Posts Tagged “gaya bahasa”

[tab:Hal 1]Sesi XXVII (27 Jul 2008 – 30 Jul 2008)

  • Review Gathering Pulpen 26 Juli 2008 oleh clickdian
  • Tentang review Dream of Utopia
  • Tentang gaya bahasa

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: clickdian on July 27, 2008, 04:22:40 pm
________________________________________
“Clara, gimana situasi?”

“Masih aman. Fred sudah dateng,” jawab Clara dengan suara yang tidak begitu jelas. “Kamu di mana?”

Aku melirik gedung tinggi di seberang jalan. “On the way, sudah di depan target. Siapa aja yang udah dateng?”

“Fred—“ suara Clara menghilang sejenak. “—dan temenku, David.”

Nama ini tidak kukenal. “Newbie?”

“Yup.”

Ini sudah cukup. Aku sudah hampir sampai, harus segera kuputuskan sambungan teleponku dengan Clara, sebelum menarik perhatian orang. “Oke, aku sebentar lagi sampai di meeting point.”

“Oke.”

Kusimpan lagi ponselku, lalu bergegas masuk ke dalam gedung, berusaha bergerak secepat mungkin tanpa membuat orang curiga. Satpam di resepsionis melirikku tajam. Kukeluarkan jurus andalanku untuk membiusnya—senyuman mautku.

Berhasil. Dia terpukau dan aku berhasil masuk.

Cukup banyak juga orang di gedung ini. Aku tidak tahu berapa banyak yang tahu identitasku yang sebenarnya, bisa saja setengah dari mereka sebenarnya agen musuh yang menyamar. Elevator lebih terbuka dan rawan serangan sniper, jadi aku menyelinap di antara kerumunan orang dan menyelusup ke dalam lift. Sudut mataku menangkap seorang pria bertubuh tambun dengan kaca mata hitam berdiri di depan kantor sebuah agen perjalanan di depan lift, balas menatapku sementara pintu lift menutup.

Mencurigakan.

Dalam hitungan detik aku sampai di lantai empat, yang jauh lebih sepi. Sambil berjalan aku melirik ke bawah, ke arah sebuah ring skating di lantai tiga, yang penuh dengan anak-anak. Mereka harus dievakuasi secepatnya, untuk berjaga-jaga kalau kondisi berubah menjadi siaga merah, aku mencatat dalam hati. Tak jauh dari ring ada tangga darurat, mestinya tidak terlalu sulit.

Aku memasuki area meeting point, menyapukan pandangan ke seluruh ruangan, mencari individu-individu yang bisa saja kaki tangan musuh. Segala sesuatu bisa terjadi, bahkan di dalam food court ini.

Segerombolan anak muda di dekat pintu masuk sepertinya tidak mungkin—too noisy, takkan ada penjahat yang seribut itu. Sepasang kekasih di sudut bisa saja musuh, walau akting mesra mereka terlalu berlebihan. Tetap harus diwaspadai.

Yang paling mencurigakan seorang wanita berpakaian baby sitter dengan bayi di dalam gendongan kain. Jemarinya di-manicure, dan aku tidak yakin isi kain itu benar-benar bayi. Orang ini punya teknik penyamaran yang payah, tapi teknik menembaknya belum tentu sehancur itu. Kuawasi dia dengan sudut mataku sambil mendekati teman-temanku, yang memilih tempat di balik sebuah pilar besar. Pilihan pintar. Posisi yang sulit diawasi.

Aku mengambil tempat sambil menatap teman-temanku—lima orang, enam denganku sendiri. Clara dan Fred duduk bersebelahan, berhadapan dengan dua orang yang belum kukenal.

“Ini David, dan ini Jo.” Clara memperkenalkan. “Member baru.”

“Jo ini partnerku,” Fred menambahkan. Aku mengerti.

Aku mengangguk ke arah mereka—member-member baru itu. Bagus. Kelihatannya mereka bisa diandalkan. Aku menoleh ke arah orang terakhir, yang duduk di depanku, dan langsung merasa lega.

“Senior Amru, senang melihatmu di sini,” ucapku. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya, dan aku senang Amru bergabung dengan misi kali ini. Dia banyak pengalaman, sejak dari generasi pertama organisasi FFDN.

Amru balas tersenyum. “So, wassup? Punya informasi terbaru?”

Aku membuka tasku dan mengeluarkan sebuah buku. “Ini,” kataku, meletakkan buku itu di atas meja. “Isinya tentang pertempuran dua dunia. Aku baru aja dapet.”

Clara mengambil dan membuka-buka buku itu. “Menarik. Mungkin kita bisa ambil sesuatu dari sini.”

“Pastinya. Ini, ada satu lagi,” kataku, mengulurkan sebuah buku lagi.

“Amigdalus?” David membaca judulnya. “Apa ini?”

Aku mengangkat bahu. “Nggak jelas. Penulisnya sok tahu. Tapi paling nggak, kita punya gambaran kondisi lapangan saat ini. Penjelasan tempur di buku ini beda dengan yang pertama.”

“Guys, simpen dulu ini semua. Berapa orang lagi yang direncanain mau dateng?” Fred mengambil alih perhatian.
“Waktu kita terbatas.”

“Rey, sayangnya, nggak bisa dateng. Dia ada misi di Bandung,” kataku menyayangkan, kecewa. “Elyasa rencananya mau dateng.”

Clara menyergah, “Nggak, nggak jadi. Dia tiba-tiba cancel, ada tugas di tempat lain.”

Sial! Aku memaki dalam hati. Dua agen tidak bisa datang. Aku tidak yakin misi kami akan dapat berhasil hanya dengan enam orang, walaupun Amru ikut.

“Cari tahu yang lain!”

Aku mengambil ponsel dan menelepon Hege, sementara Clara menghubungi Arik. Hege saat ini sedang dalam misinya sendiri, entah apa, dan yang jelas tak mungkin bisa datang karena posisinya di Bali. Arik, sama saja. Quistis dan Vadis … tak seorang pun tahu nasib mereka sekarang.

Fred melirikku dan aku tahu ia sedang menghitung jumlah agen yang tersisa. Fapur, Jeff, Piethitam, Juunishi. Hopeless. Mereka agen-agen khusus yang tidak bisa diganggu, dan hanya Tuhan yang tahu bagaimana cara menghubungi mereka.

Harapan kami tinggal satu.

Clara memecah sepi. “Villam?”

“Kukirim SMS,” sahut Fred, dan tangannya menari di atas keyboard ponselnya. “Ada yang tahu di mana posisi Villam sekarang?”

“Dia ada di Jakarta, setahuku,” jawabku. Tapi entah di Jakarta bagian mana dan sedang melakukan misi apa. Dia selalu terlibat pertempuran. Tak bisa disalahkan, Raja Perang selalu sibuk.

Amru bertanya, “Dia tahu kita ada misi besar hari ini?”

“Tahu,” jawab Clara. “Villam bilang mau ngecek jadwalnya dulu, tapi nggak ada kabar lagi sampai sekarang. Fred, Villam bales?”

Fred menatap ponselnya, bingung. “Nggak. Kenapa ya?”

“Ini mendesak,” kataku mengingatkan. “Kita cuma punya waktu dua jam sampai misi dimulai, dan harus ada kepastian saat ini juga.”

“Kutelepon aja,” sahut Fred, menempelkan ponsel di telinganya.

Hening. Semua menanti.

Setelah beberapa saat yang mencekam, Fred menyerah. Ia menurunkan ponselnya, menatap kami dengan putus asa. “Nggak diangkat. Apa itu berarti ….”

Kami saling menatap, terhenyak, merasa ngeri. Kalau sampai Villam tidak merespon, hanya ada satu kemungkinan: dia benar-benar tidak bisa menjawab.

Aku disergap ketakutan. Tidak mungkin! Apa ini berarti … Villam gugur dalam tugas?

“Kita telah kehilangan satu agen lagi.”

Amru mengambil alih situasi. “Guys, kita sedang ada misi. Bukannya nggak khawatir sama Villam, tapi ada yang lebih penting dan mendesak saat ini. Kita harus fokus!”

“Bener,” David berkata. “Sekarang, gimana?”

“Kita cuma berenam,” Clara sangsi. “Emangnya bisa dengan jumlah segini?”

“Misi tetep misi, harus dijalanin,” kata Amru lagi. “Yakin sama diri sendiri, kita pasti bisa!”

