Posts Tagged “fantasi lokal”
Dulu saya pernah berniat untuk menyusun daftar novel fantasi yang ditulis oleh para penulis lokal, untuk memberi apresiasi sekaligus membantu saya jika hendak menemukan buku-buku tersebut. Baru sekarang saya (sedikit) berhasil, terbantu dengan keberadaan mereka di laci-laci Goodreads.
Daftar Novel Fantasi Indonesia
Daftar ini masih jauh dari sempurna, bahkan mungkin baru separuh jalan. Jadi jika Teman-teman punya informasi tentang buku-buku fantasi lokal lainnya, dengan senang hati saya akan menerima, kemudian mencari keberadaan mereka. Sayang jika karya-karya tersebut (terutama yang sudah terbit lebih dari dua tahun silam) kemudian seperti hilang ditelan bumi atau dilupakan…
Salam.
17 Comments »
[tab:Hal 1]Sesi XXIX (10 Ags 2008 – 20 Ags 2008)
• Tentang koleksi novel-novel fantasi lokal
• Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh BloodSin
• Definisi kisah Fantasi
• Tentang waktu tampil novel fantasi lokal di toko-toko buku
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on August 10, 2008, 11:05:06 pm
________________________________________
Quote
Rey, member2 lama (yg gw gak kenal) koq gak muncul2 lagi ya?
Diajak maen2 lagi ke sini dong biar bisa kenalan juga sama member2 baru yang keren2 ini!
Kebanyakan keknya udah pada ‘mokad’ deh as writer.
Kayak Midnight Sun (di vgi nicknya Nataku Yue), ini member cewek yang luar biasa jago dan wise, loe bayangin deh sosok om pur, tapi buang atribut: ‘batangan’, jadul, dan sotoynya heuheuheu ;D, replace dengan atribut: cewek umur 20an, open-minded, berpikiran luas, tapi rada cold-blooded juga sih -_-”
Postingan-postingannya enak dibaca, subjektif, mencerahkan kalbu (halah! ;D), dan berbobot [thumbsup]
Beliau kayaknya telah disibukkan dengan pekerjaan, soalnya ngilang pas dia baru aja lulus kuliah dan masuk kerja
Kalo Excel, La Mer, Whiteheaven, ngilang pas peralihan FFDN II ke FFDN III, kayaknya pada males register ulang bikin id baru deh
Kalo si Lich, pernah nongol kan di sini? Dia jugak termasuk yg posting di halaman pertama thread FFDN I, wuah udah lama sekali ituh
oke, gw ada:
1. Janos–Legend of Arctic Empire, tipe ‘sci-fi’–tanda kutip di sini merepresentasikan banyak hal ;D (Hadiyanto, kalo belum dicopot sekarang beliau ini masih kepala asslab binus lho [thumbsup])
2. Nightfall–The Element Location, tipe RPN (Rizky YS, jebolan Trisakti)
3. Numeric Uno–Legenda Sang Cahaya Zeta, tipe petualangan luar angkasa, mirip hozzoh (DewiS)
4. Ledgard–Musuh dari Balik Kabut, tipe RPN-kolosal (WD Yoga)
5. Negara Kelima, novel sejarah (Es Ito)
Pinissi (Mama Piyo) sebenernya termasuk buku yang mau gw ‘buang’ jugak, tapi gw cinta mati ama gambar-gambar ilustrasinya. Jadi I’ll keep it.
Kalo Cardan, walau jumlah halamannya masih utuh, dan bisa dibilang gw benci mati karena gak ada satupun aspek yg positif dari buku ini (selain kovernya ), kayaknya gw gak cukup ati buat ngebarter, secara bukunya udah compang-camping, halamannya pada copot (kualitas jilidnya jelek banged!)
gw berminat dengan:
1. Phoenix–Mahkota dalam Negeri Azura
2. Corruption
3. Reinhart
4. Cincin Oleodeo
6. Para Penunggang Petir
7. dan fantasi-fantasi lokal lain dengan setting non-lokal, dan bukan semi teenlit >_<
sebenernya ada dua judul lagi yg gw penasaran & ngebet banget pengen baca, tapi gak enak hati ama pengarang-pengarangnya yang suka nongol disini heuhueheuheu ;D
well, kalo ada yang minat.. ^-^
________________________________________
Post by: fr3d on August 11, 2008, 09:30:44 am
________________________________________
Sang Penandai dibarter (baca: jual murah) aja tuh ke om pur atau si piet! [rolleyes]
Btw, phoenix dan corruption yang gw pernah baca itu punya co-author gw, rey.
Dia sih gak mungkin ngebarter corruption (buku ini kayaknya masih dijual loh di beberapa toko buku gramedia, tapi kudu rajin nyarinya, soalnya ditaruhnya ngasal, kadang di fiksi lokal, kadang di fiksi asing, atau malah di buku impor ).
Nah, kalo phoenix, ntar gw coba tanyain deh. Dia kayaknya rela2 aja tuh ngebuang jauh2 buku itu… Wkwkwk! ;D
________________________________________
Post by: BloodSin on August 11, 2008, 09:55:12 am
________________________________________
Yang jelas, buku-buku lokal yg mau gw simpen ampe akhir hayat itu:
goran, sang penandai, hozzo, narend ama zauri [biggrin]
yodah kapan-kapan kalo ada gathering, tinggal dibarter lha tuh phoenix-nya [biggrin]
[tab::Hal 3]________________________________________
Post by: clickdian on August 15, 2008, 03:33:48 pm
________________________________________
Guys, ada buku baru nih, Magician Guild. Harganya skitar 70-an, naga2nya sih bagus 
Ada yg udah pernah denger? Kyknya isinya pure fantasy.
________________________________________
Post by: fr3d on August 15, 2008, 03:48:09 pm
________________________________________
Magician Guild itu novel lokal atau terjemahan, mba dian?
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 15, 2008, 05:10:45 pm
________________________________________
kayaknya terjemahan tuh.
gue belon liat sih, udah lama gak ke gramedia.
belakangan rada depresi kalo ke toko buku soalnya. sebegitu banyak buku, gak ada satupun tulisan gue. ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: fr3d on August 15, 2008, 05:15:28 pm
________________________________________
Rasanya kepengen banget nyalain korek, trus dilempar deh ke salah satu tumpukan! 
Apalagi kalau ngerasa buku2 lain lebih jelek daripada buku kita, ya nggak, villam? ^-^
;D ;D ;D
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 10:42:15 am
________________________________________
Hmm… kalau Supernova dan komik Tony Wong ada yang menganggap fantasi, jadi sekarang definisi karya fantasi sebenernya apa dong? ???
________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 11:41:06 am
________________________________________
Villam, semalam gw baru beres baca TFH loe, itu terhitung dari tiga hari terakhir ini gw fokus ngabisin TFH heuheu [biggrin]
Dan inilah komen resmi gw (gw akan menyamarkan bbrp poin supaya gak jadi spoiler tapi masih bisa ditangkep lu ):
Pertama-tama, lemme nyembah-nyembah you dulu (haduh, kok browser gw gak bisa buka page icon yak, sialllll [hammer])
Thanks a lot karena lu udah mengijinkan gw baca masterpiece lu, heheh.
Secara keseluruhan, tulisan lu, walaupun gak secanggih si Ewing, gak secakep sang Penandai, dan gak sememikat tulisan si Hege, tetap masih punya pesona tersendiri di mata gw, mungkin karena kesahajaannya. Lu gak terlalu berpusing-pusing mikiran metafora keren buat ditarok dalam tulisan, lu cuma fokus ingin menyampaikan cerita ke pembaca sebaik mungkin dengan bahasa yang jelas dan enak, dan itu bisa dibilang berhasil. Dan dari karya lu gw bisa belajar, kalo ternyata karya fantasi pun bisa dibuat elegan dengan gaya bahasa ‘biasa’. Salud.
Kedua, This is it! Kayak beginilah sebuah karya baru layak disebut kolosal! Kavaleri Elniri, konsep ‘pasukan perintis’, yel-yel perang yang keren, buah tuluk, dan lain-lainnya, buat gw elu udah berhasil menunjukkan wawasan kolosal yang mumpuni, terutama tentang aspek-aspek perang (ada seni diplomasi, penaklukan, strategi pemenuhan pangan, ect). Keren. Lu juga udah berhasil mendeskripsikan keperkasaan Antharavai dengan wajar, gak berlebihan. Setiap adegan kemenangan, penyergapan, perang, sudah tergambarkan dengan wajar. Masalah belasan bisa mengalahkan ratusan seperti yg dibilang om pur, itu gak terlalu fatal, masih bisa dimaklumi mengingat yg terjadi disitu adalah penyergapan, dan oleh pendekar-pendekar terkuat pula.
Gw suka tiap kali ada orang mati, elu menyebutkan umurnya. Itu kolosal banged heuheu, tapi ada satu karakter penting yg gak lu sebut umur koidnya tuh.. ???
Gw menemukan ada dua tema dominan di TFH: kolosal & romance.
Kalo menurut gw kekuatan utama TFH itu ada di romance alih-alih kolosal, secara elu belum menyajikan sesuatu yang benar-benar ‘brilian’ buat tema kolosalnya. Namun begitu, TFH menjadi buku pertama yang berhasil ngebikin mata gw berkaca-kaca merasa terharu, getir, & sedih, sebelumnya belum pernah ada buku yg ampe segitunya. Banyak orang nangis baca LasPeng & AAC, gw sih masih biasa-biasa aja, karena buat gw tema struggle/romance di kedua karya itu masih terhitung standar, atau malah picis (khusus romance AAc huehue). Tapi untuk TFH, gw takluk seutuhnya :-[ gila keren banged!
Ini di luar kebiasaan gw, biasanya sebanter-banternya buku maenin emosi gw itu gw cuma sampe sebatas ngakak gila aja, gak pernah sampe bikin terharu/mata berkaca-kaca. Ini luar biasa.
TFH gw masukin ke jajaran novel fantasi terbaik yg pernah gw baca, entah itu novel lokal atau luar. Ketebelan bukunya dan penggarapan selama bertahun-tahun sama sekali gak sia-sia. Oh yap, buku ini pun menjadi yang terbaik dari segi plotting, untuk ukuran fantasi lokal yg pernah kubaca, well-done
Sekarang, kita masuk ke pertanyaan dan pernyataan gw untuk bbrp hal:
1. Haston, ini kan nama orang (seorang jenderal). Gw agak bingung dengan 'negeri' ini, kok lu gak ngasih nama buat wilayahnya? Di bukunya lu Cuma nyebut wilayah/negeri Haston, well ini gak gitu jadi masalah sih..
2. Tentang adegan final protagonis utama ngelawan antagonis utama, gw rada kurang puas dengan cara elu mengeksekusi adegan itu buat muncul. Terlalu biasa, padahal bisa dibuat lebih dramatis lagi. Kalo gw yg bikin
TFH, gw akan menceritakan si protagonis membangun Tirevr dan menempatinya sedemikian lama, sampe akhirnya keberadaannya diendus oleh si antagonis yg (ceritanya) sedang mengadakan suatu ekspedisi perjalanan menuju suatu tempat yg gak jauh dari Tirevr. Nah di situ si antagonis seperti biasa, menantang seseorang dari desa untuk duel one by one, dan keluarlah si protagonis dengan gagah berani dalam rangka membela desanya heuheu. Jadi effort si protagonis buat melawan si antagonis akan kerasa lebih mengesankan, karena disitu ia melindungi orang-orang yg
dicintainya, terutama Amelia. Well, itu versi imajinasi gw sih
3. Naming! Fabian is way too pretty for a warrior name. Serge dan Helmut, itu dua nama super-keren buat ukuran pendekar, bahkan mengalahkan image Kain dan Seth gw heuheu. Gw langsung bisa membayangkan keperkasaan mereka sekali denger namanya. Tapi Fabian? Agak-agak gimanaaa gitu, apalagi dalam bukunya lu bikin dia sebagai penerus Serge dan Helmut, dan sekaligus sebagai si 'penantang' antagonis utama. Tak bisakah mencari nama lain yg berkesan lebih jantan dan perkasa? ^-^
4. Peta, ini mutlak kudu ada kalo bukunya terbit. Lu udah bikin kan? Gw pusing nyimak strategi Anthravai & Thorsti di bab 24, tapi untung strategi itu pada akhirnya mubazir, heuheu 
(eniwei, daripada Serge dan Helmut, gw lebih suka Anthravai & Thorsti)
5. Ada beberapa kalimat yang salah/kurang kata tuh... tapi ini kayaknya udah dikoreksi si Fred kan?
6. Kritik utama: masalah pendeksripsian adegan perang yg berulang-ulang sama, yg dulu gw nyatakan terlalu standar karena cuma ngomongin jumlah pasukan dan emosi sang pemimpin pasukan, ternyata ke belakangnya masih
tetap begitu heuheu. Waktu awal-awal baca gw liat daftar isi ada judul bab kayak 'Perangkap Helmut', gw udah ngebayangin bakal seru banged tuh disitu, pasti ada strategi perang keren khas villam, eh tauknya itu pun masih strategi standar-_-"
Tapi oke lha, setelah baca keseluruhan buku, adegan-adegan standar ini tertolong dengan plottingnya yang terencana sangat matang, sehingga naskah ini menjadi sama sekali tidak membosankan. Ada banyak adegan mengharukan dan mengesankan dalam naskah ini, kayak 'Bunga di Atas Perahu', 'Kenangan Terakhir', 'Quazar dan Ksatria', dan subplot-subplot menarik kayak Kuil Ksatria, pembangunan desa Tirevr. Gw nyembah-nyembah salut dah, sekali lagi.
Adegan Fabian pertama kali yang jaman dulu gw bilang membosankan, sekarang udah lu modif jadi menarik, salut itu ide Bunga di Atas Perahu-nya, bener-bener mengesankan heuheu.
Beres baca TFH, gw percaya naskah ini akan (harus!) terbit suatu saat nanti, bagaimanapun dan apapun caranya [biggrin]
Gw malah jadi gregetan dengan selera penerbit sini, mereka terus berkoar-koar belum ada dan gak bakalan pernah ada naskah sini yang setara LOTR, atau tentang keburukan/kepayahan penulis lokal yang cenderung mengadopsi setting luar bukannya milih setting lokal, namun ketika ada naskah anak bangsa yang kualitasnya sedikit-banyak mengimbangi panutan mereka–LOTR (TFH, dengan segala kelebihannya, gw berani bilang setara dengan buku pertama LOTR), dengan tololnya mereka menolak naskah itu dengan penilaian dangkal mereka, dan malah
menerbitkan naskah-naskah sampah yang gak layak baca. Gw udah baca 2 naskah kolosal ‘pilihan’ para penerbit sini yang ‘konon’ mirip LOTR, tapi apa yang gw dapat? Membosankan dan bikin ilpil. Sial, apakah standar dan selera gw sedemikian spesifiknya di sini sampe-sampe cuma gw sebagai pembaca yg ngerasa gregetan ginih TFH gak diapprove penerbit, sementara Ledgard yang ke-kolosal-annya konyol begitu bisa terbit dan sampe diagungkan oleh banyak pembacanya? ???
Ini bener-bener suatu kesalahan, sangat salah dan sangat bodoh. Menyedihkan [ranting]
Dari sini gw jadi sepakat dengan omongan si Jeff dulu, Tolkien, kalo idup di indonesia dan mengirimkan LOTR-nya hari gini ke penerbit sini, bisa jadi gak bakalan pernah terbit, boro-boro meledak. ;D
Masih pantas lha kalo mereka menolak naskah gw yg emang punya segudang cacat, tapi TFH? Ini ketololan yg tak bisa dimaafkan, dan kayaknya Cuma elu sendiri yang bisa menghadapinya, bro. Kalau memang udah gak ada
jalan buat TFH, self publishing patut dicoba, setidaknya lu udah punya nama di k.com & pulpen, tinggal merambah ke komunitas-komunitas penulis lainnya aja buat promosi. Tapi ketebelan naskah juga bakal jadi kendala utama, sih.
Gw terkesan dengan effort lu dalam menggarap TFH ini selama bertahun-tahun (yg hasilnya–yaitu versi yg gw baca–bener-bener worthed), silakan gunakan thread ini untuk promosi kalau nanti diterbitkan, dan jangan ragu buat minta bantuan dari gw ke depannya nanti, selama gw bisa membantu, i’ll be here to support you always, villam my good friend ^-^
Salam Pedang!
Note: TFH kalo di word, dengan patokan jenis huruf news roman spasi 1,5 ukuran 12, itu brp halaman sih? Jangan jawab pake jumlah kata pliss, itu sama sekali tidak menunjukkan jawaban jelas >_<
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 12:02:30 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 11:41:06 am
Gw terkesan dengan effort lu dalam menggarap TFH ini selama bertahun-tahun (yg hasilnya–yaitu versi yg gw baca–bener-bener worthed)
Kalau gw, terkesan dengan effort rey dalam menggarap review-nya TFH selama berjam-jam (yg hasilnya–yaitu versi yg dikirim ke tret–bener-bener rapi & jelas kalimat maupun idenya).
Wkwkwk! Peace ya, bro! ;D
Salam pedang juga, ah!
[tab::Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 12:48:28 pm
________________________________________
Gw bikin repiu itu cepet kok fred, secara gw nulisnya dalam keadaan bersemangat abis baca novelnya heuheu..
Kalo menurut lu, Ledgard ama TFH bagusan mana?
Kalo kudu dikasi nilai dari skala 1-10, ledgard brp TFH brp? [biggrin]
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 01:08:28 pm
________________________________________
Susaaah… :-\
Ledgard, meski banyak kelemahannya, buat gw ada keunggulannya pula. TFH juga gitu.
Kalau secara overall (seluruh aspek novel), kayaknya emang TFH nilainya lebih baik.
Tapi, secara aspek komersil (“menjual”), Ledgard yang menang.
Harus minta pendapat orang ketiga (om pur) nih. ;D
________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 01:15:12 pm
________________________________________
iyahhh setuju, kemasan Ledgard memang jauh lebih komersil daripada TFH, dan ini yg bikin gw sebel.
Kualitas harus selalu dikorbankan dan kalah dengan komersialitas (eh emang ada kata ini ).
Itulah kenapa hari gini sinetron indo kian menjamur, dan serial barat jadi makin sedikit tayang di indo :-\
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 01:21:47 pm
________________________________________
Kalau gw boleh menduga-duga (ya boleh lah!), TFH belum dapat penerbit karena sisi komersialitasnya itu.
Buat para penerbit, ada sesuatu di TFH yang membuat novel itu gak bakalan laku kalau dilempar ke pasar.
Apaan tuh?
Kalau komen gw ke villam sih, itu dari segi plotnya. Plot TFH terlalu lurus dan kurang intrik.
Kalau villam berani ngasih twist sedikit aja (khususnya di bagian2 ending), pasti nilainya langsung berubah. [bigwink]
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 19, 2008, 01:47:29 pm
________________________________________
heheheh…
akhirnya lengkap juga tiga orang dah ngasih repiew TFH. (sebenarnya ada satu orang lagi nih yang udah dikasih draftnya: si serpentwitch. Sayang dia dah gak pernah nongol lagi .
dan ada juga satu orang lagi sebenarnya…
but eniwei, om pur, fred, dan rey, thank you very much!
gue udah catet semua masukan-masukannya. ide-ide baru udah menari-nari di kepala, dan dalam waktu dekat bakal gue mulai proses revisi berikutnya. bakal ada penambahan dan perubahan muatan sebanyak kira2 20%.
seperti usulan fred contohnya, gue emang mau kasih beberapa twist tambahan di tengah dan terutama akhir cerita. ada subplot yang rencananya baru kebuka di buku selanjutnya, tapi memang lebih baik dibuka lebih cepat di buku pertama. ini emang bener2 kesalahan gue, yang kurang memberikan teaser yang sebenarnya sudah ada tapi belon digali.
masih belon yakin sih apakah itu berarti ceritanya bisa jadi lebih ‘menjual’ sesuai dengan selera penerbit atau kebanyakan pembaca (ini bener-bener ukuran yang sangat sangat sangat sulit bagi gue, secara selera gue emang banyak bedanya dibanding mereka), tapi paling gak gue berusaha agar ceritanya jadi kelihatan lebih baik.
sebenernya selain beberapa kelemahan itu, ada satu hal sih, yang terutama bikin penerbit ketakutan. yaitu panjang cerita, dan karena ceritanya adalah bagian dari cerita panjang yang belon selesai. Coba bayangin aja, jika penerbit harus memilih dua cerita: satu pendek dan satu panjang, tentunya dia merasa lebih aman buat nerbitin cerita yang
pendek. apalgi kalo penulisnya masih pemula dan belon dikenal.
dan rey, ente nanyain kalo di word pake times new roman 12 spasi 1,5. karena total ada 100 rebu kata, dan biasanya satu halaman ada 250 kata, ya berarti total ada 400 halaman.
terus terang dengan tampilan tebal dan gahar macam gini, para penimbang naskah juga pasti takut buat mulai baca. makanya kepikir juga, ntar gue mau kirim keluar dari format pakem, misalnya kirim dengan format A5 (separo A4) dengan huruf yang lebih enak dibaca, dengan spasi lebih rapat, dan bolak-balik. jadinya tebelnya 400 halaman juga, tapi bolak balik.
ntar di cover depan ditulis: Go Green. biar kesannya kita lagi ngehemat kertas (halah…).
tapi emang gitu kok kenyataannya: lebih hemat kertas, cuma 100 lembar dibanding 400 lembar. hahaha… buat ngetes…
yeah, intinya… buat terus ngebakar semangat agar tidak padam.
yuk terus menulis.
salam pedang!
(buset. gue mesti siapin bahasa elniri buat istilah ini!)
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 02:10:22 pm
________________________________________
Tentang tebel naskah, kalau villam emang yakin TFH punya “sesuatu yang lain”, rasanya 400 hlm masih bisa dimaklumi deh sama penerbit. (*sotoy mode: on*)
“Sesuatu yang lain” inilah yang harus digali dan ditonjolkan jelas2, biar para penerbit itu bisa langsung ngeliat.
Eniwei, selamat merevisi ria! [thumbsup]
________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm
________________________________________
Plot TFH yg berkesan lurus tanpa intrik buat gw gak ada masalah, dan bukan kekurangan. Waktu tauk gaya kolosal TFH, terus terang aja gw jadi inget The Hobbit, salah satu buku fantasi yg berplot lurus dan mirip-mirip plot TFH. Tapi tunggu… kita liat juga plot buku pertama LOTR, bisa dibilang gak ada intrik juga kan? Plot twist-nya ada dimana
coba? Pengkhianatan Boromir? Penyergapan Orc? Gak ada kali ye, tapi cukup enjoyable plotnya buat gw tuh [biggrin]
Ledgard emang sarat intrik, tapi buat gw intrik-intriknya gak napsuin, somehow Gw lebih suka model plot ‘ngalir’ kayak TFH ginih buat fantasi mah. Well kalo mau bikin intrik, idealnya jangan setengah-setengah memang, ini yg susah gw penuhin di novel fantasi gw sendiri pun. TFH membuka mata gw kalo novel tanpa intrik pun bisa jadi
memikat.
Kalo menurut gw kenapa penerbit takut buku ini gak laku, itu yg pertama dan terutama karena ketebalannya. Ledgard bisa terbit karena dia beruntung dikirim beberapa tahun lalu, waktu naskah fantasi belum terlalu familir di mata penerbit lokal, jadi bisa dianggap cukup langka, dan udah gitu isinya gak jelek-jelek amat pulak. Kalo sekarang mah,
nanti dulu deh [biggrin]
Kedua, setting & naming yg gak user friendly/kurang ‘universal’. Buat gw sih, Anthravai, Elniri, Hadjuk, Hotas, itu nama-nama keren yang amat orisinil. Tapi buat orang laen? Bisa jadi aneh, terlalu ajaib dan gak enak dibaca.
Ketiga, penempatan dunia pihak antagonis di awal-awal buku yg dijabarkan terlalu ‘biadab’ dan prolog yang kurang menjual. Nah buat penulisnya, supaya lebih aman, kayaknya ada baiknya adegan Fabian dimajukan di bab 1, dan bagian Anthravai baru digeser ke belakangnya. Bah tapi kayaknya timeline-nya tak memungkinkan yak.
Quote
dan rey, ente nanyain kalo di word pake times new roman 12 spasi 1,5. karena total ada 100 rebu kata, dan biasanya satu halaman ada 250 kata, ya berarti total ada 400 halaman.
ga bisa diukur gitu juga ah, kata ‘di’ dan kata ‘dipertanggung-jawabkannya’ sama-sama terhitung 1 kata, tapi bobotnya
beda bangedd
Quote
terus terang dengan tampilan tebal dan gahar macam gini, para penimbang naskah juga pasti takut buat mulai baca. makanya kepikir juga, ntar gue mau kirim keluar dari format pakem, misalnya kirim dengan format A5 (separo A4) dengan huruf yang lebih enak dibaca, dengan spasi lebih rapat, dan bolak-balik. jadinya tebelnya 400 halaman juga, tapi bolak balik.
jangan dah, kalo lu emang niat menerbitkan TFH via penerbit, mending lu cari nama dulu via Gerbang Sungai Tigris/Batu Delima Terakhir, gw liat dua naskah itu cenderung lebih ‘aman’ dan gampang buat masuk ke penerbit. Nah nanti kalo misal dua judul itu laku, naskah mau setebel apapun macam TFH, penerbit udah gak bakal ragu lagi buat nge-publish.
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: clickdian on August 19, 2008, 03:50:47 pm
________________________________________
#Mas Pur,
Thank you so much buat review Zaurinya!! m-_-m
Udah kubaca bbrp hari yg lalu, tapi belum kukomen, gak sempet.. kerjaan kantor lagi numpuk, maaf ya.. [biggrin]
sekalian ntar sama pertanyaan fred dulu deh.
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 19, 2008, 05:22:41 pm
________________________________________
betul, fred. dan ‘sesuatu yang lain’ itu kudu dimunculin di bab-bab awal, dipelihara di tengah, dan diselesaikan di akhir. oke deh!
Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm
penempatan dunia pihak antagonis di awal-awal buku yg dijabarkan terlalu ‘biadab’ dan prolog yang kurang menjual. Nah buat penulisnya, supaya lebih aman, kayaknya ada baiknya adegan Fabian dimajukan di bab 1, dan bagian Anthravai baru digeser ke belakangnya. Bah tapi kayaknya timeline-nya tak memungkinkan yak.
huh. gue pikir yang versi sekarang ini udah berkurang ‘barbarik’nya dibanding yang gue kirim setahun yang lalu. ternyata masih tetep terasa biadab yak? hahahah…
tapi betul, pertimbangan utama gue tetep bertahan dengan alur begitu adalah timelinenya. gue gak mau banyak-banyak bikin adegan flashback. lebih menyenangkan alur maju. konsekuensinya harus ada trik supaya bab
awal sekarang bisa lebih menarik. hmm…
Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm
kalo lu emang niat menerbitkan TFH via penerbit, mending lu cari nama dulu via Gerbang Sungai Tigris/Batu Delima Terakhir, gw liat dua naskah itu cenderung lebih ‘aman’ dan gampang buat masuk ke penerbit. Nah nanti kalo misal dua judul itu laku, naskah mau setebel apapun macam TFH, penerbit udah gak bakal ragu lagi buat nge-publish.
betul. cobain nembus lewat cerita laen dulu. tapi revisi TFH juga tetep jalan, sebelum ide-idenya menghilang.
hmm… begitu banyak ide, begitu sedikit waktu buat menulis. hehe…
________________________________________
Post by: Amru_Yozar on August 19, 2008, 07:08:31 pm
________________________________________
@ juunishi master, piethitam & Fr3d
Hm.. mungkin kita harus menyepakati dulu apa yang dimaksud dengan cerita *fantasy*. Memang dalam wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Fantasy) disebutkan bahwa:
/Fantasy is a genre that uses magic and other supernatural forms as a primary element of plot, theme, and/or setting. Fantasy is generally distinguished from science fiction and horror by the expectation that it steers clear of technological and macabre themes, respectively, though there is a great deal of overlap between the three (collectively known as speculative fiction).
/yang artinya:
/Cerita fantasi adalah genre yang menggunakan sihir dan bentuk supernatural lain sebagai elemen utama plot, tema, dan/atau setting. Fantasi secara umum dibedakan dengan sains fiksi, dan horor yang secara jelas mengetengahkan tema teknologi, dan menakutkan. Meskipun begitu terdapat tumpang tindih diantara ketiganya (secara seluruhnya disebut sebagai fiksi spekulatif)
/
Berdasarkan pengertian di atas, gwe rasa, cerita fantasi nggak harus secara penuh mengandung unsur sihir, tapi bisa bentuk kekuatan supernatural lain. Selain itu unsur fantasi nggak harus ada di plot, tema, serta setting secara kesuluruhan, tapi pada elemen tertentu saja.
Kalo Juunishi nganggep kemampuan Elektra nyetrum orang agak mirip ama fenomena manusia magnet yg bisa bkn sendok dll nempel di badannya sih boleh-boleh aja. Tapi apa semua orang bisa ngelakuin hal itu? Enggak kan? Jadi baik kemampuan/abilty nyetrum orang atau nempelin logam ke badan, menurut gwe adalah salah satu bentuk kekutan supernatural, gak harus sihir doang.
