Posts Tagged “guneye”

[tab:Hal 1]Sesi XIII (23 Mei 2008 – 3 Jun 2008)

  • Bagaimana memulai adegan baru tanpa mengurangi mood pembaca
  • Tentang GunEye karya Ramaditya
  • Naskah Yang Memikat Editor oleh Anwar Holid
  • Tentang retire from writing fantasy

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on May 23, 2008, 01:52:51 pm
________________________________________
padahal cuman iseng posting, eh langsung dibantai tanpa ampun, wuakakakak, seru2, TQ semua yg udah ngobok2 tulisan gw, realy appreciate that.. [thumbsup]
akhirnya, kena karma deh gw dari kemaren2 nyela naskah orang.. :-[

@clickdian,
iye disitu temponya terlalu cepet, eke juga baru nyadar :D
tapi sebetulnya alinea 1 settingnya udah pagi kok (walopun nyinggung kata 'malam', kan udah ada keterangan 'beranjak dari tempat', malah diperkuat juga dengan statement 'melalui malam pertama :-[' hueheheheh :ngeyel:)
hmm.. tapi emang lebih tepat kalo digabung aja dua alinea 'pagi' itu yak..

note: iyak, om pur bener, yg sesuai EYD itu malah 'kuatir', bukan khawatir, weeeee :P

@om pur,
justru ane baru tauk kalo 'Sierra' itu artinya gunung, wueleh.
hmmh.. 'Sierra Kuno' itu jadi nama tempat, emang kedenger agak2 gimana gitu, kurang pas yak? Justru ane ngambil 'Sierra' ini dari Sierra Nevada / Sierra Leonne.. dan ane malah kagak tauk itu dari bahasa spanyol T_T
Buku satu ane cuman ngambil terms French doank, niatnya sih. (gara2 tokoh Guillarde itu :D ).
kalo 'Kuno'nya itu nyolong dari Old Fangorn-nya LOtR (hutan tempat merry-pippin ketemu kaum Ent), tapi ane buat Sierra Kuno ini lebih merujuk ke suatu wilayah yang lebih luas daripada hutan.
deskripsinya dalam novel begini:
Sierra Kuno adalah nama untuk bentangan alam raksasa yang berada di region tengah Lemurés; suatu medan liar yang terdiri dari gelaran hutan hujan tropis maha luas, jajaran gunung dan perbukitan kapur, ratusan anak sungai dan ngarai air terjun, hingga spesies flora dan fauna endemik yang tak terbayangkan.

Oke TQ alternatif & sarannya, i'll fix it soon. :)

@fred,
paragraf pertama itu bukan joke oy, gaya penuturan LEMURES gw emang 'gak biasa' semacam begitu (kita beda aliran, tentu! :D )
Ttg 'beranjak dari tempat' itu, emang sebetulnya naskah gw pake aliran metafora (dan juga hiperbolis), jadi gw berusaha konsisten akan hal itu di sepanjang naskah..
melangkahi, menjejaki, itu arti luasnya sama aja dengan 'berjalan', 'bergerak ke'.. tapi ya itu tadi, naskah gw emang udah terikat dengan gaya bahasa yg gak biasa, jadi sebisa mungkin di setiap deskripsi/narasi gw memilih kata2 yang gak umum. gitu lho...

eniwei, yg 'pun' itu gw juga masih keder euy, eh yg betul itu dipisah ato sambung sih?
'meskipun', 'sekalipun', 'di manapun', 'apapun', atau 'meski pun', 'sekali pun', 'di mana pun', 'apa pun' nih?
sekalian dah (mumpung lu lagi megang kamus thesaurus :P ): 'mahaluas' ato 'maha luas'? 'kemana' atau 'ke mana'? 'tujuhpuluh' atau 'tujuh puluh'?
yang 'mahkluk', iye bener gw ngaco (baru buka kamus), huahahah dua orang protes dua kata satu bener satu salah :P

note:
gileee baru sepenggal gini ajah naskah gw udah banyak ngaconya, gimana kalo orang baca satu buku? T_T

