Posts Tagged “plot cerita”

99-100-kitteh-pushupz-maikz-kitteh-musselzMenyambung kuliah sebelumnya yang memancing pemberontakan para siswa di Apa Itu ‘Cerita’, Pak Guru nekat memberikan pelajaran berikutnya: apa yang dimaksud dengan plot.

Kali ini dia tak mau berbasa-basi dan langsung mengajukan sebuah definisi. Menurutnya, plot adalah rentetan atau rantai kejadian dalam cerita yang memiliki hubungan sebab akibat. Tak ada cerita jika tak ada plot. Tak ada plot jika tak ada sebab akibat.

Contoh soalnya adalah sebagai berikut:
Read the rest of this entry »

Comments 31 Comments »

i-can-not-has-fish-dont-know-how-to-use-chopstixOke, menyambung beberapa tulisan sebelumnya—terutama yang terkait dengan karakter dan plot—berikut adalah sedikit catatan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan ‘cerita’. Mungkin ini sudah basi, mungkin juga belum. Heheh… Tapi apapun, semoga ini bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan (terutama yang memang berminat untuk membuat sebuah cerita).

Read the rest of this entry »

Comments 15 Comments »

thumb_knightf85Seringkali begitu kita mendapat ide untuk sebuah cerita panjang (bukan cerita pendek ya…), gairah langsung mencuat, dan segera kita membuka komputer (atau buku) lalu menuliskannya. Satu kalimat, satu paragraf, satu adegan, satu bab selesai. Puas, dengan penuh semangat kita melanjutkan ke bab kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Kita perkenalkan tokoh-tokohnya, kita perkenalkan dunianya, kita hajar mereka dengan berpuluh-puluh masalah. Sampai akhirnya, di suatu titik di tengah cerita, kita berhenti, kebingungan. Sebenarnya hendak dibawa ke mana cerita ini? Hendak diakhiri di mana? Hendak diselesaikan seperti apa masalah-masalahnya?

Read the rest of this entry »

Comments 16 Comments »

thumb_othf38Pilihlah satu dari tiga ‘gajah’ alias ide plot cerita fantasi nomor 10, 11 dan 12 di bawah ini yang menurut Anda paling menarik. Berikan alasannya, dan silakan berikan ide tambahan untuk membuatnya jadi lebih menarik. Jika seandainya Anda tertarik untuk membuat ceritanya (panjang atau pendek), maka tulislah, jangan sungkan-sungkan. Mari, Teman-teman, kita menari-nari dengan ide!

Gajah-gajah nomor 10 s/d 12 adalah:

Read the rest of this entry »

Comments 19 Comments »

thumb_othf42Pilihlah satu dari tiga ‘gajah’ alias ide plot cerita fantasi nomor 7, 8 dan 9 di bawah ini yang menurut Anda paling menarik. Berikan alasannya, dan silakan berikan ide tambahan untuk membuatnya jadi lebih menarik. Jika seandainya Anda tertarik untuk membuat ceritanya (panjang atau pendek), maka tulislah, jangan sungkan-sungkan. Mari, Teman-teman, kita menari-nari dengan ide!

Gajah-gajah nomor 7 s/d 9 adalah:

Read the rest of this entry »

Comments 11 Comments »

thumb_knightf93Pilihlah satu dari tiga ‘gajah’ alias ide plot cerita fantasi nomor 4, 5 dan 6 di bawah ini yang menurut Anda paling menarik. Berikan alasannya, dan silakan berikan ide tambahan untuk membuatnya jadi lebih menarik. Jika seandainya Anda tertarik untuk membuat ceritanya (panjang atau pendek), maka tulislah, jangan sungkan-sungkan. Mari, Teman-teman, kita menari-nari dengan ide!

Gajah-gajah nomor 4 s/d 6 adalah:

Read the rest of this entry »

Comments 26 Comments »

elephantMau membantu saya memberi makan ‘gajah-gajah’ di bawah ini? Atau barangkali sedang berusaha melahirkan ‘gajah’ Anda sendiri?

Caranya mudah. Pilihlah tiga ‘gajah’ alias ide plot cerita fantasi di bawah ini yang rencananya akan rutin saya berikan setiap hari Senin, Rabu dan Jumat, mana yang menurut Anda paling menarik, melalui komentar Anda. Berikan alasan kenapa Anda memilihnya, dan silakan berikan ide tambahan pada cerita tersebut untuk membuatnya jadi lebih menarik.

Jika seandainya Anda tertarik untuk membuat ceritanya (panjang atau pendek), maka tulislah, jangan sungkan-sungkan. Saya senang jika ide-ide yang muncul di sini pada akhirnya bisa terwujud menjadi cerita, siapapun penulisnya. Mari, Teman-teman, kita menari-nari dengan ide!

Gajah-gajah nomor 1 s/d 3 adalah:

Read the rest of this entry »

Comments 30 Comments »

Saya baru saja membaca sebuah cerita karya rekan penulis, dan saya kagum, karena dia berani menulis dengan menggunakan delapan tokoh sebagai pencerita /sudut pandang. Menggunakan Multiple Point of View (POV), yang semuanya berporsi seimbang. (Benar-benar salut untuk anda, Kawan)

Yang saya kagumi adalah keberaniannya; sang penulis berani ‘bersimbah darah’, meluangkan banyak sekali waktu dan energinya, karena sudah jelas, semakin banyak POV berarti semakin banyak plot dan subplot, dan otomatis semakin banyak pula halaman yang harus ditulis.

Read the rest of this entry »

Comments 22 Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XVII (25 Jun 2008 – 26 Jun 2008)

  • Plot dan karakterisasi di novel fantasi barat
  • Bagaimana seharusnya fiksi ilmiah
  • Seperti apa ending yang bagus dan bikin greget

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on June 25, 2008, 08:59:22 am
________________________________________
Nih topik gw pindahin ke tempat yang seharusnya deh:
Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:22:23 am
terus terang, sekarang ini gw lagi penasaran banged ama judul2 fantasi barat kayak: septimus heap (ini seri Flyte yak?–clikdian pernah ngerepiu kalo gak salah), artemis fowl, stardust, bartimeus trilogy, balthasar oddisey, golden compass. seru2 gak, fred? minimal, apakah punya greget dan kekuatan plot yg sama kayak Da vinci Code? kalo liat kovernya yg memikat daku cukup ngiler.. tapi rada2 kapok gara2 pengalaman baca novel2 barat sebelumnya itu.

Kalau nebak2 dari selera loe, rey, loe gak akan suka sama golden compass dan stardust. Judul sisanya, gw blom baca (udah berbulan-bulan gak baca buku fantasi… :-[).
Loe suka da vinci code dan prison break mungkin salah satunya dari faktor tema konspirasi kali ya?
Di situ emang bagian serunya da vinci code, dan kenyataan bahwa robert langdon mencoba menguak rahasia penting yang akan mengubah dunia (sambil pake acara dikejar-kejar segala) adalah faktor gregetnya; sesuatu yang... OH! TERNYATA GITU!!! ;D
Da vinci code juga menang di riset. Tapi kalau soal plot, menurut gw da vinci code pun masih mudah ditebak. Angels and demons plotnya lebih rapi.

Nah, kalau bicara tentang aspek kejutan di akhir itu, contohnya di novel fantasi yang paling gampang ya harpot. Setiap buku punya kejutan sendiri (kecuali buku 5 dan 7 yang gagal). Khususnya plot di buku 3, 4, dan 6 bener2 rapi dan greget.

Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:22:23 am
kalo yg gw dapet dari baca novel2 itu, menurut gw pengarang2 barat itu ciamik banged dalam menciptakan setting, naming, ama detil2 buat dunia rekaannya, tapi agak payah di karakterisasi ama kekuatan plot.
Kalau novel fantasi luar untuk dewasa yang karakterisasi-nya top dan plotnya juga bagus adalah serial Sword of Truth-nya Terry Goodkind (#1 New York Times Best Seller). Entah kenapa gak diterjemahin ke bahasa indonesia, padahal udah diterjemahin ke banyak bahasa lain. Mungkin karena terlalu dewasa (ada sejumlah adegan berbau pornografinya) atau memang karena terlalu tebel, jadi gak ada penerbit lokal yang berani nerbitin? Meski nanti bakalan ada film seri-nya di Hollywood pun (diambil dari buku 1), gw tetep gak yakin bakal diterjemahin juga ke bahasa indo.
Kalau mau liat, nih official site-nya: www.terrygoodkind.com (http://www.terrygoodkind.com)

Kalau fantasi lokal yang karakterisasi dan plot-nya bagus ya udah pasti novel gw dong! ;D
(*narsis mode: on!*)

Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:22:23 am
kalo bagi gw pribadi sih, prolog lemures udah keren pun [biggrin]
mungkin masalah selera kali yak? si hege juga antipati banged ama lemures(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
tapi kalo lu mau coba menilai tulisan gw dari sudut pandang lain, mungkin bisa coba jajal “Tangerine’ gw (biasanya orang yg gak demen lemures malah suka ama tangerine gw–padahal sama2 sok nyastra dan bermetafora ria :D ):
http://kemudian.com/user/loki
(cari aja link ceritanya di page itu)

Gw gak bisa buka k.com! [hammer]
Gak bisa pula install browser opera atau firefox karena harus ada password admin-nya…

