[tab:Hal 1]Sesi XXVII (27 Jul 2008 – 30 Jul 2008)
- Review Gathering Pulpen 26 Juli 2008 oleh clickdian
- Tentang review Dream of Utopia
- Tentang gaya bahasa
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: clickdian on July 27, 2008, 04:22:40 pm
________________________________________
“Clara, gimana situasi?”
“Masih aman. Fred sudah dateng,” jawab Clara dengan suara yang tidak begitu jelas. “Kamu di mana?”
Aku melirik gedung tinggi di seberang jalan. “On the way, sudah di depan target. Siapa aja yang udah dateng?”
“Fred—“ suara Clara menghilang sejenak. “—dan temenku, David.”
Nama ini tidak kukenal. “Newbie?”
“Yup.”
Ini sudah cukup. Aku sudah hampir sampai, harus segera kuputuskan sambungan teleponku dengan Clara, sebelum menarik perhatian orang. “Oke, aku sebentar lagi sampai di meeting point.”
“Oke.”
Kusimpan lagi ponselku, lalu bergegas masuk ke dalam gedung, berusaha bergerak secepat mungkin tanpa membuat orang curiga. Satpam di resepsionis melirikku tajam. Kukeluarkan jurus andalanku untuk membiusnya—senyuman mautku.
Berhasil. Dia terpukau dan aku berhasil masuk.
Cukup banyak juga orang di gedung ini. Aku tidak tahu berapa banyak yang tahu identitasku yang sebenarnya, bisa saja setengah dari mereka sebenarnya agen musuh yang menyamar. Elevator lebih terbuka dan rawan serangan sniper, jadi aku menyelinap di antara kerumunan orang dan menyelusup ke dalam lift. Sudut mataku menangkap seorang pria bertubuh tambun dengan kaca mata hitam berdiri di depan kantor sebuah agen perjalanan di depan lift, balas menatapku sementara pintu lift menutup.
Mencurigakan.
Dalam hitungan detik aku sampai di lantai empat, yang jauh lebih sepi. Sambil berjalan aku melirik ke bawah, ke arah sebuah ring skating di lantai tiga, yang penuh dengan anak-anak. Mereka harus dievakuasi secepatnya, untuk berjaga-jaga kalau kondisi berubah menjadi siaga merah, aku mencatat dalam hati. Tak jauh dari ring ada tangga darurat, mestinya tidak terlalu sulit.
Aku memasuki area meeting point, menyapukan pandangan ke seluruh ruangan, mencari individu-individu yang bisa saja kaki tangan musuh. Segala sesuatu bisa terjadi, bahkan di dalam food court ini.
Segerombolan anak muda di dekat pintu masuk sepertinya tidak mungkin—too noisy, takkan ada penjahat yang seribut itu. Sepasang kekasih di sudut bisa saja musuh, walau akting mesra mereka terlalu berlebihan. Tetap harus diwaspadai.
Yang paling mencurigakan seorang wanita berpakaian baby sitter dengan bayi di dalam gendongan kain. Jemarinya di-manicure, dan aku tidak yakin isi kain itu benar-benar bayi. Orang ini punya teknik penyamaran yang payah, tapi teknik menembaknya belum tentu sehancur itu. Kuawasi dia dengan sudut mataku sambil mendekati teman-temanku, yang memilih tempat di balik sebuah pilar besar. Pilihan pintar. Posisi yang sulit diawasi.
Aku mengambil tempat sambil menatap teman-temanku—lima orang, enam denganku sendiri. Clara dan Fred duduk bersebelahan, berhadapan dengan dua orang yang belum kukenal.
“Ini David, dan ini Jo.” Clara memperkenalkan. “Member baru.”
“Jo ini partnerku,” Fred menambahkan. Aku mengerti.
Aku mengangguk ke arah mereka—member-member baru itu. Bagus. Kelihatannya mereka bisa diandalkan. Aku menoleh ke arah orang terakhir, yang duduk di depanku, dan langsung merasa lega.
“Senior Amru, senang melihatmu di sini,” ucapku. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya, dan aku senang Amru bergabung dengan misi kali ini. Dia banyak pengalaman, sejak dari generasi pertama organisasi FFDN.
Amru balas tersenyum. “So, wassup? Punya informasi terbaru?”
Aku membuka tasku dan mengeluarkan sebuah buku. “Ini,” kataku, meletakkan buku itu di atas meja. “Isinya tentang pertempuran dua dunia. Aku baru aja dapet.”
Clara mengambil dan membuka-buka buku itu. “Menarik. Mungkin kita bisa ambil sesuatu dari sini.”