Kemudian, apabila apa yang kita rencanakan, tulis, atau impikan terjadi di dunia nyata, gw rasa itu bukan “kebetulan” tapi “takdir”. Dan “takdir” atau seolah-olah “kebetulan” itu seringkali menjadi elemen penting dalam cerita fantasy. Di HEROES, satu karakter dengan karakter lainnya bertemu dan saling terkait karena mereka di-”takdir”-kan oleh
sang penulis, sebagai Tuhan dalam cerita, untuk begitu.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: bjvadis on August 19, 2008, 08:36:22 pm
________________________________________
review untuk the forgotten heroes (tfh): jangan sampai ini menjadi ‘the forgotten novel’ seperti nasib novel2 fantasi indonesia di rak2 toko buku gramedia… sebel juga waktu nggak dapat zauri pas mau beli. Sang penandaipun sudah menghilang (untung sudah beli pas setelah launching). kebagian cardan tapi kehabisan enthirea.
soal naskah:
contoh: naskah fireheart buku 1 yang diketik pakai times new roman uk.12, 1 1/2 spasi dan kertas a4 jadinya 303 halaman (bhs indonesia).
soal naming:
dalam beberapa hal justru g pernah dikritik oleh para kritikus maniak fantasi dari amrik karena pakai nama-nama yang terlalu ‘umum’ macam robert, carolyn, christopher dsb. tapi perlu diinget juga walaupun bikin nama2 yang unik, harus konsisten sesuai dengan wilayah negara yang dimaksud, jadi berikan ‘karakter’ bagi negara2 tersebut lewat nama-nama
orang di sana. kalau fireheart saya memang jiplakan dari benua eropa di dimensi berbeda, jadi nggak heran kalau yang dari escudia (spanyol) nama2nya hernan y parvaez, arcadia (perancis) carolyn deveraux atau talbot dubois, valanis (italia) pakai andreas marvellini, parthenia (yunani) pakai eidos crydias atau nikanomikos paliades etc.
soal jalan cerita:
dari prolognya nggak jauh beda dengan cerita-cerita fantasi yang diposting di kemudian.com lainnya. mungkin kalau mau saya review lebih detail bisa kirimkan sinopsis (rancangan cerita) dari awal sampai akhir supaya saya dapat gambaran lebih jelas. biasa, di andrychang-at-gmail-dot-com
kesimpulan:
just go on, rd! pe-de aja, kirimkan segera naskah kamu ke penerbit kalau memang sudah selesai 1 buku. gak usah terlalu tanya kiri-kanan, toh nantinya juga pada akhirnya editorlah yang akan menilai (dari sudut komersialnya). nanti kan kalau sudah terbit yang saya baca tinggal yang matengnya aja. membanggakan juga kalau ada 1-2 orang lagi ‘alumni’ dari kemudian.com dan pulau penulis yang karyanya diterbitkan. just go on and – seperti kata naruto – never give up, that’s my way of the ninja!
________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 11:28:13 pm
________________________________________
Quote
betul, fred. dan ‘sesuatu yang lain’ itu kudu dimunculin di bab-bab awal, dipelihara di tengah, dan diselesaikan di akhir. oke deh!
hmmmm ‘sesuatu yang lain’ di lemures gw apa yah? Palingan gaya bahasa mautnya ;D
Quote
huh. gue pikir yang versi sekarang ini udah berkurang ‘barbarik’nya dibanding yang gue kirim setahun yang lalu. ternyata masih tetep terasa biadab yak? hahahah…
Yang sekarang sih emang udah rada mendingan daripada yg dulu. Tapi tetap aja bagian awal-awalnya itu bakal jadi ‘anti-tema’ buat psikologi orang indo kebanyakan, apalagi di mata penerbit. Penerbit itu biasanya gak sabaran, baru baca beberapa bab awal, udah langsung mengecap keseluruhan novel itu kayak gimana. Gw kira penerbit yg dulu nerima kiriman TFH Cuma baca beberapa bab awal TFH aja (taroan deh, pasti gak bakalan ada yg baca ampe tamat), dan langsung ngecap isinya murni tentang gerakan invasi bangsa barbar dengan penggambaran yg barbar pulak, begitu terus sampe tamat.
Padahal TFH kan gak gitu, dan ternyata kehidupan biadab itu cuma terjadi di pihak antagonis. Terkait materi novel, gw kira setiap penerbit punya alarm warning yang jauh lebih sensitif daripada alarm para penulis: dan warning ini biasanya mencakup tema-tema tabu semacam SARA, politik, kekerasan, sampe seks. Di TFH, alarmnya berbunyi nyaring pas Anthravai sebagai tokoh sentral (sejauh cerita bergulir) ngebelah kepala Yergai ;D
Quote
hmm… begitu banyak ide, begitu sedikit waktu buat menulis. hehe…
Gw bener-bener sirik dengan orang-orang yg kepalanya selalu dipenuhi berbagai ide, secara gw ini penulis yg miskin ide! Payah dah, padahal gw rajin baca novel, baca artikel wikipedia, nyimak berita di TV/koran, knp masih mentok ide?
Itulah kenapa revisi gw gak kelar-kelar, sekalipun udah dibantu om pur, sejauh ini baru 10% yang tergarap, ini menyedihkan sekali dan benar-benar nohope
Quote
Cerita fantasi adalah genre yang menggunakan sihir dan bentuk supernatural lain sebagai elemen utama plot, tema, dan/atau setting. Fantasi secara umum dibedakan dengan sains fiksi, dan horor yang secara jelas mengetengahkan tema teknologi, dan menakutkan. Meskipun begitu terdapat tumpang tindih diantara ketiganya (secara seluruhnya disebut sebagai fiksi spekulatif)
Astaga, kalo gitu berarti Lemures gw sama sekali bukan fantasi 
Soalnya gw gak ada sedikitpun pake magic, dan elemen supernatural lainnya dalam plot/tema/settingnya. Lha kalo gitu kenapa gw ada di sini? Kenapa gw bisa jadi TS untuk thread penulis fantasi?
________________________________________
Post by: clickdian on August 20, 2008, 09:35:44 am
________________________________________
To: Villam
Kalo kasusnya kayak begini, tiap kirim ke penerbit, lampirkan rangkuman cerita keseluruhan dari sudut pandang penulis. Kasih tau kalo tokoh utamanya bukan si A, tapi si B. Review juga aspek2 lain selain battle, misalnya romans, ato (kalo ada) filosofinya. Everything, lah! Tapi bukan sinopsis singkat ya, bener2 rangkuman kayak dulu jaman kita
sekolah dulu disuruh guru Bahasa Indonesia baca novel dan bikin rangkumannya. Ini sebagai tindakan jaga2 kalo editor keburu males baca bab2 awal dan berniat ngelempar ke tong sampah, ada sisipan yg menceritakan isi keseluruhan novel. Siapa tau aja dia jadi berubah pikiran. ;D
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 20, 2008, 10:26:08 am
________________________________________
Definisi yg lebih workable untuk fantasy adalah: penggunaan setting alternatif (alias bukan setting yang kita hidupi sehari-hari ini) untuk mendeliver cerita. Istilah kerennya, alternate reality.
Kenapa alternate reality ini menjadi suatu daya tarik? Karena kita selalu punya keinginan untuk ‘hidup’ dalam kehidupan yang berbeda dengan yg kita jalani sekarang ini. Dan setting Fantasy membuat keberbedaan itu
menjadi lebih kuat/ nyata/ kontras.
Pada alternate reality, menjadi sebuah spekulasi yang ‘menggairahkan’ untuk tahu bagaimana manusia bertindak, bagaimana bereaksi terhadap situasi-situasi unik. Misalnya aku bayangin diri menjadi Bima (nya Mak-mak), apa reaksiku jika tiba-tiba saja Malioboro menjadi ‘senyap’? Woow, gile banget konsepnya etc-etc. 
Jadi bukan sihir atau teknologinya yang ‘matters’, melainkan bagaimana
‘alternate reality’ itu kemudian mendrive cerita.
So, dalam setiap novel fantasy, setting alternate reality itulah yang menjadi panggung utama. Dan tentunya yg namanya panggung ya harus kuat dan kokoh. Kalo ringkih, baru buat goyang ngebor sekali aja langsung roboh.
Kita sering banget kejebak pemahaman yg salah kaprah tentang Fantasy (atau Sci-Fi), bahwa sebuah karya sudah dikatakan Fantasy kalau mengandung elemen yg ‘khayal’i.
Jadi kalo masih memakai setting kehidupan yang here and now, sebuah novel hardly dikatakan sebagai Fantasy sekalipun mengandung seorang tokoh yg mampu ‘menyihir’, misalnya. Karena belum tentu kemampuan sihir
itu menjadi setting, bisa-bisa aja cuma tempelan sebab sang penyihir ternyata (masih) bereaksi sebagaimana orang-orang kebanyakan, dan cerita mengalir dengan interaksi antar tokoh sebagaimana kehidupan sehari-hari kita aja.
Juga kalo alternate realitynya masih ngga terlalu jauh dengan kehidupan nyata (masih memungkinkan terjadi di dunia nyata), maka nilai fantasy-nya menjadi turun. Sebagai contoh novel lanang, (bukan mo ngajak berantem orang tapi mumpung bagus dijadikan contoh aja ). Adanya burung babi hutan, menghadirkan elemen fantasy (soalnya gak mungkin ada binatang kayak gitu). Tapi setting rekayasa genetik yang menimbulkan penyakit sapi, atau setting karakter para tokoh yang ga hitam putih bahkan psikopat, pengembangan konflik dalam cerita, semuanya masih bisa
terjadi di dunia nyata, sehingga dalam hal itu novel ini tidak tergolong cerita fantasy. Nah, kita bisa lihat bahwa dalam kondisi ini, keberadaan satu elemen fantasy tidak membuat novel tersebut menjadi Fantasy.
Nah menurut gue sih, Lemures termasuk dalam Fantasy karena mengandung setting alternatif yg bukan di setting kita sekarang ini. Kenapa PG gak gue anggap fantasy, sebab PG berlangsung dalam setting kita sekarang, walaupun ada sedikit-sedikit bagian yang menyentuh alternate reality, tapi gak dominan.
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: MakMak on August 20, 2008, 11:30:05 am
________________________________________
sedikit komen tentang yang ini.
mungkin dengan adanya burung babi hutan, Lanang bisa dimasukkan kedalam
genre fantasy, tapi fantasi ngawur, asal-asalan n tidak logis.
kenapa? karena untuk dapat terbang, selain membutuhkan sayap yang lebar,
bentuk fisiologi mahluk itu harus segitiga dengan bagian runcing didepan
(entah sudut yang mana terserah, pokoknya bukan bagian sisi). fungsinya
adalah untuk membelah udara. pada burung yang berfugsi demikian adalah
paruhnya, sedangkan pada pesawat, adalah hidungnya. memangnya moncong
babi hutan bisa membelah udara? lha wong bentuk tubuhnya bundar bukan
segitiga.
trus ekor, ekor disini harus lebar karena digunakan untuk mengatur
tekanan udara diatas tubuh dan dibawah tubuh, sehingga bisa membuat
burung atau pesawat menambah atau menurunkan ketinggian. ekor ikal babi
hutan bisa begitu?
anehkan? jelas aneh! mungkin si pengarang tidak tahu teori-teori yang
berhubungan dengan terbang.
________________________________________
Post by: fr3d on August 20, 2008, 11:59:38 am
________________________________________
Tambahan lagi, secara biologis burung juga punya kantong udara.
Rupanya makmak juga udah keseret dalam arus lanang-melanang… ;D
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 20, 2008, 01:06:25 pm
________________________________________
@amru,
ane kirim draftnya via email, bos…
@vadis,
tentang novel2 fantasi indonesia yang menghilang, itu bukan karena habis, tapi sudah lewat masa tayangnya di toko buku. gue yakin masih ada tuh stoknya di penerbit (yang memang menganaktirikan buku2 fantasi lokal dan malas mempromosikannya lagi).
tentang TFH, setelah melewati masa perenungan (halah), penting bagi gue untuk tanya kiri kanan dan gak sekedar maen kirim doang. Alhamdulillah kalo ternyata bisa langsung terbit memang, tetapi hanya sekedar ‘diterbitkan’ bukanlah tujuan utama gue. gue pengen itu bisa jadi karya yang baik dengan tetap berciri gue (ini penting buat gue), dihargai banyak orang walau mungkin tidak semuanya suka, juga tidak sekedar memenuhi selera ‘layak jual’ dari sang
editor/penerbit sesaat. terlalu idealis? untuk TFH, iya. tapi kalo untuk cerita2 gue yang lain, gue bakal lebih fleksibel.
@rey n dian,
gue dulu udah bikinin juga kok sinopsis buku dan sinopsis per bab. Tapi memang, kudu belajar lagi buat bikin itu supaya jadi lebih menarik. mesti ditambahin gambar-gambar juga kayaknya. hahahah…
@all,
kalo boleh ada kuda terbang semacam pegasus (yang gendut dan gak punya kantong terbang pulak), kenapa tidak boleh ada babi terbang?
jawabannya mungkin ada di setting cerita. apakah sang penulis bisa membuat percaya pembaca atau tidak, terserah apakah melalui setting negeri dongeng, setting teknis-teknis science fiction, atau setting dunia alternatif yang surealis.
(aku gak ikutan lanang-melanang karena aku gak nyebut-nyebut la–ups!)
________________________________________
Post by: MakMak on August 20, 2008, 01:24:26 pm
________________________________________
pegasus, Sphinx, naga versi asia timur sebenarnya adalah mahluk yang secara fisiologi tidak mungkin bisa terbang. masalahnya, mahluk-mahluk itu sudah terlanjur melegenda, jadi apa mau dikata? mau protes juga kepada siapa?
sedangkan burung babi hutan itu sepertinya kreasi original. dengan ilmu kedokteran hewan dan ilmu penerbangan yang sudah semaju ini, masak ga bisa bikin mahluk fantasi yang lebih logis? ingat setting Lanang adalah di Bumi, bukan alternate universe jadi paling enggak harus sedikit mengikuti rules dan hukum-hukum alam yang ada di bumi (kalau mau dibuat melenceng, harus disertai penjelasan khusus). kalo setting-nya di alternate universe, mau bikin mahluk yang seperti apa saja silahkan.
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 20, 2008, 01:44:59 pm
________________________________________
lha justru itu kita gak akan protes (walaupun gak dilarang juga buat protes) karena di belakang makhluk2 ajaib itu ada setting legenda yang telah dibangun dengan sedemikian rupa, dan bukan hanya mereka makhluk2 aneh di dalam legenda tersebut. yang bikin pembaca atau masyarakat jadi percaya betapapun anehnya itu.
6 Comments »
[tab:Hal 1]Sesi XXVIII (31 Jul 2008 – 10 Ags 2008)
• Tentang Pendekar Garuda karya FA Purawan
• Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh fr3d
• Tentang situs kastilfantasi.wordpress.com
• Ceritafantasi kita berakar dari mana?
• Lagi, tentang novel Cardan
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: *fr3d* on *July 31, 2008, 04:33:15 pm*
________________________________________
Villam si Raja Perang ke mana ya? Gak keliatan? Sibuk menyusun strategi untuk ekspansi wilayah? ???
TFH: Q & K akhirnya selesai dibaca juga nih…
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 31, 2008, 05:09:31 pm
________________________________________
yow, fred, i’m here…
eh betul tuh, gue emang sedang berekspansi ke suatu wilayah tertentu. serius! hehehe…
gue yakin (mudah-mudahan) ini bisa jadi suatu yang berguna pula buat tret FFDN ini, dan semoga begitu pula buat komunitas penulis fantasi indonesia secara keseluruhan.
cuma langkah kecil sih, tapi barangkali bisa jadi awal.
tunggu saja tanggal mainnya. [bigwink]
________________________________________
Post by: clickdian on July 31, 2008, 05:15:09 pm
________________________________________
Raja Perang dan Sang Peramal? ???
Terus aq ngambil peran sebagai apa? dayang2? ;D
hehehe.. iyalah, mending ngikut ajah. biar gak pusing mikir ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 08:39:07 am
________________________________________
Hmm… mencurigakan…
[gossip]
________________________________________
Post by: BloodSin on August 01, 2008, 09:47:59 am
________________________________________
@om Pur
Bos, ini sekedar kritik & masukan tambahan dari ane buat PG ente, gara-gara ngeliat ‘fenomena’ orang-orang yg pada gak tamat baca PG ente cuma dengan bermodalkan alasan: “bukan tipe/selera bacaan gw” lha, “terlalu islami” lha, “settingnya terlalu ngindonesia” lha,
Bahkan sebelum beres baca bab pertama-kedua.
(Eh ini bukannya gara-gara mau bales dendam terhadap komen ente atas gaya bahasa Lemures ane yakkk, sama sekali gak ada maksud ke arah situ )
Kemaren sempet buka-buka PG lagi yg formatnya .LIT, ingin menyelami gaya bahasa ideal seorang FA Pur, dan emang yg kutemukan, adalah gaya bahasa yang 180 derajat berlawanan dengan Lanang/prolog Lemures: jauh dari
kesan pretensius, dan benar-benar ‘jujur sejujurnya’ ala bocah ngomong blak-blakan.
Well.. dulu ane sempet bilang gaya bahasa PG yang ala teenlit itu emang sama sekali bukan seleraku (karena tipe gaya bahasaku sendiri aja udah ‘sok nyastra’ dan formal abiss), tapi setelah kulihat-lihat ke depannya, ternyata si Serpent yg gaya bahasa ceritanya standar pun (cenderung non-pretensius) juga gak tamat baca. Jadi kurasa, ini bukan lagi
persoalan selera pembaca, tapi udah masuk ke masalah teknis.
Ah, menurutku cuma mengada-ada kalo ada pembaca yang menjadikan setting Islami/Indonesia sebagai alasan utama buat berhenti baca PG, karena sebetulnya, setting ‘lokal’nya itu masih dalam taraf yg wajar—belum sampai pada taraf dakwah/propaganda untuk mengajak memeluk Islam/menjatuhkan agama-agama lain seperti novel ‘religi’ pada umumnya. Lagipula toh tetap ada juga pembaca Muslim yg gak beres baca PG, kan?
Menurutku kelemahan yg paling fatal di PG justru terletak pada gaya bahasa (mencakup narasi, deskripsi, sampe dialog) yang terlalu blak-blakan, terlalu jujur, polos nian apa adanya (khususnya bab awal-awalnya yang mestinya bisa dibuat se-memikat/se-elegan mungkin). Apalagi kalo sasarannya buat dewasa muda ke atas, jatuh-jatuhnya bakalan
serasa baca novel teenlit betulan. Kalo sasarannya ABG pun, jelas salah strategi dengan menempatkan setting Jaka yang bertone serius sebagai prolog.
Kalo si fred bilang gaya bahasa ‘pretensius’ boleh diibaratkan sebagai air gula yang dikasih sirup, maka ane mau ngasih analogi gaya bahasa blak-blakan PG itu kayak sepiring nasi putih polos tanpa sedikitpun bumbu/lauk pauk (ehmm, metaforanya kurang pas nih ). Gak bisa juga sih dibilang ‘hambar/steril’, karena emang ada beberapa paragraf/dialog PG yg emosinya kentara dapet/atau malah cenderung ‘keasinan’, hueheheh.
Tapi sebagai pembaca, ane sebetulnya mengharapkan penulis (apalagi yg udah sekaliber ente!) bisa menyusupkan sedikit-banyak teknik-tekniknya dalam bertutur kata di dalam karyanya, metafora-metafora yang manis, gaya bahasa yang sejatinya cocok ditujukan buat dewasa muda. (gaya bahasa Forever Wicked-nya ewing pas tuh buat pembanding idealnya, karena sama-sama bersetting jakarta dan bahkan sama-sama bertema ngelawan iblis!–dengan eliminasi kata-kata vulgar/kasar kalo ente gak berkenan)
Kenapa ane bisa enjoy/’dapet’ (bahkan sampe taraf ‘menantikan!’) baca review-review, postingan-postingan ente, sementara ketika baca PG cenderung tak menikmati? Ane juga tersalut-salut waktu baca deskripsi ‘iseng’ ente buat Fulberr di tret GM lho, dan sebetulnya kagum juga dengan sekian banyak teknik penulisan yg ente share di thread-thread cerita Pulpen.
Kurasa, orang yang terbiasa baca tulisan ente di review/postingan ente di Pulpen, pasti bakalan shock ketika baca PG, karena ‘keluguan’ gaya bahasanya malah gak menggambarkan kualitas seorang FA Pur yang sebenarnya.
Yahh, pokoknya sekarang you get what my point is, semoga bisa membantu ente dalam merevisi PG deh. Yo kita sama-sama saling ngebantu. ^-^
note: oh yep, ini komen ketiga ane buat PG ente yak, kalo mau bakal
kupost nih ke milisnya berturut-turut dari komen pertama, gimana?
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on August 01, 2008, 01:38:44 pm
________________________________________
@Rey,
Boleh-boleh, kayaknya masukan yang terakhir ini sangat bergizi, untuk gue pelajari sungguh-sungguh. Jujur aja, gue udah coba merubah beberapa adegan dalam revisi gue yg baru ini, dengan gaya bahasa yang sudah agak beda (iya lah, ada selang beberapa tahun,…). Tapi gue rasa masih akan ada kepolosan yang melekat di situ, secara gak bisa dipungkiri bahwa material dasarnya adalah karya cipta seorang anak yg baru lulus SMA ;D .
Coba gue liat lagi dah.
BTW revisian gue saat ini sudah menginjak Akhir Bagian 2
Untuk gaya bahasa yg lebih ‘dewasa’ gue punya dua rencana naskah:
Jakarta Paralel / JP (ini udah lama gue ciptakan tapi masih belum lanjut), itu lebih darksih dari PG. Dan satu lagi judul sementaranya “Mata Ketiga”, ini (maunya) lebih darkish lagi daripada JP
Gue juga punya naskah space novel lain: Hulka. Tapi bener-bener baru bab awal doang, belum ada passion untuk nerusin walaupun ide besarnya udah ada. Kapan2 gue posting di sini, kali ya? Sekalian biar diliatin apakah
gaya bahasanya berbeda ato gak dengan PG (harusnya sih beda [annoyed], ayo bertekad!)
Silakan boss, masukannya di posting aja dimilis! BTW di milis belum pernah ada diskusi panjang, siapa tahu bakal jadi trigger, tuh. he he he.
@Fred,
Silakan boss, bisa join di FAP_novels@yahoogroups.com komentarnya ditunggu banget.
downloadable pdf ada di halaman FILES, berikut passwordnya.
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm
________________________________________
Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak?
________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 05:05:26 pm
________________________________________
@villam,
komen buat TFH-nya hari senin aja ya! Baru selesai ngetik good news-nya doang, bad news-nya belum, hehehe… [biggrin]
Quote from: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm
Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak?
Belum. Bagusnya sih seseorang (baca: *clickdian*) beli dan membaca buku itu, terus review-nya di-posting ke forum.
;D ;D ;D
________________________________________
Post by: Amru_Yozar on August 01, 2008, 05:07:42 pm
________________________________________
Halo-halo,
Agen Amru di sini. Muup yah baru nongol skarang, maklum lagi mata2in Otoritas.
Repiu gath na keren Dian! Tapi sori Fr3d, gw belon bisa nerusin. Kalo gw yang nerusin malah jadi norak, hehe…
Oh ya teh Dian, gw udah beli tuh Nicholas Alchemist, tp blon sempet baca. Bakal 2 seri tuh kayakna.
@ Villam
Hm… mo bikin penerbitan y? Mau dong karya gw ikut diterbitin
________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 05:18:41 pm
________________________________________
Quote from: Amru_Yozar on August 01, 2008, 05:07:42 pm
@ Villam
Hm… mo bikin penerbitan y?
Hah?! Beneran?! 
[gossip]
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 02, 2008, 05:47:40 am
________________________________________
@Fred & Amru
Boleh aja gue kirim by email, tapi kalo pdf ukurannya gede, loh. Makanya gue bagi 3 files @ kira-kira 900kb.
Gue ada format LIT (Ms reader), satu novel lengkap hanya 600kb, tapi syaratnya ente kudu punya Microsoft Reader, terserah versi PC (buat baca di kompie) atau versi Pocket PC buat baca di PDA (Windows Mobile).
Kalo mo dikirim by email, gue akan kirim yg LIT.
Kalo mo download sendiri, join aja di milis. Gratis koq, dan alamat email kalian ga akan gue salah gunakan. Gue perlu milis buat menampung masukan-masukan pembaca. I’ll appreciate kalo temen-temen bisa bantu gue on that 
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: fr3d on August 04, 2008, 03:49:43 pm
________________________________________
Tentang TFH: Quazar & Ksatria, komennya udah di-PM langsung ke penulisnya, villam.
Berhubung karyanya belum terbit dan gw takut memberi spoiler, jadi gak di-posting ke tret ini…
(*menunduk-nunduk memohon maaf*) :-[
Intinya komen gw tentang TFH buku 1:
"Villam menunjukkan kebolehannya dalam bercerita di TFH: Q & K. Teknik story-telling-nya sangat apik dan ciamik. Namun, ternyata kelemahannya justru ada pada story-building. Kisah utama dan kisah2 pendukung di dalam novel ini rasanya terlalu hambar dan kurang menjual. Perlu ada penegasan dan "pewarnaan" untuk dapat menyempurnakan karya yang potensial ini."
...
...
Oops! 
*cepet2 kabur sebelum leher ditebas si Raja Perang!*
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 04, 2008, 05:52:47 pm
________________________________________
friends,
daku belon sekaya itu untuk bikin sebuah penerbitan. [biggrin]
tapi jujur, itu memang sebuah pilihan hidup yang menarik nanti. Bikin sebuah penerbitan khusus fiksi fantasi, termasuk juga majalah khusus fiksi fantasi. sapa tau juga bisa bikin penghargaan khusus fiksi fantasi
indonesia. [biggrin]
amin…
anggap aja ini doa.
yang gua bikin sebenarnya baru sebatas ini:
http://kastilfantasi.wordpress.com/hall-of-discussion/
silakan dilihat.
jadi, intinya, teman2 tau kan obrolan kita di forum ffdn 3 ini udah sampe skala mega?
nih gua kasih tau, kita udah ngobrol total sebanyak hampir 350 ribu kata. bayangin aja ndiri deh, ini udah seukuran tiga novel masing2 setebal 500 halaman.
nah gua udah coba pilah, mana yang relevan dengan tema penulisan fiksi fantasi, dan membuang sekitar 40% pembicaraan OOT.
mudah-mudahan ini bisa membantu kita menemukan lagi topik2 apa yang udah pernah kita bahas. Dan juga membantu memudahkan orang-orang lain di luar forum ini yang pengen baca-baca dan belajar dari ente-ente… 
oke sementara itu dulu, ntar gua tambahin.
thank you so much, fred, atas kritikannya!
ah… plot ya…
itu kesalahan yang… memang mestinya udah gue sadari dari awal, dan dengan keras kepalanya gue pertahankan…
hmm… tampaknya pendirian gue emang kudu berubah…
________________________________________
Post by: fr3d on August 05, 2008, 08:59:06 am
________________________________________
Well, kayaknya memang cuma villam deh yang bisa bikin beres2 model beginian! Great! [thumbsup]
________________________________________
Post by: fr3d on August 06, 2008, 08:41:07 am
________________________________________
Quote from: tangochenchen on August 05, 2008, 07:32:57 pm
kira-kira fiksi-fiksi fantasi yang sedang kita tulis berakar dari mana?
Kalau gw secara pribadi, menulis berdasarkan suatu tujuan atau maksud.
Karya gw adalah untuk menyampaikan sesuatu.
Akar budaya hanyalah fasilitas atau media yang gw manfaatkan untuk menyampaikan pesan/maksud gw itu.
Kalau ternyata apa yang ingin gw sampaikan akan lebih sesuai atau mudah dipahami dengan menggunakan akar budaya Barat, maka gw akan menggunakan budaya Barat sebagai setting cerita.
Sebaliknya, kalau lebih cocok menggunakan akar budaya Timur, maka gw akan menggunakan setting budaya Timur.
Gw sendiri gak akan men-”diskriminasi” karya2 yang gw hasilkan dengan dikotomi macam “Barat & Timur”.
Yang paling utama adalah tentang pesan yang harus tersampaikan dengan benar, di luar itu, semua hanyalah fasilitas.
Pokoknya, yang penting sebagai penulis, just write what you like, entah itu “Barat” atau “Timur”.
Kita gak akan menghasilkan sesuatu yang bagus dengan mencoba (dan memaksa) menjadi orang lain.
^-^
________________________________________
Post by: MakMak on August 06, 2008, 09:51:48 am
________________________________________
klo sy menulis karena mengikuti ego saja. ;D ;D
memang sering saya memasukkan politik saya kedalam cerita tersebut, namun tetap saja didominasi oleh ego. ketika sy ingin membuat dengan setting legenda barat, saya buat bersetting legenda barat, ingin berdasarkan legenda lokal, sy buat yang berdasarkan legenda lokal, mau bersetting jepang, sy buat yang seperti itu.
jd tidak ada keterikatan harus dari budaya mana, tetapi saya lebih cenderung ke sy maunya apa.
________________________________________
Post by: tangochenchen on August 06, 2008, 12:08:42 pm
________________________________________
ya [rolleyes] ya, memang setiap pengarang memiliki otoritas….(Pengarang adalah “tuhan” dalam karangannya)
tentu saja kita tidak bisa menyalahkan imajinasi, ide, ilham atau pun gagasan seseorang yang tertuang
dalam karyanya…
meski pun demikian kita sebagai pengarang memiliki “tanggungjawab” terhadap pembaca baik disadari atau tidak, secara langsung maupun tidak langsung, karangan tersebut pasti mempengaruhi alam pikiran pembacanya…
alangkah sayangnya apabila kita tidak bisa menggali khazanah yang berakar dalam kebudayaan kita sendiri,
menurut saya itulah yang membuat karya kita tidak sekadar sebagai “kacang yang laris dijual sesaat” tetapi
bertahan lama dan bisa menjadi sumber inspirasi di dunia, atau pun relevan sepanjang masa….bukankah seperti
tadi dikatakan pengarang memiliki maksud2 tertentu dalam mengarang ceritanya?
tentu saja saya dapat memahami kondisi semacam ini tidak muncul secara tiba-tiba. pengarang2 di Indonesia sebagian besar adalah hasil didikan kurikulum yang meminggirkan sastra dan sejarah: murid-murid SMP dan SMA kita pada umumnya tidak dilatih membaca buku sastra berbobot baik karya dalam negeri maupun dunia – baru-baru ini saja sastrawan seperti Taufik Ismail prihatin dan memberikan perhatian terhadap kelemahan pelajaran sastra kita.
bahkan Ujian Nasional bersifat sangat objektif. tidak ada ujian mengarang maupun soal-soal yang menuntut nalar dan argumentasi kita (misalnya soal-soal sejarah hanya pilihan ganda, tanpa ada soal2 esai).
di samping itu, pelajaran Sejarah kita terus menerus mendiskusikan sejarah politik terutama seputar revolusi kemerdekaan dan G30 S PKI, bahkan sampai di bangku kuliah, mahasiswa-mahasiswa sejarah lebih didorong untuk meneliti sejarah politik dan ekonomi Indonesia saja.
