Diskusi Pulau Penulis Fiksi Fantasi – Sesi 28
Posted by: Villam in Dokumentasi, tags: cardan, fantasi lokal, kastil fantasi, pendekar garuda, The Forgotten Heroes, villam's writing
[tab:Hal 1]Sesi XXVIII (31 Jul 2008 – 10 Ags 2008)
• Tentang Pendekar Garuda karya FA Purawan
• Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh fr3d
• Tentang situs kastilfantasi.wordpress.com
• Ceritafantasi kita berakar dari mana?
• Lagi, tentang novel Cardan
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: *fr3d* on *July 31, 2008, 04:33:15 pm*
________________________________________
Villam si Raja Perang ke mana ya? Gak keliatan? Sibuk menyusun strategi untuk ekspansi wilayah? ???
TFH: Q & K akhirnya selesai dibaca juga nih…
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 31, 2008, 05:09:31 pm
________________________________________
yow, fred, i’m here…
eh betul tuh, gue emang sedang berekspansi ke suatu wilayah tertentu. serius! hehehe…
gue yakin (mudah-mudahan) ini bisa jadi suatu yang berguna pula buat tret FFDN ini, dan semoga begitu pula buat komunitas penulis fantasi indonesia secara keseluruhan.
cuma langkah kecil sih, tapi barangkali bisa jadi awal.
tunggu saja tanggal mainnya. [bigwink]
________________________________________
Post by: clickdian on July 31, 2008, 05:15:09 pm
________________________________________
Raja Perang dan Sang Peramal? ???
Terus aq ngambil peran sebagai apa? dayang2? ;D
hehehe.. iyalah, mending ngikut ajah. biar gak pusing mikir ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 08:39:07 am
________________________________________
Hmm… mencurigakan…
[gossip]
________________________________________
Post by: BloodSin on August 01, 2008, 09:47:59 am
________________________________________
@om Pur
Bos, ini sekedar kritik & masukan tambahan dari ane buat PG ente, gara-gara ngeliat ‘fenomena’ orang-orang yg pada gak tamat baca PG ente cuma dengan bermodalkan alasan: “bukan tipe/selera bacaan gw” lha, “terlalu islami” lha, “settingnya terlalu ngindonesia” lha,
Bahkan sebelum beres baca bab pertama-kedua.
(Eh ini bukannya gara-gara mau bales dendam terhadap komen ente atas gaya bahasa Lemures ane yakkk, sama sekali gak ada maksud ke arah situ
)
Kemaren sempet buka-buka PG lagi yg formatnya .LIT, ingin menyelami gaya bahasa ideal seorang FA Pur, dan emang yg kutemukan, adalah gaya bahasa yang 180 derajat berlawanan dengan Lanang/prolog Lemures: jauh dari
kesan pretensius, dan benar-benar ‘jujur sejujurnya’ ala bocah ngomong blak-blakan.
Well.. dulu ane sempet bilang gaya bahasa PG yang ala teenlit itu emang sama sekali bukan seleraku (karena tipe gaya bahasaku sendiri aja udah ‘sok nyastra’ dan formal abiss), tapi setelah kulihat-lihat ke depannya, ternyata si Serpent yg gaya bahasa ceritanya standar pun (cenderung non-pretensius) juga gak tamat baca. Jadi kurasa, ini bukan lagi
persoalan selera pembaca, tapi udah masuk ke masalah teknis.
Ah, menurutku cuma mengada-ada kalo ada pembaca yang menjadikan setting Islami/Indonesia sebagai alasan utama buat berhenti baca PG, karena sebetulnya, setting ‘lokal’nya itu masih dalam taraf yg wajar—belum sampai pada taraf dakwah/propaganda untuk mengajak memeluk Islam/menjatuhkan agama-agama lain seperti novel ‘religi’ pada umumnya. Lagipula toh tetap ada juga pembaca Muslim yg gak beres baca PG, kan?
Menurutku kelemahan yg paling fatal di PG justru terletak pada gaya bahasa (mencakup narasi, deskripsi, sampe dialog) yang terlalu blak-blakan, terlalu jujur, polos nian apa adanya (khususnya bab awal-awalnya yang mestinya bisa dibuat se-memikat/se-elegan mungkin). Apalagi kalo sasarannya buat dewasa muda ke atas, jatuh-jatuhnya bakalan
serasa baca novel teenlit betulan. Kalo sasarannya ABG pun, jelas salah strategi dengan menempatkan setting Jaka yang bertone serius sebagai prolog.
Kalo si fred bilang gaya bahasa ‘pretensius’ boleh diibaratkan sebagai air gula yang dikasih sirup, maka ane mau ngasih analogi gaya bahasa blak-blakan PG itu kayak sepiring nasi putih polos tanpa sedikitpun bumbu/lauk pauk (ehmm, metaforanya kurang pas nih
). Gak bisa juga sih dibilang ‘hambar/steril’, karena emang ada beberapa paragraf/dialog PG yg emosinya kentara dapet/atau malah cenderung ‘keasinan’, hueheheh.
