Posts Tagged “Kemudian.com”

[tab: Hal 1]Sesi III (15 Des 2007 – 22 Jan 2008)

  • Tentang Hozzo karya hege
  • Tentang Goran dan Sang Penandai, terbitan Serambi
  • Tentang tanggapan pembaca di kemudian.com

[tab: Hal 2]

________________________________________
Post by: eniyorda on December 15, 2007, 09:47:11 am
________________________________________
Here goes…
ini aku re-post (dengan sedikit editing).
Sebelumnya:
- Ilmuku dikit. yang mau saya tambahkan di sini lebih kepada hasil pengamatan saja, tidak pakai referensi ini itu, dan saya menulis ini karena mempunyai sudut pandang yang sedikit berbeda dari reviewer di AK.
- Latar belakang saya adalah seorang penulis bacaan anak, dan seorang pembaca yang lebih banyak membaca fantasi daripada yang lain-lain. Jadi sedikit banyak ini pasti mewarnai cara pikir saya.
==========================

Kritik dari FAP yang panjang lebar itu, setelah ditilik-tilik sebenarnya cuma terdiri dari dua poin utama:
1. “Hozzo bukan fiksi ilmiah!”
2. “Plotnya amburadul.”
Selain itu ada beberapa poin kecil yang sudah ditanggapi oleh mas hege sendiri, seperti soal cover yang aneh, dll. Mungkin itu nggak perlu kutanggapi disini. Nah, sekarang akan membahas kedua poin di atas satu persatu.

1. “Hozzo bukan fiksi ilmiah!”
Pertama-tama, saya heran mengapa beliau mengasumsikan ini fiksi ilmiah, dan mengkritiknya sebagai fiksi-ilmiah. Setahu saya Liliput sendiri mengatakan ini fantasi, demikian Hege sendiri. Dan seandainya, ada yang menganggap fiksi ilmiah, seharusnya sah-sah saja, karena fiksi ilmiah yang dijelaskan olehnya (“ilmu pengetahuan sebagai dasar cerita”) adalah definisi yang tidak salah, tapi sempit. Anehnya dia bilang space opera bukan sf, tapi lalu bilang Star Wars adalah space opera. Jadi harusnya kesimpulannya adalah: Star Wars bukan sf. Tapi habis itu ngasih contoh-contoh sf dari Star Wars, bingung saya.

Adikku (cowok) sering bilang. “‘A long time ago in a galaxy far, far away…’[kalimat pembuka film]–Star Wars is fantasy!”, hehehe. Selain itu mayoritas buku di toko yang terkategori sebagai sf, disebut adikku ini sebagai fantasy. Mengapa, karena dia memegang definisi sf yang sama dengan si mas. Nggak salah memang. Tapi kalau ngomong soal ini kan sebenarnya mengkritik pengkategorian di toko, bukan mengkritik isi buku. Di toko Indonesia juga nggak ada kategori fantasy/sf. Jadi, kegemesan beliau lebih karena ada yang menganggap Hozzo adalah sf, bukan karena buku Hozzo sendiri.

Saya beranggapan pengkotak-kotakan sub-genre tidak usah terlalu saklek atau terlalu dipusingkan. Malah saya cenderung lebih suka fantasy, sf, horror diistilahkan sebagai speculative fiction saja, karena ketiganya sangat terkait erat. (Memangnya fantasy tidak bisa “mempunyai ilmu pengetahuan sebagai dasar cerita”?)

Kedua, dan ini lebih penting daripada yang di atas, adalah mengenai kritik terhadap kultur anak-anak alien yang anehnya sama dengan anak manusia seperti suka main ‘games’, tentang pembuatan dunia yang tanpa nalar, tentang eksotisme tanpa aturan, dan sejenisnya.

Kalau dilihat dari aturan “dunia”-nya, secara umum fantasy (+sf) terbagi dua kutub, tradisional dan non-tradisional. Dunia fantasi tradisional adalah dunia di mana “anything can happen”. Kadang tidak ada logika dunia sama sekali, kadang punya logika yang ‘twisted’. Contoh jenis ini adalah semua jenis dongeng, cerita rakyat, dan buku-buku fantasi/sf zaman dulu. Selain itu, banyak buku fantasi anak klasik jatuh pada kategori ini, termasuk semua buku Narnia, “Peter Pan”, “Wizard of Oz”, “The Little Prince”. Istilahnya, di dunia ini, kalau ada tokoh ibu peri bisa “simsalabim” menyihir apa pun tanpa aturan atau konsekuensi, nggak usah dipertanyakan lagi. Demikian juga jika batu yang dilempar terlalu tinggi bisa menjatuhkan bintang yang rupanya seorang cewek (‘Stardust’). Dewasa ini, fantasi dengan dunia dengan logika yang nyeleneh udah jarang. Biasanya dibuat untuk anak-anak, atau kalau bukan untuk anak-anak, dibuat untuk menonjolkan sesuatu entah itu kritik sosial, satire, atau plot dan imajinasi.