[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on May 24, 2008, 10:48:07 am
________________________________________
Quote from: fr3d on May 22, 2008, 11:44:02 am
Pertanyaan besarnya: Bagaimana cara efektif memulai bab/adegan baru tanpa menghilangkan mood pembaca?
(Mudah-mudahan belum pernah dibahas di tret yang lama, kalaupun udah, disinggung lagi ya, gpp kan? [rolleyes])

gw jawab juga deh, soalnya gw jg termasuk penulis yg suka motong adegan seenak perut [biggrin]
sebetulnya teknik Scene-Cutting semacam ini lebih banyak diadop penulis thriller (Dan Brown) dan Horror (RL Stine), daripada penulis fantasi sih.
Intinya, elu cuman kudu tauk bagaimana dan kapan harus mengakhiri adegan dengan pas. Misal, lo bisa tutup adegan itu dengan satu kalimat dialog/statement yg mencengangkan, ato bisa juga pake pertanyaan retoris.
Jawaban gw di atas kagak nyambung & kagak jelas? Emang. [biggrin]
tapi pertanyaan lo di atas serius emang kagak bisa dijawab, itu tergantung skill elu sebagai penulis dalam mengolah kata dan menjaga mood pembaca. Cara memulai adegan baru sama aja cara elu memulai adegan di scene pertama, IMO sih. :P
________________________________________
Post by: hege on May 24, 2008, 01:56:59 pm
________________________________________
Intinya, elu cuman kudu tauk bagaimana dan kapan harus mengakhiri adegan dengan pas. Misal, lo bisa tutup adegan itu dengan satu kalimat dialog/statement yg mencengangkan, ato bisa juga pake pertanyaan retoris.
mengakhiri bab (dan bahkan setiap scene) dengan formula* begitu membuat pembaca dahaga terus akan tulisanmu, it’ll works, yes, ofcors it does.
*kita sebut saja dengan formula RL Stine atau formula Dan Brown atau–ah whatever
________________________________________
Post by: cheppy70 on May 24, 2008, 11:05:36 pm
________________________________________
Quote
@ All
Udah pada tau Ramaditya? Dia tuh tunanetra yang ikut bikin sontrek di game-na Nintendo. Dia juga bikin nopel Fantasy lho. Sekilas sih mirip Gundam gitu. Kalo mo donlot ada di sini http://www.ramaditya.com/novelrama.zip Kalo mo baca blog-na ada di sini http://ramaditya.multiply.com/

Setelah kubaca, sampai sekitar lima ratus halaman (dalam format LIT, mungkin setara 100-an halaman biasa, kali ye?). Sebenernya udah gatel ngeripyu. Tapi berhubung bukan terbitan publik, dan pengarangnya pun gak minta, gue cuma kasih komen pointers aja:
1. Tematik bagus, plot lancar, permainan tempo terjaga apik.
2. Manga-ish banget (curious,… katanya pengarangnya tuna netra, koq sepertinya pembaca manga banget? Apakah dulu sempat bisa melihat secara normal?). Secara,… how to convey manga picture to a blind person? Teknik berceritanya soo manga!
3. Penuh ketidak logisan, yang dapat dipahami sebagai gaya manga.
4. Latar belakang (terciptanya) universe tidak kuat
5. Universe kacau balau (just like Alexa Chimaera). Tapi kembali dapat dimaklumi karena ke-manga-annya.
6. Dialog nya TOP NOTCH (dalam hal kelancaran dan konektivitas terhadap plot)
7. Dialog nya LAME (dalam hal kepantasan terhadap situasi dan setting).
8. But, emang settingnya lemah juga anyway.
9. Action keren, dan sangat terinspirasi Game-game jepun.
10. Tema dan plotnya kuat dan workable, sebagai kerangka cerita cukup solid.

Kayaknya sih pengarang agak salah persepsi mengenai konsep Fantasy. Mungkin masih memegang definisi awam, bahwa fantasi adalah berkhayal/ just khayalan. Jadinya believability universenya nggak dipedulikan.

Cuma ada satu yang ENGGAK BANGET: Adegan Seks [drool]
Sorry, menurut gue adegan seksnya low taste, dan ngga pantes ada di novel yang melihat gaya penulisan dan konsep ceritanya, ditargetkan ke remaja SMA. Dan sorry kalo gue gak bisa terima. If we think we are writers, then we should think that it came with responsibilities. Gak maen-maen, man. Lo masuk ke dalam pikiran orang straight through. Don’t mess with it.

So, kalo minta saran gue (kalo mo denger,… hehehe):
1. Hilangin adegan seks ga jelas dan ga mutu itu, ganti jadi adegan yang lebih sesuai target pembaca.
2. Pertahankan kerangka/ plot, tokoh-tokoh (tapi relasinya harus lebih logis).
3. Diisi dengan perangkat universe yang lebih believable, kuat, terencana.
Ini materi bagus, sayang kalo gak diolah secara pantes, gichu,…. 8)

however, semua terserah pengarangnya, sih,….
Yuuuuk
FA Purawan

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on May 26, 2008, 07:46:29 pm
________________________________________
@heg & fapur,
menanggapi komen ente orang ttg GunEye-nya ramaditya,
Sebetulnya ga bisa dibilang gada seninya juga, IMHO novel ini udah punya modal ide yg lumayan orisinil & kuat kok (yang didukung wawasan pengarang pulak), tapi emang sayang banged dieksekusi pake bahasa yg ala kadarnya gitu (pengarangnya kurang kreatif dalam berkata2).
Dialog yg ala anak jakarta, sementara di dalam novel bertaburan istilah2 IT dan pembangunan setting yg manga(/game/anime/tekno jepang) banged, bener2 bikin ilpil, gak banged dah.

