Posts Tagged “fans fiction”

[tab: Hal 1]Sesi IV (22 Jan 2008 – 3 Feb 2008)

  • Review KLA 2008 oleh clickdian
  • Terra Mater Aftermath karya clickdian
  • Monster’s Tales karya hege
  • Tentang tampilan cover
  • Hati-hati posting naskah ke publik
  • Lagi, tentang Fans Fiction dan Fantasy Fiction
  • Review Septimus Heap: Magyk oleh clickdian

[tab: Hal 2]

________________________________________

Post by: clickdian on January 22, 2008, 08:48:21 am ________________________________________

Hi guys… I’d like to report the ceremony of Khatulistiwa Literary Award 2006-2007 event, held on 18th January 2008 at Plaza Senayan. Semua orang bisa dateng dan ngeliat, dari lantai dasar ampe atas, jadi center of attention banget.

Acaranya oke… straight to the point dan ga bertele-tele, everything went quite fast. I loved it karena acaranya malem dan aq ga terlalu enjoy keluyuran malem di Jakarta, soalnya ga apal jalan dan nggak banget deh kalo harus nyasar malem-malem, hehe.. Dan band-nya kerennn!! Akustik! Tiga gitar dan satu gendang (kayaknya sih gendang, dari tempat aq duduk ga terlalu jelas)—i like accoustic. Lagunya asing, tapi aq enjoy.. the voices blended nicely with the music.

Banyak orang hebat yang dateng ke sana… Richard Oh, . Djenar, ah, kalo tau dia?penggagas award ini—of course he’d come bakal dateng aq bawa deh novel Nayla. Andrea Hirata, he’s a nice man.. sangat ramah.. sayang ngobrolnya ga bisa lama-lama, udah kemaleman for all of us.. Mbak Dianing Widya, very grounded and full of smile. Happy Salma, ga sempet ngobrol, dia pulang cepet. Rieke Diah Pitaloka—face to face banget, tapi aq speechless dan cuma bisa tukeran senyum doang sama dia, hehe.. Adilla Anggraeni, blon sempet ngobrol juga padahal duduk sebaris. Farida Susanty, wah dia mah emang udah lama kenal, gara2 dia buka thread untuk Run! di FI ini jaman belon direvisi dulu. Dan kayaknya aq ngeliat Moammar Emka, tapi pas dicari lagi udah ngilang. And last but not least, para finalis lain—walopun ga ngobrol langsung—they’re all great. Hebat-hebat semua… waaa… dan aq bukan siapa-siapa… ga ada yang kenal, hehe..

I am so lucky to have opportunity to join this event. Banyak praktisi sastra yang hadir—penulis, pembaca, pemerhati… sekelompok orang dengan minat yang sama: writing. I am not the best on it, but to be in the same room with people with the same interest makes me feel like home.

Satu hal yang bikin aq seneng banget.. walopun nggak menang, tapi Zauri salah satu finalis yang di-sort dari seratus-an buku2 lain, and it means, genre fiksi fantasi juga dihargai sekali lagi sebagai karya sastra di negeri kita tercinta ini, setelah penghargaan Adikarya IKAPI. I’m very thankful for that, alhamdulillah… akhirnya kita dapet tempat juga, teman-teman, dan nggak dipandang sebelah mata. Bahwa Zauri tidak berhasil jadi pemenang, itu berarti Allah udah punya jalan sendiri untuk Zauri, yang insya Allah lebih baik. Mungkin tempat utama itu kelak akan diperoleh oleh salah satu dari mereka yang bergabung di thread ini? I hope so… Mari terus berkarya, teman-teman. Ayo kita buat paling tidak satu dari finalis award ini tahun-tahun yang akan datang adalah novel dengan genre fiksi fantasi, dunia kita.

Note: The winner for prose category is Gus tf Sakai (Perantau). The winner for poetry category is Acep Zamzam Noor (Menjadi Penyair Lagi..) The winner for young writer category is Farida Susanty (Dan Hujan Pun Berhenti) ?Congratulations!