________________________________________
Post by: fr3d on June 25, 2008, 11:05:47 am
________________________________________
Aneh, tadi gw berhasil buka 2 halaman tangerine-nya rey di k.com (prolog dan quest 1) sebelum akhirnya bug-nya situs itu mulai bekerja dan mengacaukan seluruh tampilan browser iexplorer gw… ???
Dari hasil baca 2 halaman itu, kalau dibandingin sama prolog lemures, jelas lebih bagus tangerine lah! ^-^
Soalnya di tangerine, bahasa kiasannya pas a.k.a. kena pada tempatnya. Tapi, sama kayak lemures, dari sedikit halaman itu, blom ada bayangan juga ceritanya tentang apaan.
Btw, rey, gw mau nambahin saran tentang lemures.
Menurut gw bagusan judulnya balik jadi lemuria aja, jadi bisa langsung dikaitin sama legenda lemuria (menurut gw, ini malah bagus, langsung straight to the point).
Terus, kalau loe belum melakukan ini, pas kirim ke penerbit, kirim juga hasil riset loe tentang legenda lemuria di dunia kita (2 atau 3 halaman cukup). Jangan lupa kasih narasumber, pendapat si A atau B, dsbnya. Dengan begini, mungkin penerbit bisa tertarik sama kisah di balik kisah karya ciptaan loe sehingga mereka berani berinvestasi pada seorang bernama Rey L. Tentunya lemures/lemuria masih tetep harus lewat proses editing dulu yang mateng oleh seorang editor.
:)
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on June 25, 2008, 12:57:54 pm
________________________________________
@om pur,
Quote
Gini aja deh,…. apa yang akan elo katakan mengenai ‘ilmuwan’ yang mengatakan dapat mengubah besi menjadi emas, tapi ngga bisa menjelaskan prosesnya? Lalu saat dikonfrontir, ilmuwan itu ngotot mengatakan bahwa ini adalah sebuah temuan ilmiah!
Orang yg ngerti apa yg disebut ilmiah, kan langsung menghela napas. Gimana ya ngasih tahunya?

oow, ilmu yg mempelajari bagaimana cara mengubah besi (lebih tepatnya timah) jadi emas itu istilahnya alkimia, daripada ‘ilmuwan’ tuh orang lebih tepat disebut ‘alkemis’, kali yak?
wah rekayasa genetika, daku dulu pernah jajal coba bikin thriller temanya gini juga, tapi gagal di tengah jalan karena kurang modal riset, kurang modal wawasan dan referensi pulak. (tapi bakalan seru tuh kalo jadi, idenya sih ttg orang2 yg punya skill telekinetik, skill pyrokinesis, anak2 indigo)
bikin novel sci fi jauh lebih menguras tenaga daripada bikin novel fantasi, in my experience :D
idealnya, yang disebut ‘fiksi ilmiah’ itu yg kek gimana sih bos? apakah yg cuma bertaburan istilah2 ilmiah di seisi novel, atau yg mengandung hipotesis2 rumit/kreatif ttg bidang ilmiah yg digarapnya? atau yg cuma sekedar ‘imajinasi liar’ kayak tentang orang kawin silang ama kuda mentek jadi centaur, gitu? ???

@fred,
Quote
Loe suka da vinci code dan prison break mungkin salah satunya dari faktor tema konspirasi kali ya?
Di situ emang bagian serunya da vinci code, dan kenyataan bahwa robert langdon mencoba menguak rahasia penting yang akan mengubah dunia (sambil pake acara dikejar-kejar segala) adalah faktor gregetnya; sesuatu yang… OH! TERNYATA GITU!!!

yep. pada prinsipnya gw suka plot yang cerdas, dan sarat greget.. dan gw juga suka ide2 kreatif yg orisinil. konspirasi? mungkin juga sih. tapi bukan itu poin utamanya. buktinya, gw pun bisa terpikat sama jalinan plot spiderman (yg movie yak).
ah ya, ironi. itu dia. gw suka cerita2 yg mengandung ironi: kayak ironi bagaimana kawan menjadi musuh dan musuh menjadi kawan di prison break pas tiap pergantian season, kayak ironi gimana peter parker harus menyembunyikan jati dirinya dari sahabatnya sendiri–harry osborne–karena si harry salah paham ngira spiderman bunuh bokapnya, kayak ironi gimana Teabing ngirimin hadiah patung antik ke Jacques Sauniere yang ternyata digunakan buat mengintai (eniwei gw lebih suka plot DVC daripada angels and demons :P ).

ya itu lha, betapapun suatu plot ditulis dengan rapi dan sarat intrik, kalo cuma dipaparkan begitu saja ke pembaca tanpa adanya ‘pesan terselubung’ supaya kita bisa menebak2 jalan ceritanya ke depan bakal kayak gimana, bagi gw plot itu standar aja.

dan gw juga mengharapkan suatu penyelesaian konflik yang memuaskan (atau setidaknya kreatif/tak disangka2). Kalo konflik finalnya ttg suatu perang akbar atau ‘final fight’, kumohon jangan bikin klimaks pertempuran ala RPG di mana antagonis/si biang konflik bakal ditaklukkan dengan kekuatan bulannya si protagonis(udah kek sailormoon :D ). kalopun terpaksa pake formula gitu, sajikanlah dengan gaya yang ‘gak biasa’. maksud gw, ciptakanlah suatu kondisi/result yang sama sekali gak bakalan diperkirakan oleh pembaca. daripada bikin ending vulgar di mana si antagonis tewas mengenaskah dengan kondisi berdarah2 setelah kalah bertarung, gw lebih prefer kondisi2 laennya yg mengandung ironi kayak si antagonis jadi ‘kecele’, atau ‘malu’, atau something yg lebih worthed untuk kejahatannya daripada ‘cuma’ kena vonis mati.
ah susah jelasinnya, konflik final lemures gw beginipun buat buku pertamanya :-[, biar om Pur yang menilai segimana level ancurnya :D
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 25, 2008, 01:51:17 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:57:54 pm
@om pur,
wah rekayasa genetika, daku dulu pernah jajal coba bikin thriller temanya gini juga, tapi gagal di tengah jalan karena kurang modal riset, kurang modal wawasan dan referensi pulak. (tapi bakalan seru tuh kalo jadi, idenya sih ttg orang2 yg punya skill telekinetik, skill pyrokinesis, anak2 indigo)

Kalo ngomongin rekayasa genetika, memang ga boleh assal, sebabnya biarpun riset mengenai pengaruh gen terhadap manusia belum terkupas habis (masih banyak misteri), tapi tetep aja ada batasan-batasan yang harus diperhatikan dalam membuat spekulasi mengenai fiksi-fiksi genetikaiyah :) . Contohnya, berkat rekayasa genetik, seseorang bisa terbang kayak gatotkaca, atau bisa nembus tembok, atau telekinesis (kayak-kayak pelem heroes).
Well, apakah mungkin sistem genetik mempengaruhi sesuatu yg ngga ada kaitannya sama fisiologi tubuh? Sebab cara kerja gen adalah memberi informasi (blueprint) kepada sistem sel, untuk kemudian sistem sel membelah diri (berkembang) memenuhi fungsi tertentu (membentuk jantung, membentuk otot, dll). Artinya kemampuan ekstra apapun yang dimiliki manusia tersebut harus bisa dijelaskan pertama-tama dari kemampuan level cellularnya dulu.
Misalnya mo pake plot rekayasa genetik yang menyebabkan seseorang menjadi ekstra genius, itu mungkin, sebab genius adalah fungsi dari sel-sel otak. Tapi kalo rekayasa genetik supaya bisa terbang kayak gatot kaca atau Nathan Petrelli (Heroes), ya harus jelas dulu aspek apa dalam sel manusia yang bisa bikin manusia (mampu) terbang? Kalo menurut gue, paling banter orang tumbuh sayap dulu, baru bisa terbang berkat rekayasa genetika. :)

Quote
bikin novel sci fi jauh lebih menguras tenaga daripada bikin novel fantasi, in my experience :D

he he he,.. it's a matter of akses. Kalo lo punya akses ke data-data ilmiah yang tepat, maka sesungguhnya bikin sci-fi itu relatif lebih ringan dibanding fantasy. Soalnya lo punya basis logika yang jauh lebih terbackup oleh dunia ilmiah yg ada, yang di setiap sudut udah saling mengcover. Beda dengan dunia fantasy dimana elo hrs bisa cover all the bases sendiri.

Quote
idealnya, yang disebut 'fiksi ilmiah' itu yg kek gimana sih bos? apakah yg cuma bertaburan istilah2 ilmiah di seisi novel, atau yg mengandung hipotesis2 rumit/kreatif ttg bidang ilmiah yg digarapnya? atau yg cuma sekedar 'imajinasi liar' kayak tentang orang kawin silang ama kuda mentek jadi centaur, gitu? ???

fiksi ilmiah itu kan awalnya muncul dari literacy di kalangan akademisi, yg memasukkan unsur-unsur science dalam plot novel. Perbedaannya dengan sebuah karya ilmiah, adalah dalam fiksi ilmiah tidak diperlukan suatu sistematika untuk terjadinya pembuktian hipotesis. Dengan demikian fiksi ilmiah biasanya menerapkan sebuah teori atau spekulasi yang sudah diakui secara akademik dalam sebuah plot cerita. Sementara kalo skripsi/ thesis kan penuh pertanggung-jawaban ilmiah untuk mengatakan bahwa hipotesa nol tidak terbukti (hehehe, inget skripsi jaman dulu, bo!)
Kalo mo bicara fiksi ilmiah yg murni, gue rasa adalah karya-karya yang hanya 'kena' di pikiran para profesor2 itu :) Lha sekarang kan ada fiksi ilmiah populer, untuk orang kebanyakan :P Di sini sebetulnya pengarang menceritakan sebuah cerita biasa, namun dibumbui oleh teori-teori ilmiah.
Tapi yang jelas, walaupun niatnya bikin fiksi ilmiah populer, tetep aja pengarang jangan sampai terlalu ngawur membuat spekulasi. Seperti kawin silang manusia sama kuda jadi centaur [hammer]. Kalau menurut gue, setidaknya pengarang harus bisa membuat penjelasan yang masuk akal secara ilmiah untuk fenomena-fenomena yang ditulisnya itu.

