Posts Tagged “prolog cerita”

jrrt-logoSeandainya beliau masih hidup…

Oke, jadi begini kasusnya. Dalam fiksi fantasi seringkali kita menemukan sebuah cerita atau novel yang dimulai dengan prolog atau bab pembuka yang isinya menjelaskan panjang lebar tentang dunia-dunia rekaan, hingga sampai belasan halaman. Bahkan Tolkien pun melakukan hal semacam ini di ‘Fellowship of The Rings’, saat bercerita soal dunia Hobbit di prolog.

Read the rest of this entry »

Comments 39 Comments »

[tab:Hal 1]Sesi IX (5 Apr 2008 – 16 Apr 2008)

  • Bagaimana sebaiknya novel fantasi kita?
  • Tentang Candi Murca karya LKH
  • Lagi, tentang Prolog
  • Sedikit cuplikan Lemures karya BloodSin

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: cheppy70 on April 05, 2008, 08:18:57 pm
________________________________________
@Bloodsin, for the reviews,
Right on, bro. Thanks atas kadonya :)
I see our POV gak selalu sama, tapi kita kan bisa saling melengkapi (apa sih).

Untuk Ledgard, rasanya gue sangat setuju. “Bule Celup”,… hehehe,.. kena banget. Itu sebenernya mark yg sudah lama ingin ku-ekspresikan tapi lama gak nemu istilah yg pas,.. Novel Ledgard sebenernya promising, tapi dia punya suatu kekurangan yang menyebabkan ceritanya menjadi nggak terasa ‘ngek’, gitu. Untuk yg satu ini, gue bahkan berhenti baca di pertengahan buku dan ngga ada hasrat ngelanjutin lagi.
(Makanya Ledgard ga ada reviewnya di gue,.. heheheh. Tapi pikir-pikir jadi pengen buka lagi tuh buku)

Zauri, pengen baca, tapi koq rasanya ga pernah liat judul ini di toko buku ya? Sama kayak Cardan,.. ga pernah liat juga.

Untuk Cardan setelah liat covernya, tumben keren,…. ??? Sub judul Hinkal Core, juga menjanjikan sesuatu. Tapi review kamu udah obyektif bilang bahwa penamaan tokohnya kacau. Dan gua akan setuju banget kalau itu bakal menjadi letdown factor.

Lemuria,…?? Bisa dibeli dimana dong? ;) ;) ;)

OK, happy writing, semuanya.

FA Purawan
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 06, 2008, 07:48:20 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on April 05, 2008, 10:01:28 am

-Misteri Pedang Skinheald (satu2nya novel fantasi bersekuel yang udah terbit sekuelnya–salut!)

Sedikit koreksi mengenai Skinheald.
Sebagaimana udah kutulis juga di blog review gue, Skinheald 1 hardly called Buku 1, soalnya itu bener-bener hanya semacam prolog yang dicetak terpisah. Inget buku-buku Sapta Siaga? Nah, Skinhelad 1 cuma setebel itu aja, dengan konsep penceritaan yang juga belum utuh.

Tapi salutation tetap berhak disampaikan pada Ataka, sebab kalau buku 1 dan buku 2 digabung pun, akhirnya menjadi satu kesatuan cerita yang merupakan sebuah buku tebaaal,.. yang diselesaikan oleh seorang anak usia sebelas tahun. Gue yakin di antara kita aja yang nota bene udah lewat dari usia 11 tahun (bener gak?), pada usia yg sama belum ada yg mampu membuat sebuah cerita utuh dengan kualitas menyamai Ataka punya,… hehehe,….

Persoalan sekarang tinggal masalah produktivitas. Konon akan ada sekuelnya lagi, tapi sampai sekarang masih belum ada kabar (Ataka seperti tenggelam. Lagi sibuk ujian, kali?).

Tapi mungkin juga tema Fantasi panjang (tebal) merupakan tema berat buat ditulis oleh pengarang remaja (gak usah pengarang remaja, yg tua aja ngos-ngosan,.. :( ). Contoh seri Eragon, sampai sekarang buku 3 setelah the Eldest masih belum muncul. Padahal kalo bicara bisnis, terlalu lama jeda antara serial akan menyebabkan penerbit kehilangan momentum, dan pembaca keburu kehilangan excitement.

Kalo dipikir-pikir begitu, berarti emak JK Rowling emang bener-bener top ya? Bisa menyelesaikan 7 bukunya dalam rentang waktu yang cukup berdisiplin (setahun sekali), sementara seluruh dunia menunggu. (Kalo udah gitu, God,… gue bener-bener pengen bercita-cita serius jadi penulis sejak muda, hehehe).

FA Purawan

[tab:Hal 3]

________________________________________
Post by: BloodSin on April 06, 2008, 03:41:19 pm
________________________________________
@villam,
haduh diposting disini lg review-nya kan malu bang, ada om FA Pur(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
But eniwei TQ banged dah buat segala masukannya–terutama untuk adegan2 kemunculan Esther yg terpisah terlalu jauh–i’ll fix it.. ;)
sekali lagi, TQ, ente udah mau ngebacak versi lemuria yg masih superamburadul ituh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
Gak usah dibaca ulang lg deh bang, secara, versi yang ente baca ama versi yg sekarang ada di kompie ane dah lumayan berubah n dipermak di mana2.. (hehe..contohnya, karakter Guillarde udah gw pecah jadi dua orang :D )
Judulnya aja udah bukan Lemuria lg :P
eniwei, ga ada komen buat review keji Cardan gw? ayo donk bantah satu-dua statement gw.. biar nih tret bermutu dikid :P

@clickdian,
ada yang nyari Zauri tuhh :P

@om cepi,
Cardan-nya dibeli ajah om.. serius gw penasaran banged bakal kayak gmn komen resentator sekaliber ente..
lgian tuh buku gak mahal2 amat kok om.. ;)
lagian lagih secara selera kita terkadang beda (untuk novel Hozzo contohnya :D ), siapa tau ajah Cardan keren abis di mata ente.. ;D
Novelnya Ataka terus terang gw cukup penasaran, soalnya banyak yg komen positif, tapi harganya yg cepekceng ngebikin gw mikir jutaan kali buat belik.. :-\
Hmm.. menurut ente, Skinheald ama Ledgard bagusan mana (diukur dari segi gaya penceritaan & plot)?

Novel gw? Belom terbit om.. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Reviewer2 berdarah dingin kelas biawak semodel2 ente yg ngebikin gw lama submit naskah ke penerbit.. :D ;D ;D
________________________________________
Post by: hege on April 06, 2008, 05:18:42 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on April 06, 2008, 08:11:14 am
Quote from: hege on April 05, 2008, 02:59:16 pm
temen-temen, (promosi) portfolio untuk artwork-artwork terbaru hege bisa dilihat di sini http://hege.cgsociety.org

Gambar-gambar Hege itu selalu dahsyat, Fantasy banget.
Heg, gue belum bisa angkat topi buat penulisan novel Sci Fi (whatever istilahnya, deh, hehehe) ente, improvement on the way, I believe, dan gue anxious to see them :) . Dalam hal ini gue berseberangan sama BloodSin, rupanya :p
Tapi gue takluk dan nyembah-nyembah untuk seni illustrasi elo, terutama yang baru-baru. :-*
Cocok banget buat ilustrasi Fantasy. Soalnya gambarnya gak sekedar gambar. Selalu ada aura kisah di dalamnya, sehingga bahkan dari ngeliat satu gambar aja udah bisa ‘keluar’ sebuku novel, atau setidaknya satu bab novel,… hehehe.
BTW, elo gambar pake Photoshop, berarti pakai tablet PC gitu dong? Kalau pake mouse,…. sakti banget, dah.
Salam,
FA Purawan

yeah begitulah, masih di bawah umur hege belum mentok lah tulisannya, masih mencari gaya tulisan yang pas, juga genre yg cocok, jadi improvement selalu akan dan sedang berlangsung, dan jelas hozzo bukan masterpiece-ku, tapi belum yakin juga akan menulis buku-buku keren di masa akan datang.