“Tenang, Clara. Ada satu member lagi, Andri, udah nyusup di tempat musuh sekarang. Jadi kita bertujuh, lumayan, kan?” Fred menyambung. “Sekarang, gini: kita menyebar, aku pergi duluan bergabung dengan Andri. Kalo situasi aman, kalian nyusul. Oke?”

“Oke!”

“Fine.”

“Go, Fred!”

“Hati-hati, ya.” Aku tidak bisa membayangkan kalau Fred bernasib sama dengan Villam. Tidak bisa dihubungi sama sekali.

“See ya, guys,” Fred memisahkan diri, dan sebentar saja sosoknya hilang di antara manusia-manusia yang hilir mudik. Semoga Tuhan menyertaimu, Kawan.

Kami menanti, dalam senyap. Sesekali ada yang bicara, tapi tak mudah berbicara dengan tenang sementara Fred menantang bahaya, sendirian. Agen baru bernama Andri itu masih misterius, dan aku tidak tahu apa-apa tentangnya.

Ponselku berbunyi. Pesan dari Fred.

“Sekarang, guys! Fred udah ngebuka jalan!” seruku, dan kami bergegas pergi. Sambil lalu kulirik baby sitter tadi, yang sedang melirikku dengan mata besarnya. Tunggu sampai ada kesempatan, kubikin cewek satu ini gak bakal bisa melirik lagi!

Kami tiba di depan markas musuh—sebuah ruangan besar di seberang food court—dan langsung mencari Fred. Aku dan Clara mengitari kerumunan orang.

“Fred; mana dia?” Clara khawatir. “Dia hilang?”

“Nggak, itu dia!” Aku melihat Fred mendekati kami dengan terburu-buru, setengah panik, diikuti seseorang yang kuduga member baru itu.

“Di sini sinyal sulit!” sengalnya. “Untung kalian sudah ada di sini, gerbangnya sudah terbuka, tapi kita harus menyebar dan menyerang di waktu yang bersamaan!”

“Baik,” sahutku cepat. “Kamu pimpin team satu, Fred. Aku team dua.”

Fred membagi informasi yang berhasil dikumpulkannya. Kami harus menyerang tepat pukul setengah empat sore. Tidak boleh kurang, atau lebih. Target kami akan muncul pada waktu tersebut, dan kesempatannya hanya itu.

Sepakat. Fred, Jo dan Andri bergabung dalam team satu, sementara aku, Amru, David dan Clara di team dua. Kami menyebar seketika setelah mencatat waktu infiltrasi di benak masing-masing: 15.30.

Waktu bergerak cepat. Team dua berderap ke lokasi yang sudah disepakati, menempatkan diri di sudut dan menunggu. Syukurlah, tak ada antek-antek musuh yang menghadang kami. Tapi tidak menutup kemungkinan Fred dan yang lain tidak menemui kesulitan. Kukirim SMS untuk team satu.

Fred, we’re on the spot.

Fred membalas: Oke. We’ll be there.

Paling tidak Fred masih hidup! Waktu di ponselku menunjukkan jam 15.09.

Team dua saling berpandangan, menunggu, merasakan ketegangan yang merayapi. Kalau team satu tidak berhasil mencapai lokasi ini, hanya tinggal kami berempat yang tersisa untuk mempertahankan nama organisasi. Keberhasilan misi besar ini berada di tangan kami. Beban yang luar biasa berat. Lawan kami adalah seorang pria legendaris, yang reputasinya sangat terkenal di seluruh dunia. Pria yang lekat dengan kegelapan.

15.30.

Fred, Goddamit, where are you?!

Waktu habis. Kuanggap team satu tidak berhasil.

Aku menghela nafas dan berkata, “Teman-teman, sekarang tinggal kita berempat. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Harus bergerak sekarang juga.”

David mengangguk. Clara dan Amru setuju.

“Baik! Kita pergi sekarang!” aku melirik Clara. “Stick with me, Clara. Jangan jauh-jauh!”

“Oke,” jawab Clara, menyertaiku ke Gerbang Kegelapan.

Tiba-tiba seseorang muncul dari dalam, menerobos pintu. Secara refleks aku memasang kuda-kuda, siap menyerang, Tapi Clara menahanku.

Clara berseru, “Fred!”

Fred berlari menghampiri kami, dan aku sangat lega. Syukurlah, kamu selamat, Fred!

“Sori, tadi ada masalah, ponsel nggak bisa dipake! Kami terpaksa masuk duluan. Andri sama Jo udah di dalem.”

“No probs, Fred. Sekarang mendingan kita cepet masuk, waktunya udah mepet banget!” aku menyahut. Sekarang, setelah tahu kami masih bertujuh, semangatku terpompa lagi.

Fred mendahului kami, berperan sebagai penunjuk jalan. Kami memasuki pintu dan langsung disergap kegelapan. Hanya ada beberapa lampu yang temaram, masih cukup untuk menerangi jalan, tapi ini sangat berbahaya. Musuh bisa muncul setiap saat dari arah yang tak terlihat.

“Tetap waspada,” bisikku.

Aku menoleh sesaat dan mendapati Amru-lah yang berada di posisi paling belakang—posisi paling rawan. Khas Amru, rela berkorban dan melindungi teman-temannya. Clara dan David berlari di belakangku. Langkah kami teredam karpet yang melapisi lantai.

Tempat apa ini?

Kami berlari menuruni undakan. Udara dingin mulai melingkupi, aku tahu Clara mulai kedinginan. Aku menggenggam erat benda di tanganku, tak ingin melepaskannya.

Di ujung undakan, Fred berhenti. “Di sini,” katanya, menatap lurus ke depan. “Bersiaplah. Dia akan datang, sebentar lagi.”

Kami menanti dalam gelap. Kurasakan Andri dan Jo bergabung. Kami bertujuh menatap ke arah yang sama dengan Fred, menghitung detik kemunculan Sang Kegelapan. Yang ada saat ini hanya suara nafas kami, dan waktu yang berdetik.

Suara keras menghentak dan kami terpaku. Dia muncul.

The Dark Knight.

PS: Fred, you’re next. Handle this. ;)
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on July 27, 2008, 07:09:07 pm
________________________________________
Jadi kesimpulannya, yang dateng itu: bjvadis, clickdian, kurara, amru, fred, dan dua orang baru: David, & Jo ? ???
Tujuh orang doank? :D
Sepiiii :P
Villam knp ga dateng lagian?
Terus buntutnya nonton Dark Night? ???
bleh itu si Jeff baru nonton jugak tuh, jangan2 satu bioskop tapi gak nyadar ;D

Nice report eniwei, sis [thumbsup]

@Om Pur,
Nice repiu, jelas dan lengkap [thumbsup]
Tapi ane ngebacanya agak-agak shock jugak, secara ente baru aja ngebantai abis-abisan di repiu sebelumnya, langsung beralih ke yang almost perfect gitu :o
Somehow, repiu ente jauh lebih asik kalo isinya pedes buat ane sih :D
(bukannya gw gak seneng liat novel orang berhasil, tapi gw seru aja kalo liat ente gregetan dan mencak-mencak gak puas ;D ;D)
JAdi buat Blue, congrats! :)
Jarang-jarang ada novel yg bisa lulus seleksi om pur.
Kurasa zauri-nya clickdian (the next, kan?) bakal dapet penilaian antara negatif dan positif, tengah-tengah lha, we’ll see [biggrin]
________________________________________
Post by: fr3d on July 28, 2008, 11:21:11 am
________________________________________
Tentang review Dream Utopia (gak salah nyebut, emang sengaja [biggrin]),
gw setuju sama om pur tentang cover depan yang aneh gambar dan judulnya, dan sinopsis di cover belakang.
Pas gw buka cover dalam (halaman 1), ternyata judulnya beda sama cover luar! :o
Koq bisa2nya ya Diwanteen melakukan itu? Mengubah judul secara tidak konsisten!
Dasar, sangat tidak profesional! [thumbsdown]

@samy,
sabtu kemaren gw liat2 lagi bukunya di gramed TA. Akhirnya ada juga yang kebuka plastiknya… ;D
Kalau diliat sekilas isinya, gw emang berasa novel Dream Utopia itu inspired banget oleh harpot ya?
Sampe ada tabel jadwal mata pelajaran sihir segala… :D
Tapi, maap ye, sam, gw akhirnya gak beli, soalnya bacaan masih menumpuk di rumah… [rolleyes]

