Posts Tagged “lemures”

[tab:Hal 1]Sesi XVIII (30 Jun 2008 – 3 Jul 2008)

  • Tentang Dream of Utopia
  • Review draft Lemures karya BloodSin oleh FA Purawan
  • Image dunia vampire

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on June 30, 2008, 08:47:56 am
________________________________________
Oya, hari sabtu kemaren sempet ke gramed dan ada novel fantasi lokal baru, judulnya “Dream of Utopia”.
Ternyata karangan penduduk pulpen juga, si blue_amaranthine (kalau gak salah nama penanya sammy something… :) ).
Penerbitnya lupa, tapi harganya 50ribu-an (inget banget, soalnya mau beli tapi gak jadi –> kali aja nemu yang diskon di istora, ;D).
Terus udah ada tret-nya juga di info bubar.
Om pur, silakan dilahap tuh, berhubung penulisnya maen ke sini juga, jadi bisa lempar2an cabe (meminjam istilah jeff), hehehe…
________________________________________
Post by: BloodSin on July 01, 2008, 08:55:59 am
________________________________________
okeh, berhubung skrg nih FFDN lg seret bahasan, gak da salahnya gw posting beginian :P
(review ‘singkat’ LEMURES gw dari om pur [thumbsup])

Quote
Pertama banget, adalah overall impresi gue terhadap naskah lemures. Bagian ini boleh aja elo posting di FFDN III kalau elo berkenan, tapi kurasa catatan-catatan khusus terhadap part-part yg gue tandain gak usah di share ke thread, takutnya terlalu spesifik sehingga ga menarik minat belajar rekan-rekan lain.

Secara keseluruhan Lemures adalah cerita yang cukup menarik untuk dibaca, dengan kisah petualangan perburuan artefak berbumbu humor dan ketegangan. Plotting lemures sudah kuanggap tepat dan cukup, walau aku masih menyimpan catatan mengenai strategi positioning elo terkait niat elo untuk me’laku’kan naskah ini di penerbit. Itu akan menjadi bahasan tersediri. Sebelumnya gue masih ingin ngomongin general aspect dulu.

Penokohan: menurut gue, elo sudah cukup berhasil meramu sebagian besar karakter secara tepat dan menunjang cerita. Setiap karakter utama sudah tergambar cukup realistik, dan gaya masing-masing pun sudah cukup teridentifikasi dan memiliki ciri. Namingnya juga udah ga ada masalah.. Ada catatan mengenai personalisasi karakter, gue bahas nanti.

Alur cerita sebagaimana urut-urutan yang sudah kamu sajikan dalam bab-bab itu juga sudah runtut dan cukup logis. Gue ga ada masalah dengan penempatan urutan alurnya.
Sistem logika cerita menurut gue juga sudah cukup untuk segmen remaja. Tapi kalo elo mengincar segmen lebih dewasa lagi, elo harus bisa mengembangkan logika yang lebih dalem. Journey untuk sepotong busur masuk akal untuk remaja, tapi kurang nendang buat dewasa. Logika ‘putri kembar’ cucok buat remaja, tapi mengada-ada buat dewasa. Kalau ada putri kembar, raja manapun akan langsung menganggapnya sebagai ‘threat’ alih-alih opportunity. Apalagi ini putri mahkota!

Settings yang elo ciptakan buat lemures juga cukup realistik dan masuk akal. Paling-paling seperti pernah gue tanyain, bagaimana relasi budaya french di lemures dengan yang sesungguhnya, termasuk budaya ilmiah latin di sini? Kalo menurut elo memang harus hadir tanpa perlu dipaksa diperjelas konteksnya, ya sudah. Ada sedikit kekekurangan logis di area Sierra Kuno, nanti gue coba bahas di tempatnya. Tapi menurut gue ada baiknya elo menggambar peta besar lemures untuk memudahkan bayangan editor, soalnya gue juga merasa belum dapat gambarannya secara utuh.

Nah, kritik secara general impression kurasa masih konsisten dengan yg udah pernah gue sebutkan sewaktu ngebahas prolog elo dulu, yaitu pemilihan kata yang kurang tepat serta susastra yang belum ‘megang’. Setelah gue genapkan membaca sampai akhir, memang gue rasakan masalah itu berkurang (karena gue mungkin jadi terbiasa), tapi gue mendapatkan view yang lebih jelas mengenai kritik yang harus gue sampaikan pada gaya penulisan elo.

Dulu gue sempat komentar: Pretensius.

Saat elo sok nyastra di prolog, gue ngerasa itu pretensius. Ke belakang-belakangnya lagi, gue ngerasa elo tetap ada sok nyastranya dan tetap pretensius, tapi gue mulai terbiasa (walau tetep dengan wajah berjengit-jengit). Namun ada temuan yang kurasa harus cepet-cepet disampaikan supaya elo bisa cepet-cepet benerin.

Ini mengenai dialog. Ada bagian dialog yang udah bagus dan shining, dan pada part-part itu gue merasa itu udah you as yourself (THE Writer) banget. Tapi ada bagian dialog lain yang gue rasakan masih pretensius, sepertinya elo berusaha over the top, jadinya elo malah jauh dari gaya elo sendiri.

Pada part-part tersebut, gue merasakan bahwa pengarang lagi sok ‘keminter’, seperti berusaha menempatkan diri lebih pinter atau lebih tinggi dari pembaca. Dan gue harus cepat-cepat mengingatkan dan mencegah elo melakukan ini. Ada sebuah kredo yang harus dipegang oleh pengarang, bahwa pembaca adalah it’s own master, pembaca tidak suka dikuliahi, dan pembaca tidak nyaman menyimak uraian yang melebih-lebihkan smartness ini dari yang secukupnya.

Ada beberapa part yang elo begitu, yang kalo elo robah gayanya lebih mencirikan gaya lo sendiri, gue rasa akan menjadi jauh lebih humble dan kena ke pembaca.

Dan part-part ‘sok smart’, antara lain yang membuat novel elo somehow agak ‘menyebalkan’ buat dibaca, terutama oleh pembaca yang gak punya missi nyelesaikan novel, gak kayak gue. Tapi elo bisa bayangin bila para evaluator novel elo di penerbitan adalah termasuk golongan itu.

(sebenernya cukup beresiko buat gue untuk mengungkap evaluasi seperti ini, sebab probabilitasnya cukup besar bahwa elo gak terima penilaian gue. Secara mungkin aja elo gak berniat untuk over the top sama sekali, atau gak merasakan apa-apa yg gue nilai itu ada dalam hasil karya elo. Tapi gue harus jujur, anyway, demi kemajuan elo. Ciaaah)

Gue sebenernya juga ada kritik mengenai flow pengklimaksan seri buku pertama ini, yang gue rasakan masih kurang nendang. Gue merasakan bahwa perjalanan para rombongan serta hasil yang sudah didapatkan, ternyata tidak bermakna cukup penting bagi pembaca, sehingga keseluruhan buku elo jadi terasa agak ‘waste’. Tapi untuk ngebahas ini, gue harus mundur dulu ke langkah-langkah yang justru sangat-sangat awal dalam penulisan karangan. Sekarang akan kita bicarakan langkah-langkah itu, yang kelak juga akan mempertemukan elo dengan masalah-masalah pemasaran yang udah elo alami belakangan ini.

TEMA LEMURES

Apa sih, Rey, tema INTI Lemures sesungguhnya? Gue sempet nanya di thread, ya? Dan jawaban elo adalah ini:
(where ever) there’s a hope in a journey, there I would place my struggle.
Kenapa gue ngotot nanyain tema. Because gue rasa itu juga yang dicari-cari oleh para evaluator buku lo, dan yang tidak mereka temukan. Dan gue rasa, kalo memang bener elo gunakan kalimat itu sebagai tema, gue juga gak bisa nemuin “What the Hell” yg lo maksud itu, dan “Where the Hell” is tema-nya.

Di ‘hope’nya, di ‘journey’nya, atau di ‘struggle’nya?

Kenapa gue angkat masalah ini, sebab kalau ditilik dari apa yang semata sudah tersaji di naskah, dari depan sampai belakang, elo belum menghadirkan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai penjawab atau definitor atas tema yang elo tetapkan di embrio cerita. Tidak ada (atau mungkin kurang terolah) suatu konklusi atas tindakan atau peristiwa, yang menegaskan kepada pembaca mengenai tema yang dipilih oleh pengarang.
Misalnya kalau temanya ‘Hope’, peristiwa konlusif di akhir buku mestinya juga menonjolkan the power of hope, bagaimana sepotong asa bernama harapan mampu menegasikan hambatan segawat dewa kematian. Kalau temanya struggle, mustinya proses struggling itu menjadi kuat betul, halangannya berat betul, ada korban dll, dll, sehingga di ujung novel, struggle itu sangat terasa, dan menumbuhkan nilai-nilai tertentu di hati dan pikiran pembaca.

Yg simpel buat contoh aja deh. Tema utama PG adalah penyerahan diri seutuhnya pada YME (akar segala agama, tuh!), yang dikonklusikan dalam adegan klimaks Jaka memasrahkan segalanya dan datanglah keajaiban (tentu saja dengan segala bumbunya untuk mensignifikansi peristiwa itu, sejak halaman pertama buku).

Nah untuk Lemures gue belum bisa mendapatkan konklusi seperti itu. Adegan finale Sepasang Taring Harimau vs Pisau Penjuru juga nggak bisa dilihat sebagai konklusi struggle atau hope, just showdown aja, udah.

Ketiadaan relasi konklusi vs tema inilah, yg kurasa membuat kisah elo menjadi kurang bernilai di mata penerbit. Tema yang nggak jelas ini pula yang membuat climaxing novel ini juga menjadi nggak jelas, jadinya kurang nendang. Tanpa tema yang kuat, seluruh perjalanan itu menjadi sekedar perpindahan dari titik A ke titik B. Lantas dimana juice-nya?

Berita baiknya, semua unsur tema itu sesungguhnya sudah ada dalam naskah yang elo bikin. Dan gue percaya dah, sekaliber elo tentu urusan tema juga udah nggak usah dikasih tau lagi. Tinggal sekarang lebih di highlight aja tema apa yang ingin elo tonjolkan untuk buku pertama, dan lakukan penggarapan khusus di situ. Simpel koq, elo hanya perlu menumbuhkan ‘makna’ atau pengertian khusus di dalam batin pembaca mengenai signifikansi peran/ tindakan sang tokoh yang elo anggap mewakili tema yang elo pilih. Ada banyak kesempatan kan?
Larke – hope, ingenuity
Fly – trusting others, ketulusan
Kain – leadership
Levantine – pembuktian diri/ courage?
Elo yang tentukan, lah

Pointnya, jadikan sesuatu di dalam buku elo yang bisa dijual, yang menguatkan alasan penerbit untuk menerbitkannya. Dan menurut gue, sesuai dengan pakem filosofi buku, ya tema yang ‘megang’, itulah. Dan for the sake of focus, elo cukup menghighlight 1 tema utama aja, walaupun elo bisa juga menambahkan sub tema, tapi jangan sampai overshadowing tema yang utama.

Kira-kira begitu deh gambaran overall nya. Kalo masih ada yg kurang mantep, let’s discuss. Meanwhile, mari kita bahas per –bab satu persatu!

(btw sori ada satu kalimat yg kuhapus karena spoiler banged buat kejutan adegan klimaksnya, huehehehe :P )
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on July 01, 2008, 08:57:18 am
________________________________________
dan inilah tanggepan aye buat review-nya om pur [biggrin]
pertama, dan yang terutama: Arigatouuu gozaimazu, Tararengkyu, Matur Nuhun, Kamsia, Todah Rabbah, Merci, Terima Kasih (banged) buat om Pur, realy appreciate all of the compliments, critics, & input-nya, you’re the best dah, wahai Boss Biawak [thumbsup] ;D ;D

Quote
Penokohan: menurut gue, elo sudah cukup berhasil meramu sebagian besar karakter secara tepat dan menunjang cerita. Setiap karakter utama sudah tergambar cukup realistik, dan gaya masing-masing pun sudah cukup teridentifikasi dan memiliki ciri.

untuk poin ini, clickdian-lah yg jaman dahulu kala memberi masukan, & thanks god sudah teratasi dengan ‘cukup berhasil’, heheheh. kalo gini ane ‘cukup lega’ juga dah, dan gak sia2 hokus fokus yg kulakukan selama menggarap versi revisi lemures ini (yg ternyata masih banyak yg perlu direvisi lg(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif))..

tapi sebetulnya ada satu lagi saran seorang reader lemures lain (villam) yg sudah kuintegrasikan ke dalam naskah: konflik & perenungan batin. nah gimana om pur, menurut ente apakah unsur ini masih kurang tergarap, atau sudah lumayan tergarap? ???

Quote
Nah, kritik secara general impression kurasa masih konsisten dengan yg udah pernah gue sebutkan sewaktu ngebahas prolog elo dulu, yaitu pemilihan kata yang kurang tepat serta susastra yang belum ‘megang’.

ini ironis: kritik utama ente malah kontradiksi dengan compliment villam (dan banyak member k.com) yg bilang kelebihan utama LEMURES malah ada di gaya bahasanya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/bolakbalik.gif)
sejujurnya lemures emang merupakan novel pertama ane yg jadi objek percobaan gaya bahasa ‘maut’ kaya begitu, dan ternyata hasilnya ‘antara’ mengenaskan dan sukses, kurasa. :D
yang sulit bagiku, bagaimana cara mengaplikasikan gaya bahasa cantik yang kira2 aproveable buat semua kalangan pembaca? terus, bagaimana pula cara mengetahui apakah suatu kiasan/metafora sudah pas di mata pembaca, atau belum? kalo ngeliat penyisiran om Pur thd gaya bahasa LEMURES di prolog & bab 1-nya (dan komen si fred juga thd prolognya tempo hari), tampaknya ada beberapa kiasan yang tepat sasaran, dan ada juga yang gak tepat (yg sialnya jauh lebih banyak (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif)).
ah ini bener2 PR berat buatku :(

Quote
Namun ada temuan yang kurasa harus cepet-cepet disampaikan supaya elo bisa cepet-cepet benerin.
Ini mengenai dialog. Ada bagian dialog yang udah bagus dan shining, dan pada part-part itu gue merasa itu udah you as yourself (THE Writer) banget. Tapi ada bagian dialog lain yang gue rasakan masih pretensius, sepertinya elo berusaha over the top, jadinya elo malah jauh dari gaya elo sendiri.
Pada part-part tersebut, gue merasakan bahwa pengarang lagi sok ‘keminter’, seperti berusaha menempatkan diri lebih pinter atau lebih tinggi dari pembaca. Dan gue harus cepat-cepat mengingatkan dan mencegah elo melakukan ini. Ada sebuah kredo yang harus dipegang oleh pengarang, bahwa pembaca adalah it’s own master, pembaca tidak suka dikuliahi, dan pembaca tidak nyaman menyimak uraian yang melebih-lebihkan smartness ini dari yang secukupnya.

ah sudah sangat kuduga sebelumnya [biggrin], pasti cepat lambat bakal ada pembaca yg protes beginian :)
kalo boleh jujur, gw dapet influence kayak gini dari Paulo Coelho :-[, and i'm afraid i can do nothing about it (selain mendelete-nya :'(), soalnya itu udah masuk ke dialog sih. kalo masih di narasi/deskripsi, masih ada harapan untuk kuotak-atik lagi. tapi kita liat dulu yg mana2 aja sebetulnya dialog pretensius yg ente maksud.

Quote
Ada beberapa part yang elo begitu, yang kalo elo robah gayanya lebih mencirikan gaya lo sendiri, gue rasa akan menjadi jauh lebih humble dan kena ke pembaca.

yeah i know, part2 kayak waktu Levantine bikin filosopi ttg 'wajah gurun' buat end suatu scene, atau waktu encounter rombongan dengan Gaeus, ya kan? atau mungkin waktu percakapan Larke-Levantine pas giliran jaga malam, atau Larke-Fly di depan api unggun pas di Negeri Angin itu yak?
sebetulnya ane masih gambling untuk dialog2 yg bergaya menguliahi semacam itu, sejauh ini ada satu orang yg gak protes dan (akhirnya) ada satu orang protes. oke, i'll do something to fix it.
btw maksud ente gaya 'keminter' dialognya diubah pake gaya ane sendiri, itu maksudnya gimana sih? soalnya dari yg ane duga, itu masalah 'keminter'nya bukan di gaya bahasanya, tapi emang udah masuk ke inti dialognya (isi percakapan yg terlalu menggurui). maksudnya inti percakapannya diubah atau gimana?
coba deh kalo ente gak keberatan, bisa di-quote contoh gaya dialog yg 'keminter' itu (yg paling pendek aja lha, jangan yang Gaeus ;D), terus ente ubah dengan gaya bahasa yang gak lagi berkesan keminter, emang bisa yak? sekalian buat pembelajaran di tret ini neh: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menggunakan suatu gaya dialog. :)

eniwei, sebetulnya di pm kemaren ane udah nyebut apa2 aja yg memungkinkan LEMURES ditolak penerbit:

1. terlalu sterotip fellowship LOtR
2. terlalu banyak unsur kebetulan; selalu adanya tokoh-tokoh, benda, dan peristiwa di tempat dan waktu yang 'tepat' :-[
3. terasa menggurui
gimana dengan unsur kebetulannya? apakah masih wajar? ah, poin ini bisa ente sorot buat masukan di bab2 selanjutnya, dan amat kunantikan hal itu. :)
sebelum dinilai ente, ane malah sama sekali gak ngelirik kekurangtegasan tema & gaya bahasanya--dan sejujurnya malah tadinya kuanggap dua hal itu jadi kelebihan naskah.
tapi eniwei, masukan bagus itu untuk memperkuat tema dalam LEMURES, i'll fix it for sure :)
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 01, 2008, 07:21:37 pm
________________________________________
aduh, sebel,…. pas ngeposting tanggapan ini pertama kalinya, web site masuk ke mode maintenance, selama berjam-jam, tak tahunya begitu on-line tanggapan gue nggak ke broadcast! Ngulangin lagi? Arrrrgh [ranting]

Quote
yang sulit bagiku, bagaimana cara mengaplikasikan gaya bahasa cantik yang kira2 aproveable buat semua kalangan pembaca? terus, bagaimana pula cara mengetahui apakah suatu kiasan/metafora sudah pas di mata pembaca, atau belum? kalo ngeliat penyisiran om Pur thd gaya bahasa LEMURES di prolog & bab 1-nya (dan komen si fred juga thd prolognya tempo hari), tampaknya ada beberapa kiasan yang tepat sasaran, dan ada juga yang gak tepat (yg sialnya jauh lebih banyak ).