Terus terang semenjak pertama kali buka file word-nya (yg baru dibaca memasuki halaman 3) bbrp hari yg lalu, gw kagak ada niat buka2 lagi, hueheheh (ampun bang rama, maafkan daku yg hina dina ini T_T), tapi gara2 ada satu poin dalam novel ini yang ENGGAK BANGED menurut om Pur di atas, gw jadi penasaran buka2 lagih, sengaja nyari part itu, tapi kagak ketemu2 :-[
alih2 gundam, kurasa novel GunEye ini lebih terinspirasi ke manga Chobits, ada karakter cewe polos yg selalu nurut sama tokoh utama, bener2 fantasi liar yang bakal 'menyenangkan' pembaca2 yg pikirannya kagak lurus kayak ane [biggrin]
Tapi gw lebih puas baca Chobits, ada gambar ceweknya jadi lebih asik buat diliatin :-[)
________________________________________
Post by: BloodSin on May 29, 2008, 07:46:01 am
________________________________________
@all,
nemu artikel bagus ttg penulisan (kemaren gw berusaha menghibur diri dengan mencari sebanyak2nya kisah2 penolakan, dari penolakan lamaran kerja sampe penolakan cinta :-[)
enjoy it! (sori copas)

NASKAH YANG MEMIKAT EDITOR

Category: Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author: Republika, Minggu, 30 Juli 2006

>> Anwar Holid

‘KAMI memang mencari permata,’ kata editor sebuah penerbitan tentang banyaknya naskah yang mereka tolak. Sebagai editor, dia harus betul-betul sabar menghadapi naskah yang ditawarkan ke penerbit tempatnya bekerja. Kondisi naskah macam-macam; ada yang masih mentah, tapi ternyata ditulis ratusan halaman; ada yang cara penyampaian ceritanya menarik, tapi di dalamnya mengandung banyak inkoherensi; ada yang cukup matang, tetapi berpotensi melahirkan kontroversi dan respons negative karena menyerang banyak institusi agama; sebagian gagal memancing rasa ingin tahu bahkan ketika sudah dibaca hingga setengah naskah.

Semua naskah yang jadi tanggung jawabnya dibaca, diberi catatan dan tanda---entah karena menarik perhatian atau justru kurang masuk akal dan merupakan kelemahan.

Editor punya banyak alasan kenapa harus menolak naskah, dan harus diakui, pertimbangan itu memang wajar, masuk akal. Dalam industri penerbitan, naskah yang ditolak itu memiliki kesamaan kesalahan umum---dalam istilah Inggris dinamai common flaw.

Kesalahan umum bisa terdiri banyak faktor, mulai dari keterampilan menulis, cara mengungkapkan tulisan (gaya bahasa), hingga masalah nonteknik yang menghambat kemajuan karir kepenulisan; yang paling kerap dilakukan ialah penulis tergesa-gesa mengirim naskah kasar, belum dipoles, belum dibaca ulang, dipikirkan masak-masak isi dan cara penulisannya. ‘Biarkan tulisan Anda mengendap sebentar, kemudian poleslah pelan-pelan. Edit dan revisi sendiri dulu. Sebelum bermaksud dikirim atau ditawarkan, minta orang dekat atau orang lain baca sejenak, mintai komentar mereka, dengar yang mereka rasakan,’ begitu saran editor lain.

FIKSI misalnya, memiliki sejumlah unsur pokok, antara lain tema, karakter (tokoh), plot (alur cerita), konflik, dialog, sudut pandang, setting (latar), peristiwa, struktur; tanpa kematangan unsur-unsur tersebut, sulit mengharapkan penulis bisa menghasilkan karya yang mampu memikat khalayak. Memang tidak semua karya mengandung seluruh syarat unsur, tapi setidaknya penulis tahu hendak mengedepankan unsur mana atau mengejar apa, misalnya apa mau bereksperimen, menekankan setting, atau mendahulukan penokohan. Ketika baca, idealnya editor tahu kekuatan dan kelemahan naskah, mana yang tercapai dengan baik, bagian apa yang justru bertele-tele atau bahkan inkoheren.