[tab: Hal 3]

________________________________________

Post by: clickdian on January 23, 2008, 08:57:58 am ________________________________________

Terra Mater, Aftermath

Felicity menatap jendela. Wajah cantiknya menyiratkan kesedihan. Biasanya, ia melihat pemandangan yang sama dari jendelanya setiap hari. Tetapi kali ini berbeda. Setelah merasakan hari-hari alami di Bumi, jendela kamarnya terasa sangat asing, walaupun ia sudah menatapnya selama dua puluh enam tahun hidupnya. Ada perasaan aneh yang membuatnya ingat pada Bumi. Sinar matahari alami yang menembus sela gorden pada pagi hari, senyapnya senja yang perlahan-lahan membawakan malam, hembusan angin yang meniup pelan rambutnya…

Perasaan aneh itu bernama rindu.

Ia membuka jendela dan mendapati jalanan di sini jauh lebih tenang dari biasanya. Menyesap kopinya yang masih mengepul, Felicity mendapati dirinya lagi-lagi teringat ketika masih di Bumi. Hari-hari di mana ia harus menenggak berliter-liter cairan kopi untuk membuatnya tetap terjaga dan menyelesaikan misi.

Bahkan meminum kopi pun terasa lain, pikirnya sedih. Terlalu banyak hal-hal alami di Bumi yang takkan pernah diperoleh di sini. Harga yang amat-sangat mahal yang harus dibayar manusia sebagai upah dari keserakahannya. Tidak hanya itu. Bahkan nyawa pun menghilang untuk memperoleh hal-hal berharga itu kembali. Sia-siakah? Atau berusaha memperoleh surga itu adalah keputusan paling bodoh yang pernah kubuat? Aku tidak hanya kehilangan banyak teman, aku juga kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri atas kegagalan ini. Ah, mungkin belum waktunya aku menyebut kegagalan. Masih ada harapan, seperti yang Dewa katakan padaku. Walaupun harus menghabiskan banyak waktu untuk melihat harapan itu menjadi kenyataan atau tidak.

Menghela nafas, Felicity membuka genggaman tangan kirinya. Sebuah tabung kaca, berisi sepotong jari telunjuk di dalam cairan pengawet—satu-satunya yang tersisa dari pria yang ternyata ayah biologisnya. Tes DNA telah membuktikannya. Ia harus membuat pegawai Lab Biologi bersumpah untuk tidak membocorkan hal ini pada siapa pun. Dewa, Nathan dan Chen Li telah berjanji untuk menyimpan rahasia ini sampai mati. Dan Azusa… yah, untungnya dia tidak mengetahuinya, jadi rasanya bukan masalah. Walaupun rahasia ini mungkin terbuka juga suatu hari nanti, setidaknya untuk saat ini biarlah publik buta tentangnya.

Benda yang mengerikan untuk dijadikan kenang-kenangan, batinnya. Tapi setidaknya ada yang tersisa untuk dibawa pulang…

Malam semakin larut. Kopi di cangkirnya sudah hampir habis. Udara kotanya yang datar, sungguh berbeda dengan Bumi, dan lagi-lagi Felicity menelan kenyataan kalau ia sangat ingin untuk kembali ke Bumi.

Felicity menelengkan kepala menatap taman buatan di bawahnya. Hanya ada beberapa orang di sana, dan perhatiannya tertambat pada sepasang kekasih yang sedang berdiri di bawah pohon. Matanya langsung memanas. Hatinya langsung teringat pada sebuah nama.

”Ian,” bisiknya lirih, tanpa sadar.

Dan matanya basah. Kehilangan Ian adalah pukulan telak baginya. Dan ironisnya, beberapa saat sebelum shuttle itu meledak, ketika pandangan mata mereka terikat, dan Ian mengucapkan selamat tinggal untuknya, barulah Felicity menyadarinya.

Ian adalah satu-satunya orang yang dicintainya. * * *

Taman buatan itu adalah satu-satunya tempat di Fasilitas Riset Luar Angkasa yang memiliki koleksi tumbuh-tumbuhan cukup lengkap. Semua tumbuhan di sini adalah hasil dari kultur jaringan dan rekayasa genetika, itulah sebabnya disebut taman buatan.

Tidak banyak orang yang ada di taman malam ini. Tetapi tempat ini tetap saja terang benderang, hasil dari puluhan lampu yang dipasang secara artistik di segala penjuru. Lebih tepatnya, lampu-lampu itu melayang di berbagai tempat dan ketinggian, yang secara berkala berpindah-pindah membentuk formasi-formasi tertentu. Dari kejauhan lampu-lampu yang berwarna-warni itu membuat taman terlihat indah. Azusa menarik Dewa ke satu pohon; pohon ek besar dengan lubang di bawahnya.

