Posts Tagged “jk rowling”

[tab:Hal 1Sesi XXII (11 Jul 2008 - 15 Jul 2008)
• Sukseskah Tolkien dan Rowling jika mereka tinggal di Indonesia?
• Tips dari Roald Dahl

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 11, 2008, 10:20:07 am
________________________________________
Btw, kalian pernah ngebayangin ga sih, kalo misalnya tokien ama J.K Rowling itu tinggelnya di Indonesia, bisa terbit dan laku apa engga tuh buku? :D Kalo gw bilang sih kegagalan novel fantasy lebih dari 50% karena faktor Indoensianya itu, ya masyarakatnya lah, ya pendidikannya lah, editornya lah, faktor jual murahnya lah…, kejer profitnya lah. Ada banyak sekali faktor disini yang mungkin akan menghancur leburkan penulis selevel Tolkien hingga LOTR mungkin jadi novel sampah yang tergeletak tak terjual jika dia ada di Indonesia ^^.
________________________________________
Post by: MakMak on July 11, 2008, 10:32:26 am
________________________________________
sepertinya akan sama saja. penulis yang bagus, dimanapun dia tinggal, tetap saja penulis yang bagus.
for ex: JKR tinggal di Indonesia, trus bikin nopel, tapi ga laku krn seperti kondisi diatas. mungkin untuk novel-novel selanjutnya, dia akan mengirimkan naskahnya ke penerbit luar negeri. novelnya laku, trus dia jd terkenal. novelnya yang tidak laku di Indonesia mungkin akan di terjemahkan ke bhs Inggris, dan kemudian laku n tidak jadi novel sampah lagi.
sama saja kan?
penulis yang bagus, dimanapun dia tinggal, tetap saja penulis yang bagus.
________________________________________
Post by: fr3d on July 11, 2008, 10:42:35 am
________________________________________
Mungkin catatannya gini, Mak.
Di indonesia, semua elemen yang disebut jeff itu justru bukannya mendukung lahirnya penulis bagus, melainkan malah seringkali menjadi penghalang.
Kalau berdasarkan contoh di atas, berarti sama aja kan yang menelurkan penulis bagus dan sukses adalah penerbit/editor luar negeri, bukan penerbit/editor lokal. ;)
Ibaratnya gini: seekor elang yang tinggal seumur hidup bersama kumpulan ayam, bisa ngira dirinya ayam, padahal seharusnya dia jadi elang. Syukur2 ada elang lewat, terus dianya sadar, kalau gak ada… payah dong…
Pengandaiannya terlalu jauh ya? :D
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 11, 2008, 11:10:32 am
________________________________________
hmm… gw juga ga gitu yakin. Intinya gini kl menurut gw,
‘penulis berbakat’ hanyalah kekuatan seorang individu, satu orang. Dan kekuatan satu orang mau sesakti apapun, tanpa didukung lingkungan dan masyarakat, individu itu powerless, tak berdaya. Kalau gw mengandaikan, anda sendirian berkata A, sementara seluruh Indonesia mengatakan B, apakah satu orang individu yang menyuarakan A itu berpengaruh? Jelas tidak, satu orang tidak bisa mengubah dunia tanpa didukung oleh satu golongan yang kuat dan diakui. Dan itulah yang terjadi di Indonesia.

Bahkan jika seorang sekaliber Tolkien lahir di Indonesia, menurut gw tidak akan berhasil di Indonesia, palingan seperti yang mak bilang tadi, suksesnya di luar negeri yang memang mengakui bakatnya. Indo mah cuman ikut2an doang, orang lain bilang bagus, baru mau ikutan baca. Kl contoh nyatanya sih yang gw tau cuma dari dunia komik, krn gw lebih lama berkutat dibidang itu. Ada banyak banget komikus Indonesia yang udah pindah ke luar negeri dan sukses. Jepang sendiri menawarkan jaminan hidup sebagai komikus disana asalkan kita mau pindah kewarganegaraan. Bayangkan, Jepang yang disananya sendiri udah kebanjiran mangaka jenius aja masih mau ngambil komikus sini, yang di negaranya sendiri tidak diperdulikan sama sekali. -__-.