‘Terlalu banyak penulis mengorbankan tokoh di hadapan plot,’ kata Mark McLaughlin mengomentari soal plot. ‘Plot yang klise biasanya muncul dari karakter yang juga klise.’ Editor ternyata sering menemukan plot yang terlalu dibuat-buat, basi, lemah, mudah ditebak, bahkan terlalu banyak; sementara semua itu ditulis dengan dangkal, dengan bahasa kurang membangkitkan imajinatif, berdasar observasi klise.

‘Kadang-kadang penulis kurang menghargai karakter mereka sendiri; campur tangan pengarang di dalam cerita justru menyelewengkan karakter dan situasi menjadi akhir yang terlalu jelas,’ simpul editor Northwest Review, Janice McRae.

Ada banyak sebab kenapa karakter jadi klise, antara lain perkembangan emosi dan pikirannya kurang, lagian kekurangan aksi penting; sebagai tokoh, dia kurang terbangun, terlalu berlebihan, terlalu umum, stereotipe, dan datar, tak nyata, sulit dipercaya, tak punya perkembangan kuat dan orisinalitas sifat.

Dalam mengungkapkan kisah atau menuangkan gagasan pun, kadang-kadang penulis terlalu cepat puas. Ternyata ketika dibaca orang lain, apalagi editor, tulisan tersebut masih statis, kekurangan pemecahan masalah dan imajinasi.

Pembukaan yang kurang memancing, bertele-tele, lambat, melelahkan, berpanjang-panjang dengan kalimat berputar-putar dan mengumbar kata, terlalu menceramahi, sementara isi pemikiran kurang dipertimbangkan dengan matang, diperburuk akhiran yang dipaksakan, tulisan penuh tatabahasa berlepotan, salah menggunakan diksi, mengabaikan kaidah berbahasa, hanya akan membuat tulisan kehilangan fokus tema, bahkan bisa mementahkan, akhirnya melantur ke subjek lain yang lepas dari niat awal. Editor yang dari awal kehilangan kesabaran membaca naskah akan cepat menyerah, akhirnya memutuskan menolak naskah, karena setelah meraba raba, gagal menemukan subjek yang ingin diketengahkan penulis.

Ada kala penulis hanya menawarkan naskah, tanpa disertai book description (sinopsis), maksud penulisan, positioning, atau subjek yang ingin disampaikan. Padahal, dengan menyertakan keterangan selengkap mungkin, termasuk komentar jujur dari para pembaca awal, akan memudahkan editor mendapat gambaran utuh tentang naskah yang sedang dihadapi.

Fakta ini mengarah pada pandangan ternyata kerja editor, bahkan sebelum menyunting, sejak awal membutuhkan konsentrasi tinggi; dia dituntut baik oleh perusahaan dan calon pembaca agar menetaskan karya yang matang, memikat, disiapkan sebaik mungkin, membuat pembeli pantas membelanjakan sejumlah uang dan mendapat ganti setimpal. Karena ada banyak unsure penulisan yang harus terpenuhi, apa tampaknya ‘merayu’ editor agar mudah meloloskan karya terasa sulit? ‘Editor berpikir bagaimana agar buku laku dan terbit dengan baik,’ komentar Firman Venayaksa, seorang penulis. ‘Sementara penulis berpikir bagaimana cara karya itu diterima penerbit.’

Editor punya masalah dan dilema sendiri, meski keinginannya sederhana, yaitu mendapatkan naskah yang cocok buat penerbitan tempat dia bekerja. Kata Elbert Hubbard (1856 - 1915), editor adalah orang yang dipekerjakan penerbit untuk memisahkan gandum dari dedak dan memastikan bahwa dedak itu tercetak.

Satu hal patut diingat pula, editor tentu bukan segala-galanya, dia bisa juga luput (salah) membaca dan menilai naskah. Bukti dari ini ialah banyak juga naskah yang awalnya ditolak puluhan editor, gagal diterbitkan penerbit tertentu, ternyata setelah terbit akhirnya jadi karya abadi, bisa diterima publik dengan sangat baik, dihargai dengan reputasi tinggi. Editor yang pernah menolak naskah tersebut tentu harus gigit jari. Baik penulis dan editor sama-sama punya peran penting---dalam kasus industri penerbitan luar negeri juga melibatkan literary agent.

