Posts Tagged “ffdn”

[tab:Hal 1]Sesi XII (19 Mei 2008 – 23 Mei 2008)

  • Penjelajahan FFDN oleh Fred
  • Cuplikan Lemures karya BloodSin

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 19, 2008, 09:47:10 pm
________________________________________
Boss Rey,
Keren sukeren. Thanks buat komplimen-nya, bikin gue yakin bahwa di part itu gue udah right on spot. Untuk kritikannya, mari kita bahas,….

1. Masalah tanda baca
Iye deh, ane beresin lagi semuanya,… hehehe,… terima kasih udah ditunjukkan kesalahan2.
Quote

2. Ketidakkonsistenan kata panggil
Gue liat lagi deh, sebaiknya memang diperbaiki biar lebih kuat konsistensinya.

5. Pemilihan kata
Sekaligus untuk menjawab pertanyaan mengenai target market. Memang ditujukan ke level SMA s/d kuliahan, lah. Jadi kupikir kata-kata “keren” lebih bunyi di level mereka. Tadinya gue coba pakai kata “gagah”, tapi kesannya jadi tua,.. hahaha,… memang rada dilematis juga sih. Mungkin gue coba cari padanan lain: mengagumkan, jumawa, menggetarkan, etc.

Quote
-)Ane berharap, ada penjelasan logis kenapa kelima keturunan Pendekar Garuda itu bisa tinggal dalam satu lingkungan yang sama (SMA Raya). Selang setting Jaka – Sentika itu 600 tahunan, betapa mestinya keturunan kelima pendekar itu udah terpencar2 IMO sih.

Destiny guides them,…. kira-kira gitu konsepnya. Sebisa mungkin gue coba bikin ngga ada yg kebetulan di setting PG. Kutipannya kira-kira begini:
Seharusnya Jaka menyadari lebih dini. Persahabatan Jaka-Ratih-Rani sesungguhnya bukan cuma pertemuan kebetulan, ketiga anak itu sudah diarahkan oleh garis leluhurnya masing-masing untuk bertemu di sekolah yang sama, dan kecocokan di antara mereka bertiga juga merupakan warisan naluri dari persaudaraan di antara leluhur mereka. Sayang seribu sayang, kesadaran itu datang terlambat.
Emang sih, kurang logis,… hehehe. Kayak too convenient coincidence. Tapi harap diinget bahwa musuh merekapun udah mengikuti jejak mereka jauh sebelum mereka lahir.

Quote
-)Tokoh abu2 juga sebetulnya gw harapkan muncul dalam cerita, entah dia itu adalah tokoh penjilat licik yg kadang ada di pihak putih atau hitam, atau malah netral. Dan lebih seru lagi kalo ente bikin tokoh abu2 itu ada di setting jaman Sentika, dan muncul keturunannya juga.

wah boleh juga idenya :) . Ntar gue musti tempatkan dulu kira-kira peran tokoh abu-abu ini apa dalam permainan dulu dan sekarang. Kebetulan memang belum ada motivasi yg kuat sih. Secara rel utama cerita ini sesungguhnya adalah pertarungan antara Kitab Putih (kitab lontar) versus Kitab Hitam dari jaman ke jaman, di mana masing-masing memiliki proponent-nya.
Tapi ide tokoh abu-abu ini kayaknya bakal bisa gue terapkan di sekuelnya :D

Quote
-)Tokoh Johannes Domingus Pasaribu yang NOTABENE berdarah Batak, gimana urusannya bisa nyambung ke silsilah Rangga yang orang Jawa? Tentu kalo yg dipake konsep titisan, hal ini gak bakalan jadi masalah.