Namanya ‘art’, parameternya adalag ‘rasa’, dan nggak ada yang bisa menjelaskan perihal rasa secara gamblang. Yang penting adalah latihan dan latihan terus, rasakan efeknya seperti kita mencicipi makanan. Satu saat, kita akan ngerasa juga, koq apa yg ‘pas’ dan apa yg masih ‘ngga pas’.
Tapi aku pikir parameter yang paling gampang adalah, apapun yg elo tulis itu harus dengan mudah dipahami oleh orang berkat kesederhanaannya dalam mengungkap, tidak berlebih-lebih dalam hal yang tak perlu.
Penggunaan kiasan juga harus memperhatikan pemahaman umum pembaca, konsep pengias tidak boleh terlalu jauh maknanya dari yg dikiaskan, sesuai dengan konteks dimana kiasan tersebut biasa dipakai. Ini bukan perkara anti kreativitas atau menjauhi originalitas (suatu prestise bagi pengarang apabila dapat ‘menciptakan’ suatu istilah baru yg kemudian populer), tapi merupakan penerapan dari prinsip dasar komunikasi: antara penulis dan pembaca harus berada dalam frame yang sama.

Quote
kalo boleh jujur, gw dapet influence kayak gini dari Paulo Coelho Embarrassed, and i’m afraid i can do nothing about it (selain mendelete-nya Cry), soalnya itu udah masuk ke dialog sih. kalo masih di narasi/deskripsi, masih ada harapan untuk kuotak-atik lagi. tapi kita liat dulu yg mana2 aja sebetulnya dialog pretensius yg ente maksud.
coba deh kalo ente gak keberatan, bisa di-quote contoh gaya dialog yg ‘keminter’ itu (yg paling pendek aja lha, jangan yang Gaeus Grin), terus ente ubah dengan gaya bahasa yang gak lagi berkesan keminter, emang bisa yak? sekalian buat pembelajaran di tret ini neh: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menggunakan suatu gaya dialog. Smiley

Rey, elo udah paham belum dengan konsep: KONTEKS? Setiap istilah, atau pengertian, akan memiliki makna apabila memiliki sebuah relasi dengan konteksnya. Dan bicara novel, sering kali konteks itu harus dibangun dengan susah payah, disulam hati-hati kata per-kata, sehingga di saat kata-kata/ konsep yang bersangkutan timbul, dia tidak muncul begitu aja dari kekosongan. Dia sudah didukung oleh sejumlah besar situasi yang menyebabkan keberadaan konsep baru tersebut menjadi ‘pada tempatnya’, atau, ‘kontekstual’.
Lantas pada saat sebuah istilah muncul secara ‘inkontekstual’, pembaca akan bertanya-tanya. Dan kalo kemudian kesannya pengarang membubuhkan kata-kata itu sekedar supaya kelihatan ‘berkelas’ (baca: pinter, cerdas, hebat dll), :P yep, disitulah kemudian pembaca menilai sebagai: ‘keminter’.

Mari bicara contoh :)

salah satu dialog di Prolog:
Kain Ellohym mendengus, ”’Musafir Cinta’—dulu orang-orang menyebutku. Tetapi hari ini, keberangkatanku ke negeri ini adalah untuk kepentingan di luar itu.”
Seth masih tertawa. “Memangnya apa kepentingan di luar itu, aku mau tahu!”
“Sebuah prosedur atas dasar inisiatif,” jawab Kain mantap.

Menurut gue dalam banyak hal kata-kata ini inkontekstual. Kata-kata ini tidak disupport oleh latar belakang Kain sebagai pendekar, tidak disupport oleh setting Lemures yang konon berjuta tahun lampau (dua kata: prosedur & inisiatif, menjadi way out of place), Malah kalau kita cuma melihat baris-baris dialog di atas, kita dengan mudah bisa menyangka bahwa percakapan ini terjadi di dalam lift perkantoran :)
Terus elo minta gue bikin alternate-nya? Lah gimana seh? Kan elo yg pengarangnya, bukan gue. Kalo gue yang bikin, bisa-bisa gue salah menjabarkan intensi Kain :o

Tapi let’s try,….
Kain Ellohym mendengus, ”’Musafir Cinta’—dulu orang-orang menyebutku. Tetapi hari ini, keberangkatanku ke negeri ini adalah untuk kepentingan di luar itu.”
Seth masih tertawa. “Memangnya apa kepentingan di luar itu, aku mau tahu!”
“Mungkin akan kedengaran bukan seperti Kain yang kau kenal,” sang musafir terkekeh. Tetapi senyum tipis di wajahnya itu perlahan memudar, dan ia menatap Seth dengan pandangan lurus yang tegas, pandangan yang mengingatkan Seth akan kemantapan hati seorang Kain Ellohym bertahun-tahun lampau, “Aku datang atas kehendakku, mungkin juga kehendak para Dewa, mungkin juga kehendak negeri-negeri di Selatan,”
…. dan seterusnya,… ;)

Sekarang mohon dirasakan (sebagai latihan), baca dua versi di atas berkali-kali, dan rasakan di part mana terasa ada ‘paksaan’ untuk men-swallow (menelan) kata-kata itu, dan di part mana kata-kata terasa meluncur nyaman?
Untuk versi gue, apakah gue menggunakan kata-kata ‘eksotik’, apakah dengan kata-kata yang cukup umum seperti itu, sastranya dapat dirasakan?
Mungkin itu aja kali dulu ya? For starters, coba elo refrase kalimat-kalimat di atas buat latihan, cari berbagai alternatif pengungkapan yg lebih enak, menggunakan kata-kata yang sederhana.
Practice makes perfect!
FA Purawan
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on July 02, 2008, 12:37:28 pm
________________________________________
Oke TQ for the example, bos, i’ll try my best at home!
yang paling penting itu konteks yak [biggrin]
________________________________________
Post by: MakMak on July 02, 2008, 01:37:21 pm
________________________________________
@all of you….
ini saya sedang buat image dunia vampire sendiri, lepas dari image vampire dalam Dracula. masalahnya, aku tidak tahu apakah image dunia baru vampire buatanku ini bagus atau tidak.
nah saya ingin mendengar pendapat anda semua mengenai hal tersebut.
dunia vampire buatan saya itu seperti ini:
vampire saya bagi menjadi 4 jenis

yang pertama, saya beri nama Origin Vampire (Native)
ciri-ciri:
1. merupakan keturunan dari origin vampire yang lain (kalau ayahnya origin vampire, ibunya origin vampire, maka anaknya juga origin vampire)
2. bisa hidup dibawah sinar matahari meskipun kekuatannya akan menurun drastis.
3. yang menonjol dari jenis ini adalah kekuatan fisiknya.
4. bagi mereka, makan dan memperoleh nutrisi adalah dua hal yang berbeda. mereka bisa makan makanan biasa seperti manusia hanya untuk sekedar mengenyangkan perut, tapi mereka harus meminum darah untuk memperoleh nutrisi (sumber nutrisinya adalah darah)
5. berumur panjang dan awet muda, tapi tidak abadi.

yang kedua, saya beri nama Slave
1. adalah manusia yang menjadi vampire karena meminum darah vampire. (disini, kalau ada manusia yang darahnya dihisap oleh vampire, dia akan mati, tapi tidak akan menjadi vampire. manusia menjadi vampire kalau meminum darah original vampire)
2. tidak memiliki kebebasan. Slave hanya bisa mematuhi perintah Origin vampire yang memberikan darahnya.
3. kekuatan fisik meningkat, meskipun tidak bisa menyamai origin vampire.
4. tdk bisa hidup dibawah sinar matahari.
5. makan dan memperoleh nutrisi merupakan 2 hal yang berbeda.
6. tidak berumur panjang dan tidak awet muda.

yang ketiga, Alter
1. Slave yang kehilangan tuannya (Origin yang membuatnya jadi vampire mati terbunuh atau sakit) kemudian secara berangsur, memperoleh kembali ingatannya ketika dia masih menjadi manusia.
2. memiliki kebebasan untuk bertindak sendiri.
3. yang lainnya sama dengan Slave.

yang terakhir, Outcast.
1. Manusia yang menjadi vampire tanpa campur tangan Origin Vampire. (dengan sihir, kutukan, ritual khusus, dll)
2. kekuatan fisiknya sama dengan ketika dia masih menjadi manusia.
3. darah merupakan makanan dan sumber nutrisinya.
4. tidak bisa hidup dibawah sinar matahari.
5. berumur panjang dan awet muda selama dia terus mendapat pasokan darah.

nah, bagaimana pendapat kalian? bagus? lumayan? jelek? jelek sekali?
(Btw, klo tanya seperti ini OOT ga ya?)
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 02, 2008, 04:25:31 pm
________________________________________
Mak, semua udah bagus, tapi baru separuh bagus. [thumbsup]
Untuk menjadi bagus, harus disempurnakan dengan setting yang memuat karakter-karakter tersebut, yang mendukung interaksi masyarakat vampir ini sehingga cerita yang kamu karang bisa berlangsung lancar dan believable. Kalo menurut saya, tanpa dukungan setting yang pas, karakter-karakter ini kurang bisa berkembang secara maksimal.
Segitu aja dulu, kita tunggu konsep lanjutannya :)
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on July 03, 2008, 08:26:14 am
________________________________________
Mak, ide apa pun pasti bagus. Yang penting adalah pewujudannya. Kalau bisa menjalin semuanya dalam cerita dengan pas dan sampai ke pembaca secara tepat pula, pastilah bakalan oke! [thumbsup]
Udah baca the historian-nya elizabeth kostova belum? Itu buku juga tentang vampir. Katanya sih salah satu buku tentang vampir terbaik yang pernah ada.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on July 03, 2008, 03:46:55 pm
________________________________________
@makmak
yap, idenya sih udah asik mak, ada sistem pengkastaan vampir gitu, tapi kayaknya masi ada celah di sini:
Quote
yang pertama, saya beri nama Origin Vampire (Native)
ciri-ciri:
1. merupakan keturunan dari origin vampire yang lain (kalau ayahnya origin vampire, ibunya origin vampire, maka anaknya juga origin vampire)
2. bisa hidup dibawah sinar matahari meskipun kekuatannya akan menurun drastis.

nah, kalo kasusnya ayahnya origin vampire, ibunya non-origin vampire, anaknya masuk klasifikasi vampire yang mana donk(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)
terus gw juga mengharapkan ada penjelasan logis kenapa tipe Origin Vampire ini bisa tahan sama sinar matahari–karena konsep ini bener2 menyalahi aturan terdasar dunia per-vampir-an (halah ;D), di mana seharusnya semakin ‘pure’ kadar ke-vampir-an seorang vampir, maka semakin gak tahan pula dia sama sinar matahari.
(gw pikir konsep vampir takut matahari ini murni berasal dari pengetahuan tentang kebiasaan kelelawar yang selalu ngumpet di tempat tertutup pas siang hari)
kalo di film Blade (yang jagoannya mirip tukul(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)), ada penjelasan logisnya kenapa si Blade yang notabene juga termasuk vampir ini bisa tahan sama matahari: sewaktu ibunya lagi mengandung, ibunya digigit vampir, maka lahirlah si Blade–dengan perpaduan DNA manusia dan vampir. nah DNA manusia dalam diri Blade menyebabkan dia terlahir sebagai day-walker (tahan sama sinar ultraviolet), juga kebal sama material perak dan bawang putih, sementara DNA vampir menyebabkan Blade memiliki kekuatan super seorang vampir–dan malah melebihi vampir kebanyakan. singkatnya, Blade dapet semua keuntungan manusia dan vampir.

maksud gw, kalo ente mau bikin cerita vampir, idealnya sih sebisa mungkin menuruti semua referensi dunia per-vampir-an umumnya. Kalopun terpaksa melanggar satu-dua pakem yang ada, ente harus menyertakan alasan dan logika yang relevan dengan rules yang berlaku dalam dunia vampir ente. :)
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 03, 2008, 05:21:26 pm
________________________________________
di Blade Trinity (sekuel ketiga ya?) ada tokoh musuh yang menyebut dirinya sebagai the first vampire, king of gnome (dia yang pertama… halah…), dan seperti daywalker dia juga gak masalah kena sinar matahari, tapi gua gak ngerti kenapa bisa begitu. gua nontonnya gak konsen sih…
lebih baik emang seperti kata rey, lebih diperkuat lagi alasan-alasannya, mak, supaya ceritamu juga bisa lebih kuat.

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XVI (19 Jun 2008 – 21 Jun 2008)

  • Tentang draft Lemures karya BloodSin

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 19, 2008, 08:40:37 am
________________________________________
lemurianya sama kan ky yg di k.com?
yah komen gw masi sama, opening yang menggunakan kata ‘sang perawan’ trus ada ‘bibir kapak bertemu lidah pedang’ yang bikin gw ngakak bayangin aneh2 XD
Soal kesan RPN, engga terasa sama sekali, gw cuma minta lo ganti istilah bak supernova yang mengganggu itu. Btw jangan2 ceritanya ada semacam makhluk kegelapan terlepas dari segel trus hanya lima pendekar roh dalam legenda yang bisa segel dia kembali ? (kesan awal pas baca kebayangnya hal klise semacam ini yang akan membuat ceritanya berubah total ke arah RPN yang tipikal, correct me if I’m wrong)
Trus bahasanya puitis penuh metafora… btw musafir itu apa yah? Trus pada bilang ini cerita legenda Atlantis? Jadi ini cerita original atau mau remake legenda lama yg udah ada? Soalnya gw ga tau sama sekali tentang legenda atlantis.
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 10:20:20 am
________________________________________
Rey, comment-nya gw kirim aja ke e-mail ya, soalnya agak2 jahat… [biggrin]
Tapi, jujur, bukan karena dendam, lho! ;D
Btw, jadi sebenernya “Lemures” itu maksudnya apaan? Koq prolog-nya beda banget sama cuplikan yang waktu itu? Beneran, kayak 2 cerita yang beda sama sekali…
________________________________________
Post by: BloodSin on June 19, 2008, 02:04:54 pm
________________________________________
@jeff,
yap, prolognya masih sama, overall. :P
‘Lima Pendekar Roh’-nya udah gw ganti jadi ‘Lima Pendekar Arwah’ semalem. Kedenger lebih keren, somehow. *tiba2 jadi kepikiran Lima Pendekar Garuda-nya om Pur(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)*
dan sialnya gw belom nemuin metafora lain yg pas buat bunyi benturan dahsyat selain ledakan nova itu.. :’( ada yg bisa membantu? tapi kenapa sih lu bisa berpikiran ledakan supernova gak nyambung ama setting cerita? bagi gw nyambung2 aja ah.. :D
mahkluk kegelapan? ahahahah, lu tauk lha secara gw ini ‘berpakem realistis’, hal2 picis macam setan kegelapan, magic, konsep ‘titisan’, penyihir, monster yang bisa ngomong, gak bakalan ada di kamus gw. (kecuali di Tangerine (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))
alih2 menyajikan imajinasi fantasi liar yg ‘wah’, gw lebih mengandalkan dukungan riset, kekuatan plot, gaya bahasa, dan karakterisasi buat ngebikin pembaca takjub. yah.. setidaknya itulah yg kuusahakan sejauh ini, entah berhasil ato tidak pada kenyataannya.
eniwei serius jeff, lu gak tauk ‘musafir’ itu apaan(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif) Subhanallah, Gusti Allah-ku…

Quote
Trus pada bilang ini cerita legenda Atlantis? Jadi ini cerita original atau mau remake legenda lama yg udah ada? Soalnya gw ga tau sama sekali tentang legenda atlantis.

gw pake setting benua Lemuria (yg belakangan gw samarkan dengan ‘Lemures’–biar gak terlalu ‘picis’ :D ), dan ini sama sekali bukan remake legenda yg udah ada. gw cuma ngadop setting Lemuria itu, karena gw mau bikin cerita fantasi yg setting-nya daratan tropis. eniwei, ketik aja ‘Lemuria’ di google, dan liat brp banyak halaman yg muncul. :)

@fred,
ahahah beda yak? maksud lu gaya bahasanya kali yg beda? gw sih nyesuain gaya bahasa-nya tergantung lg kayak gimana adegannya.. kalo adegan biasa yg gak bakal gw bikin terlalu berbunga2 kayak di prolog..
komen begitu mah biasa aja bagi gw, gw pernah (cukup sering, malah ;D) ngalamin ‘neraka’ yang jauh lebih panas dari itu. [biggrin]
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 19, 2008, 02:15:30 pm
________________________________________
ah maaf kang Musafir Loki. Aku tidak mendalami ajaranmu… jadinya tidak tahu… kl gw tebak2 sih artinya sejenis crusader? hehe…
Btw, bak supernova, apakah dunia dalam Lumures mu itu org2nya familiar dgn kata itu? Peradaban dunia ini sudah sampai ke level mana? Jadi bahasa narasi juga harus disesuaikan dgn dunianya, atau paling tidak bayangkan salah satu karakter dalam dunia seperti itu berkata supernova. apakah terasa aneh? kl engga ya udah lanjutkan aja. Tp tiap gw baca pasti kesandung di supernova itu mulu huahua.
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 02:29:19 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 19, 2008, 02:04:54 pm
komen begitu mah biasa aja bagi gw, gw pernah (cukup sering, malah ;D) ngalamin ‘neraka’ yang jauh lebih panas dari itu. [biggrin]