Paham naskah seperti apa yang dikehendaki editor agar memudahkan pertimbangan sejak awal fase pertimbangan, mestinya penulis mau mengikuti ketentuan ini. Pastikan Anda menawarkan naskah pada penerbit yang tepat, dengan begitu Anda bisa menekan penolakan. Naskah yang disiapkan dengan sempurna, lengkap, dipertimbangkan masak-masak akan memudahkan editor menyerap, memahami upaya dan maksud penulis, membuka peluang diterima. Walhasil, penulis, editor, dan penerbit boleh berharap bisa menemukan ‘permata.’[]

PENGAKUAN: Kolom ini dipicu setelah aku baca artikel ’50 Best Short Story Markets’ dari majalah ‘Writer’s Digest’ yang kebetulan aku miliki. Karena keterbatasan ruang, ini tak aku ungkap di kolom; ditambah pengalaman pribadi sebagai editor.

Kontak Anwar Holid: Jalan Kapten Abdul Hamid,
Panorama II No. 26 B Bandung 40141 |
HP: 08156140621
| R: (022) 2037348 | e-mail: wartax@yahoo. com
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on May 30, 2008, 07:15:03 pm
________________________________________
Quote
Teteup harus diakui, dibalik kemiskinan penceritaannya, materi novel ini cukup kuat. Bahkan cukup berpotensi dilirik penerbit. Eh, bukannya ngejatohin orang-orang yg udah serius berfantasy termasuk elo, ya,…
Gue liat ada kecenderungan penerbit bergerak ke arah literasi ringan yang memiliki nuansa ‘masa kini’ (that is, karya-karya ala chiklit), dengan bahasa yg ringan dan pemikiran yg dangkal.

Jangan salah.
Menurut gw materi GunEye cenderung berat malah, alih-alih terhitung ‘literasi ringan’. Pemikiran pengarang dalam novel juga gak bisa dibilang dangkal, cukup dalam dan orisinil.
Penamaan ‘Lapis Lazuli’ & ‘Orihalcon’(nama2 jenis kristal) buat nama dua cewek super (GunEye), bagi gw terhitung keren dan gak bisa dibilang pasaran pun. Tapi apa daya dalam cerita malah muncul nama2 lainnya yg ‘tak senonoh’ semacam Ririn, Tari, Shinta. Gak nyambung banged. Kalo mau pake nama yg berbau2 RPG, kenapa gak semua diseragamin? Ato kalo mau pake nama lokal, kenapa GunEye-nya gak pake nama Euis, Inem, Ijah.. (kok gw malah nyebut nama2 pembokat ginih :D )

Quote
Mungkin mereka beranggapan pasar saat ini memang karakter pembacanya demikian, kagak mau dikasih yg berat-berat (dan gak ‘nyampe’ diajak mikir berat-berat,… hehehe).

Sekali lagi, ini semua masuk urusan teknik pendeskripsian sang pengarang. Bagi gue sih, gak peduli mau serumit apa tema yg diusung/segimana kompleksitas plotnya, kalo emang si pengarang udah piawai bertutur kata (dan memilih kata), memberikan analogi yg pas, dan berhasil membangkitkan mood pembaca, maka buku profesor setebel apapun pasti bakal cepet abis dilumat pembaca..
I experienced this on Da Vinci Code. :)
________________________________________
Post by: fr3d on June 02, 2008, 09:55:29 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on May 30, 2008, 07:15:03 pm
@heg,
Quote
bisakah seseorang membuat indeks atau list untuk semua buku fantasi lokal yang sudah terbit di halaman depan tret komplit dengan blog atau website untuk informasi buku yang dimaksud? Rey? Om Pur?

Malas, lagian kebanyakan fantasi lokal yang terbit gak punya website, seinget gw malah Janos doank satu2nya yg punya (itupun udah ilang skrg) :P

Ide hege bagus koq, rey. Kalau gak ada website-nya, ya ditulis aja judul buku dan pengarangnya/penerbitnya. Tapi, berhubung gw blom banyak baca fantasi lokal, gw juga gak tau ada apaan aja yang udah terbit. [rolleyes]
*buru-buru ngeles*

Quote from: bjvadis on June 01, 2008, 02:47:12 pm
Kalau pakai literary agent luar gila2an harganya oi. coba, untuk 1 item aja (copyright) feenya 300 poundsterling. Sementara ini nyoba di bbrp penerbit yang mau terima kiriman langsung tapi sejauh ini hampir semuanya nolak dan 1 kelihatannya cuekin. Skarang buku 2 udah selesai dan mau digeber lagi ke bbrp yang lain. Kalo JK Rowling aja ditolak 20 literary agent, masa’ gue gak bisa coba lebih keras?