“Pastinya. Ini, ada satu lagi,” kataku, mengulurkan sebuah buku lagi.
“Amigdalus?” David membaca judulnya. “Apa ini?”
Aku mengangkat bahu. “Nggak jelas. Penulisnya sok tahu. Tapi paling nggak, kita punya gambaran kondisi lapangan saat ini. Penjelasan tempur di buku ini beda dengan yang pertama.”
“Guys, simpen dulu ini semua. Berapa orang lagi yang direncanain mau dateng?” Fred mengambil alih perhatian.
“Waktu kita terbatas.”
“Rey, sayangnya, nggak bisa dateng. Dia ada misi di Bandung,” kataku menyayangkan, kecewa. “Elyasa rencananya mau dateng.”
Clara menyergah, “Nggak, nggak jadi. Dia tiba-tiba cancel, ada tugas di tempat lain.”
Sial! Aku memaki dalam hati. Dua agen tidak bisa datang. Aku tidak yakin misi kami akan dapat berhasil hanya dengan enam orang, walaupun Amru ikut.
“Cari tahu yang lain!”
Aku mengambil ponsel dan menelepon Hege, sementara Clara menghubungi Arik. Hege saat ini sedang dalam misinya sendiri, entah apa, dan yang jelas tak mungkin bisa datang karena posisinya di Bali. Arik, sama saja. Quistis dan Vadis … tak seorang pun tahu nasib mereka sekarang.
Fred melirikku dan aku tahu ia sedang menghitung jumlah agen yang tersisa. Fapur, Jeff, Piethitam, Juunishi. Hopeless. Mereka agen-agen khusus yang tidak bisa diganggu, dan hanya Tuhan yang tahu bagaimana cara menghubungi mereka.
Harapan kami tinggal satu.
Clara memecah sepi. “Villam?”
“Kukirim SMS,” sahut Fred, dan tangannya menari di atas keyboard ponselnya. “Ada yang tahu di mana posisi Villam sekarang?”
“Dia ada di Jakarta, setahuku,” jawabku. Tapi entah di Jakarta bagian mana dan sedang melakukan misi apa. Dia selalu terlibat pertempuran. Tak bisa disalahkan, Raja Perang selalu sibuk.
Amru bertanya, “Dia tahu kita ada misi besar hari ini?”
“Tahu,” jawab Clara. “Villam bilang mau ngecek jadwalnya dulu, tapi nggak ada kabar lagi sampai sekarang. Fred, Villam bales?”
Fred menatap ponselnya, bingung. “Nggak. Kenapa ya?”
“Ini mendesak,” kataku mengingatkan. “Kita cuma punya waktu dua jam sampai misi dimulai, dan harus ada kepastian saat ini juga.”
“Kutelepon aja,” sahut Fred, menempelkan ponsel di telinganya.
Hening. Semua menanti.
Setelah beberapa saat yang mencekam, Fred menyerah. Ia menurunkan ponselnya, menatap kami dengan putus asa. “Nggak diangkat. Apa itu berarti ….”
Kami saling menatap, terhenyak, merasa ngeri. Kalau sampai Villam tidak merespon, hanya ada satu kemungkinan: dia benar-benar tidak bisa menjawab.
Aku disergap ketakutan. Tidak mungkin! Apa ini berarti … Villam gugur dalam tugas?
“Kita telah kehilangan satu agen lagi.”
Amru mengambil alih situasi. “Guys, kita sedang ada misi. Bukannya nggak khawatir sama Villam, tapi ada yang lebih penting dan mendesak saat ini. Kita harus fokus!”
“Bener,” David berkata. “Sekarang, gimana?”
“Kita cuma berenam,” Clara sangsi. “Emangnya bisa dengan jumlah segini?”
“Misi tetep misi, harus dijalanin,” kata Amru lagi. “Yakin sama diri sendiri, kita pasti bisa!”
“Tenang, Clara. Ada satu member lagi, Andri, udah nyusup di tempat musuh sekarang. Jadi kita bertujuh, lumayan, kan?” Fred menyambung. “Sekarang, gini: kita menyebar, aku pergi duluan bergabung dengan Andri. Kalo situasi aman, kalian nyusul. Oke?”
“Oke!”
“Fine.”
“Go, Fred!”
“Hati-hati, ya.” Aku tidak bisa membayangkan kalau Fred bernasib sama dengan Villam. Tidak bisa dihubungi sama sekali.