Yaelah, rupanya udah sering terima komen “neraka”…
Pertanyaan besarnya adalah: Dikau mendengarkan gak komen2 itu? [hammer]
Komen2 itu sih memang bukan keharusan untuk diturutin, tapi, rey, komen2 itu sebenernya datangnya dari calon2 pembaca (bukan penulis, lho! ;) ).
Minimal, jadikan komen2 itu sebagai bahan analisis, bahan telaah, bahan riset.
Kalau ada orang yang protes, itu ya pendapat jujur (berhubung gw orang yang suka protes ;D).
Kalau gak ada masalah, buat apa protes kan?
Lain halnya kalau muji, karena kalau muji tanpa alasan, berarti ada maunya. [bigwink]
________________________________________
Post by: BloodSin on June 19, 2008, 02:37:40 pm
________________________________________
kan gw lagian juga kagak minta compliment elu fred, lu baca dah di pengantar email kiriman gw itu, malah gw mohon2 makian ama kritik kejam disitu.. [hammer]
gw bosen ama pujian (halah dah kek sering dipuji aja.. ;D) tidak menggairahkan lagi semenjak gw berubah jadi orang yg ‘realisitis’. ^-^
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 02:41:30 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 19, 2008, 02:37:40 pm
kan gw lagian juga kagak minta compliment elu fred, lu baca dah di pengantar email kiriman gw itu, malah gw mohon2 makian ama kritik kejam disitu.. [hammer]

True. Dan dikau mendapatkannya, bukan? ;D
Rey, koq malah jadi bangga sih nerima kritikan? Bad habit! [hammer]
Oya, gw juga kirim reply ke e-mail.
________________________________________
Post by: BloodSin on June 19, 2008, 02:46:02 pm
________________________________________
iye, gw dah buka word-nya TQ dah udah memaki secara mendetail gitu. gw seneng. [biggrin]
tapi somehow ada yg berkesan lu buat2 makiannya, payah ah -_-”
yg objektif nape, biar gw juga ngerasanya kena telak :P
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 03:08:45 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 19, 2008, 02:46:02 pm
tapi somehow ada yg berkesan lu buat2 makiannya, payah ah -_-”
yg objektif nape, biar gw juga ngerasanya kena telak :P

Yang mana? ???
Sekali lagi, setiap kali gw komen suatu karya tulis (yang udah terbit atau pun belum), itu adalah komen sebagai seorang pembaca, bukan penulis.
Itulah kerangka penilaian yang gw pake dalam memberikan komentar.
Kenapa begitu?
Pertama, karena gw belum resmi menjadi penulis kalau karya gw sendiri belum terbit. ;)
Kedua, karena seorang penulis harusnya justru merasa lebih senang menerima komen dari seorang pembaca daripada seorang penulis. Ya seperti kata dirimu: obyektifitas. Seburuk2nya cara penilaian pembaca (berhubung gak paham masalah teknis penulisan ini dan itu), mereka selalu memberikan komentar yang jujur terhadap suatu karya. Kalau suka ya suka, enggak ya enggak. [thumbsup]
Nah, sekarang gw dituduh memberikan komentar yang subyektif… :’(
Andaikata memang iya, apa tujuannya coba? Supaya lemures jadi jelek dan gak pernah terbit?
Man, apa gunanya buat gw kalau lemures gak terbit2? [cluebat]
(*merasa terkhianati… aaargh… [refuse]*)

________________________________________
Post by: cheppy70 on June 19, 2008, 03:19:15 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on June 19, 2008, 02:41:30 pm
Rey, koq malah jadi bangga sih nerima kritikan? Bad habit! [hammer]

Memangnya kenapah? Gue juga lebih seneng dapet kritikan dibanding pujian. Kritikan cenderung jujur menyuarakan apa-apa yang masih terasa gak enak, sementara pujian cenderung dicari-cari.
Tapi beda ya, sama penilaian positif, dalam arti serupa pujian tetapi berasal dari evaluasi. Baik kritikan maupun penilaian positif ini sangat berguna buat gue, untuk melihat di mana sih gue udah bener dan dimana gue masih perlu dibenerin,….

@Rey,
Makian sedang disusun. Gue mau konsen dulu,….. wussss,… wussss,…. (cari ilham kiri-kanan). [biggrin]
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 03:28:00 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on June 19, 2008, 03:19:15 pm
Memangnya kenapah? Gue juga lebih seneng dapet kritikan dibanding pujian. Kritikan cenderung jujur menyuarakan apa-apa yang masih terasa gak enak, sementara pujian cenderung dicari-cari.

Ya sama seperti yang gw katakan di atas.
Lagian, om pur, “bangga” sama “seneng” mah beda kali.
Kalau “bangga” itu kesannya udah pasrah (baca: naskah milik gw emang jelek dan gak bisa diselamatin lagi, kalau suka ya bagus, kalau gak ya udah :( ). Itu kesan yang gw tangkep dari kalimat2nya rey…
Gak seru ah, si rey ternyata orangnya sensi-an. [hammer]
Makiannya cabenya jangan banyak2 deh, om pur…

@rey,
gw udah baca entry “lemuria” di wikipedia. Dan ngeliat potensi besar yang bisa diolah dari topik “lemuria” itu sebagai suatu cerita fantasi, gw justru semakin kekeh dengan komen2 gw. Cerita tentang “surga yang hilang” seharusnya pasti menarik, bukan? ???
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on June 19, 2008, 09:38:21 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 19, 2008, 06:23:13 pm

Soal menerima kritik gw juga setuju ama Fred. Kesannya cuma mau sekadar kritikan (baca: cari perhatian) tapi kritikannya ga ada yang didengerin. Sekalipun didengerin, ga ada yang lagsg diterapin.
Peace,
J.K Serpentwitch (ikut2an om Pur, btw initial nya mirip Rowling, JK juga hehe)

Well, chill up, dude 8)
kadang hal itu terjadi karena sang penerima kritik masih belum begitu ngeh maksud konkrit dari pengkritik. Atau, masih mencari-cari cara untuk mengunyah kritik tersebut. Atau ada alasan lain yang sifatnya pribadi.
Setiap orang punya daya sensitivitas yang gak sama, bro. Kadang boro-boro menyimak, menekan tombol scroll down aja udah penuh perjuangan, itu kalo faktor emosi masih kuat melekat. Jangan lupa, dalam seluruh karya kita, kita juga mencurahkan roh emosional kita ke dalamnya. Dan orang butuh kemampuan mengambil jarak terhadap emosi, saat mengunyah kritikan.
Karya itu bagaikan anak. Dan tidak ada orang yang bisa gampang legawa menilai rendah anaknya sendiri, pasti anak gue paling cakep/ cantik/ pandai etc.
Untuk itu, please jangan cepet-cepet menjudge sensitivitas temen-temen lainnya. Kita mesti kembali ke missi. Kita berbaik mengkritik adalah dengan tujuan supportive, jadi mesti bisa juga bantu temen agar mengerti dan menemukan jalannya sendiri untuk meningkatkan performansinya. Ya gak? :)
Ayo kembali improving ourselves!
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on June 20, 2008, 08:41:29 am
________________________________________
Penjelasannya sebenernya begini:
1. Gw kalau nulis sesuatu memang suka mendramatisir (bad habit! [hammer]). Sensi-sensian itu kan becandaan aja, iya kan, rey? ;) Jadi, gw sebenernya ga segitu marah/kecewanya sama rey koq. Karena gimanapun lemuria ya karya milik rey seorang, terserah mau diapain sama dia.
2. Tapi soal kecewa dituduh subyektif sih iya, hehehe [biggrin]. Soalnya rey minta dikritik, trus setelah diberi, gw malah dituduh tidak obyektif… Kan gw merasa telah ditipu! [annoyed]
3. Buat jeff, gw juga gak ngarap orang dikritik langsung berubah. Beneran!
Karena jujur, meskipun diutarakan dengan jujur, suatu kritikan juga sebenernya bisa salah dan berpotensi menyesatkan. Yang gw maksud ke rey adalah supaya dia menelaah/mengkaji lagi kritikan itu. Istilahnya, cari tahulah apakah kritikan gw itu emang bener atau kagak, dan jangan langsung dibuang ke tong sampah. Be critical, that’s the point.
Biar semuanya jelas, gw sebenernya telah mengkritik rey 2 kali: Pertama, tentang prolognya. Kedua, mengkritik karena dia kesannya (sekali lagi, cuma kesan!) bangga menerima kritik, tapi tidak kritis.
Gitu deh…
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 20, 2008, 10:28:40 am
________________________________________
OK Rey, semaleman lebih gue meditasi untuk membahas parkamen yang sudah elo tulis, sekarang Tujuh Dewa Guntur Valenör sudah berbicara, kurasa waktunya sudah tepat untuk menyampaikan makian mereka kepadamu.
Pertama-tama, para Dewa Guntur mohon maap, kompie-nya lagi rusak sehingga tidak bisa kirim email langsung padamu. Pesan mereka padaku, disuruh langsung aja komen di Pulpen, di thread FFDN III yang tersohor itu. BTW, mereka excited banget, lho, bisa ikut menampilkan komen mereka di sini,… 8)
So, apa yang akan dikatakan oleh sang raja biawak?

Gini, ya, temanku yang baik. Raja biawak akan mengevaluasi skrip elo ini dalam dua posisi, satu sebagai karya penulisan, dua sebagai proposal jualan. Untuk yang kedua ini kupikir karena dalam paket yang elo sertakan terlihat bahwa elo memang sudah mempersiapkannya sebagai materi submisi ke penerbit. Antara lain dari pencantuman kontak dan abstrak di dalam daftar isi. Sayangnya gue nggak bisa ikut membaca Sinopsis dan Ringkasan Cerita (BTW dua ini bedanya apa sih?), sekedar siapa tahu ada yg gue bisa bantu dari 2 marketing tools ini.
Tapi mohon dicatat, penilaian gue murni hanya bersandar dari materi prolog yg elo kirim, jadi resiko salahnya cukup besar. Kalo gak tepat mohon dimaapin aja.

Pertama-tama, yang kedua dulu (nah, ribet, kan lo?)
Dalam paket ini gue mendapatkan sebuah halaman judul yang sudah ditata dengan font khusus, sebuah halaman quote, sebuah halaman daftar isi, dan selanjutnya bagian prolog yang entah memang cuman segitu, atau masih ada terusannya.
Penilaian: Membingungkan. :o

Yang bikin bingung apanya? Settingannya, terutama buat body ceritanya. Kenapa elo bikin pakai font Calibri, Rey? Itu jenis font sans seriff, seharusnya kagak dipakai untuk body text yang panjang/ paragraf, hanya bagus untuk dipakai sebagai font judul dan sejenisnya. Kalo elo kirim materi ke penerbit dengan font tersebut, guaranteed, naskah elo udah gak enak dibaca sejak hurup pertama. (cat: Font calibri gak ada di kompie gue, perhaps dia digantikan oleh font lain yang tipenya sans seriff juga.)
Jangan remehkan hal ini, karena impactnya secara psikologik, maupun praktik, akan besar. Naskah elo lebih mudah mendapat penilaian negatif, karena evaluator merasa membacanya capek di mata. Dan itu yg gue alami juga, sehingga akhirnya gue putuskan untuk replace font calibri dengan times new roman dulu, baru gue lalap naskah lo. Untung gue dapet word file.Gimana editor yang cuma terima hardcopy?
Jadi gue bingung, untuk apa elo lakukan itu. Artistik? Kurasa no need for that. Honestly.

Kemudian halaman quote. Frankly, Quote elo ngga enak dibaca (ngga nge-flow), dan ga punya meaning yang jelas. Gue langsung ngebatin, “Apaaaa siiiih?”, (salah satu dewa guntur juga komen, “KAMSUD LOE???”, pake kapital dongs,.. namanya juga dewa!) :P
Kalo menurut gue sih, quote harus bisa menggrip pembaca sejak awal. Gue tahu salah satu seni quoting adalah menampilkan sesuatu yg awalnya ga make sense, tapi kelak akan bertransformasi menjadi make sense setelah pembaca menyelesaikan cerita. Tapi seyogyanya, paling tidak pemilihan kalimatnya megikuti flow yang enak. Kalimat elo gue rasa,… gimana ya? Kayak ngeganjel, gitu.
Kalo menurut gue, sih, mendingan yg di quote itu salah satu frasa prasasti atau apa-lah, yang gue yakin ada di cerita elu, yang akan menghubungkan dunia Lemures lama dengan dunianya Guillarde. Itu akan lebih memikat pembaca dan akan punya fungsi dalam bangunan plot.

Untuk daftar isi, OK banget. Langsung bisa kebayang plotnya dan seru-serunya. Tapi judul “Kelinci dan Golok” kayaknya kurang greget, dan “Rombongan Berjalan” mungkin bisa lebih mantap dibahasakan lain seperti “Ekspedisi anu” atau semacamnya (if it was meant as that).
Trus kalo liat daftar isi dan alokasi halaman, kayaknya pendek Novel mu, ya Rey? Cuma 245 halaman? Apa ga kurang, Rey? Maksud gue apa cerita bisa berkembang cukup bergizi dengan segitu halaman? Ga tau deh. You give me all the stuff, baru gue bisa komen lagi.

Nah itu tadi aspek teknis aja yha,…. Gue harap kalo bagian itu diperbaiki, chance elo untuk mengolkan naskah menjadi lebih baik. At least, elo aman dari hal-hal yang menganggu dan editor bisa lebih fokus pada apa yang harus dia lakukan: mengevaluasi materi cerita.

Sekarang (hold your breath), MATERI CERITA

Well, materi Prolog, anyway.
Dibuka dengan adegan pertarungan (oh, straight to actions, aren’t we?) dengan pemilihan gaya kalimat yang menurut gue,…
Pre-ten-si-us
Sorry.
Menurut gue, gak salah kalo elo mau menggunakan gaya sastraik, atau tepatnya prosa liris (?) dalam paragraf pembuka. Tapi elo harus mahir dulu sebelum menggunakannya, Rey. Dan menurut gue, elo masih harus mengasah keterampilan untuk beberapa waktu dulu (let’s say, 17 tahun? Wakakakakak!!!) [hammer]
Kekurang mahiranmu pun tampak dalam pemilihan kata-kata yang digunakan, baik sebagai perangkai, penjelas maupun sebagai metafora. Ada lho, yang namanya seni pemilihan kata. Jago-jagonya seni ini mampu merasakan kekuatan atau kelemahan suatu kata dalam konteks sastra, dan menempatkannya secara cermat dan tepat. It’s not just about rhyme or sensations, but also about deeper meaning, and the ‘right’ context.
(‘right’ di sini relatif banget, hanya ‘rasa’ dan pengalaman lah yang kelak akan mengatakan mana yang benar dan mana yang salah).

Contoh gaya sastraik elo, “Dentingan pedang menjilat karang, tebasan kapak menempa hentak, dan terjangan lincah menapak tanah,” gue tahu maksudnya, tapi gue merasa pengungkapannya ‘salah’. Rasanya kau menggunakan kata-kata tidak secara tepat, Rey. Yang ‘menempa’ itu bukan kapak, melainkan palu.
Kurasa kalau kau mau menyastra, alternatifnya bisa seperti ini:
Denting pedang menjilat dan menoreh karang,
Kapak menebas keras, mengentak. Bukannya mencari celah, tapi menerobos untuk memecah. Mendobrak segala pertahanan.
Lincah langkah kaki menerjang, menapaki tanah yang licin oleh keringat dan siasat.
Well, gue bukannya mau ngacak adul atau maksain gaya, ya? Ini sekedar pembandingan untuk aspek pemilihan kata, kalo elo emang pengen bergaya sastra-ish di situ.
Terus apa pula bagian ‘Duhai’, itu? Gue tahu, itu nantinya berhubungan dengan ‘Elok namun liar’. Tapi pemilihan angle itu pun gue rasa ngga terlalu tepat konteks. Maksud lo tentu menggambarkan suatu sisi keindahan dari adegan pertempuran. Ide dasarnya boleh juga. Tapi keseluruhan orkestrasinya, bagi gue kurang menghasilkan musik yang koheren. Ibaratnya elo niat bikin Mars, tapi masukin frasa mendayu-dayu ditengah. Missi utama elo jadinya gak tercapai.

Well, sekali lagi, ini udah aspek art. Seorang master art memang akan memiliki kemampuan ‘dewa’ untuk menggabungkan berbagai elemen, yang di tangan orang awam biasa-biasa aja, namun di tangan dia jadinya indah sumindah. Tapi ya itu, harus berkualifikasi MASTER dulu,… he he he. Dan bagi gue, kalo elo belum peka atau mahir betul dalam hal art, lebih baik elo mengambil jalur yang lebih aman yaitu menggunakan gaya penceritaan biasa aja, yang menurut gue udah elo kuasai secara baik.
Apalagi ini bagian depan, bro. Bagian pintu masuk elo. Elo gak akan mau gantungin lukisan norak di ruang tamu, karena elo gak pengen orang-orang jadi menilai seluruh isi rumah elo bakal sama noraknya, khan? Well, not that your writing is norak,… pokoke you get the message, lah.
Lidah pedang dan bibir kapak, menurut gue sih oke-oke aja. Cuma kembali pilih kata sesuai konteks. Bibir kapak menyalak? Kata menyalak itu memiliki kandungan sense berupa daya menyembur / mendorong. Maka yang lebih tepat ialah ‘senapan menyalak’, bukan kapak (ketahuan, elo cuma mikirin rhyme-nya, yach? Hehehe).