Demikian kisah spin-off mengenai Rangga: Kira-kira lima belas tahun setelah peristiwa turunnya Utusan Iblis di era Sentika, Pendekar Garuda resmi membubarkan diri. Sentika dan Pramesti menetap di daerah yang kelak menjadi Demak, dan salah satu garis keturunannya memecah ke daerah yang nantinya menjadi Yogyakarta, yang menjadi garis silsilah (you know who). Widura menetap di daerah yang kelak menjadi Surakarta (Solo), sehingga keturunannya menjadi abdi kraton Mangkunegaran sampai ke garis keluarga Bun. Anggraini meneruskan petualangannya sampai ke pesisir Timur yang kelak menjadi Surabaya. Dari situlah ibunya Rani mendapatkan selera kuliner terbaiknya :) Sementara Rangga berkelana ke sampai Aceh serambi Mekah. Bila dari sana keturunannya ada yang nyangkut sama orang Medan, wajar aja dong,… hehehe.
Ah spoiler-spoiler bertebaran,… nih. Tapi jujur gue ngga terlalu risau. Soalnya buat gue membaca adalah seperti menikmati makanan. Masakannya gue udah tahu, rasanya pasti gue juga udah tahu, tapi bukankah kenikmatan utamanya ada di saat kita mengunyah makanan tersebut?

Untuk Jo, memang spesial kondisi dia, nih. Dia bisa ngga tidur dua bulanan berturut-turut. Dia bisa ngga napas lebih dari lima jam. Dia bisa telepati dalam kondisi kepepet. Sedikit banyak ‘ilmu’nya memang telah membantu tanpa dia sadari. Tapi kenapa dia gak worry? Kira-kira sistematika gue begini: pertama, gengsi Jo melebihi akal warasnya sendiri. Jadi buat dia lebih baik masuk situasi aneh dari pada dia harus menanggung malu (tentu saja, definisi malu anak ini memang rada gak waras juga). Kedua, sesuai juga dengan konstitusi dia: pecahkan masalah gue dulu, urusan lain belakangan. Jo takut sama mimpinya. Reaksi emosi dia menerima sinyal dari masa lalu itu lebih parah daripada yang lain. Maka bagi Jo, solusi “Ngga Mimpi” itu jauh lebih utama dibanding rational question. “Kenapa” buat dia nggak penting, tapi “Gimana supaya” jauh lebih penting. Dan memang jalan keluar yg dipercaya ama Jo juga gak waras, sih. Yah kalo dia waras, mana mungkin jadi preman sekolah, hehehe,…

Tapi gue memang punya proposisi yang menarik buat karakter Jo ini. Gue mencoba menggambarkan seorang manusia yang fitrahnya punya potensi luar biasa, tapi potensi itu terkunci di balik keterbatasan akal pikiran, status sosial, kecerdasan, kemalasan, igonrance, yang gitu-gitulah,…. Makanya salah satu perwujudan potensi luar biasa itu gue bikin ekstrim, di luar kewajaran normal.
Hmm,.. gimana caranya agar situasi ini bisa dibikin lebih believable, ya?

Quote
-) Suka OOT
Ada penjelasan ttg bahaya merokok, masyallah, keluar banged itu dari bangunan plot! Mendingan dicut aja IMO sih. Terus masa abis Jo nyikat Robbi, malah ngomongin tawuran?

Ehm, tahun 1991, memasukkan adegan remaja merokok dalam sebuah karya Novel sangatlah tidak umum [rolleyes]. Kalo sekarang sih udah biasa, ya? Tapi honestly, gara-gara itu pula gue merasa punya tanggung-jawab moral untuk membuat keseimbangan dalam novel gue. Dalam hal ini ngambil perwujudan ideal seorang pendidik (pak Kepsek), gimana caranya sih melarang remaja merokok tanpa membuat mereka ngelawan. Sorry, emang sih kadang gue pikir,… ini too preachy gak ya? terus mending dipotong, gak ya? Tapi kembali, karena niatnya tanggung-jawab moral,… hehehe kayaknya akan tetap kupertahankan. Dan ntar gue bikin twist buat sekuel,… kenapa sepulang dari Kemping, si Tongpes jadi gak demen sama Rokok. Ha ha ha, temen-temennya bingung, dianya sendiri juga bingung!
Ngomongin “jo ngga mau tawuran lagi” juga gitu, tanggung-jawab moral juga. Tapi part itu memang bisa lebih dipendekin. Itu nantinya akan menjelaskan kenapa di sekuel, Jo nggak lagi mau ikut-ikutan tawuran pelajar, dan trouble yang dia alami gara-gara itu.

