mau nulis karya tulis yang bisa dinikmati keindahannya oleh khalayak ramai, atau mau bikin karya yang super nyastra dengan gaya bahasa berbunga-bunga yang sulit dicerna oleh publik lengkap dengan risiko dicap pretentious?

Soal kutipan dari karya berjudul "Lanang", gw setuju, itu terasa super pretentious. Bikin kalimat indah nggak harus super berbunga-bunga kayak gitu. Kalimat yang singkat dan efektif tetap bisa menyampaikan keindahan/memiliki unsur estetika jika pilihan kata/diksinya pas dengan konteks.
Ah, iseng bikin satu kalimat sastra sesuai konteks protagonis yang seorang mekanik:
Matanya menurunmesinkan pelumas hati.

[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on July 29, 2008, 06:41:34 pm
________________________________________
gw baca komentar orang di goodreads ttg Lanang, pada bilang, “Lanang bukan untuk anak kemaren sore yang baru belajar sastra” ;D ;D
Itulah yg gw maksud dari kemaren-kemaren. Terkait jugak dengan omongan ewing yg ini:

Quote
Lalu bagaimana dengan Mona Lisa? Apakah Mona Lisa cantik? Mungkin, tapi nggak semua orang bisa menikmati atau menemukan ‘kecantikan’-nya. Karya seni tulis tu kayak gitu, ada yang keindahannya bisa diakses dengan
mudah oleh publik, ada yang cuma bisa eksklusif dinikmati oleh sekelompok orang tertentu setelah penelitian mendalam dengan kajian menyeluruh.

Well, Lanang juara kedua DKJ 2006, kurasa buku ini bolehlah diandaikan sebagai Monalisa. It’s oke kalo orang gak suka sama gaya bahasanya, yang entah apapun alasannya: karena terlalu awam dengan sastra, karena terlalu pretensius, karena norak. Tapi semenjak kualitas buku ini sudah ‘terbukti’ di DKJ 2006, rasanya kita gak lagi berhak menilai buku ini secara serampangan tanpa pernah ngebaca langsung keseluruhan bukunya.

Jadi dengan ini gw mau menarik stempel “norak” gw sebelumnya yg ditujukan ke cuplikan Lanang, karena gw kira, gak adil menilai buku secara keseluruhan cuma dari sepenggal cuplikan itu. Dan bahkan, betapapun noraknya suatu kalimat/paragraf yang terkesan sewaktu kita baca terpisah dari bukunya, kita tetap gak layak untuk buru-buru ngasih
stempel norak/pretensius. Toh bisa aja paragraf itu emang keliatan norak kalo berdiri sendiri, tapi jadi perfect/harmonis kalo berdiri di dalam bukunya, jadi satu kesatuan bersama paragraf-paragraf di keseluruhan buku.

Well intinya ginih, Monalisa emang gak cakep, tapi banyak seniman yg udah menyatakan kalo Monalisa punya aspek seni yg tinggi kan? Apakah ‘gak resek’ kalo ada orang buta seni yg mencak-mencak protes: “Lukisan cewek jelek gini kok dibilang masterpiece? Gw bisa gambar cewek yg jauh lebih cakep dan bahenol dari ini!”

Untuk dapat mengapresiasi suatu karya sastra sekelas Lanang (yg notabene menang di posisi kedua DKJ 2006) sejatinya dibutuhkan pengalaman, analisa mendalam, dan ‘lidah’ dengan kedalaman citarasa tertentu, dan ketika seseorang yg gak memenuhi satu-dua/bahkan seluruh syarat di atas dengan seenaknya ngecap norak/pretensius terhadap karya itu, relevankah komentarnya?

Maksud gw, kalo mau maen adil, jangan terlalu terburu-buru menilai segala sesuatunya dari kaca mata kita aja. ^-^

[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 30, 2008, 05:19:40 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 29, 2008, 06:41:34 pm

gw baca komentar orang di goodreads ttg Lanang, pada bilang, “Lanang
bukan untuk anak kemaren sore yang baru belajar sastra” ;D ;D

Ha ha ha,… gue ga bisa berenti ngakak baca komentar kayak gitu ;D ;D ;D
Karena sikap begitu memang udah lazim di kalangan seni, terutama di kalangan yang masih ‘tanggung’. Pemula bukan, master jugak belum, tapi belum sadar akan ketanggungannya.

Seorang master yg bener kagak akan ngomong begitu. Sebab maestro tahu bahwa justru bila karya seninya tidak bisa nyampai ke orang-orang kemarin sore, then sesungguhnya dia belum berhasil. Liat Pramudya. Terserah orang mau bilang apa buat pribadinya, tapi tak butuh seorang yang ‘pagi ini’ (untuk menyebut antitesis ‘kemarin sore’) untuk bisa
mengapresiasi karyanya.

Dan gue secara pribadi juga udah sering liat sikap kayak gitu dalam bentuk-bentuk kesenian yg lain. Memang ada sekelompok orang yang terlanjur menganggap dirinya udah ‘di atas awam’ dengan menggeluti suatu ekspresi seni tertentu. Entah, keterlibatan dengan seni memang sering memicu kesombongan alami tertentu dalam diri manusia. Yg lucu ya itu, kemudian muncul komentar-komentar yang sejenis yang umumnya merendahkan ke’kemaren sore’an orang lain.