Di kutub yang lain, fantasi yang non-tradisional, mempunyai dunia dengan aturan yang dirancang jelas, detil, dan masuk akal, termasuk: sihir/teknologinya, budayanya, sejarahnya, sistem sosialnya, pemerintahannya, dll. LOTR sering dianggap tonggak pertama kemunculan fantasi jenis ini.

Nah, saya justru menganggap Hozzo lebih mendekati jenis yang pertama, sedangkan si mas menilai Hozzo dari pendekatan jenis yang kedua. Ya, jelas nggak adil. Nggak cocok jadinya. Apakah fantasi tradisional itu kuno, ketinggalan zaman, seperti kata beliau “ternyata masih ketinggalan, sejaman dengan era Flash Gordon belaka”? Ini yang justru saya nggak setuju, karena soal bagus yang mana banyak terkait dengan selera. Saya pribadi beranggapan, fiksi fantasi itu mau condong ke jenis yang mana, tetap berpotensi untuk menarik jika digarap dengan baik, entah itu akibat kombinasi plot yang seru, tokoh yang asik, imajinasi yang hebat, isinya daleeem, penuh metafor dan analogi, bahasa indah dan nyastra, konsep unik, atau unsur-unsur lain.

Apakah Hege harus merevisi seperti yang disarankan FAP tentang membuat dunia yang lebih nalar? –dunia, bukan plot atau tokoh (plot nanti akan dibahas di bawah). Kalo dari saya, terserah aja, karena toh sejauh ini saya tidak manganggap salah.
(Hai, hai, mudahan ngerti. Aku kesusahan menjelaskan apa yang ada di kepalaku).

2. “Plot amburadul”
Sepakat. Hege bagus kalo nulis scene atau bab, yang masih sedikit-sedikit–tapi kalo udah ditumpukin jadi satu buku, kerasa alur global cerita itu kurang terkendali.

*Sejujurnya saya sebagai pembaca memaklumi soal ini, karena kelemahan ini tertutupi dengan deskripsi dunia-dunia eksotis bikinan Hege itu. Tapi tidak semua pembaca mau melupakan soal masalah plot itu, rupanya.*

Saran revisi apa ya? Saya pengen detil sebenarnya, cuma lagi-laginya bukunya udah di kampung, jadi sekarang nggak bisa dibaca-baca. Takut lupa. Kalau dilihat, review ybs sebenarnya sudah menyebutkan semua yang penting. Saya ngga berani menyarankan bagaimana langkah-langkah perbaikannya. Selain udah rada lupa itu, juga tergantung sejauh mana hege bersedia mengeditnya. Misalnya, mau ngga kalau ada tokoh-tokoh yang dibuang?

Oh ya, mengenai percakapan tentang hal-hal yang nggak penting, seperti tentang reinkarnasi/karma. Kalau mau memasukkan hal yang filosofis ataw spiritual, sebaiknya jangan ditempel di percakapan aja, tapi masukkan sebagai tema. Atau setidaknya sesuatu yang bisa dieksplor sepanjang buku. Seperti hubungan Alan (atau siapa, lupa) dengan ayahnya yang buruk. Itu dah lumayan, digali aja lebih dalam dan bikin lebih menyatu dengan cerita utama. Atau sematkan unsur spiritual pada salah satu budaya planet alien yang dikunjungi (semacam satiris gitu).

Sekian, ada pendapat lain? biar membuka pandanganku juga.

[tab: Hal 3]

________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: BloodSin on December 15, 2007, 10:18:39 am
________________________________________
@eniyorda,
Oke deh, ane kelompokin aja mana yg lumayan(a.k.a standar abis) n mana yg good (unik n bener2 bagus)…. pake pakem selera ane.. inget, pakem selera ane lho.. ;)

lumayan: ledgard, pinissi, nightfall

bagus (sekalian ane kasi ranking deh):
rank 1: satu judul novel RPN yg gak pernah terbit yg menurutku almost perfect di setiap aspek novel(@sis, we know who)
rank 2: sang penandai (highly rekomended buat semua penggemar fantasy)
rank 3: hozzo (very entertaining, nice setting, n good characterization–halah :D , tapi sayang kurang di plot..)
rank 4: narend (nice setting, nice naming, good plot.. tapi terasa ada yg hambar dalam novel ini–entahlah)
untuk zauri, di antara kelas lumayan dan bagus.. rank 5 kali yah.. :P
novel laennya, silakan simpulkan sendiri.. :)