Anyway, thanks dua jempol ya atas repiu-nya :)
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: fr3d on May 21, 2008, 01:21:12 pm
________________________________________
Pada suatu masa, di sebuah ruangan yang sepi nian dan damai…

Fr3d: “Eh, apaan nih? Kayaknya menarik!”

Open link in new window.

Fr3d: “Kayaknya asik nih! Ikutan ah! Tapi, harus tau dulu seluk beluk-nya dari awal nih biar paham…”

Klik.

Fr3d: “Ok! Mulai!”

Fr3d: (*melihat reply #1*) “Ayo smangat!!!” [letsdoit]
Reply #99: “Semuanya? Beneran yakin nih anak?”
Reply #1253: “HA-HA!”

Beberapa saat kemudian…

Fr3d: (*memijat kening dan mengerjap-ngerjapkan mata*) “Mungkin harus dipilah nih… Ada banyak tips-tips bagus dan pembicaraan berbobot, tapi yang OOT rupanya cukup banyak juga…”

Fr3d: “Mungkin BENAR-BENAR harus dipilah nih… Gak mungkin dibaca semua kata per kata…”

Reply #99: “Kasian banget sih, loe!?”
Reply #1253: “HA-HA!”
Reply #1379: “Dah, guys! Gw mau pergi makan dulu! Bu-bye!” [yawn]

Fr3d: “Selangkah… demi… selangkah… seperti keong yang dibahas panjang lebar…”
Reply #99: “Lho? Sial! Knapa jadi begini?! AAAAH!”
Fr3d: (*meng-klik tombol page 11*) “Yes!”
Reply #575: “Ah, biasalah newbie! Pasti masih semangat ’45. Liat bentar lagi aja, ntar juga keok…”
Reply #1253: “HA-HA!”

Dan waktu pun berlalu…

Fr3d: “Hmm… ternyata banyak juga ya yang suka nulis-nulis cerita fantasi.” (*kagum dan sedikit tercengang*)
Fr3d: “Slama ini ke mana aja daku? Terisolasi dari dunia luar dan menganggap fiksi fantasi dalam negeri perkembangannya cuma begitu aja…?”

Klik.

Reply #142: “OH, SH*T!” [buck] —-communication loss—-
Fr3d: “Ada gal yang menang penghargaan IKAPI & masuk nominee KLA juga! This tret must be really worth it!”

Reply #574: “Eh, Reply #575, kita harus melakukan sesuatu nih! Anak ini kayaknya malah tambah semangat tuh!”
Reply #575: (*menimbang-nimbang dengan serius*)
Reply #1253: “HA-HA!”

Fr3d: “Hei! Pemuda yang satu ini ternyata bener-bener bisa gambar! Artwork-artwork-nya keren!” [thumbsup]

Reply #574: “Launcher I dan II siap! Prepare bombing! Target’s locked!”
Reply #575: “3! 2! 1!”
[bomb] [bomb] [bomb] [bomb]
Fr3d: “Lho, ternyata banyak anggota baru juga ya di tret ini!” (*menunduk, melihat tanggal reply yang masih dalam hitungan kurang dari 6 bulan*)
Fr3d: “Gak cuma diriku saja! Senangnya!” [biggrin]

Reply #574: “Damn! Gak kena! Gimana nih?!” (*panik*)
Reply #575: “Dia cuma hoki aja! Coba lagi! 3! 2! 1!”
[bomb] [bomb] [bomb] [bomb]
Fr3d: “Tunggu sebentar…” (*berbalik dan memperhatikan lebih jelas*)
Fr3d: “Ada apaan nih antara TS dan sang penghuni huminiz?”