“Dewa, kau ingat dulu kita sering menyembunyikan barang di situ waktu kecil?” Azusa menunjuk ke dalam lubang.

“Tentu saja! Kau menyembunyikan barang-barangku di sana,” Dewa mulai menghitung. “Mulai dari robot rakitan pertamaku, lalu pena elektrik hadiah dari Damian kakakku, kemudian benda-benda lain entah apa saja. Jadi sebenarnya kau yang suka menyembunyikan barang, bukan ‘kita’.” Dewa menyeringai.

Azusa tersipu. “Kusembunyikan robotmu karena kau tidak mengajakku dalam kompetisi itu. Lalu pena elektrikmu—karena kau menjodohkanku dengan Ian Bright, si bengal itu. Aku dulu tidak suka padanya.”

“Oh, jadi itu caramu membalas dendam—menyembunyikan barang?” goda Dewa.

“Bukan begitu…”

Azusa baru saja akan membela diri ketika Dewa berkata lagi, “Tapi aku heran, kenapa kausembunyikan juga coklat valentine yang kuterima dari Sakura?”

Wajah Azusa kontan memerah, membuat Dewa semakin bersemangat menggodanya.

“Itu..”

“Kau tidak cemburu kan?” Dewa menundukkan kepala ke arah Azusa.

“Aku?” balas Azusa cepat. “Tentu saja tidak! Kenapa aku harus cemburu? Terserah Sakura mau memberi coklat pada siapa!”

“Lalu kenapa kausembunyikan?”

Azusa terdiam, kehabisan kata-kata. Ia langsung kikuk dan Dewa tertawa melihatnya. Mereka sama-sama tahu apa alasan Azusa melakukan hal itu, dan alasan itu sudah tidak penting lagi untuk diutarakan.

“Sudah lama sekali sejak terakhir kausembunyikan barang milikku. Kita sekarang sudah dewasa, Azusa.”

Azusa mengangguk. “Benar. Dan aku sudah tidak berminat lagi pada barang-barangmu, Dewa. Jadi kalau ada barangmu yang hilang, jangan tuduh aku, ya.”

Dewa mengerucutkan bibirnya, berpikir sejenak. Setelah yakin ia lantas menoleh ke arah Azusa sambil berkata, “Kalau pada pemiliknya, kau berminat atau tidak?”

“Hah?” Azusa tersentak mendengar pertanyaan Dewa.

Atmosfer di antara mereka langsung berubah. Pertama kalinya sejak Dewa mengenal Azusa selama bertahun-tahun, ia tidak ingin lagi mengenal Azusa sebagai teman.

Dewa menatap Azusa lekat-lekat. Ada bekas luka memanjang di kening gadis itu. Bekas operasi. Terlihat jelas berkat sinar lampu taman yang kebetulan salah satunya melintas di atas mereka.

”Jangan tatap aku seperti itu,” keluh Azusa, memalingkan wajahnya dari Dewa.

”Mengapa?”

”Kau pasti menatap keningku lagi. Bekas lukaku ini…” Azusa menunduk, tidak menyelesaikan kalimatnya. ”Aku… aku malu.”

Dewa menaikkan sebelah alisnya. ”Malu?”

Azusa semakin menunduk.

Dewa menyadari bibirnya membentuk seulas senyum. ”Kenapa? Karena kau telah ikut misi Casero dan mengawali perjuangan untuk Bumi? Atau karena kau mendapatkan luka yang telah menyelamatkan teman-temanmu?”

Azusa mendongak mendengar kata-kata Dewa. Teman kecilnya itu, baru disadarinya kini, telah berubah menjadi laki-laki dewasa. Dewa yang ia kenal biasnya tidak berkata seserius ini. Ataukah selama ini ia tidak memperhatikan?

”Chen Li telah mengambil chip itu dari tubuhku. Kalau tak ada dia, mungkin aku sekarang sudah…” Azusa terdiam, lalu menoleh ke arah sebuah gedung tak jauh dari situ, bentuknya seperti setengah bola dengan banyak jendela yang lampunya menyala.

