Posts Tagged “fiksi fantasi”
Kalau film ada trailernya, novel juga ada. Download audio trailer novel Akkadia: Gerbang Sungai Tigris di sini (ukuran file: 949 KB):
Akkadia – Audio Trailer
2 Comments »
Yang klise-klise itu pasti jelek? Tidak sepenuhnya benar. Kalo jelek, lha buktinya banyak tuh film/cerita di luar sana yang isinya klise tapi digandrungi orang, dan laku dijual (termasuk di antaranya LOTR dan Harry Potter). Saya pikir, mestinya, yang jelek itu adalah jika klisenya terlalu banyak hingga taraf membosankan, ditambah dengan penulisan /pemaparan cerita yang buruk. Dan kemudian yang menjadi masalah adalah jika kita tidak tahu seberapa banyak keklisean tersebut di dalam cerita kita.
Read the rest of this entry »
85 Comments »
[tab:Hal 1]Sesi VI (3 Mar 2008 – 14 Mar 2008)
- Down ditolak penerbit?
- Hal apa yang paling penting dalam novel fantasi?
- Gaya Bahasa vs Plot
[tab:Hal 2]
________________________________________
Post by: alk on March 03, 2008, 09:40:36 pm
________________________________________
@ didie-sy
sekedar comment…
gw juga udah baca GORAN, reviewnya om blood dah mantep kok,
plot bagus, gaya cerita menarik, karakterisasi hebat, ending… mengenaskan… :’(
yg ga puas sama GORAN gara2 endingnya kali, tapi…
judulnya GORAN – Sembilan Bintang Biru, bintang biru yang keluar di cerita baru 3,
logikanya… pasti ada kelanjutannya ntar 
mungkin jadi trilogi, atau tetralogi, atau pentalogi.
liat aja nanti. ;D ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 03:14:48 pm
________________________________________
Quote from: didie-sy on March 03, 2008, 03:04:04 pm
aloooo semua :-*
aloo blood sin,aku didie n jarang maen-maen ke pulau penulis
tadi aku udah posting siy tp ga tau masuk ga?aku dikasi tau tentang goran sama temenku tapi masi ragu.
review lo tentang goran kok beda banget sama review kobo chan di kutu buku.com?dia negatif gitu.kynya kalian baca buku yang beda ya?yang bener yang mana?
halo didie-sy, salam kenal juga :-* (lagi2 ketemu ama yg batangan(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif), tp gpp deh, eke tetep welcome yey :-*)
gw udah baca review versi dia… yg ini kan:
http://www.kutubuku.com/review/kobo-chan/goran—sembilan-bintang-biru.html
?
kalo yg gw liat, dia protes (ane lg menggebu2 ngikutin eniyorda pas ngebelain hozzo ceritanya nih ):
1. knp tokohnya bukan orang indo?
2. terus… knp dalem planet vida, ada istilah2 bahasa inggris?
poin 1 bener2 subjektif sifatnya… dia menilai itu murni pake selera dia… payah banged dah(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
hmmm.. kalo dia terus pake standar ini buat menilai fantasy2 indo, gw jamin dia kagak bakalan ada puasnya, secara hampir semua fantasi lokal yg udah terbit bersetting non-indo. (cuman 1-2 doank setau gw yg settingnya indo, itupun cuman depan2nya aja, kayak hozzo/numeric uno )
yg poin 2, dia bener2 blunder tuh, gak ada orang/istilah vida yg pake bahasa Inggris!
justru disini gw salut sama pengarang bisa kepikiran bikin ‘bahasa ajaib’ dari bahasa inggris yg dibolak-balik.. 
serius gw ngakak pas baca dialog2 ajaib Soil..
kalo gw bilang sih, review nih orang bahkan lebih nyebelin dari review si ‘FP’ (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
hmmm.. gw gak bisa nentuin ente bakal demen apa kaga sama novel ini, tapi kalo mengukur dari segi plot, setting, gaya bahasa, jokes, GORAN ini yg paling ‘fleksibel’ buat diterima semua kalangan dibanding novel2 fantasi lokal laennya..
maksud gw, ga peduli tuh orang dari aliran RPN/LOTR/HarPot, harusnya bisa dapet mood kalo baca GORAN.. novel ini gak seserius novel fantasi kebanyakan, tapi juga gak seenteng novel2 tenlit.. pokoknya ‘seimbang’ dah. jadi harusnya target pembacanya cukup luas.. makanya gw sebut dia ‘the best novel fantasy indo’ dari semua yg pernah gw baca..
tapi tergantung selera juga sih
[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 05, 2008, 03:37:31 pm
________________________________________
btw, rey, penjelasan lanjutan lu tentang goran cukup obyektif nih. salut.
tapi memang, namanya pembaca pasti akan menilai berdasarkan selera masing-masing. dan pasti akan ada yang positif dan negatif. bahkan seorang kritikus yang katanya mumpuni pun sebenarnya menilai berdasarkan seleranya pula.
jadi jika ada yang berbeda pendapat, ya nikmati sajalah… heheheheh…
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 03:48:53 pm
________________________________________
bukannya gw gak mau menerima beda pendapat bang.. 
gw paling sebel kalo ada orang yg nge-review novel udah kaya pemain sepakbola ngomentarin pemain basket..
dia protes kenapa pemaen basket boleh megang bola, jumlah pemainnya cuman lima, ga ada kiper, dll..
kalo menurut gw sih kurang bisa berpikir luas tuh orang 
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 04:01:25 pm
________________________________________
tapi ya.. sebetulnya wajar juga sih ada juga orang-orang yg protes kalo ada penulis indo yg nulis pake setting asing..
sebetulnya sih, ini tergantung dulu.
kita liat dulu gmn si penulis mendeskripsikan setting asing dalam ceritanya, ‘berhasil’ apa kagak?
kalo yg gw liat di GORAN, penulis udah cukup berhasil ngebawain setting jepang sama tiongkok dengan kebudayaan2nya.
buat contoh, di GORAN tokoh aniki dikejar2 ama cewe..
secara statistik ini valid, di jepang emang lebih banyak cowo yg ditembak cewe daripada sebaliknya.
gw justru ilpill kalo ada penulis yg berani bikin setting barat, tapi gaya idup/kebudayaan yg berlaku di settingnya itu malah mirip ama gaya anak jakarta.. kalo nemuin yg kayak begitu, gw jadi ngerasa kayak nyaksiin adegan2 yg diperanin ama ‘bule celup’ 
ada beberapa novel fantasy indo yg kayak begitu. dan emang justru setting luar-nya itu malah jadi kecacatan..
tapi ada juga novel2 fantasi indo bersetting luar yg sukses nampilin setting luar-nya, dan mestinya, yg kayak begini udah ga bisa dihujat lg dari segi settingnya..
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 05, 2008, 04:15:52 pm
________________________________________
yeah…
elu bener lagi…
apalagi kalo liat cerita bersetting barat tapi dengan gaya bahasa ‘elu-gue’. duh duh duh…
mbok ya gaya bahasa itu disesuaikan dengan setting dan karakternya…
btw, kalo aku pribadi sih, bagus kalo kita bisa bikin fantasy yang bersetting lokal. tapi kalo emang kita merasa lebih cocok membuat setting barat, timur, utara, selatan atau bahkan antah berantah, dan ini lebih nyaman buat kita, ini lebih bagus. apalagi jika riset kita soal setting ini juga bagus, hasilnya tentu dijamin bagus pula dah.
________________________________________
Post by: clickdian on March 06, 2008, 12:43:00 pm
________________________________________
# Lia
What’s on you?
Bener down karena ditolak penerbit?
Hmm.. itu mah biasa.. ga perlu malu, ga usah mundur, apalagi sampe kehilangan kepercayaan diri.
Gini lho.. naskah ditolak bukan berarti naskah jelek atau penulisnya tidak berbakat. Seringkali karena rule dan kondisi dari penerbitnya.
Misal… penerbit hanya mau menerbitkan genre tertentu, smntara kita ga tau itu dan mreka ga publish mngenai rule ini.. maka karya di luar genre tsb otomatis dieliminasi.
atau, naskah bagus tapi setelah dipertimbangkan ternyata diprediksi tidak sesuai/ tidak akan banyak permintaan pasar. ini mah ilmu ekonomi ikut bicara, aq ga banyak tau soal ini.
atau…. selera editor, seperti yg kita ketahui setiap org kan seleranya beda2 (contoh nyata deh, Rey bilang Goran bagus, tapi aq–walopun emang ngejogrok di genre fiksi fantasi–ampe sekarang belum punya keinginan untuk baca sama sekali). editor penerbit A bisa jadi akan mengatakan hal yang sebaliknya dengan editor penerbit B untuk naskah yang sama.
kalau naskah kamu ditolak, bisa jadi karena ketiga hal ini, atau hal lain yg aq belum mention di atas.
but anyway, mundur bukan jalan terbaik, menurut aq, ya. kamu cuma belum dapet jalannya aja. tunggulah, semua akan indah pada waktunya…
ngomong2 soal ditolak.. aq pernah tuh, masukin naskah ke gramed, dan ditolak dengan sukses ;D
naskah itu terus aq masukin ke penerbit lain, yang editornya bilang sebenernya bagus, cuman dia bingung mau masukin ke genre mana, walhasil tu naskah setaun lebih nangkring di meja dia detik reply ini diposting! T_T
digantung, tuh, bageuuussss…
mending ditolak, kan, ada kepastian iya ato nggaknya ;D
tinggal kirim ke penerbit lain, berdoa, menunggu, beres.
So, kembalilah.. *duh, telenovela banget yah? *
Kita discuss lagi, poles lagi, dan jadi lebih baik. Dan someday, kalo kamu inget pernah ditolak, kesuksesan kamu akan lebih terasa nikmatnya
[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 10, 2008, 07:39:37 am
________________________________________
belakangan ini gw suka bingung kalo masuk sini mau posting apaan 
lagi keabisan topik diskusi yak.. 
hmm.. gw selaku TS bikin bahasan baru dech.. :-*
menurut kalian para penulis fantasi, mana yg lebih penting antara:
-plot
-karakterisasi
-gaya bahasa
-setting
-jokes
dalem sebuah novel fantasi?
hmm.. gw mau liat proporsi selera lu orang berdasarkan prioritas (urut dari prioritas 1 sampe 4)..
kalo gw pribadi sih:
1. plot
2. setting
3. karakterisasi
4. gaya bahasa
5. jokes (gw gak pinter bikin jokes )
hmm.. ato mungkin yg laen mau nambah elemen2 lainnya? ???
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 10, 2008, 08:42:34 am
________________________________________
refrensi rey..
itu penting banget.
sekalian deh,
buat penulis Hozzo
sebelumnya, makasih udah memberikan pinjaman bersyarat atas buku anda. selain itu, saya sebagai pembaca berterimakasih atas “KERAMAHAN” anda atas komplain saya beberapa waktu lalu atas betapa jeleknya sebenarnya sosok hege yang sebenarnya .
nah memasuki hal inti, sebelumnya mohon maaf karena ini adalah tanggapan pribadi atas apa yang saya baca. jika ada yang kurang berkenan, mohon dimaafin
buku itu beneran deh, kek perpustakaan berjalan. bikin pala pusing kala dibaca malam2, tapi akan sangat menyenangkan jika dibaca pagi-pagi buta. perjalanan yang aneh, butuh konsentrasi untuk ikut serta dalam perjalanannya. nah berhubung bacanya tak selalu konsen jadi bagian perjalanan ke Tudag ga bisa ngebayangin jenis pulaunya begimana. tapi saat berkendara dengan pla-veos, hee… keren oe..
nah, terlalu banyak hal baru yang ada di buku ini, jadinya semua hal-hal fantasinya terasa datar. mungkin karena diceritakannya secara umum kali ya, tapi ada beberapa detail yang tak bisa aku bayangkan penggambarannya, seperti semangka bergerigi ataupun pintu yang membuka dengan gerakan silang (saat di ruang inkubasi)
yang menarik juga yaitu, tentang kehidupan para alien di planet huminiz. ternyata, biarpun penulisnya mau membuat setting tempat yang berbeda, tapi kesan bumi masih melekat. tentang sebutan rumah sakit, dokter dan tukang kebun. kenapa tak dibuatkan sebutan yang lain, untuk menghilangkan kesan kalau mereka masih di bumi?
selain itu, ALIEN, merupakan sebutan orang-ornag bumi pada makhluk luar angkasa, tapi kenapa sih para makhluk luar angkasa masih juga menyebut sesama mereka dengan sebutan alien.sekali lagi, kenapa mereka tak punya merk untuk jenis mereka,
untuk tokoh utamanya, entah karena aku yang kurang konsen atau emang tak disebut, aku tak tahu umur Alan berapa ya? hee… maaf kalau di buku udha disebut ya
tapi pembicaraan dan pola pikir mereka sedikit terllau dewasa untuk anak remaja seumuran mereka.
pemakaian sebuah istilah yang tak konsisten.
WANITA ALIEN dan ALIEN WANITA timbul bergantian.
Nah kepada bang Villam, master bahasa, coba mana sih diantara istilah itu yang tepat untuk menunjukkan alien yang berjenis kelamin wanita?
secara umum, buku ini hebat. refrensinya komplit dan benar-benar mendukung. tak salah plotnya disusun dalam dua tahun (plotna aja mbo.. apalagi bukunya coba ;D). aku maish nungguin buku lanjutannya yang entah kapan nyusul terbit (tentunya minjem gratisan lagi yak. hee ;D)
dan mungkin seperti seseornag yang disebu penulis, buku ini ngebuat aku minder sendiri. huu… :’(
________________________________________
Post by: hege on March 10, 2008, 10:24:42 am
________________________________________
Terimakasih untuk TS kita tercinta untuk bahasan barunya, mari tingkatkan kualitas thread tersayang ini. Post seperlunya dengan topik bermutu dan memang pantas didiskusikan.
Semua itu penting, semua mendukung kualitas cerita, tapi kadang kala beberapa lebih menonjol dari yang lainnya.
Menurut hege Gaya Bahasa atau bentuk tulisan menduduki peringkat pertama, karena itu love-at-the-first-sight, apalagi untuk editor, paragraf2 pertama novel adalah harga mati, gak peduli sekeren apa ceritanya di dalam, atau seganteng apa karakternya di dalam. Bentuk tulisan sangat menentukan betah-tidaknya pembaca untuk melanjutkan.
berikutnya dengan porsi baik, pas dan seimbang: plot, setting, karakterisasi dan humor sense (hege tak menyebutnya jokes, karena kadang kala humor sense itu ga mesti jokes yg bikin ngakak, tapi kalimat-kalimat yang membuat pembaca antusias, takjub dan terbius)
—
@arik
terimakasih atas reviewnya. Sangat kuhargai. Mengenai istilah dan sebutan di planet Huminiz, oh tentu hege sudah menterjemahkannya ke dalam bahasa bumi, dan itu penting untuk pemahaman dalam membaca (well tentu saja kan?). Jika arik penasaran, zooke adalah sebutan tukang kebun dalam bahasa Humin, Var adalah sebutan dokter, dan banyak lagi yg lain. Tapi itu akan semakin memusingkan pembaca bukan? (ada ratusan istilah baru yg telah kuciptakan di novel ini ;D)
mengenai sebutan alien, oh pls rik, penggunaannya hanya untuk pemahaman pembaca saja, sekali lagi, terlalu banyak ras yang ada di planet luar sana untuk hege ciptakan sebutan, hehehe. Lagipula Wet dalam bahasa bumi menerjemahkannya seperti itu.
Tentang semangka bergerigi dan pintu terbuka dengan gerakan menyilang. Come on, anak SD pun bisa membayangkan itu ;D
but once again thanks so much for your review, rik (ini review pertamamu bukan?) semua review pembaca (lewat buku pinjaman atau beli) sangat berharga untuk saya.
—-
[tab:Hal 5]
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 10, 2008, 01:44:17 pm
________________________________________
1. Klo aku setuju ama Hege, gaya bahasa tuh paling penting dlm sebuah karya.
Coz gaya bahasa nunjukin keunikan and ciri khas dr seorang penulis itu.
Mgkn bisa dibilang seperti identitas gitu dech!
2. Truz Setting, membangun suasana negeri fantasy tuh sulit, jd penting banget klo ini diprioritasin.
Semakin oke setting, bakal lebih mudah membuat pembaca seakan bisa ikut ‘tersedot’ di dlm dunia fantasy itu.
3.Plot.
4. Karakterisasi, semakin baik penggambaran karakternya maka pembaca bisa kenal lebih deket ama para tokoh.
Asyik banget kalo pembaca bisa menyelami kepribadian tokoh2 kita and seakan2 pembaca kenal baik ama para tokoh.
5. Jokes? wah, selera humorku ga bagus. jadi kayanya ni kelemahanku.
Ada solusi?
Btw, ni smua pendapatku lho!
Gimana pendapat yg laennya?
________________________________________
Post by: alk on March 10, 2008, 08:55:37 pm
________________________________________
bagiku:
1. plot (gaya bahasa penting buat first impression, tapi tetep aja kalo plotnya nggak mengesankan, sebentar juga dah lupa ceritanya)
2. gaya bahasa + jokes (menurutku sih, jokes masuk dalam gaya bahasa juga)
3. karakterisasi (nggak seru kalo karakternya nggak bisa dibayangin ;D)
4. setting (biarpun urutannya bawah gini, ga berarti ga penting nih >:()
5. referensi (kalo ada bagus banget, kalo ga ada… ya diadain lah ;D)
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: hege on March 12, 2008, 11:19:10 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on March 11, 2008, 07:53:20 am
>Quote from: hege on March 10, 2008, 02:16:56 pm
>baca novel2 dengan selera humor layak akan membantu
>Rowling, RL Stine, Roald Dahl, Tolkien’s Hobbit
RL Stine gada lucu2 om, serem mah iya 
Hmm.. setelah gw pertimbangkan secara mendalam, selera humor sama sekali gak bisa diukur.
Penulis fantasi ga bakal bisa ngerti/ngakak baca humor2 ala teenlit, dan begitupun sebaliknya. Jadi, sebetulnya kita gak bisa menjudge suatu bacaan kocak mampus/jayus kronis tanpa mengatasnamakan “menurut gw/aku/ane/eike”.
kalaupun ada pengecualian di mana ada pembaca yg ngakak baca teenlit maupun fantasy maupun jenis2 bacaan lainnya, berarti sang pembaca itu emang memiliki selera humor yang fleksibel.
Jadi yang susah adalah, bagaimana menciptakan humor yang diselerai masyarakat luas (dari berbagai kalangan pembaca)?