Mengenai ilustrasi, yak, itu salah satu kesibukan hege belakangan ini, sampai-sampai beberapa tulisan terlantar menyedihkan. Masih menunggu wahyu agung dari alam semesta raya yang bisa membuat semangat menulis membara lagi, heheheh. Btw, iyak hege make photoshop CS2, dan bermodal mouse kecil yang menyenangkan, jadi ga berharap bisa banyak brushing detil dengan aneka warna, dengan mouse hege hanya bisa memakai beberapa warna dengan setuhan-sentuhan brush ala kadarnya. Hasilnya tak begitu jelek kan? (jadi pengen pc tablet atau Wacom)

Oh ya mas, hege tak berhasil membaca ceritamu yang Pendekar Garuda, hege baca sedikit sih yang di group, tapi tak bisa melanjutkan baca karena beda selera jauh banget yak. sorry :)
Tapi sekarang masih nulis kan, mas? umur toh bukan masalah, kapanpun kita bisa menulis cerita, setidaknya sampai kita kehilangan akal sehat, heheheh.
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: cheppy70 on April 07, 2008, 08:44:13 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on April 06, 2008, 03:41:19 pm

@om cepi,
Cardan-nya dibeli ajah om.. serius gw penasaran banged bakal kayak gmn komen resentator sekaliber ente..
lgian tuh buku gak mahal2 amat kok om.. ;)

Done! PM aja berapa duit aku mesti tebus. Termasuk dengan ongkos kirim ke area Pancoran Jakarta Selatan dengan TIKI ONS (yg satu malem itu. Kalo yakin bisa sampai satu hari dengan TIKI biasa sih oke juga). Aku bisa transfer pakai BCA atau Mandiri. Kasih tahu no rek mu aja.

Tapi bukannya masih sampeyan baca?

Quote
lagian lagih secara selera kita terkadang beda (untuk novel Hozzo contohnya :D ), siapa tau ajah Cardan keren abis di mata ente.. ;D

Hmm,… let’s see, my friend, let’s see,….. :)

Quote
Novelnya Ataka terus terang gw cukup penasaran, soalnya banyak yg komen positif, tapi harganya yg cepekceng ngebikin gw mikir jutaan kali buat belik.. :-\
Hmm.. menurut ente, Skinheald ama Ledgard bagusan mana (diukur dari segi gaya penceritaan & plot)?

Secara gue belum menyelesaikan Ledgard, maka komentar gue tentang Ledgard masih belum finish (kayaknya gue akan bikinin reviewnya aja deh sekalian). Tapi so far yang bisa aku katakan adalah kenapa gue baca Ledgard sampai segitu lama gak selesai-selesai.
(Biasanya gue termasuk gigih baca buku. Kalaupun dari sisi gaya atau cerita kurang cocok, tetep gue usahakan diselesaikan walaupun harus makan waktu berbulan-bulan. Makanya khusus Ledgard ini termasuk langka buat aku).

Sebenernya Ledgard itu, seperti gue sempat bilang, cukup menjanjikan. Perjalanan Plotnya so far sebenernya bagus dan terencana dengan baik. Beberapa konsep universe-nya sekali lagi cukup menjanjikan. Misalnya kapal kapal yang melayang (Kayak Final Fantasy series), Sihir 5 unsur, dll, sebenernya cukup membangun universe yang solid, lah. Detail juga patut dipuji. Kekurangan, seperti yg elo udah bilang, adalah unsur bule Celup-nya itu. Tapi kalo gue mau jujur, dalam naming convention Ledgard ini malah udah lebih baik dari Skinheald, atau mungkin juga Cardan. Aspek ilustrasi, standar lah, nggak terlalu mengesankan gue.

Satu kelemahan Ledgard buat gue adalah dalam manajemen tempo. Membaca novelnya adalah seperti mengayuh sepeda dari Cibubur sampai Ancol :’( Alias panjang, santai, dan mendatar. FLATLINER! (eh, asyik nih, kayaknya statemen ini bagus buat review,…hehe). Bukannya nggak ada action scenes, sih, tapi gimana ya? Kayaknya pengarang menganut falsafah seperti orang Jogja, alias jalan pelan-pelan dan biarkan problem datang ke saya bukan saya datang ke problem. Malah gue sebagai pembaca jadi gak sabar! hehehe,… (yg orang Jogja maap yak ;D)

Nah, kalao mau dibandingkan, maka Ataka justru lebih mahir mempertahankan tempo dan ritme. Dia bisa menciptakan ketegangan-ketegangan kecil dan klimaks-klimaks yang membuat pembaca betah membaca novelnya. Sebagai informasi, gue baca novel Ataka kira-kira dalam waktu seminggu. Baca Ledgard? Udah berapa tahun, yaks? Hehehe,……

Lain-lain mengenai Skinheald, aku rasa udah cukup terwakili dalam review gue:)

Quote
Novel gw? Belom terbit om.. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Reviewer2 berdarah dingin kelas biawak semodel2 ente yg ngebikin gw lama submit naskah ke penerbit.. :D ;D ;D

Ha ha ha,.. ;D ;D ;D, Masa ente takut sama biawak?? lagian komentar gue mah gak perlu dipusingin. Komentar editor/ penerbit, kan bisa lain dan justru lebih ‘mematikan’, hehehe.
Satu filosofi biawak: Biawak cuma bisa makan nyamuk. Kalau ente memang Macan, maka biar biawak berkoak-koak kayak apa, juga, ente sejatinya tetap Macan. So, keep your faith with you (and ur writings!).
Moga-moga sukses!

FA Purawan

[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: BloodSin on April 08, 2008, 12:30:32 pm
________________________________________
Ledgard emang sip aturan tata namingnya, tapi kalo buat selera naming dalam Ledgard, ane kurang suka.
Somehow, nama2 dalam Ledgard (contohnya buat bangsa Felis-nya) terkesan dibikin asal jadi, walo emang aromanya masing2 senada dalam satu wadah bangsa.
Hmurrdar Jaar, Nraam, Himraur Darru
C’mon, seharusnya penulis fantasi bisa lebih baik dari itu bikin nama. Kebanyakan penulis fantasi indo (kayak penulis Cardan juga), bikin/milih nama lebih mengandalkan aroma ‘aneh bin ajaib’ daripada keindahan/’ketepatan’nya. Sejauh ini, dari semua fantasi lokal yang pernah ada, gw paling salut sama NAREND buat tata namingnya.. (yg ini ente juga udah baca tah, om? kok tak ada komen/review?)

Alur Ledgard emang lambat, gw juga sempet berhenti baca saking bosennya (baru tamat ampe berbulan2). Ini cukup aneh, secara tipe Ledgard itu RPN–genre fantasi yang amat bertendensi buat ngebut.
BTW gw baru tauk Ledgard ini edar lagi taon 2007 kemaren lho, keren juga eksis dari taon 2006…2 taun euy. BTW lagih kayaknya dari semua fantasi lokal, Ledgard ini yg paling populer.. mungkin karena cetakan pertamanya yang 5000 eks–CMIIMW. Ini ada bbrp link yg ngomongin ledgard,

http://www.goodreads.com/book/show/1396766.Ledgard_Musuh_Dari_Balik_Kabut

http://perca.blogdrive.com/archive/cm-12_cy-2005_m-12_d-30_y-2005_o-0.html

http://groups.yahoo.com/group/dunialedgard/

(yg ini saingan sama yahoogroupsnya si om FA Pur :D )

@om FA Pur lagih,
oom, ane yg notabene sejiwa sama ente (dalam bidang ‘pemburu’ & komentator novel2 fantasi lokal :D ), udah baca semua review2 maut ente–khususnya review novel2 fantasinya. :)
Hampir semua dibabat abis ma ente yak(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
untuk beberapa poin, ane bisa sepakat ama komen2 ente…hehehe.. ;)
tapi novel goran yg ane puji abis2an aja, kayaknya masi belum berhasil menaklukkan selera & standar fantasi ente yak…
serius nih, ane jadi penasaran banged, sebetulnya novel fantasi kayak gimana yang om FA Pur harapkan untuk lahir di tangan penulis fantasi indonesia?
Apakah fantasi yang kuat di plot? Atau yang bersetting mitos lokal? Atau yang memiliki filosopi kuat? Atau yang beride orisinil? ???
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 08, 2008, 03:22:15 pm
________________________________________
Yaaah, kalo ada ditoko buku sih udah gue beli. So far belum nemu tuh? Udah ada budget khusus buat beli buku tiap bulan. Tapi berhubung novel Fantasy lokal jarang, ya yg kebeli kebanyakan novel2 terjemahan :(
Ya gue akan keep looking aja dah.