Apa pada akhirnya semua orang berbakat harus memilih:
pergi keluar negeri dan meninggalkan rasa nasionalisnya, atau
tetap di dalam negeri demi rasa nasionalis dan membusuk disini tanpa menghasilkan satu pencapaian pun?
Well? :-\ 10 tahun kedepan, sisa berapa yah SDM Indo yang berbakat yang masih tersisa disini? Negara maju dengan gencarnya merekrut orang berbakat, sementara Indo tanpa sadar terus menghancurkan ribuan orang berbakat, yang gw istilahkan sebagai ‘korban kondisi’.
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: fr3d on July 11, 2008, 11:39:12 am
________________________________________
Terlepas dari membicarakan profesi penulis atau bukan, kalau soal di luar negeri yang lebih menghargai orang berbakat sih gw setuju sama jeff. Di negeri kita tercinta ini, apresiasi buat orang2 berbakat emang kurang. Misalnya aja dari segi penghasilan. Jadi, gak aneh lah kalau pada “kabur” ke luar negeri, dan kita gak berhak mempertanyakan nasionalisme mereka.
Jadi kenapa bisa begini? Masalahnya apa?
Knapa juga gw jadi OOT gini… [hammer]
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 11, 2008, 01:01:57 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 11, 2008, 11:10:32 am
hmm… gw juga ga gitu yakin. Intinya gini kl menurut gw,
‘penulis berbakat’ hanyalah kekuatan seorang individu, satu orang. Dan kekuatan satu orang mau sesakti apapun, tanpa didukung lingkungan dan masyarakat, individu itu powerless, tak berdaya.

Sesuai hukum alam. Bibit harus tumbuh di tanah yang cocok.
Tanah Indonesia bukannya tidak cocok. Cuma kurang pupuk, dan lemah dalam manajemen. Di segala aspek, semuanya saling terkait sehingga menciptakan sistem yang ‘mematikan’.
Kalo bicara bibit, sebetulnya Tuhan sudah mengkaruniai negeri kita dengan bibit-bibit terbaik. Kita pernah punya padi yang demikian tinggi kualitasnya, sehingga muncul nama Yawadwipa (Pulau Padi).
Durian Indonesia pernah dikatakan sebagai galur murni, induk semua durian yang ada di Bumi.
Tapi sekarang liat aja, padi,…. bah. Impor.
Durian, kalah kualitas sama durian monthong.
Kita jadi umat yang kufur nikmat, makanya Tuhan mencabut nikmat itu dari kita.

Tapi, berita baiknya, Tuhan memberi kita rahmat tersembunyi.
Di tanah yang tandus, bibit harus bener-bener berjuang keras untuk bisa tumbuh. Maka dia akan menjadi tanaman yang liat, dan tahan gempuran.
Kalau kita tetap berjuang keras untuk tumbuh, against all odds, maka kita akan muncul sebagai pribadi yang tahan gempuran dan teruji dalam situasi tersulit.
Nah, makanya, pilihlah untuk terus berjuang, jangan pilih yang enak-enak aja. Perjuangan akan membesarkan kita, kenikmatan akan mengerdilkan kita.
Salam perjuangan! (Apa sih?)
FA Purawan
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 11, 2008, 01:46:50 pm
________________________________________
haha…
keren nih:
salam perjuangan! [thumbsup]

@rey, fred, mas pur,
udah gue kirim tuh TFH nya…
silakan dibantai. hehehe…
hasil pembantaiannya boleh aja kok dikirim langsung ke tret ini, asal jangan spoiler yak. heheh… supaya nanti lebih mudah jika ada yang bisa didiskusikan bersama.
namun kalau seandainya sangat panjang dan detil, silakan direply langsung saja ke email gue.