Tapi sebagai pembaca, ane sebetulnya mengharapkan penulis (apalagi yg udah sekaliber ente!) bisa menyusupkan sedikit-banyak teknik-tekniknya dalam bertutur kata di dalam karyanya, metafora-metafora yang manis, gaya bahasa yang sejatinya cocok ditujukan buat dewasa muda. (gaya bahasa Forever Wicked-nya ewing pas tuh buat pembanding idealnya, karena sama-sama bersetting jakarta dan bahkan sama-sama bertema ngelawan iblis!–dengan eliminasi kata-kata vulgar/kasar kalo ente gak berkenan)
Kenapa ane bisa enjoy/’dapet’ (bahkan sampe taraf ‘menantikan!’) baca review-review, postingan-postingan ente, sementara ketika baca PG cenderung tak menikmati? Ane juga tersalut-salut waktu baca deskripsi ‘iseng’ ente buat Fulberr di tret GM lho, dan sebetulnya kagum juga dengan sekian banyak teknik penulisan yg ente share di thread-thread cerita Pulpen.
Kurasa, orang yang terbiasa baca tulisan ente di review/postingan ente di Pulpen, pasti bakalan shock ketika baca PG, karena ‘keluguan’ gaya bahasanya malah gak menggambarkan kualitas seorang FA Pur yang sebenarnya.
Yahh, pokoknya sekarang you get what my point is, semoga bisa membantu ente dalam merevisi PG deh. Yo kita sama-sama saling ngebantu. ^-^
note: oh yep, ini komen ketiga ane buat PG ente yak, kalo mau bakal
kupost nih ke milisnya berturut-turut dari komen pertama, gimana?
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on August 01, 2008, 01:38:44 pm
________________________________________
@Rey,
Boleh-boleh, kayaknya masukan yang terakhir ini sangat bergizi, untuk gue pelajari sungguh-sungguh. Jujur aja, gue udah coba merubah beberapa adegan dalam revisi gue yg baru ini, dengan gaya bahasa yang sudah agak beda (iya lah, ada selang beberapa tahun,…). Tapi gue rasa masih akan ada kepolosan yang melekat di situ, secara gak bisa dipungkiri bahwa material dasarnya adalah karya cipta seorang anak yg baru lulus SMA ;D .
Coba gue liat lagi dah.
BTW revisian gue saat ini sudah menginjak Akhir Bagian 2
Untuk gaya bahasa yg lebih ‘dewasa’ gue punya dua rencana naskah:
Jakarta Paralel / JP (ini udah lama gue ciptakan tapi masih belum lanjut), itu lebih darksih dari PG. Dan satu lagi judul sementaranya “Mata Ketiga”, ini (maunya) lebih darkish lagi daripada JP
Gue juga punya naskah space novel lain: Hulka. Tapi bener-bener baru bab awal doang, belum ada passion untuk nerusin walaupun ide besarnya udah ada. Kapan2 gue posting di sini, kali ya? Sekalian biar diliatin apakah
gaya bahasanya berbeda ato gak dengan PG (harusnya sih beda [annoyed], ayo bertekad!)
Silakan boss, masukannya di posting aja dimilis! BTW di milis belum pernah ada diskusi panjang, siapa tahu bakal jadi trigger, tuh. he he he.
@Fred,
Silakan boss, bisa join di FAP_novels@yahoogroups.com komentarnya ditunggu banget.
downloadable pdf ada di halaman FILES, berikut passwordnya.
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm
________________________________________
Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak?
________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 05:05:26 pm
________________________________________
@villam,
komen buat TFH-nya hari senin aja ya! Baru selesai ngetik good news-nya doang, bad news-nya belum, hehehe… [biggrin]
Quote from: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm
Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak?
Belum. Bagusnya sih seseorang (baca: *clickdian*) beli dan membaca buku itu, terus review-nya di-posting ke forum.
;D ;D ;D
________________________________________
Post by: Amru_Yozar on August 01, 2008, 05:07:42 pm
________________________________________
Halo-halo,
Agen Amru di sini. Muup yah baru nongol skarang, maklum lagi mata2in Otoritas.
Repiu gath na keren Dian! Tapi sori Fr3d, gw belon bisa nerusin. Kalo gw yang nerusin malah jadi norak, hehe…
Oh ya teh Dian, gw udah beli tuh Nicholas Alchemist, tp blon sempet baca. Bakal 2 seri tuh kayakna.
@ Villam
Hm… mo bikin penerbitan y? Mau dong karya gw ikut diterbitin
________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 05:18:41 pm
________________________________________
Quote from: Amru_Yozar on August 01, 2008, 05:07:42 pm
@ Villam
Hm… mo bikin penerbitan y?
Hah?! Beneran?! ![]()
[gossip]
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 02, 2008, 05:47:40 am
________________________________________
@Fred & Amru
Boleh aja gue kirim by email, tapi kalo pdf ukurannya gede, loh. Makanya gue bagi 3 files @ kira-kira 900kb.
Gue ada format LIT (Ms reader), satu novel lengkap hanya 600kb, tapi syaratnya ente kudu punya Microsoft Reader, terserah versi PC (buat baca di kompie) atau versi Pocket PC buat baca di PDA (Windows Mobile).
Kalo mo dikirim by email, gue akan kirim yg LIT.