Selera humornya RL Stine agak-agak miring dan mengerikan, but I really really liked it… oh hege itu penggemar berat RL Stine. Phil itu karakter yg dipengaruhi banyak karakter di Goosebumps (buku-buku karangan Stine terjual lebih dari 300 juta eksemplar ke seluruh dunia dan terjemahkan ke dalam 28 bahasa)
Once again rey, hege menyebutnya Humor sense, bukan sekedar isi jokes atau lelucon atau hal-hal gokil lain yang bikin ngakak. Humor sense itu terkandung dalam tulisan, dan itu sangat mempengaruhi betah tidaknya pembaca. Hege membaca beberapa teenlit-nya Meg cabot, serius keren kok (meski beberapa penerjemah gramed mengacaukan beberapa novel beliau) dan hege impress akan humorsense-nya doi. dari banyak buku2 best seller lain yg hege baca, kuambil kesimpulan, humor sense yg baik akan menarik lebih banyak pembaca.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 12, 2008, 01:30:58 pm
________________________________________
halo semuanya…
apa kabar?
proyek menulisnya masih berjalan semua kan?
bagus-bagus nih pembahasan di beberapa halaman terakhir, tentang mana yang paling penting dalam sebuah novel fantasi. aku bisa banyak belajar.
tentang gaya bahasa, hege benar, itu penting buat menumbuhkan ‘cinta pertama’. serius, ini memang sangat penting. walau sebenarnya, istilah ‘gaya bahasa’ ini terlalu sempit, yang lebih luas dan cocok sebenarnya adalah ‘cara menyampaikan cerita lewat jalinan kata dan kalimat’ (halah…).
tapi, menurutku pribadi sebagai pembaca, bukan gaya bahasa yang bisa bikin aku bertahan baca novel sampai akhir, melainkan ceritanya, yang berisi plot n karakter.
udah banyak kasusnya, cerita dan novel yang kututup di tengah jalan atau bahkan di dua halaman pertama, yang walaupun bergaya bahasa bagus dan mengalir, tapi karena aku gak sreg sama plot dan karakternya, ya udah gak kubaca lagi. apa boleh buat. yeah… tentu saja ini hanya menurutku…
mendingan mana tuh?
cepet jatuh cintanya tapi cepet patah hati juga?
atau lambat jatuh cintanya, tapi langgeng sampai akhir?
wkwkwkwk
sementara untuk setting, itu bagus untuk menambah suasana dan masuk ke dalam cerita. yeah… penting juga, terutama untuk menegaskan bahwa cerita kita adalah cerita fantasi. tapi di urutan berikutnya deh…
sedangkan jokes, menurutku bisa disetarakan dengan romance, action, atau sex scene. semuanya adalah bumbu untuk menarik perhatian pembaca. umumnya hal-hal ini disukai pembaca, dan berarti penting juga. tapi aku pribadi menempatkannya di bawah faktor-faktor lainnya yang telah disebutkan.
yeah… hanya pendapat bodohku saja…
mari menulis lagi.
________________________________________
Post by: kokonoka on March 12, 2008, 03:32:39 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on March 12, 2008, 01:30:58 pm
mendingan mana tuh?
cepet jatuh cintanya tapi cepet patah hati juga?
atau lambat jatuh cintanya, tapi langgeng sampai akhir?
wkwkwkwk
Point yang bagus buat dipikirkan!
mau nanya kecepatan menulis orang kan beda2. Dari sudut pandang pembaca, mending “my pace” tapi jadinya puas atau rilis berkala yang cepet tapi kurang puas?
Abisnya kadang mood dateng pas lagi sibuk2nya.. eh pas lagi senggang idenya belum keluar..
Selain itu gimana mengakali supaya pembaca ga bosen? terutama kalo Act yang kita tulis panjang sampe beberapa bab (dengan perubahan setting yang minim dan karakter yang itu2 aja)
[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: hege on March 12, 2008, 04:10:16 pm
________________________________________
Koko,
biar ga bosen? gimana bisa bosen sih? kalau ga ada greget di dalam tulisan/ceritanya sih mau sependek apa juga pembaca bisa jadi bosen. Artinya, setelah rangkaian karakter,plot, penulisan, setting dengan kadar dan posisi pas, apik, rapi dan jali, ceritanya takkan pernah mengebosenin, trust me! ::)
—
All,
beberapa tips memancing minat pembaca untuk membaca tulisan kita sampai selesai dan takjub.
1. Twist di akhir bab, ini sangat menyenangkan, it works for me, actually, hehehe..
2. pakai atau selipkan tokoh2 yg ekstraordinari dalam cerita, ini pasti berhasil, pasti! (masalahnya, karakter2 ekstraordinari sulit sekali dibuat, bahkan oleh penulis yg jam terbangnya tinggi)
3. stop cliche things, oh please guys! buatlah sesuatu yg gak sering dibuat orang, dengan begini ceritamu lebih cepat melejit.
4. Terakhir, (ini bukan untuk mematahkan semangat siapa2 yak, heheheh) kalau ceritamu terus-menerus jelek dan tidak enak dibaca, segimanapun usahamu, bahkan setelah menulis jutaan kali dengan usaha sekeras-kerasnya, bahkan sampai berguru dan belajar nulis ke mana-mana. menyerah saja, mungkin hoki dan bakatmu tidak disitu.
nb. kalau belum nyerah juga, teruslah berusaha dan berdoa, cita-cita dan mimpi itu milik semua insan.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 12, 2008, 05:23:34 pm
________________________________________
1. bagus, kokon. silakan dipikirkan ya… heheheh…
2. saranku, buat dirimu lebih puas lebih dulu, baru puaskan orang lain. (dalam konteks ini ya… dalam soal lain, lebih indah memuaskan orang lain terlebih dulu. hehe…)
3. hmm… mungkin harus ada kejutan di setiap 5 halaman. sesuatu yang baru dan bikin orang penasaran. jadi kepikir juga cerita Robinson Crusoe atau film Cast Away-nya Tom Hanks, kok gak bosen ya walaupun tokohnya cuma satu, dan di satu pulau lagi…
@all,
ada yang sudi menyerah sekarang?
hihihihi…
oya tambahan…
di halaman berapa tuh arik pernah nanya mana yang bener:
‘Wanita Alien’ atau ‘Alien Wanita’.
kalo dianalogikan dengan : ‘Wanita Indonesia’, ‘Wanita Jawa’ ataw ‘Wanita Jepang’,
mungkin ‘Wanita Alien’ benar.
tapi kalo dibandingkan dengan : ‘Manusia Wanita’, ‘Jin Perempuan’ ataw ‘Singa Betina’,
mungkin ‘Alien Wanita’ juga benar.
jadi… bingung juga sih… hehehe…
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 13, 2008, 08:07:01 am
________________________________________
Villam, setelah kupikir, jika ditinjau dari segi Menerangkan Diterangkan,
Wanita Alien ==> lebih menekankan pada wanita, dengan alien sebagai unsur menerangkan spesifikasi jenis wanitanya.
Alien Wanita ==> lebih menekankan pada alien, dengan wanita menjelaskan jenis kelaminnya.
tapi dari buku hozzo, istilah alien wanita cuma seklai muncul (ini penulisnya rasanya ge-er deh aku ngebahas istilahnya dia). yah jika disesuaikan dnegan telinga, kekna aku lebih menarik jika memakai alien wanita. karena kedengarannya wanita hantu itu agak aneh… ;D
but, sudahlah, toh juga revisi udah dikirim dan menunggu penolakan enam bulan lagi. wkwkwk .. peace… ;D
gus, aku ga ngerti poin2na, jangan pke bahasa inggris atu….
yah, tapi jadi penikmat juga kadang menyenangkan. 
________________________________________
Post by: hege on March 13, 2008, 10:01:36 am
________________________________________
minimal 3 bulan untuk keputusannya, jangan libatkan pengalaman pribadi yak ;D. hege pasrah saja pun jika ditolak. masih ada penerbit-penerbit cadangan ::)
btw, hege lebih suka menggunakan istilah Wanita alien (contoh: wanita alien Hezezoic), and its NOT a big deal, demi langit dan bumi. Banyak hal yg bisa dikritik dan didiskusikan selain hal-hal sepele gini.
Rik, poin-poin mana yg tak berhasil dicerna otakmu? Tips itu? I dont explain thing twice, thank you.
[tab:Hal 7]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 14, 2008, 11:48:43 am
________________________________________
hayah gw tinggal dua hari nih tret udah cukup banyak postingan berbobotnya (walo ada jg dua orang yg keliatan banged mesra2annya ), elu orang emang keren semua dah(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)
Udah gw duga, berdasarkan tulisan2 elu orang yg pernah gw baca, jawaban dari setiap orang disini bakalan beda2 buat pertanyaan priority itu.
Bisa gw ambil konklusinya, ada dua pendapat dominan disini:
Gaya Bahasa VS Plot
Sepakat sama Villam, terus terang gw pribadi lebih condong ke plot, karena bagaimanapun juga, yg kita bikin itu novel, bukan katalog lelucon/kuliner/wisata jalan2(i poin no finger, i name no name , tapi kalo ada yg ngerasa kesambit, (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif) aja deh). Harus ada suatu ide dasar yang kuat untuk plot yg ditulis, yg syukur2 plot itu bisa dibikin secerdas mungkin, gak bertele2, dan gak klise.
Cerdas disini maksudnya adalah menciptakan rangkaian logika dalam plot.
Kalo ada tokoh antagonis setengah dewa yang kekuatannya tak terkira (yg udah digembar-gemborin dari awal sampe akhir cerita), ya konsistenlah thp karakter itu. Jangan nantinya ada tokoh protagonis yg mendadak dengan kekuatan bulannya, malah bisa ngebabat tuh si antagonis… ini gak asik sama sekali. Harus ada solusi yg logis untuk setiap permasalahan yang dihadapi.
Di lain sisi, karena yg dibikin itu novel, dan bukanlah film/komik/anime/lagu/karya seni lainnya, keahlian merangkai kata-kata juga gak kalah penting. Dalam hal ini gw sepakat sama Hege. Ketika kita beli sebuah buku, apa yang kita dapat? Cuma lembaran-lembaran kertas dan hamparan kata-kata..(halah..–ngikutin gaya bang villam )
Film, komik, novel, semuanya sama2 menampilkan cerita. Tapi novel hanya berisi kata-kata, gak ada sound, gambar, atau video untuk mendukung cerita yg ditampilkan. Satu-satunya yang akan ditemui pembaca cuma kata-kata, dan mau gak mau kita mesti menyajikan kata-kata itu sespesial mungkin buat menggantikan sound, gambar, video yang gak ada itu.
Menurut gw, menulis novel dengan gaya bahasa (dan dialog) datar* sama aja kaya mencoba menyajikan nasi goreng tanpa bumbu. Nasi goreng itu emang bisa diabisin, sesendok demi sesendok, tapi itu akan menyiksa si pelahap nasi goreng itu.
Dengarlah kawan, yang kita tulis itu novel, bukan berita surat kabar ato daftar belanjaan!
*)’Bahasa datar’ yg gw maksud disini gaya bahasa orang tamatan SD.
Jadi, thanks to hege and villam, dimensi plot dan gaya bahasa sama2 vital, dan gak boleh keteteran satupun dari keduanya.
Selain dua hal itu, ada hal lain yg mau gw sorot, karena cukup banyak fantasi lokal yg udah pernah gw baca miskin atau bahkan gak memiliki satu hal ini: greget–thanks to hege.
Betapapun orisinil/apik/keren sebuah jalinan plot, kalo ga ada greget, pembaca akan mudah sekali bosan. Kecakapan menulis dialog, mendeskripsikan kronologi antar peristiwa, menyusun dan memotong scene2, amat diperlukan disini… ga peduli mau novel genre apa, yg namanya greget itu penting, novel tanpa greget ibarat orang ga ada semangat.
Udah ah, gw bukan senior apalagi master, tapi udah ngebacot panjang kek begini… jadi malu(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Salam Dangdut
(Aiih gw emang TS yg ganteng dan bijak..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif) eh kalo kek gini gw netral ato menikam semua orang yak?)
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 14, 2008, 12:46:10 pm
________________________________________
jadi kesimpulannya, menulis itu memerlukan seni dnegan beragamn faktor yang mempengaruhi. bukankah itu artinya semuanya penting rey, cuma tergantung kemampuan kita untuk menambal faktor mana yang kita bolong dengan meninggikan faktor lain yang dimana kita ahli.
1 Comment »
Hari ini saya baru saja memberi usulan di forum diskusi Pulau Penulis Fiksi Fantasi Dalam Negeri, bagaimana kalau kita membuat komitmen bersama: di akhir tahun 2008 ini minimal harus ada satu naskah kita yang selesai, kemudian direview bersama-sama di bulan Januari 2009, editing pada Februari 2009, dan kirim ke penerbit paling lambat Maret 2009.
Masih ada dua bulan; mungkin sulit tapi bukan berarti tidak bisa. Yang penting adalah kita bisa bergerak bersama-sama, saling memberi semangat dan masukan, dan semoga, nanti komunitas penulis fantasi bisa menjadi semakin kuat.
4 Comments »
[tab: Hal 1]Sesi IV (22 Jan 2008 – 3 Feb 2008)
- Review KLA 2008 oleh clickdian
- Terra Mater Aftermath karya clickdian
- Monster’s Tales karya hege
- Tentang tampilan cover
- Hati-hati posting naskah ke publik
- Lagi, tentang Fans Fiction dan Fantasy Fiction
- Review Septimus Heap: Magyk oleh clickdian
[tab: Hal 2]
________________________________________
Post by: clickdian on January 22, 2008, 08:48:21 am ________________________________________
Hi guys… I’d like to report the ceremony of Khatulistiwa Literary Award 2006-2007 event, held on 18th January 2008 at Plaza Senayan. Semua orang bisa dateng dan ngeliat, dari lantai dasar ampe atas, jadi center of attention banget.
Acaranya oke… straight to the point dan ga bertele-tele, everything went quite fast. I loved it karena acaranya malem dan aq ga terlalu enjoy keluyuran malem di Jakarta, soalnya ga apal jalan dan nggak banget deh kalo harus nyasar malem-malem, hehe.. Dan band-nya kerennn!! Akustik! Tiga gitar dan satu gendang (kayaknya sih gendang, dari tempat aq duduk ga terlalu jelas)—i like accoustic. Lagunya asing, tapi aq enjoy.. the voices blended nicely with the music.
Banyak orang hebat yang dateng ke sana… Richard Oh, . Djenar, ah, kalo tau dia?penggagas award ini—of course he’d come bakal dateng aq bawa deh novel Nayla. Andrea Hirata, he’s a nice man.. sangat ramah.. sayang ngobrolnya ga bisa lama-lama, udah kemaleman for all of us.. Mbak Dianing Widya, very grounded and full of smile. Happy Salma, ga sempet ngobrol, dia pulang cepet. Rieke Diah Pitaloka—face to face banget, tapi aq speechless dan cuma bisa tukeran senyum doang sama dia, hehe.. Adilla Anggraeni, blon sempet ngobrol juga padahal duduk sebaris. Farida Susanty, wah dia mah emang udah lama kenal, gara2 dia buka thread untuk Run! di FI ini jaman belon direvisi dulu. Dan kayaknya aq ngeliat Moammar Emka, tapi pas dicari lagi udah ngilang. And last but not least, para finalis lain—walopun ga ngobrol langsung—they’re all great. Hebat-hebat semua… waaa… dan aq bukan siapa-siapa… ga ada yang kenal, hehe..
I am so lucky to have opportunity to join this event. Banyak praktisi sastra yang hadir—penulis, pembaca, pemerhati… sekelompok orang dengan minat yang sama: writing. I am not the best on it, but to be in the same room with people with the same interest makes me feel like home.
Satu hal yang bikin aq seneng banget.. walopun nggak menang, tapi Zauri salah satu finalis yang di-sort dari seratus-an buku2 lain, and it means, genre fiksi fantasi juga dihargai sekali lagi sebagai karya sastra di negeri kita tercinta ini, setelah penghargaan Adikarya IKAPI. I’m very thankful for that, alhamdulillah… akhirnya kita dapet tempat juga, teman-teman, dan nggak dipandang sebelah mata. Bahwa Zauri tidak berhasil jadi pemenang, itu berarti Allah udah punya jalan sendiri untuk Zauri, yang insya Allah lebih baik. Mungkin tempat utama itu kelak akan diperoleh oleh salah satu dari mereka yang bergabung di thread ini? I hope so… Mari terus berkarya, teman-teman. Ayo kita buat paling tidak satu dari finalis award ini tahun-tahun yang akan datang adalah novel dengan genre fiksi fantasi, dunia kita.
Note: The winner for prose category is Gus tf Sakai (Perantau). The winner for poetry category is Acep Zamzam Noor (Menjadi Penyair Lagi..) The winner for young writer category is Farida Susanty (Dan Hujan Pun Berhenti) ?Congratulations!
[tab: Hal 3]
________________________________________
Post by: clickdian on January 23, 2008, 08:57:58 am ________________________________________
Terra Mater, Aftermath
Felicity menatap jendela. Wajah cantiknya menyiratkan kesedihan. Biasanya, ia melihat pemandangan yang sama dari jendelanya setiap hari. Tetapi kali ini berbeda. Setelah merasakan hari-hari alami di Bumi, jendela kamarnya terasa sangat asing, walaupun ia sudah menatapnya selama dua puluh enam tahun hidupnya. Ada perasaan aneh yang membuatnya ingat pada Bumi. Sinar matahari alami yang menembus sela gorden pada pagi hari, senyapnya senja yang perlahan-lahan membawakan malam, hembusan angin yang meniup pelan rambutnya…
Perasaan aneh itu bernama rindu.
Ia membuka jendela dan mendapati jalanan di sini jauh lebih tenang dari biasanya. Menyesap kopinya yang masih mengepul, Felicity mendapati dirinya lagi-lagi teringat ketika masih di Bumi. Hari-hari di mana ia harus menenggak berliter-liter cairan kopi untuk membuatnya tetap terjaga dan menyelesaikan misi.
Bahkan meminum kopi pun terasa lain, pikirnya sedih. Terlalu banyak hal-hal alami di Bumi yang takkan pernah diperoleh di sini. Harga yang amat-sangat mahal yang harus dibayar manusia sebagai upah dari keserakahannya. Tidak hanya itu. Bahkan nyawa pun menghilang untuk memperoleh hal-hal berharga itu kembali. Sia-siakah? Atau berusaha memperoleh surga itu adalah keputusan paling bodoh yang pernah kubuat? Aku tidak hanya kehilangan banyak teman, aku juga kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri atas kegagalan ini. Ah, mungkin belum waktunya aku menyebut kegagalan. Masih ada harapan, seperti yang Dewa katakan padaku. Walaupun harus menghabiskan banyak waktu untuk melihat harapan itu menjadi kenyataan atau tidak.
Menghela nafas, Felicity membuka genggaman tangan kirinya. Sebuah tabung kaca, berisi sepotong jari telunjuk di dalam cairan pengawet—satu-satunya yang tersisa dari pria yang ternyata ayah biologisnya. Tes DNA telah membuktikannya. Ia harus membuat pegawai Lab Biologi bersumpah untuk tidak membocorkan hal ini pada siapa pun. Dewa, Nathan dan Chen Li telah berjanji untuk menyimpan rahasia ini sampai mati. Dan Azusa… yah, untungnya dia tidak mengetahuinya, jadi rasanya bukan masalah. Walaupun rahasia ini mungkin terbuka juga suatu hari nanti, setidaknya untuk saat ini biarlah publik buta tentangnya.