@eniyorda,
welcome back!
kamu salah satu reviewer terbaik di sini.
we need you.
hehehe…
________________________________________
Post by: Elyasa on July 11, 2008, 04:09:18 pm
________________________________________
Ngebahas masalah penulis fantasi lokal yang nggak bisa berkembang….
Kalo menurut gue sih…karena orang bule itu jauh lebih kreatif dan open minded dibandingin kita…dan juga mereka sekarang berpikaran global, nggak kaya kita yang ujung-ujungnya dukun, cinta, seks, dll….
dan satu lagi…menurut gue sih, bahasa inggris itu jauh lebih keren dari bahasa kita…contohnya
Inggris : lets attack them boys, give them blood!
Indo : Ayo kita serang mereka anak-anak, berikan mereka darah!
bener ga sih??/
________________________________________
Post by: MakMak on July 11, 2008, 04:29:17 pm
________________________________________
nggak juga sih. kreatif tidaknya seseorang tidak ditentukan oleh ras. tapi kualitas seseorang. kalau penulis bagus, mau orang bule, mau orang indonesia, tetep aja penulis bagus.
kayaknya dulu ada sastrawan indonesia yang dapat nominasi nobel sastra. kalo ga salah namanya Pramudya Ananta Toer. (memang ga menang, tapi nominasi nobel lho)
Quote from: Elyasa on July 11, 2008, 04:09:18 pm
dan satu lagi…menurut gue sih, bahasa inggris itu jauh lebih keren dari bahasa kita
bahasa Indonesia adalah bahasa yang luar biasa menurutku. satu-satunya bahasa yang konfrensinya digelar setiap tahun, sehingga selalu terjadi penyempurnaan. hanya kita saja yang kurang mampu menggali potensi bahasa kita.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 11, 2008, 04:41:58 pm
________________________________________
Quote from: Elyasa on July 11, 2008, 04:09:18 pm
Ngebahas masalah penulis fantasi lokal yang nggak bisa berkembang….
Kalo menurut gue sih…karena orang bule itu jauh lebih kreatif dan open minded dibandingin kita…dan juga mereka sekarang berpikaran global, nggak kaya kita yang ujung-ujungnya dukun, cinta, seks, dll….

Gue setuju hanya bila yang elo maksud adalah budaya kita SEKARANG.
Budaya adiluhung kita di masa lalu itu BENER-BENER adiluhung beneran! Gak cuma stempel budaya tinggi aja.
Tahukah kita, bahwa corak kain batik aja memiliki makna yang dalem banget?
Persoalannya, kita sekarang udah terputus obor dengan leluhur, yang kita warisi adalah budaya serba tanggung yang diasah oleh perilaku bejat selama bertahun-tahun. So, ngga ada hal positif yang bisa tumbuh di atas sampah itu.
Open minded-nya budaya barat, itu baru terjadi di dekade belakangan ini aja, setelah mereka terpapar pada budaya-budaya Timur yang naskahnya di boyong ke museum negeri mereka,.. [hammer] [hammer] [hammer]

Quote
dan satu lagi…menurut gue sih, bahasa inggris itu jauh lebih keren dari bahasa kita…contohnya
Inggris : lets attack them boys, give them blood!
Indo : Ayo kita serang mereka anak-anak, berikan mereka darah!
bener ga sih??/

Gak, itu karena elo memang ‘live’ in english language (sebagai anak sastra, elo juga pasti paham bahwa ‘live’ di sini bermakna bahwa seluruh program pikiran kita menggunakan software yang ditulis dalam bahasa ‘anglic’. Tidak ada manusia di negri kita (terutama yg ‘terdidik’) yang lepas dari software tersebut.

Perhatikan bahwa contoh elo saja berakar dari dari sikap dan perilaku yang lazim di dalam budaya Amerika, dimana seseorang menyelesaikan masalah dengan ‘otot’ dan ‘darah’, dimana hal tersebut ngga begitu lazim di budaya kita (makanya kita ngga punya istilah yang kena untuk hal-hal tersebut).

Kalau mau yang sesuai budaya kita, nah contohnya seperti ini:
Indonesia: udalah, berapa banyak you sediain buat ngegosok bapak anu?
Inggris: C’mon, how much you have prepared to rub mr. anu? ;D ;D ;D ;D
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: hege on July 11, 2008, 07:19:21 pm
________________________________________
Whoa, hundred pages already, incredible.
yg novelnya baru trebit, selamat yak. yg suka review, hayo lebih keji lagi! yang lagi desperate dan yg berupaya nulis, sip.