Kalau di Amerika, kita tidak heran kalau sejak di bangku SD pun mereka dilatih menganalisis novel pilihan,
dan belajar mengarang kreatif…He he…menyuruh murid-murid kita berimajinasi saja, yang terpikir adalah
apa yang baru saja mereka tonton dan bukan yang mereka baca…
Tetapi, di Malaysia negara tetangga kita saja, baik siswa SMA IPA, IPS maupun bahasa tetap mempelajari sastra, berlatih mengarang,dan mengerjakan soal-soal esai sejarah…
Saya terkejut ketika salah satu murid SMA dari sekolah swasta mahal mengatakan bahwa dia (mudah2an hanya dia saja) tidak tahu apa-apa tentang renaissance, reformasi Gereja, atau pun zaman pra-sejarah hanya karena menurutnya mungkin tidak dipelajari karena dia adalah murid IPA… Tentu saja saya tidak terkejut
kalau sampai kelas tiga pun nanti dia tidak bisa mengarang sebuah cerita sepanjang 180 kata, bahkan dengan sebuah panduan sekali pun.
Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 06, 2008, 12:59:16 pm
________________________________________
Quote from: tangochenchen on August 06, 2008, 12:08:42 pm
Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak
Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)
YES, bu Tango! Right on mark! (halah, remarks gue aja dalam bahasa Inggress,.. )
Gue sangat setuju dengan pemikiran bu Tango. Ketika kita cenderung memilih setting non-lokal, jangan salahkan pengarang. Tapi kenapa hal itu bisa terjadi. Dan apa yg dituturkan oleh bu Tango itu bener-bener sebuah fakta. Kita memang dididik dan terdidik untuk menjauh dari akar kita sendiri.
Dan khususnya Fantasy, kita memang berkiblat pada budaya non-lokal, dan itu juga tidak salah, secara yang tersedia dalam khasanah perbukuan memang ya hanya itu.
Okelah bu, silakan bermigrasi, tapi jangan lupa tetap bimbing anak-anaknya untuk mencintai budaya ibu pertiwi, ya bu,…. [thumbsup]
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on August 06, 2008, 02:32:04 pm
________________________________________
Jadi, yang salah sebenarnya sistem dong? (pendidikan, sosial/kemasyarakatan, politik, dsbnya?) ???
Kalau mengingat masa2 SMP/SMA, gw juga merasa prihatin, kenapa dulu pelajaran sejarah (khususnya Indonesia), tidak diajarkan dengan cara yang lebih interaktif.
Akhirnya pelajaran sejarah, yang adalah salah satu media pengakaran budaya yang sangat dominan, malah terasa sebagai topik yang kurang menarik, bahkan membebani. 
Apalagi yang sering ditanyakan ketika ujian adalah tahun A, tahun B, tahun C, dan tahun2 lainnya. Otak pun dirangsang untuk menghapal aja, bukan berimajinasi ([biggrin]).
Padahal gw sangat suka dengan pelajaran sejarah lho (tokoh sejarah indonesia favorit gw adalah Pangeran Diponegoro ^-^), dan pengetahuan2 sejarah “tambahan” memang akhirnya gw peroleh dengan mencari tau sendiri, bukan dari dalam kelas.
Jadi, gw memang setuju kalau terpinggirkannya budaya lokal sebenarnya adalah suatu proses, dan ini bukan sesuatu yang tak bisa dihindari.
Kalau tadi gw menulis bahwa penulis sebaiknya menuliskan apa yang mereka sukai, berarti yang mungkin harus diperhatikan adalah bagaimana caranya calon penulis di masa depan bisa menyukai khazanah budaya lokal sehingga
mereka tak akan berpikir dua kali untuk menggunakan budaya indonesia sebagai materi tulisan mereka.
Lalu kalau kita? Masih mungkinkah memutar arah?
Ya, memang mungkin2 aja.
Tapi kita pribadi harus memahami pula batas kemampuan kita sendiri dalammenulis.
Misalnya, betapa pun gw sangat menyukai tetralogi-nya Pram danmenghormati almarhum, gw gak sanggup menggunakan khazanah budaya lokal dalam karya tulis seperti apa yang telah beliau lakukan.
Kita bisa mencobanya memang (dan mungkin gw akan melakukannya suatu harinanti kalau ada kesempatan, ), tapi kalau kita tidak cermat, bisa-bisa karya kita cuma berakhir seperti novel Phoenix, yang memang memanfaatkan
khazanah budaya lokal, tapi alih-alih membanggakan, malah merusak citra budaya itu sendiri.
Bisakah kita menjamin hal semacam itu tak akan terulang lagi tatkala kita, sebagai penulis, selalu merasa karya kita adalah yang terbaik?
Gw lebih setuju dengan pendapat om pur dulu.
Karya fantasi di Indonesia umurnya masih sebiji jagung.
Ibarat anak-anak, kita masih belajar merangkak, dan cara belajar yang paling mudah adalah dengan meniru.
Jadi, kita harus bisa memahami kenapa hampir semua penulis fantasi yang ada sekarang selalu menggunakan template karya asing (berbudaya asing) untuk karya tulisnya.
Okelah memimpikan bahwa Indonesia nantinya akan dijamuri oleh buku2 fantasi tentang negeri kita sendiri.
Namun, kita tetap harus sadar dengan kemampuan kita sendiri.
Jangankan mencipta sesuatu yang orisinil dengan budaya milik bangsa kita sendiri, yang terinspirasi karya asing saja masih banyak yang gagal kualitasnya. 
Harapan semacam itu merupakan sebuah proses dan butuh waktu pula.
Dan gw mengatakan ini bukan semata-mata sebagai alasan untuk mengelak dari seorang penulis fantasi.
Well, gw pun berharap, mudah2an kita memang sedang berada di jalur yang benar.
Lalu tentang menghasilkan karya yang bisa menjadi sumber inspirasi dunia, rasanya tidak melulu hal itu harus terkait dengan setting atau sumber materi (budaya) yang kita ambil untuk karya kita.
Itu salah satu faktor, ya benar. Tapi ada hal lain pula yang bisa kita jual sebagai penulis, yaitu ide, dan ide bisa merupakan sesuatu yang universal (tidak terkait faktor budaya).
Begitu deh kira2… 
Omong2, bu tango, Anda bukan mama piyo kan?
Entah kenapa, kalau tau ada seorang ibu yang menulis fantasi, pasti kebayangnya langsung ke mama piyo. ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: blue_amaranthine on August 06, 2008, 05:20:23 pm
________________________________________
Buat Om Pur, makasih ya reviewnya, ngebangun banget. Sori baru bales (Udah berapa lama ya) soalnya sibuk bgt ngurusin penerimaan mahasiswa baru mana minggu depan OSPEK lagi (Thanks God, Akhirnya gw kterima di
FMIPA (Chemistry) ITB hehehe siap-siap bikin bom! [bomb] [bomb]
[bomb]). Thanks sudah dinobatkan sebagai The Best Fantasy in your list. [biggrin]
MOga-moga terbitan selanjutnya bisa diperbaiki. ampir 70% yang om pur rasain tentang penerbit n tetek bengek (perubahan Ms. jadi Mrs. juga g taw siapa yang ngerubah) ternyata sama n banyak bagian yang mesti gw perbaiki bwat cetakan kedua, kata penerbitnya sih bisa asal tidak prinsipil. (Masalah titik koma, nama, EYD yang bikin gw sukses SNMPTN, dll). Thank you! Thank you very much……!!! Ini hadiah terbaik bwat gw setelah tu buku terbit. Yang lain mau ikut kasih hadiah?
________________________________________
Post by: BloodSin on August 06, 2008, 09:49:22 pm
________________________________________
Quote
Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)
Wah keren, kali ini yang masuk tret dari kalangan ibu-ibu, welcome & selamat gabung ama kita-kita deh makcik tango [biggrin]
Kalo buat gw, harga mati dari sebuah novel itu ya faktor entertaining-nya (wujud ‘entertaining’ ini variatif mengikuti genre), yang syukur-syukur kalo disupport juga dengan riset dan wawasan pengarang untuk memperluas pengetahuan pembaca (secara novel berwujud ‘buku’!).
Pemilihan setting gak masalah mau darimana, asal pengarang bener-bener punya kapasitas buat menggarap setting itu.
Daripada novel fantasi dengan setting indo (laen kasusnya kalo ‘indo kuno’ macam PG om pur yg jelas penggarapan settingnya dibutuhkan usaha riset atau at least wawasan pengarang), gw jauuuh lebih appreciate kalo ada pengarang lokal yg punya kapasitas bikin novel bersetting barat/jepang/rekaan lengkap dengan kultur dan atributnya. Dan kalo gw bilang ‘berkapasitas’, itu harus mencakup semuanya, baik secara roh dan fisik setting, bukan setengah-setengah. Yang jadi masalah di kebanyakan novel lokal yg pake setting non-lokal, ya ‘setengah-setengahnya’ itu.
Biasanya settingnya barat kulturnya timur, gak konsisten.
Tentang kenapa selama ini novel lokal yg meledak itu selalu yg bersetting & berkultur lokal juga, mungkin karena emang belum ada penulis lokal yang bener-bener mumpuni buat menggarap setting non-lokal.
Quote
bisa-bisa karya kita cuma berakhir seperti novel Phoenix, yang memang memanfaatkan khazanah budaya lokal, tapi alih-alih membanggakan, malah merusak citra budaya itu sendiri.
Phoenix mah bukannya bersetting gado-gado? ???
btw merusak citra budaya lokalnya gimana sih fred? jadi penasaran gw [biggrin]
Emangnya mengajarkan kekerasan dan pornoaksi?
Quote
Tapi kenapa hal itu bisa terjadi.
Selain jawaban ‘kesalahan sistem’ yang disimpulkan si Fred, gw kira masih ada dua alternatif jawaban lain:
1. Selera
Untuk jawaban ini, silakan menyalahkan budaya video games, gempuran film hollywood & anime jepang, sampe manga & novel-novel barat yg masuk gramed. Judul-judul ngetop kayak LOTR, harpot, final fantasy, jelas mempengaruhi alam bawah sadar pengarang manapun yang pernah ‘mengkonsumsi’nya, dalam meng-create setting novelnya.
2. Akses
Ah jawaban ini datang dari opini om pur dulu waktu gw ngeluh betapa susahnya riset bikin novel sci fi. Well gw pribadi kenapa lebih prefer setting luar alih-alih lokal, karena emang gw non-pribumi, dan gw emang gak ada ‘akses’ sama sekali selain dari sinetron-sinetron silat indo, buku-buku lokal, dan perpustakaan nasional. Gw gak familiar dengan istilah-istilah, budaya dan tradisi lokal. Bahkan setiap kali gw ikut undangan orang kawin, nyaris gak ada yang pake kultur indo, all of them pake kultur barat/tionghoa semuah.
Toh terbukti sekalinya ada fantasi lokal yang pake setting lokal (baca: pinissi), ditulis sama mama piyo yang emang orang makassar aseli dan sering dapet dongeng lokal semasa kecil dari kakeknya… atau kira-kira begitulah.
Well emang gw jugak bukan keturunan bule makanya gw prefer setting barat, tapi kita semua tauk referensi kultur budaya barat jauh lebih bejibun dan gampang pengaksesannya.
Quote
Omong2, bu tango, Anda bukan mama piyo kan?
Entah kenapa, kalau tau ada seorang ibu yang menulis fantasi, pasti kebayangnya langsung ke mama piyo.
Tumben lu pinter fred [thumbsup]
Iya juga yah, tagnya ini: penulis fantasi, ‘seorang ibu’, dan dateng kesini bawa-bawa topik “setting lokal takluk di bawah pengaruh barat” secara Pinissi-nya itu bersetting lokal [biggrin]
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: cheppy70 on August 07, 2008, 07:53:38 am
________________________________________
Selamat pagi, semuanya 
Udah mulai baca Cardan, nih,….
Baru sampai halaman 7, dan alamak. Ini gaya penulisan paling ancur yang pernah gue baca!
Tunggu kelar, ye. Next for review.
Buat review, saat ini review Zauri lagi disusun.
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 07, 2008, 08:56:47 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on August 07, 2008, 08:33:30 am
Yap, buat gw sih Cardan kena penyakit bahasa no. 3, gaya bahasa absurd, berputar-putar, gak jelas banged >_<. Dimana indikasi dari gaya bahasa ini adalah, ketika pembaca membalik halaman, ia akan dengan serta merta
tersadar dari lamunannya, lantas berkata-kata tidak mengerti sambil menggaruk kepala, “Eh, udah balik halaman ya? Gw dari tadi baca apaan sih?”
Huahuahuahua (ini niru gaya ketawa siapa?) ;D ;D
Bener banged, tuh. Gue sempat ngebolak-balik halaman, karena kayaknya kalimat lanjutan dari halaman sebelumnya koq ga nyambung banged gitu,… 
Memang bakalan lama neh, kayaknya, untuk menyelesaikan buku ini :-\
________________________________________
Post by: ewingerwin on August 07, 2008, 09:18:15 am
________________________________________
Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu.
________________________________________
Post by: BloodSin on August 07, 2008, 09:22:51 am
________________________________________
Quote
Memang bakalan lama neh, kayaknya, untuk menyelesaikan buku ini
Semangaaaad bos! Ane aja bisa ngabisin, cuma sebulan-duabulanan doank.
[biggrin]
Nih buku cara kerjanya sama kek Ledgard kok, masuk ke setengah buku, entah kita yg udah adaptive ama gaya bahasanya atau emang gaya bahasanya jadi membaik, bakalan jadi cepet melaju bacanya, serius 
Endingnya? Ente pasti mencak-mencak laksana kuda ngamuk ;D
@Ewing,
Cardan emang fantasi lokal yg paling kueren kovernya, bukan ‘rada’ lagi dah kalo buat ukuran fantasi lokal mah
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 08, 2008, 10:02:29 am
________________________________________
Quote from: ewingerwin on August 07, 2008, 09:18:15 am
Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu.
@Ewing, ini kutipannya,… Sesuai kata Bloodsin, kalo cuma dikutip sepenggal mungkin nggak akan terlalu kelihatan ‘belangnya’. Harus dikutip agak panjang. Maka gue hadirkan aja prolognya sekalian di sini.
Cardan, hal. 1 – 2:
Langit malam ini sangat indah,…… dst
Di daratan ini terdapat sebuah kerajaan bernama Tolan,….
Namun, dibalik semua kelebihannya, Tolan sedang mengalami peperangan,…..
Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam
hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu. Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.
Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh
di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.
Ia kembali melihat kawannya terluka. Bagaimana Cardan sepertinya bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu, meskipun pangkatnya cukup tinggi ia masih
saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.
Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
—————————————————
Mendingan baca dulu dua-tiga kali, biar meresep. Baru abis itu baca ulasan gue di bawah ini.
Perhatikan, di atas itu lebih kurang adalah bagian prolognya, per paragraf. yg gue kasih tanda titik-titik, itu maksudnya masih ada terusan yg melengkapi paragraf tersebut sampai usai 1 paragraf. Isinya ga terlalu penting, yg penting pembukaannya.
Setelah 3 paragraf awal, gue kutipin lengkap untuk memberi gambaran mengenai kehancuran gaya penulisan yang gue maksud.
OK, sekarang kita akan mulai review kecil ini,… (nanti juga bakal gue masukin ke fikfanindo, kali).
Kalau rekan-rekan menganalisis tiga paragraf awal, tentu rekan-rekan bisa memperkirakan alur dari prolog, yaitu (1) suasana malam sebagai pembuka cerita (dan actually tuh paragraf ngomongin 3 bintang penting)
yg menghiasi langit malam. (2) Sebuah negeri bernama Tolan, (3) Situasi politik Tolan,…
Tapi paragraf 4-nya, dengan begitu gak nyambungnya, langsung masuk dalam adegan perang. Halah! Dan cobalah perhatikan isi dari paragraf ke-empat tersebut:
/Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta.
/
ini aja udah kalimat yang subyek-predikat-obyek nya ngaco, kayaknya kurang tanda baca ataupun kata sambung.
/Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka.
/
kalimat selanjutnya ini gak nyambung dengan Subyek “Jendral”, sebab Subyek tiba-tiba berubah menjadi merefer ke “pasukan yang begitu membabi buta”. Terus tau-tau berubah lagi ke subyek yang lain:
/Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu.
/
yang dilanjutkan dengan kalimat ini:
/Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.
/
Yang kalau dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, mengesankan bahwa pedang sang jendral sudah mencabut banyak nyawa nggak cuma musuh melainkan juga dari pihaknya sendiri!
So, the whole paragraf is a mess!!
Terus paragraf berikutnya bikin ketawa lagi:
/Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya.
/
(Kena busur aja luka? cemen banget,….. iye-iye, gue tahu, maksudnya kaki kirinya ketancep panah. BTW, Fatal ya? Panah beracyun,.. kalee?)
/Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat
yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.
/
Ini juga series of incoherent actions. Maksudnya sih bisa kutangkep, tapi masih mendingan juga sastranya Sinchan yg “BABI PERGI,… BABI PULANG” itu, hehehe. Terus membantai sepuluh PASUKAN??? Maksudnya sepuluh PRAJURIT, Kallii,…?
Selanjutnya penggambaran aksi dalam kalimat dan paragraf lanjutannya benar-benar menggambarkan seorang jendral yang lagi bingung dan depresi banget, bukan lagi perang (ini jendral atau prajurit rank & file, sich?
Koq sibuk amat di garis depan. Yang ngatur strategi di war room, terus siapa? Sekretarisnya, kali?)
So, need I say more mengenai keancuran gaya penulisan ini? He he he,.. gue terusin baca dulu aja, kali yee,…. siapa tahu di akhir buku ada perbaikan (cross fingers,…)
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: ewingerwin on August 08, 2008, 12:15:08 pm
________________________________________
@Om Pur: Makasih banyak, bos . Sekarang dah keliatan ‘belangnya’ kayak gimana ;D.
Oke, harus gw akui. Kalimat per kalimatnya memang nggak terlalu bermasalah kalo dibaca sendiri-sendiri, tapi memang alur dan komposisi paragrafnya terasa berantakan banget dan pemilihan kata/diksinya seharusnya bisa lebih baik daripada itu. Di beberapa bagian ada yang ambigu/nggak jelas abis, dll, dll.
Yep, secara keseluruhan, gw hanya bisa mengamini Om Pur aja deh, yang gw baca ini emang berantakan abis. Beli nggak ya? Hmm… dana terbatas…
________________________________________
Post by: cheppy70 on *August 09, 2008, 10:30:28 pm
________________________________________
Ning-nong!!!
@all,
Zauri sudah hadir di fikfanindo 
Salam
________________________________________
Post by: bjvadis on August 10, 2008, 10:38:19 am
________________________________________
Oh, gpp, beli aja tuh Cardan. Gue sih udah baca abis, dan ceritanya cukup seru walaupun makhluk2 ciptaannya ada yg 100% baru dan bingung ngingetin ciri2nya. Taktik perangnya juga mantap, apalagi penokohan Raja Links yg adalah varian baru, inspiratif [thumbsup]. Hanya soal penamaan saja yang kelihatannya campur aduk dan nggak konsisten – but, what’s in the name? -
It’s worth your money.
Tapi waktu lihat cover Cardan pertama kali itu g sempet deg-degan karena desainnya persis dengan desain cover manuskrip yang gue kirim ke GagasMedia (lambang burung elang mirip garuda), konsep definisi Cardan mirip dengan Paladin dari karya gue, trus ada unsur: Musuh Besar yang dianggap sudah mati tapi ternyata masih hidup. Tapi setelah dilihat2 dalamnya, ternyata 100% beda – dan g setidaknya agak bernapas lega.
[hammer]
________________________________________
Post by: tangochenchen on August 10, 2008, 01:21:20 pm
________________________________________
Mungkin kalau diedit dr segi bahasa begini ya…(ini pengalaman jadi asisten pribadi juri lomba karya fiksi…tahu sendiri kalo juri itu hanya manusia biasa yg punya waktu cuma 24 jam sehari) tapi novel ini kan sudah terbit ya
Seorang jendral Tolan (seorang Jendral dalam Perang Tolan?) sudah banyak memenangkan perang. Namun, ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya, bagi pasukan (musuh Tolan?) membunuh
seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup mereka. Membunuh seorang/para Tolan (he he kedengaran seperti handai tolan) sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. Pedang sang jendral Tolan sudah berlumuran darah. Entah sudah berapa banyak nyawa yang ia cabut dengan pedang itu. (Saat ini, lalu, kemarin? Kapan perangnya?) banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.
Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk (nya) lalu membaringkan tubuh kawannya (itu) di atas tanah. Dia berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar
sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal Tolan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.
Ia kembali melihat kawannya (yang) terluka. Bagaimana (seorang) Cardan bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu. Meskipun pangkatnya cukup tinggi,
ia masih saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya, ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.
Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
He he…sepertinya om Pur benar, dari segi bahasa saya sebagai pembaca langsung bingung di halaman pertama…kalau saya ditunjuk jadi asisten lagi, sepertinya bos juri saya itu akan mengizinkan saya untuk tidak meneruskan membacanya.
apakah ini pengaruh bahasa karya2 terjemahan fiksi fantasi ? (terus terang saya lebih menikmati harry potter dll dalam
bahasa aslinya)
________________________________________
Post by: BloodSin on August 10, 2008, 07:31:36 pm
________________________________________
Susah nian merevisi adegan-adegan penting dalam naskah itu, terutama prolog! Gw udah menggarap prolog lemures selama 4 mingguan, tapi gak jadi-jadi euy :’(
Padahal gw udah keburu bikin janji ama orang VGI buat posting lemures gw (huahua penasaran ama POV & komen para penulis RPN untuk naskah lemures gw yg originnya dari RPN )
Gawat nih.. :-\
@om pur
Udah baca repiu zauri-nya di: fikfanindo.blogspot.com
(kasih link atuh bos, biar yg anak baru jadi pada bisa baca ^-^)
Well, kali ini kita bisa sepakat zauri emang salah satu novel fantasi indo yg bergaya bahasa ciamik (yang jauh dari kesan membosankan—dan emang pengarangnya bener-bener punya skill gaya bahasa selayaknya ‘penulis’ novel), yang berujung novel ini mudah dikonsumsi oleh berbagai kalangan pembaca [biggrin]
Mengenai font Kover yg ‘gak jelas’, itu sama sekali gak masalah buat gw, malah zauri gw posisikan sebagai fantasi lokal yg kovernya terkeren setelah Cardan, desainernya (bene) jauh lebih berselera daripada windutampan (desainer kover ledgard, hozzo, narend). [biggrin]
(tapi kok kayaknya lakuan ledgard yak? padahal jauh lebih muahal ???)
Kalo kritik utama sih, justru gw gak puas ama penyelesaian konflik (ttg sang amigdalus yang bisa dikalahin dios begitu aja tanpa greget) & endingnya yg terlalu happy (dan gombal ), quite cliche.
next review berarti cardan donk? wuah bakal rame nih, setelah sekian lama gak ada yang panas-panas
@ewing,
yap, beli aja bos, bagus tuh buat dipelajari anomali gaya bahasanya, gaya bahasa tak kasat mata ;D
No Comments »
[tab:Hal 1]Sesi XXIII (15 Jul 2008 – 20 Jul 2008)
- Komunitas penulis fantasi
- About changing the tone of a story
- Tentang fantasi modern
- Fantasi dengan setting lokal atau luar?
- Mengapa fantasi lokal dianggap kurang marketable oleh penerbit
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on July 15, 2008, 03:39:37 pm
________________________________________
Karena gak mau kalah sama jeff si dukun ular, gw akhirnya melanggar kontrak dongeng dengan Sang Penandai dan diam2 juga mulai membaca TFH: Q&K.
Sekarang udah sampai bab 3. Sejauh ini menarik.
Setting dunia-nya Elniri bikin gw teringat dengan kisah prekuel novel gw sendiri.
Aaah… jadi pengen nulis bagian itu… [rolleyes]
Btw, seperti kata mba dian waktu itu, ternyata TFH emang novel yang berdarah-darah! Kematian ada di mana2!
Waspadalah! WASPADALAH!
(*gaya bang napi*)

________________________________________
Post by: rd_Villam on July 15, 2008, 05:13:34 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 15, 2008, 03:39:37 pm
Btw, seperti kata mba dian waktu itu, ternyata TFH emang novel yang berdarah-darah! Kematian ada di mana2!
Waspadalah! WASPADALAH!
(*gaya bang napi*)
heheheheh…
life and death, actually.
kan udah diperingatin di bagian prolog.
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 16, 2008, 11:54:01 am
________________________________________
Sejauh ini baru baca ampe bab 4. Menarik karena engga character based story, melainkan historical/world based story. Model cerita yang tidak punya karakter utama yah? Tapi kesannya buku 1 atau mungkin bab2 awal ini semuanya masih semacam prolog dari kejadian besar yah?
Quote
Atau justru malah sebaliknya: aku yang akan dipengaruhi
olehnya?
Yang jelas saat ini Wyndassi sudah berada di samping
Anthravai, ikut memperhatikan benteng Heyniri di depannya yang
menanti untuk ditaklukkan. Wyndassi kembali dari lamunan
panjangnya.
Gw dmen bagian ini. Cara flashback dan peralihan story yang ciamik [thumbsup] Selama ini gw bingung kl mau bikin flashback di novel itu gmn enaknya ^^ Trus penggunaan italic untuk pikiran dalam hati karakter di sepanjang cerita TFH ternyata sama sekali ga membuat pusing biarpun ganti POV org pertama tanpa dikasi penjelasan. Lebih dinamis dan engga kaku. Top deh, banyak yang bisa dipelajarin [biggrin]
________________________________________
Post by: clickdian on July 16, 2008, 12:34:25 pm
________________________________________
Yups, dulu pernah iseng nanya penulisnya, ternyata ditotal-total smua cerita itu jadi tiga buku.
Personally, aq lebih suka ketika cerita udah masuk ke kisahnya William, kira2 mm… enam puluh tahun (?)–sori lupa–setelah masa Anthravai itu. Rasanya suasananya ‘lebih terang’, sementara pas jaman Anthravai rasanya gelap. Pas jaman Vilnar lebih gelap lagi –> gak tau kenapa bisa kyk gini. Sugesti aja paling.
Oh, satu lagi: dari semua prolog yang pernah kubaca, prolog TFH paling aq suka. Singkat, padat, bermakna.
________________________________________
Post by: BloodSin on July 16, 2008, 01:15:25 pm
________________________________________
guys, ngomong2, gw baru aja registrasi ulang membership vgi, (gw udah bikin nick sebelumnya tapi lupa passwordnya >_<), ternyata forum RPN-nya masih idup! keren jugak, gw ngintip2 sejarah komunitas mereka ternyata umurnya udah jauh lebih tua dari geng fantasi kita :-[
bahkan penulis ledgard pun pernah join kesana.
jadi sejauh ini, komunitas/club/geng penulis fantasi yg gw tauk tuh ada 3 bijik:
-tret fantasi anak2 pulpen (yak kita2 ini lha )
-komunitas fantasi kemudian.com (hikikomori-vq, alfare, codenamekey, dllll)
-dan geng vgi (maxim84, juunishi master, maha gnosis, dan konco2nya)
gw jadi berandai2, apakah sebetulnyah masih ada komunitas penulis fantasi selain 3 komunitas itu? dan gimana dengan milis? atau ym? atau jangan2 ada juga komunitas penulis yg ketemuan langsung face-to-face? ah betapa luasnya dunia ini [biggrin]
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 16, 2008, 01:25:30 pm
________________________________________
pasti ada dunia lain yang lebih luas di luar kita, rey. cuman kita gak tau para penulis fantasi itu nongkrong di mana.
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: rd_Villam on July 16, 2008, 01:36:29 pm
________________________________________
Quote from: clickdian on July 16, 2008, 12:34:25 pm
Personally, aq lebih suka ketika cerita udah masuk ke kisahnya William, kira2 mm… enam puluh tahun (?)–sori lupa–setelah masa Anthravai itu. Rasanya suasananya ‘lebih terang’, sementara pas jaman Anthravai rasanya gelap. Pas jaman Vilnar lebih gelap lagi –> gak tau kenapa bisa kyk gini. Sugesti aja paling.
gelap? kurang lampukah? hehe…
hmm… masukan berharga. thanks.
mungkin itu juga sebab lain kenapa cerita ini tampak kurang ‘menjual’.
but i cannot change the tone, unfortunately. 
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 16, 2008, 02:07:50 pm
________________________________________
Tone cerita yang kelam dan darkish sih sesuai ama selera gw, Jadi gw ga akan bilang itu faktor minus dr TFH malah mungkin faktor plus. Sejauh yang gw baca, klimaks kurang diolah sehingga bagian yang mestinya bisa seru dan menegangkan ternyata berlalu begitu saja tanpa bikin pembaca greget. War after war secara historikal tanpa ada bagian cerita yang bener2 ditonjolkan/klimaks. Hmm… mungkin mirip romance of three kingdom kali yah. Membaca TFH lebih terasa seperti menyelami sejarah. Ini cuma kesan aja, gw ga bilang ini poin plus ataupun minus, ada pasar pembacanya masing2. 
________________________________________
Post by: clickdian on July 16, 2008, 02:10:33 pm
________________________________________
#Villam
ya gak usah diubah, itu paling sugesti aq sendiri aja. paling, kalo mau, mungkin bisa dicari cara gmn membuat tone itu jadi bermanfaat dan bikin TFH lebih ‘mengundang’.
sedikit cangkokan dari tone yg lebih terang, mungkin? mungkin lhoooo… 
________________________________________
Post by: BloodSin on July 16, 2008, 02:50:50 pm
________________________________________
Quote
Tone cerita yang kelam dan darkish sih sesuai ama selera gw, Jadi gw ga akan bilang itu faktor minus dr TFH malah mungkin faktor plus. Sejauh yang gw baca, klimaks kurang diolah sehingga bagian yang mestinya bisa seru dan menegangkan ternyata berlalu begitu saja tanpa bikin pembaca greget. War after war secara historikal tanpa ada bagian cerita yang bener2 ditonjolkan/klimaks. Hmm… mungkin mirip romance of three kingdom kali yah. Membaca TFH lebih terasa seperti menyelami sejarah. Ini cuma kesan aja, gw ga bilang ini poin plus ataupun minus, ada pasar pembacanya masing2.
ahak, iyak ini dia komen si jeff yg dulu gw tujuin ke cuplikan TFH waktu gw baca jaman dulu… penggambaran jalan perangnya terlalu simple/’lurus’. komandan A bawa sekian ribu pasukan, komandan b bawa sekian ribu pasukan, terus battle deh, dan resultnya pun cuma si komandan a itu menderita kekalahan sekian ratus jiwa, atau kotanya jadi terkuasai musuh. penggambaran adegan perangnya kurang ‘kreatif’ (ente nuntut makian kan? granted! ;D), sehingga kurang berhasil menciptakan greget bagi pembaca.