Benda yang mengerikan untuk dijadikan kenang-kenangan, batinnya. Tapi setidaknya ada yang tersisa untuk dibawa pulang…
Malam semakin larut. Kopi di cangkirnya sudah hampir habis. Udara kotanya yang datar, sungguh berbeda dengan Bumi, dan lagi-lagi Felicity menelan kenyataan kalau ia sangat ingin untuk kembali ke Bumi.
Felicity menelengkan kepala menatap taman buatan di bawahnya. Hanya ada beberapa orang di sana, dan perhatiannya tertambat pada sepasang kekasih yang sedang berdiri di bawah pohon. Matanya langsung memanas. Hatinya langsung teringat pada sebuah nama.
”Ian,” bisiknya lirih, tanpa sadar.
Dan matanya basah. Kehilangan Ian adalah pukulan telak baginya. Dan ironisnya, beberapa saat sebelum shuttle itu meledak, ketika pandangan mata mereka terikat, dan Ian mengucapkan selamat tinggal untuknya, barulah Felicity menyadarinya.
Ian adalah satu-satunya orang yang dicintainya. * * *
Taman buatan itu adalah satu-satunya tempat di Fasilitas Riset Luar Angkasa yang memiliki koleksi tumbuh-tumbuhan cukup lengkap. Semua tumbuhan di sini adalah hasil dari kultur jaringan dan rekayasa genetika, itulah sebabnya disebut taman buatan.
Tidak banyak orang yang ada di taman malam ini. Tetapi tempat ini tetap saja terang benderang, hasil dari puluhan lampu yang dipasang secara artistik di segala penjuru. Lebih tepatnya, lampu-lampu itu melayang di berbagai tempat dan ketinggian, yang secara berkala berpindah-pindah membentuk formasi-formasi tertentu. Dari kejauhan lampu-lampu yang berwarna-warni itu membuat taman terlihat indah. Azusa menarik Dewa ke satu pohon; pohon ek besar dengan lubang di bawahnya.
“Dewa, kau ingat dulu kita sering menyembunyikan barang di situ waktu kecil?” Azusa menunjuk ke dalam lubang.
“Tentu saja! Kau menyembunyikan barang-barangku di sana,” Dewa mulai menghitung. “Mulai dari robot rakitan pertamaku, lalu pena elektrik hadiah dari Damian kakakku, kemudian benda-benda lain entah apa saja. Jadi sebenarnya kau yang suka menyembunyikan barang, bukan ‘kita’.” Dewa menyeringai.
Azusa tersipu. “Kusembunyikan robotmu karena kau tidak mengajakku dalam kompetisi itu. Lalu pena elektrikmu—karena kau menjodohkanku dengan Ian Bright, si bengal itu. Aku dulu tidak suka padanya.”
“Oh, jadi itu caramu membalas dendam—menyembunyikan barang?” goda Dewa.
“Bukan begitu…”
Azusa baru saja akan membela diri ketika Dewa berkata lagi, “Tapi aku heran, kenapa kausembunyikan juga coklat valentine yang kuterima dari Sakura?”
Wajah Azusa kontan memerah, membuat Dewa semakin bersemangat menggodanya.
“Itu..”
“Kau tidak cemburu kan?” Dewa menundukkan kepala ke arah Azusa.
“Aku?” balas Azusa cepat. “Tentu saja tidak! Kenapa aku harus cemburu? Terserah Sakura mau memberi coklat pada siapa!”
“Lalu kenapa kausembunyikan?”
Azusa terdiam, kehabisan kata-kata. Ia langsung kikuk dan Dewa tertawa melihatnya. Mereka sama-sama tahu apa alasan Azusa melakukan hal itu, dan alasan itu sudah tidak penting lagi untuk diutarakan.
“Sudah lama sekali sejak terakhir kausembunyikan barang milikku. Kita sekarang sudah dewasa, Azusa.”
Azusa mengangguk. “Benar. Dan aku sudah tidak berminat lagi pada barang-barangmu, Dewa. Jadi kalau ada barangmu yang hilang, jangan tuduh aku, ya.”
Dewa mengerucutkan bibirnya, berpikir sejenak. Setelah yakin ia lantas menoleh ke arah Azusa sambil berkata, “Kalau pada pemiliknya, kau berminat atau tidak?”
“Hah?” Azusa tersentak mendengar pertanyaan Dewa.
Atmosfer di antara mereka langsung berubah. Pertama kalinya sejak Dewa mengenal Azusa selama bertahun-tahun, ia tidak ingin lagi mengenal Azusa sebagai teman.
Dewa menatap Azusa lekat-lekat. Ada bekas luka memanjang di kening gadis itu. Bekas operasi. Terlihat jelas berkat sinar lampu taman yang kebetulan salah satunya melintas di atas mereka.
”Jangan tatap aku seperti itu,” keluh Azusa, memalingkan wajahnya dari Dewa.
”Mengapa?”
”Kau pasti menatap keningku lagi. Bekas lukaku ini…” Azusa menunduk, tidak menyelesaikan kalimatnya. ”Aku… aku malu.”
Dewa menaikkan sebelah alisnya. ”Malu?”
Azusa semakin menunduk.
Dewa menyadari bibirnya membentuk seulas senyum. ”Kenapa? Karena kau telah ikut misi Casero dan mengawali perjuangan untuk Bumi? Atau karena kau mendapatkan luka yang telah menyelamatkan teman-temanmu?”
Azusa mendongak mendengar kata-kata Dewa. Teman kecilnya itu, baru disadarinya kini, telah berubah menjadi laki-laki dewasa. Dewa yang ia kenal biasnya tidak berkata seserius ini. Ataukah selama ini ia tidak memperhatikan?
”Chen Li telah mengambil chip itu dari tubuhku. Kalau tak ada dia, mungkin aku sekarang sudah…” Azusa terdiam, lalu menoleh ke arah sebuah gedung tak jauh dari situ, bentuknya seperti setengah bola dengan banyak jendela yang lampunya menyala.
”Jenius, memang, dia,” Dewa ikut-ikutan menatap gedung itu. Merasakan kehangatan menyelimuti hatinya karena tahu sahabatnya itu ada di situ. Chen Li telah menyelamatkan banyak nyawa, termasuk Azusa, walaupun beberapa orang yang sempat ditolong olehnya pada akhirnya tidak dapat bertahan hidup.
”Azusa,” panggil Dewa kemudian.
”Ya?” jawab Azusa, memberanikan diri untuk menatap Dewa.
”Kau harus bangga pada bekas lukamu itu. Itu luka kehormatan.”
”Tapi aku jadi diperhatikan banyak orang karenanya.”
”Biarkan saja mereka!”
”Tapi aku jadi jelek,” protes Azusa keras kepala. ”Mungkin aku operasi ulang saja supaya bekas ini hilang dan…”
Dewa meraih kepala Azusa dengan sebelah tangannya, lalu dengan sangat lembut, ia menyentuh bekas luka di kening Azusa itu dengan ibu jarinya. Gadis berambut hitam panjang itu tersentak. Tapi ia tidak melepaskan dirinya dari Dewa, hanya menatap matanya dengan pandangan bertanya.
Dewa tersenyum. ”Jangan dihilangkan. Kau tetap cantik dengannya.”
Pipi Azusa bersemu merah.
”Sungguh?”
Dewa mengangguk. Mereka bertatapan dalam diam.
”Ngomong-ngomong, Azusa. Kau belum menjawab pernyataanku dulu..”
”Memangnya kau butuh jawaban?” Azusa membuat senyum terindah yang pernah diberikannya pada Dewa. * * *
”Ngapain di sini?”
Chen Li melirik ke jendela. Lalu tanpa menoleh, ia menjawab, ”Memangnya siapa yang melarang? Kau pikir gara-gara siapa kau masih hidup dan bisa masuk ke sini?”
Nathan langsung menumbuknya. ”Dasar! Masih tetap pede, kau, hah? Bukannya Felicity yang menyelamatkan kita semua?”
”Mungkin Dewa. Atau mungkin Azusa, atau mungkin malah kau. Kita saling menyelamatkan, kau tahu?” jawab Chen Li tanpa fokus. Matanya masih melirik ke arah taman. ”Sialan dua makhluk itu,” gerutunya, membuat Nathan ikut melihat ke jendela. ”Bikin iri saja!”
Menyadari siapa yang sedang berdiri, Nathan langsung tertawa. ”Iri? Pantas saja, memangnya ada yang mau padamu, Blondie? Di dalam otakmu kan hanya ada komputer dan program?”
”Enak saja,” Chen Li tersenyum sinis. ”Aku tidak ada waktu, dan bukan aku tidak ada yang mau. Bisa saja aku pacaran dengan semua gadis di sini kalau aku mau. Mana ada sih yang tidak terkagum-kagum padaku, Chen Li The Invisible?!”
Nathan pura-pura menguap sebagai jawaban. Dia sudah hafal sifat narsis Chen Li yang sudah pada taraf akut itu.
“Basi, kau,” katanya singkat, dan Chen Li balas menumbuknya. “Cepatlah berburu sebelum jadi kakek tua!”
“Bah! Lihat siapa yang bicara! Kau sendiri ‘masih tersangkut di Bumi, bukannya mengejar Bidadari’mu itu!” Chen Li menggedikkan kepala ke arah flat Felicity di seberang taman. “Gadis secantik dia, cuma ada seribu tahun sekali!”
Nathan tidak menjawab. Kalimat Chen Li membuatnya teringat pada dua hal. Felicity Adams adalah yang pertama. Makhluk terindah yang pernah dilihatnya. Nathan tahu meraih gadis itu akan sulit sekali. Tetapi, sulit bukan berarti mustahil, kan? Tiba-tiba ia tersenyum sendiri. Masih ada harapan, katanya dalam hati. Selama aku masih hidup, akan kukejar dia.
“Ngapain cengar-cengir?” Chen Li menaikkan alisnya ketika menanyakan hal ini, membuat Nathan memutuskan untuk tidak mengatakan isi kepalanya pada Chen Li. Itu hanya akan membuat Chen Li semakin punya alasan untuk meledeknya.
Nathan mengalihkan pembicaraan, pada hal yang kedua.
“Rasanya baru kemarin kita pergi, ya? Tahu-tahu sudah di sini lagi.”
Chen Li mengangguk. “Tahu, tidak, misi Casero membuatku takut mati.”
Dengan sebelah alis terangkat, Nathan berujar, “Hei, aku tidak pernah mengira seorang Chen Li akan takut mati!”
Tadinya Nathan mengharapkan jawaban asal khas Chen Li, tapi ia keliru.
“Sungguh, aku jadi takut mati. Terlalu banyak kematian yang berhubungan dengan Bumi. Teman-temanku. Benda-benda ciptaanku. Aku takut ketika aku mati nanti, tak ada orang yang bisa aku warisi. Rasanya aku perlu menikah dan punya banyak anak.”
Nathan ternganga.
“Hei… kau tak apa-apa?” tanyanya prihatin.
Chen Li menggeleng. Diletakkannya kotak kaca mungil berisi prototipe robot mikro yang sedari tadi digenggamnya. Robot ini adalah karya Chen Li terbaru, akan berguna untuk mendeteksi penyakit pada organ dalam manusia—robot ini akan bisa menjelajahi tubuh manusia dengan mudah. Kemudian ia beranjak menuju pintu.
“Aku mau pulang,” kata Chen Li.
Nathan tidak mencegahnya. Ia hanya melambai asal pada sahabatnya itu.
Sebelum pintu menutup, Chen Li berbalik sekejap. “Tapi aku serius mau punya anak banyak,” katanya, menutup pembicaraan, meninggalkan Nathan yang masih terheran-heran mendengar kalimatnya.
Nathan masih terdiam lama setelah pintu itu tertutup. Terhanyut dalam pikirannya sendiri. Ia, seperti juga Chen Li, ikut dalam misi Casero. Dan ia tahu seberapa besar pesona Bumi bisa menarik hati. Bumi telah mengubah banyak orang. Bahkan Chen Li sekalipun.
Ia melirik hologram Bumi yang terpampang di sudut ruangan, berputar anggun dengan gerakan pelan. Satu-satunya benda yang baginya, tidak hanya lebih indah dari Felicity Adams. Tetapi juga jauh, jauh lebih agung.
Keagungan yang masih jauh untuk dapat diraih. * * *
[tab: Hal 4]
________________________________________
Post by: hege on January 26, 2008, 11:33:51 am ________________________________________
MONSTER’S TALES
To Celebrate Monster’s Day – 26 January
Pada suatu hari di negeri para monster, dua monster gemuk bersaudara memasuki pintu berukuran raksasa. Boks neon besar bercahaya pucat dengan tulisan “Monster’s Bar, Just for Monsters!” bertengger miring di atasnya. Kedua monster ini berjalan serampangan menuju sudut ruangan, meninggalkan jejak kaki berlendir di lantai.
Bar-bar dan diskotik di manapun di negeri itu sedang sepi pengunjung. Di Monster’s bar hari ini hanya ada enam atau tujuh monster bertanduk. Kebanyakan rakyat sipil negeri monster bersembunyi di rumah atau gua saat malam hari tiba, negeri mereka sedang dilanda krisis multidimensi.
“Ini sungguh mengenaskan, Zchuib,” gumam salah satu monster yang baru saja memilih tempat duduk, ia memandang ke sekeliling, ruangan bercahaya remang-remang itu terasa sunyi sekali. Kawannya mengerjapkan ketiga matanya bersamaan dan bersendawa.
Kedua monster ini adalah monster bertampang paling menjijikkan yang pernah ada. Kulit mereka seperti terbuat dari lilin hijau yang hampir mencair berikut duri-duri gemuk di sekujur punggung. Mereka memiliki kepala besar tak proporsional dengan posisi mata, mulut dan hidung berantakan. Dua lengan mereka yang gempal pendek dan kaku berukuran tak sama di kiri-kanan. Jari-jari mereka pun hanya empat saja di setiap tangan, beberapa jari itu buntung dan lengket.
Salah satu pelayan monster dengan wujud yang tak kalah menyedihkannya datang kepada mereka, membawakan pesanan dua gelas kayu berukuran besar yang dipenuhi minuman gobra (merupakan hasil fermentasi darah kerbau)
“Kita semua mengenaskan, ZeZe,” gerung Zchuib meraih gelasnya dan minum, sebagian isinya tumpah ke badannya yang bengkak penuh bisul. “Aku rindu masa-masa di mana HAM (Hak Asasi Monster) ditegakkan seadil-adilnya. Belum pernah jalanan di malam hari bisa sampai selengang ini.”
“Iya,” sahut kawannya pelan, minum gobra-nya habis sekali tenggak. “Tapi bisa kau pelankan suaramu sedikit! Mereka ada di mana-mana, para mata-mata itu!”
“Ah sejak kapan kau takut sama mereka,” ujar Zchuib santai. “Mahluk-mahluk kecil menjijikkan yang disebut manusia itu. Kau lihat cara mereka makan? Aku heran bagaimana mereka melahap daging hewan dengan merebus atau menggorengnya. Yang aku tahu semestinya mereka memakan rumput mentah.”
“Manusia banyak sekali saat ini, Zchuib sayang. Ada di mana-mana dengan senjata yang meledak-ledak di ujungnya. Kita harus hati-hati!” kata ZeZe melirik ke sana ke mari. “Izib bahkan sulit menemukan kerbau di manapun di gunung, para manusia menangkap mereka semua dan mengurungnya di semacam tempat, mereka menyebutnya kandang, kurasa.”
“Kandang?” tanya Zchuib menggeleng, tak percaya mendengar kabar ini. “Para manusia itu tak hanya saja mencuri makanan kita, tapi juga kebudayaan kita.” (kandang adalah sebutan untuk bangunan istana di negeri para monster, dahulu kala, lama berselang—sebelum para manusia datang dan merebut kekuasaan)
“Raja kita, Perzekouloth, kira-kira bagaimana nasibnya?” tanya ZeZe hati-hati.
“Para manusia pasti telah mengulitinya dan mengubahnya menjadi dendeng,” ujar Zchuib yakin. “Perzekouloth yang malang, salahnya mau menandatangani surat kerja sama dengan manusia—mahluk-mahluk yang sulit dipercaya, tengil dan licik.”
“Iya benar, sekarang rakyat sipil menjadi korban,” kata ZeZe sedih. “Aku mau membakar diri saja sebelum para manusia memasak dagingku menjadi sup.”
“Jangan putus asa begitu, ZeZe!” geram Zchuib tajam. “Kita akan melakukan gerilya, inilah yang disebut perang sipil, kita akan menegakkan keadilan. Manusia harus dimusnahkan dari negeri tercinta ini, jangan biarkan mereka membuat lebih banyak kandang lagi! Kita harus melakukan tindakan nyata.”
“Tunggu sebentar, Zchuib sayang!” bisik ZeZe mengingatkan. “Kurasa tak bijaksana merencanakan hal-hal seperti ini di ruang publik, para manusia bisa mendengar, dan celakalah kita!”
“Diamlah kau, ZeZe! Jangan paranoid seperti itu!” geram Zchuib. “Apa kau sudah kehilangan instingmu seperti kebanyakan monster belakangan ini? Monster sejati dilahirkan untuk tidak takut terhadap apapun!”
“Kita ditetaskan, Zchuib sayang!” protes ZeZe buru-buru.
Read the rest of the story here http://kemudian.com/node/79357 dont forget to leave any comment.
[tab: Hal 5]
________________________________________
Post by: BloodSin on January 28, 2008, 07:55:41 am ________________________________________
kemaren gw ke gramed n melakukan sedikit riset iseng2: ngeliat2 judul semua novel yg ada.. hmm.. kalo diliat2, hampir semuanya punya judul memikat n bisa bikin orang penasaran.. ini ngebikin gw bertanya: apakah judul novel gw udah mantep? dan jawaban gw, belom.. gimana dengan temen2? ??? ada yg bilang yg penting isi, bukan judul/kover dari suatu buku.. tapi kalo menurut gw judul cukup mempengaruhi penjualan di pasar.. soalnya dari judul sedikit banyak bisa merepresentasikan isi sebuah buku, satu frase/kalimat yg mewakili ribuan kata dalam 1 buku (halah, gw ngomong apa sih?) temen2, coba dilist donk ente2 pada udah ngebikin cerita dengan judul apa aja, kita sekalian bisa share nihh..
oya, kemaren gw ngeliat novel GORAN.. hmm.. ngeliat ringkasan plotnya di belakang buku sih cukup menjanjikan.. tapi ‘Pasukan Jas Hujan Putih’-nya itu lho :-\.. bikin ilpil.