”Jenius, memang, dia,” Dewa ikut-ikutan menatap gedung itu. Merasakan kehangatan menyelimuti hatinya karena tahu sahabatnya itu ada di situ. Chen Li telah menyelamatkan banyak nyawa, termasuk Azusa, walaupun beberapa orang yang sempat ditolong olehnya pada akhirnya tidak dapat bertahan hidup.

”Azusa,” panggil Dewa kemudian.

”Ya?” jawab Azusa, memberanikan diri untuk menatap Dewa.

”Kau harus bangga pada bekas lukamu itu. Itu luka kehormatan.”

”Tapi aku jadi diperhatikan banyak orang karenanya.”

”Biarkan saja mereka!”

”Tapi aku jadi jelek,” protes Azusa keras kepala. ”Mungkin aku operasi ulang saja supaya bekas ini hilang dan…”

Dewa meraih kepala Azusa dengan sebelah tangannya, lalu dengan sangat lembut, ia menyentuh bekas luka di kening Azusa itu dengan ibu jarinya. Gadis berambut hitam panjang itu tersentak. Tapi ia tidak melepaskan dirinya dari Dewa, hanya menatap matanya dengan pandangan bertanya.

Dewa tersenyum. ”Jangan dihilangkan. Kau tetap cantik dengannya.”

Pipi Azusa bersemu merah.

”Sungguh?”

Dewa mengangguk. Mereka bertatapan dalam diam.

”Ngomong-ngomong, Azusa. Kau belum menjawab pernyataanku dulu..”

”Memangnya kau butuh jawaban?” Azusa membuat senyum terindah yang pernah diberikannya pada Dewa. * * *

”Ngapain di sini?”

Chen Li melirik ke jendela. Lalu tanpa menoleh, ia menjawab, ”Memangnya siapa yang melarang? Kau pikir gara-gara siapa kau masih hidup dan bisa masuk ke sini?”

Nathan langsung menumbuknya. ”Dasar! Masih tetap pede, kau, hah? Bukannya Felicity yang menyelamatkan kita semua?”

”Mungkin Dewa. Atau mungkin Azusa, atau mungkin malah kau. Kita saling menyelamatkan, kau tahu?” jawab Chen Li tanpa fokus. Matanya masih melirik ke arah taman. ”Sialan dua makhluk itu,” gerutunya, membuat Nathan ikut melihat ke jendela. ”Bikin iri saja!”

Menyadari siapa yang sedang berdiri, Nathan langsung tertawa. ”Iri? Pantas saja, memangnya ada yang mau padamu, Blondie? Di dalam otakmu kan hanya ada komputer dan program?”

”Enak saja,” Chen Li tersenyum sinis. ”Aku tidak ada waktu, dan bukan aku tidak ada yang mau. Bisa saja aku pacaran dengan semua gadis di sini kalau aku mau. Mana ada sih yang tidak terkagum-kagum padaku, Chen Li The Invisible?!”

Nathan pura-pura menguap sebagai jawaban. Dia sudah hafal sifat narsis Chen Li yang sudah pada taraf akut itu.

“Basi, kau,” katanya singkat, dan Chen Li balas menumbuknya. “Cepatlah berburu sebelum jadi kakek tua!”

“Bah! Lihat siapa yang bicara! Kau sendiri ‘masih tersangkut di Bumi, bukannya mengejar Bidadari’mu itu!” Chen Li menggedikkan kepala ke arah flat Felicity di seberang taman. “Gadis secantik dia, cuma ada seribu tahun sekali!”

Nathan tidak menjawab. Kalimat Chen Li membuatnya teringat pada dua hal. Felicity Adams adalah yang pertama. Makhluk terindah yang pernah dilihatnya. Nathan tahu meraih gadis itu akan sulit sekali. Tetapi, sulit bukan berarti mustahil, kan? Tiba-tiba ia tersenyum sendiri. Masih ada harapan, katanya dalam hati. Selama aku masih hidup, akan kukejar dia.

“Ngapain cengar-cengir?” Chen Li menaikkan alisnya ketika menanyakan hal ini, membuat Nathan memutuskan untuk tidak mengatakan isi kepalanya pada Chen Li. Itu hanya akan membuat Chen Li semakin punya alasan untuk meledeknya.