n.b 1:
jangan pernah tertipu ma judul.. :P
n.b 2;
hozzo ma ledgard mah beda kelas atuh.. :o
________________________________________
Post by: eniyorda on December 15, 2007, 10:54:39 am
________________________________________
Akan kuusahakan nyari sang penandai, sama buku-buku yang lain (walau ngga ada bayangan sama sekali ttg covernya). Ya, semua memang kembali ke soal selera. Ttg ledgard, bagiku ini buku dengan ide standar yang dieksekusi dgn lumayan (bukan sempurna). Masalahnya buku2 yang lain yg udah kubaca, baru sedikit, dan berada di bawah itu terutama segi teknis penggarapan. Sedang narend, menurutku kalah unik kebanding ama hozzo, jd ga kupilih.
________________________________________
Post by: hege on December 15, 2007, 08:02:53 pm
________________________________________
hihihi… thanks alot buat pencerahannya mba Fin.
I wont change the general plot on this first Book, becoz what happened in there is what exactly I plan for years. I just revised scenes and eliminated some characters (for publishing purposes).
sekuel hozzo yg lebih seru menyusul, sebelumnya akan ada Aura dan Samar. :D

[tab: Hal 4]
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: BloodSin on December 18, 2007, 12:53:01 pm
________________________________________
Quote from: eniyorda on December 15, 2007, 09:47:11 am
Dunia fantasi tradisional adalah dunia di mana “anything can happen”. Kadang tidak ada logika dunia sama sekali, kadang punya logika yang ‘twisted’.
Di kutub yang lain, fantasi yang non-tradisional, mempunyai dunia dengan aturan yang dirancang jelas, detil, dan masuk akal, termasuk: sihir/teknologinya, budayanya, sejarahnya, sistem sosialnya, pemerintahannya, dll.
Nah, saya justru menganggap Hozzo lebih mendekati jenis yang pertama, sedangkan si mas menilai Hozzo dari pendekatan jenis yang kedua.

hmmm.. kalo menurut ane, hozzo justru masuk fantasy non-tadisional.. kok bisa ente masukin fantasy tradisional si?
bukannya segala hal dalem hozzo dijelaskan mendetail, ttg misteri2nya, sejarah2 yg ada, sistem masyarakat, dll-nya? jadi ga gitu aja ada dan jadi kan.. malah hozzo ada juga pake penjelasan2 ilmiah gitu..
________________________________________
Post by: eniyorda on December 18, 2007, 01:46:11 pm
________________________________________
bloodsin, iya hozzo memang detil, cuma entah kenapa aku merasa semua detil2 itu lebih banyak akibat sesuka hati si pengarang, bukan detil dari ‘kesatuan’ rancangan aturan di dunianya. Buat contoh konkrit agar lebih jelas, entar ya, mau coba dicari dulu di bukunya.
________________________________________
Post by: hege on December 18, 2007, 03:02:08 pm
________________________________________
kok ga ada yg nanya pengarangnya, hozzo masuk fantasy yg mana ya? ::)
________________________________________
Post by: eniyorda on December 18, 2007, 08:46:48 pm
________________________________________
hege,
begitu karyamu diterbitkan, karya itu sudah menjadi milik pembaca mau ditafsirkan bagaimana, he5x.
oke deh, kutanya. Karyamu dimaksudkan utk masuk jenis yang mana? (terlepas apakah orang2 lain menilainya berhasil atau belum).