(tapi emang kalo boleh jujur sih, baca adegan perang TFH masih jauuuuh lebih seru daripada adegan perang di ledgard -.-”)
dulu ente bilang, sebetulnya TFH udah menyuguhkan teknik2/siasat2 perang yang mumpuni, tapi itu baru masuk di pertengahan/akhir buku yak? well villam, sebetulnya gak ada salahnya kalo siasat2 perang itu udah dimasukin dari semenjak plot anthravai nyerbu yergai, atau pas awal2 penyerbuan elniri.. yahh.. siasat yang simple2 aja dulu lha buat ‘apettiser’ bagi pembaca. gw inget tuh waktu baca legenda naga, dia pas awal buku pertama-kedua adegan perangnya aja udah langsung ngejabarin teknik2 perang yg keren, dan disitulah pembaca dapet greget untuk terus ngelumat seri2 selanjutnya.
Quote
mungkin itu juga sebab lain kenapa cerita ini tampak kurang ‘menjual’.
but i cannot change the tone, unfortunately
HARUS bisa!!! >_<
well, villam, rupanya kita sedang berada dalam kancah dilema yang sama. daku pun kini sedang struggle ngerombak total prolog & bab 1 lemures. dan ternyata susahnya minta ampun. 
tapi untungnya, mungkin kerjaan kita gak sesusah si dukun beranak yg kudu ngebuang racun RPN dari bodi anaknya, which is quite impossible i think [biggrin]
________________________________________
Post by: clickdian on July 16, 2008, 04:23:44 pm
________________________________________
yups. bawa pasukan-perang-selesai-bawa pasukan lagi-perang lagi-selesai, gitu ajaaa terus. capek bacanya.
perkembangan karakternya gimana? komplikasi plotnya gimana?
kalo diseling romance–oke, boleh dah pada ketawa–gimana, lebih menarik gak?
Yang seru itu, kalo tiap perang kejadiannya beda, taktiknya beda, efek serangannya beda. gak monoton.
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: rd_Villam on July 16, 2008, 05:25:55 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 16, 2008, 02:50:50 pm
Quote
mungkin itu juga sebab lain kenapa cerita ini tampak kurang ‘menjual’.
but i cannot change the tone, unfortunately
HARUS bisa!!! >_<
well, villam, rupanya kita sedang berada dalam kancah dilema yang sama. daku pun kini sedang struggle ngerombak total prolog & bab 1 lemures. dan ternyata susahnya minta ampun.
tentang teknis atau gaya bahasa untuk memikat pembaca, mari kita perbaiki. tapi kalo soal mengubah tone, menurutku lebih baik setiap penulis memilih jujur pada diri mereka sendiri. tone adalah hati sebuah cerita, dan untuk itu lebih baik jujur pada apa sebenarnya yang ingin kita sampaikan dalam cerita tsb.
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 16, 2008, 07:03:01 pm
________________________________________
Betul bos… tone macem apa pun, cerita macem apa pun, kalau diolah pasti bisa jadi bagus. Ga ada istilah benar atau salah. Lagian nulis dengan ngorbanin idealisme sendiri itu bukan sesuatu yang membanggakan juga. Kalau berhasil memperjuangkan idealisme sendiri dan membuatnya sukses dan diterima semua orang itu baru bisa dibanggakan. [thumbsup]
Quote
Yang seru itu, kalo tiap perang kejadiannya beda, taktiknya beda, efek serangannya beda. gak monoton.
Nah ini bener banget. Satu jenis perang cukup disajian sekali aja, kl ada perang lain yang engga berbeda skenarionya dengan itu, dipersingkat dan tidak perlu dijelaskan dengan detil. Perang berikutnya yang dijelaskan dgn detil harus menyajikan sesuatu yang berbeda biar bikin pembaca tetep greget.
Quote
dulu ente bilang, sebetulnya TFH udah menyuguhkan teknik2/siasat2 perang yang mumpuni, tapi itu baru masuk di pertengahan/akhir buku yak? well villam, sebetulnya gak ada salahnya kalo siasat2 perang itu udah dimasukin dari semenjak plot anthravai nyerbu yergai, atau pas awal2 penyerbuan elniri.. yahh.. siasat yang simple2 aja dulu lha buat ‘apettiser’ bagi pembaca. gw inget tuh waktu baca legenda naga, dia pas awal buku pertama-kedua adegan perangnya aja udah langsung ngejabarin teknik2 perang yg keren, dan disitulah pembaca dapet greget untuk terus ngelumat seri2 selanjutnya.
Ini saran yang bagus, three kingdom awal juga menyajikan taktik di setiap perangnya. DIsini justru kita bisa nunjukin pada pembaca gimana tingkat kecerdasan masing2 tactician. Dimulai adri taktik Guan Yu yang termasuk pintar strategi perang, kemudian ganti Xu Shu yang levelnya jenius, ampe akhirnya ketemu Zhu Ge Liang yang levelnya beyond godlike. (wek jadi dota) Dr mengamati semua taktik2 yang disajikan sebelumnya, kita baru bisa memahami seberapa encernya otak Zhugeliang. 
________________________________________
Post by: BloodSin on July 17, 2008, 06:12:35 pm
________________________________________
Quote
Hmm, TFH… baru baca sampe bab 8…
Masih jauh nih… kurang lebih masih tiga perempat lagi…
pada ngebut2 banged yak baca TFH :-[
gw aja belom nembus bab 2 
waktu pertama kali nerima kiriman TFH hari minggu kemaren, gw sih niatnya baca mulai dari bab 5, soalnya jaman dulu gw udah dikirimin sample bab 1-4 dari villam. jadi rada2 males kalo baca ulang dari bab 1.
tapi ternyata kayaknya ada bbrp adegan yg berubah (atau ditambahkan), dan udah itu muncul bbrp istilah/ide baru pulak. Kayak Fairahai, Torahai. Waktu dulu gw baca belon ada istilah2 itu. Mau tak mau harus ngulang lg nih bacanya.
Jadi... sabar aja yak villam my bes pren [biggrin]
(lagian sekalian mau bales dendam juga sih dulu nungguin ente beres baca lemures ane luamak pisan ;D ;D)
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 17, 2008, 11:22:13 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 17, 2008, 06:12:35 pm
anak fantasi sini cukup variatif alirannya: ada silat (om pur), kolosal (villam), romance (clickdian), Sci-Fi (hege), sampe pure RPN (si jeff, op kors(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))
trus belakangan, ada makmak dengan aliran supernatural. gw sendiri maen di aliran adventure. keren dah, semakin banyak yg gabung sini, semakin kaya pulak background geng fantasi anak pulpen [thumbsup]
ah ente ini…
yang beralir-aliran itu kan karyanya, bukan penulisnya. (huh bingung, gimana ya ngomongnya?). satu penulis kan bisa aja menulis karya2 yang jenis alias alirannya beda-beda.
TFH yang gue kirim taun lalu?! 
buset itu kayaknya hampir separonya udah berubah deh…
kan berdasarkan saran serta makian ente dan yang lain. ;D
walau tetap ada yang dengan keras kepalanya gue jaga supaya gak berubah, demi memuaskan keinginan pribadi/egois gue. ;D
btw, dasar pendendam nih! ;D
________________________________________
Post by: Elyasa on July 18, 2008, 12:55:43 pm
________________________________________
Hehehehe….Ayo balik ke fantasi dong, sekalian gue mau nanya…di Indonesia, fantasi apa yang bisa mewakilkan bangsa kita..tanpa harus ngikut budaya orang lain (india, china, eropa, amerika, dkk)
________________________________________
Post by: clickdian on July 18, 2008, 12:59:54 pm
________________________________________
Dah baca PG-nya Mas Pur? ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 18, 2008, 01:11:13 pm
________________________________________
Kupikir PG bukan bergenre Fantasy, lah. Wong settingnya masih ‘didarat’ pulak [rolleyes] hehehe.
Tapi tetap layak baca! Ha ha ha,…
Kalo mo belajar mengenai penulisan Fantasy berlatar kota modern, baca Neverwhere-nya Neil Gaiman. Gue pengen banget bikin yg sejenis, tuh!
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: clickdian on July 18, 2008, 01:16:26 pm
________________________________________
Buatku udah masuk fantasi, mas 
nah ituuuu!! di mana bisa dapetin novel itu yaa?
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 18, 2008, 01:29:25 pm
________________________________________
di toko buku dong… 
________________________________________
Post by: clickdian on July 18, 2008, 01:32:21 pm
________________________________________
ya iyalaaahh [hammer]
masa di toko baju? 
emangnya dah ada yah? prasaan blon pernah nemu tuh ???
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 18, 2008, 01:40:29 pm
________________________________________
neverwhere kayaknya udah ada dari setahun lalu deh. gak jauh-jauh setelah munculnya stardust (biar laku kali).
________________________________________
Post by: clickdian on July 18, 2008, 01:42:55 pm
________________________________________
*malu* [shy]
heuheuehue… maklum nggak gaul.
#Mas Pur, pernah review neverwhere gak?
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: MakMak on July 18, 2008, 01:45:37 pm
________________________________________
Quote from: Elyasa on July 18, 2008, 12:55:43 pm
di Indonesia, fantasi apa yang bisa mewakilkan bangsa kita..tanpa harus ngikut budaya orang lain (india, china, eropa, amerika, dkk)
klo kmu suka yang history based fantasy, coba baca Nogo Sosro Sabuk Inten atau Kukus Kemelun ing Kartasura. untuk judul terakhir pakai bahasa jawa.
atau kalo kmu suka yang mythology, baca saja ramayana atau Mahabarata, atau lakon-lakonnya.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 18, 2008, 01:47:53 pm
________________________________________
Gue gak ngereview Neverwhere, kan bukan fantasy lokal?
Tapi kurasa worth to read, lah. Penciptaan dunia bawah tanah london-nya cukup unik.
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: juunishi master on July 18, 2008, 02:45:08 pm
________________________________________
oot dikit: Dan kalo ditanya gw tahu tempat ini dari siapa. Itu dari Elyasa. Salam kenal <– ini krn gw gak tahu hrs memperkenalkan diri dimana 
Ah, dan bicara soal cerita fantasi lokal. Jujur aja, gw agak susah nemuinnya krn rata2 diterbitkan oleh penerbit yang emang kuota bukunya di toko buku semacam Gramedia tu gak terlalu byk. Entah kenapa gw merasa Gramedia tu agak susah nerima naskah cerita fantasi lokal. Disangkanya cerita fantasi penulis lokal masih kalah ama penulis luar kali ya?
Plh yg kemarin gw liat di Gramed Bdg ya Dream of Utopia. Ada di “kawasan” buku2nya CPublishing. Bener CPublishing? CMIIW.
Satu2nya hal yg srg gw angkat alis kalo lagi liat novel lokal (batasannya gak lagi fantasi doang) biasanya cover. Masih ada aja cover yg mirip2 ama karakter anime apa dipajang di depannya. People do judge the book by its cover kalo mnrt gw. 
Itu membuat gw berpikir utk ngedesain kover sendiri kalo seandainya ada yg terima naskah gw. 
Hehe.
________________________________________
Post by: BloodSin on July 18, 2008, 03:34:19 pm
________________________________________
oh my, tret ini kedatengan juga seorang dubes dari vgi, akhirnya \(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)/
jadi buat sis juunishi, salam kenal dari saya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Quote
Entah kenapa gw merasa Gramedia tu agak susah nerima naskah cerita fantasi lokal. Disangkanya cerita fantasi penulis lokal masih kalah ama penulis luar kali ya?
bentar dulu nih. fantasi lokalnya yg kek gimana dulu? kalo yg ngambil setting barat/non-indo, gw rasa gramed emang gak pernah (dan gak bakalan pernah) nerbitin. -_-”
tapi kalo yg settingnya indo, setauk gw gramed ada nerbitin tuh ‘Panah Patah Sangkuriang’.(btw bener kan nih penerbitnya gramed?)
jadi selama kita penulis lokal, nekad nulis fantasi dengan setting luar, secakep apapun novelnya luar dalem, gw jamin halal gak bakalan pernah nembus gramed deh..
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 18, 2008, 05:36:00 pm
________________________________________
ah, benarkah? secakep apapun gak bakal nembus? mengalahkan faktor ‘layak/tidak layak jual’? gue pikir pertimbangan gramedia justru yang paling kental dalam hal ini: ‘profit adalah nomor satu’, dan buku2 fantasi impor tetap jaminan profit nomor satu. untuk ‘panah patah sangkuriang’ mungkin ada pertimbangan lebih, seperti penulisnya yang sudah dikenal sebelumnya. yeah, bisa aja gue salah sih… hehe…
________________________________________
Post by: ewingerwin on July 18, 2008, 05:53:18 pm
________________________________________
Hmm, susah juga ya kalo gitu. Hmm, jadi selama setting masih Indo, masih punya peluang ya? Hmmmm [rolleyes]
________________________________________
Post by: juunishi master on July 19, 2008, 07:46:59 am
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 18, 2008, 05:36:00 pm
ah, benarkah? secakep apapun gak bakal nembus? mengalahkan faktor ‘layak/tidak layak jual’? gue pikir pertimbangan gramedia justru yang paling kental dalam hal ini: ‘profit adalah nomor satu’, dan buku2 fantasi impor tetap jaminan profit nomor satu. untuk ‘panah patah sangkuriang’ mungkin ada pertimbangan lebih, seperti penulisnya yang sudah dikenal sebelumnya. yeah, bisa aja gue salah sih… hehe…
Tadinya jg gw kira mereka lbh mikir ttg profit. Panah Patah Sangkuriang? Er… kyknya Gramedia yg plg dekat dgn rumah gw itu udah terkontaminasi ama Naruto sedemikian dahsyatnya sampe2 area novel jd lbh sempit daripada area komik… Menyedihkan… :’( Gw kan jadi gak tahu apa2 soal novel gini jadinya…
Hehe.
________________________________________
Post by: BloodSin on July 19, 2008, 09:01:43 am
________________________________________
yep, begitulah. gramed emang terlalu berorientasi sama profit; tapi ini wajar, mengingat cetakan pertama mereka itu mencapai 8000 eks atau setidaknya di atas 5000 eks. mana berani mereka nyetak jumlah segede itu demi ‘jenis’ buku yang kurang marketable? alasan kenapa fantasi lokal dinilai kurang marketable, udah gw ceritain di Ruang Konsultasi kemaren hari [biggrin]
________________________________________
Post by: Elyasa on July 19, 2008, 08:05:19 pm
________________________________________
[Ah, soal kenapa fantasi lokal dianggap kurang marketable/quote]
Jawabannya menurut gue
1. Peminatnye dikit
2. Yang minat juga udah ada mind set bahwa yang keren itu yang dari luar
3. Penerbit ogah2an buat nerbitin fantasi…
Gitu kali yeee 
________________________________________
Post by: juunishi master on July 19, 2008, 08:39:32 pm
________________________________________
Cihhh!!!
Sialan! Anggapan macam apa itu?! Memangnya orang sini gak bisa kalo cuma ngalahin Christopher Paolini dengan Eragon-nya?!
Menurut gw bisa!!! Eragon itu hrsnya gak jd terkenal karena penulisnya masih muda! Ceritanya terlalu mirip Star Wars, konsep penunggang naga gak baru2 amat…
Ngg…
Gw kok jadi emosi?
Sori2 :-[
Hehe.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 19, 2008, 10:06:18 pm
________________________________________
Konsepnya memang engga baru, tapi dia berhasil ‘bercerita’ dengan baik. Orang sini pandai mengkonsep, tapi soal bercerita gw rasa masi setingkat dibawah Eragon sekali pun. Pasti ada orang sini yang jago, tp secara mayoritas masih dikit jumlahnya, apalagi di bidang fantasy. Penerbit dan pembaca udah ga mendukung lagi karena mereka udah kapok nyoba2 beli karya lokal, karena pendahulu kita udah terlanjur mengecewakan. 
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 20, 2008, 07:21:41 am
________________________________________
ada yang punya story hebat, tapi lemah dalam storytelling. ada yang pintar dalam storytelling, tapi storynya lemah. ya begitulah. nah berhubung para penerbit/editor tidak mau dan mampu memupuk bibit-bibit penulis fantasi setengah matang seperti itu, ditambah lagi dengan konsumen yang masih lebih senang menyantap fantasi-fantasi karya penulis impor, ya jadilah akhirnya penulis-penulis fantasi kita tumbuh secara liar demi kehidupannya (halah…).
yeah, tapi mari kita sama2 punya keyakinan, bahwa suatu hari nanti kita bisa membuat sesuatu yang berbeda. belajar dan bekerja (menulis) tanpa henti. mestinya itu kuncinya.
ah, buset… kok gue jadi serius lagi ngomongnya yak? padahal gue lagi pengen becanda di sini… [biggrin]
________________________________________
Post by: BloodSin on July 20, 2008, 11:29:54 am
________________________________________
Quote
Ah, soal kenapa fantasi lokal dianggap kurang marketable, gw penasaran pengen baca tuh. Ada di topic konsultasi kira2 halaman berapa?
hmmm, lupak! >_< sekitar di halaman 30-an, pokoknya pas gw lagi ‘berdiskusi’ sama seorang junior bau kencur bin nyolot(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
ah eniwei, ini update jawaban gw:
1. membaca genre fantasi relatif lebih sulit, karena sedikit-banyak pembaca membutuhkan wawasan dan imajinasi yang lebih tinggi daripada genre teenlit/chicklit. dan itu berarti semakin sempit pulak cakupan pembacanya. tapi sebetulnya wawasan dan imajinasi pembaca disini masih relatif juga sih.
2. kalah pamor sama fantasi luar negeri
3. belum adanya fantasi lokal yang meledak, sehingga sedikit-banyak jadi nilai minus di mata penerbit. coba deh, tungguin ada satuuuu aja yang meledak, pasti penerbit bakal berlomba-lomba nyari naskah fantasi.
4. kebanyakan buku fantasi lokal itu halamannya tebel, berujung harga jual muahal, padahal ditulis oleh penulis gak jelas (belum punya nama), dan didukung pulak dengan ketiga poin di atas, penerbit makin gak berani nanggung resiko.
Tapi gw salut berat sama Copernican, salah-satu penerbit yg berani nerbitin fantasi lokal dengan halaman super-tebel, Misteri Pedang Skinheald II.
5. well, alasan terakhir ini, murni dateng dari pribadi gw sendiri yang udah ngelumat lebih dari sepuluh judul fantasi lokal: kalo dievaluasi dengan nilai rata-rata, buku-buku fantasi yang udah beredar dan terbit di masyarakat itu ‘ngapokin’ orang. (setidaknya pendapat gw ini udah didukung jugak ama statement si fred pas die awal join kesini:D)
Tendesinya masih lebih gede ke ‘mengecewakan’ daripada ke ‘memuaskan’.
Dan kalo elu megang sebuah buku fantasi lokal, lebih baik elu jangan terlalu berharap banyak deh.
well emang ada sih 2-3 fantasi lokal yang bagus banged (boleh dibilang setara ama bikinan orang luar), ada juga 1-2 judul yang ‘lumayan’, tapi yang butut mampus dan bikin ilpil jauh lebih banyak. Dan sialnya, gak sedikit yang butut mampus itu disejajarkan sama LOtR dan HarPot di endorsement-nya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
Sekali lagi, ini penilaian gw pribadi yak, tentu ini subjektif dan bisa aja gak berlaku bagi pembaca lain.
Quote
Sialan! Anggapan macam apa itu?! Memangnya orang sini gak bisa kalo cuma ngalahin Christopher Paolini dengan Eragon-nya?!
Menurut gw bisa!!! Eragon itu hrsnya gak jd terkenal karena penulisnya masih muda! Ceritanya terlalu mirip Star Wars, konsep penunggang naga gak baru2 amat…
eragon mah gak ada bagus-bagusnya 
ide-idenya gak ada yang kreatip, plot standar abis, miskin greget, dan dieksekusi dengan gaya bahasa yang ngebikin ngantuk pulak. (mohon maap kalo di sini ada yg maniak ama eragon, eniwei :-[)
gw setengah buku pun gak lewat bacanya. eh tapi ini gw baca yang versi terjemahan GPU, mungkin versi bahasa aselinya (english) better kali yak.
Quote
Penerbit dan pembaca udah ga mendukung lagi karena mereka udah kapok nyoba2 beli karya lokal, karena pendahulu kita udah terlanjur mengecewakan.
sotoy lu ah, belom pernah beli dan baca satupun judul fantasi lokal jugak ;D ;D
tapi emang bener begitu sih…
@om pur,
well, daku menilai negatif rata-rata fantasi lokal itu buat semua fantasi lokal dengan settingan dunia barat/alternatif. agak penasaran jugak sih sama ‘fantasi2 indo’ kayak Candi Murka & serial Gajah Mada (ini fantasi bukan?), memuaskan apa mengecewakan nih?
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 20, 2008, 12:21:05 pm
________________________________________
Kesimpulannya, kecuali orang2 iseng sesama komunitas penulis yang pengen ‘ngecek’ dah sejauh mana kemampuan saingan sesama penulis lokal, udah nyaris ga ada orang yang punya pikiran untuk membeli fantasi lokal.
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 20, 2008, 03:41:38 pm
________________________________________
menyedihkan jika memang benar begini… 
tapi sebodo amat dah. itu tetap gak menghentikan gue untuk tetap menulis. fantasi terutama. hahaha… nikmati sajalah… ;D
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 20, 2008, 05:02:04 pm
________________________________________
Nyaris seperti itu. Well, kl ga ada perubahan yang nyata, susah mendobrak keadaan ky gini. Kita cuma bisa terus menulis dan menulis sampai suatu saat karya kita diterima toh? Atau seperti yang gw ingin lakukan, kl tidak ada jalan, gw akan merintis jalan gw sendiri melalui self publishing. Ada yang punya alternatif lain menyangkut keadaan yang memprihatinkan ini? 
Btw, mana nih review2 buku yang ramai dijanjikan 2 minggu lalu?
No Comments »
[tab:Hal 1]Sesi XXI (10 Jul 2008 – 11 Jul 2008)
- Cerita fantasi layak untuk diterbitkan!
- Tentang draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam
- Tentang para penerbit fantasi lokal
- Kejujuran dalam sebuah tulisan
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 09:02:10 am
________________________________________
Quote from: Elyasa on July 09, 2008, 08:36:15 pm
Jadi gini, awalnya sih, ENTHIREA itu buat semua kalangan…nah pas masuk kepenerbit, mereka bilang ini segmen buat remaja ya…dari sd sampe sma gitu…nah jadi nya mereka mulai meng-edit buku saya untuk segmen itu.
Kenapa sih penerbit lokal yang nerbitin fantasi masih aja pada dodol2 semua? [annoyed]
Apa mereka gak mikir kalau yang baca genre fantasi bukan anak2 & remaja doang?
Pembaca fantasi di indonesia kan meningkat pesat gara-gara ada fenomena harpot, lalu menyusul film LOTR.
Nah coba dipikir deh, harpot pertama kali terbit 10 tahun lalu, itu berarti fans-nya sekarang semua udah berusia plus 10 tahun dong (kalau dulu umurnya 14, sekarang 24, dstnya.).
Kenapa gak dibidik juga orang2 ini? Padahal mereka kan pasar yang bagus pula?
Dasar DODOL! [cluebat]
Buat para penerbit di indonesia: Semua orang berfantasi!
Jadi, cerita fantasi layak dan bisa dikonsumsi oleh semua kalangan! [tickedoff]
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 12:36:20 pm
________________________________________
ah bener tuh pendapat si fred, tentang penerbit-penerbit novel fantasi kita.
menyebalkan, sekaligus menyedihkan.
kenapa para editornya malah gak bisa bikin naskahnya jadi lebih baik, dan malah jadi lebih jelek sih?
ah capek juga tapi dari dulu gue bisanya cuma ngedumel. hehehe…
kita, para penulis dan pembaca fantasi, harus benar-benar bisa bikin suatu langkah besar sekarang, supaya suara kita didengar! (halah… hehe…)
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 12:36:20 pm
kita, para penulis dan pembaca fantasi, harus benar-benar bisa bikin suatu langkah besar sekarang, supaya suara kita didengar! (halah… hehe…)
Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]
tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…
gue udah pernah ngirim versi lamanya ke sepuluh penerbit, dan gak ada yang lolos! dan sekarang gue gak akan terburu-buru ngirim lagi. kalo emang bolongnya banyak ya mending gue perbaikin dulu. sambil gue menyelesaikan novel2 yang lain, yang mungkin lebih ‘marketable’ di mata penerbit.
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 01:45:24 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…
Villam, kalau gw yang ngebaca boleh gak? [rolleyes]
Tapi yang mau dikasih buat repiu itu versi apa ya? Soft copy atau hard copy?
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 01:52:01 pm
________________________________________
boleh, bos.
softcopy pdf.
emang enakan baca hardcopy pasti, tapi belon sempet ngeprint lagi soalnya.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 02:14:32 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 09:02:10 am
Kenapa sih penerbit lokal yang nerbitin fantasi masih aja pada dodol2 semua? [annoyed]
Apa mereka gak mikir kalau yang baca genre fantasi bukan anak2 & remaja doang?
Pembaca fantasi di indonesia kan meningkat pesat gara-gara ada fenomena harpot, lalu menyusul film LOTR.
Nah coba dipikir deh, harpot pertama kali terbit 10 tahun lalu, itu berarti fans-nya sekarang semua udah berusia plus 10 tahun dong (kalau dulu umurnya 14, sekarang 24, dstnya.).
Kenapa gak dibidik juga orang2 ini? Padahal mereka kan pasar yang bagus pula?
Dasar DODOL! [cluebat]
Well,… gimana ngomentarinnya, yach?
Penerbit ga bisa terlalu disalahkan.
Bagaimana pun juga, di pundak mereka ada resiko yang harus ditanggung. Modal itu kan ada yang punya, dan yang punya pasti minta uangnya kembali berikut profit. Sementara menerbitkan buku adalah usaha yang sangat beresiko. Udah biaya cetak dan sebagainya harus dibayar di depan, uang hasil penjualan baru masuk setelah beberapa bulan. itupun kalo laku. Kalopun laris manis, harus kebat-kebit digerus pembajak.
Dengan resiko demikian tinggi, wajar jika penerbit masih ragu-ragu dengan genre Fantasy, pilih play safe, antara lain menyasar segmen remaja.
Tapi di sisi lain, memang ada masalah, bahwa penerbit Fantasy kita belum begitu mengenal produk; sehingga ngga punya keyakinan atas keberhasilan pemasarannya. Sayang memang, bahwa belum ada penerbit yang ‘dedicated’ dengan genre Fantasy, berani berkonsentrasi dengan genre ini, sehingga menjadi mahir baik dalam visi produk maupun visi pemasaran. Yg gue liat sekarang, kebanyakan pemain Fantasy adalah juga main di genre lain, atau sekedar unit bisnis di bawah suatu kelompok penerbit. Apa pengaruhnya? Kekuatan dia untuk konsentrasi menjadi lemah, sebab juga ikut asyik mikirin genre-genre lain (apalagi yg lebih laku), juga support finansialnya menjadi terbatas karena pemodal juga ingin uangnya diputer di genre lain yang (dipikirnya) lebih gampang dijual.
So kalo gue bilang sih, sementara belum ada penerbit Fantasy yang bener-bener ‘kuat’, ya para penulis aja dulu yang bikin klik yang kuat sehingga kelak bisa membentuk suatu komunitas. Dalam bisnis, komunitas adalah suatu modal yang cukup diperhitungkan sebagai salah satu pendorong pemasaran. Kalau sudah ada komunitas semacam itu, penerbit pun akan merasa lebih aman, dan lebih punya kepastian untuk urusan hitung-hitungan bisnisnya.
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 02:20:14 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]
tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…
Gue gak dilupakan, dong,…. 8) 
liat PM ya,… 
FA Purawan
________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
________________________________________
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 03:28:13 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]
Yakin? Apakah benar mereka merupakan penerbit independen yang khusus Fantasy, atau bagian dari suatu group yang juga menerbitkan buku-buku genre lainnya?
(Gue sih gak yakin ada yg berani bener-bener hanya main di Fantasy,… hehehe). Dari outputnya aja udah keliatan, koq.
Intinya, sih, terutama dalam hal resources, atau modal. Sekarang pikirin aja skenario berikut. Ada satu usaha penerbitan yang punya Unit Fantasy dan Unit Chiklit, yang sedang sama-sama punya program menerbitkan 1 buku di bulan Agustus.
Masing-masing editor udah dapat masukan-masukan naskah, katakanlah masing-masing udah dapat satu naskah jagoannya. Terus dalam momen yang menentukan: Rapat Redaksi (atau sejenis), dibahaslah naskah2 itu, dan kemudian diputuskan naskah mana yang akan diterbitkan. Rapat dan debatlah tuh, berjam-jam.
Berhubung modal yang ada hanya ‘cukup’ untuk commit 1 buku, akhirnya,…. Naskah Fantasy dan Naskah Chiklit ga jadi diterbitkan, pemenangnya adalah naskah Blog Konyol tentang kisah ironi seorang guru SD eksentrik di pedalaman Papua: Buaya Makan Buku IPA, sebuah komedi realitas pendidikan Indonesia di Papua.
Why? Katanya itu yang lagi laku,…. heheheh,…
Bedanya dengan penerbit yang bener-bener khusus Fantasy, program penerbitannya tentu akan konsisten. Kalo rapat, tentunya yang dirapatkan dan diperbandingkan adalah sama-sama naskah fantasy, dan naskah yang ‘terbaik’ (berdasarkan pemahaman penerbit yang semakin baik) lah yang akan terpilih.
lihatlah betapa besar perbedaan akan terjadi dalam dunia penulisan Fantasy, bila kita punya penerbit yang demikian?