Oya, nemu Enthirea dan Neverwhere-nya Neil Gaiman pula, tapi gak beli juga… ;D

Quote from: clickdian on Today at 11:14:10 am
Kan udah kuserahkan padamu ;D ;D ;D
Lanjutin dunk! ^-^

Belum ada tenaga. Masih terkuras habis akibat pertarungan dahsyat kemarin itu…
Dan lagi, masih harus memulihkan otot2 leher… [biggrin]
Mungkin Agen Amru bersedia melanjutkan dulu? ???
________________________________________
Post by: clickdian on July 28, 2008, 12:53:53 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 28, 2008, 11:21:11 am
Dan lagi, masih harus memulihkan otot2 leher… [biggrin]

Ah iya. efek yang sama terhadap semua agen FFDN yang pergi ke misi DarkNight kemaren ;D ;D
Ehm.
lagi terpesona sama deathnote.
*ngeliat review gathering di halaman sebelumnya*
T____T
kalo dibandingin kalah jauh bangettt!! :’(
________________________________________
Post by: fr3d on July 28, 2008, 02:13:47 pm
________________________________________
Berhubung tema Sang Penandai udah reda, gw juga mau skalian meluruskan kalau sebenernya, seandainya gaya bahasa nyastra yang berlebihan di Sang Penandai dikurangin, novel itu justru bakalan bisa dinikmatin banget, karena ceritanya emang sederhana dan tujuan/tema utamanya jelas (meski endingnya gagal).

Ini juga buat gw mikir kalau mungkin (cuma mungkin, :P ) gw sebelumnya telah salah menilai Sang Penandai. Soalnya, gw menggunakan ekspektasi terhadap novel populer untuk menilai Sang Penandai yang padahal, mungkin niat awalnya emang dibikin jadi novel sastra, lalu barulah belakangan “diturunkan” derajatnya menjadi semisastra-semipopuler (?). Well, entah untuk tujuan apa? Menjangkau lebih banyak pembaca mungkin?
Yang jelas, “rujak” itu rasanya jadi kurang asik dan gagal.

Di lain pihak, kalau seandainya aja gw menggunakan kacamata sastra ketika membaca Sang Penandai dan menganggap gaya populer hanya sebagai “tambahan” belaka, maka mungkin justru Sang Penandai akan terasa lebih nikmat (cuma mungkin lagi, :P ).
(:D Puyeng ya?)

Gini deh,
Sang Penandai itu sekarang ibaratnya sirup yang ditambahin gula.
Padahal, (mungkin) seharusnya Sang Penandai adalah air gula titik, tanpa perisa buah-buahan.

Jadi,
@tere-liye,
“Matanya berbunyi air mata!” mungkin akan lebih pas. ;)

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on July 28, 2008, 07:27:06 pm
________________________________________
Quote
Jadi,
@tere-liye,
“Matanya berbunyi air mata!” mungkin akan lebih pas.

(buat yg udah muak gw ngomongin beginian, silakan diskip ;D)

Well, tentang metafora “Matanya berdenting air mata!”, akhirnya gw bisa menemukan konteks yang kuat mengena buat ngebantah elu-elu (semua! termasuk ewing, makmak, juunishi, serpentnyet :P ) yg tempok hari dengan
sotoynya mengecap metafora ini ‘salah/ilegal’ hanya dari sudut teknis aja. :P

Patut diketahui, di Sang Penandai tokoh Jim ini adalah seorang pemain musik–penggesek biola/pemetik dawai. Dalam beberapa scene, digambarkan bahwa Jim ini seneng maenin papan dawai, mendentingkan lagu-lagu di setiap kesempatan. Jadi akhirnya gw bisa dapet alasan kuat kenapa Tere Liye memilih metafor ‘berdenting’ ini alih-alih metafor lainnya yang lebih ‘benar’ secara de facto (minjem istiah om pur :P ).

Emang kalo berdiri sendiri, metafora itu mudah sekali diruntuhkan dari segi teknis.
Tapi kalo berdiri di buku sang Penandai, dalam hal ini gw kira konteks jatidiri Jim sebagai seorang pemusik bener-bener kena di metafora itu, sehingga sebetulnya faktor kesalahan teknisnya (sefatal apapun!) udah gak terlalu relevan lagi buat dipermasalahin.

Jadi ternyata, bener banged yang dibilang om pur, bahwa dalam sebuah novel, idealnya metafora itu dinilai gak dari segi teknis aja, tapi juga konteks yang mungkin cuma berlaku di novel itu.

Terlepas dari kesalahan teknisnya, kasus di atas cukup relevan kalo diibaratkan dengan dua metafora ini:

# 1.
Ia berangkat mengail kehidupan setiap subuh, dan telah menjadi umpan nasib dari semenjak bocah.
# 2.
Ia terbiasa membedah kasus dengan pisau analisis.

Metafora # 1 pas kalo tokohnya seorang nelayan, tapi agak gimanaaa gitu kalo tokohnya detektif.
Metafora # 2 pas banged kalo tokohnya seorang detektif/dokter bedah yang nyambi jadi detektif :D , tapi tidak kalo tokohnya nelayan.

Yah… kira-kira gitulah poin gw.
Ah eniwei, sudahlah tak usah didebatin lagi, suer kapok mampus gw abis dijailin genderuwo malem minggu kemaren x___x

@om pur,
Quote
Kalo gue terapin penilaian gue ala ke Lemures, maka Lanang akan mendapat label pretensius dengan huruf P besar, diunderline dan di bold sekalian. (Rey, silakan bangga atau tersinggung, terserah lo deh,… hehehe)
Entah apa yg dilihat oleh Juri DKJ 2006. Mungkin mereka punya definisi sendiri buat sastra, yang diluar jangkauan orang-orang awam kayak kita

wah kalo gitu ane bangga lha, berarti lemures ane punya kemungkinan menang donk kalo ikutan lomba DKJ ;D ;D
Eniwei, kan yang jadi pertimbangan juri bukan cuma gaya bahasa aja, siapa tauk walau gaya bahasanya cacat/pretensius, tapi plot, karakterisasi, tema, riset, greget novelnya bener-bener mumpuni.

Quote
Buat gue udah jelas. Seni, mo dalam bentuk apapun, pasti punya ‘rasa’ yang akan menunjukkan bahwa ekspresi yg dipilih tersebut pas atau mengada-ada. Itu sebabnya seniman selalu bisa memilih mana yg ‘nyeni’ dan mana yang ‘sok nyeni’.

Well, ini daku sepakat jugak bos, akhirnya. :-[
oh yap, dulu di tret ini, gw pernah nyebut gaya bahasa si Alk buat cuplikan 'Kael & Marina'-nya cenderung 'tidak jujur pada diri sendiri' (waktu itu gw belum kenal istilah 'pretensius' ;D), eh tauknya belakangan gw sendiri yg kena label itu. :-[

________________________________________
Post by: ewingerwin on July 29, 2008, 08:04:45 am
________________________________________Ikutan nimbrung soal gaya bahasa nyastra aaah.

Penggunaan gaya bahasa nyastra tu mirip bedah plastik. Di tangan seorang ahli yang bener-bener tau bidangnya, dia akan menghasilkan keindahan yang luar biasa ngelebihin Luna Maya atau Sandra Dewi atau bahka Aiswarya Ray. Nah, kita tau ketiga nama yang gw sebutin tu memiliki rupa yang wah. Lalu bagaimana dengan Mona Lisa? Apakah Mona Lisa cantik? Mungkin, tapi nggak semua orang bisa menikmati atau menemukan 'kecantikan'-nya. Karya seni tulis tu kayak gitu, ada yang keindahannya bisa diakses dengan mudah oleh publik, ada yang cuma bisa eksklusif
dinikmati oleh sekelompok orang tertentu setelah penelitian mendalam dengan kajian menyeluruh.

Sekarang pertanyaannya bagi para penulis adalah: Lu mau nulis karya tulis yang bisa dinikmati keindahannya oleh khalayak ramai, atau mau bikin karya yang super nyastra dengan gaya bahasa berbunga-bunga yang sulit dicerna oleh publik lengkap dengan risiko dicap pretentious?