Kemudian bicara jurus-jurus. Kembali, harus believable kan ya? Bagaimana dengan jurus kapak berputar dengan dampak yang dihasilkannya? Gerakan kapak berputar koq hasilnya menebas? Ya gak bisa lah booook,…. kapak kalo diputer gitu ya bisanya ngebooor, Inul, kallee,..? :D
Akhir dari petarungan stastra-ish ini adalah berupa ledakan nova yang membangunkan sepuluh ribu penduduk Lemures. Well, nice. Penggambaran aftermathnya juga bagus. Cuma buat gue ketika sepuluh ribu penduduk itu bangun, lalu apa dampaknya? Apakah mereka jadi panik dan kota/ kampung jadi kacau? Apakah suara semacam itu sudah dianggap ‘biasa’ mengingat toh Seth Cavaross adalah penduduk Lemures yang udah pasti ‘pendekar’ selebritis donks,…
“Ohh,.. bang Seth pasti lagi ngamuk abis semalem kalah maen gaple. Udah, tidur lagi aja,…” ^-^
Ketiadaan efek sebab-akibat ini menyebabkan konteks kota/ kampung Lemures menjadi lepas dari cerita, seolah hanya menjadi figuran yang baru datang saat dipanggil sutradara.

Setelah masuk ke gaya bertutur ‘biasa’, mulai terasa aliran yang cukup enak dinikmati. Penamaan Kain dan Seth juga enak, ga ada kesan dipaksain. Penggambaran karakternya juga cukup hidup, walau menurut gue agak tipikal tokoh game. Hiperbola mengenai keperkasaan dua orang itu agak terasa sedikit menganggu, tapi ga terlalu fatal.
Yang kurasa masih belum baik adalah pilihan-pilihan kata yang elo gunakan. Beberapa kata memiliki muatan yang sebetulnya sudah ‘pakem’, tapi elo gunakan secara ngga tepat. Kata ‘keji’, itu ga mungkin digunakan sama sekali dalam konteks persahabatan. Jadi biarpun gue bertarung, istilahnya jajal ilmu, sama sahabat sendiri yang sama-sama pendekar kelas tinggi, gue nggak mungkin memandanginya secara keji. Licik, bersiasat, boleh aja demi kemenangan strategi. Tapi keji?

Penggunaan kata musafir juga perlu sedikit dipoles. Setidaknya ada dua tempat yang menurut gue ga tepat. Pertama, saat kata itu pertama kali muncul. Koq begitu tiba-tiba. Mungkin sebelumnya elo perlu introdusir gaya busananya atau apanya dulu, yg kemudian disimpulkan sebagai seorang pengelana atau musafir. Yang kedua adalah saat si Seth menanyakan, “Apa saja yang kau lakukan, wahai musafir?”
Koq kayak orang baru ketemu atau belum kenal? Mungkin lebih pas, “Apa yang kamu bawa dari pojok dunia kemari, hey musafir tua?”, akan terkesan lebih akrab.
Contoh ini: “Tahan dulu langkahmu, Pengelana. Bukankah Välendhur punya jajaran Ksatria Penunggang Lumyr? Dan bagaimana dengan Kelima Pendekar Arwah dari Tanah Pedang yang pernah bersumpah? Seharusnya orang-orang Valor tak akan berani macam-macam dengan Välendhur!”
Bagus, gue suka. [thumbsup]

Tapi dalam beberapa dialog, gue masih merasakan kurangnya keluwesan. Ada kesan terlampau kaku. Mungkin pilihan kata atau cara mengungkapkan bisa elo olah lagi supaya kesan dialog dua orang sahabat yang udah sama-sama makan asam garam bertempur bahu-membahu dapat lebih terasa.
Pasangan tempur itu tingkatannya udah lebih tinggi dari pada pasangan pemain bulutangkis ganda, satu menyandarkan nyawanya pada yang lain! Tentunya gaya bicara di antara keduanya bisa lebih intimate lagi. Obrolan mereka tentang ‘perempuan’, nah itu contoh bagus.

Masukan terakhir, mengenai penamaan senjata mereka.
Dua nama yang bagus, Leviathan dan Salamander, tapi elo salah makenya, kayaknya!
Secara umum, pengertian Leviathan adalah semacam naga air, yang punya sifat sedingin es (at least menurut gambaran serial Final Fantasy, hehehe), sementara Salamander masuk ke golongan lizard/ kadal.
Menurut gue, malah lebih konsisten bila pedang elo namain Leviathan, putih licin berkilau dan sambarannya bisa menimbulkan luka yang terasa perih mengigit tembus ke inti tubuh. See? Ular naga, lurus panjang? Pedang, lurus panjang? Kilat putih Leviathan yang gesit meliuk-liuk mencari sasaran? Bukankah demikian gaya jurus pedang? (Pedang, BTW, tapi kenapa elo sebut belati, ya? Pan ukurannya beda jauh?)
Sementara Salamander, kadal yang punya kepala berbentuk pipih melebar, cocok banget untuk sebuah kapak, disamping warna kulitnya yang kecoklatan tembaga, menyiratkan usia panjangnya dan bayangan percik darah korban entah berapa banyaknya telah meresap dalam setiap pori bilahnya. Dan bila kepala salamander menyambar, gigitannya bisa membelah daging dan meremukkan tulang.
Well, kalau masih sempat, ga ada salahnya, kan, dua nama itu dituker? [biggrin]

OK Rey, kira-kira segitu dulu maki-makian dari tujuh dewa guntur. Satu hal yang bisa aku simpulkan, elo justru beruntung ditolak oleh penerbit, karena kalo sampe materi elo yang ini diterima, maka elo akan ended up very, very, screwed in my blog! ;D Berkahnya, sekarang elo dapat memikirkan alternatif-alternatif perbaikan sebagaimana kusebutkan di atas sesuai dengan cara yang pas buat elo.
Satu hal utama yang menurut gue harus elo improve bener-bener, adalah keterampilan dalam menerapkan kata yang tepat untuk maksud yang tepat. Jika berkaca pada hal-hal yang udah elo kerjakan di prolog ini, I’m afraid ‘plague’ yang sama telah mengisi sekujur novel elo sampai dengan halaman terujung.
Untuk memperbaikinya (satu-per-satu), I think satu atau dua tahun lagi cukup, lah. He he he.
So, don’t even think to quit too early! ;)
Oh, ya. Salam ya, buat sedokur gue, Salamander,…
FA Purawan
a.k.a Raja Biawak
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on June 20, 2008, 01:22:52 pm
________________________________________
@fred,
Quote
2. Tapi soal kecewa dituduh subyektif sih iya, hehehe . Soalnya rey minta dikritik, trus setelah diberi, gw malah dituduh tidak obyektif… Kan gw merasa telah ditipu!

yang model gini maksud gw ‘beberapa_kritik_elu’ (gw gak pernah nyebut semua_kritik_elu) yang dibuat2, mengada-ada, subjektif:

Quote
3.Penyebutan “gravitasi bumi”. Bumi? Pembaca mau tak mau langsung mendapat kesan seluruh kejadian itu (perkelahian fantasi) sedang terjadi di bumi. Di tempat mereka tinggal ini. Apakah benar memang dunia lemures adalah bumi? Tapi koq ada tempat2 bernama aneh dan jurus-jurus dengan senjata2 ajaib itu?

terlepas dari fakta bahwa setting lemures itu emang diperkirakan pernah eksis di bumi yang kita pijakin ini, suatu tempat yang disebut ‘bumi’ itu cakupan maknanya luas. gak cuma merujuk bumi yang kita pijakin ini aja. ambil contoh dunia LOtR-nya tolkien (yang murni rekaan), bagi gue wajar2 aja kalo Gandalf ngomong, “Di bumi yang kupijaki ini, blablabla…”
lagian udah gw cek di kamus kalo ‘bumi’ itu bisa juga berarti ‘jagad’, atau ‘dunia’

Quote
7.Tentang catatan kaki. Catatan kaki itu hanya sekedar keterangan untuk editor/penerbit atau juga untuk pas penerbitan nanti? Karena jujur, untuk penerbitan nanti sebaiknya jangan menggunakan catatan kaki. Sesusah apa pun memasukkan penjelasan ke dalam cerita novel fantasi, tetap harus dilakukan oleh penulisnya. Apalagi keterangan itu keterangan penting buat cerita yang gak cocok kalau diletakkan di Appendix.

gw akui footnotenya emang agak overdosis, tapi sejak kapan sebuah novel gak boleh pake footnote sama sekali? LasPeng lu udah baca kan? footnote/apendiks (dilabelin sebagai glosarium) dia malah jauh lebih parah lagi.
Untuk kritik2 lain lu yang emang tepat guna, as I said before, gw bener2 nge-welcome dan berterima kasih.
________________________________________
Post by: BloodSin on June 20, 2008, 01:31:40 pm
________________________________________
om pur,
TQ dah buat makiannya yang membangun, gw juga emang agak2 gamang ama gaya sok sastranya (orang di k.com banyak yang kasi pujian menyesatkan dan berujung gw jadi gak tau betapa noraknya ternyata gaya bahasa kek begitu T_T)
biar kubaca dulu pelan2 di rumah komen ente… heheh bisa jebol kantong gw kalo baca diwarnet.. [biggrin]

@jeff & sis dian,
secara overall sama aja ama yg dulu2 (yg di k.com), kalo ada yg berubah itu palingan cuma beberapa frase/istilah

@yg kemaren2 nuduh gw gak mau denger kritik
gw gak bakal concern ama kritik yang dibuat-buat, diada-adain seolah gak wajar padahal udah wajar.
sejauh ini ada dua orang kompeten yang kritiknya terbukti udah gw terapin di lemures. Villam, untuk konflik batin dalam cerita yang kurang tergarap, dan clickdian, untuk karakterisasi yang masi absurd. dua orang itu ngasi kritik yang emang betul2 jadi kelemahan cerita gw, maka gw tanggepi dengan merevisi lemures sesuai dengan kritik mereka di versi terbaru.
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 20, 2008, 02:25:42 pm
________________________________________
soal gaya bahasa puitis gw pribadi sih menganggap itu antik. Yang jadi masalah, bahasa level tinggi itu sudah sesuai belum dengan level pasar/pembaca? Karena bukan cuma menulis aja yang butuh skill, membaca pun perlu skill.
Ketika lo tulis suatu karya dgn level 99 sementara pembacanya masi chupu2 level 50 an, mereka ga bisa menikmati ceritanya. Switching adegan yang unik, pembukaan cerita yang lain dari yang lain… etc2.. semua emang bagus. Tp jujur, kalau kemampuan membaca dan berimajinasi si pembaca engga tinggi, sangat sulit bacanya. Karena itulah novel fantasy aga dikit peminat. Contoh ya LOTR, bahasanya sama sekali engga merakyat, ga reader friendly, bener2 bacaan level 99. Bagi orang yang selevel atau mendekati levelnya, ini bacaan masterpiece sepanjang masa, tp bagi yang level rendah, bisa dianggap sampah. Kemudian ada Harry potter yang berkonsep dgn level yang cukup tinggi, namun bercerita dengan level yang sedang, atau kl istilah gw merakyat. Bahasa Harpot itu sangat ringan, karena itulah bisa menjangkau berbagai lapisan masyarakat, tua muda, kaya miskin.
Jadi gw sih punya pemikiran, gw harus melihat dulu sampai dimana level pembaca di Indonesia sekarang ini, dan tulis lah menurut level mereka. Gaya bercerita terlalu canggih pun ada poin minusnya.
________________________________________
Post by: fr3d on June 20, 2008, 05:55:00 pm
________________________________________
Rey, gw mempertanyakan hal tentang bumi ini karena gw sama sekali blank tentang legenda lemuria.
Jadi, setelah gw tau, dan gw udah punya bayangan loe nulis apa di 200-an halaman berikutnya itu, pertanyaan gw kan udah jadi gak valid lagi. Pinter2 lah dikau menempatkan diri sebagai si penerima kritikan.
Kan seperti gw bilang, kritikan bisa menyesatkan (apalagi kalau si pengkritik mengkritik sesuatu yang memang belum dia pahami). Makanya selama ini, gw selalu menghindari mengomentari plot atau tema berhubung setiap kali ada posting-an cerita, selalu cuma sebagian/belum selesai, dan jelas gw tak mungkin paham maksud si penulis sebelum membaca ceritanya sampe final.
Trus, Tolkien sebenernya mencoba menceritakan bumi di masa lalu versi bayangannya dia sendiri (ya middle-earth itu). Itulah sebabnya dia tetap menggunakan kata bumi, karena memang tidak salah dengan tujuannya.
Kalau lemures mencoba melakukan hal yang sama, yaitu membuat sejarah bumi alternatif, ya sah2 aja. ;)
Lalu, terlepas dari seluruh masalah di atas yang udah gw coba jelaskan, gw pengen nambahin kalau frase “gravitasi bumi” itu sebenernya bisa dipotong menjadi “gravitasi”.
Beneran deh, maknanya bakalan sama, karena penekanannya adalah di “gravitasi”, bukan di “bumi”.

Quote
gw akui footnotenya emang agak overdosis, tapi sejak kapan sebuah novel gak boleh pake footnote sama sekali? LasPeng lu udah baca kan? footnote/apendiks (dilabelin sebagai glosarium) dia malah jauh lebih parah lagi.

Hei, rey, gw gak pernah bilang kalau sebuah novel gak boleh pake footnote sama sekali. Gw bilang kalau novel fantasi sebaiknya gak pake footnote. Kenapa? Karena di dalam cerita fantasi, penulis membangun sebuah dunia/kondisi dunia yang baru (entah di bumi atau bukan).
Indahnya fantasi adalah kalau kalimat2 yang dipakai si penulis bisa membawa para pembaca ke dunia baru itu.
Inilah tantangannya, bagaimana meng-grip pembaca sekaligus tetap mempertahankan faktor believability dari cerita kita.
Nah, dengan membuat footnote:
1. Kita membuat jarak dengan pembaca; footnote seolah-olah adalah “dunia lain” yang sulit dipahami oleh pembaca. Bacalah lagi laspeng dan loe akan paham maksud gw tentang jarak ini.
2. Keberadaan footnote (bahkan appendix) sangatlah mengganggu bila kita menggunakannya untuk sesuatu yang sebenernya penting dan harus dipahami pembaca supaya mereka nantinya bisa paham novel kita secara keseluruhan.
Mengganggu bagaimana? Karena pembaca harus lepas dari irama membaca mereka, terus melirik ke bawah, apalagi yang parah, harus bolak-balik di halaman terakhir.
Itulah sebabnya, footnote atau appendix biasanya jarang disentuh pembaca.
Nah, di sinilah saatnya penulis menggunakan footnote dan appendix dengan efektif, yaitu dengan hanya memasukkan ke kedua bagian itu hal2 yang kurang penting aja atau hal2 yang kalau gak dibaca pembaca pun, gak akan mempengaruhi pemahaman mereka tentang ceritanya.
Contoh lagi, liat laspeng. Kalau pun kita gak paham nama2 latin hewan/tanaman yang disebut si penulis, kita gak akan kekurangan greget-nya cerita itu, bukan?
Tolkien pun menggunakan teknik ini untuk appendix-nya. Semua pembaca yang membaca LOTR dan tidak membaca appendix-nya tidak kehilangan satu arti penting pun dari maksud cerita yang ingin disampaikan Tolkien. Appendix Tolkien justru akhirnya jadi harta yang sangat berharga buat para fans dan orang2 yang ingin mengkaji dunia rekaan Tolkien, misalnya untuk bikin film, etc.

3. Tantangan sebagai seorang penulis fantasi.
Apa? Ya menceritakan dunia fantasinya di dalam novel, bukan di dalam footnote.
Rey, kita, para penulis fantasi, beneran kagak bakalan mau deh kalau karya kita dianggap seperti buku teks (yang banyak footnote-nya). Kita bercerita, bukan memaparkan teori dan definisi ke pembaca. [hammer]
Mungkin ada tambahan/argumen tentang masalah footnote ini dari yang lain?