Ah akhirnya diriku mampir dan say hi, being abit busy lately, having great times in the new place :)

anyway, salah satu tulisan yang menginspirasi hege buat nulis adalah ini:

A fiction writer is a person who invents stories. But how does one start out on a job like this? How does one become a full-time professional fiction writer? Charles Dickens found it easy. At the age of twenty-four, he simply sat down and wrote Pickwick Papers, which became an immediate best seller. But Dickens was a genius, and geniuses are different from the rest of us. In this century (it was not always so in the last one), just about every single writer who has finally become successful in the world of fiction has started out in some other job — a schoolteacher, perhaps, or a doctor or a journalist or a lawyer. (Alice in Wonderland was written by a mathematician, and The Wind in the Willows by a civil servant.) The first attempts at writing have there¬fore always had to be done in spare time, usually at night. The reason for this is obvious. When you are adult, it is necessary to earn a living. To earn a living, you must get a job. You must if possible get a job that guarantees you so much money a week. But however much you may want to take up fiction writing as a career, it would be pointless to go along to a publisher and say. “I want a job as a fiction writer.” If you did that, he would tell you to buzz off and write the book first. And even if you brought a finished book to him and he liked it well enough to publish it, he still wouldn’t give you a job. He would give you an advance of perhaps five hundred pounds, which he would get back again later by deducting it from your royalties. (A royalty, by the way, is the money that a writer gets from the publisher for each copy of his book that is sold. The average royalty a writer gets is ten percent of the price of the book itself in the bookshop. Thus, for a book selling at four pounds, the writer would get forty pence. For a paperback selling at fifty pence, he would get five pence.) It is very common for a hopeful fiction writer to spend two years of his spare time writing a book which no publisher will publish. For that he gets nothing at all except a sense of frustration. If he is fortunate enough to have a book accepted by a publisher, the odds are that as a first novel it will in the end sell only about three thousand copies. That will earn him maybe a thousand pounds. Most novels take at least one year to write, and one thousand pounds a year is not enough to live on these days. So you can see why a budding fiction writer invariably has to start out in another job first of all. If he doesn’t, he will almost certainly starve.

Here are some of the qualities you should possess or should try to acquire if you wish to become a fiction writer: 1. You should have a lively imagination. 2. You should be able to write well. By that I mean you should be able to make a scene come alive in the reader’s mind. Not everybody has this ability. It is a gift, and you either have it or you don’t. 3. You must have stamina. In other words, you must be able to stick to what you are doing and never give up, for hour after hour, day after day, week after week and month after month. 4. You must be a perfectionist. That means you must never be satisfied with what you have written until you have rewritten it again and again, making it as good as you possibly can. 5. You must have strong self-discipline. You are working alone. No one is employing you. No one is around to give you the sack if you don’t turn up for work, or to tick you off if you start slacking. 6. It helps a lot if you have a keen sense of humor. This is not essential when writing for grown-ups, but for children, it’s vital. 7. You must have a degree of humility. The writer who thinks that his work is marvelous is heading for trouble.

- Roald Dahl
(From his book “The Wonderful Story of Henry Sugar and Six More)

hege akan terus mampir dan baca-baca. sukses buat semuanya.

________________________________________
Post by: blue_amaranthine on July 11, 2008, 07:36:25 pm
________________________________________
Quote from: hege on July 11, 2008, 07:19:21 pm
In this century (it was not always so in the last one), just about every single writer who has finally become successful in the world of fiction has started out in some other job — a schoolteacher, perhaps, or a doctor or a journalist or a lawyer. (Alice in Wonderland was written by a mathematician, and The Wind in the Willows by a civil servant.) The first attempts at writing have there¬fore always had to be done in spare time, usually at night.

Thanks bwat hege, paragraf itu cukup inspiring. Wah, ternyata pilihan aq buat jadi Scientist di bidang Chemistry (FMIPA Kimia ITB, doain ya biar masuk) ga salah. My life is for writing. Ga harus jadi sastrawan buat nulis fantasi. everyone has they own dream and imagination. Pekerjaan kita emang ga harus sama ama fantasy fiction. Kegemaran itu udah ada pada diri kita n jadi apapun kita, hal itu takkan pernah berubah. Thank you again, Hege! Kedatanganmu membawa berkah
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 11, 2008, 11:44:08 pm
________________________________________
Quote from: blue_amaranthine on July 11, 2008, 07:36:25 pm
Thanks bwat hege, paragraf itu cukup inspiring. Wah, ternyata pilihan aq buat jadi Scientist di bidang Chemistry (FMIPA Kimia ITB, doain ya biar masuk) ga salah. My life is for writing. Ga harus jadi sastrawan buat nulis fantasi. everyone has they own dream and imagination. Pekerjaan kita emang ga harus sama ama fantasy fiction. Kegemaran itu udah ada pada diri kita n jadi apapun kita, hal itu takkan pernah berubah. Thank you again, Hege! Kedatanganmu membawa berkah

he…
ada adik sealmamater lagi di sini… heheh…
(sayang si kokonoka dah gak pernah muncul lagi)
tetaplah menulis yak, walau nanti dibantai tugas-tugas kuliah dan praktikum. wakakakak…