Soal kutipan dari karya berjudul "Lanang", gw setuju, itu terasa super pretentious. Bikin kalimat indah nggak harus super berbunga-bunga kayak gitu. Kalimat yang singkat dan efektif tetap bisa menyampaikan keindahan/memiliki unsur estetika jika pilihan kata/diksinya pas dengan konteks.
Ah, iseng bikin satu kalimat sastra sesuai konteks protagonis yang seorang mekanik:
Matanya menurunmesinkan pelumas hati.

[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on July 29, 2008, 06:41:34 pm
________________________________________
gw baca komentar orang di goodreads ttg Lanang, pada bilang, “Lanang bukan untuk anak kemaren sore yang baru belajar sastra” ;D ;D
Itulah yg gw maksud dari kemaren-kemaren. Terkait jugak dengan omongan ewing yg ini:

Quote
Lalu bagaimana dengan Mona Lisa? Apakah Mona Lisa cantik? Mungkin, tapi nggak semua orang bisa menikmati atau menemukan ‘kecantikan’-nya. Karya seni tulis tu kayak gitu, ada yang keindahannya bisa diakses dengan
mudah oleh publik, ada yang cuma bisa eksklusif dinikmati oleh sekelompok orang tertentu setelah penelitian mendalam dengan kajian menyeluruh.

Well, Lanang juara kedua DKJ 2006, kurasa buku ini bolehlah diandaikan sebagai Monalisa. It’s oke kalo orang gak suka sama gaya bahasanya, yang entah apapun alasannya: karena terlalu awam dengan sastra, karena terlalu pretensius, karena norak. Tapi semenjak kualitas buku ini sudah ‘terbukti’ di DKJ 2006, rasanya kita gak lagi berhak menilai buku ini secara serampangan tanpa pernah ngebaca langsung keseluruhan bukunya.

Jadi dengan ini gw mau menarik stempel “norak” gw sebelumnya yg ditujukan ke cuplikan Lanang, karena gw kira, gak adil menilai buku secara keseluruhan cuma dari sepenggal cuplikan itu. Dan bahkan, betapapun noraknya suatu kalimat/paragraf yang terkesan sewaktu kita baca terpisah dari bukunya, kita tetap gak layak untuk buru-buru ngasih
stempel norak/pretensius. Toh bisa aja paragraf itu emang keliatan norak kalo berdiri sendiri, tapi jadi perfect/harmonis kalo berdiri di dalam bukunya, jadi satu kesatuan bersama paragraf-paragraf di keseluruhan buku.

Well intinya ginih, Monalisa emang gak cakep, tapi banyak seniman yg udah menyatakan kalo Monalisa punya aspek seni yg tinggi kan? Apakah ‘gak resek’ kalo ada orang buta seni yg mencak-mencak protes: “Lukisan cewek jelek gini kok dibilang masterpiece? Gw bisa gambar cewek yg jauh lebih cakep dan bahenol dari ini!”

Untuk dapat mengapresiasi suatu karya sastra sekelas Lanang (yg notabene menang di posisi kedua DKJ 2006) sejatinya dibutuhkan pengalaman, analisa mendalam, dan ‘lidah’ dengan kedalaman citarasa tertentu, dan ketika seseorang yg gak memenuhi satu-dua/bahkan seluruh syarat di atas dengan seenaknya ngecap norak/pretensius terhadap karya itu, relevankah komentarnya?

Maksud gw, kalo mau maen adil, jangan terlalu terburu-buru menilai segala sesuatunya dari kaca mata kita aja. ^-^

[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 30, 2008, 05:19:40 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 29, 2008, 06:41:34 pm

gw baca komentar orang di goodreads ttg Lanang, pada bilang, “Lanang
bukan untuk anak kemaren sore yang baru belajar sastra” ;D ;D

Ha ha ha,… gue ga bisa berenti ngakak baca komentar kayak gitu ;D ;D ;D
Karena sikap begitu memang udah lazim di kalangan seni, terutama di kalangan yang masih ‘tanggung’. Pemula bukan, master jugak belum, tapi belum sadar akan ketanggungannya.

Seorang master yg bener kagak akan ngomong begitu. Sebab maestro tahu bahwa justru bila karya seninya tidak bisa nyampai ke orang-orang kemarin sore, then sesungguhnya dia belum berhasil. Liat Pramudya. Terserah orang mau bilang apa buat pribadinya, tapi tak butuh seorang yang ‘pagi ini’ (untuk menyebut antitesis ‘kemarin sore’) untuk bisa
mengapresiasi karyanya.

Dan gue secara pribadi juga udah sering liat sikap kayak gitu dalam bentuk-bentuk kesenian yg lain. Memang ada sekelompok orang yang terlanjur menganggap dirinya udah ‘di atas awam’ dengan menggeluti suatu ekspresi seni tertentu. Entah, keterlibatan dengan seni memang sering memicu kesombongan alami tertentu dalam diri manusia. Yg lucu ya itu, kemudian muncul komentar-komentar yang sejenis yang umumnya merendahkan ke’kemaren sore’an orang lain.

Dan gue langsung tahu, yg ngomong begitu itu sembilan puluh sembilan persen biasanya justru orang-orang ‘tanggung’ yang sedang dalam perjalanan memahami Dunia ini dan dirinya sendiri. Dan orang-orang kayak gitu ya happens aja ada di mana-mana, bahkan dalam lembaga-lembaga tertentu :)

Jadi Rey, kalo menurut gue sih, jangan terlalu diambil kata-katanya secara face value. siapa tahu itu juga minjem dari orang lain ;) , yg minjem juga dari orang lain, dst.

Kalo gue, gue minjem pendapat bahwa seni akan ‘sampai’ ke manapun ia mengalir. Pada saat elo ketemu dengan ekspresi seni yang ‘benar’, maka it’s unmistakable, elo gak perlu jadi seorang ‘pagi ini’ untuk menerimanya. Mungkin kalo kita-kita anak kemarin sore akan menyerapnya sacara global, tanpa tahu bagaimana menguraikannya menjadi aspek-aspek analisis, sebagaimana yang bisa dilakukan seorang ahli. Tapi seperti juga CINTA, elo gak perlu dikasih tahu, elo akan tahu sendiri WHEN it comes.

Quote
Itulah yg gw maksud dari kemaren-kemaren. Terkait jugak dengan omongan ewing yg ini:

Quote
Lalu bagaimana dengan Mona Lisa? Apakah Mona Lisa cantik? Mungkin, tapi nggak semua orang bisa menikmati atau menemukan ‘kecantikan’-nya. Karya seni tulis tu kayak gitu, ada yang keindahannya bisa diakses dengan
mudah oleh publik, ada yang cuma bisa eksklusif dinikmati oleh sekelompok orang tertentu setelah penelitian mendalam dengan kajian menyeluruh.

Ah, kalo gue memahaminya secara gak berbeda. Untuk menikmati seni, memang tetap ada prasyarat, yaitu kemampuan menerima medium yang menjadi perantara seni tersebut. Contohnya sastra, tentunya ada syarat
menikmatinya, yaitu pertama bisa baca, dan kedua menguasai bahasa yang sama.

Seni lukis juga ada persyaratan selain bisa melihat dan ga buta warna, yaitu harus tahu apa-apa saja yang perlu dilihat dalam menikmati lukisan. Kalau seseorang sudah memiliki persyaratan ini, maka karya seni itu bisa dinikmatinya. Tambahan-tambahan informasi akan membuat jendela apresiasinya lebih terbuka lagi. Tapi bahwa sebuah corat-coret jelek akan terlihat jelek di matanya, biarpun orang-orang lain berusaha meyakinkan hal sebaliknya, itu sudah hukum alam dalam seni.

Maka bisa aja orang awam bilang monalisa jelek, karena simply dia belum tahu bagaimana cara menikmati seni lukis. Sebagaimana orang buta huruf akan menggunakan catatan harian bernilai tinggi sebagai kertas toilet, atau orang suku terasing menggunakan cek tunai bernilai seratus juta dollar untuk melinting rokok :o .

Quote
Jadi dengan ini gw mau menarik stempel “norak” gw sebelumnya yg ditujukan ke cuplikan Lanang, karena gw kira, gak adil menilai buku secara keseluruhan cuma dari sepenggal cuplikan itu. Dan bahkan, betapapun noraknya suatu kalimat/paragraf yang terkesan sewaktu kita baca terpisah dari bukunya, kita tetap gak layak untuk buru-buru ngasih
stempel norak/pretensius. Toh bisa aja paragraf itu emang keliatan norak kalo berdiri sendiri, tapi jadi perfect/harmonis kalo berdiri di dalam bukunya, jadi satu kesatuan bersama paragraf-paragraf di keseluruhan buku.