Setau gw (dari pengalaman nelusurin web), lit agent yang bener gak akan minta fee awal, bukan?
Setelah mereka deal dengan si penulis, mereka bakal berjibaku nyariin publisher buat karya si penulis, lalu kalau udah dapet penerbit, barulah mereka minta fee (antara 10-20% dari royalti penulis –> emang lumayan gede sih, tapi bagi sejumlah penulis, yang penting bisa terbit :( ). Katanya juga sih kalau lewat lit agent, penerbit luar lebih prefer, soalnya karya itu udah sempat diuji “keampuhannya” sama lit agent itu dan minimal si lit agent juga udah berperan jadi editor awal buat karya itu. Gitu deh…
Kalau mengajukan copyright, urusannya memang lain lagi.

Oya, gw udah berkunjung ke fireheart.tk. Koq gw berasa navigasinya agak puyeng ya? :D
Mungkin karena udah banyak posting-an kali? Atau emang gw-nya yang gaptek… hehehe… ;D
Eniwei, gw baru sempat baca prolog-nya fireheart. Itu cerita lengkapnya ada semua di web?
Kalau dari prolog-nya sih interesting. Secara fantasi buatan lokal versi bahasa inggris yang pernah gw baca cuma the corruption, gw ngerasa fireheart gaya bahasa-nya lebih oke daripada buku itu. [thumbsup]
________________________________________
Post by: BloodSin on June 03, 2008, 06:59:22 am
________________________________________
@heg & clickdian,
lemures ternyata emang kagak bisa ikutan sayembara, selain gara2 pake setting luar & udah diposting sebagian (prolog dan sedikit bab 1) di kemudian.com, novelnya masih bersekuel pun, u’re quite rite dude hegenyet, lemures emang tak ada harapan :(

@om pur,
ohh yeah, i got it. Kalo begitu Lemures-ku emang jauh dari pakem kayak begitu, semua yg terjadi dalem novel kupastikan memiliki sebab-akibat. Dan emang novel ini alih-alih disebut fantasi medieval, gw lebih mengkategorikan sebagai sci-fi yang dibungkus epik fantasi.. Mungkin karena hal ini juga yg bikin susah masuk penerbit, penerbit bakal bingung mengkategorikan genrenya. Bungkusnya sih medieval, tapi isinya kayak gak niat jadi fantasi gitu.. ;D
Mau tanya donk om, penerbit Electric Girl & Para Penunggang Petir itu penerbit mana aja?

@All,
Sabtu kemaren gw kirim lagi naskah gw (yg udah ditolak 3 penerbit) ke 1 penerbit via email, dan hari Senen kemaren ke 3 penerbit via pos (Mahalll!). Di rumah masi ada 2 kopian naskah lagi, rencananya emang masih mau gw kirim lg sih.
Then I made a deal with myself, kalo dari sekian banyak kiriman ke penerbit itu gada satupun yg diterima, i’ll retire from writting fantasy. (dan kemungkinan gede naskah gw bakal gw bagiin gratis via yahoogroup kayak om Pur, heheheh :) )
I’m not a dreamer, I wont waste my time for sumthin not in place.. [yawn]
________________________________________
Post by: fr3d on June 03, 2008, 09:23:03 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 03, 2008, 06:59:22 am
Then I made a deal with myself, kalo dari sekian banyak kiriman ke penerbit itu gada satupun yg diterima, i’ll retire from writting fantasy. (dan kemungkinan gede naskah gw bakal gw bagiin gratis via yahoogroup kayak om Pur, heheheh :) )
I’m not a dreamer, I wont waste my time for sumthin not in place.. [yawn]

Ah, dirimu cemen, rey! [thumbsdown]
Baru ditolak beberapa penerbit aja udah lost hope… [hammer]
(adalah kata-kata dari seseorang yang bahkan belum pernah mengirimkan karyanya ke penerbit mana pun :D )
Penolakan itu artinya perbaikan, revisi, refleksi.
Kalau tak sanggup menghadapi itu semua, berarti memang tak layaklah kau menyebut dirimu sebagai seorang penulis! [tickedoff]
Tapi… kalau ada naskah yang dibagi-bagi gratis, gw juga mau sih… [shy]
________________________________________
Post by: clickdian on June 03, 2008, 10:15:48 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 03, 2008, 06:59:22 am
@heg & clickdian,
lemures ternyata emang kagak bisa ikutan sayembara, selain gara2 pake setting luar & udah diposting sebagian (prolog dan sedikit bab 1) di kemudian.com, novelnya masih bersekuel pun, u’re quite rite dude hegenyet, lemures emang tak ada harapan :(