Kalo mo download sendiri, join aja di milis. Gratis koq, dan alamat email kalian ga akan gue salah gunakan. Gue perlu milis buat menampung masukan-masukan pembaca. I’ll appreciate kalo temen-temen bisa bantu gue on that ![]()
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: fr3d on August 04, 2008, 03:49:43 pm
________________________________________
Tentang TFH: Quazar & Ksatria, komennya udah di-PM langsung ke penulisnya, villam.
Berhubung karyanya belum terbit dan gw takut memberi spoiler, jadi gak di-posting ke tret ini…
(*menunduk-nunduk memohon maaf*) :-[
Intinya komen gw tentang TFH buku 1:
"Villam menunjukkan kebolehannya dalam bercerita di TFH: Q & K. Teknik story-telling-nya sangat apik dan ciamik. Namun, ternyata kelemahannya justru ada pada story-building. Kisah utama dan kisah2 pendukung di dalam novel ini rasanya terlalu hambar dan kurang menjual. Perlu ada penegasan dan "pewarnaan" untuk dapat menyempurnakan karya yang potensial ini."
...
...
Oops! ![]()
*cepet2 kabur sebelum leher ditebas si Raja Perang!*
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 04, 2008, 05:52:47 pm
________________________________________
friends,
daku belon sekaya itu untuk bikin sebuah penerbitan. [biggrin]
tapi jujur, itu memang sebuah pilihan hidup yang menarik nanti. Bikin sebuah penerbitan khusus fiksi fantasi, termasuk juga majalah khusus fiksi fantasi. sapa tau juga bisa bikin penghargaan khusus fiksi fantasi
indonesia. [biggrin]
amin…
anggap aja ini doa.
yang gua bikin sebenarnya baru sebatas ini:
http://kastilfantasi.wordpress.com/hall-of-discussion/
silakan dilihat.
jadi, intinya, teman2 tau kan obrolan kita di forum ffdn 3 ini udah sampe skala mega?
nih gua kasih tau, kita udah ngobrol total sebanyak hampir 350 ribu kata. bayangin aja ndiri deh, ini udah seukuran tiga novel masing2 setebal 500 halaman.
nah gua udah coba pilah, mana yang relevan dengan tema penulisan fiksi fantasi, dan membuang sekitar 40% pembicaraan OOT.
mudah-mudahan ini bisa membantu kita menemukan lagi topik2 apa yang udah pernah kita bahas. Dan juga membantu memudahkan orang-orang lain di luar forum ini yang pengen baca-baca dan belajar dari ente-ente… ![]()
oke sementara itu dulu, ntar gua tambahin.
thank you so much, fred, atas kritikannya!
ah… plot ya…
itu kesalahan yang… memang mestinya udah gue sadari dari awal, dan dengan keras kepalanya gue pertahankan…
hmm… tampaknya pendirian gue emang kudu berubah…
________________________________________
Post by: fr3d on August 05, 2008, 08:59:06 am
________________________________________
Well, kayaknya memang cuma villam deh yang bisa bikin beres2 model beginian! Great! [thumbsup]
________________________________________
Post by: fr3d on August 06, 2008, 08:41:07 am
________________________________________
Quote from: tangochenchen on August 05, 2008, 07:32:57 pm
kira-kira fiksi-fiksi fantasi yang sedang kita tulis berakar dari mana?
Kalau gw secara pribadi, menulis berdasarkan suatu tujuan atau maksud.
Karya gw adalah untuk menyampaikan sesuatu.
Akar budaya hanyalah fasilitas atau media yang gw manfaatkan untuk menyampaikan pesan/maksud gw itu.
Kalau ternyata apa yang ingin gw sampaikan akan lebih sesuai atau mudah dipahami dengan menggunakan akar budaya Barat, maka gw akan menggunakan budaya Barat sebagai setting cerita.
Sebaliknya, kalau lebih cocok menggunakan akar budaya Timur, maka gw akan menggunakan setting budaya Timur.
Gw sendiri gak akan men-”diskriminasi” karya2 yang gw hasilkan dengan dikotomi macam “Barat & Timur”.
Yang paling utama adalah tentang pesan yang harus tersampaikan dengan benar, di luar itu, semua hanyalah fasilitas.
Pokoknya, yang penting sebagai penulis, just write what you like, entah itu “Barat” atau “Timur”.
Kita gak akan menghasilkan sesuatu yang bagus dengan mencoba (dan memaksa) menjadi orang lain.
^-^
________________________________________
Post by: MakMak on August 06, 2008, 09:51:48 am
________________________________________
klo sy menulis karena mengikuti ego saja. ;D ;D
memang sering saya memasukkan politik saya kedalam cerita tersebut, namun tetap saja didominasi oleh ego. ketika sy ingin membuat dengan setting legenda barat, saya buat bersetting legenda barat, ingin berdasarkan legenda lokal, sy buat yang berdasarkan legenda lokal, mau bersetting jepang, sy buat yang seperti itu.
jd tidak ada keterikatan harus dari budaya mana, tetapi saya lebih cenderung ke sy maunya apa.
