Posts Tagged “pendekar garuda”

[tab:Hal 1]Sesi XXVIII (31 Jul 2008 – 10 Ags 2008)
• Tentang Pendekar Garuda karya FA Purawan
• Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh fr3d
• Tentang situs kastilfantasi.wordpress.com
• Ceritafantasi kita berakar dari mana?
• Lagi, tentang novel Cardan

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: *fr3d* on *July 31, 2008, 04:33:15 pm*
________________________________________
Villam si Raja Perang ke mana ya? Gak keliatan? Sibuk menyusun strategi untuk ekspansi wilayah? ???
TFH: Q & K akhirnya selesai dibaca juga nih…

________________________________________
Post by: rd_Villam on July 31, 2008, 05:09:31 pm
________________________________________
yow, fred, i’m here…
eh betul tuh, gue emang sedang berekspansi ke suatu wilayah tertentu. serius! hehehe…
gue yakin (mudah-mudahan) ini bisa jadi suatu yang berguna pula buat tret FFDN ini, dan semoga begitu pula buat komunitas penulis fantasi indonesia secara keseluruhan.
cuma langkah kecil sih, tapi barangkali bisa jadi awal.
tunggu saja tanggal mainnya. [bigwink]

________________________________________
Post by: clickdian on July 31, 2008, 05:15:09 pm
________________________________________
Raja Perang dan Sang Peramal? ???
Terus aq ngambil peran sebagai apa? dayang2? ;D
hehehe.. iyalah, mending ngikut ajah. biar gak pusing mikir ;D ;D ;D

________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 08:39:07 am
________________________________________
Hmm… mencurigakan…
[gossip]

________________________________________
Post by: BloodSin on August 01, 2008, 09:47:59 am
________________________________________
@om Pur

Bos, ini sekedar kritik & masukan tambahan dari ane buat PG ente, gara-gara ngeliat ‘fenomena’ orang-orang yg pada gak tamat baca PG ente cuma dengan bermodalkan alasan: “bukan tipe/selera bacaan gw” lha, “terlalu islami” lha, “settingnya terlalu ngindonesia” lha,
Bahkan sebelum beres baca bab pertama-kedua.
(Eh ini bukannya gara-gara mau bales dendam terhadap komen ente atas gaya bahasa Lemures ane yakkk, sama sekali gak ada maksud ke arah situ :P )

Kemaren sempet buka-buka PG lagi yg formatnya .LIT, ingin menyelami gaya bahasa ideal seorang FA Pur, dan emang yg kutemukan, adalah gaya bahasa yang 180 derajat berlawanan dengan Lanang/prolog Lemures: jauh dari
kesan pretensius, dan benar-benar ‘jujur sejujurnya’ ala bocah ngomong blak-blakan. :)

Well.. dulu ane sempet bilang gaya bahasa PG yang ala teenlit itu emang sama sekali bukan seleraku (karena tipe gaya bahasaku sendiri aja udah ‘sok nyastra’ dan formal abiss), tapi setelah kulihat-lihat ke depannya, ternyata si Serpent yg gaya bahasa ceritanya standar pun (cenderung non-pretensius) juga gak tamat baca. Jadi kurasa, ini bukan lagi
persoalan selera pembaca, tapi udah masuk ke masalah teknis.

Ah, menurutku cuma mengada-ada kalo ada pembaca yang menjadikan setting Islami/Indonesia sebagai alasan utama buat berhenti baca PG, karena sebetulnya, setting ‘lokal’nya itu masih dalam taraf yg wajar—belum sampai pada taraf dakwah/propaganda untuk mengajak memeluk Islam/menjatuhkan agama-agama lain seperti novel ‘religi’ pada umumnya. Lagipula toh tetap ada juga pembaca Muslim yg gak beres baca PG, kan?

Menurutku kelemahan yg paling fatal di PG justru terletak pada gaya bahasa (mencakup narasi, deskripsi, sampe dialog) yang terlalu blak-blakan, terlalu jujur, polos nian apa adanya (khususnya bab awal-awalnya yang mestinya bisa dibuat se-memikat/se-elegan mungkin). Apalagi kalo sasarannya buat dewasa muda ke atas, jatuh-jatuhnya bakalan
serasa baca novel teenlit betulan. Kalo sasarannya ABG pun, jelas salah strategi dengan menempatkan setting Jaka yang bertone serius sebagai prolog.

Kalo si fred bilang gaya bahasa ‘pretensius’ boleh diibaratkan sebagai air gula yang dikasih sirup, maka ane mau ngasih analogi gaya bahasa blak-blakan PG itu kayak sepiring nasi putih polos tanpa sedikitpun bumbu/lauk pauk (ehmm, metaforanya kurang pas nih :P ). Gak bisa juga sih dibilang ‘hambar/steril’, karena emang ada beberapa paragraf/dialog PG yg emosinya kentara dapet/atau malah cenderung ‘keasinan’, hueheheh.

Tapi sebagai pembaca, ane sebetulnya mengharapkan penulis (apalagi yg udah sekaliber ente!) bisa menyusupkan sedikit-banyak teknik-tekniknya dalam bertutur kata di dalam karyanya, metafora-metafora yang manis, gaya bahasa yang sejatinya cocok ditujukan buat dewasa muda. (gaya bahasa Forever Wicked-nya ewing pas tuh buat pembanding idealnya, karena sama-sama bersetting jakarta dan bahkan sama-sama bertema ngelawan iblis!–dengan eliminasi kata-kata vulgar/kasar kalo ente gak berkenan)

Kenapa ane bisa enjoy/’dapet’ (bahkan sampe taraf ‘menantikan!’) baca review-review, postingan-postingan ente, sementara ketika baca PG cenderung tak menikmati? Ane juga tersalut-salut waktu baca deskripsi ‘iseng’ ente buat Fulberr di tret GM lho, dan sebetulnya kagum juga dengan sekian banyak teknik penulisan yg ente share di thread-thread cerita Pulpen.

Kurasa, orang yang terbiasa baca tulisan ente di review/postingan ente di Pulpen, pasti bakalan shock ketika baca PG, karena ‘keluguan’ gaya bahasanya malah gak menggambarkan kualitas seorang FA Pur yang sebenarnya.
Yahh, pokoknya sekarang you get what my point is, semoga bisa membantu ente dalam merevisi PG deh. Yo kita sama-sama saling ngebantu. ^-^

note: oh yep, ini komen ketiga ane buat PG ente yak, kalo mau bakal
kupost nih ke milisnya berturut-turut dari komen pertama, gimana?

[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on August 01, 2008, 01:38:44 pm
________________________________________
@Rey,
Boleh-boleh, kayaknya masukan yang terakhir ini sangat bergizi, untuk gue pelajari sungguh-sungguh. Jujur aja, gue udah coba merubah beberapa adegan dalam revisi gue yg baru ini, dengan gaya bahasa yang sudah agak beda (iya lah, ada selang beberapa tahun,…). Tapi gue rasa masih akan ada kepolosan yang melekat di situ, secara gak bisa dipungkiri bahwa material dasarnya adalah karya cipta seorang anak yg baru lulus SMA ;D .
Coba gue liat lagi dah.
BTW revisian gue saat ini sudah menginjak Akhir Bagian 2 :)

Untuk gaya bahasa yg lebih ‘dewasa’ gue punya dua rencana naskah:
Jakarta Paralel / JP (ini udah lama gue ciptakan tapi masih belum lanjut), itu lebih darksih dari PG. Dan satu lagi judul sementaranya “Mata Ketiga”, ini (maunya) lebih darkish lagi daripada JP :P

Gue juga punya naskah space novel lain: Hulka. Tapi bener-bener baru bab awal doang, belum ada passion untuk nerusin walaupun ide besarnya udah ada. Kapan2 gue posting di sini, kali ya? Sekalian biar diliatin apakah
gaya bahasanya berbeda ato gak dengan PG (harusnya sih beda [annoyed], ayo bertekad!)

Silakan boss, masukannya di posting aja dimilis! BTW di milis belum pernah ada diskusi panjang, siapa tahu bakal jadi trigger, tuh. he he he.

@Fred,
Silakan boss, bisa join di FAP_novels@yahoogroups.com komentarnya ditunggu banget.
downloadable pdf ada di halaman FILES, berikut passwordnya.
Salam,
FA Purawan

________________________________________
Post by: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm
________________________________________
Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak?

________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 05:05:26 pm
________________________________________
@villam,
komen buat TFH-nya hari senin aja ya! Baru selesai ngetik good news-nya doang, bad news-nya belum, hehehe… [biggrin]

Quote from: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm

Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak?

Belum. Bagusnya sih seseorang (baca: *clickdian*) beli dan membaca buku itu, terus review-nya di-posting ke forum.
;D ;D ;D

________________________________________
Post by: Amru_Yozar on August 01, 2008, 05:07:42 pm
________________________________________
Halo-halo,
Agen Amru di sini. Muup yah baru nongol skarang, maklum lagi mata2in Otoritas.
Repiu gath na keren Dian! Tapi sori Fr3d, gw belon bisa nerusin. Kalo gw yang nerusin malah jadi norak, hehe…
Oh ya teh Dian, gw udah beli tuh Nicholas Alchemist, tp blon sempet baca. Bakal 2 seri tuh kayakna.

@ Villam
Hm… mo bikin penerbitan y? Mau dong karya gw ikut diterbitin :D

________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 05:18:41 pm
________________________________________
Quote from: Amru_Yozar on August 01, 2008, 05:07:42 pm

@ Villam
Hm… mo bikin penerbitan y?

Hah?! Beneran?! :o
[gossip]

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 02, 2008, 05:47:40 am
________________________________________
@Fred & Amru

Boleh aja gue kirim by email, tapi kalo pdf ukurannya gede, loh. Makanya gue bagi 3 files @ kira-kira 900kb.

Gue ada format LIT (Ms reader), satu novel lengkap hanya 600kb, tapi syaratnya ente kudu punya Microsoft Reader, terserah versi PC (buat baca di kompie) atau versi Pocket PC buat baca di PDA (Windows Mobile).
Kalo mo dikirim by email, gue akan kirim yg LIT.
Kalo mo download sendiri, join aja di milis. Gratis koq, dan alamat email kalian ga akan gue salah gunakan. Gue perlu milis buat menampung masukan-masukan pembaca. I’ll appreciate kalo temen-temen bisa bantu gue on that :)
Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: fr3d on August 04, 2008, 03:49:43 pm
________________________________________
Tentang TFH: Quazar & Ksatria, komennya udah di-PM langsung ke penulisnya, villam.
Berhubung karyanya belum terbit dan gw takut memberi spoiler, jadi gak di-posting ke tret ini…
(*menunduk-nunduk memohon maaf*) :-[

Intinya komen gw tentang TFH buku 1:
"Villam menunjukkan kebolehannya dalam bercerita di TFH: Q & K. Teknik story-telling-nya sangat apik dan ciamik. Namun, ternyata kelemahannya justru ada pada story-building. Kisah utama dan kisah2 pendukung di dalam novel ini rasanya terlalu hambar dan kurang menjual. Perlu ada penegasan dan "pewarnaan" untuk dapat menyempurnakan karya yang potensial ini."
...
...
Oops! :o
*cepet2 kabur sebelum leher ditebas si Raja Perang!*

________________________________________
Post by: rd_Villam on August 04, 2008, 05:52:47 pm
________________________________________
friends,
daku belon sekaya itu untuk bikin sebuah penerbitan. [biggrin]
tapi jujur, itu memang sebuah pilihan hidup yang menarik nanti. Bikin sebuah penerbitan khusus fiksi fantasi, termasuk juga majalah khusus fiksi fantasi. sapa tau juga bisa bikin penghargaan khusus fiksi fantasi
indonesia. [biggrin]
amin…
anggap aja ini doa. :)

yang gua bikin sebenarnya baru sebatas ini:

http://kastilfantasi.wordpress.com/hall-of-discussion/

silakan dilihat.
jadi, intinya, teman2 tau kan obrolan kita di forum ffdn 3 ini udah sampe skala mega?
nih gua kasih tau, kita udah ngobrol total sebanyak hampir 350 ribu kata. bayangin aja ndiri deh, ini udah seukuran tiga novel masing2 setebal 500 halaman.
nah gua udah coba pilah, mana yang relevan dengan tema penulisan fiksi fantasi, dan membuang sekitar 40% pembicaraan OOT.
mudah-mudahan ini bisa membantu kita menemukan lagi topik2 apa yang udah pernah kita bahas. Dan juga membantu memudahkan orang-orang lain di luar forum ini yang pengen baca-baca dan belajar dari ente-ente… :)
oke sementara itu dulu, ntar gua tambahin.

thank you so much, fred, atas kritikannya!
ah… plot ya…
itu kesalahan yang… memang mestinya udah gue sadari dari awal, dan dengan keras kepalanya gue pertahankan…
hmm… tampaknya pendirian gue emang kudu berubah…

________________________________________
Post by: fr3d on August 05, 2008, 08:59:06 am
________________________________________
Well, kayaknya memang cuma villam deh yang bisa bikin beres2 model beginian! Great! [thumbsup]

________________________________________
Post by: fr3d on August 06, 2008, 08:41:07 am
________________________________________
Quote from: tangochenchen on August 05, 2008, 07:32:57 pm

:D kira-kira fiksi-fiksi fantasi yang sedang kita tulis berakar dari mana?

Kalau gw secara pribadi, menulis berdasarkan suatu tujuan atau maksud.
Karya gw adalah untuk menyampaikan sesuatu.
Akar budaya hanyalah fasilitas atau media yang gw manfaatkan untuk menyampaikan pesan/maksud gw itu.
Kalau ternyata apa yang ingin gw sampaikan akan lebih sesuai atau mudah dipahami dengan menggunakan akar budaya Barat, maka gw akan menggunakan budaya Barat sebagai setting cerita.
Sebaliknya, kalau lebih cocok menggunakan akar budaya Timur, maka gw akan menggunakan setting budaya Timur.

Gw sendiri gak akan men-”diskriminasi” karya2 yang gw hasilkan dengan dikotomi macam “Barat & Timur”.
Yang paling utama adalah tentang pesan yang harus tersampaikan dengan benar, di luar itu, semua hanyalah fasilitas.
Pokoknya, yang penting sebagai penulis, just write what you like, entah itu “Barat” atau “Timur”.
Kita gak akan menghasilkan sesuatu yang bagus dengan mencoba (dan memaksa) menjadi orang lain.
;) ^-^ 8)

________________________________________
Post by: MakMak on August 06, 2008, 09:51:48 am
________________________________________
klo sy menulis karena mengikuti ego saja. ;D ;D
memang sering saya memasukkan politik saya kedalam cerita tersebut, namun tetap saja didominasi oleh ego. ketika sy ingin membuat dengan setting legenda barat, saya buat bersetting legenda barat, ingin berdasarkan legenda lokal, sy buat yang berdasarkan legenda lokal, mau bersetting jepang, sy buat yang seperti itu.
jd tidak ada keterikatan harus dari budaya mana, tetapi saya lebih cenderung ke sy maunya apa.