Salam,
FA Purawan
NB: Coppernicus, rupanya salah spelling, harusnya Copernican
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 04:00:14 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]
Bukannya katanya liliput udah bubar pula?
Tapi, emang bener seperti yang dibilang om pur.
Kalau memang ada penerbit yang khusus fantasi, kan jadinya dia sendiri bisa bikin divisi2 khususnya, misalnya ada yang khusus ngurusin naskah fantasi segmentasi anak2-remaja, lalu ada yang segmentasi dewasa dan semua umur, dll. Komplit dan spesifik deh manajemennya.
Aaargh, mimpi di siang bolong!
Eh… sore bolong! 
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 05:14:47 pm
________________________________________
okay…
fred, mas pur dan rey,
besok kukirim…
liliput, coppernican dan rumah pinus, kayaknya udah gak pernah denger lagi terbitan barunya. mungkin dah pada tenggelam.
ada satu penerbit khusus fantasi. matahati.
dulu pernah nelpon, katanya nyari satu fantasi lokal, tapi sejauh ini yang impor-impor melulu yang keluar. payah dah… atau… ya mungkin emang mereka belon dapet naskah fantasi lokal yang bisa bersaing dengan kesemua impor itu.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 05:26:34 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 05:14:47 pm
liliput, coppernican dan rumah pinus, kayaknya udah gak pernah denger lagi terbitan barunya. mungkin dah pada tenggelam.
Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 05:43:23 pm
________________________________________
@om pur
liliput itu aseli penerbit fantasi kok. gw punya 3 novel liliput, tiga2nya fantasi, dan sewaktu liat ‘iklan’ buku2 fantasi lain terbitan dia di halaman2 belakangnya (untuk ketiga buku itu), dan juga official website-nya, emang buku fantasi semua. tapi emang masih payah sih, dia fokusnya ke fantasi anak & remaja doank.
holy shit, kenapa banyak penerbit yg memposisikan genre fantasi dengan target pasar utama anak2? cuma karena terhanyut euforia harpotkah? kuper banged sih penerbit2 yg nganggep fantasi itu cuma buat konsumsi bocah! [annoyed]
(eh kayaknya udah ada orang yg protes beginian duluan sebelom gw yak? )
kalo rumah pinus, gw liat di dua contoh novelnya, ada statement dia as ‘penerbit khusus buku2 fantasi yg ditulis penulis lokal muda (baca: bocah)’ emang dua penulis untuk dua bukunya itu gw liat anak2 smp sih, novelnya tipis2 pun
nah kalo copernican (TQ koreksinya :-[), itu bukannya ente sendiri yg nyebut di blog ente waktu ngerepiu nopel ataka?
tapi emang kayaknya, editor di penerbit2 itu, pada gak mumpuni semua di bidang fantasi. bukan cuma penguasaan bahasa dan keahlian menganalisisis logika aja yg harus dikuasain editor fantasi menurutku, tapi juga wawasan tentang berbagai mitologi dan literasi fantasi yg ada di dunia. itulah kayaknya yg terjadi pada editor2 fantasi di indo ini, sampe2 gak peduli lagi kalo ada penulis yg mendeskripsikan orc ketuker ama goblin.
(ah alasan karena tidak mau 'mengintervensi kreativitas pengarang' itu cuma bullshit, menurut gw emang dianya aja yg buta sama sekali ttg mitologi dunia [hammer])
syukur2 kalo dulunya dia ex-RPGer, biar lebih berwawasan lagi deh
@fred,
iya kayaknya liliput udah bubar, terakhir gw dapet info sih dia orang ganti manajemen, tp entah kenapa setelah itu gada buku2 terbitannya lagi.
coba itung aja produk fantasi lokal terbitan dia:
-catatan harian alien
-cincin oleodeo
-hozzo
-pinissi
-narend
(dan kayaknya masi ada lagi, tp gw lupa judulnya apa2 aja)
terbukti, liliput cukup konsisten nerbitin fantasi!
tapi rada keji juga cetakan pertamanya cuma 1000 eks(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
ah mungkin juga cetakan 1000 eks itu udah jadi konsekuensi dia karena komitmennya berani nerbitin naskah2 tebel & sekaligus menyertakan gambar2 ilustrasi di setiap bukunya.
yg gak adil itu, kalo ada buku tipis yg kena jatah rata 1000 eks juga, mau brp tuh royalti penulisnya kalo bukunya cuma dibandrol 30rban? cincin oledeo kayaknya tipis tuh
dan sekarang, kita ngintip ke fantasi-lit-nya gagasmedia 
kita liat fantasi terbitan dia:
-nightfall
-transpondex
-cardan
-gemala dan rumah kayu oak
hore! udah nembus 4 bijik, angka yg sama sekali tidak menyedihkan buat penerbit gede yg punya banyak klasifikasi genre ini.
kalo c|publishing, setauk gw baru ledgard ama penunggang petir doank. sama kayak serambi yg baru dua bijik: sang penandai ama goran. eh btw gimana tuh nasib sang penandai di tangan lu? gaya bahasanya ajaib punya, entah bakal dimaki atau disanjung ama lu, mengingat sang penandai itu satu2nya fantasi lokal bergaya bahasa nyastra yg udah terbit.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 05:58:56 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 05:43:23 pm
@om pur
nah kalo copernican (TQ koreksinya :-[), itu bukannya ente sendiri yg nyebut di blog ente waktu ngerepiu nopel ataka?
Gue mengutip dari deskripsi mengenai penerbit di buku Ataka.
Yang gue gak tahu pasti, apakah Copernican murni penerbit yang semata hanya menerbitkan Fantasy, atau merupakan brand-name atau unit bisnis dari sebuah grup penerbit. Apa duit modalnya hanya dipakai untuk nerbitin fantasy, atau sharing juga dengan unit bisnis lainnya yang nerbitin Chiklit, misalnya.
Untuk tau hal-hal ini, ya elo mesti orang dalem di industri penerbitan.
________________________________________
Post by: blue_amaranthine on July 10, 2008, 06:23:15 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 10:44:38 am
Samy, bukunya yang lagi in publishing itu apaan? Fantasi juga? Di penerbit Diwan juga? ???
Lagi libur lulus SMA, asik nih bebas... ;D
(*yang kepengen banget libur!*)
Bukan fantasi banget sih, ceritanya princess and kingdom gitu. Tapi, penerbitnya masih mikir-mikir juga, soalnya endingnya rada garing, n kalo endingnya bagus baru maw diterbitin. Palingan yang next adalah Margana, genrenya Puzzle Misteri gitu, lebih mirip Da Vinci. Lagi coba ngegarap berbagai genre biar bisa ngerasain yang mana yang paling ngena n bisa terus di kembangin lagi (betul Gak?)
________________________________________
Post by: Elyasa on July 10, 2008, 08:38:31 pm
________________________________________
OYYY.....
Quote
Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
Gue jelasin nih...Copernican itu...anak penerbit dari jagad media, nah copernican itu bergerak di bidang fantasi aja....
Quote
Bukannya katanya liliput udah bubar pula?
Nah kalo ini gue nggak tau deh...tapi sih setau gue dia cuman ganti jurusan aje ama ganti pemiliki....
Quote
ada satu penerbit khusus fantasi. matahati
Nah kalo matahati jangan deh...mereka agak gimana gitu (pengalaman pribadi :p)
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 09:04:05 pm
________________________________________
Quote
Pretensius jugak, kali yee, tapi in a different sense than your’s. Baca gaya bahasanya, gue jadi inget novel-novel Abdullah Harahap taun 80-an, itu novel seribu perakan yang biasanya bertema misteri lokal. Idenya Abdullah harahap itu cukup dahsyat lo jaman taon segitu,… modelnya kera jadi-jadian etc, romance plus actions. Dan adegan bumbunya juga cukup hot,… hehehe.
Nah, Lanang ini sepertinya mengikuti pakem itu, dengan setting agak modern. Tapi bener deh, gaya bahasa jadulnya buat gue terasa banget. Dan nggak enak dibaca. Makanya, biarpun udah ada sebulanan gue beli, gue berhenti belum habis bab 1. (Lebih parah dari ledgard! Hahahaha)
FA Purawan
jangan2 tiap novel yg ‘sok nyastra’ bakal selalu kena label ‘pretensius’ ama ente nih [hammer]
gini aja deh. langganan kompas gak om? tiap minggu selalu ada cerpennya. dan terus terang aja selain dipengaruhi oleh gaya bahasa paulho coelho & dan brown, gaya bahasa ‘pretensius’ lemures sedikit banyak dipengaruhi juga ama cerpen2 kompas minggu itu. kalo ente kebetulan langganan, gimana penilaian ente untuk cerpen2 kompas minggu itu, secara overall? (emang sih tiap minggu penulisnya beda2, tapi kayaknya cerpen sastra di kompas minggu itu udah ada pakem2 spesifiknya deh)
kalo ente gak langganan kompas, anggap aja paragraf di atas batal kusebutkan
Quote
Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
FA Purawan
kalo gitu, sungguh-sungguh malang banged nasib enthirea! dianaktirikan :’(
masak tega mangkas jumlah halamannya sih? sementara novel ataka yg tebelnya bujubuneng dengan nekad dia berani terbitin dan dibandrol cepekceng. [hammer]
tapi mungkin juga, menurut dugaan gw, skinheald II gak laku di pasaran. lagian harganya konyol sih, kayak gak pake pertimbangan market aja. dan karena udah rugi gede di skinheald II, dia jadi paranoid nerbitin novel tebel lagi…. dan berujung dipangkaslah enthirea! ah ini hanya skenario liar yg berkelebatan di otakku saja, belum tentu bener
note:
sedikit masukan bos, buat review2 menyusul ente ke depan (atau bisa juga sekalian diupdate semuanya), gimana kalo mulai dilengkapin dengan data2 buku (include penerbit, tebel halaman, harga, ama nama editornya) & rating sebelum masuk ke uraian detilnya? biar review ente semakin lengkap, jelas, dan memuaskan!
emang sih seringkali pemberian rating cenderung ditentukan oleh selera pribadi yg subjektif banged, tapi setidaknya jutaan pembaca blog ente bakal bisa dapet pegangan kan. bisa pake sistem bintang lima, bisa juga pake label: sampah, kurang, lumayan, bagus, dan bagus sekali. soalnya jujur aja, seringkali gw sendiri juga masi ngerasa ‘burem’ setelah baca bbrp repiu ente, kayak penunggang petir dan goran contohnya. makanya dulu gw sempet nanya: jadi kesimpulannya nih buku bagus apa jelek?
yah, sekedar input aja.
@blue
gila produktif banged, baru nerbitin novel udah mau nerbitin lagi, keren [thumbsup]
itu yg princess di diwan jugak? hmmm… kalo boleh tauk, cetakan pertama diwan brp eks? ah pertanyaan terakhir ini gak usah dijawab juga gapapa
@villam,
oke deh kutunggu kirimanmu, TQ dah. 
kalo matahati mah emang gak pernah nerbitin fantasi lokal, gak bisa masuk itungan tuh.
oh ya, nanti kan bakalan ada 3 org yg komenin TFH ente, sistemnya mau gimana? kayak grup kritik kemaren? jadi nanti kalo gw mau kirim komen, bakal gw kirim juga ke si om pur ama si fred, gitu?
________________________________________
Post by: eniyorda on July 10, 2008, 10:25:32 pm
________________________________________
:-\
mampir mau ngasih kabar (bagi yang masih ingat, hehe) serta hai untuk yang belum pernah ketemu. Ijin OT sejenak boleh yaaaa…
Lulus maret tadi, terus setelah bingung sana bingung sini mau ngapain, akhirnya saya terdampar –pulang kampung, tepatnya– di pulau kalimantan sebagai tenaga pengajar sementara di PT lokal. Berhubung kurangnya SDM, saya lgsg ditugasi ngajar bahan 1 semester selama 2 bulan saja (dah bulan april gitu lho tapi rupanya ada matakuliah yang belum mulai sama sekali ???). Sibuk, ya, tapi ada asyiknya juga. Aktivitas nulis sangat berkurang. Sedangkan mencari buku bacaan agak sulit. Harganya 10-20% lebih mahal lagi. Di toko Gramedia, ketersediaan yang memadai hanya buku-buku Gramedia Group. Kalau nyari buku penerbit lain, lebih banyak nggak adanya [thumbsdown]. Internet juga susah. Semua komunitas maya yang sering diikuti terputus total, alias nggak sempat bahkan untuk ditengok-tengok, (termasuk di sini) jadi ketinggalan berbagai kabar. Di thread ini aja udah 2 ribu lebih reply-an pula… wah
Yah gitu deh… silakan lanjutkan.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 11, 2008, 08:30:53 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 09:04:05 pm
jangan2 tiap novel yg ‘sok nyastra’ bakal selalu kena label ‘pretensius’ ama ente nih [hammer]
Gimana ya Rey, buat gue di dalam tulisan itu selalu ada ‘kejujuran’. Dan ketika seorang penulis terasa ‘ngga jujur’ (misalnya bikin sesuatu yang nyastra, tapi terasa banget jiwanya ngga kena), gue akan langsung mengatakannya sebagai pretensius. Sebab menurut gue, seharusnya tulisan tersebut dapat lebih bersinar kalau pengarang rela menggunakan ‘dirinya sendiri’ sebagai standar penulisannya.
Emang, gue subyektif,… hehehe,….
Quote
note:
sedikit masukan bos, buat review2 menyusul ente ke depan (atau bisa juga sekalian diupdate semuanya), gimana kalo mulai dilengkapin dengan data2 buku (include penerbit, tebel halaman, harga, ama nama editornya) & rating sebelum masuk ke uraian detilnya? biar review ente semakin lengkap, jelas, dan memuaskan!
Untuk data-data keras, gue usahain masuk deh. Biasanya gue lebih seneng masukin sebagai bagian dari artikel, makanya kadang info itu gak keluar karena gak gue anggep penting, hehehe.
Quote
emang sih seringkali pemberian rating cenderung ditentukan oleh selera pribadi yg subjektif banged, tapi setidaknya jutaan pembaca blog ente bakal bisa dapet pegangan kan. bisa pake sistem bintang lima, bisa juga pake label: sampah, kurang, lumayan, bagus, dan bagus sekali. soalnya jujur aja, seringkali gw sendiri juga masi ngerasa ‘burem’ setelah baca bbrp repiu ente, kayak penunggang petir dan goran contohnya.
Tapi untuk rating,… filosofi review gue adalah untuk pembelajaran. Gue kritik bagian yang gue pikir harus diimprove oleh pengarang. Rasanya style rating bukan tujuan gue, karena gue tetap berharap pembaca (terutama para pembelajar) juga mau membaca bukunya, alih-alih cuma membaca review gue. Proses belajar kan datengnya dari mengalami, dan mengevaluasi.
Kayaknya untuk rating, gue nggak akan terapin dulu, deh.
Quote
makanya dulu gw sempet nanya: jadi kesimpulannya nih buku bagus apa jelek?
That, we have to leave to the real judges: The Readers!
(Lagian, biar kritik gue sepedes apapun, kalo pembaca udah suka sama bukunya, ya suka-suka pembaca, lah! Wong dia yang udah keluarin duit buat beli,… hehehe) 
Salam,
FA Purawan
No Comments »
[tab:Hal 1]Sesi X (18 Apr 2008 – 11 Mei 2008
- Heart of Desperado karya BloodSin
- Tentang Para Penunggang Petir
- Lagi, tentang novel fantasi lokal dan peran editor
- Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh BloodSin
- Review Septimus Heap: Flyte oleh clickdian
[tab:Hal 2]
________________________________________
Post by: BloodSin on April 18, 2008, 02:23:57 pm
________________________________________
Heart of Desperado: Prolog
Siang itu, sewaktu matahari mengintip dari awan tebal di langit barat El Banderas, orang-orang berkuda hitam menuruni bukit di sebelah utara desaku. Mereka memacu tunggangannya sambil mengacung-acungkan Colt hitam yang digenggam tangan kanan mereka, menarik pelatuk dan meletuskan tembakan berulangkali ke udara.
Selama sesaat aku mengira iring-iringan ribut itu adalah Cicero bersaudara yang baru pulang dari perantauan—mereka memang eksentrik dan biang ribut—yang ingin mengejutkan kampungnya seolah tengah diserbu penjarah-penjarah dari gurun Sierra Nevada.
Tapi aku segera menyadari kekeliruanku: para pendatang ini mengenakan segala sesuatunya serba hitam, tidak seperti Cicero bersaudara yang selalu berpenampilan mencolok dan agak norak. Mereka bukanlah orang-orang dari desa kami, El Banderas, yang memiliki sepuluh keluarga petani dan limapuluh hewan ternak yang digembalakan di balik bukit selatan El Banderas.
Mereka adalah iring-iringan asing yang menunggangi sepuluh kuda hitam, bercadar hitam, dan ber hitam-hitam. Aku dan Piedro tidak mengenali mereka.
Aku terhenyak tatkala iring-iringan sepuluh orang itu melompati pagar kawat berduri yang menghalangi jalur mereka dengan lentingan sempurna; menerjang jalanan utama desa dengan penampilan dan sikap yang mengintimidasi. Detik berikutnya aku melihat gigil gelisah dari bibir Piedro yang mengintip di sampingku; ia menggumamkan sesuatu, tapi perhatianku teralih pada pemandangan yang ada di luar istal kuda, tempat kami membenamkan diri dalam ilalang kering.
Aku menyadari bahwa mereka seutuhnya adalah para perompak yang menyerbu desa kami, sewaktu pemimpin mereka meletuskan tembakan ke dada Eduardo tua yang malang. Para lelaki desa kami melakukan perlawanan dengan mengambil revolver-revolver berkarat yang sudah bertahun-tahun tak digunakan, bersembunyi untuk membidik para penyerbu dari balik drum-drum anggur di gudang suatu bar kumuh.
Tapi iring-iringan itu bergerak lebih cepat dari mata, lebih lihai dari tembakan, dan lebih tajam dari bidikan. Para pelawan dari desa kami tak pernah dapat menumbangkan bahkan hanya seorang dalam iring-iringan itu. Peluru-peluru selalu meleset seperti ditiup setan yang bersekutu dengan mereka.
Tampaknya mereka bukan perompak sembarangan.
“Mereka adalah Las Mephisto,” Piedro mendesis gentar dekat telingaku. “Perompak legendaris yang tak bisa mati oleh peluru,”
………………………………..
………………………………..
http://kemudian.com/node/117151
________________________________________
Post by: BloodSin on April 28, 2008, 12:54:10 pm
________________________________________
@om pur,
poin pertama (yg ini murni cuman cuap2 selera pribadi gw aja–boleh langsung di-skip masuk poin kedua kok, heheheh), gw kagak demen novel fantasi anak2 ‘tertentu’.
makanya dari hexalogi(eh apa oktalogi yak?) chronicle of narnia, gw cuman tamat baca buku pertamanya doank (padahal dulu gw dipinjemin komplit semua seri-nya ma temen lho). ini berlaku juga buat harpot–buku satunya bahkan tak tamat kubaca pun>_<
tak peduli mau dalam bentuk buku/film, ane kurang excited sama narnia/harpot/golden compass, somehow. (padahal waktu jaman sd-smp dulu ane freak sama seri goosebump n bahkan langganan majalah bobo jg lho!(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif))
umur memang menentukan selera bacaan.
tapi emang ada juga sih fantasi anak2 tertentu laennya yg gw demen, kayak bridge to terabhytia & hozzo contohnya. yg ini gw gak tau knp, barangkali ada faktor x tertentu dalam cerita yg bersinggungan sama selera gw, makanya gw bisa takluk(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
kedua, yg namanya novel fantasi kudu bisa berdiri sendiri lha, masa harus pake template novel2 tertentu.. kalo iya begitu, cupu amat >_<
kalo masih terinspirasi, masih amat wajar.
tapi kalo udah ter’asosiasi’ sama novel dari pengarang laen(bener gak gini istilahnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)), bakal jadi kecacatan kalo bagi gw sih.
Kasusnya untuk novel Penunggang Petir, gimana nasib pembacanya kalo gak pernah baca/nonton/tahu cerita narnia?
ketiga, emang yg namanya ‘kerjaan’ editor buat novel2 fantasi lokal tertentu dari bbrp yg pernah gw baca, suka bikin gw gregetan.
Gak usah musingin sampe tahap isi & logika dalam cerita dah, untuk urusan EYD, tanda baca, struktur kalimat baku, & ‘ketelitian mata’ aja masih sering kebablasan tuh. suer, ini pengalaman gw untuk belasan fantasi lokal yg pernah gw lumat sampe tamat(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)
Tapi emang mau gak mau gw mesti bisa memaklumi, biar gimanapun, novel lokal bergenre fantasi belum terlalu lama (& banyak) muncul di indo, jadi gw rasa sebetulnya mereka adalah editor2 fantasi dadakan–yg sebelumnya terbiasa dengan naskah2 teenlit/chicklit yg bertendensi menggunakan gaya bahasa tak baku & ber-plot tak serumit fantasi.
yaahh.. begitulah kira2 yg terjadi IMO.
note:
eh gw ngomong begini bukannya mau ngejepret penulis & editor teenlit/chicklit sini lho…jangan sampe salah paham yak, demi sejuta jemuran kolor.
*ngikutin gaya ngomong si hegenyet(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)*
Tapi ini kenyataan: umumnya, orang yg telah terbiasa berkecimpung dalam dunia teenlit gak bakal pernah bisa memahami dunia fantasi seutuhnya, dan begitupun sebaliknya.
dan gw selalu suka pake analogi ini: orang yg udah terbiasa & demen musik dangdut sampe mengakar di otaknya gak bakalan bisa memahami sepenuhnya konsep musik jazz, dan begitupun sebaliknya…kecuali mungkin kalo musikalitas orang itu tinggi banged & emang fleksibel (si orakarik pernah gw jelasin panjang lebar beginian(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif))
jadi… sekedar masukan dari gw (seorang penulis fantasi mahacupu gak tauk diri yg sotoy akut dan doyan mencela karya orang(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)), ditujukan buat penerbit2 yg ada niat nerbitin naskah fantasi: rekrutlah editor2 yg berkapasitas menguasai betul tata bahasa & EYD indonesia (secara naskah bergenre fantasi umumnya menggunakan bahasa baku) dan benar2 berwawasan sebagaimana sejatinya editor fantasi–maksudnya, minimal familiar sama berbagai mitologi & literatur fantasi dunia lha (secara mayoritas naskah fantasi indo bertendensi mengambil setting luar).
Segitu aja sih, cuap2 TS thread inih di hari senen yg suntuk & membosankan, yg barangkali malah menambah suntuk pikiran semua yg baca tulisan ini skrg.. hehehe 
Salam Dangdut,
Rey L
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on April 29, 2008, 12:07:44 pm
________________________________________
Quote
kedua, yg namanya novel fantasi kudu bisa berdiri sendiri lha, masa harus pake template novel2 tertentu.. kalo iya begitu, cupu amat >_<
kalo masih terinspirasi, masih amat wajar.
tapi kalo udah ter’asosiasi’ sama novel dari pengarang laen(bener gak gini istilahnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)), bakal jadi kecacatan kalo bagi gw sih.
Kasusnya untuk novel Penunggang Petir, gimana nasib pembacanya kalo gak pernah baca/nonton/tahu cerita narnia?
Memang, itulah kelemahan apabila pengarang kurang mengestablish universe secara komplit. Kalo ‘males’ bikin universe yg lengkap, jatuh-jatuhnya jadi mirip Fan-Fic.
Quote
Tapi emang mau gak mau gw mesti bisa memaklumi, biar gimanapun, novel lokal bergenre fantasi belum terlalu lama (& banyak) muncul di indo, jadi gw rasa sebetulnya mereka adalah editor2 fantasi dadakan–yg sebelumnya terbiasa dengan naskah2 teenlit/chicklit yg bertendensi menggunakan gaya bahasa tak baku & ber-plot tak serumit fantasi.
Bisa setuju dengan sinyalemen lo, bro. Tapi kalo menurut gue sih, perhatian terhadap ‘universe’ harusnya merupakan sesuatu yang sudah standar ada dalam pemikiran seorang editor. Biarpun ‘hanya’ untuk cerita Chiklit sekalipun, sebuah dunia rekaan yang lengkap dan masuk akal seyogyanya tetap menjadi perhatian.
Makanya yg gue sorot mungkin bukan sekadar ilmunya. Tapi ‘attention’ terhadap kebutuhan pengarang. Kalo editornya gak menguasai medan cerita, dia kan masih bisa belajar. Tapi kalo editornya gak peka terhadap kebutuhan pengarang, dia dapat ‘menjerumuskan’ pengarang sebab yg punya otoritas ke hasil akhir adalah sang editor.
Tapi emang menurut gue sih, terkait kompleksitasnya, nggak pernah ada salahnya bila editor/ pengarang mau menshare tulisannya (terutama sehubungan dengan pembangunan universe cerita) ke dalam suatu forum diskusi para antusias. Soalnya universe itu memang harus berkali-kali mengalami pengujian dan perbaikan, sampai bener-bener didapatkan universe yang solid dan kokoh sebagai fondasi dimana cerita akan dihidupkan.
Kalo ‘dibenturkan’ pada komunitas, kan nantinya akan ada kritik dan perbaikan. Soalnya kepala banyak orang kan beda-beda, masing-masing bisa memberikan wawasan fresh yang bisa melengkapi pembentukan suatu universe.
Itu sebabnya gue juga bikin milis buat ngediskusiin universe cerita yg gue bikin. Hanya sayangnya gak terlalu banyak diskusi di situ,… heheheh,….
Salam,
FA PUrawan
________________________________________
Post by: BloodSin on May 01, 2008, 12:27:06 pm
________________________________________
@om pur lagih,
(belakangan ini gw lg demen posting panjang gak kira2 buat musingin orang yg buka tret ini ;D)
Quote
Itu sebabnya gue juga bikin milis buat ngediskusiin universe cerita yg gue bikin. Hanya sayangnya gak terlalu banyak diskusi di situ,… heheheh,….
sebetulnya ane udah join milis enthe dari lama, email kukumerah_id (dulu gara2 penasaran setengah koid pengen tahu mahakarya penulis yg berani mencela Hozzo abis2an, hehehehe ;D), cuman yak senasip sama si hege, selera ane kebentur sama selera ente yg ibarat langit dan bumi ;D
but at least let me tell you panjang x lebar apa yg ngebikinku tak kuasa bacak sampe abis, rasanya tak adil juga kalau ane yg udah ‘minta’ novel ente gak ‘bayar’ apa2, heheheh 
(eniwei serius ini penilaian yg subjektif banged, karena emang udah masuk urusan selera pribadi sih, jadi kalo terasa nyelekit harusnya gak jadi pikiran kan?)
pertama, prolognya kepanjangan–terlampau panjang (pake prolog i-iii pulak) T_T
kedua, salah satu faktor yg ngebikin ane lebih prefer baca novel bergenre horor/thriller/fantasi dibanding teenlit/chicklit, adalah gaya bahasa dialognya. Ane entah kenapa kurang bisa tahan sama gaya bahasa anak jakarte, tapi sebetulnya ini gak gitu masalah juga kalo emang dalam gaya bahasa itu betul2 mengandung selera humor yg bisa mengocok perut ane (novel Jomblo-nya aditya mulya sukses bikin ane ngakak gilak n baca tiada henti)
tapi di luar itu, gaya bahasa dialog anak jakarte dalam Pendekar Garuda tetap terasa gimanaaa gitu, kayak kurang natural. tapi yg satu ini mungkin karena novel ente ditulis taun 90an, makanya waktu dibaca ane taon skrg, jadi ada sedikit pergeseran gaya dialog, heheheh, bukan salah ente juga sih.
Terus rasanya (sekali lagi, ‘rasanya’–ini murni perasaan ane doank lho ) ada inkonsistensi gaya bahasa antara setting dunia Sentika & dunia Jakarte si Jaka. Kalau sebelumnya pas prolog adegan Sentika pake gaya bahasa yg aduhai, agak nyastra, dan cenderung bermetafora (istilahnya, ‘bahasa rapih’ gitu lha), ehh pas masuk dunia jakarte langsung berubah drastis ke bahasa Teenlit, baik dari segi bahasa deskripsi, narasi, sampe dialognya. (yg dua pertama gak terlalu teenlit sih, malah cenderung berbahasa baku–tp bbrp segmen digambarkan secara ‘teenlit’ nian, dan itu bener2 ngebikin gw terlempar keluar dari bangunan plot)
Gw tauk kok maksud ente gimana, biar terkesan lebih natural kan? Gak mungkin banged donk gaya bahasa dialog si jaka sama kayak gaya dialog Sentika, heheheh.. Tapi sebagai pembaca, gw mau pengarang setidaknya menunjukkan daya upaya untuk menjadikan keseluruhan universe novelnya selaras & tampak konsisten, daripada ‘berpasrah’ mendeskripsikan dua universe yg emang bener2 berbeda itu secara kontras.
(btw sebagai penulis, konsistensi gaya bahasa gw sendiri acakadul nian, Villam know it well )
ambil contoh novel goran yg menyajikan 3 dunia, tapi gw ngerasa gaya bahasanya konsisten, dan ajaibnya seperti yg udah ente sebut dalam review ente, pembangunan setting ketiga dunianya cukup believable.
menurutku gaya bahasa dialog Jaka masih boleh pake teenlit-style, tapi deskripsi & narasi yg sebelomnya terkesan rapi banged, jangan ikut2an jadi teenlit donk.. at least kalo tak dimungkinkan pake gaya bahasa yg rapih itu, tampilkan saja bahasa baku yg lugas. Paragraf2 awal bab satu udah good di mataku, masih acceptable, tapi makin ke dalem cenderung ber-teenlit ria–apalagi kalo udah narasi ttg ‘kekonyolan’ anak2 sma seputar si jaka.. dan sebetulnya itu yg ngebuatku merasa kurang nyaman untuk terus ngelahap tulisan ente.