Reply #574: “AAARGH! Meleset lagi!”
Fr3d: “Kura-kura/KuRara? Mocca_chi = Mochi? Karisuma Ren? Ah… bingung! Maju lagi ah…”
Reply #575: “Tunggu! Tunggu! JANGAAAN!”
Reply #574: “MAMAAA—” [confus_55]
Reply #1253: “HA-HA!”

Klik.

Fr3d: :o “Hmm… Yang satu ini rasanya berpengalaman menulis banget nih! Pembahasan tekniknya dan tips-tipsnya oke juga!”

Reply #1596: “Bos, baru dapet kabar nih dari garrison guard #1000! Ada ancaman baru!”
Reply #1643: (*cool*) “Fufufu…”

Fr3d: “Penulis baru… Baru ditolak penerbit… Sedang diproses… Lagi kehilangan mood… ASL pliss…” (*mengelus-elus dagu*)
Fr3d: “Interesting!”

Reply #887: (*terbangun dari tidur*) “Udah lama nih gak mimpi indah… Senangnya… Buka jendela dulu ah biar udara seger masuk…”
Reply #887: (*berjalan ke jendela, mendorong frame jendela, sesaat terdiam…*) “OMG, apaan tuh?”

Klik. Klik.

Reply #907: “Run! Run! Catch me if u can!”
Fr3d: (*minum segelas air, kembali ke hadapan monitor*) “Ada rasa dingin… dingin… Lho?! Ini kan udah dibaca!”
Klik.
Reply #907: “What the f—”
Reply #1253: “HA-HA!”

Klik.

Reply #1000: “WARNING! WARNING! SECURITY BREACH ALERT! WARNING!”

Klik.

Fr3d: “Ada ribut-ribut apa nih?”
Reply #1066: “Anak ini progress-nya cepet juga! Amazing! Surrender aja ah…” [giveup]

Reply #1094: “Jeng, tau gak sih si anu itu ternyata gini-gono!”
Reply #1095: “Masa iya sih?! Ah, gak percaya aye!”
Sesuatu melesat cepat…
Reply #1094: (*termangu*) “I…i…i-tu…”
Reply #1095: (*merapikan rambut*) “ADUH! Padahal baru dari salon!!!”
Reply #1253: “HA-HA!”

Fr3d: “Sedih nih membaca orang saling berteriak dan menunjuk satu sama lain…” :(
Reply #1253: “HA—”
Fr3d: “HA!”

Klik.

Fr3d: “Eh, ada reviewer baru… Tapi… Lho?! Biawak?” :o

Reply #1379: (*baru pulang makan*) “Kenapa sepi nih? Pada ke mana yah reply-reply yang laen?”
Lampu mendadak mati.
Reply #1379: “Hei! Siapa yang matiin lampu?! Aduh, gelap! Takuuut…” :’(

Klik.

Reply #1596: (*mengambil perlengkapan perang dari gudang*) “Sial! Kenapa pada karatan gini? Maintenance-nya siapa sih?”
Reply #1501: “Awas! Awas!”
Reply #1596: (*berjalan ke luar*) “Ada apaan? Jangan berisik! Bos lagi tidur di atas!”
Reply #1501: “Gawat! Gawat!”
Reply #1534: “Itu dia datang!”
Reply #1596: “NO WAY!” (*menghunuskan pedang*)

Beberapa jurus kemudian…

Reply #1596: [stretcher]

Fr3d: “Dari Guang Zhou, melintasi pelangi sambil menunggangi petir, melewati terra eternia, masuk ke labirin, dan akhirnya tiba di titian ayat-ayat…”