________________________________________
Post by: tangochenchen on August 06, 2008, 12:08:42 pm
________________________________________
ya [rolleyes] ya, memang setiap pengarang memiliki otoritas….(Pengarang adalah “tuhan” dalam karangannya)
tentu saja kita tidak bisa menyalahkan imajinasi, ide, ilham atau pun gagasan seseorang yang tertuang
dalam karyanya…
meski pun demikian kita sebagai pengarang memiliki “tanggungjawab” terhadap pembaca baik disadari atau tidak, secara langsung maupun tidak langsung, karangan tersebut pasti mempengaruhi alam pikiran pembacanya…
alangkah sayangnya apabila kita tidak bisa menggali khazanah yang berakar dalam kebudayaan kita sendiri,
menurut saya itulah yang membuat karya kita tidak sekadar sebagai “kacang yang laris dijual sesaat” tetapi
bertahan lama dan bisa menjadi sumber inspirasi di dunia, atau pun relevan sepanjang masa….bukankah seperti
tadi dikatakan pengarang memiliki maksud2 tertentu dalam mengarang ceritanya?

tentu saja saya dapat memahami kondisi semacam ini tidak muncul secara tiba-tiba. pengarang2 di Indonesia sebagian besar adalah hasil didikan kurikulum yang meminggirkan sastra dan sejarah: murid-murid SMP dan SMA kita pada umumnya tidak dilatih membaca buku sastra berbobot baik karya dalam negeri maupun dunia – baru-baru ini saja sastrawan seperti Taufik Ismail prihatin dan memberikan perhatian terhadap kelemahan pelajaran sastra kita.
bahkan Ujian Nasional bersifat sangat objektif. tidak ada ujian mengarang maupun soal-soal yang menuntut nalar dan argumentasi kita (misalnya soal-soal sejarah hanya pilihan ganda, tanpa ada soal2 esai).
di samping itu, pelajaran Sejarah kita terus menerus mendiskusikan sejarah politik terutama seputar revolusi kemerdekaan dan G30 S PKI, bahkan sampai di bangku kuliah, mahasiswa-mahasiswa sejarah lebih didorong untuk meneliti sejarah politik dan ekonomi Indonesia saja.
Kalau di Amerika, kita tidak heran kalau sejak di bangku SD pun mereka dilatih menganalisis novel pilihan,
dan belajar mengarang kreatif…He he…menyuruh murid-murid kita berimajinasi saja, yang terpikir adalah
apa yang baru saja mereka tonton dan bukan yang mereka baca…
Tetapi, di Malaysia negara tetangga kita saja, baik siswa SMA IPA, IPS maupun bahasa tetap mempelajari sastra, berlatih mengarang,dan mengerjakan soal-soal esai sejarah…
Saya terkejut ketika salah satu murid SMA dari sekolah swasta mahal mengatakan bahwa dia (mudah2an hanya dia saja) tidak tahu apa-apa tentang renaissance, reformasi Gereja, atau pun zaman pra-sejarah hanya karena menurutnya mungkin tidak dipelajari karena dia adalah murid IPA… Tentu saja saya tidak terkejut
kalau sampai kelas tiga pun nanti dia tidak bisa mengarang sebuah cerita sepanjang 180 kata, bahkan dengan sebuah panduan sekali pun.

Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 06, 2008, 12:59:16 pm
________________________________________
Quote from: tangochenchen on August 06, 2008, 12:08:42 pm

Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak
Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)

YES, bu Tango! Right on mark! (halah, remarks gue aja dalam bahasa Inggress,.. :( )
Gue sangat setuju dengan pemikiran bu Tango. Ketika kita cenderung memilih setting non-lokal, jangan salahkan pengarang. Tapi kenapa hal itu bisa terjadi. Dan apa yg dituturkan oleh bu Tango itu bener-bener sebuah fakta. Kita memang dididik dan terdidik untuk menjauh dari akar kita sendiri.
Dan khususnya Fantasy, kita memang berkiblat pada budaya non-lokal, dan itu juga tidak salah, secara yang tersedia dalam khasanah perbukuan memang ya hanya itu.

Okelah bu, silakan bermigrasi, tapi jangan lupa tetap bimbing anak-anaknya untuk mencintai budaya ibu pertiwi, ya bu,…. [thumbsup]
Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on August 06, 2008, 02:32:04 pm
________________________________________
Jadi, yang salah sebenarnya sistem dong? (pendidikan, sosial/kemasyarakatan, politik, dsbnya?) ???

Kalau mengingat masa2 SMP/SMA, gw juga merasa prihatin, kenapa dulu pelajaran sejarah (khususnya Indonesia), tidak diajarkan dengan cara yang lebih interaktif.
Akhirnya pelajaran sejarah, yang adalah salah satu media pengakaran budaya yang sangat dominan, malah terasa sebagai topik yang kurang menarik, bahkan membebani. :(
Apalagi yang sering ditanyakan ketika ujian adalah tahun A, tahun B, tahun C, dan tahun2 lainnya. Otak pun dirangsang untuk menghapal aja, bukan berimajinasi ([biggrin]).
Padahal gw sangat suka dengan pelajaran sejarah lho (tokoh sejarah indonesia favorit gw adalah Pangeran Diponegoro ^-^), dan pengetahuan2 sejarah “tambahan” memang akhirnya gw peroleh dengan mencari tau sendiri, bukan dari dalam kelas.
Jadi, gw memang setuju kalau terpinggirkannya budaya lokal sebenarnya adalah suatu proses, dan ini bukan sesuatu yang tak bisa dihindari.

Kalau tadi gw menulis bahwa penulis sebaiknya menuliskan apa yang mereka sukai, berarti yang mungkin harus diperhatikan adalah bagaimana caranya calon penulis di masa depan bisa menyukai khazanah budaya lokal sehingga
mereka tak akan berpikir dua kali untuk menggunakan budaya indonesia sebagai materi tulisan mereka.

Lalu kalau kita? Masih mungkinkah memutar arah?
Ya, memang mungkin2 aja.
Tapi kita pribadi harus memahami pula batas kemampuan kita sendiri dalammenulis.
Misalnya, betapa pun gw sangat menyukai tetralogi-nya Pram danmenghormati almarhum, gw gak sanggup menggunakan khazanah budaya lokal dalam karya tulis seperti apa yang telah beliau lakukan.
Kita bisa mencobanya memang (dan mungkin gw akan melakukannya suatu harinanti kalau ada kesempatan, ;) ), tapi kalau kita tidak cermat, bisa-bisa karya kita cuma berakhir seperti novel Phoenix, yang memang memanfaatkan
khazanah budaya lokal, tapi alih-alih membanggakan, malah merusak citra budaya itu sendiri.
Bisakah kita menjamin hal semacam itu tak akan terulang lagi tatkala kita, sebagai penulis, selalu merasa karya kita adalah yang terbaik?

Gw lebih setuju dengan pendapat om pur dulu.
Karya fantasi di Indonesia umurnya masih sebiji jagung.
Ibarat anak-anak, kita masih belajar merangkak, dan cara belajar yang paling mudah adalah dengan meniru.
Jadi, kita harus bisa memahami kenapa hampir semua penulis fantasi yang ada sekarang selalu menggunakan template karya asing (berbudaya asing) untuk karya tulisnya.
Okelah memimpikan bahwa Indonesia nantinya akan dijamuri oleh buku2 fantasi tentang negeri kita sendiri.
Namun, kita tetap harus sadar dengan kemampuan kita sendiri.
Jangankan mencipta sesuatu yang orisinil dengan budaya milik bangsa kita sendiri, yang terinspirasi karya asing saja masih banyak yang gagal kualitasnya. :(
Harapan semacam itu merupakan sebuah proses dan butuh waktu pula.
Dan gw mengatakan ini bukan semata-mata sebagai alasan untuk mengelak dari seorang penulis fantasi.
Well, gw pun berharap, mudah2an kita memang sedang berada di jalur yang benar.

Lalu tentang menghasilkan karya yang bisa menjadi sumber inspirasi dunia, rasanya tidak melulu hal itu harus terkait dengan setting atau sumber materi (budaya) yang kita ambil untuk karya kita.
Itu salah satu faktor, ya benar. Tapi ada hal lain pula yang bisa kita jual sebagai penulis, yaitu ide, dan ide bisa merupakan sesuatu yang universal (tidak terkait faktor budaya).

Begitu deh kira2… :)
Omong2, bu tango, Anda bukan mama piyo kan?
Entah kenapa, kalau tau ada seorang ibu yang menulis fantasi, pasti kebayangnya langsung ke mama piyo. ;D ;D ;D

________________________________________
Post by: blue_amaranthine on August 06, 2008, 05:20:23 pm
________________________________________
Buat Om Pur, makasih ya reviewnya, ngebangun banget. Sori baru bales (Udah berapa lama ya) soalnya sibuk bgt ngurusin penerimaan mahasiswa baru mana minggu depan OSPEK lagi (Thanks God, Akhirnya gw kterima di
FMIPA (Chemistry) ITB hehehe siap-siap bikin bom! [bomb] [bomb]
[bomb]). Thanks sudah dinobatkan sebagai The Best Fantasy in your list. [biggrin]
MOga-moga terbitan selanjutnya bisa diperbaiki. ampir 70% yang om pur rasain tentang penerbit n tetek bengek (perubahan Ms. jadi Mrs. juga g taw siapa yang ngerubah) ternyata sama n banyak bagian yang mesti gw perbaiki bwat cetakan kedua, kata penerbitnya sih bisa asal tidak prinsipil. (Masalah titik koma, nama, EYD yang bikin gw sukses SNMPTN, dll). Thank you! Thank you very much……!!! Ini hadiah terbaik bwat gw setelah tu buku terbit. Yang lain mau ikut kasih hadiah?

________________________________________
Post by: BloodSin on August 06, 2008, 09:49:22 pm
________________________________________
Quote
Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)

Wah keren, kali ini yang masuk tret dari kalangan ibu-ibu, welcome & selamat gabung ama kita-kita deh makcik tango [biggrin]

Kalo buat gw, harga mati dari sebuah novel itu ya faktor entertaining-nya (wujud ‘entertaining’ ini variatif mengikuti genre), yang syukur-syukur kalo disupport juga dengan riset dan wawasan pengarang untuk memperluas pengetahuan pembaca (secara novel berwujud ‘buku’!).
Pemilihan setting gak masalah mau darimana, asal pengarang bener-bener punya kapasitas buat menggarap setting itu.

Daripada novel fantasi dengan setting indo (laen kasusnya kalo ‘indo kuno’ macam PG om pur yg jelas penggarapan settingnya dibutuhkan usaha riset atau at least wawasan pengarang), gw jauuuh lebih appreciate kalo ada pengarang lokal yg punya kapasitas bikin novel bersetting barat/jepang/rekaan lengkap dengan kultur dan atributnya. Dan kalo gw bilang ‘berkapasitas’, itu harus mencakup semuanya, baik secara roh dan fisik setting, bukan setengah-setengah. Yang jadi masalah di kebanyakan novel lokal yg pake setting non-lokal, ya ‘setengah-setengahnya’ itu.
Biasanya settingnya barat kulturnya timur, gak konsisten.

Tentang kenapa selama ini novel lokal yg meledak itu selalu yg bersetting & berkultur lokal juga, mungkin karena emang belum ada penulis lokal yang bener-bener mumpuni buat menggarap setting non-lokal.

Quote
bisa-bisa karya kita cuma berakhir seperti novel Phoenix, yang memang memanfaatkan khazanah budaya lokal, tapi alih-alih membanggakan, malah merusak citra budaya itu sendiri.

Phoenix mah bukannya bersetting gado-gado? ???
btw merusak citra budaya lokalnya gimana sih fred? jadi penasaran gw [biggrin]
Emangnya mengajarkan kekerasan dan pornoaksi? :P

Quote
Tapi kenapa hal itu bisa terjadi.

Selain jawaban ‘kesalahan sistem’ yang disimpulkan si Fred, gw kira masih ada dua alternatif jawaban lain:

1. Selera
Untuk jawaban ini, silakan menyalahkan budaya video games, gempuran film hollywood & anime jepang, sampe manga & novel-novel barat yg masuk gramed. Judul-judul ngetop kayak LOTR, harpot, final fantasy, jelas mempengaruhi alam bawah sadar pengarang manapun yang pernah ‘mengkonsumsi’nya, dalam meng-create setting novelnya.

2. Akses
Ah jawaban ini datang dari opini om pur dulu waktu gw ngeluh betapa susahnya riset bikin novel sci fi. Well gw pribadi kenapa lebih prefer setting luar alih-alih lokal, karena emang gw non-pribumi, dan gw emang gak ada ‘akses’ sama sekali selain dari sinetron-sinetron silat indo, buku-buku lokal, dan perpustakaan nasional. Gw gak familiar dengan istilah-istilah, budaya dan tradisi lokal. Bahkan setiap kali gw ikut undangan orang kawin, nyaris gak ada yang pake kultur indo, all of them pake kultur barat/tionghoa semuah.

Toh terbukti sekalinya ada fantasi lokal yang pake setting lokal (baca: pinissi), ditulis sama mama piyo yang emang orang makassar aseli dan sering dapet dongeng lokal semasa kecil dari kakeknya… atau kira-kira begitulah.

Well emang gw jugak bukan keturunan bule makanya gw prefer setting barat, tapi kita semua tauk referensi kultur budaya barat jauh lebih bejibun dan gampang pengaksesannya.

Quote
Omong2, bu tango, Anda bukan mama piyo kan?
Entah kenapa, kalau tau ada seorang ibu yang menulis fantasi, pasti kebayangnya langsung ke mama piyo.

Tumben lu pinter fred [thumbsup]
Iya juga yah, tagnya ini: penulis fantasi, ‘seorang ibu’, dan dateng kesini bawa-bawa topik “setting lokal takluk di bawah pengaruh barat” secara Pinissi-nya itu bersetting lokal [biggrin]

[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: cheppy70 on August 07, 2008, 07:53:38 am
________________________________________
Selamat pagi, semuanya :)
Udah mulai baca Cardan, nih,….
Baru sampai halaman 7, dan alamak. Ini gaya penulisan paling ancur yang pernah gue baca!
Tunggu kelar, ye. Next for review.
Buat review, saat ini review Zauri lagi disusun.
Salam,
FA Purawan

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 07, 2008, 08:56:47 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on August 07, 2008, 08:33:30 am

Yap, buat gw sih Cardan kena penyakit bahasa no. 3, gaya bahasa absurd, berputar-putar, gak jelas banged >_<. Dimana indikasi dari gaya bahasa ini adalah, ketika pembaca membalik halaman, ia akan dengan serta merta
tersadar dari lamunannya, lantas berkata-kata tidak mengerti sambil menggaruk kepala, “Eh, udah balik halaman ya? Gw dari tadi baca apaan sih?”

Huahuahuahua (ini niru gaya ketawa siapa?) ;D ;D
Bener banged, tuh. Gue sempat ngebolak-balik halaman, karena kayaknya kalimat lanjutan dari halaman sebelumnya koq ga nyambung banged gitu,… :P
Memang bakalan lama neh, kayaknya, untuk menyelesaikan buku ini :-\

________________________________________
Post by: ewingerwin on August 07, 2008, 09:18:15 am
________________________________________
Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu.

________________________________________
Post by: BloodSin on August 07, 2008, 09:22:51 am
________________________________________
Quote
Memang bakalan lama neh, kayaknya, untuk menyelesaikan buku ini

Semangaaaad bos! Ane aja bisa ngabisin, cuma sebulan-duabulanan doank.
[biggrin]
Nih buku cara kerjanya sama kek Ledgard kok, masuk ke setengah buku, entah kita yg udah adaptive ama gaya bahasanya atau emang gaya bahasanya jadi membaik, bakalan jadi cepet melaju bacanya, serius :D
Endingnya? Ente pasti mencak-mencak laksana kuda ngamuk ;D

@Ewing,
Cardan emang fantasi lokal yg paling kueren kovernya, bukan ‘rada’ lagi dah kalo buat ukuran fantasi lokal mah :)

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 08, 2008, 10:02:29 am
________________________________________
Quote from: ewingerwin on August 07, 2008, 09:18:15 am

Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu.

@Ewing, ini kutipannya,… Sesuai kata Bloodsin, kalo cuma dikutip sepenggal mungkin nggak akan terlalu kelihatan ‘belangnya’. Harus dikutip agak panjang. Maka gue hadirkan aja prolognya sekalian di sini.

Cardan, hal. 1 – 2:

Langit malam ini sangat indah,…… dst

Di daratan ini terdapat sebuah kerajaan bernama Tolan,….

Namun, dibalik semua kelebihannya, Tolan sedang mengalami peperangan,…..

Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam
hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu. Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.

Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh
di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.

Ia kembali melihat kawannya terluka. Bagaimana Cardan sepertinya bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu, meskipun pangkatnya cukup tinggi ia masih
saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.

Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
—————————————————

Mendingan baca dulu dua-tiga kali, biar meresep. Baru abis itu baca ulasan gue di bawah ini.

Perhatikan, di atas itu lebih kurang adalah bagian prolognya, per paragraf. yg gue kasih tanda titik-titik, itu maksudnya masih ada terusan yg melengkapi paragraf tersebut sampai usai 1 paragraf. Isinya ga terlalu penting, yg penting pembukaannya.

Setelah 3 paragraf awal, gue kutipin lengkap untuk memberi gambaran mengenai kehancuran gaya penulisan yang gue maksud.

OK, sekarang kita akan mulai review kecil ini,… (nanti juga bakal gue masukin ke fikfanindo, kali).

Kalau rekan-rekan menganalisis tiga paragraf awal, tentu rekan-rekan bisa memperkirakan alur dari prolog, yaitu (1) suasana malam sebagai pembuka cerita (dan actually tuh paragraf ngomongin 3 bintang penting)
yg menghiasi langit malam. (2) Sebuah negeri bernama Tolan, (3) Situasi politik Tolan,…

Tapi paragraf 4-nya, dengan begitu gak nyambungnya, langsung masuk dalam adegan perang. Halah! Dan cobalah perhatikan isi dari paragraf ke-empat tersebut:

/Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta.
/
ini aja udah kalimat yang subyek-predikat-obyek nya ngaco, kayaknya kurang tanda baca ataupun kata sambung.

/Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka.
/
kalimat selanjutnya ini gak nyambung dengan Subyek “Jendral”, sebab Subyek tiba-tiba berubah menjadi merefer ke “pasukan yang begitu membabi buta”. Terus tau-tau berubah lagi ke subyek yang lain:

/Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu.
/
yang dilanjutkan dengan kalimat ini:

/Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.
/
Yang kalau dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, mengesankan bahwa pedang sang jendral sudah mencabut banyak nyawa nggak cuma musuh melainkan juga dari pihaknya sendiri!

So, the whole paragraf is a mess!!

Terus paragraf berikutnya bikin ketawa lagi:

/Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya.
/
(Kena busur aja luka? cemen banget,….. iye-iye, gue tahu, maksudnya kaki kirinya ketancep panah. BTW, Fatal ya? Panah beracyun,.. kalee?)

/Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat
yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.
/
Ini juga series of incoherent actions. Maksudnya sih bisa kutangkep, tapi masih mendingan juga sastranya Sinchan yg “BABI PERGI,… BABI PULANG” itu, hehehe. Terus membantai sepuluh PASUKAN??? Maksudnya sepuluh PRAJURIT, Kallii,…?

Selanjutnya penggambaran aksi dalam kalimat dan paragraf lanjutannya benar-benar menggambarkan seorang jendral yang lagi bingung dan depresi banget, bukan lagi perang (ini jendral atau prajurit rank & file, sich?
Koq sibuk amat di garis depan. Yang ngatur strategi di war room, terus siapa? Sekretarisnya, kali?)

So, need I say more mengenai keancuran gaya penulisan ini? He he he,.. gue terusin baca dulu aja, kali yee,…. siapa tahu di akhir buku ada perbaikan (cross fingers,…)

Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: ewingerwin on August 08, 2008, 12:15:08 pm
________________________________________
@Om Pur: Makasih banyak, bos :) . Sekarang dah keliatan ‘belangnya’ kayak gimana ;D.

Oke, harus gw akui. Kalimat per kalimatnya memang nggak terlalu bermasalah kalo dibaca sendiri-sendiri, tapi memang alur dan komposisi paragrafnya terasa berantakan banget dan pemilihan kata/diksinya seharusnya bisa lebih baik daripada itu. Di beberapa bagian ada yang ambigu/nggak jelas abis, dll, dll.

Yep, secara keseluruhan, gw hanya bisa mengamini Om Pur aja deh, yang gw baca ini emang berantakan abis. Beli nggak ya? Hmm… dana terbatas…

________________________________________
Post by: cheppy70 on *August 09, 2008, 10:30:28 pm
________________________________________

Ning-nong!!!
@all,
Zauri sudah hadir di fikfanindo :)
Salam

________________________________________
Post by: bjvadis on August 10, 2008, 10:38:19 am
________________________________________
Oh, gpp, beli aja tuh Cardan. Gue sih udah baca abis, dan ceritanya cukup seru walaupun makhluk2 ciptaannya ada yg 100% baru dan bingung ngingetin ciri2nya. Taktik perangnya juga mantap, apalagi penokohan Raja Links yg adalah varian baru, inspiratif [thumbsup]. Hanya soal penamaan saja yang kelihatannya campur aduk dan nggak konsisten – but, what’s in the name? -
It’s worth your money. :D

Tapi waktu lihat cover Cardan pertama kali itu g sempet deg-degan karena desainnya persis dengan desain cover manuskrip yang gue kirim ke GagasMedia (lambang burung elang mirip garuda), konsep definisi Cardan mirip dengan Paladin dari karya gue, trus ada unsur: Musuh Besar yang dianggap sudah mati tapi ternyata masih hidup. Tapi setelah dilihat2 dalamnya, ternyata 100% beda – dan g setidaknya agak bernapas lega.
[hammer]

________________________________________
Post by: tangochenchen on August 10, 2008, 01:21:20 pm
________________________________________
Mungkin kalau diedit dr segi bahasa begini ya…(ini pengalaman jadi asisten pribadi juri lomba karya fiksi…tahu sendiri kalo juri itu hanya manusia biasa yg punya waktu cuma 24 jam sehari) tapi novel ini kan sudah terbit ya

Seorang jendral Tolan (seorang Jendral dalam Perang Tolan?) sudah banyak memenangkan perang. Namun, ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya, bagi pasukan (musuh Tolan?) membunuh
seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup mereka. Membunuh seorang/para Tolan (he he kedengaran seperti handai tolan) sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. Pedang sang jendral Tolan sudah berlumuran darah. Entah sudah berapa banyak nyawa yang ia cabut dengan pedang itu. (Saat ini, lalu, kemarin? Kapan perangnya?) banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.

Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk (nya) lalu membaringkan tubuh kawannya (itu) di atas tanah. Dia berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar
sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal Tolan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.

Ia kembali melihat kawannya (yang) terluka. Bagaimana (seorang) Cardan bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu. Meskipun pangkatnya cukup tinggi,
ia masih saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya, ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.

Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

He he…sepertinya om Pur benar, dari segi bahasa saya sebagai pembaca langsung bingung di halaman pertama…kalau saya ditunjuk jadi asisten lagi, sepertinya bos juri saya itu akan mengizinkan saya untuk tidak meneruskan membacanya.

apakah ini pengaruh bahasa karya2 terjemahan fiksi fantasi ? (terus terang saya lebih menikmati harry potter dll dalam
bahasa aslinya)

________________________________________
Post by: BloodSin on August 10, 2008, 07:31:36 pm
________________________________________
Susah nian merevisi adegan-adegan penting dalam naskah itu, terutama prolog! Gw udah menggarap prolog lemures selama 4 mingguan, tapi gak jadi-jadi euy :’(

Padahal gw udah keburu bikin janji ama orang VGI buat posting lemures gw (huahua penasaran ama POV & komen para penulis RPN untuk naskah lemures gw yg originnya dari RPN :D )
Gawat nih.. :-\

@om pur
Udah baca repiu zauri-nya di: fikfanindo.blogspot.com
(kasih link atuh bos, biar yg anak baru jadi pada bisa baca ^-^)

Well, kali ini kita bisa sepakat zauri emang salah satu novel fantasi indo yg bergaya bahasa ciamik (yang jauh dari kesan membosankan—dan emang pengarangnya bener-bener punya skill gaya bahasa selayaknya ‘penulis’ novel), yang berujung novel ini mudah dikonsumsi oleh berbagai kalangan pembaca [biggrin]

Mengenai font Kover yg ‘gak jelas’, itu sama sekali gak masalah buat gw, malah zauri gw posisikan sebagai fantasi lokal yg kovernya terkeren setelah Cardan, desainernya (bene) jauh lebih berselera daripada windutampan (desainer kover ledgard, hozzo, narend). [biggrin]
(tapi kok kayaknya lakuan ledgard yak? padahal jauh lebih muahal ???)

Kalo kritik utama sih, justru gw gak puas ama penyelesaian konflik (ttg sang amigdalus yang bisa dikalahin dios begitu aja tanpa greget) & endingnya yg terlalu happy (dan gombal :P ), quite cliche.

next review berarti cardan donk? wuah bakal rame nih, setelah sekian lama gak ada yang panas-panas :D

@ewing,
yap, beli aja bos, bagus tuh buat dipelajari anomali gaya bahasanya, gaya bahasa tak kasat mata ;D

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XI (12 Mei 2008 – 19 Mei 2008)

  • Model stereotip novel fantasi
  • Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh clickdian
  • Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh BloodSin

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on May 12, 2008, 12:47:30 am
________________________________________
@villam,
BTW ide ente buat novel fantasi terbaik tahunan asik juga, idealnya sih dikategoriin dua kelompok, fantasi indo & fantasi luar. ;)
Tapi payahnya ane selaku TS tret lebih intens beli fantasi2 lokal, fantasi luar mah jarang (tapi clickdian kayaknya sering ;D), lagian yg mau jadi juri siapa? Paling disini yg lumayan sering baca buku fantasi lokal secara rutin cuman ane ma om pur, masih kurang 1 mahkluk lg tuh buat bikin kelompok penjurian..
ada yg minat mendaptar?

@clickdian,
asik review-nya, sip dah. ;)
pertama ane suka namingnya, seperti biasa pengarang luar selalu punya nilai plus buat urusan naming.
kedua, buat idenya, sekilas kalo diliat dari gambaran ente, IMO sih yak masuk lajur klise ahh.. stereotip fantasi kan gak cuma seputar kisah heroik dunia peri-centaur-elf, tapi masuk juga yg model magic2an ala harpot (dengan spell2 yg kedengeran aneh n complicated, tentu)
Septimus masih berkutat di dunia per-magic-an (walo udah disamarin istilahnya jadi ‘magyc’ :D ), dan rasanya masih termasuk klise..
Tapi keklisean itu pun sama sekali bukan masalah, ane rasa cukup mustahil buat bikin fantasi yg idenya pure original buat hari gini mah.

Kalo diliat2 buat ukuran fantasi hari gini, keklisean itu bisa dikelompokkan jadi 6 stereoptipe IMHO:
-model fantasi epik petualangan
-model fantasi dunia sihir
-model fantasi kolosal
-model fantasi fabel
-model fantasi futuristik
-model fantasi RPN
ada tambahan? dan… yg mana tipe fantasi yg kita masing2 anut yak?
________________________________________
Post by: fr3d on May 14, 2008, 03:33:48 pm
________________________________________
Alow, salam kenal semuanya! ;D
Di sini banyak rekan2 yang novel fantasinya udah diterbitin ya? Wah2, ok deh! Siapa aja ya & karyanya apa?
Fiksi fantasi dalam negeri? Hmm… lebih sering baca luar negeri…
Yang pernah kubaca cuma yang keluaran tahun 2005/2006: ledgard, pinissi, phoenix, dan corruption. Yang setelah itu, blom pernah lagi deh. Kalau liat di toko buku sih pengen beli, tapi takut kecewa karena kebanyakan harganya cukup mahal kan… :-\
Tapi, aku seneng di negeri kita tercinta ini ;D, perkembangan fiksi fantasi udah ke arah jalan yang bener. Mudah2an makin banyak aja terbitannya dan makin berkualitas seiring berjalannya waktu. [bigwink]
________________________________________
Post by: BloodSin on May 16, 2008, 01:08:56 am
________________________________________
buat fr3d, welcome dude, udah baca 4 judul novel fantasi itu? gimana komen ente? puas tak sama fantasi2 karya penulis lokal itu? boleh donk gw minta review ente buat 4 novel itu :)
(wakakakak, baru nongol udah langsung gw palak nih orang ;D)
________________________________________
Post by: fr3d on May 16, 2008, 09:55:38 am
________________________________________
@rey (ini bloodsin kan ya?),
Empat novel fantasi lokal itu mengecewakan semua buat gw… (eh, gak ada para penulisnya kan ya? Kalo ada, maap, lho. Ini kan pendapat pribadi ;) )
Hmm… review ya… gak sanggup kayak om pur sampe ke masalah teknis deh… :D
Lagian udah rada-rada lupa juga sih. Jadi, komentar sebagai seorang pembaca aja ya. Seinget gw begini…

Ledgard
Kayaknya udah di-review banyak orang. Kecuali soal novel itu bagus banget, umumnya sih pendapat gw sama aja sama para reviewer itu, misalnya soal cover yang gak relevan sama isinya (meskipun bagus), tokoh antagonis yang muncul terlalu di akhir, dll. Kalaupun ada tambahan:
1. Sihir-sihirnya terlalu semaunya! Maksudnya, gak ada aturan jelasnya. Gw lupa kelompok apaan tuh yang dikunjungin para tokoh utama pas pertengahan cerita. Nah, kelompok itu (yang seolah-olah kumpulan para ahli sihir) kayaknya terlalu jago deh. Sama kaum ceweknya nash (siapa sih namanya? lupa juga!) kemampuannya juga hebat banget. Seharusnya dengan kemampuan yang mereka kuasai, mereka udah bisa menguasai seluruh dunia di ledgard tuh! Gak perlu takut sama serangan orang-orang asing. Gak masuk akal aja, apalagi sampe kewalahan pas perang terakhir…
2. Centaur yang cuma punya satu jenis kelamin? Awalnya sih menarik, tapi setelah ada penjelasan bagaimana cara reproduksinya… [rolleyes] Rasanya salah banget… Satu-satunya kaum yang sukses merebut hati ya memang cuma kaum felis itu.
3. Petanya! Aduh, bukannya membantu malah bikin puyeng… :o
4. Gambar karakternya oke dan keputusan untuk memasukkan list karakter di bagian awal itu juga oke! Karena jujur aja, waktu pertama kali ngeliat ledgard, gw tertarik beli karena liat list karakter itu. Jadi penasaran, kumpulan orang ini mengalami petualangan apa sih di dalam buku?
5. Gaya penulisan adegan/percakapan romance-nya juga terlalu… gak cocok :D . Kalimat-kalimatnya berasa sinetron/telenovela gitu.

Pinissi
Jujur dari keempat novel yg sudah gw baca itu, pinissi adalah yang idenya paling bagus 8). Tapi, cuma sampe ide itu aja, karena ternyata perwujudannya gak sesuai yang gw harapkan.
1. Boros kertas banget tuh novel. Ada banyak pembahasan/adegan yang diulang-ulang melulu penjelasannya. Kalau diulang sebagai penyebutan satu dua kalimat sih ok aja, tapi ini satu adegan penuh. Serasa di-copy-paste…
Banyak juga kalimat-kalimat yang kurang efektif dan terlalu berputar-putar. Jadi curiga, jangan-jangan sengaja biar halamannya banyak ya, trus harga jualnya jadi naik, lalu otomatis hasil royalti juga… (eh, bener kan ya analoginya begitu? ???)
2. Endingnya gak jelas. Apa tujuannya juga pembaca diajak muter-muter sepanjang buku kalau akhirnya cuma begitu aja?
3. Artwork-nya lumayan. Tapi knapa yang dipilih jadi cover malah yang itu? Padahal banyak gambar di dalam buku yang lebih bagus…
4. Penyelesaian permasalahannya terlalu di-simplified.