________________________________________
Post by: tangochenchen on August 06, 2008, 12:08:42 pm
________________________________________
ya [rolleyes] ya, memang setiap pengarang memiliki otoritas….(Pengarang adalah “tuhan” dalam karangannya)
tentu saja kita tidak bisa menyalahkan imajinasi, ide, ilham atau pun gagasan seseorang yang tertuang
dalam karyanya…
meski pun demikian kita sebagai pengarang memiliki “tanggungjawab” terhadap pembaca baik disadari atau tidak, secara langsung maupun tidak langsung, karangan tersebut pasti mempengaruhi alam pikiran pembacanya…
alangkah sayangnya apabila kita tidak bisa menggali khazanah yang berakar dalam kebudayaan kita sendiri,
menurut saya itulah yang membuat karya kita tidak sekadar sebagai “kacang yang laris dijual sesaat” tetapi
bertahan lama dan bisa menjadi sumber inspirasi di dunia, atau pun relevan sepanjang masa….bukankah seperti
tadi dikatakan pengarang memiliki maksud2 tertentu dalam mengarang ceritanya?
tentu saja saya dapat memahami kondisi semacam ini tidak muncul secara tiba-tiba. pengarang2 di Indonesia sebagian besar adalah hasil didikan kurikulum yang meminggirkan sastra dan sejarah: murid-murid SMP dan SMA kita pada umumnya tidak dilatih membaca buku sastra berbobot baik karya dalam negeri maupun dunia – baru-baru ini saja sastrawan seperti Taufik Ismail prihatin dan memberikan perhatian terhadap kelemahan pelajaran sastra kita.
bahkan Ujian Nasional bersifat sangat objektif. tidak ada ujian mengarang maupun soal-soal yang menuntut nalar dan argumentasi kita (misalnya soal-soal sejarah hanya pilihan ganda, tanpa ada soal2 esai).
di samping itu, pelajaran Sejarah kita terus menerus mendiskusikan sejarah politik terutama seputar revolusi kemerdekaan dan G30 S PKI, bahkan sampai di bangku kuliah, mahasiswa-mahasiswa sejarah lebih didorong untuk meneliti sejarah politik dan ekonomi Indonesia saja.
Kalau di Amerika, kita tidak heran kalau sejak di bangku SD pun mereka dilatih menganalisis novel pilihan,
dan belajar mengarang kreatif…He he…menyuruh murid-murid kita berimajinasi saja, yang terpikir adalah
apa yang baru saja mereka tonton dan bukan yang mereka baca…
Tetapi, di Malaysia negara tetangga kita saja, baik siswa SMA IPA, IPS maupun bahasa tetap mempelajari sastra, berlatih mengarang,dan mengerjakan soal-soal esai sejarah…
Saya terkejut ketika salah satu murid SMA dari sekolah swasta mahal mengatakan bahwa dia (mudah2an hanya dia saja) tidak tahu apa-apa tentang renaissance, reformasi Gereja, atau pun zaman pra-sejarah hanya karena menurutnya mungkin tidak dipelajari karena dia adalah murid IPA… Tentu saja saya tidak terkejut
kalau sampai kelas tiga pun nanti dia tidak bisa mengarang sebuah cerita sepanjang 180 kata, bahkan dengan sebuah panduan sekali pun.
Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 06, 2008, 12:59:16 pm
________________________________________
Quote from: tangochenchen on August 06, 2008, 12:08:42 pm
Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak
Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)
YES, bu Tango! Right on mark! (halah, remarks gue aja dalam bahasa Inggress,..
)
Gue sangat setuju dengan pemikiran bu Tango. Ketika kita cenderung memilih setting non-lokal, jangan salahkan pengarang. Tapi kenapa hal itu bisa terjadi. Dan apa yg dituturkan oleh bu Tango itu bener-bener sebuah fakta. Kita memang dididik dan terdidik untuk menjauh dari akar kita sendiri.
Dan khususnya Fantasy, kita memang berkiblat pada budaya non-lokal, dan itu juga tidak salah, secara yang tersedia dalam khasanah perbukuan memang ya hanya itu.
Okelah bu, silakan bermigrasi, tapi jangan lupa tetap bimbing anak-anaknya untuk mencintai budaya ibu pertiwi, ya bu,…. [thumbsup]
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on August 06, 2008, 02:32:04 pm
________________________________________
Jadi, yang salah sebenarnya sistem dong? (pendidikan, sosial/kemasyarakatan, politik, dsbnya?) ???
Kalau mengingat masa2 SMP/SMA, gw juga merasa prihatin, kenapa dulu pelajaran sejarah (khususnya Indonesia), tidak diajarkan dengan cara yang lebih interaktif.
Akhirnya pelajaran sejarah, yang adalah salah satu media pengakaran budaya yang sangat dominan, malah terasa sebagai topik yang kurang menarik, bahkan membebani. ![]()
Apalagi yang sering ditanyakan ketika ujian adalah tahun A, tahun B, tahun C, dan tahun2 lainnya. Otak pun dirangsang untuk menghapal aja, bukan berimajinasi ([biggrin]).
Padahal gw sangat suka dengan pelajaran sejarah lho (tokoh sejarah indonesia favorit gw adalah Pangeran Diponegoro ^-^), dan pengetahuan2 sejarah “tambahan” memang akhirnya gw peroleh dengan mencari tau sendiri, bukan dari dalam kelas.