Dan gue langsung tahu, yg ngomong begitu itu sembilan puluh sembilan persen biasanya justru orang-orang ‘tanggung’ yang sedang dalam perjalanan memahami Dunia ini dan dirinya sendiri. Dan orang-orang kayak gitu ya happens aja ada di mana-mana, bahkan dalam lembaga-lembaga tertentu :)

Jadi Rey, kalo menurut gue sih, jangan terlalu diambil kata-katanya secara face value. siapa tahu itu juga minjem dari orang lain ;) , yg minjem juga dari orang lain, dst.

Kalo gue, gue minjem pendapat bahwa seni akan ‘sampai’ ke manapun ia mengalir. Pada saat elo ketemu dengan ekspresi seni yang ‘benar’, maka it’s unmistakable, elo gak perlu jadi seorang ‘pagi ini’ untuk menerimanya. Mungkin kalo kita-kita anak kemarin sore akan menyerapnya sacara global, tanpa tahu bagaimana menguraikannya menjadi aspek-aspek analisis, sebagaimana yang bisa dilakukan seorang ahli. Tapi seperti juga CINTA, elo gak perlu dikasih tahu, elo akan tahu sendiri WHEN it comes.

Quote
Itulah yg gw maksud dari kemaren-kemaren. Terkait jugak dengan omongan ewing yg ini:

Quote
Lalu bagaimana dengan Mona Lisa? Apakah Mona Lisa cantik? Mungkin, tapi nggak semua orang bisa menikmati atau menemukan ‘kecantikan’-nya. Karya seni tulis tu kayak gitu, ada yang keindahannya bisa diakses dengan
mudah oleh publik, ada yang cuma bisa eksklusif dinikmati oleh sekelompok orang tertentu setelah penelitian mendalam dengan kajian menyeluruh.

Ah, kalo gue memahaminya secara gak berbeda. Untuk menikmati seni, memang tetap ada prasyarat, yaitu kemampuan menerima medium yang menjadi perantara seni tersebut. Contohnya sastra, tentunya ada syarat
menikmatinya, yaitu pertama bisa baca, dan kedua menguasai bahasa yang sama.

Seni lukis juga ada persyaratan selain bisa melihat dan ga buta warna, yaitu harus tahu apa-apa saja yang perlu dilihat dalam menikmati lukisan. Kalau seseorang sudah memiliki persyaratan ini, maka karya seni itu bisa dinikmatinya. Tambahan-tambahan informasi akan membuat jendela apresiasinya lebih terbuka lagi. Tapi bahwa sebuah corat-coret jelek akan terlihat jelek di matanya, biarpun orang-orang lain berusaha meyakinkan hal sebaliknya, itu sudah hukum alam dalam seni.

Maka bisa aja orang awam bilang monalisa jelek, karena simply dia belum tahu bagaimana cara menikmati seni lukis. Sebagaimana orang buta huruf akan menggunakan catatan harian bernilai tinggi sebagai kertas toilet, atau orang suku terasing menggunakan cek tunai bernilai seratus juta dollar untuk melinting rokok :o .

Quote
Jadi dengan ini gw mau menarik stempel “norak” gw sebelumnya yg ditujukan ke cuplikan Lanang, karena gw kira, gak adil menilai buku secara keseluruhan cuma dari sepenggal cuplikan itu. Dan bahkan, betapapun noraknya suatu kalimat/paragraf yang terkesan sewaktu kita baca terpisah dari bukunya, kita tetap gak layak untuk buru-buru ngasih
stempel norak/pretensius. Toh bisa aja paragraf itu emang keliatan norak kalo berdiri sendiri, tapi jadi perfect/harmonis kalo berdiri di dalam bukunya, jadi satu kesatuan bersama paragraf-paragraf di keseluruhan buku.

Kalo saran gue sih, jgn buru-buru narik stempel norak itu untuk di cap lagi kemudian ;D ;D ;D. Udah, baca aja dulu sampai tuntas, baru kasih pendapat! He he he,.. stempelnya disimpen aja dulu. ;)

Gue udah baca sampai halaman 32 :o (Gosh, seorang Fapur baru baca sampai segitu??). Terus terang majunya tersendat-sendat. Abis gimana, geli sih. Baca bentar,… geli,… tarok. Ambil lagi buka lagi,… geli lagi,… tarok. Sumpah, memang novel ini tidak membuatku memunculkan reaksi alamiku yang biasa kalo gue baca buku jelek, yaitu tertidur :P . Reaksinya bener-bener baru, di luar kebiasaan (Heheheh, mungkin di situlah aspek ‘seni’ nya! [rolleyes]).

Masak, burung babi hutan adalah perkawinan genetik antara burung dengan babi hutan. Dan pemikiran ini disounding oleh seorang scientist (dalam buku ini). Dan orang-orang seniman ‘pagi ini’ itu berani ada mendaulat buku Lanang sebagai “Science Fiction”???

Tapi iya lah, baru halaman 32, masih kemarin sore, pulak? Bisa ngomong apa, aku? :P

Mendingan kasih hadiah kutipan ini aja deh, salah satu yang pastinya telah membuat ‘orgasme’ para seniman ‘pagi ini’ itu. (Jangan salah, istilah orgasme adalah sebuah istilah dengan muatan seni yang luar biasa kontekstual, secara novel lanang memang diposisikan sebagai novel yang aspek seksualnya tidak dapat dipisahkan dari plot, demikian menurut
komentar salah satu ahli dalam diskusi buku Lanang :) )

==========================
Detam-detam sepatu pada lantai beradu degam dengan degup jantung dan paru-paru kempang kuncup, membawa tubuh-tubuh itu beradu cepat keluar dari ruang, namun tertumbuk pada suara keras nyaring yang diteriakkan
seorang lelaki yang tergopoh-gopoh masuk lewat pintu halaman depan.