(BTW, gue udah kelar baca Lemures, dan kalau angle ilmiah yang dikeluarin oleh tokoh Guillarde itu bener-bener sesuai text book, gue rasa novel elo juga cukup pantas di sebut fiksi ilmiah, terutama untuk sisi ilmu biologi-nya :)

Quote
biar om Pur yang menilai segimana level ancurnya :D

ancur??? sebenernya sih, sebuah cerita yg mengasyikkan. tapi memang perlu diulik-ulik lagi. masukannya menyusul, deh.
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on June 25, 2008, 02:07:16 pm
________________________________________
@om pur,
bused cepet banged, udah kek penerbit jogya yg nolak naskah gw dalam 10 hari, keren :-X
yg paling bikin ane miris buat style plot lemures itu terlalu stereotip fellowship of the ring–mungkin ini yg paling bikin lemures dipandang tak layak terbit.. (walaupun di cerita sama sekali gak pake sihir, gak pake orc, gak pake elf, gak pake dwarf), kira2 ada ide gak om gimana caranya biar gak terlalu LOtR?
terus terang waktu pertama kali nulis (3thn lalu) ane lg tergila2 ama epik LOtR, maka berujung kerangka lemures lotr banged gitu.. duh jadi frustasi.
oke ditunggu bayaran dari ente bos, gak terima ‘duid recehan’ pokoknya ane! [biggrin]

@fred,
gw udah pernah nyoba pake formula yg lu sebutin itu, tapi kayaknya jadi berkesan agak bertele2 padahal maunya penerbit kan cuma tauk isi cerita dan jalinan plot dalam buku itu kek gimana..
terus ada juga formula yg nyuruh nyebutin keunggulan kompetitif isi novel kita itu apa aja, kalo gini kan gw bingung: apa yg gw anggap unggul belum tentu unggul bagi org laen.. gaya bahasa yg ribed itu contohnya. di k.com menuai compliment, disini menuai makian :-\
mana tauk gw selera orang :P
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 09:01:00 am
________________________________________
@Bloodsin
Quote
dan gw juga mengharapkan suatu penyelesaian konflik yang memuaskan (atau setidaknya kreatif/tak disangka2). Kalo konflik finalnya ttg suatu perang akbar atau ‘final fight’, kumohon jangan bikin klimaks pertempuran ala RPG di mana antagonis/si biang konflik bakal ditaklukkan dengan kekuatan bulannya si protagonis(udah kek sailormoon ). kalopun terpaksa pake formula gitu, sajikanlah dengan gaya yang ‘gak biasa’. maksud gw, ciptakanlah suatu kondisi/result yang sama sekali gak bakalan diperkirakan oleh pembaca. daripada bikin ending vulgar di mana si antagonis tewas mengenaskah dengan kondisi berdarah2 setelah kalah bertarung, gw lebih prefer kondisi2 laennya yg mengandung ironi kayak si antagonis jadi ‘kecele’, atau ‘malu’, atau something yg lebih worthed untuk kejahatannya daripada ‘cuma’ kena vonis mati.

Ending yang bagus dan bikin greget itu seperti apa yah?
Apa yang difinish secara tuntas setuntas2nya ampe ceritain masa depan tokohnya udah hidup dengan dmai dan happy ending?
Apa ky film horor yang pada akhirnya hantu/masalahnya ga pernah mati, dan tetap merajalela?
Atau lo demen tuh ama ending2 yang memancing teriakan kesel penonton? Contoh versi acceptablenya ky Hunterxhunter greed Island final dimana pada akhirnya Gon-nya ga jelas ketemu bapaknya atau org lain. (yg belakangan gw baca komiknya ternyata bukan bapaknya). Sampai ke yang bikin orang maki2 karena sudah ngalemin segitu banyak petualangan, ngumpulin puluhan artifak, sampai akhirnya karakter kuncinya dengan entengnya bilang ” ini semua tak pernah terjadi, hanya mimpi” *anjriitt ngeselin banget*
So? exactly what kind of ending did you wish for?
________________________________________
Post by: BloodSin on June 26, 2008, 10:28:29 am
________________________________________
@om pur,
Quote
Yg bilang kayak Fellowship LOTR siapa, tuh?

Menurut gue sih, malah lebih ke arah adventure ala Indiana Jones. What do you think?
frame ceritanya yg terlalu LOtR: perjalanan serombongan orang untuk membuang/mendapatkan benda tertentu dalam rangka menyelamatkan dunia…. (see? sekarang baru nyadar kan LOtR banged(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))
kalo spirit sih emang indiana jones, heheheh :D
‘fisik’ dari ceritanyalah yg ane pusingin, sama kayak si Jeff yg lagi berjuang ngapus style RPN dalam novelnya.

dan itu, aroma ‘fiksi ilmiah’ dan gaya ’spiritual’ dalam Lemures, ane bikin bukan buat sok pamer ilmu biologi dan berfilosopi ria, tapi semata2 cuma buat meng-kover frame fellowship LOtR-nya, mengalihkan pikiran pembaca biar gak memvonis lemures terjebak sterotip penulis indo kebanyakan (yg entah bergaya harpot, narnia, atau LOtR), entah siasat ini berhasil apa kagak. ah eniwei, ane mau nanya, apa ada cerita laen yg punya format LOtR gini selain LOtR sendiri dan game2 RPG?
kalo Eragon, journey-nya dilatarbelakangi dendam.
kalo Narnia, journey-nya gara2 kejebak dalam dunia paralel.
kalo Ledgard, journey-nya buat menghimpun kekuatan pasukan perang.
nah… kalo Skinheald-nya Ataka, kaya gimana tuh?

Quote
OK, mumpung elo mention, gue pengen informasi dari elo, lemures ini kira-kira mau diposisikan sebagai cerita dewasa atau remaja? Menurut gue dalam ramuan plotnya yang sekarang lemures lebih cocok novel remaja. Tapi kalo elo berambisi untuk membuat kompleksitas konfliknya lebih ‘dalem’, maka segmennya jadi agak naik menjadi dewasa/ muda.
Yg elo tuju yang utama yg mana? Nanti terkait sama masukan gue, sih. more or less.

segmen pembacanya sih niatnya remaja ke atas (>14 tahun), mencakup dewasa muda (25-30an), kira2 anak smp bakal ‘dapet’ gak yah baca Lemures (apalagi selewat bab 1-2 :-X)? maksudnya, bukan ‘dapet’ isi ceritanya, tapi pesan2 dalam ceritanya. apakah gak terlalu berat buat mereka part tentang ‘petunjuk semesta’ itu?
karena tema utama dalam lemures bukan lagi sihir dan pertarungan antara good vs evil, dan remaja biasanya lebih terpikat ke cerita2 yg lebih imajinatif semacam harpot, yg jelas2 menekankan tema good vs evil. tema kayak biologi dan ekologi itu misalnya, nyambungkah ke pemahaman pembaca remaja yang bahkan baru diajarin begituan di sekolah? :D
sebaliknya kalo buat dewasa muda, apakah 2 karakter protagonis utamanya (Larke–16thn & Fly–19thn) terlalu ‘kemudaan’? padahal tema2 dalam dialog mereka udah ane pikirin sedemikian rupa supaya gak terlalu berkesan remajaish, tapi emang cenderung lebih enteng daripada dialog Levantine, Kain, & Guillarde.
atau semestinya, background cerita kudu dibikin lebih suram & darkish kayak Pans Labiryn yak? Pans Labirin itu kayaknya nempel di dewasa muda cuma gara2 unsur kesadisannya doank, padahal kalo mau diliat dari segi cerita mah, kagak rumit2 amat. tokoh utamanya pun perempuan cilik.
menurut ane kompleksitas cerita pun masih bukan tolak ukur buat menentukan segmen pembaca. selama ini ane malah lebih berpegang ke tema cerita dan gaya dialog.

kalo ente pernah nonton naruto, pasti paham deh kalimat ane di atas (btw ane prihatin banged hari minggu kemaren ngeliat bocah balita pake kaos Naruto T_____T–padahal kompleksitas plot naruto bahkan 3x lipet rumitnya dari lemures :D )

yah… ane tunggu tanggepan ente dah, sekalian jawab 2 pertanyaan kontradiktif ini (huahahah ;D) buat masukan nanti:
1. mana bagian dalam lemures yg ngebikin dia lebih cocok buat remaja? (selain kompleksitas ceritanya yg cenderung ‘enteng’ itu)
2. mana bagian dalam lemures yg udah pas kalo emang niatnya ditujukan buat dewasa muda?
bikin review-nya nyantei aja bos, dipersilakan buat bersemedi dulu kayak waktu bahas prolog kemaren, biar mantap punya hasilnya [thumbsup]

note:
thank u for reading anyway [biggrin], tak menyangka lemures bisa dilumat secepet itu, padahal sudah teruji tak layak baca (4x) di mata penerbit :-X
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: cheppy70 on June 26, 2008, 11:11:00 am
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 09:01:00 am
Sampai ke yang bikin orang maki2 karena sudah ngalemin segitu banyak petualangan, ngumpulin puluhan artifak, sampai akhirnya karakter kuncinya dengan entengnya bilang ” ini semua tak pernah terjadi, hanya mimpi” *anjriitt ngeselin banget*

Grrrrr,… kalo sampe berani-beraninya elo bikin yg kayak gini, gue tuemmbbaak! [ranting]
;D ;D ;D

Quote
So? exactly what kind of ending did you wish for?