“See ya, guys,” Fred memisahkan diri, dan sebentar saja sosoknya hilang di antara manusia-manusia yang hilir mudik. Semoga Tuhan menyertaimu, Kawan.
Kami menanti, dalam senyap. Sesekali ada yang bicara, tapi tak mudah berbicara dengan tenang sementara Fred menantang bahaya, sendirian. Agen baru bernama Andri itu masih misterius, dan aku tidak tahu apa-apa tentangnya.
Ponselku berbunyi. Pesan dari Fred.
“Sekarang, guys! Fred udah ngebuka jalan!” seruku, dan kami bergegas pergi. Sambil lalu kulirik baby sitter tadi, yang sedang melirikku dengan mata besarnya. Tunggu sampai ada kesempatan, kubikin cewek satu ini gak bakal bisa melirik lagi!
Kami tiba di depan markas musuh—sebuah ruangan besar di seberang food court—dan langsung mencari Fred. Aku dan Clara mengitari kerumunan orang.
“Fred; mana dia?” Clara khawatir. “Dia hilang?”
“Nggak, itu dia!” Aku melihat Fred mendekati kami dengan terburu-buru, setengah panik, diikuti seseorang yang kuduga member baru itu.
“Di sini sinyal sulit!” sengalnya. “Untung kalian sudah ada di sini, gerbangnya sudah terbuka, tapi kita harus menyebar dan menyerang di waktu yang bersamaan!”
“Baik,” sahutku cepat. “Kamu pimpin team satu, Fred. Aku team dua.”
Fred membagi informasi yang berhasil dikumpulkannya. Kami harus menyerang tepat pukul setengah empat sore. Tidak boleh kurang, atau lebih. Target kami akan muncul pada waktu tersebut, dan kesempatannya hanya itu.
Sepakat. Fred, Jo dan Andri bergabung dalam team satu, sementara aku, Amru, David dan Clara di team dua. Kami menyebar seketika setelah mencatat waktu infiltrasi di benak masing-masing: 15.30.
Waktu bergerak cepat. Team dua berderap ke lokasi yang sudah disepakati, menempatkan diri di sudut dan menunggu. Syukurlah, tak ada antek-antek musuh yang menghadang kami. Tapi tidak menutup kemungkinan Fred dan yang lain tidak menemui kesulitan. Kukirim SMS untuk team satu.
Fred, we’re on the spot.
Fred membalas: Oke. We’ll be there.
Paling tidak Fred masih hidup! Waktu di ponselku menunjukkan jam 15.09.
Team dua saling berpandangan, menunggu, merasakan ketegangan yang merayapi. Kalau team satu tidak berhasil mencapai lokasi ini, hanya tinggal kami berempat yang tersisa untuk mempertahankan nama organisasi. Keberhasilan misi besar ini berada di tangan kami. Beban yang luar biasa berat. Lawan kami adalah seorang pria legendaris, yang reputasinya sangat terkenal di seluruh dunia. Pria yang lekat dengan kegelapan.
15.30.
Fred, Goddamit, where are you?!
Waktu habis. Kuanggap team satu tidak berhasil.
Aku menghela nafas dan berkata, “Teman-teman, sekarang tinggal kita berempat. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Harus bergerak sekarang juga.”
David mengangguk. Clara dan Amru setuju.
“Baik! Kita pergi sekarang!” aku melirik Clara. “Stick with me, Clara. Jangan jauh-jauh!”
“Oke,” jawab Clara, menyertaiku ke Gerbang Kegelapan.
Tiba-tiba seseorang muncul dari dalam, menerobos pintu. Secara refleks aku memasang kuda-kuda, siap menyerang, Tapi Clara menahanku.
Clara berseru, “Fred!”
Fred berlari menghampiri kami, dan aku sangat lega. Syukurlah, kamu selamat, Fred!
“Sori, tadi ada masalah, ponsel nggak bisa dipake! Kami terpaksa masuk duluan. Andri sama Jo udah di dalem.”
“No probs, Fred. Sekarang mendingan kita cepet masuk, waktunya udah mepet banget!” aku menyahut. Sekarang, setelah tahu kami masih bertujuh, semangatku terpompa lagi.
Fred mendahului kami, berperan sebagai penunjuk jalan. Kami memasuki pintu dan langsung disergap kegelapan. Hanya ada beberapa lampu yang temaram, masih cukup untuk menerangi jalan, tapi ini sangat berbahaya. Musuh bisa muncul setiap saat dari arah yang tak terlihat.
“Tetap waspada,” bisikku.