Somehow, nama2 dalam Ledgard (contohnya buat bangsa Felis-nya) terkesan dibikin asal jadi, walo emang aromanya masing2 senada dalam satu wadah bangsa.
Memang gue juga kurang suka dengan hasil akhir (nama)nya. Terutama justru NASH, hehehe,.. gak mengesankan karakter apapun. Tapi di titik ini gue memuji prosesnya, bahwa pengarang menyadari perlu suatu konsistensi dalam penamaan tokoh dan tempat.

NAREND udah baca, agak lama sih berlalu, makanya gak kubikin review. Tapi Gue setuju juga bahwa tata naming Narend yang paling bagus, setidaknya paling natural. Tapi hal itu mungkin lebih disebabkan setting yang masih semi Fantasy, alias masih ada paralelnya dengan dunia nyata.
Satu hal di Narend yg gue nggak sreg, plot bagian depannya udah cukup memikat dan realistis, tapi endingnya jadi ngga terlalu believable. Udah gitu ngegantung, kan? Seinget gue para tokoh balik dari kuil harta itu, tapi perjalanan belum finish tapi cerita udah di finish-kan oleh pengarang. Jadinya seperti ending tidak pada tempatnya,… hehehe,…

Quote
serius nih, ane jadi penasaran banged, sebetulnya novel fantasi kayak gimana yang om FA Pur harapkan untuk lahir di tangan penulis fantasi indonesia?
Apakah fantasi yang kuat di plot? Atau yang bersetting mitos lokal? Atau yang memiliki filosopi kuat? Atau yang beride orisinil? ???

Wah gimana yah? Kalo ditanya gitu gue malah bingung. Secara gue lahir sebagai tukang cela sehingga apa-apa jauh lebih mudah mencela (ya toh?), daripada menyebutkan saran terbaik. Wong bikin (dengan tangan) sendiri aja hasilnya belum tentu seperti idealisme (di kepala) sendiri, ya gak?

Tapi yang gue ‘tuntut’ dari sebuah Novel (terutama Fantasy) sebenernye ‘sederhana’. “Jadikanlah aku larut dalam Duniamu!”. Jangan jadikan aku bertanya-tanya (karena ada yg nggak jelas atau nggak logis), mengerenyitkan kening (karena sesuatu yg terasa janggal), jangan ‘tarik’ aku keluar dari Duniamu karena justru untuk ‘hidup’ di dalamnya lah aku memilih buku Fantasy, bukannya Chiklit :D .

Dengan requirement sesederhana itu, mestinya sih beberapa sendi-sendi bangunan novel harus kuat, ya? Kalo plotnya ngga genah, gue akan sulit menikmati alasan-alasan tindakan maupun pikiran para tokoh. Kalau setting-nya nggak solid, gue akan sulit bertahan di dalam dunia yang diciptakan pengarang. Kalau tempo-nya ga ‘engaging’, mungkin gue akan sibuk bikin lagu sendiri :) . Kalo tata bahasanya ngga konsisten, bisa jadi gue akan terlempar dari alam fantasy ke dunia lain >:( Even becandaan (humor) yang ngga pada tempatnya pun akan mengalihkan mood dari seharusnya. Gue sendiri nggak akan memaksa pengarang untuk punya pikiran yang searah dengan gue. Kalo gitu berarti gue nggak akan bisa masuk ke dunia ciptaan pengarang ??? Tapi sebuah karangan yang baik tentunya punya satu kekuatan yang menyebabkan orang bersedia ‘masuk’ di dalamnya dengan sedikit atau tanpa resistensi sama sekali.

Kenapa dunia Harry Potter bisa dicintai orang banyak? Menurut gue ya kemampuan melarutkan pembaca itulah. Kenapa Laskar Pelangi bisa digandrungi orang banyak? (bukan novel Fantasy, sich. Tapi sekedar contoh mengenai novel yg booming, aja) karena orang bisa larut, terpesona, tertawa atau menangis bersamanya (Gue sangat ‘terbawa’ di bab Mahar mementaskan tarian Afrika dengan bubuk gatal itu,… dahsyat, man).

Kadang gue ‘mikir,…. apakah mungkin dunia kepengarangan kita masih eforia dengan genre fantasy, sehingga menyangka bahwa untuk bikin Fantasy cukup dengan mengarang nama-nama aneh? Sejatinya untuk bikin pembaca bener-bener percaya dan larut, itu gak mudah. Kuharap,… kita bisa sama-sama meraih keterlarutan ini (busyet jelimet) dalam karya-karya yang kita hasilkan!
Salam,
FA Purawan

________________________________________
Post by: cheppy70 on April 09, 2008, 09:27:48 am
________________________________________
@All,
Allow semuanya, selamat pagi :)
Ada yg mo saya tanyain, nih buat rekan-rekan, yaitu mengenai Novel CANDI MURCA karangan Langit KH. Ini proyek ambisiusnya LKH untuk menerbitkan novelnya sendiri melalui LKH productions, dengan komitmen menulis 10 halaman per hari, sehingga 1 buku 800 halaman bisa diselesaikan dalam waktu 3 bulanan :o

Pertanyaan saya adalah mengenai genre Novel ini, apakah bisa dimasukkan dalam genre Fantasy. Pertimbangannya, dia menggunakan setting era Singasari yang dimodifikasi, istilahnya di rekonstruksi kembali :) , sehingga menghasilkan universe yang berbeda dengan kondisi obyektif singasari yang dikenal melalui studi sejarah.

Seperti yg saya tahu, ciri khusus genre fantasy adalah pengarang menempatkan cerita novelnya dalam sebuah setting yang berbeda (setting imajinatif) dari Dunia yang kita kenal. Dalam praktik, dunia yg bukan dunia kita itu bisa saja berlandas pada planet atau negeri yang bener-bener antah berantah, atau bisa juga masih punya koneksi dengan dunia kita saat ini (seperti di Harry Potter, Stardust, Neverwhere, His Dark Materials dll). Koneksinya bisa temporal, ataupun spatial.

Candi Murca menggunakan setting tahun 2011 M serta delapan ratus tahun sebelumnya secara berganti-ganti. Plotnya bercampur antara kisa misteri dan kisah persilatan, seolah dua buku dijadikan satu jilid.
Apakah dengan kondisi-kondisi ini, Candi Murca layak dimasukkan genre Fantasy?
(Kalo iya, aku masukin di antrian review, nich,… hehehe)

FA Purawan

[tab:Hal 5]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 09, 2008, 12:04:17 pm
________________________________________
Hai…
@rey, my good friend,
Aku rasa kamu terlalu kejam menilai cardan (walau tetap tak sekeji reviewmu dulu atas cerita ancurku. Hehe…). Masak cuma bintang satu. Apa cuma gara-gara naming? Aku rasa sih masih selevel deh sama numeric uno. Hehe… Cuma pendapatku sih…
Btw, kamu dah edit lagi lemurianya? That’s great. Tapi ati-ati ya, editing bisa jadi neverending process. Yeah… kamu tau lah… Kalo ntar butuh komen lagi, aku masih tetap bersedia.
Sip deh. Semoga sukses.

@fapur,
Kehadiranmu di ffdn benar-benar bermanfaat nih… hehe… terutama buatku yang masih perlu banyak belajar lagi dalam menulis. Salut.
Kapan-kapan review cerita-cerita amburadulku juga ya? Tapi jangan pingsan kalo nanti ngeliat banyak banget jeleknya. Hehehe…
Tentang candi murca, aku akan menyebutnya fantasi, yang menyodorkan dunia alternatif.
Kalo gak salah, salah satu nominator Hugo Award 2007 yaitu His Majesty Dragon karya Naomi Novik (huh, bener gak ya namanya?) juga bikin dunia alternatif untuk jaman Napoleon dulu.
Kalo gak salah ya… seperti biasa aku kan sok tau…
________________________________________
Post by: alk on April 09, 2008, 09:50:53 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on April 09, 2008, 09:27:48 am
Ada yg mo saya tanyain, nih buat rekan-rekan, yaitu mengenai Novel CANDI MURCA karangan Langit KH. Ini proyek ambisiusnya LKH untuk menerbitkan novelnya sendiri melalui LKH productions, dengan komitmen menulis 10 halaman per hari, sehingga 1 buku 800 halaman bisa diselesaikan dalam waktu 3 bulanan :o