Kalo saran gue sih, jgn buru-buru narik stempel norak itu untuk di cap lagi kemudian ;D ;D ;D. Udah, baca aja dulu sampai tuntas, baru kasih pendapat! He he he,.. stempelnya disimpen aja dulu. ;)

Gue udah baca sampai halaman 32 :o (Gosh, seorang Fapur baru baca sampai segitu??). Terus terang majunya tersendat-sendat. Abis gimana, geli sih. Baca bentar,… geli,… tarok. Ambil lagi buka lagi,… geli lagi,… tarok. Sumpah, memang novel ini tidak membuatku memunculkan reaksi alamiku yang biasa kalo gue baca buku jelek, yaitu tertidur :P . Reaksinya bener-bener baru, di luar kebiasaan (Heheheh, mungkin di situlah aspek ‘seni’ nya! [rolleyes]).

Masak, burung babi hutan adalah perkawinan genetik antara burung dengan babi hutan. Dan pemikiran ini disounding oleh seorang scientist (dalam buku ini). Dan orang-orang seniman ‘pagi ini’ itu berani ada mendaulat buku Lanang sebagai “Science Fiction”???

Tapi iya lah, baru halaman 32, masih kemarin sore, pulak? Bisa ngomong apa, aku? :P

Mendingan kasih hadiah kutipan ini aja deh, salah satu yang pastinya telah membuat ‘orgasme’ para seniman ‘pagi ini’ itu. (Jangan salah, istilah orgasme adalah sebuah istilah dengan muatan seni yang luar biasa kontekstual, secara novel lanang memang diposisikan sebagai novel yang aspek seksualnya tidak dapat dipisahkan dari plot, demikian menurut
komentar salah satu ahli dalam diskusi buku Lanang :) )

==========================
Detam-detam sepatu pada lantai beradu degam dengan degup jantung dan paru-paru kempang kuncup, membawa tubuh-tubuh itu beradu cepat keluar dari ruang, namun tertumbuk pada suara keras nyaring yang diteriakkan
seorang lelaki yang tergopoh-gopoh masuk lewat pintu halaman depan.

“Celaka! Celaka!! Gawat!!! Sapi-sapi perah tak tertolong!! Seperti domino jatuh beruntun!!…”

Keringat mengucur menghujani lantai kantor koperasi.

==========================
(hal. 28-29)
;D ;D ;D
Yo wis, ayo baca lagi,…..
Salam,
FA Purawan

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi VI (3 Mar 2008 – 14 Mar 2008)

  • Down ditolak penerbit?
  • Hal apa yang paling penting dalam novel fantasi?
  • Gaya Bahasa vs Plot

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: alk on March 03, 2008, 09:40:36 pm
________________________________________
@ didie-sy
sekedar comment…
gw juga udah baca GORAN, reviewnya om blood dah mantep kok,
plot bagus, gaya cerita menarik, karakterisasi hebat, ending… mengenaskan… :’(
yg ga puas sama GORAN gara2 endingnya kali, tapi…
judulnya GORAN – Sembilan Bintang Biru, bintang biru yang keluar di cerita baru 3,
logikanya… pasti ada kelanjutannya ntar :D
mungkin jadi trilogi, atau tetralogi, atau pentalogi.
liat aja nanti. ;D ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 03:14:48 pm
________________________________________
Quote from: didie-sy on March 03, 2008, 03:04:04 pm
aloooo semua :-*
aloo blood sin,aku didie n jarang maen-maen ke pulau penulis
tadi aku udah posting siy tp ga tau masuk ga?aku dikasi tau tentang goran sama temenku tapi masi ragu.
review lo tentang goran kok beda banget sama review kobo chan di kutu buku.com?dia negatif gitu.kynya kalian baca buku yang beda ya?yang bener yang mana?

halo didie-sy, salam kenal juga :-* (lagi2 ketemu ama yg batangan(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif), tp gpp deh, eke tetep welcome yey :-*)
gw udah baca review versi dia… yg ini kan:

http://www.kutubuku.com/review/kobo-chan/goran—sembilan-bintang-biru.html

?
kalo yg gw liat, dia protes (ane lg menggebu2 ngikutin eniyorda pas ngebelain hozzo ceritanya nih :P ):
1. knp tokohnya bukan orang indo?
2. terus… knp dalem planet vida, ada istilah2 bahasa inggris?

poin 1 bener2 subjektif sifatnya… dia menilai itu murni pake selera dia… payah banged dah(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
hmmm.. kalo dia terus pake standar ini buat menilai fantasy2 indo, gw jamin dia kagak bakalan ada puasnya, secara hampir semua fantasi lokal yg udah terbit bersetting non-indo. (cuman 1-2 doank setau gw yg settingnya indo, itupun cuman depan2nya aja, kayak hozzo/numeric uno :P )

yg poin 2, dia bener2 blunder tuh, gak ada orang/istilah vida yg pake bahasa Inggris!
justru disini gw salut sama pengarang bisa kepikiran bikin ‘bahasa ajaib’ dari bahasa inggris yg dibolak-balik.. :D
serius gw ngakak pas baca dialog2 ajaib Soil..
kalo gw bilang sih, review nih orang bahkan lebih nyebelin dari review si ‘FP’ (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)

hmmm.. gw gak bisa nentuin ente bakal demen apa kaga sama novel ini, tapi kalo mengukur dari segi plot, setting, gaya bahasa, jokes, GORAN ini yg paling ‘fleksibel’ buat diterima semua kalangan dibanding novel2 fantasi lokal laennya..

maksud gw, ga peduli tuh orang dari aliran RPN/LOTR/HarPot, harusnya bisa dapet mood kalo baca GORAN.. novel ini gak seserius novel fantasi kebanyakan, tapi juga gak seenteng novel2 tenlit.. pokoknya ‘seimbang’ dah. jadi harusnya target pembacanya cukup luas.. makanya gw sebut dia ‘the best novel fantasy indo’ dari semua yg pernah gw baca..
tapi tergantung selera juga sih :P

[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 05, 2008, 03:37:31 pm
________________________________________
btw, rey, penjelasan lanjutan lu tentang goran cukup obyektif nih. salut.
tapi memang, namanya pembaca pasti akan menilai berdasarkan selera masing-masing. dan pasti akan ada yang positif dan negatif. bahkan seorang kritikus yang katanya mumpuni pun sebenarnya menilai berdasarkan seleranya pula.
jadi jika ada yang berbeda pendapat, ya nikmati sajalah… heheheheh…
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 03:48:53 pm
________________________________________
bukannya gw gak mau menerima beda pendapat bang.. :D
gw paling sebel kalo ada orang yg nge-review novel udah kaya pemain sepakbola ngomentarin pemain basket..
dia protes kenapa pemaen basket boleh megang bola, jumlah pemainnya cuman lima, ga ada kiper, dll..
kalo menurut gw sih kurang bisa berpikir luas tuh orang :P
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 04:01:25 pm
________________________________________
tapi ya.. sebetulnya wajar juga sih ada juga orang-orang yg protes kalo ada penulis indo yg nulis pake setting asing..
sebetulnya sih, ini tergantung dulu.
kita liat dulu gmn si penulis mendeskripsikan setting asing dalam ceritanya, ‘berhasil’ apa kagak?
kalo yg gw liat di GORAN, penulis udah cukup berhasil ngebawain setting jepang sama tiongkok dengan kebudayaan2nya.
buat contoh, di GORAN tokoh aniki dikejar2 ama cewe..
secara statistik ini valid, di jepang emang lebih banyak cowo yg ditembak cewe daripada sebaliknya.
gw justru ilpill kalo ada penulis yg berani bikin setting barat, tapi gaya idup/kebudayaan yg berlaku di settingnya itu malah mirip ama gaya anak jakarta.. kalo nemuin yg kayak begitu, gw jadi ngerasa kayak nyaksiin adegan2 yg diperanin ama ‘bule celup’ :P
ada beberapa novel fantasy indo yg kayak begitu. dan emang justru setting luar-nya itu malah jadi kecacatan..
tapi ada juga novel2 fantasi indo bersetting luar yg sukses nampilin setting luar-nya, dan mestinya, yg kayak begini udah ga bisa dihujat lg dari segi settingnya..
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 05, 2008, 04:15:52 pm
________________________________________
yeah…
elu bener lagi…
apalagi kalo liat cerita bersetting barat tapi dengan gaya bahasa ‘elu-gue’. duh duh duh…
mbok ya gaya bahasa itu disesuaikan dengan setting dan karakternya…
btw, kalo aku pribadi sih, bagus kalo kita bisa bikin fantasy yang bersetting lokal. tapi kalo emang kita merasa lebih cocok membuat setting barat, timur, utara, selatan atau bahkan antah berantah, dan ini lebih nyaman buat kita, ini lebih bagus. apalagi jika riset kita soal setting ini juga bagus, hasilnya tentu dijamin bagus pula dah.
________________________________________
Post by: clickdian on March 06, 2008, 12:43:00 pm
________________________________________
# Lia
What’s on you?
Bener down karena ditolak penerbit?
Hmm.. itu mah biasa.. ga perlu malu, ga usah mundur, apalagi sampe kehilangan kepercayaan diri.