Aku menoleh sesaat dan mendapati Amru-lah yang berada di posisi paling belakang—posisi paling rawan. Khas Amru, rela berkorban dan melindungi teman-temannya. Clara dan David berlari di belakangku. Langkah kami teredam karpet yang melapisi lantai.
Tempat apa ini?
Kami berlari menuruni undakan. Udara dingin mulai melingkupi, aku tahu Clara mulai kedinginan. Aku menggenggam erat benda di tanganku, tak ingin melepaskannya.
Di ujung undakan, Fred berhenti. “Di sini,” katanya, menatap lurus ke depan. “Bersiaplah. Dia akan datang, sebentar lagi.”
Kami menanti dalam gelap. Kurasakan Andri dan Jo bergabung. Kami bertujuh menatap ke arah yang sama dengan Fred, menghitung detik kemunculan Sang Kegelapan. Yang ada saat ini hanya suara nafas kami, dan waktu yang berdetik.
Suara keras menghentak dan kami terpaku. Dia muncul.
The Dark Knight.
PS: Fred, you’re next. Handle this. 
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on July 27, 2008, 07:09:07 pm
________________________________________
Jadi kesimpulannya, yang dateng itu: bjvadis, clickdian, kurara, amru, fred, dan dua orang baru: David, & Jo ? ???
Tujuh orang doank? 
Sepiiii 
Villam knp ga dateng lagian?
Terus buntutnya nonton Dark Night? ???
bleh itu si Jeff baru nonton jugak tuh, jangan2 satu bioskop tapi gak nyadar ;D
Nice report eniwei, sis [thumbsup]
@Om Pur,
Nice repiu, jelas dan lengkap [thumbsup]
Tapi ane ngebacanya agak-agak shock jugak, secara ente baru aja ngebantai abis-abisan di repiu sebelumnya, langsung beralih ke yang almost perfect gitu 
Somehow, repiu ente jauh lebih asik kalo isinya pedes buat ane sih 
(bukannya gw gak seneng liat novel orang berhasil, tapi gw seru aja kalo liat ente gregetan dan mencak-mencak gak puas ;D ;D)
JAdi buat Blue, congrats! 
Jarang-jarang ada novel yg bisa lulus seleksi om pur.
Kurasa zauri-nya clickdian (the next, kan?) bakal dapet penilaian antara negatif dan positif, tengah-tengah lha, we’ll see [biggrin]
________________________________________
Post by: fr3d on July 28, 2008, 11:21:11 am
________________________________________
Tentang review Dream Utopia (gak salah nyebut, emang sengaja [biggrin]),
gw setuju sama om pur tentang cover depan yang aneh gambar dan judulnya, dan sinopsis di cover belakang.
Pas gw buka cover dalam (halaman 1), ternyata judulnya beda sama cover luar! 
Koq bisa2nya ya Diwanteen melakukan itu? Mengubah judul secara tidak konsisten!
Dasar, sangat tidak profesional! [thumbsdown]
@samy,
sabtu kemaren gw liat2 lagi bukunya di gramed TA. Akhirnya ada juga yang kebuka plastiknya… ;D
Kalau diliat sekilas isinya, gw emang berasa novel Dream Utopia itu inspired banget oleh harpot ya?
Sampe ada tabel jadwal mata pelajaran sihir segala… 
Tapi, maap ye, sam, gw akhirnya gak beli, soalnya bacaan masih menumpuk di rumah… [rolleyes]
Oya, nemu Enthirea dan Neverwhere-nya Neil Gaiman pula, tapi gak beli juga… ;D
Quote from: clickdian on Today at 11:14:10 am
Kan udah kuserahkan padamu ;D ;D ;D
Lanjutin dunk! ^-^
Belum ada tenaga. Masih terkuras habis akibat pertarungan dahsyat kemarin itu…
Dan lagi, masih harus memulihkan otot2 leher… [biggrin]
Mungkin Agen Amru bersedia melanjutkan dulu? ???
________________________________________
Post by: clickdian on July 28, 2008, 12:53:53 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 28, 2008, 11:21:11 am
Dan lagi, masih harus memulihkan otot2 leher… [biggrin]
Ah iya. efek yang sama terhadap semua agen FFDN yang pergi ke misi DarkNight kemaren ;D ;D
Ehm.
lagi terpesona sama deathnote.
*ngeliat review gathering di halaman sebelumnya*
T____T
kalo dibandingin kalah jauh bangettt!! :’(
________________________________________
Post by: fr3d on July 28, 2008, 02:13:47 pm
________________________________________
Berhubung tema Sang Penandai udah reda, gw juga mau skalian meluruskan kalau sebenernya, seandainya gaya bahasa nyastra yang berlebihan di Sang Penandai dikurangin, novel itu justru bakalan bisa dinikmatin banget, karena ceritanya emang sederhana dan tujuan/tema utamanya jelas (meski endingnya gagal).
