Saya menutup hari pembuka ini dengan 3138 kata, hampir dua kali dari target yang 1667 kata. Sama sekali tidak buruk, dan mudah-mudahan selanjutnya saya bisa tetap konsisten menulis 2000 s/d 3000 kata per hari. Kuncinya sudah ketemu. Semangat, fokus dan ritme. Sampai besok. Tidur dulu.
Ya, National Novel Writing Month 2010 dimulai malam ini tepat pukul 00:00. Tak perlu banyak cakap, cukup diawali dengan niat dan doa semoga saya mampu menulis 50.000 kata dalam sebulan, dan setelah itu berusaha sekuat yang saya mampu. Buat sesama rekan peserta NaNoWriMo, mari kita lakukan ini. Mari menulis. Semoga berhasil.
Pencapaian saya bulan ini adalah 13.000 kata, atau sekitar 4 bab dari kisah ADM. Tidak terlalu banyak, tapi tetap perlu disyukuri, karena di dua minggu awal saya lebih banyak disibukkan dengan kegiatan Fantasy Fiesta, dan baru di dua minggu terakhir (menjelang bulan puasa) saya bisa menulis rutin setiap hari.
Yeah, memulai sesuatu yang baru memang selalu sulit. Di bulan Juli ini, setelah selesai dengan Gerbang Sungai Tigris dan mengalihkan perhatian pada hal lain selama 3 minggu pertama, saya mencoba untuk menulis cerita baru di minggu ke-4. Hasilnya, sampai hari ini baru tertulis 4500 kata. Belum terlalu banyak, tapi lebih baik bersyukur saja, bukan? Karena saya kembali bisa menulis. Mudah-mudahan di bulan Agustus saya bisa menulis lebih dari 15 ribu kata.
Selepas gathering dan membagikan draft naskah The Forgotten Heroes (TFH) dan Gerbang Sungai Tigris (GST) kepada rekan-rekan Pulpen (untuk dibantai), saya lalu membawa kedua naskah tersebut ke meja operasi, dan sekali lagi saya berhasil membuang lebih banyak lemak-lemaknya (mengerat lemak di meja operasi; apakah itu sudah cukup mengerikan? Heheh…).
Di awal bulan—seperti tercantum pada Wordcount April 2009—saya punya target menulis minimal 15.000 kata sepanjang Mei 2009. Ternyata saya bisa menulis sebanyak 26.211 kata (khusus ‘Gerbang Sungai Tigris’), atau hampir 900 kata per hari, terdiri dari 7 bab dengan panjang 84 halaman. Masih jauh dari standar Nanowrimo yang 50.000 kata sebulan, namun lumayanlah.
Menyambung kuliah sebelumnya yang memancing pemberontakan para siswa di Apa Itu ‘Cerita’, Pak Guru nekat memberikan pelajaran berikutnya: apa yang dimaksud dengan plot.
Kali ini dia tak mau berbasa-basi dan langsung mengajukan sebuah definisi. Menurutnya, plot adalah rentetan atau rantai kejadian dalam cerita yang memiliki hubungan sebab akibat. Tak ada cerita jika tak ada plot. Tak ada plot jika tak ada sebab akibat.
Mulai bulan ini saya akan mencatat berapa jumlah kata yang berhasil saya tulis dalam proyek novel-novel saya. Tujuannya adalah untuk memotivasi diri agar saya bisa terus menulis lebih banyak setiap bulannya, dan menjadikannya peringatan jika saya mengendur. Mungkin terasa absurd, tapi siapa tahu nanti benar-benar terasa manfaatnya.
Di bawah ini adalah tulisan dian k, yang dimuat di salah satu tret Pulau Penulis, mengenai sedikit pengalaman dalam membuat dan menyelesaikan sebuah novel kolaborasi. Semoga bermanfaat.
—–
Tahap pra-penulisan
1. Kenali mitra (skill, gaya tulisan, pribadi, mimpi, motivasinya); kalau bisa sebelum kita memilih seseorang menjadi mitra, kita sudah harus mengenalnya dengan baik. Ini sangat berguna pada saat sharing ide, karena penyampaiannya akan lebih mudah kalau kita sudah mengenal karakter mitra kita.