Jadi, gw memang setuju kalau terpinggirkannya budaya lokal sebenarnya adalah suatu proses, dan ini bukan sesuatu yang tak bisa dihindari.
Kalau tadi gw menulis bahwa penulis sebaiknya menuliskan apa yang mereka sukai, berarti yang mungkin harus diperhatikan adalah bagaimana caranya calon penulis di masa depan bisa menyukai khazanah budaya lokal sehingga
mereka tak akan berpikir dua kali untuk menggunakan budaya indonesia sebagai materi tulisan mereka.
Lalu kalau kita? Masih mungkinkah memutar arah?
Ya, memang mungkin2 aja.
Tapi kita pribadi harus memahami pula batas kemampuan kita sendiri dalammenulis.
Misalnya, betapa pun gw sangat menyukai tetralogi-nya Pram danmenghormati almarhum, gw gak sanggup menggunakan khazanah budaya lokal dalam karya tulis seperti apa yang telah beliau lakukan.
Kita bisa mencobanya memang (dan mungkin gw akan melakukannya suatu harinanti kalau ada kesempatan,
), tapi kalau kita tidak cermat, bisa-bisa karya kita cuma berakhir seperti novel Phoenix, yang memang memanfaatkan
khazanah budaya lokal, tapi alih-alih membanggakan, malah merusak citra budaya itu sendiri.
Bisakah kita menjamin hal semacam itu tak akan terulang lagi tatkala kita, sebagai penulis, selalu merasa karya kita adalah yang terbaik?
Gw lebih setuju dengan pendapat om pur dulu.
Karya fantasi di Indonesia umurnya masih sebiji jagung.
Ibarat anak-anak, kita masih belajar merangkak, dan cara belajar yang paling mudah adalah dengan meniru.
Jadi, kita harus bisa memahami kenapa hampir semua penulis fantasi yang ada sekarang selalu menggunakan template karya asing (berbudaya asing) untuk karya tulisnya.
Okelah memimpikan bahwa Indonesia nantinya akan dijamuri oleh buku2 fantasi tentang negeri kita sendiri.
Namun, kita tetap harus sadar dengan kemampuan kita sendiri.
Jangankan mencipta sesuatu yang orisinil dengan budaya milik bangsa kita sendiri, yang terinspirasi karya asing saja masih banyak yang gagal kualitasnya. ![]()
Harapan semacam itu merupakan sebuah proses dan butuh waktu pula.
Dan gw mengatakan ini bukan semata-mata sebagai alasan untuk mengelak dari seorang penulis fantasi.
Well, gw pun berharap, mudah2an kita memang sedang berada di jalur yang benar.
Lalu tentang menghasilkan karya yang bisa menjadi sumber inspirasi dunia, rasanya tidak melulu hal itu harus terkait dengan setting atau sumber materi (budaya) yang kita ambil untuk karya kita.
Itu salah satu faktor, ya benar. Tapi ada hal lain pula yang bisa kita jual sebagai penulis, yaitu ide, dan ide bisa merupakan sesuatu yang universal (tidak terkait faktor budaya).
Begitu deh kira2… ![]()
Omong2, bu tango, Anda bukan mama piyo kan?
Entah kenapa, kalau tau ada seorang ibu yang menulis fantasi, pasti kebayangnya langsung ke mama piyo. ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: blue_amaranthine on August 06, 2008, 05:20:23 pm
________________________________________
Buat Om Pur, makasih ya reviewnya, ngebangun banget. Sori baru bales (Udah berapa lama ya) soalnya sibuk bgt ngurusin penerimaan mahasiswa baru mana minggu depan OSPEK lagi (Thanks God, Akhirnya gw kterima di
FMIPA (Chemistry) ITB hehehe siap-siap bikin bom! [bomb] [bomb]
[bomb]). Thanks sudah dinobatkan sebagai The Best Fantasy in your list. [biggrin]
MOga-moga terbitan selanjutnya bisa diperbaiki. ampir 70% yang om pur rasain tentang penerbit n tetek bengek (perubahan Ms. jadi Mrs. juga g taw siapa yang ngerubah) ternyata sama n banyak bagian yang mesti gw perbaiki bwat cetakan kedua, kata penerbitnya sih bisa asal tidak prinsipil. (Masalah titik koma, nama, EYD yang bikin gw sukses SNMPTN, dll). Thank you! Thank you very much……!!! Ini hadiah terbaik bwat gw setelah tu buku terbit. Yang lain mau ikut kasih hadiah?
________________________________________
Post by: BloodSin on August 06, 2008, 09:49:22 pm
________________________________________
Quote
Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)
Wah keren, kali ini yang masuk tret dari kalangan ibu-ibu, welcome & selamat gabung ama kita-kita deh makcik tango [biggrin]
Kalo buat gw, harga mati dari sebuah novel itu ya faktor entertaining-nya (wujud ‘entertaining’ ini variatif mengikuti genre), yang syukur-syukur kalo disupport juga dengan riset dan wawasan pengarang untuk memperluas pengetahuan pembaca (secara novel berwujud ‘buku’!).
Pemilihan setting gak masalah mau darimana, asal pengarang bener-bener punya kapasitas buat menggarap setting itu.