“Celaka! Celaka!! Gawat!!! Sapi-sapi perah tak tertolong!! Seperti domino jatuh beruntun!!…”

Keringat mengucur menghujani lantai kantor koperasi.

==========================
(hal. 28-29)
;D ;D ;D
Yo wis, ayo baca lagi,…..
Salam,
FA Purawan

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XVIII (30 Jun 2008 – 3 Jul 2008)

  • Tentang Dream of Utopia
  • Review draft Lemures karya BloodSin oleh FA Purawan
  • Image dunia vampire

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on June 30, 2008, 08:47:56 am
________________________________________
Oya, hari sabtu kemaren sempet ke gramed dan ada novel fantasi lokal baru, judulnya “Dream of Utopia”.
Ternyata karangan penduduk pulpen juga, si blue_amaranthine (kalau gak salah nama penanya sammy something… :) ).
Penerbitnya lupa, tapi harganya 50ribu-an (inget banget, soalnya mau beli tapi gak jadi –> kali aja nemu yang diskon di istora, ;D).
Terus udah ada tret-nya juga di info bubar.
Om pur, silakan dilahap tuh, berhubung penulisnya maen ke sini juga, jadi bisa lempar2an cabe (meminjam istilah jeff), hehehe…
________________________________________
Post by: BloodSin on July 01, 2008, 08:55:59 am
________________________________________
okeh, berhubung skrg nih FFDN lg seret bahasan, gak da salahnya gw posting beginian :P
(review ‘singkat’ LEMURES gw dari om pur [thumbsup])

Quote
Pertama banget, adalah overall impresi gue terhadap naskah lemures. Bagian ini boleh aja elo posting di FFDN III kalau elo berkenan, tapi kurasa catatan-catatan khusus terhadap part-part yg gue tandain gak usah di share ke thread, takutnya terlalu spesifik sehingga ga menarik minat belajar rekan-rekan lain.

Secara keseluruhan Lemures adalah cerita yang cukup menarik untuk dibaca, dengan kisah petualangan perburuan artefak berbumbu humor dan ketegangan. Plotting lemures sudah kuanggap tepat dan cukup, walau aku masih menyimpan catatan mengenai strategi positioning elo terkait niat elo untuk me’laku’kan naskah ini di penerbit. Itu akan menjadi bahasan tersediri. Sebelumnya gue masih ingin ngomongin general aspect dulu.

Penokohan: menurut gue, elo sudah cukup berhasil meramu sebagian besar karakter secara tepat dan menunjang cerita. Setiap karakter utama sudah tergambar cukup realistik, dan gaya masing-masing pun sudah cukup teridentifikasi dan memiliki ciri. Namingnya juga udah ga ada masalah.. Ada catatan mengenai personalisasi karakter, gue bahas nanti.

Alur cerita sebagaimana urut-urutan yang sudah kamu sajikan dalam bab-bab itu juga sudah runtut dan cukup logis. Gue ga ada masalah dengan penempatan urutan alurnya.
Sistem logika cerita menurut gue juga sudah cukup untuk segmen remaja. Tapi kalo elo mengincar segmen lebih dewasa lagi, elo harus bisa mengembangkan logika yang lebih dalem. Journey untuk sepotong busur masuk akal untuk remaja, tapi kurang nendang buat dewasa. Logika ‘putri kembar’ cucok buat remaja, tapi mengada-ada buat dewasa. Kalau ada putri kembar, raja manapun akan langsung menganggapnya sebagai ‘threat’ alih-alih opportunity. Apalagi ini putri mahkota!

Settings yang elo ciptakan buat lemures juga cukup realistik dan masuk akal. Paling-paling seperti pernah gue tanyain, bagaimana relasi budaya french di lemures dengan yang sesungguhnya, termasuk budaya ilmiah latin di sini? Kalo menurut elo memang harus hadir tanpa perlu dipaksa diperjelas konteksnya, ya sudah. Ada sedikit kekekurangan logis di area Sierra Kuno, nanti gue coba bahas di tempatnya. Tapi menurut gue ada baiknya elo menggambar peta besar lemures untuk memudahkan bayangan editor, soalnya gue juga merasa belum dapat gambarannya secara utuh.

Nah, kritik secara general impression kurasa masih konsisten dengan yg udah pernah gue sebutkan sewaktu ngebahas prolog elo dulu, yaitu pemilihan kata yang kurang tepat serta susastra yang belum ‘megang’. Setelah gue genapkan membaca sampai akhir, memang gue rasakan masalah itu berkurang (karena gue mungkin jadi terbiasa), tapi gue mendapatkan view yang lebih jelas mengenai kritik yang harus gue sampaikan pada gaya penulisan elo.

Dulu gue sempat komentar: Pretensius.

Saat elo sok nyastra di prolog, gue ngerasa itu pretensius. Ke belakang-belakangnya lagi, gue ngerasa elo tetap ada sok nyastranya dan tetap pretensius, tapi gue mulai terbiasa (walau tetep dengan wajah berjengit-jengit). Namun ada temuan yang kurasa harus cepet-cepet disampaikan supaya elo bisa cepet-cepet benerin.