________________________________________
Post by: BloodSin on January 28, 2008, 04:01:50 pm ________________________________________
Quote from: rd_Villam on January 28, 2008, 03:27:06 pm hehe… TFH itu kerjaan bertahun-tahun, rik… itu ambisiku yang paling gede, yang gak kelar-kelar, dan gak tau kapan bakal kelar… yang di k.com itu baru prolog dan 6 bab awal dari buku 1.
ati2….. jangan terlalu banyak posting naskah kalo emang diniatin buat terbit nantinya, bang…. kadang ada penerbit yg gak mau naskah yg diterbitinnya terlalu beredar luas, lagipula kalopun ada penulis yg mau mempromosikan naskahnya yg udah terbit, dia pasti cuman ngasih sebagian kecil halaman2nya…….. itu yg ngebikin gw setop posting lemuria n tangerine di kemudian, soalnya karena emang naskah gw cuman 2 itu, dan gw ada niat ngerampungin untuk dikirim ke penerbit, someday
eh keknya gw pernah diajarin teori beginian ama seseorang disini yak.. ________________________________________
Post by: rd_Villam on January 28, 2008, 04:36:12 pm ________________________________________
that’s why, rey… aku mungkin ga bakal ngepost lanjutan cerita-cerita tersebut di sana… tapi yang sudah telanjur, ya sudah biarkan saja…
________________________________________
Post by: mocca_chi on January 28, 2008, 04:42:01 pm ________________________________________
iyah.. villam banyak bgt post naskahnya. biarpun nda dibajak orang, takutna kan idenya dicuri orang (kalau nda bisa dibilang menginspirasi) kan nda banget liat ide kita di naskah karya orang lain, mending jika lebih jelek, klo lebih bagus ketimbang naskah kita kan keki juga…
[tab: Hal 6]
________________________________________
Post by: blue_amaranthine on January 28, 2008, 06:00:02 pm ________________________________________
Kawand, berdasarkan saran Villiam, so aku nimbrung di sini dech. Hehe.. baru sich, jadi belom taw apa-apa. Bout fiksi fantasi, emangnya apa-apa aja sih yang perlu dimunculin dalam fiksi fantasi, hingga orang-orang bisa bilang, “Jadi, ini novel fanfic” sualnya banyak bget temen-temen yang ngeidentikin ama science fiction. Apa jangan-jangan fanfic itu salah satu science fiction?
________________________________________
Post by: BloodSin on January 28, 2008, 06:31:22 pm ________________________________________
istilah fanfic itu bukan mengacu ke genre fantasy bro, tapi ke suatu genre buat wadah para fans fiksi tertentu. nah bingung kan? jadi misal ente penggemar LOTR, n terus saking cinta matinya ente ma LOTR, ente ngarang cerita gmn kehidupan frodo setelah one ring ancur… nah cerita yg ente bikin itu, dikategoriin fan-fic. hmmm sebetulnya gampang kok ngebedain fantasi ama science fiction, kalo fantasy lebih menitikberatkan pada kekuatan imajinasi/fantasi si pengarang, sci-fi cenderung mengandalkan riset buat landasan cerita.. jadi antara fantasi ama sci-fi itu kayak antara imajinasi dan fakta lapangan… beuh, ini cuman pendapat ngasal dari eke sahaja, mungkin master2 fantasy disini mau menambahkan, hege n villam espesially. :-*
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 28, 2008, 11:00:11 pm ________________________________________
@blue, welcome to the club! jadikan ini rumah keduamu, ya… heheh… penjelasan mengenai perbedaan antara ‘fans fiction’ dan ‘fantasy fiction’ dapat dilihat pula di halaman pertama thread ini. sementara kalo menurut gue sih, science fiction itu termasuk bagian dari fantasy juga. (star wars atau star trek itu fantasi juga kan?) soalnya kalo bicara fantasy, itu luas banget sebenernya, seluas imajinasi para pengarangnya. ada yang jenis sci-fi kayak contoh tadi, ada jenis high fantasy macam LOTR yang bikin dunia sendiri, ada jenis Harry Potter yang menonjolkan dunia sihir, ada jenis Bartimaeus yang bikin dunia alternatif, dll dsb. trus kalo yang dibilang rey, bahwa sci-fi cenderung mengandalkan riset, mungkin kudu diperjelas bahwa riset yang dimaksud di sini adalah riset teknologi. soalnya riset kan macem2, ada riset sejarah, riset geografi, riset budaya dan bahasa, riset tokoh, dan segala macam lainnya. dan segala macam riset itu wajar pula muncul di genre-genre lainnya.
[tab: Hal 7]
________________________________________
Post by: clickdian on February 03, 2008, 04:43:52 pm ________________________________________
Septimus Heap: Magyk
Angie Sage
Buku yang baru terbit seri pertamanya ini meng-klaim dirinya sebagai pengganti Harry Potter. Ini salah satu alasan kenapa aq beli (duh, strategi pasarnya jitu juga! korban nih, korban). Sayangnya, aq agak kecele setelah baca. Jalan ceritanya mudah ditebak.
Magyk adalah plesetan dari ‘magic’, sama dengan istilah ‘magick’ di FF12 yang sebenernya ‘magic’ juga. Semua orang di dalam cerita ini akan memiliki mata berwarna hijau begitu mulai mempelajari Magyk. Dan ada satu posisi terhormat di dunia Magyk yaitu Penyihir Luar Biasa, yaitu pemimpin para penyihir yg bekerja untuk kerajaan, tinggal dalam menara khusus di dalam istana.
Kisah ini berawal dari saat kelahiran Septimus Heap. Cerita magyk ini berpusat pada sebuah kota imajiner (settingnya jaman dahulu) yang dikelilingi benteng tinggi berbataskan sungai melingkari kota. Pemimpin kota (ato negeri) ini adalah seorang Ratu, dengan garis matrilineal, yang otomatis membuat kekuasaan diturunkan pada para perempuan. Nah.. keluarga Heap tinggal di dalam satu kamar di dalam sebuah rumah besar di dalam benteng tersebut.
Ada sebuah legenda (yg semakin jauh aq mengikuti cerita ternyata benar adanya) bahwa keturunan ketujuh dari anak ketujuh keluarga penyihir akan memiliki kekuatan magyk yang luar biasa. Dalam kasus ini, Silas Heap–ayah Septimus–adalah anak ketujuh. sementara septimus sendiri juga anak ketujuh di dalam keluarganya.
Jadi, pada saat bayi, Septimus diincar oleh penyihir jahat, dikabarkan sudah mati dan diculik. pada saat bersamaan Ratu dibunuh dan bayi perempuannya diselamatkan Penyihir Luar Biasa dan dimasukkan ke keluarga Heap. Intinya, keluarga Heap kemudian merawat sang putri sementara anak mereka sendiri–yang dianggap sudah mati–sebenarnya masih hidup dan berada di tempat lain. Cerita kemudian bergulir ke saat sepuluh tahun kemudian, di mana anak2 tersebut sudah berkenalan dengan magyk dan mulai dikejar2 penyihir jahat lantaran si putri ketahuan tinggal bersama mereka.
Dalam buku ini, u will find different kind of magic. ga ada wand sama sekali, semua penyihir bisa menyihir begitu saja, selama mereka punya spell. power dan jenis sihir sangat tergantung pada mantera ini, tapi penyihir bisa membuat spell sendiri, walaupun masih banyak tergantung buku mantera.
Overall… aq masih ngerasa kurang greget. mungkin krn lebih suka cerita yg ngelibatin emosi yang kuat, sementara style-nya Angie justru lebih di story daripada emosi. selama mengikuti cerita rasanya datar2 aja, dan aq ketawa karena joke baru di halaman 315 (kalo ga salah). Kalau mau dibilang pengganti Harry Potter, menurut aq, mending tunggu buku kedua dulu. mungkin lebih menarik. Tapi kalo kamu suka fantasi dengan dunia yang benar-benar baru, novel ini bisa jadi pilihan. Angie cukup kreatif dan imajinatif dalam meramu yang satu itu.
No Comments »
[tab: Hal 1]Sesi III (15 Des 2007 – 22 Jan 2008)
- Tentang Hozzo karya hege
- Tentang Goran dan Sang Penandai, terbitan Serambi
- Tentang tanggapan pembaca di kemudian.com
[tab: Hal 2]
________________________________________
Post by: eniyorda on December 15, 2007, 09:47:11 am
________________________________________
Here goes…
ini aku re-post (dengan sedikit editing).
Sebelumnya:
- Ilmuku dikit. yang mau saya tambahkan di sini lebih kepada hasil pengamatan saja, tidak pakai referensi ini itu, dan saya menulis ini karena mempunyai sudut pandang yang sedikit berbeda dari reviewer di AK.
- Latar belakang saya adalah seorang penulis bacaan anak, dan seorang pembaca yang lebih banyak membaca fantasi daripada yang lain-lain. Jadi sedikit banyak ini pasti mewarnai cara pikir saya.
==========================
Kritik dari FAP yang panjang lebar itu, setelah ditilik-tilik sebenarnya cuma terdiri dari dua poin utama:
1. “Hozzo bukan fiksi ilmiah!”
2. “Plotnya amburadul.”
Selain itu ada beberapa poin kecil yang sudah ditanggapi oleh mas hege sendiri, seperti soal cover yang aneh, dll. Mungkin itu nggak perlu kutanggapi disini. Nah, sekarang akan membahas kedua poin di atas satu persatu.
1. “Hozzo bukan fiksi ilmiah!”
Pertama-tama, saya heran mengapa beliau mengasumsikan ini fiksi ilmiah, dan mengkritiknya sebagai fiksi-ilmiah. Setahu saya Liliput sendiri mengatakan ini fantasi, demikian Hege sendiri. Dan seandainya, ada yang menganggap fiksi ilmiah, seharusnya sah-sah saja, karena fiksi ilmiah yang dijelaskan olehnya (“ilmu pengetahuan sebagai dasar cerita”) adalah definisi yang tidak salah, tapi sempit. Anehnya dia bilang space opera bukan sf, tapi lalu bilang Star Wars adalah space opera. Jadi harusnya kesimpulannya adalah: Star Wars bukan sf. Tapi habis itu ngasih contoh-contoh sf dari Star Wars, bingung saya.
Adikku (cowok) sering bilang. “‘A long time ago in a galaxy far, far away…’[kalimat pembuka film]–Star Wars is fantasy!”, hehehe. Selain itu mayoritas buku di toko yang terkategori sebagai sf, disebut adikku ini sebagai fantasy. Mengapa, karena dia memegang definisi sf yang sama dengan si mas. Nggak salah memang. Tapi kalau ngomong soal ini kan sebenarnya mengkritik pengkategorian di toko, bukan mengkritik isi buku. Di toko Indonesia juga nggak ada kategori fantasy/sf. Jadi, kegemesan beliau lebih karena ada yang menganggap Hozzo adalah sf, bukan karena buku Hozzo sendiri.
Saya beranggapan pengkotak-kotakan sub-genre tidak usah terlalu saklek atau terlalu dipusingkan. Malah saya cenderung lebih suka fantasy, sf, horror diistilahkan sebagai speculative fiction saja, karena ketiganya sangat terkait erat. (Memangnya fantasy tidak bisa “mempunyai ilmu pengetahuan sebagai dasar cerita”?)
Kedua, dan ini lebih penting daripada yang di atas, adalah mengenai kritik terhadap kultur anak-anak alien yang anehnya sama dengan anak manusia seperti suka main ‘games’, tentang pembuatan dunia yang tanpa nalar, tentang eksotisme tanpa aturan, dan sejenisnya.
Kalau dilihat dari aturan “dunia”-nya, secara umum fantasy (+sf) terbagi dua kutub, tradisional dan non-tradisional. Dunia fantasi tradisional adalah dunia di mana “anything can happen”. Kadang tidak ada logika dunia sama sekali, kadang punya logika yang ‘twisted’. Contoh jenis ini adalah semua jenis dongeng, cerita rakyat, dan buku-buku fantasi/sf zaman dulu. Selain itu, banyak buku fantasi anak klasik jatuh pada kategori ini, termasuk semua buku Narnia, “Peter Pan”, “Wizard of Oz”, “The Little Prince”. Istilahnya, di dunia ini, kalau ada tokoh ibu peri bisa “simsalabim” menyihir apa pun tanpa aturan atau konsekuensi, nggak usah dipertanyakan lagi. Demikian juga jika batu yang dilempar terlalu tinggi bisa menjatuhkan bintang yang rupanya seorang cewek (‘Stardust’). Dewasa ini, fantasi dengan dunia dengan logika yang nyeleneh udah jarang. Biasanya dibuat untuk anak-anak, atau kalau bukan untuk anak-anak, dibuat untuk menonjolkan sesuatu entah itu kritik sosial, satire, atau plot dan imajinasi.
Di kutub yang lain, fantasi yang non-tradisional, mempunyai dunia dengan aturan yang dirancang jelas, detil, dan masuk akal, termasuk: sihir/teknologinya, budayanya, sejarahnya, sistem sosialnya, pemerintahannya, dll. LOTR sering dianggap tonggak pertama kemunculan fantasi jenis ini.
Nah, saya justru menganggap Hozzo lebih mendekati jenis yang pertama, sedangkan si mas menilai Hozzo dari pendekatan jenis yang kedua. Ya, jelas nggak adil. Nggak cocok jadinya. Apakah fantasi tradisional itu kuno, ketinggalan zaman, seperti kata beliau “ternyata masih ketinggalan, sejaman dengan era Flash Gordon belaka”? Ini yang justru saya nggak setuju, karena soal bagus yang mana banyak terkait dengan selera. Saya pribadi beranggapan, fiksi fantasi itu mau condong ke jenis yang mana, tetap berpotensi untuk menarik jika digarap dengan baik, entah itu akibat kombinasi plot yang seru, tokoh yang asik, imajinasi yang hebat, isinya daleeem, penuh metafor dan analogi, bahasa indah dan nyastra, konsep unik, atau unsur-unsur lain.
Apakah Hege harus merevisi seperti yang disarankan FAP tentang membuat dunia yang lebih nalar? –dunia, bukan plot atau tokoh (plot nanti akan dibahas di bawah). Kalo dari saya, terserah aja, karena toh sejauh ini saya tidak manganggap salah.
(Hai, hai, mudahan ngerti. Aku kesusahan menjelaskan apa yang ada di kepalaku).
2. “Plot amburadul”
Sepakat. Hege bagus kalo nulis scene atau bab, yang masih sedikit-sedikit–tapi kalo udah ditumpukin jadi satu buku, kerasa alur global cerita itu kurang terkendali.
*Sejujurnya saya sebagai pembaca memaklumi soal ini, karena kelemahan ini tertutupi dengan deskripsi dunia-dunia eksotis bikinan Hege itu. Tapi tidak semua pembaca mau melupakan soal masalah plot itu, rupanya.*
Saran revisi apa ya? Saya pengen detil sebenarnya, cuma lagi-laginya bukunya udah di kampung, jadi sekarang nggak bisa dibaca-baca. Takut lupa. Kalau dilihat, review ybs sebenarnya sudah menyebutkan semua yang penting. Saya ngga berani menyarankan bagaimana langkah-langkah perbaikannya. Selain udah rada lupa itu, juga tergantung sejauh mana hege bersedia mengeditnya. Misalnya, mau ngga kalau ada tokoh-tokoh yang dibuang?
Oh ya, mengenai percakapan tentang hal-hal yang nggak penting, seperti tentang reinkarnasi/karma. Kalau mau memasukkan hal yang filosofis ataw spiritual, sebaiknya jangan ditempel di percakapan aja, tapi masukkan sebagai tema. Atau setidaknya sesuatu yang bisa dieksplor sepanjang buku. Seperti hubungan Alan (atau siapa, lupa) dengan ayahnya yang buruk. Itu dah lumayan, digali aja lebih dalam dan bikin lebih menyatu dengan cerita utama. Atau sematkan unsur spiritual pada salah satu budaya planet alien yang dikunjungi (semacam satiris gitu).
Sekian, ada pendapat lain? biar membuka pandanganku juga.
[tab: Hal 3]
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: BloodSin on December 15, 2007, 10:18:39 am
________________________________________
@eniyorda,
Oke deh, ane kelompokin aja mana yg lumayan(a.k.a standar abis) n mana yg good (unik n bener2 bagus)…. pake pakem selera ane.. inget, pakem selera ane lho..
lumayan: ledgard, pinissi, nightfall
bagus (sekalian ane kasi ranking deh):
rank 1: satu judul novel RPN yg gak pernah terbit yg menurutku almost perfect di setiap aspek novel(@sis, we know who)
rank 2: sang penandai (highly rekomended buat semua penggemar fantasy)
rank 3: hozzo (very entertaining, nice setting, n good characterization–halah , tapi sayang kurang di plot..)
rank 4: narend (nice setting, nice naming, good plot.. tapi terasa ada yg hambar dalam novel ini–entahlah)
untuk zauri, di antara kelas lumayan dan bagus.. rank 5 kali yah.. 
novel laennya, silakan simpulkan sendiri..
n.b 1:
jangan pernah tertipu ma judul.. 
n.b 2;
hozzo ma ledgard mah beda kelas atuh.. 
________________________________________
Post by: eniyorda on December 15, 2007, 10:54:39 am
________________________________________
Akan kuusahakan nyari sang penandai, sama buku-buku yang lain (walau ngga ada bayangan sama sekali ttg covernya). Ya, semua memang kembali ke soal selera. Ttg ledgard, bagiku ini buku dengan ide standar yang dieksekusi dgn lumayan (bukan sempurna). Masalahnya buku2 yang lain yg udah kubaca, baru sedikit, dan berada di bawah itu terutama segi teknis penggarapan. Sedang narend, menurutku kalah unik kebanding ama hozzo, jd ga kupilih.
________________________________________
Post by: hege on December 15, 2007, 08:02:53 pm
________________________________________
hihihi… thanks alot buat pencerahannya mba Fin.
I wont change the general plot on this first Book, becoz what happened in there is what exactly I plan for years. I just revised scenes and eliminated some characters (for publishing purposes).
sekuel hozzo yg lebih seru menyusul, sebelumnya akan ada Aura dan Samar.
[tab: Hal 4]
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: BloodSin on December 18, 2007, 12:53:01 pm
________________________________________
Quote from: eniyorda on December 15, 2007, 09:47:11 am
Dunia fantasi tradisional adalah dunia di mana “anything can happen”. Kadang tidak ada logika dunia sama sekali, kadang punya logika yang ‘twisted’.
Di kutub yang lain, fantasi yang non-tradisional, mempunyai dunia dengan aturan yang dirancang jelas, detil, dan masuk akal, termasuk: sihir/teknologinya, budayanya, sejarahnya, sistem sosialnya, pemerintahannya, dll.
Nah, saya justru menganggap Hozzo lebih mendekati jenis yang pertama, sedangkan si mas menilai Hozzo dari pendekatan jenis yang kedua.
hmmm.. kalo menurut ane, hozzo justru masuk fantasy non-tadisional.. kok bisa ente masukin fantasy tradisional si?
bukannya segala hal dalem hozzo dijelaskan mendetail, ttg misteri2nya, sejarah2 yg ada, sistem masyarakat, dll-nya? jadi ga gitu aja ada dan jadi kan.. malah hozzo ada juga pake penjelasan2 ilmiah gitu..
________________________________________
Post by: eniyorda on December 18, 2007, 01:46:11 pm
________________________________________
bloodsin, iya hozzo memang detil, cuma entah kenapa aku merasa semua detil2 itu lebih banyak akibat sesuka hati si pengarang, bukan detil dari ‘kesatuan’ rancangan aturan di dunianya. Buat contoh konkrit agar lebih jelas, entar ya, mau coba dicari dulu di bukunya.