Terus kalo ane boleh memberi sedikit pendapat lain ttg idenya (yg tentunya sotoy akut padahal gak tahu apa2–seperti biasa bukan gw namanya kalo gak sotoy ),
rasanya ide ‘titisan’ (reinkarnasi) tak cocok dengan ajaran Islam yg menjadi background Pendekar Garuda, karena setahu ane kayaknya ajaran agama2 rumpun abraham tak mempercayai konsep reinkarnasi. Jadi yak, disitu agak2 terasa tidak konsisten dgn background Islam-nya IMO, heheheh
tapi sebetulnya ane juga rada bingung membedakan arti titisan sama reinkarnasi, sama tak? kalo beda, berarti pendapat di atas totally absurd(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif)
dan kalo tak salah ada nyebut angka ’666′ juga yak? kayaknya setahu ane angka ’666′ itu origin literaturnya dari alkitab, disebut sebagai bilangan anak manusia.. nah kan lagi2 kepentok sama background Islam-nya..
tapi (lagi2 oh lagi2) secara ane bukan Muslim, sebetulnya ane juga kurang yakin, apakah Al-Quran ada nyebutin bilangan 666 itu juga? kalo di dalam Quran juga ada, berarti pendapat ane di atas sekali lagi absurd (makan tempe pake sayur lodeh, capeee deh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif))
terus waktu jaka beraksi dengan mengeluarkan jurus kanuragannya pas diserbu anak2 stm, rasanya kok tiba2 banged, cuman bermodalkan mimpi berulang2 sbg seorang pendekar tangguh & titel ‘titisan’ itu, ujug2 dia digambarin berubah menjadi tokoh yg ‘sakti mandraguna’ dalam tawuran itu (bisa mecahin batu ), dari sebelumnya anak sma biasa. kalau menurut gw, biar kesannya lebih natural & believable, ada baiknya diceritakan dulu tahap2an sepele di mana jaka perlahan menggali bakatnya yg terpendam.. mungkin dari hal2 kecil kayak di sekolah dia sering mecahin kapur pas nulis di papan tanpa sebab (ceritanya pan gara2 luapan energi kanuragannya itu, heheheh), ato hal2 sepele laennya, sampe akhirnya, adegan tawuran itu jadi klimaks di mana dia bisa menunjukkan bakatnya secara utuh.
ambil contoh lagi novel goran, heheheh… pas aniki pelan2 menguasai bakatnya, pertama kan dia suka ga sengaja ledakin benda2, sampe akhirnya bakatnya itu bisa dikuasai sepenuhnya, ato pernah nonton kungfu hustle? disitu tokoh utamanya nemuin bakatnya pas akhir2 cerita sih, sebelomnya dia malah digambarin cupu banged, namun di balik kecupuannya itu ada tanda2 ‘sepele’ yg menunjukkan kalo dia sebetulnya berbakat atas sesuatu (kalo formula ini diterapin di plot Pendekar Garuda rasanya gak mungkin juga sih, nanti satu buku malah abis cuman buat begituan doank ;D)
itu saja sih sedikit pendapat mahakonyol dari penerawangan serampangan ane, tak adil? iya banged! hahahah, harap dimaklumi yak.. TS sinih emang suka geblek, semua orang disini udah tauk, bahkan ekek pun suka gregetan sendiri(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
(mampus dah gw, berani komentar nyelekit ginih ke mahakarya seorang reviewer kelas biawak, bener2 cari matik(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif))
Salam Dangdut
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 02, 2008, 11:07:38 am
________________________________________
Halagh!!,….. SATU komentar aja, gue tunggu-tunggu,… lama banget. Hehehehe,.. inget kan di milis cuma 1 member yang berkenan kasih input. Padahal yg join udah 40-an, hehehe.
So,… apapun yang akan elo katakan, gue hargai banget! Santai aja, bro. Setiap masukan adalah buah pikiran orang, dan setiap buah pikiran adalah permata buat gue. Kadang justru kritik lah yg membuat gue tahu ke arah mana gue harus melangkah. Pujian emang asik, tapi gue gak pernah tahu bagian mana yg harus gue perbaiki kalo dasarnya adalah pujian.
Komen ente aku tanggapin, bukan buat ngebela diri, ya? Aku sekedar ingin share latar belakang pilihan yg aku lakukan aja. Bagaimanapun, bikin karya tulis memang nggak terlepas dari menentukan pilihan-pilihan, hehehe,…
BTW, berkenan memposting komentar ente di milis? Silakan lho,…. (tapi gue hanya akan diskusiin di sini aja, soalnya di forum ini kan kita bisa jadikan pembelajaran)
Quote
pertama, prolognya kepanjangan–terlampau panjang (pake prolog i-iii pulak) T_T
OK, noted. Gue memang pernah bimbang apakah akan bikin prolog ini dalam satu BAB aja (jujur, awalnya satu bab. Tapi kemudian dengan pengembangan detail dst, tiba-tiba satu bab jadi terasa awkwardly kebanyakan halaman.) Makanya terus gue bagi tiga bab aja. Tapi missi gue adalah membabar konflik utama di awal, supaya pembaca udah punya bekal cukup untuk melanjutkan cerita ke belakang.
Di milis kemarin pernah ada saran untuk menyelang-nyeling prolog dengan Bab. Nah, itu yg sekarang lagi aku coba lakukan, apakah flownya masih enak
Quote
kedua, salah satu faktor yg ngebikin ane lebih prefer baca novel bergenre horor/thriller/fantasi dibanding teenlit/chicklit, adalah gaya bahasa dialognya.
Masih gak natural ya? Hmm,… rasanya gue udah cukup mentok di sini :-\ Naskah 1991 jauh lebih jayus dari yg ini,.. hehehe,…. waktu 2005 ditulis ulang, aku sempetin minta pendapat anak-anak SMA, kebetulan mereka gak komplain. Tapi saya coba perbaikin lagi sebisanya sesuai gaya mutakhir mereka.
Tapi gaya itu memang saya pilih untuk mengkontraskan perbedaan jaman, harapannya agar konflik batin Jaka bisa lebih muncul, bahwa masalah yg dia hadapi itu bener-bener diluar ‘dunia’ anak-anak itu, gitu seh. Ceritanya gue pengen bikin pembaca ‘mikir’ bahwa, giiila anak SMA dihadapkan pada masalah seperti itu,….
Quote
Terus rasanya (sekali lagi, ‘rasanya’–ini murni perasaan ane doank lho ) ada inkonsistensi gaya bahasa antara setting dunia Sentika & dunia Jakarte si Jaka.
Gue juga ‘dapet’ concern elo. Bener juga sih. Elo belum baca Part 3, ya? Sebenernya dua kontras itu akhirnya memang akan ‘menyatu’, terutama di Part 3. Di Part 1 (di luar prolog) Dunianya masih Dunia Jaka (SMA Masa Kini), Part 2 mulai masuk ada pengaruh-pengaruh dari Dunia Mistik ke Dunia Jaka (aku buat suasana perkemahan kacau balau, dan peserta mulai ngalamin keanehan-keanehan secara di depan mata, tapi belum 100% realized), dan di Part 3, anak-anak SMA itu bener-bener masuk dalam dunia mistik. Pada saat itu, gaya bahasanya udah lebih kurang kembali ke warna gaya bahasa Sentika.
Terus terang rancangan proses ini membuat gue excited juga, cuma untuk eksekusinya, ya masih perlu dikritik oleh temen-temen,…
Quote
rasanya ide ‘titisan’ (reinkarnasi) tak cocok dengan ajaran Islam yg menjadi background Pendekar Garuda, karena setahu ane kayaknya ajaran agama2 rumpun abraham tak mempercayai konsep reinkarnasi. Jadi yak, disitu agak2 terasa tidak konsisten dgn background Islam-nya IMO, heheheh
Well, sebenernya novel ini pun gak menggunakan ajaran Islam sebagai landasan, koq. Islam hanya sekedar menjadi dudukan setting aja, terkait sama perkiraan jaman saat konflik pertama berlangsung (enam ratus tahun yg lalu, kerajaan yg dominan di Jawa kan kerajaan islam, hehehe).
Terus konsep gue bukan titisan, melainkan ‘keturunan’. Yg menurun juga ilmu-ilmu silat dari para pendekar itu. Ceritanya diilhami dari temuan ilmiah yang ga ilmiah-ilmiah juga bahwa ilmu pun dapat imprint di DNA. Tapi sengaja gue bikin kabur hal-hal ilmiah, soalnya mau lebih pake pendekatan mistik,.. hehehe,…
Jadi kalo pun novel ini mau dibilang punya spirit ajaran Islam, kayaknya sih lebih ke konsep islam jawa, yang masih sinkretis dengan Hinduisme, sebagaimana kondisi setting di Jaman Sentika seharusnya.
Quote
dan kalo tak salah ada nyebut angka ’666′ juga yak? kayaknya setahu ane angka ’666′ itu origin literaturnya dari alkitab, disebut sebagai bilangan anak manusia.. nah kan lagi2 kepentok sama background Islam-nya..
tapi (lagi2 oh lagi2) secara ane bukan Muslim, sebetulnya ane juga kurang yakin, apakah Al-Quran ada nyebutin bilangan 666 itu juga? kalo di dalam Quran juga ada, berarti pendapat ane di atas sekali lagi absurd (makan tempe pake sayur lodeh, capeee deh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif))
hehehe,… bener banget, bro. di Islam konsep ini ga ada. kenapa gue pilih? Soalnya ide 666 udah sangat populer sebagai sesuai yang ‘evil’. Terutama sejak muncul film Damien Omen, Nah ceritanya gue mau memanfaatkan ‘pemahaman bawah sadar’ pembaca tentang suatu ‘evil’ yang sangat ‘tradisional’, ya konsep 666 itu.
Tapi emang gue gak berani memunculkan konsep ini terlalu sering, takut jadi benturan. Makanya gue lebih banyak ngomong “enam ratus tahun yg lalu etc”.
Quote
terus waktu jaka beraksi dengan mengeluarkan jurus kanuragannya pas diserbu anak2 stm, rasanya kok tiba2 banged, cuman bermodalkan mimpi berulang2 sbg seorang pendekar tangguh & titel ‘titisan’ itu, ujug2 dia digambarin berubah menjadi tokoh yg ‘sakti mandraguna’ dalam tawuran itu (bisa mecahin batu ), dari sebelumnya anak sma biasa. kalau menurut gw, biar kesannya lebih natural & believable, ada baiknya diceritakan dulu tahap2an sepele di mana jaka perlahan menggali bakatnya yg terpendam.. mungkin dari hal2 kecil kayak di sekolah dia sering mecahin kapur pas nulis di papan tanpa sebab (ceritanya pan gara2 luapan energi kanuragannya itu, heheheh), ato hal2 sepele laennya, sampe akhirnya, adegan tawuran itu jadi klimaks di mana dia bisa menunjukkan bakatnya secara utuh.
Hmm,.. agak susah. Soalnya konsep gue memang ilmu itu udah ‘ada’ di dalam diri Jaka sejak lahir, tapi baru keluar hanya di saat keadaan amat berbahaya. Kondisi-kondisi berbahaya kan dialami oleh dua tokoh, Jaka dan Rani, dua-duanya sempat sekelebat ‘muncul’ ilmunya. Ini juga alasannya karena mereka memang ‘dilindungi’ oleh Sentika, terutama dari ancaman musuh2 Sentika di jaman ini.
Kalo konsepnya semacam ‘pertumbuhan’ ilmu, berarti ada akumulasi, makin lama makin jago, gitu. Susahnya, gue harus mempertahankan kondisi Jaka sebagai orang yg ngga ngerti ada apa dengan dirinya, makanya ilmunya ngedadak muncul, tapi ngedadak juga hilang lagi. Buat gue Jaka tetep jadi orang biasa adalah penting, sebab gue mau bikin misteri itu tersingkap di depan mata Jaka satu persatu, sampe bikin dia ngeri sendiri hehehe.
Baru saat akhir Part 1, melalui sebuah proses ‘klimaks’ kecil, akhirnya Jaka bener-bener mewarisi ilmu itu, diajar langsung oleh Sentika (part ini udah baca, belum?)
Quote
(mampus dah gw, berani komentar nyelekit ginih ke mahakarya seorang reviewer kelas biawak, bener2 cari matik(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif))
;D ;D ;D mahakarya! ;D ;D ;D
Seriously, yg pengen gue anggep sebagai mahakarya adalah sekuelnya! Cuma belum start bikin! hwkakakak
This time, I’ll let you live,…!!!
Beribu thanks,……
FA Purawan
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: rd_Villam on May 05, 2008, 01:20:47 pm
________________________________________
halo semuanya…
rey, dian, hege, fapur, vadis, kokon, arik, clara, cil, lich, eniyorda, dan semuanya dan semuanya (<–ciri khas penulis malas yang enggan berdeskripsi ria… hehe…)
apa kabar?
gimana proyek novel kalian semua?
udah berapa persen? dah pada dikirim lagi ke penerbit belon? tetap semangat ya…
lama gak masuk ternyata banyak pembahasan menarik, terutama pembahasan om fapur dan rey.
hmm… jika melihat review2 ente, aku kok optimis suatu hari nanti bakalan ada FFDN Award, buat novel fantasi terbaik Indonesia setiap tahunnya. hehehe… siapa tau jadi ajang yang ngetop nanti. coba aja bikin mulai tahun 2008 ini.
buat om fapur, aku belum baca draft novelmu, tapi aku penasaran dengan konsep 666 tahun itu. bukan soal arti angka itu, tapi soal penanggalannya. itu berarti pake penanggalan jawa, hindu atau islam ya? yang jelas jaman dulu belon ada penanggalan masehi ya. (berhubung 666 tahun yang lalu di tanah jawa masih jaman majapahit, budaya islam belum masuk. pelaut belanda juga baru dateng 400-an tahun yang lalu)
hmm… menarik juga neh… coba deh ntar kubaca… (belon baca udah cerewet duluan. hihihi… sori…)
ciao.
________________________________________
Post by: cheppy70 on May 05, 2008, 03:14:24 pm
________________________________________
Ya pakai penanggalan masehi aja, lah biar gak usah pusing-pusing, hehehe,…. Kan sekedar sebagai referensi waktu aja, enam ratus tahun sebelum jaman sekarang.
Dengan setting 1990-an (ngga tahu deh apakah tetep aplicable dengan setting 2000-an), maka peristiwa dalam prolog novelku akan berada di sekitar tahun 1300-an.
Di tahun-tahun segitu, Islam sudah masuk Indonesia, misalnya kerajaan Samudra Pasai aja udah ada sejak tahun 1000-an. Di Jawa sendiri masih sekitar menjelang akhir dinasti majapahit (Dinasti Mataram baru ada tahun 1500-an). Aku merekonstruksikan kondisi masyarakat waktu itu sebagai peralihan antara budaya Hindu dengan budaya Islam. Maka konflik yg terjadi di dalam prolog, mungkin bisa juga diinterpretasikan sebagai pertentangan pandangan antara pandangan lama vs pandangan baru di jaman itu. Oh iya, ini juga untuk mengoreksi statemen gue di posting sebeumnya, ternyata memang di tahun-tahun itu kerajaan islam belum dominan,… hehehe,… :-[
Monggo dibaca.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: clickdian on May 11, 2008, 04:56:26 pm
________________________________________
Oke guys, ini review buku kedua Septimus Heap, Flyte.
To be honest, yang pertama kali narik aq untuk baca buku pertamanya adalah endorsement dari Kirkus Review, “Awas Harry… Ada penyihir muda baru yang sedang naik daun.” Secara gak langsung review ini menyejajarkan karya Angie Sage ini dengan Harry Potter, dan aq pengen tau kenapa.
Buku pertamanya, Magyk, nggak terlalu menarik buatku karena pengaruh endorsement tadi, yang bikin aq bandingin kisah Septimus Heap dengan Harry Potter (hey, don’t blame me, that’s what you’ll get with endorsement like that!). Rowling lebih sukses menghidupkan tokoh2nya dengan dunia yang lebih mendekati natural, deskripsi khayalan yang lebih nyata, joke yang lebih kena, dan emosi yang lebih menyentuh. Angie lebih dingin, dunianya lebih asing dan tanpa pengenalan di awal, joke2nya datar—please, deh, masa setelah halaman tiga ratus sekian aq baru nyengir, sih?—dan langka, lebih banyak kerut di kening karena belum menangkap isi cerita, dan spell2 yang membingungkan. Di akhir cerita barulah aq ngerasa ada something di buku karya Angie ini, dan aq baca ulang dari awal sekali lagi untuk nemuin apa yang hilang. Yang aq temuin, dia punya originalitas, terutama di sisi spell words, dan plot yang beda dengan tipikal kingdom-fantasy stories yang biasanya. But still, aq kurang puas.
Baru di buku kedua aq nemu apa yang salah. Si endorsement itu tadi! Mestinya gak usah ada, karena bikin sugesti Harry Potter syndrom duluan, dan sejak awal karena aq udah mikirin Harry, udah sebel duluan karena mengira Septimus salah satu buku peniru Harry Potter, duh! Penilaiannya jadi subyektif. Pas buku kedua, aq skip sinopsis di belakang bukunya dan langsung baca, and I feel comfortable with the story. Pertama tentu saja karena udah tau gimana cara magyc spells bekerja di dunia Septimus—puluhan spell berserakan di setiap lembarnya dan awalnya mengganggu karena ditulis dengan huruf2 bold, kedua karena segunung tokoh2 di dalamnya udah kukenal sebelumnya, dan ketiga karena aq gak keingetan soal ‘membandingkan serial ini dgn Harry Potter’—sehubungan dengan endorsement tadi.
Oke, OOT-nya udah kelewat jauh, back to the topic.
Oh, btw, Septimus adalah anak ketujuh dari Silas dan Sarah Heap. Anak2 yang lain tinggal di hutan karena merasa kehidupan hutan lebih fun: Sam, Edd, Erik, dan Jo-Jo. Nicko, yang menggemari kapal dan dunia perairan, lebih suka berada di pelabuhan. Simon sendiri sudah setahun menghilang, sejak pengangkatan Septimus menjadi Murid. Jenna, sang Puteri, sejak bayi sudah tinggal sebagai anak di keluarga Heap yang menemukannya ditelantarkan di tengah salju dan tidak mengetahui fakta kalau ia seorang Puteri sampai ulang tahunnya yang kesepuluh.
Yang jadi pokok permasalahan adalah, Septimus adalah anak ketujuh dari Silas—yang juga anak ketujuh dari Benji Heap (kakek Sep telah berubah menjadi pohon dan membaur di hutan bersama pohon2 lain). Nah, putra ketujuh dari putra ketujuh diyakini memiliki kekuatan Magyc yang luar biasa, karena itulah Marcia mengangkat Sep menjadi Muridnya padahal waktu itu Sep baru sepuluh tahun.
Beda dengan buku pertama, buku kedua lumayan enak diikuti. Cerita berawal dari kehidupan Septimus setelah jadi Murid dari Marcia Overstrand, Penyihir Luar Biasa—orang yang sangat dihormati di dunia Septimus—dan tinggal di apartemen Marcia di Menara Penyihir. Tiba-tiba Jenna, calon Ratu, diculik oleh Simon Heap, kakak sulung Septimus yang iri setengah mati pada Septimus yang diangkat menjadi Murid Marcia.
Sep yang menjadi saksi penculikan menceritakan pada orang2 kalau Simon telah membawa Jenna, tapi tak seorang pun yang percaya kecuali Nicko, dan mereka berdua pergi mencari Jenna. Agak aneh, memang dari banyak sekali orang di sekitar mereka tak satu pun orang dewasa yang cukup wise untuk mengkonfirmasi berita ini, dan sebagai akibatnya dua anak di bawah umur harus menyelamatkan adik angkat mereka.
Jenna sendiri akhirnya bisa menyelamatkan diri dengan usaha yang bisa dibilang terlalu mudah, mengingat ia tidak mengenal Magyc sebaik Heap bersaudara, dan Simon telah lekat dengan Magyc Gelap. Duh, seharusnya Simon lebih kuat dari yang diceritakan. Kok bisa anak perempuan lolos dari pengawasannya begitu mudah T_T. Sep dan Nicko menemukan Jenna di pelabuhan (Jenna pergi ke sana naik kuda yang dicurinya dari Simon)—which is too coincidental, dan agak aneh karena lumayan hebat juga Jenna bisa pergi ke pelabuhan dari tempat tinggal Simon nun jauh di utara (kalo dilihat di peta). Ada Stanley si tikus dari Dinas Rahasia Tikus memang, tapi tanpa makanan yang cukup dan peta sama sekali, dua jempol buat Jenna deh, bisa sampe di pelabuhan tanpa mengalami pingsan di jalan.
Dan Marcia sendiri, sebagai petinggi di kerajaan ini, tidak cocok dengan tipe orang-kepercayaan-rakyat yang biasanya. Dia pemarah, kadang egois, sedikit ceroboh, sering tidak mau kalah walaupun sebenarnya salah, agak mudah tertipu dan yang tadi itu—kurang wise. Pertimbangan2 Marcia masih kalah dari Alther, hantu gurunya yang masih keluyuran di dunia, bahkan untuk urusan penjagaan Istana pun Alther yang bertanggungjawab (karena ibu Jenna sudah meninggal, ayahnya entah ke mana dan Jenna masih terlalu muda untuk jadi Ratu). Walaupun demikian, dia sakti, penyayang (tapi jaim), dan bisa diandalkan. Tapi terus terang, dalam banyak hal, Sep yang baru sebelas tahun lebih baik darinya (semoga Septimus cepat dewasa dan menggantikan Marcia sebagai Penyihir Luar Biasa, amin). Dan di buku kedua ini bahkan Nicko jauh lebih berguna dari Marcia.
Flyte sendiri adalah sebuah jimat kuno yang bisa menerbangkan orang, yang telah lama hilang, dan terdiri dari dua bagian. Ternyata bagian pertama ada di dalam buku yang dipegang oleh Marcia, dan bagian yang satu lagi juga dimiliki Marcia, tapi diberikan pada Sep setahun lalu. Sampai sini aq mikir, KOK BISA Marcia nggak nyadar dua potongan jimat itu ada di tangannya selama ini, sih? Yang satu malah sampai jatuh ke tangan musuh segala. >:(
Masih ada kebetulan-kebetulan dan aturan2 lain yang sebenernya agak mengganggu, seperti garis matrilineal yang mengangkat anak perempuan jadi Ratu tapi suaminya bisa bebas keluyuran sebagai pengelana tanpa terikat dengan urusan kerajaan (jadi, tokoh raja di cerita ini murni hanya untuk urusan reproduksi). Tapi aq putusin udahlah, mending nikmatin aja ceritanya, dan ternyata not bad. Aq suka originalitas Angie dalam serial ini, dia gak kejebak sama stereotype fiksi fantasi yang kalo nggak seputar kisah heroik ya dunia peri-centaur-elf dan mitos2 lainnya. Di dunia Septimus Heap bener2 banyak hal baru.
Dan akhirnya, setelah baca dua buku pertama, I finally admit that Septimus Heap series is worth to read .
Note:
Reading Instruction
1.Singkirkan hal-hal yang berbau Harry Potter, LOTR, Artemis Fowl, dan Zauri
(hehehe ;D) out of your mind before reading Septimus Heap. It’s a brand new
thing.
2.Disarankan baca buku pertama, di situlah semua masalah berawal. Kalo
nekat juga skip dan ngerasa bego pas baca buku kedua, resiko ditanggung sendiri,
ya! ;D
3.Baca pelan-pelan kalo ketemu huruf tebal atau italic, kata-kata yang diperlakukan
dengan bentuk huruf demikian bisa sangat mempengaruhi jalan cerita—yang bold
adalah spell yang dikeluarkan para tokoh, dan yang italic biasanya hint atau clue
atau nama sesuatu. Dan, spell yang berbeda bisa menghasilkan efek magyc yang
sama. Selamat pusing, hihihi. 
4.Ukuran novelnya nggak enak buat dipegang T_T, nanggung. Cari posisi yang enak
aja deh kalo baca, mudah2an nggak ngalemin pegel2. 
5. Buat yang pusing liat postingan ini, sori dori mori yah
No Comments »
[tab:Hal 1]Sesi IX (5 Apr 2008 – 16 Apr 2008)
- Bagaimana sebaiknya novel fantasi kita?
- Tentang Candi Murca karya LKH
- Lagi, tentang Prolog
- Sedikit cuplikan Lemures karya BloodSin
[tab:Hal 2]
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 05, 2008, 08:18:57 pm
________________________________________
@Bloodsin, for the reviews,
Right on, bro. Thanks atas kadonya 
I see our POV gak selalu sama, tapi kita kan bisa saling melengkapi (apa sih).
Untuk Ledgard, rasanya gue sangat setuju. “Bule Celup”,… hehehe,.. kena banget. Itu sebenernya mark yg sudah lama ingin ku-ekspresikan tapi lama gak nemu istilah yg pas,.. Novel Ledgard sebenernya promising, tapi dia punya suatu kekurangan yang menyebabkan ceritanya menjadi nggak terasa ‘ngek’, gitu. Untuk yg satu ini, gue bahkan berhenti baca di pertengahan buku dan ngga ada hasrat ngelanjutin lagi.
(Makanya Ledgard ga ada reviewnya di gue,.. heheheh. Tapi pikir-pikir jadi pengen buka lagi tuh buku)
Zauri, pengen baca, tapi koq rasanya ga pernah liat judul ini di toko buku ya? Sama kayak Cardan,.. ga pernah liat juga.
Untuk Cardan setelah liat covernya, tumben keren,…. ??? Sub judul Hinkal Core, juga menjanjikan sesuatu. Tapi review kamu udah obyektif bilang bahwa penamaan tokohnya kacau. Dan gua akan setuju banget kalau itu bakal menjadi letdown factor.
Lemuria,…?? Bisa dibeli dimana dong?
OK, happy writing, semuanya.
FA Purawan
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 06, 2008, 07:48:20 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on April 05, 2008, 10:01:28 am
-Misteri Pedang Skinheald (satu2nya novel fantasi bersekuel yang udah terbit sekuelnya–salut!)
Sedikit koreksi mengenai Skinheald.
Sebagaimana udah kutulis juga di blog review gue, Skinheald 1 hardly called Buku 1, soalnya itu bener-bener hanya semacam prolog yang dicetak terpisah. Inget buku-buku Sapta Siaga? Nah, Skinhelad 1 cuma setebel itu aja, dengan konsep penceritaan yang juga belum utuh.
Tapi salutation tetap berhak disampaikan pada Ataka, sebab kalau buku 1 dan buku 2 digabung pun, akhirnya menjadi satu kesatuan cerita yang merupakan sebuah buku tebaaal,.. yang diselesaikan oleh seorang anak usia sebelas tahun. Gue yakin di antara kita aja yang nota bene udah lewat dari usia 11 tahun (bener gak?), pada usia yg sama belum ada yg mampu membuat sebuah cerita utuh dengan kualitas menyamai Ataka punya,… hehehe,….
Persoalan sekarang tinggal masalah produktivitas. Konon akan ada sekuelnya lagi, tapi sampai sekarang masih belum ada kabar (Ataka seperti tenggelam. Lagi sibuk ujian, kali?).
Tapi mungkin juga tema Fantasi panjang (tebal) merupakan tema berat buat ditulis oleh pengarang remaja (gak usah pengarang remaja, yg tua aja ngos-ngosan,.. ). Contoh seri Eragon, sampai sekarang buku 3 setelah the Eldest masih belum muncul. Padahal kalo bicara bisnis, terlalu lama jeda antara serial akan menyebabkan penerbit kehilangan momentum, dan pembaca keburu kehilangan excitement.
Kalo dipikir-pikir begitu, berarti emak JK Rowling emang bener-bener top ya? Bisa menyelesaikan 7 bukunya dalam rentang waktu yang cukup berdisiplin (setahun sekali), sementara seluruh dunia menunggu. (Kalo udah gitu, God,… gue bener-bener pengen bercita-cita serius jadi penulis sejak muda, hehehe).
FA Purawan
[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: BloodSin on April 06, 2008, 03:41:19 pm
________________________________________
@villam,
haduh diposting disini lg review-nya kan malu bang, ada om FA Pur(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
But eniwei TQ banged dah buat segala masukannya–terutama untuk adegan2 kemunculan Esther yg terpisah terlalu jauh–i’ll fix it.. 
sekali lagi, TQ, ente udah mau ngebacak versi lemuria yg masih superamburadul ituh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
Gak usah dibaca ulang lg deh bang, secara, versi yang ente baca ama versi yg sekarang ada di kompie ane dah lumayan berubah n dipermak di mana2.. (hehe..contohnya, karakter Guillarde udah gw pecah jadi dua orang )
Judulnya aja udah bukan Lemuria lg 
eniwei, ga ada komen buat review keji Cardan gw? ayo donk bantah satu-dua statement gw.. biar nih tret bermutu dikid
@clickdian,
ada yang nyari Zauri tuhh
@om cepi,
Cardan-nya dibeli ajah om.. serius gw penasaran banged bakal kayak gmn komen resentator sekaliber ente..
lgian tuh buku gak mahal2 amat kok om.. 
lagian lagih secara selera kita terkadang beda (untuk novel Hozzo contohnya ), siapa tau ajah Cardan keren abis di mata ente.. ;D
Novelnya Ataka terus terang gw cukup penasaran, soalnya banyak yg komen positif, tapi harganya yg cepekceng ngebikin gw mikir jutaan kali buat belik.. :-\
Hmm.. menurut ente, Skinheald ama Ledgard bagusan mana (diukur dari segi gaya penceritaan & plot)?
Novel gw? Belom terbit om.. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Reviewer2 berdarah dingin kelas biawak semodel2 ente yg ngebikin gw lama submit naskah ke penerbit.. ;D ;D
________________________________________
Post by: hege on April 06, 2008, 05:18:42 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on April 06, 2008, 08:11:14 am
Quote from: hege on April 05, 2008, 02:59:16 pm
temen-temen, (promosi) portfolio untuk artwork-artwork terbaru hege bisa dilihat di sini http://hege.cgsociety.org
Gambar-gambar Hege itu selalu dahsyat, Fantasy banget.
Heg, gue belum bisa angkat topi buat penulisan novel Sci Fi (whatever istilahnya, deh, hehehe) ente, improvement on the way, I believe, dan gue anxious to see them . Dalam hal ini gue berseberangan sama BloodSin, rupanya :p
Tapi gue takluk dan nyembah-nyembah untuk seni illustrasi elo, terutama yang baru-baru. :-*
Cocok banget buat ilustrasi Fantasy. Soalnya gambarnya gak sekedar gambar. Selalu ada aura kisah di dalamnya, sehingga bahkan dari ngeliat satu gambar aja udah bisa ‘keluar’ sebuku novel, atau setidaknya satu bab novel,… hehehe.