Terakhir, jangan ngebandingin laspeng dengan novel fantasi lah, secara laspeng itu sebagian besar berdasarkan kisah nyata dan dulunya merupakan jurnal/diari yang dibuat andrea hirata. Trus OOT, laspeng boleh jadi memang laris, tapi menurut gw dia gak sesempurna itu koq, apalagi sampai ada yang meng-endorse penulisnya sebagai penggantinya Pramoedya Ananta Toer. OMG! :o Masih jauh banget kualitasnya!
Terus kalau mau tau penggunaan footnote yang sangat membuat kesal gw, bacalah Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (kalau belum baca). Mungkin ada yang memuji karya itu bagus karena banyak footnote-nya, tapi jujur, dengan menempatkan footnote yang bejibun itu, Dee (si penulis) telah memaksa pembaca menjadi bodoh dan meninggikan dirinya sendiri (penulis) menjadi jenius. Untungnya, Dee akhirnya gak lagi mengulangi hal yang sama di buku kedua dan ketiganya (Akar dan Petir). [thumbsup]
Quote from: BloodSin on June 20, 2008, 01:22:52 pm
Untuk kritik2 lain lu yang emang tepat guna, as I said before, gw bener2 nge-welcome dan berterima kasih.
Well, thx juga karena telah mengizinkan gw mengkritik lemures. Sebuah keberanian tersendiri [thumbsup], mengingat lemures sudah sering ditolak penerbit dan dikau mungkin juga udah jenuh sama penolakan dan kritikan itu sendiri.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on June 21, 2008, 12:42:20 am
________________________________________
Quote
Trus kalo liat daftar isi dan alokasi halaman, kayaknya pendek Novel mu, ya Rey? Cuma 245 halaman? Apa ga kurang, Rey? Maksud gue apa cerita bisa berkembang cukup bergizi dengan segitu halaman?

naskah 250 halaman itu emang udah dipertimbangkan demi sisi komersil dan kemudahan terbit (naskah tebel jauh lebih susah terbit), karena sebegitu inginnya daku menerbitkan naskahku. tentang pertanyaan apakah bergizi ato tidak, ane tetep berpakem novel tebel pun belum tentu bergizi.
(tapi tentu, karena ketipisan ini, ceritanya belom tamat di endingnya, heheheh.. karena emang tujuannya naskah itu buat jadi buku satu lemures kok :P )

Quote
Kemudian bicara jurus-jurus. Kembali, harus believable kan ya? Bagaimana dengan jurus kapak berputar dengan dampak yang dihasilkannya? Gerakan kapak berputar koq hasilnya menebas? Ya gak bisa lah booook,…. kapak kalo diputer gitu ya bisanya ngebooor, Inul, kallee,..?

yang ini kayaknya ada salah tangkep, maksud ane untuk frase ‘kapak putar’ itu bukan diputer ala ngebor, tapi diputer ala baling-baling..makanya bisa menebas :D
(ah btw fred, yg lu tangkep sama juga ama om pur? ngebor gitu? >__<)

Quote
Cuma buat gue ketika sepuluh ribu penduduk itu bangun, lalu apa dampaknya? Apakah mereka jadi panik dan kota/ kampung jadi kacau? Apakah suara semacam itu sudah dianggap ‘biasa’ mengingat toh Seth Cavaross adalah penduduk Lemures yang udah pasti ‘pendekar’ selebritis donks,…

itu bukan sepuluh ribu penduduk, tapi sepuluh pasang mata dari jangkrik, belalang, musang, dan lemur…secara mereka gak lagi berantem di tengah kampung/kota, tapi di ‘belantara perawan surga’ itu >_<
dan tentu gada dampak apa2 dan tidak perlu diperpanjang lagi apa yang terjadi setelah mahkluk2 itu terbangun ^-^
tapi wajar juga sih kalo ente nangkepnya suara ‘ledakan nova’ itu sedemikian gandengnya ampe2 merambat ribuan mil dan sampe ke pemukiman penduduk :P
ah jatuh satu orang lagi korban yang termakan bahasa hiperbolisku :-[

komen ente panjang banged om, gurih pun rasanya, nikmat (komen lo kalah nikmat, fred :P ), Thanks alot dah..realy appreciate that. :)
note: dan ada 'reward' bagi sang pemenang, tentu [biggrin]
________________________________________
Post by: BloodSin on June 21, 2008, 02:54:27 pm
________________________________________
@fred,
hari ini gw baca ulang komen ‘jahat’mu yang di word itu, dan akhirnya gw mau minta maap karena gw sempet berkesan gak tauk terima kasih dengan nuduh lu komen subjektif, this is my bad habit, terlalu terburu2 dalam menjudge segala sesuatunya T___T
sekarang pas gw liat2 lagi, ternyata dikau pun sama perhatiannya dengan om pur (yang baru belakangan berkomentar), rela ngetik panjang2 dua halaman word untuk cuplikan yang ‘sependek’ itu, menyorot setiap poin yang ada, berkomentar dengan jujur dan cermat, sampe pada kesediaan lu memberi masukan-masukan buat prolognya.
jujur ajah, waktu pertama kali gw buka file word lu itu, timingnya bener2 kagak tepat, (mungkin elunya yg lagi sial kecepetan ngirim komennya :D ), mata gw lagi kalap waktu itu, gara-gara terlibat ngadu bacot ama junior nyolot ;D, sampe2 gw kagak bisa ngeliat itikad baik elu di komen itu.
oke deh semoga dengan ini, elu bisa memaklumi gw, bahkan seorang TS yang arif bijaksana dan rupawan ini pun bisa aja berbuat salah, kalo lagi kalap(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)

Quote
3. Tantangan sebagai seorang penulis fantasi.
Apa? Ya menceritakan dunia fantasinya di dalam novel, bukan di dalam footnote.
Rey, kita, para penulis fantasi, beneran kagak bakalan mau deh kalau karya kita dianggap seperti buku teks (yang banyak footnote-nya). Kita bercerita, bukan memaparkan teori dan definisi ke pembaca.

yang tentang footnote itu (khususnya poin yg gw quote), gw masi kagak sepakat sama elu :P , itu harus diliat juga dari jenis fantasinya. Kalo fantasi semacam narnia yang pure fantasy, bakalan konyol banged pake footnote kurasa, masalahnya fantasi yg kubikin ini bukan bener2 pure fantasi, dia jenis fantasi yang condong banged ke fiksi ilmiah (dari segi tema, gaya penulisan, dialog), kayak hozzo-nya si hege (yg malah kebanjiran footnote–footnote hozzo ada seratusan kurasa, ‘untungnya’, footnote lemures gw ga nembus ampe 30).
di lemures itu banyak paparan tentang hipotesis-hipotesis dan teorema-teorema ekologis (bacotnya si Guillarde :D ), mau gak mau gw harus mengandalkan footnote yang ironisnya justru demi kelancaran irama cerita.

misal, ada dialog Guillarde kayak begini:
“Cairan ini adalah konsentrat termurni dari proses distilasi bertekanan ekstrem selama dua puluh satu malam, dan merupakan proporsi ideal dari darah tikus, liur tupai, jeroan ubur-ubur, air kemih katak, feromon* kuda jantan, dan berbagai saripati rempah-rempah—untuk menetralkan bau amisnya.”
*)Cairan pemikat lawan jenis yang dikeluarkan secara alamiah dari tubuh binatang
kalo gak pake footnote, masa mau gw bikin kayak begini:
“Cairan ini adalah konsentrat termurni dari proses distilasi bertekanan ekstrem selama dua puluh satu malam, dan merupakan proporsi ideal dari darah tikus, liur tupai, jeroan ubur-ubur, air kemih katak, feromon* kuda jantan, dan berbagai saripati rempah-rempah—untuk menetralkan bau amisnya.”
Feromon adalah cairan pemikat lawan jenis yang dikeluarkan secara alamiah dari tubuh binatang. (ujug2 masuk paragraf baru cuma semata2 demi penjelasan satu baris ini, gak banged dah >_<)

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XII (19 Mei 2008 – 23 Mei 2008)

  • Penjelajahan FFDN oleh Fred
  • Cuplikan Lemures karya BloodSin

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 19, 2008, 09:47:10 pm
________________________________________
Boss Rey,
Keren sukeren. Thanks buat komplimen-nya, bikin gue yakin bahwa di part itu gue udah right on spot. Untuk kritikannya, mari kita bahas,….

1. Masalah tanda baca
Iye deh, ane beresin lagi semuanya,… hehehe,… terima kasih udah ditunjukkan kesalahan2.
Quote

2. Ketidakkonsistenan kata panggil
Gue liat lagi deh, sebaiknya memang diperbaiki biar lebih kuat konsistensinya.

5. Pemilihan kata
Sekaligus untuk menjawab pertanyaan mengenai target market. Memang ditujukan ke level SMA s/d kuliahan, lah. Jadi kupikir kata-kata “keren” lebih bunyi di level mereka. Tadinya gue coba pakai kata “gagah”, tapi kesannya jadi tua,.. hahaha,… memang rada dilematis juga sih. Mungkin gue coba cari padanan lain: mengagumkan, jumawa, menggetarkan, etc.

Quote
-)Ane berharap, ada penjelasan logis kenapa kelima keturunan Pendekar Garuda itu bisa tinggal dalam satu lingkungan yang sama (SMA Raya). Selang setting Jaka – Sentika itu 600 tahunan, betapa mestinya keturunan kelima pendekar itu udah terpencar2 IMO sih.

Destiny guides them,…. kira-kira gitu konsepnya. Sebisa mungkin gue coba bikin ngga ada yg kebetulan di setting PG. Kutipannya kira-kira begini:
Seharusnya Jaka menyadari lebih dini. Persahabatan Jaka-Ratih-Rani sesungguhnya bukan cuma pertemuan kebetulan, ketiga anak itu sudah diarahkan oleh garis leluhurnya masing-masing untuk bertemu di sekolah yang sama, dan kecocokan di antara mereka bertiga juga merupakan warisan naluri dari persaudaraan di antara leluhur mereka. Sayang seribu sayang, kesadaran itu datang terlambat.
Emang sih, kurang logis,… hehehe. Kayak too convenient coincidence. Tapi harap diinget bahwa musuh merekapun udah mengikuti jejak mereka jauh sebelum mereka lahir.

Quote
-)Tokoh abu2 juga sebetulnya gw harapkan muncul dalam cerita, entah dia itu adalah tokoh penjilat licik yg kadang ada di pihak putih atau hitam, atau malah netral. Dan lebih seru lagi kalo ente bikin tokoh abu2 itu ada di setting jaman Sentika, dan muncul keturunannya juga.

wah boleh juga idenya :) . Ntar gue musti tempatkan dulu kira-kira peran tokoh abu-abu ini apa dalam permainan dulu dan sekarang. Kebetulan memang belum ada motivasi yg kuat sih. Secara rel utama cerita ini sesungguhnya adalah pertarungan antara Kitab Putih (kitab lontar) versus Kitab Hitam dari jaman ke jaman, di mana masing-masing memiliki proponent-nya.
Tapi ide tokoh abu-abu ini kayaknya bakal bisa gue terapkan di sekuelnya :D

Quote
-)Tokoh Johannes Domingus Pasaribu yang NOTABENE berdarah Batak, gimana urusannya bisa nyambung ke silsilah Rangga yang orang Jawa? Tentu kalo yg dipake konsep titisan, hal ini gak bakalan jadi masalah.

Demikian kisah spin-off mengenai Rangga: Kira-kira lima belas tahun setelah peristiwa turunnya Utusan Iblis di era Sentika, Pendekar Garuda resmi membubarkan diri. Sentika dan Pramesti menetap di daerah yang kelak menjadi Demak, dan salah satu garis keturunannya memecah ke daerah yang nantinya menjadi Yogyakarta, yang menjadi garis silsilah (you know who). Widura menetap di daerah yang kelak menjadi Surakarta (Solo), sehingga keturunannya menjadi abdi kraton Mangkunegaran sampai ke garis keluarga Bun. Anggraini meneruskan petualangannya sampai ke pesisir Timur yang kelak menjadi Surabaya. Dari situlah ibunya Rani mendapatkan selera kuliner terbaiknya :) Sementara Rangga berkelana ke sampai Aceh serambi Mekah. Bila dari sana keturunannya ada yang nyangkut sama orang Medan, wajar aja dong,… hehehe.
Ah spoiler-spoiler bertebaran,… nih. Tapi jujur gue ngga terlalu risau. Soalnya buat gue membaca adalah seperti menikmati makanan. Masakannya gue udah tahu, rasanya pasti gue juga udah tahu, tapi bukankah kenikmatan utamanya ada di saat kita mengunyah makanan tersebut?

Untuk Jo, memang spesial kondisi dia, nih. Dia bisa ngga tidur dua bulanan berturut-turut. Dia bisa ngga napas lebih dari lima jam. Dia bisa telepati dalam kondisi kepepet. Sedikit banyak ‘ilmu’nya memang telah membantu tanpa dia sadari. Tapi kenapa dia gak worry? Kira-kira sistematika gue begini: pertama, gengsi Jo melebihi akal warasnya sendiri. Jadi buat dia lebih baik masuk situasi aneh dari pada dia harus menanggung malu (tentu saja, definisi malu anak ini memang rada gak waras juga). Kedua, sesuai juga dengan konstitusi dia: pecahkan masalah gue dulu, urusan lain belakangan. Jo takut sama mimpinya. Reaksi emosi dia menerima sinyal dari masa lalu itu lebih parah daripada yang lain. Maka bagi Jo, solusi “Ngga Mimpi” itu jauh lebih utama dibanding rational question. “Kenapa” buat dia nggak penting, tapi “Gimana supaya” jauh lebih penting. Dan memang jalan keluar yg dipercaya ama Jo juga gak waras, sih. Yah kalo dia waras, mana mungkin jadi preman sekolah, hehehe,…

Tapi gue memang punya proposisi yang menarik buat karakter Jo ini. Gue mencoba menggambarkan seorang manusia yang fitrahnya punya potensi luar biasa, tapi potensi itu terkunci di balik keterbatasan akal pikiran, status sosial, kecerdasan, kemalasan, igonrance, yang gitu-gitulah,…. Makanya salah satu perwujudan potensi luar biasa itu gue bikin ekstrim, di luar kewajaran normal.
Hmm,.. gimana caranya agar situasi ini bisa dibikin lebih believable, ya?

Quote
-) Suka OOT
Ada penjelasan ttg bahaya merokok, masyallah, keluar banged itu dari bangunan plot! Mendingan dicut aja IMO sih. Terus masa abis Jo nyikat Robbi, malah ngomongin tawuran?

Ehm, tahun 1991, memasukkan adegan remaja merokok dalam sebuah karya Novel sangatlah tidak umum [rolleyes]. Kalo sekarang sih udah biasa, ya? Tapi honestly, gara-gara itu pula gue merasa punya tanggung-jawab moral untuk membuat keseimbangan dalam novel gue. Dalam hal ini ngambil perwujudan ideal seorang pendidik (pak Kepsek), gimana caranya sih melarang remaja merokok tanpa membuat mereka ngelawan. Sorry, emang sih kadang gue pikir,… ini too preachy gak ya? terus mending dipotong, gak ya? Tapi kembali, karena niatnya tanggung-jawab moral,… hehehe kayaknya akan tetap kupertahankan. Dan ntar gue bikin twist buat sekuel,… kenapa sepulang dari Kemping, si Tongpes jadi gak demen sama Rokok. Ha ha ha, temen-temennya bingung, dianya sendiri juga bingung!
Ngomongin “jo ngga mau tawuran lagi” juga gitu, tanggung-jawab moral juga. Tapi part itu memang bisa lebih dipendekin. Itu nantinya akan menjelaskan kenapa di sekuel, Jo nggak lagi mau ikut-ikutan tawuran pelajar, dan trouble yang dia alami gara-gara itu.

Anyway, thanks dua jempol ya atas repiu-nya :)
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: fr3d on May 21, 2008, 01:21:12 pm
________________________________________
Pada suatu masa, di sebuah ruangan yang sepi nian dan damai…

Fr3d: “Eh, apaan nih? Kayaknya menarik!”

Open link in new window.

Fr3d: “Kayaknya asik nih! Ikutan ah! Tapi, harus tau dulu seluk beluk-nya dari awal nih biar paham…”

Klik.

Fr3d: “Ok! Mulai!”

Fr3d: (*melihat reply #1*) “Ayo smangat!!!” [letsdoit]
Reply #99: “Semuanya? Beneran yakin nih anak?”
Reply #1253: “HA-HA!”

Beberapa saat kemudian…

Fr3d: (*memijat kening dan mengerjap-ngerjapkan mata*) “Mungkin harus dipilah nih… Ada banyak tips-tips bagus dan pembicaraan berbobot, tapi yang OOT rupanya cukup banyak juga…”

Fr3d: “Mungkin BENAR-BENAR harus dipilah nih… Gak mungkin dibaca semua kata per kata…”

Reply #99: “Kasian banget sih, loe!?”
Reply #1253: “HA-HA!”
Reply #1379: “Dah, guys! Gw mau pergi makan dulu! Bu-bye!” [yawn]

Fr3d: “Selangkah… demi… selangkah… seperti keong yang dibahas panjang lebar…”
Reply #99: “Lho? Sial! Knapa jadi begini?! AAAAH!”
Fr3d: (*meng-klik tombol page 11*) “Yes!”
Reply #575: “Ah, biasalah newbie! Pasti masih semangat ’45. Liat bentar lagi aja, ntar juga keok…”
Reply #1253: “HA-HA!”

Dan waktu pun berlalu…

Fr3d: “Hmm… ternyata banyak juga ya yang suka nulis-nulis cerita fantasi.” (*kagum dan sedikit tercengang*)
Fr3d: “Slama ini ke mana aja daku? Terisolasi dari dunia luar dan menganggap fiksi fantasi dalam negeri perkembangannya cuma begitu aja…?”

Klik.

Reply #142: “OH, SH*T!” [buck] —-communication loss—-
Fr3d: “Ada gal yang menang penghargaan IKAPI & masuk nominee KLA juga! This tret must be really worth it!”

Reply #574: “Eh, Reply #575, kita harus melakukan sesuatu nih! Anak ini kayaknya malah tambah semangat tuh!”
Reply #575: (*menimbang-nimbang dengan serius*)
Reply #1253: “HA-HA!”

Fr3d: “Hei! Pemuda yang satu ini ternyata bener-bener bisa gambar! Artwork-artwork-nya keren!” [thumbsup]

Reply #574: “Launcher I dan II siap! Prepare bombing! Target’s locked!”
Reply #575: “3! 2! 1!”
[bomb] [bomb] [bomb] [bomb]
Fr3d: “Lho, ternyata banyak anggota baru juga ya di tret ini!” (*menunduk, melihat tanggal reply yang masih dalam hitungan kurang dari 6 bulan*)
Fr3d: “Gak cuma diriku saja! Senangnya!” [biggrin]

Reply #574: “Damn! Gak kena! Gimana nih?!” (*panik*)
Reply #575: “Dia cuma hoki aja! Coba lagi! 3! 2! 1!”
[bomb] [bomb] [bomb] [bomb]
Fr3d: “Tunggu sebentar…” (*berbalik dan memperhatikan lebih jelas*)
Fr3d: “Ada apaan nih antara TS dan sang penghuni huminiz?”