Ini juga buat gw mikir kalau mungkin (cuma mungkin,
) gw sebelumnya telah salah menilai Sang Penandai. Soalnya, gw menggunakan ekspektasi terhadap novel populer untuk menilai Sang Penandai yang padahal, mungkin niat awalnya emang dibikin jadi novel sastra, lalu barulah belakangan “diturunkan” derajatnya menjadi semisastra-semipopuler (?). Well, entah untuk tujuan apa? Menjangkau lebih banyak pembaca mungkin?
Yang jelas, “rujak” itu rasanya jadi kurang asik dan gagal.
Di lain pihak, kalau seandainya aja gw menggunakan kacamata sastra ketika membaca Sang Penandai dan menganggap gaya populer hanya sebagai “tambahan” belaka, maka mungkin justru Sang Penandai akan terasa lebih nikmat (cuma mungkin lagi,
).
(:D Puyeng ya?)
Gini deh,
Sang Penandai itu sekarang ibaratnya sirup yang ditambahin gula.
Padahal, (mungkin) seharusnya Sang Penandai adalah air gula titik, tanpa perisa buah-buahan.
Jadi,
@tere-liye,
“Matanya berbunyi air mata!” mungkin akan lebih pas.
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on July 28, 2008, 07:27:06 pm
________________________________________
Quote
Jadi,
@tere-liye,
“Matanya berbunyi air mata!” mungkin akan lebih pas.
(buat yg udah muak gw ngomongin beginian, silakan diskip ;D)
Well, tentang metafora “Matanya berdenting air mata!”, akhirnya gw bisa menemukan konteks yang kuat mengena buat ngebantah elu-elu (semua! termasuk ewing, makmak, juunishi, serpentnyet
) yg tempok hari dengan
sotoynya mengecap metafora ini ‘salah/ilegal’ hanya dari sudut teknis aja.
Patut diketahui, di Sang Penandai tokoh Jim ini adalah seorang pemain musik–penggesek biola/pemetik dawai. Dalam beberapa scene, digambarkan bahwa Jim ini seneng maenin papan dawai, mendentingkan lagu-lagu di setiap kesempatan. Jadi akhirnya gw bisa dapet alasan kuat kenapa Tere Liye memilih metafor ‘berdenting’ ini alih-alih metafor lainnya yang lebih ‘benar’ secara de facto (minjem istiah om pur
).
Emang kalo berdiri sendiri, metafora itu mudah sekali diruntuhkan dari segi teknis.
Tapi kalo berdiri di buku sang Penandai, dalam hal ini gw kira konteks jatidiri Jim sebagai seorang pemusik bener-bener kena di metafora itu, sehingga sebetulnya faktor kesalahan teknisnya (sefatal apapun!) udah gak terlalu relevan lagi buat dipermasalahin.
Jadi ternyata, bener banged yang dibilang om pur, bahwa dalam sebuah novel, idealnya metafora itu dinilai gak dari segi teknis aja, tapi juga konteks yang mungkin cuma berlaku di novel itu.
Terlepas dari kesalahan teknisnya, kasus di atas cukup relevan kalo diibaratkan dengan dua metafora ini:
# 1.
Ia berangkat mengail kehidupan setiap subuh, dan telah menjadi umpan nasib dari semenjak bocah.
# 2.
Ia terbiasa membedah kasus dengan pisau analisis.
Metafora # 1 pas kalo tokohnya seorang nelayan, tapi agak gimanaaa gitu kalo tokohnya detektif.
Metafora # 2 pas banged kalo tokohnya seorang detektif/dokter bedah yang nyambi jadi detektif
, tapi tidak kalo tokohnya nelayan.
Yah… kira-kira gitulah poin gw.
Ah eniwei, sudahlah tak usah didebatin lagi, suer kapok mampus gw abis dijailin genderuwo malem minggu kemaren x___x
@om pur,
Quote
Kalo gue terapin penilaian gue ala ke Lemures, maka Lanang akan mendapat label pretensius dengan huruf P besar, diunderline dan di bold sekalian. (Rey, silakan bangga atau tersinggung, terserah lo deh,… hehehe)
Entah apa yg dilihat oleh Juri DKJ 2006. Mungkin mereka punya definisi sendiri buat sastra, yang diluar jangkauan orang-orang awam kayak kita
wah kalo gitu ane bangga lha, berarti lemures ane punya kemungkinan menang donk kalo ikutan lomba DKJ ;D ;D
Eniwei, kan yang jadi pertimbangan juri bukan cuma gaya bahasa aja, siapa tauk walau gaya bahasanya cacat/pretensius, tapi plot, karakterisasi, tema, riset, greget novelnya bener-bener mumpuni.