:o 800 halaman 3 bulan? wew… pengen bisa gitu, 80 halaman 3 bulan aja ga pernah kesampaian gw. ;D
pengen punya, tapi… kalo tebelnya segitu, harga berapa tuh?
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 09, 2008, 10:01:45 pm
________________________________________
liat tuh LKH bikin 10 halaman per hari…
aku butuh 10 jam per hari buat dapet 10 halaman… gila ajah… kayak gak ada kerjaan laen…
dapet 2 halaman per hari udah alhamdulillah…
________________________________________
Post by: BloodSin on April 10, 2008, 04:15:45 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on April 09, 2008, 12:04:17 pm
Hai…
@rey, my good friend,
Aku rasa kamu terlalu kejam menilai cardan (walau tetap tak sekeji reviewmu dulu atas cerita ancurku. Hehe…). Masak cuma bintang satu. Apa cuma gara-gara naming? Aku rasa sih masih selevel deh sama numeric uno. Hehe… Cuma pendapatku sih…

Numeric Uno masih mendingan daripada Cardan, somehow.
But sabar lha, gw kan masi belom beres baca (sampe sekarang, setiap malem, gw masih nyicil baca entah satu paragraf-satu halaman), kalo nanti bagian setengah buku terakhir udah beres gw baca dan gw menemukan ada poin2 yg positif, ratingnya pasti gw naekin dah(walo emang gak bakalan kejadian ratingnya berubah jadi 3 ato 4 bintang, heheheh)
Tapi ya itu, untuk perbandingan ajah, Numeric Uno, walaupun novel ini plotnya cukup blakatak n ide cahaya Zeta-nya mirip banged sama cahaya Zarta MIB 2, gaya bahasanya masih jauh lebih gampang gw cerna daripada Cardan.
Seperti yg udah gw bilang, cardan punya 3 faktor yg ngebikin gw lama ngeberesinnya. And seriously, naming yg amburadul nian itu sebetulnya masih bisa tertolong kalo plotnya masih didukung tata bahasa yang j_e_l_a_s dan alur yang proporsional. Deskripsi-deskripsi dalam Cardan bagi gw burem banged, dialog2nya aneh, dan udah gitu miskin greget–yg berujung alurnya terasa lambat, itu semua faktor yg bikin dia cuman berating 1 di mata gw..
________________________________________
Post by: Yu-shiki on April 11, 2008, 06:59:27 pm
________________________________________
Eh maap keluar jalur bentar.. prolog itu maksudnya apa sih?
Apa setiap cerita novel harus disertakan prolog?
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 11, 2008, 10:28:02 pm
________________________________________
Prolog,…
Gue sih paling demen menggunakan prolog, secara prolog membuka kemungkinan pengarang menjelaskan suatu latar belakang lebih dulu. Umumnya suatu peristiwa yang kelak akan mempengaruhi jalannya cerita. It gives some ‘suspense’ (dalam artian apapun, tidak harus bermakna ketegangan) kepada pembaca, supaya baca novel itu sampe selesei :)
Selain itu prolog memberi keleluasaan bercerita tentang sesuatu yang tak langsung berhubungan dengan tokoh protagonis. DI mana tokoh protagonis biasanya akan muncul di Bab I sebagai titik awal cerita.
Tapi emang ga setiap cerita akan efektif menggunakan prolog. Semua itu tergantung sama strategi penyusunan plot yang diinginkan oleh pengarang.
FA Purawan

[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 12, 2008, 07:55:39 am
________________________________________
mengabaikan definisinya, prolog adalah bonus alias senjata sampingan buat penulis supaya ia bisa memulai cerita dari dua arah yang berbeda (satu di prolog, satu lagi di bab satu).
arah yang berbeda itu bisa berupa lokasi yang berbeda, waktu yang berbeda, tokoh yang berbeda, sudut pandang yang berbeda, dan tentu saja plot yang berbeda.
tidak semua cerita perlu prolog, apalagi kalau ceritanya sederhana. mau langsung masuk ke cerita/plot utama lewat bab satu juga oke-oke aja kok. tapi yang jelas, prolog adalah ‘advantage’ buat penulis, makanya aku bilangnya bonus.

pembahasan tentang prolog kayaknya udah banyak deh di halaman-halaman tret ini sebelumnya, termasuk jenis-jenis prolog yang biasa dipakai, dsb.

tapi yang penting sebenarnya memahami aja dulu apa sebenarnya fungsi prolog, yang kalo menurut pendapat bodohku adalah seperti ini:
- menarik pembaca dengan adegan2 yang memikat.
- memperkenalkan tokoh protagonis (di masa lalu, masa datang, atau masa kini)
- atau memperkenalkan tokoh lain (antagonis, korban)
- memperkenalkan setting (latar cerita: dunia, tempat, kasus)
- memperkenalkan suasana/nada cerita, apakah ini cerita ceria atau cerita gelap misalnya. pembaca tak ingin merasa ditipu nanti, mengira ini cerita aksi padahal isinya nanti bukan aksi, misalnya.
- memperkenalkan tema, inti cerita, masalah ‘hidup mati’ yang akan dijumpai dalam cerita, supaya pembaca merasa ‘ada pentingnya’ buat membaca terus.
- apa lagi ya? wkwkwkwkwk… halah… udahlah, aku ngasih teori-teori lagi…
________________________________________
Post by: clickdian on April 12, 2008, 10:28:55 am
________________________________________
Tambahan tentang prolog, be careful with this one, karena prolog yg ‘salah buat’ akan jadi seperti penyanyi yang salah milih lagu; bikin ilfil. Dan jangan salah, bikin prolog gak gampang, karena harus bisa ‘mengundang’ pembaca untuk lanjut ke bab berikutnya, tapi juga tidak keluar dari ‘tone’ cerita keseluruhan.
Personally, aq kurang suka pake prolog. Dari semua cerita yg aq buat, rasanya baru Segara Wulan yang pake prolog, itu pun belon kelar, hehe..
________________________________________
Post by: BloodSin on April 15, 2008, 11:56:11 am
________________________________________
ini nih gw post sedikit cuplikannya..

Kain membuat beberapa obor dari kayu-kayu bakar—sisa bakaran unggun semalam, dan segera memimpin penjelajahan menembus kegelapan. Lorong gua itu cukup luas pada beberapa langkah awal mereka masuk ke dalamnya, dan kemudian mulai menyempit pada beberapa titik sehingga orang-orang harus berjalan dengan merapat ke dinding.

Ketika mereka telah memasuki lorong gua cukup dalam, mereka menemukan semacam lambung luas. Obor yang dibawa sang marquis menerangi permukaan dinding yang ada di situ, dan segera saja Guillarde berdecak karena terpukau.

“C’est intéressant,” ia berkata takjub. “Tempat ini memiliki banyak hieroglif!”

Semua orang menerangi permukaan dinding yang dilihat Guillarde, dan kemudian menemukan gambar-gambar primitif yang terukir di atas dinding. Mereka menjadi takjub karena menemukan hampir di seluruh sudut lambung luas itu memiliki ukiran-ukiran. Ada banyak gambar yang dilihat mereka di situ: kebanyakan adalah gambar hewan, manusia primitif, dan benda langit.

Langkah Larke terhenti pada suatu ukiran yang menampilkan gambar dari sekelompok mahkluk cebol yang berlari kocar-kacir dari sesuatu yang menukik di atas mereka—seekor burung besar, dan ia melihat pula ukiran bulan sabit dan matahari yang ada berdampingan dalam gambar itu; sebuah lukisan dinding yang amat menarik perhatiannya. Merasa mengenali bentuk burung itu, ia memanggil Fly untuk memastikan.

“Kurasa itu seekor enkidu,” Fly berkata. “Ukiran burung itu memiliki sepucuk bulu lancip di belakang kepalanya serupa jambul, mirip seperti enkidu jantan yang kita lihat di Israd.”