________________________________________
Post by: hege on December 18, 2007, 03:02:08 pm
________________________________________
kok ga ada yg nanya pengarangnya, hozzo masuk fantasy yg mana ya? ::)
________________________________________
Post by: eniyorda on December 18, 2007, 08:46:48 pm
________________________________________
hege,
begitu karyamu diterbitkan, karya itu sudah menjadi milik pembaca mau ditafsirkan bagaimana, he5x.
oke deh, kutanya. Karyamu dimaksudkan utk masuk jenis yang mana? (terlepas apakah orang2 lain menilainya berhasil atau belum).
[tab: Hal 5]
________________________________________
Post by: rd_Villam on December 18, 2007, 10:40:29 pm
________________________________________
ah, ya…
dulu pernah ada yang berkata padaku: saat menulis kita menjadi raja, tapi begitu udah terbit, pembaca adalah rajanya.
terserah mereka yang sekarang akan menilai.
aku dulu membalas: menerbitkan buku–atau publikasi kecil2an sekalipun–itu seperti mengucapkan sesuatu yang tidak mungkin ditarik kembali, seperti halnya mencoba menarik batu yang sudah telanjur dilempar. kita berkesempatan merevisi, tapi jejak pertama kita tetap akan terekam, indah ataupun tidak indah.
dan kemudian, setelah aku menjawab itu, aku tersadar betapa tidak nyambungnya jawabanku itu (multiple choice – pilihan C: pernyataan 1 benar, pernyataan 2 benar, tapi tidak berkaitan sebab akibat).
sebagaimana aku tersadar sekarang, betapa tidak nyambungnya pernyataanku dengan pernyataan eniyorda, ataupun pernyataan2 lain sebelumnya. ;D ;D ;D
maklum, semakin malam, otak semakin korslet… 
________________________________________
Post by: eniyorda on December 18, 2007, 11:19:18 pm
________________________________________
villam, kurasa nyambung kok. satu judul, tapi ada lebih dari 1 versi, karena versi lama ngga mungkin dihapus begitu saja. Jadi penasaran sama buku2 yang pernah terbit berbeda sebelumnya (misal eragon, yang katanya byk perubahan dari edisi self-publishednya).
Itu jenis pilihan ganda zaman kaapaaan gitu. saya lebih suka jenis yang A) 1, 2, 3 benar, B) 1 dan 3 benar. dst (nah ngga nyambung)
________________________________________
Post by: hege on December 19, 2007, 09:52:39 am
________________________________________

fin,
It doesnt really matter hozzo masuk fantasy yg mana hihihih… actually. Hege asyik ajah para pembaca mengkategorikan hozzo sebagai fiksi ilmiah, space opera or whatever (me, somehow think of it as science fiction though, meski lebih suka menyebutnya sebagai fantasy belaka) Mengenai traditional and non-traditional, ini juga tak berlaku mutlak, karena pengarang menciptakan dunia tertentu berdasarkan apa yg ia kehendaki (seenak udel) but on purposes.
Hozzo sangat menyenangkan untuk ditulis(dan dibaca) namun saya akui ada kontrol tertentu yg dilewatkan (ini bukan utk menyudutkan siapapun) tapi peran editor dalam dunia penerbitan sangat signifikan, so sial hege aja yg ga dapet editor yg kompeten utk hozzo. hal-hal teknis tentu akan mendukung kenikmatan membaca.
well, seperti kata fin dan villam, jejak pertama sudah tercipta, bagi pembaca yg kebetulan mendapat versi awal, jadi mereka dapet yg original version (siapa tahu kapan2 versi2 kaya gini jadi rebutan para kolektor wakakakakak ;D kidding) Untuk versi selanjutnya naskah harusnya lebih matang dan disempurnakan. finger cross 4 that!
________________________________________
Post by: BloodSin on December 19, 2007, 10:06:57 am
________________________________________
Quote from: hege on December 19, 2007, 09:52:39 am
Untuk versi selanjutnya naskah harusnya lebih matang dan disempurnakan. finger cross 4 that!
Dan dipertipis, tentu.. (berlaku bagi hozzo)
________________________________________
Post by: hege on December 19, 2007, 10:11:06 am
________________________________________
yeah, sejauh ini 100 pages kubabat tanpa ampun, liat betapa ngalor ngidul-nya naskah ini (well beberapa dialog yg menyenangkan juga kena sikat)
[tab: Hal 6]
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: eniyorda on December 25, 2007, 02:20:10 pm
________________________________________
Pandangan dua penerbit (GPU, Matahati) yang konsisten menerbitkan fantasi luar negeri mengenai genre fantasi di Indonesia dan potensi penulis fantasi lokal. Cuma… yah, menurutku kurang lengkap reportasinya karena nggak memuat bagaimana pandangan penerbit lain yang udah lebih sering menerbitkan karya fantasi lokal.
===================
Dari Koran Tempo, 23 Des 2007:
http://www.korantempo.com/korantempo/2007/12/23/Buku/krn,20071223,21.id.html
Setelah Harry Pergi
Fiksi fantasi belum kehilangan gairahnya.
Sampai umur 11 tahun, Jack hanyalah seorang bocah biasa dari keluarga Saxon yang sederhana. Ia tinggal bersama ayah, ibu, dan adiknya, Lucy, di sebuah desa pantai. Kalau ada yang agak istimewa di keluarga itu adalah kemampuan ibunya membuat sihir-sihir kecil.
Keadaan mulai berubah saat Bard meminta Jack menjadi muridnya. Cuma sebentar berguru sihir kepada Bard, kekacauan datang. Tahun itu, tahun 773, sekelompok prajurit terganas bangsa Viking menyerbu desanya. Bard mendadak gila, Jack dan Lucy menjadi tawanan Viking.
Petualangan Jack dan Lucy bersama Viking membawa mereka ke tempat-tempat yang hanya pernah didengarnya dalam dongeng. Mereka menjadi saksi pemusnahan Desa Gizur, mampir di Desa Olaf One Brow, menjejaki kampung raksasa Jotunheim, sampai mencicipi air dari Sumur Mimir yang magis.
***
Fiksi fantasi seperti novel The Sea of Trolls karya Nancy Farmer yang dicuplik di atas sepertinya tidak pernah loyo. Meski sang master fantasi Harry Potter sudah tutup buku Juli silam, novel-novel fiksi fantasi terus mengguyur pasar buku dunia.
Di dalam negeri, gairah fiksi fantasi juga belum padam. Tahun ini saja, penerbit Gramedia Pustaka Utama melepas cukup banyak karya sastra khayalan ini. Beberapa novel yang menjadi andalannya adalah trilogi Bartimaeus (Jonathan Stroud) yang terbit tiga buku sekaligus. Lalu dua seri dari trilogi His Dark Materials (Philip Pullman) dan Serbuk Bintang (Neil Gaiman).
Penerbit lain yang cukup menonjol di kategori fiksi fantasi adalah Matahati. Sepanjang 2007 mereka meluncurkan andalannya berupa serial Septimus Heap-Magyk (Angie Sage), The Sea of Trolls (Nancy Farmer), Chronicles of Ancient Darkness (Michelle Paver), serta Mitsuko (Kara Dalkey).
Tingkat penjualan buku-buku fiksi fantasi tersebut juga relatif bagus. Seri Bartimaeus-Amulet Samarkand sudah cetak ketiga, total 15 ribu eksemplar. Adapun kedua seri lain dalam trilogi ini masing-masing telah dicetak 10 ribu eksemplar. Serbuk Bintang juga sudah cetak ketiga, total 13 ribu eksemplar.
Dari kelompok Matahati, The Sea of Trolls sudah dua kali naik cetak dalam waktu dua bulan, masing-masing 3.000 eksemplar. Chronicles of Ancient Darkness-Soul Eater dicetak 8.000 eksemplar dan Mitsuko 5.000 eksemplar.
Editor fiksi Gramedia Pustaka Utama, Hetih Rusli, menuturkan peluang pasar fiksi fantasi tetap besar. Setelah kemunculan Harry Potter, kata dia, telah muncul satu pasar baru penggemar buku-buku fiksi fantasi yang menjadi pasar potensial. “Pasar bertambah lebar karena pembaca berasal dari segala umur,” kata Hetih.
Begitu pun, menurut dia, penerbit tidak pernah tahu persis judul buku fiksi yang bakal laris di pasar. Contohnya, Gramedia tidak menyangka trilogi Bartimaeus bisa merengkuh sukses besar hingga bisa cetak ulang tiga kali dalam setahun. Mereka sebelumnya mengira seri His Dark Materials yang bakal meledak.
Anggota staf pemasaran Matahati, Mohammad Haikal, senada seirama dengan Hetih. Ia mengatakan, meski sejak kepergian Harry Potter fiksi fantasi mulai ditinggalkan, sebagian besar penggemar si “anak yang bertahan hidup” itu masih mencari buku penggantinya. Merekalah salah satu pasar potensial fiksi fantasi.
Keberlanjutan fiksi fantasi, dia melanjutkan, juga akan ditopang oleh promosi melalui media layar lebar. Menurut Haikal, ada beberapa film yang dari buku-buku fantasi yang akan beredar, seperti film yang diangkat dari novel Septimus Heap, Chronicles of Ancient Darkness, Children of the Lamp. “Film-film tersebut merupakan film serial seperti film Harry Potter,” ujarnya.
Sayangnya, semua karya fantasi unggulan 2007 dipenuhi karya terjemahan. Karya-karya pengarang lokal hanya ada dua yang bersinar, yaitu Cinta Andromeda karya Tria Barmawi yang telah dicetak 7.000 eksemplar dan The Bookaholic Club karangan Poppy D. Chusfani yang dicetak 8.000 eksemplar.
Sebenarnya, kata Hetih, ada beberapa karya lokal yang mendarat ke meja redaksi. Tapi, dari sedikit karya yang masuk itu, lebih sedikit lagi yang “bergigi” untuk diterbitkan. Kelemahan utamanya ada di teknik menulis dan cerita yang “tidak masuk akal”. “Padahal tugas pengarang fiksi fantasi membuat pembaca percaya kisah fantasi yang ditulisnya nyata,” tuturnya.
Haikal pun menilai buku fiksi fantasi pengarang Indonesia masih kurang diminati pasar. Persoalannya, dia melanjutkan, karena cara berkomunikasi yang kurang lancar plus masyarakat Indonesia yang apriori terhadap buku fiksi pengarang dalam negeri. Walau demikian, penerbit Matahati tetap berkomitmen menerbitkan novel dari pengarang Indonesia. “Minimal dua pengarang,” ujarnya. EFRI RITONGA
[tab: Hal 7]
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 09, 2008, 08:43:06 am
________________________________________
inget gelandangan dekil, jadi inget film Kungfu Hustle semalem.
jadi bisa kayak gini:
“hai, bocah. kamu punya bakat terpendam untuk jadi penulis terhebat sepanjang masa. aku punya buku ‘tips menulis’ yang cocok untukmu. ini adalah kumpulan tips terbaik di dunia tulis menulis. harganya cukup ceban. tertarik?”
;D
________________________________________
Post by: cha_patrelli on January 09, 2008, 04:47:04 pm
________________________________________
udah baca nightfall kan?
ntu novel masih ada lanjutannya ya?
critanya ngambang c…
pi kok gw cari2 g ada ya tu lanjutan novel?
________________________________________
Post by: BloodSin on January 11, 2008, 01:57:25 pm
________________________________________
iye.. udah lama banged kok bacanya.. nightfall masuk kategori lumayan doank bagi ane sih.. masuk kategori RPN tuh..
kayaknya emang belum keluar de lanjutannya.. emang endingnya masi ngambang sih. biasanya kalo ngambang2 gitu ujung2nya trilogi.. heheh.. daripada nungguin sekuelnya, mendingan cari fantasi lokal laennya… kan masi banyak tuh.. masi ada Zauri, Hozzo, Narend, dll.. banyak dah.
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 11, 2008, 11:01:31 pm
________________________________________
btw, barusan di toko buku gua liat buku fantasi anak negeri terbaru.
judulnya: GORAN, karya Imelda Sanjaya, terbitan Serambi.
kayaknya bergenre Fantasi berbalut Sci-Fi (atau sebaliknya ya? hehe… binun), soalnya bersetting planet lain, tapi ada juga tokoh dari buminya (hmm… jadi inget Numeric Uno).
jadi silakan, kalo ada yang ingin berburu ke toko buku…
gua sendiri mungkin belum akan beli dalam waktu dekat ini, takut nanti nasibnya bakal kayak Numeric Uno dan Cardan, yang gak selesai2 gua baca, karena belum sempet…
kasihan dua buku itu…
tampaknya gua memang bukan pembaca yang baik…
________________________________________
Post by: bjvadis on January 11, 2008, 11:14:24 pm
________________________________________
whoalah, sama kita. mungkin juga karena kepepet kerjaan, novel cardan dan numeric uno yang g beli juga belum sempat kebaca habis (begitu juga dgn peter n the starcatcher). mungkin perlu pelan2 dan sedikit kesabaran. mungkin ntar pas mau tidur g nyicil cardan.
terus terang shock g pas pertama kali lihat cover dpn cardan, agak mirip dengan naskah asli fh g yang g kirim ke gagasmedia. trus di keterangan sinopsis di belakangnya ada kata ‘musuh yang dikira sudah tewas’, agak2 mirip2 (buat yang pernah baca fireheart mungkin bisa tahu). tapi setelah dibaca cerita di dalamnya, lega g, ternyata beda.
[tab: Hal 8]
________________________________________
Post by: BloodSin on January 12, 2008, 12:50:59 am
________________________________________
@villam n bjvadis,
ga pernah ngeliat cardan di gramedia 
ada yg mau hibah buku? kyahahahah sapa tau ada yg kayak resentator ganas hozzo disini, kalo gak doyan buku suka bagi2 gratis 
wah kalo GORAN penerbitnya serambi gitu, gw optimis tuh novel bukan ecek2. Serambi biasa nerbitin novel2 serius sih.. dan gw puas ama 1 fantasi lokal terbitannya, Sang Penandai.. buku layak hunted tuh..
________________________________________
Post by: bjvadis on January 15, 2008, 08:57:46 pm
________________________________________
Yup, Sang Penandai udah g baca 2x (satu2nya yg g baca sampai lebih dari 1x)
Janos, Cardan dsb belum habis dibaca…
Skinheald 1&2 karya Ataka sudah dibaca dan dibolak-balik lagi…
Sisanya belum ada di koleksi g… (Entah mengapa, tanyakan pada rumput yang bergoyang…)
Sang Penandai masuk kategori MUST BUY karena sejauh ini hanya ini novel fantasi Indonesia yang pernah g baca yang gaya bahasanya indah banget, 100% sastra.
________________________________________
Post by: BloodSin on January 15, 2008, 11:17:46 pm
________________________________________
knapa Cardan pada ga beres baca yak? 
penerbitnya penerbit mana seh?
Villam kayanya pernah ngomong Cardan masih lebih mendingan dari Numeric Uno dehh.. 
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 16, 2008, 12:25:05 am
________________________________________
cardan terbitan gagas.
kan gua dah bilang, seperti halnya numeric uno, gua gak abis baca karena baru baca separo, trus langsung inget: ah, mendingan nerusin nulis novel gua ajah… hahaha…
gak jelek kok, cuman emang ceritanya gak bisa mengikat gua.
dan betul itu, kalo menurut gua, cardan lebih baik daripada numeric uno.
________________________________________
Post by: BloodSin on January 16, 2008, 06:25:15 am
________________________________________
@villam
novel gagas lebih ditujukan buat remaja.. itu yg gw tangkep dari nightfall..
padahal ente punya selera baca yang lebih toleran dari ane, masa ga mengikat sih?
apa yg ngebikin ‘gak mengikat’? (kalo gak mau dibilang jelek )
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 16, 2008, 08:31:29 am
________________________________________
hehe…
kalo yang dimaksud selera baca yang toleran itu adalah gua bisa menikmati berbagai jenis genre dan gaya bahasa, mungkin itu benar. dari teenlit sampe yang serius banget, gua bisa menikmati, pada dasarnya.
tapi yang mungkin gak toleran itu adalah mood gua, hahaha… terutama jika sudah melihat plot yang kurang logis hubungan sebab-akibatnya, atau terlalu banyak kebetulan. juga alur atau jalan cerita yang terlalu lambat dan terlalu lurus, tidak menjanjikan sebuah masalah ‘hidup-mati’ yang menarik di awal.
yang sebenarnya, bisa jadi gak masalah, seandainya gua menemukan sisi lain yang menarik, seperti karakter2 dan deskripsi latar yang menarik dan tidak terlalu stereotip.
begitulah, gua selalu ingin belajar sesuatu yang baru dari setiap buku yang gua baca, dan begitu tak menemukan, mood membacanya sering langsung ngacir ntah kemana.
walau sebenarnya itu salah juga. seharusnya gua tidak boleh berekspektasi terlalu tinggi. semua penulis kan ada proses belajarnya, gak bisa langsung sempurna, dan langsung coba kita bandingkan dengan karya2 mereka yang sudah mumpuni.
malah jika mungkin, kita bisa ikut membantu mereka dan bersama-sama maju menjadi penulis yang lebih baik.
hahaha… ngomong apa sih gua?
kenapa jadi serius begini?
udah ah… maju terus para penulis fantasi indonesia!!!
[tab: Hal 9]
________________________________________
Post by: kokonoka on January 17, 2008, 10:26:01 am
________________________________________
menurut kalian lebih penting mana kepuasan kita akan novel kita apa tanggepan orang2? Studi kasus gw di kemudian.. Kalo disana ada yang menurut gw biasa aja tapi dapet nilai 100an gt.. Ada yang cuma satu scene doang nilainya bagus banget 9 10 9 10..
Adegan di tulisan gw terlalu kompleks kali ya.. ato terlalu ribet.. kalo dikalahin sama yang biasa2 aja kan males banget.. bahkan ada yang tulisannya ancur tapi dapet nilai tinggi banget ampe 100an padahal orang banyak yang ngasih dia nilai 5 tapi saking banyak yang respon, nilainya jadi tinggi..
Nah giliran gw, sekali ngepos yang komen paling max 6 orang T-T yang gw ga terima kenapa gw bisa dikalahin sama orang yang dapet nilai 5 tapi banyak.. Ada juga orang yang comot dari sana-sini PERSIS tapi nilainya bagus2 banget..
Huuu tidak terima..
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: eniyorda on January 17, 2008, 10:29:56 am
________________________________________
Omong-omong soal buku yang nggak selesai. Kalo sy sih tiap buku dipikir masak-masak dulu sebelum beli, jadi selesai semua. Minat baca terlalu tinggi–wishlistku panjang banget–sedang kantong nggak mendukung. Lagian satu-satunya aktivitas yang nggak bikin diriku rasa bersalah nggak menulis, adalah membaca, wakakakk
@bloodsin: cinta andromeda (futuristik) dan bookaholic club (fantasi setting modern) kalo nggak salah tergolong metropop dan teenlit. Jadi bukan pake label fantasi, bahkan dari blurb di belakangnya mungkin nggak kentara banget ada unsur fantasi. Penghuni thread ini kan suka fantasi yang kelas berat, jadi mungkin kelewat. Terus kayaknya standar deh Gramedia itu cetakan pertama 6000-10000. Tria Barmawi juga bikin buku futuristik lain judulnya “Lost in Teleporter” (belum baca juga). Tentang ngirim naskah, sy cuma pernah ngirim ke Liliput (tolak) dan Gramedia (belum ada kabar, tapi pesimis dah). Selama ini sih lebih banyak konsen ngirim cerpen ke majalah, walau sekarang mau berubah haluan (novel).