Quote
Buat gue udah jelas. Seni, mo dalam bentuk apapun, pasti punya ‘rasa’ yang akan menunjukkan bahwa ekspresi yg dipilih tersebut pas atau mengada-ada. Itu sebabnya seniman selalu bisa memilih mana yg ‘nyeni’ dan mana yang ‘sok nyeni’.
Well, ini daku sepakat jugak bos, akhirnya. :-[
oh yap, dulu di tret ini, gw pernah nyebut gaya bahasa si Alk buat cuplikan 'Kael & Marina'-nya cenderung 'tidak jujur pada diri sendiri' (waktu itu gw belum kenal istilah 'pretensius' ;D), eh tauknya belakangan gw sendiri yg kena label itu. :-[
________________________________________
Post by: ewingerwin on July 29, 2008, 08:04:45 am
________________________________________Ikutan nimbrung soal gaya bahasa nyastra aaah.
Penggunaan gaya bahasa nyastra tu mirip bedah plastik. Di tangan seorang ahli yang bener-bener tau bidangnya, dia akan menghasilkan keindahan yang luar biasa ngelebihin Luna Maya atau Sandra Dewi atau bahka Aiswarya Ray. Nah, kita tau ketiga nama yang gw sebutin tu memiliki rupa yang wah. Lalu bagaimana dengan Mona Lisa? Apakah Mona Lisa cantik? Mungkin, tapi nggak semua orang bisa menikmati atau menemukan 'kecantikan'-nya. Karya seni tulis tu kayak gitu, ada yang keindahannya bisa diakses dengan mudah oleh publik, ada yang cuma bisa eksklusif
dinikmati oleh sekelompok orang tertentu setelah penelitian mendalam dengan kajian menyeluruh.
Sekarang pertanyaannya bagi para penulis adalah: Lu mau nulis karya tulis yang bisa dinikmati keindahannya oleh khalayak ramai, atau mau bikin karya yang super nyastra dengan gaya bahasa berbunga-bunga yang sulit dicerna oleh publik lengkap dengan risiko dicap pretentious?
Soal kutipan dari karya berjudul "Lanang", gw setuju, itu terasa super pretentious. Bikin kalimat indah nggak harus super berbunga-bunga kayak gitu. Kalimat yang singkat dan efektif tetap bisa menyampaikan keindahan/memiliki unsur estetika jika pilihan kata/diksinya pas dengan konteks.
Ah, iseng bikin satu kalimat sastra sesuai konteks protagonis yang seorang mekanik:
Matanya menurunmesinkan pelumas hati.
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on July 29, 2008, 06:41:34 pm
________________________________________
gw baca komentar orang di goodreads ttg Lanang, pada bilang, “Lanang bukan untuk anak kemaren sore yang baru belajar sastra” ;D ;D
Itulah yg gw maksud dari kemaren-kemaren. Terkait jugak dengan omongan ewing yg ini:
Quote
Lalu bagaimana dengan Mona Lisa? Apakah Mona Lisa cantik? Mungkin, tapi nggak semua orang bisa menikmati atau menemukan ‘kecantikan’-nya. Karya seni tulis tu kayak gitu, ada yang keindahannya bisa diakses dengan
mudah oleh publik, ada yang cuma bisa eksklusif dinikmati oleh sekelompok orang tertentu setelah penelitian mendalam dengan kajian menyeluruh.
Well, Lanang juara kedua DKJ 2006, kurasa buku ini bolehlah diandaikan sebagai Monalisa. It’s oke kalo orang gak suka sama gaya bahasanya, yang entah apapun alasannya: karena terlalu awam dengan sastra, karena terlalu pretensius, karena norak. Tapi semenjak kualitas buku ini sudah ‘terbukti’ di DKJ 2006, rasanya kita gak lagi berhak menilai buku ini secara serampangan tanpa pernah ngebaca langsung keseluruhan bukunya.