Nathan mengalihkan pembicaraan, pada hal yang kedua.

“Rasanya baru kemarin kita pergi, ya? Tahu-tahu sudah di sini lagi.”

Chen Li mengangguk. “Tahu, tidak, misi Casero membuatku takut mati.”

Dengan sebelah alis terangkat, Nathan berujar, “Hei, aku tidak pernah mengira seorang Chen Li akan takut mati!”

Tadinya Nathan mengharapkan jawaban asal khas Chen Li, tapi ia keliru.

“Sungguh, aku jadi takut mati. Terlalu banyak kematian yang berhubungan dengan Bumi. Teman-temanku. Benda-benda ciptaanku. Aku takut ketika aku mati nanti, tak ada orang yang bisa aku warisi. Rasanya aku perlu menikah dan punya banyak anak.”

Nathan ternganga.

“Hei… kau tak apa-apa?” tanyanya prihatin.

Chen Li menggeleng. Diletakkannya kotak kaca mungil berisi prototipe robot mikro yang sedari tadi digenggamnya. Robot ini adalah karya Chen Li terbaru, akan berguna untuk mendeteksi penyakit pada organ dalam manusia—robot ini akan bisa menjelajahi tubuh manusia dengan mudah. Kemudian ia beranjak menuju pintu.

“Aku mau pulang,” kata Chen Li.

Nathan tidak mencegahnya. Ia hanya melambai asal pada sahabatnya itu.

Sebelum pintu menutup, Chen Li berbalik sekejap. “Tapi aku serius mau punya anak banyak,” katanya, menutup pembicaraan, meninggalkan Nathan yang masih terheran-heran mendengar kalimatnya.

Nathan masih terdiam lama setelah pintu itu tertutup. Terhanyut dalam pikirannya sendiri. Ia, seperti juga Chen Li, ikut dalam misi Casero. Dan ia tahu seberapa besar pesona Bumi bisa menarik hati. Bumi telah mengubah banyak orang. Bahkan Chen Li sekalipun.

Ia melirik hologram Bumi yang terpampang di sudut ruangan, berputar anggun dengan gerakan pelan. Satu-satunya benda yang baginya, tidak hanya lebih indah dari Felicity Adams. Tetapi juga jauh, jauh lebih agung.

Keagungan yang masih jauh untuk dapat diraih. * * *

[tab: Hal 4]

________________________________________

Post by: hege on January 26, 2008, 11:33:51 am ________________________________________

MONSTER’S TALES

To Celebrate Monster’s Day – 26 January

Pada suatu hari di negeri para monster, dua monster gemuk bersaudara memasuki pintu berukuran raksasa. Boks neon besar bercahaya pucat dengan tulisan “Monster’s Bar, Just for Monsters!” bertengger miring di atasnya. Kedua monster ini berjalan serampangan menuju sudut ruangan, meninggalkan jejak kaki berlendir di lantai.

Bar-bar dan diskotik di manapun di negeri itu sedang sepi pengunjung. Di Monster’s bar hari ini hanya ada enam atau tujuh monster bertanduk. Kebanyakan rakyat sipil negeri monster bersembunyi di rumah atau gua saat malam hari tiba, negeri mereka sedang dilanda krisis multidimensi.

“Ini sungguh mengenaskan, Zchuib,” gumam salah satu monster yang baru saja memilih tempat duduk, ia memandang ke sekeliling, ruangan bercahaya remang-remang itu terasa sunyi sekali. Kawannya mengerjapkan ketiga matanya bersamaan dan bersendawa.

Kedua monster ini adalah monster bertampang paling menjijikkan yang pernah ada. Kulit mereka seperti terbuat dari lilin hijau yang hampir mencair berikut duri-duri gemuk di sekujur punggung. Mereka memiliki kepala besar tak proporsional dengan posisi mata, mulut dan hidung berantakan. Dua lengan mereka yang gempal pendek dan kaku berukuran tak sama di kiri-kanan. Jari-jari mereka pun hanya empat saja di setiap tangan, beberapa jari itu buntung dan lengket.