Phoenix
1. Selain telah mengundang seluruh makhluk jejadian lokal ke dalam buku itu (yang merupakan keputusan yang kurang bijak, berhubung setting-nya sendiri masih ngambil-ngambil dunia barat), penulisnya juga tampaknya kurang memahami konsep ruang dan waktu di dalam ceritanya sendiri.
2. Trus si phoenix (manusia) lahirnya dari phoenix (burung) beneran, bukan? Melanggar aturan biologi banget! Kecuali ada penjelasan yang memuaskan, tapi ternyata gak ada tuh… [yawn]
3. Ide jam burung yang burungnya bisa dipanggil keluar itu sebenernya bagus, tapi sayang ketutup sama hal-hal aneh laennya.
4. Yang paling parah adalah filosofi di akhir bukunya ternyata kontradiksi sama seluruh filosofi yang udah dibangun di sepanjang cerita! Walah…

Corruption
1. Mungkin karena diterbitin sama keluarga sendiri kali ya, jadi kayaknya buku itu gak di-edit editor sama sekali. Berasa banget itu cuma suatu proyek yang dibuat si penulis buat tugas sekolahnya. Ya itu dia, karena gak di-edit, akhirnya cuma cocok buat dikumpulin ke gurunya aja. [bigwink]
2. Dari segi tema, dunia rekaan, karakter, dan plot, sebenernya corruption punya potensi besar untuk jadi sebuah series yang bagus, tapi penulisnya butuh critic group. Butuh banget, om dan tante! Jangan dimanja gitu dong anaknya! [annoyed]
3. Udah nerbitin sendiri, harganya mahal banget lagi! Memang niatnya laris atau cuma iseng doang sih?! [tickedoff]
4. Covernya jelek. Dan tulisan judul “The Corruption” model begitu niatnya apaan lagi?

Urutan penilaian gw terhadap keempat novel itu:
(Terbaik) 1. Ledgard; 2. Pinissi; 3. Corruption; 4. Phoenix (Terburuk)

Hmm… pasti pada ngerasa kesel kali ya kenapa gw dari tadi kerjanya protes melulu aja? [rolleyes]
Maap ya, kalo para penulisnya baca. Sebenernya itu karena gw punya ekspektasi besar buat penulis-penulis fantasi lokal. Gw percaya, Indonesia mampu juga koq melahirkan penulis sekaliber Tolkien, Rowling, Dahl, Pullman, Goodkind, Jordan, bahkan Frank Herbert!
Trus mana juga peran editornya? Yang jadi editor itu selama ini baca buku fantasi atau enggak sih? [ranting]
Peran penerbit buat publikasi/promosi juga kurang banget. Tapi, ini mungkin juga karena penerbit menilai kualitas bukunya kurang kali ya, jadi gak terlalu niat. Nah tuh jadi balik lagi kan, kalau memang rasanya kurang, kenapa gak ditahan dulu penerbitannya? Jadinya si penulis disuruh perbaikin novelnya sampe jadi bagus. Sekali lagi, editornya gimana sih?!

Satu hal yang membuat gw bertanya-tanya, keempat novel itu kan disebut-sebut baru buku pertama tuh, lalu mana lanjutannya sampe sekarang? Apa karena kurang laku, trus penerbit gak bersedia nerbitin lagi? Kasian dong… Berarti penerbit juga udah mengkhianati pembaca yang mungkin udah jadi fans karya-karya itu (tapi gw gak termasuk, lho [biggrin]). Kalau bener, model penerbit gitu yang gak konsisten tuh!

Jadi, itulah, kawan-kawan, alasannya kenapa gw gak belanja fantasi lokal lagi, karena takut kecewa… :’(
Kesimpulan uneg-uneg panjang lebar ini:
“Ayo, semangat memajukan fiksi fantasi dalam negeri!!!” (Lho?! :o [rolleyes] ;D)
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on May 17, 2008, 12:01:38 am
________________________________________
@fr3d,
asik reviewnya, ternyata emang banyak yg mengeluhkan gaya dialog metropop dalam ledgard, kesannya pan tokoh2nya jadi kayak ‘bule celup’ gitu, wakakakak…
Kalo Pinissi, emang kurang ada gregetnya dan gaya berceritanya muter2, gw juga gak suka sama kovernya (padahal ilustrasi di dalam bukunya cakep2 banged), ironis emang. Tapi mungkin karena emang sasaran pembacanya anak kecil, gaya berceritanya jadi diulang2 gitu yak :D
Kalo Phoenix emang cukup banyak pembaca yg udah komen negatif dimana2, gw sih belom baca.. Penasaran juga sih segimana parahnya :D
Kalo corruption, penasaran nih gw, ada yg bilang bagus, ada yg kagak kayak ente..
Tapi mungkin dia mahal karena kualitas kertas HVS, dan lagi kualitas kover-nya bagus banged pan?
BTW jangan salah, sebetulnya ada juga lho fantasi2 penulis lokal yg dahsyat, cobain deh baca Goran, Sang Penandai, ato Hozzo, 3 novel lokal itu masuk kategori the best dari semua yg pernah gw baca. Lagian fantasi indo semenjak era Ledgard-Pinissi-Phoenix itu, udah gak tebel2 n mahal2 amat lg kok, sekarang mah kisarannya 30-40rban.. tapi yak emang masih pada bersekuel sih ;D
________________________________________
Post by: fr3d on May 17, 2008, 12:45:17 am
________________________________________
Corruption idenya gak jelek, beneran deh. Tapi, ya sayang itu, kurang digali aja. (sotoy mode: on)
Jadinya, kayak cuma laporin resep masak-memasak gitu (analogi yang aneh nih… ;D). Itu kisah cuma dilaporin aja. Bet, bet, bet, eh… tamat… Gak ada perasaan apa-apa setelah ngebaca itu…
Karena banyak yang muji (mengapresiasi penulisnya yang masih muda), mungkin itu yang jadi sebabnya juga kenapa penulisnya begitu pede menerbitkan karyanya begitu aja (tanpa mengedit ulang kedalaman plot, unsur greget, deskripsi setting, dll. –> kalau gak salah di wawancaranya, dia pernah bilang cuma perbaikin grammar dan nambahin beberapa adegan ke proyek sekolahnya itu).
Hozzo masih di atas 50rb, bukan? (Kalo kualitasnya ok, gak pa-pa sih, hege ;) )
Kalau Sang Penandai emang waktu itu pernah tertarik beli karena baca gaya bahasanya. Hmm… ntar deh gw liat lagi di toko buku. Kalau Goran, pas baca sinopsis di cover bagian belakangnya, rasanya agak aneh gitu sama ceritanya, jadinya waktu itu udah megang, langsung dipulangin lagi ke rak…
________________________________________
Post by: BloodSin on May 17, 2008, 06:38:42 pm
________________________________________
@fred,
sebetulnya balik ke masalah selera ente dulu sih, ane pan baru aja nyebut stereotipe2 fantasi di halaman belakang, selera fantasi ente cenderung ke tipe yg mana?
Kalo Hozzo, mendingan authornya aja dah yg ngomong, gw udah gak berkepentingan lg disini :D
Kalo sang Penandai, cukup mengingatkan The Alchemist-nya Paulo Coelho, cuman yak kalo tema alkemis lebih oriented ke ‘kehidupan’, penandai lebih ke urusan ‘broken heart’ gitu lha, tapi kedua novel ini sama2 membahas penemuan jati diri, dan Sang Penandai alih2 disebut novel spiritual, dia malah lebih condong ke fantasi epik adventure (dan ada kolosal2nya dikid).
Sinopsis belakang kover Goran emang berkesan cupu (gw juga waktu pertama kali baca langsung jatuh ilpil pun, bayangin masa ada Pasukan Jas Hujan segala ;D), tapi serius novel ini tertolong oleh penyajian setting yg ciamik, karakter2 yg hidup, dan jokes yg gilak, gw gak pernah bosen bilang ini: Goran novel fantasi indo terbaik dari semua yg pernah gw baca (udah belasan judul), mungkin mengikuti ide Villam, nih novel bakal kunobatkan jadi best fantasy 2008 di tret ini.. [biggrin]
(dengan harapan pengarangnya kepancing masuk ke tret inih :-[)
________________________________________
Post by: clickdian on May 18, 2008, 05:07:58 pm
________________________________________
Mas Pur, ini janjiku.
Maaf makan waktu lama..

First of all, I gotta tell you that I’m not a prologue lover. Kebanyakan prolog yang aq temuin di novel2 biasanya aq skip, kecuali prolog yang cukup pendek untuk dibaca dalam waktu 10 menit, itu pun skimming. T_T sorry if I dissapoint you, but that’s me. Dari semua novelku, yang ada prolognya cuma Segara Wulan, itu pun cuma terdiri dari 100 kata.

Jadi, dengan kebiasaan jelek di atas, to find a prologue which has two sequels (all three), to be honest, aq harus baca dua kali karena yang pertama aq loncatin terus. Dan setelah kubaca aq tetep penasaran kenapa gak dibuat bab 1-3 aja? Atau kalo kisah Pendekar Garuda mau dibuat prolog, sebetulnya bisa dibuat singkat padat aja, mungkin satu sampai tiga halaman. Bukankah prolog berfungsi sebagai pengantar atau pengenalan cerita sebelum pembaca masuk ke cerita tersebut?

Ada opsi lain untuk prolognya. Kasih judul di depan, ‘PROLOG’, baru di baliknya, ‘Bagian 1, Pakulangit’, lalu kemudian, ‘Bagian 2’, dst. Kalo kuinget-inget salah satu novel seri Samurai modelnya kyk begini, prolog panjang banget sampe sepertiga novel, terus sepertiganya baru isi cerita, dan sepertiga lain epilog (novel tipe begini bikin aq mau gak mau baca prolognya, kalo nggak isinya sampe tujuh turunan gak bakal aq ngerti).
Muncul pertanyaan, “Bo, terus apa bedanya konsep prolog yang lo bilang dengan dengan konsep prolog Pendekar Garuda (PG) yang sekarang?”
Lebih rapi dan enak diliat yang jelas, dan mengurangi jumlah orang iseng semodel aq dan Rey yang melontarkan pertanyaan gak penting, ‘Prolognya kok panjang banget sih?’

Ato gini deh.. skip aja prolognya. Cerita para pendekar itu bisa dimasukkan ke mimpi Jaka, sekalian biar jadi ‘proses pembelajaran’ jaka menjadi seorang pendekar, biar dia gak langsung bleg aja jadi jagoan. (>.< duh, aq malah kegatelan ngubah2 novel orang. Punten, punten).

Okeh, gini aja. Daripada mengundang debat kusir gak jelas soal ini, mending loncat ke topik berikutnya yang jauh lebih penting. Forget whatever it was named, gak usah pikirin bab2 awal itu disebut prolog ato ngga. Kita jalan ke masalah teknis aja deh kalo gitu. Oh iya, FYI, aq lebih suka bikin review per bagian, karena dengan begitu bisa lebih menyeluruh. Mudah2an gak keberatan.

Prolog 1
Dari awal baca bagian ini, aq jadi ngerasa kangen sama buku2 yang aq baca waktu kecil. Rada laen dengan selera cewek kebanyakan, aq dulu gak cuma baca Lima Sekawan dan Malory Towers aja, tapi juga komik2 silat (kayak serial Gina-nya Gerdi WK), cerita pewayangan (bikinan Kosasih itu lho) dan Wiro Sableng (gara2 taman bacaan deket rumah buku2nya udah abis kulalap dan akhirnya serial WS ini ikut kupinjem juga, hehe). Gak cuma sekedar suka, lama2 jadi sengaja nyari, dan sempet beli beberapa, terutama komik2 wayang :P

PG punya gaya penuturan yang mirip dengan cerita2 lawas itu. Dari penggunaan bahasa sampe isilah2 baheula, kerasa banget. Dan mengingat udah jarang penulis sekarang yang menulis dengan gaya ini, kukasih jempol deh. Segara Wulan, walopun settingnya sama, gak berhasil kubuat dengan gaya ini. Selain emang gak bisa, gak pengen juga, hehehe..

Cuman... ada beberapa hal yang masih ngeganjel, yang sebenernya bisa dipertimbangkan lagi (kalo mau).

Yang pertama, karakterisasi yang kurang kegali. Aq lumayan sering koar-koar soal ini di banyak review yang aq buat, termasuk Rey dan Villam pernah jadi korban, hihihi. Hege aman, karena dia emang oke untuk hal yang satu ini.

Contoh simpel, aq masih belum bisa ngebayangin dengan jelas wujud fisik Sentika dkk itu kyk gimana. Cuma bisa kebayang samar2. Satu lagi, sifat-sifat karakter itu lebih kena kalau digambarkan dalam bahasa tubuh dan cara bicara, lho, bukan deskripsi panjang lebar dalam kalimat.

Hal lain yang lumayan ngeganggu adalah masalah tanda baca. Please tell me why did you have to put comma, dot, question mark and shout mark, all four in a row? Dan kadang-kadang tidak hanya masing-masing satu, tapi banyak.
Ada maksud tertentukah?

Next, kalimat-kalimat yang muncul dalam benak si tokoh, bercampur dengan kalimat deskripsi biasa dalam alinea. Ini harus dibedakan karena memusingkan pembaca. Kalo aq, biasanya membuat ‘suara hati’ dengan huruf miring. Di prolog 1 ini banyak sekali deskripsi, kalau bisa sebar informasi2 ini dalam percakapan singkat padat aja, jgn ditumpuk di alinea.

Hal berikutnya, alinea yang terlalu padat. Ini maksudnya bukan cuma font huruf yang besar atau halaman novel yang terlalu kecil, tapi kalimat-kalimat yang seharusnya terbagi dalam dua bagian disatukan dalam satu alinea. Jujur, aq sering pusing dengan huruf-huruf yang terlalu rapat dan kalimat2 deskripsi yang ‘berat’, akibatnya banyak bagian yang terpaksa aq skip (btw, ini bahkan aq temuin di Laskar Pelangi, dan novel sekaliber itu pun terpaksa ngalemin aq skip hiks.. maaph Bang Andrea..).

Efeknya, banyak informasi yang terlewat dan aq harus balik lagi untuk lebih memahami jalan cerita. Wasting time walopun salah sendiri. Masalah skip-skipan ini sebenernya tanggung jawab penulis. Mestinya dia bisa pake penuturan yang mengikat pembaca untuk keep reading sampe ke akhir (ini teori yang implementasinya susah bukan main >.<).

Kemudian, masalah flashback Sentika. Di awal lamunan dijelasin si kakek udah dalam kondisi sekarat dan nafasnya tinggal satu2, tapi aq heran dia masih bisa bicara sebanyak itu. Kalau dibuat kalimatnya pendek2 dan terputus2, efek misi misterius akan muncul, lho. Dan karena si kakek cuman cerita sepotong, ini akan memancing keingintahuan, ‘emang sebenernya ada apa dgn si Utusan Iblis?’. Kalo pembaca udah keiket kayak gini, dia akan terus membaca bagian berikutnya ;)

Satu lagi. Bagian flashback ini seharusnya bisa dibuat mencekam. Tapi sori, ini aq gak dapet sama sekali. Coba sisipkan deskripsi setting dan bahasa tubuh di bagian ini, dijamin kalo tau caranya, hasilnya bakal beda banget. Walopun jujur, if i were you, i will cut banyak adegan flashback yang sebetulnya gak perlu diceritakan terlalu detil, apalagi kalo ada repetisi. Or, may be I would cut them all, sorry.

Terus terang di bagian flashback ini aq rada bingung. Terlalu panjang. Tapi kalo nggak ada, sejarah terbentuknya kelompok pendekar ini bakal kegusur. Sori, aq gak punya ide gimana cara bikin bagian ini jadi lebih menarik T_T. Mungkin trik lama—menyebar info via dialog bisa membantu?

Berikutnya, masalah point of view. Di prolog jelas ada banyak pov; para tokoh plus sudut pandang si penulis itu sendiri. Untuk masalah pov ini, Villam jauh lebih baik dari aq, better ask him (#Villam, could you gimme a hand on this one?).

Bagian sajak, Cahayanya menerangi seisi limbah, gak salah? Limbah artinya sampah, kotoran, hasil pembuangan dari suatu proses. Sori, aq gak paham makna kalimat ini, baik konotasi atau denotasi.

Last, adegan akhir prolog 1 kurang menggigit. Rasanya lebih smooth kalo mereka melihat paku langit, tercengang, lalu Sentika teringat pada lontar, dan kembali ke percakapan antar pendekar garuda.