Ini mengenai dialog. Ada bagian dialog yang udah bagus dan shining, dan pada part-part itu gue merasa itu udah you as yourself (THE Writer) banget. Tapi ada bagian dialog lain yang gue rasakan masih pretensius, sepertinya elo berusaha over the top, jadinya elo malah jauh dari gaya elo sendiri.

Pada part-part tersebut, gue merasakan bahwa pengarang lagi sok ‘keminter’, seperti berusaha menempatkan diri lebih pinter atau lebih tinggi dari pembaca. Dan gue harus cepat-cepat mengingatkan dan mencegah elo melakukan ini. Ada sebuah kredo yang harus dipegang oleh pengarang, bahwa pembaca adalah it’s own master, pembaca tidak suka dikuliahi, dan pembaca tidak nyaman menyimak uraian yang melebih-lebihkan smartness ini dari yang secukupnya.

Ada beberapa part yang elo begitu, yang kalo elo robah gayanya lebih mencirikan gaya lo sendiri, gue rasa akan menjadi jauh lebih humble dan kena ke pembaca.

Dan part-part ‘sok smart’, antara lain yang membuat novel elo somehow agak ‘menyebalkan’ buat dibaca, terutama oleh pembaca yang gak punya missi nyelesaikan novel, gak kayak gue. Tapi elo bisa bayangin bila para evaluator novel elo di penerbitan adalah termasuk golongan itu.

(sebenernya cukup beresiko buat gue untuk mengungkap evaluasi seperti ini, sebab probabilitasnya cukup besar bahwa elo gak terima penilaian gue. Secara mungkin aja elo gak berniat untuk over the top sama sekali, atau gak merasakan apa-apa yg gue nilai itu ada dalam hasil karya elo. Tapi gue harus jujur, anyway, demi kemajuan elo. Ciaaah)

Gue sebenernya juga ada kritik mengenai flow pengklimaksan seri buku pertama ini, yang gue rasakan masih kurang nendang. Gue merasakan bahwa perjalanan para rombongan serta hasil yang sudah didapatkan, ternyata tidak bermakna cukup penting bagi pembaca, sehingga keseluruhan buku elo jadi terasa agak ‘waste’. Tapi untuk ngebahas ini, gue harus mundur dulu ke langkah-langkah yang justru sangat-sangat awal dalam penulisan karangan. Sekarang akan kita bicarakan langkah-langkah itu, yang kelak juga akan mempertemukan elo dengan masalah-masalah pemasaran yang udah elo alami belakangan ini.

TEMA LEMURES

Apa sih, Rey, tema INTI Lemures sesungguhnya? Gue sempet nanya di thread, ya? Dan jawaban elo adalah ini:
(where ever) there’s a hope in a journey, there I would place my struggle.
Kenapa gue ngotot nanyain tema. Because gue rasa itu juga yang dicari-cari oleh para evaluator buku lo, dan yang tidak mereka temukan. Dan gue rasa, kalo memang bener elo gunakan kalimat itu sebagai tema, gue juga gak bisa nemuin “What the Hell” yg lo maksud itu, dan “Where the Hell” is tema-nya.

Di ‘hope’nya, di ‘journey’nya, atau di ‘struggle’nya?

Kenapa gue angkat masalah ini, sebab kalau ditilik dari apa yang semata sudah tersaji di naskah, dari depan sampai belakang, elo belum menghadirkan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai penjawab atau definitor atas tema yang elo tetapkan di embrio cerita. Tidak ada (atau mungkin kurang terolah) suatu konklusi atas tindakan atau peristiwa, yang menegaskan kepada pembaca mengenai tema yang dipilih oleh pengarang.
Misalnya kalau temanya ‘Hope’, peristiwa konlusif di akhir buku mestinya juga menonjolkan the power of hope, bagaimana sepotong asa bernama harapan mampu menegasikan hambatan segawat dewa kematian. Kalau temanya struggle, mustinya proses struggling itu menjadi kuat betul, halangannya berat betul, ada korban dll, dll, sehingga di ujung novel, struggle itu sangat terasa, dan menumbuhkan nilai-nilai tertentu di hati dan pikiran pembaca.

Yg simpel buat contoh aja deh. Tema utama PG adalah penyerahan diri seutuhnya pada YME (akar segala agama, tuh!), yang dikonklusikan dalam adegan klimaks Jaka memasrahkan segalanya dan datanglah keajaiban (tentu saja dengan segala bumbunya untuk mensignifikansi peristiwa itu, sejak halaman pertama buku).

Nah untuk Lemures gue belum bisa mendapatkan konklusi seperti itu. Adegan finale Sepasang Taring Harimau vs Pisau Penjuru juga nggak bisa dilihat sebagai konklusi struggle atau hope, just showdown aja, udah.

Ketiadaan relasi konklusi vs tema inilah, yg kurasa membuat kisah elo menjadi kurang bernilai di mata penerbit. Tema yang nggak jelas ini pula yang membuat climaxing novel ini juga menjadi nggak jelas, jadinya kurang nendang. Tanpa tema yang kuat, seluruh perjalanan itu menjadi sekedar perpindahan dari titik A ke titik B. Lantas dimana juice-nya?