[tab: Hal 5]
________________________________________
Post by: rd_Villam on December 18, 2007, 10:40:29 pm
________________________________________
ah, ya…
dulu pernah ada yang berkata padaku: saat menulis kita menjadi raja, tapi begitu udah terbit, pembaca adalah rajanya.
terserah mereka yang sekarang akan menilai.
aku dulu membalas: menerbitkan buku–atau publikasi kecil2an sekalipun–itu seperti mengucapkan sesuatu yang tidak mungkin ditarik kembali, seperti halnya mencoba menarik batu yang sudah telanjur dilempar. kita berkesempatan merevisi, tapi jejak pertama kita tetap akan terekam, indah ataupun tidak indah.
dan kemudian, setelah aku menjawab itu, aku tersadar betapa tidak nyambungnya jawabanku itu (multiple choice – pilihan C: pernyataan 1 benar, pernyataan 2 benar, tapi tidak berkaitan sebab akibat).
sebagaimana aku tersadar sekarang, betapa tidak nyambungnya pernyataanku dengan pernyataan eniyorda, ataupun pernyataan2 lain sebelumnya. ;D ;D ;D
maklum, semakin malam, otak semakin korslet… :D
________________________________________
Post by: eniyorda on December 18, 2007, 11:19:18 pm
________________________________________
villam, kurasa nyambung kok. satu judul, tapi ada lebih dari 1 versi, karena versi lama ngga mungkin dihapus begitu saja. Jadi penasaran sama buku2 yang pernah terbit berbeda sebelumnya (misal eragon, yang katanya byk perubahan dari edisi self-publishednya).
Itu jenis pilihan ganda zaman kaapaaan gitu. saya lebih suka jenis yang A) 1, 2, 3 benar, B) 1 dan 3 benar. dst (nah ngga nyambung)
________________________________________
Post by: hege on December 19, 2007, 09:52:39 am
________________________________________
:o
fin,
It doesnt really matter hozzo masuk fantasy yg mana :D hihihih… actually. Hege asyik ajah para pembaca mengkategorikan hozzo sebagai fiksi ilmiah, space opera or whatever (me, somehow think of it as science fiction though, meski lebih suka menyebutnya sebagai fantasy belaka) Mengenai traditional and non-traditional, ini juga tak berlaku mutlak, karena pengarang menciptakan dunia tertentu berdasarkan apa yg ia kehendaki (seenak udel) but on purposes.
Hozzo sangat menyenangkan untuk ditulis(dan dibaca) namun saya akui ada kontrol tertentu yg dilewatkan (ini bukan utk menyudutkan siapapun) tapi peran editor dalam dunia penerbitan sangat signifikan, so sial hege aja yg ga dapet editor yg kompeten utk hozzo. hal-hal teknis tentu akan mendukung kenikmatan membaca.
well, seperti kata fin dan villam, jejak pertama sudah tercipta, bagi pembaca yg kebetulan mendapat versi awal, jadi mereka dapet yg original version (siapa tahu kapan2 versi2 kaya gini jadi rebutan para kolektor wakakakakak ;D kidding) Untuk versi selanjutnya naskah harusnya lebih matang dan disempurnakan. finger cross 4 that!
________________________________________
Post by: BloodSin on December 19, 2007, 10:06:57 am
________________________________________
Quote from: hege on December 19, 2007, 09:52:39 am
Untuk versi selanjutnya naskah harusnya lebih matang dan disempurnakan. finger cross 4 that!

Dan dipertipis, tentu.. :D (berlaku bagi hozzo)
________________________________________
Post by: hege on December 19, 2007, 10:11:06 am
________________________________________
yeah, sejauh ini 100 pages kubabat tanpa ampun, liat betapa ngalor ngidul-nya naskah ini (well beberapa dialog yg menyenangkan juga kena sikat)

[tab: Hal 6]
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: eniyorda on December 25, 2007, 02:20:10 pm
________________________________________
Pandangan dua penerbit (GPU, Matahati) yang konsisten menerbitkan fantasi luar negeri mengenai genre fantasi di Indonesia dan potensi penulis fantasi lokal. Cuma… yah, menurutku kurang lengkap reportasinya karena nggak memuat bagaimana pandangan penerbit lain yang udah lebih sering menerbitkan karya fantasi lokal.

===================
Dari Koran Tempo, 23 Des 2007:

http://www.korantempo.com/korantempo/2007/12/23/Buku/krn,20071223,21.id.html

Setelah Harry Pergi
Fiksi fantasi belum kehilangan gairahnya.

Sampai umur 11 tahun, Jack hanyalah seorang bocah biasa dari keluarga Saxon yang sederhana. Ia tinggal bersama ayah, ibu, dan adiknya, Lucy, di sebuah desa pantai. Kalau ada yang agak istimewa di keluarga itu adalah kemampuan ibunya membuat sihir-sihir kecil.
Keadaan mulai berubah saat Bard meminta Jack menjadi muridnya. Cuma sebentar berguru sihir kepada Bard, kekacauan datang. Tahun itu, tahun 773, sekelompok prajurit terganas bangsa Viking menyerbu desanya. Bard mendadak gila, Jack dan Lucy menjadi tawanan Viking.
Petualangan Jack dan Lucy bersama Viking membawa mereka ke tempat-tempat yang hanya pernah didengarnya dalam dongeng. Mereka menjadi saksi pemusnahan Desa Gizur, mampir di Desa Olaf One Brow, menjejaki kampung raksasa Jotunheim, sampai mencicipi air dari Sumur Mimir yang magis.