Daripada novel fantasi dengan setting indo (laen kasusnya kalo ‘indo kuno’ macam PG om pur yg jelas penggarapan settingnya dibutuhkan usaha riset atau at least wawasan pengarang), gw jauuuh lebih appreciate kalo ada pengarang lokal yg punya kapasitas bikin novel bersetting barat/jepang/rekaan lengkap dengan kultur dan atributnya. Dan kalo gw bilang ‘berkapasitas’, itu harus mencakup semuanya, baik secara roh dan fisik setting, bukan setengah-setengah. Yang jadi masalah di kebanyakan novel lokal yg pake setting non-lokal, ya ‘setengah-setengahnya’ itu.
Biasanya settingnya barat kulturnya timur, gak konsisten.
Tentang kenapa selama ini novel lokal yg meledak itu selalu yg bersetting & berkultur lokal juga, mungkin karena emang belum ada penulis lokal yang bener-bener mumpuni buat menggarap setting non-lokal.
Quote
bisa-bisa karya kita cuma berakhir seperti novel Phoenix, yang memang memanfaatkan khazanah budaya lokal, tapi alih-alih membanggakan, malah merusak citra budaya itu sendiri.
Phoenix mah bukannya bersetting gado-gado? ???
btw merusak citra budaya lokalnya gimana sih fred? jadi penasaran gw [biggrin]
Emangnya mengajarkan kekerasan dan pornoaksi?
Quote
Tapi kenapa hal itu bisa terjadi.
Selain jawaban ‘kesalahan sistem’ yang disimpulkan si Fred, gw kira masih ada dua alternatif jawaban lain:
1. Selera
Untuk jawaban ini, silakan menyalahkan budaya video games, gempuran film hollywood & anime jepang, sampe manga & novel-novel barat yg masuk gramed. Judul-judul ngetop kayak LOTR, harpot, final fantasy, jelas mempengaruhi alam bawah sadar pengarang manapun yang pernah ‘mengkonsumsi’nya, dalam meng-create setting novelnya.
2. Akses
Ah jawaban ini datang dari opini om pur dulu waktu gw ngeluh betapa susahnya riset bikin novel sci fi. Well gw pribadi kenapa lebih prefer setting luar alih-alih lokal, karena emang gw non-pribumi, dan gw emang gak ada ‘akses’ sama sekali selain dari sinetron-sinetron silat indo, buku-buku lokal, dan perpustakaan nasional. Gw gak familiar dengan istilah-istilah, budaya dan tradisi lokal. Bahkan setiap kali gw ikut undangan orang kawin, nyaris gak ada yang pake kultur indo, all of them pake kultur barat/tionghoa semuah.
Toh terbukti sekalinya ada fantasi lokal yang pake setting lokal (baca: pinissi), ditulis sama mama piyo yang emang orang makassar aseli dan sering dapet dongeng lokal semasa kecil dari kakeknya… atau kira-kira begitulah.
Well emang gw jugak bukan keturunan bule makanya gw prefer setting barat, tapi kita semua tauk referensi kultur budaya barat jauh lebih bejibun dan gampang pengaksesannya.
Quote
Omong2, bu tango, Anda bukan mama piyo kan?
Entah kenapa, kalau tau ada seorang ibu yang menulis fantasi, pasti kebayangnya langsung ke mama piyo.
Tumben lu pinter fred [thumbsup]
Iya juga yah, tagnya ini: penulis fantasi, ‘seorang ibu’, dan dateng kesini bawa-bawa topik “setting lokal takluk di bawah pengaruh barat” secara Pinissi-nya itu bersetting lokal [biggrin]
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: cheppy70 on August 07, 2008, 07:53:38 am
________________________________________
Selamat pagi, semuanya ![]()
Udah mulai baca Cardan, nih,….
Baru sampai halaman 7, dan alamak. Ini gaya penulisan paling ancur yang pernah gue baca!
Tunggu kelar, ye. Next for review.
Buat review, saat ini review Zauri lagi disusun.
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 07, 2008, 08:56:47 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on August 07, 2008, 08:33:30 am
Yap, buat gw sih Cardan kena penyakit bahasa no. 3, gaya bahasa absurd, berputar-putar, gak jelas banged >_<. Dimana indikasi dari gaya bahasa ini adalah, ketika pembaca membalik halaman, ia akan dengan serta merta
tersadar dari lamunannya, lantas berkata-kata tidak mengerti sambil menggaruk kepala, “Eh, udah balik halaman ya? Gw dari tadi baca apaan sih?”
Huahuahuahua (ini niru gaya ketawa siapa?) ;D ;D
Bener banged, tuh. Gue sempat ngebolak-balik halaman, karena kayaknya kalimat lanjutan dari halaman sebelumnya koq ga nyambung banged gitu,… ![]()
Memang bakalan lama neh, kayaknya, untuk menyelesaikan buku ini :-\
________________________________________
Post by: ewingerwin on August 07, 2008, 09:18:15 am
________________________________________
Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu.
________________________________________
Post by: BloodSin on August 07, 2008, 09:22:51 am
________________________________________
Quote
Memang bakalan lama neh, kayaknya, untuk menyelesaikan buku ini
Semangaaaad bos! Ane aja bisa ngabisin, cuma sebulan-duabulanan doank.