BTW, elo gambar pake Photoshop, berarti pakai tablet PC gitu dong? Kalau pake mouse,…. sakti banget, dah.
Salam,
FA Purawan
yeah begitulah, masih di bawah umur hege belum mentok lah tulisannya, masih mencari gaya tulisan yang pas, juga genre yg cocok, jadi improvement selalu akan dan sedang berlangsung, dan jelas hozzo bukan masterpiece-ku, tapi belum yakin juga akan menulis buku-buku keren di masa akan datang.
Mengenai ilustrasi, yak, itu salah satu kesibukan hege belakangan ini, sampai-sampai beberapa tulisan terlantar menyedihkan. Masih menunggu wahyu agung dari alam semesta raya yang bisa membuat semangat menulis membara lagi, heheheh. Btw, iyak hege make photoshop CS2, dan bermodal mouse kecil yang menyenangkan, jadi ga berharap bisa banyak brushing detil dengan aneka warna, dengan mouse hege hanya bisa memakai beberapa warna dengan setuhan-sentuhan brush ala kadarnya. Hasilnya tak begitu jelek kan? (jadi pengen pc tablet atau Wacom)
Oh ya mas, hege tak berhasil membaca ceritamu yang Pendekar Garuda, hege baca sedikit sih yang di group, tapi tak bisa melanjutkan baca karena beda selera jauh banget yak. sorry 
Tapi sekarang masih nulis kan, mas? umur toh bukan masalah, kapanpun kita bisa menulis cerita, setidaknya sampai kita kehilangan akal sehat, heheheh.
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: cheppy70 on April 07, 2008, 08:44:13 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on April 06, 2008, 03:41:19 pm
@om cepi,
Cardan-nya dibeli ajah om.. serius gw penasaran banged bakal kayak gmn komen resentator sekaliber ente..
lgian tuh buku gak mahal2 amat kok om..
Done! PM aja berapa duit aku mesti tebus. Termasuk dengan ongkos kirim ke area Pancoran Jakarta Selatan dengan TIKI ONS (yg satu malem itu. Kalo yakin bisa sampai satu hari dengan TIKI biasa sih oke juga). Aku bisa transfer pakai BCA atau Mandiri. Kasih tahu no rek mu aja.
Tapi bukannya masih sampeyan baca?
Quote
lagian lagih secara selera kita terkadang beda (untuk novel Hozzo contohnya ), siapa tau ajah Cardan keren abis di mata ente.. ;D
Hmm,… let’s see, my friend, let’s see,…..
Quote
Novelnya Ataka terus terang gw cukup penasaran, soalnya banyak yg komen positif, tapi harganya yg cepekceng ngebikin gw mikir jutaan kali buat belik.. :-\
Hmm.. menurut ente, Skinheald ama Ledgard bagusan mana (diukur dari segi gaya penceritaan & plot)?
Secara gue belum menyelesaikan Ledgard, maka komentar gue tentang Ledgard masih belum finish (kayaknya gue akan bikinin reviewnya aja deh sekalian). Tapi so far yang bisa aku katakan adalah kenapa gue baca Ledgard sampai segitu lama gak selesai-selesai.
(Biasanya gue termasuk gigih baca buku. Kalaupun dari sisi gaya atau cerita kurang cocok, tetep gue usahakan diselesaikan walaupun harus makan waktu berbulan-bulan. Makanya khusus Ledgard ini termasuk langka buat aku).
Sebenernya Ledgard itu, seperti gue sempat bilang, cukup menjanjikan. Perjalanan Plotnya so far sebenernya bagus dan terencana dengan baik. Beberapa konsep universe-nya sekali lagi cukup menjanjikan. Misalnya kapal kapal yang melayang (Kayak Final Fantasy series), Sihir 5 unsur, dll, sebenernya cukup membangun universe yang solid, lah. Detail juga patut dipuji. Kekurangan, seperti yg elo udah bilang, adalah unsur bule Celup-nya itu. Tapi kalo gue mau jujur, dalam naming convention Ledgard ini malah udah lebih baik dari Skinheald, atau mungkin juga Cardan. Aspek ilustrasi, standar lah, nggak terlalu mengesankan gue.
Satu kelemahan Ledgard buat gue adalah dalam manajemen tempo. Membaca novelnya adalah seperti mengayuh sepeda dari Cibubur sampai Ancol :’( Alias panjang, santai, dan mendatar. FLATLINER! (eh, asyik nih, kayaknya statemen ini bagus buat review,…hehe). Bukannya nggak ada action scenes, sih, tapi gimana ya? Kayaknya pengarang menganut falsafah seperti orang Jogja, alias jalan pelan-pelan dan biarkan problem datang ke saya bukan saya datang ke problem. Malah gue sebagai pembaca jadi gak sabar! hehehe,… (yg orang Jogja maap yak ;D)
Nah, kalao mau dibandingkan, maka Ataka justru lebih mahir mempertahankan tempo dan ritme. Dia bisa menciptakan ketegangan-ketegangan kecil dan klimaks-klimaks yang membuat pembaca betah membaca novelnya. Sebagai informasi, gue baca novel Ataka kira-kira dalam waktu seminggu. Baca Ledgard? Udah berapa tahun, yaks? Hehehe,……
Lain-lain mengenai Skinheald, aku rasa udah cukup terwakili dalam review gue:)
Quote
Novel gw? Belom terbit om.. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Reviewer2 berdarah dingin kelas biawak semodel2 ente yg ngebikin gw lama submit naskah ke penerbit.. ;D ;D
Ha ha ha,.. ;D ;D ;D, Masa ente takut sama biawak?? lagian komentar gue mah gak perlu dipusingin. Komentar editor/ penerbit, kan bisa lain dan justru lebih ‘mematikan’, hehehe.
Satu filosofi biawak: Biawak cuma bisa makan nyamuk. Kalau ente memang Macan, maka biar biawak berkoak-koak kayak apa, juga, ente sejatinya tetap Macan. So, keep your faith with you (and ur writings!).
Moga-moga sukses!
FA Purawan
[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: BloodSin on April 08, 2008, 12:30:32 pm
________________________________________
Ledgard emang sip aturan tata namingnya, tapi kalo buat selera naming dalam Ledgard, ane kurang suka.
Somehow, nama2 dalam Ledgard (contohnya buat bangsa Felis-nya) terkesan dibikin asal jadi, walo emang aromanya masing2 senada dalam satu wadah bangsa.
Hmurrdar Jaar, Nraam, Himraur Darru
C’mon, seharusnya penulis fantasi bisa lebih baik dari itu bikin nama. Kebanyakan penulis fantasi indo (kayak penulis Cardan juga), bikin/milih nama lebih mengandalkan aroma ‘aneh bin ajaib’ daripada keindahan/’ketepatan’nya. Sejauh ini, dari semua fantasi lokal yang pernah ada, gw paling salut sama NAREND buat tata namingnya.. (yg ini ente juga udah baca tah, om? kok tak ada komen/review?)
Alur Ledgard emang lambat, gw juga sempet berhenti baca saking bosennya (baru tamat ampe berbulan2). Ini cukup aneh, secara tipe Ledgard itu RPN–genre fantasi yang amat bertendensi buat ngebut.
BTW gw baru tauk Ledgard ini edar lagi taon 2007 kemaren lho, keren juga eksis dari taon 2006…2 taun euy. BTW lagih kayaknya dari semua fantasi lokal, Ledgard ini yg paling populer.. mungkin karena cetakan pertamanya yang 5000 eks–CMIIMW. Ini ada bbrp link yg ngomongin ledgard,
http://www.goodreads.com/book/show/1396766.Ledgard_Musuh_Dari_Balik_Kabut
http://perca.blogdrive.com/archive/cm-12_cy-2005_m-12_d-30_y-2005_o-0.html
http://groups.yahoo.com/group/dunialedgard/
(yg ini saingan sama yahoogroupsnya si om FA Pur )
@om FA Pur lagih,
oom, ane yg notabene sejiwa sama ente (dalam bidang ‘pemburu’ & komentator novel2 fantasi lokal ), udah baca semua review2 maut ente–khususnya review novel2 fantasinya. 
Hampir semua dibabat abis ma ente yak(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
untuk beberapa poin, ane bisa sepakat ama komen2 ente…hehehe.. 
tapi novel goran yg ane puji abis2an aja, kayaknya masi belum berhasil menaklukkan selera & standar fantasi ente yak…
serius nih, ane jadi penasaran banged, sebetulnya novel fantasi kayak gimana yang om FA Pur harapkan untuk lahir di tangan penulis fantasi indonesia?
Apakah fantasi yang kuat di plot? Atau yang bersetting mitos lokal? Atau yang memiliki filosopi kuat? Atau yang beride orisinil? ???
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 08, 2008, 03:22:15 pm
________________________________________
Yaaah, kalo ada ditoko buku sih udah gue beli. So far belum nemu tuh? Udah ada budget khusus buat beli buku tiap bulan. Tapi berhubung novel Fantasy lokal jarang, ya yg kebeli kebanyakan novel2 terjemahan 
Ya gue akan keep looking aja dah.
Somehow, nama2 dalam Ledgard (contohnya buat bangsa Felis-nya) terkesan dibikin asal jadi, walo emang aromanya masing2 senada dalam satu wadah bangsa.
Memang gue juga kurang suka dengan hasil akhir (nama)nya. Terutama justru NASH, hehehe,.. gak mengesankan karakter apapun. Tapi di titik ini gue memuji prosesnya, bahwa pengarang menyadari perlu suatu konsistensi dalam penamaan tokoh dan tempat.
NAREND udah baca, agak lama sih berlalu, makanya gak kubikin review. Tapi Gue setuju juga bahwa tata naming Narend yang paling bagus, setidaknya paling natural. Tapi hal itu mungkin lebih disebabkan setting yang masih semi Fantasy, alias masih ada paralelnya dengan dunia nyata.
Satu hal di Narend yg gue nggak sreg, plot bagian depannya udah cukup memikat dan realistis, tapi endingnya jadi ngga terlalu believable. Udah gitu ngegantung, kan? Seinget gue para tokoh balik dari kuil harta itu, tapi perjalanan belum finish tapi cerita udah di finish-kan oleh pengarang. Jadinya seperti ending tidak pada tempatnya,… hehehe,…
Quote
serius nih, ane jadi penasaran banged, sebetulnya novel fantasi kayak gimana yang om FA Pur harapkan untuk lahir di tangan penulis fantasi indonesia?
Apakah fantasi yang kuat di plot? Atau yang bersetting mitos lokal? Atau yang memiliki filosopi kuat? Atau yang beride orisinil? ???
Wah gimana yah? Kalo ditanya gitu gue malah bingung. Secara gue lahir sebagai tukang cela sehingga apa-apa jauh lebih mudah mencela (ya toh?), daripada menyebutkan saran terbaik. Wong bikin (dengan tangan) sendiri aja hasilnya belum tentu seperti idealisme (di kepala) sendiri, ya gak?
Tapi yang gue ‘tuntut’ dari sebuah Novel (terutama Fantasy) sebenernye ‘sederhana’. “Jadikanlah aku larut dalam Duniamu!”. Jangan jadikan aku bertanya-tanya (karena ada yg nggak jelas atau nggak logis), mengerenyitkan kening (karena sesuatu yg terasa janggal), jangan ‘tarik’ aku keluar dari Duniamu karena justru untuk ‘hidup’ di dalamnya lah aku memilih buku Fantasy, bukannya Chiklit .
Dengan requirement sesederhana itu, mestinya sih beberapa sendi-sendi bangunan novel harus kuat, ya? Kalo plotnya ngga genah, gue akan sulit menikmati alasan-alasan tindakan maupun pikiran para tokoh. Kalau setting-nya nggak solid, gue akan sulit bertahan di dalam dunia yang diciptakan pengarang. Kalau tempo-nya ga ‘engaging’, mungkin gue akan sibuk bikin lagu sendiri . Kalo tata bahasanya ngga konsisten, bisa jadi gue akan terlempar dari alam fantasy ke dunia lain >:( Even becandaan (humor) yang ngga pada tempatnya pun akan mengalihkan mood dari seharusnya. Gue sendiri nggak akan memaksa pengarang untuk punya pikiran yang searah dengan gue. Kalo gitu berarti gue nggak akan bisa masuk ke dunia ciptaan pengarang ??? Tapi sebuah karangan yang baik tentunya punya satu kekuatan yang menyebabkan orang bersedia ‘masuk’ di dalamnya dengan sedikit atau tanpa resistensi sama sekali.
Kenapa dunia Harry Potter bisa dicintai orang banyak? Menurut gue ya kemampuan melarutkan pembaca itulah. Kenapa Laskar Pelangi bisa digandrungi orang banyak? (bukan novel Fantasy, sich. Tapi sekedar contoh mengenai novel yg booming, aja) karena orang bisa larut, terpesona, tertawa atau menangis bersamanya (Gue sangat ‘terbawa’ di bab Mahar mementaskan tarian Afrika dengan bubuk gatal itu,… dahsyat, man).
Kadang gue ‘mikir,…. apakah mungkin dunia kepengarangan kita masih eforia dengan genre fantasy, sehingga menyangka bahwa untuk bikin Fantasy cukup dengan mengarang nama-nama aneh? Sejatinya untuk bikin pembaca bener-bener percaya dan larut, itu gak mudah. Kuharap,… kita bisa sama-sama meraih keterlarutan ini (busyet jelimet) dalam karya-karya yang kita hasilkan!
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 09, 2008, 09:27:48 am
________________________________________
@All,
Allow semuanya, selamat pagi 
Ada yg mo saya tanyain, nih buat rekan-rekan, yaitu mengenai Novel CANDI MURCA karangan Langit KH. Ini proyek ambisiusnya LKH untuk menerbitkan novelnya sendiri melalui LKH productions, dengan komitmen menulis 10 halaman per hari, sehingga 1 buku 800 halaman bisa diselesaikan dalam waktu 3 bulanan
Pertanyaan saya adalah mengenai genre Novel ini, apakah bisa dimasukkan dalam genre Fantasy. Pertimbangannya, dia menggunakan setting era Singasari yang dimodifikasi, istilahnya di rekonstruksi kembali , sehingga menghasilkan universe yang berbeda dengan kondisi obyektif singasari yang dikenal melalui studi sejarah.
Seperti yg saya tahu, ciri khusus genre fantasy adalah pengarang menempatkan cerita novelnya dalam sebuah setting yang berbeda (setting imajinatif) dari Dunia yang kita kenal. Dalam praktik, dunia yg bukan dunia kita itu bisa saja berlandas pada planet atau negeri yang bener-bener antah berantah, atau bisa juga masih punya koneksi dengan dunia kita saat ini (seperti di Harry Potter, Stardust, Neverwhere, His Dark Materials dll). Koneksinya bisa temporal, ataupun spatial.
Candi Murca menggunakan setting tahun 2011 M serta delapan ratus tahun sebelumnya secara berganti-ganti. Plotnya bercampur antara kisa misteri dan kisah persilatan, seolah dua buku dijadikan satu jilid.
Apakah dengan kondisi-kondisi ini, Candi Murca layak dimasukkan genre Fantasy?
(Kalo iya, aku masukin di antrian review, nich,… hehehe)
FA Purawan
[tab:Hal 5]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 09, 2008, 12:04:17 pm
________________________________________
Hai…
@rey, my good friend,
Aku rasa kamu terlalu kejam menilai cardan (walau tetap tak sekeji reviewmu dulu atas cerita ancurku. Hehe…). Masak cuma bintang satu. Apa cuma gara-gara naming? Aku rasa sih masih selevel deh sama numeric uno. Hehe… Cuma pendapatku sih…
Btw, kamu dah edit lagi lemurianya? That’s great. Tapi ati-ati ya, editing bisa jadi neverending process. Yeah… kamu tau lah… Kalo ntar butuh komen lagi, aku masih tetap bersedia.
Sip deh. Semoga sukses.
@fapur,
Kehadiranmu di ffdn benar-benar bermanfaat nih… hehe… terutama buatku yang masih perlu banyak belajar lagi dalam menulis. Salut.
Kapan-kapan review cerita-cerita amburadulku juga ya? Tapi jangan pingsan kalo nanti ngeliat banyak banget jeleknya. Hehehe…
Tentang candi murca, aku akan menyebutnya fantasi, yang menyodorkan dunia alternatif.
Kalo gak salah, salah satu nominator Hugo Award 2007 yaitu His Majesty Dragon karya Naomi Novik (huh, bener gak ya namanya?) juga bikin dunia alternatif untuk jaman Napoleon dulu.
Kalo gak salah ya… seperti biasa aku kan sok tau…
________________________________________
Post by: alk on April 09, 2008, 09:50:53 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on April 09, 2008, 09:27:48 am
Ada yg mo saya tanyain, nih buat rekan-rekan, yaitu mengenai Novel CANDI MURCA karangan Langit KH. Ini proyek ambisiusnya LKH untuk menerbitkan novelnya sendiri melalui LKH productions, dengan komitmen menulis 10 halaman per hari, sehingga 1 buku 800 halaman bisa diselesaikan dalam waktu 3 bulanan
800 halaman 3 bulan? wew… pengen bisa gitu, 80 halaman 3 bulan aja ga pernah kesampaian gw. ;D
pengen punya, tapi… kalo tebelnya segitu, harga berapa tuh?
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 09, 2008, 10:01:45 pm
________________________________________
liat tuh LKH bikin 10 halaman per hari…
aku butuh 10 jam per hari buat dapet 10 halaman… gila ajah… kayak gak ada kerjaan laen…
dapet 2 halaman per hari udah alhamdulillah…
________________________________________
Post by: BloodSin on April 10, 2008, 04:15:45 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on April 09, 2008, 12:04:17 pm
Hai…
@rey, my good friend,
Aku rasa kamu terlalu kejam menilai cardan (walau tetap tak sekeji reviewmu dulu atas cerita ancurku. Hehe…). Masak cuma bintang satu. Apa cuma gara-gara naming? Aku rasa sih masih selevel deh sama numeric uno. Hehe… Cuma pendapatku sih…
Numeric Uno masih mendingan daripada Cardan, somehow.
But sabar lha, gw kan masi belom beres baca (sampe sekarang, setiap malem, gw masih nyicil baca entah satu paragraf-satu halaman), kalo nanti bagian setengah buku terakhir udah beres gw baca dan gw menemukan ada poin2 yg positif, ratingnya pasti gw naekin dah(walo emang gak bakalan kejadian ratingnya berubah jadi 3 ato 4 bintang, heheheh)
Tapi ya itu, untuk perbandingan ajah, Numeric Uno, walaupun novel ini plotnya cukup blakatak n ide cahaya Zeta-nya mirip banged sama cahaya Zarta MIB 2, gaya bahasanya masih jauh lebih gampang gw cerna daripada Cardan.
Seperti yg udah gw bilang, cardan punya 3 faktor yg ngebikin gw lama ngeberesinnya. And seriously, naming yg amburadul nian itu sebetulnya masih bisa tertolong kalo plotnya masih didukung tata bahasa yang j_e_l_a_s dan alur yang proporsional. Deskripsi-deskripsi dalam Cardan bagi gw burem banged, dialog2nya aneh, dan udah gitu miskin greget–yg berujung alurnya terasa lambat, itu semua faktor yg bikin dia cuman berating 1 di mata gw..
________________________________________
Post by: Yu-shiki on April 11, 2008, 06:59:27 pm
________________________________________
Eh maap keluar jalur bentar.. prolog itu maksudnya apa sih?
Apa setiap cerita novel harus disertakan prolog?
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 11, 2008, 10:28:02 pm
________________________________________
Prolog,…
Gue sih paling demen menggunakan prolog, secara prolog membuka kemungkinan pengarang menjelaskan suatu latar belakang lebih dulu. Umumnya suatu peristiwa yang kelak akan mempengaruhi jalannya cerita. It gives some ‘suspense’ (dalam artian apapun, tidak harus bermakna ketegangan) kepada pembaca, supaya baca novel itu sampe selesei 
Selain itu prolog memberi keleluasaan bercerita tentang sesuatu yang tak langsung berhubungan dengan tokoh protagonis. DI mana tokoh protagonis biasanya akan muncul di Bab I sebagai titik awal cerita.
Tapi emang ga setiap cerita akan efektif menggunakan prolog. Semua itu tergantung sama strategi penyusunan plot yang diinginkan oleh pengarang.
FA Purawan
[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 12, 2008, 07:55:39 am
________________________________________
mengabaikan definisinya, prolog adalah bonus alias senjata sampingan buat penulis supaya ia bisa memulai cerita dari dua arah yang berbeda (satu di prolog, satu lagi di bab satu).
arah yang berbeda itu bisa berupa lokasi yang berbeda, waktu yang berbeda, tokoh yang berbeda, sudut pandang yang berbeda, dan tentu saja plot yang berbeda.
tidak semua cerita perlu prolog, apalagi kalau ceritanya sederhana. mau langsung masuk ke cerita/plot utama lewat bab satu juga oke-oke aja kok. tapi yang jelas, prolog adalah ‘advantage’ buat penulis, makanya aku bilangnya bonus.
pembahasan tentang prolog kayaknya udah banyak deh di halaman-halaman tret ini sebelumnya, termasuk jenis-jenis prolog yang biasa dipakai, dsb.
tapi yang penting sebenarnya memahami aja dulu apa sebenarnya fungsi prolog, yang kalo menurut pendapat bodohku adalah seperti ini:
- menarik pembaca dengan adegan2 yang memikat.
- memperkenalkan tokoh protagonis (di masa lalu, masa datang, atau masa kini)
- atau memperkenalkan tokoh lain (antagonis, korban)
- memperkenalkan setting (latar cerita: dunia, tempat, kasus)
- memperkenalkan suasana/nada cerita, apakah ini cerita ceria atau cerita gelap misalnya. pembaca tak ingin merasa ditipu nanti, mengira ini cerita aksi padahal isinya nanti bukan aksi, misalnya.
- memperkenalkan tema, inti cerita, masalah ‘hidup mati’ yang akan dijumpai dalam cerita, supaya pembaca merasa ‘ada pentingnya’ buat membaca terus.
- apa lagi ya? wkwkwkwkwk… halah… udahlah, aku ngasih teori-teori lagi…
________________________________________
Post by: clickdian on April 12, 2008, 10:28:55 am
________________________________________
Tambahan tentang prolog, be careful with this one, karena prolog yg ‘salah buat’ akan jadi seperti penyanyi yang salah milih lagu; bikin ilfil. Dan jangan salah, bikin prolog gak gampang, karena harus bisa ‘mengundang’ pembaca untuk lanjut ke bab berikutnya, tapi juga tidak keluar dari ‘tone’ cerita keseluruhan.
Personally, aq kurang suka pake prolog. Dari semua cerita yg aq buat, rasanya baru Segara Wulan yang pake prolog, itu pun belon kelar, hehe..
________________________________________
Post by: BloodSin on April 15, 2008, 11:56:11 am
________________________________________
ini nih gw post sedikit cuplikannya..
Kain membuat beberapa obor dari kayu-kayu bakar—sisa bakaran unggun semalam, dan segera memimpin penjelajahan menembus kegelapan. Lorong gua itu cukup luas pada beberapa langkah awal mereka masuk ke dalamnya, dan kemudian mulai menyempit pada beberapa titik sehingga orang-orang harus berjalan dengan merapat ke dinding.
Ketika mereka telah memasuki lorong gua cukup dalam, mereka menemukan semacam lambung luas. Obor yang dibawa sang marquis menerangi permukaan dinding yang ada di situ, dan segera saja Guillarde berdecak karena terpukau.
“C’est intéressant,” ia berkata takjub. “Tempat ini memiliki banyak hieroglif!”
Semua orang menerangi permukaan dinding yang dilihat Guillarde, dan kemudian menemukan gambar-gambar primitif yang terukir di atas dinding. Mereka menjadi takjub karena menemukan hampir di seluruh sudut lambung luas itu memiliki ukiran-ukiran. Ada banyak gambar yang dilihat mereka di situ: kebanyakan adalah gambar hewan, manusia primitif, dan benda langit.
Langkah Larke terhenti pada suatu ukiran yang menampilkan gambar dari sekelompok mahkluk cebol yang berlari kocar-kacir dari sesuatu yang menukik di atas mereka—seekor burung besar, dan ia melihat pula ukiran bulan sabit dan matahari yang ada berdampingan dalam gambar itu; sebuah lukisan dinding yang amat menarik perhatiannya. Merasa mengenali bentuk burung itu, ia memanggil Fly untuk memastikan.
“Kurasa itu seekor enkidu,” Fly berkata. “Ukiran burung itu memiliki sepucuk bulu lancip di belakang kepalanya serupa jambul, mirip seperti enkidu jantan yang kita lihat di Israd.”
Lama memandang gambar itu, kedua bocah segera mengenali mahkluk-mahkluk cebol yang tampak seperti primata-primata kerdil itu. Mereka segera memanggil semua orang. Dan Guillarde adalah orang yang paling tertarik pada hieroglif temuan mereka.
________________________________________
Post by: BloodSin on April 15, 2008, 12:01:27 pm
________________________________________
@villam,
u bener, gw kayaknya terlalu keji ngasi Cardan poin satu, heheheh.. 
Gw udah tamat baca (fiuhh akhirnya!), n ratingnya gw naekin jadi 2 bintang (sejajar Ledgard, Pinissi, Nightfall, n Numeric Uno), heheheheh..
Sepuluh bab terakhirnya lumayan kok, gak ‘separah’ bab2 awal sampe pertengahan buku–walopun emang masih tetep gw temukan bbrp hal negatif(contohnya si pengarang acapkali mabok nyebut Tolan sebagai ‘Kota’, padahal Kerajaan, ato mungkin adanya ‘kebetulan2 yang gak alamiah’–hehehe yg ini gw maklum deh, gw sendiri tipe penulis yg cukup berpegang sama pakem kebetulan ) .
Endingnya ya gituu deh, payah dah.
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 15, 2008, 12:59:15 pm
________________________________________
endingnya ga ‘ending’, hehehe…
dan gak ada penjelasan kapan bakal muncul lanjutannya. jadi wajar jika muncul perasaan pembaca seperti ini : ‘aku terjebak!’
salah satu problem utama novel fantasi yang baru muncul, kurasa…
kalo mau bikin cerita yang bagus, otomatis seharusnya detil dan plotnya diperkaya dan diperhalus, yang berarti ceritanya bakal panjang banget.
masalahnya penerbit gak mau nerima / mengambil resiko cerita2 yang terlampau panjang. yeah… kita tau lah semua alasannya…
dan langkah penulis untuk menyiasatinya adalah dengan memotong ceritanya jadi dua atau berapapun. yang berarti sekuelnya tentu saja –> ‘ya udah nanti aja dipikirin kalo emang bukunya laku’.
jalan itu memang masih panjang…
tapi jalanin aja deh…
________________________________________
Post by: BloodSin on April 16, 2008, 10:54:44 am
________________________________________
bukan knp2 sih villam, masalahnya di Cardan itu, jelas2 udah dikasi label TAMAT gitu sama penulisnya, sama kaya novel Narend…(which means elu tungguin sampe matik juga ga bakalan terbit sekuelnya) sementara perkara2 dalam plot Cardan masi jauh dari beres, payah dah. ini bener2 menjebak (dan amat mengesalkan) pembaca, i agree with u. :’(
Novel gw juga termasuk novel yg sarat perkara (elu tauk sendiri kan ), but at least, kalo satu perkara yg jadi perkara utama dalam novel gw udah diselesain di akhir cerita, masi bisa ditolerirkah? :-\
ato jangan2 naskah gw itu jenis yg ‘menjebak pembaca’ juga? :-[
No Comments »
[tab:Hal 1]Sesi VIII (3 Apr 2008 – 5 Apr 2008)
- Menulis fantasi berbahasa Inggris
- Resensi novel-novel fantasi lokal oleh BloodSin
- Review Cardan oleh BloodSin
- Review draft Lemuria karya BloodSin oleh rd_Villam
[tab:Hal 2]
________________________________________
Post by: Lich on April 03, 2008, 01:20:55 am
________________________________________
wah tambah rame aja nich thread. salut. ;D
lam kenal, Lich
sedih banget sinopsis karya penulisanku baru ditolak penerbit fantasy. katanya bhs inggrisnya masih harus diperbaiki. beda sich inggris sastra dan inggris biasa. Payah nich, masih harus banyak belajar. >.<.
^^ emang referensi fantasy yang mengarah ke sastra apa maksudnya ke tipe high fantasy ? ( wee, itu sebenarnya istilah buat ilustrator/komikus yang bikin cover novel fantasy ). kalo refensi tipe novel kayal gitu, harusnya gue baca karangan siapa yach ? mungkin ntar gue bisa curi2 baca gratis di kinokuniya atau toko buku impor.
atau gue hrs ambil kuliah sastra inggris kalau mau belajar bhs inggris sastra ? wakakakakakak.
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 03, 2008, 09:02:34 am
________________________________________
Hi, Lich,…
Sorry sebelumnya kalau udah pernah sharing hal ini somewhere di belakang (ini thread udah skala mega, nyisirin satu-satu capek juga, hehehe). Tapi aku jadi curious, kamu bikin novel berbahasa Inggris? Hebat bener euy,.. tapi mo ditujukan ke pembaca mana? Lokal atau luar?
Kalau lokal,…. mungkin penerbit ngerasa ngga bakalan laku?
Kalau luar,…. gue ga tahu sih. Tapi mungkin memang bikin novel berbahasa inggris jauh lebih sulit dari sekedar menulis dalam bahasa inggris, kali ya,..?
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 03, 2008, 01:38:45 pm
________________________________________
lich,
wuih… kamu bikin cerita basa inggris?
keren…
trus emang nulisnya kudu pake inggris sastra?
kayaknya gak mesti deh…
ada yang bilang inggris biasa justru lebih mudah diterima mayoritas pembaca.
tentang reference high fantasy, ini link wikinya:
http://en.wikipedia.org/wiki/High_fantasy
dan ini daftar buku2 ngetopnya, kalo mau cari di kinokuniya.
kalo mau yang model ada karakter2 berbagai macam ras, bisa baca LOTR, David Edding’s Belgariad, atau Robert Jordan’s Wheel of Time (yang salah satu bukunya pernah kubaca). buku2 pengarang lain belon pernah baca, walau pengen… huhu…
kalo mau yang model intrik2 dan perang antar kerajaan, bisa baca George RR Martin’s A Song of Ice and Fire.
atau baca bukunya Lois McMaster Bujold dan Ursula Le Guin yang langganan dapet Hugo Award.