***

Fiksi fantasi seperti novel The Sea of Trolls karya Nancy Farmer yang dicuplik di atas sepertinya tidak pernah loyo. Meski sang master fantasi Harry Potter sudah tutup buku Juli silam, novel-novel fiksi fantasi terus mengguyur pasar buku dunia.
Di dalam negeri, gairah fiksi fantasi juga belum padam. Tahun ini saja, penerbit Gramedia Pustaka Utama melepas cukup banyak karya sastra khayalan ini. Beberapa novel yang menjadi andalannya adalah trilogi Bartimaeus (Jonathan Stroud) yang terbit tiga buku sekaligus. Lalu dua seri dari trilogi His Dark Materials (Philip Pullman) dan Serbuk Bintang (Neil Gaiman).
Penerbit lain yang cukup menonjol di kategori fiksi fantasi adalah Matahati. Sepanjang 2007 mereka meluncurkan andalannya berupa serial Septimus Heap-Magyk (Angie Sage), The Sea of Trolls (Nancy Farmer), Chronicles of Ancient Darkness (Michelle Paver), serta Mitsuko (Kara Dalkey).

Tingkat penjualan buku-buku fiksi fantasi tersebut juga relatif bagus. Seri Bartimaeus-Amulet Samarkand sudah cetak ketiga, total 15 ribu eksemplar. Adapun kedua seri lain dalam trilogi ini masing-masing telah dicetak 10 ribu eksemplar. Serbuk Bintang juga sudah cetak ketiga, total 13 ribu eksemplar.
Dari kelompok Matahati, The Sea of Trolls sudah dua kali naik cetak dalam waktu dua bulan, masing-masing 3.000 eksemplar. Chronicles of Ancient Darkness-Soul Eater dicetak 8.000 eksemplar dan Mitsuko 5.000 eksemplar.

Editor fiksi Gramedia Pustaka Utama, Hetih Rusli, menuturkan peluang pasar fiksi fantasi tetap besar. Setelah kemunculan Harry Potter, kata dia, telah muncul satu pasar baru penggemar buku-buku fiksi fantasi yang menjadi pasar potensial. “Pasar bertambah lebar karena pembaca berasal dari segala umur,” kata Hetih.
Begitu pun, menurut dia, penerbit tidak pernah tahu persis judul buku fiksi yang bakal laris di pasar. Contohnya, Gramedia tidak menyangka trilogi Bartimaeus bisa merengkuh sukses besar hingga bisa cetak ulang tiga kali dalam setahun. Mereka sebelumnya mengira seri His Dark Materials yang bakal meledak.

Anggota staf pemasaran Matahati, Mohammad Haikal, senada seirama dengan Hetih. Ia mengatakan, meski sejak kepergian Harry Potter fiksi fantasi mulai ditinggalkan, sebagian besar penggemar si “anak yang bertahan hidup” itu masih mencari buku penggantinya. Merekalah salah satu pasar potensial fiksi fantasi.
Keberlanjutan fiksi fantasi, dia melanjutkan, juga akan ditopang oleh promosi melalui media layar lebar. Menurut Haikal, ada beberapa film yang dari buku-buku fantasi yang akan beredar, seperti film yang diangkat dari novel Septimus Heap, Chronicles of Ancient Darkness, Children of the Lamp. “Film-film tersebut merupakan film serial seperti film Harry Potter,” ujarnya.

Sayangnya, semua karya fantasi unggulan 2007 dipenuhi karya terjemahan. Karya-karya pengarang lokal hanya ada dua yang bersinar, yaitu Cinta Andromeda karya Tria Barmawi yang telah dicetak 7.000 eksemplar dan The Bookaholic Club karangan Poppy D. Chusfani yang dicetak 8.000 eksemplar.
Sebenarnya, kata Hetih, ada beberapa karya lokal yang mendarat ke meja redaksi. Tapi, dari sedikit karya yang masuk itu, lebih sedikit lagi yang “bergigi” untuk diterbitkan. Kelemahan utamanya ada di teknik menulis dan cerita yang “tidak masuk akal”. “Padahal tugas pengarang fiksi fantasi membuat pembaca percaya kisah fantasi yang ditulisnya nyata,” tuturnya.