Jadi dengan ini gw mau menarik stempel “norak” gw sebelumnya yg ditujukan ke cuplikan Lanang, karena gw kira, gak adil menilai buku secara keseluruhan cuma dari sepenggal cuplikan itu. Dan bahkan, betapapun noraknya suatu kalimat/paragraf yang terkesan sewaktu kita baca terpisah dari bukunya, kita tetap gak layak untuk buru-buru ngasih
stempel norak/pretensius. Toh bisa aja paragraf itu emang keliatan norak kalo berdiri sendiri, tapi jadi perfect/harmonis kalo berdiri di dalam bukunya, jadi satu kesatuan bersama paragraf-paragraf di keseluruhan buku.
Well intinya ginih, Monalisa emang gak cakep, tapi banyak seniman yg udah menyatakan kalo Monalisa punya aspek seni yg tinggi kan? Apakah ‘gak resek’ kalo ada orang buta seni yg mencak-mencak protes: “Lukisan cewek jelek gini kok dibilang masterpiece? Gw bisa gambar cewek yg jauh lebih cakep dan bahenol dari ini!”
Untuk dapat mengapresiasi suatu karya sastra sekelas Lanang (yg notabene menang di posisi kedua DKJ 2006) sejatinya dibutuhkan pengalaman, analisa mendalam, dan ‘lidah’ dengan kedalaman citarasa tertentu, dan ketika seseorang yg gak memenuhi satu-dua/bahkan seluruh syarat di atas dengan seenaknya ngecap norak/pretensius terhadap karya itu, relevankah komentarnya?
Maksud gw, kalo mau maen adil, jangan terlalu terburu-buru menilai segala sesuatunya dari kaca mata kita aja. ^-^
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 30, 2008, 05:19:40 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 29, 2008, 06:41:34 pm
gw baca komentar orang di goodreads ttg Lanang, pada bilang, “Lanang
bukan untuk anak kemaren sore yang baru belajar sastra” ;D ;D
Ha ha ha,… gue ga bisa berenti ngakak baca komentar kayak gitu ;D ;D ;D
Karena sikap begitu memang udah lazim di kalangan seni, terutama di kalangan yang masih ‘tanggung’. Pemula bukan, master jugak belum, tapi belum sadar akan ketanggungannya.
Seorang master yg bener kagak akan ngomong begitu. Sebab maestro tahu bahwa justru bila karya seninya tidak bisa nyampai ke orang-orang kemarin sore, then sesungguhnya dia belum berhasil. Liat Pramudya. Terserah orang mau bilang apa buat pribadinya, tapi tak butuh seorang yang ‘pagi ini’ (untuk menyebut antitesis ‘kemarin sore’) untuk bisa
mengapresiasi karyanya.
Dan gue secara pribadi juga udah sering liat sikap kayak gitu dalam bentuk-bentuk kesenian yg lain. Memang ada sekelompok orang yang terlanjur menganggap dirinya udah ‘di atas awam’ dengan menggeluti suatu ekspresi seni tertentu. Entah, keterlibatan dengan seni memang sering memicu kesombongan alami tertentu dalam diri manusia. Yg lucu ya itu, kemudian muncul komentar-komentar yang sejenis yang umumnya merendahkan ke’kemaren sore’an orang lain.
Dan gue langsung tahu, yg ngomong begitu itu sembilan puluh sembilan persen biasanya justru orang-orang ‘tanggung’ yang sedang dalam perjalanan memahami Dunia ini dan dirinya sendiri. Dan orang-orang kayak gitu ya happens aja ada di mana-mana, bahkan dalam lembaga-lembaga tertentu
Jadi Rey, kalo menurut gue sih, jangan terlalu diambil kata-katanya secara face value. siapa tahu itu juga minjem dari orang lain
, yg minjem juga dari orang lain, dst.
Kalo gue, gue minjem pendapat bahwa seni akan ‘sampai’ ke manapun ia mengalir. Pada saat elo ketemu dengan ekspresi seni yang ‘benar’, maka it’s unmistakable, elo gak perlu jadi seorang ‘pagi ini’ untuk menerimanya. Mungkin kalo kita-kita anak kemarin sore akan menyerapnya sacara global, tanpa tahu bagaimana menguraikannya menjadi aspek-aspek analisis, sebagaimana yang bisa dilakukan seorang ahli. Tapi seperti juga CINTA, elo gak perlu dikasih tahu, elo akan tahu sendiri WHEN it comes.
Quote
Itulah yg gw maksud dari kemaren-kemaren. Terkait jugak dengan omongan ewing yg ini:
Quote
Lalu bagaimana dengan Mona Lisa? Apakah Mona Lisa cantik? Mungkin, tapi nggak semua orang bisa menikmati atau menemukan ‘kecantikan’-nya. Karya seni tulis tu kayak gitu, ada yang keindahannya bisa diakses dengan
mudah oleh publik, ada yang cuma bisa eksklusif dinikmati oleh sekelompok orang tertentu setelah penelitian mendalam dengan kajian menyeluruh.