Gini lho.. naskah ditolak bukan berarti naskah jelek atau penulisnya tidak berbakat. Seringkali karena rule dan kondisi dari penerbitnya.
Misal… penerbit hanya mau menerbitkan genre tertentu, smntara kita ga tau itu dan mreka ga publish mngenai rule ini.. maka karya di luar genre tsb otomatis dieliminasi.

atau, naskah bagus tapi setelah dipertimbangkan ternyata diprediksi tidak sesuai/ tidak akan banyak permintaan pasar. ini mah ilmu ekonomi ikut bicara, aq ga banyak tau soal ini.

atau…. selera editor, seperti yg kita ketahui setiap org kan seleranya beda2 (contoh nyata deh, Rey bilang Goran bagus, tapi aq–walopun emang ngejogrok di genre fiksi fantasi–ampe sekarang belum punya keinginan untuk baca sama sekali). editor penerbit A bisa jadi akan mengatakan hal yang sebaliknya dengan editor penerbit B untuk naskah yang sama.

kalau naskah kamu ditolak, bisa jadi karena ketiga hal ini, atau hal lain yg aq belum mention di atas.
but anyway, mundur bukan jalan terbaik, menurut aq, ya. kamu cuma belum dapet jalannya aja. tunggulah, semua akan indah pada waktunya…

ngomong2 soal ditolak.. aq pernah tuh, masukin naskah ke gramed, dan ditolak dengan sukses ;D
naskah itu terus aq masukin ke penerbit lain, yang editornya bilang sebenernya bagus, cuman dia bingung mau masukin ke genre mana, walhasil tu naskah setaun lebih nangkring di meja dia detik reply ini diposting! T_T
digantung, tuh, bageuuussss… :D

mending ditolak, kan, ada kepastian iya ato nggaknya ;D
tinggal kirim ke penerbit lain, berdoa, menunggu, beres.

So, kembalilah.. *duh, telenovela banget yah? :D *
Kita discuss lagi, poles lagi, dan jadi lebih baik. Dan someday, kalo kamu inget pernah ditolak, kesuksesan kamu akan lebih terasa nikmatnya ;)

[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 10, 2008, 07:39:37 am
________________________________________
belakangan ini gw suka bingung kalo masuk sini mau posting apaan :P
lagi keabisan topik diskusi yak.. :D
hmm.. gw selaku TS bikin bahasan baru dech.. :-* :D

menurut kalian para penulis fantasi, mana yg lebih penting antara:
-plot
-karakterisasi
-gaya bahasa
-setting
-jokes
dalem sebuah novel fantasi?
hmm.. gw mau liat proporsi selera lu orang berdasarkan prioritas (urut dari prioritas 1 sampe 4)..

kalo gw pribadi sih:
1. plot
2. setting
3. karakterisasi
4. gaya bahasa
5. jokes (gw gak pinter bikin jokes :P )
hmm.. ato mungkin yg laen mau nambah elemen2 lainnya? ???
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 10, 2008, 08:42:34 am
________________________________________
refrensi rey..
itu penting banget.

sekalian deh,

buat penulis Hozzo

sebelumnya, makasih udah memberikan pinjaman bersyarat atas buku anda. selain itu, saya sebagai pembaca berterimakasih atas “KERAMAHAN” anda atas komplain saya beberapa waktu lalu atas betapa jeleknya sebenarnya sosok hege yang sebenarnya :P .

nah memasuki hal inti, sebelumnya mohon maaf karena ini adalah tanggapan pribadi atas apa yang saya baca. jika ada yang kurang berkenan, mohon dimaafin :P

buku itu beneran deh, kek perpustakaan berjalan. bikin pala pusing kala dibaca malam2, tapi akan sangat menyenangkan jika dibaca pagi-pagi buta. perjalanan yang aneh, butuh konsentrasi untuk ikut serta dalam perjalanannya. nah berhubung bacanya tak selalu konsen jadi bagian perjalanan ke Tudag ga bisa ngebayangin jenis pulaunya begimana. tapi saat berkendara dengan pla-veos, hee… keren oe..

nah, terlalu banyak hal baru yang ada di buku ini, jadinya semua hal-hal fantasinya terasa datar. mungkin karena diceritakannya secara umum kali ya, tapi ada beberapa detail yang tak bisa aku bayangkan penggambarannya, seperti semangka bergerigi ataupun pintu yang membuka dengan gerakan silang (saat di ruang inkubasi)

yang menarik juga yaitu, tentang kehidupan para alien di planet huminiz. ternyata, biarpun penulisnya mau membuat setting tempat yang berbeda, tapi kesan bumi masih melekat. tentang sebutan rumah sakit, dokter dan tukang kebun. kenapa tak dibuatkan sebutan yang lain, untuk menghilangkan kesan kalau mereka masih di bumi?

selain itu, ALIEN, merupakan sebutan orang-ornag bumi pada makhluk luar angkasa, tapi kenapa sih para makhluk luar angkasa masih juga menyebut sesama mereka dengan sebutan alien.sekali lagi, kenapa mereka tak punya merk untuk jenis mereka,

untuk tokoh utamanya, entah karena aku yang kurang konsen atau emang tak disebut, aku tak tahu umur Alan berapa ya? hee… maaf kalau di buku udha disebut ya
tapi pembicaraan dan pola pikir mereka sedikit terllau dewasa untuk anak remaja seumuran mereka.

pemakaian sebuah istilah yang tak konsisten.
WANITA ALIEN dan ALIEN WANITA timbul bergantian.
Nah kepada bang Villam, master bahasa, coba mana sih diantara istilah itu yang tepat untuk menunjukkan alien yang berjenis kelamin wanita?

secara umum, buku ini hebat. refrensinya komplit dan benar-benar mendukung. tak salah plotnya disusun dalam dua tahun (plotna aja mbo.. apalagi bukunya coba ;D). aku maish nungguin buku lanjutannya yang entah kapan nyusul terbit (tentunya minjem gratisan lagi yak. hee ;D)

dan mungkin seperti seseornag yang disebu penulis, buku ini ngebuat aku minder sendiri. huu… :’(
________________________________________
Post by: hege on March 10, 2008, 10:24:42 am
________________________________________
Terimakasih untuk TS kita tercinta untuk bahasan barunya, mari tingkatkan kualitas thread tersayang ini. Post seperlunya dengan topik bermutu dan memang pantas didiskusikan.

Semua itu penting, semua mendukung kualitas cerita, tapi kadang kala beberapa lebih menonjol dari yang lainnya.