Haikal pun menilai buku fiksi fantasi pengarang Indonesia masih kurang diminati pasar. Persoalannya, dia melanjutkan, karena cara berkomunikasi yang kurang lancar plus masyarakat Indonesia yang apriori terhadap buku fiksi pengarang dalam negeri. Walau demikian, penerbit Matahati tetap berkomitmen menerbitkan novel dari pengarang Indonesia. “Minimal dua pengarang,” ujarnya. EFRI RITONGA

[tab: Hal 7]
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 09, 2008, 08:43:06 am
________________________________________
inget gelandangan dekil, jadi inget film Kungfu Hustle semalem.
jadi bisa kayak gini:
“hai, bocah. kamu punya bakat terpendam untuk jadi penulis terhebat sepanjang masa. aku punya buku ‘tips menulis’ yang cocok untukmu. ini adalah kumpulan tips terbaik di dunia tulis menulis. harganya cukup ceban. tertarik?”
;D
________________________________________
Post by: cha_patrelli on January 09, 2008, 04:47:04 pm
________________________________________
udah baca nightfall kan?
ntu novel masih ada lanjutannya ya?
critanya ngambang c…
pi kok gw cari2 g ada ya tu lanjutan novel?
________________________________________
Post by: BloodSin on January 11, 2008, 01:57:25 pm
________________________________________
iye.. udah lama banged kok bacanya.. nightfall masuk kategori lumayan doank bagi ane sih.. masuk kategori RPN tuh..
kayaknya emang belum keluar de lanjutannya.. emang endingnya masi ngambang sih. biasanya kalo ngambang2 gitu ujung2nya trilogi.. heheh.. daripada nungguin sekuelnya, mendingan cari fantasi lokal laennya… kan masi banyak tuh.. masi ada Zauri, Hozzo, Narend, dll.. banyak dah.
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 11, 2008, 11:01:31 pm
________________________________________
btw, barusan di toko buku gua liat buku fantasi anak negeri terbaru.
judulnya: GORAN, karya Imelda Sanjaya, terbitan Serambi.
kayaknya bergenre Fantasi berbalut Sci-Fi (atau sebaliknya ya? hehe… binun), soalnya bersetting planet lain, tapi ada juga tokoh dari buminya (hmm… jadi inget Numeric Uno).
jadi silakan, kalo ada yang ingin berburu ke toko buku…
gua sendiri mungkin belum akan beli dalam waktu dekat ini, takut nanti nasibnya bakal kayak Numeric Uno dan Cardan, yang gak selesai2 gua baca, karena belum sempet…
kasihan dua buku itu…
tampaknya gua memang bukan pembaca yang baik…
________________________________________
Post by: bjvadis on January 11, 2008, 11:14:24 pm
________________________________________
whoalah, sama kita. mungkin juga karena kepepet kerjaan, novel cardan dan numeric uno yang g beli juga belum sempat kebaca habis (begitu juga dgn peter n the starcatcher). mungkin perlu pelan2 dan sedikit kesabaran. mungkin ntar pas mau tidur g nyicil cardan.
terus terang shock g pas pertama kali lihat cover dpn cardan, agak mirip dengan naskah asli fh g yang g kirim ke gagasmedia. trus di keterangan sinopsis di belakangnya ada kata ‘musuh yang dikira sudah tewas’, agak2 mirip2 (buat yang pernah baca fireheart mungkin bisa tahu). tapi setelah dibaca cerita di dalamnya, lega g, ternyata beda.

[tab: Hal 8]
________________________________________
Post by: BloodSin on January 12, 2008, 12:50:59 am
________________________________________
@villam n bjvadis,
ga pernah ngeliat cardan di gramedia :D
ada yg mau hibah buku? kyahahahah sapa tau ada yg kayak resentator ganas hozzo disini, kalo gak doyan buku suka bagi2 gratis :D
wah kalo GORAN penerbitnya serambi gitu, gw optimis tuh novel bukan ecek2. Serambi biasa nerbitin novel2 serius sih.. dan gw puas ama 1 fantasi lokal terbitannya, Sang Penandai.. buku layak hunted tuh..
________________________________________
Post by: bjvadis on January 15, 2008, 08:57:46 pm
________________________________________
Yup, Sang Penandai udah g baca 2x (satu2nya yg g baca sampai lebih dari 1x)
Janos, Cardan dsb belum habis dibaca…
Skinheald 1&2 karya Ataka sudah dibaca dan dibolak-balik lagi…
Sisanya belum ada di koleksi g… (Entah mengapa, tanyakan pada rumput yang bergoyang…)
Sang Penandai masuk kategori MUST BUY karena sejauh ini hanya ini novel fantasi Indonesia yang pernah g baca yang gaya bahasanya indah banget, 100% sastra.
________________________________________
Post by: BloodSin on January 15, 2008, 11:17:46 pm
________________________________________
knapa Cardan pada ga beres baca yak? :o
penerbitnya penerbit mana seh?
Villam kayanya pernah ngomong Cardan masih lebih mendingan dari Numeric Uno dehh.. :)
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 16, 2008, 12:25:05 am
________________________________________
cardan terbitan gagas.
kan gua dah bilang, seperti halnya numeric uno, gua gak abis baca karena baru baca separo, trus langsung inget: ah, mendingan nerusin nulis novel gua ajah… hahaha…
gak jelek kok, cuman emang ceritanya gak bisa mengikat gua.
dan betul itu, kalo menurut gua, cardan lebih baik daripada numeric uno.
________________________________________
Post by: BloodSin on January 16, 2008, 06:25:15 am
________________________________________
@villam
novel gagas lebih ditujukan buat remaja.. itu yg gw tangkep dari nightfall..
padahal ente punya selera baca yang lebih toleran dari ane, masa ga mengikat sih?
apa yg ngebikin ‘gak mengikat’? (kalo gak mau dibilang jelek :P )
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 16, 2008, 08:31:29 am
________________________________________
hehe…
kalo yang dimaksud selera baca yang toleran itu adalah gua bisa menikmati berbagai jenis genre dan gaya bahasa, mungkin itu benar. dari teenlit sampe yang serius banget, gua bisa menikmati, pada dasarnya.