Reply #574: “AAARGH! Meleset lagi!”
Fr3d: “Kura-kura/KuRara? Mocca_chi = Mochi? Karisuma Ren? Ah… bingung! Maju lagi ah…”
Reply #575: “Tunggu! Tunggu! JANGAAAN!”
Reply #574: “MAMAAA—” [confus_55]
Reply #1253: “HA-HA!”

Klik.

Fr3d: :o “Hmm… Yang satu ini rasanya berpengalaman menulis banget nih! Pembahasan tekniknya dan tips-tipsnya oke juga!”

Reply #1596: “Bos, baru dapet kabar nih dari garrison guard #1000! Ada ancaman baru!”
Reply #1643: (*cool*) “Fufufu…”

Fr3d: “Penulis baru… Baru ditolak penerbit… Sedang diproses… Lagi kehilangan mood… ASL pliss…” (*mengelus-elus dagu*)
Fr3d: “Interesting!”

Reply #887: (*terbangun dari tidur*) “Udah lama nih gak mimpi indah… Senangnya… Buka jendela dulu ah biar udara seger masuk…”
Reply #887: (*berjalan ke jendela, mendorong frame jendela, sesaat terdiam…*) “OMG, apaan tuh?”

Klik. Klik.

Reply #907: “Run! Run! Catch me if u can!”
Fr3d: (*minum segelas air, kembali ke hadapan monitor*) “Ada rasa dingin… dingin… Lho?! Ini kan udah dibaca!”
Klik.
Reply #907: “What the f—”
Reply #1253: “HA-HA!”

Klik.

Reply #1000: “WARNING! WARNING! SECURITY BREACH ALERT! WARNING!”

Klik.

Fr3d: “Ada ribut-ribut apa nih?”
Reply #1066: “Anak ini progress-nya cepet juga! Amazing! Surrender aja ah…” [giveup]

Reply #1094: “Jeng, tau gak sih si anu itu ternyata gini-gono!”
Reply #1095: “Masa iya sih?! Ah, gak percaya aye!”
Sesuatu melesat cepat…
Reply #1094: (*termangu*) “I…i…i-tu…”
Reply #1095: (*merapikan rambut*) “ADUH! Padahal baru dari salon!!!”
Reply #1253: “HA-HA!”

Fr3d: “Sedih nih membaca orang saling berteriak dan menunjuk satu sama lain…” :(
Reply #1253: “HA—”
Fr3d: “HA!”

Klik.

Fr3d: “Eh, ada reviewer baru… Tapi… Lho?! Biawak?” :o

Reply #1379: (*baru pulang makan*) “Kenapa sepi nih? Pada ke mana yah reply-reply yang laen?”
Lampu mendadak mati.
Reply #1379: “Hei! Siapa yang matiin lampu?! Aduh, gelap! Takuuut…” :’(

Klik.

Reply #1596: (*mengambil perlengkapan perang dari gudang*) “Sial! Kenapa pada karatan gini? Maintenance-nya siapa sih?”
Reply #1501: “Awas! Awas!”
Reply #1596: (*berjalan ke luar*) “Ada apaan? Jangan berisik! Bos lagi tidur di atas!”
Reply #1501: “Gawat! Gawat!”
Reply #1534: “Itu dia datang!”
Reply #1596: “NO WAY!” (*menghunuskan pedang*)

Beberapa jurus kemudian…

Reply #1596: [stretcher]

Fr3d: “Dari Guang Zhou, melintasi pelangi sambil menunggangi petir, melewati terra eternia, masuk ke labirin, dan akhirnya tiba di titian ayat-ayat…”

Reply #1596: (*mengeluarkan ponsel dan mengetik sms*) “Bos, maafkan aku…” [sorry]
Sending…
Report: Delivered

Fr3d: “Satu reply lagi!” (*penuh tekad*)
Reply #1643: (*cool*) “Rupanya kaulah yang disebut-sebut yang lain… Fufufu…” (*perlahan-lahan berubah menjadi monster mengerikan!*)
Monster Reply #1643: “Waktumu sudah habis, Fr3d!”
Fr3d: “?!?” [rolleyes]
Monster Reply #1643: “CIAAAT!!!”
Fr3d: (*membuka notes*) “Semoga ini bisa menghentikannya…”
Monster Reply #1643: “18 TELAPAK NAGA!”
Fr3d: (*membacakan isi notes dengan lantang*) “Semenjak dahulu kala sampai sekarang, inilah yang telah terjadi…”

DAFTAR PEMBAGIAN KURSI DEWAN:

Reply #100: rd_villam
Reply #200: eniyorda
Reply #300: bloodsin
Reply #400: kura2
Reply #500: hege
Reply #600: mocca_chi
Reply #700: bloodsin
Reply #800: mocca_chi
Reply #900: euthalia_calisto
Reply #1000: clickdian
Reply #1100: euthalia_calisto
Reply #1200: apocrief
Reply #1300: alk
Reply #1400: kura2
Reply #1500: lich
Reply #1600: bloodsin
Reply #1700: …

Monster Reply #1643: “HAH?! APAAN TUH?”
Monster Reply #1643: (*tertawa mengejek*) “Ternyata gak ada efeknya! Saatnya serangan lagi! Terimalah serangan terakhir ini! METEOR PEGASUS!”

Fr3d: “Sotoy… Engga… Sotoy… Engga… Sotoy… Engga…”
Fr3d: (*memutuskan*) “Well, everything happens for a reason!” 8)

Klik.

Monster Reply #1643: “TIDAAAK!!!” (*menyusut, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya lenyap*)
Fr3d: “Phew! Akhirnya selesai juga ngebaca semua posting-an tret ini…” [winner]

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: clickdian on May 21, 2008, 04:04:48 pm
________________________________________
#Fred
[lol] [lol] [lol]
hueahuahaaa
kocak! kocak!
aq jadi pengen tau tulisanmu. posting cuplikannya di sini dong, kalo gak keberatan [bigwink]
________________________________________
Post by: fr3d on May 21, 2008, 04:34:30 pm
________________________________________
Quote from: clickdian on May 21, 2008, 04:04:48 pm
aq jadi pengen tau tulisanmu. posting cuplikannya di sini dong, kalo gak keberatan [bigwink]

Tulisanku? Wah, malah lucu-lucunya jarang banget! Lebih banyak kisah tragis dan kejadian penuh ironinya…
Mungkin pelampiasannya ya nulis gila-gilaan di forum atau milis gini deh… ;D
Kalau di-posting blom boleh, mba dian… :-\
Untuk novelku ada “masa kadaluarsa” minta review-nya gitu… dan skarang udah habis masa kadaluarsa-nya itu… Memang udah kebiasaan dan ada aturannya gitu… Aku gak mau ngasih orang baca kalo ceritanya blom lengkap, soalnya kepengennya dapet penilaian secara keseluruhan –> ribet ya? yup! [rolleyes]
Versi review/editan trakhir, masa kadaluarsanya berakhir tahun 2006 lalu… (memang dah lama banget sih, maap ya… :-\)

Nah, skarang aku lagi ngerjain review trakhir nih (sebelum dikirim ke penerbit). Niatnya sih setelah review trakhir ini selesai barulah mau ditawarin lagi untuk dibaca orang lain (biasanya sih ditawarinnya full, gak boleh cuma secuplik, bentuknya hardcopy sebuku besar & berat, dan harus ada komentar/feed back-nya –> kami sebut kegiatannya “korespondensi”).
Kami? Yup, novelku memang ditulis sama dua orang.
Targetnya sih review trakhir ini selesai bulan juli. Mudah2an gak ada masalah…
Kalo udah slesai nanti, aku pengen nih minta pendapat dari rekan2 penulis laen di sini! :)
Boleh ya? (Beramai-ramai menjawab: “Boleh koq!” ;D ;D ;D)
Oya, genre-nya ya fantasi dong! ^-^
________________________________________
Post by: rd_Villam on May 21, 2008, 05:02:48 pm
________________________________________
@fred,
you’re good. really good. [thumbsup]
salam kenal.
boleh juga deh nanti aku review draft novelmu. :)
pendapatku biasanya ga begitu bermutu sih, tapi gak masalah kan? :D :D :D
________________________________________
Post by: BloodSin on May 21, 2008, 08:12:21 pm
________________________________________
@fred,
this is EXTREMELY serious, ati2 kalo minta komen ke villam & clickdian, kedua member itu kritikus kelas buaya, sadis dan suka mengumbar kata2 kejam, mahajahat, tukang cela, dan jarang banged kasih komplimen.
saranku: untuk ukuran newbie, sebaiknya ente minta komen ke hege atau FA Pur saja, mereka ini reviewer2 baik hati, murah senyum, arif bijaksana, dan suka kasih pujian. Dijamin tokcer dah [thumbsup]
*ketawa setan [biggrin]*
________________________________________
Post by: BloodSin on May 22, 2008, 01:28:20 pm
________________________________________
Quote from: Amru_Yozar on May 21, 2008, 11:43:01 am
@ All
Udah pada tau Ramaditya? Dia tuh tunanetra yang ikut bikin sontrek di game-na Nintendo. Dia juga bikin nopel Fantasy lho. Sekilas sih mirip Gundam gitu. Kalo mo donlot ada di sini http://www.ramaditya.com/novelrama.zip Kalo mo baca blog-na ada di sini http://ramaditya.multiply.com/

Amru, Thanks link-nya, dulu gw pernah liat orangnya, jadi tamu di empat mata, biar tunanetra gitu selera sarkasmenya sadis juga, tukul abis dikatain sama dia [biggrin]
Udah baca sekilas2 fantasi dia, idenya sih emang lumayan orisinil, dan tata bahasanya rapi ciamik pun, naming lumayan. [thumbsup]
Cuman somehow (gejala ini juga ditunjukkan naskah2 excel), walaupun rapi ciamik gitu, bahasa dia kurang bisa mengikat pembaca, gw langsung close begitu masuk baca halaman 3, entah kenapa. Mungkin nanti lanjut baca lagihh..
note: untuk ukuran tunanetra, fantasi dia bener2 lumayan banged, cuma cuma bermasalah di gaya bahasa IMO sih :-\
________________________________________
Post by: BloodSin on May 23, 2008, 01:11:46 am
________________________________________
Boleh posting cerita jg kan? Boleh? Boleh? Boleh… [biggrin]
cuplikan dari LEMURÉS: Surga yang Hilang, naskah fantasi gw yg lagi berjibaku VS penerbit :D

Kegelapan beranjak dari tempat, dan hari kembali bergulir di Sierra Kuno. Mereka berhasil melalui malam pertama di Sangkar Hantu tanpa sedikit pun gangguan berarti, kecuali serbuan dari koloni serangga malam yang mengusik tidur mereka sedemikian rupa: nyamuk tropis.

Pagi itu mereka sarapan dengan melahap pakis-pakisan hutan yang tumbuh di ketinggian; dan untuk itu mereka mengandalkan si bocah Sirat untuk memanjat pohon.

Ketika hari mulai terik, mereka kembali melakukan pencarian dengan menembus kerimbunan semakin dalam. Semua orang menyadari bahwa mereka semakin jauh melangkahi wilayah Sangkar Hantu.

Pada suatu wilayah di tempat itu, mereka melihat jajaran pohon aneh: kelompok pohon tinggi semampai dengan bagian atas yang amat rimbun, di mana mereka melihat sarang-sarang yang dibangun dari ranting kering dan tanah liat. Di wilayah itu ada lebih dari selusin barisan pohon aneh, dan setiap pohon memiliki lebih dari selusin sarang.

Dari semua anggota Rombongan, hanya Guillarde yang memiliki minat mendalam terhadap sarang-sarang itu; rupanya sang marquis dibakar oleh rasa penasaran terhadap rupa mahkluk penghuni sarang-sarang itu.

Ia melemparkan sebatang ranting jatuh ke arah sarang-sarang itu, namun tidak pernah bisa mencapainya, oleh karena ketinggian sarang-sarang itu. Kendati demikian, ia sudah cukup menimbulkan keberisikan untuk membangunkan apapun mahkluk yang tertidur dalam sarang-sarang itu.

Namun tak ada reaksi, tak ada balasan. Sarang-sarang itu tidak menampakkan penghuni-penghuninya; membuat orang-orang yang ada di situ menarik kesimpulan bahwa sarang-sarang itu kosong belaka.

Tidak mau berlama-lama mengalihkan perhatian pada sarang-sarang aneh itu, sang pemimpin meminta orang-orang kembali melangkahkan kaki. Jadi siang hari itu mereka terus berjalan hingga gelap menyentuh sisi barat cakrawala, menembus wilayah Sangkar Hantu yang memiliki pohon-pohon dengan sarang aneh.

Sarang-sarang itu masih ada di tempat perhentian mereka, namun tak seekor pun mahkluk penghuninya yang menunjukkan tanda keberadaan.

Sewaktu Kain memutuskan untuk bermalam di situ, si bocah Sirat menyuarakan kegelisahannya.

“Bagaimana dengan sarang-sarang itu?”

“Kosong,” jawab Kain sekenanya, terlihat tidak terlalu yakin. “Apapun mahkluk penghuninya, kukira sudah bermigrasi dari sini. Aku pernah mendengar tentang kawanan angsa yang bermigrasi dari tempat ke tempat.”

“Burung-burung yang bermigrasi tidak membangun sarang di atas pohon,” Guillarde berpendapat. “Dan burung-burung yang membangun sarang tidak akan bermigrasi kemana pun, pada umumnya.”

“Jadi,” Kain berkata, “apa idemu, Tuan de Lusignan?”

“Mempertimbangkan ukuran sarang-sarang itu, kukira mereka hanyalah satu koloni burung kecil atau tupai kerdil,” jawab Guillarde, tidak yakin. “Perlukah kita mengkuatirkannya?”
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on May 23, 2008, 09:52:12 am
________________________________________
Ok, karna rey juga udah komen, aku mau nutup aja topik review cuplikan novelku supaya tidak berpanjang lebar ria berhubung cuplikannya sendiri pendek sekali :D .
Thx u buat mba dian, villam, om pur, hege, dan rey yang udah membaca dan menyampaikan pendapat kalian.
Aku akan menyimpulkan aja ya:

1. Masalah plot yang masih jadi tanda tanya/tak jelas seperti yang dijabarkan villam memang tak bisa dibahas lebih jauh. Tapi, berhubung villam berhasil point out semua hal penting berhubungan dengan plot yang sengaja aku sebut sekilas di cuplikan itu (yakni: mimpi apa, kehilangan apa, persiapan apa, dua benda itu), berarti aku menganggap cuplikan itu sudah cukup dalam hal memberi input awal/pembukaan kepada pembaca mengenai hal-hal kunci tadi dan cukup pula memberi gambaran atau ekspektasi mengenai apa2 yang mungkin akan diceritakan/dijelaskan pada adegan2 berikutnya.

2. Om pur merasa cuplikan itu sebagai prolog dan temponya lambat. Dan itu tidak sepenuhnya salah, karena cuplikan itu memang “prolog” untuk masuk ke permasalahan utama kedua di dalam novelku. Temponya lambat karena memang sedang memulai lagi pembangunan kisah dari awal.

3. “Cerita yang kurang mengalir dan tak cukup ada tease yang mengundang” komentar hege ini juga aku memaklumi karena memang cuplikannya sendiri pendek, dan “tease” itu sebenarnya ada di balik pintu yang belum sempat dibuka oleh si tokoh di dalam cerita [rolleyes].

4. Feed back yang aku harapkan pada awalnya sebenarnya lebih ke arah gaya bahasa (seperti yang kukatakan di awal posting). Dan tentang gaya bahasa ini, aku dapat menyimpulkan beberapa hal dari komen2 yang ada:

a. Meski minim detil, mba dian berhasil menangkap tujuanku menulis adegan itu di dalam kamar (spesifik) itu, yaitu hanya sekedar untuk menunjukkan si tokoh adalah orang yang sangat penting di dalam dunianya. Ini sudah cukup membuatku puas. Kalau si tokoh tidur di kamar lain, misalnya nginep di rumah temannya, hasilnya pasti beda dari harapanku. ;D

b. Mba dian juga mengatakan: “belum menemukan sesuatu yang aneh”; dan rey mengatakan: “gaya dan tata bahasanya tak ada yang jelek dan tak ada yang spesial”. Dua komen ini juga cukup buatku, karena ini berarti tak ada yang salah dengan gaya dan tata bahasa itu sendiri. (*lega*)
Soal spesial atau gak, rey, gw memang menyimpan yang spesial2 untuk adegan lain yang lebih membutuhkan. Kalau semuanya ditulis dengan spesial, nanti malah jadinya berasa gak ada yang spesial sama sekali kan? [biggrin] (*buru-buru melarikan diri sebelum dirajam!*)

c. Tentang detil yang tampaknya jadi perhatian utama (rey bahkan mengaitkannya dengan “wawasan luas” dan “kreatif”; membuat diriku bertanya, apa memang ada hubungan sebab akibatnya antara kedua hal itu? ???); harus kuakui lagi, cukup sulit untuk memasukkan terlalu banyak detil ke dalam novelku yang punya banyak istilah, set, prop, tokoh, dan aspek pendukung world building lainnya, karena novelku sudah cukup tebal oleh plot yang rumit. Detil2 itu sebenarnya bukan tak ada sama sekali, tapi aku memilih memasukkannya ke lokasi2 yang lebih appropriate atau hal2 yang lebih membutuhkan. Hal ini semata-mata supaya tidak menyibukkan para pembaca ketika aku mengharapkan mereka disibukkan oleh plot. Ini cuma soal penempatan aja koq. ;)

Oya, soal membagi ke beberapa buku, sekarang memang tengah dilakukan koq! Tenang aja, rey, tiap “buku” itu sudah ada plot2 kecilnya yang punya awal dan ending, sekaligus tetap mempertahankan satu plot besar untuk keseluruhan cerita.
Rasanya itu sudah mencakup semuanya…
Skali lagi, thx u all! :D
Untuk mba dian dan villam yang sempet aku janjiin versi yang lebih panjang,
Setelah aku berdiskusi dengan co-author-ku, kami akhirnya sepakat untuk kembali ke peraturan semula, yaitu selesaikan dulu seluruh pengeditan sebelum meminta review dari orang lain supaya bisa dapat komentar yang lebih lengkap. Jadi, untuk sekarang, belum bisa men-japri apa pun. Maap ya, sudah menebar janji-janji palsu. ;D ;D ;D
Mudah-mudahan saja pengeditan terakhirku ini selesai pada waktunya. (*crossing finger*)
Ayo semuanya, kita smangat menulis/mengedit!!! [letsdoit]

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi IX (5 Apr 2008 – 16 Apr 2008)

  • Bagaimana sebaiknya novel fantasi kita?
  • Tentang Candi Murca karya LKH
  • Lagi, tentang Prolog
  • Sedikit cuplikan Lemures karya BloodSin

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: cheppy70 on April 05, 2008, 08:18:57 pm
________________________________________
@Bloodsin, for the reviews,
Right on, bro. Thanks atas kadonya :)
I see our POV gak selalu sama, tapi kita kan bisa saling melengkapi (apa sih).