Lama memandang gambar itu, kedua bocah segera mengenali mahkluk-mahkluk cebol yang tampak seperti primata-primata kerdil itu. Mereka segera memanggil semua orang. Dan Guillarde adalah orang yang paling tertarik pada hieroglif temuan mereka.
________________________________________
Post by: BloodSin on April 15, 2008, 12:01:27 pm
________________________________________
@villam,
u bener, gw kayaknya terlalu keji ngasi Cardan poin satu, heheheh.. :D
Gw udah tamat baca (fiuhh akhirnya!), n ratingnya gw naekin jadi 2 bintang (sejajar Ledgard, Pinissi, Nightfall, n Numeric Uno), heheheheh..
Sepuluh bab terakhirnya lumayan kok, gak ‘separah’ bab2 awal sampe pertengahan buku–walopun emang masih tetep gw temukan bbrp hal negatif(contohnya si pengarang acapkali mabok nyebut Tolan sebagai ‘Kota’, padahal Kerajaan, ato mungkin adanya ‘kebetulan2 yang gak alamiah’–hehehe yg ini gw maklum deh, gw sendiri tipe penulis yg cukup berpegang sama pakem kebetulan :P ) .
Endingnya ya gituu deh, payah dah.
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 15, 2008, 12:59:15 pm
________________________________________
endingnya ga ‘ending’, hehehe…
dan gak ada penjelasan kapan bakal muncul lanjutannya. jadi wajar jika muncul perasaan pembaca seperti ini : ‘aku terjebak!’
salah satu problem utama novel fantasi yang baru muncul, kurasa…
kalo mau bikin cerita yang bagus, otomatis seharusnya detil dan plotnya diperkaya dan diperhalus, yang berarti ceritanya bakal panjang banget.
masalahnya penerbit gak mau nerima / mengambil resiko cerita2 yang terlampau panjang. yeah… kita tau lah semua alasannya…
dan langkah penulis untuk menyiasatinya adalah dengan memotong ceritanya jadi dua atau berapapun. yang berarti sekuelnya tentu saja –> ‘ya udah nanti aja dipikirin kalo emang bukunya laku’.
jalan itu memang masih panjang…
tapi jalanin aja deh…
________________________________________
Post by: BloodSin on April 16, 2008, 10:54:44 am
________________________________________
bukan knp2 sih villam, masalahnya di Cardan itu, jelas2 udah dikasi label TAMAT gitu sama penulisnya, sama kaya novel Narend…(which means elu tungguin sampe matik juga ga bakalan terbit sekuelnya) sementara perkara2 dalam plot Cardan masi jauh dari beres, payah dah. ini bener2 menjebak (dan amat mengesalkan) pembaca, i agree with u. :’(
Novel gw juga termasuk novel yg sarat perkara (elu tauk sendiri kan :D ), but at least, kalo satu perkara yg jadi perkara utama dalam novel gw udah diselesain di akhir cerita, masi bisa ditolerirkah? :-\
ato jangan2 naskah gw itu jenis yg ‘menjebak pembaca’ juga? :-[

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi VII (14 Mar 2008 – 2 Apr 2008)

  • Fantasi identik dengan hiperbolis?
  • Korban Penculikan Alien Pertama di Indonesia Adalah Seekor Kucing? karya hege
  • Khael dan Marina oleh alk
  • Tentang macam-macam Prolog
  • Membuat greget cerita
  • Blog khusus mengulas novel-novel Fiksi Fantasi Indonesia

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
________________________________________
@Rey
Thanx buat reply-mu yang gondrong abis! ;D
Anyway, aku pikir ada beberapa hal yang emang bener dr apa yg kmu tulis.
Dari situ aku mikir2, ternyata emang bikin novel susah banget ya?
Selama ini aku slalu kesusahan dlm merangkai/mengolah kata.
Jadinya aku pake majas2 utk deskripsi suasana, dst.
Penggambaran tokoh juga pake majas2, kebanyakan majas hiperbolis sih! ;D

Btw, aku mau nanya, apakah novel fantasy identik dengan yg namanya sesuatu yg dilebih-lebihkan?
Alias hiperbolis?
Coz, dulu aku pernah minta saran ke temanku yg udah pernah baca cuplikan critaku, dia bilang critaku kurang hiperbolis utk ukuran sebuah novel fantasy.
Aku ga tau apa maksudnya?
Mgkn yang dia maksudkan tuh semacem mengolah kata2 dgn imajinasi tinggi gitu ya?
Misal : di Narnia, ada Aslan, singa yang bisa ngomong.
Ato mungkin, ada mobil terbang di crita Harry Potter.
Trus, apakah novel fantasy emang menuntut suatu imajinasi yang buat setinggi-tingginya?
Mohon dijawab pertanyaan penulis pemula ini… :)
________________________________________
Post by: alk on March 14, 2008, 11:49:58 pm
________________________________________
Quote from: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
Btw, aku mau nanya, apakah novel fantasy identik dengan yg namanya sesuatu yg dilebih-lebihkan?
Alias hiperbolis?

nggak.

Quote from: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
Trus, apakah novel fantasy emang menuntut suatu imajinasi yang buat setinggi-tingginya?
Mohon dijawab pertanyaan penulis pemula ini… :)

nggak juga.

;D wkwkwkw… kependekan ya kalo dijawab gitu. oke deh, penjelasannya:
menurut gw…
novel fantasy bisa hiperbolis, tapi nggak selalu harus begitu. fantasy identik dengan imajinasi. kasarnya identik dengan membuat-buat bukannya melebih-lebihkan.
fantasy butuh imajinasi, memang. imajinasi yang tinggi memang bisa jadi potensi bagus, tapi bukan berarti itu cukup bagi sebuah novel fantasy. merangkai imajinasi menjadi suatu gambaran yang bisa diterima, dipahami dan dinikmati adalah hal yang dituntut seorang pembaca dari penulis novel fantasy, atau seorang penonton dari sutradara film fantasy. 8)
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 15, 2008, 12:02:24 am
________________________________________
Masalahnya gimana caranya agar imajinasi kita bisa diterima and dipahami ama pembaca tanpa mereka mikir kalo ni imajinasinya ketinggian?
Pernah lho ada kasus kaya gitu.
Kesannya jadi aneh and konyol. ???

[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: hege on March 17, 2008, 09:56:19 am
________________________________________
Korban Penculikan Alien Pertama di Indonesia Adalah Seekor Kucing?

Situbondo, 7 Januari 1996, seorang wanita setengah baya bernama Ningsih Prasetia (56) melaporkan penculikan atas kucingnya ‘Mayang’ ke kantor polisi. Dia mengaku dengan bersungguh-sungguh bahwa kucingnya telah diculik alien pada suatu sore yang terik di halaman belakang rumahnya di Jl. Gunung Merbabu no. 17.

“Wanita itu menerobos masuk tanpa menggedor pintu,” kata seorang petugas kepolisian yang—tampak dari wajahnya—merasa bahwa ini adalah lelucon yang menggelikan. “ Saya pikir dia orang gila karena berteriak-teriak histeris kepada kolega saya di divisi penculikan.”

Jelas sekali para polisi tak menanggapi kasus ini dengan cukup serius, sehingga kami berusaha mewawancarai Ny. Ningsih secara eksklusif di rumahnya di Jl. Gunung Merbabu no. 17. Wanita itu tampak pasrah dan menerima nasibnya yang malang.

“Saya sedang mengambil beberapa potong cucian yang telah kering sambil bersenandung,” narasumber mengaku dengan mata bengkak penuh air mata. “Mayang-ku (kucingnya-red) sedang makan biskuit di teras. Segalanya terasa normal dan menyenangkan.”

“Lalu apa yang anda lihat?” saya bertanya.

“Ini betul-betul terjadi dan saya tak peduli apa kata orang mengenai ini,” ia berkata, sepertinya bukan untuk pertanyaan saya. “Demi Tuhan, saya tidak gila, demi leluhur saya di atas sana, saya tidak mengarang atau bermaksud mencari sensasi.”

“Ya, saya tahu. Bisa anda ceritakan detil kejadiannya?” tanya saya tak sabar.

“Tentu,” ia berkata. “Tapi anda jangan berpikir saya sinting ya!”

“Saya tidak akan berpikir seperti itu,” saya berjanji. “Anda dan saya sama warasnya.”

“Segalanya berlangsung sangat cepat,” ia berkata, mengumpulkan segenap tenaga untuk menuturkan pengalamannya. “Mendadak muncul cahaya biru dari langit, lebih terang dari matahari. Saya pikir ada helikopter jatuh atau semacamnya, tapi suasana sangat hening, sungguh tidak wajar, seluruh tubuh saya terasa kaku dan dingin.

“Selama saya meringkuk di tanah, benda yang mirip loyang perak mendarat persis di samping saya, diameternya tak lebih dari enam meter. Tiga mahluk pendek kurus meluncur keluar perlahan-lahan dari dalam benda itu, memakai pakaian ketat sewarna aluminium. Kepala mereka bulat seperti buah pir, dengan lengan-lengan panjang mengerikan. Berikutnya, saya hanya bisa menyaksikan tanpa daya ketika mereka mencengkeram Mayang dan membawanya pergi.”