tapi yang mungkin gak toleran itu adalah mood gua, hahaha… terutama jika sudah melihat plot yang kurang logis hubungan sebab-akibatnya, atau terlalu banyak kebetulan. juga alur atau jalan cerita yang terlalu lambat dan terlalu lurus, tidak menjanjikan sebuah masalah ‘hidup-mati’ yang menarik di awal.
yang sebenarnya, bisa jadi gak masalah, seandainya gua menemukan sisi lain yang menarik, seperti karakter2 dan deskripsi latar yang menarik dan tidak terlalu stereotip.
begitulah, gua selalu ingin belajar sesuatu yang baru dari setiap buku yang gua baca, dan begitu tak menemukan, mood membacanya sering langsung ngacir ntah kemana.

walau sebenarnya itu salah juga. seharusnya gua tidak boleh berekspektasi terlalu tinggi. semua penulis kan ada proses belajarnya, gak bisa langsung sempurna, dan langsung coba kita bandingkan dengan karya2 mereka yang sudah mumpuni.
malah jika mungkin, kita bisa ikut membantu mereka dan bersama-sama maju menjadi penulis yang lebih baik.
hahaha… ngomong apa sih gua?
kenapa jadi serius begini?
udah ah… maju terus para penulis fantasi indonesia!!!

[tab: Hal 9]
________________________________________
Post by: kokonoka on January 17, 2008, 10:26:01 am
________________________________________
menurut kalian lebih penting mana kepuasan kita akan novel kita apa tanggepan orang2? Studi kasus gw di kemudian.. Kalo disana ada yang menurut gw biasa aja tapi dapet nilai 100an gt.. Ada yang cuma satu scene doang nilainya bagus banget 9 10 9 10..
Adegan di tulisan gw terlalu kompleks kali ya.. ato terlalu ribet.. kalo dikalahin sama yang biasa2 aja kan males banget.. bahkan ada yang tulisannya ancur tapi dapet nilai tinggi banget ampe 100an padahal orang banyak yang ngasih dia nilai 5 tapi saking banyak yang respon, nilainya jadi tinggi..
Nah giliran gw, sekali ngepos yang komen paling max 6 orang T-T yang gw ga terima kenapa gw bisa dikalahin sama orang yang dapet nilai 5 tapi banyak.. Ada juga orang yang comot dari sana-sini PERSIS tapi nilainya bagus2 banget..
Huuu tidak terima..
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: eniyorda on January 17, 2008, 10:29:56 am
________________________________________
Omong-omong soal buku yang nggak selesai. Kalo sy sih tiap buku dipikir masak-masak dulu sebelum beli, jadi selesai semua. Minat baca terlalu tinggi–wishlistku panjang banget–sedang kantong nggak mendukung. Lagian satu-satunya aktivitas yang nggak bikin diriku rasa bersalah nggak menulis, adalah membaca, wakakakk

@bloodsin: cinta andromeda (futuristik) dan bookaholic club (fantasi setting modern) kalo nggak salah tergolong metropop dan teenlit. Jadi bukan pake label fantasi, bahkan dari blurb di belakangnya mungkin nggak kentara banget ada unsur fantasi. Penghuni thread ini kan suka fantasi yang kelas berat, jadi mungkin kelewat. Terus kayaknya standar deh Gramedia itu cetakan pertama 6000-10000. Tria Barmawi juga bikin buku futuristik lain judulnya “Lost in Teleporter” (belum baca juga). Tentang ngirim naskah, sy cuma pernah ngirim ke Liliput (tolak) dan Gramedia (belum ada kabar, tapi pesimis dah). Selama ini sih lebih banyak konsen ngirim cerpen ke majalah, walau sekarang mau berubah haluan (novel).
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 17, 2008, 11:20:16 am
________________________________________
@kokonoka,
hmm… apa ya? kepuasan pribadi itu bagus. bagaimanapun itu karya kita, sudah selayaknya kalo kita bangga atas hasil kerja keras kita. tapi tentunya kalo emang kita menulis supaya bisa juga dinikmati orang laen, tentunya tanggapan mereka, apapun bentuknya, apakah itu pujian basa-basi atau komentar pedas, ya kita butuhkan juga.