Ah, kalo gue memahaminya secara gak berbeda. Untuk menikmati seni, memang tetap ada prasyarat, yaitu kemampuan menerima medium yang menjadi perantara seni tersebut. Contohnya sastra, tentunya ada syarat
menikmatinya, yaitu pertama bisa baca, dan kedua menguasai bahasa yang sama.
Seni lukis juga ada persyaratan selain bisa melihat dan ga buta warna, yaitu harus tahu apa-apa saja yang perlu dilihat dalam menikmati lukisan. Kalau seseorang sudah memiliki persyaratan ini, maka karya seni itu bisa dinikmatinya. Tambahan-tambahan informasi akan membuat jendela apresiasinya lebih terbuka lagi. Tapi bahwa sebuah corat-coret jelek akan terlihat jelek di matanya, biarpun orang-orang lain berusaha meyakinkan hal sebaliknya, itu sudah hukum alam dalam seni.
Maka bisa aja orang awam bilang monalisa jelek, karena simply dia belum tahu bagaimana cara menikmati seni lukis. Sebagaimana orang buta huruf akan menggunakan catatan harian bernilai tinggi sebagai kertas toilet, atau orang suku terasing menggunakan cek tunai bernilai seratus juta dollar untuk melinting rokok
.
Quote
Jadi dengan ini gw mau menarik stempel “norak” gw sebelumnya yg ditujukan ke cuplikan Lanang, karena gw kira, gak adil menilai buku secara keseluruhan cuma dari sepenggal cuplikan itu. Dan bahkan, betapapun noraknya suatu kalimat/paragraf yang terkesan sewaktu kita baca terpisah dari bukunya, kita tetap gak layak untuk buru-buru ngasih
stempel norak/pretensius. Toh bisa aja paragraf itu emang keliatan norak kalo berdiri sendiri, tapi jadi perfect/harmonis kalo berdiri di dalam bukunya, jadi satu kesatuan bersama paragraf-paragraf di keseluruhan buku.
Kalo saran gue sih, jgn buru-buru narik stempel norak itu untuk di cap lagi kemudian ;D ;D ;D. Udah, baca aja dulu sampai tuntas, baru kasih pendapat! He he he,.. stempelnya disimpen aja dulu.
Gue udah baca sampai halaman 32
(Gosh, seorang Fapur baru baca sampai segitu??). Terus terang majunya tersendat-sendat. Abis gimana, geli sih. Baca bentar,… geli,… tarok. Ambil lagi buka lagi,… geli lagi,… tarok. Sumpah, memang novel ini tidak membuatku memunculkan reaksi alamiku yang biasa kalo gue baca buku jelek, yaitu tertidur
. Reaksinya bener-bener baru, di luar kebiasaan (Heheheh, mungkin di situlah aspek ‘seni’ nya! [rolleyes]).
Masak, burung babi hutan adalah perkawinan genetik antara burung dengan babi hutan. Dan pemikiran ini disounding oleh seorang scientist (dalam buku ini). Dan orang-orang seniman ‘pagi ini’ itu berani ada mendaulat buku Lanang sebagai “Science Fiction”???
Tapi iya lah, baru halaman 32, masih kemarin sore, pulak? Bisa ngomong apa, aku?
Mendingan kasih hadiah kutipan ini aja deh, salah satu yang pastinya telah membuat ‘orgasme’ para seniman ‘pagi ini’ itu. (Jangan salah, istilah orgasme adalah sebuah istilah dengan muatan seni yang luar biasa kontekstual, secara novel lanang memang diposisikan sebagai novel yang aspek seksualnya tidak dapat dipisahkan dari plot, demikian menurut
komentar salah satu ahli dalam diskusi buku Lanang
)
==========================
Detam-detam sepatu pada lantai beradu degam dengan degup jantung dan paru-paru kempang kuncup, membawa tubuh-tubuh itu beradu cepat keluar dari ruang, namun tertumbuk pada suara keras nyaring yang diteriakkan
seorang lelaki yang tergopoh-gopoh masuk lewat pintu halaman depan.
“Celaka! Celaka!! Gawat!!! Sapi-sapi perah tak tertolong!! Seperti domino jatuh beruntun!!…”
Keringat mengucur menghujani lantai kantor koperasi.
==========================
(hal. 28-29)
;D ;D ;D
Yo wis, ayo baca lagi,…..
Salam,
FA Purawan