Posts Tagged “menulis novel”

[tab:Hal 1]Setahun yang lalu saya membuat beberapa tulisan mengenai tulis-menulis di Multiply, dan rasanya tak ada salahnya sekarang saya muat lagi di sini, buat mengingatkan betapa ternyata saya masih sering membuat kesalahan-kesalahan yang sama.

[tab:Hal 2]10 kesalahan saya yang pertama (masih banyak yang lain sih) adalah :

  • Tidak mulai menulis. Ya ini masalah niat sih. Sebenarnya kita mau jadi penulis atau tidak? Padahal sudah banyak ide-ide yang muncul di kepala, yang lalu saya sia-siakan semua dan akhirnya hilang begitu saja.Tidak tanggung-tanggung, lebih dari lima tahun saya tidak mencoba menulis apa yang saya pikirkan, baru tahun inilah saya mencoba meluruskan niat saya lagi. Untungnya dulu saya sudah sempat membuat konsepnya, jadi memulainya lagi juga tidak susah. Tapi coba bayangkan, berapa banyak waktu yang sudah terbuang?
  • Tidak menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Nah! ini lebih buruk lagi dari yang pertama. Saya sudah membuat cukup banyak, tapi berhenti di tengah jalan. Terus apa artinya waktu yang sudah saya habiskan jika tidak diteruskan sampai selesai. Hmm, balik lagi, niatnya belum lurus sih.
  • Tidak membuat karakter dan plot yang menarik. Sekarang masuk ke isi cerita nih. Terkadang karena bernafsunya kita membuat novel, kita menulis saja apa yang kita mau. Setelah setengah jalan, baru kelihatan bahwa karakter yang saya buat ternyata tidak menarik karena terlalu lurus, demikian juga plotnya, akhir ceritanya tidak jelas dan mengambang, dan  konfliknya kurang greget. Mubazir deh kalau diteruskan. Jadi lebih baik memang kita membuat konsep tokoh dan cerita yang bagus sejak awal. Minimal 70% kita harus sudah tahu akan seperti apa keseluruhan  novel kita. Satu hal yang pasti adalah karakter dan plot itu hal yang tidak bisa dipisahkan. Kita tidak perlu pusing-pusing menambahkan karakter yang tidak sesuai dengan plot. Dan juga  konflik sebenarnya hanyalah akhir dari sebuah proses, akan muncul dengan sendirinya seiring dengan berjalannya karakter yang kita buat.

[tab:Hal 3]

  • Tidak memberikan yang terbaik sejak awal. Banyak yang bilang ‘save the best for last’. Sama, awalnya saya juga berpendapat demikian. Saya terlalu terfokus pada membuat plot akhir cerita yang bagus, tidak memikirkan konflik atau adegan kecil yang menarik untuk diceritakan di awal cerita. Jadinya pembaca keburu bosan di awal, dan malas untuk terus membaca. Jadi yang lebih baik adalah ‘give the best since the beginning’. Sejak awal cerita, setiap kalimat, setiap paragraf, setiap dialog, harus dibuat sebaik-baiknya. Ada prinsip yang bagus nih : Beri api sejak awal, masukkan kayu bakar sedikit demi sedikit selama cerita berjalan, sehingga api makin membesar dan menjadi ledakan di akhir cerita.
  • Tidak fokus pada hal yang menarik buat pembaca. Dalam bercerita di setiap adegannya kadang saya telalu kronologis, maksudnya bercerita secara runtut dari awal sampai akhir, tapi karena saya tidak tahu apa yang sebenarnya menarik dari adegan tersebut, akhirnya jadi kelihatan monoton. Misalnya: si A datang, si A melakukan sesuatu, terjadilah kejadiannya. Memang alurnya sudah benar sih, walaupun bisa juga dibalik supaya lebih menarik, tapi kadang kita tidak fokus pada hal yang paling menarik buat pembaca. Mana yang menarik, apakah kedatangannya, kelakuannya, atau kejadiannya? Nah yang paling menarik itulah yang harus jadi fokus kita, untuk dibuatkan detil, deskripsi atau emosi.
  • Tidak membuat detil atau deskripsi. Berhubung dulu wawasan saya masih terbatas, maka detil atau deskripsi yang saya buat memang tidak menggigit. Padahal cerita bisa menjadi lebih menarik jika bisa kita tambahkan detil tentang tempat, waktu, tokoh, alat, atau latar belakang sejarah. Hanya saja, terkait juga dengan poin no.5, kadang kita terlalu berlebihan dalam membuat deskripsi tentang hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Selain itu biasanya kita juga terburu-buru memberikan banyak informasi atau deskripsi sejak awal, sedetil-detilnya. Padahal kalau memang informasi itu penting, biarkanlah muncul secara perlahan-lahan dalam cerita atau melalui dialog antar tokoh yang wajar.