Menurut hege Gaya Bahasa atau bentuk tulisan menduduki peringkat pertama, karena itu love-at-the-first-sight, apalagi untuk editor, paragraf2 pertama novel adalah harga mati, gak peduli sekeren apa ceritanya di dalam, atau seganteng apa karakternya di dalam. Bentuk tulisan sangat menentukan betah-tidaknya pembaca untuk melanjutkan.

berikutnya dengan porsi baik, pas dan seimbang: plot, setting, karakterisasi dan humor sense (hege tak menyebutnya jokes, karena kadang kala humor sense itu ga mesti jokes yg bikin ngakak, tapi kalimat-kalimat yang membuat pembaca antusias, takjub dan terbius)

@arik
terimakasih atas reviewnya. Sangat kuhargai. Mengenai istilah dan sebutan di planet Huminiz, oh tentu hege sudah menterjemahkannya ke dalam bahasa bumi, dan itu penting untuk pemahaman dalam membaca (well tentu saja kan?). Jika arik penasaran, zooke adalah sebutan tukang kebun dalam bahasa Humin, Var adalah sebutan dokter, dan banyak lagi yg lain. Tapi itu akan semakin memusingkan pembaca bukan? (ada ratusan istilah baru yg telah kuciptakan di novel ini ;D)

mengenai sebutan alien, oh pls rik, penggunaannya hanya untuk pemahaman pembaca saja, sekali lagi, terlalu banyak ras yang ada di planet luar sana untuk hege ciptakan sebutan, hehehe. Lagipula Wet dalam bahasa bumi menerjemahkannya seperti itu.

Tentang semangka bergerigi dan pintu terbuka dengan gerakan menyilang. Come on, anak SD pun bisa membayangkan itu ;D

but once again thanks so much for your review, rik (ini review pertamamu bukan?) semua review pembaca (lewat buku pinjaman atau beli) sangat berharga untuk saya.
—-

[tab:Hal 5]

________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 10, 2008, 01:44:17 pm
________________________________________
1. Klo aku setuju ama Hege, gaya bahasa tuh paling penting dlm sebuah karya.
Coz gaya bahasa nunjukin keunikan and ciri khas dr seorang penulis itu.
Mgkn bisa dibilang seperti identitas gitu dech!
2. Truz Setting, membangun suasana negeri fantasy tuh sulit, jd penting banget klo ini diprioritasin.
Semakin oke setting, bakal lebih mudah membuat pembaca seakan bisa ikut ‘tersedot’ di dlm dunia fantasy itu.
3.Plot.
4. Karakterisasi, semakin baik penggambaran karakternya maka pembaca bisa kenal lebih deket ama para tokoh.
Asyik banget kalo pembaca bisa menyelami kepribadian tokoh2 kita and seakan2 pembaca kenal baik ama para tokoh.
5. Jokes? wah, selera humorku ga bagus. jadi kayanya ni kelemahanku.
Ada solusi?
Btw, ni smua pendapatku lho!
Gimana pendapat yg laennya?
________________________________________
Post by: alk on March 10, 2008, 08:55:37 pm
________________________________________
bagiku:
1. plot (gaya bahasa penting buat first impression, tapi tetep aja kalo plotnya nggak mengesankan, sebentar juga dah lupa ceritanya)
2. gaya bahasa + jokes (menurutku sih, jokes masuk dalam gaya bahasa juga)
3. karakterisasi (nggak seru kalo karakternya nggak bisa dibayangin ;D)
4. setting (biarpun urutannya bawah gini, ga berarti ga penting nih >:()
5. referensi (kalo ada bagus banget, kalo ga ada… ya diadain lah ;D)
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: hege on March 12, 2008, 11:19:10 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on March 11, 2008, 07:53:20 am
>Quote from: hege on March 10, 2008, 02:16:56 pm
>baca novel2 dengan selera humor layak akan membantu
>Rowling, RL Stine, Roald Dahl, Tolkien’s Hobbit
RL Stine gada lucu2 om, serem mah iya :P
Hmm.. setelah gw pertimbangkan secara mendalam, selera humor sama sekali gak bisa diukur.
Penulis fantasi ga bakal bisa ngerti/ngakak baca humor2 ala teenlit, dan begitupun sebaliknya. Jadi, sebetulnya kita gak bisa menjudge suatu bacaan kocak mampus/jayus kronis tanpa mengatasnamakan “menurut gw/aku/ane/eike”.
kalaupun ada pengecualian di mana ada pembaca yg ngakak baca teenlit maupun fantasy maupun jenis2 bacaan lainnya, berarti sang pembaca itu emang memiliki selera humor yang fleksibel.

Jadi yang susah adalah, bagaimana menciptakan humor yang diselerai masyarakat luas (dari berbagai kalangan pembaca)?

Selera humornya RL Stine agak-agak miring dan mengerikan, but I really really liked it… oh hege itu penggemar berat RL Stine. Phil itu karakter yg dipengaruhi banyak karakter di Goosebumps (buku-buku karangan Stine terjual lebih dari 300 juta eksemplar ke seluruh dunia dan terjemahkan ke dalam 28 bahasa)

Once again rey, hege menyebutnya Humor sense, bukan sekedar isi jokes atau lelucon atau hal-hal gokil lain yang bikin ngakak. Humor sense itu terkandung dalam tulisan, dan itu sangat mempengaruhi betah tidaknya pembaca. Hege membaca beberapa teenlit-nya Meg cabot, serius keren kok (meski beberapa penerjemah gramed mengacaukan beberapa novel beliau) dan hege impress akan humorsense-nya doi. dari banyak buku2 best seller lain yg hege baca, kuambil kesimpulan, humor sense yg baik akan menarik lebih banyak pembaca.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 12, 2008, 01:30:58 pm
________________________________________
halo semuanya…
apa kabar?
proyek menulisnya masih berjalan semua kan?

bagus-bagus nih pembahasan di beberapa halaman terakhir, tentang mana yang paling penting dalam sebuah novel fantasi. aku bisa banyak belajar. :-)

tentang gaya bahasa, hege benar, itu penting buat menumbuhkan ‘cinta pertama’. serius, ini memang sangat penting. walau sebenarnya, istilah ‘gaya bahasa’ ini terlalu sempit, yang lebih luas dan cocok sebenarnya adalah ‘cara menyampaikan cerita lewat jalinan kata dan kalimat’ (halah…).

tapi, menurutku pribadi sebagai pembaca, bukan gaya bahasa yang bisa bikin aku bertahan baca novel sampai akhir, melainkan ceritanya, yang berisi plot n karakter.
udah banyak kasusnya, cerita dan novel yang kututup di tengah jalan atau bahkan di dua halaman pertama, yang walaupun bergaya bahasa bagus dan mengalir, tapi karena aku gak sreg sama plot dan karakternya, ya udah gak kubaca lagi. apa boleh buat. yeah… tentu saja ini hanya menurutku…

mendingan mana tuh?
cepet jatuh cintanya tapi cepet patah hati juga?
atau lambat jatuh cintanya, tapi langgeng sampai akhir?
wkwkwkwk

sementara untuk setting, itu bagus untuk menambah suasana dan masuk ke dalam cerita. yeah… penting juga, terutama untuk menegaskan bahwa cerita kita adalah cerita fantasi. tapi di urutan berikutnya deh…
sedangkan jokes, menurutku bisa disetarakan dengan romance, action, atau sex scene. semuanya adalah bumbu untuk menarik perhatian pembaca. umumnya hal-hal ini disukai pembaca, dan berarti penting juga. tapi aku pribadi menempatkannya di bawah faktor-faktor lainnya yang telah disebutkan.
yeah… hanya pendapat bodohku saja…
mari menulis lagi.
________________________________________
Post by: kokonoka on March 12, 2008, 03:32:39 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on March 12, 2008, 01:30:58 pm
mendingan mana tuh?
cepet jatuh cintanya tapi cepet patah hati juga?
atau lambat jatuh cintanya, tapi langgeng sampai akhir?
wkwkwkwk

Point yang bagus buat dipikirkan!
mau nanya kecepatan menulis orang kan beda2. Dari sudut pandang pembaca, mending “my pace” tapi jadinya puas atau rilis berkala yang cepet tapi kurang puas?
Abisnya kadang mood dateng pas lagi sibuk2nya.. eh pas lagi senggang idenya belum keluar..
Selain itu gimana mengakali supaya pembaca ga bosen? terutama kalo Act yang kita tulis panjang sampe beberapa bab (dengan perubahan setting yang minim dan karakter yang itu2 aja)

[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: hege on March 12, 2008, 04:10:16 pm
________________________________________
Koko,
biar ga bosen? gimana bisa bosen sih? kalau ga ada greget di dalam tulisan/ceritanya sih mau sependek apa juga pembaca bisa jadi bosen. Artinya, setelah rangkaian karakter,plot, penulisan, setting dengan kadar dan posisi pas, apik, rapi dan jali, ceritanya takkan pernah mengebosenin, trust me! ::)