Salah satu pelayan monster dengan wujud yang tak kalah menyedihkannya datang kepada mereka, membawakan pesanan dua gelas kayu berukuran besar yang dipenuhi minuman gobra (merupakan hasil fermentasi darah kerbau)

“Kita semua mengenaskan, ZeZe,” gerung Zchuib meraih gelasnya dan minum, sebagian isinya tumpah ke badannya yang bengkak penuh bisul. “Aku rindu masa-masa di mana HAM (Hak Asasi Monster) ditegakkan seadil-adilnya. Belum pernah jalanan di malam hari bisa sampai selengang ini.”

“Iya,” sahut kawannya pelan, minum gobra-nya habis sekali tenggak. “Tapi bisa kau pelankan suaramu sedikit! Mereka ada di mana-mana, para mata-mata itu!”

“Ah sejak kapan kau takut sama mereka,” ujar Zchuib santai. “Mahluk-mahluk kecil menjijikkan yang disebut manusia itu. Kau lihat cara mereka makan? Aku heran bagaimana mereka melahap daging hewan dengan merebus atau menggorengnya. Yang aku tahu semestinya mereka memakan rumput mentah.”

“Manusia banyak sekali saat ini, Zchuib sayang. Ada di mana-mana dengan senjata yang meledak-ledak di ujungnya. Kita harus hati-hati!” kata ZeZe melirik ke sana ke mari. “Izib bahkan sulit menemukan kerbau di manapun di gunung, para manusia menangkap mereka semua dan mengurungnya di semacam tempat, mereka menyebutnya kandang, kurasa.”

“Kandang?” tanya Zchuib menggeleng, tak percaya mendengar kabar ini. “Para manusia itu tak hanya saja mencuri makanan kita, tapi juga kebudayaan kita.” (kandang adalah sebutan untuk bangunan istana di negeri para monster, dahulu kala, lama berselang—sebelum para manusia datang dan merebut kekuasaan)

“Raja kita, Perzekouloth, kira-kira bagaimana nasibnya?” tanya ZeZe hati-hati.

“Para manusia pasti telah mengulitinya dan mengubahnya menjadi dendeng,” ujar Zchuib yakin. “Perzekouloth yang malang, salahnya mau menandatangani surat kerja sama dengan manusia—mahluk-mahluk yang sulit dipercaya, tengil dan licik.”

“Iya benar, sekarang rakyat sipil menjadi korban,” kata ZeZe sedih. “Aku mau membakar diri saja sebelum para manusia memasak dagingku menjadi sup.”

“Jangan putus asa begitu, ZeZe!” geram Zchuib tajam. “Kita akan melakukan gerilya, inilah yang disebut perang sipil, kita akan menegakkan keadilan. Manusia harus dimusnahkan dari negeri tercinta ini, jangan biarkan mereka membuat lebih banyak kandang lagi! Kita harus melakukan tindakan nyata.”

“Tunggu sebentar, Zchuib sayang!” bisik ZeZe mengingatkan. “Kurasa tak bijaksana merencanakan hal-hal seperti ini di ruang publik, para manusia bisa mendengar, dan celakalah kita!”

“Diamlah kau, ZeZe! Jangan paranoid seperti itu!” geram Zchuib. “Apa kau sudah kehilangan instingmu seperti kebanyakan monster belakangan ini? Monster sejati dilahirkan untuk tidak takut terhadap apapun!”

“Kita ditetaskan, Zchuib sayang!” protes ZeZe buru-buru.

Read the rest of the story here http://kemudian.com/node/79357 dont forget to leave any comment.

[tab: Hal 5]

________________________________________

Post by: BloodSin on January 28, 2008, 07:55:41 am ________________________________________

kemaren gw ke gramed n melakukan sedikit riset iseng2: ngeliat2 judul semua novel yg ada.. hmm.. kalo diliat2, hampir semuanya punya judul memikat n bisa bikin orang penasaran.. ini ngebikin gw bertanya: apakah judul novel gw udah mantep? dan jawaban gw, belom.. :( gimana dengan temen2? ??? ada yg bilang yg penting isi, bukan judul/kover dari suatu buku.. tapi kalo menurut gw judul cukup mempengaruhi penjualan di pasar.. soalnya dari judul sedikit banyak bisa merepresentasikan isi sebuah buku, satu frase/kalimat yg mewakili ribuan kata dalam 1 buku (halah, gw ngomong apa sih?) temen2, coba dilist donk ente2 pada udah ngebikin cerita dengan judul apa aja, kita sekalian bisa share nihh.. :)

oya, kemaren gw ngeliat novel GORAN.. hmm.. ngeliat ringkasan plotnya di belakang buku sih cukup menjanjikan.. tapi ‘Pasukan Jas Hujan Putih’-nya itu lho :-\.. bikin ilpil. :P