Reply #1596: (*mengeluarkan ponsel dan mengetik sms*) “Bos, maafkan aku…” [sorry]
Sending…
Report: Delivered

Fr3d: “Satu reply lagi!” (*penuh tekad*)
Reply #1643: (*cool*) “Rupanya kaulah yang disebut-sebut yang lain… Fufufu…” (*perlahan-lahan berubah menjadi monster mengerikan!*)
Monster Reply #1643: “Waktumu sudah habis, Fr3d!”
Fr3d: “?!?” [rolleyes]
Monster Reply #1643: “CIAAAT!!!”
Fr3d: (*membuka notes*) “Semoga ini bisa menghentikannya…”
Monster Reply #1643: “18 TELAPAK NAGA!”
Fr3d: (*membacakan isi notes dengan lantang*) “Semenjak dahulu kala sampai sekarang, inilah yang telah terjadi…”

DAFTAR PEMBAGIAN KURSI DEWAN:

Reply #100: rd_villam
Reply #200: eniyorda
Reply #300: bloodsin
Reply #400: kura2
Reply #500: hege
Reply #600: mocca_chi
Reply #700: bloodsin
Reply #800: mocca_chi
Reply #900: euthalia_calisto
Reply #1000: clickdian
Reply #1100: euthalia_calisto
Reply #1200: apocrief
Reply #1300: alk
Reply #1400: kura2
Reply #1500: lich
Reply #1600: bloodsin
Reply #1700: …

Monster Reply #1643: “HAH?! APAAN TUH?”
Monster Reply #1643: (*tertawa mengejek*) “Ternyata gak ada efeknya! Saatnya serangan lagi! Terimalah serangan terakhir ini! METEOR PEGASUS!”

Fr3d: “Sotoy… Engga… Sotoy… Engga… Sotoy… Engga…”
Fr3d: (*memutuskan*) “Well, everything happens for a reason!” 8)

Klik.

Monster Reply #1643: “TIDAAAK!!!” (*menyusut, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya lenyap*)
Fr3d: “Phew! Akhirnya selesai juga ngebaca semua posting-an tret ini…” [winner]

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: clickdian on May 21, 2008, 04:04:48 pm
________________________________________
#Fred
[lol] [lol] [lol]
hueahuahaaa
kocak! kocak!
aq jadi pengen tau tulisanmu. posting cuplikannya di sini dong, kalo gak keberatan [bigwink]
________________________________________
Post by: fr3d on May 21, 2008, 04:34:30 pm
________________________________________
Quote from: clickdian on May 21, 2008, 04:04:48 pm
aq jadi pengen tau tulisanmu. posting cuplikannya di sini dong, kalo gak keberatan [bigwink]

Tulisanku? Wah, malah lucu-lucunya jarang banget! Lebih banyak kisah tragis dan kejadian penuh ironinya…
Mungkin pelampiasannya ya nulis gila-gilaan di forum atau milis gini deh… ;D
Kalau di-posting blom boleh, mba dian… :-\
Untuk novelku ada “masa kadaluarsa” minta review-nya gitu… dan skarang udah habis masa kadaluarsa-nya itu… Memang udah kebiasaan dan ada aturannya gitu… Aku gak mau ngasih orang baca kalo ceritanya blom lengkap, soalnya kepengennya dapet penilaian secara keseluruhan –> ribet ya? yup! [rolleyes]
Versi review/editan trakhir, masa kadaluarsanya berakhir tahun 2006 lalu… (memang dah lama banget sih, maap ya… :-\)