Prolog 2
You need footnote untuk kata ageman. Makna kata ini jangan simpan di alinea, it broke my continuity of reading, to be honest.

Tentang Ki Sangeti, deskripsi sifatnya udah kerasa, tapi fisiknya buatku masih blur. Hampir semua tokoh di dalam prolog, kecuali tokoh2 wanita dan gambaran Widura yang tambun, masih belum jelas buatku. Sepele banget kan? Tapi toh berperan besar dalam imajinasi pembaca.

Alinea yang terlalu panjang, sampai setengah halaman, mestinya masih bisa dibagi-bagi. Dan masalah kasta... gimana ya? Sejak awal aq dapet asumsi kalau latar dunia Sentika itu Islam, tapi tiba2 unsur kasta muncul—which is gak dikenal di Islam—dan ini bikin cerita jadi gak match. Memang hal ini dilontarkan oleh Ki Sangeti yang agamanya wallahu alam apa, tapi mestinya mereka hidup di dalam lingkungan budaya yang sama, kan? Kecuali, kalau Sentika dan isterinya awalnya Hindu, misalnya, kemudian memeluk Islam. Kalau begini, masih wajar. Mereka berdua awalnya punya kasta, tapi terhapus setelah memeluk Islam.

Prolog 3
Oke, now the battle.
Jujur aq kurang puas sama adegan battle ini. Kayak baru setengah, atau mungkin permasalahannya di penuturannya? Misal, bagian Sentika memberi isyarat teman2nya untuk menggempur si ratu lelembut, lebih bagus dimasukkan sebagai adegan dan bukannya deskripsi di alinea, karena ini membuat adegan lebih hidup.

Kemudian, tempo pertempuran, sangat cepat. Untuk ukuran Sentika (yang katanya pendekar kelas wahid masa itu) dan Ki Sangeti (yang katanya tokoh hitam yang lumayan punya pamor), cuma butuh tiga alinea sebelum jurus pamungkas Sentika keluar? Ini pun satu alinea hanya deskripsi kondisi kedua belah pihak, bukan gambaran pertempuran mereka berdua. Dan maksud kalimat ‘Tak banyak yang dapat diingat lagi setelah itu’—diingat sama siapa? Sebenarnya ini sudut pandang siapa?

Satu lagi, ‘Yang masih tergambar jelas adalah adegan terakhir saat matinya Ki Sangeti di tangan Sentika’. Kata ‘adegan’ di dalam paragraf make it sounds like watching movie or something, seperti di luar kisah. Kalau aq, kalimat ini nggak perlu. Langsung aja ceritain bagian matinya Ki Sangeti, tidak perlu repot-repot buat kalimat pengumuman seperti ini.

Toya Batara Guru, yang ada di bayanganku pedangnya Anakin di Star Wars, betul kayak gitu? Oke, permasalahan yang sebenarnya buatku ada di bagian penjelasan panjang lebar tentang senjata ini.

Belok bentar ya, soal kebiasaanku baca atau nonton Naruto (don’t get me wrong, di dalam Naruto banyak ilmu yang bisa kuambil untuk menulis. Makanya aq lumayan intens ngikutin serial ini). Kubilang secara plot, karakterisasi, battle story, Naruto bagus. Tapi ada kebiasaan OOT di saat battle, dan itu ngeganggu. Misal pas Sasuke lagi tempur seru ngelawan Orochimaru dan Orochimaru tiba2 nyebut soal Itachi (kakaknya Sasuke), adegan tiba2 aja flashback ke bagian Itachi dan Sasuke belajar ngelempar shuriken, terus Sasuke digendong pulang, terus keadaan makan pagi di rumah Sasuke kecil, terus Itachi diciduk petugas keamanan setempat, terus satu klan keluarga Sasuke dibunuh Itachi, terus kehidupan Sasuke kecil yang jadi sebatang kara, barulah setelah itu adegan kembali ke Sasuke yang berdiri terengah-engah kelelahan menatap Orochimaru yang sedang merapal jurus pamungkas. T__T

Dan ini aq dapetin di Toya Batara Guru. Mungkin penjelasannya nggak perlu panjang lebar dengan ‘versi sejarah’, akan lebih mencekam kalau langsung aja dipraktekkan oleh Sentika yang menebas sebatang pohon yang tumbuh di dekat mereka. Kan keliatan tuh dahsyatnya si toya. Kalo gini kan tinggal disebut Ki Sangeti jadi rada jiper juga tuh ngeliat kesaktiannya.

And btw, tentang Sentika yang mencari Ki Sangeti yang asli (dari klonnya yang bejibun itu), terus terang aq pengen tau gmn caranya. Kalo di Naruto ilmu membelah diri ini ada, dan cara mencari yang asli juga diceritain gimana, jadinya cerita absurd itu sounds make sense. Bukan maksudnya bandingin, hanya saja kalau kesaktian Sentika ini diceritakan lebih detil akan .?lebih meyakinkan, dan pembaca lebih respek sama dia

Muncul pertanyaan: “Hei, ini kan fiksi fantasi, terserah dong mau tulis apa aja!”
Masalahnya, fiksi fantasi sebenarnya bukan melogiskan yang tidak logis, tapi membuat hal yang tidak logis jadi terasa logis. Jadi hal-hal yang tidak penting dan sepintas nggak perlu kayak detil di atas, tetap dibutuhin dalam pembuatan novel fikfan. Siapa bilang bikin novel fikfan itu gampang? Ngayal aja gak cukup T_T

Terakhir, ending prolog 3. Kurang crunchy. Rasanya kayak ‘This is the end and that’s it’. Sebenarnya ini justru bagian yang paling penting, karena harus menghubungkan pembaca dengan isi novel yang sepintas kuliat udah pindah waktu. Ikatlah pembaca di bagian ini, sehingga dia penasaran untuk pindah dari prolog ke isi. Bukannya gak bagus, cuma kurang greget.

Inilah kenapa kubilang masukin aja bagian2 Sentika ini langsung ke bagian Jaka. Bakal lebih menarik, pinter2 aja raciknya.

Isi
Wadoh, Sentika dkk ternyata cuma mimpi Jaka, toh?

Di bab satu ini sejak awal udah keliatan ‘pindah dunia’ dengan pengubahan cara bertutur dari yang ala Wiro Sableng ke teenlit. Kalo boleh share pengalaman, sebetulnya ‘menulis ala teenlit’ cukup di bagian dialognya saja. Narasinya tetap pake bahasa EYD. Karena aq liat jadi nggak konsisten, ada narasi yang ala teenlit, dan ada yang ala EYD.

Masalah kedua, ini jadi bikin aq pengen tau, sebenernya Pendekar Garuda ini target pasarnya siapa, ya? Pembaca teenlit, atau pembaca dewasa? Karena dua gaya penuturan dalam satu novel membuat rancu mengenai segmentasi pasar.

Oke balik ke review. Di sini masih banyak alinea2 yang terlalu panjang dan masih bisa dipotong supaya lebih singkat dengan maksud yang sama. Deskripsi karakter lebih bagus jangan ditumpuk di awal, kecuali terpaksa. aq liat masih bisa diselip2kan di tengah cerita.

Satu hal yang aq liat agak aneh. Aq pernah ngalemin beberapa kali berada di tengah tawuran, dan setauku cewek gak pernah ikutan tawuran, walaupun dia yang jadi penyebabnya. Cewek secara naluriah akan menyingkir, gak peduli siapa dia dan apa jabatannya. Jadi ngeliat Rani, Ratih dan Siska tetep ada di ‘medan pertempuran’, jujur aq heran. Kalaupun terpaksa harus ada di sana (seperti yang pernah aq alamin), cowok2 di sekitarnya nggak nantangin dia. Tapi ya sudahlah, pengalaman tiap orang bisa beda.

Kemudian, masih banyak kalimat2 yang tidak efektif, spt 'Topo dilarikan ke UKS (sambil berlari sendiri)'. Kalau dia bisa berlari sendiri, kenapa dilarikan? Gimana kalo kalimatnya, ‘Mereka berlari membawa Topo ke UKS, yang untungnya masih bisa menggunakan kakinya’?

Lalu huruf italic di tengah tanda petik-->apa bedanya dengan yg di luar tanda petik?

Soal ‘alam lain’ yang dimasuki Jaka cs saat bertarung dengan lelembut, masih belum jelas di bab ini. Tapi satu hal, fact bahwa mereka adalah keturunan Pendekar Garuda terlalu mudah terungkap. Lebih pas kalau mereka tahu hal ini setelah ketemu Sentika dan dijelaskan olehnya—ini dengan mengabaikan kebetulan2 yang ada ya, bahwa tiga dari lima keturunan Pendekar Garuda ada di lingkungan yang sama dan bahkan Kitab Lontar tahu2 ada di tangan ibu Jaka.

Oke, overall, sebetulnya ceritanya sudah mengalir, hanya masih perlu ramuan yang tepat untuk menyajikannya. Masalahnya di cara penuturan. Oh satu lagi, sepele banget tapi menghambat proses membaca, EYD dan tanda baca. Walaupun ini sebenarnya akan dibantu editor, nggak ada salahnya kita penulis tahu, kan? :)

Mudah2an bermanfaat, dan mengeluarkan omong kosong panjang lebar ini nggak berarti tulisanku sendiri sempurna.
Btw, gandrik itu siapa ya? :D

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 18, 2008, 06:25:46 pm
________________________________________
Thankyou, thankyou, thankyou (sambil membungkuk bersoja tiga kali)
Kumplit, dan thorough. Akan butuh waktu untuk menyimak (pelan-pelan) dan mempelajari saran-saran kamu serta membandingkan dengan part yg sedang dibicarakan. Tapi, wow. Sungguh beruntung saya bisa dapat masukan ini. terima kasih.

Dalam rangka prolog, saya mulai paham maksud Dian, walau memang tak mudah untuk begitu saja merubah apa yg sudah ditorehkan bertahun-tahun, yg udah kubaca (kuedit) berkali-kali. Tapi seriously gue pertimbangkan untuk merubah angle Prolog ini semaksimal mungkin, mengingat komentar senada cukup signifikan. Great challenge, sih, aku tahu (merinding, bisa gak ya?). BTW, sudah baca versi alternate dimana Prolog dan bab diselang-seling? bagaimana komentar Dian? (eh kalo belum gue kirim by PM dah, sekaligus yg lengkap sampai the End).

EYD? :-[ hehehe malu deh. Harus kuperbaiki lagi. Hayuuk!!

LIMBAH? Typo kali ye,… maksudnya pasti LEMBAH. Emang, sewaktu diketik ulang oleh beberapa siswa SMK, cukup banyak typo terjadi di banding versi hardcopy. Tapi bisa mendigitalisasinya aja gw dah bersyukur banget. Sampai sekarang saya masih menyisiri seteliti mungkin, tetep aja masih ketemu 1-2 typo atau hilang kata.

Hmm,… Siska jelas akan berada di sana, sebab dialah Ketua geng keamanan, dan dia akan dengan senang hati berkelahi dengan siapapun yang menantangnya.
Rani, memang sifatnya berangasan dan gelap mata,… hehehe.
Ratih, kalo dia memang jauh lebih suka menyingkir,… cuma gimana dia lari kalau dua sahabatnya terlibat di sana?

Kenapa seperti kebetulan? Mestinya sih semuanya terungkap di akhir cerita. He he he,.. tapi point kamu clear. Mana ada yg bakal sampai ke akhir cerita kalau di bagian awalnya aja udah ngga engaging?
OK, time to rework.
Terima kasih Suci Dian telah berkenan memberi beberapa petunjuk kepada Teecu.
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: BloodSin on May 19, 2008, 02:43:31 pm
________________________________________
@om pur.
Akhirnya beres juga ane baca PG full version pagi ini.. hehehe semalem begadang gak sanggup beresin :-[
Oke, ane gak bakal ngomongin masalah prolog, bilangan 666, dan gaya bahasa lagi dah. Kita concern ke hal2 yg belom dibahas aja yak (bahasan yg di review ane sebelomnya, tentu).
Dan tentu karena ini review, bakal ada bbrp poin yg jadi SPOILER.. so bagi pembaca lain, skip aja tambahan review ini kalo ada yg belom beres baca PG dan ada niat ngelanjutin baca.

1. Masalah tanda baca
Khusus yg ini ada dua macam yg mau ane komen:
*)Pengulangan tanda baca
Seperti yg pernah dibilang clikdian entah di mana, misal untuk kalimat pertanyaan, mau pake tanda tanya sekali (contoh: apa?) atau tiga kali (contoh: apa???), maknanya bakal sama aja. Kalo ente ingin menggambarkan betapa terkejut atau penasarannya si tokoh yg bertanya itu, kurasa akan lebih bagus kalo dibikin dia mengajukan pertanyaan beruntun/repetitif aja. (contoh: Apa? Kau yakin?)
Ini juga berlaku buat kalimat perintah/seruan (!).
**)overdosis tanda baca
“Eh,… makasih ya Bun,…”
PLAAAAAAAKK,…!!!
Jangan pernah bikin kalimat dengan dua/lebih tanda baca sekaligus kayak begini>_<
Yang paling sering itu orang bikin kalimat berakhiran ‘?!’ untuk pertanyaan dalam keadaan emosi tertentu, dan yg satu itu masih bisa diwajarkan karena emang udah jamak dipake.
Tapi untuk variasi-variasi dua/lebih penggunaan tanda baca dalam PG, kurasa itu cukup nyeleneh, at least clickdian juga protes beginian, heheheh.

2. Ketidakkonsistenan kata panggil
“Gue mau tidur dulu sekarang. Eh kamu mau keluar kan? Aku boleh pesen beli sesuatu ke elu gak?”
Kalimat di atas gak ada di PG, tapi ada bbrp kalimat semacam itu di PG, banyak malah, heheheh..
Orang yg mengatasnamakan dirinya ‘Gue’, idealnya manggil temennya ‘lu’, dan orang yg mengatasnamakan dirinya ‘aku’, idealnya nyebut temennya ‘kamu/kau’. Jangan diputer2 yak, kurasa akhirnya ketemu juga letak kejanggalan gaya bahasa anak jakarta di setting Jaka, ya itulah menurutku :D
terus ada juga yg dikali pertama seorang tokoh pake ‘aku’, di lain kalimat pake ‘gw’.. ada juga yg nyebut ‘elo’, di lain kesempatan pake ‘kamu’, padahal masih ditujukan ke orang yg sama.. menurutku ketidakkonsistenan gw-elu-aku-kamu ini bakal cukup mengganggu pembaca.

3. Scene cutting
Kayaknya kita menganut aliran yg berbeda nih om, heheheh.. Kalo yg gw liat di PG, setiap scene2 peristiwa ‘seru’ yg berhubungan pasti terus dirangkai jadi satu kesatuan, sambung menyambung sampe pembaca terpuaskan pada satu titik jawaban. hmm.. sebetulnya ini prerogatif pengarang sih, tapi menurutku betapa asiknya kalo kita sebagai penulis, bisa ‘menyiksa’ pembaca dengan menyisipkan scene2 lain yg tidak ada hubungannya sama sekali dengan bahasan scene ‘seru’ sebelomnya. Jadi scene-nya dipotong2 ala genre suspense/thriller gitu lho. Kan asik aja bisa bikin pembaca gregetan, hehehehe
Tapi emang pilihan teknik memotong cerita ini gak gitu vital2 amat sih, cuman yak bagi pembaca yg udah terbiasa baca novel2 Dan Brown, pasti bakal ngerasa agak gimanaaa gitu sama gaya penceritaan yg ‘lempeng’ kayak begini..