________________________________________

Post by: BloodSin on January 28, 2008, 04:01:50 pm ________________________________________

Quote from: rd_Villam on January 28, 2008, 03:27:06 pm hehe… TFH itu kerjaan bertahun-tahun, rik… itu ambisiku yang paling gede, yang gak kelar-kelar, dan gak tau kapan bakal kelar… yang di k.com itu baru prolog dan 6 bab awal dari buku 1.

ati2….. jangan terlalu banyak posting naskah kalo emang diniatin buat terbit nantinya, bang…. kadang ada penerbit yg gak mau naskah yg diterbitinnya terlalu beredar luas, lagipula kalopun ada penulis yg mau mempromosikan naskahnya yg udah terbit, dia pasti cuman ngasih sebagian kecil halaman2nya…….. itu yg ngebikin gw setop posting lemuria n tangerine di kemudian, soalnya karena emang naskah gw cuman 2 itu, dan gw ada niat ngerampungin untuk dikirim ke penerbit, someday ;)

eh keknya gw pernah diajarin teori beginian ama seseorang disini yak.. :D ________________________________________

Post by: rd_Villam on January 28, 2008, 04:36:12 pm ________________________________________

that’s why, rey… aku mungkin ga bakal ngepost lanjutan cerita-cerita tersebut di sana… tapi yang sudah telanjur, ya sudah biarkan saja…

________________________________________

Post by: mocca_chi on January 28, 2008, 04:42:01 pm ________________________________________

iyah.. villam banyak bgt post naskahnya. biarpun nda dibajak orang, takutna kan idenya dicuri orang (kalau nda bisa dibilang menginspirasi) kan nda banget liat ide kita di naskah karya orang lain, mending jika lebih jelek, klo lebih bagus ketimbang naskah kita kan keki juga…

[tab: Hal 6]

________________________________________

Post by: blue_amaranthine on January 28, 2008, 06:00:02 pm ________________________________________

Kawand, berdasarkan saran Villiam, so aku nimbrung di sini dech. Hehe.. baru sich, jadi belom taw apa-apa. Bout fiksi fantasi, emangnya apa-apa aja sih yang perlu dimunculin dalam fiksi fantasi, hingga orang-orang bisa bilang, “Jadi, ini novel fanfic” sualnya banyak bget temen-temen yang ngeidentikin ama science fiction. Apa jangan-jangan fanfic itu salah satu science fiction?

________________________________________

Post by: BloodSin on January 28, 2008, 06:31:22 pm ________________________________________

istilah fanfic itu bukan mengacu ke genre fantasy bro, tapi ke suatu genre buat wadah para fans fiksi tertentu. nah bingung kan? jadi misal ente penggemar LOTR, n terus saking cinta matinya ente ma LOTR, ente ngarang cerita gmn kehidupan frodo setelah one ring ancur… nah cerita yg ente bikin itu, dikategoriin fan-fic. hmmm sebetulnya gampang kok ngebedain fantasi ama science fiction, kalo fantasy lebih menitikberatkan pada kekuatan imajinasi/fantasi si pengarang, sci-fi cenderung mengandalkan riset buat landasan cerita.. jadi antara fantasi ama sci-fi itu kayak antara imajinasi dan fakta lapangan… beuh, ini cuman pendapat ngasal dari eke sahaja, mungkin master2 fantasy disini mau menambahkan, hege n villam espesially. :-*

________________________________________

Post by: rd_Villam on January 28, 2008, 11:00:11 pm ________________________________________