Nah, skarang aku lagi ngerjain review trakhir nih (sebelum dikirim ke penerbit). Niatnya sih setelah review trakhir ini selesai barulah mau ditawarin lagi untuk dibaca orang lain (biasanya sih ditawarinnya full, gak boleh cuma secuplik, bentuknya hardcopy sebuku besar & berat, dan harus ada komentar/feed back-nya –> kami sebut kegiatannya “korespondensi”).
Kami? Yup, novelku memang ditulis sama dua orang.
Targetnya sih review trakhir ini selesai bulan juli. Mudah2an gak ada masalah…
Kalo udah slesai nanti, aku pengen nih minta pendapat dari rekan2 penulis laen di sini! :)
Boleh ya? (Beramai-ramai menjawab: “Boleh koq!” ;D ;D ;D)
Oya, genre-nya ya fantasi dong! ^-^
________________________________________
Post by: rd_Villam on May 21, 2008, 05:02:48 pm
________________________________________
@fred,
you’re good. really good. [thumbsup]
salam kenal.
boleh juga deh nanti aku review draft novelmu. :)
pendapatku biasanya ga begitu bermutu sih, tapi gak masalah kan? :D :D :D
________________________________________
Post by: BloodSin on May 21, 2008, 08:12:21 pm
________________________________________
@fred,
this is EXTREMELY serious, ati2 kalo minta komen ke villam & clickdian, kedua member itu kritikus kelas buaya, sadis dan suka mengumbar kata2 kejam, mahajahat, tukang cela, dan jarang banged kasih komplimen.
saranku: untuk ukuran newbie, sebaiknya ente minta komen ke hege atau FA Pur saja, mereka ini reviewer2 baik hati, murah senyum, arif bijaksana, dan suka kasih pujian. Dijamin tokcer dah [thumbsup]
*ketawa setan [biggrin]*
________________________________________
Post by: BloodSin on May 22, 2008, 01:28:20 pm
________________________________________
Quote from: Amru_Yozar on May 21, 2008, 11:43:01 am
@ All
Udah pada tau Ramaditya? Dia tuh tunanetra yang ikut bikin sontrek di game-na Nintendo. Dia juga bikin nopel Fantasy lho. Sekilas sih mirip Gundam gitu. Kalo mo donlot ada di sini http://www.ramaditya.com/novelrama.zip Kalo mo baca blog-na ada di sini http://ramaditya.multiply.com/

Amru, Thanks link-nya, dulu gw pernah liat orangnya, jadi tamu di empat mata, biar tunanetra gitu selera sarkasmenya sadis juga, tukul abis dikatain sama dia [biggrin]
Udah baca sekilas2 fantasi dia, idenya sih emang lumayan orisinil, dan tata bahasanya rapi ciamik pun, naming lumayan. [thumbsup]
Cuman somehow (gejala ini juga ditunjukkan naskah2 excel), walaupun rapi ciamik gitu, bahasa dia kurang bisa mengikat pembaca, gw langsung close begitu masuk baca halaman 3, entah kenapa. Mungkin nanti lanjut baca lagihh..
note: untuk ukuran tunanetra, fantasi dia bener2 lumayan banged, cuma cuma bermasalah di gaya bahasa IMO sih :-\
________________________________________
Post by: BloodSin on May 23, 2008, 01:11:46 am
________________________________________
Boleh posting cerita jg kan? Boleh? Boleh? Boleh… [biggrin]
cuplikan dari LEMURÉS: Surga yang Hilang, naskah fantasi gw yg lagi berjibaku VS penerbit :D

Kegelapan beranjak dari tempat, dan hari kembali bergulir di Sierra Kuno. Mereka berhasil melalui malam pertama di Sangkar Hantu tanpa sedikit pun gangguan berarti, kecuali serbuan dari koloni serangga malam yang mengusik tidur mereka sedemikian rupa: nyamuk tropis.

Pagi itu mereka sarapan dengan melahap pakis-pakisan hutan yang tumbuh di ketinggian; dan untuk itu mereka mengandalkan si bocah Sirat untuk memanjat pohon.

Ketika hari mulai terik, mereka kembali melakukan pencarian dengan menembus kerimbunan semakin dalam. Semua orang menyadari bahwa mereka semakin jauh melangkahi wilayah Sangkar Hantu.