Berita baiknya, semua unsur tema itu sesungguhnya sudah ada dalam naskah yang elo bikin. Dan gue percaya dah, sekaliber elo tentu urusan tema juga udah nggak usah dikasih tau lagi. Tinggal sekarang lebih di highlight aja tema apa yang ingin elo tonjolkan untuk buku pertama, dan lakukan penggarapan khusus di situ. Simpel koq, elo hanya perlu menumbuhkan ‘makna’ atau pengertian khusus di dalam batin pembaca mengenai signifikansi peran/ tindakan sang tokoh yang elo anggap mewakili tema yang elo pilih. Ada banyak kesempatan kan?
Larke – hope, ingenuity
Fly – trusting others, ketulusan
Kain – leadership
Levantine – pembuktian diri/ courage?
Elo yang tentukan, lah

Pointnya, jadikan sesuatu di dalam buku elo yang bisa dijual, yang menguatkan alasan penerbit untuk menerbitkannya. Dan menurut gue, sesuai dengan pakem filosofi buku, ya tema yang ‘megang’, itulah. Dan for the sake of focus, elo cukup menghighlight 1 tema utama aja, walaupun elo bisa juga menambahkan sub tema, tapi jangan sampai overshadowing tema yang utama.

Kira-kira begitu deh gambaran overall nya. Kalo masih ada yg kurang mantep, let’s discuss. Meanwhile, mari kita bahas per –bab satu persatu!

(btw sori ada satu kalimat yg kuhapus karena spoiler banged buat kejutan adegan klimaksnya, huehehehe :P )
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on July 01, 2008, 08:57:18 am
________________________________________
dan inilah tanggepan aye buat review-nya om pur [biggrin]
pertama, dan yang terutama: Arigatouuu gozaimazu, Tararengkyu, Matur Nuhun, Kamsia, Todah Rabbah, Merci, Terima Kasih (banged) buat om Pur, realy appreciate all of the compliments, critics, & input-nya, you’re the best dah, wahai Boss Biawak [thumbsup] ;D ;D

Quote
Penokohan: menurut gue, elo sudah cukup berhasil meramu sebagian besar karakter secara tepat dan menunjang cerita. Setiap karakter utama sudah tergambar cukup realistik, dan gaya masing-masing pun sudah cukup teridentifikasi dan memiliki ciri.

untuk poin ini, clickdian-lah yg jaman dahulu kala memberi masukan, & thanks god sudah teratasi dengan ‘cukup berhasil’, heheheh. kalo gini ane ‘cukup lega’ juga dah, dan gak sia2 hokus fokus yg kulakukan selama menggarap versi revisi lemures ini (yg ternyata masih banyak yg perlu direvisi lg(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif))..

tapi sebetulnya ada satu lagi saran seorang reader lemures lain (villam) yg sudah kuintegrasikan ke dalam naskah: konflik & perenungan batin. nah gimana om pur, menurut ente apakah unsur ini masih kurang tergarap, atau sudah lumayan tergarap? ???

Quote
Nah, kritik secara general impression kurasa masih konsisten dengan yg udah pernah gue sebutkan sewaktu ngebahas prolog elo dulu, yaitu pemilihan kata yang kurang tepat serta susastra yang belum ‘megang’.

ini ironis: kritik utama ente malah kontradiksi dengan compliment villam (dan banyak member k.com) yg bilang kelebihan utama LEMURES malah ada di gaya bahasanya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/bolakbalik.gif)
sejujurnya lemures emang merupakan novel pertama ane yg jadi objek percobaan gaya bahasa ‘maut’ kaya begitu, dan ternyata hasilnya ‘antara’ mengenaskan dan sukses, kurasa. :D
yang sulit bagiku, bagaimana cara mengaplikasikan gaya bahasa cantik yang kira2 aproveable buat semua kalangan pembaca? terus, bagaimana pula cara mengetahui apakah suatu kiasan/metafora sudah pas di mata pembaca, atau belum? kalo ngeliat penyisiran om Pur thd gaya bahasa LEMURES di prolog & bab 1-nya (dan komen si fred juga thd prolognya tempo hari), tampaknya ada beberapa kiasan yang tepat sasaran, dan ada juga yang gak tepat (yg sialnya jauh lebih banyak (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif)).
ah ini bener2 PR berat buatku :(

Quote
Namun ada temuan yang kurasa harus cepet-cepet disampaikan supaya elo bisa cepet-cepet benerin.
Ini mengenai dialog. Ada bagian dialog yang udah bagus dan shining, dan pada part-part itu gue merasa itu udah you as yourself (THE Writer) banget. Tapi ada bagian dialog lain yang gue rasakan masih pretensius, sepertinya elo berusaha over the top, jadinya elo malah jauh dari gaya elo sendiri.
Pada part-part tersebut, gue merasakan bahwa pengarang lagi sok ‘keminter’, seperti berusaha menempatkan diri lebih pinter atau lebih tinggi dari pembaca. Dan gue harus cepat-cepat mengingatkan dan mencegah elo melakukan ini. Ada sebuah kredo yang harus dipegang oleh pengarang, bahwa pembaca adalah it’s own master, pembaca tidak suka dikuliahi, dan pembaca tidak nyaman menyimak uraian yang melebih-lebihkan smartness ini dari yang secukupnya.

ah sudah sangat kuduga sebelumnya [biggrin], pasti cepat lambat bakal ada pembaca yg protes beginian :)
kalo boleh jujur, gw dapet influence kayak gini dari Paulo Coelho :-[, and i'm afraid i can do nothing about it (selain mendelete-nya :'(), soalnya itu udah masuk ke dialog sih. kalo masih di narasi/deskripsi, masih ada harapan untuk kuotak-atik lagi. tapi kita liat dulu yg mana2 aja sebetulnya dialog pretensius yg ente maksud.