“Ada lagi yang mereka lakukan?” saya kembali bertanya.
“Sejauh ingatan saya hanya itu,” kata Ny. Ningsih serius. “Tapi saya yakin salah satu mahluk aneh itu menyicipi biskuit-nya sebelum masuk ke dalam pesawat.”

“Bagian itu sangat aneh,” komentar saya berjengit. Wanita itu mengangguk setuju.

“Dan anda tak mendengar kabar kucing itu lagi sampai sekarang?”

“Mayang-ku sayang,” ia bergumam, berlinang air mata. “Aku sangat mencemaskan dia. Anda takkan percaya apa yang biasa dilakukan alien pada korban-korban penculikannya. Mereka dikuliti dan diperkosa.”

Setelah cukup informasi yang kami perolah dari narasumber, kami pun mewancarai para tetangga Ny. Ningsih di sekitar jalan Gunung Merbabu—dan kami mendapat fakta yang cukup mengejutkan.

“Otaknya tidak beres, Ny. Ningsih itu,” kata pak Widodo (66) seorang lelaki dengan perut buncit kepada kami. Pria ini tinggal persis di samping rumah Ny. Ningsih. “Kalian tahu betul apa yang bisa dilakukan orang-orang untuk mendapatkan publisitas dan keuntungan. Ningsih jelas sekali pembual besar dengan otak miring. Tak ada sesuatu yg aneh di langit, percaya padaku. Satu-satunya cahaya yang saya lihat sore itu berasal dari matahari.”

Saat mewawancarai pria aneh ini kami mendapat kesan bahwa dia sangat membenci Ny. Ningsih bahkan sebelum kasus penculikan ini terjadi. Ada nada sentimen berlebihan setiap kali ia membicarakan tetangganya itu.

“Terimakasih atas waktu anda,” potong saya buru-buru ketika Pak Widodo mulai menjelaskan perselisihan turun-temurun antara nenek moyangnya dengan nenek moyang Ny. Ningsih puluhan tahun silam.

Namun kami menjumpai saksi mata yang jauh lebih menyenangkan, ia seorang pemuda yang kos di belakang rumah Ny. Ningsih ( tempat itu hanya dibatasi pagar kayu pendek) Ia bernama Rudi Sanjaya (20)

“Iya. Saya melihat cahaya biru,” katanya semangat. “Saya sedang mandi saat itu. Ketika mata saya terkena busa sampo, meram dan meraba-raba untuk mencari gayung mandi, cahaya biru itu menyorot dari jendela, begitu terang sampai saya lupa kalau mata saya perih. Lalu saya mendengar seseorang wanita berteriak keras di suatu tempat, tapi saya tak repot-repot keluar untuk memeriksa karena saya sedang telanjang dan berlumur sabun.”

“Saya selalu percaya ada mahluk-mahluk cerdas di luar sana sedang mengawasi Bumi,” ia melanjutkan. “Anda tak percaya kan kalau kita satu-satunya mahluk berakal yang menghuni galaksi yang sangat luas ini? Alien dan UFO bukan hanya fiksi yang ada di film-film, anda boleh memegang kata-kata saya. Tunggu lima belas atau dua puluh tahun lagi akan ada kapal induk raksasa yang mendarat secara resmi di bumi. Mereka datang dengan misi perdamaian.”

Pada saat yang sama saya melihat poster film Star Wars dan Men in Black yang besar sekali di tembok kamar kos pria itu, sehingga antusiasme saya akan ceritanya sedikit ternoda.

baca lanjutannya di sini http://kemudian.com/node/101942

[tab:Hal 4]

________________________________________
Post by: BloodSin on March 17, 2008, 12:33:31 pm
________________________________________
payah banged nih.. gw nyambit banyak orang di postingan gw sebelomnya gak ada yg protes/ngomel2, padahal gw amat mengharapkan hal itu.. :P
beneran nih, gak ada yg mau berargumen? ya sudah, berarti eike menang ngelawan ente semua.. ;D

@euthalia,
gw sebagai pembaca novel2 fantasi lokal gak menuntut gaya bahasa yg hiperbolis/bermetafora indah, yg gw harapkan adalah gaya penceritaan yg ‘cerdas’ dan mengalir. Cerdas disini maksudnya gak bertele-tele, konsisten, dan cocok dengan tema yang diusungnya. Kalo yg ditulis tipe fantasi sadis yg mengumbar adegan2 berdarah, gunakanlah gaya bahasa yg ‘dingin’ dan suram. Kalo yg ditulis fantasi ringan, gunakanlah gaya bahasa yang dapat memancing tawa pembaca.
Sementara, gaya bahasa yg mengalir adalah gaya bahasa yang dapat menciptakan mood si pembaca untuk terus membaca sampai akhir. Disini keahlian penulis untuk memilih dan menyusun kata2 mutlak dibutuhkan.

Hmmm.. Gw ngomong begini bukan berarti gw bisa memenuhi dan melakukan hal-hal kayak begini, ini murni opini dan kemauan gw sebagai pembaca..
sebagai penulis, kita menghadapi tantangan yg sama.
________________________________________
Post by: alk on March 19, 2008, 11:30:19 pm
________________________________________
8) halo2 semua…

:-[ masukin sepotong cerita lagi yah, sekedar meramaikan thread ini. gw jarang bikin cerita romantis nih (ga ahli :'() tolong commentnya...

KHAEL DAN MARINA

Marina, sang putri duyung
Senja menjelang. Ufuk barat dihiasi semburat merah tatkala sang surya mulai turun dari singgasananya, hendak bersemayam kembali dalam peraduannya. Cahaya sore yang hangat memancar menerangi pantai sunyi itu, memperindah warna karang dan debur ombak, memikat hati sepasang insan yang dimabuk cinta.

Marina memandang sosok di depannya dengan pandangan memuja yang tak puas-puasnya. Hatinya dipenuhi dengan suasana indah yang berbunga-bunga. Selalu begitu jika mereka berdua bertemu. Ia menyadari dengan sangat jelas bahwa ia sedang jatuh cinta. Cinta yang mustahil untuk tergapai. Namun baginya juga mustahil untuk ditolak atau dienyahkan dari dalam sanubarinya.

“Bisakah kau nyanyikan lagi sepotong lagu untukku, Marina. Suara merdumu... tak pernah jemu aku mendengarnya.” Sosok memukau di depan gadis itu berucap. Suaranya yang tenang dan dalam menggetarkan hati Marina. Permintaannya tak pernah bisa ditolak putri duyung jelita ini.

Marina tersenyum dan mulai bersenandung, lagu merdu tentang kisah penantian Diane akan kembalinya sang kekasih hati Leandor, dua manusia duyung yang menjadi legenda karena cinta abadi mereka.

“Dalam samudra harapan selalu kunantikan,
kehadiranmu Leandor kekasihku.
Kau kan lindungi aku dalam dekapan lembutmu,
dan biarkan malam lewat denganku di pelukmu,
hingga esok waktu cahaya baru menjelang...”

Khael, sang malaikat bersayap hitam
Khael menatap sosok di depannya dengan rasa kasih sayang yang tak tersembunyikan. Ia jatuh cinta, itu tak hendak dipungkirinya. Meskipun mereka begitu berbeda, nada-nada asmara tak mampu diusirnya dari dasar sanubari. Seiring lantunan merdu lagu yang dibawakan sosok jelita di depannya itu, benih-benih cinta yang sudah kuat berakar dalam hatinya mulai tumbuh dan berkembang, tak bisa lagi dihentikan.

“...dan ketika langit semakin terang,
ku takkan jemu bertanya pada sang awan,
kapan Leandorku kan kembali pulang...”

Suara merdu sosok nan indah memukau di depan matanya itu seakan membawa Khael, sang pria bersayap hitam, terbang tinggi di awang-awang, membumbung bersama awan dan elang, menari dibawah sinar mentari.

Tak puas-puasnya mata pemuda perkasa ini memandangi sang pujaan hati. Memandangi rambut keemasannya yang berkilau jelita tanpa noda, mata birunya yang jernih laksana langit cerah di musim panas, hidung mancungnya yang mungil mempesona, bibir indahnya yang merah merona menyejukkan sanubari, kulit langsatnya yang indah tak bercela, dengan jalinan rumput laut sebagai pakaian yang kian memikat hati, dan bahkan sisik mengkilap kebiruan di bagian bawah tubuhnya yang demikian sempurna. Marina, dengan kelembutan hati dan ketulusannya, adalah wujud sempurna yang selalu diimpikannya.