@hege,
itu tulisan yang sangat bagus. [thumbsup]
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 12, 2008, 10:00:37 am
________________________________________
Btw soal penulis lokal yang ga bisa berkembang, kita engga separah itu kok kualitasnya sebagai penulis, kl yang gw bilang itu tatanan masyarakatnya yang udah terbiasa mengkonsumsi produk luar dan mencap jelek produk lokal. Bule kreatif? Coba aja suru bule kreatif itu berjuang sbg penulis di Indo, setahun juga gulung tikar pulang kampung. Nominasi2 dan penghargaan cuma 1 kelompok kecil yang mengapresiasi dan kl gw mau kejam dikit, gw katakan sbg kelompok kecil yang ‘memaksakan diri’ untuk memperjuangkan novelis lokal yang ada. Sementara itu masyarakat awam di luar organisasi itu dan komunitas penulisnya sendiri, tidak ada yang ‘aware’ sama sekali udah sampai mana perkembangan novel lokal. Yang menang award aja judulnya ga dikenal, 10% populasi jakarta aja ga sampe yang aware tentang adanya award seperti itu. Dan dari segitu dikitnya yang aware dan tahu, ga sampe 50% nya yang mau beli, sekalipun tuh buku dipuji setinggi apapun juga.

Seorang penulis menulis dan ‘terpacu’ untuk menulis karena mengharapkan ada yang mau membaca karyanya kan? Jika masyarakatnya ogah2an dan emang dasarnya menolak membaca buku lokal, gmn caranya supaya bisa maksa mereka baca yah? Apa semua penulis harus menggunakan nama samaran sebagai orang asing? Kl ga ada yang mau baca kan mood jadi ilang dan kinerja serta kreatifitas kita secara keseluruhan akan menurun jauh dari kemampuan kita yang sebenarnya.

Kalau bergantung sama penerbit sini, liat aja hasilnya, nyari novel lokal segitu banyak judul yang udah direview Om Pur aja susah banget >.< Lokasinya diselipin di tempat yang tidak terlihat, tenggelam sama novel2 best seller luar yang bertebaran disekelilingnya. Asli, kalau lay out tokonya seperti itu, siapa yang mau ‘aware’ ada novel lokal disitu??
Diluar negeri jelas enak, animo masyarakatnya terhadap seni dan sastra sangat tinggi. Disini mah animo masyarakat cuma terpicu naik seputar kata duid dan murah. -__-. Atau semua negara berkembang seperti ini yah? saking miskinnya dah ga ada waktu mikirin hal lain selain duid? Brp banyak dan waktu yang dibutuhkan untuk merubah tatanan masyarakat yg udah terlanjur terbentuk dan mendarah daging begini ? ???

Quote
@Hege
4. You must be a perfectionist. That means you must never be satisfied with what you have written until you have rewritten it again and again, making it as good as you possibly can.

masalahnya perfeksionis dooesn’t know when to stop -__- Gw tiap baca ulang karya gw rasanya pengen diulang2 terus… so…I wonder if it’s a bad thing or a good thing. :P Ada yang bilang hal ini bagus, ada juga yg bilang ini bad habit yang harus dihilangkan ^^
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 12, 2008, 11:01:47 am
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 12, 2008, 10:00:37 am
masalahnya perfeksionis dooesn’t know when to stop -__- Gw tiap baca ulang karya gw rasanya pengen diulang2 terus… so…I wonder if it’s a bad thing or a good thing. :P Ada yang bilang hal ini bagus, ada juga yg bilang ini bad habit yang harus dihilangkan ^^