Seringkali begitu kita mendapat ide untuk sebuah cerita panjang (bukan cerita pendek ya…), gairah langsung mencuat, dan segera kita membuka komputer (atau buku) lalu menuliskannya. Satu kalimat, satu paragraf, satu adegan, satu bab selesai. Puas, dengan penuh semangat kita melanjutkan ke bab kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Kita perkenalkan tokoh-tokohnya, kita perkenalkan dunianya, kita hajar mereka dengan berpuluh-puluh masalah. Sampai akhirnya, di suatu titik di tengah cerita, kita berhenti, kebingungan. Sebenarnya hendak dibawa ke mana cerita ini? Hendak diakhiri di mana? Hendak diselesaikan seperti apa masalah-masalahnya?
Saya gemar menghitung kata. Menghitung berapa jumlah kata yang biasanya saya tulis dalam satu halaman, dalam satu bab, atau dalam satu novel. Juga, berapa rata-rata jumlah kata yang biasanya saya tulis dalam satu jam, satu hari, atau satu bulan. Seringkali saya bahkan lebih suka menghitung daripada menulis kata.
Yang klise-klise itu pasti jelek? Tidak sepenuhnya benar. Kalo jelek, lha buktinya banyak tuh film/cerita di luar sana yang isinya klise tapi digandrungi orang, dan laku dijual (termasuk di antaranya LOTR dan Harry Potter). Saya pikir, mestinya, yang jelek itu adalah jika klisenya terlalu banyak hingga taraf membosankan, ditambah dengan penulisan /pemaparan cerita yang buruk. Dan kemudian yang menjadi masalah adalah jika kita tidak tahu seberapa banyak keklisean tersebut di dalam cerita kita.
Satu lagi penyakit kronis saya yang belum tersembuhkan dengan baik sampai sekarang adalah: hanya kuat mengedit cermat di bab-bab awal doang.
Jadi maksudnya, begitu sebuah draft cerita selesai dibikin, dan saya beralih dari ‘writing mode’ ke ‘sleeping mode’ lalu ke ‘editing mode’, energi buat ‘membabat rumput’nya ternyata hanya kuat di awal.
Saya baru saja membaca sebuah cerita karya rekan penulis, dan saya kagum, karena dia berani menulis dengan menggunakan delapan tokoh sebagai pencerita /sudut pandang. Menggunakan Multiple Point of View (POV), yang semuanya berporsi seimbang. (Benar-benar salut untuk anda, Kawan)
Yang saya kagumi adalah keberaniannya; sang penulis berani ‘bersimbah darah’, meluangkan banyak sekali waktu dan energinya, karena sudah jelas, semakin banyak POV berarti semakin banyak plot dan subplot, dan otomatis semakin banyak pula halaman yang harus ditulis.
Sekali lagi ide-ide cerita itu datang, saat malam, dalam mimpi atau hanya dalam lamunan, namun masalahnya adalah, itu selalu datang lebih cepat dibandingkan kemampuan menulis saya.
Saat ini saja sudah ada sekitar sepuluh cerita panjang yang menunggu untuk diselesaikan, dan sudah pasti itu semua tidak bakal selesai dalam satu atau dua tahun. Apa boleh buat, ide baru ini, betapapun menariknya, terpaksa harus dimasukkan dulu di belakang antrian.
Yeah, begitulah, keinginan besar tapi kemampuan terbatas. Atau jangan-jangan, bukan kemampuan, tapi usaha saya, yang memang masih minimal. Karena waktu–waktu luang yang bagaimanapun sempitnya sebenarnya masih bisa dipakai untuk menulis–sungguh adalah harta yang paling berharga, yang seringkali paling mudah saya sia-siakan.
Ya, siapa takut? Ini adalah kesan pertama yang saya dapatkan saat berkunjung ke www.nanowrimo.org.
NaNoWriMo adalah singkatan dari National Novel Writing Month. Jadi, ini adalah sebuah situs para penulis, amatir maupun profesional, di Amrik sono, dimana para penulis tersebut ditargetkan untuk membuat 50.000 kata (sekitar 200 halaman) dalam satu bulan. Kualitas gak penting, yang penting adalah kuantitas, bisa memenuhi target menulis dalam waktu sebulan itu.
Bisakah kita melindungi setiap karya tulis yang kita buat, secara hukum? Apa yang dimaksud dengan Hak Cipta? Dan bagaimana mendapatkannya? Ini ada sedikit pengetahuan yang semoga bermanfaat.
Bagi yang berminat membeli buku-buku di atas langsung melalui saya, Anda bisa menghubungi saya di rdvillam@yahoo.com, dengan tak lupa mencantumkan nama dan alamat.