Ending yang membuat gue merasa waktu yg sudah gue luangkan untuk membaca is worth it.
Dan itu biasanya gue dapatkan dari bangunan universe yang kukuh solid, plot yang tertata masuk akal serta mampu membawa emosi gue dalam sebuah joy ride, dan ‘manfaat intrinsink’ yg mungkin terinspirasikan oleh cerita tersebut.
Salam,
FA PUrawan
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 11:30:04 am
________________________________________
hehe… banyak tuh penulis anime yang bisa om tembak :D
Code geass aja rasanya pengen gw tembak waktu dia mengakhiri season 1 nya ditengah2 action 2 org sahabat sekaligus rival saling tembak. Anjriittt.. ga sopan banget motong ceritanya >.<

Quote
Ending yang membuat gue merasa waktu yg sudah gue luangkan untuk membaca is worth it.
Dan itu biasanya gue dapatkan dari bangunan universe yang kukuh solid, plot yang tertata masuk akal serta mampu membawa emosi gue dalam sebuah joy ride, dan ‘manfaat intrinsink’ yg mungkin terinspirasikan oleh cerita tersebut.

kl gw pribadi sih lebih seneng ending yang bener2 settle down, biar ga ada perasaan ngeganjel. Tapi happy ending sampe ke anak cucu udah ga jaman. Ending ngegantung juga ngeselin. Gw sendiri mungkin bakal bikin ending2 ala gundam seed. (feeling yang mirip). settle pada point dimana mereka sadar perang yang mereka lakukan bertahun2 ga ada artinya. Ending samurai 7 juga aga miris nontonnya dan gw cukup suka ending seperti itu. Dimana si katsushiro yg awalnya anak baik2 maksa pengen ikut perang dan pada akhirnya jadi samurai hebat cuman udah ga ada tampang bahagiannya lagi. dia ngucapin “can you smell the scent of war from me now?” dgn tatapan kosong gt, keren gw suka walau ga special2 amat.
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 26, 2008, 11:58:30 am
________________________________________
Quote
dan itu, aroma ‘fiksi ilmiah’ dan gaya ’spiritual’ dalam Lemures, ane bikin bukan buat sok pamer ilmu biologi dan berfilosopi ria, tapi semata2 cuma buat meng-kover frame fellowship LOtR-nya, mengalihkan pikiran pembaca biar gak memvonis lemures terjebak sterotip penulis indo kebanyakan (yg entah bergaya harpot, narnia, atau LOtR), entah siasat ini berhasil apa kagak.

Sebenernya penyisipan biologi adalah satu langkah yang baik untuk memberikan warna dan keunikan dalam cerita elo. Tapi buat gue tetap ada ganjalan ketika istilah yg elo gunakan adalah istilah-istilah nama latin standar, sementara gue belum bisa menemukan kaitan universe elo dengan universe standar bumi.
Untuk nuansa ’spiritual’, hehehe, jujur aja gue sendiri baru-baru ini memasukkan hal yang sama ke dalam PG! Pas gue baca insightnya si Larke tentang bunga2 Hypnolia dama Cemara Tua itu, gue jadi ngakak! Ternyata vibrasi kita sama, tuh Rey :) Gak heran kalau alam semesta mempertemukan kita (busyet, spiritual banget dah!).

Quote
ah eniwei, ane mau nanya, apa ada cerita laen yg punya format LOtR gini selain LOtR sendiri dan game2 RPG?
kalo Eragon, journey-nya dilatarbelakangi dendam.
kalo Narnia, journey-nya gara2 kejebak dalam dunia paralel.
kalo Ledgard, journey-nya buat menghimpun kekuatan pasukan perang.
nah… kalo Skinheald-nya Ataka, kaya gimana tuh?

Skinheald ya tentang perburuan pedang Skinheald di bukit apa gitu. Sama aja dengan setting elo, sebenernya.
Sebenernya sih, seni journey novel itu kan terletak pada komposisi party yang berangkat di awal, dan bagaimana komposisi itu berinteraksi selama perjalanan. Drama antar karakter yang terjadi apa, dan perkembangan karakternya bagaimana sebagai akibat dari interaksi dan petualangan itu. Nah aspek pengembangan karakter ini, nih, kayaknya masih banyak yg belum mengolah. Kulihat kebanyakan tokoh, antara awal dan akhir cerita karakternya masih sama aja, paling cuma ada sedikit pengembangan. Di lemures kecenderungannya juga masih begitu.

Kalo di LOTR, setiap karakter nyaris berubah total. Kalo gak salah inget, Frodo menjadi lebih memahami tujuan hidup dan perilaku Bilbo (sehingga relasinya dengan Bilbo menjadi lebih baik), Sam memahami arti pengabdian seutuhnya, Merry berubah menjadi lebih wise dan mendalami kepemimpinan, kalo ga salah kan kelak dia menjadi pemimpin Shire, dan Pippin menjadi salah satu ksatria Gondor (kayaknya ada peran lebih, tapi gue lupa).
Tapi perubahan klasik yang paling sering diberlakukan terhadap karakter-karakter utama, adalah ‘mengalahkan own demon’, alias mengatasi kelemahan diri sendiri. Contohnya si Aragorn yang berhasil mengalahkan keraguan dirinya dan tampil sebagai Raja Gondor sejati.
Jadi plotting dalam journey novel ini seyogyanya berpedoman pada proses pembentukan karakter para tokoh tersebut. Makanya kalau lihat sebuah novel journey yang cuma ada berangkatnya kemudian ada sampai di tujuan lalu selesai, akan terasa ga ada gregetnya.

Quote
karena tema utama dalam lemures bukan lagi sihir dan pertarungan antara good vs evil, dan remaja biasanya lebih terpikat ke cerita2 yg lebih imajinatif semacam harpot, yg jelas2 menekankan tema good vs evil. tema kayak biologi dan ekologi itu misalnya, nyambungkah ke pemahaman pembaca remaja yang bahkan baru diajarin begituan di sekolah? :D
Jadi tema utamanya apa? Gue jg belum nangkep loh :P

Quote
menurut ane kompleksitas cerita pun masih bukan tolak ukur buat menentukan segmen pembaca. selama ini ane malah lebih berpegang ke tema cerita dan gaya dialog.
Maksud gue dengan kompleksitas adalah jalin menjalin plot yang berseliweran untuk membangun cerita. Semakin kompleks, semakin dalem motifnya, tentunya menjadi menu pembaca yang lebih dewasa. Kalo di lemures, plottingnya belum terlampau kompleks juga, walau gue merasakan bahwa elo akan membawanya menjadi lebih kompleks dalam sekuel-sekuelnya.

Quote
1. mana bagian dalam lemures yg ngebikin dia lebih cocok buat remaja? (selain kompleksitas ceritanya yg cenderung ‘enteng’ itu)

Well, motivasi grup berangkat hanya untuk sebilah busur, faktor-faktor alami yang menghalangi perjalanan, ’singkatnya’ perjalanan, problem solving, komposisi tokoh yang ‘a-seksual’,

Quote
2. mana bagian dalam lemures yg udah pas kalo emang niatnya ditujukan buat dewasa muda?

Konflik politik, setting peperangan, plotting penculikan dll serta misteri dibelakangnya, siapa aja yang bermain, tokoh Esther sebagai femme-fatale

Quote
thank u for reading anyway [biggrin], tak menyangka lemures bisa dilumat secepet itu, padahal sudah teruji tak layak baca (4x) di mata penerbit :-X

menurut gue sih (perkiraan), ketidak layakan terbit nya lemures bukan karena gak layak baca, melainkan opening yang kurang menjual, serta gaya bahasa yang juga kurang menjual, serta kurang tegasnya tema yang mau dipropose oleh pengarang.
More on this, later deh.
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on June 26, 2008, 02:35:41 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 09:01:00 am
Ending yang bagus dan bikin greget itu seperti apa yah?