All,
beberapa tips memancing minat pembaca untuk membaca tulisan kita sampai selesai dan takjub.
1. Twist di akhir bab, ini sangat menyenangkan, it works for me, actually, hehehe..
2. pakai atau selipkan tokoh2 yg ekstraordinari dalam cerita, ini pasti berhasil, pasti! (masalahnya, karakter2 ekstraordinari sulit sekali dibuat, bahkan oleh penulis yg jam terbangnya tinggi)
3. stop cliche things, oh please guys! buatlah sesuatu yg gak sering dibuat orang, dengan begini ceritamu lebih cepat melejit.
4. Terakhir, (ini bukan untuk mematahkan semangat siapa2 yak, heheheh) kalau ceritamu terus-menerus jelek dan tidak enak dibaca, segimanapun usahamu, bahkan setelah menulis jutaan kali dengan usaha sekeras-kerasnya, bahkan sampai berguru dan belajar nulis ke mana-mana. menyerah saja, mungkin hoki dan bakatmu tidak disitu.
nb. kalau belum nyerah juga, teruslah berusaha dan berdoa, cita-cita dan mimpi itu milik semua insan.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 12, 2008, 05:23:34 pm
________________________________________
1. bagus, kokon. silakan dipikirkan ya… heheheh…
2. saranku, buat dirimu lebih puas lebih dulu, baru puaskan orang lain. (dalam konteks ini ya… dalam soal lain, lebih indah memuaskan orang lain terlebih dulu. hehe…)
3. hmm… mungkin harus ada kejutan di setiap 5 halaman. sesuatu yang baru dan bikin orang penasaran. jadi kepikir juga cerita Robinson Crusoe atau film Cast Away-nya Tom Hanks, kok gak bosen ya walaupun tokohnya cuma satu, dan di satu pulau lagi…

@all,
ada yang sudi menyerah sekarang?
hihihihi…

oya tambahan…
di halaman berapa tuh arik pernah nanya mana yang bener:
‘Wanita Alien’ atau ‘Alien Wanita’.
kalo dianalogikan dengan : ‘Wanita Indonesia’, ‘Wanita Jawa’ ataw ‘Wanita Jepang’,
mungkin ‘Wanita Alien’ benar.
tapi kalo dibandingkan dengan : ‘Manusia Wanita’, ‘Jin Perempuan’ ataw ‘Singa Betina’,
mungkin ‘Alien Wanita’ juga benar.
jadi… bingung juga sih… hehehe…
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 13, 2008, 08:07:01 am
________________________________________
Villam, setelah kupikir, jika ditinjau dari segi Menerangkan Diterangkan,
Wanita Alien ==> lebih menekankan pada wanita, dengan alien sebagai unsur menerangkan spesifikasi jenis wanitanya.
Alien Wanita ==> lebih menekankan pada alien, dengan wanita menjelaskan jenis kelaminnya.

tapi dari buku hozzo, istilah alien wanita cuma seklai muncul (ini penulisnya rasanya ge-er deh aku ngebahas istilahnya dia). yah jika disesuaikan dnegan telinga, kekna aku lebih menarik jika memakai alien wanita. karena kedengarannya wanita hantu itu agak aneh… ;D
but, sudahlah, toh juga revisi udah dikirim dan menunggu penolakan enam bulan lagi. wkwkwk .. peace… ;D

gus, aku ga ngerti poin2na, jangan pke bahasa inggris atu….
yah, tapi jadi penikmat juga kadang menyenangkan. :)
________________________________________
Post by: hege on March 13, 2008, 10:01:36 am
________________________________________
minimal 3 bulan untuk keputusannya, jangan libatkan pengalaman pribadi yak ;D. hege pasrah saja pun jika ditolak. masih ada penerbit-penerbit cadangan ::)
btw, hege lebih suka menggunakan istilah Wanita alien (contoh: wanita alien Hezezoic), and its NOT a big deal, demi langit dan bumi. Banyak hal yg bisa dikritik dan didiskusikan selain hal-hal sepele gini.
Rik, poin-poin mana yg tak berhasil dicerna otakmu? Tips itu? I dont explain thing twice, thank you.

[tab:Hal 7]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 14, 2008, 11:48:43 am
________________________________________
hayah gw tinggal dua hari nih tret udah cukup banyak postingan berbobotnya (walo ada jg dua orang yg keliatan banged mesra2annya :P ), elu orang emang keren semua dah(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)

Udah gw duga, berdasarkan tulisan2 elu orang yg pernah gw baca, jawaban dari setiap orang disini bakalan beda2 buat pertanyaan priority itu.
Bisa gw ambil konklusinya, ada dua pendapat dominan disini:

Gaya Bahasa VS Plot

Sepakat sama Villam, terus terang gw pribadi lebih condong ke plot, karena bagaimanapun juga, yg kita bikin itu novel, bukan katalog lelucon/kuliner/wisata jalan2(i poin no finger, i name no name :P , tapi kalo ada yg ngerasa kesambit, (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif) aja deh). Harus ada suatu ide dasar yang kuat untuk plot yg ditulis, yg syukur2 plot itu bisa dibikin secerdas mungkin, gak bertele2, dan gak klise.
Cerdas disini maksudnya adalah menciptakan rangkaian logika dalam plot.

Kalo ada tokoh antagonis setengah dewa yang kekuatannya tak terkira (yg udah digembar-gemborin dari awal sampe akhir cerita), ya konsistenlah thp karakter itu. Jangan nantinya ada tokoh protagonis yg mendadak dengan kekuatan bulannya, malah bisa ngebabat tuh si antagonis… ini gak asik sama sekali. Harus ada solusi yg logis untuk setiap permasalahan yang dihadapi.

Di lain sisi, karena yg dibikin itu novel, dan bukanlah film/komik/anime/lagu/karya seni lainnya, keahlian merangkai kata-kata juga gak kalah penting. Dalam hal ini gw sepakat sama Hege. Ketika kita beli sebuah buku, apa yang kita dapat? Cuma lembaran-lembaran kertas dan hamparan kata-kata..(halah..–ngikutin gaya bang villam :P )

Film, komik, novel, semuanya sama2 menampilkan cerita. Tapi novel hanya berisi kata-kata, gak ada sound, gambar, atau video untuk mendukung cerita yg ditampilkan. Satu-satunya yang akan ditemui pembaca cuma kata-kata, dan mau gak mau kita mesti menyajikan kata-kata itu sespesial mungkin buat menggantikan sound, gambar, video yang gak ada itu.

Menurut gw, menulis novel dengan gaya bahasa (dan dialog) datar* sama aja kaya mencoba menyajikan nasi goreng tanpa bumbu. Nasi goreng itu emang bisa diabisin, sesendok demi sesendok, tapi itu akan menyiksa si pelahap nasi goreng itu.

Dengarlah kawan, yang kita tulis itu novel, bukan berita surat kabar ato daftar belanjaan! :)

*)’Bahasa datar’ yg gw maksud disini gaya bahasa orang tamatan SD.

Jadi, thanks to hege and villam, dimensi plot dan gaya bahasa sama2 vital, dan gak boleh keteteran satupun dari keduanya. ;)

Selain dua hal itu, ada hal lain yg mau gw sorot, karena cukup banyak fantasi lokal yg udah pernah gw baca miskin atau bahkan gak memiliki satu hal ini: greget–thanks to hege.
Betapapun orisinil/apik/keren sebuah jalinan plot, kalo ga ada greget, pembaca akan mudah sekali bosan. Kecakapan menulis dialog, mendeskripsikan kronologi antar peristiwa, menyusun dan memotong scene2, amat diperlukan disini… ga peduli mau novel genre apa, yg namanya greget itu penting, novel tanpa greget ibarat orang ga ada semangat.

Udah ah, gw bukan senior apalagi master, tapi udah ngebacot panjang kek begini… jadi malu(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)

Salam Dangdut
(Aiih gw emang TS yg ganteng dan bijak..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif) eh kalo kek gini gw netral ato menikam semua orang yak?)
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 14, 2008, 12:46:10 pm
________________________________________
jadi kesimpulannya, menulis itu memerlukan seni dnegan beragamn faktor yang mempengaruhi. bukankah itu artinya semuanya penting rey, cuma tergantung kemampuan kita untuk menambal faktor mana yang kita bolong dengan meninggikan faktor lain yang dimana kita ahli.

Comments No Comments »