* Jim Butcher’s “The Dresden Files
* Lloyd Alexander’s The Chronicles of Prydain
* Poul Anderson’s Three Hearts and Three Lions
* R. Scott Bakker’s Prince of Nothing series
* Peter S. Beagle’s The Last Unicorn
* Martin Bertram’s Vanity of Vanities
* Gillian Bradshaw’s Arthurian trilogy (Hawk of May, Kingdom of Summer, In Winter’s Shadow)
* Marie Brennan’s Doppelganger
* Terry Brooks’s Shannara series
* Lois McMaster Bujold’s Chalion series
* C. J. Cherryh’s Ealdwood and Fortress series
* Susan Cooper’s The Dark Is Rising
* Stephen R. Donaldson’s The Chronicles of Thomas Covenant series
* Sara Douglass’s The Wayfarer Redemption series
* Lord Dunsany’s The King of Elfland’s Daughter
* David Eddings’ Belgariad/Malloreon and Elenium/Tamuli/The Dreamers
* Eric Rücker Eddison’s The Worm Ouroboros and Zimiamvian Trilogy
* Kate Elliott’s The Crown of Stars series
* Michael Ende’s The Neverending Story
* Steven Erikson’s Malazan Book of the Fallen saga
* David Farland’s The Runelords saga
* Raymond E. Feist’s Riftwar Saga and other Midkemian sagas
* Lynn Flewelling’s Nightrunner series
* David Gemmell’s Legend saga
* Terry Goodkind’s Sword of Truth saga
* L. B. Graham’s The Binding of the Blade series
* Frank Grave’s The Ancestral Trail series
* Jim Grimsley’s Kirith Kirin
* Robin Hobb’s Farseer, Liveship and Tawny Man trilogies
* P. C. Hodgell’s Jame of the Kencyrath series
* Ian Irvine’s The Three Worlds Cycle series
* Robert Jordan’s The Wheel of Time saga
* Katharine Kerr’s Deverry series
* Stephen King’s The Dark Tower saga
* Mercedes Lackey’s Valdemar series
* Mercedes Lackey’s and James Mallory’s Obsidian Trilogy
* Mercedes Lackey’s and Andre Norton’s The Halfblood Chronicles
* Stephen R. Lawhead’s Song of Albion Trilogy
* Tanith Lee’s Birthgrave series
* Ursula Le Guin’s Earthsea series
* C.S. Lewis’s Chronicles of Narnia series
* George R. R. Martin’s A Song of Ice and Fire series
* Dennis L. McKiernan’s The Iron Tower trilogy
* Patricia A. McKillip’s The Riddle-Master of Hed trilogy
* Robin McKinley’s The Hero and the Crown
* Hope Mirrlees’s Lud-in-the-Mist
* L. E. Modesitt, Jr.’s The Saga of Recluce and Spellsong Cycle
* Elizabeth Moon’s The Deed of Paksenarrion series
* Michael Moorcock’s Eternal Champion series
* Leslie Ann Moore’s Griffin’s Daughter series
* William Morris’ The Well at the World’s End
* Garth Nix’ Abhorsen Trilogy
* Andre Norton’s Witch World series
* Margaret Ogden’s The Realm of the Elderlings series under the name Robin Hobb
* Mervyn Peake’s Gormenghast books
* Meredith Ann Pierce’s The Darkangel Trilogy
* Terry Pratchett’s Discworld series
* Phillip Pullman’s His Dark Materials trilogy
* Jennifer Roberson’s Chronicles of the Cheysuli and The Sword-Dancer Saga
* Fred Saberhagen’s Earth End sequence
* R. A. Salvatore’s Forgotten Realms and Demon Wars series
* Jonathan Stroud’s The Bartimaeus Trilogy
* Eldon Thompson’s The Legend of Asahiel series
* J. R. R. Tolkien’s The Lord of the Rings, The Hobbit, Silmarillion, Unfinished Tales, Children of Húrin and The History of Middle-Earth
* Jack Vance’s Lyonesse Trilogy
* David Weber’s Oath of Swords saga/War God series
* Margaret Weis’s and Tracy Hickman’s Dragonlance series
* Tad Williams’s Memory, Sorrow, and Thorn trilogy
* Gene Wolfe’s Wizard Knight series and The Book of the New Sun
* Roger Zelazny’s Amber series
* Jennifer Fallon’s The Demon Child Trilogy, The Hythrun Chronicles and Second Sons Trilogy
* Paul Edwin Zimmer’s Dark Border series: “A Gathering of Heroes and Ingulf the Mad
[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: hege on April 03, 2008, 02:21:19 pm
________________________________________
I am currently reading Ursula Le Guin’s Earthsea (English)… dan nyastra banget, kereeeennn (bacanya mesti ulang-ulang dan banyak unfamiliar words) selain baru aja menyelesaikan baca The Alchemist versi Gramedia (terjemahannya lumayan baik, tapi si penerjemah tampaknya penggemar berat istilah ‘sekonyong-konyong’ (ada puluhan ‘sekonyong-konyong’ yg kutemukan sepanjang cerita) dan sekonyong-konyong hege ilfil pun jadinya. Buku alchemist menginspirasi orang-orang untuk mengejar mimpi, selain itu, rasa-rasanya banyak pengetahuan filsafat udah pernah kubaca di buku lain sebelumnya.
________________________________________
Post by: Lich on April 04, 2008, 12:10:38 pm
________________________________________
Vil : aduh mati gue bacanya gimana ;D pokoknya gue embat yang plastiknya dibuka aja wakakakak dasar nggak punya modal. ;D ;D ;D
Horeeee dapet editor baru ! ;D ;D ;D wakakakak mudah2an nggak seaneh editor sebelumnya yang nolak gue wakakakakak ;D
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 04, 2008, 01:37:03 pm
________________________________________
@lich,
aduh… kamu sampe mati bacanya? heheheh…
emang tuh, modal juga yang bikin aku sangat selektif buat memilih buku… hihi…
tapi selamat ya dapet editor barunya…
emang di penerbit mana? share dikit dong tentang novelmu…
________________________________________
Post by: Lich on April 04, 2008, 02:57:56 pm
________________________________________
Vil : lagi nyoba yang penerbit kecil alternatif di Kanada, namanya rahasia dapur hehehe. baru mulai, sih. Tapi aku cuma coba di Graphic Novelnya, itu tuch yang setengah novel setengah byk gambar2nya. ;D berarti bukan pure novel tulisan. Trus karena pendatang baru, jadinya aku ndak di jatah novel yang tebel2, paling cuma kayak novel ecek2 yang tipis, murah, dan kelas teri lach. begitchu. hehehe.
________________________________________
Post by: BloodSin on April 05, 2008, 09:18:58 am
________________________________________
Oke, sekedar resensi/review singkat (yang mengikuti standar & selera baca gw) buat novel-novel fantasi lokal yg udah pernah gw baca (dan menjadi korban gw )
Penilaian gw berdasarkan dari segi gaya bahasa, plot, humor, orisinalitas ide, sampai penggarapan untuk hardcopy bukunya.
So…. here we go,
Ket:
*) Novel tak layak baca
**) Novel kelas pemula, alias standar
***) Lumayan, novel pada level ini sudah memiliki tata bahasa yang baik, cuma masih kurang sedikit (entah di logika yg kedodoran, ending yang maksa, atau keklisean di beberapa bagian)
****) Bagus, novel pada level ini boleh disejajarkan dengan karya-karya luar negeri.
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/ledgard.jpg)
Judul: Ledgard–Musuh dari Balik Kabut
Penulis: WD Yoga
Penerbit: C|Publishing
Rating: **
Tipe: RPN, Kolosal
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Berdasarkan riset iseng2 gw searching di dunia maya, cukup banyak pembaca dalam negeri yang menempatkan novel ini di posisi teratas untuk kategori fantasi lokal (alias the best dari novel2 sejenis), dan gw rasa gw bisa mengerti opini mereka.
Novel ini digarap cukup matang: punya plot yang lumayan, penokohan yang lumayan, setting yang cukup orisinil, aturan naming yang cukup konsisten, alur cerita yang pas. Novel ini juga punya filosopi2 karakteristik yang mengadopsi elemen-elemen bumi: air, api, tanah, udara.
Ide itu akan amat menarik, bagi beberapa orang.
Sayangnya, bagi gw yg ex-RPGer, ide itu cenderung klise. (Ada banyak game rpg yg mengadopsi ide serupa)
Gaya bahasanya cukup membosankan, kurang berhasil untuk mengikat pembaca. Humor garing. Dan lagi… Ledgard ini adalah contoh untuk novel fantasi lokal yg kena sindrom ‘bule celup’. Ambil contoh tokoh Nash dalam cerita, yang deskripsinya mengambil gambaran seorang bule, tapi cara berpikirnya + gaya omongannya (dalam dialog) selugu orang indonesia. Terus setting dunia ledgard yg terkesan kebarat-baratan (ada ras Centaur yg notabene dari yunani) terasa tidak sinkron dengan kebudayaan timur yang berlaku di setiap bangsa-bangsanya.
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/pinissi.jpg)
Judul: Pinissi–Kisah orang-orang Setinggi Lutut
Penulis: Mama Piyo
Penerbit: Liliput
Rating: **
Tipe: Dongeng
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Novel ini satu-satunya fantasi dalam negeri yang mengangkat setting dari kebudayaan dalam negeri (setting Makassar, tah?). Tentu dari sini udah ada nilai plusnya. Settingnya yang orisinil didukung pula dengan ras2 rekaan & naming (atau emang berasal dari literatur orang makassar tah?) yang unik, pas, dan gak pasaran. Ilustrator Ermambang Bendung dalam novel ini amat berhasil menyajikan ilustrasi-ilustrasi beraroma ‘etnikal’, cukup membantu pembaca dalam berimajinasi terhadap isi buku.
Sayangnya, plotnya ditulis tanpa greget, dan dengan gaya bahasa yang terkesan buat anak kecil A.K.A pas2an. Ada banyak struktur kalimat tak baku dalam novel ini, yang bakal mengganggu ‘pembaca teliti’ kaya gw. Miskin humor pula.
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/hozzoh.jpg)
Judul: Hozzo–Feres yang Hilang
Penulis: ?? (siapa yah gw lupa tuh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif))
Penerbit: Liliput
Rating: ****
Tipe: sci-fi, detektif
Sekuel: Ya, dan belum terbit sampai hari ini pun
Novel tentang petualangan kelompok detektif manusia + alien + robot di luar angkasa. Ditulis dengan gaya bahasa yang friendly dan adaptable*, pengarang novel fantasi ini menguasai teknik karakterisasi yang sungguh luar biasa baik, yang didukung pula humor2 segar, pembangunan setting yang kuat (terutama untuk ras2 alien dan kebudayaannya), dan penyajian ‘pelajaran-pelajaran (baik secara materiil–khususnya biologi–dan spiritual–konsep reinkarnasi)’ yang tidak membosankan untuk disimak.
Terasa lemah di plot, namun teratasi karena unsur ‘tidak membosankan untuk dibaca’ itu.
*mudah mengikat pembaca
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/narend.jpg)
Judul: Narend–Petualangan ke Tanah Kutukan
Penulis: Linuwih Nata permana
Penerbit: Liliput
Rating: ***
Tipe: Petualangan
Sekuel: No
Narend adalah satu satu fantasi yang memiliki setting ciamik, tata naming yang tak bercacat & plot yang cukup solid. Gaya bahasa cukup dapat mengikat pembaca, namun kurang berhasil menciptakan greget.
Ada sedikit logika kedodoran di beberapa adegan, terlebih endingnya yang super duper maksa kebetulannya. Bahasa dalam dialog yang terasa kaku juga menjadi penyebab novel ini hanya masuk kategori lumayan.
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/zauri.jpg)
Judul: Zauri–Legenda Sang Amigdalus
Penulis: yang ini juga gw lupa namanya siapa(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
Penerbit: Grasindo
Rating: ***
Tipe: RPN, Romance
Sekuel: Antara ya dan tidak, tergantung mood si pengarang kali yak(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
Nilai plus yang paling keliatan dari novel ini adalah gaya bahasanya yang mudah ditangkap (karena cukup fleksibel) dan karakterisasi yang dibangun cukup baik. Setting dunia rekaan pengarang cukup orisinil–walau terasa dipengaruhi RPG2 jepang. Penyajian plot dan humor dieksekusi dengan cukup baik. Gw rasa cukup wajar novel ini menerima penghargaan untuk kategori novel remaja terbaik di peringkat kedua ajang IKAPI Award tahun 2007. (banyak amat yak gw ngomong cukup(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif))
Sayangnya, beberapa deskripsi yang dipaparkan penulis masih terkesan buram, monster-monster dalam buku ini mengingatkan monster-monster rekaan Squaresoft dalam seri Final Fantasy (Bubaglop itu contohnya!), dan gaya romance yang terlalu picis–yg mungkin karena imbas dari buku teenlit yang sebelumnya diterbitkan si pengarang.
(sori ga nemu gambar kovernya T_T)
Judul: Janos–Legend of Arctic Empire
Penulis: Hadiyanto (lulusan Teknik Informatika Bina Nusantara!(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif))
Penerbit: Agromedia Pustaka
Rating: *
Tipe: Diari, Romance, Sci-Fi
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Lebih kelihatan sebagai diari seseorang bernama Janos daripada sebuah novel fantasi. Satu-satunya novel fantasi lokal (yang pernah gw baca) yang bersudut pandang ‘aku’–ini cukup unik dan berani.
Karena berbentuk diari, novel ini nyaris tak punya konflik, yang akhirnya berujung novel ini terasa tak memiliki plot. Gaya bahasa yang pas2an, humor yang superduper jayus, setting dunia sci-fi yang kurang kreatif dan imajinatif, naming yang bikin ilpil, romance yang terlampau picis, dan ketiadaan dari konflik penting dalam plotnya, menyebabkan novel bikinan senior gw ini masuk kategori tak layak baca.
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/nightfall.jpg)
Judul: Nightfall–The Element Location
Penulis: Rizky YS (lulusan Teknik Informatika Trisakti!)
Penerbit: Gagasmedia
Rating: **
Tipe: RPN
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Salah satu fantasi bertipe RPN dengan sindrom bule celup. Yang paling positif dari novel ini adalah jalinan plotnya yang cukup kompleks, dan setting dunia Medarda yang dibangun cukup orisinil (terutama ide kiamat Nightfall-nya).
yang negatif dari Nightfall, adalah gaya bahasanya yang kurang dapat mengikat, ketiadaan humor dalam novel (padahal materinya cukup enteng), karakterisasi yang buram, dan alur yang terlalu buru-buru (yg menyebabkan pendeskripsian menjadi kedodoran di beberapa bagian).
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/sangpenandai.jpg)
Judul: Sang Penandai
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Serambi
Rating: ****
Tipe: Spiritual, Petualangan, Kolosal
Sekuel: No
Sang Penandai adalah satu-satunya novel fantasi tanpa humor yang bener-bener layak dibaca oleh semua umat. Novel ini menyajikan filosopi yang universal–sebuah renungan mendalam dari kekuatan cinta, gaya bahasa yang aduhai, jalinan plot yang solid, dan petualangan yang seru.
Yang unik (dan keren bagi gw), novel ini juga terang-terangan berani mencela kisah roman yang paling terkenal sedunia: Romeo dan Juliet, namun disertai dengan renungan mendalam sang pengarang sebagai landasan argumentasi.
Sang Penandai merupakan satu-satunya fantasi yang kelihatan tak bercacat di mata gw, walau tokoh ‘sang Penandai’ dalam buku ini terlampau mirip dengan tokoh Melkizedek dalam Sang Alkemis-nya Paulo Coelho.
Untuk endingnya, mungkin sebagian pembaca akan merasa kecewa. Tapi ending Sang Penandai jelas tidak picis dan klise; ending seperti itu jauh lebih indah dibanding happy ending beberapa fantasi yang digambarkan terlampau kebetulan/gombal/picis.
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/numeric.jpg)
Judul: Numeric Uno–Legenda Sang Labrarus
Penulis: DewiS
Penerbit: Puspaswara
Rating: **
Tipe: ?
Sekuel: No
Membaca novel ini, gw jadi inget Hozzo, karena menyajikan setting dan ide plot yang hampir sama. Plotnya cukup solid, dan itu yang paling menolong dalam novel ini.
Sayangnya, novel ini disajikan dengan gaya bahasa dialog yang kaku, penokohan yang kurang kuat, pendeskripsian yang buram, setting luar angkasa yang cetek, ending dan penyelesaian konflik yang payah (ada tokoh yang terkesan dipaksakan mati padahal sebetulnya gak perlu mati), dan materi romance yang picis.
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/goran.jpg)
Judul: Goran–Sembilan Bintang Biru
Penulis: Imelda A. Sanjaya
Penerbit: Serambi
Rating: ****
Tipe: Petualangan, Sci-Fi
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Goran adalah novel fantasi komplit, dan itulah yang menjadikannya sebagai the best indonesian fantasy book dari semua yang pernah gw baca (walau dari segi tata bahasa, novel ini punya sedikit cacat–gak kayak Sang Penadai yang terkesan rapih jalih).
Terkesan ‘paket lengkap’, karena novel ini menyajikan 3 setting dunia (yang terbagi dalam: dunia jaman baheula, present, dan futuristik), selera humor yang gila2an (yang seharusnya bisa diterima oleh segala lapisan pembaca), gaya bahasa yang mengalir dan mengikat, plot yang solid, karakterisasi yang dapet banged (walau gak sedahsyat Hozzo), imajinasi & riset yang lumayan mendalam untuk pembangunan ketiga settingnya (kehidupan remaja jepang hari ini, dunia persilatan–dan pejodohan –Cina Kuno, dan planet Vida yang futuristik).
Ada beberapa struktur kalimat yang berkesan ‘semau gue’ si pengarang, but overall, that’s no such a big deal for me.
Goran is the best dah.
________________________________________
Post by: BloodSin on April 05, 2008, 09:51:02 am
________________________________________
The last one(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/cardan.jpg)
Judul: Cardan–Inside & Outside The Hinkal Core
Penulis: Chandra Adhitya Winarno
Penerbit: Gagasmedia
Rate: *
Tipe: RPN, Kolosal
Sekuel: ?
Oke.. yang satu ini, berhubung novel fantasi terakhir yang gw baca, pembahasannya bakal gw bikin lumayan panjang 
Salah satu dari beberapa novel fantasi yang males buat gw baca sampe abis! (selain karena hurufnya yang kecil2 dan bukunya yang lumayan tebel pulak @_@)
Secara gw baru baca setengah isi buku, gw gak bakal ngomongin plotnya.
Yang mau gw review panjang lebar adalah 3 hal yang menyebabkan gw lebih memilih bengong sewaktu mencoba melumat Cardan sampai tamat:
-Naming
Sebetulnya dari paragraf pertama buku, sudah kelihatan bagaimana kacaunya si pengarang memilih nama. Beliau menyebut tiga nama bintang dengan aroma yang berbeda satu sama lainnya: Joan, Sanggu, Colt. Ini sedikit gamang, dan terasa seenak jidat.
Selama membaca Cardan, gw menemukan dengan kreatifnya si pengarang mencomot nama beraroma dari berbagai belahan dunia, untuk diletakkan dalam sebuah setting. Bayangkan, dalam sebuah negara, kita menemukan nama beraroma Indonesia/Jawa (Palawa, Pradnya, Boma, Anya, Aras), Eropa (Monique, Clark, Sam, Heinze, Zavier de Voco, Drake), Israel (Saul, Sonia), Jepang (Furita, Izo, Kei, Shi), sampai nama2 ‘antah berantah’ (Divin, Links, Dupku, Garinka, Fordit)
Ini bener2 kacau, tak berseni, seenak jidat, dan mengganggu setting.
Terus ada lagi yang patut ditertawakan, ada karakter bernama lengkap Zavier de Voco, yang kalau menuruti aturan tata nama Perancis (Thanks to mademoiselle Midnite Sun) berarti: ‘Zavier dari Voco’–’Voco’nya ini merupakan nama tempat asal, biasanya. Akan lumrah dan tak bermasalah, kalau yang jadi ‘nickname’ orang itu Zavier.
Tapi si pengarang Cardan ini, sepanjang buku malah mnggunakan ‘Voco’ buat nama pendek orang itu.
Jadi buat perbandingan… misal ada seseorang yang dilahirkan dengan nama: ‘Budi dari Cikotok’ (karena dia dilahirkan di Cikotok), maka tuh orang kalau ketemu pengarang Cardan bakal dipanggil: Cikotok, bukan Budi. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
Aneh kan? Ironisnya, waktu gw liat di halaman sampul belakang.. disebutkan kalau si penulis ini mahasiswa bahasa Perancis!
-Gaya Bahasa
Kurang berhasil mengikat pembaca, dan deskripsi-deskripsi (baik untuk kejadian, tempat, ataupun tokoh) terkesan absurd bagi gw.. Somehow, gw sering menemukan diri gw malah larut ke dalam alam bengong pikiran gw daripada menyimak isi paragraf-paragraf dalam Cardan (well, hal serupa terjadi waktu gw baca Ledgard, Pinissi, & Janos). Mungkin istilahnya, Cardan gagal meracuni pikiran pembacanya untuk larut dalam cerita.
Cardan juga terlalu banyak membahas peristiwa-peristiwa sepele (yang menyebabkan RPN ini terasa bertele-tele).
Miskinnya wawasan si pengarang juga terasa, ada kalimat yang berbunyi kira-kira begini:
Di kamp latihan itu Aras melihat hewan-hewan tempur dengan berbagai wujud, yaitu Griffin, dan lain-lain.
(Udah pada tau kan kenapa gw sedih baca kalimat kayak begini?)
-greget
Yang gw dapet selama baca ampe setengah buku, Cardan kurang berhasil menciptakan puncak-puncak klimaks kecil.. ibarat sebuah kardiogram, Cardan adalah sebuah garis lurus dari detak jantung orang sekarat yang menunjukkan detak lemah setiap sekian menit.. Tak ada denyut klimaks yang kelihatan berarti, dan gw pikir inilah faktor yang paling fatal.
Adegan terpilihnya Aras sebagai cardan murni, pertarungan Aras dengan Fordit, kasus pembunuhan Max, sebetulnya cukup berpotensi untuk menjadi klimaks-klimaks kecil, tapi sayangnya dideskripsikan kurang menggigit (dengan gaya bahasa yang buram pulak), dan konsekuensinya adalah novel ini terasa hambar.
Well, Cardan adalah sebuah ironi bagi gw; novel ini adalah novel yang memiliki kover paling keren dari semua buku fantasi lokal yang gw punya (menyajikan gambar dari siluet api burung phoenix dengan posisi garuda pancasila, dipadu latar belakang hitam pekat–keren, artistik, dan gak murahan), tapi masuk ke jajaran novel fantasi terburuk menurut standar dan selera baca gw..
________________________________________
Post by: BloodSin on April 05, 2008, 10:01:28 am
________________________________________
well, selain semua novel di atas, masih ada novel2 fantasi lain yang ditulis anak bangsa (yang belom gw baca):
-Phoenix dan Mahkota di Negeri Azura
-The Corruption (fantasi berbahasa inggris)
-Catatan Harian Alien (fantasi liliput yang paling laku, tah?)
-Misteri Pedang Skinheald (satu2nya novel fantasi bersekuel yang udah terbit sekuelnya–salut!)
-Reinhart
-Ratu Calissta
-Cincin Odeoleo
-Magical Seira (yang ini fantasi mixed teenlit(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif))
-apalagi yak?
Kalau mau dirata2 untuk review2 gw di atas, gw kira genre Fiksi Fantasi Dalam Negeri ini cukup punya prospek di masa depan, tapi kita tetap masih kekurangan penulis-penulis fantasi spektakuler nih..
[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 05, 2008, 03:04:32 pm
________________________________________
My good friend Rey,
salut atas review-reviewmu!
Setelah sekian lama tertunda akibat banyak hal, akhirnya aku bisa membaca kisah Lemuria-mu. Maaf beribu maaf karena lama banget ya. Hehe…
Jadi begini, aku udah baca kemaren satu kali, dan kupikir harus kubaca lagi nanti sekali lagi biar aku bisa ngasih reviewnya secara lebih lengkap. Jadi beri aku waktu sekitar satu dua minggu lagi.
Nah untuk sementara, ini adalah komentar awal aja.
Secara keseluruhan, aku suka ceritamu. Dengan model cerita fantasi petualangan dimana ada satu kelompok yang menempuh perjalanan buat menyelesaikan suatu misi, model kayak Fellowship of The Ring, sebenarnya jalan cerita model begitu udah terlalu biasa, namun ada kelebihanmu seperti yang dari dulu udah sering kubilang, yaitu gaya bahasamu.
Aku jamin, gaya bahasa sastramu ini pasti akan menarik pembaca lainnya—dan mungkin juga editor—sejak awal. Memang kerasa bahwa gaya bahasa ini tidak terlalu kaku sastra dari awal sampai akhir. Kalau dibilang agak kurang konsisten, mungkin iya—dan aku gak tau apakah kekonsistenan ini penting atau tidak buat para editor—tapi kupikir kamu udah cukup berhasil menemukan formula yang pas kapan harus bersastra ria dan kapan harus bergaya bahasa biasa.
Kalau menurutku, gaya bahasa sastra akan terdengar indah dan menghanyutkan, namun kurang cocok jika kita hendak membuat pembaca tegang, dimana kalimat-kalimat yang lebih lugas lebih cocok. Jadi itulah yang terasa saat aku membaca ceritamu. Aku terpesona dengan alunan kalimat dalam ceritanya, tapi keinginan hatiku yang ingin dikejut-kejutkan seperti saat membaca cerita-cerita bernuansa thriller tidak terpenuhi.
Intinya akibat gaya bercerita ini aku memang merasa sedang membaca cerita yang indah, tapi tidak membuatku merasa masuk ke dalam ‘menjadi tokoh-tokohnya’. Yeah, dalam hal ini sepertinya kita bicara lagi soal 3rd person Limited POV. Dan… walaupun ini mungkin tidak terlalu bermasalah buatmu, tapi bisa jadi bahan pemikiranmu nanti.
Kelebihan lain, aku suka dialog-dialognya. Ada yang mendayu-dayu, ada yang kocak. Imajinasimu tentang makhluk-makhluk aneh yang muncul di sini juga mengasyikkan—walau di beberapa tempat informasi-informasinya kebanyakan hingga membuatku terlempar terlalu jauh dari plot yang ingin dibangun di adegan tersebut. Sebaliknya, walaupun deskripsi-deskripsi panjangmu menarik di beberapa tempat, tapi ada adegan yang seharusnya membutuhkan deskripsi supaya pembaca bisa lebih merasakan suasananya, malah kurang deskripsinya.
Lalu satu lagi komentar awalku, supaya nanti tidak terlupa, kurasa banyak adegan-adegan pendek yang menggantung dan tanggung (nanti aku jabarin secara lebih detil), yang membuatku berpikir sebenarnya adegan2 itu bisa dieksplor lebih jauh, atau justru sebaiknya dihilangkan sama sekali.
Contoh adegan pendek yang tanggung tersebut adalah adegan pengenalan tokoh Esther (aku suka karakter ini; aku selalu suka karakter cewek jagoan) di awal, yang … duh pendek banget, dan butuh berpuluh-puluh halaman lagi untuk sampai ke lanjutan adegan dimana dia ada lagi. Membuatku berpikir buat apa Esther dimunculkan seawal itu? Buat perkenalan? Tapi keburu lupa karena adegan dia berikutnya jauh banget, aku harus mundur lagi bacanya, untuk tahu apa tadi yang dia lakukan di awal.
Kemudian soal plot dan karakter. Yeah… seperti biasanya model cerita fantasi petualangan perjalanan, plotnya terasa lurus tunggal dan lancar-lancar saja. Konfliknya hanya berupa outer conflict, dimana rombongan harus berhadapan dengan rintangan-rintangan yang muncul dan terselesaikan selama perjalanan. Inner conflict yang terbangun hanyalah kekhawatiran Larke saat dia kehilangan Lyn, yang sayangnya tidak diimbangi dengan cerita yang menggambarkan penderitaan Lyn selama dia diculik, sehingga pembaca tidak bisa ikut banyak bersimpati.
Juga awalnya aku berharap akan ada inner conflict dalam diri tokoh Kain maupun Seth, berhubung seharusnya mereka adalah tokoh terpenting dalam cerita ini, KARENA kamu memunculkan mereka berdua dalam prolog cerita. Tapi ini pun tak dibangun. Kemudian tokoh Guilarde mestinya juga bisa lebih dieksplor, berhubung kamu sudah terlanjur memperkenalkan dia di awal sebagai tokoh yang punya misi tersembunyi.
Kemudian mungkin bisa lebih menarik pula jika di sela-sela cerita perjalanan rombongan, diselingi dengan adegan-adegan lain di tempat lain supaya cerita tidak terlalu terasa lurus dan agak membosankan. Kamu sudah memunculkan adegan pertemuan para gipsi, itu bagus, lalu ada adegan pengejaran para Luminar, itu juga bagus. Tapi aku berharap lebih banyak adegan selingan ini, supaya jantungku bisa berdebar lebih cepat.
Hahaha… dan tentu saja sebagai penulis aku tahu keberatanmu jika harus menambah adegan. Cerita bakalan lebih panjang, buku jadi lebih tebal, terus siapa nanti siapa penerbit yang mau nerima cerita kita? Hihihi… yeah… ini sekadar bahan pertimbangan. Dengan cerita yang berplot lebih kaya, pasti akan terasa lebih mengasyikkan, walau tentu konsekuensinya cerita jadi lebih panjang.
Oke, sementara ini dulu komentarku. Mudah-mudahan aku bisa segera memberimu review yang lebih detil dari tiap babnya.
Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk membaca ceritamu, Rey.
Mari kita semua terus berjuang menjadi lebih baik.
No Comments »
|