Quote
Ada beberapa part yang elo begitu, yang kalo elo robah gayanya lebih mencirikan gaya lo sendiri, gue rasa akan menjadi jauh lebih humble dan kena ke pembaca.

yeah i know, part2 kayak waktu Levantine bikin filosopi ttg 'wajah gurun' buat end suatu scene, atau waktu encounter rombongan dengan Gaeus, ya kan? atau mungkin waktu percakapan Larke-Levantine pas giliran jaga malam, atau Larke-Fly di depan api unggun pas di Negeri Angin itu yak?
sebetulnya ane masih gambling untuk dialog2 yg bergaya menguliahi semacam itu, sejauh ini ada satu orang yg gak protes dan (akhirnya) ada satu orang protes. oke, i'll do something to fix it.
btw maksud ente gaya 'keminter' dialognya diubah pake gaya ane sendiri, itu maksudnya gimana sih? soalnya dari yg ane duga, itu masalah 'keminter'nya bukan di gaya bahasanya, tapi emang udah masuk ke inti dialognya (isi percakapan yg terlalu menggurui). maksudnya inti percakapannya diubah atau gimana?
coba deh kalo ente gak keberatan, bisa di-quote contoh gaya dialog yg 'keminter' itu (yg paling pendek aja lha, jangan yang Gaeus ;D), terus ente ubah dengan gaya bahasa yang gak lagi berkesan keminter, emang bisa yak? sekalian buat pembelajaran di tret ini neh: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menggunakan suatu gaya dialog. :)

eniwei, sebetulnya di pm kemaren ane udah nyebut apa2 aja yg memungkinkan LEMURES ditolak penerbit:

1. terlalu sterotip fellowship LOtR
2. terlalu banyak unsur kebetulan; selalu adanya tokoh-tokoh, benda, dan peristiwa di tempat dan waktu yang 'tepat' :-[
3. terasa menggurui
gimana dengan unsur kebetulannya? apakah masih wajar? ah, poin ini bisa ente sorot buat masukan di bab2 selanjutnya, dan amat kunantikan hal itu. :)
sebelum dinilai ente, ane malah sama sekali gak ngelirik kekurangtegasan tema & gaya bahasanya--dan sejujurnya malah tadinya kuanggap dua hal itu jadi kelebihan naskah.
tapi eniwei, masukan bagus itu untuk memperkuat tema dalam LEMURES, i'll fix it for sure :)
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 01, 2008, 07:21:37 pm
________________________________________
aduh, sebel,…. pas ngeposting tanggapan ini pertama kalinya, web site masuk ke mode maintenance, selama berjam-jam, tak tahunya begitu on-line tanggapan gue nggak ke broadcast! Ngulangin lagi? Arrrrgh [ranting]

Quote
yang sulit bagiku, bagaimana cara mengaplikasikan gaya bahasa cantik yang kira2 aproveable buat semua kalangan pembaca? terus, bagaimana pula cara mengetahui apakah suatu kiasan/metafora sudah pas di mata pembaca, atau belum? kalo ngeliat penyisiran om Pur thd gaya bahasa LEMURES di prolog & bab 1-nya (dan komen si fred juga thd prolognya tempo hari), tampaknya ada beberapa kiasan yang tepat sasaran, dan ada juga yang gak tepat (yg sialnya jauh lebih banyak ).

Namanya ‘art’, parameternya adalag ‘rasa’, dan nggak ada yang bisa menjelaskan perihal rasa secara gamblang. Yang penting adalah latihan dan latihan terus, rasakan efeknya seperti kita mencicipi makanan. Satu saat, kita akan ngerasa juga, koq apa yg ‘pas’ dan apa yg masih ‘ngga pas’.
Tapi aku pikir parameter yang paling gampang adalah, apapun yg elo tulis itu harus dengan mudah dipahami oleh orang berkat kesederhanaannya dalam mengungkap, tidak berlebih-lebih dalam hal yang tak perlu.
Penggunaan kiasan juga harus memperhatikan pemahaman umum pembaca, konsep pengias tidak boleh terlalu jauh maknanya dari yg dikiaskan, sesuai dengan konteks dimana kiasan tersebut biasa dipakai. Ini bukan perkara anti kreativitas atau menjauhi originalitas (suatu prestise bagi pengarang apabila dapat ‘menciptakan’ suatu istilah baru yg kemudian populer), tapi merupakan penerapan dari prinsip dasar komunikasi: antara penulis dan pembaca harus berada dalam frame yang sama.