[tab:Hal 4]

  • Tidak membangun emosi. Pertama kali membuat novel, karakter-karakter saya yang ada sedemikian hambarnya, tidak ada emosi, tidak ada visualisasi gerak tubuh yang dinamis, tidak ada penggunaan panca indra tokoh-tokohnya. Tidak menarik deh.  Sebenarnya emosi bukan hanya bisa dibangun melalui penggambaran tokohnya sih, melalui konflik juga bisa. Tapi konflik yang bagus biasanya adalah yang dapat menggambarkan konflik di dalam diri tokoh-tokohnya (inner conflict). Tapi bukan berarti outer conflict tidak bagus lho.
  • Tidak menggunakan bahasa yang baik dan benar. Awalnya saya juga menulis dengan gaya bahasa gaul atau slang. Mungkin para penulis teenlit bisa tidak sependapat dengan saya. Tapi setelah saya pikir-pikir, kalau saya tidak bisa membuat karya yang bisa dinikmati oleh generasi berikutnya (genre apapun), lima tahun atau lebih dari sekarang, hanya gara-gara bahasa yang saya pakai sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan jaman, buat apa? Ini prinsip nih. Hanya bahasa Indonesia yang baik dan benarlah yang akan tahan sampai kapanpun, bukan bahasa gaul atau slang.
  • Tidak mau mengoreksi. Biasa nih. Karena terlalu pede-nya berhasil membuat novel pertama, dengan semangatnya saya langsung kirim ke penerbit. Hasilnya pasti dong, ditolak. Setelah saya baca-baca lagi, ya pasti dong ditolak, soalnya banyak sekali kesalahan-kesalahan yang saya buat di naskah tersebut.  Sejak itu saya tidak pernah bosan untuk meng-edit sendiri. Mungkin tips ini bisa membantu : setelah novel kita selesai, print dan simpan dulu di kulkas selama satu bulan jangan disentuh-sentuh. Setelah itu barulah kita coba buka lagi dan kita baca. Ikatan batin kita dengan novel itu sudah berkurang, dan kita akan bisa menjadi editor yang obyektif.
  • Tidak mau meminta pendapat orang lain. Hampir sama dengan poin no.9. Sebagai penulis pemula, saya selalu menganggap karya pertama saya adalah masterpiece. Alhasil, saya menjadi tidak obyektif, dan sulit menerima pendapat orang lain. Kuncinya cuma satu kok, banyak membaca dan menimba ilmu, maka kita akan tahu ternyata masih banyak kekurangan yang kita miliki.

Comments 27 Comments »

[tab:Hal 1]Penulis : Steven Saylor; Penerbit : Onread Books; Tahun Terbit : 2008; Tebal : 735 Halaman; Genre : Fiksi Sejarah.

Setelah membaca beberapa buku fantasi karya penulis dalam negeri, dan lebih banyak lagi membaca komik Detektif Conan, akhirnya saya membaca buku tebal berjudul Roma, karya Steven Saylor.

[tab:Hal 2]Sebagai penggemar kisah-kisah epik dan sejarah, tentu saja inilah jenis buku yang memang ingin saya baca. Dan setelah membaca, saya memang puas. Pertama, karena Steven Saylor memang tukang cerita (jangan salah, ini adalah novel, dan Saylor sungguh pandai bercerita) dan ahli sejarah Roma yang mumpuni. Kedua, karena saya banyak belajar hal baru tentang mitologi Roma yang unik, dan intrik-intrik sosial politik yang mewarnai sejarah negeri tersebut sejak 1000 tahun Sebelum Masehi, hingga masa Julius Caesar dan Octavianus di abad pertama Masehi.

Sangat beruntung saya bisa membaca ini (terima kasih sebesar-besarnya buat seseorang yang bisa membuat saya membaca ini). Banyak yang bisa saya pelajari. Baik mengenai sejarah, maupun dalam hal ‘cara yang baik dan benar untuk menulis kisah epik fantasi’. Hah!

Comments 8 Comments »