5. Pemilihan kata
Mahisa Ganurawang segera melompat tinggi, dan dengan keren ia melayang bagaikan terbang menuju ke arah gelaran pasukan kerajaan lelembut.
‘Keren’-nya itu lho!
Entah di dialog, deskripsi, atau narasi, suka muncul kata2 ‘ajaib’ semacam itu. Dan ada juga beberapa judul bab nyeleneh semacam ‘Naik Kereta Api Tut Tut Tut’, ‘T.O.P. B.G.T’, dan beberapa lainnya yg ngebikin gimanaaa gitu.
Tidak begitu vital sih untuk keseluruhan bangunan cerita, tapi cukup mempengaruhi konsistensi bahasa dalam novel ini.
oke, cukuplah masalah teknik penulisan/EYD/tanda bacanya, hehehehe..

6. Sekarang kita masuk ke plot,
-)Plot bikinan ente mengingatkan ane ke plot Naruto, terutama pas konflik Penyerbuan Orochimaru ke Desa Konoha. Dan sejujurnya, walopun gw kagak berselera sama sekali sama settingnya, dan cukup tersiksa malah sama gaya teenlit-nya di awal-awal, hueheheh (ini subjektif sekali, tentu), akhirnya gw mesti mengakui, plot yg ente bikin cukup asik (dan kurasa, ‘keasyikan’ novel ini lebih cocok ditargetkan ke anak smp-sma). Terus terang setelah melewati gaya bahasa teenlit yg ‘parah’ di bab2 awal, gw mulai bisa mengikuti aliran ceritanya, dan bahkan sampe pada tahap menikmati karena ‘terikat’ pada plotnya. Yah karena itu tadi, mungkin karena sedikit banyak genre PG ini mirip2 genre Naruto, salah satu judul anime favorit ane.. :-[

sedikit OOT:
hehehe, gak usah malu sama umur om (istri dan anak pula ;D), tapi ane (dan ane percaya clickdian juga) mau suggest: ente coba simak anime/manga Naruto deh, serius, untuk genre silat yg ente usung ini, banyak ilmu yg bisa dipetik dari Naruto. Mumpung besok libur panjang… buruan cari dvd-nya di glodok gih! ;D
BTW, sedikit intepretasi iseng antara PG dengan Naruto:
(sengaja ngebandingin pake moyangnya biar gak spoiler)
Sentika – Sasuke/Naruto
Widura – Akimichi Chouji
Rangga – Hyugaa Neji
Anggraini – Tenten
Pramesti – Sakura
Ki Sangeti – Orochimaru banged (kepala copot-nya itu lho! :D )
Robbi – Garra
Okee, okee, cukup OOT-nya, lanjut ke PG. :P

-)Ane berharap, ada penjelasan logis kenapa kelima keturunan Pendekar Garuda itu bisa tinggal dalam satu lingkungan yang sama (SMA Raya). Selang setting Jaka – Sentika itu 600 tahunan, betapa mestinya keturunan kelima pendekar itu udah terpencar2 IMO sih.
-)Tokoh abu2 juga sebetulnya gw harapkan muncul dalam cerita, entah dia itu adalah tokoh penjilat licik yg kadang ada di pihak putih atau hitam, atau malah netral. Dan lebih seru lagi kalo ente bikin tokoh abu2 itu ada di setting jaman Sentika, dan muncul keturunannya juga.
-)Tokoh Johannes Domingus Pasaribu yang NOTABENE berdarah Batak, gimana urusannya bisa nyambung ke silsilah Rangga yang orang Jawa? Tentu kalo yg dipake konsep titisan, hal ini gak bakalan jadi masalah.
(BTW, yg bikin ane tertarik (dan cukup menikmati) untuk terus lanjut baca Pendekar Garuda adalah aroma ‘detektip2an’–memprediksi siapa gerangan yg jadi keturunan tokoh2 masa lampau itu–itu bagus, walaupun sebetulnya semua tokoh bisa dengan gampang ane tebak keturunan2nya dari siapa aja, kecuali si Jo gara2 atribut bataknya ;D)
BTW, orang gak tidur selama seminggu aja dijamin koit om, 1000 jam? Yeah, walopun Jo keturunan pendekar sakti, at least ente jabarin fact itu supaya reasonable bagi pembaca.. Misal hal ini terungkap waktu si Jo (entah gimana caranya) kebetulan baca artikel dari internet yg nyebut daya tahan orang begadang sewajarnya adalah cuma beberapa hari, dan betapa ia tidak mengerti menemukan dirinya sanggup begadang jauh lebih lama dari yg sewajarnya: Kok gw bisa gak matik, dan masih seger sampe sekarang?
-) Kebalikan dari komen Clickdian, menurutku adegan2 battle di PG malah kepanjangan, terlalu detil (gileee bener adegan battle final-nya: dari Bun Vs Monster ijo, disambung Robby Vs Jo, Ratih Vs Ki Sangeti, terus yg paling panjang, Kelima pendekar garuda vs Ki Sangeti-Suromenjani-Utusan Iblis. What a long journey! :D )
Tapi emang sebetulnya ini wajar juga sih, secara tipe fantasi yg diusung silat.
-) Suka OOT
Ada penjelasan ttg bahaya merokok, masyallah, keluar banged itu dari bangunan plot! Mendingan dicut aja IMO sih. Terus masa abis Jo nyikat Robbi, malah ngomongin tawuran?

OKeh.. i’ve finished for all of these inputs & critics, now lets talk about the positives. (yg ente tunggu2 nih ;D)
-)Sekali lagi, bangunan plotnya emang cukup kuat. Gw jadi ngerti kenapa ente mencak2 banged nanggepin plot Hozzo, hueheheheh. Perencanaan plot emang cukup matang, walaupun sebetulnya ini mengakibatkan beberapa adegan di depan jadi cukup mudah ketebak.
-)Begitupun karakterisasinya. Yahh, cukuplah. Jaka yang kadang bijak kadang dongo (ini istilah dari Rani, hahah gw suka!), Rani yang ceplas-ceplos dan beringas, Jo yang berandal tapi cool, Ratih yang lemah lembut dan cerdik, Bun yang kalem dan humoris (walo humor2nya cenderung garing bagiku): kelima tokoh itu emang udah keliatan perbedaan dasar sifat2nya. Cool, & good job.
-)DAN walaupun disini gw dapet kesan betapa Jaka begitu naif dan tolol (gampang banged dirayu Prasti), gw salut ente bisa menciptakan karakter2 yang ‘manusiawi’, maksudnya jauh dari titel sempurna gitu (Tapi ini cuma berlaku untuk keturunan2 kelima PG itu–Sentika malah keliatan too perfect). Gw selalu eneg baca novel dengan tokoh protagonis yang terlampau sempurna, untungnya PG gak ikut2an pakem itu.
-)Muncul juga tokoh2 baru semacam Mahisa Ganurawang untuk mengecoh pembaca memprediksi keturunan Rangga, dan Gagak Prabaketu untuk menjadi penolong pihak putih secara tak terduga-duga, itu bagus.
-Namingnya (baik untuk tokoh2, jurus2, tempat2), walaupun bukan selera gw, patut gw acungi dua jempol. Emang pas banged sama bangunan Setting Jawa Kuno-nya.
-)Adegan cinta monyet Siska-Jo, Tongpes-Olga, dan percekcokan geng Seksi Keamanan terhadap Olga juga lumayan asik diikuti.
-)Walaupun gw dapet kesan over-dramatis, adegan-adegan emosional kayak: Prasti ngecelein Jaka, Jaka ngusir Ratih, Olga ngusir Jo, persidangan Jo, cukup membangun aspek emosi pembaca dalam novel ini. Good job.
-)Beberapa Ide & Background, seperti teknik Mawar Kematian & Dewi Kebajikan itu boleh juga, cool. Ide Formasi Garuda-nya juga keren. Terus bagian di mana Bun menghadapi monster yang sengaja dirancang untuk menangkal kemampuan dirinya, dan betapa Rani kemudian dapat membinasakannya dengan mudah, itu juga keren. I like it.
-)Walaupun awal2 PG pake background Islam, gw menemukan content PG ini cukup universal, layak dibaca semua umat lha. Ada tokoh Johannes Pasaribu yang notabene Kristen, dan gimana ente dengan kocaknya mengungkapkan itu pas keadaan genting di mana kelima PG ingin mencoba merapal ayat Quran untuk mencegah Utusan Iblis turun ke bumi, itu menarik.
Dan tentu, gw seneng di sini ente kagak terjebak ego pengarang2 fanatik geblek dengan tidak mengkonvert agama yang dianut Jo di akhir cerita. Sip dah. Salut berat dari seorang pembaca Nasrani!

n.b:
OOT dikid, eh kalo ane liat2 keknya ente cukup tahu istilah2 perkempingan, sleeping bag, parafin, tenda peleton.. kurasa cuman orang yg pernah kemping aja yg tauk istilah2 itu, huheheheh.. emang ente pernah kemping dmn aja?
Desember 2007 kmrn ane kemping di kandang badak, tapi gak nyampe puncak gunung gede gara2 tepar duluan, kena ujan, becek, gada ojek… :-[

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi X (18 Apr 2008 – 11 Mei 2008

  • Heart of Desperado karya BloodSin
  • Tentang Para Penunggang Petir
  • Lagi, tentang novel fantasi lokal dan peran editor
  • Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh BloodSin
  • Review Septimus Heap: Flyte oleh clickdian

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: BloodSin on April 18, 2008, 02:23:57 pm
________________________________________
Heart of Desperado: Prolog

Siang itu, sewaktu matahari mengintip dari awan tebal di langit barat El Banderas, orang-orang berkuda hitam menuruni bukit di sebelah utara desaku. Mereka memacu tunggangannya sambil mengacung-acungkan Colt hitam yang digenggam tangan kanan mereka, menarik pelatuk dan meletuskan tembakan berulangkali ke udara.

Selama sesaat aku mengira iring-iringan ribut itu adalah Cicero bersaudara yang baru pulang dari perantauan—mereka memang eksentrik dan biang ribut—yang ingin mengejutkan kampungnya seolah tengah diserbu penjarah-penjarah dari gurun Sierra Nevada.

Tapi aku segera menyadari kekeliruanku: para pendatang ini mengenakan segala sesuatunya serba hitam, tidak seperti Cicero bersaudara yang selalu berpenampilan mencolok dan agak norak. Mereka bukanlah orang-orang dari desa kami, El Banderas, yang memiliki sepuluh keluarga petani dan limapuluh hewan ternak yang digembalakan di balik bukit selatan El Banderas.

Mereka adalah iring-iringan asing yang menunggangi sepuluh kuda hitam, bercadar hitam, dan ber hitam-hitam. Aku dan Piedro tidak mengenali mereka.

Aku terhenyak tatkala iring-iringan sepuluh orang itu melompati pagar kawat berduri yang menghalangi jalur mereka dengan lentingan sempurna; menerjang jalanan utama desa dengan penampilan dan sikap yang mengintimidasi. Detik berikutnya aku melihat gigil gelisah dari bibir Piedro yang mengintip di sampingku; ia menggumamkan sesuatu, tapi perhatianku teralih pada pemandangan yang ada di luar istal kuda, tempat kami membenamkan diri dalam ilalang kering.

Aku menyadari bahwa mereka seutuhnya adalah para perompak yang menyerbu desa kami, sewaktu pemimpin mereka meletuskan tembakan ke dada Eduardo tua yang malang. Para lelaki desa kami melakukan perlawanan dengan mengambil revolver-revolver berkarat yang sudah bertahun-tahun tak digunakan, bersembunyi untuk membidik para penyerbu dari balik drum-drum anggur di gudang suatu bar kumuh.

Tapi iring-iringan itu bergerak lebih cepat dari mata, lebih lihai dari tembakan, dan lebih tajam dari bidikan. Para pelawan dari desa kami tak pernah dapat menumbangkan bahkan hanya seorang dalam iring-iringan itu. Peluru-peluru selalu meleset seperti ditiup setan yang bersekutu dengan mereka.

Tampaknya mereka bukan perompak sembarangan.

“Mereka adalah Las Mephisto,” Piedro mendesis gentar dekat telingaku. “Perompak legendaris yang tak bisa mati oleh peluru,”
………………………………..
………………………………..

http://kemudian.com/node/117151

________________________________________
Post by: BloodSin on April 28, 2008, 12:54:10 pm
________________________________________
@om pur,
poin pertama (yg ini murni cuman cuap2 selera pribadi gw aja–boleh langsung di-skip masuk poin kedua kok, heheheh), gw kagak demen novel fantasi anak2 ‘tertentu’.
makanya dari hexalogi(eh apa oktalogi yak?) chronicle of narnia, gw cuman tamat baca buku pertamanya doank (padahal dulu gw dipinjemin komplit semua seri-nya ma temen lho). ini berlaku juga buat harpot–buku satunya bahkan tak tamat kubaca pun>_<
tak peduli mau dalam bentuk buku/film, ane kurang excited sama narnia/harpot/golden compass, somehow. (padahal waktu jaman sd-smp dulu ane freak sama seri goosebump n bahkan langganan majalah bobo jg lho!(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif))
umur memang menentukan selera bacaan.
tapi emang ada juga sih fantasi anak2 tertentu laennya yg gw demen, kayak bridge to terabhytia & hozzo contohnya. yg ini gw gak tau knp, barangkali ada faktor x tertentu dalam cerita yg bersinggungan sama selera gw, makanya gw bisa takluk(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)

kedua, yg namanya novel fantasi kudu bisa berdiri sendiri lha, masa harus pake template novel2 tertentu.. kalo iya begitu, cupu amat >_<
kalo masih terinspirasi, masih amat wajar.
tapi kalo udah ter’asosiasi’ sama novel dari pengarang laen(bener gak gini istilahnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)), bakal jadi kecacatan kalo bagi gw sih.
Kasusnya untuk novel Penunggang Petir, gimana nasib pembacanya kalo gak pernah baca/nonton/tahu cerita narnia?

ketiga, emang yg namanya ‘kerjaan’ editor buat novel2 fantasi lokal tertentu dari bbrp yg pernah gw baca, suka bikin gw gregetan.
Gak usah musingin sampe tahap isi & logika dalam cerita dah, untuk urusan EYD, tanda baca, struktur kalimat baku, & ‘ketelitian mata’ aja masih sering kebablasan tuh. suer, ini pengalaman gw untuk belasan fantasi lokal yg pernah gw lumat sampe tamat(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)
Tapi emang mau gak mau gw mesti bisa memaklumi, biar gimanapun, novel lokal bergenre fantasi belum terlalu lama (& banyak) muncul di indo, jadi gw rasa sebetulnya mereka adalah editor2 fantasi dadakan–yg sebelumnya terbiasa dengan naskah2 teenlit/chicklit yg bertendensi menggunakan gaya bahasa tak baku & ber-plot tak serumit fantasi.
yaahh.. begitulah kira2 yg terjadi IMO.

note:
eh gw ngomong begini bukannya mau ngejepret penulis & editor teenlit/chicklit sini lho…jangan sampe salah paham yak, demi sejuta jemuran kolor.
*ngikutin gaya ngomong si hegenyet(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)*
Tapi ini kenyataan: umumnya, orang yg telah terbiasa berkecimpung dalam dunia teenlit gak bakal pernah bisa memahami dunia fantasi seutuhnya, dan begitupun sebaliknya.
dan gw selalu suka pake analogi ini: orang yg udah terbiasa & demen musik dangdut sampe mengakar di otaknya gak bakalan bisa memahami sepenuhnya konsep musik jazz, dan begitupun sebaliknya…kecuali mungkin kalo musikalitas orang itu tinggi banged & emang fleksibel (si orakarik pernah gw jelasin panjang lebar beginian(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif))

jadi… sekedar masukan dari gw (seorang penulis fantasi mahacupu gak tauk diri yg sotoy akut dan doyan mencela karya orang(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)), ditujukan buat penerbit2 yg ada niat nerbitin naskah fantasi: rekrutlah editor2 yg berkapasitas menguasai betul tata bahasa & EYD indonesia (secara naskah bergenre fantasi umumnya menggunakan bahasa baku) dan benar2 berwawasan sebagaimana sejatinya editor fantasi–maksudnya, minimal familiar sama berbagai mitologi & literatur fantasi dunia lha (secara mayoritas naskah fantasi indo bertendensi mengambil setting luar).
Segitu aja sih, cuap2 TS thread inih di hari senen yg suntuk & membosankan, yg barangkali malah menambah suntuk pikiran semua yg baca tulisan ini skrg.. hehehe :D
Salam Dangdut,
Rey L

[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on April 29, 2008, 12:07:44 pm
________________________________________
Quote
kedua, yg namanya novel fantasi kudu bisa berdiri sendiri lha, masa harus pake template novel2 tertentu.. kalo iya begitu, cupu amat >_<
kalo masih terinspirasi, masih amat wajar.
tapi kalo udah ter’asosiasi’ sama novel dari pengarang laen(bener gak gini istilahnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)), bakal jadi kecacatan kalo bagi gw sih.
Kasusnya untuk novel Penunggang Petir, gimana nasib pembacanya kalo gak pernah baca/nonton/tahu cerita narnia?
Memang, itulah kelemahan apabila pengarang kurang mengestablish universe secara komplit. Kalo ‘males’ bikin universe yg lengkap, jatuh-jatuhnya jadi mirip Fan-Fic.