Quote
kalo boleh jujur, gw dapet influence kayak gini dari Paulo Coelho Embarrassed, and i’m afraid i can do nothing about it (selain mendelete-nya Cry), soalnya itu udah masuk ke dialog sih. kalo masih di narasi/deskripsi, masih ada harapan untuk kuotak-atik lagi. tapi kita liat dulu yg mana2 aja sebetulnya dialog pretensius yg ente maksud.
coba deh kalo ente gak keberatan, bisa di-quote contoh gaya dialog yg ‘keminter’ itu (yg paling pendek aja lha, jangan yang Gaeus Grin), terus ente ubah dengan gaya bahasa yang gak lagi berkesan keminter, emang bisa yak? sekalian buat pembelajaran di tret ini neh: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menggunakan suatu gaya dialog. Smiley

Rey, elo udah paham belum dengan konsep: KONTEKS? Setiap istilah, atau pengertian, akan memiliki makna apabila memiliki sebuah relasi dengan konteksnya. Dan bicara novel, sering kali konteks itu harus dibangun dengan susah payah, disulam hati-hati kata per-kata, sehingga di saat kata-kata/ konsep yang bersangkutan timbul, dia tidak muncul begitu aja dari kekosongan. Dia sudah didukung oleh sejumlah besar situasi yang menyebabkan keberadaan konsep baru tersebut menjadi ‘pada tempatnya’, atau, ‘kontekstual’.
Lantas pada saat sebuah istilah muncul secara ‘inkontekstual’, pembaca akan bertanya-tanya. Dan kalo kemudian kesannya pengarang membubuhkan kata-kata itu sekedar supaya kelihatan ‘berkelas’ (baca: pinter, cerdas, hebat dll), :P yep, disitulah kemudian pembaca menilai sebagai: ‘keminter’.

Mari bicara contoh :)

salah satu dialog di Prolog:
Kain Ellohym mendengus, ”’Musafir Cinta’—dulu orang-orang menyebutku. Tetapi hari ini, keberangkatanku ke negeri ini adalah untuk kepentingan di luar itu.”
Seth masih tertawa. “Memangnya apa kepentingan di luar itu, aku mau tahu!”
“Sebuah prosedur atas dasar inisiatif,” jawab Kain mantap.

Menurut gue dalam banyak hal kata-kata ini inkontekstual. Kata-kata ini tidak disupport oleh latar belakang Kain sebagai pendekar, tidak disupport oleh setting Lemures yang konon berjuta tahun lampau (dua kata: prosedur & inisiatif, menjadi way out of place), Malah kalau kita cuma melihat baris-baris dialog di atas, kita dengan mudah bisa menyangka bahwa percakapan ini terjadi di dalam lift perkantoran :)
Terus elo minta gue bikin alternate-nya? Lah gimana seh? Kan elo yg pengarangnya, bukan gue. Kalo gue yang bikin, bisa-bisa gue salah menjabarkan intensi Kain :o

Tapi let’s try,….
Kain Ellohym mendengus, ”’Musafir Cinta’—dulu orang-orang menyebutku. Tetapi hari ini, keberangkatanku ke negeri ini adalah untuk kepentingan di luar itu.”
Seth masih tertawa. “Memangnya apa kepentingan di luar itu, aku mau tahu!”
“Mungkin akan kedengaran bukan seperti Kain yang kau kenal,” sang musafir terkekeh. Tetapi senyum tipis di wajahnya itu perlahan memudar, dan ia menatap Seth dengan pandangan lurus yang tegas, pandangan yang mengingatkan Seth akan kemantapan hati seorang Kain Ellohym bertahun-tahun lampau, “Aku datang atas kehendakku, mungkin juga kehendak para Dewa, mungkin juga kehendak negeri-negeri di Selatan,”
…. dan seterusnya,… ;)

Sekarang mohon dirasakan (sebagai latihan), baca dua versi di atas berkali-kali, dan rasakan di part mana terasa ada ‘paksaan’ untuk men-swallow (menelan) kata-kata itu, dan di part mana kata-kata terasa meluncur nyaman?
Untuk versi gue, apakah gue menggunakan kata-kata ‘eksotik’, apakah dengan kata-kata yang cukup umum seperti itu, sastranya dapat dirasakan?
Mungkin itu aja kali dulu ya? For starters, coba elo refrase kalimat-kalimat di atas buat latihan, cari berbagai alternatif pengungkapan yg lebih enak, menggunakan kata-kata yang sederhana.
Practice makes perfect!
FA Purawan
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on July 02, 2008, 12:37:28 pm
________________________________________
Oke TQ for the example, bos, i’ll try my best at home!
yang paling penting itu konteks yak [biggrin]
________________________________________
Post by: MakMak on July 02, 2008, 01:37:21 pm
________________________________________
@all of you….
ini saya sedang buat image dunia vampire sendiri, lepas dari image vampire dalam Dracula. masalahnya, aku tidak tahu apakah image dunia baru vampire buatanku ini bagus atau tidak.
nah saya ingin mendengar pendapat anda semua mengenai hal tersebut.
dunia vampire buatan saya itu seperti ini:
vampire saya bagi menjadi 4 jenis

yang pertama, saya beri nama Origin Vampire (Native)
ciri-ciri:
1. merupakan keturunan dari origin vampire yang lain (kalau ayahnya origin vampire, ibunya origin vampire, maka anaknya juga origin vampire)
2. bisa hidup dibawah sinar matahari meskipun kekuatannya akan menurun drastis.
3. yang menonjol dari jenis ini adalah kekuatan fisiknya.
4. bagi mereka, makan dan memperoleh nutrisi adalah dua hal yang berbeda. mereka bisa makan makanan biasa seperti manusia hanya untuk sekedar mengenyangkan perut, tapi mereka harus meminum darah untuk memperoleh nutrisi (sumber nutrisinya adalah darah)
5. berumur panjang dan awet muda, tapi tidak abadi.