Perfect Perfectionist, knows when to stop! ;)
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 12, 2008, 11:13:59 am
________________________________________
emm… there’s no such a thing as perfect. Dalam novel atau apapun, kemampuan nulis kita berkembang tanpa henti setiap harinya dan ketika skill kita berkembang, ngeliat hasil karya kita yang lama lagi, pasti rasanya pengen diedit lagi. So, kita sendiri yang harus membatasi diri kita untuk berhenti mengedit dan berhenti berkembang? atau biarkan aja berkembang lagi di buku2 selanjutnya? Soalnya detik ketika lo merasa puas diri, artinya lo merasa perkembangan lo cukup sampai disini aja ^^ [rolleyes]
________________________________________
Post by: BloodSin on July 12, 2008, 03:42:23 pm
________________________________________
baru donlot TFH-nya villam :D
udah buka dan liat2 dikid… ternyata ada 400 halaman, panjang juga yak, tapi hurupnya gede2. jadi sebetulnya itu di word brp halaman sih?
gw baru baca ‘subprolog’-nya yg pertama kali (yg semacam wejangan 2 halaman itu, heheheh), dan kayaknya isinya gak beda jauh sama versi jaman dulu yg gw bacak. kalo dulu gw gak protes di bagian ‘khotbah/kesaksian’ itu, sekarang gw protes deh.. daripada menjabarkan filosopi panjang lebar ttg kehidupan dan kematian kayak begitu di awal cerita, gw pikir bakal lebih ‘kena’ ke pembaca kalo lu langsung kasi contoh kasusnya aja, bisa berupa satu contoh dongeng dunia yg relevan dengan topik itu (ala buku2 paulo coelho), bisa juga lu karang sendiri sebuah adegan perang yg digambarkan secara dramatis, sehingga muncul kesan mendalam bagi pembaca ttg hakikat dari filosopi kematian dan kehidupan itu.
maksudnya, gw lebih mengharapkan penyajian suatu bentuk ‘aplikasi’ cerita–sependek apapun, daripada ‘omongan teoritis’ panjang-lebar kayak begitu.
metafora, yak villam, carilah suatu bentuk cerita/adegan sederhana buat jadi metafora dari omongan filosopis 2 halaman itu.
(sebetulnya sih daripada prolog, mungkin part itu lebih tepat disebut pendahuluan/catatan penulis. nah prolog yg sebenernya baru masuk pas scene hajduk.)
oke deh untuk sementara, komen gw segini dulu. komen buat isi cerita nanti menyusul. ^-^
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 12, 2008, 08:05:14 pm
________________________________________
rey,
buku satu itu berisi 95 ribu kata.
iya emang panjang, apa boleh buat. hahaha…
thanks udah donlot yak.
thanks juga kalo bisa/mau baca sampe selesai, dan kasih kritik. gue emang sangat membutuhkan kritik, membantu gue mencari yang bolong-bolong.
kadar keteoritisan dan filosofis dapat dengan mudah dikurangi, apalagi kalo gue memang berniat menyasar segmen yang lebih luas. tapi gue jelasin nanti saja: alasan, kesulitan, keinginan, pilihan gue kenapa pake model prolog kayak begitu.
dan bisa saja nanti bentuknya gue ubah, sesuai saran ente.
btw, itu memang prolog kok (mungkin memang tipe yang tidak biasa, dan gue punya nafsu bikin yang aneh-aneh. hihi…), bukan catatan penulis. karena tokoh yang ngomong gitu nanti emang muncul dalam cerita, dan kejadian aneh dalam prolognya memang benar terjadi. dan itu adalah pemikiran filosofis sang tokoh, bukan semata-mata catatan gue selaku penulis.
thanks again, rey. [thumbsup]
________________________________________
Post by: fr3d on July 14, 2008, 10:18:08 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 12, 2008, 03:42:23 pm
baru donlot TFH-nya villam :D
oke deh untuk sementara, komen gw segini dulu. komen buat isi cerita nanti menyusul. ^-^

Villam, gw belum sempat baca TFH! :-[
Komen Sang Penandai yang gw janjikan ke forum (khususnya ke rey) juga belum bisa di-post karena belum selesai baca bukunya. Baru baca setengahnya aja.
Tapi, TFH pasti bakal dibaca setelah Sang Penandai kelar. [thumbsup]
Goran terpaksa harus menunggu lebih lama lagi…
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on July 14, 2008, 02:08:14 pm
________________________________________
@fred
Quote
Sang Penandai udah dibaca sekitar 5 bab-an. Komennya ntar gw kasih hari senin aja.
Berhubung ada yang berguru pada Tere Liye soal gaya bahasa (baca: rey), jadi gw sengaja nyatet banyak contoh kalimat cuplikan dari novelnya khusus buat orang itu.
Sejauh ini, komentar gw… ah tunggu hari senin aja lah!
Quote
Komen Sang Penandai yang gw janjikan ke forum (khususnya ke rey) juga belum bisa di-post karena belum selesai baca bukunya. Baru baca setengahnya aja.