satu hal penting adalah kita mesti tau dulu apa niat kita ngirim ke k.com.
- buat sharing (kita tak peduli apakah mau ada yang komentar atau gak, yang penting kita berbagi dengan orang lain),
- buat menumbuhkan motivasi (semacam banyak yang baca dan ngasih poin, semakin semangatlah kita),
- atau buat memancing komentar pembaca (kita gak butuh nilai, yang penting kita dapet masukan, semakin tajam semakin baik, atas karya kita).
nah, seperti apakah niat kita? haha…

saranku buatmu sih, gak usah pusingin nilai atau komentar yang diperoleh karya lain. konsentrasi saja ke karyamu. pertama sesuaikan niat. kemudian, kalo ingin banyak yang membaca dan memberi nilai karyamu, ajak saja mereka secara langsung untuk melihat dan menilai. kuyakin ada cukup banyak orang yang bisa mengkritik secara obyektif, tidak hanya memuji basa-basi. walau sering, kita pun senang pula dengan basa-basi itu. itu manusiawi… haha…
jadi maksudku, tak perlu berkecil hati, atau tak terima.
santai sajalah… yang penting kita tau mana yang terbaik buat kita…
________________________________________
Post by: kokonoka on January 18, 2008, 10:10:20 am
________________________________________
Hoo gw merasa sirik tanda tak mampu nih..kalo diumpamain sama manga mungkin gambar gw masih jelek kali ya.. jadi susah dimengerti..
Satu2nya yang bisa gw lakuin ya nulis lebih banyak lagi.
kayanya kalo soal tujuan gw yang terakhir.. gw perlu banyak masukan.. makanya begitu komennya dikit sebel juga..
________________________________________
Post by: clickdian on January 21, 2008, 09:48:27 am
________________________________________
# Rey
Do you have any idea how many times people laugh at me before they see Run! and Zauri at bookstore? Aq malah dikira stres sama ortu lantaran ngerem terus di kamar.
The point is, just ignore them for this time. If you want to be a writer, go for it, believe in your dream and pursue.
If you cannot be a full writer, start with ‘half-timer’ writer.
YOU ARE NOT ALONE.
We’re here and chasing the same dream as you are.

[tab: Hal 10]
________________________________________
Post by: kokonoka on January 22, 2008, 08:25:33 am
________________________________________
Villam tadi baru kepikiran nih.. Soal yang Indonesia 2045 ada sesuatu yang baru keinget..
Kalo menurutku walopun settingnya berpuluh2 tahun yang akan datang.. tapi serasa ga ada perusahaan dalam setting.. mestinya harus ada penanda ‘masa depan’ kaya teknologi yang digunakan aparat kepolisian, gadget yang dipakai, dll.. mungkin itu yang bikin agak hambar ceritanya..
terus mungkin ga sih kondisi politik indonesia jaman itu masih tetep sama.. mungkin aja saat itu indonesia dipimpin oleh para elder.. hohoho ngayal..
Ato indonesia udah dijajah lagi.. Kalo maen FF XII misalnya aja Indonesia itu Dalmasca, terus Malingsia itu Rozarria dan Australia itu Archadia.. pasti keren banget tuh..
________________________________________
Post by: rd_Villam on January 22, 2008, 08:39:43 am
________________________________________
@kokonoka, cerita itu memang masih terbuka buat diacak-acak kok… lanjutannya memang masih dipikirkan…
dan usulku, gimana kalo masing-masing dari kita bikin cerita pendek dengan tema, tokoh, dan gaya masing-masing. tapi semuanya menggunakan setting Indonesia 2045, sesuai dengan fantasi masing-masing… hehehe…

Comments No Comments »

[tab:Apa Ini?]Tempat Villam bermain-main di komunitas Kemudian.com dan Pulau Penulis.

[tab:Kemudian][pageview http://www.kemudian.com/users/villam "Villam di Kemudian" Tempat menulis, membaca, mengapresiasi]

[tab:Pulau Penulis][pageview http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?board=147.0 "Villam di Pulau Penulis" Tempat berbincang bersama teman-teman penulis]

Comments No Comments »