yang kedua, saya beri nama Slave
1. adalah manusia yang menjadi vampire karena meminum darah vampire. (disini, kalau ada manusia yang darahnya dihisap oleh vampire, dia akan mati, tapi tidak akan menjadi vampire. manusia menjadi vampire kalau meminum darah original vampire)
2. tidak memiliki kebebasan. Slave hanya bisa mematuhi perintah Origin vampire yang memberikan darahnya.
3. kekuatan fisik meningkat, meskipun tidak bisa menyamai origin vampire.
4. tdk bisa hidup dibawah sinar matahari.
5. makan dan memperoleh nutrisi merupakan 2 hal yang berbeda.
6. tidak berumur panjang dan tidak awet muda.

yang ketiga, Alter
1. Slave yang kehilangan tuannya (Origin yang membuatnya jadi vampire mati terbunuh atau sakit) kemudian secara berangsur, memperoleh kembali ingatannya ketika dia masih menjadi manusia.
2. memiliki kebebasan untuk bertindak sendiri.
3. yang lainnya sama dengan Slave.

yang terakhir, Outcast.
1. Manusia yang menjadi vampire tanpa campur tangan Origin Vampire. (dengan sihir, kutukan, ritual khusus, dll)
2. kekuatan fisiknya sama dengan ketika dia masih menjadi manusia.
3. darah merupakan makanan dan sumber nutrisinya.
4. tidak bisa hidup dibawah sinar matahari.
5. berumur panjang dan awet muda selama dia terus mendapat pasokan darah.

nah, bagaimana pendapat kalian? bagus? lumayan? jelek? jelek sekali?
(Btw, klo tanya seperti ini OOT ga ya?)
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 02, 2008, 04:25:31 pm
________________________________________
Mak, semua udah bagus, tapi baru separuh bagus. [thumbsup]
Untuk menjadi bagus, harus disempurnakan dengan setting yang memuat karakter-karakter tersebut, yang mendukung interaksi masyarakat vampir ini sehingga cerita yang kamu karang bisa berlangsung lancar dan believable. Kalo menurut saya, tanpa dukungan setting yang pas, karakter-karakter ini kurang bisa berkembang secara maksimal.
Segitu aja dulu, kita tunggu konsep lanjutannya :)
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on July 03, 2008, 08:26:14 am
________________________________________
Mak, ide apa pun pasti bagus. Yang penting adalah pewujudannya. Kalau bisa menjalin semuanya dalam cerita dengan pas dan sampai ke pembaca secara tepat pula, pastilah bakalan oke! [thumbsup]
Udah baca the historian-nya elizabeth kostova belum? Itu buku juga tentang vampir. Katanya sih salah satu buku tentang vampir terbaik yang pernah ada.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on July 03, 2008, 03:46:55 pm
________________________________________
@makmak
yap, idenya sih udah asik mak, ada sistem pengkastaan vampir gitu, tapi kayaknya masi ada celah di sini:
Quote
yang pertama, saya beri nama Origin Vampire (Native)
ciri-ciri:
1. merupakan keturunan dari origin vampire yang lain (kalau ayahnya origin vampire, ibunya origin vampire, maka anaknya juga origin vampire)
2. bisa hidup dibawah sinar matahari meskipun kekuatannya akan menurun drastis.

nah, kalo kasusnya ayahnya origin vampire, ibunya non-origin vampire, anaknya masuk klasifikasi vampire yang mana donk(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)
terus gw juga mengharapkan ada penjelasan logis kenapa tipe Origin Vampire ini bisa tahan sama sinar matahari–karena konsep ini bener2 menyalahi aturan terdasar dunia per-vampir-an (halah ;D), di mana seharusnya semakin ‘pure’ kadar ke-vampir-an seorang vampir, maka semakin gak tahan pula dia sama sinar matahari.
(gw pikir konsep vampir takut matahari ini murni berasal dari pengetahuan tentang kebiasaan kelelawar yang selalu ngumpet di tempat tertutup pas siang hari)
kalo di film Blade (yang jagoannya mirip tukul(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)), ada penjelasan logisnya kenapa si Blade yang notabene juga termasuk vampir ini bisa tahan sama matahari: sewaktu ibunya lagi mengandung, ibunya digigit vampir, maka lahirlah si Blade–dengan perpaduan DNA manusia dan vampir. nah DNA manusia dalam diri Blade menyebabkan dia terlahir sebagai day-walker (tahan sama sinar ultraviolet), juga kebal sama material perak dan bawang putih, sementara DNA vampir menyebabkan Blade memiliki kekuatan super seorang vampir–dan malah melebihi vampir kebanyakan. singkatnya, Blade dapet semua keuntungan manusia dan vampir.

maksud gw, kalo ente mau bikin cerita vampir, idealnya sih sebisa mungkin menuruti semua referensi dunia per-vampir-an umumnya. Kalopun terpaksa melanggar satu-dua pakem yang ada, ente harus menyertakan alasan dan logika yang relevan dengan rules yang berlaku dalam dunia vampir ente. :)
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 03, 2008, 05:21:26 pm
________________________________________
di Blade Trinity (sekuel ketiga ya?) ada tokoh musuh yang menyebut dirinya sebagai the first vampire, king of gnome (dia yang pertama… halah…), dan seperti daywalker dia juga gak masalah kena sinar matahari, tapi gua gak ngerti kenapa bisa begitu. gua nontonnya gak konsen sih…
lebih baik emang seperti kata rey, lebih diperkuat lagi alasan-alasannya, mak, supaya ceritamu juga bisa lebih kuat.

Comments No Comments »