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 17, 2008, 11:20:16 am
________________________________________
@kokonoka,
hmm… apa ya? kepuasan pribadi itu bagus. bagaimanapun itu karya kita, sudah selayaknya kalo kita bangga atas hasil kerja keras kita. tapi tentunya kalo emang kita menulis supaya bisa juga dinikmati orang laen, tentunya tanggapan mereka, apapun bentuknya, apakah itu pujian basa-basi atau komentar pedas, ya kita butuhkan juga.
satu hal penting adalah kita mesti tau dulu apa niat kita ngirim ke k.com.
- buat sharing (kita tak peduli apakah mau ada yang komentar atau gak, yang penting kita berbagi dengan orang lain),
- buat menumbuhkan motivasi (semacam banyak yang baca dan ngasih poin, semakin semangatlah kita),
- atau buat memancing komentar pembaca (kita gak butuh nilai, yang penting kita dapet masukan, semakin tajam semakin baik, atas karya kita).
nah, seperti apakah niat kita? haha…
saranku buatmu sih, gak usah pusingin nilai atau komentar yang diperoleh karya lain. konsentrasi saja ke karyamu. pertama sesuaikan niat. kemudian, kalo ingin banyak yang membaca dan memberi nilai karyamu, ajak saja mereka secara langsung untuk melihat dan menilai. kuyakin ada cukup banyak orang yang bisa mengkritik secara obyektif, tidak hanya memuji basa-basi. walau sering, kita pun senang pula dengan basa-basi itu. itu manusiawi… haha…
jadi maksudku, tak perlu berkecil hati, atau tak terima.
santai sajalah… yang penting kita tau mana yang terbaik buat kita…
________________________________________
Post by: kokonoka on January 18, 2008, 10:10:20 am
________________________________________
Hoo gw merasa sirik tanda tak mampu nih..kalo diumpamain sama manga mungkin gambar gw masih jelek kali ya.. jadi susah dimengerti..
Satu2nya yang bisa gw lakuin ya nulis lebih banyak lagi.
kayanya kalo soal tujuan gw yang terakhir.. gw perlu banyak masukan.. makanya begitu komennya dikit sebel juga..
________________________________________
Post by: clickdian on January 21, 2008, 09:48:27 am
________________________________________
# Rey
Do you have any idea how many times people laugh at me before they see Run! and Zauri at bookstore? Aq malah dikira stres sama ortu lantaran ngerem terus di kamar.
The point is, just ignore them for this time. If you want to be a writer, go for it, believe in your dream and pursue.
If you cannot be a full writer, start with ‘half-timer’ writer.
YOU ARE NOT ALONE.
We’re here and chasing the same dream as you are.
[tab: Hal 10]
________________________________________
Post by: kokonoka on January 22, 2008, 08:25:33 am
________________________________________
Villam tadi baru kepikiran nih.. Soal yang Indonesia 2045 ada sesuatu yang baru keinget..
Kalo menurutku walopun settingnya berpuluh2 tahun yang akan datang.. tapi serasa ga ada perusahaan dalam setting.. mestinya harus ada penanda ‘masa depan’ kaya teknologi yang digunakan aparat kepolisian, gadget yang dipakai, dll.. mungkin itu yang bikin agak hambar ceritanya..
terus mungkin ga sih kondisi politik indonesia jaman itu masih tetep sama.. mungkin aja saat itu indonesia dipimpin oleh para elder.. hohoho ngayal..
Ato indonesia udah dijajah lagi.. Kalo maen FF XII misalnya aja Indonesia itu Dalmasca, terus Malingsia itu Rozarria dan Australia itu Archadia.. pasti keren banget tuh..
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 22, 2008, 08:39:43 am
________________________________________
@kokonoka, cerita itu memang masih terbuka buat diacak-acak kok… lanjutannya memang masih dipikirkan…
dan usulku, gimana kalo masing-masing dari kita bikin cerita pendek dengan tema, tokoh, dan gaya masing-masing. tapi semuanya menggunakan setting Indonesia 2045, sesuai dengan fantasi masing-masing… hehehe…
No Comments »
[tab: Hal 1]Sesi II (23 Nov 2007 – 15 Des 2008)
- Tips Dan Brown: 7 hal untuk menarik perhatian editor, oleh rd_Villam
- Fakta Seputar Kehidupan Penulis, oleh Midu Khullar
- Informasi alamat penerbit
- Tentang fantasi modern
- Tentang kritik pembaca
- Tentang novel fantasi lokal
[tab: Hal 2]
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 23, 2007, 10:19:27 am
________________________________________
Friends,
Di bawah ini adalah 7 karakter novel yang menurut om Dan Brown bisa menarik perhatian editor, tidak peduli apapun genrenya: thriller, fantasy, romance atau yang lainnya.
Tapi ya mohon dimaklumi, ini kan menurut editor di amrik sono.
Editor sini pastinya punya penilaian lain (terutama yang berkaitan dengan ‘market’ di indonesia). Pastinya juga, bisa jadi penulis lain punya tips yang berbeda, yang mungkin bertentangan dengan pendapat si om.
Buat yang belon kenal si om, beliau adalah penulis Da Vinci Code, Angels & Demons, dan juga Digital Fortress. Mau kenalan lebih lanjut, hubungi beliau di www.danbrown.com
Begini nih 7 hal tersebut, yang gua tambahin juga sedikit komen gua (yang bisa salah lho… hihihi…):
1. Sole dramatic question
Naskah-naskah bagus katanya selalu punya satu buah ide utama, gak peduli mau serumit apa plotnya, yang bisa dinyatakan dalam satu buah kalimat atau pertanyaan, seperti:
Apakah Frodo mampu menunaikan tugasnya menghancurkan ‘the Ring of Power’?
Apakah Harry berhasil mengalahkan musuh besarnya, Voldemort?
Apakah Cinderella bakal nikah sama pangerannya (or live happily ever after. heheh…)?
Coba kita liat naskah kita, bisa gak kita simpulkan dalam satu buah kalimat. Kalo gak, artinya cerita kita kurang kuat.
2. Setting, setting, setting
Bikin pembaca tertarik dengan mengenalkan sebuah ‘dunia’ yang baru, yang belon mereka kenal, seperti: kehidupan di peternakan, kantor agen rahasia, tambang batubara, kantor dpr, sekolah luar biasa, penjara nusakambangan, batavia tempo doeloe, pantai ujungkulon, dll.
Boleh-boleh aja sih kita beranggapan bahwa beberapa pembaca lebih suka setting kehidupan sehari-hari di rumah, sekolah, mal, cafe. Tapi barangkali kita bisa mencari sesuatu yang baru dan gak membosankan.
Kalo ceritanya bergenre fantasi, kita bisa lebih bebas sih. tapi hati-hati juga, sekalipun fantasi, settingnya tetap harus bisa diterima pembaca. Setting Lord of the Rings atau Harry Potter bisa diterima karena pengarangnya punya bejibun cerita sejarah di belakangnya, sehingga punya jawaban logis atas setiap pertanyaan-pertanyaan yang timbul.
3. In and Out Scene building
Buat cerita yang terus mengalir cepat tanpa berhenti. Potong, bahkan kalau perlu buang adegan-adegan yang sebenarnya gak perlu dan bikin lambat cerita. Biasanya masalah ini berbentuk narasi berkepanjangan atau dialog basa-basi yang gak perlu di awal atau di akhir adegan.
Jadi emang mesti pinter-pinter nih masuk (in) ke sebuah adegan, jangan terlalu cepat tapi juga jangan terlalu lambat. Dan juga saat keluar (out) adegan, jangan terlalu lama. Kalau perlu adegannya digantung, biar pembaca penasaran.
Tapi kata beberapa penulis lain, sebaiknya hati-hati menggunakan teknik ‘scene cutting’ yang menggantung begini, soalnya bisa memutus emosi pembaca yang udah kita bangun dengan susah payah. Kata seorang teman, ini ibarat nonton film action, tiba-tiba dipotong iklan saat adegan puncak.
Hmmm, gak sedep kan…
4. Creating tension – the 3 C’s (the clock, the crucible, the contract)
Beberapa teknik buat bikin tegang pembaca:
The clock : masukin protagonis kita dalam tekanan waktu, entah itu dalam detik, jam, hari. yang membuat si tokoh ini harus bertindak segera, kalo nggak doi bakalan kehilangan segalanya. Boleh yang berbentuk eksplisit seperti bom waktu kayak film Speed, atau boleh juga yang model mesti dapet pacar dalam 30 hari.
The crucible : masukin protagonis dalam ‘mobil panas’. Si om ngasih contoh film Jaws, dimana tokohnya dimasukin ke kapal bocor, radio mati, jauh dari pantai, ditemenin ikan hiu. Pokoknya dia gak bisa lari kemana-mana, dan akhirnya harus berjuang. Jangan perlakukan protagonis kita terlalu manis, kasih masalah terus-menerus.
The contract : bikin janji buat para pembaca, lalu ditepati. Istilah terkenalnya Chekov’s Gun, maksudnya kalo di awal cerita kita nyeritain ada sebuah senapan yang tergantung di dinding, berarti itu adalah janji kita buat pembaca bahwa nanti senjata itu bakalan ditembakkan.
Kalo misalnya kita baca novelnya Agatha Christie, kita berusaha tidak melewatkan detilnya sedikitpun, kita terus berpikir apakah detil ini penting atau gak, apakah tokoh ini penting atau gak. Dan itu yang bikin tegang.
5. Specifics
Ceritanya jangan terlalu ‘polos’. Kasih detil-detil deskripsi yang bisa membuat pembaca terpesona. (duh duh duh…)
Bisa tentang flora fauna, bangunan, kota, ilmu-ilmu kedokteran, atau bahkan yang sederhana seperti cara membuat minuman atau masakan. Kuncinya ada di riset, jadi beriset-riset ria lah sebanyak-banyaknya… heheh…
Dengan melakukan riset sendiri kita bakalan terhindar dari deskripsi-deskripsi yang stereotip dan basi. Nantinya novel kita juga bisa keliatan lebih ‘kredibel’.
Huh, repot ya.
6. Information weaving
Terkait sama nomor 5, setelah mati-matian melakukan riset, jangan informasi lalu dijejalkan begitu saja ke dalam novel kita.
Kasian novel kita yang jadi keberatan info, kasian juga pembacanya. Deskripsi panjang lebar sepanjang setengah halaman udah cukup tuh buat pembaca males ngebacanya.
Jadinya sedapat mungkin masukkan informasi ke dalam dialog (tapi mesti wajar lho), atau ke dalam action, jadinya deskripsinya bisa keliatan dinamis, gak statis.
Sedapat mungkin gunakan indera si tokoh pencerita (Point of View) buat merasakan suasana atau berpikir mengenai soal-soal spesifik tersebut.
Hah, susah ya.
7. Revision
Revisi la la la…
Banyak dibenci, tapi justru paling penting. kalo menurut si om: paling mengasyikkan.
Ide ceritanya udah masuk semua? Struktur plotnya udah cukup ‘berpuncak-puncak’? Masing-masing scene/adegannya sudah dipilih dan diceritakan dengan baik, mana yang penting dipoles dan yang gak penting dibuang? Dan lain-lain.
Dibuang sayang? Ya jangan dibuang ke tong sampah, simpen aja buat cerita lainnya nanti.
Hmm, asik kan…
Hihihi… udah cukup pusing?
Jangan dong.
Kalo emang masih pusing, pikirin nanti aja ya gak papa.
Yang penting kita nulis aja dulu semua yang ada di kepala…
Kebut ajah…
Ngetik aja kok repot ya?
[tab: Hal 3]
________________________________________
Post by: mocca_chi on November 23, 2007, 01:43:00 pm
________________________________________
ngg.. soal tips neh… yah aku ada suatu artikel yang aku terima dari milis entah apa itu, aku lupa namanya. siapa tau bisa menginspirasikan sesuatu buat teman-teman.
upss… mungkin ada teman yang pernah tak kirimin, tapi nggak apa-apa kan kalu dibaca lagi.
Fakta Seputar Kehidupan Penulis
Oleh: Mridu Khullar
Diterjemahkan secara bebas oleh Syam Asinar Radjam
Jadi, anda bermimpi menjadi penulis terkenal? Anda ingin menyelesaikan sebuah artikel di selembar kertas
secepat mungkin dan melihatnya dimuat di suatu media cetak. Anda memiliki ide yang luar biasa untuk sebuah buku dan anda akan memulainya sekarang. Tapi tahukah anda bagaimana sebenarnya kehidupan riil seorang penulis? Bacalah untuk menemukan jawabannya?
1. Penolakan adalah bagian dari hidup. (Tulisan) anda bakal ditolak. Tak peduli seberapa bagus (tulisan) anda, seberapa ciamiknya teknik (menulis) anda, atau sedetil apapun tulisan anda. Suatu hari, anda bangun dari tidur dan menemukan penolakan (dari penerbit) melalui surat. Janganlah patah arang. Hal ini terjadi ada setiap penulis.
2. Penulisan ulang (rewriting) pasti terjadi. Tanpa peduli sebagus apapun kosakata yang anda pakai, sebagus apapun materi tulisan anda, pasti akan datang suatu ketika, manakala seorang editor meminta anda menulis ulang naskah anda. Sebenarnya, itu berarti sang editor menyukai karya anda, namun butuh anda memoles kembali sejumlah detail yang ia butuhkan.
3. Deadline pasti anda jumpai. Taat deadline merupakan bagian penting dalam karir (menulis) anda. Luput satu deadline, dapat dipastikan bahwa anda kehilangan kesempatan untuk menulis di penerbit tersebut. Waspadalah, jangan mengambil terlalu banyak (pesanan tulisan) yang tidak mampu anda rampungkan.
Ini akan menurunkan reputasi anda dan membuat anda tampak tidak profesional.
4. Kebuntuan Penulis (Writer’s Block) bukan mitos. Writer’s block adalah realitas. Suatu hari anda terbangun dari tidur dan mendapati bahwa diri anda sedang tak mampu lagi menulis. Santai. Itu cuma sebuah fase. Tingkatkan motivasi anda, dan anda akan kembali pulih tanpa memakan waktu lama.
5. Lakukan selingan, lakukan selingan, lakukan selingan. Jika anda bekerja di rumah, anda memiliki
kemudahan untuk melakukan kegiatan selingan. Anak anda butuh makanan, pakaian kotor perlu dicuci, anda butuh secangkir kopi. Dan ketika semua telah dirampungkan, telepon berbunyi. Itu mungkin telepon dari suami atau istri anda, yang mengingatkan anda agar tak lupa hal-hal yang perlu dikerjakan.
6. Tak dapat dilakukan tanpa “thesaurus” atau kamus. Tak peduli sebetapa bagus daftar kosakata yang anda kuasai atau betapa kocaknya gaya penulisan anda. Faktanya dalam kehidupan menulis anda membutuhkan “thesaurus”. Bakal ada saatnya anda terlalu sering menggunakan kata yang sama, atau sulit menemukan ungkapan yang lebih baik. Saat itulah anda memerlukan thesaurus.
7. Anda tak mungkin dapat menyenangkan semua orang. Setiap orang berbeda. Lusinan orang yang akan
mengapresiasi pekerjaan anda. Ada juga orang yang akan merobek karya anda dengan kritik pedas mereka.
Belajarlah mengambil hal-hal baik dari hal-hal buruk.
8. Perlu kesabaran yang luar biasa. Banyak editor yang aneh. Para editor membutuhkan waktu mereka, dan
kita butuh kesabaran kita. Jangan meminta jawaban sehari setelah kita mengirimkan pengajuan. Kesempatan
membutuhkan waktu.
9. Uang tidak datang dengan mudah. Dalam dunia penulisan, uang tak datang semudah di dunia kerja yang
lain. Anda mungkin menulis lusinan artikel setiap minggu, dan berharap banyak akan sejumlah uang akan
datang darinya. Atau, anda mungkin berharap buku andaakan melampaui target yang anda perkirakan. Anda tidak pernah tahu, ini cuma dalam angan-angan, namun tidaksetiap orang bisa menjadi Stephen King. Dan anda berpeluang untuk belajar menjalaninya bersama fakta bahwa tak akan ada film (movie) dibuat berdasarkan novel pertama anda.
10. Jalan Penulis itu panjang dan keras. Jalannya bergelombang, dan bakal ada saatnya dimana anda merasa
ingin menyerah. Tapi tujuan akhir merupakan sebuah kepuasan. Jangan biarkan jalan itu menghalangi anda
dari mimpi yang anda bangun. Dan, jangan pernah menyerah.
maaf kalu ada yang tersinggung karena aku asal comot artikel orang. mahap ya Om/Mas
[tab: Hal 4]
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 23, 2007, 03:35:54 pm
________________________________________
friends,
di bawah ini adalah jenis informasi yang lain: alamat penerbit.
ini daftar yang gua punya. kalo ada yang tau alamat lainnya, tambahin ya, terutama yang cukup ‘prospektif’ buat dikirimin naskah novel bergenre fantasi (atau yang umum juga boleh deh).
haha… genre yang umum aja susah, apalagi fantasi…
tapi maju terus pantang mundur wow nekat aja dah… ;D
——————–
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
up. Redaksi Fiksi
Gedung Gramedia lantai 3
Jl. Palmerah Barat 33-37
Jakarta 10270
Penerbit Matahati
up. Redaksi Novel
Plaza Karinda B1.17
Jln. Karang Tengah
Jakarta Selatan
Penerbit GagasMedia
up. Redaksi Novel (FantasyLit)
Jl. H. Montong No. 57
Ciganjur – Jagakarsa
Jakarta Selatan 12630
Penerbit Serambi
up. Redaksi Novel
Jl. Kemang Timur Raya no. 16
Jakarta 12730
Penerbit Grasindo
Up. Redaksi Fiksi
Jl. Palmerah Selatan 22-28
Jakarta 10270
Penerbit AKOER
up. Redaksi Novel
Jl. Kemang Raya No. 1
Jakarta 12730
Penerbit Hikmah (Mizan)
up. Redaksi Novel
Gedung MP Book Point
Jl. Puri Mutiara Raya No. 72
Jakarta 12410
Penerbit Dastan Books
up. Redaksi Novel
Jl. Batu Ampar III No. 14
Condet, Jakarta Timur 13520
Penerbit Ufuk Press
up. Redaksi Novel
Jl. Warga No. 23 A Pejaten Barat
Ps. Minggu – Jakarta Selatan 12510
Pustaka Alvabet
up. Redaksi Novel
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl.Ir.H.Juanda No 5A
Ciputat Jakarta Selatan 15411
Pustaka Primatama
up. Redaksi Novel
Jl. Beruang Raya 28A
Kampung Peladen Pondok Bintaro
Ciputat 15225
[tab: Hal 5]
________________________________________
Post by: rd_Villam on December 01, 2007, 03:28:57 pm
________________________________________
barusan mampir ke toko buku, gua nemuin tuh novel Reinhart yang rey ceritain. Iya betul fantasi dengan gaya bahasa remaja.
ini penerbitnya (buat nambahin daftar sebelumnya):
Pustaka Populer Obor
Jl. Plaju No. 10
Jakarta 10230
www.obor.co.id
hmm, kayaknya daftar sebelumnya mesti ditambahin websitenya juga ya…
________________________________________
Post by: eniyorda on December 03, 2007, 11:06:50 am
________________________________________
Btw, di sini ada yang suka baca/nulis fantasi modern (?) ngga? Tipe-tipenya macam Sarah Singleton, Neil Gaiman. Soalnya sepintas kayaknya orang-orang pada senang yang epik.