Pada suatu wilayah di tempat itu, mereka melihat jajaran pohon aneh: kelompok pohon tinggi semampai dengan bagian atas yang amat rimbun, di mana mereka melihat sarang-sarang yang dibangun dari ranting kering dan tanah liat. Di wilayah itu ada lebih dari selusin barisan pohon aneh, dan setiap pohon memiliki lebih dari selusin sarang.

Dari semua anggota Rombongan, hanya Guillarde yang memiliki minat mendalam terhadap sarang-sarang itu; rupanya sang marquis dibakar oleh rasa penasaran terhadap rupa mahkluk penghuni sarang-sarang itu.

Ia melemparkan sebatang ranting jatuh ke arah sarang-sarang itu, namun tidak pernah bisa mencapainya, oleh karena ketinggian sarang-sarang itu. Kendati demikian, ia sudah cukup menimbulkan keberisikan untuk membangunkan apapun mahkluk yang tertidur dalam sarang-sarang itu.

Namun tak ada reaksi, tak ada balasan. Sarang-sarang itu tidak menampakkan penghuni-penghuninya; membuat orang-orang yang ada di situ menarik kesimpulan bahwa sarang-sarang itu kosong belaka.

Tidak mau berlama-lama mengalihkan perhatian pada sarang-sarang aneh itu, sang pemimpin meminta orang-orang kembali melangkahkan kaki. Jadi siang hari itu mereka terus berjalan hingga gelap menyentuh sisi barat cakrawala, menembus wilayah Sangkar Hantu yang memiliki pohon-pohon dengan sarang aneh.

Sarang-sarang itu masih ada di tempat perhentian mereka, namun tak seekor pun mahkluk penghuninya yang menunjukkan tanda keberadaan.

Sewaktu Kain memutuskan untuk bermalam di situ, si bocah Sirat menyuarakan kegelisahannya.

“Bagaimana dengan sarang-sarang itu?”

“Kosong,” jawab Kain sekenanya, terlihat tidak terlalu yakin. “Apapun mahkluk penghuninya, kukira sudah bermigrasi dari sini. Aku pernah mendengar tentang kawanan angsa yang bermigrasi dari tempat ke tempat.”

“Burung-burung yang bermigrasi tidak membangun sarang di atas pohon,” Guillarde berpendapat. “Dan burung-burung yang membangun sarang tidak akan bermigrasi kemana pun, pada umumnya.”

“Jadi,” Kain berkata, “apa idemu, Tuan de Lusignan?”

“Mempertimbangkan ukuran sarang-sarang itu, kukira mereka hanyalah satu koloni burung kecil atau tupai kerdil,” jawab Guillarde, tidak yakin. “Perlukah kita mengkuatirkannya?”
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on May 23, 2008, 09:52:12 am
________________________________________
Ok, karna rey juga udah komen, aku mau nutup aja topik review cuplikan novelku supaya tidak berpanjang lebar ria berhubung cuplikannya sendiri pendek sekali :D .
Thx u buat mba dian, villam, om pur, hege, dan rey yang udah membaca dan menyampaikan pendapat kalian.
Aku akan menyimpulkan aja ya:

1. Masalah plot yang masih jadi tanda tanya/tak jelas seperti yang dijabarkan villam memang tak bisa dibahas lebih jauh. Tapi, berhubung villam berhasil point out semua hal penting berhubungan dengan plot yang sengaja aku sebut sekilas di cuplikan itu (yakni: mimpi apa, kehilangan apa, persiapan apa, dua benda itu), berarti aku menganggap cuplikan itu sudah cukup dalam hal memberi input awal/pembukaan kepada pembaca mengenai hal-hal kunci tadi dan cukup pula memberi gambaran atau ekspektasi mengenai apa2 yang mungkin akan diceritakan/dijelaskan pada adegan2 berikutnya.

