Posts Tagged “nomor sembilan”

Pulang kampung?

Apa itu ‘pulang kampung’?

Dan apa yang harus ditulis untuk sebuah ‘pulang kampung’?

Tentu saja, ‘pulang kampung’ yang dimaksud pada kesempatan kali ini, di tempat ini, saat ini, adalah kembali ke Kemudian.com. Di sini, hampir lima tahun yang lampau saya mulai membangun lagi impian lama saya untuk menjadi seorang penulis; impian yang pernah terkubur selama lebih dari sepuluh tahun. Di tempat ini saya bertemu dengan banyak teman seperjuangan, sesama calon penulis dengan mimpi besar. Di sini kami semua belajar bersama, tak hanya untuk membuat cerita yang lebih baik, tapi juga untuk menjadi penulis yang (mudah-mudahan) lebih kokoh, yang tidak rontok oleh cacian maupun pujian.

Maka ketika ada tawaran untuk ikut serta dalam acara pulang kampung, dan bertemu lagi dengan banyak teman lama, saya pun menerimanya dengan senang hati. Kembali ke sebuah rumah lama tempat kita dulu memiliki banyak kenangan baik, siapa yang tidak mau?

Sayangnya, sampai kemarin, saya tetap tidak tahu apa yang harus ditulis untuk acara ini. Saya menulis ribuan kata setiap bulan; di NaNoWriMo bulan kemarin bahkan saya menulis seratus ribu kata. Tetapi apakah semua itu cukup pas untuk dimunculkan dalam sebuah ‘pulang kampung’? Bukankah seharusnya ada sesuatu yang berbeda, sebuah cerita yang punya kenangan lebih manis dibanding cerita-cerita lain yang pernah saya pajang di Kemudian.com? Apakah saya punya?

Read the rest of this entry »

Comments No Comments »

Berpuluh-puluh tahun yang lampau (huh?), ketika saya masih SMA, saya pernah menulis cerita berjudul Nomor Sembilan. Itu adalah novel pertama yang saya tulis, panjangnya kurang lebih 200 halaman, dan seluruhnya ditulis tangan di sebuah buku tebal bersampul warna cokelat (yang jika saya lihat tulisan tangan saya saat itu dibandingkan dengan yang sekarang, kok sungguh rapi dan mudah dibaca ya? :-P ). Buku itu kini masih ada dalam lemari baju saya (?), dan mungkin selamanya tetap akan berbentuk seperti itu, tidak akan dikonversikan ceritanya ke dalam dokumen MS Word, kecuali tiba-tiba saya tergerak untuk kembali bernostalgia.

Nah, buat yang belum paham dengan dunia sepakbola, nomor sembilan biasanya  (sesuai tradisi) adalah nomor punggung yang diberikan untuk ujung tombak atau striker, seperti halnya nomor sepuluh untuk playmaker atau sang maskot, nomor tujuh atau sebelas untuk winger, nomor dua dan tiga untuk fullback kanan dan kiri, atau nomor satu untuk keeper. Ya, cerita saya dulu itu memang mengenai sepakbola, berkisah tentang seorang pemain berdarah campuran Indonesia-Inggris yang bermain di sebuah klub kecil di Liga Austria (kebetulan adalah juga negeri Om Alfred Riedl, pelatih timnas sekarang), bermain di Piala Champions Eropa dan mengalahkan Bayern Muenchen di final (dulu masih berupa Piala, belum jadi Liga Champions seperti sekarang), ditarik masuk timnas Indonesia, bermain untuk tim Pra-Olimpiade, dan akhirnya membawa Indonesia masuk Piala Dunia.

Read the rest of this entry »

Comments 4 Comments »