[biggrin]
Nih buku cara kerjanya sama kek Ledgard kok, masuk ke setengah buku, entah kita yg udah adaptive ama gaya bahasanya atau emang gaya bahasanya jadi membaik, bakalan jadi cepet melaju bacanya, serius ![]()
Endingnya? Ente pasti mencak-mencak laksana kuda ngamuk ;D
@Ewing,
Cardan emang fantasi lokal yg paling kueren kovernya, bukan ‘rada’ lagi dah kalo buat ukuran fantasi lokal mah
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 08, 2008, 10:02:29 am
________________________________________
Quote from: ewingerwin on August 07, 2008, 09:18:15 am
Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu.
@Ewing, ini kutipannya,… Sesuai kata Bloodsin, kalo cuma dikutip sepenggal mungkin nggak akan terlalu kelihatan ‘belangnya’. Harus dikutip agak panjang. Maka gue hadirkan aja prolognya sekalian di sini.
Cardan, hal. 1 – 2:
Langit malam ini sangat indah,…… dst
Di daratan ini terdapat sebuah kerajaan bernama Tolan,….
Namun, dibalik semua kelebihannya, Tolan sedang mengalami peperangan,…..
Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam
hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu. Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.
Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh
di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.
Ia kembali melihat kawannya terluka. Bagaimana Cardan sepertinya bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu, meskipun pangkatnya cukup tinggi ia masih
saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.
Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
—————————————————
Mendingan baca dulu dua-tiga kali, biar meresep. Baru abis itu baca ulasan gue di bawah ini.
Perhatikan, di atas itu lebih kurang adalah bagian prolognya, per paragraf. yg gue kasih tanda titik-titik, itu maksudnya masih ada terusan yg melengkapi paragraf tersebut sampai usai 1 paragraf. Isinya ga terlalu penting, yg penting pembukaannya.
Setelah 3 paragraf awal, gue kutipin lengkap untuk memberi gambaran mengenai kehancuran gaya penulisan yang gue maksud.
OK, sekarang kita akan mulai review kecil ini,… (nanti juga bakal gue masukin ke fikfanindo, kali).
Kalau rekan-rekan menganalisis tiga paragraf awal, tentu rekan-rekan bisa memperkirakan alur dari prolog, yaitu (1) suasana malam sebagai pembuka cerita (dan actually tuh paragraf ngomongin 3 bintang penting)
yg menghiasi langit malam. (2) Sebuah negeri bernama Tolan, (3) Situasi politik Tolan,…
Tapi paragraf 4-nya, dengan begitu gak nyambungnya, langsung masuk dalam adegan perang. Halah! Dan cobalah perhatikan isi dari paragraf ke-empat tersebut:
/Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta.
/
ini aja udah kalimat yang subyek-predikat-obyek nya ngaco, kayaknya kurang tanda baca ataupun kata sambung.
/Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka.
/
kalimat selanjutnya ini gak nyambung dengan Subyek “Jendral”, sebab Subyek tiba-tiba berubah menjadi merefer ke “pasukan yang begitu membabi buta”. Terus tau-tau berubah lagi ke subyek yang lain:
/Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu.
/
yang dilanjutkan dengan kalimat ini:
/Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.
/
Yang kalau dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, mengesankan bahwa pedang sang jendral sudah mencabut banyak nyawa nggak cuma musuh melainkan juga dari pihaknya sendiri!
So, the whole paragraf is a mess!!
Terus paragraf berikutnya bikin ketawa lagi:
/Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya.
/
(Kena busur aja luka? cemen banget,….. iye-iye, gue tahu, maksudnya kaki kirinya ketancep panah. BTW, Fatal ya? Panah beracyun,.. kalee?)
/Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat
yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.
/
Ini juga series of incoherent actions. Maksudnya sih bisa kutangkep, tapi masih mendingan juga sastranya Sinchan yg “BABI PERGI,… BABI PULANG” itu, hehehe. Terus membantai sepuluh PASUKAN??? Maksudnya sepuluh PRAJURIT, Kallii,…?
Selanjutnya penggambaran aksi dalam kalimat dan paragraf lanjutannya benar-benar menggambarkan seorang jendral yang lagi bingung dan depresi banget, bukan lagi perang (ini jendral atau prajurit rank & file, sich?
Koq sibuk amat di garis depan. Yang ngatur strategi di war room, terus siapa? Sekretarisnya, kali?)
So, need I say more mengenai keancuran gaya penulisan ini? He he he,.. gue terusin baca dulu aja, kali yee,…. siapa tahu di akhir buku ada perbaikan (cross fingers,…)
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: ewingerwin on August 08, 2008, 12:15:08 pm
________________________________________
@Om Pur: Makasih banyak, bos
. Sekarang dah keliatan ‘belangnya’ kayak gimana ;D.
Oke, harus gw akui. Kalimat per kalimatnya memang nggak terlalu bermasalah kalo dibaca sendiri-sendiri, tapi memang alur dan komposisi paragrafnya terasa berantakan banget dan pemilihan kata/diksinya seharusnya bisa lebih baik daripada itu. Di beberapa bagian ada yang ambigu/nggak jelas abis, dll, dll.