Rey,
Kayaknya setting nggak terlalu ngaruh. Liat aja Zauri, isinya negeri antah berantah tapi toh tetep bisa terbit. Masih diliat sama pengamat sastra (walopun nggak semua suka). Hozzo juga, bisa terbit. Narend, settingnya luar negeri, tapi bisa terbit di Indonesia. Bahkan Janos juga bisa.
JADI KENAPA LEMURES GAK BISA ? ? ?
Jujur, kalo dirimu nyerah sekarang, aq kecewa.
Kenapa gak mencoba terus? Kenapa gak simpen Lemures untuk beberapa saat, buat novel baru yang lebih baik, terbitin, dan setelah itu coba lagi Lemures? Kalo perlu dibenahin, benahin deh. May be it’s only a matter of time, Rey. All you have to do is be patient.
Sana, baca k.com. Cari dan baca style penulisan yang lain plus plot2 yang lebih bagus. Jangan gengsi bikin cerpen, karena ini ternyata sangat berguna. I’m doing it right now, dan someday, setelah skillku terasah lebih baik, aq bakal ngeluarin novel yang lebih bagus dari Zauri (yang banyak cacatnya itu), and I’ll proudly bring it to you.

Quote
I’m not a dreamer, I wont waste my time for sumthin not in place.. [yawn]

I am a dreamer.
And I will prove you that dream, no matter how absurd it is, always have possibility to come true.
Because being a author was my dream, and Zauri was my dream, and right now, I have obtained both of them.
Now is your turn.
Dream is hope, and without hope you won’t be able to live.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on June 03, 2008, 11:38:12 am
________________________________________
@fred,
Pertama kali lemures ditolak itu sekitar 2 tahun lalu. Waktu itu gw kirim 500 halaman, spasi 1, gaya tulisan masih mentah. Ke penerbit yg paling gede pulak. Serius, gw pikir waktu itu gw emang masih lugu dalam bidang penerbitan dan penulisan. Waktu itu gw menulis all out ajah, apa yg gw suka, seenak standar dan selera gw lha. Gw gak peduli sama sekali selera masyarakat luas, selera penerbit, tata bahasa, standar pertimbangan penerbitan suatu buku oleh penerbit. Dan sialnya, gw baru menyadari betapa bejibun hal ilpil dalam naskah gw setelah naskah gw terkirim. Jadi alih-alih berduka cita, waktu tauk naskah gw ditolak, gw malah seneng. Kalopun sampe terbit pasti bakal malu2in gw sebagai pengarangnya.
1 tahun kemudian (which means at this very present day), sewaktu gw pikir gaya bahasa gw udah cukup matang (dan naskah lama itu gw rombak sedemikian rupa sampe 10x lebih bagus dari naskah versi beta-nya, dari segi kualitas), gw kirim lagi ke satu penerbit yg gw pikir paling match sama spirit dalam naskah gw. Sampe bagian ini, semua orang di tret ini udah tauk persis gimana endingnya. [biggrin]

Sebetulnya ini bukan masalah gw cemen apa kagak, ini betulan ttg apa yg dulu si hegenyet pernah bilang, apakah seseorang berbakat/berjodoh/bertakdir pada suatu hal, ato kagak.
I put all my best di lemures: gaya bahasa, plot, karakterisasi, riset. Seumur2 gw gak pernah seserius ini dalam menggarap sesuatu, yang nantinya gw kira bakal bisa ditujukan untuk masyarakat luas.
Kisah penolakan gw agak berbeda dengan kisah penolakan naskah2 yang laen: gw bikin naskah ini 3 thn, editing setiap hari, dan berusaha sebisa mungkin meng-universal-kan materi dalam naskah itu.
Gw emang udah ditolak ‘beberapa’ penerbit, tapi gw belom lost hope ouy! Total, gw masih mau kirim ke 6 penerbit lain; dan tentu, sampe disitu udah gak bisa diitung sebagai ‘beberapa’ lagi. Nah, makanya, kalo sampe pada tahap ini gak satupun penerbit approve, barulah elo bisa nyebut gw lost hope..
Dalam The Alchemist, Coelho said all these thing as “Personal Legend”. Gw rasa, setelah 3 penolakan itu, wajar2 aja kalo gw memposisikan 6 penerbit terakhir ini sebagai judge untuk membantu gw menentukan, apakah menulis fantasi ini emang betul2 ‘Personal Legend’ gw, apa kagak. ;)

@sis dian,
Quote
Rey,
Kayaknya setting nggak terlalu ngaruh. Liat aja Zauri, isinya negeri antah berantah tapi toh tetep bisa terbit. Masih diliat sama pengamat sastra (walopun nggak semua suka). Hozzo juga, bisa terbit. Narend, settingnya luar negeri, tapi bisa terbit di Indonesia. Bahkan Janos juga bisa.
JADI KENAPA LEMURES GAK BISA ? ? ?

gak nyambung -.-”
itu ane ngomongin sayembara 20jt yg kemaren, bukan masalah penerbitan ouy.. omongan itu ttg ane ‘menyerah’ kirim lemures buat sayembara ituh ;D
Kalo ttg penerbitan, ane kan emang lg kirim ke penerbit2 laen.. rencananya sih ane mau nunggu skrg, biar waktu yg bakal menentukan apakah ane nanti betul2 bakal retire apa kagak.