Quote
Tapi emang mau gak mau gw mesti bisa memaklumi, biar gimanapun, novel lokal bergenre fantasi belum terlalu lama (& banyak) muncul di indo, jadi gw rasa sebetulnya mereka adalah editor2 fantasi dadakan–yg sebelumnya terbiasa dengan naskah2 teenlit/chicklit yg bertendensi menggunakan gaya bahasa tak baku & ber-plot tak serumit fantasi.

Bisa setuju dengan sinyalemen lo, bro. Tapi kalo menurut gue sih, perhatian terhadap ‘universe’ harusnya merupakan sesuatu yang sudah standar ada dalam pemikiran seorang editor. Biarpun ‘hanya’ untuk cerita Chiklit sekalipun, sebuah dunia rekaan yang lengkap dan masuk akal seyogyanya tetap menjadi perhatian.
Makanya yg gue sorot mungkin bukan sekadar ilmunya. Tapi ‘attention’ terhadap kebutuhan pengarang. Kalo editornya gak menguasai medan cerita, dia kan masih bisa belajar. Tapi kalo editornya gak peka terhadap kebutuhan pengarang, dia dapat ‘menjerumuskan’ pengarang sebab yg punya otoritas ke hasil akhir adalah sang editor.

Tapi emang menurut gue sih, terkait kompleksitasnya, nggak pernah ada salahnya bila editor/ pengarang mau menshare tulisannya (terutama sehubungan dengan pembangunan universe cerita) ke dalam suatu forum diskusi para antusias. Soalnya universe itu memang harus berkali-kali mengalami pengujian dan perbaikan, sampai bener-bener didapatkan universe yang solid dan kokoh sebagai fondasi dimana cerita akan dihidupkan.

Kalo ‘dibenturkan’ pada komunitas, kan nantinya akan ada kritik dan perbaikan. Soalnya kepala banyak orang kan beda-beda, masing-masing bisa memberikan wawasan fresh yang bisa melengkapi pembentukan suatu universe.
Itu sebabnya gue juga bikin milis buat ngediskusiin universe cerita yg gue bikin. Hanya sayangnya gak terlalu banyak diskusi di situ,… heheheh,….
Salam,
FA PUrawan

________________________________________
Post by: BloodSin on May 01, 2008, 12:27:06 pm
________________________________________
@om pur lagih,
(belakangan ini gw lg demen posting panjang gak kira2 buat musingin orang yg buka tret ini ;D)
Quote
Itu sebabnya gue juga bikin milis buat ngediskusiin universe cerita yg gue bikin. Hanya sayangnya gak terlalu banyak diskusi di situ,… heheheh,….
sebetulnya ane udah join milis enthe dari lama, email kukumerah_id (dulu gara2 penasaran setengah koid pengen tahu mahakarya penulis yg berani mencela Hozzo abis2an, hehehehe ;D), cuman yak senasip sama si hege, selera ane kebentur sama selera ente yg ibarat langit dan bumi ;D
but at least let me tell you panjang x lebar apa yg ngebikinku tak kuasa bacak sampe abis, rasanya tak adil juga kalau ane yg udah ‘minta’ novel ente gak ‘bayar’ apa2, heheheh :D
(eniwei serius ini penilaian yg subjektif banged, karena emang udah masuk urusan selera pribadi sih, jadi kalo terasa nyelekit harusnya gak jadi pikiran kan?)

pertama, prolognya kepanjangan–terlampau panjang (pake prolog i-iii pulak) T_T
kedua, salah satu faktor yg ngebikin ane lebih prefer baca novel bergenre horor/thriller/fantasi dibanding teenlit/chicklit, adalah gaya bahasa dialognya. Ane entah kenapa kurang bisa tahan sama gaya bahasa anak jakarte, tapi sebetulnya ini gak gitu masalah juga kalo emang dalam gaya bahasa itu betul2 mengandung selera humor yg bisa mengocok perut ane (novel Jomblo-nya aditya mulya sukses bikin ane ngakak gilak n baca tiada henti)

tapi di luar itu, gaya bahasa dialog anak jakarte dalam Pendekar Garuda tetap terasa gimanaaa gitu, kayak kurang natural. tapi yg satu ini mungkin karena novel ente ditulis taun 90an, makanya waktu dibaca ane taon skrg, jadi ada sedikit pergeseran gaya dialog, heheheh, bukan salah ente juga sih.

Terus rasanya (sekali lagi, ‘rasanya’–ini murni perasaan ane doank lho :P ) ada inkonsistensi gaya bahasa antara setting dunia Sentika & dunia Jakarte si Jaka. Kalau sebelumnya pas prolog adegan Sentika pake gaya bahasa yg aduhai, agak nyastra, dan cenderung bermetafora (istilahnya, ‘bahasa rapih’ gitu lha), ehh pas masuk dunia jakarte langsung berubah drastis ke bahasa Teenlit, baik dari segi bahasa deskripsi, narasi, sampe dialognya. (yg dua pertama gak terlalu teenlit sih, malah cenderung berbahasa baku–tp bbrp segmen digambarkan secara ‘teenlit’ nian, dan itu bener2 ngebikin gw terlempar keluar dari bangunan plot)

Gw tauk kok maksud ente gimana, biar terkesan lebih natural kan? Gak mungkin banged donk gaya bahasa dialog si jaka sama kayak gaya dialog Sentika, heheheh.. Tapi sebagai pembaca, gw mau pengarang setidaknya menunjukkan daya upaya untuk menjadikan keseluruhan universe novelnya selaras & tampak konsisten, daripada ‘berpasrah’ mendeskripsikan dua universe yg emang bener2 berbeda itu secara kontras.
(btw sebagai penulis, konsistensi gaya bahasa gw sendiri acakadul nian, Villam know it well :P )
ambil contoh novel goran yg menyajikan 3 dunia, tapi gw ngerasa gaya bahasanya konsisten, dan ajaibnya seperti yg udah ente sebut dalam review ente, pembangunan setting ketiga dunianya cukup believable.

menurutku gaya bahasa dialog Jaka masih boleh pake teenlit-style, tapi deskripsi & narasi yg sebelomnya terkesan rapi banged, jangan ikut2an jadi teenlit donk.. at least kalo tak dimungkinkan pake gaya bahasa yg rapih itu, tampilkan saja bahasa baku yg lugas. Paragraf2 awal bab satu udah good di mataku, masih acceptable, tapi makin ke dalem cenderung ber-teenlit ria–apalagi kalo udah narasi ttg ‘kekonyolan’ anak2 sma seputar si jaka.. dan sebetulnya itu yg ngebuatku merasa kurang nyaman untuk terus ngelahap tulisan ente.

Terus kalo ane boleh memberi sedikit pendapat lain ttg idenya (yg tentunya sotoy akut padahal gak tahu apa2–seperti biasa bukan gw namanya kalo gak sotoy :D ),
rasanya ide ‘titisan’ (reinkarnasi) tak cocok dengan ajaran Islam yg menjadi background Pendekar Garuda, karena setahu ane kayaknya ajaran agama2 rumpun abraham tak mempercayai konsep reinkarnasi. Jadi yak, disitu agak2 terasa tidak konsisten dgn background Islam-nya IMO, heheheh
tapi sebetulnya ane juga rada bingung membedakan arti titisan sama reinkarnasi, sama tak? kalo beda, berarti pendapat di atas totally absurd(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif)
dan kalo tak salah ada nyebut angka ’666′ juga yak? kayaknya setahu ane angka ’666′ itu origin literaturnya dari alkitab, disebut sebagai bilangan anak manusia.. nah kan lagi2 kepentok sama background Islam-nya..
tapi (lagi2 oh lagi2) secara ane bukan Muslim, sebetulnya ane juga kurang yakin, apakah Al-Quran ada nyebutin bilangan 666 itu juga? kalo di dalam Quran juga ada, berarti pendapat ane di atas sekali lagi absurd (makan tempe pake sayur lodeh, capeee deh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif))

terus waktu jaka beraksi dengan mengeluarkan jurus kanuragannya pas diserbu anak2 stm, rasanya kok tiba2 banged, cuman bermodalkan mimpi berulang2 sbg seorang pendekar tangguh & titel ‘titisan’ itu, ujug2 dia digambarin berubah menjadi tokoh yg ‘sakti mandraguna’ dalam tawuran itu (bisa mecahin batu :D ), dari sebelumnya anak sma biasa. kalau menurut gw, biar kesannya lebih natural & believable, ada baiknya diceritakan dulu tahap2an sepele di mana jaka perlahan menggali bakatnya yg terpendam.. mungkin dari hal2 kecil kayak di sekolah dia sering mecahin kapur pas nulis di papan tanpa sebab (ceritanya pan gara2 luapan energi kanuragannya itu, heheheh), ato hal2 sepele laennya, sampe akhirnya, adegan tawuran itu jadi klimaks di mana dia bisa menunjukkan bakatnya secara utuh.

ambil contoh lagi novel goran, heheheh… pas aniki pelan2 menguasai bakatnya, pertama kan dia suka ga sengaja ledakin benda2, sampe akhirnya bakatnya itu bisa dikuasai sepenuhnya, ato pernah nonton kungfu hustle? disitu tokoh utamanya nemuin bakatnya pas akhir2 cerita sih, sebelomnya dia malah digambarin cupu banged, namun di balik kecupuannya itu ada tanda2 ‘sepele’ yg menunjukkan kalo dia sebetulnya berbakat atas sesuatu (kalo formula ini diterapin di plot Pendekar Garuda rasanya gak mungkin juga sih, nanti satu buku malah abis cuman buat begituan doank ;D)

itu saja sih sedikit pendapat mahakonyol dari penerawangan serampangan ane, tak adil? iya banged! hahahah, harap dimaklumi yak.. TS sinih emang suka geblek, semua orang disini udah tauk, bahkan ekek pun suka gregetan sendiri(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)

(mampus dah gw, berani komentar nyelekit ginih ke mahakarya seorang reviewer kelas biawak, bener2 cari matik(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif))
Salam Dangdut

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 02, 2008, 11:07:38 am
________________________________________
Halagh!!,….. SATU komentar aja, gue tunggu-tunggu,… lama banget. Hehehehe,.. inget kan di milis cuma 1 member yang berkenan kasih input. Padahal yg join udah 40-an, hehehe.
So,… apapun yang akan elo katakan, gue hargai banget! Santai aja, bro. Setiap masukan adalah buah pikiran orang, dan setiap buah pikiran adalah permata buat gue. Kadang justru kritik lah yg membuat gue tahu ke arah mana gue harus melangkah. Pujian emang asik, tapi gue gak pernah tahu bagian mana yg harus gue perbaiki kalo dasarnya adalah pujian.
Komen ente aku tanggapin, bukan buat ngebela diri, ya? Aku sekedar ingin share latar belakang pilihan yg aku lakukan aja. Bagaimanapun, bikin karya tulis memang nggak terlepas dari menentukan pilihan-pilihan, hehehe,…
BTW, berkenan memposting komentar ente di milis? Silakan lho,…. (tapi gue hanya akan diskusiin di sini aja, soalnya di forum ini kan kita bisa jadikan pembelajaran)

Quote
pertama, prolognya kepanjangan–terlampau panjang (pake prolog i-iii pulak) T_T

OK, noted. Gue memang pernah bimbang apakah akan bikin prolog ini dalam satu BAB aja (jujur, awalnya satu bab. Tapi kemudian dengan pengembangan detail dst, tiba-tiba satu bab jadi terasa awkwardly kebanyakan halaman.) Makanya terus gue bagi tiga bab aja. Tapi missi gue adalah membabar konflik utama di awal, supaya pembaca udah punya bekal cukup untuk melanjutkan cerita ke belakang.
Di milis kemarin pernah ada saran untuk menyelang-nyeling prolog dengan Bab. Nah, itu yg sekarang lagi aku coba lakukan, apakah flownya masih enak :)

Quote
kedua, salah satu faktor yg ngebikin ane lebih prefer baca novel bergenre horor/thriller/fantasi dibanding teenlit/chicklit, adalah gaya bahasa dialognya.

Masih gak natural ya? Hmm,… rasanya gue udah cukup mentok di sini :-\ Naskah 1991 jauh lebih jayus dari yg ini,.. hehehe,…. waktu 2005 ditulis ulang, aku sempetin minta pendapat anak-anak SMA, kebetulan mereka gak komplain. Tapi saya coba perbaikin lagi sebisanya sesuai gaya mutakhir mereka.
Tapi gaya itu memang saya pilih untuk mengkontraskan perbedaan jaman, harapannya agar konflik batin Jaka bisa lebih muncul, bahwa masalah yg dia hadapi itu bener-bener diluar ‘dunia’ anak-anak itu, gitu seh. Ceritanya gue pengen bikin pembaca ‘mikir’ bahwa, giiila anak SMA dihadapkan pada masalah seperti itu,….

Quote

Terus rasanya (sekali lagi, ‘rasanya’–ini murni perasaan ane doank lho :P ) ada inkonsistensi gaya bahasa antara setting dunia Sentika & dunia Jakarte si Jaka.

Gue juga ‘dapet’ concern elo. Bener juga sih. Elo belum baca Part 3, ya? Sebenernya dua kontras itu akhirnya memang akan ‘menyatu’, terutama di Part 3. Di Part 1 (di luar prolog) Dunianya masih Dunia Jaka (SMA Masa Kini), Part 2 mulai masuk ada pengaruh-pengaruh dari Dunia Mistik ke Dunia Jaka (aku buat suasana perkemahan kacau balau, dan peserta mulai ngalamin keanehan-keanehan secara di depan mata, tapi belum 100% realized), dan di Part 3, anak-anak SMA itu bener-bener masuk dalam dunia mistik. Pada saat itu, gaya bahasanya udah lebih kurang kembali ke warna gaya bahasa Sentika.
Terus terang rancangan proses ini membuat gue excited juga, cuma untuk eksekusinya, ya masih perlu dikritik oleh temen-temen,… :)

Quote
rasanya ide ‘titisan’ (reinkarnasi) tak cocok dengan ajaran Islam yg menjadi background Pendekar Garuda, karena setahu ane kayaknya ajaran agama2 rumpun abraham tak mempercayai konsep reinkarnasi. Jadi yak, disitu agak2 terasa tidak konsisten dgn background Islam-nya IMO, heheheh

Well, sebenernya novel ini pun gak menggunakan ajaran Islam sebagai landasan, koq. Islam hanya sekedar menjadi dudukan setting aja, terkait sama perkiraan jaman saat konflik pertama berlangsung (enam ratus tahun yg lalu, kerajaan yg dominan di Jawa kan kerajaan islam, hehehe).
Terus konsep gue bukan titisan, melainkan ‘keturunan’. Yg menurun juga ilmu-ilmu silat dari para pendekar itu. Ceritanya diilhami dari temuan ilmiah yang ga ilmiah-ilmiah juga :) bahwa ilmu pun dapat imprint di DNA. Tapi sengaja gue bikin kabur hal-hal ilmiah, soalnya mau lebih pake pendekatan mistik,.. hehehe,…
Jadi kalo pun novel ini mau dibilang punya spirit ajaran Islam, kayaknya sih lebih ke konsep islam jawa, yang masih sinkretis dengan Hinduisme, sebagaimana kondisi setting di Jaman Sentika seharusnya.