Marina, sang putri duyung
Senandung Marina belum berhenti. Segenap isi sanubari putri duyung jelita ini tertumpah keluar lewat senandung merdu itu. Dan, dengan sosok pujaan hati berada tepat di depannya, hal itu mengalir secara sangat alami, seolah untuk hari inilah lagu yang dinyanyikannya tercipta.

“Kekasihku, pujaan hati...
senandungku kan slalu mengiringi jalanmu,
membawakan kasih sayang yang tertumpah dalam impian,
tentang hidup bahagia, bersama selamanya...”

Bahkan setelah senandungnya memudar habis, Marina tak berhenti menatap sang pujaan hati. Menikmati keindahan sosoknya; wajah yang demikian eloknya, dengan tatapan lembut mata hitamnya yang menenangkan sanubari, hidung kokoh yang tiada duanya, senyum tulus yang penuh kasih sayang, rambut gelap yang indah alami dimainkan angin lalu, tubuh tegap gagah sempurna, dan sayap hitam yang memukau... lembut sekaligus kokoh. Khael, dengan kasih sayang dan keberaniannya, adalah sosok sempurna yang tak pernah lekang dari benak Marina.

[tab:Hal 5]

________________________________________
Post by: BloodSin on March 21, 2008, 12:28:34 pm
________________________________________
@alk,
gw udah baca potongan cerita u.. hmm.. gmn yak. it doesnt work on me, actually. nice try buat kata-kata indahnya, tapi sejujurnya, it’s rather lame to me…

Begini Alk. Ada perbedaan antara gaya bahasa yang ‘dibuat-buat’ dengan gaya bahasa yang mengalir apa adanya… Dalam cuplikan naskah romance lu ini, terasa banged ‘dibuat-buat’nya.. gw sebagai pembaca ngerasa u menulis.. tidak dengan hati yang jujur..(halah :P )
sebagai penulis, kita punya masalah yg sama: mencoba bereksperimen dengan sastra dan hasilnya malah aneh… tapi lebih parah lagi, lu mencoba mengintegrasikan sastra dengan romance.. menurut pengalaman gw, mixing sastra x romance jauh lebih sulit daripada sastra x deskripsi umum/setting, sastra x humor, ato sastra x action..
kalo mau tahu gaya bahasa romance yg jujur (terasa alamiah/gak dibuat-buat), coba baca/tonton karya-karya yg melibatkan literatur shakespeare.. keren banged tuh romance-nya.
tapi dont worry lha, mungkin dalam kasus ini emang gw aja yg gak mengenal konsep romantisme… :P

oya, sekali lagi, gw mengatasnamakan komen gw sebagai seorang pembaca ya.. secara, sebagai penulis, gw ga yakin bisa nulis secakep ini. :D
yg jelas kalo menurut gw sih, nulis romance jauh lebih sulit dari bikin humor. jadi, berhati-hatilah… kita gak mau kan usaha keras kita malah ngebikin cacat naskah kita? ;)
________________________________________
Post by: BloodSin on March 21, 2008, 01:04:50 pm
________________________________________
@all,
new topic! new topic! (seperti biasa, orang bijak selalu muncul belakangan untuk menyelamatkan dunia(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif))
caranya sama kaya kemaren.. gw selaku pembuka topik mau mengemis pendapat ke setiap dari elu orang semua.. kali ini kita bakal ngomongin tentang kemungkinan opening/prolog dalam novel fantasi. (soalnya gw emang lg ngurusin beginian di proyek terbaru gw skrg :P )

ada banyak penulis fantasi yg mengawali kisahnya dengan memperkenalkan dunia rekaannya secara detail, tapi ada juga yg langsung masuk ke pokok permasalahan/action.
yang mau gw minta ke u orang buat dijawab, bukan prolog macam mana yg paling bagus, tapi tambahan opsi bagaimana kemungkinan2 untuk sebuah prolog:
ok, i’l go first.

Versi Prolog #1:
Penggambaran setting secara mendetail dari dunia rekaan/adopsi dalam novel, mencakup latar belakang sejarah, keadaan geografis, ras-ras yang ada, struktur masyarakat, dll..
Akan ada dua kemungkinan reaksi pembaca: terbosan-bosan dengan deskripsi yang menumpuk dalam dunia khayal kita, atau malah cenderung excited.
Contoh prolog semacam ini(sekalian mau pamer ke anak2 baru juga sih(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)):

http://kemudian.com/node/41181

Versi Prolog #2:
Penggambaran sisi dan sejarah kelam dari villain(tokoh/pihak antagonis) yang meneror dunia rekaan/adopsi kita. Keuntungan dari prolog semacam ini, pembaca akan langsung dapat melihat pokok permasalahan yang ada, dan what as master villam said, pembaca akan langsung terikat secara emosi terhadap naskah kita. Terlebih jika dalam prolog itu digambarkan kekejaman si antagonis.. denyut ‘hidup-mati’ dalam novel kita akan langsung terasa.. yah..kira-kira begitulah yg gw pelajari dari mr. villam pada jaman dahulu kala, barangkali yg bersangkutan mau menambahkan.. :)
Contoh prolog ini:
?? (ada yg mau memberi contoh?)

Versi Prolog #3:
Langsung masuk ke action! Penggambaran action bisa macam2: penggambaran sebuah duel sengit, jalannya sebuah perang, prosedur pembunuhan, penyerbuan, dll.
Contohnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif):

http://kemudian.com/node/47324

Versi Prolog #4:
Prolog yang paling pasaran dan klise: penggambaran orang bangun tidur!
Contohnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif):

http://kemudian.com/node/41217

Versi Prolog #5, #6, #7, dst:
Silakan ditambahkan..

n.b:
perlu gw tekankan, bbrp contoh prolog yg gw kasi di atas adalah bukan berarti jenis tulisan prolog yg benar/sempurna (mungkin yang ada malah cacat di sana-sini(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)), dari prolog2 itu gw cuma mau memberikan sedikit pendekatan dari teori2 yg sudah gw paparkan (sekalian sebagai ajang pamer juga sih (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)).. gitchu deh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)
________________________________________
Post by: hege on March 21, 2008, 02:28:34 pm
________________________________________
Rey, topikmu kali ini agak membosankan. Prolog sudah dibahas jutaan kali sebelumnya. But, intinya, pikirkan baik-baik saja kalimat pertama yg akan kau tulis untuk memulai sebuah kisah. hal-hal klise, basi, kuno dan menyebalkan tak bisa ditolerir baik oleh editor penerbitan dan pembaca.

[tab:Hal 6]

________________________________________
Post by: rd_Villam on March 21, 2008, 03:39:29 pm
________________________________________
@rey,
aku belum punya pemikiran baru soal prolog, jadi kukutip saja dulu tulisan dari blogku. mudah-mudahan bisa sedikit menyegarkan kita, baik yang sudah pernah baca maupun yang belum sempat.
————————

Tentang Opening

Apakah kalimat pembuka novel sudah cukup menarik perhatian? Belum?
Kalo gitu apakah paragraf pertama sudah? Belum juga?
Halaman pertama? Belum juga?
Lima halaman pertama? Belum juga?
Prolog ataw bab pertama? Belum juga?
Heheh… berarti bencana ya… mesti dibongkar lagi dari awal.

Katanya sih prolog ataw bab pembuka yang bagus mengandung hal-hal sbb:
§ Menjadi pintu pembuka cerita, alias memberi gambaran pada pembaca jenis cerita macam apa yang bakal dibaca, dan sedikit petunjuk apa yang kira-kira bakal terjadi di akhir cerita. Jangan ngebohongin pembaca nih, misalnya ceritanya cinta-cintaan tapi bukanya kok pake model misteri atau action. Heheh… tone-nya beda kan?
§ Memperkenalkan karakter atau protagonis utama (ataw paling lambat di bab 3 harus sudah muncul. Di halaman berapa tuh? 20, 30 atau 50?). Tentu saja beserta problem (eksternal/internal) yang dihadapinya, jadi ya jangan cuma kenalan basa-basi doank. Lumayan buat bikin pembaca simpati sama protagonis sejak awal.
§ Memperkenalkan setting. Penting juga, tapi emang bakal banyak narasi deskriptif sih, makanya mesti diimbangin sama dialog dan action yang lebih banyak di awal. Heheh… ngomong sih gampang.

Pertanyaan lanjutan:
Apakah ceritanya memakai prolog sebagai opening?
Apakah ceritanya memang benar-benar butuh prolog? Atau cukup bab pertama ajah?