guru gw banyak sebetulnya, fred. Ada juga Paulo Coelho (untuk gaya penceritaan biasa dan style dialog), Alexander Romanoff (untuk adegan2 komikal/humor), dan Dan Brown (untuk adegan2 suspense). kalo dari Tere Liye, gw cuman absorp jurus ‘Duhai’ dan ‘Lihatlah!’ punya dia aja kok ;D ;D

kalo permainan bunyi rima dan ‘sensasi’ di prolog (dan adegan2 ‘spesial’ lainnya di novel), itu gw ambil spiritnya dari cerpen-cerpen kompas minggu.
udah lewat seminggu dan elu baru nembus setengah buku? emang sambil rangkap baca novel laen jugak yak? kalo bacaan elu emang cuma sang penandai doank seminggu terakhir ini, kayaknya gw udah bisa mengira2 dah gimana komen lu :D
lu gak cocok sama gaya bahasanya. sama kayak temen gw yg maniak novel, eh pas gw pinjemin sang penandai malah gak tamat bacak. (dia bilang gaya bahasanya bikin ‘capek’ ;D ;D)
tapi pas gw pinjemin ledgard dia malah tamat baca dalam 3 hari -.-”
________________________________________
Post by: fr3d on July 14, 2008, 03:50:24 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 14, 2008, 02:08:14 pm
udah lewat seminggu dan elu baru nembus setengah buku? emang sambil rangkap baca novel laen jugak yak? kalo bacaan elu emang cuma sang penandai doank seminggu terakhir ini, kayaknya gw udah bisa mengira2 dah gimana komen lu :D

Selain baca Sang Penandai, juga lagi baca Harafisy-nya Naguib Mahfouz (terjemahan, keluaran Bentang) dan Wizard of Earthsea-nya Ursula K. LeGuin (e-book). Menyusul adalah TFH.
Tapi, gw kan juga nyambi ngerjain novel sendiri, jalan2, sama nonton DVD pula (rutin tiap minggu, minimal 1 film). ;D
Dan jangan lupa, kerja. :(
________________________________________
Post by: piethitam on July 15, 2008, 08:58:19 am
________________________________________
@fr3d
jadwalmu padat banget ya?pacaran ga termasuk?ato seperti kutu buku laen, gaya pacarannya ngebahas buku terbaru? ;D
iya nih udah saatnya ngebahas nopel fantasi laen. kayanya sang penandai masuk itungan gue tuh, soalnya gue pernah baca di kemudian.com cuplikannya alpha serphentwitch, terus terang gue mabok darat.terlalu ajaib dan jenius kali,ya?istilah-istilah hebatnya banyaaaak banget.mungkin ga perlu catatan kaki kaya supernova, glossary kaya sang pemimpi ato ensiklopedia kaya Harry Potter? (sorry nih bang ALpha, ga bermaksud…)
:)
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 10:46:03 am
________________________________________
Quote
iya nih udah saatnya ngebahas nopel fantasi laen. kayanya sang penandai masuk itungan gue tuh, soalnya gue pernah baca di kemudian.com cuplikannya alpha serphentwitch, terus terang gue mabok darat.terlalu ajaib dan jenius kali,ya?istilah-istilah hebatnya banyaaaak banget.mungkin ga perlu catatan kaki kaya supernova, glossary kaya sang pemimpi ato ensiklopedia kaya Harry Potter? (sorry nih bang ALpha, ga bermaksud…)

Hehe terlalu banyak istilah ya? Ntar coba aku review lagi deh, coba liat ada istilah yang bisa dikurangi apa engga. Gatel sih kl ga bikin istilah aneh2, gw rasa Felgirth/GM emang lebih utk pembaca hardcore tertentu yah -__-. Gw memang udah mulai bikin index istilah dari A-Z. Niatnya sih bikin ky indexnya Silmarillion. Selain itu gw juga berniat menjabarkan constructed language gw, asal katanya, dan artinya. Walau… menurut gw yang demen liat index beginian cuma yang bener2 maniak fantasy aja sih ^^.