Yep, secara keseluruhan, gw hanya bisa mengamini Om Pur aja deh, yang gw baca ini emang berantakan abis. Beli nggak ya? Hmm… dana terbatas…
________________________________________
Post by: cheppy70 on *August 09, 2008, 10:30:28 pm
________________________________________
Ning-nong!!!
@all,
Zauri sudah hadir di fikfanindo ![]()
Salam
________________________________________
Post by: bjvadis on August 10, 2008, 10:38:19 am
________________________________________
Oh, gpp, beli aja tuh Cardan. Gue sih udah baca abis, dan ceritanya cukup seru walaupun makhluk2 ciptaannya ada yg 100% baru dan bingung ngingetin ciri2nya. Taktik perangnya juga mantap, apalagi penokohan Raja Links yg adalah varian baru, inspiratif [thumbsup]. Hanya soal penamaan saja yang kelihatannya campur aduk dan nggak konsisten – but, what’s in the name? -
It’s worth your money.
Tapi waktu lihat cover Cardan pertama kali itu g sempet deg-degan karena desainnya persis dengan desain cover manuskrip yang gue kirim ke GagasMedia (lambang burung elang mirip garuda), konsep definisi Cardan mirip dengan Paladin dari karya gue, trus ada unsur: Musuh Besar yang dianggap sudah mati tapi ternyata masih hidup. Tapi setelah dilihat2 dalamnya, ternyata 100% beda – dan g setidaknya agak bernapas lega.
[hammer]
________________________________________
Post by: tangochenchen on August 10, 2008, 01:21:20 pm
________________________________________
Mungkin kalau diedit dr segi bahasa begini ya…(ini pengalaman jadi asisten pribadi juri lomba karya fiksi…tahu sendiri kalo juri itu hanya manusia biasa yg punya waktu cuma 24 jam sehari) tapi novel ini kan sudah terbit ya
Seorang jendral Tolan (seorang Jendral dalam Perang Tolan?) sudah banyak memenangkan perang. Namun, ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya, bagi pasukan (musuh Tolan?) membunuh
seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup mereka. Membunuh seorang/para Tolan (he he kedengaran seperti handai tolan) sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. Pedang sang jendral Tolan sudah berlumuran darah. Entah sudah berapa banyak nyawa yang ia cabut dengan pedang itu. (Saat ini, lalu, kemarin? Kapan perangnya?) banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.
Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk (nya) lalu membaringkan tubuh kawannya (itu) di atas tanah. Dia berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar
sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal Tolan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.
Ia kembali melihat kawannya (yang) terluka. Bagaimana (seorang) Cardan bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu. Meskipun pangkatnya cukup tinggi,
ia masih saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya, ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.
Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
He he…sepertinya om Pur benar, dari segi bahasa saya sebagai pembaca langsung bingung di halaman pertama…kalau saya ditunjuk jadi asisten lagi, sepertinya bos juri saya itu akan mengizinkan saya untuk tidak meneruskan membacanya.
apakah ini pengaruh bahasa karya2 terjemahan fiksi fantasi ? (terus terang saya lebih menikmati harry potter dll dalam
bahasa aslinya)
________________________________________
Post by: BloodSin on August 10, 2008, 07:31:36 pm
________________________________________
Susah nian merevisi adegan-adegan penting dalam naskah itu, terutama prolog! Gw udah menggarap prolog lemures selama 4 mingguan, tapi gak jadi-jadi euy :’(
Padahal gw udah keburu bikin janji ama orang VGI buat posting lemures gw (huahua penasaran ama POV & komen para penulis RPN untuk naskah lemures gw yg originnya dari RPN
)
Gawat nih.. :-\
@om pur
Udah baca repiu zauri-nya di: fikfanindo.blogspot.com
(kasih link atuh bos, biar yg anak baru jadi pada bisa baca ^-^)
Well, kali ini kita bisa sepakat zauri emang salah satu novel fantasi indo yg bergaya bahasa ciamik (yang jauh dari kesan membosankan—dan emang pengarangnya bener-bener punya skill gaya bahasa selayaknya ‘penulis’ novel), yang berujung novel ini mudah dikonsumsi oleh berbagai kalangan pembaca [biggrin]
Mengenai font Kover yg ‘gak jelas’, itu sama sekali gak masalah buat gw, malah zauri gw posisikan sebagai fantasi lokal yg kovernya terkeren setelah Cardan, desainernya (bene) jauh lebih berselera daripada windutampan (desainer kover ledgard, hozzo, narend). [biggrin]
(tapi kok kayaknya lakuan ledgard yak? padahal jauh lebih muahal ???)
Kalo kritik utama sih, justru gw gak puas ama penyelesaian konflik (ttg sang amigdalus yang bisa dikalahin dios begitu aja tanpa greget) & endingnya yg terlalu happy (dan gombal
), quite cliche.
next review berarti cardan donk? wuah bakal rame nih, setelah sekian lama gak ada yang panas-panas
@ewing,
yap, beli aja bos, bagus tuh buat dipelajari anomali gaya bahasanya, gaya bahasa tak kasat mata ;D



Entries (RSS)