2. Om pur merasa cuplikan itu sebagai prolog dan temponya lambat. Dan itu tidak sepenuhnya salah, karena cuplikan itu memang “prolog” untuk masuk ke permasalahan utama kedua di dalam novelku. Temponya lambat karena memang sedang memulai lagi pembangunan kisah dari awal.

3. “Cerita yang kurang mengalir dan tak cukup ada tease yang mengundang” komentar hege ini juga aku memaklumi karena memang cuplikannya sendiri pendek, dan “tease” itu sebenarnya ada di balik pintu yang belum sempat dibuka oleh si tokoh di dalam cerita [rolleyes].

4. Feed back yang aku harapkan pada awalnya sebenarnya lebih ke arah gaya bahasa (seperti yang kukatakan di awal posting). Dan tentang gaya bahasa ini, aku dapat menyimpulkan beberapa hal dari komen2 yang ada:

a. Meski minim detil, mba dian berhasil menangkap tujuanku menulis adegan itu di dalam kamar (spesifik) itu, yaitu hanya sekedar untuk menunjukkan si tokoh adalah orang yang sangat penting di dalam dunianya. Ini sudah cukup membuatku puas. Kalau si tokoh tidur di kamar lain, misalnya nginep di rumah temannya, hasilnya pasti beda dari harapanku. ;D

b. Mba dian juga mengatakan: “belum menemukan sesuatu yang aneh”; dan rey mengatakan: “gaya dan tata bahasanya tak ada yang jelek dan tak ada yang spesial”. Dua komen ini juga cukup buatku, karena ini berarti tak ada yang salah dengan gaya dan tata bahasa itu sendiri. (*lega*)
Soal spesial atau gak, rey, gw memang menyimpan yang spesial2 untuk adegan lain yang lebih membutuhkan. Kalau semuanya ditulis dengan spesial, nanti malah jadinya berasa gak ada yang spesial sama sekali kan? [biggrin] (*buru-buru melarikan diri sebelum dirajam!*)

c. Tentang detil yang tampaknya jadi perhatian utama (rey bahkan mengaitkannya dengan “wawasan luas” dan “kreatif”; membuat diriku bertanya, apa memang ada hubungan sebab akibatnya antara kedua hal itu? ???); harus kuakui lagi, cukup sulit untuk memasukkan terlalu banyak detil ke dalam novelku yang punya banyak istilah, set, prop, tokoh, dan aspek pendukung world building lainnya, karena novelku sudah cukup tebal oleh plot yang rumit. Detil2 itu sebenarnya bukan tak ada sama sekali, tapi aku memilih memasukkannya ke lokasi2 yang lebih appropriate atau hal2 yang lebih membutuhkan. Hal ini semata-mata supaya tidak menyibukkan para pembaca ketika aku mengharapkan mereka disibukkan oleh plot. Ini cuma soal penempatan aja koq. ;)

Oya, soal membagi ke beberapa buku, sekarang memang tengah dilakukan koq! Tenang aja, rey, tiap “buku” itu sudah ada plot2 kecilnya yang punya awal dan ending, sekaligus tetap mempertahankan satu plot besar untuk keseluruhan cerita.
Rasanya itu sudah mencakup semuanya…
Skali lagi, thx u all! :D
Untuk mba dian dan villam yang sempet aku janjiin versi yang lebih panjang,
Setelah aku berdiskusi dengan co-author-ku, kami akhirnya sepakat untuk kembali ke peraturan semula, yaitu selesaikan dulu seluruh pengeditan sebelum meminta review dari orang lain supaya bisa dapat komentar yang lebih lengkap. Jadi, untuk sekarang, belum bisa men-japri apa pun. Maap ya, sudah menebar janji-janji palsu. ;D ;D ;D
Mudah-mudahan saja pengeditan terakhirku ini selesai pada waktunya. (*crossing finger*)
Ayo semuanya, kita smangat menulis/mengedit!!! [letsdoit]

Comments No Comments »