@Villam
TFH nya udah wa download. Thanx, gw baca dulu ya ^^
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 01:03:12 pm
________________________________________
@Villam,
baru baca dikit, dan ini cuma kesan pertamanya aja, pendapat bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan hehe…
Kl format final bukunya memang seperti itu, beberapa baris yang spasi antar katanya jadi ketarik melebar karena allignnya justify, mending diperbaikin, aga mengganggu.
cara perbaikinnya ya tinggel potong kata selanjutnya dengan strip. misal kata di baris berikutnya ‘menghancurkan’, bisa dipotong jd menghancur-kan, atau meng-hancurkan sehingga bagian awal kata yang dipotong naik mengisi space berlebih di baris atasnya. Dengan begitu spacenya jadi lebih rapat, konstan dan enak dilihat.

Baru baca dikit, tapi nama Wyndassi mungkin bisa dipertimbangkan untuk dirubah? Aga kurang kena bunyinya. Lagian krn gaya bicaranya, gw j bayangin Wyndassi itu cewe.^^ Yang lainnya sih keren namanya, sekali baca langsung klop sama selera gw.
Trus constructed language kamu basis dasarnya dari bahasa apa yah? Susah ditebak, beberapa dari Inggris, beberapa terdengar sangat asing. Di bagian awal, mungkin supaya imbang William si mata rajawali sekalian dikasi nama versi conlang juga. Mungkin ‘qin ev Cundolerat’ huehue. (COndor melarat) XD. Kavalerat itu dari kata cavalier atau apa yah?
Yowez segini dulu ^^. baca lagi ah… jarang2 ada bacaan yang sesuai selera gw…
Btw, naming dalam TFH nya Villam kynya beberapa lebih ribet dari Felgirth gw deh…
________________________________________
Post by: fr3d on July 15, 2008, 01:14:36 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 01:03:12 pm
Btw, naming dalam TFH nya Villam kynya beberapa lebih ribet dari Felgirth gw deh…

Dilarang mencari pembenaran dari karya orang lain untuk karya sendiri! [hammer]
Karya sendiri adalah tanggung jawab diri sendiri!
(*sok-sok lurus… :P *)
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: rd_Villam on July 15, 2008, 01:31:39 pm
________________________________________
thanks udah mau baca, jeff. :)
soal format, itu emang kerjaan eksperimen untuk membuang-buang waktu. hehehe… emang masih banyak kekurangan.
itu gue emang rencananya suatu hari nanti mau ngeprint sendiri dan kopi beberapa eksemplar buat disebar kemana-mana. sukur2 kalo ada yang mau beli. heheheh…
kekurangan satu lagi, ada peta dunia di rumah yang karena gak ada scanning jadi belon bisa gue masukin. huh.
soal naming, itu juga bisa diubah. secara teknis gampang. secara mental yang repot. karena banyak nama di sana yang sudah tercetak sedemikian rupa di kepala sampe bertahun-tahun. kadang sulit dilepas begitu saja. i love the names too much. but too much love will kill you, yak? [biggrin]
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 02:07:32 pm
________________________________________
Quote
soal format, itu emang kerjaan eksperimen untuk membuang-buang waktu. hehehe… emang masih banyak kekurangan.

oh, kl masih eksperimen ya gpp.

Quote
soal naming, itu juga bisa diubah. secara teknis gampang. secara mental yang repot. karena banyak nama di sana yang sudah tercetak sedemikian rupa di kepala sampe bertahun-tahun. kadang sulit dilepas begitu saja. i love the names too much. but too much love will kill you, yak?

Hehe, iya. Kl gw bilang mungkin termasuk idealisme juga untuk mempertahankan beginian. Write to please the readers, and then write to please the smartest reader of all, yourself.
Btw, ini TFH kesannya masih jaman tribal gt ya? Sebelum masuk ke masa kerajaan?
Quote from: fr3d on July 15, 2008, 01:14:36 pm
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 01:03:12 pm
Btw, naming dalam TFH nya Villam kynya beberapa lebih ribet dari Felgirth gw deh…

Dilarang mencari pembenaran dari karya orang lain untuk karya sendiri! [hammer]
Karya sendiri adalah tanggung jawab diri sendiri!
(*sok-sok lurus… :P *)

Wah, tega… Kl gt diterbalikin dikit. Mencari kesalahan dari karya sendiri untuk menyalahkan orang lain. Wkwkwk malah makin parah ;D ;D ;D

Comments No Comments »