@blue, welcome to the club! :) jadikan ini rumah keduamu, ya… heheh… penjelasan mengenai perbedaan antara ‘fans fiction’ dan ‘fantasy fiction’ dapat dilihat pula di halaman pertama thread ini. sementara kalo menurut gue sih, science fiction itu termasuk bagian dari fantasy juga. (star wars atau star trek itu fantasi juga kan?) soalnya kalo bicara fantasy, itu luas banget sebenernya, seluas imajinasi para pengarangnya. ada yang jenis sci-fi kayak contoh tadi, ada jenis high fantasy macam LOTR yang bikin dunia sendiri, ada jenis Harry Potter yang menonjolkan dunia sihir, ada jenis Bartimaeus yang bikin dunia alternatif, dll dsb. trus kalo yang dibilang rey, bahwa sci-fi cenderung mengandalkan riset, mungkin kudu diperjelas bahwa riset yang dimaksud di sini adalah riset teknologi. soalnya riset kan macem2, ada riset sejarah, riset geografi, riset budaya dan bahasa, riset tokoh, dan segala macam lainnya. dan segala macam riset itu wajar pula muncul di genre-genre lainnya.

[tab: Hal 7]

________________________________________

Post by: clickdian on February 03, 2008, 04:43:52 pm ________________________________________

Septimus Heap: Magyk

Angie Sage

Buku yang baru terbit seri pertamanya ini meng-klaim dirinya sebagai pengganti Harry Potter. Ini salah satu alasan kenapa aq beli (duh, strategi pasarnya jitu juga! korban nih, korban). Sayangnya, aq agak kecele setelah baca. Jalan ceritanya mudah ditebak.

Magyk adalah plesetan dari ‘magic’, sama dengan istilah ‘magick’ di FF12 yang sebenernya ‘magic’ juga. Semua orang di dalam cerita ini akan memiliki mata berwarna hijau begitu mulai mempelajari Magyk. Dan ada satu posisi terhormat di dunia Magyk yaitu Penyihir Luar Biasa, yaitu pemimpin para penyihir yg bekerja untuk kerajaan, tinggal dalam menara khusus di dalam istana.

Kisah ini berawal dari saat kelahiran Septimus Heap. Cerita magyk ini berpusat pada sebuah kota imajiner (settingnya jaman dahulu) yang dikelilingi benteng tinggi berbataskan sungai melingkari kota. Pemimpin kota (ato negeri) ini adalah seorang Ratu, dengan garis matrilineal, yang otomatis membuat kekuasaan diturunkan pada para perempuan. Nah.. keluarga Heap tinggal di dalam satu kamar di dalam sebuah rumah besar di dalam benteng tersebut.

Ada sebuah legenda (yg semakin jauh aq mengikuti cerita ternyata benar adanya) bahwa keturunan ketujuh dari anak ketujuh keluarga penyihir akan memiliki kekuatan magyk yang luar biasa. Dalam kasus ini, Silas Heap–ayah Septimus–adalah anak ketujuh. sementara septimus sendiri juga anak ketujuh di dalam keluarganya.

Jadi, pada saat bayi, Septimus diincar oleh penyihir jahat, dikabarkan sudah mati dan diculik. pada saat bersamaan Ratu dibunuh dan bayi perempuannya diselamatkan Penyihir Luar Biasa dan dimasukkan ke keluarga Heap. Intinya, keluarga Heap kemudian merawat sang putri sementara anak mereka sendiri–yang dianggap sudah mati–sebenarnya masih hidup dan berada di tempat lain. Cerita kemudian bergulir ke saat sepuluh tahun kemudian, di mana anak2 tersebut sudah berkenalan dengan magyk dan mulai dikejar2 penyihir jahat lantaran si putri ketahuan tinggal bersama mereka.

Dalam buku ini, u will find different kind of magic. ga ada wand sama sekali, semua penyihir bisa menyihir begitu saja, selama mereka punya spell. power dan jenis sihir sangat tergantung pada mantera ini, tapi penyihir bisa membuat spell sendiri, walaupun masih banyak tergantung buku mantera.

Overall… aq masih ngerasa kurang greget. mungkin krn lebih suka cerita yg ngelibatin emosi yang kuat, sementara style-nya Angie justru lebih di story daripada emosi. selama mengikuti cerita rasanya datar2 aja, dan aq ketawa karena joke baru di halaman 315 (kalo ga salah). Kalau mau dibilang pengganti Harry Potter, menurut aq, mending tunggu buku kedua dulu. mungkin lebih menarik. Tapi kalo kamu suka fantasi dengan dunia yang benar-benar baru, novel ini bisa jadi pilihan. Angie cukup kreatif dan imajinatif dalam meramu yang satu itu.

Comments No Comments »