ending yg bagus itu relatif bagi tiap pembaca. kebanyakan pembaca lebih suka ama good ending: tokoh utamanya jadi raja atau kawin sama puteri jelita atau hidup bahagia selamanya. wajar sih, gw juga lumayan suka, asal eksekusinya gak klise.
tapi berhubung lu nanya ke gw, maka akan gw jawab berdasarkan selera pribadi gw :P

bagi gw, ending yg bagus itu adalah ending yang bisa ngebikin pembaca merasakan suatu sensasi bunyi “Klop” di benaknya waktu ngebaca kalimat terakhir cerita. Ibaratnya, bunyi dari sebuah kunci yang dipake buat ngebuka peti harta karun. Cerita itu tepat diakhiri ketika peti hartanya hendak dibuka. Jadi nantinya, bukan pengarang yg cape2 mendeskripsikan kayak gimana wujud harta karun itu, tapi imajinasi sang pembaca sendiri.
Atau kalo kagak, ending yg bisa membawa pembawa pada suatu level pemahaman tertinggi atas jalinan plot di sekujur tubuh buku. (Jenis ending ini biasanya ngebikin pembaca berkomentar semacam: “Oh, ternyata selama ini begitu toh! Pantesan aja selama ini dia demen ngupil, blablabla…”) Nah, Da Vinci Code boleh jadi contoh.
Atau kalo kagak, ending yg bisa memancing spekulasi, kayak Life of Pi.
Atau kalo kagak, ending yg bisa ngebikin pembaca nyengir lebar, kayak Laskar Pelangi.
Atau mungkin, ending yg bisa ngebikin hati pembacanya getir kayak Sang Penandai?
Sekali lagi, ini relatif. ^-^
________________________________________
Post by: BloodSin on June 26, 2008, 10:49:05 pm
________________________________________
@om pur,
Quote
Maksud elo dari fisik cerita itu apa bisa diperjelas? Maksudnya gaya berceritanya, penggunaan bahasanya kah, etc?

fisik ceritanya ya stereotip tema journey-nya itu. ah tapi semenjak ente bilang frame kayak begini emang udah bentuk umum, ane jadi cukup lega, walaupun ane juga cuman bisa pasrah kalo ada penerbit yg pake alesan ‘frame klise’ kayak begitu buat nolak lemures..

Quote
Sebenernya penyisipan biologi adalah satu langkah yang baik untuk memberikan warna dan keunikan dalam cerita elo. Tapi buat gue tetap ada ganjalan ketika istilah yg elo gunakan adalah istilah-istilah nama latin standar, sementara gue belum bisa menemukan kaitan universe elo dengan universe standar bumi.

;D ;D ;D
berani taroan, apalagi kalo si fred yg baca beginian, pasti dia udah ngamuk protes jaman ancient lemures gitu mana udah ada istilah2 latinnya, secara penemu istilahnya aja belum lahir.. :D (era lemuria itu sekitar 20 juta tahun yg lalu di bumi)
terus ada juga bagian Guillarde nyebut ’sekolah’, jaman batu gitu mana ada sekolahan ;D

begini, untuk kasus ‘logical mess’ yg satu ini, gw lebih menekankan pengetahuan bawah sadar pembaca buat hal-hal umum/spesifik yg udah lama terpatri di otaknya, misalnya ya istilah2 latin itu (setidaknya mereka pernah denger istilah2 latin itu waktu smp/sma, dan bisa segera tahu kalau di situ gw lebih merujuk ke pembahasan ilmiahnya, daripada ke dunia imajinasi lemures gw). masak gw harus satu-satu mengkonvert istilah latin itu ke istilah ciptaan gw sendiri sih? kan gak mungkin, lagian gw pikir pembaca juga seharusnya udah bisa ‘memaklumi’ sewajar-wajarnya dengan sendirinya.
kalo gak salah Tolkien bahkan ada nyebut kata ‘Natal’(dari Christmas) di buku pertama LOtR, padahal kalo mau dipikir2 istilah itu gak mungkin banged bisa ada di dunia LOtR.. tapi ya itu lha, kata ‘Natal’ udah terlanjur terpatri kuat di masyarakat Barat sebagai suatu tradisi keluarga yang mendarah daging, jadi Tolkien berani ngambil istilah itu buat dimasukkin ke LOtR. di bukunya, gw kira Tolkien lebih memposisikan ‘Natal’ sebagai suatu ‘istilah’ tradisi, bukan merujuk ke kelahiran Isa Almasih.
dan contoh lain, bisa liat film AAC, di mana ada dialog Maria dan ibunya (dalam keadaan privasi) pake bahasa indo, padahal mereka diceritakan sebagai orang Mesir.
disinilah yg namanya ‘pemakluman’ dari pembaca/penonton diminta oleh sang author, demi kemudahan memahami cerita seutuhnya.

Well, prinsip yang sama gw coba terapkan untuk pembahasan fenomena-fenomena ilmiah di Lemures; gw menempatkan istilah latin itu ya cuma sebagai ‘istilah’ aja, tanpa perlu memusingkan bagaimana latar belakang istilah itu di dunia kita.
nah, prinsip pemanfaatan bawah sadar pembaca (di mana akan memicu terbentuknya suatu pemakluman) ini juga gw terapkan buat culture dan naming French, West, dan Hebrew di Lemures.

Quote
Drama antar karakter yang terjadi apa, dan perkembangan karakternya bagaimana sebagai akibat dari interaksi dan petualangan itu. Nah aspek pengembangan karakter ini, nih, kayaknya masih banyak yg belum mengolah. Kulihat kebanyakan tokoh, antara awal dan akhir cerita karakternya masih sama aja, paling cuma ada sedikit pengembangan. Di lemures kecenderungannya juga masih begitu.

justru hal di atas itu kulakukan demi menjaga konsistensi sifat tokoh2nya, setidaknya hingga akhir buku satu. well, ane ngerti sih apa poin ente, makanya ane juga ada sengaja nulis beberapa paragraf ttg perenungan batin ’si bocah’ mengenai petunjuk semesta itu, walau singkat. di bagian itu, ane emang bikin seolah2 dia baru ‘ngebuka’ matanya, dan kujanjikan sedikit-banyak perkembangan dirinya bakal mulai terlihat di sekuelnya. :)

Quote
Jadi tema utamanya apa? Gue jg belum nangkep loh

Tema utamanya yak apa yang menjadi quote utama buku:
There’s a hope in a journey, there I would place my struggle.(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)

Quote
Well, motivasi grup berangkat hanya untuk sebilah busur, faktor-faktor alami yang menghalangi perjalanan, ’singkatnya’ perjalanan, problem solving, komposisi tokoh yang ‘a-seksual’,
Konflik politik, setting peperangan, plotting penculikan dll serta misteri dibelakangnya, siapa aja yang bermain, tokoh Esther sebagai femme-fatale

walah, kayaknya faktor2 penentu sasaran baca di atas cenderung berimbang, so i’ll simply let the public decide by theirselve (kalo terbit dan beredar di masyarakat nantinya–sekali lagi, kalo terbit :P )..

Quote
menurut gue sih (perkiraan), ketidak layakan terbit nya lemures bukan karena gak layak baca, melainkan opening yang kurang menjual, serta gaya bahasa yang juga kurang menjual, serta kurang tegasnya tema yang mau dipropose oleh pengarang.

gaya bahasa udah rapi jali, dan singkat jelas padat begitu masih kurang menjual(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)
ah pusing……
tema utama ceritanya emang rada2 absurd :D , kuakui itu, gak kayak LOtR yg simple2 aja: perjalanan buat memusnahkan cincin.
bah! tapi bukannya novel fantasi indo kebanyakan yg udah terbit pun punya tema cerita yg cenderung absurd?
(tapi eniwei mungkin inilah konsekuensi untuk novel yg terlalu banyak pake tema–epik petualangan, sci-fi, spiritual, dan sedikit romance(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/bolakbalik.gif))

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi VI (3 Mar 2008 – 14 Mar 2008)

  • Down ditolak penerbit?
  • Hal apa yang paling penting dalam novel fantasi?
  • Gaya Bahasa vs Plot

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: alk on March 03, 2008, 09:40:36 pm
________________________________________
@ didie-sy
sekedar comment…
gw juga udah baca GORAN, reviewnya om blood dah mantep kok,
plot bagus, gaya cerita menarik, karakterisasi hebat, ending… mengenaskan… :’(
yg ga puas sama GORAN gara2 endingnya kali, tapi…
judulnya GORAN – Sembilan Bintang Biru, bintang biru yang keluar di cerita baru 3,
logikanya… pasti ada kelanjutannya ntar :D
mungkin jadi trilogi, atau tetralogi, atau pentalogi.
liat aja nanti. ;D ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 03:14:48 pm
________________________________________
Quote from: didie-sy on March 03, 2008, 03:04:04 pm
aloooo semua :-*
aloo blood sin,aku didie n jarang maen-maen ke pulau penulis
tadi aku udah posting siy tp ga tau masuk ga?aku dikasi tau tentang goran sama temenku tapi masi ragu.
review lo tentang goran kok beda banget sama review kobo chan di kutu buku.com?dia negatif gitu.kynya kalian baca buku yang beda ya?yang bener yang mana?

halo didie-sy, salam kenal juga :-* (lagi2 ketemu ama yg batangan(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif), tp gpp deh, eke tetep welcome yey :-*)
gw udah baca review versi dia… yg ini kan:
http://www.kutubuku.com/review/kobo-chan/goran—sembilan-bintang-biru.html
?
kalo yg gw liat, dia protes (ane lg menggebu2 ngikutin eniyorda pas ngebelain hozzo ceritanya nih :P ):
1. knp tokohnya bukan orang indo?
2. terus… knp dalem planet vida, ada istilah2 bahasa inggris?