Quote
Dream is hope, and without hope you won’t be able to live.

Ah, sis.. you dont know at all gimana isi pikiran ane untuk satu hal ini. :)
________________________________________
Post by: hege on June 03, 2008, 12:26:00 pm
________________________________________
@Reymur (Rey si Lemur),
Diriku mengerti perasaanmu. I knew you took all of your strengths to Lemures (we had this topic for almost a year). if you could make it more light and with a good mood, I am sure one of those editors will get interest. I didnt say Lemures is bad or something, it will be published eventually. :) pretty sure, remember the signs
Fred, mengenai Hozzo, sudah hege bahas jutaan kali sebelumnya di tret, tapi kurasa di tret fantasy yg telah ilang dulu. I will inform everybody when Hozzo get republish next time.
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: fr3d on June 03, 2008, 01:03:01 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 03, 2008, 11:38:12 am

Gw rasa, setelah 3 penolakan itu, wajar2 aja kalo gw memposisikan 6 penerbit terakhir ini sebagai judge untuk membantu gw menentukan, apakah menulis fantasi ini emang betul2 ‘Personal Legend’ gw, apa kagak. ;)

Si Frank Herbert penulisnya Dune saga (salah satu serial science fiction paling terkenal di dunia) aja ditolak hampir 20 penerbit. :o Trus dia butuh 6 taon buat nyelesain naskahnya (beberapa bulan lagi, gw juga akan ulang tahun ke-6… :-[).
Jadi, ya, kita liat aja "ketahanan"-nya lemures dan pengarangnya.
Eniwei, rey, kalau ternyata nanti ditolak juga, maksud gw adalah seharusnya loe merevisi lagi, jangan langsung menyerah.
Kan sayang udah jungkir balik selama 3 taon, tapi lemures akhirnya gak pernah melihat penerbitan.
Guillarde dan para lemur bakalan pada nangis tuh! :'(
Dikau tak kasian sama mereka?
Untuk ngilangin jenuh dan nambah wawasan, coba aja sarannya mba dian.
Skarang lagi gak revisi kan? Mulai aja nulis2 sesuatu yang baru sambil nunggu kabar dari penerbit lain.
Yang gampang aja materinya, kalau bisa yang gak serumit lemures. [thumbsup]
________________________________________
Post by: rd_Villam on June 03, 2008, 01:15:12 pm
________________________________________
ehm…
rey, ada apaan nih?
kok tiba-tiba berencana menyerah?
tunggu dulu deh sepuluh tahun, sampe seumur gua, baru memutuskan mau menyerah atau kagak. ente masih mudah ini… hahahah…
masih boleh mimpi macam-macam dan melakukan macam-macam.
gue coba ngerti deh, bahwa elu udah coba kasih segala2nya di lemuria. bahwa itu mungkin masterpiece lu. tapi… itu selalu bisa dibuat lebih bagus kok. seandainya proses perbaikan jalan terus, setahun lagi elu bakal bisa bilang bahwa ternyata lemuria emang bisa dibuat lebih bagus kok.

oh iya, jangan pernah gantungkan nasib lu pada satu buah karya doang. cobalah cari ide baru dan buat lagi cerita yang baru. dua, tiga, empat dan seterusnya. dan elu bakal heran nanti… eh… ‘ternyata gue juga bisa bikin cerita lain yang lebih bagus daripada lemuria’ dan pastinya lebih prospektif.
btw, soal jodoh-jodohan dengan penerbit, yeah… mungkin itu bener juga. tapi soal jodoh kan dah ada yang ngatur, ngapain kita musing mikirin? hihihi… bukan urusan kita…

setahuku pula sekarang emang masa-masa sulit juga buat penerbit, banyak tuh yang gulung tikar gara-gara harga2 naek. dan pastinya semua penerbit lagi selektif banget sekarang.
dan kalo emang mereka lagi puyeng sekarang, ya maklumi aja kali. mending kita melakukan apa yang bisa dilakukan sebagai penulis: menulis sajalah. menulis apapun, yang kita suka. entah itu fantasi atau bukan. gak perlu memaksakan diri nulis fantasi kalo kita gak suka. gue sendiri, karena dah kadung cinta, sampe sekarang ya tetep nulis fantasi itu, walau kadang diseling yang non-fantasi.
ah, cukuplah.

Comments No Comments »