Untuk Ledgard, rasanya gue sangat setuju. “Bule Celup”,… hehehe,.. kena banget. Itu sebenernya mark yg sudah lama ingin ku-ekspresikan tapi lama gak nemu istilah yg pas,.. Novel Ledgard sebenernya promising, tapi dia punya suatu kekurangan yang menyebabkan ceritanya menjadi nggak terasa ‘ngek’, gitu. Untuk yg satu ini, gue bahkan berhenti baca di pertengahan buku dan ngga ada hasrat ngelanjutin lagi.
(Makanya Ledgard ga ada reviewnya di gue,.. heheheh. Tapi pikir-pikir jadi pengen buka lagi tuh buku)

Zauri, pengen baca, tapi koq rasanya ga pernah liat judul ini di toko buku ya? Sama kayak Cardan,.. ga pernah liat juga.

Untuk Cardan setelah liat covernya, tumben keren,…. ??? Sub judul Hinkal Core, juga menjanjikan sesuatu. Tapi review kamu udah obyektif bilang bahwa penamaan tokohnya kacau. Dan gua akan setuju banget kalau itu bakal menjadi letdown factor.

Lemuria,…?? Bisa dibeli dimana dong? ;) ;) ;)

OK, happy writing, semuanya.

FA Purawan
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 06, 2008, 07:48:20 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on April 05, 2008, 10:01:28 am

-Misteri Pedang Skinheald (satu2nya novel fantasi bersekuel yang udah terbit sekuelnya–salut!)

Sedikit koreksi mengenai Skinheald.
Sebagaimana udah kutulis juga di blog review gue, Skinheald 1 hardly called Buku 1, soalnya itu bener-bener hanya semacam prolog yang dicetak terpisah. Inget buku-buku Sapta Siaga? Nah, Skinhelad 1 cuma setebel itu aja, dengan konsep penceritaan yang juga belum utuh.

Tapi salutation tetap berhak disampaikan pada Ataka, sebab kalau buku 1 dan buku 2 digabung pun, akhirnya menjadi satu kesatuan cerita yang merupakan sebuah buku tebaaal,.. yang diselesaikan oleh seorang anak usia sebelas tahun. Gue yakin di antara kita aja yang nota bene udah lewat dari usia 11 tahun (bener gak?), pada usia yg sama belum ada yg mampu membuat sebuah cerita utuh dengan kualitas menyamai Ataka punya,… hehehe,….

Persoalan sekarang tinggal masalah produktivitas. Konon akan ada sekuelnya lagi, tapi sampai sekarang masih belum ada kabar (Ataka seperti tenggelam. Lagi sibuk ujian, kali?).

Tapi mungkin juga tema Fantasi panjang (tebal) merupakan tema berat buat ditulis oleh pengarang remaja (gak usah pengarang remaja, yg tua aja ngos-ngosan,.. :( ). Contoh seri Eragon, sampai sekarang buku 3 setelah the Eldest masih belum muncul. Padahal kalo bicara bisnis, terlalu lama jeda antara serial akan menyebabkan penerbit kehilangan momentum, dan pembaca keburu kehilangan excitement.

Kalo dipikir-pikir begitu, berarti emak JK Rowling emang bener-bener top ya? Bisa menyelesaikan 7 bukunya dalam rentang waktu yang cukup berdisiplin (setahun sekali), sementara seluruh dunia menunggu. (Kalo udah gitu, God,… gue bener-bener pengen bercita-cita serius jadi penulis sejak muda, hehehe).

FA Purawan

[tab:Hal 3]

________________________________________
Post by: BloodSin on April 06, 2008, 03:41:19 pm
________________________________________
@villam,
haduh diposting disini lg review-nya kan malu bang, ada om FA Pur(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
But eniwei TQ banged dah buat segala masukannya–terutama untuk adegan2 kemunculan Esther yg terpisah terlalu jauh–i’ll fix it.. ;)
sekali lagi, TQ, ente udah mau ngebacak versi lemuria yg masih superamburadul ituh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
Gak usah dibaca ulang lg deh bang, secara, versi yang ente baca ama versi yg sekarang ada di kompie ane dah lumayan berubah n dipermak di mana2.. (hehe..contohnya, karakter Guillarde udah gw pecah jadi dua orang :D )
Judulnya aja udah bukan Lemuria lg :P
eniwei, ga ada komen buat review keji Cardan gw? ayo donk bantah satu-dua statement gw.. biar nih tret bermutu dikid :P

@clickdian,
ada yang nyari Zauri tuhh :P

@om cepi,
Cardan-nya dibeli ajah om.. serius gw penasaran banged bakal kayak gmn komen resentator sekaliber ente..
lgian tuh buku gak mahal2 amat kok om.. ;)
lagian lagih secara selera kita terkadang beda (untuk novel Hozzo contohnya :D ), siapa tau ajah Cardan keren abis di mata ente.. ;D
Novelnya Ataka terus terang gw cukup penasaran, soalnya banyak yg komen positif, tapi harganya yg cepekceng ngebikin gw mikir jutaan kali buat belik.. :-\
Hmm.. menurut ente, Skinheald ama Ledgard bagusan mana (diukur dari segi gaya penceritaan & plot)?

Novel gw? Belom terbit om.. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Reviewer2 berdarah dingin kelas biawak semodel2 ente yg ngebikin gw lama submit naskah ke penerbit.. :D ;D ;D
________________________________________
Post by: hege on April 06, 2008, 05:18:42 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on April 06, 2008, 08:11:14 am
Quote from: hege on April 05, 2008, 02:59:16 pm
temen-temen, (promosi) portfolio untuk artwork-artwork terbaru hege bisa dilihat di sini http://hege.cgsociety.org

Gambar-gambar Hege itu selalu dahsyat, Fantasy banget.
Heg, gue belum bisa angkat topi buat penulisan novel Sci Fi (whatever istilahnya, deh, hehehe) ente, improvement on the way, I believe, dan gue anxious to see them :) . Dalam hal ini gue berseberangan sama BloodSin, rupanya :p
Tapi gue takluk dan nyembah-nyembah untuk seni illustrasi elo, terutama yang baru-baru. :-*
Cocok banget buat ilustrasi Fantasy. Soalnya gambarnya gak sekedar gambar. Selalu ada aura kisah di dalamnya, sehingga bahkan dari ngeliat satu gambar aja udah bisa ‘keluar’ sebuku novel, atau setidaknya satu bab novel,… hehehe.
BTW, elo gambar pake Photoshop, berarti pakai tablet PC gitu dong? Kalau pake mouse,…. sakti banget, dah.
Salam,
FA Purawan

yeah begitulah, masih di bawah umur hege belum mentok lah tulisannya, masih mencari gaya tulisan yang pas, juga genre yg cocok, jadi improvement selalu akan dan sedang berlangsung, dan jelas hozzo bukan masterpiece-ku, tapi belum yakin juga akan menulis buku-buku keren di masa akan datang.

Mengenai ilustrasi, yak, itu salah satu kesibukan hege belakangan ini, sampai-sampai beberapa tulisan terlantar menyedihkan. Masih menunggu wahyu agung dari alam semesta raya yang bisa membuat semangat menulis membara lagi, heheheh. Btw, iyak hege make photoshop CS2, dan bermodal mouse kecil yang menyenangkan, jadi ga berharap bisa banyak brushing detil dengan aneka warna, dengan mouse hege hanya bisa memakai beberapa warna dengan setuhan-sentuhan brush ala kadarnya. Hasilnya tak begitu jelek kan? (jadi pengen pc tablet atau Wacom)

Oh ya mas, hege tak berhasil membaca ceritamu yang Pendekar Garuda, hege baca sedikit sih yang di group, tapi tak bisa melanjutkan baca karena beda selera jauh banget yak. sorry :)
Tapi sekarang masih nulis kan, mas? umur toh bukan masalah, kapanpun kita bisa menulis cerita, setidaknya sampai kita kehilangan akal sehat, heheheh.
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: cheppy70 on April 07, 2008, 08:44:13 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on April 06, 2008, 03:41:19 pm

@om cepi,
Cardan-nya dibeli ajah om.. serius gw penasaran banged bakal kayak gmn komen resentator sekaliber ente..
lgian tuh buku gak mahal2 amat kok om.. ;)

Done! PM aja berapa duit aku mesti tebus. Termasuk dengan ongkos kirim ke area Pancoran Jakarta Selatan dengan TIKI ONS (yg satu malem itu. Kalo yakin bisa sampai satu hari dengan TIKI biasa sih oke juga). Aku bisa transfer pakai BCA atau Mandiri. Kasih tahu no rek mu aja.

Tapi bukannya masih sampeyan baca?

Quote
lagian lagih secara selera kita terkadang beda (untuk novel Hozzo contohnya :D ), siapa tau ajah Cardan keren abis di mata ente.. ;D

Hmm,… let’s see, my friend, let’s see,….. :)

Quote
Novelnya Ataka terus terang gw cukup penasaran, soalnya banyak yg komen positif, tapi harganya yg cepekceng ngebikin gw mikir jutaan kali buat belik.. :-\
Hmm.. menurut ente, Skinheald ama Ledgard bagusan mana (diukur dari segi gaya penceritaan & plot)?

Secara gue belum menyelesaikan Ledgard, maka komentar gue tentang Ledgard masih belum finish (kayaknya gue akan bikinin reviewnya aja deh sekalian). Tapi so far yang bisa aku katakan adalah kenapa gue baca Ledgard sampai segitu lama gak selesai-selesai.
(Biasanya gue termasuk gigih baca buku. Kalaupun dari sisi gaya atau cerita kurang cocok, tetep gue usahakan diselesaikan walaupun harus makan waktu berbulan-bulan. Makanya khusus Ledgard ini termasuk langka buat aku).

Sebenernya Ledgard itu, seperti gue sempat bilang, cukup menjanjikan. Perjalanan Plotnya so far sebenernya bagus dan terencana dengan baik. Beberapa konsep universe-nya sekali lagi cukup menjanjikan. Misalnya kapal kapal yang melayang (Kayak Final Fantasy series), Sihir 5 unsur, dll, sebenernya cukup membangun universe yang solid, lah. Detail juga patut dipuji. Kekurangan, seperti yg elo udah bilang, adalah unsur bule Celup-nya itu. Tapi kalo gue mau jujur, dalam naming convention Ledgard ini malah udah lebih baik dari Skinheald, atau mungkin juga Cardan. Aspek ilustrasi, standar lah, nggak terlalu mengesankan gue.

Satu kelemahan Ledgard buat gue adalah dalam manajemen tempo. Membaca novelnya adalah seperti mengayuh sepeda dari Cibubur sampai Ancol :’( Alias panjang, santai, dan mendatar. FLATLINER! (eh, asyik nih, kayaknya statemen ini bagus buat review,…hehe). Bukannya nggak ada action scenes, sih, tapi gimana ya? Kayaknya pengarang menganut falsafah seperti orang Jogja, alias jalan pelan-pelan dan biarkan problem datang ke saya bukan saya datang ke problem. Malah gue sebagai pembaca jadi gak sabar! hehehe,… (yg orang Jogja maap yak ;D)

Nah, kalao mau dibandingkan, maka Ataka justru lebih mahir mempertahankan tempo dan ritme. Dia bisa menciptakan ketegangan-ketegangan kecil dan klimaks-klimaks yang membuat pembaca betah membaca novelnya. Sebagai informasi, gue baca novel Ataka kira-kira dalam waktu seminggu. Baca Ledgard? Udah berapa tahun, yaks? Hehehe,……

Lain-lain mengenai Skinheald, aku rasa udah cukup terwakili dalam review gue:)

Quote
Novel gw? Belom terbit om.. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Reviewer2 berdarah dingin kelas biawak semodel2 ente yg ngebikin gw lama submit naskah ke penerbit.. :D ;D ;D

Ha ha ha,.. ;D ;D ;D, Masa ente takut sama biawak?? lagian komentar gue mah gak perlu dipusingin. Komentar editor/ penerbit, kan bisa lain dan justru lebih ‘mematikan’, hehehe.
Satu filosofi biawak: Biawak cuma bisa makan nyamuk. Kalau ente memang Macan, maka biar biawak berkoak-koak kayak apa, juga, ente sejatinya tetap Macan. So, keep your faith with you (and ur writings!).
Moga-moga sukses!

FA Purawan

[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: BloodSin on April 08, 2008, 12:30:32 pm
________________________________________
Ledgard emang sip aturan tata namingnya, tapi kalo buat selera naming dalam Ledgard, ane kurang suka.
Somehow, nama2 dalam Ledgard (contohnya buat bangsa Felis-nya) terkesan dibikin asal jadi, walo emang aromanya masing2 senada dalam satu wadah bangsa.
Hmurrdar Jaar, Nraam, Himraur Darru
C’mon, seharusnya penulis fantasi bisa lebih baik dari itu bikin nama. Kebanyakan penulis fantasi indo (kayak penulis Cardan juga), bikin/milih nama lebih mengandalkan aroma ‘aneh bin ajaib’ daripada keindahan/’ketepatan’nya. Sejauh ini, dari semua fantasi lokal yang pernah ada, gw paling salut sama NAREND buat tata namingnya.. (yg ini ente juga udah baca tah, om? kok tak ada komen/review?)

Alur Ledgard emang lambat, gw juga sempet berhenti baca saking bosennya (baru tamat ampe berbulan2). Ini cukup aneh, secara tipe Ledgard itu RPN–genre fantasi yang amat bertendensi buat ngebut.
BTW gw baru tauk Ledgard ini edar lagi taon 2007 kemaren lho, keren juga eksis dari taon 2006…2 taun euy. BTW lagih kayaknya dari semua fantasi lokal, Ledgard ini yg paling populer.. mungkin karena cetakan pertamanya yang 5000 eks–CMIIMW. Ini ada bbrp link yg ngomongin ledgard,

http://www.goodreads.com/book/show/1396766.Ledgard_Musuh_Dari_Balik_Kabut

http://perca.blogdrive.com/archive/cm-12_cy-2005_m-12_d-30_y-2005_o-0.html

http://groups.yahoo.com/group/dunialedgard/

(yg ini saingan sama yahoogroupsnya si om FA Pur :D )

@om FA Pur lagih,
oom, ane yg notabene sejiwa sama ente (dalam bidang ‘pemburu’ & komentator novel2 fantasi lokal :D ), udah baca semua review2 maut ente–khususnya review novel2 fantasinya. :)
Hampir semua dibabat abis ma ente yak(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
untuk beberapa poin, ane bisa sepakat ama komen2 ente…hehehe.. ;)
tapi novel goran yg ane puji abis2an aja, kayaknya masi belum berhasil menaklukkan selera & standar fantasi ente yak…
serius nih, ane jadi penasaran banged, sebetulnya novel fantasi kayak gimana yang om FA Pur harapkan untuk lahir di tangan penulis fantasi indonesia?
Apakah fantasi yang kuat di plot? Atau yang bersetting mitos lokal? Atau yang memiliki filosopi kuat? Atau yang beride orisinil? ???
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 08, 2008, 03:22:15 pm
________________________________________
Yaaah, kalo ada ditoko buku sih udah gue beli. So far belum nemu tuh? Udah ada budget khusus buat beli buku tiap bulan. Tapi berhubung novel Fantasy lokal jarang, ya yg kebeli kebanyakan novel2 terjemahan :(
Ya gue akan keep looking aja dah.

Somehow, nama2 dalam Ledgard (contohnya buat bangsa Felis-nya) terkesan dibikin asal jadi, walo emang aromanya masing2 senada dalam satu wadah bangsa.
Memang gue juga kurang suka dengan hasil akhir (nama)nya. Terutama justru NASH, hehehe,.. gak mengesankan karakter apapun. Tapi di titik ini gue memuji prosesnya, bahwa pengarang menyadari perlu suatu konsistensi dalam penamaan tokoh dan tempat.

NAREND udah baca, agak lama sih berlalu, makanya gak kubikin review. Tapi Gue setuju juga bahwa tata naming Narend yang paling bagus, setidaknya paling natural. Tapi hal itu mungkin lebih disebabkan setting yang masih semi Fantasy, alias masih ada paralelnya dengan dunia nyata.
Satu hal di Narend yg gue nggak sreg, plot bagian depannya udah cukup memikat dan realistis, tapi endingnya jadi ngga terlalu believable. Udah gitu ngegantung, kan? Seinget gue para tokoh balik dari kuil harta itu, tapi perjalanan belum finish tapi cerita udah di finish-kan oleh pengarang. Jadinya seperti ending tidak pada tempatnya,… hehehe,…

Quote
serius nih, ane jadi penasaran banged, sebetulnya novel fantasi kayak gimana yang om FA Pur harapkan untuk lahir di tangan penulis fantasi indonesia?
Apakah fantasi yang kuat di plot? Atau yang bersetting mitos lokal? Atau yang memiliki filosopi kuat? Atau yang beride orisinil? ???