poin 1 bener2 subjektif sifatnya… dia menilai itu murni pake selera dia… payah banged dah(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
hmmm.. kalo dia terus pake standar ini buat menilai fantasy2 indo, gw jamin dia kagak bakalan ada puasnya, secara hampir semua fantasi lokal yg udah terbit bersetting non-indo. (cuman 1-2 doank setau gw yg settingnya indo, itupun cuman depan2nya aja, kayak hozzo/numeric uno :P )

yg poin 2, dia bener2 blunder tuh, gak ada orang/istilah vida yg pake bahasa Inggris!
justru disini gw salut sama pengarang bisa kepikiran bikin ‘bahasa ajaib’ dari bahasa inggris yg dibolak-balik.. :D
serius gw ngakak pas baca dialog2 ajaib Soil..
kalo gw bilang sih, review nih orang bahkan lebih nyebelin dari review si ‘FP’ (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)

hmmm.. gw gak bisa nentuin ente bakal demen apa kaga sama novel ini, tapi kalo mengukur dari segi plot, setting, gaya bahasa, jokes, GORAN ini yg paling ‘fleksibel’ buat diterima semua kalangan dibanding novel2 fantasi lokal laennya..

maksud gw, ga peduli tuh orang dari aliran RPN/LOTR/HarPot, harusnya bisa dapet mood kalo baca GORAN.. novel ini gak seserius novel fantasi kebanyakan, tapi juga gak seenteng novel2 tenlit.. pokoknya ’seimbang’ dah. jadi harusnya target pembacanya cukup luas.. makanya gw sebut dia ‘the best novel fantasy indo’ dari semua yg pernah gw baca..
tapi tergantung selera juga sih :P

[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 05, 2008, 03:37:31 pm
________________________________________
btw, rey, penjelasan lanjutan lu tentang goran cukup obyektif nih. salut.
tapi memang, namanya pembaca pasti akan menilai berdasarkan selera masing-masing. dan pasti akan ada yang positif dan negatif. bahkan seorang kritikus yang katanya mumpuni pun sebenarnya menilai berdasarkan seleranya pula.
jadi jika ada yang berbeda pendapat, ya nikmati sajalah… heheheheh…
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 03:48:53 pm
________________________________________
bukannya gw gak mau menerima beda pendapat bang.. :D
gw paling sebel kalo ada orang yg nge-review novel udah kaya pemain sepakbola ngomentarin pemain basket..
dia protes kenapa pemaen basket boleh megang bola, jumlah pemainnya cuman lima, ga ada kiper, dll..
kalo menurut gw sih kurang bisa berpikir luas tuh orang :P
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 04:01:25 pm
________________________________________
tapi ya.. sebetulnya wajar juga sih ada juga orang-orang yg protes kalo ada penulis indo yg nulis pake setting asing..
sebetulnya sih, ini tergantung dulu.
kita liat dulu gmn si penulis mendeskripsikan setting asing dalam ceritanya, ‘berhasil’ apa kagak?
kalo yg gw liat di GORAN, penulis udah cukup berhasil ngebawain setting jepang sama tiongkok dengan kebudayaan2nya.
buat contoh, di GORAN tokoh aniki dikejar2 ama cewe..
secara statistik ini valid, di jepang emang lebih banyak cowo yg ditembak cewe daripada sebaliknya.
gw justru ilpill kalo ada penulis yg berani bikin setting barat, tapi gaya idup/kebudayaan yg berlaku di settingnya itu malah mirip ama gaya anak jakarta.. kalo nemuin yg kayak begitu, gw jadi ngerasa kayak nyaksiin adegan2 yg diperanin ama ‘bule celup’ :P
ada beberapa novel fantasy indo yg kayak begitu. dan emang justru setting luar-nya itu malah jadi kecacatan..
tapi ada juga novel2 fantasi indo bersetting luar yg sukses nampilin setting luar-nya, dan mestinya, yg kayak begini udah ga bisa dihujat lg dari segi settingnya..
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 05, 2008, 04:15:52 pm
________________________________________
yeah…
elu bener lagi…
apalagi kalo liat cerita bersetting barat tapi dengan gaya bahasa ‘elu-gue’. duh duh duh…
mbok ya gaya bahasa itu disesuaikan dengan setting dan karakternya…
btw, kalo aku pribadi sih, bagus kalo kita bisa bikin fantasy yang bersetting lokal. tapi kalo emang kita merasa lebih cocok membuat setting barat, timur, utara, selatan atau bahkan antah berantah, dan ini lebih nyaman buat kita, ini lebih bagus. apalagi jika riset kita soal setting ini juga bagus, hasilnya tentu dijamin bagus pula dah.
________________________________________
Post by: clickdian on March 06, 2008, 12:43:00 pm
________________________________________
# Lia
What’s on you?
Bener down karena ditolak penerbit?
Hmm.. itu mah biasa.. ga perlu malu, ga usah mundur, apalagi sampe kehilangan kepercayaan diri.

Gini lho.. naskah ditolak bukan berarti naskah jelek atau penulisnya tidak berbakat. Seringkali karena rule dan kondisi dari penerbitnya.
Misal… penerbit hanya mau menerbitkan genre tertentu, smntara kita ga tau itu dan mreka ga publish mngenai rule ini.. maka karya di luar genre tsb otomatis dieliminasi.

atau, naskah bagus tapi setelah dipertimbangkan ternyata diprediksi tidak sesuai/ tidak akan banyak permintaan pasar. ini mah ilmu ekonomi ikut bicara, aq ga banyak tau soal ini.

atau…. selera editor, seperti yg kita ketahui setiap org kan seleranya beda2 (contoh nyata deh, Rey bilang Goran bagus, tapi aq–walopun emang ngejogrok di genre fiksi fantasi–ampe sekarang belum punya keinginan untuk baca sama sekali). editor penerbit A bisa jadi akan mengatakan hal yang sebaliknya dengan editor penerbit B untuk naskah yang sama.

kalau naskah kamu ditolak, bisa jadi karena ketiga hal ini, atau hal lain yg aq belum mention di atas.
but anyway, mundur bukan jalan terbaik, menurut aq, ya. kamu cuma belum dapet jalannya aja. tunggulah, semua akan indah pada waktunya…

ngomong2 soal ditolak.. aq pernah tuh, masukin naskah ke gramed, dan ditolak dengan sukses ;D
naskah itu terus aq masukin ke penerbit lain, yang editornya bilang sebenernya bagus, cuman dia bingung mau masukin ke genre mana, walhasil tu naskah setaun lebih nangkring di meja dia detik reply ini diposting! T_T
digantung, tuh, bageuuussss… :D

mending ditolak, kan, ada kepastian iya ato nggaknya ;D
tinggal kirim ke penerbit lain, berdoa, menunggu, beres.

So, kembalilah.. *duh, telenovela banget yah? :D *
Kita discuss lagi, poles lagi, dan jadi lebih baik. Dan someday, kalo kamu inget pernah ditolak, kesuksesan kamu akan lebih terasa nikmatnya ;)

[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 10, 2008, 07:39:37 am
________________________________________
belakangan ini gw suka bingung kalo masuk sini mau posting apaan :P
lagi keabisan topik diskusi yak.. :D
hmm.. gw selaku TS bikin bahasan baru dech.. :-* :D

menurut kalian para penulis fantasi, mana yg lebih penting antara:
-plot
-karakterisasi
-gaya bahasa
-setting
-jokes
dalem sebuah novel fantasi?
hmm.. gw mau liat proporsi selera lu orang berdasarkan prioritas (urut dari prioritas 1 sampe 4)..

kalo gw pribadi sih:
1. plot
2. setting
3. karakterisasi
4. gaya bahasa
5. jokes (gw gak pinter bikin jokes :P )
hmm.. ato mungkin yg laen mau nambah elemen2 lainnya? ???
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 10, 2008, 08:42:34 am
________________________________________
refrensi rey..
itu penting banget.

sekalian deh,

buat penulis Hozzo

sebelumnya, makasih udah memberikan pinjaman bersyarat atas buku anda. selain itu, saya sebagai pembaca berterimakasih atas “KERAMAHAN” anda atas komplain saya beberapa waktu lalu atas betapa jeleknya sebenarnya sosok hege yang sebenarnya :P .

nah memasuki hal inti, sebelumnya mohon maaf karena ini adalah tanggapan pribadi atas apa yang saya baca. jika ada yang kurang berkenan, mohon dimaafin :P

buku itu beneran deh, kek perpustakaan berjalan. bikin pala pusing kala dibaca malam2, tapi akan sangat menyenangkan jika dibaca pagi-pagi buta. perjalanan yang aneh, butuh konsentrasi untuk ikut serta dalam perjalanannya. nah berhubung bacanya tak selalu konsen jadi bagian perjalanan ke Tudag ga bisa ngebayangin jenis pulaunya begimana. tapi saat berkendara dengan pla-veos, hee… keren oe..

nah, terlalu banyak hal baru yang ada di buku ini, jadinya semua hal-hal fantasinya terasa datar. mungkin karena diceritakannya secara umum kali ya, tapi ada beberapa detail yang tak bisa aku bayangkan penggambarannya, seperti semangka bergerigi ataupun pintu yang membuka dengan gerakan silang (saat di ruang inkubasi)

yang menarik juga yaitu, tentang kehidupan para alien di planet huminiz. ternyata, biarpun penulisnya mau membuat setting tempat yang berbeda, tapi kesan bumi masih melekat. tentang sebutan rumah sakit, dokter dan tukang kebun. kenapa tak dibuatkan sebutan yang lain, untuk menghilangkan kesan kalau mereka masih di bumi?

selain itu, ALIEN, merupakan sebutan orang-ornag bumi pada makhluk luar angkasa, tapi kenapa sih para makhluk luar angkasa masih juga menyebut sesama mereka dengan sebutan alien.sekali lagi, kenapa mereka tak punya merk untuk jenis mereka,

untuk tokoh utamanya, entah karena aku yang kurang konsen atau emang tak disebut, aku tak tahu umur Alan berapa ya? hee… maaf kalau di buku udha disebut ya
tapi pembicaraan dan pola pikir mereka sedikit terllau dewasa untuk anak remaja seumuran mereka.

pemakaian sebuah istilah yang tak konsisten.
WANITA ALIEN dan ALIEN WANITA timbul bergantian.
Nah kepada bang Villam, master bahasa, coba mana sih diantara istilah itu yang tepat untuk menunjukkan alien yang berjenis kelamin wanita?

secara umum, buku ini hebat. refrensinya komplit dan benar-benar mendukung. tak salah plotnya disusun dalam dua tahun (plotna aja mbo.. apalagi bukunya coba ;D). aku maish nungguin buku lanjutannya yang entah kapan nyusul terbit (tentunya minjem gratisan lagi yak. hee ;D)

dan mungkin seperti seseornag yang disebu penulis, buku ini ngebuat aku minder sendiri. huu… :’(
________________________________________
Post by: hege on March 10, 2008, 10:24:42 am
________________________________________
Terimakasih untuk TS kita tercinta untuk bahasan barunya, mari tingkatkan kualitas thread tersayang ini. Post seperlunya dengan topik bermutu dan memang pantas didiskusikan.