Quote
dan kalo tak salah ada nyebut angka ’666′ juga yak? kayaknya setahu ane angka ’666′ itu origin literaturnya dari alkitab, disebut sebagai bilangan anak manusia.. nah kan lagi2 kepentok sama background Islam-nya..
tapi (lagi2 oh lagi2) secara ane bukan Muslim, sebetulnya ane juga kurang yakin, apakah Al-Quran ada nyebutin bilangan 666 itu juga? kalo di dalam Quran juga ada, berarti pendapat ane di atas sekali lagi absurd (makan tempe pake sayur lodeh, capeee deh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif))

hehehe,… bener banget, bro. di Islam konsep ini ga ada. kenapa gue pilih? Soalnya ide 666 udah sangat populer sebagai sesuai yang ‘evil’. Terutama sejak muncul film Damien Omen, :) Nah ceritanya gue mau memanfaatkan ‘pemahaman bawah sadar’ pembaca tentang suatu ‘evil’ yang sangat ‘tradisional’, ya konsep 666 itu.
Tapi emang gue gak berani memunculkan konsep ini terlalu sering, takut jadi benturan. Makanya gue lebih banyak ngomong “enam ratus tahun yg lalu etc”.

Quote
terus waktu jaka beraksi dengan mengeluarkan jurus kanuragannya pas diserbu anak2 stm, rasanya kok tiba2 banged, cuman bermodalkan mimpi berulang2 sbg seorang pendekar tangguh & titel ‘titisan’ itu, ujug2 dia digambarin berubah menjadi tokoh yg ‘sakti mandraguna’ dalam tawuran itu (bisa mecahin batu :D ), dari sebelumnya anak sma biasa. kalau menurut gw, biar kesannya lebih natural & believable, ada baiknya diceritakan dulu tahap2an sepele di mana jaka perlahan menggali bakatnya yg terpendam.. mungkin dari hal2 kecil kayak di sekolah dia sering mecahin kapur pas nulis di papan tanpa sebab (ceritanya pan gara2 luapan energi kanuragannya itu, heheheh), ato hal2 sepele laennya, sampe akhirnya, adegan tawuran itu jadi klimaks di mana dia bisa menunjukkan bakatnya secara utuh.

Hmm,.. agak susah. Soalnya konsep gue memang ilmu itu udah ‘ada’ di dalam diri Jaka sejak lahir, tapi baru keluar hanya di saat keadaan amat berbahaya. Kondisi-kondisi berbahaya kan dialami oleh dua tokoh, Jaka dan Rani, dua-duanya sempat sekelebat ‘muncul’ ilmunya. Ini juga alasannya karena mereka memang ‘dilindungi’ oleh Sentika, terutama dari ancaman musuh2 Sentika di jaman ini.
Kalo konsepnya semacam ‘pertumbuhan’ ilmu, berarti ada akumulasi, makin lama makin jago, gitu. Susahnya, gue harus mempertahankan kondisi Jaka sebagai orang yg ngga ngerti ada apa dengan dirinya, makanya ilmunya ngedadak muncul, tapi ngedadak juga hilang lagi. Buat gue Jaka tetep jadi orang biasa adalah penting, sebab gue mau bikin misteri itu tersingkap di depan mata Jaka satu persatu, sampe bikin dia ngeri sendiri :) hehehe.
Baru saat akhir Part 1, melalui sebuah proses ‘klimaks’ kecil, akhirnya Jaka bener-bener mewarisi ilmu itu, diajar langsung oleh Sentika (part ini udah baca, belum?)

Quote
(mampus dah gw, berani komentar nyelekit ginih ke mahakarya seorang reviewer kelas biawak, bener2 cari matik(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif))

;D ;D ;D mahakarya! ;D ;D ;D
Seriously, yg pengen gue anggep sebagai mahakarya adalah sekuelnya! Cuma belum start bikin! hwkakakak
This time, I’ll let you live,…!!!
Beribu thanks,……

FA Purawan
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: rd_Villam on May 05, 2008, 01:20:47 pm
________________________________________
halo semuanya…
rey, dian, hege, fapur, vadis, kokon, arik, clara, cil, lich, eniyorda, dan semuanya dan semuanya (<–ciri khas penulis malas yang enggan berdeskripsi ria… hehe…)
apa kabar?
gimana proyek novel kalian semua?
udah berapa persen? dah pada dikirim lagi ke penerbit belon? tetap semangat ya…
lama gak masuk ternyata banyak pembahasan menarik, terutama pembahasan om fapur dan rey.
hmm… jika melihat review2 ente, aku kok optimis suatu hari nanti bakalan ada FFDN Award, buat novel fantasi terbaik Indonesia setiap tahunnya. hehehe… siapa tau jadi ajang yang ngetop nanti. coba aja bikin mulai tahun 2008 ini.
buat om fapur, aku belum baca draft novelmu, tapi aku penasaran dengan konsep 666 tahun itu. bukan soal arti angka itu, tapi soal penanggalannya. itu berarti pake penanggalan jawa, hindu atau islam ya? yang jelas jaman dulu belon ada penanggalan masehi ya. (berhubung 666 tahun yang lalu di tanah jawa masih jaman majapahit, budaya islam belum masuk. pelaut belanda juga baru dateng 400-an tahun yang lalu)
hmm… menarik juga neh… coba deh ntar kubaca… (belon baca udah cerewet duluan. hihihi… sori…)
ciao.
________________________________________
Post by: cheppy70 on May 05, 2008, 03:14:24 pm
________________________________________
Ya pakai penanggalan masehi aja, lah biar gak usah pusing-pusing, hehehe,…. Kan sekedar sebagai referensi waktu aja, enam ratus tahun sebelum jaman sekarang.
Dengan setting 1990-an (ngga tahu deh apakah tetep aplicable dengan setting 2000-an), maka peristiwa dalam prolog novelku akan berada di sekitar tahun 1300-an.
Di tahun-tahun segitu, Islam sudah masuk Indonesia, misalnya kerajaan Samudra Pasai aja udah ada sejak tahun 1000-an. Di Jawa sendiri masih sekitar menjelang akhir dinasti majapahit (Dinasti Mataram baru ada tahun 1500-an). Aku merekonstruksikan kondisi masyarakat waktu itu sebagai peralihan antara budaya Hindu dengan budaya Islam. Maka konflik yg terjadi di dalam prolog, mungkin bisa juga diinterpretasikan sebagai pertentangan pandangan antara pandangan lama vs pandangan baru di jaman itu. Oh iya, ini juga untuk mengoreksi statemen gue di posting sebeumnya, ternyata memang di tahun-tahun itu kerajaan islam belum dominan,… hehehe,… :-[
Monggo dibaca.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: clickdian on May 11, 2008, 04:56:26 pm
________________________________________
Oke guys, ini review buku kedua Septimus Heap, Flyte.

To be honest, yang pertama kali narik aq untuk baca buku pertamanya adalah endorsement dari Kirkus Review, “Awas Harry… Ada penyihir muda baru yang sedang naik daun.” Secara gak langsung review ini menyejajarkan karya Angie Sage ini dengan Harry Potter, dan aq pengen tau kenapa.

Buku pertamanya, Magyk, nggak terlalu menarik buatku karena pengaruh endorsement tadi, yang bikin aq bandingin kisah Septimus Heap dengan Harry Potter (hey, don’t blame me, that’s what you’ll get with endorsement like that!). Rowling lebih sukses menghidupkan tokoh2nya dengan dunia yang lebih mendekati natural, deskripsi khayalan yang lebih nyata, joke yang lebih kena, dan emosi yang lebih menyentuh. Angie lebih dingin, dunianya lebih asing dan tanpa pengenalan di awal, joke2nya datar—please, deh, masa setelah halaman tiga ratus sekian aq baru nyengir, sih?—dan langka, lebih banyak kerut di kening karena belum menangkap isi cerita, dan spell2 yang membingungkan. Di akhir cerita barulah aq ngerasa ada something di buku karya Angie ini, dan aq baca ulang dari awal sekali lagi untuk nemuin apa yang hilang. Yang aq temuin, dia punya originalitas, terutama di sisi spell words, dan plot yang beda dengan tipikal kingdom-fantasy stories yang biasanya. But still, aq kurang puas.

Baru di buku kedua aq nemu apa yang salah. Si endorsement itu tadi! Mestinya gak usah ada, karena bikin sugesti Harry Potter syndrom duluan, dan sejak awal karena aq udah mikirin Harry, udah sebel duluan karena mengira Septimus salah satu buku peniru Harry Potter, duh! Penilaiannya jadi subyektif. Pas buku kedua, aq skip sinopsis di belakang bukunya dan langsung baca, and I feel comfortable with the story. Pertama tentu saja karena udah tau gimana cara magyc spells bekerja di dunia Septimus—puluhan spell berserakan di setiap lembarnya dan awalnya mengganggu karena ditulis dengan huruf2 bold, kedua karena segunung tokoh2 di dalamnya udah kukenal sebelumnya, dan ketiga karena aq gak keingetan soal ‘membandingkan serial ini dgn Harry Potter’—sehubungan dengan endorsement tadi.
Oke, OOT-nya udah kelewat jauh, back to the topic.

Oh, btw, Septimus adalah anak ketujuh dari Silas dan Sarah Heap. Anak2 yang lain tinggal di hutan karena merasa kehidupan hutan lebih fun: Sam, Edd, Erik, dan Jo-Jo. Nicko, yang menggemari kapal dan dunia perairan, lebih suka berada di pelabuhan. Simon sendiri sudah setahun menghilang, sejak pengangkatan Septimus menjadi Murid. Jenna, sang Puteri, sejak bayi sudah tinggal sebagai anak di keluarga Heap yang menemukannya ditelantarkan di tengah salju dan tidak mengetahui fakta kalau ia seorang Puteri sampai ulang tahunnya yang kesepuluh.

Yang jadi pokok permasalahan adalah, Septimus adalah anak ketujuh dari Silas—yang juga anak ketujuh dari Benji Heap (kakek Sep telah berubah menjadi pohon dan membaur di hutan bersama pohon2 lain). Nah, putra ketujuh dari putra ketujuh diyakini memiliki kekuatan Magyc yang luar biasa, karena itulah Marcia mengangkat Sep menjadi Muridnya padahal waktu itu Sep baru sepuluh tahun.

Beda dengan buku pertama, buku kedua lumayan enak diikuti. Cerita berawal dari kehidupan Septimus setelah jadi Murid dari Marcia Overstrand, Penyihir Luar Biasa—orang yang sangat dihormati di dunia Septimus—dan tinggal di apartemen Marcia di Menara Penyihir. Tiba-tiba Jenna, calon Ratu, diculik oleh Simon Heap, kakak sulung Septimus yang iri setengah mati pada Septimus yang diangkat menjadi Murid Marcia.
Sep yang menjadi saksi penculikan menceritakan pada orang2 kalau Simon telah membawa Jenna, tapi tak seorang pun yang percaya kecuali Nicko, dan mereka berdua pergi mencari Jenna. Agak aneh, memang dari banyak sekali orang di sekitar mereka tak satu pun orang dewasa yang cukup wise untuk mengkonfirmasi berita ini, dan sebagai akibatnya dua anak di bawah umur harus menyelamatkan adik angkat mereka.

Jenna sendiri akhirnya bisa menyelamatkan diri dengan usaha yang bisa dibilang terlalu mudah, mengingat ia tidak mengenal Magyc sebaik Heap bersaudara, dan Simon telah lekat dengan Magyc Gelap. Duh, seharusnya Simon lebih kuat dari yang diceritakan. Kok bisa anak perempuan lolos dari pengawasannya begitu mudah T_T. Sep dan Nicko menemukan Jenna di pelabuhan (Jenna pergi ke sana naik kuda yang dicurinya dari Simon)—which is too coincidental, dan agak aneh karena lumayan hebat juga Jenna bisa pergi ke pelabuhan dari tempat tinggal Simon nun jauh di utara (kalo dilihat di peta). Ada Stanley si tikus dari Dinas Rahasia Tikus memang, tapi tanpa makanan yang cukup dan peta sama sekali, dua jempol buat Jenna deh, bisa sampe di pelabuhan tanpa mengalami pingsan di jalan.

Dan Marcia sendiri, sebagai petinggi di kerajaan ini, tidak cocok dengan tipe orang-kepercayaan-rakyat yang biasanya. Dia pemarah, kadang egois, sedikit ceroboh, sering tidak mau kalah walaupun sebenarnya salah, agak mudah tertipu dan yang tadi itu—kurang wise. Pertimbangan2 Marcia masih kalah dari Alther, hantu gurunya yang masih keluyuran di dunia, bahkan untuk urusan penjagaan Istana pun Alther yang bertanggungjawab (karena ibu Jenna sudah meninggal, ayahnya entah ke mana dan Jenna masih terlalu muda untuk jadi Ratu). Walaupun demikian, dia sakti, penyayang (tapi jaim), dan bisa diandalkan. Tapi terus terang, dalam banyak hal, Sep yang baru sebelas tahun lebih baik darinya (semoga Septimus cepat dewasa dan menggantikan Marcia sebagai Penyihir Luar Biasa, amin). Dan di buku kedua ini bahkan Nicko jauh lebih berguna dari Marcia. :(

Flyte sendiri adalah sebuah jimat kuno yang bisa menerbangkan orang, yang telah lama hilang, dan terdiri dari dua bagian. Ternyata bagian pertama ada di dalam buku yang dipegang oleh Marcia, dan bagian yang satu lagi juga dimiliki Marcia, tapi diberikan pada Sep setahun lalu. Sampai sini aq mikir, KOK BISA Marcia nggak nyadar dua potongan jimat itu ada di tangannya selama ini, sih? Yang satu malah sampai jatuh ke tangan musuh segala. >:(

Masih ada kebetulan-kebetulan dan aturan2 lain yang sebenernya agak mengganggu, seperti garis matrilineal yang mengangkat anak perempuan jadi Ratu tapi suaminya bisa bebas keluyuran sebagai pengelana tanpa terikat dengan urusan kerajaan (jadi, tokoh raja di cerita ini murni hanya untuk urusan reproduksi). Tapi aq putusin udahlah, mending nikmatin aja ceritanya, dan ternyata not bad. Aq suka originalitas Angie dalam serial ini, dia gak kejebak sama stereotype fiksi fantasi yang kalo nggak seputar kisah heroik ya dunia peri-centaur-elf dan mitos2 lainnya. Di dunia Septimus Heap bener2 banyak hal baru.

Dan akhirnya, setelah baca dua buku pertama, I finally admit that Septimus Heap series is worth to read :) .

Note:
Reading Instruction
1.Singkirkan hal-hal yang berbau Harry Potter, LOTR, Artemis Fowl, dan Zauri
(hehehe ;D) out of your mind before reading Septimus Heap. It’s a brand new
thing.
2.Disarankan baca buku pertama, di situlah semua masalah berawal. Kalo
nekat juga skip dan ngerasa bego pas baca buku kedua, resiko ditanggung sendiri,
ya! ;D
3.Baca pelan-pelan kalo ketemu huruf tebal atau italic, kata-kata yang diperlakukan
dengan bentuk huruf demikian bisa sangat mempengaruhi jalan cerita—yang bold
adalah spell yang dikeluarkan para tokoh, dan yang italic biasanya hint atau clue
atau nama sesuatu. Dan, spell yang berbeda bisa menghasilkan efek magyc yang
sama. Selamat pusing, hihihi. :o
4.Ukuran novelnya nggak enak buat dipegang T_T, nanggung. Cari posisi yang enak
aja deh kalo baca, mudah2an nggak ngalemin pegel2. :D
5. Buat yang pusing liat postingan ini, sori dori mori yah :D :D :D

Comments No Comments »