Buat ngejawab, tes ajah dua hal ini:
§ Kalo misalnya prolog itu dihapus, pengaruhnya signifikan gak terhadap plot?
§ Kalo misalnya prolog itu diubah namanya jadi bab pertama, kerasa bedanya gak di plot ataw suasana cerita?
Kalo kedua jawabannya ya, berarti prolognya emang udah berfungsi dengan benar.

Emang sih, keliatannya keren kalo cerita kita pake prolog (trus ada epilog juga di belakang), tapi jangan sampe prolog itu cuma jadi pemanis yang gak perlu. Maksudnya pemanis tuh cuma buat memperkenalkan suasana atau action buat memikat pembaca, tapi ternyata gak terlalu berkontribusi membuka plot utama cerita. Padahal yang terakhir itulah yang jadi tugas utama doi.
Hmm, pusing ya?

Heheh… yang jelas sih bikin prolog gak bisa sembarangan, dan sebagai seorang spesialis, doi emang punya tugas yang berbeda dibanding bab pertama, sesuai dengan empat buah tipenya, yaitu:
§ Memperkenalkan protagonis di masa datang. Ini model seorang anak yang udah jadi orang tua sekarang, trus menceritakan petualangan dia waktu kecil bersama teman-temannya, misalnya. Biasanya suasananya jadi kerasa reflektif, karena tentu saja si anak udah jadi orang bijak sekarang.
§ Memperkenalkan protagonis di masa lalu. Ini model cerita Batman yang membuka cerita dengan masuknya doi ke gua kelelawar di waktu kecil, buat memberi petunjuk pada pembaca mengenai asal mula karakternya, sebelon masuk ke cerita utama.
§ Memperkenalkan POV yang berbeda. Ini model korban penculikan yang bercerita gimana dia diculik, buat pengantar cerita utama dimana POVnya adalah sang detektif, yang nantinya pada tengah atau akhir cerita akan bertemu dengan korban penculikan tersebut.
§ Memperkenalkan background atau setting cerita. Sering ditemukan di cerita Scince Fiction ataw Fantasy, yang menceritakan sebuah kota atau negeri di bagian prolog. Biasanya sih paling susah, karena emang susah buat ngebikin narasi deskriptif yang panjang di awal tanpa membuat pembaca bosan.

Ya gitu deh, sementara… corat-coretnya.

[tab:Hal 7]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 22, 2008, 10:01:53 am
________________________________________
Versi prolog #5:
Cerita diawali dengan pertanda-pertanda/mimpi janggal/kejadian penting/peristiwa aneh.. Keunggulan prolog semacam ini, pembaca akan langsung dibuat penasaran dan terikat pada awal cerita.
Contoh:
Prolog Hozzo: Ferres yang Hilang

Versi prolog #6:
Cerita dibuka dengan pendekatan filosofi yang nantinya filosopi tersebut sinkron dengan keseluruhan isi buku.
Contoh:
Prolog The Forgotten Heroes

Versi prolog #7:
Cerita dibuka dengan sebuah dongeng kecil yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan isi cerita secara keseluruhan. Prolog semacam ini cukup langka, dan jarang ditemui.
Contoh:
Prolog The Alchemist
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 24, 2008, 03:11:24 pm
________________________________________
@Kak Dian…
Kangen banget ni (Cielah…pura2 manja ni ;D)
Aku mau nanya boleh ga?
Cara bikin crita kita ada ‘greget’ itu gimana?
Ada kiat2nya ga?
Trus gimana cara menyelami emosi tokoh2 crita kita?
________________________________________
Post by: clickdian on March 24, 2008, 05:22:34 pm
________________________________________
Lia
Kangen? hehe.. jadi malu :P

Cerita greget? hmm.. ini relatif, ya. sangat tergantung dari keinginan dan keahlian (if you see what i mean) si penulis. intinya sih usahakan meninggalkan sesuatu yang akan berkesan bagi pembaca. entah membuat penasaran, atau yang mengaduk-aduk emosi, atau bisa aja detail dari kejadian sehari-hari biasa tapi karena si penulisnya jago merangkai kata-kata jadi terasa luar biasa.

maaf, lia, untuk yang satu ini aq ga bisa banyak bantu. ini tergantung jam terbang setiap orang, dan yang paling penting, aq juga masih tahap belajar, belum jago bikin greget. practice makes perfect (duh, klise banget, tapi bener).
Kalo menyelami emosi.. ini lebih gampang menurutku..
bayangin aja kalo kamu itu dia.
tapi jangan lupa, kamu harus punya personality sesuai dengan si tokoh yang kamu ceritakan itu; karena beda personality, tindakan yg diambil setiap tokoh akan beda. ini mirip akting, hanya diekspresikan dalam bentuk kata2, bukan visual. kalau kamu udah nguasain ini, karakter kamu akan lebih hidup :)
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 02, 2008, 03:27:58 pm
________________________________________
Rekans semuanya, salam kenal.
Sekaligus memperkenalkan blog pribadi saya yang khusus mengulas buku-buku Fiksi (ilmiah) dan Fantasi karya pengarang Indonesia.

http://fikfanindo.blogspot.com

monggo mampir,… :)

BTW, ada boss Hege di sini, toh. Buku ente ada di reviewku juga lho,.. iya yang dulu itu.

Salam,

Cheppy
aka: FA Purawan

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sekali lagi ada pembahasan mengenai prolog di forum Pulau Penulis Fiksi Fantasi. Saya kutip jawaban-jawaban saya di sana mengenai soal yang satu ini. Mau gimana lagi? ‘Pembukaan’ memang bagian paling penting dalam penulisan novel. Setiap penulis harus meluangkan waktu paling banyak di sini, untuk membuat kalimat pertama, paragraf pertama, adegan pertama, yang terbaik, yang mampu membuat pembaca mau membaca terus dan terus.

[tab:Hal 2]Adakah batasan-batasan dalam membuat prolog?

pelajaran terbaru yang gue dapet: fleksibel dan inovatif-lah. writing is an art, and there are no certain rules.
‘prolog’ itu hanya sekedar nama; tidak ada bedanya dengan ‘bab 1′. penulis menggunakan ‘prolog’ untuk meyakinkan pembaca bahwa cerita dimulai dari dua arah.

Apakah prolog harus selalu berpace cepat?

tidak harus. bukan ‘pace cepat’ yang penting dalam prolog, tapi seberapa cepat pembaca bisa tertarik untuk membaca terus dan terus.

Apakah prolog tidak boleh lebih dari dua halaman?

tidak harus. jawaban ini terkait dengan dua jawaban sebelumnya. yang penting adalah penulis bisa menyampaikan pesannya dengan jelas, dan bisa membuat pembaca penasaran. jangan membatasi diri dengan jumlah halaman.

[tab:Hal 3]Apakah isi prolog harus mudah dipahami seutuhnya?

harus mudah dipahami iya. tapi gue gak ngerti maksud ‘seutuhnya’. justru prolog harus meninggalkan pertanyaan buat pembaca, yang bikin dia penasaran.

Apakah prolog harus mewakilkan gambaran keseluruhan isi buku?

prolog harus bisa memberi petunjuk pada pembaca bahwa cerita ini adalah mengenai sesuatu (entah melalui sebuah peristiwa atau sebuah pesan), tapi bukan gambaran keseluruhan isi buku. emangnya sinopsis atau daftar isi?

Ayoo Villam, Om Pur, gw tauk kalian juga belum begitu yakin dengan definisi prolog yg sesungguhnya, gw bisa liat sendiri kayak gimana prolog dalam karya ente orang (ada yg mabok nyampur ke isi bab2 awal segala, malah Cheesy) Pertanyaan gw, apa alasan kalian bikin prolog kayak begitu? Cheesy

tentu saja setiap penulis punya alasan. gue gak terlalu mikirin definisi. yang gue pikirin adalah bagaimana bisa membuat pembaca tertarik (dengan sesuatu yang berbeda), penasaran (dengan membuat pertanyaan2 yang menggantung), dan mengerti (tentang cerita apa yang akan dia baca, dan tidak akan merasa tertipu nanti). jika tujuan tersebut belum berhasil, ya sederhana saja, format prolognya kudu diubah. dan gue juga gak masalah jika harus melakukan itu. tapi seperti yang gue bilang di awal, jangan terlalu terpaku pada yg standar2. beranilah mencoba hal yang baru. buatlah cerita kita menjadi berbeda.Thumbs Up

Comments 14 Comments »