Semua itu penting, semua mendukung kualitas cerita, tapi kadang kala beberapa lebih menonjol dari yang lainnya.

Menurut hege Gaya Bahasa atau bentuk tulisan menduduki peringkat pertama, karena itu love-at-the-first-sight, apalagi untuk editor, paragraf2 pertama novel adalah harga mati, gak peduli sekeren apa ceritanya di dalam, atau seganteng apa karakternya di dalam. Bentuk tulisan sangat menentukan betah-tidaknya pembaca untuk melanjutkan.

berikutnya dengan porsi baik, pas dan seimbang: plot, setting, karakterisasi dan humor sense (hege tak menyebutnya jokes, karena kadang kala humor sense itu ga mesti jokes yg bikin ngakak, tapi kalimat-kalimat yang membuat pembaca antusias, takjub dan terbius)

@arik
terimakasih atas reviewnya. Sangat kuhargai. Mengenai istilah dan sebutan di planet Huminiz, oh tentu hege sudah menterjemahkannya ke dalam bahasa bumi, dan itu penting untuk pemahaman dalam membaca (well tentu saja kan?). Jika arik penasaran, zooke adalah sebutan tukang kebun dalam bahasa Humin, Var adalah sebutan dokter, dan banyak lagi yg lain. Tapi itu akan semakin memusingkan pembaca bukan? (ada ratusan istilah baru yg telah kuciptakan di novel ini ;D)

mengenai sebutan alien, oh pls rik, penggunaannya hanya untuk pemahaman pembaca saja, sekali lagi, terlalu banyak ras yang ada di planet luar sana untuk hege ciptakan sebutan, hehehe. Lagipula Wet dalam bahasa bumi menerjemahkannya seperti itu.

Tentang semangka bergerigi dan pintu terbuka dengan gerakan menyilang. Come on, anak SD pun bisa membayangkan itu ;D

but once again thanks so much for your review, rik (ini review pertamamu bukan?) semua review pembaca (lewat buku pinjaman atau beli) sangat berharga untuk saya.
—-

[tab:Hal 5]

________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 10, 2008, 01:44:17 pm
________________________________________
1. Klo aku setuju ama Hege, gaya bahasa tuh paling penting dlm sebuah karya.
Coz gaya bahasa nunjukin keunikan and ciri khas dr seorang penulis itu.
Mgkn bisa dibilang seperti identitas gitu dech!
2. Truz Setting, membangun suasana negeri fantasy tuh sulit, jd penting banget klo ini diprioritasin.
Semakin oke setting, bakal lebih mudah membuat pembaca seakan bisa ikut ‘tersedot’ di dlm dunia fantasy itu.
3.Plot.
4. Karakterisasi, semakin baik penggambaran karakternya maka pembaca bisa kenal lebih deket ama para tokoh.
Asyik banget kalo pembaca bisa menyelami kepribadian tokoh2 kita and seakan2 pembaca kenal baik ama para tokoh.
5. Jokes? wah, selera humorku ga bagus. jadi kayanya ni kelemahanku.
Ada solusi?
Btw, ni smua pendapatku lho!
Gimana pendapat yg laennya?
________________________________________
Post by: alk on March 10, 2008, 08:55:37 pm
________________________________________
bagiku:
1. plot (gaya bahasa penting buat first impression, tapi tetep aja kalo plotnya nggak mengesankan, sebentar juga dah lupa ceritanya)
2. gaya bahasa + jokes (menurutku sih, jokes masuk dalam gaya bahasa juga)
3. karakterisasi (nggak seru kalo karakternya nggak bisa dibayangin ;D)
4. setting (biarpun urutannya bawah gini, ga berarti ga penting nih >:()
5. referensi (kalo ada bagus banget, kalo ga ada… ya diadain lah ;D)
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: hege on March 12, 2008, 11:19:10 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on March 11, 2008, 07:53:20 am
>Quote from: hege on March 10, 2008, 02:16:56 pm
>baca novel2 dengan selera humor layak akan membantu
>Rowling, RL Stine, Roald Dahl, Tolkien’s Hobbit
RL Stine gada lucu2 om, serem mah iya :P
Hmm.. setelah gw pertimbangkan secara mendalam, selera humor sama sekali gak bisa diukur.
Penulis fantasi ga bakal bisa ngerti/ngakak baca humor2 ala teenlit, dan begitupun sebaliknya. Jadi, sebetulnya kita gak bisa menjudge suatu bacaan kocak mampus/jayus kronis tanpa mengatasnamakan “menurut gw/aku/ane/eike”.
kalaupun ada pengecualian di mana ada pembaca yg ngakak baca teenlit maupun fantasy maupun jenis2 bacaan lainnya, berarti sang pembaca itu emang memiliki selera humor yang fleksibel.

Jadi yang susah adalah, bagaimana menciptakan humor yang diselerai masyarakat luas (dari berbagai kalangan pembaca)?

Selera humornya RL Stine agak-agak miring dan mengerikan, but I really really liked it… oh hege itu penggemar berat RL Stine. Phil itu karakter yg dipengaruhi banyak karakter di Goosebumps (buku-buku karangan Stine terjual lebih dari 300 juta eksemplar ke seluruh dunia dan terjemahkan ke dalam 28 bahasa)

Once again rey, hege menyebutnya Humor sense, bukan sekedar isi jokes atau lelucon atau hal-hal gokil lain yang bikin ngakak. Humor sense itu terkandung dalam tulisan, dan itu sangat mempengaruhi betah tidaknya pembaca. Hege membaca beberapa teenlit-nya Meg cabot, serius keren kok (meski beberapa penerjemah gramed mengacaukan beberapa novel beliau) dan hege impress akan humorsense-nya doi. dari banyak buku2 best seller lain yg hege baca, kuambil kesimpulan, humor sense yg baik akan menarik lebih banyak pembaca.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 12, 2008, 01:30:58 pm
________________________________________
halo semuanya…
apa kabar?
proyek menulisnya masih berjalan semua kan?

bagus-bagus nih pembahasan di beberapa halaman terakhir, tentang mana yang paling penting dalam sebuah novel fantasi. aku bisa banyak belajar. :-)

tentang gaya bahasa, hege benar, itu penting buat menumbuhkan ‘cinta pertama’. serius, ini memang sangat penting. walau sebenarnya, istilah ‘gaya bahasa’ ini terlalu sempit, yang lebih luas dan cocok sebenarnya adalah ‘cara menyampaikan cerita lewat jalinan kata dan kalimat’ (halah…).

tapi, menurutku pribadi sebagai pembaca, bukan gaya bahasa yang bisa bikin aku bertahan baca novel sampai akhir, melainkan ceritanya, yang berisi plot n karakter.
udah banyak kasusnya, cerita dan novel yang kututup di tengah jalan atau bahkan di dua halaman pertama, yang walaupun bergaya bahasa bagus dan mengalir, tapi karena aku gak sreg sama plot dan karakternya, ya udah gak kubaca lagi. apa boleh buat. yeah… tentu saja ini hanya menurutku…

mendingan mana tuh?
cepet jatuh cintanya tapi cepet patah hati juga?
atau lambat jatuh cintanya, tapi langgeng sampai akhir?
wkwkwkwk

sementara untuk setting, itu bagus untuk menambah suasana dan masuk ke dalam cerita. yeah… penting juga, terutama untuk menegaskan bahwa cerita kita adalah cerita fantasi. tapi di urutan berikutnya deh…
sedangkan jokes, menurutku bisa disetarakan dengan romance, action, atau sex scene. semuanya adalah bumbu untuk menarik perhatian pembaca. umumnya hal-hal ini disukai pembaca, dan berarti penting juga. tapi aku pribadi menempatkannya di bawah faktor-faktor lainnya yang telah disebutkan.
yeah… hanya pendapat bodohku saja…
mari menulis lagi.
________________________________________
Post by: kokonoka on March 12, 2008, 03:32:39 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on March 12, 2008, 01:30:58 pm
mendingan mana tuh?
cepet jatuh cintanya tapi cepet patah hati juga?
atau lambat jatuh cintanya, tapi langgeng sampai akhir?
wkwkwkwk