________________________________________
Post by: rd_Villam on December 03, 2007, 11:52:44 am
________________________________________
pasti banyak yang suka. apalagi kalo udah yang ngetop kayak neil gaiman. lumayan menginspirasi.
dari cover stardust-nya aja aku bisa dapet inspirasi cerita tuh. walaupun belon baca novelnya. ;D
________________________________________
Post by: clickdian on December 03, 2007, 12:32:34 pm
________________________________________
Epik? nggak juga.. kita mah macem2 fantasi dilalap dah. Stardust bagus.
Btw mksdnya fantasi modern gimana? yg futuristik? hege udah punya satu tuh, Hozzo.. aq lagi revisi satu yg kyk gini.. coba, yg lain gimana.. ada komen?
________________________________________
Post by: eniyorda on December 03, 2007, 02:26:28 pm
________________________________________
@villam, clickdian: O iya hozzo bisa juga, bagian awalnya, cuma di belakang2 sudah jd dunia bikinan semua. Yg dimaksud fantasi modern itu yang dunianya masih kayak sehari2, tp ada unsur ajaib/fantasinya. Ngga tau juga istilah yg benar apa. Contoh yang paling terkenal harry potter. Kalo stardust mungkin nggak ya, tapi karya neil gaiman yang lain termasuk.
________________________________________
Post by: hege on December 03, 2007, 05:20:53 pm
________________________________________
hello mb Fatma, mb ini yg bikin resensi pertama utk hozzo, hehehe…. mari2 sini mampir.
[tab: Hal 6]
________________________________________
Post by: clickdian on December 04, 2007, 09:51:38 am
________________________________________
Hmm.. klo gitu kali kyk Magical Seira-nya Sitta Karina ya? Blom pernah baca sih, tapi denger2 ceritanya dunia nyata nyampur fantasi.
________________________________________
Post by: eniyorda on December 04, 2007, 05:28:14 pm
________________________________________
@dian: ya betul, seperti magical seira. Udah baca yg pertama, dan masih mikir2 beli buku ke2. Gw pernah komen di goodreads dgn tanggapan yg agak terlalu negatif (pdhl ga maksud begitu). Dan gw rasa kejeduk, karna dlm hitungan jam mbak sitta sendiri yg menanggapi, dgn besar hati pula. *serasa bersalah* Gw gak ngira beliau ada di sana. Inti komplainku sih dunia Madriva-nya kurang berasa, terlalu “tipis”.
@hege, dian + semua yg dah bikin buku: adakah kalian pernah dpt surat pembaca yg isinya kritik semua?
________________________________________
Post by: clickdian on December 05, 2007, 08:43:51 am
________________________________________
Surat pembaca sih belum ya. Rata2 pada suka. Malah temenku yg ngomong langsung, itu pun nggak kritik semua. Dia bilang ceritanya bagus, dia sebenernya suka, cuman keberatan sama endingnya. Sebegitu pentingnyakah hubungan antara Dios dan Regia, sampe aq bikin satu bab khusus tentang mereka?
Temenku ini ga tau klo sebenernya Zauri itu love story ;D
________________________________________
Post by: hege on December 05, 2007, 12:18:10 pm
________________________________________
btw, mb fatma, hege pernah mempir ke forum tertentu dan nemu satu review hozzo yg isinya kritik pedas panjang. Meski rada sotoy gitu review-nya, tapi sangat kuhargai. Revisi naskahnya jadi lancar.
________________________________________
Post by: clickdian on December 05, 2007, 12:20:15 pm
________________________________________
Sebetulnya kritik itu bagus buat kita. Semakin banyak yang muji aq malah curiga.. masa sih se-perfect itu, kyknya ga mungkin deh hehehe..
[tab: Hal 7]
________________________________________
Post by: eniyorda on December 05, 2007, 06:00:29 pm
________________________________________
Pengen tau juga kritik pedas hozzo ;p Hozzo edisi baru udah naik cetak belum? mau nambahin kritik soalnya, tp kalo udah final, ga jd deh.
mb dian, td nyari bukumu. blm ketemu, jadi penasaran…
Buku fantasy-related yg dibeli 2 mg ke blkg:
- The Bookaholic Club, Poppy D C, GPU, fantasy teenlit
- Ratu Callista, Vinca R., Gagas, fantasy teenlit
- Catatan Harian Alien, Vinda S, Liliput, fantasy anak
- Janda dari Jirah, Cok Sawitri, GPU, historical fantasy/folklore retelling
Baru baca 2 sih. Ada yg diminati?
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: eniyorda on December 11, 2007, 11:50:56 am
________________________________________
hege, saya mau nunjukkin kalo Hozzo ngga separah as he makes out. Tunggu aja, soalnya sekarang pikiranku lagi kusut.
to semua,
Baru bikin list ebooks beserta sedikit komentarku. Format file-nya macam-macam, ada doc, pdf, dan lit. Mayoritas judul di sini adalah yang populer, klasik, atau award-winning. Jadi bukan yang langka-langka, atau yang hardcore. Disclaimer: Ada kemungkinan menderita sakit mata
Douglas Adams – Hitchhiker’s Guide to the Universe Series (Book 1 – 5)
Sebaiknya nonton filmnya dulu. Ini salah satu seri buku yang kusarankan nonton film sebelum baca. Filmnya berasal dari buku 1, ditambah sedikit unsur dari buku-buku lain. Bukunya British banget, dan biasanya banyak yang nggak suka humornya. Tapi aku suka hehehe.
Clive Barker – Abarat Book 1
Sudah diterjemahkan oleh Gramedia. Belum baca.
Orson Scott Card – Ender Series (specific titles: Ender’s Game/Speaker for the Dead/Xenocide/Ender’s Shadow)
Recommended!
Eoin Colfer – Artemis Fowl (Book 4-5)
Eoin Colfer – The Supernaturalist
Kalo suka Artemis Fowl, recommended.
Cornelia Funke – Inkheart
Fantasy anak. Pengarangnya yang nulis Thief Lord/Pangeran Pencuri.
William Gibson – Neuromancer
Belum baca
William Goldman – The Princess Bride
Kemasan unik–ngerti deh, kalo udah baca. Gaya ceritanya mirip cerita heroik di dongeng-dongeng.
Ursula K Le Guin – Earthsea Cycle (Book 2 – 6)
Recommended book 1-3 ajah. Le Guin hebat dalam membangun suasana, dan saya suka gaya bahasanya. Plot dan idenya biasa aja sih.
Frank Herbert – Dune (Book 1)
Belum baca.
Diana Wynne Jones – Howl’s Moving Castle
Yang dijadikan film oleh Hayao Miyazaki. Nggak sama persis. Both film and book GREAT in their own right.
Robert Jordan – Wheel of Time Series (Book 1 – 11)
Buat yang suka epic macam LOTR. Lagi stuck di book 2.
Mercedes Lackey – Heralds of Valdemar/Last Herald Mage (Book 1 – 3)
Belum baca
George RR Martin – Song of Ice and Fire (Book 1 – 3)
Epic juga, baru baca yang no 1. Nggak ada good guys-nya di sini. Semua tokohnya mengerikan dah.
Larry Niven – Ringworld (Book 1 – 3)
Belum baca
Terry Pratchett – Discworld Series (first 27 books + Wee Free Men + Hat Full of Sky)
British banget. Tapi aku suka juga. Nggak mesti baca urut, karena tiap ceritanya berdiri sendiri. Baru 10 bukuan yang kubaca.
Philip Pullman – His Dark Materials Trilogy (Book 1 – 3)
Ada terjemahannya.
Jonathan Stroud – Bartimaeus Trilogy (Book 1 – 3)
Ada terjemahannya juga. I love you, Genie!
Asterix Book 1 – 24 (English version) – ini humourous fantasy ataw historical fantasy kali, hehehe
________________________________________
Post by: rd_Villam on December 11, 2007, 12:22:33 pm
________________________________________
eniyorda,
dari daftarmu itu, aku punya novel aslinya Robert Jordan, Wheel of Time yang Crown of Swords.
pendapatku, si jordan ini mungkin lebih gila daripada tolkien. dia bikin dunianya bener-bener detil, dengan latar sejarah yang panjang juga. bukunya tebel bener lagi, bacanya mesti sepenuh hati tuh… ;D
________________________________________
Post by: eniyorda on December 11, 2007, 12:54:28 pm
________________________________________
villam,
iya tuh, harus kuat konsentrasi. Mestinya jangan baca lewat komputer kali. ya, saya cuma nyebutin LOTR karena wheel of time ini epik, sehingga kontras dengan buku-buku lain yang ada di daftar tadi.
Betul juga, WoT sangat detil dan kompleks dari segi pembangunan dunia. banyak fantasi epik sering dituduh LOTR wannabe. Berdasarkan review, WoT adalah yang menonjol dibanding seri-seri lain itu. Buktinya, plot dan dunianya solid (dan laku) sampai jadi buku 11 biji.
[tab: Hal 8]
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: eniyorda on December 12, 2007, 04:08:52 pm
________________________________________
Oh ya ini yang dijanjikan:
Card, Orson Scott – Enderverse.rar
hxxp://www.mediafire.com/?6gmywyjswnf
Colfer, Eoin – The Supernaturalist.zip
hxxp://www.mediafire.com/?6t0ml6fmwxd
Jones, Diana Wynne – Howl’s Moving Castle.rar
hxxp://www.mediafire.com/?dnqdll9gczz
Le Guin, Ursula K – Earthsea Cycle.rar
hxxp://www.mediafire.com/?9hydvywq4ls
Pullman, Philip – His Dark Materials Trilogy.rar
hxxp://www.mediafire.com/?71nibmz1zmg
Stroud, Jonathan – Bartimaeus Trilogy.rar
hxxp://www.mediafire.com/?2mmmm6kxtzm
file lit buka dengan Microsoft Reader di sini: http://www.microsoft.com/Reader/
________________________________________
Post by: BloodSin on December 14, 2007, 10:25:52 am
________________________________________
@enyorda,
just for my curiousity,
novel fantasi lokal apa aja yg pernah ente baca?
ane: hozzo, narend, janos, ledgard, pinissi, sang penandai, zauri, nightfall.. huaaaa..baru dikid. :-[
penasaran nih ma coruption, skinheald, phoenix, dll..
________________________________________
Post by: eniyorda on December 14, 2007, 11:16:54 am
________________________________________
@bloodsin, saya juga baru dikit kok. yang pernah: semua buku lokal liliput selain cincin odeleodeo (gak nemu), ledgard, skinheald (buku no 1 doang), phoenix, sama yang terakhir ratu callista. pengen baca yang lain, cuma kadang pas lihat diriku nggak ngeh itu buku fantasi, atau kadang nggak ketemu. biasanya juga gw mikiiir laaamaaa dulu kalo lihat harganya >50ribu.
________________________________________
Post by: eniyorda on December 15, 2007, 09:07:56 am
________________________________________
@bloodsin:
dari buku lokal yang dah dibaca dan menurutku lumayan cuma Hozzo dan Ledgard. ‘Lumayan’ dalam definisiku adalah mempunyai daya tarik untuk kalangan pembaca luas, nggak khusus ‘anak-anak’ atau terlalu ‘teenlit’. Selain itu dari segi teknik penulisan dan penceritaan nggak parah-parah amat, atau setidaknya ada kelebihan yang bisa dinikmati. Aku nggak menuntut tingkat orisinalitas yang terlalu tinggi, atau ide baru yang heboh. Terus ini juga nggak termasuk dongeng yang dinovelkan, karena ada satu yang bagus menurutku, yaitu “Panah Patah Sangkuriang” oleh mbak femmy syahrani.
Kalau menurutmu yang mana? Terus dari buku yang udah kamu baca tapi aku belum–Janos, Sang Penandai, Nightfall, Zauri–adakah yang sama atau lebih bagus dari kedua buku itu? Kalau dilihat dari judulnya, nampaknya seru-seru tuh.
2 Comments »
[tab: Hal 1]Sesi I (8 Nov 2007 – 20 Nov 2007)
- Tentang forum ini
- Zauri masuk nominasi Adikarya IKAPI dan Khatulistiwa Literary Award
- Perbedaan Fans Fiction dan Fantasy Fiction
- Character-Mix Technique: let the characters lead the story, oleh rd_Villam
- Tentang Cardan, terbitan Gagasmedia
- Zauri menjadi juara II Adikarya IKAPI 2007
- Writer’s Obstacle: The Beast Inside My Head, oleh rd_Villam
- Soal perbedaan novel dan film
[tab:Hal 2]
________________________________________
Post by: BloodSin on November 08, 2007, 07:10:09 pm
________________________________________
hmmm.. admin.. jangan dipindah ke sub-topik fanfic (fan-fiction–yang berarti istilah yg ditujukan untuk fans fiksi-fiksi tertentu) lagi yah.. soalnya thread ini sudah berada pada tempat yg benar. 
Salam hangat
Rey L,
penguasa thread fantasi Indosiar yang baru naik tahta.. :-* :-* :-*
________________________________________
Post by: clickdian! on November 09, 2007, 08:30:17 am
________________________________________
Yo Guys! Glad to be back!
Mumpung udah bisa masuk, aq mo minta doa nih..
Zauri masuk nominasi Adikarya IKAPI dan Khatulistiwa Literary Award..
Wish me luck, Guys!
Link:
http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com/2007/11/05/pengumuman-hasil-seleksi-tahap-1-longlist-khatulistiwa-literary-award-2007/
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 12, 2007, 02:05:39 pm
________________________________________
fanfic berasal dari kata fans fiction, yaitu cerita yang dibuat oleh para penggemar fanatik kisah-kisah yang sudah ada (entah macam harry potter, cerita anime, ataw drama2 asia), dengan alternatif cerita yang dibuat berbeda walaupun menggunakan tokoh2 yang sama.
fantasy fiction, seperti dalam thread ini, adalah cerita fiksi bergenre fantasi (dunia imajinatif dimana hal2 yang tidak mungkin jadi biasa, walau ada banyak sih alirannya) yang tokoh2 dan latarnya diciptakan oleh para penulis (dalam hal ini ya kita-kita ini) sendiri… tidak berdasarkan tokoh-tokoh dalam cerita lain.
kalo soal karya asli atau enggak, terus terang sebenarnya rada bingung juga sih gua… cerita2 fanfic tersebut kadang2 sangat berbeda juga dengan cerita aslinya, sehingga layak juga mestinya disebut karya ‘asli’ si pengarang baru tersebut (cukup asli deh…).
oleh karenanya, tentang asli atau tidak asli mungkin perlu lebih dicermati lagi maksudnya. (halah… basa belibet… bikin pusing…)
ini adalah thread tentang para penulis yang nekat menceburkan diri masuk ke dunia fantasi, mungkin itu udah cukup.
kalo ada yang tambah pusing, ya begitulah…
ini tempatnya para pemimpi… heheheh…
[tab: Hal 3]
________________________________________
Post by: mocca_chi on November 13, 2007, 07:42:53 am
________________________________________
wah jadi kepengen juga buat fiksi fantasi. tapi apa ya temanya…
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 13, 2007, 10:00:06 am
________________________________________
usul nih, daripada pusing nyari tema buat cerita, usulku coba bikin empat karakter2 yang aneh dan unik terlebih dulu. nanti tema cerita bakal muncul dengan sendirinya…
let the characters lead the story…
ini… barangkali tertarik menggunakan teknik character-mix…
(kukopi corat-coret gak jelas dari blogku ini)
—————————–
Yakin mau bikin tema cerita dulu baru bikin karakternya?
A : Mau bikin cerita baru nih!
B : Boleh. Mau mulai dari mana: bikin tema dulu atau karakter dulu?
A : Ya dari tema dulu dong! Gimana sih? Biasanya kan begitu.
B : Yakin? Ya udah, mau bikin tema apa?
A : Biasa, fantasi. Perang melawan penyihir jahat. Jagoannya cowok, punya emak di desa tukang bikin kue, dan punya temen cewek pencopet cilik.
B : Jadi inget sama…. Ya udah, jadi ada empat karakter nih: Panglima, Penyihir, Tukang Kue, sama Pencopet. Sok atuh… dibikin gambaran karakternya.
A : Lihat nih…
Panglima Cowok 20 tahun Bijaksana
Penyihir Cowok 50 tahun Licik
Tukang kue Cewek 40 tahun Pemarah
Pencopet Cewek 10 tahun Periang
B : Terlalu biasa nih! Boleh gua utak-atik, gak?
A: Mmm, boleh deh.
B Begini nih…
Panglima Cewek 20 tahun Bijaksana
Penyihir Cewek 50 tahun Licik
Tukang kue Cowok 40 tahun Pemarah
Pencopet Cowok 10 tahun Periang
A : He he, boleh juga sih. Jadi sekarang tokoh utamanya cewek nih, trus lawan cewek juga? Terus si tukang kue jadi bokapnya? Pencopet cowok kecil, itu sih udah biasa juga.
B : Eh, emang gua bilang tokoh utamanya si panglima cewek ini? Bisa aja kan si tukang roti yang jadi tokoh utama, atau si pencopet kecil itu.
A : Si tukang roti? Ya bisa juga.
B : Atau mau diutak-atik lagi?
A : Ntar dulu! Gua suka juga tuh sama tokoh panglima cewek. Yang itu jangan diubah.
B : Boleh. Jadi tinggal tiga terakhir nih…
Panglima Cewek 20 tahun Bijaksana
Penyihir Cewek 10 tahun Licik
Tukang kue Cowok 50 tahun Pemarah
Pencopet Cowok 40 tahun Periang
A : Heheh, jadi penjahatnya sekarang anak kecil 10 tahun nih? Menarik juga. Tapi tukang kue sama pencopet tua, apa menariknya?
B : Ya si tukang kue jadi babe yang pemarah. Trus si pencopet cowok itu, dijadiin pacarnya si panglima cewek aja…
A : Ketuaan ah…
B : Soal umur mah gampang atuh… Tinggal dikurangin. Mau jadi umur berapa? 25 tahun? Boleh. Tapi udah puas belon nih?
A : Sifatnya belon diutak-atik kan?
B : Yoi. Nih coba liat…
Panglima Cewek 20 tahun Periang
Penyihir Cewek 10 tahun Pemarah
Tukang kue Cowok 50 tahun Licik
Pencopet Cowok 25 tahun Bijaksana
A : Wah! Tambah aneh nih! Penjahatnya tukang kue?