Wah gimana yah? Kalo ditanya gitu gue malah bingung. Secara gue lahir sebagai tukang cela sehingga apa-apa jauh lebih mudah mencela (ya toh?), daripada menyebutkan saran terbaik. Wong bikin (dengan tangan) sendiri aja hasilnya belum tentu seperti idealisme (di kepala) sendiri, ya gak?

Tapi yang gue ‘tuntut’ dari sebuah Novel (terutama Fantasy) sebenernye ‘sederhana’. “Jadikanlah aku larut dalam Duniamu!”. Jangan jadikan aku bertanya-tanya (karena ada yg nggak jelas atau nggak logis), mengerenyitkan kening (karena sesuatu yg terasa janggal), jangan ‘tarik’ aku keluar dari Duniamu karena justru untuk ‘hidup’ di dalamnya lah aku memilih buku Fantasy, bukannya Chiklit :D .

Dengan requirement sesederhana itu, mestinya sih beberapa sendi-sendi bangunan novel harus kuat, ya? Kalo plotnya ngga genah, gue akan sulit menikmati alasan-alasan tindakan maupun pikiran para tokoh. Kalau setting-nya nggak solid, gue akan sulit bertahan di dalam dunia yang diciptakan pengarang. Kalau tempo-nya ga ‘engaging’, mungkin gue akan sibuk bikin lagu sendiri :) . Kalo tata bahasanya ngga konsisten, bisa jadi gue akan terlempar dari alam fantasy ke dunia lain >:( Even becandaan (humor) yang ngga pada tempatnya pun akan mengalihkan mood dari seharusnya. Gue sendiri nggak akan memaksa pengarang untuk punya pikiran yang searah dengan gue. Kalo gitu berarti gue nggak akan bisa masuk ke dunia ciptaan pengarang ??? Tapi sebuah karangan yang baik tentunya punya satu kekuatan yang menyebabkan orang bersedia ‘masuk’ di dalamnya dengan sedikit atau tanpa resistensi sama sekali.

Kenapa dunia Harry Potter bisa dicintai orang banyak? Menurut gue ya kemampuan melarutkan pembaca itulah. Kenapa Laskar Pelangi bisa digandrungi orang banyak? (bukan novel Fantasy, sich. Tapi sekedar contoh mengenai novel yg booming, aja) karena orang bisa larut, terpesona, tertawa atau menangis bersamanya (Gue sangat ‘terbawa’ di bab Mahar mementaskan tarian Afrika dengan bubuk gatal itu,… dahsyat, man).

Kadang gue ‘mikir,…. apakah mungkin dunia kepengarangan kita masih eforia dengan genre fantasy, sehingga menyangka bahwa untuk bikin Fantasy cukup dengan mengarang nama-nama aneh? Sejatinya untuk bikin pembaca bener-bener percaya dan larut, itu gak mudah. Kuharap,… kita bisa sama-sama meraih keterlarutan ini (busyet jelimet) dalam karya-karya yang kita hasilkan!
Salam,
FA Purawan

________________________________________
Post by: cheppy70 on April 09, 2008, 09:27:48 am
________________________________________
@All,
Allow semuanya, selamat pagi :)
Ada yg mo saya tanyain, nih buat rekan-rekan, yaitu mengenai Novel CANDI MURCA karangan Langit KH. Ini proyek ambisiusnya LKH untuk menerbitkan novelnya sendiri melalui LKH productions, dengan komitmen menulis 10 halaman per hari, sehingga 1 buku 800 halaman bisa diselesaikan dalam waktu 3 bulanan :o

Pertanyaan saya adalah mengenai genre Novel ini, apakah bisa dimasukkan dalam genre Fantasy. Pertimbangannya, dia menggunakan setting era Singasari yang dimodifikasi, istilahnya di rekonstruksi kembali :) , sehingga menghasilkan universe yang berbeda dengan kondisi obyektif singasari yang dikenal melalui studi sejarah.

Seperti yg saya tahu, ciri khusus genre fantasy adalah pengarang menempatkan cerita novelnya dalam sebuah setting yang berbeda (setting imajinatif) dari Dunia yang kita kenal. Dalam praktik, dunia yg bukan dunia kita itu bisa saja berlandas pada planet atau negeri yang bener-bener antah berantah, atau bisa juga masih punya koneksi dengan dunia kita saat ini (seperti di Harry Potter, Stardust, Neverwhere, His Dark Materials dll). Koneksinya bisa temporal, ataupun spatial.

Candi Murca menggunakan setting tahun 2011 M serta delapan ratus tahun sebelumnya secara berganti-ganti. Plotnya bercampur antara kisa misteri dan kisah persilatan, seolah dua buku dijadikan satu jilid.
Apakah dengan kondisi-kondisi ini, Candi Murca layak dimasukkan genre Fantasy?
(Kalo iya, aku masukin di antrian review, nich,… hehehe)

FA Purawan

[tab:Hal 5]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 09, 2008, 12:04:17 pm
________________________________________
Hai…
@rey, my good friend,
Aku rasa kamu terlalu kejam menilai cardan (walau tetap tak sekeji reviewmu dulu atas cerita ancurku. Hehe…). Masak cuma bintang satu. Apa cuma gara-gara naming? Aku rasa sih masih selevel deh sama numeric uno. Hehe… Cuma pendapatku sih…
Btw, kamu dah edit lagi lemurianya? That’s great. Tapi ati-ati ya, editing bisa jadi neverending process. Yeah… kamu tau lah… Kalo ntar butuh komen lagi, aku masih tetap bersedia.
Sip deh. Semoga sukses.

@fapur,
Kehadiranmu di ffdn benar-benar bermanfaat nih… hehe… terutama buatku yang masih perlu banyak belajar lagi dalam menulis. Salut.
Kapan-kapan review cerita-cerita amburadulku juga ya? Tapi jangan pingsan kalo nanti ngeliat banyak banget jeleknya. Hehehe…
Tentang candi murca, aku akan menyebutnya fantasi, yang menyodorkan dunia alternatif.
Kalo gak salah, salah satu nominator Hugo Award 2007 yaitu His Majesty Dragon karya Naomi Novik (huh, bener gak ya namanya?) juga bikin dunia alternatif untuk jaman Napoleon dulu.
Kalo gak salah ya… seperti biasa aku kan sok tau…
________________________________________
Post by: alk on April 09, 2008, 09:50:53 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on April 09, 2008, 09:27:48 am
Ada yg mo saya tanyain, nih buat rekan-rekan, yaitu mengenai Novel CANDI MURCA karangan Langit KH. Ini proyek ambisiusnya LKH untuk menerbitkan novelnya sendiri melalui LKH productions, dengan komitmen menulis 10 halaman per hari, sehingga 1 buku 800 halaman bisa diselesaikan dalam waktu 3 bulanan :o

:o 800 halaman 3 bulan? wew… pengen bisa gitu, 80 halaman 3 bulan aja ga pernah kesampaian gw. ;D
pengen punya, tapi… kalo tebelnya segitu, harga berapa tuh?
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 09, 2008, 10:01:45 pm
________________________________________
liat tuh LKH bikin 10 halaman per hari…
aku butuh 10 jam per hari buat dapet 10 halaman… gila ajah… kayak gak ada kerjaan laen…
dapet 2 halaman per hari udah alhamdulillah…
________________________________________
Post by: BloodSin on April 10, 2008, 04:15:45 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on April 09, 2008, 12:04:17 pm
Hai…
@rey, my good friend,
Aku rasa kamu terlalu kejam menilai cardan (walau tetap tak sekeji reviewmu dulu atas cerita ancurku. Hehe…). Masak cuma bintang satu. Apa cuma gara-gara naming? Aku rasa sih masih selevel deh sama numeric uno. Hehe… Cuma pendapatku sih…

Numeric Uno masih mendingan daripada Cardan, somehow.
But sabar lha, gw kan masi belom beres baca (sampe sekarang, setiap malem, gw masih nyicil baca entah satu paragraf-satu halaman), kalo nanti bagian setengah buku terakhir udah beres gw baca dan gw menemukan ada poin2 yg positif, ratingnya pasti gw naekin dah(walo emang gak bakalan kejadian ratingnya berubah jadi 3 ato 4 bintang, heheheh)
Tapi ya itu, untuk perbandingan ajah, Numeric Uno, walaupun novel ini plotnya cukup blakatak n ide cahaya Zeta-nya mirip banged sama cahaya Zarta MIB 2, gaya bahasanya masih jauh lebih gampang gw cerna daripada Cardan.
Seperti yg udah gw bilang, cardan punya 3 faktor yg ngebikin gw lama ngeberesinnya. And seriously, naming yg amburadul nian itu sebetulnya masih bisa tertolong kalo plotnya masih didukung tata bahasa yang j_e_l_a_s dan alur yang proporsional. Deskripsi-deskripsi dalam Cardan bagi gw burem banged, dialog2nya aneh, dan udah gitu miskin greget–yg berujung alurnya terasa lambat, itu semua faktor yg bikin dia cuman berating 1 di mata gw..
________________________________________
Post by: Yu-shiki on April 11, 2008, 06:59:27 pm
________________________________________
Eh maap keluar jalur bentar.. prolog itu maksudnya apa sih?
Apa setiap cerita novel harus disertakan prolog?
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 11, 2008, 10:28:02 pm
________________________________________
Prolog,…
Gue sih paling demen menggunakan prolog, secara prolog membuka kemungkinan pengarang menjelaskan suatu latar belakang lebih dulu. Umumnya suatu peristiwa yang kelak akan mempengaruhi jalannya cerita. It gives some ‘suspense’ (dalam artian apapun, tidak harus bermakna ketegangan) kepada pembaca, supaya baca novel itu sampe selesei :)
Selain itu prolog memberi keleluasaan bercerita tentang sesuatu yang tak langsung berhubungan dengan tokoh protagonis. DI mana tokoh protagonis biasanya akan muncul di Bab I sebagai titik awal cerita.
Tapi emang ga setiap cerita akan efektif menggunakan prolog. Semua itu tergantung sama strategi penyusunan plot yang diinginkan oleh pengarang.
FA Purawan

[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 12, 2008, 07:55:39 am
________________________________________
mengabaikan definisinya, prolog adalah bonus alias senjata sampingan buat penulis supaya ia bisa memulai cerita dari dua arah yang berbeda (satu di prolog, satu lagi di bab satu).
arah yang berbeda itu bisa berupa lokasi yang berbeda, waktu yang berbeda, tokoh yang berbeda, sudut pandang yang berbeda, dan tentu saja plot yang berbeda.
tidak semua cerita perlu prolog, apalagi kalau ceritanya sederhana. mau langsung masuk ke cerita/plot utama lewat bab satu juga oke-oke aja kok. tapi yang jelas, prolog adalah ‘advantage’ buat penulis, makanya aku bilangnya bonus.

pembahasan tentang prolog kayaknya udah banyak deh di halaman-halaman tret ini sebelumnya, termasuk jenis-jenis prolog yang biasa dipakai, dsb.

tapi yang penting sebenarnya memahami aja dulu apa sebenarnya fungsi prolog, yang kalo menurut pendapat bodohku adalah seperti ini:
- menarik pembaca dengan adegan2 yang memikat.
- memperkenalkan tokoh protagonis (di masa lalu, masa datang, atau masa kini)
- atau memperkenalkan tokoh lain (antagonis, korban)
- memperkenalkan setting (latar cerita: dunia, tempat, kasus)
- memperkenalkan suasana/nada cerita, apakah ini cerita ceria atau cerita gelap misalnya. pembaca tak ingin merasa ditipu nanti, mengira ini cerita aksi padahal isinya nanti bukan aksi, misalnya.
- memperkenalkan tema, inti cerita, masalah ‘hidup mati’ yang akan dijumpai dalam cerita, supaya pembaca merasa ‘ada pentingnya’ buat membaca terus.
- apa lagi ya? wkwkwkwkwk… halah… udahlah, aku ngasih teori-teori lagi…
________________________________________
Post by: clickdian on April 12, 2008, 10:28:55 am
________________________________________
Tambahan tentang prolog, be careful with this one, karena prolog yg ‘salah buat’ akan jadi seperti penyanyi yang salah milih lagu; bikin ilfil. Dan jangan salah, bikin prolog gak gampang, karena harus bisa ‘mengundang’ pembaca untuk lanjut ke bab berikutnya, tapi juga tidak keluar dari ‘tone’ cerita keseluruhan.
Personally, aq kurang suka pake prolog. Dari semua cerita yg aq buat, rasanya baru Segara Wulan yang pake prolog, itu pun belon kelar, hehe..
________________________________________
Post by: BloodSin on April 15, 2008, 11:56:11 am
________________________________________
ini nih gw post sedikit cuplikannya..

Kain membuat beberapa obor dari kayu-kayu bakar—sisa bakaran unggun semalam, dan segera memimpin penjelajahan menembus kegelapan. Lorong gua itu cukup luas pada beberapa langkah awal mereka masuk ke dalamnya, dan kemudian mulai menyempit pada beberapa titik sehingga orang-orang harus berjalan dengan merapat ke dinding.

Ketika mereka telah memasuki lorong gua cukup dalam, mereka menemukan semacam lambung luas. Obor yang dibawa sang marquis menerangi permukaan dinding yang ada di situ, dan segera saja Guillarde berdecak karena terpukau.

“C’est intéressant,” ia berkata takjub. “Tempat ini memiliki banyak hieroglif!”

Semua orang menerangi permukaan dinding yang dilihat Guillarde, dan kemudian menemukan gambar-gambar primitif yang terukir di atas dinding. Mereka menjadi takjub karena menemukan hampir di seluruh sudut lambung luas itu memiliki ukiran-ukiran. Ada banyak gambar yang dilihat mereka di situ: kebanyakan adalah gambar hewan, manusia primitif, dan benda langit.

Langkah Larke terhenti pada suatu ukiran yang menampilkan gambar dari sekelompok mahkluk cebol yang berlari kocar-kacir dari sesuatu yang menukik di atas mereka—seekor burung besar, dan ia melihat pula ukiran bulan sabit dan matahari yang ada berdampingan dalam gambar itu; sebuah lukisan dinding yang amat menarik perhatiannya. Merasa mengenali bentuk burung itu, ia memanggil Fly untuk memastikan.

“Kurasa itu seekor enkidu,” Fly berkata. “Ukiran burung itu memiliki sepucuk bulu lancip di belakang kepalanya serupa jambul, mirip seperti enkidu jantan yang kita lihat di Israd.”

Lama memandang gambar itu, kedua bocah segera mengenali mahkluk-mahkluk cebol yang tampak seperti primata-primata kerdil itu. Mereka segera memanggil semua orang. Dan Guillarde adalah orang yang paling tertarik pada hieroglif temuan mereka.
________________________________________
Post by: BloodSin on April 15, 2008, 12:01:27 pm
________________________________________
@villam,
u bener, gw kayaknya terlalu keji ngasi Cardan poin satu, heheheh.. :D
Gw udah tamat baca (fiuhh akhirnya!), n ratingnya gw naekin jadi 2 bintang (sejajar Ledgard, Pinissi, Nightfall, n Numeric Uno), heheheheh..
Sepuluh bab terakhirnya lumayan kok, gak ‘separah’ bab2 awal sampe pertengahan buku–walopun emang masih tetep gw temukan bbrp hal negatif(contohnya si pengarang acapkali mabok nyebut Tolan sebagai ‘Kota’, padahal Kerajaan, ato mungkin adanya ‘kebetulan2 yang gak alamiah’–hehehe yg ini gw maklum deh, gw sendiri tipe penulis yg cukup berpegang sama pakem kebetulan :P ) .
Endingnya ya gituu deh, payah dah.
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 15, 2008, 12:59:15 pm
________________________________________
endingnya ga ‘ending’, hehehe…
dan gak ada penjelasan kapan bakal muncul lanjutannya. jadi wajar jika muncul perasaan pembaca seperti ini : ‘aku terjebak!’
salah satu problem utama novel fantasi yang baru muncul, kurasa…
kalo mau bikin cerita yang bagus, otomatis seharusnya detil dan plotnya diperkaya dan diperhalus, yang berarti ceritanya bakal panjang banget.
masalahnya penerbit gak mau nerima / mengambil resiko cerita2 yang terlampau panjang. yeah… kita tau lah semua alasannya…
dan langkah penulis untuk menyiasatinya adalah dengan memotong ceritanya jadi dua atau berapapun. yang berarti sekuelnya tentu saja –> ‘ya udah nanti aja dipikirin kalo emang bukunya laku’.
jalan itu memang masih panjang…
tapi jalanin aja deh…
________________________________________
Post by: BloodSin on April 16, 2008, 10:54:44 am
________________________________________
bukan knp2 sih villam, masalahnya di Cardan itu, jelas2 udah dikasi label TAMAT gitu sama penulisnya, sama kaya novel Narend…(which means elu tungguin sampe matik juga ga bakalan terbit sekuelnya) sementara perkara2 dalam plot Cardan masi jauh dari beres, payah dah. ini bener2 menjebak (dan amat mengesalkan) pembaca, i agree with u. :’(
Novel gw juga termasuk novel yg sarat perkara (elu tauk sendiri kan :D ), but at least, kalo satu perkara yg jadi perkara utama dalam novel gw udah diselesain di akhir cerita, masi bisa ditolerirkah? :-\
ato jangan2 naskah gw itu jenis yg ‘menjebak pembaca’ juga? :-[

Comments No Comments »