Point yang bagus buat dipikirkan!
mau nanya kecepatan menulis orang kan beda2. Dari sudut pandang pembaca, mending “my pace” tapi jadinya puas atau rilis berkala yang cepet tapi kurang puas?
Abisnya kadang mood dateng pas lagi sibuk2nya.. eh pas lagi senggang idenya belum keluar..
Selain itu gimana mengakali supaya pembaca ga bosen? terutama kalo Act yang kita tulis panjang sampe beberapa bab (dengan perubahan setting yang minim dan karakter yang itu2 aja)

[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: hege on March 12, 2008, 04:10:16 pm
________________________________________
Koko,
biar ga bosen? gimana bisa bosen sih? kalau ga ada greget di dalam tulisan/ceritanya sih mau sependek apa juga pembaca bisa jadi bosen. Artinya, setelah rangkaian karakter,plot, penulisan, setting dengan kadar dan posisi pas, apik, rapi dan jali, ceritanya takkan pernah mengebosenin, trust me! ::)

All,
beberapa tips memancing minat pembaca untuk membaca tulisan kita sampai selesai dan takjub.
1. Twist di akhir bab, ini sangat menyenangkan, it works for me, actually, hehehe..
2. pakai atau selipkan tokoh2 yg ekstraordinari dalam cerita, ini pasti berhasil, pasti! (masalahnya, karakter2 ekstraordinari sulit sekali dibuat, bahkan oleh penulis yg jam terbangnya tinggi)
3. stop cliche things, oh please guys! buatlah sesuatu yg gak sering dibuat orang, dengan begini ceritamu lebih cepat melejit.
4. Terakhir, (ini bukan untuk mematahkan semangat siapa2 yak, heheheh) kalau ceritamu terus-menerus jelek dan tidak enak dibaca, segimanapun usahamu, bahkan setelah menulis jutaan kali dengan usaha sekeras-kerasnya, bahkan sampai berguru dan belajar nulis ke mana-mana. menyerah saja, mungkin hoki dan bakatmu tidak disitu.
nb. kalau belum nyerah juga, teruslah berusaha dan berdoa, cita-cita dan mimpi itu milik semua insan.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 12, 2008, 05:23:34 pm
________________________________________
1. bagus, kokon. silakan dipikirkan ya… heheheh…
2. saranku, buat dirimu lebih puas lebih dulu, baru puaskan orang lain. (dalam konteks ini ya… dalam soal lain, lebih indah memuaskan orang lain terlebih dulu. hehe…)
3. hmm… mungkin harus ada kejutan di setiap 5 halaman. sesuatu yang baru dan bikin orang penasaran. jadi kepikir juga cerita Robinson Crusoe atau film Cast Away-nya Tom Hanks, kok gak bosen ya walaupun tokohnya cuma satu, dan di satu pulau lagi…

@all,
ada yang sudi menyerah sekarang?
hihihihi…

oya tambahan…
di halaman berapa tuh arik pernah nanya mana yang bener:
‘Wanita Alien’ atau ‘Alien Wanita’.
kalo dianalogikan dengan : ‘Wanita Indonesia’, ‘Wanita Jawa’ ataw ‘Wanita Jepang’,
mungkin ‘Wanita Alien’ benar.
tapi kalo dibandingkan dengan : ‘Manusia Wanita’, ‘Jin Perempuan’ ataw ‘Singa Betina’,
mungkin ‘Alien Wanita’ juga benar.
jadi… bingung juga sih… hehehe…
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 13, 2008, 08:07:01 am
________________________________________
Villam, setelah kupikir, jika ditinjau dari segi Menerangkan Diterangkan,
Wanita Alien ==> lebih menekankan pada wanita, dengan alien sebagai unsur menerangkan spesifikasi jenis wanitanya.
Alien Wanita ==> lebih menekankan pada alien, dengan wanita menjelaskan jenis kelaminnya.

tapi dari buku hozzo, istilah alien wanita cuma seklai muncul (ini penulisnya rasanya ge-er deh aku ngebahas istilahnya dia). yah jika disesuaikan dnegan telinga, kekna aku lebih menarik jika memakai alien wanita. karena kedengarannya wanita hantu itu agak aneh… ;D
but, sudahlah, toh juga revisi udah dikirim dan menunggu penolakan enam bulan lagi. wkwkwk .. peace… ;D

gus, aku ga ngerti poin2na, jangan pke bahasa inggris atu….
yah, tapi jadi penikmat juga kadang menyenangkan. :)
________________________________________
Post by: hege on March 13, 2008, 10:01:36 am
________________________________________
minimal 3 bulan untuk keputusannya, jangan libatkan pengalaman pribadi yak ;D. hege pasrah saja pun jika ditolak. masih ada penerbit-penerbit cadangan ::)
btw, hege lebih suka menggunakan istilah Wanita alien (contoh: wanita alien Hezezoic), and its NOT a big deal, demi langit dan bumi. Banyak hal yg bisa dikritik dan didiskusikan selain hal-hal sepele gini.
Rik, poin-poin mana yg tak berhasil dicerna otakmu? Tips itu? I dont explain thing twice, thank you.

[tab:Hal 7]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 14, 2008, 11:48:43 am
________________________________________
hayah gw tinggal dua hari nih tret udah cukup banyak postingan berbobotnya (walo ada jg dua orang yg keliatan banged mesra2annya :P ), elu orang emang keren semua dah(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)

Udah gw duga, berdasarkan tulisan2 elu orang yg pernah gw baca, jawaban dari setiap orang disini bakalan beda2 buat pertanyaan priority itu.
Bisa gw ambil konklusinya, ada dua pendapat dominan disini:

Gaya Bahasa VS Plot

Sepakat sama Villam, terus terang gw pribadi lebih condong ke plot, karena bagaimanapun juga, yg kita bikin itu novel, bukan katalog lelucon/kuliner/wisata jalan2(i poin no finger, i name no name :P , tapi kalo ada yg ngerasa kesambit, (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif) aja deh). Harus ada suatu ide dasar yang kuat untuk plot yg ditulis, yg syukur2 plot itu bisa dibikin secerdas mungkin, gak bertele2, dan gak klise.
Cerdas disini maksudnya adalah menciptakan rangkaian logika dalam plot.

Kalo ada tokoh antagonis setengah dewa yang kekuatannya tak terkira (yg udah digembar-gemborin dari awal sampe akhir cerita), ya konsistenlah thp karakter itu. Jangan nantinya ada tokoh protagonis yg mendadak dengan kekuatan bulannya, malah bisa ngebabat tuh si antagonis… ini gak asik sama sekali. Harus ada solusi yg logis untuk setiap permasalahan yang dihadapi.

Di lain sisi, karena yg dibikin itu novel, dan bukanlah film/komik/anime/lagu/karya seni lainnya, keahlian merangkai kata-kata juga gak kalah penting. Dalam hal ini gw sepakat sama Hege. Ketika kita beli sebuah buku, apa yang kita dapat? Cuma lembaran-lembaran kertas dan hamparan kata-kata..(halah..–ngikutin gaya bang villam :P )

Film, komik, novel, semuanya sama2 menampilkan cerita. Tapi novel hanya berisi kata-kata, gak ada sound, gambar, atau video untuk mendukung cerita yg ditampilkan. Satu-satunya yang akan ditemui pembaca cuma kata-kata, dan mau gak mau kita mesti menyajikan kata-kata itu sespesial mungkin buat menggantikan sound, gambar, video yang gak ada itu.

Menurut gw, menulis novel dengan gaya bahasa (dan dialog) datar* sama aja kaya mencoba menyajikan nasi goreng tanpa bumbu. Nasi goreng itu emang bisa diabisin, sesendok demi sesendok, tapi itu akan menyiksa si pelahap nasi goreng itu.

Dengarlah kawan, yang kita tulis itu novel, bukan berita surat kabar ato daftar belanjaan! :)

*)’Bahasa datar’ yg gw maksud disini gaya bahasa orang tamatan SD.

Jadi, thanks to hege and villam, dimensi plot dan gaya bahasa sama2 vital, dan gak boleh keteteran satupun dari keduanya. ;)

Selain dua hal itu, ada hal lain yg mau gw sorot, karena cukup banyak fantasi lokal yg udah pernah gw baca miskin atau bahkan gak memiliki satu hal ini: greget–thanks to hege.
Betapapun orisinil/apik/keren sebuah jalinan plot, kalo ga ada greget, pembaca akan mudah sekali bosan. Kecakapan menulis dialog, mendeskripsikan kronologi antar peristiwa, menyusun dan memotong scene2, amat diperlukan disini… ga peduli mau novel genre apa, yg namanya greget itu penting, novel tanpa greget ibarat orang ga ada semangat.

Udah ah, gw bukan senior apalagi master, tapi udah ngebacot panjang kek begini… jadi malu(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)

Salam Dangdut
(Aiih gw emang TS yg ganteng dan bijak..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif) eh kalo kek gini gw netral ato menikam semua orang yak?)
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 14, 2008, 12:46:10 pm
________________________________________
jadi kesimpulannya, menulis itu memerlukan seni dnegan beragamn faktor yang mempengaruhi. bukankah itu artinya semuanya penting rey, cuma tergantung kemampuan kita untuk menambal faktor mana yang kita bolong dengan meninggikan faktor lain yang dimana kita ahli.

Comments No Comments »