B : Iya! Si bokap yang tukang kue ini ternyata jahat, dan berhasil merebut kekuasaan. Si panglima cewek terpaksa kabur dari negerinya, dibantu kabur sama si pencopet bijaksana.
A : Terus si penyihir kecil jadi apaan?
B : Boleh juga kalo mau dijadiin partner in crime-nya si tukang roti.
A : Heheh. Boleh juga.
B : Atau bisa juga begini…
Panglima Cewek 20 tahun Pemarah
Penyihir Cewek 10 tahun Bijaksana
Tukang kue Cowok 50 tahun Licik
Pencopet Cowok 25 tahun Periang
A : Artinya?
B : Si panglima cewek sering ngamuk. Si pencopet cowok jahil. Nah sih penyihir cilik nih jadi orang bijaksana, mesti dicari dulu di tengah hutan, karena ternyata dia yang menyimpan kunci untuk melawan senjata rahasia milik si tukang kue.
A : Wah bagus nih ! Yang ini aja deh.
B : Jangan puas dulu. Coba elu utak-atik sendiri deh. Gua cuma pengen kasih tau nih, ada 4 kali 4 alias 16 kemungkinan cerita di sini. Bisa nambah lagi kalo elu masukin juga variabel-variabel lainnya.
A : Eh, iya yah… kok temanya berubah dari tema awal gua?
B : Hehe, emang itu tujuan gua. Daripada bikin tema dulu baru karakter, yang hasilnya terlalu stereotip, mendingan elu bikin dulu karakternya, baru masuk ke tema.
A : Ah, belagu lu. Tapi boleh juga sih cara ini.
catetan :
Hitungan si B salah tuh. Mestinya ada 9216 kemungkinan cerita.
Angka dari mana? Nanti aja deh dibahas di kelas matematika. heheh…
———————-
[tab: Hal 4]
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 14, 2007, 09:48:24 am
________________________________________
eh…
ada fantasi lokal baru terbit agustus kemaren ya?
judulnya Cardan, terbitan gagas (haha… ternyata mereka nerbitin fantasi juga…)
pengen baca, tapi belon nemu di toko buku…
ada yang udah baca?
________________________________________
Post by: BloodSin on November 14, 2007, 03:31:00 pm
________________________________________
hmmm.. ente ktinggalan info ne.. ;D
gagas udah nerbitin 2 fantasi sebelomnya: nightfall (yg ini gw udah baca) ma satu lg.. lupa judulnya pokonya nyinggung2 time machine gitu deh.. hmm.. yg unik, kayanya gagas udah ngebagi divisi genre untuk novel2na: ada fantasy-lit, teenlit, dan lain sebagainya.. 
kalo yg novel cardan itu, malah kayanya gw yg ketinggalan info.. baru denger ne.. ente denger dr mana?
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 14, 2007, 04:59:35 pm
________________________________________
rey, gua tau cardan pas buka site tokobuku online.
maksud gua tuh… gua pikir gagas cuma tertarik sama fantasi dengan tema yang ringan dan tipis,
sementara cardan ini kayaknya bertipe epik dengan tebal sampe 330 halaman.
jadi… apa kita harus mengarahkan senjata ke sana? hehehe…
________________________________________
Post by: clickdian on November 15, 2007, 08:36:24 am
________________________________________
Guys,
Alhamdulillah Zauri dapet juara 2 Adikarya IKAPI, makasih untuk doa dan dukungannya yaaa.. 
To all:
Fiksi fantasi lokal sudah diterima di negeri sendiri nih, jadi jangan ragu berkarya ya!
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 15, 2007, 08:52:17 am
________________________________________
hoho…
selamat, dian!
wah… hebat bener ya…
ayo deh, mari kita tetap bersemangat menulis fantasi!
ah… gua bermimpi suatu hari nanti fantasi-fantasi buatan anak negerilah yang merajai toko-toko buku,
dan ada penghargaan semacam hugo award setiap tahunnya (dian award mungkin, heheheh…, khusus untuk buku-buku fantasi tersebut (mulai dari novel, novelet, hingga short stories).
jalan yang panjang, tapi bukannya gak mungkin…
________________________________________
Post by: clickdian on November 15, 2007, 08:58:12 am
________________________________________
Tq, Villam 
Aq juga surprise banget, satu2nya fiksi fantasi yg masuk nominasi. Sempet jiper juga, ga pede soalnya yg lain dari genre yg lebih banyak penggemarnya. Tapi kyknya juri2 juga suka berimajinasi, jadinya zauri kepilih deh.
Tinggal Khatulistiwa nih T_T
Ini mah kayaknya ga mungkin abisss… saingannya super ketat.
Tapi yah, harapan walopun cuma 1% tetep harapan kan? 
Minta doanya ya, guys..
________________________________________
Post by: BloodSin on November 15, 2007, 10:01:40 am
________________________________________
@ sis,
whwhwwh.. juara 2.. keren banged.. congrats ya.. ;D jadi makan2 duank.. ;D ;D
@villam,
gagas bukannya udah ngasi limit halaman naskah.. pokonya setau gw limit halamannya tipis banged deh.. cuman 125/150 halaman spasi 1.5.. ato berapalah.. kok tuh novel lumayan tebel bs terbit ya? ??? ???
@aree,
tertarik nulis fantasy?
[tab: Hal 5]
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 16, 2007, 10:53:37 am
________________________________________
mmm…
buat iphrite alias kokonoka yang meminta gua membagi tips lagi.
hahaha… kayaknya yang di bawah ini mungkin bukan tips, cuma corat-coret gak jelas dari penulis yang baru bisa bermimpi…
kukopi juga dari blogku.
yah, walau gak jelas, semoga bermanfaat dan bisa membangkitkan semangat…
ciao.
—————————-
Writer’s Obstacle : The Beast Inside My Head
Ouch! You killed my brother!
It’s time for revenge,
but what is the main obstacle to become a real writer?
Dari sekian banyak tahapan yang dilalui penulis, mana yang paling menantang?
A. Aktivitas menulis
(proses ngebikin novel impian itu maksudnya)
A1. Persiapan (atau perencanaan)
Macem-macemlah, mulai dari ngimpi, corat-coret tokoh, plot, dunia impian, action outline (sebelon jadi scene outline), dll.
Sampe minimal kita tau 70% dari keseluruhan cerita yang kita buat. Pokoknya jangan sampe blank, kita gak tau cerita yang kita tulis ujungnya ada di mana.
Oy! Jangan lupa risetnya. Mau bikin cerita detektif/pembunuhan coba dateng ke kantor polisi ataw ke rumah sakit (/jiwa?). Mau bikin cerita luar angkasa, coba ke bulan. Mau tau kayak apa Eiffel di bulan Februari, ya coba dateng ke Paris, biar gak bingung ini musim dingin apa musim panas.
Gak punya duit, surfing internet ajah di wikipedia.
Oke? Udah siap semua pedang dan armor kita?
Siap, boss!
It’s time to go to the dungeon and kill the beast!
A2. Menulis
Kerjaan utama yang paling berat nih, ngeluarin the beast dari dalem kepala.
Gaya dan kecepatan para penulis beda-beda. Ada yang bisa ngebut ngetik selesai dalam seminggu (mereka-mereka yang ngetop sebagai prolific authors nih), ada juga yang bisa berbulan-bulan.
Barangkali ada yang berminat kayak Tolkien, bikin LOTR dalam 13 tahun?
Biar gak keliatan menakutkan, maju aja sedikit-sedikit. Ya sebulan satu bab deh…
Kan kita mesti sekolah, ke kantor, jalan-jalan ke mal, chatting, surfing, ngurus anak, dll dsb. Ya gitu deeh…
A3. Rehat
Udah selesai semua 30 babnya? Weh, jadi hampir tiga tahun nih nulisnya?
Luar biasa, dan selamat! Iya. Pokoknya selamat!
Kita udah lolos tahap kualifikasi yang paling berat buat jadi penulis!
Konon katanya, dari 100 orang yang bermimpi jadi penulis, cuma 50 orang yang berani mencoba menulis. Dari 50, cuma 25 yang menulis sampe selesai novelnya. Dari 25, cuma 12 yang berani ngirim ke penerbit. Dari 12, cuma 6 yang mau memperbaiki setelah ditolak. Dari 6, cuma 3 yang berani mengirim ulang. Dari 3, cuma 1 yang akhirnya berhasil diterbitin.
Kalo gak salah sih.
Eh, tapi ngapain dibahas sekarang? Udah deeh…
Saran para penulis top: print draft pertama tersebut, masukin ke kulkas selama sebulan, jangan pernah disentuh-sentuh. Biar semuanya hilang dari otak kita buat sementara.
Simpan dulu pedang kita. Waktunya pergi ke tavern.
Sementara nganggur, kita bisa mulai ngelayap kemana-mana (lihat bagian B. Aktivitas lain-lain), atau coba bikin konsep buat novel berikutnya.
A4. Kritik sendiri
Asumsinya udah belajar banyak dong dari proses belajar kita.
Sekarang ambil lagi tuh naskah dari dalem kulkas. Senjata yang mesti disiapkan: pulpen/pinsil dan notes (ya pedang yang itu maksudnya).
Hiaat! Dengan ganasnya kita bantai tulisan kita sendiri dari awal.
Kill the goblin! Kill the goblin!
Hoaahh! Apaan nih?
Kenapa kok plotnya jadi keliatan gak masuk akal sekarang?
Lho, ini tokoh ngapain muncul di cerita ini? Gak ada gunanya!
Ini apaan nih narasi panjang lebar gak jelas?
Waduh, kok lambat banget sih ceritanya? Bikin ngantuk!
Catet dulu di notes, jangan buang sekarang, jalan terus dulu.
Yang ini, deskripsinya kok ngambang? Ya catet juga, nanti ditambahin.
Nyantai, man… nyantai…
A5. Kritik dari orang lain
Puas dengan kritikan sendiri?
Jangan.
Beranikan diri, kasih tuh draft naskah ke orang laen.
Semakin expert orang tsb tentu semakin bagus. Tapi kalo gak ada, ya papi, mami, kakak, adek, pacar, temen juga bisa. Minimal mereka bisa ngasih tau di halaman berapa mereka tertidur karena bosennya.
Pembaca/kritikus yang expert bisa ngasih tau poin-poin lemah mana ajah yang sebelumnya gak kita pikirkan.
Tentang ini ntar kita bahas khusus deh.
A6. Rewrite (tulis ulang)
Udah dapet semua kritiknya?
Bagus? Jelek? Perlu diterima? Atau ditolak ajah?
Ya terserah kita.
Yang jelas kalo kita berani rewrite alias tulis ulang (bukan sekedar potong kiri potong kanan, tambah atas tambah bawah), berarti kita udah selangkah lebih maju.
Gak usah takut, rewrite dan edit selalu membuat tulisan kita menjadi lebih bagus, gak pernah jadi lebih jelek.
A7. Ulang lagi dari A3
Hah? Muter lagi?
Hehe, terserah sih. Ini saran ajah.
Ok deee…
Balik lagi ke gua, bang! Ada harta karun yang belon sempet diambil di sana!
A8. Ulang lagi dari A3
Maksud loh?!
Ya itu maksud saya. Pokoknya periksa ulang dan periksa terus!
Hmm, editing is a never ending process. Setiap kita tengok lagi tuh naskah, pasti selalu ada aja yang cacat.
Gak percaya, coba liat lagi sekarang. Pasti masih ada yang salah. Berani taruhan? (hus, haram!)
A9. Kirim ke penerbit dan tunggu
Udah deh, capek nih ngedit. Udah gak sabar nih…
Sip! Selamat karena kita udah berani nekat naik ke Arena.
Face the minotaur and its great axe!
Itu lebih bagus daripada gak pernah berani mencoba.
Tentu saja ada syaratnya: naskah yang kita kirim sudah kita edit sedemikian rupa, sehingga kita yakin itu adalah yang terbaik bisa kita buat, setidaknya sampai saat ini.
Jangan lupa perhatikan tatacara pengiriman naskah. Editor dan penerbit banyak maunya lho…
Setelah itu, tunggu dengan sabar ya.
Bisa seminggu, tiga bulan, atau setaon. Seumur hidup?
Sementara nunggu, coba deh ngelayap lagi, atau bikin novel lainnya.
A10. Ditolak
Hore! Ditolak buat yang pertama kali!
Toast! With the minotaur.
Sambutlah dengan senyum, simpan baik-baik surat penolakannya.
Itu bakalan jadi kenangan indah buat kita nanti, suatu saat.
Inilah saatnya naik level.
Ketemu naga, bukan lagi minotaur, apalagi goblin kroco.
A11. Ditolak lagi dan ditolak lagi
Ouch! You killed my brother!
Hooo. Keep smiling, man…
Baca baik-baik surat-surat penolakan tersebut, dan kita akan menemukan apa yang membuat naskah kita ditolak.
Kita akan belajar menerima kenyataan pahit ini: tidak penting sebagus apa naskah kita, kalau tidak sesuai dengan selera atau standar editor dan penerbit, ya tetep aja ditolak.
Tapi minimal ada yang bisa kita pelajarin.
Sesuatu yang bisa menjadi senjata pamungkas kita.
A12. Moment of Truth
Saatnya penentuan, apakah kita bener-bener seorang penulis atau bukan.
It’s the main obstacle.
Face the dragon in the final battle.
Mereka pikir kita akan menyerah setelah ditolak sepuluh kali?
Duapuluh? Limapuluh?
No, Master! Wait for my revenge!
Ada 3 jalan di depan kita:
1. Perbaiki lagi tuh novel yang ditolak, dan coba kirim lagi. Teruus dan teruuuss…
2. Bikin cerita yang laen. Kita penulis kok, kita bisa bikin satu, kenapa gak bisa bikin yang kedua, ketiga, dst? Ditolak juga? So what? It’s my life.
3. Simply Quit. Goodbye, brother. Don’t worry, you’re still my friend. Maybe we’ll meet again, someday, etc, etc.
The dragon is in our mind.
Make your decision.
A13. Revenge
The sweetest time.
The evil dragon is dead.
Saat ketika semua pengorbanan terbayar lunas. Duh duh duh…
Perlu dibahas?
No, just dream it.
B. Aktivitas lain-lain
(nangkring & nongkrong)
B1. Belajar
Ya macem-macem juga deh yang dipelajari.
Paling penting adalah belajar tatacara penulisan yang baik. Mesti rajin-rajin dong buka buku EYD, tatacara Editing, Pelajari Tips n Trick dari internet.
Apa aja sih yang biasanya jadi topik pembunuhan naskah, favoritnya para kritikus?
Jangan malu nanya para penulis top yang pinter-pinter itu. Cari tau seperti apa novel yang bagus, dan yang gak bagus. Ya mesti banyak baca-baca novel laen buat benchmarking (ceile…), impor maupun ekspor (hah?).
Tapi jangan nangkring di depan komputer doang (kayak saya).
Nongkrong juga dimana kek. Liatin juga tuh kelakuan orang-orang di pasar, di stasiun, di stadion, di bank, di ruang tunggu dokter.
Lumayan buat database tingkah laku orang.
B2. Survey pasar dan penerbit
Jalan-jalan yuk, ke toko buku.
Liat majalah Trubus, hmm… bisa gak ya kirim cerita fantasi ke sini?
Dimana alamatnya? Lihat di cover belakang, atau ada di halaman dalam?
Oke deee… beli.
Huh? Isinya kok pohon semua? Mau bikin cerita Wood Elves? Walah…
Cari lagi deh yang laen…
Oke, nih ada novel fantasi yang keren, terbitan penerbit ABC (bukan kecap itu tapinya). Laris juga kabarnya.
Dimana alamat penerbitnya? Catet. Coba cari info tentang penerbit ini di internet. Cukup bonafid dan bisa dipercaya? Mana alamat emailnya?
Oke, kenalan dulu via email.
Mau terima fantasi gak? Gimana cara ngirimnya? Begini begitu.
Mereka mungkin bilang: sori belon minat. Tapi mungkin ada juga yang jawab: coba kirim sinopsis dan 10 halaman pertama.
Voila! Jalan sudah terbuka.
Mungkin ada juga yang jawab: kirim hardcopy langsung aja semuanya. Syaratnya ini dan itu. Oke. Meluncur.
Tapi kalo ada yang minta diemail semuanya pake ms word, mending tahan dulu deh.
B3. Gaul di forum penulis.
Ya, namanya juga pemula, tau dirilah.
Belajar dari penulis-penulis lain yang lebih paham. Kenalan juga dengan sesama penulis pemula yang senasib sepenanggungan.
Banyak kok forum semacam ini di internet.
Dengan mereka-mereka ini kita nanti bisa minta masukan mengenai draft naskah kita. Banyaklah informasi yang berguna dari mereka.
B4. Kegiatan lain
Hmm, banyak sih.
Ketemu penggemar di mal dan universitas, bedah buku, tanda tangan.
Heheh…
Woy, bangun! Udah siang!
Kerja, kerja!
Just face that beast, okay?
B5. Belajar lagi, sampe akhir hayat
At last, everything we do is about learning.
[tab: Hal 6]
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 19, 2007, 02:46:25 pm
________________________________________
rey,
cardan belon selesai juga nih bacanya. ada satu hal penting yang kurang di novel ini, seperti halnya numeric uno, yaitu kurang ‘pressure’ awalnya. tapi sampe separo jalan, gua rasa masih lebih bagus daripada numeric uno kok. gua saranin elu tetap beli deh. heheh…
soal reviewnya, ntar deh, mudah2an bisa dibedah secepatnya. ada kesulitan tersendiri. gua gak bisa konsen bacanya, soalnya kemudian malah mikirin cerita gua yang gak selesai-selesai. payah dah…
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 20, 2007, 11:37:15 am
________________________________________
soal perbedaan antara novel dan film,
dalam beberapa kasus memang jadi lebih berkualitas filmnya.
seperti LOTR dulu, peter jackson juga bisa bikin interpretasi yang lebih mantap, seperti karakter yang lebih ‘believable’, walaupun tentu saja banyak cerita yang hilang.
tapi banyak dalam kasus lainnya, biasanya timbul kekecewaan karena filmnya ‘dirasakan’ menjadi lebih buruk.
________________________________________
Post by: BloodSin on November 20, 2007, 11:48:33 am
________________________________________
@villam,
bah, tapi kalo udah dari bukunya jelek mah kayana udah gak mungkin bisa bagus ya kalo dipelemin.. 
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 20, 2007, 02:50:57 pm
________________________________________
u know what? bagi gua, seringkali nonton film selalu mendatangkan lebih banyak ide daripada membaca bukunya.
kita bisa belajar tentang gaya atau teknis penulisan dari membaca buku, tapi cara penyusunan plot dalam film (pembukaan, konflik, klimaks, penutup), dan cara visualisasinya, yang justru sebenarnya sangat berguna buat para penulis yang hendak membuat novel.
sepertinya para sutradara itu tau betul bagaimana harus membuat penonton tertarik dari awal, dan meringkas dalam film yang padat dalam 2 atau 3 jam.
yah, tentu saja cuma film-film yang bagus ajah…
heheh…
No Comments »
|